Arsip Kategori: Flash Fiction/Fiksi Kilat

Tetangga

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

tangan tuhan
Ilustrasi dari wordpress
Ceritanya begini. Mungkin ini kesalahan saya ketika saya nekad mendirikan rumah bersebelahan dengan mereka. Kautahu, tanah dan rumah sekarang amat mahal. Lalu saya mendapat tanah kosong yang dijual begitu murah, tanah sebelah tetangga itu. Tentu saja langsung saya beli. Adakah pilihan yang lebih baik bagi orang miskin selain sesuatu berharga murah?
Usut punya usut, tanah tersebut dijual murah sebab tetangga itu begitu sangar dan mengerikan, satu keluarga dengan pola pikir picik, egois, fanatik dan nyaris tidak manusiawi. Tidak ada seorang pun yang betah tinggal dekat mereka. Anak-anak mereka begitu banyak dan nyaris tiap hari bertengkar meributkan sesuatu yang sepele seperti misalnya siapa yang mendapat giliran buang sampah hari ini. Hal sepele bisa berujung pada perkelahian sengit sampai ke pelataran tetangga.
Awalnya aku tidak terlalu peduli. Aku berpikir, tanah sudah kubayar lunas, rumahku sudah layak huni dan aku ingin tidur pulas waktu malam hingga cerita-cerita yang pernah kudengar tentang apa yang membuat tanah ini murah mulai mengusikku. Anak-anak mereka tumbuh besar dan memperanakkan lagi. Suasana gaduh semakin riuh. Rumah mereka disekat-sekat hingga nyaris sulit untuk dapat disebut rumah. Mungkin lebih tepatnya, kandang ternak manusia. Dalam satu rumah terdengar bunyi saut-sautan, entah dari televisi, tape recorder ataupun suara perdebatan sesama mereka. Bising. Dan pembunuhan sesama mereka tersembunyi di balik kebisingan yang semakin memekakkan telinga. Tidak ada tetangga lain yang peduli. Berurusan dengan tetangga satu ini, sama saja dengan berurusan dengan neraka.
Memprihatinkan. Sebagai sesama manusia, tentu saja aku ingin mereka hidup damai, sebab dengan begitu rumahku pun menjadi lebih damai. Dan yang lebih penting, aku tidak mau rugi. Aku tidak ingin harga tanah dan rumahku hancur hanya karena dekat neraka. Maka hari itu aku datangi mereka yang sedang bertikai dalam rumah sendiri dengan toa. Lalu kukatakan pada mereka,”sejujurnya saya tidak peduli kalian mau saling bunuh sekalipun. Tapi tolong usahakan pembunuhan itu terjadi dalam diam, sebab saya ingin tidur.”
Lalu keesokan paginya saya melihat rumah saya dibakar habis. Itulah upah yang harus diterima orang yang suka mengganggu rumah tangga orang lain, kata mereka.

Sepasang Burung Gereja

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi dari duniasirkusdannie.files.wordpress.com
Suatu minggu pagi. Sedikit basah. Sepasang burung gereja tersentak bangun dari tidurnya. Lonceng berdenting pada minggu pagi, menyentuh gendang telinga mereka. Lalu rindu menyeruak, berbaur dengan wangi bunga lili dan sedap malam yang mekar tanpa pohon, di depan altar. Entah berapa ribu mata menitikkan duka di sana ketika bibir bernyanyi ‘Tuhan kasihanilah kami’.
“Berpuluh tahun kita tinggal di sini, tapi tak sekalipun kita pernah hinggap di altar itu,” bisik burung gereja jantan pada pasangannya.
“Karena kita adalah burung gereja, kasihku,” balas berbisik sang betina,”kita tidak berduka. Altar itu diperuntukkan bagi mereka yang terlalu berat memanggul salib.”
Seorang lelaki berjalan lesu memasuki pintu gerbang. Wajahnya pucat, hilang hati. Perlahan meraup air suci lalu membasuh mukanya. Yang dilakukannya di luar kelaziman tata cara peribadatan gereja. Seharusnya ia hanya mencelupkan jari, lalu membuat tanda salib dan berlutut. Tanda takluk dan penghormatan.
“Ia tidak membasuh muka. Lelaki itu sedang menghapus air matanya,” bisik burung jantan.
“Satu lagi peziarah yang payah,” kata burung betina,”sepertinya manusia lahir hanya untuk menderita.”
“Yah..mungkin itu sebabnya kita ada di sini. Mereka membutuhkan kicau burung, wangi bunga dan dupa, denting organ memainkan agnus dei dan manusia lemah itu terhibur.”
Kemudian kedua burung gereja itu terbang melayang menyusuri atap-atap tinggi gereja, meliuk di antara simfoni lonceng, organ dan ratap jerit belas kasihan. Mereka bercecuit melengkapi irama minggu pagi hingga pesta usai. Dan kemudian kembali ke sarang di balik plafon. Dalam senyum lelah tapi bahagia, mereka mendengar imam kepala berkata,”bersihkan gereja ini dari burung-burung pengganggu peribadatan. Jika perlu bunuh saja.”

