Puisi John Kuan

1959 berkubang di tepi Sungai Siak
7 kerabatku dijerat ekpedisi Denmark
atas nama kepunahan dua terpaksa ditarik
ke atas tongkang masuk Selat Melaka
menyusuri jalur timah dan minyak bumi
tiba di Kota Singa bersama saudara
sehutan, ramin nyatoh meranti balam
meninggalkan tanah rawa bergambut
menjadi alat ukur cendekia orang Eropa
persis seperti kitab, artefak dan fosil
hanya saja kau tidak bisa membungkus
atau menyimpannya ke dalam palka
sebab kami adalah badak Sumatera
1515 berkubang di tepi Sejarah Eropa
1 kerabat jauhku dijerat Sultan Muzafar
sebagai titip salam buat Raja Manuel I
dengan Osem pengasuhnya dia keluar
Goa melingkar Tanjung Harapan 120 hari
bersama bau kematian dan rasa pedih
rempah: pala cengkeh kayu manis merica
di Istana Ribeira Raja Portugal perintah dia
melawan anak gajah, sejarah salah catat,
dia bukan ngamuk melihat gajah, cuma
gertak orang Eropa, Duret juga keciprat
rejeki 500 tahun walau salah gambar
sebab kami adalah badak Sumatera
1990 berkubang di Bronx, New York
aku tidak yakin bibiku Rapunzel, mestinya
Delima, Melati atau Harum, tapi biarlah
ahli binatang mengacak dongeng Jerman
buta warna, sawo matang tampak pirang
Bibiku imigran resmi bukan suaka politik
walau kampungnya digusur kebun sawit
tapi dia tegar, patuh, orang Manhattan
suka parasnya, diabadikan di kue kering,
cangkir, grafiti tembok dan dinding subway,
perempuan lilit di syal, lelaki ikat di sabuk
penyair kaget menulis sebaris sajak cinta:
Sebab kami adalah badak Sumatera!
2001 aku bagai Prometheus bawa api
turun ke bumi, menerangi jerih payah
kawin paksa 112 tahun, kandangku berpijar
televisi radio suratkabar meliput total, tiada
pangeran dilahirkan seheboh aku, Andalas
demi tanah leluhur, kata ibu, kadang aku
ingin jadi pipit atau kupu-kupu, tapi dokter
bilang aku keturunan purba, kulit tebal,
dua cula, mata lemah, otak kecil, kau
terancam punah, kata-kata ini menyayat
walau aku introvet, soliter, vegetarian
tapi lelaki impoten tetap incar culaku
sebab kami adalah badak Sumatera
2007 aku pulang sebagai warga asing
murni kelahiran Amrik, ibu mengecup
aku dua pipi lumpur Ohio sambil berbisik
ingat pesan tetangga kita, Orang Utan:
hati-hati makhluk yang mengitarimu
mereka cuma tumbuh bulu di kepala,
ketiak selangkangan tapi sangat kejam
saling bunuh adalah pencapaian tertinggi
sejarah mereka, namanya homo sapien
sudah lama terjatuh dari pohon evolusi
sedang siapkan sebuah pesta threesome
di Way Kambas, tapi aku pilih tradisonal
sebab kami adalah badak Sumatera
Tuhan Sedang Bermain Kamera
Puisi-puisi Granito Ibrahim
#1 Jodoh.
(Kehendak Tuhan adalah abjad-abjad yang tak dapat kita tukar urutannya.)
Lama tak jumpa kekasih, aku kerja di pulau seberang
Paling-paling pesan singkatnya yang rajin berkunjung ke telepon genggam
“Sombong sekarang ya. Sudah banyak uang.”
“Apa jangan-jangan kepincut cewek di sana. Kan akang kesepian kalau malam?”
“Kapan pulang? Nanti aku keburu dikawin orang.”
Mungkin begitu semua perempuan, selalu menyindir dan mengancam.
Baiklah, bulan depan aku akan datang sambil membawa cincin tunangan.
Bagaimanapun aku cinta dia melebihi gunung aneka macam.
Dan benar, gawat juga, umur kami berdua sudah masuk tigapuluhan.
Tanpa memberitahunya aku datangi naik pesawat. Naik kapal laut takut karam.
Namun, kota tempat kekasih tinggal kini semakin sepi. Mana dia gerangan?
Tiba di rumahnya, hari beringsut senja, cahaya temaram.
Orangtuanya memelukku erat bagai anak sendiri,”Apa kabarmu nak Pram?”
Sampai juga aku di teras tempat dulu pacaran. “Mana Bu, si Wulan?”
Ibu dan Ayahnya bilang, Wulan bunuh diri beberapa waktu silam.
Dia putus asa, sebab ada kabar: aku sudah nikah duluan.
Firasatku benar kalau begitu, ketika lihat bulan setengah pualam
dan sesuai pesan singkatnya waktu itu. “Akang kapan mau datang?
Aku tunggu ya di kuburan.”
Sedih aku, payah aku, hati remuk redam
“Mungkin enaknya nyusul dia, jadi jin atau arwah gentayangan,”
kata setan yang keluar masuk pikiranku, diam-diam.
(Jodoh ada di genggam Tuhan, maukah kita menerima kehendakNya, lalu bersalaman?)
#2 Tuhan Sedang Bermain Kamera.
Hujan mengandung harapan, juga impian
pada garis-garisnya langit seperti menangis terisak-isak
memecah sunyi sambil menebar kilat menyala-nyala.
Yang gelap menjadi terang, yang malam terlihat siang.
.
“Tuhan sedang bermain kamera,” kata seorang pengamen
“Dia memotret kita. Gambarnya akan diserahkan kepada malaikat.
Biar malaikat-malaikat tahu, kepada siapa mereka harus memberi hadiah!”
Pengamen itu tersenyum dalam hati, berharap sebentar lagi laparnya hilang.
Baru saja, koin-koin recehnya terjatuh masuk hitam selokan
tak ada tukaran yang bisa ia berikan, kecuali mengharap pemberian
dari doa yang ia lantunkan.
Hujan mengandung harapan, juga impian
pada mereka yang di ranjang berduaan.
Seperti petir api-api cinta berloncatan
percikan terang redup bergantian.
“Habis ini cepat kita pulang!” kata lelaki kelelahan
“Takut istri, ya Mas?” ucap genit bibir perempuan.
Mereka tetap bergegas pulang
yang lelaki takut ketahuan
yang perempuan khawatir hamil duluan.
Padahal Dia juga memotretnya,
diam-diam dari balik awan.
#3 Partitur Sang Maha.
Seorang penyair muda sedang mati kalimat, maka ia berdoa,
“Tuhan yang maha Sastra, di mana Kauletakkan makna dari balik kata
apakah kelahiranku sebagai A, lalu kematianku kelak sebagai Z
lantas kehidupan ini adalah permainan susun-menyusun abjad
menjadi kalimat. Kalimat membentuk bait hingga menjadi syair kebesaranMu?”
