Arsip Kategori: Flash Fiction/Fiksi Kilat

Ketika Bang Tigor Galau

Flash Fiction Risma Purnama

butet dan tigor
Gambar diunduh dari ivanaldie.files.wordpress.com

Sudah hampir sebulan ini Butet tak bertemu Tigor. Jangankan batang hidungnya, suaranya pun tak terdengar. Seperti hilang diculik alien! Berkali kali Butet memeriksa sms, inbox atau email, tak ada pesan di sana. Hapenya pun tak pernah aktif. YM, Twitter, fesbuk pun tak ada menunjukkan aktivitas terbaru. Ke mana kau bang Tigor? Butet mulai bertanya tanya dalam hati. Resah! Aku harus segera menemuimu! Butetpun mengambil keputusan, bergegas pergi ke rumah kontrakan Tigor, kekasih hatinya selama setahun terakhir ini. Tapi ke mana? Tigor tak pernah memberitahu alamatnya yang jelas. Jangan jangan alamat palsu, nanti aku kesasar pula, batin Butet berbisik.
Malam minggu mendadak menjadi selalu kelabu bagi Butet. Biasanya ada tawa canda Tigor di ujung telepon, atau sms gombal lebay, atau hanya sekedar jalan berdua di sepanjang trotoar kota sambil gandengan tangan…, hm romantisnya. Tukang bakso lewat pun tak lagi dihiraukan! Tapi kini semua itu seakan menjadi kenangan tak terlupakan. Tapi kenapa Tigor menghilang begitu saja? Apa sebabnya? Mungkinkah karena aku pernah menyinggung soal pernikahan? Ah, Tigor juga ga bilang kok kalau dia menolak akan melamarku, bahkan sepertinya Tigor sudah mempersiapkan arah ke sana. Butet mencoba menghibur diri sendiri. Langkah kakinya terus tak henti,sampai terdengar suara nyanyian, suara yang Butet kenal betul. Butet mengarahkan pandangan matanya ke sekitarnya.
Nah, itu dia asalnya suara itu. Di perempatan jalan dari sebuah lapo tuak di bawah rerimbunan pohon yang di depannya ada tambal ban. Butet berjalan mendekat, bibirnya tersenyum lega. Orang yang sedang dicarinya, bang Tigor sedang memainkan gitar sambil bernyanyi. Marmitu sambil marlissoi. Bah,di sini kau rupanya! Tanpa rasa malu Butet masuk ke sana di antara ramainya tetamu lapo yang  sedang  asyik dengan mendengarkan Tigor bernyanyi. Ueeee…Tigor kaget begitu melihat Butet hadir di sana, sontak dia menghentikan gitarnya dan nyanyiannya. Tigor menarik tangan Butet keluar…
“Bah, Tet…kenapa kau cari aku ke sini, apa kau tak malu?” tanya Tigor dengan raut wajah serius dahi berkernyit.” Kok dia tahu aku di sini ya,” hati  Tigor bertanya.
“ Tak sengaja bang, tadi aku lewat sini, kudengar seperti suaramu…” jawab Butet sambil tertunduk, takut kalau kalau Tigor marah karena dikira telah mengintainya. Berdua mereka duduk di kursi panjang di samping lapo itu di bawah rimbunnya daun pohon ceremai.” Kau tak ada kabar sebulan ini bang…”lanjut Butet lagi. Tigor menghela nafas mencoba menenangkan diri membersihkan pikirannya yang lagi galau.
“Begini ya Tet, aku bukannya menghilang apalagi diculik alien! Aku lagi ada masalah besar ini, sebulan lalu aku menabrak motor dan aku terpaksa ganti rugi, mana pula SIM aku sudah mati. Angkotku disita sama juraganku Tet! Angkot itu akan dijual karena rusak bekas tabrakan, mana pula BBM akan naik nanti. Juraganku  babeh Tohir terpaksa mau menjual saja angkot itu karena tak mau menanggung  kerugian yang lebih besar kalau ga dapat setoran. Sudah sebulan aku tak bayar kontrakan Tet, makanya aku hidup hanya menumpang di rumah teman. Aku memutuskan akan pulang kampung saja ke Laguboti, aku akan bertani saja! Soal hubungan kita, aku minta maaflah kalau aku tak kasih kabar berita, aku takut menyakiti hatimu dan menganggu pikiranmu.”
Butet hanya terdiam sambil menelan ludah di kerongkongannya yang kering. Hatinya tercekat. Pikirannya pun ikut menjadi galau. Tigor akan memutuskan hubungan mereka?”Oh…aku belum siap, “ teriak bathin Butet.
“Tapi begini Tet, kalau kau memang cinta sama aku, ikutlah aku pulang ke kampung, kita menikah di sana, hidup bertani, orangtuaku masih punya sawah yang bisa kita olah, bagaimana Tet?” tanya Tigor mendesak.
“Pulang kembali ke kampung?Oh…tidak! aku sudah meninggalkan kampungku Samosir karena sulitnya hidup bertani di sana, sekarang aku sudah ada pekerjaan meskipun hanya kerja kantoran staff rendahan. Sekarang aku harus kembali lagi demi mengejar cinta Bang Tigor?” bathin Butet berkecamuk. Dia harus memilih.
Sekarang tak lagi hanya Tigor yang galau, Butet pun tertular menjadi galau! Berdua mereka menghabiskan waktu hingga larut malam, membicarakan akan nasib masa depan mereka. Semoga kau tak sedang mabuk Tigor, bisik hati Butet, karena tercium bau aroma tuak dari mulut Tigor, kekasihnya yang sekarang jadi pengangguran.

