Hingga usiaku yang sudah melewati seperempat abad peradaban, tak pernah bisa dengan pasti menjabarkannya.
Selalu saja meraba-raba, sederhana itu berbentuk apa dan dengan warna apa.
Karena jika bicara bentuk dan warna, maka akan nampak seperti membicarakan diri sendiri.
Seperti membicarakan wajahku, yang sebagian orang katakan sangat mirip dengan Bapakku. Hampir semuanya. Termasuk warna putihnya kulit Bapak.
Hanya saja aku tidak beruntung memiliki hidung bangirnya. Tidak beruntung memiliki postur tubuhnya yang jangkung.
Untuk wajah dan kulit, aku beruntung memiliki gen dari Bapak, namun untuk postur, rupanya gen Ibu lebih mendominasi. Tinggi tubuh yang sederhana, karena jauh dari kata semampai.
Sederhana,
Jika aku boleh menuangkannya dalam sebuah warna. Pasti kupilih menuangkannya dalam warna hijau. Hijau selalu sederhana saat berbentuk sebagai daun, yang mampu mengenapi teori bernama fotosintesis.
Namun, ada masa ketika hijaunya daun, harus mengalah dengan warna kuning. Sebuah semiotika warna tentang berakhirnya masa berkembang. Dan mendekati masa untuk gugur. Jatuh terhempas ke tanah, kemudian berinteraksi dengan mahluk melata dari kaum Lumbricus.
Awalnya aku kira, berbicara tentang sederhana akan mudah, bila seperti membicarakan diri sendiri.
Tapi aku salah,
Bahkan aku makin merasa ambigu memaknainya.
Ehmm…tiba-tiba saja, terlintas di ingatanku. Kejadian yang berasal dari dimensi bernama masalalu.
“ Aku pergi training hanya 4 hari saja, oh iya Redoxon ini untukmu. Cuaca akhir-akhir ini begitu extrim. Minumlah vitamin ini, agar kamu tetap fit. “
Dia menyodorkan sebuah botol suplemen vitamin, sebelum memasuki ruang tunggu.
Redoxon…sederhana.
Mungkinkah sederhana lebih mirip suplemen vitamin yang disodorkan padaku. Atau seperti sederhananya tinggi badanku yang berasal dari gen Ibuku.
Mungkin malam nanti aku nyalakan lagi,
lilin yang kecil,
yang kemarin dulu terang,
yang pagi lalu redup,
yang sore ini padam,
lalu aura terpancar lagi,
lalu kita bisa membuat bayang-bayang burung, anjing, atau dinosaurus;
lalu kita bisa tertawa atau menyanyi,
mulai malam nanti,
saat lilin itu menyala lagi,
atau esok hari..
“Ya, bisa juga ku nyalakan esok hari..”
lalu kelam lari; menjauh; sembunyi..
Dan bunga mekar,
dan Afrodit cemburu,
Kamaratih juga begitu,
Kamajaya bakal patah hati,
Hathor dan Freya pasti juga iri,
semoga Tuhan tak..
Tapi barangkali ada matahari esok–seperti tadi?
Cahaya lain..
Matari pagi yang hangat,
yang tak silau,
seperti lilin itu, lilin kita–tiada silau
Tapi bukankah matahari memanas saat siang?
Barangkali hanya malam lilin dapat menyala,
atau saat cahaya sedang beristirahat,
saat bulan tak meninggalkan relief,
dan bintang juga,
atau ketika lampu telah ejakulasi,
baru lilin perlu,
baru lilin dinyalakan,
dengan api yang membara di tengah hati..
Sebab kita mesti menunggu Udumbara mekar lagi,
kecuali jika perempuan itu menggumam,
“Masihkah ada yang pantas dipertahankan?”
(Malang, 11 September 2012)
Balada Lontang dan Lantung
Lontang berjalan menembus malam,
menggendong berat pada pundaknya yang kecil,
mengusir nyamuk-nyamuk yang menguing,
mencoba menikam sepi,
dan dingin bulan yang makin tinggi..