Seumpama sabdaMu adalah nada maka manusia adalah pemusik
Telah Kautebar rima di antara ayat-ayat itu, maka manusia adalah penyanyi
Dua pertigaku adalah air, dari rahim menuju garis akhir
Sepertigaku adalah tulang dan daging, kelak membusuk berbaring
Berarti bunyi waktu merupakan lagu. Yang harus kumainkan sesuai partitur
Yang telah Kauatur dari sebelum dunia lahir dan kelak hancur.
“Tuhan yang maha Sastra, di mana Kauletakkan aku dari balik ceritaMu?”
Granito Ibrahim, lahir di Jakarta. Seorang buruh seni. Baginya, tidak semua ungkapan hati dapat dituangkan dalam wujud visual. Tidak seluruh buah pikiran bisa digoreskan dalam gambar. Sebab itu ia kadang membuat cerpen dan sesekali menulis puisi. Walau waktunya seringkali dihabiskan untuk memelihara ikan; sebuah obsesi masa depannya.
Kepada Bekas Istri
Puisi-puisi Agus Sulistyo
Kepada Bekas Istri
Aku menjemputmu sebagai matahari
ketika hujan airnya sudah tak mampu lagi menenggelamkan pagi
hangat bias cahayanya mengukur waktu yang diberikan kepadaku
sebelum beringas mencakar setiap jarak di kulitku
Aku menyetubuhimu sebagai api
ketika kuatnya hembusan nafasku tak lagi mampu menjaga baramu
tak ada waktu lagi yang diberikan kepadaku
hingga aku baru menjadi tahu ketika tiba-tiba tubuhku telah menjadi abu
Aku berdiri menatap tanah kering di depanku yang beralaskan debu
ketika sore hari segera menitipkannya kepada sepoi angin
untuk sesaat kemudian ikut menjemput malam
yang takkan pernah bisa kutemui lagi
Karena aku telah mati, bersama padamnya api tubuhmu.
Gugusan Hidup
Tumpukan kertas,
sepotong pensil yang tinggal setengah,
rautan … bahkan karet penghapus
tak juga mampu menghidupkan kembali sebuah kematian
Perlahan, kuberangkatkan jasadku kepada langit …
kubaringkan di atas awan yang kian menghitam
luruh, larut bersama semaian hujan
menyatu dengan bumi
Melukis ruang sebuah awal kehidupan,
meski tidak lagi bagi diri.
Suatu Waktu
Puisi-puisi Nastain Achmad Attabani
#1 Suatu Waktu
Suatu waktu ketika bunga-bunga bermekaran
Di halamanmu
Membawa keindahan
Keindahan yang indah
Di antara dua kursi yang kaupegang
Suatu waktu saat purnama di bentangan awan
Berkisaran bintang-bintang
Kilaunya wajahmu yang terang
Saat senyuman kauikrarkan
Suatu waktu ketika waktu kautaklukkan
Di ranjam hangat berselimut bulan
kaukawini malam
pagi kuyup kaukayuhi penat
Suatu waktu
Namamu kukenang
#2 Malammu I
Di saat itu
Malam-malamu ternoda
Antara dusta dan murka
#3 Malammu II
Tabir terbuka
Pada nyanyian-nyanyian anak
Diam
Sesal tak berjeda
Duka
Kembang yang seharusnya terjaga
#4 Pagar
Halangi jasad tiap keluar-masuk
Selamatkan kematian saat jurang bertahta
Orasi yang dijaga tanpa kawalan
Pembatas negeri pada kebudayaan
Menjulang tiap jengkal mata di pelataran
#5 Bata Merah
Tampung tiap jengkal kaki-kaki
Tiap dentuman suara-suara
Tiap ekor-ekor yang duduk
Bahkan kayu-kayu relief
Kekar tatanan
Mencuat jelang saat pewarisan datang
Mati di ambang
#6 Kabel-Kabel
Membentang ruang hampa
Berkalibut pada hembusan
Tegang ditekan
Kendor dibiarkan diam
Semrawut kesana-kemari walau jalan hitam
Sanubari merasa keindahan yang tak terbaca
Di tiap sudut satukan mereka
Nastain Achmad Attabani, Seorang penikmat karya, berekspresi untuk di apresiasi serta bermanfaat untuk masyarakat. Nimbrung di Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN) Grobogan.
Cinta Pertama
Puisi Szymborska
Alih Bahasa John Kuan
Mereka berkata
cinta pertama paling penting
Sangat romantis
tapi itu tidak cocok dalam kasusku
Di antara kami seolah ada sesuatu juga seolah tidak
Ada hal-hal yang datang kemudian pergi
Ketika aku membuka cenderamata tertentu
tanganku tidak gemetar
Surat-surat kami diikat tali
— bahkan bukan sepotong pita
Setelah tahun-tahun berlalu kami bertemu
hanyalah dua buah kursi
berbicara di sisi meja dingin
Cinta yang lain
hingga hari ini masih bernafas di dalam tubuhku.
Tapi yang ini bahkan mengeluh saja kekurangan oksigen.
Justru sepotong cinta pertama begini rupa
ia dapat mencapai yang tidak bisa dicapai cinta lain:
terlupakan
bahkan mimpi pun tidak pernah
ia membuat aku terbiasa dengan kematian.
Perempuan yang Melayarkan Doa
Puisi Fajar M Fitrah
#Perempuan yang Melayarkan Doa
perempuan yang setia melayarkan doa
pada buih-buih yang berderu
menuju samudra waktu
di bawah bulan daging kelapa
di sela-sela jala musim
matanya sempurna jadi dermaga
: lapuk dan berlumut
namun penglihatannya
setajam cakar camar
tak henti menelusup ke juru-juru
mencabik bumantara biru
perempuan itu yakin
doanya berlabuh di ulu sukma
seseorang yang mengarung
samudra waktu
dalam dirinya terpancang tugu
mencusuar tersusun dari pukal hari
dan mimpi: di senja bening
dari arah hening
dengan kapal cahaya
seseorang tiba
mengalungkan emas
dan sampur sutra
pada kecemasan
seorang perempuan
di bawah bulan daging kelapa
di sela-sela jala musim
perempuan itu setia melayarkan doa
sembari meyakin-yakinkan diri
: seseorang yang tiba dari samudra waktu
adalah anakku sekalipun berkalbu batu
2012
#Sunyi Jadi Lemari Besi
sunyi jadi lemari besi
mengunci percakapan dan kenangan
gelas-gelas rontang, sarang labalaba
botol-botol kosong, dan kerak darah
di lantai adalah sisa adegan remang
bagai jam kedipnya hilang
dinding berlumut bagai kutuk
kalimat-kalimat api, ilustrasi ngeri
dan kalender basi: ada angka dilingkari
semacam memo atau barzanji
pintu kayu, jendela kelu
onggokan buku, koran lalu
bendera luntur dan peta lecur
di sudut ruang adalah mulut
mengatupkan rahasia zaman
2013
Fajar M. Fitrah, Lahir di Bandung 25 Maret 1993. Mahasiswa Bahasa & Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia. Bergiat di ASAS UPI (Arena Studi Apresiasi Sastra) dan KSC (Komunitas Sastra Cianjur). Penggiat JurnalZine RajaKadal & GERPAMSI (Gerakan Pamflet Puisi). Dapat dihubungi di nomor 087824244128.