Pay Jarot Bermalam di Rumahku

Flash Fiction: Martin Siregar

Sprei, sarung bantal sudah kuganti. Kamarmu kusapu dan pel supaya lebih segar. Ruang tamu juga sudah kurapikan. Aku hanya senyum manis mendengar suara tegas istriku yang sudah capek menyambut kedatangan  Pay beberapa jam mendatang. ”Kau…Tidur di depan tv, sudah kusediakan bantal selimutmu. Tak usah kau sekamar sama si Pay. Nanti dia yang sudah capek naik motor tak bisa tidur karena kau tidur sangat lasak. Bisa saja kakimu macam orang mabok menendang mukanya.” “Hua…ha…ha.. Iyalah ..Hua…ha…ha..” Aku ketawa terbahak bahak mendengar garis komando yang selalu aku dengar kalau kawanku berkunjung dari tempat jauh.

Satu jam yang lalu Pay SMS katakan sudah meluncur dari Sosok. Berarti satu jam mendatang sampai di rumahku. ”Cepat!! Kau mandi, nanti jijik si Pay ngobrol sama kau yang masih bauk dan jorok.” Hua…ha…ha..Matilah aku ini. Kupikir sudah berakhir  cerewet istriku. Rupanya masih berlanjut ketika aku mau duduk menghabiskan kopi sekitar jam setengah enam sore.

Tidak terlalu meleset, Pay sudah tiba ketika aku sedang mandi. “Cepat !!! Cepat bapak mandi, Om Pay sudah datang. Cepppaaatttt….!!”. OooaaLlaa…Anakku Jati ketularan cerewet mamaknya. Maka akupun macam cacing kepanasan bergegas menyambut Pay di ruang tamu. ”Nah !!! Ini Pay kakakmu terpingkel pingkel baca buku karya tulismu:”Sepok”. Pay hanya tersenyum tipis merespon ucapanku.

Menjelang malam, Pay malas mandi. Lebih baik kita secepatnya makan supaya kerja edit naskah bisa segera selesai sebelum larut malam. Siap makan, langsung ke ruang tamu sudah tersedia seteko kopi dan air putih disediakan Jati. Pay segera buka notesnya dan dengan ringan kami kategorikan tulisan tulisanku. ”Bang lebih cocok Bab I Wacana Unkonvensionil. Supaya sidang pembaca punya panduan tuk melangkah ke Bab II. Nah !! Bab II kita masuk ke: Dunia Tulis Menulis” Pay memberi saran yang langsung kusambut sangat setuju. Kalau  begini ceritanya berarti penerbitnya bukan LPs Air, karena mereka tak jadi kasih konstribusi. Oke…Pay soal itu nanti saja kita diskusikan. ”Tapi abang nggak kecewa kan?” Aku hanya senyum kecut menahan gigi supaya jangan berlaga Hua….ha…ha…

Ternyata tugas rombak naskah tidak serepot yang kami bayangkan. Sekitar jam setengah sebelas kerja tuntas dan laptop tak aktif lagi. Pay mengaku agak sulit tidur apabila tubuh terlalu letih. Maka akupun (senang ?) punya kesempatan tanya pendapat Pay tentang sikapku. “Iya…Pay. Kurasa dunia ini sudah terlalu sering berpendapat bahwa paham humanisme universal adalah missi penjajahan negara maju ke negara berkembang. Menyebarkan nilai universil (menyeragamkan) pandangan hidup di negara berkembang. Dengan demikian, negara maju akan lebih mulus menjalankan (A) Eksploitasi sumber daya negara berkembang. Agar kesadaran pemerintah (negara berkembang) semakin mandul maka negara maju (biasanya) melakukan strategi (B) Penetrasi budaya. Dihancurkan budaya lokal dan tak sadar sumber daya semakin banyak di eksploitasi. Supaya eksploitasi dapat berjalan permanent, maka (C) Politik negara berkembang harus di dominasi.”

Ketiga (A,B,C) di atas sudah terjadi di Indonesia. Dalam aksi mahasiswa sering disebut dengan semangat:”Usir NeoLibs”. Mendadak aku tersadar sudah terlalu banyak bicara membiarkan Pay hanya diam mendengar.”Gimana pendapatmu Pay?” Aku sentak si Pay.”Abang teruskan saja, aku tetap menyimak.” “Okelah…Pay.”

Jadi humanisme universal adalah poros utama imperialisme. Begitu pemahaman yang terjadi sejak zaman dahulu kala. Nah !! tulisanku terlalu banyak tinggalkan pesan humanisme universal. “Apa mahasiswa tak benci sama tulisanku?” Pay diam saja isap rokok makin dalam matanya menerawang.

Yah.., Hal ini yang berkecamuk dalam benakku. Pada sisi lain aku melihat bahwa nilai humanisme universil adalah obat mujarab untuk meruntuhkan watak primordialisme primitif (pemicu konflik SARA). Kusudahi kalimatku. Selang beberapa waktu Pay angkat bicara:”Walau lelah aku sudah bisa tangkap pesan yang abang sampaikan.” Ini pergumulan kita dalam proses penerbitan buku abang yang jalannya terseok seok. Hi…hi..hi… Okelah…Mari kita tidur Pay.

Bason Mengbahagiakan Badrun Kemis

Flash Fiction Martin Siregar

Gambar diunduh dari bp.blogspot.com

Gara gara baca tulisan Tantri di komunikasi sastra, Bason terkejut. Rupanya Pak Badrun Kemis masih dengan watak lamanya yang aneh dan masih bertani. Padahal ketika masa pelarian Bason, Pak Badrun mengaku sudah jenuh jadi petani.”Ah !!! Saya ingin merantau ke kota”. Sejak nenek moyang zaman dahulu, sampai masa saya sekarang ini — nasib kami belum berubah —. Saya mau pindah ke ibukota negara. Banyak kawan saya walau hidup susah tapi bisa menikmati kemewahan kota. Waktu itu Bason sudah merekomendasi beberapa kawan akrabnya yang mengorganesr buruh.”Ini nama dan alamat kawan kawanku”. Pak Badrun jual saja namaku, pasti akan mereka terima dengan senang hati.