Lantung berjalan membelah siang,
menggendong berat pada hatinya yang karut,
menangkis terik yang menelisik,
membunuh keramaian,
dan matahari yang kian elusif..
Lontang bersandar pada dinding jembatan layang,
Lantung selonjor pada tanah gersang,
tak bisa menjauh,
tak pula mendekat,
dan Lontang bersedih karena pertimbangan,
dan Lantung tertawa karena kerinduan..
Lontang mati, Lantung mati pula..
Lontang bernyanyi di sela candra,
Lantung bercinta di celah matari..
Ceritera mereka terdengar nyaring,
di sela singkat senja dan pagi hening,
bertemu pada bergantinya hari.
(Malang, 12 Agustus 2012)
Alra Ramadhan, Lahir 9 Maret 1993 di Kulon Progo, salah satu nama kabupaten di D.I. Yogyakarta.. Saat ini berkuliah di Jurusan Teknik Elektro Univ. Brawijaya, Malang.. Lebih lanjut, dipersilakan berkunjung di @alravox..
gambar diunduh dari ervakurniawan.file.wordpress.com
riang hati melihat mereka.. anak-anak kampung bermain kembang api meriam bambu bercahakan lilin kecil di beranda masing-masing
bermain alip cendong, peta umpet dan umpyang lepas tarawih malam selikuran sepuluh ketiga waktu ramadhan hati bahagia sebentar lagi lebaran
malam bermandikan cahaya obor, sentir sedikit bintang anak-anak riang berjelang-jelang berganti memegang kembang api terang benderang
tapi semua tinggal kenangan malam selikuran sudah tak punya ruang memasang lilin di halaman senta-senja lapangan dan taman-taman malam sepi anak-anak riang bermain kembang selikuran tak akan terulang sepanjang ramadhan
Terbang satu setengah jam, aku tiba di Hindia Belanda
topi demang masih di kepala, baju safari belum dibasuh,
lars kompeni ada bercak darah, campur getah tanaman paksa.
Api liar masih membakar akar rumput, sunda kelapa adalah pokok tua,
sudah lama henti berbuah, tinggal janur kuning masih melambai.
Naik kereta api satu hari satu malam, aku tiba di Hindia Belanda
Nusantara terbaring lemah, di leher Jawa bengkak, di pinggang Borneo
tertikam, wajah Sumatra ada luka bakar, sayatan Celebes bernanah
kaki Papua siap diamputasi. Terlalu pengap, aku buka jendela, kemiskinan
berkeluyuran, di sini kelaparan dan penyakit sering bersua mesra
senapan dan peluru mengokang ke arah wajah ingatan.
Setengah mati mengayun selangkah, aku tiba di Hindia Belanda
sejarah dicuci antiseptik tinggal sayup-sayup pedih, setelah mimpi
Indonesia Raya membalikkan tubuh, bom rakitan menggantikan obor
meledakkan legenda-legenda tua jadi serpihan berita, hijau zamrud pudar
dan kian pudar, hingga tinggal sebuah bilangan negosiasi perdagangan karbon,
sebatang nyiur melambai di dalam saluran National Geographic : One thousand places you have to visit before you die.
Kapitalisme berdesah basah di hutan hujan perawan:
[ Borneo, hari sudah gelap
kami bantu kau nyalakan setitik lampu! ]
Habiskan enam puluh tujuh tahun, aku tiba di Hindia Belanda
bankir dunia menggorek sisa nasi sayur kemanusiaan di sela gigi palsunya
dengan selembar transaksi, menyetor hak asasi manusia ke dalam rekening
bank dunia, kurs jadi sebuah perang, seuntai zamrud khatulistiwa tertutup rapat
di dalam tas kerja, bersama telepon genggam, sebuah pesan pendek peradaban,
membangunkan secercah cahaya fajar rindu purba kampung halaman.
Terbang satu setengah jam, tidak lebih tidak kurang, pas tegak
jadi patung perunggu, seperti sudah bosan terus menunjuk
arwah leluhur yang tidak menemukan pintu.
Tanka dalam puisi Jepang artinya: puisi panjang. Padahal sebenarnya tidak panjang. Ia disebut panjang, hanya karena lebih panjang daripada puisi haiku yang hanya terdiri dari 3 baris dan 17 suku kata.