Empat Puisi Alra Ramadhan
Ini
Kuriaskan asap dari tepian bibirku
yang landai
yang tersundut dan beruam, dan
yang seperti berdebu
—sebab kita telah sejauh setan-malaikat
(2013)
Tadi
Kilat datang dari arah barat daya
Langit tak nampak
Mendung menyembunyikannya
Entah sengaja, entah tak. Dan kecipak
air masuk ke kupingku. Mengalir,
mengalirlah
Pelan
mungkin dengan kepastian
segores di selatan menjingga
Tapi disini hujan belum jua reda
Darimana datang hujan turun
hingga tak ada waktu bagi kita berteduh?
Adakah sakit kala ia bertemu
tekel, atap genting, beton, kap mobil?
Atau apakah tanah telah
menangkap ia dengan cemerlang
maka ia jatuh ke bumi dengan ceria?
Aku tahu, aku tahu ini bukan waktu
yang tepat untuk berkata mesra. Tapi satu-dua
burung gereja pelan-pelan
meloncat-loncat di atas trotoar
Sebentar lagi terang, tapi mungkin tak ada pelangi
(2013)
Biru
Masih saja kusempat-sempatkan mataku menyapa cahaya
dalam mimpi, di pagi yang terlalu terang
ketika kau telah hadir dan merengkuhku:
“Darimana saja kau, Kawan, wajahmu melebihi biru langit?”
(2013)
Perburuan
Tak akan ada yang selamat
Engkau akan tersentak habis,
teriris,
dan segera menjadi tamat
Tubuhmu akan terbentur pucuk aspal
atau matahari yang mengepal
Engkau pun bertungkus lumus,
tubuhmu terpelanting
mengalunkan melodi rock dan blues
dengan nyaring
Tak matamu kuasa menatap lagi
meski sekali
Engkau mati—barangkali berulang kali
sepi pergi
tanpa mendekapmu
sebab tubuhmu telah jatuh dan bisu
Tubuhmu akan tak selamat
dari kiamat,
selama mataku kupejamkan
(2013)
Alra Ramadhan lahir di Kulon Progo, DIY, pada 9 Maret 1993. Saat ini menempuh perkuliahan di Jurusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya, Malang. Lebih lanjut, penulis dapat diakrabi lewat Twitter: @alravox
Menulis Sepucuk Surat Panjang
Puisi John Kuan
Ingat kau melewati segaris pantai
mestinya di sakumu ada sepucuk surat
segitu panjang. Kau bilang: Tadi malam
gemintang porak-poranda, hatimu kacau
Juga ketika kau membereskan pernak-
pernik di dasar laci seringkali bertahan
adalah benda paling tidak disuka, namun
membuat hati risau. Jejak tinta di tengah
surat kadang dangkal kadang dalam.
Kuduga saat ini mestinya kau sudah bangun
segelas air putih, merapikan semestamu
atau mungkin berkitar di kamar, berjalan
sia-sia, bagai menjaga sebuah pikiran
mudah terlepas, lalu kau duduk, menulis
rinci per rinci yang kita sama peduli
bahkan mendampingi waktu menunggu
duniamu berputar ——— yang kau bilang
ataupun tidak, aku mengerti semuanya
: : : : : : : : : : : :
Mereka cuma mainan: kau menyisip
di dalam benua abjadmu, bukankah aku
juga hanya seorang prajurit belaka?
Pada arus sungai yang mengalir deras
di antara kening kita, bunga datang bunga
pergi, puisi datang puisi pergi, aku sudah
separuh tanah berdiri di sini, setetes hujan
musim semi, akan menjelmaku lumpur lagi.
: : : : : : : : : : : :
Ingin juga cerita sedikit aku terapung
setiap malam, di tepi ranjang melepaskan
sandal dan baju berlumur cahaya dan debu
mengayuh ke gelap, seperti ke pulau harta
masa kanak ——— ombak bergulung bulat
bagai sebiji airmata raksasa, atau satu embun
tergantung di kisi jendela. Burung melintas
akrobatik di langit berbintang, gerombolan
ikan unik menorehkan bayang berwarna
Mereka sering tanpa luka menabrak jalur
layarku. Saat putih perlahan panjat jendela
tirai bambu menggeliat binatang laut,
mengejutkan sandal yang terbaring miring
dua ekor ikan laut saling membuih itu,
di saat berbagai sampah kota terapung,
di antaranya ada sebutir mikrokosmos
berkulit keras, halus, di dalam lengkungnya
aku nyaman, kering, bersih, dan hangat
: : : : : : : : : : : :
Pagi ini di dasar laci lemari dapur
menemukan kita di suatu malam hujan mati
lampu bersuka ria meraba-raba tapi tidak bisa
ditemukan sepotong lilin sisa separuh itu
Pagi ini di dasar laci meja mahoni tua
menemukan sebuah amplop kuning pudar
itu mestinya berisi seikat rambut sekian tahun
lalu tidak tahu sudah mati atau masih hidup
Ia tidak bisa tumbuh juga tidak bisa lapuk.
Pagi itu kenang kamu, tentu bukan sekedar
kenang, percakapan telepon, bahkan melingkar
tanggal temu ——— pada satu dunia berlumur
lembab malam, terima kasih kau membiarkan
buah pikiranku ada ranting hinggap
: : : : : : : : : : : :
P.S.
Masih suka duduk di mulut jendela? Aku juga
satu posisi di musim panas yang jauh. Di luar
jendela, siang mengikuti bayang hitam pipih
bersandar malas, terdengar suara langkah
ringan, bagai buah yang matang dalam diam
tergantung di taman Adam dan Hawa ———
Orang berpayung, juga gumpalan awan
mungkin sedang santai melintas, tidak perlu
mengejar waktu, kau dan aku juga. Setelah
tertinggal kita bisa diskusi kenaifan dan sastra
Kalau tidak Homer buta, Plato terhormat
Kalau tidak Bach, Rachmaninoff boleh juga
atau buka buku biarkan kalimat panjang
kalimat pendek dibaca suara serangga.
Sebuah kesimpulan tanpa tema, besok boleh
dilanjut, kata-kata tak sempat dimuntah
besok juga jangan sebut. Hari sederhana
bagai segelas teh, kota serta orang-orang
tidak disukai, semuanya ada di seberang
arus sungai. Sebelah sini mungkin ada orang
suka bersedih, tapi bukan kita. Kita tahu Cinta
Petang masih juga suka petir dan hujan
tapi tidak usah risau, setelah jam 5 pasti cerah
: : : : : : : : : : : :
Wanita Jawa Tulen
Cerpen Annisa Zahra Maharani
Editor Ragil Koentjorodjati
Parasnya ayu. Perawakan jawa tulen. Kulitnya kuning langsat, bersinar – sinar bagai ratusan lampu kelip di bawah gunung. Jika dia tersenyum, ada satu sihir yang memabukkan, bahkan mungkin membuat pria tua bangka sekalipun jatuh hati pada kepolosan dan keserasian senyum pada mukanya yang lonjong kecil. Di sudut ujung bibirnya, lekukan kecil semacam cekungan ceruk. menakjubkan sekali, seakan – akan, serupa mata air kecil di mana air dan penghidupan memancar dari sela – selanya.