Kisah itu berlangsung 25 tahun yang lalu, ketika Bason frustasi bertengkar keras dengan pastor Simon pimpinan lembaga pelestarian hutan. Lantas secepat kilat meninggalkan lembaga tersebut patah arang melanglang buana secara pribadi investigsi penggudulan hutan. Pada saat itulah Bason berkenalan dan menjalin cinta kasih dengan gadis Biyok yang sekarang menjadi istrinya.

*) Baca cerpen : Kawanku  Bason Kumpulan Cerpen Unkonvensionil Jilid II Martin Siregar.

Bulan lalu aku heboh ngurus Kantril yang ingin kembali ke tabiat lama. Mabok ganja Jhoni Walker bersama Payman yang sedang mumet gara gara rencana kawin. Waktu itu Pak Longor marah besar sama Payman. Dan, syukur Kantril pasrah dituntun Bason bermeditasi, sehingga Kantril kembali ke jalan yang benar.

Sekarang wajah dan tingkah laku Pak Badrun kembali lagi menghiasi khayal Bason. Kasus Kantril dan Pak Badrun hampir sama saja. Frustasi jenuh sangat monoton menjalani kehidupannya yang sama sekali tidak menjamin kehidupan lebih baik. Tapi. Level sosial si Kantril sangat bertolak belakang dengan Pak Badrun. Berarti aku harus temukan kiat khusus tuk membahagiakan Pak Badrun. Hua….ha…ha…Bason tertawa puas menikmati kehidupan sarat dengan keanekargaman perkawanan yang berasal dari level sosial berbeda ekstrim. Hua….ha…ha….Kantril anak jutawan yang anti kemapanan, sedangkan Pak Badrun seolah ditakdirkan(Tuahan) sengsara sepanjang hidup. Hua…ha….ha…Akan kucurahkan energiku tuk membahagiakan Pak Badrun yang ditulis miskin oleh si Tantri (?) Hua…ha…ha…

“Dua hari ini aku tak masuk kantor”. Ada kerja mendadak, harus ke desa beberapa hari. Di telepon Bason ajudannya di kantor.”Iya…iya Pak Bason”. Apa yang perlu kami sediakan untuk bapak ke desa?”.  Feodalisme ternyata masih melekat kuat di kantor yang sudah sangat profesionil. Bahasa kaum paria mental kaum budak sangat sangat dominan didengar setiap  hari. Bahasa kaum bawahan tak ada beda dengan abdi dalem dinasty kerajaan sekitar 300 tahun yang lalu. Hal ini sering membuat Bason jengkel dan tak kuasa lagi merombatk mental budak feodalisme di kantornya.”Tak ada yang perlu kau siapkan”. Kau monitor saja Payman apa masih isap ganja atau tidak. Lantas kau jumpai Kantril sepulang kantor, kau tanya pengalaman empiriknya dalam bermeditasi. Awas !! Kalau tak kau kerjakan kedua tugas itu. KU-SIKAT KAU!!! Hua…ha….ha..Bason tertawa di telepon, membuat Wawan ajudannya ketakutan suaranya gemetar:”Baik…baik Pak Bason”. Lantas telepon ditutup.

Dikeluarkannya mobil BMW mewah dari garasi.”Biyok, aku mau jemput Pak Badrun ke desa. Dua hari ini nginap dirumah kita. Kau siapkan kamar serta fasilitasnya ya… Biyok istri Bason terkejut mendengar rencana suaminya.”Jadi, kau ngak ke kantor ???”. Gila !!! Kok suka suka kau saja yang hidup ini ?????. Biyok suntuk melihat suaminya yang terlalu santai dalam hidup ini. Hua…ha…ha…Tenang kau sayangku. Pak Badrun adalah orang yang memberi konstribusi dalam kehidupan kita. Kalau ngak ada dia, mana mungkin kita kawin Hua….ha…ha…Memang hidup ini sangat ringan dijiwa Bason. Walau kadang suntuk berat menghadapi kawan kawannya yang tidak memperdulikan kesehatan tubuh jiwa dan roh. Dua minggu lalu kembali lagi Bason harus repot ngurus Isim yang mendadak pingsan di bandara.

Dibelinya 2 bungkus rokok merah di kedai kecil langgannya , milik Bik Iyem yang sudah jadi janda. Sambil dengar lagu Startway to Heaven milik Led Zeplin ditinggalkannya kota menuju desa Pak Badrum.

 

Cerita ini bisa bersambung, apabila aku punya waktu berimaginasi menikmati tekanan hidup ini Hua…ha…ha…Matilah kita ini.

Reuni Bersama Isim

Flash Fiction Martin Siregar

Lanjutan: Kantril Dinasehati

Gambar dari Shutterstock

Terkejut Isim karena calon adik iparnya Payman adalah kawan dekat Pak Longor, Bason dan Kantril. Kebetulan libur musim panas tahun ini Isim kembali ke Indonesia setelah 23 tahun menetap di Italia. “Hallo…Aku Isim baru tiba di bandara Polonia Medan bersama keluarga mau liburan, 3 hari ke danau Toba, Pulau Samosir, tongging dan tanah karo. Jadi mungkin hari ke empat aku bisa main ke Jakarta. Bason terkejut menerima telepon Isim. Tak ubahnya Kantril yang sudah mulai tekun bermeditasi dipandu Bason. Rindu tak jumpa selama puluhan tahun akan terhapus 4 hari lagi.

Kantril, Bason dan Kantril sejak SMA tahun 80-an gabung di The Campino Connection, club anak muda yang mereka dirikan bersama  kawan-kawan sebaya di Medan. Club yang cukup diperhitungkan pada waktu itu. Punya diskotik yang selalu disewakan, balap di jalanan, tapi aktif  softball, skateboard dan selalu mendaki gunung Sinabung maupun gunung Sibayak apabila libur sekolah. The Campino Connection adalah ajang kegiatan anak muda multidimensionil.

