Arsip Tag: cerita mini

Lelaki Pengecut

Bagi Deilla, ruangan 4×5 itu terasa sempit dan menyesakkan. Kesunyian malam menyergap menambah kepiluan mendalam ketika menyaksikan sosok lelaki dengan nafas satu-satu tergolek tak berdaya di tempat tidur. Fisiknya tidak terluka. Tetapi sorot mata sayu itu lebih banyak bercerita tentang ribuan racun yang mengendap dalam di relung hatinya. Tak pernah terbayangkan lelaki yang selalu tampak kokoh seperti batu karang itu kini terkulai lemah bagai pohon pisang tumbang. Deilla yakin, tak lama lagi ia akan mati!
“Dewa, kamu kenapa?,”
Deilla terisak. Air mata membanjir di kedua pipinya. Baru kemarin kebahagiaan itu dirasakannya. Bahkan ranjang pengantin itu masih berbau melati. Kado-kado belum dibuka. Namun kini ia bagai terempas ke dalam jurang penderitaan begitu dalam dan gelap.
“Deilla…,” bisik Dewa tersendat-sendat,” kenapa kamu menangis? Tersenyumlah dan jangan kamu kotori kebahagiaanmu dengan derai air mata.”
“Kamu kenapa Dewa? Mengapa kamu melakukan semua ini?,” Deilla meraung semakin keras mendengar kata-kata Dewa.
Lelaki itulah sandaran hidupnya selama ini. Di setiap duka dan derita. Di sela-sela keputusasaan. Bahkan ketika ia begitu kebingungan mempersiapkan pernikahan, lelaki itulah yang selalu menguatkannya. Masih terbayang betapa sibuknya mereka berdua memilih warna baju, mendesain tata ruang, menelpon sana-sini hanya untuk meyakinkan bahwa tidak ada rencana yang terbengkalai.
“Deilla…maafkan aku ya…….” ucap Dewa dengan nafas terengah-engah. Dewa sadar hidupnya tidak akan lama lagi. Racun itu telah merusak hatinya.
Air mata Deilla membanjir semakin deras. Seprei, bantal dan seluruh pakaian Dewa sudah basah oleh air mata. Kata-kata Dewa bagai ribuan jarum menusuk ulu hatinya, merobek segenap perasaannya.
“Kamu pengecut Dewa… Tak kusangka, kamu sungguh pengecut membiarkanku menderita hidup sendiri ,” jerit Deilla. “Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya kepadaku? Kenapa?”
Tangis Dilla semakin histeris.
“Maafkan aku…Deilla. Lelaki itulah yang terbaik buatmu… Selamat tinggal Deilla…”
Mendadak dunia menjadi gelap dan pekat. Dilla pingsan!