Arsip Kategori: Puisi

Tahi Lalat

Puisi Arif Saifudin

Di usia yang tak pernah kita duga
kita saling mengenali dan berbagi

di waktu yang singkat dan cepat
kita sempat berdebat

tentang pagi, malam dan siang
yang selalu riuh dengan peristiwa yang menantang

di pertemuan yang singkat
aku masih mengenangmu

mengenalimu
menyimpan hangat senyummu

tapi ada sesuatu yang tak bisa kulupa
yaitu tanda di dagumu

Yang membuatku kelu sekaligus pilu
bila merindu tak menemuimu

Kini, tahi lalatmu telah
kusimpan dalam album foto
di hatiku

kurawat selalu

September Suatu Hari

Puisi John Kuan

1.

Petai cina sepuluh batang

tebang pilih tiga sisa tujuh

sekejap gemericik, derai

miring gerimis September

menabur di pekarangan jauh

Bunga jombang berlomba

guling di rumput hijau

hanya tidak diijinkan masuk pintu ———

Di balik pintu sekat ruang

sekat waktu, duduk hening, alis putih 

bunga anggrek, bonsai Buxus

agak jauh agak jauh ada sederet bambu

Kau menulis bunga plum

aku baca sejarah kolonial

 

Suhu hangat sedang mengukus

lumut hijau di sela bata merah

Tahun itu bukan April saja bisa keji

sehalaman bunga baru selesai merekah

di hutan karet tidak hanya cangkang biji meletus

 

2.

Bugenvil tetangga seperti satu malam

mekar semua, bahkan diam-diam menjulur lewat

dinding kayu, seperti juga ada sayap

seekor kupu-kupu putih mengaduk lembab

meriak semacam getaran sunyi

di sebelah dinding kayu: sungguh pekarangan hening

( Anak lelaki mereka luka parah di atas ranjang

September yang dingin ) Maukah

kita berdoa untuk kesehatannya?

 

Petai cina tujuh batang:

semacam romantis, pusing menaksirnya

September juga tidak setara musim gugur

Sebiji hati sesat di lorong-lorong batu hijau

tiba-tiba purnama agak basah di atas tembok, sorot

kau menulis bunga plum

aku baca sejarah kolonial

 

Petai cina tujuh batang

Tujuh batang juga bagus

Bapak, Ibu, Redoxon dan kaum Lumbricus

Puisi Kayana Octora Nirwasita

Sederhana,

Hingga usiaku yang sudah melewati seperempat abad peradaban, tak pernah bisa dengan pasti menjabarkannya.
Selalu saja meraba-raba, sederhana itu berbentuk apa dan dengan warna apa.

Karena jika bicara bentuk dan warna, maka akan nampak  seperti membicarakan diri sendiri.

Seperti membicarakan wajahku, yang sebagian orang katakan sangat mirip dengan Bapakku. Hampir semuanya. Termasuk warna putihnya kulit Bapak.

Hanya saja aku tidak beruntung memiliki hidung bangirnya. Tidak beruntung memiliki postur tubuhnya yang jangkung.

Untuk wajah dan kulit, aku beruntung memiliki gen dari Bapak, namun untuk postur, rupanya gen Ibu lebih mendominasi. Tinggi tubuh yang sederhana, karena jauh dari kata semampai.

Sederhana,

Jika aku boleh menuangkannya dalam sebuah warna. Pasti kupilih menuangkannya  dalam warna hijau. Hijau selalu sederhana saat berbentuk sebagai daun, yang mampu mengenapi teori  bernama fotosintesis.

Namun, ada masa ketika hijaunya daun, harus mengalah dengan warna kuning. Sebuah semiotika warna tentang berakhirnya masa berkembang. Dan mendekati masa untuk gugur. Jatuh terhempas ke tanah, kemudian berinteraksi dengan mahluk melata dari kaum Lumbricus.

Awalnya aku kira, berbicara tentang sederhana akan mudah, bila seperti membicarakan diri sendiri.

Tapi aku salah,

Bahkan aku makin merasa ambigu memaknainya.