Walaupun setelah mahasiswa mereka berpisah, tapi tetap saja berkawan erat. Isim di fakultas pertanian, Kantril fisipol dan Bason di ekonomi. Hanya saja karakter Isim berbeda dengan Kantril dan Bason, Bason Kantril kutu buku aktif membangun kelompok diskusi bedah buku ilmiah di beberapa tempat. Konsep pemikiran ‘Das Kapital’ karya Karl Marx, maupun ‘Pendidikan Kaum Tertindas’ Paulo Friere dikuasai mereka secara mendalam. Merasa pejuang kelas berat memberikan tinjauan kritis terhadap sistem pembangunan yang dilaksanakan orde baru dinilai sarat dengan ketidakadilan. Sedangkan Isim dijuluki “manusia penikmat hidup”. Playboy kelas kakap yang selalu mencari sasaran mahasiswi kaya raya.

Biasanya, momentum yang ditunggu Isim adalah perayaan natal setiap tahun. Walaupun Isim tak pernah ke gereja, tapi setiap perayaan natal seluruh fakultas di universitas tersebut — pasti Isim hadir sambil menggandeng gadis yang dicintainya —-. Pacaran 3-4 bulan putus hubungan dan cari mahasiswi lain. Kantril dan Bason kagum terhadap kemampuan gombal Isim dihadapan gadis. Dan, tak henti hentinya mereka ingatkan Isim agar menghentikan tabiat buruknya itu. Tapi Isim tetap saja tak perduli.

Pernah satu waktu semester 4 Kantril yang sudah tak kuliah, mencoba hidup bersama gelandangan pinggir rel kereta api. Ikut merasakan penderitaan kaum sengsara mencari kardus, kaleng, besi botol sebagai mata pencaharian. Kantril terhasut buku ‘Partispasi Riset Aksi’ pengalaman Paulo Friere di Brazil. Sekitar 2 bulan Kantril tinggal di pondok sengsara pinggir rel kereta api. Sesekali Bason yang heboh mengorganisir petani pedesaan bermalam di gubuk Kantril. Karakter mahasiswa sok pembela rakyat miskin melekat kuat pada jiwa Kantril dan Bason.

Terpikir Kantril tuk menanam pekarangan sempit pinggir rel kereta api dengan sayur-sayuran maupun anggrek yang mahal harganya. Secepat kilat Bason usul: ”Kita suruh Isim tuk mencuri bibit sayur mayur yang bertebaran di halaman fakultas pertanian. Lantas kita minta Isim bujuk pacarnya Isti (yang cinta tanam anggrek)  kasih bibit anggrek tuk saudara saudara kita yang sengsara ini.”

Dengan ringan senang hati, Isim laksanakan pesan kedua kawannya. Bahkan Isti terlibat mengajari para gelandangan cara bercocok tanam anggrek. ”Nampaknya Isti gadis baik budi. Jangan kau putuskan hubungan kaliam, jadikan Isti jadi istrimu.” Kantril dan Bason sangat terkesan atas kemampuan Isti berintegrasi di tengah-tengah gelandangan sengsara. Segala atribut gadis kaya raya ditinggalkannya di rumah, apabila interaksi ke rumah gubuk pinggir rel kereta api. Tapi, yang namanya Isim palyboy kampungan hanya bertahan 7 bulan pacaran dengan Isti.

Hanya Isim yang berhasil menggenggam ijazah sarjana. Bason Kantril larut akibat jiwa romantisme pejuang rakyat tak tuntas menyelesaikan perkuliahan. Walaupun begitu, Bason yang tak mengantongi gelar sarjana berhasil duduk di posisi penting di penerbitan majalah politik bergengsi. Kantril punya toko kelontong  dan Isim penguasa travel biro di Italia.

Ketika Bason Kantril akan kutatap, hatiku terharu. Seakan hari-hari yang berkesan itu datang kembali membuai kami bertiga. Deg-degan Isim di bandara Sukarno Hatta menunggu kedatangan Bason dan Kantril. Sebenarnya Isim masih sangat capek meninggalkan anak istrinya di Medan melanjutkan liburan. Isim butuh istirahat sebelum lanjutkan perjalanan ke Jakarta. Hasrat jumpa kawan lama tak boleh ditunda, Isim paksakan fisik harus ke Jakarta. Duduk lemas lunglai di ruang tunggu bandara, kepalanya pusing tujuh keliling. Dan, ketika Kantril dan Bason menepuk bahu, Isim tak kuat berdiri. Sakit jantungnya kumat, Isim hampir pingsan,  terpaksa dibopong ke polklinik bandara dalam keadaan tak sadarkan diri.

Kantril Dinasehati

Flash Fiction Martin Siregar

Sambungan : Kantril Menghisap Ganja

Idola saya, tetap cantik dan gaul tanpa Narkoba.
Pak Longor kecewa terharu mendengar kejadian Kantril dan Payman mabok ganja dan jhoni walker. Dalam kondisi sulit menahan marah: ”Kantril ..sudah patah arang dalam hidup ini. Jangan kau fasilitasi dirinya tuk kembali masuk dalam kegelapan.” Payman yang dipanggil Pak Longor ke rumahnya, hanya menunduk malu memikul penyesalan. ”Maaf Pak Longor, aku sedang panik dengan masalah perkawinanku.” Kemudian suasana hening sejenak.

“Yah,…Memang aku salah.” Dihisap Pak Longor rokok merahnya: ”Kau juga harus mulai berpikir tuk membunuh ketergantungan ganja dan alkohol.”

”Iya…Iya…Pak Longor.” Payman masih duduk menyempit menundukkan kepala.

“Aku sudah dengar berita itu dari Tari. Dalam sedu sedan sedih tak terucapkan Tari bercerita lewat telepon ke aku. Tari sarankan, kita berdua ajak Kantril dialog, supaya kejadian buruk itu tidak terulang kembali.” Bason sampaikan maksud hatinya kepada Pak Longor. Dan tentu saja gayung bersambut, niat tulus Bason direspon Pak Longor dengan baik.