Lama aku jatuh hati padanya, berandai – andai bahwa dia bisa kuperistri dan bakalnya jadi kantung rahim untuk keturunan – keturunanku. Sikapnya yang lugu, sopan tak berlagak-lah yang justru memikatku kuat. Wanita jawa beradab. Wanita gunung yang santun dan begitu ayu. Pendiam, pemalu namun anggun berpendar di antara pohon – pohon pinus di pinggir hutan.
Sudah 3 bulan aku di desa. Memaksa diri untuk ngabekti pada tanah leluhur. Meninggalkan sengkarut perkotaan dan kebangsatan tender – tender kantor. Kupaksa penuh, kuhajar telak nafsu kedonyan-ku meraup harta di Jakarta. Sebagaimana Jakarta memukul telak kewarasanku sebagai pria bujang mapan, membuatku hampir gila dengan kesendirian dan neraka jahanam duniawi pekerjaan. Jadi manajer tim pemenangan tender proyek konstruksi, benar – benar menguras sisi manusiawiku. Menggodokku jadi manusia materialis sejati. Diperhamba uang. Diperkekang duit dan hidup tersistem atas nama cari duit. Aku ingin cari ketenangan. Lepas dari segala perputaran yang seringkali dilabeli materialisme, hedonisme, -atau apalah itu, yang penting aku merasa tidak nyaman untuk sekarang ini. Kurasa cukuplah, apa yang aku kejar selama ini. Finansial yang berlebih, pangkat, teman – teman hedon, rumah, mobil, semua hampir kupunyai. Tapi tidak untuk satu ini: istri.
Udara dingin dini hari di Pananjakan sungguh menyiksaku. Tak kuasa menangkis serangannya, seringkali tiap malam aku hanya bisa berdiam diri di villa kecil ini – setelah menjual rumahku di Jakarta dan Bandung. Villa yang kubeli dan ambil alih pengelolaannya dari Pak Rekso, seorang milliarder kaya dari kepanjen, Malang. Villa gaya art deco kecil. Masih cukup bagus dan nyaman untuk kutinggali sendiri. Letaknya agak terpencil, di samping perkebunan teh dengan letak di atas sebuah gundukan kecil. Atau entahlah apapun itu bukit atau gunung kecil sekalipun.
Gigi – gigi rasanya sudah berkeletuk saling bersitegang. Tak ayal, arabika panas, rokok kretek dan jagung bakar yang kubeli di depan villa cukup jadi teman-angan-seksualku. Tak ada lagi yang lebih seksual selain gabungan arabika panas-rokok kretek-dan jagung bakar di tempat sedingin ini. Duduk sendiri –ya memang siapa lagi, teman wanita? Cih! Aku tak mau terseret dalam angan seksual – di depan perapian di tengah ruang utama, cukuplah menyamankan gigil badan yang gemetarnya serupa gempa.
Seminggu yang lalu, aku bertemu dia, si wanita jawa tulen. Berdiri di belokan 100 meter dari villa. Sedang berdoa di sebuah altar sambil menyajikan sesaji di atas meja batu kecil. Rambutnya dikuncir, kebaya putihnya padu sekali dengan warna kulitnya yang kuning langsat. Kuning bersih.
Sekilas dia melihatku, sehabis doanya selesai. Jarak lima meter kami serasa sungguh dekat. Seperti adegan di Mohabbattein, serasa ada angin magis bertiup membelaiku. Leherku, mukaku, rambutku, tepat seperti scene di film itu. Tapi bedanya, mohabbattein di India, dan adeganku ini di Pananjakan. Di Mohabbattein scene itu diiringi orcestral backsound, sedang scene-ku dibacksound lenguh kerbau dan suara bedhes gunung. Ah, tak apalah.
Perjumpaan awal yang menakjubkan. Baru ditatap dan disenyuminya saja, kurasa ada satu ruang di hati terisi penuh, tergegap – gegap oleh bayangnya. Seminggu lebih, kuikuti dia. Di pasar, di kali, di altar seberang belokan, di Telogo Pasir saat dia turun berdoa di Pura, di manapun. Tapi satu kejanggalan, dari pagi sampai malam kukuntit dia, sekalipun, tak kutemukan di mana rumahnya. Pun jika arah pulangnya sama, dia selalu tiba – tiba saja hilang dari pengawasan. Hilang di balik pinus besar samping hutan, hilang di antara kerumunan petani karet, hilang di pekat kabut gunung. Hilang begitu saja. Aneh. Seakan kena sirep, aku tetap berusaha mati – matian mencari rumahnya.
***
Sudah 2 minggu lebih sehabis pertemuan kami terakhir. Aku terpaku di villa, hanya berkutat dengan perapian, laptop, arabika, dan rokok kretek. Merasa kehilangan setelah dia samasekali tak kelihatan di peredaran pasar dan orang orang yang berdoa di Pura, pun di altar seberang belokan. Ada satu kerinduan yang begitu mendidih. Bergejolak berimbang antara penyesalan dan rindu picisan. Penyesalan ketika rumahnya tak ketemu, dan kerinduan hebat ketika senyum dan ceruk di ujung bibirnya tersesat dalam mimpi – mimpiku saban hari. Blah, bahkan namanya saja aku tak tahu. Payah.
Habis tungku perapian, mataku lebam menghitam dihajar kelelahan dan dingin gunung. Dingin tetap menusuk meski 3 jaket tebal Rei dan Camp menutupi tubuh. Arabika pahit tak cukup kuat menyangga kantuk. Tubuhku lemas tergeletak di karpet depan perapian. Jam masih pukul 2 dini hari. Lamat – lamat kudengar suara banyak orang di samping villa. Ada yang bersitegang, ada yang bercakap hebat berdesas desus. Kulihat dari balik jendela, mataku silau tergegap. Silau puluhan obor dari kerumunan orang. Mencoba menelisik, kuberanikan keluar.
“Ono opo cak? Cek ramene koyo mari onok kobongan.[1]”
“Hus! Ojok dagelan sira Dik, iki lho Dik, onok bayi![2]” Seorang dari kerumunan menyahut. Dari nyala obor berkilau kilau, kukenali dia adalah Cak Pri. Penjual jagung bakar langgananku.
“Bayi opo seh cak. Sopo sing mari babaran?[3]”
“Ora dik, ora. . Bayi mati. Bayi gari sirah-e thok. Awak’e mbuh nangndi.[4]”
Terkesiap darahku, kucoba tak percaya. Tapi kulihat dari balik kerumunan, memang sebentuk bulatan remuk tak sempurna tergeletak di tanah. Tak ada torso, hanya segenggam bulatan bermata berkuping. Tanpa badan. Darah bercucur dari pangkal leher.Bergenang – genang di bawah kaki kerumunan. Seorang wanita muda pingsan dibopong warga keluar kerumunan. Barangkali ibu dari bayi nahas itu.
Dari desas-desus orang, spekulasi meruncing ke arah hutan. Dari warga, kudengar informasi bahwa seringkali anjing hutan memangsa ternak. Bahkan gawatnya, bayi banyak dimangsa olehnya. Jajaran pamong, warga, bahkan Perhutani sekalipun saling membantu memusnahkan populasi anjing hutan di gunung – gunung sekitar Pananjakan. Tapi masih saja terjadi kejadian begini. Nyaris habis kambing ternak warga. Pun juga bayi dan balita – balita tak berdosa. Warga hanya bisa gedhek – gedhek mengatasi masalah ini.