Kondangan

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

ilustrasi dari static.allbackgrounds.com
Anak Pak Lurah sebentar lagi nikah. Kami semua bersuka ria, bersiap turut kondangan setelah sebulan tidak cukup makan.
Amplop telah disiapkan. Sepuluh ribu terlalu sedikit untuk Pak Lurah. Ibu biasanya menyumbang dua ribu untuk tetangga yang samasama kekurangan. Kali ini Ibu meminjam uang Pakdhe lima puluh ribu dengan jaminan sendok dan garpu.
Tidak ada yang lebih menyenangkan pada saat kondangan bahwa dengan sedikit isi amplop kami akan membawa pulang banyak bungkusan.
Pada hari H, kami duduk memisah. Bukan sebab kami orang susah, tetapi kami tidak mau jika duduk di depan dianggap sebagai orang peminta sedekah.
Pak Lurah tersenyum bangga. Rakyat memujanya seperti raja. Ia peluki siapa saja. Dan kami pulang tiada membawa apaapa.

24 Nov 2011

Tulisan Terkait:
Kenduri
Kumbakarna Gugur

Kemuning

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

Aku ingin bercerita tentang gadis desa bermata air dan berambut api. Gadis itu bernama Kemuning. Gadis sekokoh beringin hanya saja daun-daunnya menguning.

Ilustrasi dari imgres
Saat musim laron beterbangan, ia tertawa riang. Itu petanda satu minggu ia tidak akan kesulitan mencari makan. Peyek laron yang gurih dari laron yang malang. Ia tidak merasa perlu turut bersedih sebab ia pun satu dari berjuta laron itu. Lahir, menatap api dan lalu mati. Ia tidak merasa perlu cemburu pada kunang-kunang. Sekalipun indah dan bercahaya, kunang-kunang tidak memberinya daya. Baginya, kunang-kunang tidak lebih dari jiwa-jiwa kesepian yang mencoba menerangi dirinya sendiri. Kasihan. Buat apa hidup jika hanya menjadi fatamorgana, batinnya.

Ia hanya paham bahasa kesunyian. Hidup dan tumbuh di tanah tanpa tuan. Bagi kami, ia adalah mimpi yang tak terjangkau. Ia cantik, tapi tak lagi bunga desa sebab ia adalah Kemuning, gadis bermata air dan berambut api. Aku beritahu, engkau akan teduh bila di dekatnya, tapi akan terbakar jika mencintainya. Suatu saat engkau harus mengenalinya.

Akhir Oktober 2011

Kenduri

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati
Lima atau tujuh orang duduk melingkari daun pisang berikut makanan di atas tikar pandan. Ada nasi, gudangan, ikan asin dan satu telur. Yang terakhir ini dibagi sejumlah tamu yang datang. Desa kami tak pernah kekurangan.

Berapapun jumlah irisan telur itu, Pak Modin selalu mendapat bagian paling besar, sebab dialah yang membaca doa.

Pak Modin memulai ritual dengan bismillah lalu ditutup dengan Alkamdulilah. Entah bahasa arab mana yang dia ucapkan, kami menimpali setiap kalimat dengan amin. Kami sungguh percaya doanya suci dan benar.

Dengan degup debar aku menunggu Bapak pulang membawa seiris telur kenduri. Irisan tak pernah kutemukan dalam bungkusan daun pisang.

“Bapak, aku minta sunat.”
“Kenapa?”
“Aku ingin makan telur utuh bulat.”