Bason jadi banyak termenung mengenang perjalanan panjangnya bersama Kantril. Ketika SMA pernah Bason ditusuk pisau oleh pembalap liar di jalanan. Perut Bason terkoyak, darah banyak terkuras, harus rawat inap di RS Elizabeth. Kantril yang heboh jaga Bason selama perawatan di rumah sakit. Kantril dan Bason adalah kawan dekat yang selalu berdialog hal ikwal teologia pembebasan bersama Pastor Cevara Lubis. Lantas mereka membakar mobil tentara di pinggir pantai ketika rakyat digusur. Di pantai indah itu akan dibangun hotel mewah. Waktu itu Bason selamatkan Kantril sehingga tidak tertangkap. Sedangkan Bason tertangkap tangan mendekam dalam penjara selama 2 tahun. (Kisah Bason dan Kantril, baca buku: “Kawan Kentalku Bason Kumpulan Cerpen Unkonvensionil Jilid II” karya Martin Siregar)

Betapa senangnya hati Tari melihat kedatangan kedua tamu agung. ”Silahkan masuk Pak Longor, Silahkan masuk Bang Bason. Saya masih sibuk ngurus toko kelontong, Kantril sudah siap menunggu di ruang tamu belakang. Silahkan…Silahkan masuk Pak Longor.”

Di ruang tamu Kantril duduk memandang kejauhan berdiri memberi salam kepada Pak Longor dan Bason. Tak menunggu terlalu lama, Pak Longor langsung bicara: ”Memang benar yang dikatakan Pastor Cevara Lubis. Rencana Tuhan pada manusia pertama dirusak setan iblis melalui ular dan buah terlarang. Sekarang rencana Tuhan masih tetap dirusak iblis melalui struktur birokrasi pemerintahan dan organisasi permanent. Lihat saja negara, partai politik organisasi keagamaan — Sudah tak bisa kita harapkan untuk memelihara martabat kemanusian –Semuanya itu sudah hancur berantakan tak mendapat kepercayaan dari masyarakat maupun umat beragama.”

Kantril tersipu sipu sambil menggeleng gelengkan kepalanya: ”Iya…Aku masih ingat. Waktu itu aku dan Bason heboh membeli berbagai buku multidimensionil sebagai bahan baku memahami hakekat kehidupan ini. Hua…ha…ha… ”

“Nostalgia sejarah hidup kita. Tak mungkin bisa terhapus,…Kantril. Hua…ha…ha..” Bason terbahak bahak mencairkan suasana yang agak beku.

“Tapi, apapun ceritanya, sampai detik ini aku masih pegang erat ucapan Pastor Cevara Lubis. Aku tak mau terlibat pada sarana iblis merusak rencana Tuhan. Tak mau ikut, caleg, partai politik, pengurus organisasi agama. Aku yakin dunia ini hanya bisa diubah oleh orang yang menjalin hubungan interpersonal dengan Tuhan. Oleh orang yang tidak perduli terhadap sarana iblis yang merusak rencana Tuhan Hua…ha…ha..” Bason merasa dirinya berhasil menang melawan keganasan dunia ini. Tampak Kantril cemburu melihat Bason yang ringan saja menghadapi hidup. ”Jadi apa kegiatanmu sekarang Bason?”

Bason tersenyum simpul, “aku masih kerja di media itu. Dan, untuk memelihara kebugaran tubuh phisik dan tubuh nonphisik aku latihan meditasi. Kau pasti tahu ada tiga mahluk hidup yang diciptakan oleh Sang Khalik. Tumbuhan, hewan dan manusia. Ketiga mahluk hidup punya jantung, paru paru, bisa sakit, bisa beranak pinak dan lain lain. Tapi hanya manusia yang diciptakan ‘segambar dengan Tuhan’. Nah !! latihlah dirimu supaya segambar dengan Sang Khalik. Itulah nasehat aku dan Pak Longor pada kedatangan kami kali ini.”

Kantril tersentak:”Loh !!! Gimana aku melatih diri segambar dengan DIA ?”

“Berat aku menguraikan hal ini. Calsesek, Higam. Dulsa sudah puluhan tahun kudidik, tetap saja tak berhasil. Mereka itu orang bebal keras kepala.” Bason santai saja bicara, tapi Kantril semakin penasaran:”Iya, Bason…Aku serius, aku patuh terhadap nasehat kalian.” Aku harus berubah tak akan kusentuh lagi ganja dan alkohol. Mendengar hal ini Pak Longor kasihan melihat Kantril: ”Saya bawa ini buku Panduan Meditasi Konekting Cakra”. Kau baca buku ini, selanjutnya kau akan dipandu Bason yang sudah mendapat predikat master of komtemplasi. Yakinlah…Kantril. Hidupmu pasti semakin cemerlang atas tuntunan Bason.”

Istri yang Sempurna

Flash Fiction Vivi Fajar A.