Jam 3 pagi, warga menyisir gunung. Sebagian memutari lereng, sebagian mencari di hutan pinus dan kebun teh, sebagian lagi sibuk mengaduk – aduk semak mencari potongan tubuh si bayi. Aku turut membantu, masuk pada massa yang menuju ke atas gunung. Sambil memegang obor dan belati, takut kalau – kalau mendapat serangan mendadak dari target. Ya, target utama, jelas si anjing hutan yang jadi tersangka kasus pemangsaan tak bertanggung jawab ini.
Dari kerumunan di bawah, terdengar teriakan bahwa dua ekor bersembunyi di balik rimbun semak. Tanpa pikir panjang, warga mengamuk, membunuh keduanya. Tapi meleset, satu lagi lari masuk ke hutan. Tak ketemu. Yang satunya, mati dengan kepala menganga disabet golok warga. Mati mengenaskan dihajar massa.
Jam 4 subuh, aku tersesat, hilang dari kerumunan. Masuk justru ke arah melenceng. Cih, gara – gara sok tahu. Malah jauh meninggalkan warga. Bakal rumit cerita kalau satu lagi korban ditemukan: “Korban hilang tersesat”. Kukubur pikiran itu jauh-jauh. Rasanya jam nyaris pukul lima. Tak ada tanda – tanda apapun. Kini misi berubah. Tak lagi masalah anjing bedebah itu. Tapi bagaimana cara aku sampai ke villa secepatnya. Dingin sudah diambang puncak. Kukira di bawah sepuluh derajat pun ada.
Menggigil menahan dingin. Dengan minyak di obor tinggal sedikit. Tak cukup barang satu jam. Aku coba bergegas mempercepat langkah. Dari arah lain, masih terdengar suara warga bersahut – sahutan. Sepertinya ada yang kena sabet golok lagi. Batinku.
Tiba – tiba saja ada satu gerakan dari arah samping. Curiga, kucoba mendekat masuk ke semak tebal di bawah rimbun pinus gunung. Terlalu gelap. Tak cukup ruang dan cahaya menembus tebal semak. Dari sekitar lima meter kuintip tanpa banyak gerak. Takut, kalau kalau si anjing target ternyata di sini dan bakal lari kepalang kalau dia menyadari kedatanganku.
Lampu obor bekilap – kilap. Dari balik kegelapan dan kilap obor minyak tanah. Tubuhku menggigil, gigi berkeletukan saling bersitegang. Angin gunung berembus aneh, naik. Bukan turun dari gunung. Ada satu ketakutan sekaligus ketakjuban. Wanita yang tempo minggu lalu mengisi hatiku, kugilai, kukuntit terus menerus seminggu penuh, wanita jawa tulenku, wanita kebaya putih dengan senyum dan ceruk bibir melengkung padu, wanita agung anggunku: kini ketemu. Mataku nyalang menyuruki kilauan obor dan kabut pagi. Si wanita jawa tulen berkebaya putih, rambutnya dikuncir, duduk di sebuah batu. Tapi tak nampak ceruk bibirnya. Justru bibirnya tertutup gincu merah pekat. Gincu cair mengalir dari mulut dan gigi – gigi padunya. Matanya berkilau-kilau, tapi menghitam menyalang. Kebaya putih kini bertumpukan dengan merah gincu yang terus mengucur. Sebagian ada yang mengering. Sekepal kaki dan gundukan organ habis di makan. Sadar setengah tidak, kulihat dia menyalang gila melahap onggokan potongan tubuh bayi. Dia kelaparan. Lehernya meregang dan urat – uratnya mencuat. Kulitnya kusam kekuningan. Rambutnya dikuncir berantakan. Dia gila, tubuhnya mandi gincu yang ternyata darah, di sampingnya bergeletakan onggokan tulang belulang kambing dan mungkin manusia. Matanya benar – benar seperti setan. Dibalik keayu-annya, kusadari dia adalah manusia jadi – jadian. Mungkin dukun teluh, mungkin titisan Durmagati.
Aku? Duduk saja terpaku berjam –jam. Membatin kosong sampai obor habis gosong. Aku rasa aku juga jadi gila. Dunia serasa bertumpuk – tumpukan. Tak ada lagi obor, tak ada lagi ketenangan. Belati tersungkur seakan dipaksa diayun oleh entah sugesti apa. Aku roboh sekarat. Mungkin diteluh, atau mungkin pula bunuh diri sendiri. Satu kepastian akhir, kulihat dia si jawa tulen masih ada, meringis tertawa, ceruk bibirnya berubah fungsi jadi semacam gertakan visual. Seringai mengerikan yang justru tetap membuatku terkesima –meski sekarat – takjub. Sungguh demi dewa yang dia sembah tiap pagi, dia cantik sekali. Dia cantik sekali.
Matahari muncul berganti rupa. Merahnya melunasi hutang – hutang embun pinus yang menguap lepas. Pananjakan, kurasa istriku telah ketemu. Aku jatuh cinta kembali. Tidak dengan duit dan Jakarta. Tapi pada dia si Wanita agung, si Jawa Tulen.
[1] Ada apa Pak? Kok ramai seperti ada kebakaran.
[2] Hus! Jangan bercanda Dik, ini lho Dik, ada bayi!
[3] Bayi apa sih Pak? Siapa yang baru melahirkan?
[4] Bukan Dik, bukan. Bayi mati. Bayi yang hanya tinggal kepalanya saja. Badannya, entah di mana.
Annisa Zahra Maharani, lahir di Karanganyar tahun 1993. Saat ini masih kuliah di sebuah perguruan tinggi di Surakarta.
Puisi-puisi Fajar M Fitrah
Tamu
dari pintu tua itu
berpupuran sepiku
waktu menunggu
di jendela ada kupukupu
dari kepak kupukupu
berguguran tanyaku
:
adakah yang lebih dulu
meminang denyutmu?