Kumpulan Fiksi Super Mini

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi dari kaskus

~kemarau~
“Sayang, kemarau akan segera usai. Gerimis semalam telah menumbuhkan kuncup rerumputan,” katanya.
“Ya, kecuali di hatiku. Kemarau masih panjang dan ilalang tinggi menjulang.”

~penumpang VIP~
“Tahukah engkau nikmatnya naik kereta eksekutif? Jika engkau mengencingi gembel di sepanjang rel, niscaya engkau tahu nikmatnya”
“Bangsat!”

~perempuanku~
Perempuanku kelaminnya dua, satu di tempat biasanya, satu di dahinya. Yang terakhir ini entah untuk siapa.

~pelacur tua~
“Lima ribu atau kupotong kelaminmu!” bentaknya pada lelaki bermandi keringat di depannya. Setengah telanjang ia melirik pekuburan yang tidak keberatan menerima satu mayat lagi.

~mukjizat~
Selembar daun jatuh dari langit. Tercabik-cabik sebab panas, hujan dan angin.
“Subhanallah, nikmat mana yang kudustakan,” pekiknya ketika daun itu mendarat di kakinya dengan robekan semirip lafal Allah.

Kekasih Terbodoh

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi dari iStockdotcom
Engkau mangajarku untuk tidak takut terhadapmu,
ya, aku memang tidak takut akan amarahmu,
tapi aku takut membuatmu kecewa,
setelah kemurahan yang kuterima menjadikanku bukan siapa-siapa.

Engkau tidak seperti mereka yg meminjami dan mengharap bunga kembali,
engkau memberi tanpa syarat,
engkau membebaskan tanpa tuntutan di kemudian hari,
dan semua itu membuatku tidak nyaman di dekatmu.

Ketika iblis menyentuhku di purba malamku,
hatiku berbisik,
: satu hal yang membuatku kadang tidak menyukaimu,
: engkau tidak meminta apapun dariku.
: aku tidak suka sebab engkau terlalu baik.

“Sesungguhnya, kamulah kekasihku yang paling bodoh,” katamu.

Penuai Padi

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

ilustrasi dari unpad.ac.id
Musim kemarau sesekali berhujan. Meski sama satu desa, nasib mereka tidaklah sama. Sawah mereka terbelah sungai. Yang sebelah kiri menuai padi setahun tiga kali, yang kanan untuk panen dua kali harus rela setengah mati. Sebab tanah miring tidak memilih kepada siapa ia hendak membagi rezeki. Saat pagi begini engkau dapat melihat ironi para penuai padi.
Baik, aku membagi mereka menjadi penduduk kanan dan kiri sungai. Jelas sungai mengalir dari atas bukit menuju entah laut jawa atau samudera hindia, ini tidak terlalu penting. Yang penting dan jadi pokok persoalan adalah tanah penduduk kanan sungai lebih tinggi dari sungai, sementara tanah penduduk kiri sungai lebih rendah dari sungai. Tentu saja air lebih mudah mengalir ke pesawahan di kiri sungai. Soal ini cukup merepotkan sebab penduduk kanan sungai pernah datang ke rumahku meminta kebijakan yang lebih baik soal pengairan sawah mereka. Andai engkau jadi pamong desa, apa yang akan kauperbuat? Bukankah sulit menjelaskan pada mereka bahwa tidak ada yang berhak membelokkan aliran sungai?
Sungai itu adalah urat nadi tidak hanya desa kami, tetapi juga desa di muara. Membelokkannya sama dengan menabuh genderang perang. Desa yang cukup primitif. Orang kota berpikir bahwa semua masalah dapat diselesaikan dengan uang. Dengan uang mereka menyarankan membangun bendungan, memasang pompa air, membuat sumur untuk pengairan sawah sisi kanan sungai dan juga membantu menyuburkan benih iri pada pemilik sawah sisi kiri sungai.
Selama ini uang tidak menyelesaikan masalah. Selain kami tidak punya, bantuan uang itu juga hanya wacana orang kota. Kami menjadi lebih sering berdoa dan bersesaji pada Yang Widi, pada leluhur dan pada kali. Yang kiri bersyukur atas panen tiga kali dan yang kanan memohon keadilan atas panen dua kali. Tuhan begitu tega membuat ketidakadilan di desa kami. Doa kami terkabul. Musim hujan datang tidak pada waktunya. Air sungai meluap dan menenggelamkan sawah dan para penuai padi di sisi kiri sungai. Keadilan telah bicara dan kami lebih giat memanjatkan doa.