big smile
Ilustrasi dari shutterstock
Nobody’s perfect, “omong kosong”, batin Luna. Ia harus menjadi sempurna untuk lelakinya. Begitulah, Luna merasa bagai terlahir kembali manakala tiba waktunya menjadi seorang istri dari lelaki yang dikaguminya. Tiba-tiba saja Luna mendapati dirinya melakukan hal-hal baru yang bahkan tak pernah terpikirkan olehnya dulu.
Ia belajar memoles wajahnya yang sederhana agar selalu tampak indah di mata suaminya. Ia menyemprotkan wewangian agar lelaki itu nyaman saat didekatnya, sekalipun sejujurnya ia tak terlalu suka mencium aroma parfume manapun. Ia mulai membaca tabloid otomotif, ikut mendengarkan musik jazz, bahkan rela bangun dini hari untuk menonton kompetisi piala champion di televisi, sekalipun matanya selalu setengah tertutup dan tak pernah bisa membedakan siapa tim yang sedang turun berlaga, semua itu dilakukannya semata agar dapat menjadi teman bicara yang menyenangkan. Ia tertawa untuk lelucon sang suami yang kadang ia tak mengerti, ia ingin jadi yang pertama memberi penghiburan saat suaminya tiba di rumah dengan wajah muram tanpa bertanya apa alasannya tampak berduka. Bagi Luna, menjadi perempuan sempurna adalah harga mati demi menjaga cintanya.
Seperti saat ia berusaha menghidangkan sup terlezat yang pernah dimasaknya. Ia telah memilih resepnya dengan sangat teliti, meracik bumbu rempah selengkap yang ia punya, membuat kaldu ayam asli dengan suwiran daging ayam nan lembut, memasukkan potongan wortel organik segar, kentang dan daun bawang, menambahnya dengan butiran kacang polong serta beberapa kuntum daun seledri pelengkap aroma.
Saat makan malam berdua, dari seberang meja Luna memperhatikan sang suami menikmati sup hangat yang terhidang di hadapannya. Ia mengunyahnya perlahan-lahan, menambah sedikit lada halus, sedikit saus tomat dan sesendok teh sambal kecap ke dalam mangkuk sopnya dan memakannya hingga tak bersisa. Puas rasanya melihat masakannya dinikmati begitu rupa.
Sesaat seusai ia membereskan meja, Luna mendapat hadiah kecupan ringan di keningnya. Sesaat hadir desiran lembut di dada, terlebih saat suaminya berbisik lembut ditelinga, “sayangku, terima kasih untuk supnya, lain kali jangan lupa tambahkan garam secukupnya saat kau memasak”.
Ah, pipi Luna memerah menahan malu. Seketika itu ia menyadari, ketulusan lelaki ini saat menerima kekhilafan dan kekurangannyalah yang telah membuatnya sempurna.

Adelaide, 24 May 2012
The end of the fall

Balada si Butet : Hidup Penuh Tanda Tanya

Flash Fiction Risma Purnama

kiss mu lips
Gabar dari blogspot.com
Akhirnya Butet menyerah juga dengan rongrongan pertanyaan yang selalu menghujaninya. Kapan nikah? Di usianya yang sudah lewat batas menikah pada umumnya, akhirnya Butet menerima perjodohan dengan si pariban yang sudah menyandang status duda, ditinggal pergi istrinya! Bang Tagor menjadi pilihan Butet dengan pertimbangan, dia sudah mapan secara finansial artinya aku ga usah berlelah lelah lagi bekerja, pikir Butet. Bang Tagor juga sudah memiliki putra dan putri, artinya aku tak lagi disibukkan melahirkan dan mengurus bayi. Merekalah yang akan jadi anak anaku.

Putra putri bang Tagor sudah beranjak dewasa sebentar lagi akan selesai kuliah, mereka akan bekerja. Artinya aku bisa menikmati hidup dengan Bang Tagor di usianya yang menjelang pensiun. Hmmm, baiklah kuterima saja pinangannya. Lagi pula kami masih keluarga dekat, artinya dia takkan mungkin berani macam macam padaku apalagi sampai KDRT! Soal kepergian istri Bang Tagor, itu karena mereka tak sepaham lagi di dalam rumahtangganya. Oh, rupanya bisa begitu, pikir Butet lagi.

Setahun pernikahan mereka, Butet dan Tagor hidup bahagia dan harmonis, sedikit cinta yang mereka miliki mampu bertahan untuk terus menjalankan biduk rumahtangga. Sampai suatu ketika pertanyaan kerabat keluarga muncul lagi. “Tet, kapan kau punya anak sebagai pengikat hubunganmu dengan suamimu?” Butetpun mulai gelisah lagi, setiap pesta adat dan pertemuan keluarga, pertanyaan itu selalu muncul. Meskipun suaminya tak memaksanya untuk melahirkan anak. Luluh juga hati Butet karena kebaikan Bang Tagor kepadanya. Tahun kedua mereka di karunia seorang putri, si butet junior.

Si Butet junior tumbuh sehat dan dan sedang lucu lucunya dan membawa kebahagiaan di dalam keluarga Butet dan Tagor. Rasa lelah terasa hilang begitu melihat buah hati mereka. Tapi rupanya kebahagian Butet belum sempurna di mata keluarga dan kerabatnya. Pertanyaan baru muncul lagi “ Tet, kau itu kan halak hita, apa kau tak memikirkan punya anak laki sebagai penerus marga suamimu dari pernikahan kalian?” …Gubrakkk…apalagi ini , hati Butet menjerit! Kenapa pertanyaan ini ga habis habisnya? Butet pun tak kuasa menahan desakan ini. Setahun kemudian lahirlah si Ucok…wajahnya imut dan tampan. Butet sangat bahagia….sambil menimang si Ucok…si Butet berbisik “ nak cepatlah kau besar, sebelum mereka bertanya lagi…kapan punya mantu, kapan punya cucu…..?

Pertanyaan yang menghantui pikiran Butet membuatnya kelelahan sampai akhirnya tertidur. Dalam tidurnya di bermimpi ketemu Lady Gaga….Kapan Lady Gaga datang, aku mau ikut dia aja ke Amrik…si Butet ngigooo….xixixixixixi

Kantril Mengisap Ganja

Flash Fiction Martin Siregar

stop narkoba
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Namanya sebenarnya Kalvin, tapi muak dengan westernisasi yang melekat dalam dirinya. Maka dirombaknya nama itu menjadi Kantril sebelum lulus SMA tahun 1990. Sejak itu dia seolah dibaptis ulang dengan nama Kantril. Seluruh kartu identitasnya bernama Kantril. Anak pengusaha eksportir makanan laut hidup berkelimpahan, membuat dia jadi salah arah. Menghilang dari rumah berkawan akrab dengan alkohol, perempuan, ganja dan hidup dijalanan.

Kapasitas personal Kantril memang luar biasa, walau drop out di semester IV dari fisipol. Tapi kecintaan mengorganeser masyarakt dan mengkaji ilmu pengetahuan secara mendalam tak bisa dihempang. Negara sangat memperhitungkan kapasitas Kantril sebagai tokoh gerakan sipil. Beberapa kasus perampasan tanah rakyat berhasil digagalkan Kantril. Argumentasinya jika berhadapan dengan intelektual genit tak diragukan. Terseok seok orang perguruan tinggi yang memihak neo libs jika berjumpa dengannya.