2012
Ruang Tamu
tiba-tiba lampu mati, lampu itu juga
waktu gelap semata, gelap sempurna
percakapan redup, kita pun lekas
memburu Pintu
yang mungkin tak ada itu
2011
Cadas
baginya sepilah
hembus di keharmonisan lautan
kala cakar-cakar ombak menyeruak
dan camar-camar berteriak
mimpinya
setia terlempar ke bugar akar-akar
sepi juga kekal baginya
: rasa bersalahnya
2011
Elegi
lalu mengalirlah sungai itu ke muara
segala duka, cuaca mengawal arusnya
sewaktu-waktu sirna
2011
Persimpangan
di antara jalan ke barat dan ke timur
: tertegun, barangkali ngungun
di kepala mendung telah mengurung
di belakang waktu jadi burung
2011
Fajar M. Fitrah, Lahir di Bandung 25 Maret 1993. Mahasiswa Bahasa & Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia. Bergiat di ASAS UPI (Arena Studi Apresiasi Sastra) dan KSC (Komunitas Sastra Cianjur). Penggiat JurnalZine RajaKadal & GERPAMSI (Gerakan Pamflet Puisi). Dapat dihubungi di nomor 087824244128
Monte Cristo di Karawang
Cerpen M Taufan Musonip

Di Karawang aku menemukan The Caunt of Monte Cristo dari seorang tauke, kupikir yang menerjemahkannya adalah Robert Mallema seorang kolektor novel yang pernah sesumbar akan menerjemaahkan semua roman Eropa kepunyaannya ke dalam Bahasa Melayu. Mallema adalah pelatihku dan pernah memberikanku Hikayat Robinson Crusoe sebagai kenang-kenangan. Dia adalah orang yang ditunjuk oleh Gubernemen melatih para bromocorah untuk disiapkan menjadi weri. Minat bacaku terhadap novel tumbuh di sana. Dan aku adalah satu dari sedikit anggota Macan Item yang tahu membaca. Tiga tahun aku pernah bersekolah karena jatah bapakku yang seorang ambtenaar rendahan. Bapakku tewas karena ambil bagian dalam pergerakan kaum tani. Aku kehilangan arah, mengekor ke dalam kelompok Jawara yang berguru pada seorang kanuragan dari Banten.
Ternyata novel itu diterjemaahkan dan disadur oleh seorang J. Kuo, mirip nama Cina. Tauke menawarkanku membeli buku itu, harganya sepadan dengan sepotong kaki sapi, aku menyetujuinya dan berarti dia memotong pembayaran untuk sepuluh ekor sapi. Sapi-sapi itu adalah hasil rampokan dari Rawa Binong, keuntungannya akan dibagi buat kepala desa yang penduduknya telah menjadi korban, dan sebagian kecil untuk Bupati, daftar baru yang kubuka jalannya sebagai pemenuhan kehendak penjajah, melepasku sebagai weri, penyusup yang ditugaskan untuk mengawasi dan memecah-belah kelompok-kelompok jawara. Samaji, pemimpin kelompok Macan Item, menurut saja ketika kusarankan padanya agar memberi sebagian kecil saja jatah kepada Bupati, sebagai jaminan bahwa kelompok saingan terbesarnya Naga Hitam tak akan memakan wilayahnya.
Naga Hitam adalah kelompok jawara yang dibesarkan dengan pesat oleh Bupati Bagurdi. Pembagian kepada Bagurdi tentu akan sampai kepada Pemerintah. Sementara ini Samaji hanya memberikan dua potong kaki setiap sepuluh ekor sapi hasil rampokan. Bagurdi menguasai dua belas kelompok jawara, sebagian dipimpin oleh para weri bawahannya yang berhasil menduduki kekuasaan di tiap kelompoknya, sebagian lagi meski bukan dipimpin seorang weri, kelompok mereka diarahkan untuk bersekutu pada Bagurdi, berkat kepiawaian para weri juga. Masing-masing weri memberikan satu ekor sapi dari tiap sepuluh ekor hasil rampokannya. Dua belas kelompok itu disatukan menjadi Naga Hitam. Hanya kelompok Macan Item sajalah yang belum sepenuhnya tunduk, Samaji terlalu kuat untuk dikalahkan, pengikutnya terlalu rapat, dan sangat setia. Sebagai seorang weri akulah yang bertugas mematahkannya dari dalam, sehingga seperti para weri di Naga Hitam, setidaknya aku dapat duduk dalam posisi penting di Macan Item, semuanya butuh proses, tetapi Samaji memang sulit dijatuhkan.
***
Setelah pengiriman sapi-sapi itu aku dan anak buahku kembali ke tempat masing-masing dengan cara berpencar. Aku yang mengatur hal itu agar tak terendus pihak kepolisian.
Ketika yang lain sudah kembali, aku memilih pulang paling akhir sambil menikmati Roman baruku, di sebuah penginapan. Tapi sebelum ke sana, seorang indo yang sejak dari tempat penadah mengawasiku, mendekat, mengatakan bahwa dirinya punya lebih banyak koleksi novel, dan ia menawarkan agar aku singgah di rumahnya. Namanya, Kaspari, nama yang tak sesuai dengan warna kulitnya. Dan aku menyebut diri Komar, nama samaran.
“Kau tahu, aku bahkan memiliki novel Matahariah, ditulis di Belanda oleh orang kita.” Katanya, kita -maksudnya orang pribumi. Aku bertanya dalam hati, apakah dia telah merendahkan dirinya sendiri setelah menyebut namanya itu, mengaku bahwa dirinya bagian dari kaum pribumi yang masih dianggap monyet oleh orang kulit putih.
Dia tampak terengah-engah mengikuti langkahku yang lebih cepat darinya. Orang berkulit putih bernama Kaspari ini terus menggodaku agar bersedia beristirah di rumahnya dengan menyebutkan beberapa roman lainnya lagi, di antaranya aku mendengar Serlock Holmes dari mulutnya.
“O, ya? Maaf kenapa tuan nampak bernafsu agar aku ikut bersamamu?” Jalanku semakin cepat. Dia tertinggal. Lalu kudengar teriakannya dari belakang. “Aku hanya mau kau singgah! Ayolah!”
Sebagai seorang weri aku diajarkan agar tidak cepat mempercayai siapapun di jalanan, dilatih agar peka bahwa setiap kebaikan orang selalu punya maksud tertentu. Kaspari, kupikir adalah orang yang perlu dicurigai, tapi tawarannya menarik. Aku juga diajarkan bagaimana mendapatkan keuntungan lebih cepat, dan mampu mengantisipasi gerak lawan. Tapi kupikir orang Indo ini perlu diselidiki juga, apa maunya, dan yang paling penting dia punya banyak buku bacaan.
Aku berbalik. Dia memekik, “Ayolah, rumahku tak jauh dari sini!”
***
Aku masih mencari cara bagaimana bisa menjatuhkan Samaji, dan merapatkan Macan Item pada Bagurdi. Samaji semakin gencar menyulut emosi anak buahnya untuk segera masuk wilayah lain. Dan itu sudah didengar pihak penjajah, tentunya termasuk Bagurdi. Itu orang cuma punya omong gede saja, tapi Bagurdi tak pernah tahu, dia pikir Samaji memang benar-benar jawara sejati.
Bagiku tak peduli perseteruan dingin yang terjadi antara Bagurdi dan Samaji. Aku hanya ingin menuntaskan dendamku bertahun-tahun lalu ketika lelaki dengan sorot mata sembilu itu merebut kekasih hati yang baru kunikahi setahun lamanya, kemudian mati karena kolera atau karena kecewa harus menjalani hidupnya bersama lelaki yang tak dicintai dalam penantian terhadap kekasih sejatinya yang tertangkap saat melakukan ekspedisi ternak-ternak hasil rampokan ke Karawang beberapa tahun yang lalu. Samaji menjebakku dengan informasi yang salah dari para mata-mata yang disiapkan di setiap jalur-jalur ekspedisi, sebelum kami berangkat, untuk memastikan jalanan aman dari operasi kepolisian. Samaji tak pernah membuka rahasia bagaimana ia mengatur dan menghidupi para mata-mata, hanya saja aku tahu beberapa di antaranya adalah orang pribumi yang bekerja di pemerintahan.