Akhir Oktober 2011

Kumbakarna Gugur

ilustrasi: antobilang.files.wordpress.com
Alengkadiraja banjir darah. Burung bangkai menyelinap di senyap malam. Menunggu. Sabar menunggu dada tersengal tanpa kepala berhenti berdetak. Lebam. Tangan dan kaki tanpa tuan melayang di tanah lapang. Kumbakarna tumbang tinggal badan.

“Oh malam. Dosa apakah yang kubuat padamu?”
Wisrawa meronta. Jeda nafas sepahit bara. Bait-bait suci terpelanting tinggal hening.
“Kekasi, lihatlah anakmu. Wahai Detya pandang tubuh cucumu. Anak dan cucumu yang serupa bayi jelita terperangkap pada tubuh raksasa. Membangkai. Tanpa kaki. Tanpa tangan. Tanpa kepala. Di hamparan noda Rahwana.”
“Duhai Sri Rama, kekasih Wisnu Sang Pemelihara. Sudah butakah mata anak panahmu? Di mana welas asih? Di mana jiwa-jiwa sunyi penjaga hati bersembunyi?”

Kumbakarna gugur. Mayapada beku. Seribu srigunting di padang perang berhamburan memekik kelu. Sepilu para wanara menundukkan kepala. Kumbakarna bukan musuh mereka. Kumbakarna sang pecinta tanah air dan bangsa. Binasa menggelora di pelukan ibu pertiwi. Bahkan angkara menitikkan air mata untuk satria dalam wujud raksasa. Melaknat wajah ayu tampan para raja berhati Rahwana.

“Ke mana cinta memalingkan muka wahai Wibisana. Tutur manismu telah membinasakan saudaramu. Masihkah kebijaksanaan memahkotaimu?”
“Oh Lesmana, pejantan selembut perempuan, sirnakah kasih di hatimu?”

Sang Rama terkulai tanpa daya. Kasih akan cinta menjelmakan nista. Terkenang di bayang aroma siksa. Satu anak panah memutus lengan kanannya. Kumbakarna tertawa. Satu anak panah menebas lengan kirinya. Kumbakarna tertawa. Ada getir di nadinya. Seratus kera mengerubuti raga tanpa hasta. Seratus kera binasa sia-sia.

Satu anak panah mencincang kakinya. Kumbakarna terguling. Kumbakarna tertawa. Bahagia dengan kristal bening mengembang di pelupuk mata. Gelaknya membahana.

“Habiskan anak panahmu wahai Rama. Bawa aku pada tidur yang panjang. Bukankah itu muslihat dewata ketika kupinta istana Indra? Tidur abadi sebagai ganti tahta suci.”

Satu anak panah memisahkan kaki yang tinggal sebelah. Kumbakarna meronta. Kumbakarna tetap tertawa. Kembang kristal mencair memata air di mata serupa seribu gerhana.

“Inikah balasan atas kebajikan wahai titisan Wisnu? Inikah penghormatan untuk petapa hina hanya karena ragaku raksasa? Kutelan selaksa siksa bersama selaksa wanara yang aku tahu tanpa cela.”
Kumbakarna menggelinding. Melibas tuntas segala yang bernyawa hingga di kaki Rama.
“Selesaikan tugasmu. Hentikan angkara murka.”

Busur panah meregang. Serupa mantra, air mata rama menyatu dengan duka Kumbakarna. Satu anak panah melesat, menghantar kepala Kumbakarna ke pangkuan Rahwana.
Dada perkasa tanpa kepala tersengal-sengal. Bukan tangis. Tetapi tawa tanpa suara. Burung-burung bangkai mengawang menunggu dada perkasa berhenti tersengal untuk selamanya.