“Aku tidak siap kecewa dan tidak siap dikhianati”. Kedua karakter busuk tersebut sangat mewarnai gerakan sipil di Indonesia. Inilah alasan Kantril keluar dari gerombolan gerakan sipil. Dengan modal kecil Kantril membuka toko kelontong di pinggir kota. Tidak mau lagi jumpa dengan kawan kawan gerakan karena terlalu sibuk mengurus toko kelontongnya. Secara berlahan menabung, hingga pada akhirnya naik ke pelaminan tanggal 10 november tahun 2000, tanpa sepengetahuan orang tua. Hidup sederhana berjuang mempertahankan eksistensi toko kelontong supaya tak bisa diusir oleh modernisasi.

Untung istrinya sangat memahami keberadaan Kantril. Tari sang istri selalu membahagiakan Kantril sambil gigih mencurahkan tenga mengurus keluarga. Anak sulung mereka Taring sudah kelas III SD karakternya tak banyak beda dengan sang ayah. Mengorganeser kawan kawannya menyelenggarakan kompetisi sepak bola kaki ayam. Hal ini membuat Kantril bangga, walau sering mengeluh bahwa:”Jiwaku sudah lelah menghadapi hidup ini”.

“Bang Kantril, aku sedang suntuk”. Abang ada dirumah, aku mau main ke rumah abang” : Payman telepon Bang Kantril siang itu. “Oke…datanglah kau”. Bawa ganja dan Jhoni Walker ya..”: Direspon Kantril penuh sukacita. Hua…ha….ha…Kawanku Payman akan menghapus dahaga jiwaku nanti malam Hua….ha….ha…Kantril sangat bahagia.

Sehabis magrib Tari sediakan meja kecil beserta 2 kursi di depan toko kelontong yang sudah tutup. Kantril terharu, dibelai belainya pundak Tari dan diciumnya kedua pipi istri tercinta. “Bapak jangan mabok lagi ya…. Wajah Taring keriting melihat persiapan yang dilakukan ibunya. “Tenanglah kau Taring, Om Payman hanya ngajak bapak ngobrol soal perkembangan politik.

“Kenapa kau suntuk Payman…”. Payman duduk kemudian meletakan botol sakti diatas meja disamping 2 gelas yang sudah tersedia.”Naskah bukuku sudah tuntas, Susan pacarku orang italia bersedia membiayai penerbitan.”Tapi dia bilang, siap launching kami bulanan madu ke Brazil dan menetap di Italia. Tak usah lagi kita injak negara yang dipimpin para bangsat. Kantril bingung kenapa Payman menolak hidup indah yang ditawarkan pacarnya.”Untuk apa kau menetap di Indonesia kalau ada kesempatan hidup sejahtra di Italia ?.Heran aku, mata Kantril melotot setelah menghisap rokok yang sudah diisi ganja.”Ah !!!…Sudahlah, minumlah abang” Payman nampak tak mau melanjutkan cerita.

Isap ganja makin nikmat mata Kantril sayu sudah merah. “Sedap ganja kau ini Payman Hua…ha…ha… Belakangan ini aku sering berangan angan. Mendadak dapat duit puluhan milyard. Toko kelontong ini kukasih sama keluarga yang hidup sengsara. Aku bikin rumah besar, ada kamar khusus untuk aku. Dikamar itulah aku hidup sepanjang hari. Sudah jijik aku berinteraksi dengan banyak orang. Aku mau menikmati hidup tanpa berkomunikasi dengan orang lain. Dari hari senin sampai kamis setiap jam 6 pagi aku berenang dengan standrad latihan atlit renang. Setelah sarapan pagi habiskan waktu tuk baca tulis di kamar. Sore aku latihan phisik pakai barbel. Malamnya latihan pernafasan dan meditasi sampai tertidur. Hari jumat sampai minggu aku jalan sendiri naik sepeda kuno ke pinggir kota. Cari inspirasi sekaligus rekam realitas sosial manusia sengsara yang ditindas negara.”Yah,…Selalu sendiri di tengah hiruk pikuk tatanan sosial yang sudah hancur. Intens menata keluarga sekaligus memonitor dinamika perkembangan Taring menjelang dewasa. Ah !!! Betapa indahnya. Kecintaanku adalah menjaga kebugaran tubuh phisik dan tubuh nonphisik sepanjang hdup ini. Hua…ha…ha….Taring tertawa lepas.

Kantril berdiri mau kencing ke dalam rumah. Pas !! melangkah Kantril jatuh tersungkur muntah sudah terlalu banyak ngisap ganja campur jhoni walker. Setengah sadar Payman penuh kasih menuntun Kantril untuk duduk kembali. “Nanti kita bersihkan muntah ini ya… Supaya aku tak dimarahi Taring.

Payman dan Kantril duduk termenung, sudah agak mabok, hanyut dengan pikirannya masing masing.

Kumpulan Fiksi Mini: Paskah

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

(1) Pengakuan Dosa
Suster muda seranum pagi tunduk dalam-dalam di hadapan Pastur yang menyambutnya dengan,”semoga Tuhan mengampunimu.”
Binar mata tidak disembunyikannya ketika ia berkata,”Pastur, saya hendak mengaku dosa. Dosa saya yang pertama adalah aku mencintaimu.”

salib paskah
Gambar diunduh dari kolomkita.detik.com
(2) Telur Paskah
Bagi Yohanes Mohammad Ponijan yang terlahir sebagai jawa tulen bernama Ponijan kemudian ditambahi Mohammad oleh tetangganya dan terakhir dibaptis dengan nama asing Yohanes, paskah berarti hanya satu: telur paskah. Saat minggu pagi ramai pendaftaran lomba telur paskah, bocah itu akan bergerilya mencuri telur paskah yang disembunyikan di balik sesemak. Kemenangan lomba dan perayaan paskah tidak lebih penting dari lauk seminggu hasil curiannya. Paskah tetap meriah.