Ehmm…tiba-tiba saja, terlintas di ingatanku. Kejadian yang berasal dari dimensi bernama masalalu.

“ Aku pergi training hanya 4 hari saja, oh iya Redoxon ini untukmu. Cuaca akhir-akhir ini begitu extrim. Minumlah vitamin ini, agar kamu tetap fit. “

Dia menyodorkan sebuah botol suplemen vitamin, sebelum memasuki ruang tunggu.

Redoxon…sederhana.

Mungkinkah  sederhana lebih mirip suplemen vitamin yang disodorkan padaku. Atau seperti sederhananya tinggi badanku yang berasal dari gen Ibuku.

Puisi Alra Ramadhan

Puisi Alra Ramadhan

gambar diunduh dari ceritainspirasi.net

Padam

Mungkin malam nanti aku nyalakan lagi,
lilin yang kecil,
yang kemarin dulu terang,
yang pagi lalu redup,
yang sore ini padam,
lalu aura terpancar lagi,
lalu kita bisa membuat bayang-bayang burung, anjing, atau dinosaurus;
lalu kita bisa tertawa atau menyanyi,
mulai malam nanti,
saat lilin itu menyala lagi,
atau esok hari..

“Ya, bisa juga ku nyalakan esok hari..”
lalu kelam lari; menjauh; sembunyi..
Dan bunga mekar,
dan Afrodit cemburu,
Kamaratih juga begitu,
Kamajaya bakal patah hati,
Hathor dan Freya pasti juga iri,
semoga Tuhan tak..

Tapi barangkali ada matahari esok–seperti tadi?

Cahaya lain..
Matari pagi yang hangat,
yang tak silau,
seperti lilin itu, lilin kita–tiada silau
Tapi bukankah matahari memanas saat siang?

Barangkali hanya malam lilin dapat menyala,
atau saat cahaya sedang beristirahat,
saat bulan tak meninggalkan relief,
dan bintang juga,
atau ketika lampu telah ejakulasi,
baru lilin perlu,
baru lilin dinyalakan,
dengan api yang membara di tengah hati..

Sebab kita mesti menunggu Udumbara mekar lagi,
kecuali jika perempuan itu menggumam,
“Masihkah ada yang pantas dipertahankan?”

 

(Malang, 11 September 2012)

 

Balada Lontang dan Lantung

Lontang berjalan menembus malam,
menggendong berat pada pundaknya yang kecil,
mengusir nyamuk-nyamuk yang menguing,
mencoba menikam sepi,
dan dingin bulan yang makin tinggi..

Lantung berjalan membelah siang,
menggendong berat pada hatinya yang karut,
menangkis terik yang menelisik,
membunuh keramaian,
dan matahari yang kian elusif..

Lontang bersandar pada dinding jembatan layang,
Lantung selonjor pada tanah gersang,
tak bisa menjauh,
tak pula mendekat,
dan Lontang bersedih karena pertimbangan,
dan Lantung tertawa karena kerinduan..
Lontang mati, Lantung mati pula..

Lontang bernyanyi di sela candra,
Lantung bercinta di celah matari..
Ceritera mereka terdengar nyaring,
di sela singkat senja dan pagi hening,
bertemu pada bergantinya hari.

 

(Malang, 12 Agustus 2012)

Alra Ramadhan, Lahir 9 Maret 1993 di Kulon Progo, salah satu nama kabupaten di D.I. Yogyakarta.. Saat ini berkuliah di Jurusan Teknik Elektro Univ. Brawijaya, Malang.. Lebih lanjut, dipersilakan berkunjung di @alravox..

Pilih Selembar Foto Buat Waktu

Puisi John Kuan

gambar diunduh dari http://www.yangunikcantik.blogspot.com

Selembar ini ada rintik hujan Chaplin,

bau mentol, amat sejuk, agaknya musim gugur.

Dua orang duduk berhadapan di kiri, sisanya

dibiarkan kelabu keluar hingga jauh.

Ada ranting sehabis menggugurkan daun-daunya

entah di mana, masuk berkecambah sunyi di sisi atas.

Sebuah meja pendek tegar di antara mereka, menjaga

poci dan cangkir teh tetap berasap, sentuh ranting sentuh awan.