Awal Juni 2011
R.K

Lelaki Pengecut

Bagi Deilla, ruangan 4×5 itu terasa sempit dan menyesakkan. Kesunyian malam menyergap menambah kepiluan mendalam ketika menyaksikan sosok lelaki dengan nafas satu-satu tergolek tak berdaya di tempat tidur. Fisiknya tidak terluka. Tetapi sorot mata sayu itu lebih banyak bercerita tentang ribuan racun yang mengendap dalam di relung hatinya. Tak pernah terbayangkan lelaki yang selalu tampak kokoh seperti batu karang itu kini terkulai lemah bagai pohon pisang tumbang. Deilla yakin, tak lama lagi ia akan mati!
“Dewa, kamu kenapa?,”
Deilla terisak. Air mata membanjir di kedua pipinya. Baru kemarin kebahagiaan itu dirasakannya. Bahkan ranjang pengantin itu masih berbau melati. Kado-kado belum dibuka. Namun kini ia bagai terempas ke dalam jurang penderitaan begitu dalam dan gelap.
“Deilla…,” bisik Dewa tersendat-sendat,” kenapa kamu menangis? Tersenyumlah dan jangan kamu kotori kebahagiaanmu dengan derai air mata.”
“Kamu kenapa Dewa? Mengapa kamu melakukan semua ini?,” Deilla meraung semakin keras mendengar kata-kata Dewa.
Lelaki itulah sandaran hidupnya selama ini. Di setiap duka dan derita. Di sela-sela keputusasaan. Bahkan ketika ia begitu kebingungan mempersiapkan pernikahan, lelaki itulah yang selalu menguatkannya. Masih terbayang betapa sibuknya mereka berdua memilih warna baju, mendesain tata ruang, menelpon sana-sini hanya untuk meyakinkan bahwa tidak ada rencana yang terbengkalai.
“Deilla…maafkan aku ya…….” ucap Dewa dengan nafas terengah-engah. Dewa sadar hidupnya tidak akan lama lagi. Racun itu telah merusak hatinya.
Air mata Deilla membanjir semakin deras. Seprei, bantal dan seluruh pakaian Dewa sudah basah oleh air mata. Kata-kata Dewa bagai ribuan jarum menusuk ulu hatinya, merobek segenap perasaannya.
“Kamu pengecut Dewa… Tak kusangka, kamu sungguh pengecut membiarkanku menderita hidup sendiri ,” jerit Deilla. “Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya kepadaku? Kenapa?”
Tangis Dilla semakin histeris.
“Maafkan aku…Deilla. Lelaki itulah yang terbaik buatmu… Selamat tinggal Deilla…”
Mendadak dunia menjadi gelap dan pekat. Dilla pingsan!

Kata Cinta Pada Jam Tiga Sore

Pintu keberangkatan 5 bandara Soeta jam tiga sore.
Seorang wanita bertubuh seksi, rambut hitam kemerah-merahan, seumur dengan wanita karier kepala tiga, tangannya sibuk kanan kiri menggeluti telpon genggam. Lelaki muda, umurnya kira-kira dua puluh enam tahun duduk di bangku sampingnya asyik membaca majalah otomotif.
“Sebentar ya sayang, aku urus bandot tua dulu,” kata si Tante pada lelaki muda di sampingnya dengan senyum manis.
“Santai aja Nte,” kata si muda pula.
“Pa, ntar jemput aku jam lima ya, pesawatnya delay empat puluh menit nih,” kata manja si Tante pada seseorang di saluran telpon genggamnya.
“Gak papa, Ma. Kebetulan aku juga masih ada meeting sebentar,” jawab suara lelaki di seberang.
“Yang bener Pa? Meeting apa muting?” tanya si Tante genit,”Papa udah ngga kangen sama mama ya? Udah nggak sayang lagi sama mama?”
“Ah, Mama, mana pantas di usia kita ngomong kayak anak ABG gitu. Kan udah jelas Papa cinta mati sama mama.”
“Iya deh, percaya… I love you Pa….”
“I love you juga Mam….”
Si tante kembali mendekati lelaki muda itu.
“Sebentar lagi cita-citamu punya Honda jazz bakal terkabul Sayang,” katanya lembut.
“Makasih Tante…, tante baik banget…,”
Tujuh ratus kilometer dari Bandara Soeta, satu sms masuk ke telepon genggam seorang perempuan cantik.
“Kita masih punya waktu satu jam lagi sayang. Si nenek sihir pesawatnya delay. Turunlah ke bawah sebentar ya Say”
Dengan cepat jemari perempuan itu menghapus kemudian menulis sms baru,“maaf, aku terlambat pulang sore ini. I love you, honey.”