(3) Janji Baptis
Gereja hening. Hanya aroma dupa dan melati bernyanyi di udara. Janji baptis seperti biasa, akan diulangulang. Setiap tahun.
“Bersediakah Saudara menolak segala bentuk ketidakadilan dan segala hal yang melanggar hak asasi manusia?” suara Pastur bergema. Gaduh umat menjawab,”ya saya bersedia.” Seseorang membisu.
“Bersediakah Saudara menolak setan dan segala ketahkayulan?”
“Ya, saya setan!” Seseorang menjawab dan berlalu.

Kaki Merbabu, 8 April 2012

Sajadah dalam Bentangan Jangkauan Tangan Iblis

Flash Fiction Rere ‘Loreinetta
…Dan Ketika Iblis Membentangkan Sajadah

sajadah di masjidSiang menjelang dzuhur, salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu Jum’at, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk & masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau keluar masuk lewat lubang pembuangan air.
Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir.
Iblis juga menempel di setiap sajadah.
“Hai, Blis!“ panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu.
Iblis merasa terusik. “Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang saya.
Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!“ jawab Iblis ketus.
“Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci, Kalau kau mau ganggu, kau bisa di luar nanti!“ Kiai mencoba mengusir.
“Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru.“
Kiai tercenung.
“Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu.”
“Dengan apa?“
“Dengan sajadah!“
“Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?“
“Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!“
“Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru,Blis?“
“Bukan itu saja Kiai…“
“ Lalu?“
“Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar.“
“Untuk apa?“
“Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang kau pimpin, Kiai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sajadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ saya bisa ikut membentangkan sajadah.“
Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus. Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih kecil. Orang yang punya sajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadahnya, tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang. Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya. Lalu keduanya melakukan sholat sunnah.
“Nah, lihat itu Kiai!“ Iblis memulai dialog lagi.
“Yang mana?“
“Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk di antara mereka.“
Iblis lenyap. Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf.
Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunah. Dan Kiai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya.
Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil kembali berada di bawahnya. Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa. Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan sampai akhir sholat.

Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa kali terlihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di atas, ketimbang menerima di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil.
Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas. Pemilik sajadah lebar, diindentikkan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah yang setiap saat akan selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa. Di atas sajadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain.
“Astaghfirullahal adziiiim, “ ujar sang Kiai pelan.

Jajanan Bocah

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

maem di jalan
Gambar diunduh dari health.detik.com
Adalah seorang bocah yang senang bertanya pada Ayahnya ketika menurutnya ada sesuatu yang janggal. Suatu hari rumahnya didatangi pengemis dan bocah itu melemparkan uang kepada pengemis itu. Sang Ayah pun menegurnya. Lalu bocah itu membela diri, katanya,”Ayah, orang itu pemalas. Badannya masih sehat tapi mengemis.”
“Aku menyuruhmu memberi uang dengan cara yang baik, supaya ia belajar malu. Kalau kamu ingin menjadi anak baik, lakukan dengan cara yang baik.”
Suatu hari datanglah penjaja makanan keliling ke rumah mereka. Oleh Ayahnya, si anak disuruh membeli. Tetapi karena sebelumnya ia pernah membeli dan makanan itu tidak enak, si anak protes,”makanannya tidak enak Yah.”
Kata sang ayah,”belilah. Lama-lama ia akan membuat makanan yang enak untukmu. Ia menjual makanan karena tidak mau menjadi pengemis yang malas itu.”
Sang anak pun terdiam.
Ketika dewasa, bocah itu paham maksud ayahnya bahwa memberi tidak bisa dengan cara melempar dan ketulusan perbuatan lebih penting dari nasehat terbaik. Lalu ia pun rindu jajanan bocah yang dulu sempat dikatainya tidak enak.

Ulang Tahun

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

ulang tahun jaman dulu
Ilustrasi dari 2.bp.blogspot.com
Aku punya seorang teman. Lebih kaya dariku kukira. Ia tidak kekurangan makan, tempat tidur cukup hangat saat udara malam begitu dingin. Dan keluarga yang dekat, dalam arti ia bisa memanggil saudaranya kapan pun ia membutuhkan. Dalam beberapa hal, nasibnya lebih baik dari nasibku. Hanya satu hal yang aku tidak mengerti, setiap tahun ia meminta ulang tahunnya dirayakan.
…Hari ini aku mendapat undangan untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 42. Nasi tumpeng dengan warna kuning jeruk, beberapa potongan telor dan daging ayam, sedikit lalapan sudah tersedia di meja makan. Oh ya, ikan asin kecil-kecil cukup banyak bertebaran di sekitar tumpeng.
“Maaf Mbak, perayaannya sangat sederhana,” katanya dengan muka kemerah-merahan menahan malu. Yang aku tidak paham, ia memiliki rasa rendah diri yang luar biasa.
“Ini bancakan ya Mas,” tanyaku sedikit ragu.
“Iya Mbak.” Kembali wajahnya memerah. Lalu dengan nada yang terdengar membela diri, ia bercerita mengapa ia harus merayakan ulang tahun setiap tahunnya. Ia bercerita tentang orang tuanya yang mendidiknya begitu keras, tanpa pujian, tanpa penghargaan. Dan kegagalan berarti hukuman. Di mata keluarganya ia terlihat sukses. Tapi ia sendiri merasa tidak berharga.
Aku diam menyimak dan tanpa kusadari, hatiku trenyuh. “Ini boleh dimakan kan Mas?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Oh, ya! Silahkan..,” katanya agak gugup.
Aku membuat pincuk dari daun pisang yang menjadi alas tumpeng. Lalu beberapa potong makanan kutaruh di dalamnya. Terasa begitu nikmat sepertinya. Mulutku terbuka dan segenggam makanan siap kukunyah ketika tiba-tiba aku mendengar suara bocah dari belakangku,”Pak…kapan ulang tahunku dirayain?”