Aku juga tak pernah tahu, dari beberapa orang jawara yang tergabung dalam kelompok ekspedisi itu hanya aku terpilih sebagai seorang weri, atau jangan-jangan, di antara kami saat itu semua telah menjadi weri, bodohnya hingga sekarang Samaji tak pernah mengendus gerakan weri yang sudah semakin kuat.
Pada masa penahanan itulah aku dididik menjadi seorang weri dan kembali ke Macan Item setelah resmi dilepas pemerintah. Samaji menerimaku kembali tanpa curiga ada perubahan yang terjadi padaku.
Dua persoalan dan kenangan itu berputar-putar dalam pikiran, meski terkadang terlupakan karena petualangan Caunt, dan suara mesin tik di luar kamar, mereka adalah para pemuda yang ikut merintis koran pergerakan milik Kaspari, seorang anak haram, dari ayah Belanda tak bertanggung jawab. Nasibnya sama kurang baik seperti si Amat dalam Monte Cristo anak indo yang menuntut dendam pada bapaknya sendiri karena telah ditelantarkan. Aku tak tahu, kenapa bisa kebetulan seperti itu, tapi kupikir anak indo yang terlantar memang bukan mereka saja di negeri ini.
Kaspari mengajakku berbicara di teras depan sore tadi, mendengarnya bicara tentang pemikiran yang terkandung dalam setiap novel. Menurutnya novel-novel yang diterjemaahkan dalam bahasa melayu pasar kurang disukai penjajah, karena banyak mengandung pesan perlawanan, dan dikhawatirkan akan memintarkan penduduk pribumi. Aku bilang padanya, bahwa aku hanya senang membaca.
“Penjajah telah membentuk dua kelas bahasa.”
“Benarkah?”
“Itu semua buat mengatakan bahwa novel-novel bahasa melayu pasar adalah bahan bacaan rendahan.”
“Untuk apa?”
“Buat menekan suara pergerakan, buat mencekal perjuangan kemerdekaan.”
“Maaf, aku hanya suka membacanya saja.”
“Oh, itu sangat disayangkan, sebab kita manusia punya hak untuk merdeka.”
Pembicaraan kami dimurami awan hitam yang menggelayut di langit Karawang. Kaspari mangajakku ke ruang bacanya, dan meminjamkan beberapa buku. Kuambil Matahariah, yang ditulis oleh Mas Marco Kartodikromo, sebagaimana sering ia sarankan.
Aku masuk ke dalam kamar yang disediakannya. Dia seorang Indo yang sangat menghargai tamunya. Katanya aku orang aneh, seorang petani yang suka membaca. Aku tak pernah mau mengatakan padanya bahwa aku seorang weri. Dan adalah melawan aturan jika harus jujur padanya.
***
Aku bersiap pulang, ketika Kaspari masih sibuk dengan tulisannya. Saat seperti itu anak Indo ini tak pernah lepas dari rokok kretek dan kacamatanya. Gederap kereta api melewati keberadaan kami, rumah itu memang di dekat perlintasan kereta api.
Dia memberiku beberapa edisi koran terbitannya, Soeara Baroe, begitu judul yang tertulis di dalamnya. Seorang gadis disuruhnya untuk menyiapkan secangkir kopi, ketela rebus buat sarapan dan perbekalan buat perjalananku. Wajah gadis itu tampak sangat bercahaya, meski tidak cantik.
“Naik kereta api saja, Komar.” Kaspari menyebut namaku cukup hangat, meski aku kurang suka dia memanggilku dengan cara itu, umurku lebih tua darinya, aku tahu dari sudut matanya. Dari gelora semangatnya.
“Aku suka berjalan kaki,” kataku.
“Sudahlah, ayo kuantarkan kau ke statsiun.”
Mungkin stasiun maksudnya. Si gadis tersenyum padaku saat Kaspari menghentikan tulisannya untuk bersiap mengantarkanku. Kami menaiki dokar ke stasiun, Kaspari tak pernah berhenti berbicara soal pembebasan, soal kemerdekaan dan hak sejati seorang manusia. Dia baik, tetapi aku masih berpikir bahwa tak ada kebaikan tanpa maksud tertentu.
Kaspari menungguku sampai aku benar-benar menumpang kereta ke Bekasi. Di kereta aku membayangkan bagaimana soal prinsip pembebasan itu dapat memerdekakanku dari keinginan menjatuhkan Samaji, dan terus berkutat pada tugas rahasia yang dibebankan pemerintah kepadaku. Tapi aku lebih senang mengingat perempuan di rumah Kaspari tadi, aku lupa menanyakan padanya siapakah perempuan itu, dan tiba-tiba dadaku terasa berdebar ketika di benakku terngiang suara lelaki indo itu berkata saat perpisahan tadi: datanglah balik, bawa bukuku kembali untuk digantikan yang baru.
“Ya, aku akan kembali… aku akan kembali, Kaspari” Gumamku.(*)
Cikarang-Bandung, 15 Maret 2013
CATATAN:
Weri: diambil dari tulisan Schulte Nordholt dan Margrett van Till dalam esai Jago dan Kriminalitas pedesaan, seperti diceritakan di atas, dia merupakan agen atau intel yang diambil dari para jago yang sering beraksi melakukan pencurian/perampokan ternak penduduk desa, meskipun setting sejarah Nordholt dan Margrett diambil di daerah Kediri pada tahun 1872. (etnohistory.org: Kumpulan Esai, Jago, Preman dan Negara).
Ambtenaar: Sebutan untuk pegawai negeri pada masa kolonial Belanda.
Tauke: profesi pedagang bagi orang Tionghwa, dalam cerita ini dia berperan sebagai penadah hewan hasil curian/rampok.
Novel The Caunt of Monte Cristo adalah novel populer pada abad ke 19, dikarang oleh Dumas, banyak diterjemaahkan dan disadur oleh orang tionghwa, tapi dalam cerpen ini, Monte Cristo merujuk pada novel yang disadur oleh Kuo (terbit tahun 1928).
Catatan Pinggir Ceramah Umum Prof. Sudaryanto
Beliau memulai ceramahnya pagi itu dengan bertanya siapa di antara kami semua yang orangtuanya pernah mengenyam pendidikan tinggi. Dari sekian banyak hadirin, hanya sembilan orang yang mengacungkan jari, termasuk saya. “Memang kebanyakan dari kita menjadi penggagas dalam keluarganya, menjadi generasi pertama pencari ilmu pengetahuan dalam keluarga”. Itu yang pertama. Yang kedua, coba perhatikan hampir semua teori yang dipakai dalam lingkungan akademis adalah barang impor. Nama-nama disiplin ilmu, sebut saja sosiologi, biologi, antropologi, arkeologi, fisika, bahkan linguistik sekalipun diserap dari bahasa Latin. Karena memang dari sanalah disiplin ini dirintis sejak zaman Yunani kuno. Ilmu pengetahuan itu barang impor buat kita orang Indonesia. Karena kebanyakan dari kita masih merupakan generasi pertama pencari ilmu pengetahuan, maka problem lain yang muncul adalah bahwa kita tidak punya tempat untuk bertanya dan mengadu ketika menemukan masalah dalam proses pencarian ilmu tadi. Sehingga jika terjadi kesalahan, maka kekhawatiran akan terjadinya pembiaran kesalahan itu secara turun temurun tidaklah mengejutkan. Meminjam istilah beliau, banyak ilmuwan Indonesia yang keblinger dengan kesalahan yang tak disadari karena tidak ada panutan itu tadi. Demikian kendala perkembangan ilmu pengetahuan di negara kita.