Bunga Magnolia, sejenis bunga cempaka. Wangi. Penyebaran utamanya di Asia Tenggara dan Asia Timur. Sekarang menyebar juga di Amerika Serikat. Fosil-fosil bunga Magnolia ini ditemukan bahkan berumur sampai 20 juta tahun, sehingga diketahui bahwa Magnolia berevolusi lebih awal daripada lebah, hewan yang sekarang menjadi penyerbuk utama bunga ini. Marga dari bunga Magnolia mencakup sekitar 120 jenis. Nama marga Magnolia ini diambil dari nama botaniwan Prancis, Pierre Magnol.
Jika kau adalah mimpi, bagai api di sumbu
lilin, cahayamu di kaca jendela menjilat embun beku.
Jika kau adalah api, mata hangat, nostalgia mendidih,
udara kamar menggelegak, bara cengkeh berdesis
di antara bibir. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah api,
petir, guruh, lintang kemukus, setitik lampu tidak sengaja
terbuka di satu sudut badai, mimpi menyala
Jika kau adalah mimpi, bagai air mencair di dasar
tempayan musim semi, selamatkan dahaga seekor burung sesat.
Jika kau adalah air, sepenuh rongga tubuh, bawa perahu
ke lengkung teluk, hujan menjelang subuh, menetes tembus
buah rindu. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah air,
salju, sungai, kelenjar, uap, setetes kafein di petang senyap
mengapungkan serpihan waktu, mimpi hanyut
Jika kau adalah mimpi, bagai logam di tungku
ingatan, melebur setiap partikel giwang rebah di bantal.
Jika kau adalah logam, sebuah hati emas, setua bumi
gantung di lekuk leher, mendekati jantung, cakram rem
di tikungan maut. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah logam,
rambut perak, kulit tembaga, jarum dalam tumpukan jerami
cahaya mata seribu satu malam, mimpi memuai
Jika kau adalah mimpi, bagai kayu seranting
bunga plum, makin dingin makin pecah kecambah.
Jika kau adalah kayu, suara bakiak tersenyum di ujung lorong,
empat kaki meja, satu bangku di stasiun terlantar, selembar kertas
tertulis rapi. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah kayu,
duri mawar, inang benalu, pijar batubara, menunggumu sejajar
di luar garis lingkaran tahun, mimpi membatu
Jika kau adalah mimpi, bagai tanah penuh
debu cinta, diterbangkan angin hasrat ke ladang-ladang kekal.
Jika kau adalah tanah, segel sebuah fosil di antara bibir,
jejak kaki hujan, aroma lumpur musim semi, rawa ilalang
persembunyian angsa liar. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah tanah,
bejana, malam savana, pagi tundra, sungai-sungai mengalir
lewat, aku mengayuh sampai di jendelamu, mimpi tumbuh
gambar diunduh dari juminten grimis rindu rindu facebook
TERHANTAM
terpana
jantung kehilangan degup
dingin menyelusup tulang punggung
kilat melumpuh beku
semesta mengambang diam
lebih cepat daripada tahun cahaya
dalam waktu kebenaran
tiada yang berarti lagi
kepolosan lahir
bagaimana bisa buta
bila nyawa bersedia diberikan
pelukan sarat rangkulan pengertian
dan lebih lagi
tiada pernah dalam beribu tahun membiarkan
tak juga akan meremeh
kebodohan adalah nama
bila diri masih bisa ditemukan
maka itu dusta
STRUCK
mesmerized
a heart misses a beat
a creeping chill in the spine
a paralyzing freeze lightning
the universe floats still
faster than the light years
in that moment of truth
nothing matters anymore
innocence is born
how can it be blind
when a life is willingly given for
a hug full of understandings
and then some
never in a billion years to let go
nor will it insolence
idiocy is the name
if oneself can still be found
then it is a lie
-rinaisenandungrindu/struck/terhantam/trancemomentsseries/chakradpsbali/may2012/
gratefully thankful to
– Rudi Cool for the inspiration
– Erha Limanov for the performance