Dia sedang meraba rambutnya, ujung jari menyentuh keringat

dan wangi melati akar rambut, menyusuri helai-helai hitam kilap

berhenti di lekuk leher giok putih. Air mendidih, dunia selembar kabut.

Di seberang meja dia sedang menyeruput hidup, ada aroma teh

ada senyum dikulum sekian tahun, ada harum tertinggal di akar lidah

untuk peristiwa selanjutnya agaknya hambar, atau semacam manis

berayun di antara ada dan tiada, bagai sepotong awan melayang

keluar dunia sejengkal, mungkin tidak lebih dari dua tiga helai

daun kering terapung atau mengendap di dalam cangkir.

Sidang Superhero

Puisi Maria Ita

yudas iskariot
gambar diunduh dari static.republika.co.id

memasuki ruang pengadilan, pagi itu:

seperti berada di persimpangan surga dan neraka,

ada batman, ada spiderman, ada superman, ada cat woman,

ada si anak setan, hellboy, datang tergesa-gesa,

dengan muka merah padam, dengan separuh tanduknya.

ada yudas iskariot/

 

tak seperti biasa,

batman mengenakan topeng berwarna putih,

spiderman menyulam jaring-jaringnya dari butiran berlian,

superman menyembunyikan celana dalam di balik jubah panjang,

cat woman memakai cambuk sebagai ikat pinggang,

si anak setan –hellboy-, melambaikan tangannya pada tangan-tangan,

tak bertuan di jendela-jendela pengadilan,

dan yudas iskariot menghitung kepingan/

 

hakim mengetuk palu, suasana tenang/

‘siapa bersalah?’

bisik-bisik terdengar di telinga, lalu para super hero berdiri,

‘dia!’, sambil menunjuk yudas iskariot/

yudas iskariot memegangi perutnya yang koyak,

katanya,’aku?’

 

hakim mengetuk palu, suasana tenang/

‘siapa buang angin?’

bisik-bisik terdengar di telinga, lalu para super hero berdiri,

‘dia!’, sambil menunjuk yudas iskariot/

yudas iskariot melemparkan sekantong uang perak,

katanya,’aku?’

 

hakim mengetuk palu, suasana tenang/

‘siapa pencium ulung?’

yudas iskariot berdiri berdiri seperti siap gantung diri,

katanya,’aku!’

seringai kemenangan menusuk-nusuk mata/

 

‘dia?’, kata para super hero setelah bisik-bisik terdengar,

di telinga/

‘harusnya aku!’, kata spiderman sambil melengos/

 

hakim mengetuk palu, suasana tenang/

‘siapa pengecut?’

yudas iskariot berteriak,

katanya,’mereka!’

‘aku bukan pengecut!’, kata hellboy dengan muka semakin padam

dan ekor yang tiba-tiba melecut/

 

hakim mengetuk palu, suasana tenang/

‘siapa membunuh?’

tak ada bisik-bisik, semua tunduk menatap lantai/

lalu, hakim keluar dari ruang pengadilan dengan santai//

 

*) Maria Ita adalah penulis buku kumpulan puisi Ibukota Serigala

Selikuran

Puisi Lentera Bias Jingga

gambar diunduh dari ervakurniawan.file.wordpress.com

riang hati
melihat mereka..
anak-anak kampung
bermain kembang api
meriam bambu
bercahakan lilin kecil
di beranda masing-masing

bermain alip cendong,
peta umpet dan umpyang
lepas tarawih malam selikuran
sepuluh ketiga waktu ramadhan
hati bahagia sebentar lagi lebaran

malam bermandikan cahaya
obor, sentir sedikit bintang
anak-anak riang berjelang-jelang
berganti  memegang kembang api
terang benderang

tapi semua tinggal kenangan
malam selikuran sudah tak punya ruang
memasang lilin di halaman senta-senja
lapangan dan taman-taman
malam sepi anak-anak riang bermain kembang
selikuran tak akan terulang sepanjang ramadhan

Losung Aek

Puisi Lentera Bias Jingga

gambar diunduh dari skyscrapercity.com

tempat

matahari memancar

dari timur

dan bau belerang

menyengat pagi yang biru

sawah-sawah menguning

menanti panen tiba,

gemericik  pecahan air di bawah sana

bukit di kiri

berbatu cadas,

hijau tua dibalut lumut

dan semburat bianglala

melekat di langit saga

burung-burung bercanda 

di ranting tua,

ada anak lelaki

datang merajut sapa,

menyapa pagi

dari setiap jendela rumah kayu

yang tua-tua,

tanda seberang  sana

dimulai saja,menyusuri

jalan setapak ,

di bukit-bukit

pembatas kampung utara 

kampung tenggara

tempat ayah berpesan untuk sepetak sawah, pada ketujuh putra,pun keenam putrinya

losung aek selarik cerita dari anak-anak hingga dewasa,isyarat cinta di rantau manusia

Kembali ke Hindia Belanda

Puisi John Kuan

merah putih compang camping
gambar diunduh dari gerrilya.file.wordpress.com

Terbang satu setengah jam, aku tiba di Hindia Belanda
topi demang masih di kepala, baju safari belum dibasuh,
lars kompeni ada bercak darah, campur getah tanaman paksa.
Api liar masih membakar akar rumput, sunda kelapa adalah pokok tua,
sudah lama henti berbuah, tinggal janur kuning masih melambai.

Naik kereta api satu hari satu malam, aku tiba di Hindia Belanda
Nusantara terbaring lemah, di leher Jawa bengkak, di pinggang Borneo
tertikam, wajah Sumatra ada luka bakar, sayatan Celebes bernanah
kaki Papua siap diamputasi. Terlalu pengap, aku buka jendela, kemiskinan
berkeluyuran, di sini kelaparan dan penyakit sering bersua mesra
senapan dan peluru mengokang ke arah wajah ingatan.

Setengah mati mengayun selangkah, aku tiba di Hindia Belanda
sejarah dicuci antiseptik tinggal sayup-sayup pedih, setelah mimpi
Indonesia Raya membalikkan tubuh, bom rakitan menggantikan obor
meledakkan legenda-legenda tua jadi serpihan berita, hijau zamrud pudar
dan kian pudar, hingga tinggal sebuah bilangan negosiasi perdagangan karbon,
sebatang nyiur melambai di dalam saluran National Geographic :
One thousand places you have to visit before you die.
Kapitalisme berdesah basah di hutan hujan perawan:
[ Borneo, hari sudah gelap
kami bantu kau nyalakan setitik lampu! ]

Habiskan enam puluh tujuh tahun, aku tiba di Hindia Belanda
bankir dunia menggorek sisa nasi sayur kemanusiaan di sela gigi palsunya
dengan selembar transaksi, menyetor hak asasi manusia ke dalam rekening
bank dunia, kurs jadi sebuah perang, seuntai zamrud khatulistiwa tertutup rapat
di dalam tas kerja, bersama telepon genggam, sebuah pesan pendek peradaban,
membangunkan secercah cahaya fajar rindu purba kampung halaman.
Terbang satu setengah jam, tidak lebih tidak kurang, pas tegak
jadi patung perunggu, seperti sudah bosan terus menunjuk
arwah leluhur yang tidak menemukan pintu.

TANKA MAGNOLIA

Puisi Ahmad Yulden Erwin

kita adalah percik
dari kesunyian,

jejak kosong
di ladang bintang-bintang,

lalu puisi dituliskan
— perlahan

satu dunia tercipta,
tumbuh di putik magnolia,

mekar dan gugur,
lalu hancur

— tanpa kata
matahari kita:

mekar di kuntum magnolia.

catatan:

cempaka
gambar diunduh dari Ahmad Yulden Erwin facebook

Tanka dalam puisi Jepang artinya: puisi panjang. Padahal sebenarnya tidak panjang. Ia disebut panjang, hanya karena lebih panjang daripada puisi haiku yang hanya terdiri dari 3 baris dan 17 suku kata.

Bunga Magnolia, sejenis bunga cempaka. Wangi. Penyebaran utamanya di Asia Tenggara dan Asia Timur. Sekarang menyebar juga di Amerika Serikat. Fosil-fosil bunga Magnolia ini ditemukan bahkan berumur sampai 20 juta tahun,  sehingga diketahui bahwa Magnolia berevolusi lebih awal daripada lebah, hewan yang sekarang menjadi penyerbuk utama bunga ini. Marga dari bunga Magnolia mencakup sekitar 120 jenis. Nama marga Magnolia ini diambil dari nama botaniwan Prancis, Pierre Magnol.

Engkau dalam Lima Elemen

Puisi John Kuan

five element
gambar diunduh dari http://www.ariellucky.files.wordpress.com

Jika kau adalah mimpi, bagai api di sumbu
lilin, cahayamu di kaca jendela menjilat embun beku.
Jika kau adalah api, mata hangat, nostalgia mendidih,
udara kamar menggelegak, bara cengkeh berdesis
di antara bibir. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah api,
petir, guruh, lintang kemukus, setitik lampu tidak sengaja
terbuka di satu sudut badai, mimpi menyala

Jika kau adalah mimpi, bagai air mencair di dasar
tempayan musim semi, selamatkan dahaga seekor burung sesat.
Jika kau adalah air, sepenuh rongga tubuh, bawa perahu
ke lengkung teluk, hujan menjelang subuh, menetes tembus
buah rindu. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah air,
salju, sungai, kelenjar, uap, setetes kafein di petang senyap
mengapungkan serpihan waktu, mimpi hanyut

Jika kau adalah mimpi, bagai logam di tungku
ingatan, melebur setiap partikel giwang rebah di bantal.
Jika kau adalah logam, sebuah hati emas, setua bumi
gantung di lekuk leher, mendekati jantung, cakram rem
di tikungan maut. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah logam,
rambut perak, kulit tembaga, jarum dalam tumpukan jerami
cahaya mata seribu satu malam, mimpi memuai

Jika kau adalah mimpi, bagai kayu seranting
bunga plum, makin dingin makin pecah kecambah.
Jika kau adalah kayu, suara bakiak tersenyum di ujung lorong,
empat kaki meja, satu bangku di stasiun terlantar, selembar kertas
tertulis rapi. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah kayu,
duri mawar, inang benalu, pijar batubara, menunggumu sejajar
di luar garis lingkaran tahun, mimpi membatu

Jika kau adalah mimpi, bagai tanah penuh
debu cinta, diterbangkan angin hasrat ke ladang-ladang kekal.
Jika kau adalah tanah, segel sebuah fosil di antara bibir,
jejak kaki hujan, aroma lumpur musim semi, rawa ilalang
persembunyian angsa liar. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah tanah,
bejana, malam savana, pagi tundra, sungai-sungai mengalir
lewat, aku mengayuh sampai di jendelamu, mimpi tumbuh

Terhantam

Puisi Juminten Grimis Rindu Rindu

rumi
gambar diunduh dari juminten grimis rindu rindu facebook

TERHANTAM

terpana
jantung kehilangan degup
dingin menyelusup tulang punggung
kilat melumpuh beku
semesta mengambang diam
lebih cepat daripada tahun cahaya
dalam waktu kebenaran
tiada yang berarti lagi
kepolosan lahir
bagaimana bisa buta
bila nyawa bersedia diberikan
pelukan sarat rangkulan pengertian
dan lebih lagi
tiada pernah dalam beribu tahun membiarkan
tak juga akan meremeh
kebodohan adalah nama
bila diri masih bisa ditemukan
maka itu dusta

STRUCK

mesmerized
a heart misses a beat
a creeping chill in the spine
a paralyzing freeze lightning
the universe floats still
faster than the light years
in that moment of truth
nothing matters anymore
innocence is born
how can it be blind
when a life is willingly given for
a hug full of understandings
and then some
never in a billion years to let go
nor will it insolence
idiocy is the name
if oneself can still be found
then it is a lie
-rinaisenandungrindu/struck/terhantam/trancemomentsseries/chakradpsbali/may2012/

gratefully thankful to
– Rudi Cool for the inspiration
– Erha Limanov for the performance