Merujuk pada tema ceramah “Penutur Bahasa Indonesia yang Kreatif dan Kreator Kebudayaan”, profesor yang berpenampilan sederhana tapi sedikit nyetrik ini mencoba menguraikan kembali makna kata kebudayaan secara umum dan makna dalam Bahasa Indonesia khususnya. Kebudayaan merupakan sesuatu yang membedakan kita dengan makhluk lain, terutama binatang. Kebudayaan, pada hakikatnya, merupakan segala bentuk hasil kreatifitas manusia yang terus menerus berkembang seiring dinamika manusia itu sendiri. Manusia yang bergerak –semula tidak berpakaian menjadi makhluk mode seperti zaman sekarang, itulah kebudayaan. Jika dulu manusia hanya belajar dengan mengandalkan kedekatannya dengan alam, berubah menjadi makhluk yang menggemari institusi formal seperti sekolah, itu juga bagian dari kebudayaan. Jika dulu diet sehari-hari mengandalkan sumber-sumber yang tersedia di alam, kini berubah menjadi makhluk pencinta supermarket dan sejenisnya, itu juga namanya kebudayaan. Kebudayaan sebagai hasil cipta manusia, terus bergerak, berubah, dan berkembang. Berbeda dengan binatang, -memang binatang juga punya kreatifitas seperti kreatifitas burung membangun sarang di atas pohon. Namun perhatikanlah bahwa kreatifitas yang demikian bersifat statis, tidak dinamis. Sarang yang dibangun oleh burung dari zaman dahulu hingga kini sama saja, begitu-begitu saja. Sampai abad ke-21 ini belum ada rasanya burung yang mampu berkreasi membangun apartemen khusus burung sebagai pengganti pohon. Hanya manusia yang mampu berkreasi secara dinamis, sehingga kebudayaan menurut saya menjadi hak istimewa yang diberikan kepada manusia.
Kebudayaan memang memiliki cengkeraman yang sangat luas dalam berbagai lini kehidupan. Menurut Koentjaraningrat (1985), ada tujuh elemen kebudayaan yaitu sistem religi, sistem organisasi masyarakat, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian hidup dan sistem – sistem ekonomi, sistem teknologi dan peralatan, bahasa, dan kesenian. Namun pada kenyataannya, ada satu hal yang menarik terkait definisi kebudayaan di negara kita. Dalam makalah Profesor Sudaryanto yang berjudul Dari “Anu” sampai “Nah” Terentanglah “Kebudayaan”. Beliau membeberkan istilah-istilah yang pasti sudah akrab di telinga kita, seperti Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Dirjen Kebudayaan, Atase Kebudayaan, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Bahasa, Sastra, dan Budaya, Program Studi Ilmu Religi dan Budaya, dll. Menurut kaidah Bahasa Indonesia, konjungsi dan dipakai untuk menghubungkan dua kata atau lebih yang memiliki hubungan setara. Jika di atas kita sudah sepakat dengan Koentjaraningrat, bahwa ada tujuh elemen yang tercakup dalam kebudayaan, yang artinya tujuh elemen tersebut merupakan bagian dari kebudayaan, maka apa yang terjadi dengan pelabelan-pelabelan institusi di atas? Apakah kata kebudayaan telah mengalami penyempitan makna dalam masyarakat Indonesia? Apakah kebudayaan di negara kita yang katanya berbudaya kaya ini hanya sebatas tarian tradisional, baju adat, musik daerah, dan kuliner daerah saja? Sesempit dan semiskin itukah?
Fenomena penyempitan makna kata kebudayaan ini mengingatkan saya kepada seorang pemikir multikulturalisme yang berkiprah di Kanada, Will Kymlicka. Pemikiran Kymlicka berfokus pada kebijakan untuk memberikan perlakuan khusus kepada dua kelompok etnis multikultural, yaitu kelompok bangsa pribumi minoritas dan kelompok imigran. Dalam tulisannya, Multiculturalism: Success, Failure, and the Future (2012), beliau menentang model multikultural 3S (saris, samosa, dan steeldrum). Model 3S menunjukkan bahwa ada tiga penanda multikulturalisme, yaitu tradisi (ia mengistilahkannya dengan tradisi sari dari India), musik (ia mengistilahkannya dengan alat musik steeldrum), dan makanan (samosa, yang merupakan makanan khas India). Model 3S ini melihat bahwa fokus kebudayaan hanyalah tiga hal ini, padahal pada kenyataannya fokus sebenarnya yang ingin ditekankan oleh Kymlicka adalah masalah sosial seperti pengangguran, masalah ekonomi, pendidikan yang rendah, segregasi tempat tinggal, penghasilan rendah, kemampuan Bahasa Inggris yang kurang. Tapi malah masalah ini tidak ditampilkan. Menurut saya apa yang ditentang oleh Kymlicka ini persis sama dengan kekhawatiran-kekhawatiran dari pertanyaan yang saya ajukan di atas tadi. Apakah benar kebudayaan di Indonesia bergerak menuju model 3S ini? Profesor Sudaryanto memberikan pekerjaan rumah bagi hadirinnya untuk merenungkan fenomena ini sendiri-sendiri.
Diakhir ceramahnya, beliau meninggalkan satu petuah yang bagi saya sungguh dalam maknanya. Jika kita mau merenungkan, satu hasil kebudayaan yang sangat sederhana sekalipun sebenarnya melibatkan banyak sekali kerjasama dari sekelompok orang yang jumlahnya tak terbayangkan oleh kita. Beliau menunjuk kancing bajunya dan berkata Ini juga hasil kebudayaan. Bayangkan bagaimana proses sebuah kancing baju bisa terpasang di baju Anda? Tentu Anda harus membelinya dari seseorang di toko kancing. Untuk pergi ke toko itu, Anda barangkali perlu alat transportasi, ada supir angkot di sana. Setelah mendapatkan kancing bajunya, tentu Anda membutuhkan benang. Siapa yang membuat benang? Siapa yang memproduksi bahan baku benang? Bagaimana dengan jarum? Anda membeli jarum dari seorang pemilik toko jarum. Pemilik toko biasanya menyimpan jarum di dalam kotak, siapa yang membuat kotak itu? Kotaknya bisa saja dipajang di etalase toko, siapa yang merancang etalasenya? Siapa yang membuat kacanya? Dari mana bahan kaca itu diperoleh? Barangkali kita tidak pernah menelisik sejauh ini. Perlu diingat bahwa ketika menggunakan sebuah hasil kebudayaan, kita sebenarnya telah menggunakan jasa orang-orang yang mungkin tidak pernah kita perhatikan sebelumnya. Lalu jika demikian, bagaimana bisa kita masih menjadi manusia yang sombong?
Kontributor: