Arsip Kategori: Cerpen

Tembakan Lelaki Borneo

Tembakan Lelaki Borneo[1]

 Cerpen Anton Trianto

gambar diunduh dari situsaja.blogspot.com

Bunyi tembakan dan suara barang yang pecah terdengar nyaris bersamaan. Menggetarkan udara dan terasa membekas di gendang telinga. Menyusul di belakangnya suara berat seorang lelaki yang memaki-maki.

“Riwuuuut! Tempayanku, Riwuuut! Sontoloyo! Asu!”

Menyusul lagi di belakangnya suara banyak orang terkekeh-kekeh menggenapi parade suara gaduh di tempat itu. Sebuah tempat yang merupakan sebidang halaman belakang sebuah rumah. Tempat yang dipenuhi oleh banyak lelaki yang sedang menggendong bedil di tangannya.

Di tempat itu berdiri seorang pemuda, tubuh kecil berkulit hitam. Pemuda yang barusan saja menembak, dimaki dan ditertawakan. Namanya Riwut. Semua orang di sana menggeleng-geleng kepala atas apa yang sudah diusahakannya. Riwut pun juga terpaksa geleng-geleng kepala atas kegagalan-kegagalannya.

Mata Riwut menatap sebuah botol kosong bekas minuman keras buatan Belanda yang diletakkan di atas tumpukan karung berisi pasir. Botol kosong itu adalah sasaran latihan tembaknya sore ini. Botol kosong yang diletakkan sembilan hasta di depan ujung laras bedilnya itu, benar-benar membuat hatinya sangat jengkel.

Tujuh kali sudah peluru meletus dari moncong senapan Riwut. Namun tetap saja sasaran tembak itu bergeming di tempatnya semula. Tak bergerak barang secuil jarak pun. Peluru Riwut malah nyasar menghantam sebuah tempayan air milik majikannya yang terbuat dari tembikar. Bagian tengah tempayan itu rengkah isinya muncrat berhamburan.

Bukan hanya tempayan air yang jadi korban keganasan senapan Riwut. Sebelumnya, dahan pohon randu di belakang sasaran tembak juga berlubang ditembus peluru. Beberapa karung pasir di kiri kanan sasaran bernasib sama, bocor dicium timah panas. Sementara tiga buah peluru melesat menyapa awan, hilang entah kemana. Tak satu pun tembakan Riwut kena sasaran.

Riwut membidik lagi. Ia kembali mengatur posisi badannya. Kuda-kuda kakinya dikuat-kuatkan. Suara kokang senapan terdengar. Riwut mulai memicingkan sebelah matanya lalu menahan nafas.

“Sudah, sudah! Cukup! Kita hemat peluru!” seorang lelaki berbadan tinggi gempal mencegah dan memberikan isyarat tangan kepada Riwut agar tidak menembak lagi.

“Kau belum bisa menembak juga,” katanya pada Riwut dengan kerut di dahinya. Yang ditanya cuma bisa menjawab dengan cara memamerkan senyuman hambar dan seringai kosong.

Lelaki tinggi gempal itu melepas hembus nafas pelan, prihatin dengan kegagalan Riwut menembak. Lelaki itu adalah Cak Hasan. Dahulu Cak Hasan adalah seorang chudanco[2] PETA[3], kini ia jadi anggota BKR[4]. Cak Hasan diminta oleh Ki Kusno, untuk melatih laskar rakyat bentukannya agar bisa menggunakan berbagai senjata api hasil rampasan dari gudang senjata milik Jepang. Ki Kusno sendiri adalah majikan Riwut, orang yang memaki karena tempayan airnya pecah ditembak Riwut. Ia terkenal sebagai salah seorang jawara silat ternama di Surabaya.

“Riwut, latihan yang becus! Masa sampai hari ini kau belum juga bisa menembak!” bentak Ki Kusno dengan air muka yang geram.

Lagi-lagi Riwut hanya bisa memamerkan senyuman hambar dan seringai kosong sebagai sahutan untuk Ki Kusno. Riwut tak berani berlama-lama menatap sorot mata majikannya yang sedang kesal. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya ke arah Cak Hasan. Cak Hasan terlihat sedang memberi tanda kepada semua orang di tempat itu untuk berkumpul lebih dekat.

“Dengar semua! Kabar yang kami dapat, pasukan Sekutu yang diwakili Inggris segera akan berlabuh di Surabaya, mungkin dua tiga hari lagi. Dan seperti yang telah kita tahu, desas-desus berkembang bahwa akan ada Belanda membonceng di dalamnya. Mereka hendak kembali mengangkangi kemerdekaan kita.”

Lantang suara Cak Hasan membuat suara lain jadi bungkam. Cak Hasan memang penuh kharisma. Air mukanya yang selalu tenang dan nada bicaranya yang datar dan tegas bagai menyihir siapa saja untuk hormat dan segan padanya. Tidak terkecuali Ki Kusno yang terkenal sebagai seorang jagoan.

“Kita tidak punya banyak waktu untuk terus latihan senjata. Kita harus segera bersiap, bersiaga. Seluruh laskar rakyat diharapkan terus bekerja-sama membantu BKR.”

Cak Hasan berhenti sejenak. Bola matanya bergerak menyapu seluruh wajah lelaki yang ada di sana, lalu berhenti pada wajah Riwut. Ditatap lama oleh Cak Hasan, Riwut membuang pandangnya ke tanah.

“Bagi yang sudah mempunyai senjata, pergunakan amunisimu dengan bijaksana. Yang belum bisa menembak, usahakan segera bisa, silahkan latihan sendiri. Tapi ingat, hemat pelurumu! Mulai sekarang semuanya harus siaga, pantau setiap perkembangan dan kabar yang datang. Jalin terus komunikasi dengan BKR. Kita tahu Belanda tidak akan main-main untuk mengembalikan kekuasaannya. Paham semua?”

Semua kepala lelaki di hadapan Cak Hasan bergerak mengangguk tanda mengerti.

“Baik. Cukup sampai hari ini latihan kita.”

“Merdeka!”

“Merdeka!”

Semua orang pun bubar. Cak Hasan berpamitan kepada Ki Kusno lalu bergerak kembali ke markas BKR. Sementara Ki Kusno bergegas menghampiri Riwut.

“Riwut! Kemari!”

Riwut tergopoh menemui Ki Kusno. Dilihatnya sorot mata Ki Kusno belum juga berubah sedari tadi. Sorot mata kesal yang hendak menerkam wajahnya.

“Riwut, bagaimana kamu ini? Kamu serius tidak selama latihan? Sampai hari ini kau belum juga bisa menembak?”

Riwut cuma diam, matanya ke tanah.

“Musuh kita adalah Belanda, Wut! Mereka pakai bedil, meriam, dan senjata api lainnya. Kamu kira bisa menghadapi mereka hanya dengan parang, pedang dan jurus-jurus silatmu saja, hah?!”

Riwut masih diam, matanya melirik wajah Ki Kusno sejenak lalu kembali ke tanah.

“Aku tahu, kita semua belum ada yang mahir menembak. Tapi paling tidak kami bisa membidik sasaran lumayan lebih baik ketimbang kau. Tapi kau, benar-benar payah!”

Riwut tetap diam, ia merasa seperti terbenam pelan-pelan ke dalam lumpur hisap, tak kuasa membela diri. Ki Kusno diam sejenak, diamatinya raut wajah Riwut lekat-lekat. Tak tega juga akhirnya Ki Kusno melihat kesan wajah menyerah tak berdaya yang diperagakan oleh Riwut. Ki Kusno pun mengendurkan urat lehernya.

“Kau bisa jadi seorang yang amat berguna bagi perjuangan ini. Badanmu lincah, gerakmu cepat, bayangkan jika kau mampu menembak dengan baik.”

“Tak tahu aku, Ki. Sudah aku coba. Tapi tetap tak bisa,” akhirnya Riwut bersuara.

“Latihan yang becus, Riwut. Akan sangat berbahaya jika kau menembak dengan caramu itu lalu bergabung dengan laskar di garis depan perjuangan.”

Riwut mengangguk pelan. Ki Kusno kemudian pergi meninggalkan rumah sekaligus padepokan silat juga markas laskar rakyat buatannya itu. Seperti biasa, setiap senja mulai menguning, Ki Kusno harus sudah berada di sekitar gudang beras milik Koh Ah Guan. Di sana ia bertugas sebagai mandor yang mengawasi para pekerja membereskan karung-karung beras sebelum pintu gudang dikunci. Kali ini ia tak mengajak Riwut membantunya mengawasi gudang Koh Ah Guan. Riwut diperintahkan untuk menjaga markas.

Ki Kusno memang seorang centeng. Dahulu meneer-meneer[5] Belanda, para indo dan priyayi kaya sering menyewa jasa Ki Kusno. Namun sejak kedatangan Jepang, ia kini hanya melayani permintaan tauke-tauke Cina saja. Jawara silat itu sering dibayar untuk bekerja sebagai mandor perkebunan, penjaga gudang, tukang pukul, bahkan pengawal pribadi.

Menjadi centeng sewaan tentu perlu merekrut beberapa orang anak buah. Lima tahun sudah Riwut direkrut jadi anak buah Ki Kusno. Awalnya Ki Kusno bertemu Riwut di Pelabuhan Ujung. Kala itu Ki Kusno sedang disewa untuk membantu mengawasi keamanan proses bongkar muat barang kapal yang baru datang dari Rotterdam.

Sedikit terkejut Ki Kusno saat melihat ada seorang kuli baru bekerja di sana. Kemampuan kuli itu menyelesaikan pekerjaannya memukau Ki Kusno. Kuli itu mampu bergerak sangat lincah dan cepat walau sedang memanggul beban berat di pundaknya. Ia mampu menyelesaikan pekerjaannya dua kali lebih cepat dari kuli lainnya.

Dia-lah Riwut, si kuli baru itu. Seorang pemuda asal Borneo. Kuli itu tak mengerti bahasa Jawa, tapi bisa sedikit Melayu. Namun masalah bahasa tak jadi soal buat Ki Kusno, tampaknya ia sudah kepincut dengan kemampuan fisik Riwut. Akhirnya Ki Kusno menemui Riwut dan menawarkan pekerjaan sebagai anak buahnya dengan upah yang jauh lebih tinggi daripada upah kuli. Riwut pun menerima tawaran itu.

Tak butuh waktu lama, Riwut pun menjadi orang kepercayaan terdekat Ki Kusno. Selama ini tak ada satu pun tugas yang Riwut lalaikan. Semua perintah tuntas ia laksanakan. Kecuali satu perintah yang masih tersisa sekarang, belajar menembak dengan senapan.

Masih di halaman belakang markas laskar rakyatnya Ki Kusno, Riwut duduk termenung memandangi senapannya. Tangannya menyapu seluruh badan senapan, mulai dari laras, pelatuk hingga popornya. Lagi, Riwut geleng-geleng kepala. Ia tak bisa paham mengapa dirinya seperti tak berjodoh dengan senjata itu.

Diambilnya satu butir peluru dari kantung yang tergantung di sabuknya. Didekatkan peluru itu ke matanya, dilihatnya lekat-lekat. Lalu peluru itu ia dekatkan bersisian dengan moncong senapan. Entah kenapa, tiba-tiba ia ingat senjata warisan leluhurnya di Borneo.

Andai Ki Kusno menyuruhnya menembak menggunakan senjata leluhurnya itu, tentu botol kosong itu sudah terpelanting pecah. Jangankan botol, seekor harimau gila pun sanggup ia robohkan sampai mampus hanya dengan senjata tersebut. Tapi ia tak mau berlama-­lama memikirkan senjata leluhurnya itu.

Riwut kembali berdiri. Ia menata posisi dan kuda-kuda kakinya lagi. Bedil diangkat dan moncong larasnya diarahkan kembali ke botol kosong yang masih di atas tumpukan karung pasir. Senjata di-kokang, mata kirinya kembali memicing.

Suara tembakan kembali menggelepar di udara. Dahan pohon randu kembali berlubang. Botol kosong tetap diam di tempatnya. Di belakang Riwut, suara tawa mengejek kembali terdengar.

“Jangan memaksa diri, Wut! Hari sudah petang, sudah mandi sana! Botol itu juga sudah muak dengan bau badanmu!” rupanya Sudiro – anak buah Ki Kusno yang lain – mengintip dari jendela saat tembakan Riwut meletus, lalu ia tertawa.

Suara tembakan meletus lagi. Peluru Riwut kembali terbang, menyapa awan lalu hilang. Sudiro tertawa lagi, bahkan lebih keras.

**

Bulan November, Surabaya porak poranda. Hampir genap dua puluh hari kekuatan tempur tentara Inggris menggilas perlawanan kota itu. Yang tersisa hanya reruntuhan pos-pos pertahanan yang berwarna legam juga sejumlah jasad dan bekas tumpahan darah para pejuang. Serangan udara, serbuan tank dan tembakan mortir Inggris sejak tanggal sepuluh telah membungkam Surabaya dalam sebuah kekalahan.

Semua front perjuangan rakyat Surabaya dipukul mundur jauh hingga ke selatan tidak terkecuali laskar rakyatnya Ki Kusno. Ki Kusno telah kehilangan banyak anak buahnya. Lebih sialnya lagi ia kini putus kontak dengan pasukan BKR pimpinan Cak Hasan.

Setelah pertahanan di Wonokromo disergap oleh tank-tank Sherman, pasukan pejuang tercerai berai mundur ke arah Gunungsari. Karena gencarnya tembakan kanon dari moncong tank, Ki Kusno dan empat anak buahnya termasuk Riwut panik lalu lari terpisah dari pasukan BKR. Mereka lari masuk ke dalam hutan yang masih merimbun tak jauh dari Kali Surabaya.

Mereka terjebak lebih dari tiga hari di dalam hutan dengan keadaan kekurangan bahan makanan. Sumber makanan kian menipis karena binatang-binatang yang bisa diburu tak terlihat lagi berkeliaran dalam hutan itu. Sementara sumber air semakin sulit dicapai karena tentara Inggris masih terus bergerak menyapu kekuatan pejuang hingga di tepian Kali Surabaya.

Ki Kusno harus memutuskan sesuatu. Diam di dalam hutan lalu kemungkinan mati kelaparan, atau terus bergerak ke timur menembus rimbunan pohon hingga sampai ke Wonocolo dengan persediaan makanan dan minuman yang tak memungkinkan. Dan pilihan terakhir adalah nekat menyelinap melewati barikade tentara Inggris di depan mereka di sekitar Kali Surabaya.

Ki Kusno lebih condong pada putusan yang nekat. Ia mengirim Riwut untuk mengintai kemungkinan dimana keberadaan pos-pos penjagaan musuh dan bagaimana gambaran peluang mereka untuk menyelinap. Riwut di suruh pergi saat langit senja telah benar-benar gelap.

Namun hingga malam kian meninggi, Riwut tak kunjung kembali. Ki Kusno dan anak-anak buahnya gusar menunggu informasi. Dengan diterangi sedikit nyala api yang membakar tumpukan ranting-ranting kecil, Ki Kusno mengajak sisa anak buahnya untuk merundingkan hal tersebut dan memutuskan rencana selanjutnya.

“Riwut belum juga kembali. Kita tak bisa menunggu lebih lama lagi. Jika malam berlalu dan terang pun datang, maka kita terpaksa menunda rencana kita. Akan sangat sulit kita menyelinap di saat cahaya sedang benderang,” resah Ki Kusno membuat suaranya kian berat.

“Bagaimana menurut kalian?” tanya Ki Kusno sembari mengamati mata anak buahnya.

“Kami.. Kami hanya menunggu perintah sampeyan, Ki,” jawab Sudiro singkat dan pelan.

“Goblok! Menunggu perintah saja bisanya kalian! Tak pernah memberi masukkan jika diminta! Asu!”

Anak-anak buah Ki Kusno tersentak akibat dibentak dengan kuat seperti itu. Mereka diam tertunduk.

“Ya, sudah. Malam ini juga kita susul Riwut. Siapkan semuanya!”

“Baik, Ki!”

Akhirnya berbekal temaram cahaya bintang dan bulan separuh serta nyala api dari sebuah suluh kecil, mereka bertiga bergerak kembali ke utara. Menembus malam dan pekatnya hutan.

**

Temaram sinar bulan separuh tak bisa mengaburkan mata seorang lelaki yang sedang mengintai seekor ular sendok yang sedang meliuk-liuk di atas tanah. Lelaki itu tampak sungguh gembira. Sudah berjam-jam mungkin ia mencari binatang ini di sekitar hutan, akhirnya ketemu juga. Pelan-pelan ia mendekat sambil mengambil sebuah benda yang tersandang di punggungnya.

Benda itu berbentuk pipa berongga yang terbuat dari kayu berwarna coklat dengan dua utas tali tambang sebagai pengikat di kedua ujungnya. Di salah satu ujung tersebut terpasang semacam mata tombak kecil yang dipaku dan diikat dengan lilitan rotan yang kuat. Panjang benda itu nyaris mencapai satu hasta setengah.

Lelaki itu mengendap-endap mendekat. Benda kayu berbentuk pipa berada di tangan kiri sang lelaki. Sementara tangan kanannya mencabut sebilah pisau yang terselip di sabuk sebelah kirinya.

Tiba-tiba sang ular menyadari kehadiran lelaki itu. Kepalanya langsung berdiri tegak lalu berbalik menghadap ke arah sang lelaki. Ular itu memasang sikap siaga. Otot-otot di sisi-sisi kepalanya mulai melebar bagai sayap burung yang mengembang. Suara desisnya menjadi-jadi.

Sang lelaki tenang-tenang saja menghadapi kemarahan ular itu. Tangan kirinya mulai menyerang dengan menusuk-nusukkan mata tombaknya ke arah kepala ular. Sementara tangan kanannya yang memegang pisau juga melakukan gerakan-gerakan mengayun seperti bersiap-siap hendak melempar.

Sang ular membalas dengan reaksi mematuk-matuk benda kayu berbentuk pipa dan mata tombaknya. Sang lelaki terus saja menyerang ular itu dengan mata tombak tersebut. Tiba-tiba, dengan sebuah hentakan tangan yang penuh tenaga, lelaki tersebut melempar pisau kecil di genggaman tangan kanannya. Pisau pun terbang lalu menembus tubuh sang ular. Ular itupun berakhir selamanya.

Setelah memastikan ular tersebut tak bernyawa lagi, lelaki itu mencabut pisau dari badan sang ular. Kemudian ia duduk bersila di atas tanah. Pisau dan benda kayu berbentuk pipa di letakkannya dekat bangkai ular. Matanya memandang dalam ke arah benda kayu berbentuk pipa tersebut. Sebuah kenangan manis sekaligus pahit pasti kembali jika ia melihat benda itu.

Benda kayu berbentuk pipa tersebut adalah salah satu bagian dari senjata warisan leluhurnya. Karena senjata itulah ia pernah berbangga hati memiliki seorang ayah. Ia bangga karena ayahnya didaulat sebagai prajurit yang paling lihai menggunakan senjata tersebut.

Kenangan manis itu kembali. Ia ingat masa kanak-kanak hingga remajanya dihabiskan dengan belajar menggunakan senjata itu. Ia masih ingat betapa sabar ayahnya mengajarkan seluruh kemampuan yang ia miliki.

Namun segera kenangan pahit menyusul di belakang kenangan manis itu. Ia tentu tak lupa, dengan senjata itu juga ia pernah membunuh seorang manusia. Selembar nyawa anak tetua adat melayang di tangannya hanya karena perkara cinta. Lalu ia lari dari tanah kelahirannya di Borneo, menghindari hukum adat yang sudah pasti menghendaki dirinya juga mati.

Senjata warisan leluhurnya itu tidak boleh tidak pasti akan mengantar kembali semua kenangan dari tanah kelahirannya. Sumpit, demikian senjata itu dikenal. Senjata asli suku-suku dayak di Borneo. Senjata yang racunnya mampu merobohkan seekor harimau gila sekalipun.

Sebenarnya lelaki itu enggan melihat sumpit lagi. Tapi entahlah, dia sendiri bingung mengapa senjata itu juga turut serta ia bawa saat memutuskan menyeberang ke tanah Jawa. Wajah seorang ayah yang selau membayang dalam sumpit itulah yang mungkin membuat ia tak kuasa meninggalkan sumpit itu di tanah kelahirannya.

Sesaat kemudian lelaki itu tersadar dan buru-buru ingin melepaskan diri dari kenangan-kenangan itu. Ia menarik pikirannya dari bayangan-bayangan masa lalu melalui tarikan nafas yang berat dan dalam. Seluruh kenangan tentang tanah Borneo ditiupnya jauh-jauh seiring hembusan nafas yang dilepaskannya. Ia tak mau lagi melihat masa lampau.

Saat ini yang paling penting bagi lelaki itu adalah perintah majikannya. Dan saat ini ia ingin bertindak lebih jauh dari apa yang diperintahkan. Oleh karena itu ia mencari ular untuk diambil bisanya.

Tangan lelaki itu kemudian merogoh sebuah kantong kecil terbuat dari kulit yang tergantung di sisi kanan sabuknya. Ia mengeluarkan semacam tabung kecil kemudian membuka tutupnya. Di dalam tabung itu ada gumpalan sesuatu yang tampak telah mengering dan keras. Bau tak sedap menyeruak keluar.

Inilah racun racikan ayahnya. Racun ini adalah pelengkap agar sumpit menjadi senjata yang sanggup membunuh sebuah sasaran hidup. Karena telah lama tidak digunakan, cairan racun itu menggumpal dan mengering. Namun lelaki itu tahu, dengan mencampur ramuan racun itu dengan beberapa tetes bisa ular dan air ludah, racun tersebut tak lama kemudian akan kembali mencair dalam bentuk yang kental.

Lelaki itu kemudian mengambil bangkai ular. Ia menyayat daging dekat taring-taring ular dengan pisau. Selanjutnya ia meremas kepala ular tersebut tepat di dekat gigi taringya. Cairan putih kemerahan terlihat keluar menetes dari sela-sela gigi-gigi taring ular lalu masuk ke dalam tabung. Setelah cukup banyak bisa ular yang tertampung, lelaki itu segera meludahi tabung tersebut beberapa kali lalu mengaduk-aduk isi tabung tersebut. Gumpalan racun pun perlahan mencair.

Lelaki itu selanjutnya mengeluarkan tujuh buah damek. Damek adalah anak sumpit, benda yang merupakan bagian paling penting dari senjata sumpit. Laksana peluru pada senapan atau anak panah untuk busurnya, demikianlah damek berperan. Benda tersebut terbuat dari bilah bambu yang di potong tipis dan diraut hingga meruncing salah satu ujungnya. Sementara ujung yang lain ditempeli bulu-bulu angsa di sekelilingnya. Lelaki itu mencelupkan damek satu persatu secara perlahan dan berulang-ulang hingga dirasa cukup. Lalu ia biarkan racun pada permukaannya mengering oleh tiupan angin.

Lelaki itu memandangi damek-damek itu. Ia telah memutuskan untuk menggunakan sumpit lagi setelah bertahun-tahun lamanya ia tinggalkan. Ia jadi ingat hari di mana ia didatangi sebuah firasat yang menggerakkan dia untuk membawa serta sumpit dalam pertempuran. Dan pada hari itu, markas laskar rakyatnya Ki Kusno habis dihancurkan oleh serangan udara Inggris. Mungkin malam inilah hikmah dari firasatnya hari itu, pikir lelaki tersebut. Ia berhasil menyelamatkan senjata warisan leluhurnya dari serangan udara sehingga bisa digunakan untuk memperlancar rencananmya keluar dari hutan malam ini.

Sebuah rencana di luar rencana majikannya telah ia susun. Ia sengaja hendak mengejutkan majikannya. Sekaligus mengejutkan tentara Inggris yang sebelumnya telah diintainya di tepian Kali Surabaya dekat sebuah jembatan kecil yang sudah hancur dan runtuh ke aliran kali.

**

Ki Kusno, Sudiro dan dua orang lainnya menahan nafas sejenak dari balik semak rumput yang tinggi. Di depan mereka, terlihat sebuah pos penjagaan yang didirikan oleh tentara Inggris. Pos itu dijaga oleh tujuh hingga sepuluh orang. Rencana untuk menyelinap melewati tentara Inggris kini sepertinya terlihat sangat mustahil.

“Bagaimana ini, Ki? Mereka lebih banyak dari kita!” bisik Sudiro kepada Ki Kusno.

Ki Kusno cuma diam. Entah sedang berpikir atau sedang tenggelam dalam kebingungannya.

Di tengah-tengah kebingungan dan rasa cemas Ki Kusno dan anak buahnya, tiba-tiba terdengar jeritan dari salah satu tentara Inggris. Seorang tentara Inggris terhuyung-huyung memegangi lehernya lalu roboh. Kelojotan sebentar sebelum diam untuk selamanya. Tentara Inggris yang lain tersentak lalu berteriak-teriak memberi tahu rekannya yang lain untuk siaga.

Kini giliran pihak musuh yang dihantui kebingungan dan rasa cemas karena diserang dengan tiba-tiba. Belum sempat mereka tahu apa yang terjadi dan siapa yang menyerang mereka, tiba-tiba satu lagi tentara Inggris terjungkal roboh lalu mengelepar mati. Tanpa suara tembakan, tanpa terlihat siapa yang menyerang, satu persatu tentara Inggris jatuh bertumbangan.

Ki Kusno dan anak buahnya terbelalak menyaksikan pemandangan tersebut. Bingung, tak tahu apa yang terjadi. Tiga orang tentara Inggris yang tersisa perlahan langsung mengambil gerakan mundur dari pos penjagaan. Air muka ketakutan jelas tampak di wajah mereka.

Melihat keadaan itu, Ki Kusno berinisiatif mengambil kesempatan untuk menyerang sisa-sisa tentara Ingris tersebut. Setelah memberi aba-aba perintah kepada anak buahnya, Ki Kusno langsung saja menghamburkan tembakan ke arah tiga orang tentara Inggris yang masih dalam kebingungan dan ketakutan.

Tak lama kemudian baku tembak pun terhenti. Tiga orang tentara Inggris meregang nyawa dengan lubang peluru yang menganga di bagian tubuh mereka masing-masing. Ki Kusno dan anak buahnya keluar dari persembunyian mereka.

“Kita berhasil, Ki!” teriak Sudiro girang.

“Ya. Terima kasih untuk hantu hutan yang telah membantu kita membunuh Inggris-Inggris sontoloyo ini,” sahut Ki Kusno.

Bulu kuduk Sudiro dan teman-temannya sejenak meremang berdiri. Hantu? Mungkinkah yang melakukannya hantu, demikian pikir mereka. Tiba-tiba dari arah sebelah kanan terdengar suara seorang lelaki yang memanggil-manggil mereka. Sontak Ki Kusno dan anak buahnya terkejut lalu bersiap hendak menembak. Namun begitu melihat siapa yang datang mereka menurunkan moncong senjata masing-masing lalu berseru.

“Riwut!”

“Kau yang melakukan semua ini?”

Lelaki yang barusan muncul mengangguk-angguk sembari tersenyum.

“Hebat, Kau! Bagaimana kau melakukannya?” tanya Ki Kusno.

“Dengan sumpit, Ki.” Jawab Riwut singkat sambil menunjukkan senjatanya dengan bangga.

Akhirnya sisa-sisa laskar rakyat itu meneruskan perjalanan mereka keluar dari hutan dan berharap dapat melakukan kontak kembali dengan pejuang-pejuang lainnya. Namun belum lima ratus meter mereka meninggalkan pos penjagaan tentara Inggris yang mereka hancurkan tadi, tiba-tiba terdengar rentetan suara tembakan dari sebuah senapan mesin.

Ki Kusno, Sudiro dan dua anak buah lainnya terpelanting tewas bermandi darah. Beruntung Riwut sigap melompat dan lari menyelamatkan diri dan bersembunyi. Tak lama kemudian muncul seorang tentara Inggris memeriksa jasad-jasad korbannya. Menyadari salah satu bidikannya lepas, tentara Inggris itu lantas kembali memasang sikap siaga dengan senapannya lalu perlahan bergerak memburu korbannya yang lolos.

Dari jarak seratus meter, Riwut melihat tentara Inggris itu semakin mendekat ke arah persembunyiannya. Riwut kebingungan. Ia tak bisa lagi menggunakan sumpit karena semua damek telah habis terpakai. Tak ada pilihan lain selain menggunakan senapannya untuk menembak tentara Inggris itu.

Riwut mulai membidik dari tempat persembunyiannya. Sebuah tembakan terdengar membelah udara malam. Tentara Inggris itu roboh. Riwut melongo menatap senapannya. Kali ini ia tepat mengenai sasarannya hanya dengan sekali tembak. Ia girang bukan kepalang.

***


Catatan:

[1] Borneo adalah nama lain dari Kalimantan. Istilah Borneo dipakai pada zaman kolonial Belanda

[2] Chudanco adalah salah satu istilah kepangkatan pada tentara PETA. Chudanco artinya kepala regu.

[3] PETA (Pembela Tanah Air) adalah milisi (pasukan) yang dibentuk oleh pemerintahan kolonial Jepang di Indonesia dengan tujuan mempertahankan Indonesia dari serangan sekutu

[4] BKR (Badan Keamanan Rakyat) adalah sebuah organisasi ketentaraan yang dibentuk oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1945 yang merupakan cikal bakal lahirnya Tentara Nasional Indonesia.

[5] Meneer = Tuan

Bawa Uky Naik Kereta

Cerpen Sri Utami Ningsih
Editor Ragil Koentjorodjati

stasiun jadul
gambar diunduh dari 4.bp.blogspot.com

“Ayah, kapan Ayah ajak Uky naik kereta?”

Itulah kalimat yang berulang kali diucapkan oleh Uky, putra kecilku yang berusia tujuh tahun. Sudah tiga bulan terakhir ini dia merengek minta diajak naik kereta karena ingin seperti teman-temannnya yang sudah pernah naik kereta. Tapi apa daya, yang bisa kulakukan hanya tersenyum, atau mengulur-ulur waktu, walaupun aku tidak tahu kapan tepatnya keinginannya itu bisa kupenuhi.

“Yah, Uky pengen naik kereta. Kapan Yah?” tanya Uky dengan pertanyaan yang sangat familiar di telingaku.

“Jangan sekarang, Uky! Keretanya lagi dipakai sama oaing banyak. Nanti kalau sepi, Ayah pasti ajak Uky naik kereta,” kataku dengan jurus menghindar yang selalu kupakai. Kata-kata itu selalu melukis semburat kesedihan pada wajah Uky. Namun kesedihan itu tak lama kemudian mengembang menjadi senyuman tulus dan polos dari seorang anak yang sangat percaya pada ucapan ayahnya. Dan hal itu secara tidak langsung membuat hatiku sakit.

Sering kulihat Uky di kamarnya, bermain dengan kereta mainannya yang terbuat dari kardus, dan ia gerakkan dengan jemarinya yang mungil. Sungguh, ingin kuwujudkan keinginannya itu. Naik gerbong kereta, menyusuri rel yang panjang, dan melihatnya tersenyum lebar. Tapi ada satu hal yang membuatku segan melakukan hal itu.

“Uky hanya minta diajak naik kereta, Mas, apa susahnya?” tanya Dinda, istriku tercinta. Wanita cantik yang tengah berbadan dua, yang kini menggantikan posisi almarhummah Ibunda Uky.

“Aku hanya takut kejadian lima tahun silam terulang lagi,” jawabku sambil menutup mata.  Menutup lagi peristiwa pahit yang seharusnya sudah pudar seiring berjalannya waktu. Saat d imana berita itu datang, dan menggores kesediahan tiada akhir. Saat aku melihat daftar nama korban kecelakaan kereta api yang terguling. Dan kutemukan sebuah nama, Annisa Rahma, bidadari hidupku yang kini telah menjelma menjadi bidadari cantik di surga.

Dinda tersenyum manis dan menghampiriku dengan membawa secangkir teh yang tadi dibuatnya. “Itulah yang dinamakan takdir, Mas. Tanpa istri Mas naik kereta itu pun, memang Allah sudah menghendakinya menuju tempat yang lebih baik,” kata Dinda dengan sangat bijak.

Aku terdiam, berusaha menyerap kata-kata Dinda. Dan seketika, hatiku pun terbuka. “Kamu benar, Din. Tidak seharusnya aku menyalahkan kereta atau siapapun. Aku terlalu tidak peka dengan perhatian yang Allah berikan untukku. Maafkan aku ya? Aku jadi membuka lagi lembar masa lalu yang seharusnya sudah kututup,” kataku sambil menatap lekat-lekat paras cantik Dinda.

“Tidak apa-apa, Mas…. Terkadang kita perlu membuka masa lalu untuk belajar tentang masa depan. Dinda senang Mas sudah tenang. Jadi, Mas mau mengajak Uky naik kereta, kan?” tanya Dinda. Dan aku hanya membalasnya dengan senyuman. Lalu mengelusnya penuh cinta, beserta calon adik Uky yang tengah terlelap di perutnya.

Hari-hari pun berlalu. Aku mulai bekerja lebih keras. Pekerjaan utamaku sebagai pembuat batu bata tidak cukup untuk membeli tiket kereta dan memenuhi kebutuhan sehari-hari keluargaku. Aku pun mencari pekerjaan tambahan sebagai pemilah kertas. Memang terlihat mudah, hanya memisahkan kertas putih dan yang berwarna. Namun pekerjaan ini cukup menyita waktuku. Tak jarang aku merasa punggungku sakit karena duduk memilah kertas semalaman. Dan paginya, aku sudah disibukkan dengan pekerjaanku membuat batu bata.

Semakin lama, kondisiku pun semakin menurun. Mungkin aku kelelahan. Dinda sudah menyuruhku untuk beristirahat dan jangan terlalu memforsir diri, namun keinginanku untuk membahagiakan Uky itu, seketika membuat sakitku berkurang. Terbayang olehku senyum Uky yang melihat kendaraan inpiannya itu. Semua itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku kembali bangkit.

Sampai suatu hari, ketika aku tengah beristirahat setelah seharian membuat batu bata, si kecil Uky datang dengan membawakanku segelas teh manis hangat. Aku segera meneguknya sampai hampir setengah gelas. Seketika penatku hilang, berganti kehangatan dari suhu teh itu dan senyum dari Uky dan Dinda. Tanpa kuduga, Uky menanyakan suatu hal yang membuatku terkejut.

“Ayah, ayah bekerja siang dan malam buat ngajak Uky naik kereta ya?”

Aku tercengang. Tak terpikirkan olehku kalau pertanyaan seperti itu akan keluar dari bibir Uky yang mungil. Aku harus menjawab apa? Aku sungguh tak mau Uky merasa bahwa dirinya adalah beban bagiku. Tegakah aku berbohong? Tegakah aku melakukan kebohongan yang sejak dulu kularang Uky untuk melakukannya?

“Ayah… Uky nggak usah naik kereta nggak apa-apa kok.Kata teman-teman Uky, tiket kereta itu harganya mahal. Mendingan uangnya buat adik bayi aja,” kata Uky lagi. Lidahku semakin kelu untuk berucap. Aku tak tahu harus berkata apa. Yang dikatakan Uky adalah benar. Usia kandungan Dinda sudah menginjak 7 bulan. Apakah aku harus menangguhkan keinginan kecil Uky?

Dengan sikap keibuan, Dinda menghampiri Uky. Dia bukan hanya seperti ibu, namun juga sosok teman dekat bagi Uky. “Uky tenang aja. Adik bayi punya rezekinya sendiri dari Allah. Rezeki yang datang sekarang adalah rezeki buat Uky. Allah pasti tahu kalau Uky pengen banget naik kereta. Jadi, semahal apapun tiket kereta, kalau Allah sudah berkehendak, pasti pasti bisa. Asal Uky mau mensyukuri apa yang dikasih Allah buat Uky.”

Mata Uky kembali berbinar, seakan menemukan cahaya harapannya. Perlahan senyumnya terkembang dari bibir mungilnya. “Uky janji, Uky akan berterima kasih terus sama Allah. Biar Allah mau naikin Uky ke kereta!” kata Uky dengan lantang. Matanya semakin berbinar menatap harapan.

Setelah kurasa uangku cukup, kupenuhi keinginan Uky itu. Untung saja sejak seminggu kemarin, aku mendapat pesanan batu bata yang cukup banyak. Jadi, aku masih ada simpanan untuk keperluan mendadak. Kini, aku dan Uky berada di sini. Tempat orang-orang berlalu-lalang mengejar waktu. Ada pula yang tengah tersedu melepas kepergian orang tersayangnya. Peluit-peluit yang bersahutan, suara rel yang berderik, derap langkah orang-orang yang terburu-buru, menjadi musik tersendiri di telinga kami. Seakan kami tengah terlibat dalam kesibukan besar di tempat ini.

“Ayah, kereta ini hebat ya? Kalau udah gede, Uky mau bikin kereta api yang panjaaang banget. Terus, Uky mau jadi masinisnya. Ntar tiketnya Uky gratisin deh, biar orang-orang yang pengen naik kereta kayak Uky nggak perlu bingung nyari uang,” kata Uky sambil menatap kereta yang melintas kencang di depannya.

Aku diam-diam tersenyum melihat kebahagiaan Uky. Hatiku tak henti-hentinya bersyukur melihat keinginan anakku hampir terwujud. Sebentar lagi, hanya perlu menunggu waktu.

“Uky, kita beli tiketnya dulu yuk?”

“Uky di sini aja yah, Uky mau lihat kereta!” kata Uky sambil mencari tempat duduk. Sebenarnya enggan aku meninggalkannya seorang diri di tengah keramaian ini. Namun saat kulihat Uky sedang duduk tenang sambil menatap kereta impiannya itu, hatiku jadi tak tega untuk tak mengizinkannya menungguku di sini. Aku akan secepatnya kembali.

Loket tiket kereta ternyata sudah penuh sesak. Antriannya sangat panjang. Bahkan ada yang nekat mendorong-dorong. Kumaklumi, ini adalah long weekend. Pastinya banyak yang ingin segera bertegur sapa dengan keluarga di kampung halaman. Atau setidaknya hanya melepas penat setelah lama berkutat dengan keseharian. Diam-diam aku bersyukur tidak membawa Uky ke sini. Tak dapat kubayangkan tubuh kecilnya terdorong orang-orang yang tidak sabaran itu.

Hampir 20 menit aku berdiri, dan akhirnya tibalah giliranku. Aku segera memesan 2 tiket, dan menyelesaikan transaksi itu dengan cepat. Aku tak ingin Uky bosan menungguku di sana.

“Eh, ada yang terserempet kereta!” kata seseorang, diikuti langkah cepat orang-orang yang penasaran dengan apa yang terjadi. Aku pun segera ke sana. Kulirik tempat duduk yang tadi dihuni Uky, sudah kosong! Hatiku berkecamuk. Berbagai pikiran negatif bertebaran di otakku. Kusibak orang-orang yang berkerumunan itu, mencoba mencari sosok si kecil Uky yang kuharap baik-baik saja. Kulihat sebuah tas mungil yang tak asing bagiku, tas Uky! Dengan sosok Uky di sampingnya. Dan dalam keadaan….

***

            Hari ini akhirnya datang. Di saat kubisa melihat Uky naik kereta. Namun bukan dengan senyum gembira seperti yang selama ini diinginkannya. Melainkan dengan wajah kaku dan senyum terakhirnya yang abadi.

“Uky, kupenuhi keinginanmu, Nak. Keinginanmu untuk naik kereta. Bahkan dengan kereta yang dihias cantik dengan bunga-bunga. Apa kau senang sekarang, Nak? Kau sudah naik kereta sekarang. Bahkan aku sendiri yang kini menjadi masinisnya. Dengan kereta terindah ini, aku akan mengantarmu, menuju tempat yang paling indah, di sisi-Nya.”

Sekar Sukma

Cerpen Chotibul Umam
Editor Ragil Koentjorodjati

gadis jawa
gambar diunduh dari drop.ndtv.com

Ketika malam-malam telah menyisakan purnama, ketika itu pula aku mulai merasa tak bisa lagi membedakan antara duka dan cinta. Seperti duka yang ingin selalu kulupa. Seperti cinta yang ingin selalu kutanya, namun kenyataannya bagai irama hujan yang terdengar merapat ke dalam pelukan lalu tumpah meninggalkan noda. Ia teramat manis untuk aku kecap. Ia terlalu lembut untuk aku sentuh. Dan terlalu indah untuk aku sebut. Seperti bahasa dan lidah yang tak punya jarak. Seperti aku yang tenggelam terbawa arus ke medan telaga.

Dialah wanita yang sesungguhnya. Seorang gadis yang tak pernah mengira bahwa kecantikan yang ia punya cukup sederhana. Sebuah wujud kesederhanaan yang tak butuh sentuhan berbagai macam kosmetik apapun. Orang cantik yang sesungguhnya adalah mereka yang tidak tahu bahwa dirinya cantik. Paras yang cantik adalah paras yang tak butuh rumus untuk menemukan titik kecantikannya.

Entah sudah berapa kali aku mengantarkan surat ke rumahnya, namun apa yang selalu teringat olehku hanyalah sebuah nama. Ya, nama si penerima yang melekat pada surat itu, Sekar Sukma. Dialah gadis yang aku maksud selama ini.

“Panggil aku Sekar,” sapanya setelah menyuruhku masuk. Ketika itu hujan mulai turun mengguyur kehangatan tanah.

“Angin di luar begitu kencang.” Seraya berjalan ke tempat duduk.

“Aku Karna,” sahutku sebelum menyerahkan surat yang sedari tadi aku genggam.

“Sering kali aku memperkenalkan nama kepada orang yang ingin aku ajak bicara. Kau tahu kenapa Mas Karna?” Suaranya terdengar datar.

Aku menggeleng dengan mata kosong. Bukan berarti menggeleng karena aku tak tahu, melainkan keherananku pada gadis yang selama ini aku hampiri setiap minggunya itu tak pernah kuduga ternyata memiliki wajah yang indah dengan sorot mata yang tajam. Setajam cinta yang mampu membius kerinduan dalam kabut kelam.

“Saya rasa itu adalah wujud dari kehadiran kita untuk dianggap ada. Sebab kehadiran setiap orang seperti tak ada yang tahu, kapan ia akan pergi dan tak tahu kapan ia akan kembali,” Jelasnya dengan tatapan mata melayang.

Aku tidak paham dengan apa yang ia katakan, tapi aku tetap mencoba untuk mengikuti setiap kata yang ia ucapkan.

“Benar,” kataku mencoba mengangguk.

“Kadang kita selalu menjadikan apa yang telah ada terasa tiada, namun setelah ketiadaan ada, baru di kemudian hari kita akan merasakan derita. Maka ajaklah ia untuk berdialog meski sejenak,” Sembari kakinya berjalan mendekat ke mulut jendela kemudian menutupnya.

“Aku hampir lupa, tunggu sebentar.”

Langkah kecilnya ia seret menuju ke belakang. Meninggalkan tanya dalam rinai air hujan yang mendesak membasahi jalanan batu kerikil. Di sini, di rumah adat jawa ini aku merasa terlahir kembali. Sebuah rumah kuno yang hampir terlupakan oleh sejarah di benak anak-anak jaman sekarang. Sebab rumah-rumah bertingkat serta gedung-gedung megah bergaya eropa telah larut dan rata masuk ke berbagai sudut kota.

Aku yakin bahwa bangunan rumah yang sedang aku tatap ini tidak serta merta dibangun tanpa menyimpan sebuah makna. Lihat saja setiap sudut bangunan yang terbentuk seperti ingin mengajak cerita, tapi aku tak paham. Belum usai aku menatap keindahan arsitektur yang disuguhkan di depan mata, tiba-tiba terdengar suara renyah dari belakang.

“Ayahku sendiri yang merancang rumah ini. Memang beliau adalah sosok yang sangat kuat dalam menjaga tradisi leluhurnya. Ketika orang-orang ramai merombak rumahnya dengan berbagai macam gaya kemewahan seperti sekarang ini, ayahku masih saja setia untuk mempertahankannya.” Sembari meletakkan minuman untukku.

“Silahkan diminum, Mas.”

“Oh ya terimakasih, jadi merepotkan,” basa-basiku.

“Tak apa.”

Angin di luar terdengar kencang menyambar dedaunan yang kemudian gugur berserakan memenuhi halaman rumah. Sedangkan gemuruh badai turut serta mengusik ketenangan. Suara halilintar pun seperti tak mau kalah, dengan pekikannya yang sewaktu-waktu bisa merobek telinga ikut membaur mengejutkan dada. Seakan Tuhan tampak seram dalam senja.

“Kata ayah, siapa lagi kalau bukan kita yang menjaga kekayaan leluhur ini? Apa harus negara lain dulu yang turun tangan? Baru di kemudian hari kita kalang kabut buru-buru mematenkannya dan menyebut mereka sebagai pencuri. Siapa yang bodoh sebenarnya?” katanya dengan nada tinggi.

“Tanpa disadari kita sedang mengurai borok di kepala sendiri.” Cetusku.

“Benar, Mas Karna.”

“Rumah bergaya jawa klasik ini mempunyai tiga ruang. Ruang yang pertama itu disebut pendopo.” Tangannya menunjuk ke ruang depan.

“Coba Mas Karna lihat,” suruhnya.

Aku sengaja mendekat ke sisinya, bau khas yang tercium adalah bau wangi yang belum pernah menyentuh hidungku. Bau wangi yang dipadukan dengan pakain adat jawa yang dikenakannya. Ia terlihat semakin anggun dan sejuk untuk memanjakan mata. Sore itu aku tersungkur kembali ke peradaun rasa yang sulit aku sebut.

“Ruangan itu letaknya di depan, dan tidak mempunyai dinding atau terbuka. Mas Karna tahu apa maknanya?” tanyanya

“Aku tidak tahu, coba jelaskan,” pintaku.

”Hal itu merupakan wujud filosofi orang Jawa yang selalu bersikap ramah, terbuka dan tidak memilih dalam hal menerima tamu. Pada umumnya ruangan itu tidak diberi meja ataupun kursi, hanya diberi tikar apabila ada tamu yang datang, sehingga antara tamu dan yang punya rumah mempunyai kesetaraan dan juga dalam hal pembicaraan atau ngobrol terasa akrab rukun,” terangnya.

“Kalau ruangan yang menghubungkan antara pendopo dan dalem itu disebut pringgitan.”

“Apa itu pringgitan?” selaku.

“Pringgitan memiliki makna konseptual yaitu tempat untuk memperlihatkan diri sebagai simbolisasi dari pemilik rumah bahwa dirinya hanya merupakan bayang-bayang atau wayang.”

Aku hanya mengangguk sebagai wujud pemahamanku atas keterangannya atau justru mengagumi hatiku sendiri yang diam-diam aku merasa tersulut api asmara. Seketika itu pula aku sulit memisahkan pertempuran dua hati ini.

“Dan rungan ini,” sambil mengedarkan telunjukku.

“Ruangan yang sedang kita tempati ini adalah ruangan terakhir yang disebut dengan ruangan dalem atau ruang pribadi. Ruangan ini merupakan ruang pribadi pemilik rumah.

“Kalau begitu aku tidak sopan,” celetukku.

“Tak apa, aku memang sengaja mengajak Mas Karna ke dalam,” timpalnya dengan senyum wajah manis.

“Dalam ruang utama dalem ini ada beberapa bagian yaitu ruang keluarga dan beberapa kamar atau yang disebut senthong. Senthong atau kamar hanya dibuat tiga kamar saja.”

“Kenapa harus tiga kamar?”

“Ini akan aku jelaskan. Sebab kamar ini hanya diperuntukkan menjadi tiga bagian yaitu kamar pertama untuk tidur atau istirahat bagi laki-laki,” lanjut gadis berambut sanggul itu.

Aku seperti tak punya pilihan lain selain mengamati setiap gerak bibirnya. Ia seperti pemancing yang lihai memainkan kailnya, atau mungkin lebih mirip jika dikatakan seorang ilusionis yang mampu menghipnotis korbannya. Sampai-sampai aku tak sadar kalau hujan sudah mulai reda.

“Maaf, Mas Karna dengar apa yang saya ceritakan?” tanyanya mengejutkanku.

“Dengar.”

“Tapi tatapannya kelihatan kosong.”

“Nggak, lanjutkan saja. Aku mendengarkan.”

“Baiklah,” dengan memperlihatkan mimik yang ramah. “Kamar kedua kosong namun tetap diisi tempat tidur atau ranjang lengkap dengan perlengkapan tidur. Kamar yang kedua ini atau yang tengah biasanya disebut dengan krobongan yaitu tempat untuk menyimpan pusaka dan tempat pemujaan. Sedangkan yang ketiga diperuntukkan tempat tidur atau istirahat kaum perempuan.”  Ia berhenti sejenak untuk menyeruput secangkir teh.

“Aku kira sudah cukup penjelasan ini.”

“Lebih dari cukup mungkin.”

Sesaat setelah usai menjelaskan semua itu, ia menyuruhku untuk minum teh racikannya. “Silahkan Mas diminum lagi tehnya.”

Kini yang terdengar hanyalah gerimis rintik air. Sisa-sisa air hujan yang ikut turun terbawa arus, sekarang menghilang entah pergi ke mana. Dan juga suara gemuruh yang gaduh disertai halilintar yang terdengar kejam terkadang masih mengejutkan dada.

“Setiap kali hujan mulai reda seperti saat-saat ini. Aku selalu membayangkan kalau Tuhan bisa ikut bersedih.”

“Kenapa Tuhan harus ikut bersedih?”

“Cukup aku dan Tuhan yang tahu.”

“Bagaimana mungkin Tuhan bisa semelankolis itu,” ketusku.

“Tidak ada salahnya bukan kalau sekali-kali kita menggambarkan wujud Tuhan sedemikian rupa. Aku tidak mau kalau Tuhan selalu nampak seram seperti yang pernah diajarkan oleh guru-guru agama,” sahutnya dengan suara agak tinggi.

Aku sedikit menahan tawa ketika melihat ekspresi wajahnya yang tampak serius setelah menjelaskan tentang wujud Tuhan. Tanpa aku sadari, ternyata ada sisi lain bahwa sebagian kecantikan yang dimiliki oleh seorang wanita akan terlihat menarik ketika berwajah serius.

Melihat hujan telah berhenti dan waktu mengharuskan aku pulang. Bagiku itu terasa berat untuk meninggalkannya, namun aku masih yakin jika waktu masih milik kami, kesempatan kedua akan menjadi lebih indah dari apa yang pernah aku bayangkan. Detik itu pula aku meminta ijin untuk kembali ke rumah demi sejenak melepaskan lelah.

***

Malam itu adalah malam yang langka untuk aku rasakan seorang diri. Hujan sore itu. Aku tak langsung jatuh tertidur, melainkan menyalakan api kompor untuk memanaskan air sembari menghitung beberapa surat yang belum sempat aku kirimkan. Setelah terdengar air mendidih aku cepat-cepat mematikan api dan menuangkannya ke dalam cangkir yang terlebih dulu aku masukan kopi. Asapnya mulai membumbung meliuk-liuk mengikuti udara berhembus.

Tepat di tepi pintu setumpuk surat telah menunggu pekerjaanku sebagai pengantar surat. Aku turut terharu ketika orang-orang lebih instan mengabarkan informasi lewat teknologi, ternyata masih ada orang yang lebih suka menuliskan informasinya lewat surat. Aku tidak paham di mana asyiknya menuliskan informasi lewat surat. Bagiku mungkin itu tidak penting, yang terpenting adalah aku masih bisa bersyukur karena dari mereka pekerjaanku sebagai pengantar surat tetap berlanjut.

Setelah secangkir kopi habis aku teguk, tiba-tiba terbayang paras cantik Sekar Sukma melayang-layang di atap langit malam itu dan ketika mataku berkedip bayangan itu langsung lenyap. Tinggal susah dan resah yang aku rasakan.

Hujan sore itu masih menyisakan malam yang dingin. Rasa lelah yang menghujam tubuhku sepeti tak mengenal kata kalah meski malam hampir usai. Namun, sepertinya waktu memaksa mataku untuk terpejam meskipun barang sebentar.

***

Terhitung sudah tiga pekan aku tak lagi mengantarkan surat ke rumah gadis jawa itu. Aku seperti terserang rindu, tapi aku ragu. Apa ia sengaja membuatku seperti ini, tapi aku tak yakin. Untuk kesekian kalinya aku memilah-milah surat yang baru saja aku bawa dari kantor. Berharap ada sepucuk surat yang dialamatkan kepadanya.

Harapan itu pun akhirnya tak terwujud. Aku tak menemukan sepucuk surat bertuliskan nama Sekar Sukma. Hingga berhari-hari aku tak juga menemukan surat untuknya lagi. Sudah cukup rasanya untuk aku lanjtukan.

Siang itu, ketika aku membuka pintu untuk keluar mengantarkan surat. Terlihat ada sepucuk surat yang tergeletak di atas lantai. Aku kira itu bagian dari surat yang belum sempat aku masukan ke dalam tasku, namun apa yang aku lihat adalah nama Sekar Sukma yang tertulis sebagai pengirim surat yang ditunjukkan untukku. Awalnya aku tak yakin dengan surat itu, tapi tetap saja rasa penasaran mendorongku untuk membukanya.

Cukup untuk hari ini
Kau tak perlu mengatakan rindu, sebab ketika purnama
Aku selalu menuangkan waktu dalam sebentuk cahaya
Jika seperti itu yang kau rasa
Hanya cukup untuk  satu kata
Kau tak perlu menanyakan cinta

Seusai membaca isi surat darinya hari itu pun juga aku seperti kehilangan segala bentuk bahasa cinta yang aku punya. Seolah bahasa cinta tak lagi pantas untuk dijadikan sebuah prosa atau puisi.

Saat malam mulai menjelang aku bergegas berangkat menuju ke rumahnya dengan menyimpan segala tanda tanya akan isi surat yang dikirimkannya. Malam itu juga aku berharap ia menyambut kedatanganku dengan sambutan yang sama persis saat pertama kali bertemu atau bahkan labih dari itu. Tetapi, sesampainya di sana apa yang aku temukan bukan lagi sebuah rumah yang ditempati seorang gadis bermata tajam itu, melainkan sebidang tanah luas yang ditumbuhi pohon-pohon besar belantara, namun aku tetap yakin bahwa di tempat itu tiga bulan yang lalu aku pernah berteduh. Bersama rinai air hujan yang mulai turun, perlahan ikut membasahi setapak jalan kaki yang aku lewati.

 Kau memang benar adanya teramat manis untuk aku kecap, terlalu lembut untuk aku sentuh, dan terlalu indah untuk aku sebut.

Tentara

Cerpen Thomas Utomo

salam tempel
Gambar diunduh dari jobs-europe.com

Aku bangun tidur dengan masih mengantuk dan badan pegal-pegal. Semalaman tidurku gelisah. Berkali-kali aku terbangun. Dan melihat jarum jam yang bergeser terus-menerus, aku berdebar ketakutan. Hatiku serasa menciut.
Kendati azan subuh sudah selesai berkumandang, aku tidak segera beranjak dari dipan. Aku sengaja mengulur waktu. Aku ingin menikmati betul-betul detik demi detik terakhirku. Sampai Ibu melihatku dan menegur,
“Lho, To, kok malah bengong? Lihat sudah jam berapa sekarang. Ayo, cepat mandi!”
Dengan malas aku beranjak mengambil handuk. Lalu beringsut menuju kamar mandi.
Setelah sarapan, aku lantas memasukkan barang-barang keperluanku ke dalam tas. Kakakku perempuan sudah menunggu di ambang pintu.
“Cepat, ah! Nanti terlambat!” ujarnya tak sabar.
Udara masih dilumuri kabut saat kami berangkat. Lagi-lagi aku sengaja mengulur waktu dengan cara memacu sepeda motor lambat-lambat.
Akhirnya kami tiba di Korem. Turun dari sepeda motor, aku menjabat tangan kakakku erat, seakan-akan ini adalah pertemuan kami yang penghabisan. Dia tersenyum dan menyuruhku bergegas.
“Sukses, ya!” katanya memompakan semangat.
Sebentar kemudian, dia dan sepeda motornya sudah menghilang di kelokan jalan.
Aku menjilat bibirku yang mendadak terasa kering. Tiba-tiba aku merasa mulas. Meski begitu, aku berhasil memaksa kakiku buat melangkah.
Sekelilingku masih sepi. Hanya kulihat seorang perempuan berperut buncit sedang berjalan lambat-lambat dengan kaki telanjang. Tangan kanannya memegangi bagian bawah perutnya yang menggelembung. Aku menuju mesjid di sebelah barat pintu gerbang. Hampir jam setengah enam. Namun di dalam mesjid kulihat ada dua shaf orang-orang sedang berjemaah sembahyang subuh. Tiba-tiba aku baru sadar. Dilihat dari belakang, keseluruhan bentuk jasmaniah orang-orang itu boleh dikatakan serupa: tubuh-tubuh tegap, punggung kekar berbentuk huruf V. Kebanyakan dari mereka berambut cepak. Untuk kesekian kalinya aku kembali gugup.
Tanpa kusadari, sinar matahari mulai mencabik sapuan benang kabut. Sekelilingku mulai ramai oleh pemuda-pemuda sebayaku. Seperti aku, mereka bergerombolan duduk di teras mesjid. Mereka mengobrol dan berkelakar dengan logat bahasa yang berlainan. Begitu akrab dan santai. Padahal dari pendengaran yang kutangkap, pemuda-pemuda itu kebanyakan kali baru saling mengenal. Alangkah iriku.
Aku memiliki sifat pemalu yang kata ibuku cenderung keterlaluan. Aku menyadarinya dan sangat tersiksa karenanya. Orang-tua dan kakak-kakakku tidak membantuku keluar dari sifat yang semakin lama menekan dan memasungku dalam kesendirian yang menyedihkan. Aku dan dua kakakku perempuan dibesarkan di bawah tangan besi Ayah. Kami diajar untuk menghormati orang-tua dengan penghormatan yang lebih mendekati rasa takut daripada kasih mesra. Ayahku seorang tentara berpangkat sersan mayor. Oleh lapangan pekerjaannya sebagai tentara, dia mendidik kami dengan kedisiplinan a la militer. Dalam pandangannya, segala sesuatunya harus berjalan teratur, rapi, dan tepat waktu. Penyelewengan dari ketentuan yang telah digariskan Ayah, akan membuahkan hukuman sesuai tingkat kesalahan yang kami perbuat. Sewaktu kecil, di antara tiga bersaudara, akulah yang paling sering digitik dengan sogok bedil atau dijedotkan ke tembok, hanya karena “kesalahan kecil” seperti terlambat pulang sekolah, tidak mau tidur siang, atau lupa mengangkat jemuran. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali geblég kasur mendarat di tubuhku, karena hal “sepele” yang serupa. Aku pernah mendengar sendiri Ayah berkata pada rekannya, kalau dia baru merasa puas memukuli kami—aku dan kakak-kakakku—setelah kami menangis melolong-lolong. Kalau memukuli anak tidak sampai menangis, rasanya kurang marem, katanya. Ibuku tidak banyak mengusik hukuman Ayah. Kebanyakan kali, Ibu hanya menjadi bayangan Ayah. Selesai mengerjakan kewajiban-kewajiban rumah-tangga, dia lebih suka melarikan kekosongan waktunya ke mesin jahit. Membikin pakaian atau menyambung-nyambung kain perca menjadi keset, serbet, atau taplak.
Sedari kecil aku mulai merasa diriku berbeda dengan kebanyakan anak laki-laki di lingkunganku. Aku tidak suka bergerombolan pergi mandi-mandi di kali atau bermain sepak-bola dan kelereng. Permainan anak laki-laki seringkali membosankan dan membikinku berkeringat. Makanya aku tidak suka. Aku lebih suka menggabung kakak-kakakku yang bermain pasaran atau békel dengan teman-temannya. Tapi seringkali aku diusir, karena dianggap mengganggu dan merusak mainan mereka.
Melihat permainan dan pergaulanku yang berbeda dengan kebanyakan anak laki-laki lain, aku kerap dihina dengan sebutan: banci! Darahku selalu mendidih mendengar hinaan itu, karena aku percaya tubuh dan jiwaku laki-laki tulen. Tapi aku hanya bisa memendam amarah, karena aku tidak bisa berkelahi. Anak-anak tentara yang lain, kerap membawa-bawa pekerjaan ayahnya agar ditakuti dan tidak ada yang berani mengejek, hingga mereka bisa berlaku sewenang-wenang. Tapi aku tidak pernah meniru kelakuan itu. Aku tidak suka berlindung di bawah ketiak orang lain, meski orang itu ayahku sendiri.
Sebagai laki-laki yang tidak pandai bicara dan menempatkan diri, aku selalu merasa gelisah dan canggung jika berada dalam keramaian. Aku ketakutan oleh sebab yang tak pasti. Aku takut bajuku jelek. Aku takut sikapku wagu. Aku takut diejek seperti perempuan. Makanya di sekolah aku lebih memilih tenggelam dalam tumpukan buku-buku perpustakaan daripada pergi ke warung jajan. Aku tidak punya teman dekat. Bagiku, berteman dengan buku-buku lebih mengasyikkan. Selain tidak usah bercakap-cakap, aku juga tidak perlu khawatir sikapku akan wagu.
Sampai SMA, aku masih meneruskan kebiasaanku mengunjungi perpustakaan. Selain alasan yang telah kusebutkan, ada kejadian lain yang membuatku semakin tidak betah berlama-lama di dalam kelas. Diprakarsai gerombolan siswa laki-laki, teman-teman sekelas berkomplot menjadikanku maskot kelas. Perkataan “maskot” di sini, bukanlah sebuah gelar yang membanggakan. Ini lebih dimaksudkan sebagai penghinaan. Aku menjadi bahan olok-olokan seantero kelas. Misalnya jika guru akan menunjuk siswa untuk mengerjakan soal di papan tulis, tanpa dikomandoi, teman-teman kompak bersuara meminta guru menunjukku. Tidak cukup sampai di situ. Jika aku mau maju, teman-teman menyiuliku. Ada juga yang berkata sumbang, semisal: “I-hi…, pacarnya Lisa maju.” Yang akan disambung geer dan sorak-sorai teman-teman yang lain.
Bagiku, segala sesuatunya adalah perkara besar. Olok-olokan teman-teman sekelas membuatku tertekan. Tidak ada teman yang bisa kuajak bicara, selain tumpukan buku yang tetap tenang dalam kediamannya. Aku tidak menceritakan masalahku pada orang-orang di rumah. Selain malas, aku pikir juga tidak banyak gunanya. Paling-paling ibuku akan berkhotbah, “Kamu yang sabar, To. Banyak-banyaklah berdoa.” Sedangkan ayahku: “Salahmu sendiri nggak ngelawan. Jadi laki-laki kok melempem.”
Bingung hendak berbuat apa, akhirnya aku melampiaskan keruwetan pikiranku pada makanan. Di rumah, aku menjadi makhluk pemamah biak kelas wahid.
Pekerjaanku berpusar pada makan, tidur, sekolah, membaca. Tidak heran dalam tempo singkat tubuhku jadi melar. Dengan tinggi seratus enam-puluh delapan centimeter, bobot tujuh-puluh lima kilo membuatku tidak leluasa bergerak.
Suatu hari aku menemukan majalah bergambar sampul laki-laki bertubuh langsing namun atletis, ialah majalah Men’s Health. Melihat tubuh penuh ukiran otot itu, entah mengapa aku seperti tersihir. Mungkin lebih tepatnya kagum. Dalam diriku timbul sebuah pikiran: barangkali aku bisa seperti laki-laki itu! Aku ingin tubuhku jadi bugar dan ringan.
Berbekal bacaan dari majalah Men’s Health, aku yang sebelumnya tidak menyukai kegiatan yang menggunakan banyak gerak jasmani dan mengeluarkan keringat, tiba-tiba menemukan diriku begitu terobsesi pada olah-raga kardiovaskular, macam lompat tali, berenang, dan jogging.  Memang mula-mula badanku sering pegal-pegal. Tapi lama-lama, asyik juga. Tujuan utamaku ialah ingin menurunkan berat badan. Hanya itu. Aku juga mengurangi porsi makan dan menelan pil pelangsing. Aku sungguh merasakan betapa tidak nyamannya bergerak ke sana ke mari dengan membawa tubuh tambun. Ditambah lagi aku tidak ingin membahagiakan orang-orang yang menemukan julukan baru bagi diriku, yaitu Paman Gembul.
Melihat diriku rupanya Ayah salah paham. Laki-laki pemuja kejantanan itu mengira anak laki-lakinya yang lembek telah berubah. Dia mengira aku berolah-raga karena ingin menjadi tentara!
Saat itu menjelang masa-masa akhir SMA. Aku belum punya bayangan hendak meneruskan ke mana. Tetapi Ayah dengan sifatnya yang pemaksa, menyuruhku mengikuti jejaknya: menjadi tentara. Boleh dikatakan aku terlahir dari keluarga tentara. Kakekku dari pihak Ibu; tentara. Pakdhé, Oom, dan saudara sepupu juga tidak sedikit yang menjadi tentara. Cuma ada dua sepupuku yang jadi polisi. Kata Ayah, di pundakku tersandang kewajiban buat meneruskan darah tentara keluarga kami.
Sewaktu Ayah berkata seperti itu, aku tidak membantah. Ayah selalu menjelma Burisrawa setiap kali bicara dan tertawa. Suaranya keras menggelegar, terbahak-bahak. Kali itu, Ayah kembali mengulangi ajarannya, bahwa rida Tuhan mengikuti rida orang-tua. Karena itu—kata Ayah—aku harus manut orang-tua, jika tidak mau laknat Tuhan menimpaku berpuing-puing.
Aku tahu watak orang-tuaku. Karenanya aku tidak berani mengatakan secara langsung penolakanku pada kemauan Ayah. Dengan hati-hati kukatakan bahwa kakiku impur dan bahuku miring sebelah. Dengan kekurangan-kekurangan itu, bisakah aku menjadi tentara? (Maksudku sebenarnya mengatakan hal itu tentu saja untuk memadamkan kemauan Ayah). Tapi ternyata Ayah tenang-tenang saja. Dia malah terkekeh dan berkata: itu semua bisa diatur. Kamu tenang saja. Aku mengerti maksud Ayah dan hal itu membikin hatiku kecut.
Aku tidak menyangsikan kesanggupan Ayah menjadikanku tentara melalui perantaraan rekannya. Aku juga tidak khawatir kantong Ayah bakal kering jika membiayaiku masuk pendidikan tentara—karena di kantor, Ayah menduduki kursi yang basah. Yang kusangsikan ialah kesanggupan diriku sendiri. Barangkali mudah saja aku masuk pendidikan tentara dengan uang pelicin. Tapi ‘ kan masalah tidak berhenti hanya sampai di situ. Bagaimana selama proses pendidikan? Bagaimana selama masa dinas? Sebagai manusia yang mawas diri, aku merasa memiliki lebih banyak kekurangan daripada kelebihan yang patut dibanggakan. Menjadi tentara selalu lebih mementingkan kekuatan otot, daripada ketajaman pikiran. Aku tidak dikaruniai ketajaman otak seperti kakakku sulung. Tapi aku juga tidak pernah menduduki peringkat istimewa dalam mata-pelajaran olah-raga. Nilai-nilai olah-ragaku tidak pernah beranjak dari angka enam atau enam setengah.
Aku ingin menolak kemauan Ayah. Namun hatiku yang kecil mengisyaratkan adanya kesialan yang bakal menimpaku jika aku mengecewakan Ayah. Berkali-kali kubuktikan sendiri, bahwa kata-kata orang-tua adalah malati, yang akan menimbulkan kuwalat jika tidak dipatuhi.
Mendekati masa-masa akhir SMA, hatiku semakin berdebar ketakutan. Ketakutan antara menghadapi ujian akhir nasional dan semakin dekatnya waktu pendaftaran tentara.

*****
Ternyata, aku lulus ujian akhir nasional dengan hasil yang tidak mengecewakan. Tentu saja. Kami seangkatan mendapat bocoran jawaban langsung dari kepala sekolah dan guru-guru. Dengan ijazah di tangan, pupus sudah ketakutanku yang pertama. Tinggal ketakutan yang kedua, yang saat itu kuanggap sebagai ketakutan yang terbesar dan menentukan kelanjutan masa depanku.
Sebulan setelah pengumuman kelulusan, pendaftaran Secatam dibuka. Menuruti perintah Ayah, aku pergi ke Ajenrem guna mencari informasi persyaratan pendaftaran. Semuanya kucatat kemudian kuurus berkas-berkas yang dibutuhkan.
Ujian seleksi tiba, kutempuh dengan hati diselimuti kecemasan.
Hari pertama ialah ujian kesehatan. Kami sebanyak seratus pemuda dikumpulkan di DKT. Kami dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil, masing-masing sejumlah sepuluh orang. Tiap-tiap kelompok secara bergantian memasuki bilik-bilik pemeriksaan.
Dimulai hari pertama, aku sudah dihinggapi rasa rendah diri yang menyiksa. Betapa tidak. Selama proses ujian kesehatan berlangsung, kami diwajibkan hanya memakai celana pendek di atas lutut. Selama itu pulalah mataku disuguhi lautan penuh otot: dada-dada bidang, perut-perut kencang bergurat enam kotak, punggung-punggung tegap berbentuk huruf V, dan sebagainya lagi yang serba memancarkan kejantanan. Bodohnya, aku terus saja memperhatikan tubuh-tubuh sterk itu sambil membanding-bandingkannya dengan tubuhku sendiri. Alangkah jauh perbedaannya. Betul berkat latihan lompat tali, berenang, dan jogging, berat tubuhku susut menjadi enam-puluh  kilo. Tetapi bentuk tubuhku lencir. Tidak bergurat-gurat otot seperti pemuda-pemuda itu.
Dari keseluruhan bilik pemeriksaan yang harus kami masuki, ada satu bilik yang membuat tubuhku panas-dingin. Dalam bilik itu, kami bersepuluh wajib telanjang bulat menghadap tiga dewan penguji. Sementara di sebelah kiri kami adalah jendela kayu yang terbuka lebar dengan taman dan koridor di seberangnya. Sesekali kulihat laki-laki berseragam hijau atau perempuan berpakaian putih-putih melintas. Dua penguji kami berseragam PDH. Mereka duduk di belakang meja sambil mencatat. Yang seorang berseragam putih-hitam. Laki-laki inilah yang memeriksa aurat kami satu per satu, depan-belakang. Sampai pemuda kesembilan, semuanya nampak tidak ada masalah. Giliran pemuda terakhir, yakni pemuda di sebelah kiriku, penguji itu kedengaran mengeluh. Aku sempat menoleh. Ternyata pemuda di sampingku hernia. Auratnya melorot, sehingga menjadi bentuk yang memuakkan.
Kukira, itulah bilik pemeriksaan terakhir. Aku keluar bilik dengan pikiran ruwet. Antara malu, kasihan pada pemuda itu, dan kecamuk pikiran yang lain. Yang jelas aku mendongkol pada ayahku. Dia tidak pernah memberitahuku bahwa dalam ujian seleksi masuk pendidikan tentara, ada satu tahap yang mengharuskan peserta untuk telanjang bulat. Ayah juga tidak menceritakan detil tahapan yang harus kutempuh selama mengikuti ujian seleksi. Dan hal ini membuat ketidak-sukaanku pada Ayah semakin berkarat!
Setelah mengaso selama empat jam, petugas memanggil nomor-nomor dada kami. Tidak semua nomor dipanggil. Kali itu, kami hanya harus masuk sebuah bilik, bergantian satu per satu hanya memakai celana dalam. Tibalah giliranku. Seorang penguji memeriksa tubuhku, kemudian menyebutkan kekurangan-kekurangan yang dia temukan (yang sebelumnya tidak pernah aku ketahui): leher terlalu condong ke depan, bahu miring, punggung tidak simetris, kaki membengkok, dan telapak kaki rata seperti bebek. Dua penguji lain yang duduk di belakang meja hanya manggut-manggut, lalu mencatat. Tetapi tiba-tiba penguji yang tadi memeriksa tubuhku bersuara: dia anaknya Hadi Pranoto—sambil matanya menunjuk kepadaku. Dua penguji lain kembali mengangkat muka, sebentar meneliti keseluruhan diriku, lalu mengangguk, dan kembali mencatat.
Jam tujuh malam, hasil ujian seleksi tahap pertama diumumkan. Kami maju satu per satu menerima sepucuk surat sesuai nomor dada kami. Dan ketika kuketahui bahwa aku lulus ujian, aku merasa itu adalah sesuatu yang “wajar”. Kukatakan wajar, soalnya dengan begitu banyak kekurangan yang kumiliki, aku tetap bisa lulus, karena ada sebuah pesan sponsor: dia anaknya Hadi Pranoto. Dan pengetahuan ini, membuat aku semakin takut.
Usai pembagian surat , seorang petugas menjelaskan secara ringkas mengenai ujian esok hari, yaitu ujian jasmani: apa-apa yang harus kami bawa dan siapkan, juga di mana dan jam berapa kami harus berkumpul.
Keluar dari ruangan, aku menjumpai kakakku sudah menunggu. Kukabarkan tentang kelulusanku. Dia tersenyum, lalu kami pulang.
*****
Jam enam pagi peluit berbunyi, penanda dimulainya kegiatan. Kami berbaris rapi di sebuah lapangan tenis. Seorang tentara memberi penjelasan urutan-urutan ujian seleksi kali itu. Seperti sebelumnya, kami dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil.
Ujian pertama adalah berlari mengelilingi lapangan sepak-bola dalam waktu dua-belas menit. Tanpa kesukaran berarti, sampai bunyi peluit tanda berakhirnya waktu berlari, aku bisa menyelesaikan enam setengah kali putaran. Aku cukup bangga dengan pencapaianku itu. Ternyata, meski kakiku membengkok ke dalam, aku tetap mempunyai kesanggupan buat berlari kencang. Di antara anggota kelompokku, aku menduduki peringkat kedelapan.
Tetapi sebegitu akan ujian kedua, rasa cemas kembali menjalariku. Kami beriringan menuju palang-palang restok. Kami diberi waktu tiga menit buat melakukan pull-up atau back-up. Tiba giliranku, aku gemetaran. Tapi aku nekat. Dan nyatalah. Tanganku yang kurus tidak kuat mengangkat tubuhku sampai dagu melewati palang restok. Pemuda-pemuda lain menertawakanku. Dengan sedih, aku pura-pura tidak melihat dan mendengar. Penguji kami ada dua orang. Seorang daripadanya memperhatikanku dengan pandangan menghina sambil bibirnya berkecumik menggumamkan sesuatu, lalu berujar, “Nomor 385, nilai restok nol. Gagal!”
Ujian berikutnya segera menyusul: push-up dan sit-up.
Usai melakukannya, aku bersender pada anyaman kawat pembatas lapangan tenis sambil melipat kaki. Pemuda-pemuda di sekitarku ramai mengobrol. Sesekali aku turut mencampuri. Itu pun kalau aku ditanya lebih dulu. Tiba-tiba seorang tentara melambaikan tangan ke arahku. Aku menoleh kanan-kiri guna memastikan.
“Ya, kamu nomor 385!” serunya.
Aku bangkit dan langsung mendekat.
“Nomor 385,” ulang laki-laki itu, lalu beralih pada catatan di tangannya. “Namamu Teguh Triyanto?”
“Iya, Pak,” sahutku perlahan, tanpa menyembunyikan rasa penasaran.
“Yang tegas!”
“Siap, Pak! Betul saya!”
Tentara itu terkekeh. “Bagus. Begitu, dong. Itu baru namanya calon tentara,” lalu menyambung, “Kamu anaknya Hadi Pranoto?”
“Siap, betul!”
“Hmm.. begitu.” Dia manggut-manggut. “Ya sudah. Sana kamu kembali ke tempatmu!” Tangannya melambai, menyuruhku pergi.
Aku kembali duduk tanpa sempat tahu, kenapa tentara itu bertanya demikian? Hatiku menduga-duga, mungkin tentara itu adalah teman Ayah.
Ujian terakhir di Korem hari itu adalah pemeriksaan postur tubuh. Kami masuk sebuah aula dengan hanya menggunakan celana dalam. Seperti sudah menjadi kebiasaan, aku kembali dihinggapi rasa malu.
Kira-kira ada empat-puluhan pemuda yang masuk aula. Dua dari empat dinding aula merupakan lapisan kaca yang memantulkan keseluruhan bentuk tubuh kami. Aku mengelakkan mata, karena malu melihat pantulan tubuhku sendiri. Dua penguji memeriksa tubuh kami satu per satu. Bagian tubuh yang dirasa kurang sempurna, langsung diberi tanda silang menggunakan spidol merah. Giliranku, aku merasakan coretan di tengkuk, bahu kanan-kiri, pinggang, paha, betis, dan telapak kaki (sebelum mencoret telapak kaki, penguji menyuruhku mengangkat dan menunjukkan telapak kakiku). Lalu penguji berjalan ke muka tubuhku, mencoret dadaku kanan-kiri.
Penguji yang mencoreti tubuh, bersuara, “Lihat nomor 385. Bodinya mirip sekop.” Suara itu pelan, namun mengandung nada ketawa. Kurasa pemuda-pemuda lain mendengarnya, karena suasana aula yang senyap.
“Betul,” sahut rekannya yang bertugas mencatat. “Pahanya kayak talas Bogor !” suaranya keras, bernada kegirangan seperti menemukan mainan yang telah lama hilang.
Baru pertama kali aku mendengar ejekan seperti itu. Aku tersinggung. Ejekan itu serupa tusukan berbisa yang melumpuhkan kepercayaan diriku yang tersisa.
Dan seperti memiliki daya magnet, tiba-tiba berpasang-pasang mata menancapkan arah pandangnya kepadaku, seolah hendak mencari kebenaran kata-kata itu.
“Hei, siapa yang menyuruh kalian menengok?!” hardik penguji, mengoyak kesenyapan aula. Para peserta kembali menghadap depan dengan posisi tegap. Penguji pun melanjutkan tugasnya.
Tidak terkirakan rasa nelangsa yang merasukiku. Dan begitu saja. Tiba-tiba aku membenci diriku sendiri. Aku benci sekaligus malu memiliki bentuk tubuh seperti ini, Aku ingin menghilang. Ingin lenyap dan dilupakan. Andai saja aku memiliki keberanian untuk mengutarakan penolakanku pada kemauan Ayah, tentu aku tidak akan terperangkap dalam situasi yang tidak mengenakan ini.
Pemeriksaan postur tubuh selesai.
Seperti robot, aku keluar aula dengan hati hampa. Kami kembali berpakaian, dan lalu beristirahat di serambi samping aula.
“Euh, mestilah aku akan gagal,” keluh pemuda di samping kananku.
Aku menengok untuk melihat muka pemuda itu. Ternyata, dia teman satu kelompokku.
“Aku juga. Begitu banyak coretan di tubuhku,” sahutku tanpa bermaksud menghibur.
“Ayahmu tentara ya, Mas?” tanya pemuda itu mengalihkan pembicaraan.
Mengapa dia bertanya begitu? Apa tadi dia melihat dan mendengar percakapanku dengan seorang tentara di lapangan tenis, sehingga lalu dia bertanya demikian?
“Iya,” sahutku, segan. Aku selalu malas mengakui atau mengatakan pekerjaan ayahku. Soalnya, orang-orang kerap memerhatikan keseluruhan diriku, sebegitu tahu kalau ayahku seorang tentara. Mungkin hendak melihat dan mengukur: pantas atau tidak orang macam diriku menjadi anak tentara.
“Hmm.. Pastilah kamu mendapat pertolongan,” gumamnya tanpa melihat ke arahku.
Aku menerka kata-katanya itu sebagai sebuah sindiran. Dan sebagai tanggapan, aku tersenyum sumir.
“Ini pertama kalinya kamu mendaftar?” tanyaku.
“Bukan. Ini ketiga kalinya.”
“Kemarin-kemarin, kamu gagal di apa?”
“Postur tubuh.”
“Kedua-duanya?”
“Ya.”
Aku terdiam, ingin tahu lebih lanjut; apa kali ini pemuda itu “dibawa” oleh seseorang. Tapi aku malas menanyakannya. Aku kembali sibuk dengan pikiranku sendiri.
Berenang menjadi tahap terakhir dari ujian jasmani. Dengan menggunakan tiga buah truk, kami diangkut menuju kolam renang milik  SPN di lereng Gunung Slamet.
Ujian renang dimulai. Kami kembali diharuskan hanya memakai celana dalam. Kuceburkan diriku bersama empat pemuda lain. Mungkin karena capek atau lapar atau karena dasarnya aku lemah, aku tidak kuat mengayuhkan tangan sekencang-kencangnya. Padahal di ujian ini, teknik menjadi tidak penting. Yang utama hanyalah rentang waktu yang ditempuh. Dan ketika tanganku menyentuh dinding finis, aku baru tahu kalau dari kami berlima, akulah yang paling bontot mencapai finis.
Sempat kudengar seorang penguji berseru, “Huu.. dasar lamban!”
Sewaktu duduk kembali di dalam truk yang selanjutnya mengangkut kami menuju Ajenrem, aku semakin berdiam diri. Pemuda-pemuda di sekelilingku asyik mengobrol, namun anehnya aku seperti tidak mendengar apa pun. Kulayangkan mataku menembus kaca pelapis kepala truk.
Sekitar jam dua siang, kami sampai di Ajenrem. Para peserta ujian turun dari truk seperti air bah, lalu mereka terpecah menjadi gerombolan-gerombolan yang duduk-duduk di emperan bangunan Ajenrem, atau di warung-warung makan dan pinggir jalan. Aku sengaja menyisih, berjalan ke arah timur, menuju alun-alun Purwokerto. Seorang pemuda yang tidak perlu kuketahui namanya, membuntutiku. Dia mengaku berasal dari Tegal. Setelah tahu aku orang asli Purwokerto, pemuda itu memintaku menemaninya mencari bakul mie bakso. Aku hanya kenal beberapa warung mie bakso di sekitar daerah ini, yaitu di daerah alun-alun kota sebelah timur Ajenrem. Setelah menemukan warung mie bakso, kutinggalkan pemuda itu menuju toko buku loakan di sebelah barat penjara. Aku membeli buku sejarah Kerajaan Aceh karya Denys Lombard. Lalu keluar, karena azan sembahyang asar telah memanggil.
Sebelum dan selama aku mengikuti ujian seleksi, ibuku telah berprihatin. Dia rajin berpuasa dan sembahyang tahajjud guna mengirimiku kekuatan. Sama seperti Ayah, Ibu juga berhasrat besar aku menjadi tentara. Kesungguhan Ibu membuatku terharu. Namun dalam sujud sembahyang asar kali itu, aku justru memanjatkan doa supaya aku gagal masuk pendidikan tentara. Aku telah semakin mantap bahwa aku memang tidak pantas menceburkan diri dalam lapangan pekerjaan itu.
Sewaktu aku bocah, kakekku pernah bercerita, dalam lapangan pekerjaan tentara, soal ejek-mengejek, hina-menghina bukan lagi menjadi masalah. Itu adalah hal yang “lumrah”, bahkan terkesan seperti menjadi “keharusan”. Katanya, ejekan-ejekan itu diperlukan guna mengasah kekuatan mental tentara, di samping kekuatan tubuh yang terlatih berkat latihan-latihan fisik. Kakek bilang, kekuatan mental adalah pokok kekuatan tentara yang akan mempengaruhi kekuatan tubuh untuk menjaga pertahanan negara.
Kata-kata kakekku itu hanya kudengarkan sambil lalu, tanpa perhatian penuh—karena tidak kurasakan pentingnya. Dan perjalanan waktu pelan-pelan mengikis ingatanku akan kata-kata  itu. Tapi, kejadian di Korem dan kolam renang, membuat ingatanku kembali terseret pada kata-kata Kakek.
Aku memiliki telinga yang tipis. Dan jika aku menjadi tentara, tidak terbayangkan betapa selama proses pendidikan dan masa selanjutnya, aku “harus melayani” ejekan demi ejekan yang masuk ke telingaku—karena aku tidak pernah bisa memasabodohkan semua perkataan dan sikap yang merendahkan harga diriku; semuanya kudengarkan dan kupikirkan. Oleh kesadaran dan pengetahuan itu, aku merasa tidak siap dan tidak mampu.
Tapi aku takut. Aku seperti dikejar-kejar perasaan bersalah pada Ayah dan Ibu. Aku minta ampun dan juga mohon pada Tuhan agar menghindarkanku dari kemurkaan Ayah. Kalau aku benar-benar gagal di ujian ini, Ayah pasti akan kecewa dan marah padaku. Tetapi aku berharap, Ayah juga mengerti bahwa aku telah berusaha. Semoga.
Setelah sembahyang, aku merasa lebih tenang. Saat langit sebelah barat semakin merah, hasil ujian seleksi jasmani diumumkan. Tiap-tiap kelompok dibariskan secara berbanjar. Nomor-nomor kami dipanggil secara berurutan.
Petugas yang membagikan surat adalah tentara yang tadi menanyaiku di lapangan tenis di Korem. Begitu aku di hadapannya, entah kenapa wajah tentara itu nampak keruh. Dia seperti sedang memendam sesuatu. Atau mungkin dia kecapekan. Dia menyerahkan surat hasil ujian tanpa memandang ke wajahku.
Aku memojok untuk mengetahui hasil ujian. Dan, puji Tuhan. Sesuai yang kuharapkan, surat itu mengabarkan bahwa aku tidak lulus ujian seleksi jasmani! Dikatakan, aku tidak memenuhi syarat dalam bidang postur tubuh dan uji samapta restok. Keseluruhal nilai uji jasmani ditambah uji kesehatanku juga masih kurang dari batas ketentuan minimal. Aku disarankan mencari peluang lain di luar anggota TNI.
Aku tidak tahu kepada siapa Ayah “menitipkanku” (sebelum aku mengikuti ujian, Ayah telah memberi sejumlah uang muka kepada rekannya, agar semua prosesku dimudahkan). Dan memang aku tidak perlu mengetahuinya. Yang pasti, aku sungguh berterima-kasih kepadanya, karena sudah tidak meluluskanku. Aku menerima hasil ujian itu dengan lapang dada—karena seharusnyalah demikian. Aku segera menyisih. Sengaja berjalan melipir. Kutolehkan wajahku menghindari muka-muka para peserta. Beberapa pemuda mencegat, bertanya mengenai hasil ujian jasmaniku. Demi kesopanan, aku terpaksa berhenti dan melayani pertanyaan mereka. Secara singkat kujawab aku tidak lulus, lalu aku segera pamit. Aku tidak mau lagi bercakap-cakap dengan mereka. Dan memang tidak perlu. Dengan kertas hasil ujian di tangan, pikiranku kini dipenuhi satu hal: pulang. (*)
Ledug, 22 Desember 2010
Catatan:
Ajenrem: Ajudan daerah resort militer
Bakul: Pedagang
DKT: Detasemen kesehatan tentara
Geblég: Alat pemukul kasur dari penjalin yang dibentuk seperti raket
Korem: Komando resort militer
Marem: Puas hati
Nelangsa: Sedih
PDH: Pakaian dinas harian
Secatam: Sekolah calon tamtama
SPN: Sekolah polisi negara
TNI: Tentara nasional Indonesia
Wagu: Kaku; tidak pantas
 *) Thomas Utomo bekerja sebagai guru di SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Tulisan-tulisannya dimuat di Annida, Suara Muhammadiyah, Radar Banyumas, Nikah, dan Fatawa.

Kepulangan Terakhir

Cerpen Halim Bahriz

Enam tahun lalu, untuk pertama kali, aku menyukai seorang perempuan.  Perempuan itu bernama Rani. Tanpa kesengajaan, kami memilih kampus dan jurusan yang sama. Namun kedekatan geografis semacam itu tak lantas memunculkan keberanian berungkap perasaan. Tak pernah kupunyai kemampuan berbicara soal-soal demikian. Aku lebih lihai menuliskan teks orasi untuk keperluan demo. – Birokrat mulut cap kentut, Birokrat busuk, kami datang ke kampus ini bukan untuk dianakkerdilakan, bukan untuk dininabobokkan dengan bea siswa, kami muda, kami yang bicara, kami akan terus berteriak-teriak selama kalian tak becus melaksanakan kejujuran pendidikan.Hidup Mahasiswa! Hidup Mahasiswa! Hidup Mahasiswa! -. Yah, mungkin beberapa orang akan mengiranya sekedar umpatan-umpatan murah dari emosi yang gagal dipulangkan.  Saat makin sering menemukan Rani di kampus, meski hanya punggungnya, semulai itulah, ada semacam kesadaran tentang diri sendiri yang gagap, bahkan untuk sekedar berucap nama: Rani.

sendu
Gambar diunduh dari http://www.styvop.devianart.com

Rani membikin dunia lain yang tanpa sadar sering kusambang di waktu-waktu tanpa duga. Misalkan saat sedang berlangsung pertemuan sengit dengan Rektor soal transparasi pendanaan Unit Kegiatan Mahasiswa, Tiba-tiba pikiranku terbang menuju sebuah sudut sempit, dan di tempat itu aku pernah menemukan Rani bercumbu rayu dengan seorang lelaki. Ah, seingatku, beberapa kali kutemukan Rani dalam keadaan memalukan seperti itu, di tempat yang sama, di sudut itu. Setiap akan melewati sudut itu, aku selalu merasa kekurangan oksigen, dada terhimpit dan nafasku membikin dua bunyi yang mendesis. Jika tak bersungguh paksa, sekuat tenaga tak kubiarkan diriku menjadi lebih memalukan dari cumbu rayu Rani dengan melewati sudut itu.

Dikesempatan yang lain, saat sedang mendiskusikan konsep aksi turun jalan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda, Tanpa sebab yang jelas, namun dengan berbekal kecerdikan (lebih tepatnya kelicikan), aku berhasil mengeluarkan seorang senior dari forum hanya karena tadi siang kupergoki dia sedang makan bakso bareng Rani di Kantin. Entalah, mengapa bisa demikian. Aku seperti berada pada satu keadaan yang mengerikan. Ada kenyataan asing yang berlangsung di tubuhku, dan pikiranku dikendalikan oleh sesuatu yang tak bisa kukenali, tak bisa kukendalikan balik.

Kenyataan-kenyataan aneh itulah yang kemudian membuatku merasa membutuhkan tempat bersembunyi. Tempat yang hanya aku dan aku yang mengetahui. Tempat menyusun rahasia-rahasia kecil soal aku dan Rani. Tentu, tempat persembunyian itu di kemudian hanya dipenuhi kepedihan-kepedihan yang sunyi.

Luka paling hebat barangkali saat kutemukan untuk pertama kalinya Rani tersedu tepi jalan yang pikuk (meski dikemudian hari datang luka yang lebih menyembilu). Dengan cepat dan sigap ia mendekap erat. Perasaanku campur aduk. “Tak baik begini di tepi jalan” ucapku setelah gemetaran yang cukup panjang. Lalu, Rani mengajakku ke atap gedung di kampus. Ia ingin melihat matahari tua yang karam. Ia biasa menenangkan diri dengan melihat senja. Namun aku sudah menyimpan curiga sekaligus tak memungkiri menimbun perasaan senang yang datang bertubi-tubi.

Dan, memang, setelah air matanya dikeringkan angin sore yang genit, Rani pun memulai ceritanya. Tentu, kisah luka. Apalagi yang membikin orang malu bertumpah air mata, selain kisah luka. Dalam tersedu ia lirih berkata “Empat jam yang lalu aku diperkosa empat lelaki mabuk yang tak kukenal” . Dengan cepat jantungku makin kecil, menjadi ringan, seperti pelepah pohon pisang yang telah mengering. Dan setelahnya, adalah puncak kecengenganku sebagai seorang lelaki sekaligus aktifis yang terkenal arogan. Tak hanya peluh mata, isak makin mendesak untuk diperdengarkan. Kali ini justru dariku, bukan Rani.

“Aku yang mendapat luka, mengapa kau yang menangis lebih deras?”.

Aku hanya terdiam, gemetaran mengusapi air mata, sembari pelan-pelan menenangkan isak dan menyusun keberanian untuk berbicara.

“Aku, telah menyukaimu sejak enam tahun lalu. Saat kita masih sama-sama berseragam putih abu-abu. Saat kau begitu menyukai Es Krim, Bakso, nyala lilin. Saat kau begitu rajin menuliskan namamu pada tempat-tempat yang sebenarnya tak menyimpan kenangan apapun. Saat kau masih sering lupa mengerjakan PR dan lebih rajin menuliskan catatan-catatan menyedihkan, lalu, tanpa perasaan malu, kau memajangnya di mading-mading, terutama mading dekat kamar mandi laki-laki. Mungkin air mata ini sebentuk pernyataan rasa suka yang hingga hari ini tak juga reda,  meski enam tahun telah terlewat tanpa percakapan apa-apa denganmu, mungkin rasa suka itu sederas air mata yang kini kau saksikan sendiri. Bukankah sangat manusiawi jika aku menangis karena seseorang yang menjatuhkanku ke hatinya? Aku juga tak ingin secengeng ini sebenarnya, tapi, bagaimana lagi, segalanya tak mampu tertahan, tak lagi mampu ditahan”.

“Kenapa kau tak pernah mendekatiku?”.

“Aku pengecut, Aku hanya berani menikmatimu tak kurang dari jarak 20 Meter”.

“Hahaha…bukankah kau aktifis?”.

“Lalu?”.

“Aku sering melihatmu berteriak-teriak di jalan, mengumpati Dosen-Dosen, bahkan Rektor. Aku tak melihat rupa pengecut seberkas pun di wajahmu ”.

“Jangankan kau, aku pun tak mengerti kenapa demikian”.

“Aneh”.

“Ya memang aneh. Mana ada lelaki yang menyukai seseorang selama enam tahun, lalu mengungkapkan perasaan sukanya setelah perempuan yang disukainya diperkosa oleh empat lelaki lain”

“Hahaha…”.

Rani seperti tubuh terbelah. Menangis deras, segegas, lekas, berbahak-bahak ia tertawa.

“Kau tak bersedih?” selipku dalam bahaknya.

“Tentu saja, Tapi hidupku memang sejak dulu telah terbiasa pedih. Aku juga terlahir dari sebuah pemerkosaan. Kesedihan berkepanjangan juga tak merubah apapun. Tak ada masa lalu yang bisa diperbaiki. Ia hanya bisa ditinggalkan”

Sejak itu, Kami bersepakat saling mengerti dan mengingatkan. Kami berbagi apapun tanpa keberadaan rahasia sama sekali. Aku tak perlu lagi tempat persembunyian. Rani, adalah tempat bersembunyi terbaik yang pernah kudatangi. Rani membuatku menyadari hal-hal yang selama ini kubengkalaikan. Semisal, Rajin mandi pagi hari, menyetrika pakaian juga minum air putih yang cukup. Dan yang membuatku merasa beruntung:kusembuhkan luka dengan menyembuhkan luka.

Tapi, kisah dari senja itu tak berlangsung lama. Seperti senja, sebentar, lekas karam dan menyisa rindu juga kehilangan.

Pesimisme itu muncul setelah Rani memasrahkan tubuhnya kurebahi dengan birahi, pada saat itu pula tanpa kendali kupelihara kecemasan demi kecemasan. Awalnya, Aku menolak melakukan hal seronok semacam itu. Tapi, tubuh, memiliki keinginan dan kehendaknya sendiri. Makin lama, Kami makin keterlaluan melakukan transaksi ketubuhan, membiarkan kebinatangan menjadi penguasa, dan aku, seperti mendiami tubuh yang salah. Bahkan, di tempat-tempat yang tak sepenuhnya kami miliki berdua, tanpa malu, kami saling menelanjangi. Kami makin tolol, makin tak terkendali, dan makin menyedihkan sebagai manusia. Hingga perasaan jijik pada diri sendiri memilih keputusan untuk membikin jeda.

Rani sigap menolak. “Jangan ada jeda!”, Selanya.

Tapi aku keras bersikukuh. ”Aku hanya menginginkan kita saling berfikir dan merenung, apakah hubungan ini masih berlangsung dalam semangat saling memperbaiki diri?”.

Lalu, kami saling memperdengarkan suara isak, membiarkannnya mengguncangi sekujur badan, hingga perlahan suara isak itu saling menjauh, melirih, membikin jarak dan menggantarkan kami berdua pada waktu bernama Jeda.

Dalam jeda itu, nampaknya aku kelabakan memperlakukan rindu. Aku mulai menemukan Rani dengan cara-cara yang memalukan. Dari tempat-tempat yang juga memalukan. Seperti penyair-penyair tengil yang mengingat kekasihnya. Aku tak mengerti kenapa musti menyukai bau pagi, desah  hujan,  dengkur kesunyian. Bahkan dari uluran memilukan seorang pengemis, empatiku bisu, aku justru khusuk mengingat Rani hanya karena mereka memiliki letak tahi lalat yang sama dan bentuk hidung yang sangat mirip.

Tak lama, rindu itu sungguh keterlaluan. Memaksaku mengakhirkan jeda secara sepihak. Keputusan untuk menemui Rani di rumahnya malam itu juga tak bisa dicegah lagi. Aku bersiap dengan kejutan-kejutan kecil yang memang selalu kita bawa pada setiap pertemuan. Tapi, justru Rani yang pada akhirnya lebih mengejutkan meski Rani tak bermaksud menyiapkan kejutan apapun buatku. Malam itu, kedatanganku tak lebih dari sebuah pengantaran diri pada liang luka.

Aku memang telah terbiasa selonong ke dalam rumah Rani. Awalnya, kukira kami saling merindukan. Kukira, kedatanganku juga akan menenangkan kerinduan Rani atas diriku. Tapi, itu hanya prasangka yang pada akhirnya tak pernah terbukti. Sama sekali tak kumiliki duga akan menemukan Rani bertumpang tindih dalam birahi dengan lelaki lain. Malam itu, aku sepenuhnya percaya, bahwa tak ada yang lebih pilu selain memergoki dua mulut yang saling menggilas, empat paha yang saling menjepit, empat mata yang saling melenyapkan dan dua kelamin yang saling mengutuhkan. Sedang separuh dari itu, adalah rupa birahi milik kita yang dirampas. Malam itu, yah, malam itu, rinduku lunas, lunas selunas-lunasnya, dan, jeda memang benar telah usai, benar telah selesai.

Kenyataan pahit semacam itu tak pernah terbayangkan akan mampu mengurungku hingga berhari-hari di dalam kamar yang kini kubiarkan selalu gelap dan pintu selalu tertutup. Keseharianku adalah rebahan luka, menjadikanku lelaki cengeng yang menghabisi waktu dengan mengkasihani diri sendiri, menjadi tubuh yang terkeping-keping oleh kepedihan-kepedihan picik. Membiarkan belatung-belatung kenangan menyicitiku.

Kemarin, Rani mengirim pesan singkat. Ia meminta maaf. Ia juga memberikan bonus kejujuran, bahwa ia tak pernah diperkosa oleh siapapun. Ia menangis di tepi jalan hanya karena tubuhnya telah ditolak oleh lelaki idamannya minggu itu. Aku pun telah sepenuhnya mengerti bahwa Rani tak pernah jadi tempat persembunyian. Rani tak lebih dari tempat penyekapan, Ia menyekapku, dari banyak hal, dari banyak keseharian, bahkan dari diriku sendiri.

Dalam pengurungan diri itu,  jejak sepanjang perjalanan hidupku berdatangan. Tapi aku hanya menuliskan tentang Rani. Halaman demi halaman dalam Buku harianku hanya dipenuhi oleh kisah luka memilu sekaligus memalukan tentang Rani. Hingga kisah itu musti dihentikan paksa.

“Sudah! tangisan telah kehabisan akal menenangkanku. Kisah ini musti berakhir atau diakhiri, sebelum segalanya menjadi semakin rumit. Aku harus berdiri, kembali berjalan, menapaki waktu yang makin menjauh. Yah, berjalan, karena hanya dengan cara itu segalanya bisa ditinggalkan. Dan kukabulkan maafmu, Rani, mungkin memang hanya dengan maaf masa lalu akan menjinak dalam ingatan”

Kunyalakan lampu kamar. Mencoba berdiri lebih lama, tubuhku makin kurus, meringan. Lalu,  kucoba melangkah ke luar kamar, dan tubuh ini memang benar-benar terasa sangat ringan, telapak kakiku terasa tak menyentuh apapun.

Rumahku masih sangat singup senyap. Tapi memang beginilah rumahku. Debu-debu menebal di sana-sini; di muka lantai, di muka perabotan-perabotan, di muka kaca jam dinding, dan foto – foto aksi turun jalan milik Ayah dan Ibu juga nampak begitu buram. Pintu dan jendela masih pekat mengunci. Sementara sepi, lebih hebat lagi mengutuki rumahku. Rumah ini memang nyaris tak pernah riuh, gemericik dari kamar mandi pun hanya terdengar jatuh dari gayungan dan air mataku sendiri, bahkan bau sarapan juga nyaris tak pernah tercium sejak bertahun lalu.

Ibuku seorang aktifis gerakan perempuan yang jarang pulang. Ia menyibuk diri mengurusi perempuan dan anak-anak yang nasibnya tak karuan setelah perceraian. Ia juga mencoba memberikan edukasi bagaimana berdiri sama tegak sebagai seorang perempuan tanpa meninggalkan peran sebagai seorang Istri, tentu juga sebagai Seorang Ibu. Sementara Ayah, lebih tak kumengerti lagi perihal kesibukannya. Ia bahkan sekedar kukenal dengan sebutan Ayah, selebihnya mungkin hanya wajah kami yang sangat mirip.  Dan sebutan itu, tak lebih dari panggilan lain bernama saku bulanan.

Di luar rumah nampak langit telah gelap. Aku merindukan warung kopi Cak.Ipul, menemui teman-teman segenggaman, membicarakan kepalan tangan, teriakan, juga darah, bukan embun, bukan hujan apalagi air mata. Karena kami percaya, antara air mata dan darah, siapa yang lebih gagah tertumpah di tengah arena peperangan.

Sesampainya, Aku hanya menemukan Cak.Ipul sendirian, matanya penuh sesal, dan nafasnya seolah terus-terusan menghitungi waktu. Tak biasanya Cak.Ipul terlihat angker seperti itu Aku duduk di sampingnya, lutut kami saling berciuman. Sepertinya antara aku dan Cak.Ipul sedang berada dalam kelumit pikiran yang sama.

“Kopi Pahit Cak.Ipul” tegurku sepenuh rindu.

Cak.Ipul hanya mengangguk, tak hendak berdiri, matanya bersikukuh pada satu tempat, entah dimana.

“Sekarang Hujan?” lirih ia membalas pesanan kopiku.

Aku semakin tak mengerti, kenapa tiba-tiba ia menanyakan hujan. Aku hanya diam.

“Apakah Sekarang sedang hujan?” ujarnya lebih keras.

“Sepertinya tidak” jawabku.

“Apa kau tak mendengarnya? Bukankah itu suara hujan”.

“Suara?  Hujan?”.

“Yah, suara hujan”.

“Cak.Ipul lihat sendiri kan, semuanya masih kering, tak basah sama sekali”.

“Tapi suara itu nyata sekali. Bukankah suara hujan hanya dari hujan? Suara hujan teramat sulit dipertirukan oleh apapun. Apa kau tak mendengarnya? Coba pejamkan mata dan sedikit lebih tenang”.

“Begitukah?”.

“Coba saja”.

Sejenak aku memejam dan menenang. Aku tak mendengar apa-apa, apapun. Bahkan, desah nafas Cak.Ipul sama sekali tak sampai di telinga. Sepi sekali. Tapi, lamat-lamat ada suara hujan mendekat ke arahku.

“Yah, yah, aku mendengarnya. Itu memang suara hujan. Lalu ada apa dengan suara itu”

“Apa kau tak pernah merindukan hujan?” .

“Beberapa waktu yang lalu, hujan membikinkanku rindu”

“Hari ini, pertama kalinya aku merindukan hujan”.

“Begitukah? Apa karena malam ini Cak.Ipul kesepian?”.

“Tidak, Aku hanya merasa hampa, hampa sekali”.

Kami saling berdiam, menepi pada nasib masing-masing. Dan memang, malam itu suasana begitu lain, jalanan yang biasanya ricuh oleh suara-suara motor, malam itu, mereka memakai laju yang sangat lambat, nyaris tak menyuarakan apa-apa. Tak ada tarian angin di dedaunan, Tak ada kerasak tikus dari tumpukan sampah. Tak ada suara sendal menjejal di atas trotoar. Hanya suara hujan yang datang tanpa air, yang aneh, yang sesekali secara mengejutkan menjadi suara tangisan lirih yang dekil.

“Apa kau pernah menangis?”, Cak.Ipul memulai lagi percakapan yang semakin aneh.

“Beberapa waktu yang lalu, aku rajin sekali menangis. Mungkin jika air mata itu tak menguap akan menggenang seperti  comberan”

“Apa saat itu kau terluka?”

“Yah, Sangat terluka ”

“Apa kulitmu juga pernah mendedarah?”

“Tentu saja, Waktu itu sedang demo besar-besaran, kisruh dan kepalaku kena kemplang polisi. Sudah berulang kali, bekasnya juga masih bisa diraba. Apa Cak.Ipul ingin merabanya?”

“Ah, tidak tidak! Itu tak penting”

“Kau tahu? Kalo antara keduanya sama ada karena luka?”

“Tentu saja, dan aku menyadari betul tentang luka yang tak pernah sederhana itu, hehe…”

“Memang luka yang kau tangisi masih ada bekasnya? Mana? Aku ingin merabanya”

“Oh, tentu ada. Tapi tak bisa diraba”

“Hmmm…Aku juga pernah rajin sekali menangis, meskipun sekarang sudah tak bisa lagi. Dan bekas lukanya masih ada. Mau kau merabanya?”

“Hah? Bagaimana bisa begitu?”

“Mana tanganmu. Coba buktikan sendiri”

Belum kusentuh luka Cak.Ipul, tiba-tiba ia hilang, menghilang tanpa cara apapun. Perlahan, warung Cak.Ipul menghitam, menjadi pepuingan. Sebuah Police line mengitari warung Cak.Ipul yang telah menjadi bangkai dari lahapan api. Tiba-tiba angin menderu-deru, aku tercekam, seolah mengerti tentang angin itu, ia seperti sedang mengatakan sesuatu, entah apa. Tapi aku tahu ia sedang mengatakan sesuatu. Tubuhku gemetar, kedinginan, angin itu makin mendekat, mendekap, membikin tarian kunang-kunang di sekujur tubuhku. Aku tak tahan lagi, benar-benar tak sanggup dengan keadaan itu. Aku berlari sekencangnya, menjauh tanpa menyempatkan diri menoleh sesudut pun. Sepanjang lariku, aku  seolah berpapasan dengan banyak masa lalu, ia seolah mendekat lalu dengan cepat meninggalakanku. Aku seperti berlari di tempat. Hingga tanpa sadar aku telah berada tepat di depan gedung wakil rakyat. Aku berhenti dan diam.

Aku bertahan di tempat itu nyaris sampai matahari terbit. Aku duduk bersama segenap keasingan dan keterasingan, mencoba menyusun kepingan masa lalu saat begitu gegap kita menggenggam, berteriak-teriak, sesekali melempari gedung itu dengan batu dan telur busuk. Tapi, kepingan-kepingan itu tak juga membentuk masa lalu yang utuh. Keasingan dan keterasingan lebih bingar mengumpatiku dari pada kepingan ingatan masa-masa kegemilanganku menjadi seorang aktifis itu.

Keadaan begitu sepi, sepi sekali. Aku bahkan meragu apa memang keadaan seperti ini masih bernama sepi. Aku seperti sedang berada di tempat yang salah.

Subuh meraba telinga. Aku semakin merasa aneh, seperti mendengar suara subuh yang datang dari jantungku sendiri. Keadaan semakin nyinyir. Tubuhku seperti dicincangi waktu. Tapi suasana yang memedih itu tak lantas memancingku untuk menangis lagi. Aku telah lupa menenangkan diri dengan air mata.

Lamat-lamat, suara hujan mendekat. Tapi, air tetap tak mengguyur. Tubuhku kembali gemetar, dingin. Dikejauhan terlihat uap embun yang terangkat, mirim fatamorgana di atas jalan aspal yang panas. Perlahan, kulihat teman-teman seperjuangan menderap dengan teriakan-teriakan. Kepalan tangan juga terlihat meninju-ninju ke udara. Yah, mereka memang teman-temanku, tanpa pikir panjang dalam, aku bergabung dengan mereka. Tanganku mengepal, meninjui langit, sembari mengumpat-ngumpat dengan sepenuh amarah. Lalu, dari jauh Rani tertangkap mata. Ia juga mendekat.

Tiba-tiba teman-temanku menguap satu demi satu, hanya tersisa celana, rok, kaos, ikat kepala, batu-batu, telur busuk, arloji, anting, cincin, kalung dan meninggalkannya semua berserak di jalanan. Sementara itu, Rani semakin dekat, sangat dekat, hingga Ia berhenti tepat di depanku. Pelan-pelan, ia menangis kecil, sangat sederhana, ia kelihatan sangat cantik, begitu manis. Ia tak pernah terlihat secantik itu sebelumnya. Ia membawa sekeranjang bunga warna-warni, entahlah untuk apa ia membawa bunga padaku. Ia sangat tahu, aku, sama sekali tak menyukai bunga. Sama sekali tak menyukai wewangian apalagi bunga. Tapi bunga yang dibawa Rani menyerbakkan ketenangan. Hingga mataku berpejam khusuk menikmati aroma wewangian itu.  Wangi itu seperti mengantarku pada dunia yang sama sekali belum kuketahui. Tapi, tak kurasakan keasingan, tak kurasakan keterasingan. Mungkin aku sedang bermimpi. Aku seperti tertidur, aku seperti bermimpi, tapi aku sepenuhnya menyadari sedang tertidur dan sedang bermimpi.

Dalam pejam itu, aku merindukan hujan untuk pertama kali. Dan aku mengerti perihal rindu yang dimaksudkan Cak.Ipul. Yah, rindu pada hujan, bukan rindu karena hujan. Lalu, suara isak Rani memaksaku membuka mata pelan-pelan, sejenak waktu melenyap, kosong, benar-benar kosong. Kupejamkan mata lagi pelan-pelan, dan setelah itu Rani menaburkan bunga ke wajahku.

 

Di sekitar tahun yang keruh

: Jember 2011

 

 

 

 

Halim Bahriz

Lahir di Lumajang-Jawa Timur pada 1989. Kedekatan dengan dunia seni diawali dari kegemaran melukis meski kemudian agak ditinggalkan. Keseharian bersama UKM Kesenian UNEJ mengepingi aktifitas seninya. Selain puisi dan fotografi, ia menyukai teater dengan menulis naskah drama dan sesekali memproduksi pementasan. Pada November 2010 berpartisipasi dalam acara ‘Tribute To Rendra’dengan mementaskan reportoar PENJARA-PENJARA: Perlakuan yang Tak Semestinya di Taman Budaya Jawa Timur bersama para penggiat teater lintas komunitas kampus UNEJ. Naskah PENJARA-PENJARA: Perlakuan yang Tak Semestinya Sempat memenangi sayembara penulisan kreatif sastra mahasiswa tingkat Jawa Timur (2010) dan Naskahnya yang lain, ‘KEMATIAN’ terpilih sebagai nominasi naskah terbaik Sayembara penulisan naskah drama (FTI) Federasi Teater Indonesia (2011). Saat ini sedang mempersiapkan antologi puisi pertamanya ‘Punggung Dada (PD)’ dan membikin keseharian baru dengan Kelompok Belajar ‘TIKUNGAN :Tak Harus Lurus.

 

Mana Ina

Cerpen Agus Wepe

1

Kami duduk berhadap-hadapan di meja foodcourt[1] yang paling ujung, dekat kios nasi Bu Bodro. Dalam piringku teronggok dua centong nasi, dua potong mendoan, selada dan kecambah rebus, disiram dengan kuah sate. Di sebelahnya tergeletak segelas es teh dengan bongkahan esnya yang besar-besar. Bu Bodro jelas lupa bahwa aku tak boleh kebanyakan es. Ina mengamatiku membuang bongkahan-bongkahan es itu tanpa ekspresi. Ah—Ina, mana senyummu itu?

Ina tak memesan apa pun. “Kau tak makan?” tanyaku. Ia hanya menggeleng tanggung. “Di sini makanannya terlalu banyak vetsin,” jawabnya. Ah, terlalu banyak hal yang telah kupikirkan. Ina pun sudah dewasa. Ia pasti tahu kapan saatnya lapar, dan kapan saatnya untuk berselera-makan. Tapi ia tidak makan sedari pagi. Aku tahu—aku sudah tanyakan pada ibunya tadi pagi. Sarapan buatan ibunya tak terjamah. Kuputuskan untuk bangkit dan mencari Bu Bodro.

Kupesankan Ina sepiring nasi berlauk tempe dan selada rebus. Sudah jelas ada makanan tanpa vetsin begini, kenapa ia masih tak mau makan? Terlalu banyak aku bertanya, terlalu banyak alasan yang telah ia persiapkan.

Kulihat ia mengetuk-ngetuk terali besi yang memagari foodcourt dengan kuku jarinya. Kusodorkan makanan kepadanya. “Makan,” kataku. “Kalau kau tak makan, nanti aku dimarahi ibumu.”

Yang kumaksud adalah ibu angkatnya. Ia sangat perhatian kepada Ina. Ia menikah dengan ayah Ina karena ia steril[2], dan ia sangat menyayangi Ina sebagaimana anak kandungnya sendiri.

Ina makan dan sesekali berhenti untuk memainkan sendoknya. Rautmukanya masih datar. Suasana hari ini pun benar-benar datar. Spanduk iklan obat maag yang melekat di terali sesekali berkibar pelan, tertahan oleh buntalan plastik berisi air yang digantungkan pada kedua ujungnya. Angin semilir tanggung. Meski foodcourt ini menghadap lapangan luas, pusaran angin kecil yang biasa menerbangkan dedaunan kering pun tak muncul kali ini. Tapi aku makan dengan lahap. Di kejauhan, pemilik kios lain memutar musik koplo keras-keras. Jari-jari kakiku mendadak bergerak membuat ketukan.

Dua bulan lalu, semua masih terasa menyenangkan. Kami begitu girang menjajal hal-hal baru; mendaftar ke klub pecinta alam, pergi ke seminar kewirausahaan sambil bergandengan, mencoba makanan di restoran yang baru dibuka, atau sekedar cekikikan sambil mengepas baju di mall. Kami tutup facebook kami, berharap ini tak akan jadi ajang mencari obyekan lagi.

Lihatlah kini—Ina jadi begitu membosankan. Ia tak pernah lagi mencubit. Ia tak pernah lagi mengingatkan untuk bangun pagi. Tak pernah ada lagi resep-resep baru yang ia ceritakan. Yang ada hanya tatapan yang seakan menuntutku untuk melakukan sesuatu.

“Aku tak lapar. Mas tahu itu. Mas harusnya tahu itu.”

Kutengok piringnya—masih penuh, lauk dan sayurnya teraduk-aduk kacau.

“Aku selesai,” kataku. Ina hanya menatapku, masih dengan mengaduk-ngaduk makanannya. Makanan kubayar. Semua, milikku dan Ina.

“Selesai,” tegasku. Aku melangkah keluar. Ina memanggilku kembali. “Mas!” teriaknya—“Aku pulang sendiri”.

Aku hanya membuang wajah.

Dari kejauhan, kulihat Ina makan dengan lahapnya—sambil sesenggukan.

***

2

cerpen agus wepe
Gambar diunduh dari kompasiana.com

Seorang perawat masuk dengan sebuah baki. Sebentar ia bercakap dengan Harjiyo, kemudian menyuntikkan sesuatu ke selang infusnya. Ia kemudian meletakkan sebuah wadah berisi dua butir pil ke atas meja. Sanah, istri Harjiyo, mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga suster berusia tigapuluhan itu. Yang dibisiki kemudian mengajak berbincang di luar.

“Ini biasa terjadi, Bu. Memang biasanya badan ngilu, mual-mual—ini efek samping obatnya. Ibu mendampingi saja, diajak ngobrol dan berdoa. Memang harus telaten, Bu.” terang suster itu.

“Tapi saya ndak tega melihatnya, Sus. Bapak itu sudah kering-kerontang, tinggal tulang. Masih mau disuruh sakit-sakit begini.”

“Iya, Bu, saya tahu. Mungkin ada orang yang sangat Bapak sayangi, atau yang bisa membuat perasaannya tenang. Ibu bisa mendatangkannya ke sini. Ibu bantu saja agar Bapak merasa nyaman, ya.”

“Iya, Sus.”

“Baik Bu. Saya pamit dulu. Nanti jika butuh sesuatu, saya ada di pos perawat di ujung sana. Mari, Bu.”

Wajah Sanah masih terlihat khawatir ketika perawat itu pergi. Sebentar terdengar suara batuk-batuk dan erangan Harjiyo. Tergopoh-gopoh Sanah masuk untuk menenangkan suaminya itu.

“Ina mana, Nah?” tanya Harjiyo.

“Nanti sore, Pak. Pasti dia datang.” Sanah berkilah.

“Betul itu? Badanku sakit, Nah.”

“Iya, Pak. Nanti pasti hilang sakitnya.” Sanah mengelus kaki Harjiyo.

“Aku mati saja, Nah.”

“Hus—ini Ina sebentar lagi datang.”

Harjiyo menunggu hingga petang, hingga ia tak mampu lagi menahan sakit di tubuhnya. Ia jatuh tertidur. Hingga larut Ina tak datang.

***

3

Entah karena tayangan iklan televisi atau suatu sebab lain, sore itu Aning mencoba membuat teh yang paling sedap sedunia. Barangkali teh hangat itu mampu mencairkan kegundahan yang mengerak di hati suaminya. Bismillah, Tuhan pasti tahu jalan terbaik.

Hanya ada Aning dan Hendro di rumah. Hari magrib, namun si anak semata wayang belum juga pulang dari kampus. Hendro yang sedang rebah di kursimalas mendadak terbangun mendengar suara nampan beradu dengan permukaan meja. Aning mengambil tempat duduk di samping suaminya.

“Teh, Pak.”

Hendro menggosok matanya.

“Ya. Lha Ina mana?”

Aning mengangkat bahu. “Mungkin ke rumah Anam. Tadi pagi ‘kan, dijemput Anam ke kampus. Lagian, hapenya ketinggalan.”

“Oh—”

Hendro menyeruput tehnya, lalu membuang napas keras-keras. Aning senang mendengarnya. Teh sore ini memang enak, ternyata. Ya, mungkin memang inilah saat tepat untuk mendekati suaminya.

“Pak.”

Jantung Aning berdebar. Ia harus mampu membujuk Hendro.

“Kita jenguk Bapak, ya?” rayunya. Hendro terkesiap. Ia kira istrinya tak akan membahasnya kali ini. Namun, rupanya Aning masih selalu dihantui rasa bersalah terhadap mertuanya.

“Pak?”

Hendro masih ragu. Bapak marah. Bapak marah kepada Aning. Bapak marah karena Ina ikut tinggal dengan Aning. Tapi Bapak sakit. Sekarat malah.

“Kita bahas nanti,” tukasnya.

“Nanti kapan, Pak?”

“Ya nanti! Kita tunggu Ina pulang!”

Hendro mendengus kesal. Ia ingin menyalahkan istrinya, namun keputusannya untuk menikahi seorang perempuan mandul adalah keputusan yang ia buat sendiri. Ia sudah dewasa, punya anak gadis pula. Tak adil jika ayahnya tak merestui pernikahannya dengan Aning.

***

4

Pagi hari, Ina belum pulang. Entah ia menginap ke mana. Hendro tak peduli. Aninglah yang sangat khawatir kepada Ina. Ia sudah menghubungi Anam, namun Anam sudah tak bertemu dengan Ina sejak kemarin siang. Baru saja ketika ia hendak mencari ke kampus, datanglah SMS dari Ina, mengabarkan bahwa ia menginap di tempat kos kawannya. Ini pun cukup melegakan bagi Aning.

Pagi itu juga, rupanya Aning telah merencanakan sesuatu. Selepas Hendro berangkat ke kantor, berkemas ia membawa berbagai macam makanan dalam rantang. Ibu pasti lapar, pikirnya. Ia harus berani menemui mertuanya.

Aning sampai di rumahsakit tepat ketika Sanah tengah menyeka tubuh Harjiyo. Bau pesing bercampur desinfektan menyeruak dari seluruh ruangan. Aning berkempis hidung sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

S’amlekum,” Aning menguluksalam.

Alekumsalam, mangga pinarak[3].”

Aning sedikit terkejut melihat keadaan Harjiyo yang sedemikian rupa. Rambut gondrongnya telah habis, hanya tersisa kepala licin berhias segaris urat yang menonjol dan bercak-bercak hitam penuaan. Kakek bertubuh gempal itu telah banyak mengempis, tersisa balung-kulit[4] saja.

“Bapak?”

Harjiyo ingin mengangkat kepalanya, namun tak kuat. Sanah memberi aba-aba kepada Aning untuk mendekat. Datang ia berjongkok di depan ranjang pasien. Harjiyo mengangguk lemah.

“Kamu?”

“Iya, saya, Pak. Aning.”

“Ina? Mana Ina?”

“Ina, Pak?”

“Iya, anak—kamu.”

Wajah Aning bergetar. Matanya mulai merambang. “I—iya—anak saya?”

Harjiyo tersenyum. Aning mulai sesenggukan. Lemah ia menjawab:

“Pasti, Pak. Sore ini dia pasti datang.”

“In—ini—”

“Iya, Pak?”

“Kesempatan terakhirmu, untuk tidak berbo—hong.”

Perasaan Aning semakin kacau-balau. “Bapak memaafkan saya?”

“Ma-na—In-na!”

***

5

Aku duduk di meja foodcourt yang paling ujung, dekat kios nasi Bu Bodro. Dalam piringku teronggok dua centong nasi, dua potong mendoan, selada dan kecambah rebus, disiram dengan kuah sate. Di sebelahnya tergeletak segelas es teh dengan sedikit bongkahan es. Tak ada yang mengamatiku membuangi bongkahan itu.

Tadi pagi Ina telepon. Ia katakan bahwa ia tak pulang. Kami harus bertemu. Sore ini juga. Harus ada sesuatu yang diketahui. Harus ada sesuatu yang dipahami. Akung[5] sakit, katanya. Bapak dan Ibu tidak bisa menjenguk Akung, katanya.

Aku tak pernah paham seperti apa sebenarnya jalan pikiran Ina itu. Kadang ia bisa sangat menyenangkan, kadang sebaliknya. Ia bisa jadi sangat tertutup dan pendiam. Kadang ia bisa begitu senangnya, hingga ia tak segan-segan datang ke rumah hanya untuk memberitahukan bahwa resep buatannya berhasil. Di lain waktu, ia bahkan tak mau meneuiku sama sekali ketika aku datang ke rumahnya.

Memangnya semua perempuan seperti itu?

Aku menunggu agar muncul pemahaman yang sempat tertunda.

Hingga petang Ina tak datang.

 

 

Banyumas, 22012012


[1] pusat jajanan berupa kios-kios kecil yang dihimpun di bawah satu atap

[2] mandul, tidak subur

[3] silakan masuk

[4] tulang dan kulit, sangat kurus

[5] kakek

Betapa Jauhnya Indonesia

Cerpen Mohamad Ridwan
Editor Ragil Koentjorodjati

jalan jauh
ilustrasi dari 2.bp.blogspot.com

Saat  masih kecil aku tidak mengenal Indonesia. Dan setiap kali aku tanyakan tentang Indonesia tiada satu pun orang yang mengenalnya. Tapi pamanku bilang di  Indonesia itu rumahnya tinggi-tinggi dan menggapai langit. Di sana jika berjalan tidak perlu mengandalkan kaki, orang-orangnya bisa berjalan sambil duduk dan bernyanyi. Masih menurut pamanku, di sana cuacanya sanget aneh. Meski di luar hawanya begitu panas tapi di dalam ruangan akan terasa dingin. Sementara untuk makan mereka tidak perlu menanam padi, atau tanaman lainnya untuk kemudian di jual. Mereka dapat uang dengan duduk menghadap kotak aneh dengan gambar bergerak-gerak.

Tapi menurut Samuel, Indonesia  tidak seindah seperti yang dikatakan pamanku. Indonesia adalah tempat pembunuh. Mereka tidak berburu binatang seperti yang kami lakukan di desa pamilin di tengah belantara Kalimantan. Tapi mereka berburu manusia. Bukan saja menggunakan Mandau atau sumpit, mereka  menggunakan benda aneh berbentuk kelamin laki-laki yang bisa mengeluarkan benda bulat yang terbuat dari timah tapi panas. Bahkan Samuel juga bercerita jika kakaknya dibunuh oleh orang Indonesia saat berada di sana.

Saat aku Sekolah Dasar ibu guru Maria menjelaskan bahwa Indonesia adalah Negara kaya yang luas dan memiliki beragam suku dan budaya. Mereka hidup rukun dan bergotong royong seperti kehidupan di kampung ini. Sebuah kampung yang di kepung belantara Kalimantan, tempat di mana aku bisa bermain dengan otan dan waowao, serta berburu burung tiung untuk aku latih bicara seperti manusia. Dan ibu Maria juga mengatakan bahwa kampung Pamilin adalah wilayah Indonesia.  Tapi aku meragukannya,  karena di sini aku tidak menemukan rumah yang tinggi mencakar langit seperti kata pamanku. Aku juga tidak pernah melihat manusia membunuh manusia seperti kata Samuel. Hanya saja ibu Maria menjelaskan jika di Indonesia juga ada gereja.

“Ibu Maria! indonesia itu apa?” tanyaku lugu pada saat itu.

”Indonesia itu adalah negara kita, tanah air kita, tempat kita dilahirkan.”

“Indonesia itu jauh ya Bu?”

“Indonesia ada di sini, ada di hati kita seperti tuhan Yesus berada di hati kita.”

Begitulah tanyaku terus menerus karena ingin tahu apa itu Indonesia. Namun semakin Ibu menjelaskan tentang Indonesia, semakin aku mengerti jika Indonesia itu jauh. Jauh berbeda dengan bayanganku, juga jauh berbeda dengan keadaan di sini.

Pada buku yang aku baca, di Indonesia anak sekolah pakai seragam merah putih sementara aku dan teman-temanku tidak. Di Indonesia  ada lampu pijar yang bisa menyala siang dan malam sementara di sini tidak pernah ada lampu pijar kecuali saat aku menginap di rumah teman Ibu di Emplanjau sebuah kota kecil di Malaysia. Itupun karena kami kemalaman untuk pulang ke Pamilin setelah menjual beberapa karung gabah. Sementara di luar hujan sangat deras sehingga jalan menuju kampung tidak mungkin lagi untuk dilewati.

Setelah umurku lima belas tahun aku diajak teman ayahku untuk merantau di kota Kuching. Kota itu benar-benar menakjubkan. Rumah-rumah yang tinggi menggapai langit dan orang-orang  masuk dalam sebuah peti yang  mampu bergerak sendiri. Mirip seperti yang dikisahkan pamanku. Tapi  aku hanya mengagguminya dan tidak berbicara apa-apa. Aku malu jika Kai Apu teman ayah dan anak-anaknya mengejekku sebagai orang kampungan. Apalagi setelah aku bertanya pada anak gadis Kai Apu yang bernama Margaret itu.

“Apakah tempat ini adalah indonesia seperti yang dikatakan pamanku?”

“Ha ha ha……………..,” seketika Margaret tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang dia pikirkan. Aku berprasangka ia menertawakan ketololanku.

“Mico, ini adalah kota Kuching di Malaysia. Sedangkan yang berasal dari Indonesia adalah kamu,” terangnya yang semakin membuatku tidak mengerti.

Akhirnya aku berlaku sewajarnya seperti yang dicontohkan oleh orang yang ada di sekitarku. Aku bekerja seperti mereka,  mengangkat karung-karung kain  dari atas truk ke dalam pasar. Kemudian ada orang yang memberiku upah. Aku panggil dia Cik Lan dan Koh Yap, mereka sangat baik dan mengizinkan aku tinggal di rumahnya. Mereka adalah majikanku yang umurnya dua kali umur ibuku dan memiliki anak seumuran kakakku. Aku panggil dia Nona Mey.

Setelah tinggal dua tahun  bersama keluarga itu aku menjadi sangat akrab dengan Nona Mey. Diam-diam ia mengajari aku menyetir mobil dan mendaftarkanku ke sebuah sekolah berseragam. Sekolah itu adalah sekolah lanjutan khusus yang belajar pada malam hari. Karena umurku saat itu sudah tujuh belas tahun sementara Nona Mey tidak lagi mau aku panggil Nona. Ia minta dipanggil Mey saja.

Selama sekolah, aku bekerja di siang hari sebagai sopir keluarga Koh Yap. Tapi aku lebih sering  menghantarkan Nona Mey yang semakin sibuk mengurusi bisnis plasmanya. Dan saat itu pula aku juga semakin tahu mengenai Indonesia. Indonesia adalah negara tetangga Malaysia. Mereka sering berkonflik. Orang  Indonesia sering mengumbar ganyang Malaysia sebagai bentuk kekecewaan terhadap tentara Malaysia yang suka menangkap nelayan Indonesia di selat Melaka. Mereka benci perlakuan majikan asal malaysia yang menyiksa pembantu rumah tangga  bahkan juga mereka sangat tidak suka pada klub sepak bola Malaysia yang mereka rasa curang dalam memenangkan pertandingan.

Meski kata orang kampung Pamilin adalah bagian dari Indonesia, tapi selalu saja aku menganggap kampung kelahiranku itu begitu jauh dari Indonesia. Orang kampung Pamilin memandang orang malaysia  sebagai kawan sementara orang Indonesia sulit jangkauannya. Bahkan semua kebutuhan orang Pamilin dipenuhi dari Malaysia, apalagi tentara Diraja Malaysia tidak seseram seperti menurut orang Indonesia. Mereka justru sering membantu memperbaiki jalan menuju Pamilin, sementara tentara Indonesia tidak aku tahu apa pekerjaannya.

“Nona, saya hendak pulang sejenak,” aku mengutarakan pamitku pada Nona Mey untuk pulang ke kampung setelah mendapat sesuatu kabar.

”Pulang ke Indonesia?” tanya dia

“Bukan.., saya hendak pulang ke Pamilin,” jawabku ringan tapi Nona Mey justru tersenyum, bahkan menurutku dia menahan tawa. Kemudian ia mengangguk mengizinkan.

“Cepatlah kembali lagi, aku semakin sibuk hari-hari ini.”

“Baik Nona.”

Setelah dua hari perjalan darat aku tiba di Pamilin. Setelah dua tahun aku tinggal, keadaan tanah lahirku begitu porak poranda. Seolah terkena musibah atau bencana. Rumah-rumah sebagian hancur. Sementara belantara di sekeliling desa sudah hampir sirna karena telah terbakar dan hangus.

Tapi aku mencoba bersikap biasa saja, karena mungkin inilah yang di ceritakan Agustinus saat tiba di Kuching kemarin. Ia bercerita tentang musibah yang menimpa kampung dan memporakporandakannya. Kemudian aku ingat ibu dan ayahku yang tinggal di tabing tengah kampung di samping gereja. Dan di hari minggu seperti ini mereka pasti berada di gereja yang sedang ramai kebaktian. Maka  aku langsung memutuskan menuju gereja.

Tapi belum sampai halaman gereja, aku dapati penduduk  sudah bergerak beriringan meninggalkan gereja. Padahal ini masih pukul 09.00, biasanya kebaktian selesai pukul 11.00.  Namun yang paling aneh di antara orang yang berjalan beriringan menuju pohon besar  itu terdapat beberapa orang membawa Mandau dan kampak.  Sedangkan Romo Yosep justru berada di barisan paling belakang. Maka aku segera mengikuti barisan itu dan menuju Samuel yang aku lihat berjalan di samping Romo.

Setelah bergabung di barisan, aku mencium tangan romo dan berjabat tangan dengan Samuel.

“Apa yang terjadi?” tanyaku pada Samuel.

“Penduduk hendak menumbangkan pohon malapetaka itu.”

“Pohon malapetaka?”

“Iya, pohon itu sumber malapetaka,” jawabnya.

Samuel juga bercerita jika mula dari malapetaka itu ada pada pohon itu. Karena pada suatu hari ada seseorang dari Indonesia datang di kampung. Ia membawa benda kotak kecil yang bisa menyala-nyala. Dengan kotak kecil yang disebutnya telepon seluler itu ia berbicara sendiri di bawah pohon. Dan katanya hanya di bawah pohon itu ia bisa berbicara dengan dunia luar yang ia sebut sebagai Jakarta, Surabaya dan Samarinda. Katanya ia akan mengundang teman-temannya ke sini pada suatu hari yang telah ditentukan.

Di hari yang telah ditetapkan itu penduduk desa mengadakan upacara penyambutan dengan tarian dan makanan yang jarang sekali mereka nikmati sendiri. Tapi ternyata sambutan itu tidak pernah memberi apa-apa. Dan kedatangan orang Indonesia itu juga tidak membawa berkah apa-apa, malah mereka membawa malapetaka bagi kami. Mereka meminta penduduk kampung meninggalkan Pamilin pada hari yang telah ditentukan. Tapi penduduk tidak bersedia diusir begitu saja dari tanah kelahirannya oleh orang yang bahkan belum pernah mengenal Pamilin sebelumnya.

Mengantisipasi tantangan pengusiran itu beberapa orang atas persetujuan pemimpin adat menggeser patok perbatasan antara Republik dan Kerajaan. Mereka menggeser patok lebih dekat dengan wilayah Republik sehingga wilayah kerajaan bertambah beberapa kilometer persegi. Itu dilakukan agar Republik tidak menghancurkan hutan itu juga, hutan tempat hidup beragam binatang dan tumbuhan. Maka binatang yang hidup di selatan kampung digiring menuju arah kerajaan daripada mereka kehilangan rumah dan mati sia-sia di hari yang telah ditentukan.

“Hari ini adalah hari yang ditentukan itu, para pemburu manusia akan mengusir dan membunuh kita,” ucap Samuel mengakhiri kisahnya.

“Tenanglah anakku, Tuhan tidak akan membiarkan ini terjadi,” tiba tiba Romo berbicara. Ia menyesalkan arogansi orang Indonesia yang sebelum meratakan kampung ini ternyata telah lebih dulu memusnahkan hutan dan membakarnya. Mereka akan membuka lahan untuk dijadikan kebun sawit dan kami adalah hama bagi perkebunan itu kelak jika tidak dibinasakan.

“Apa yang bisa kita lakukan?” tanyaku di saat pohon meranti itu mulai roboh. Rebahannya menimpa rerimbunan pohon yang lebih kecil dan menghancurkannya. Seiring ranting yang bercerai berai penduduk justru mengangis tersedu. Sementara gemuruh mulai terdengar dari balik rerimbunan hutan, suaranya mengaum-aum menyeramkan.

“Pergilah kembali ke Kuching, datangilah tempat yang disebut stasion telefision dan kabarkan cerita ini. Sementara kami akan tetap bertahan di sini mempertahankan tanah ulayat kami,” perintah Kai Albertinus pemimpin adat Pamilin.

“Segera pergi sebelum malapetaka besar itu benar-benar datang!” perintah Kai itu sekali lagi. Mendengar perintahnya aku segera berlari kepada ayah dan ibu. Aku memeluk mereka erat dan mengajaknya ikut pergi.

“Pergilah sendiri Nak, Ayah dan Ibu lebih baik mati  mempertahankan tanah leluhur ini. Apalagi kami memang sudah pantas mati sebab usia sudah senja. Dan kau yang masih perkasa berjuanglah di luar. Masa depanmu masih cemerlang.”

Ujar ayahku meminta aku untuk tidak ikut bertahan di sini melainkan harus meninggalkan tempat ini sebagaimana pemuda seperti Agustinus, Yama serta remaja seumuranku lainnya.

“Pergilah anakku, kabarkan pada dunia tentang apa yang mereka sebut Indonesia.”

Maka sesegara mungkin aku berlari menjauh bersama Samuel. Kami berlari menuju gua walet di atas bukit yang dari sana kami bisa melihat Pamilin dengan jelas. Dengan jelas kami melihat truk besar, tank , dan mobil besar menerjang kampung serta merobohkan pohon-pohon dan rumah penduduk. Kemudian orang-orang berbadan tinggi dan berseragam loreng yang disebut Samuel sebagai pemburu manusia keluar dari dalam truk dan tank serta langsung memberondong seluruh penduduk kampung dengan senjatanya. Samar-samar aku dengar umpatan mereka.

“Dasar penghianat negara, penggeser patok perbatasan, menghina kedaulatan.”

Tapi seiring angin berhembus dan hujan turun berlahan kemudian melebat suara itu jadi menghilang. Begitupun gambarnya. Sementara Samuel masih saja bergumam,“ orang Indonesia, pembunuh sesama manusia.”

Melihat kondisi Samuel yang kurang stabil kejiwaannya karena kembali mengenang bagaimana kakaknya dibantai di kota Sampit beberapa tahun lalu, aku mengajaknya masuk ke dalam gua sarang wallet. Hawa dingin di luar segera menjadi hangat. Aku pun tidur pulas karena masih lelah melakukan perjalanan dari Kuching ke Pamilin. Namun begitu bangun aku sudah tidak melihat Samuel di sampingku seperti semula. Aku segera berlari keluar gua.

Di luar gua matahari telah mengintip di balik bukit karena ternyata pagi telah menjelang, kabut tipis pun mulai tersibak oleh hangat sinarnya. Begitu pun kabut yang menutupi pemandangan  Pamilin dari atas bukit. Seiring kabut yang tersibak berlahan-lahan, tampak kampung itu telah menjadi merah. Sungai-sungainya pun ikut menjadi merah dan pohon juga memerah. Burung gagak mulai terbang mengitari kampung . Di salah satu sudutnya masih ada manusia berseragam loreng dan di bagian lain mesin pemotong telah menumbangkan beberapa pohon.

Tanpa pikir panjang, juga tanpa berpikir tentang Samuel aku segera berlari menuruni bukit sambil mengingat perintah pemimpin adat untuk kembali ke Kuching dan mengabarkan tragedi ini di stasiun telefision. Aku kembali menembus hutan namun tidak berani menengok kampung Pamilin yang telah menjadi kampung merah.

***

Seperti biasa, cuaca kota Kuching terasa begitu panas. Tapi rupanya tidak sepanas hatiku. Sudah beberapa media cetak dan telefision yang aku temui tapi mereka tidak bersedia menanggapi kabar yang aku ceritakan. Meski awalnya mereka sangat antusias dan saling memandang tapi begitu mereka menelpon seseorang pasti kemudian mereka menolak memberitakan ceritaku atas tragedi yang menimpa Pamilin dan penduduknya.

“Maaf Tuan, kami tidak bisa memberitakan kisah anda. Kami takut akan terjadi konflik komunal yang lebih besar di negeri anda seperti yang terjadi di Kota Sampit beberapa tahun lalu.”

Begitulah kira-kira jawaban mereka kepadaku sebelum kemudian kami berjabat tangan. Senyum mereka mengembang seperti bunga cubung yang membuatku makin pusing dengan tingkah mereka.

Ketika harapanku pupus dan pikiranku kacau karena putus asa, media terakhir yang aku kunjungi menyarankan aku agar melapor ke NGO Lingkungan hidup. Dan dari NGO itu,  aku mendapat informasi bahwa media tidak bersedia memberitakan kisahku bukan karena takut konflik komunal yang akan terjadi. Karena mereka tidak berkepentingan terhadap konflik itu.  Mereka takut memberitakan kisahku  karena di balik perusakan hutan di Kalimantan pada umumnya dan pembantaian di kampungku pada khususnya ada perusahaan plasma kelapa sawit asal Malaysia. Dan biasanya perusahaan itu memiliki andil dalam hiruk pikuk media dalam negeri. Maka sangat wajar jika media takut memberitakan ceritaku karena akan sangat berpegaruh bagi kelangsungan hidup media mereka.

Tapi ada  satu hal yang membuatku terkejut dan begitu kecewa bahkan tidak ada dalam bayanganku sebelumnya. Ternyata  di balik pembantaian di Pamilin ada perusahaan kelapa sawit milik Nona Mey. Majikanku sendiri yang baik dan bersedia menyekolahkanku hingga setingkat SMA bahkan bersedia membiayai kuliahku .

Meski dengan kekacauan dan kegalauan yang berkecamuk di benaku.  Tanpa media aku menulis kisah ini. Kisah tentang betapa jauhnya Indonesia.

 

*) Penulis adalah mahasiswa IAIN Sunan Ampel, Surabaya.

Bukan Sekali Duduk di Mulut Jendela

Cerpen John Kuan

*

1

lelaki di balik jendela
Gambar diunduh dari kolomkita.detik.com

Di luar jendela adalah Central Park. Pepohonan yang gugur habis dedaunan di dalam musim dingin menjulur hingga jauh dari bawah telapak kaki, menampakkan semacam sapuan warna keabuan ranggas dan kuning keemasan, di dalam diam senyap mengisyaratkan daya hidup yang tak terhingga. Pencakar langit di sisi dua jalan besar sebelah timur dan barat taman berdempetan naik turun seolah bergerak pergi, menatap ke bawah hamparan pepohonan itu. Langit adalah abu-abu diselingi warna biru muda. Pukul delapan pagi, mungkin bertepatan dengan hari minggu, kau akan merasakan New York adalah mati kaku, seperti baru saja terjadi sebuah kudeta, diam-diam dirasuki sedikit gelisah dan teror, orang-orang berada di dalam rumah menunggu, mengamati, tidak tahu apa yang mesti dilakukan, tidak tahu bagaimana mengurus satu hari ini, waktu sehari penuh ini.

Dari lantai enam belas memandang ke bawah, jalanan seakan kosong luas terbentang. Lampu lalu lintas masih berkedip seperti biasa. Di seberang jalan ada dua patung perunggu, dua-duanya adalah penunggang, dengan gaya pamer perkasa pamer wibawa, menebarkan hijau murung yang kuno, topi tentara dan tapak kuda membentuk sudut yang agak menggelikan, keseimbangan yang tak terkira. Pedang panjang penunggang menunjuk ke bawah, saya konsentrasi memandang ke arah itu, di bawah ujung pedang yang tajam ada dua lelaki mengelilingi sebuah drum sambil berloncat, di dalam drum dihidupkan segumpal api yang penuh asap, mungkin koran kemarin, dipungut dari tong sampah. Mereka menyulut koran dengan api, lalu berdiri di sisi drum mengambil kehangatan, mengerutkan leher menggosok telapak tangan, sesekali meloncat, juga berbicara, namun saya tidak dapat mendengar apa yang mereka ceritakan. Api berkobar sejenak kemudian melemah, mereka bergilir pergi mengorek ke dalam tong sampah yang di sisi jalan, setumpuk-setumpuk koran dilempar ke dalam drum, asap putih tiba-tiba memanjat naik, di pagi yang dingin beku, di satu pojok taman, di bawah ujung pedang patung penunggang perunggu.

Merpati-merpati yang bangun pagi berpencar terbang datang.
Merpati-merpati lalu mendarat di lapangan, senyap sekali.

2.

Saya menarik sebuah kursi ke mulut jendela, duduk menguji kesunyian. Beberapa orang di kamar lain sedang berbicara tentang masalah kebebasan berpendapat. Sesungguhnya tidak ada yang perlu dibicarakan, sebab mereka saling menyetujui, hampir sepenuhnya saling menyetujui, kebebasan berpendapat adalah hak asasi, semuanya seperti berebut mengatakan, samasekali tidak bisa diubah dan sebagainya dan sebagainya. Mereka seperti bukan sedang bertukar pendapat, tetapi lebih mirip bertukar logat masing-masing. Sesekali terdengar ada suara mengaung: Chauvinism!

Sekarang di atas jalan yang membelah taman mulai ada beberapa mobil bergerak pelan-pelan, keluar masuk di antara pepohonan. Langit menampakkan sekeping biru, cahaya matahari dengan hangat menyorotinya. Di telingaku terdengar gaung suara orang-orang berbicara, tanpa henti, penuh diselingi suara gelas berbenturan dengan es batu, dan suara batuk yang sesekali melayang naik. Semua ini mengapung di dalam ruangan, cahaya lampu memenuhi hingga ke setiap sudut, dan di luar jendela adalah diam senyap.

Mereka bergiliran mengeluarkan pendapat, sepenuhnya saling menyetujui.

3.

Sore itu saya kembali ke mulut jendela melihat Central Park, pepohonan, dan pencakar langit yang berkilau di dua sisi. Hari itu sejak pagi, matahari masih belum mengundurkan diri. Di jalanan kian bertambah pejalan kaki, bahkan ada beberapa pedagang sedang menjual sweeter di mulut pintu taman, sehelai-sehelai digantung di minibus, berwarna terang, membuat orang berhalusinasi musim semi telah tiba.

Tapi musim semi belum tiba, atau mungkin sudah tiba. Saya melihat danau kecil berbentuk bulan sabit di dalam taman, setelah lama membeku, ternyata mengepak beterbangan beberapa ekor merpati yang riang. Merpati bermain air di beberapa bagian permukaan danau yang sudah mencair, bolak-balik menjulang menusuk, begitu mendekati permukaan air mengepak sayap mereka, cepat dan bernyali, menebarkan percikan air yang tak terhitung, begitu semangat bergiliran mengepak sayap, berebutan, tidak juga takut air danau yang baru mencair terlalu dingin.

Saya berdiri di tempat tinggi. Seumur hidup ini masih belum pernah melihat pemandangan yang begitu nyata, mencairnya sedanau air, setelah air danau itu menutup diri karena terlalu lama menahan dingin, setelah terkejut jadi retak-retak, tiba-tiba karena ada aliran hangat lewat, ternyata bisa juga dengan diam-diam mencair dari dalam, bahkan meluap keluar segenang air jernih, sekalipun di saat orang-orang bergegas memburu perjalanan, atau agak bosan terpaksa berdagang keliling sweeter, atau mengurung di satu sudut lantai tinggi berdiskusi Whitman, berdiskusi sastra anak-anak, memetik, meminjam, menghempas dengan keras sebuah ungkapan, mengisap rokok dengan gelisah, agak panik menggunakan Bahasa Inggris, sedang menguji-coba perlunya perdebatan dan unjuk diri, satu musim semi tiruan seakan telah tiba, air danau telah mencair, merpati dari tengah jalan terbang masuk ke dalam taman, sedang membersihkan sayap mereka di permukaan air yang dangkal.

Di bawah cahaya matahari musim dingin yang hangat dan warna-warni, merpati mengepakan sayap mereka dalam tempo cepat, gayanya yang bernyali itu bahkan membuat orang lupa bahwa sesungguhnya mereka mesti termasuk salah satu jenis burung berwarna abu-abu, sekarang tanpa henti memamerkan bulu-bulu mereka yang putih bersih, yang tersembunyi di tempat yang paling mendekati darah dan tulang, pernah di dalam dingin beku mempertahankan sedikit kehangatan. Saya dari atas menatap ke bawah, seolah mendengar sepotong alunan piano yang jernih, jari-jari tangan lentik bergerak berloncat dengan cepat beterbangan di atas tuts-tuts hitam dan putih, hanya melihat kumpulan merpati mendekati permukaan danau berputar, menusuk ke arah air jernih yang baru mencair, mengepak dengan sayap-sayap bergelora, menebarkan percikan air yang menyilaukan mata, berpijar bagai api.

*

See, they return; ah, see the tentative

    Movement, and the slow feet,
    The trouble in the pace and the uncertain
    Wavering!

 

      ——— Ezra Pound

1.

Saya ingin berbicara denganmu, dengan cara begini. Saya ingin duduk begini, duduk di mulut jendela, di luar hujan masih terus turun, seolah belum pernah berhenti sejak tadi malam. Di luar jendela kamar penginapan, langit dan bumi basah kuyup, dinding-dinding gedung tampak berwarna kuning pupus, jejak-jejak air malang melintang tercetak di atasnya, bergetar di dalam lembab dan dingin. Di satu sudut yang agak jauh tegak sebatang tiang bendera yang luar biasa besar, bendera yang terlalu lama direndam air hujan, menumpuk jadi segumpal kain basah dan berat, walaupun warnanya tampak jelas, tetapi lelah tergantung di sana, samasekali hilang semangat. Lebih jauh lagi apapun sudah tidak kelihatan, bersembunyi di belakang hujan senja, ada sedikit bayangan agak kabur, mungkin atap restoran, atau papan reklame, atau antena. Saya sesuka hati menyapu pemandangan di luar, ada semacam perasaan yang aneh: Bagaimana bisa bertemu dengan cuaca yang begini lembab, di Taipei?

Saya coba mengatur kembali pikiran yang kacau.

Hanya kacau saja, tidak apa-apa, bukan, bukan, bukan tidak senang, bukan gelisah.

Saya sudah lupa kapan pertama kali berkunjung ke kota ini, lima belas tahun yang lalu? Atau lebih? Musim panas tahun itu saya seorang diri datang ke kota ini. Kita berjanji bertemu di sebuah kedai kopi, seperti biasa, cerita-ceritamu membuat seluruh perjalanan menjadi ringan. Saya mesti mundur lagi lima tahun, teringat malam pertama kita, di atas sepuluh ribu kaki, membelah Lautan Teduh, saya ingin mengajak kau bicara, bersama-sama membunuh waktu yang tak terhingga di dalam sebuah penerbangan panjang, namun kau mati-matian menggenggam sebuah injil, membenamkan diri ke dalam cerita-cerita kudus, saya tidak tahu harus masuk dari celah sebelah mana. Akhirnya saya mengambil resiko dengan beberapa buah puisi, sebotol tabasco dan sesungai cerita ikan salmon melawan arus mempertahankan spesiesnya. Ternyata ampuh, kau mencair jadi searus air jernih, sebuah nyanyian merdu dari lembah yang hening, tanpa henti, dari Taipei hingga Anchorage hingga Seattle hingga New York, saya disihir jadi pendengar tak terhingga, dan kau tetap adalah gadis dari sekolah katolik yang ingin menjadi santa.

Kau membawa saya keluar masuk lorong-lorong sempit, bercerita tentang rencanamu pindah ke San Fransisco, membeli sebuah rumah di tepi laut. Kita berputar dan berputar lalu keluar di sebuah jalan yang cukup lebar, saya masih pendengar tak terhingga, tetapi di saat matahari senja dengan potongan-potongan besar cahayanya menumpah di atas bangunan di satu sisi jalan hingga terang dan mewah, konsentrasiku pecah, sedikit tersentuh melihat bangunan itu berkata:

” Matahari ini sungguh bagus ”

” Memang bagus. Begitu terang. Begitu hangat. ”

” San Fransisco pasti juga begitu. ” Saya berkata: ” Sesungguhnya belum pasti. Ada orang merasa California semestinya begini atau begitu, namun sering bukan demikian. Nathanael West pernah menulis sebuah novel… ”

” Novel apa? ”

” Judulnya sudah lupa. Begini kira-kira ceritanya, ada seseorang yang sejak kecil seluruh harapannya tertuju ke California. Dia tumbuh besar di sebuah kota kecil di Midwest. Dia berpikir, California sama dengan buah orange dan sinar matahari, dan sebagainya, dan sebagainya. Akhirnya dengan susah payah dia sampai di California — mungkin California Selatan — baru menyadari bahwa bukan di setiap tempat dapat menemui buah orange dan sinar matahari. Mungkin saja ada buah orange dan sinar matahari, namun juga ada hal-hal lain, seperti berbagai macam kekerasan, penipuan. Dia sangat kecewa. ”

” Lalu? ”

” Sangat kecewa, lelah, sedih. ”

” Lalu? ”

” Lalu mati. ”

” Mati? ”

” Mati. ”

Kau berkata bahwa saya benar-benar tidak pandai bercerita. ‘ Lalu mati ‘ bagaimana bisa dianggap sebagai penutup novel? Saat itu kita berputar masuk ke jalan lain, pelan-pelan bergerak ke depan menghadap matahari senja, seperti tak berujung, seperti menuju rumahmu yang di tepi laut, di San Fransisco itu. Kau kelihatan begitu bersemangat, mulai mendeskripsikan bagaimana dan bagaimana rumahmu yang di tepi laut itu. Saya kehilangan konsentrasi. Bukan tidak berminat, saya sangat nyaman memandang jalan yang terhampar di depan, cahaya matahari senja yang berpijar jatuh menutupi seluruh jalan, memantul di atas rumah-rumah bergaya kolonial, genteng merah, tembok putih, pagar rendah dan pohon hijau bunga merah. Kau terus mendeskripsikan rumahmu yang di tepi laut, saya hanya menyahutnya, tidak henti-hentinya mengangguk.

2.

Saya membawa sebuah payung hitam turun ke jalan, keluar masuk lorong-lorong, berputar dan berputar, tergesa-gesa menyeberang, saya ingin begini berbicara denganmu, dalam suara hujan, dalam suara nafas saat berjalan, mobil-mobil bergerak pelan dan senyap, samasekali tidak terdengar suara mesin. Air hujan yang jatuh di atas payung, menimbulkan suara tumpul yang menggema, membuat saya terasa begitu aman, benar-benar aman. Di atas trotoar bata merah orang lalu lalang, tidak kelihatan ada raut wajah tidak bahagia. Taipei telah hujan. Muka toko besar maupun kecil semuanya bergantungan butiran air dan uap, namun di dalamnya masih seperti biasa, banyak orang berdiri atau duduk, sedang memilih lagu-lagu di dalam cakram, sedang menutup dan membuka buku, sedang memperhatikan sebuah baju rajutan, sedang mencoba sebuah topi, sedang tertunduk menyeruput sup, sedang dengan sendok keramik menikmati pangsit rebus, ada orang angkat kepala minum anggur, matanya menatap lurus keluar jendela, tepat mengenai saya. Di sudut lobi sebelah sana, terpisah sebuah meja ada lelaki berbicara dengan perempuan, di dinding tergantung beberapa lembar poster, selembar adalah New York, selembar adalah Brussel, selembar adalah Sydney, selembar adalah Bali.

Saya samasekali tidak ada ekspresi tidak senang, sesungguhnya saya sangat senang, saya dan kau yang hidup di dalam nafasku, kita cukup tidur, kondisi prima, samasekali tidak ada masalah jetlag. Saya tertarik memperhatikan orang-orang yang berjalan di trotoar, berani pastikan yang menyeberang ke sana kemari sebagian besar adalah turis, turis semacam diriku, di musim dingin, karena suatu keperluan harus melakukan perjalanan, mungkin bisa menemui sedikit kesulitan, mungkin juga tidak, dan dengan santai sudah mendarat di Taipei.

3.

Di hari kedua hujan sudah berhenti, saya masih juga keluar masuk lorong-lorong, berputar dan berputar. Orang-orang telah mengatupkan payung pegang di tangan, agak ringan mengayunkan kaki, lihat sana lihat sini. Dari satu sudut jalan yang agak jauh meniup datang sedikit suara seruling atau alat tiup lain, orang-orang mengitari satu pojok itu, kelihatannya seperti turis, iya, turis yang mirip diriku dan dirimu ini. Saya menpercepat langkah, sebab musik itu menarikku. Seorang polisi muda dengan seragam biru berputar keluar dari samping lalu bergerak maju serentak bersamaku. Dia mungkin juga tertarik oleh musik itu, matanya menatap lurus ke pojok jalan yang ada kerumunan. Suara musik kian dekat, nada yang tidak asing, seperti nyanyian, sahutan, keluhan orang Indian, juga seperti nyanyian Spanyol, membawa sedikit irama religi abad pertengahan yang bertahan hingga hari ini, displin agama Katolik dan puasa agama Islam, seolah, atau mungkin, adalah penyatuan syair dan nada itu, semacam harapan dan permohonan yang berulang kali ditumpuk, bermaksud, bersabar, dengan irama cepat disiarkan kemari, menceritakan, seolah, atau mungkin saja, seolah menceritakan sepotong dan sepotong kisah yang hampir sama, yang terjadi di dataran tinggi, di dalam lebat hutan hujan, di dalam sungai besar yang menggemuruh, di padang datar dan bukit yang dekat laut berangin, seorang lelaki dan perempuan saling mencintai, ternak diam-diam memamah rumput, di atas dahan burung-burung bercericit, dua ekor elang berputar di langit biru, di dalam dusun lelaki sedang menimba air sumur, sedang memperbaiki tapal kuda, sedang memberi makan keledai, perempuan-perempuan duduk menjadi lingkaran, di bawah pohon rindang sedang mengupas kacang, rambut tebal dibiarkan jatuh di pundak, di belakang punggung, di dalam gelap menembus sedikit keemasan misterius.

*

Begitu masuk saya langsung terpukau dengan semua yang ada di luar jendela, merasa kapan saja buka mata memandang keluar, seperti bisa diduga, akan terjadi sesuatu, misalnya matahari pagi dan cahaya senja bagaimana timbul tenggelam, awan dan angin bagaimana berubah, warna pulau-pulau, jejak kapal melintas, bahkan mungkin saja dapat melihat kibasan ekor ikan hiu — konon perairan ini adalah tempat ikan hiu berkembang biak. Tempat ini di ketinggian lantai sembilan, seandainya memiliki cukup kesabaran, bisa saja memandang hingga sangat jauh. Awalnya memang demikian, terhadap penorama asing ini memiliki semacam pandangan yang polos, tulus, antusias, romantis, oleh sebab itu tidak henti-hentinya mengatur jarak pandang, semoga dapat melihatnya dengan sangat teliti, paling bagus adalah teliti namun tidak begitu jelas; semoga membiarkan ia memelihara sedikit misteri, sehingga saya bisa bertahan lebih lama mencarinya, karena tidak mengerti maka lebih ingin mencari, tentu saya tidak tahu apa yang dicari, atau kenapa pernah mencarinya, sekalipun antusias, romantis.

Hampir tengah hari, saya ingat adalah di saat matahari tengah hari sedang berpijar, saya berjalan ke arah mulut jendela yang di sisi pintu kaca menuju balkon, pasti kelihatan lelah dan serius, wajah yang baru keluar dari tumpukan buku kurang lebih mesti begitu, dan di dalam ruangan sunyi senyap. Saat itu, cahaya matahari yang dipantul masuk dari arah tenggara sudah mundur habis, namun di empat dinding masih berpijar kehangatan, mungkin ditebarkan oleh bayangan air berkilau di permukaan laut yang jauh. Saya melihat seekor elang.

Dia begitu nyata berdiri di sana, di atas pagar balkon, mungkin hanya sedepa di luar pintu kaca, membuat saya demikian terkesima memandangnya, lalu dengan lirikannya yang mempesona memandangku sebelah mata, seperti samasekali tidak mengacuhkan, elang memandang saya sekali lagi, matanya persis seperti mata barbar yang dinyanyikan Du Fu, tapi kepalanya berputar lalu berhenti menatap air laut yang berpijar, lama sekali, baru memutar kembali, tetapi pasti bukan demi melihatku, dia begitu kanan kiri berputar mengamati, saya pikir itu hanya semacam gaya angkuh bawaan, refleksi pundak dan leher, tegar, tegas, berwibawa. Saya menahan nafas melihatnya, dia berdiri di dalam cahaya matahari, di belakang pagar balkon yang berwarna hijau apel adalah biru air laut yang luas, dan langit yang tak terhingga, menampilkan sebuah latar yang amat misterius sekaligus sangat biasa, timbul tenggelam berjalin dengan alunan tipis musik yang seolah dekat seolah jauh. Saya melihat, mendengar semua ini.

Elang begitu saja berdiri di atas pagar balkon, memamerkan pada saya gaya indahnya yang lengedaris. Kepalanya kokoh, warnanya hijau keabuan membawa sedikit kuning gelap; kedua matanya bergerak sangat cepat, dan paruhnya yang melengkung seperti setiap saat dapat melumpuhkan ular dan kalajengking di padang tandus. Bulu-bulu di sayapnya berwarna terang, mengikuti corak kepala dan leher menjulur, menutup, setiap helai bulu mungkin saja telah diatur, disusun, tidak ada sedikit pun kekusutan, berlawanan, begitu teratur, begitu tenang, terpenjam istirahat, samasekali tidak menaruh perhatian terhadap antusias dan eksistensiku. Dengan cakarnya yang laksana besi bagai rantai erat-erat mencengkeram pagar balkon, lihat kanan lirik kiri.

Mungkin di dalam hati terbesit berbagai macam bentuk dan suara yang berbeda. Atau mungkin di satu dunia lain yang jauh, saya juga pernah bertemu dengannya, dengan antusias, kaget, dan satu ketulusan yang sama untuk mengingat dia selamanya, dan menangkapnya, tidak perlu jaring perangkap atau anak panah, gunakan puisi:

Dengan kedua tangan bengkok dia cengkeram tebing;
mendekati matahari di tanah yang agak sunyi,
selingkaran dunia biru mengitarinya, dia berdiri

Laut penuh kerutan merayap di bawahnya;
dari sebaris dinding gunung, dia memandang,
lalu berguling jatuh, bagai halilintar membelah langit

——— Alfred, Lord Tennyson

Elang seketika seperti terganggu, sejenak setelah saya membisikkan enam baris serpihan puisi Inggeris ini, menghadap sepuluh juta garis cahaya emas yang bergetar, dia benar-benar menggulingkan tubuh jatuh, membuka sayap, begitu ringan, merentangkan kedua sayapnya yang kokoh, menggores langit, pergi.

Air Mata

Cerpen Ragil Koentjorodjati

mata air mata
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Aku hampir tidak percaya ketika pagi itu, selepas bangun tidur, aku membuka tudung saji dan mendapati hanya ada dua tetes air dalam gelas bening di meja. Tidak ada nasi. Tidak ada lauk. Tidak juga sayuran. Hanya dua tetes air dalam gelas bening di meja. Tanpa harum wangi rempah-rempah digoreng. Tanpa aroma masakan, bahkan aroma asap pun tak ada. Udara begitu bersih dan segar, tidak seperti biasa. Tanpa bau keringat manusia. Entah ke mana perginya istriku. Biasanya, pagi begitu riuh dengan bebunyi alat dapur dan dendang riang istriku, sebelum aku terbangun karena basah bibir menindih kelopak mataku, aneka hidangan telah tersaji di meja makan. Tapi kali ini tidak. Pagi menjadi sungguh tidak biasa. Hanya ada sunyi. Hampa. Aku sendirian.Aku alihkan pandangan mataku ke dispenser. Kosong. Perihal ini aku sedikit ingat, sudah dua hari pabrik air olahan isi ulang macet produksi. Terakhir kali ada sesuatu, serupa cacing, berenang di air dalam botol isi ulang. Berenang dengan riang. Mungkin sebab itu pabriknya tutup. Kabar yang kudengar terlalu banyak keluhan tentang cacing dalam botol, meski sebenarnya bukan cacing. Hanya serupa cacing. Dan dispenserku menjadi hiasan dapur. Tidak lagi berisi. Seekor kecoa paruh baya asyik bermain sungut di atasnya. Meski cukup haus dan lapar, tetapi aku belum berpikir untuk menjadikan kecoa sebagai lauk hari itu. Kecoa bukanlah hewan yang baik bagi manusia.

Mungkin masih ada sesuatu di kulkas. Aku buka kulkas. Tidak ada yang bisa dimakan. Tidak ada yang bisa diminum. Hanya sedikit aroma debu dan bau sangit menyeruak, semacam aroma kebakaran listrik dalam skala kecil. Aku mencoba mengingat, sejak kapan kulkas itu kosong. Lalu aku menyadari aroma itu. Listrik mati beberapa hari lalu menyisakan kebakaran ringan pada alat elektronik murahan. Tentu saja kebakaran semacam itu tidak boleh diperhitungkan sebagai kerugian yang bisa dimintakan ganti ke perusahaan listrik. Aku tidak terlalu ambil pusing meski seharusnya mengajukan keberatan atas iuran bulanan yang mulus-mulus saja. Pagi itu aku lebih butuh minum daripada ribut soal bayar listrik.

Aku perhatikan gelas bening di meja makan. Masih di sana. Sepertinya tidak lagi dua tetes air di sana. Ada empat atau lima tetes barangkali. Aku tidak habis pikir dari mana tambahan air itu. Mungkin air dari atap rumah yang lalu rembes, menetes melalui retakan genteng atau lubang semut. Entah. Air bisa lewat mana saja, lewat tempat yang tidak pernah kauduga, lalu mungkin menetes masuk ke dalam gelas. Atau barangkali kencing kecoa yang sebelumnya asyik bermain sungut di atas dispenser. Itu pun sebuah kemungkinan lain. Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja air dalam gelas itu lebih banyak dari yang sebelumnya. Mungkin saja aku rabun usai bangun tidur, belum sepenuhnya sadar. Atau lebih tepatnya kesadaranku baru sebatas rasa bahwa aku kehausan. Tapi aku belum sudi minum air kencing kecoa, andai benar tambahan air dalam gelas itu bersumber dari kencing kecoa. Tidak sudi juga aku minum air dari atap bocor. Aku hidup di negeri yang kaya raya, tempat air berlimpah ruah bahkan bila batu dipecah, air akan membuncah. Masak harus minum air kencing kecoa, pikirku.

Sudah jadi kebiasaanku bahwa ketika bangun tidur aku minum dua-tiga gelas air putih sebelum kemudian melanjutkan aktivitas. Tetapi pagi itu memang lain dari biasanya. Tidak ada yang dapat kuminum. Aku berpikir, mungkin lebih baik memasak air dari sumur atau air ledeng daripada minum kencing kecoa atau air dari atap bocor. Segera aku mencari perlengkapan memasak, maklum sejak ada dispenser aku hampir tidak pernah memasak air lagi. Aku cari kompor. Kompor minyak kutemukan di bawah meja dapur, tidak ada minyaknya. Aku lupa kalau sudah tidak jaman lagi masak memakai minyak tanah. Aku coba kompor gas. Masih tersisa nyala api sedikit biru kemerah-merahan. Aku tersenyum sedikit lega. Tinggal mencari panci dan tentu saja air. Aku masih belum ingat, mengapa istriku tidak memasak air jika dispenser kosong.

Panci tidak sulit kutemukan. Teronggok masih kotor di kamar mandi, belum di cuci. Sisa bumbu mie instan menempel di kanan kiri panci. Bergegas aku hendak mencucinya. Tetapi alangkah terkejutnya ketika kudapati tidak ada air dalam bak mandi. Habis tandas. Seingatku, pada malam terakhir aku mandi, air  masih ada, setidaknya setengah bak mandi. Ke mana perginya air itu, tanyaku dalam hati. Memutar kran, tidak ada yang keluar. Hanya desis angin bercampur bau karat.

Aku tidak habis mengerti mengapa air bisa lenyap dari rumah ini hanya dalam waktu semalam. Jam dinding masih berdetak seperti biasa. Jarum panjang berputar sangat perlahan menunjuk angka 7. Jarum pendek malas beringsut dari angka 6. Masih pagi. Masih tidak salah untuk bangun tidur. Penanggalan tergantung setengah miring pada tembok yang lancang menonjolkan bata merahnya.

“Wahai, siapa yang mengubah angka tahun itu?” bisikku terperangah.

Angka 2078 bertengger di atas gambar gadis sampul tanpa celana. Selembar daun seolah menutup sesuatu yang gagal untuk tidak diperlihatkan. Wajahnya bukan wajah istriku. Wajah gadis itu sedikit keriput. Hanya buah dadanya tetap penuh. Silikon tidak mengenal usia rupanya. Dan istriku tidak menggunakan silikon hanya untuk mempermontok payudara. Tahun 2078. Aku bingung. Aku mencoba mengingat. Tapi aku lupa ingatan. Tidak ada yang kuingat.  Air dalam gelas bening setengah penuh. Apa yang sebenarnya terjadi, bingungku menjadi-jadi.

Perlahan kulangkahkan kakiku keluar rumah. Tidak peduli andai wajahku tampak kusut dan rambut awut-awutan. Sepintas aku dapat mencium bau busuk tubuhku sendiri. Biarlah, pikirku. Tidak ada air untuk mandi atau hanya untuk cuci muka. Mungkin di tempat tetangga ada sedikit air tersisa. Aku tertawa. Hanya sedikit tertawa, sebab hatiku sesungguhnya tidak tertawa. Waktu satu malam sepertinya mengubah segalanya.

Matahari mulai meninggi. Udara terasa begitu panas. Rumah-rumah berderet rapi. Tanpa pepohon di sepanjang jalan. Tempat yang tidak kukenali. Entah ke mana perginya para tetangga. Entah di mana pohon berpindah tempat untuk tumbuh. Rumah-rumah megah di depanku sunyi sepi. Di ujung jalan kulihat dua bocah kecil menari. Aku datangi mereka sambil tersenyum mesra. Begitu mesra.

“Orang gila! Orang gila!”

Mereka berteriak sejadi-jadinya. Tarian buyar berganti gerakan liar memungut apa saja yang ada di dekatnya yang lalu dilemparkan ke arahku. Tanah, batu, pasir, kayu dan ranting kering, terbang ke arahku. Tepat ke arahku.

“Hei!” teriakanku putus di ujung bibir. Segumpal tanah menutup mulutku. Mereka lari lintang pukang.

Aku cengengesan sebelum kemudian tidak lagi mempedulikan mereka. Kulangkahkan kakiku menuju rumah-rumah megah. Masih sunyi dan sepi. Tetap sunyi dan sepi. Tanpa penghuni. Kota apakah ini, tanyaku dalam hati. Sunyi dan sepi seperti kota mati. Kering dan gersang seperti kota usang. Tidak ada manusia. Tidak lagi kutemui para tetangga. Mungkinkah mereka mengungsi mencari air dan aku tertinggal di belakang? Aku memilih pulang sembari berharap keajaiban terjadi. Aku berharap istriku sudah kembali dari mana saja ia telah pergi.

Di meja, air dalam gelas bening terisi penuh. Aku berkaca padanya. Tak kukenali wajahku. Wajah siapa, entah, plethat plethot tanpa bentuk. Begitu abstrak. Perlahan, aku reguk sedikit air dalam gelas bening. Alangkah terkutuknya hari ini, gumamku, sekedar untuk minum saja tidak ada air kudapati. Air dalam gelas bening terasa asin. Seperti rasa air mata. Aku tidak peduli meski ada semacam rasa nelangsa menusuk dada. Mungkin tanpa kusadari air mataku menetes di sana.

Dengan gelas masih di tangan aku menuju ke kamar mandi sekedar ingin membasahi muka dengan sedikit air tersisa di gelas bening. Cermin retak berlumut memantulkan wajah kusut awut-awutan. Semakin abstrak. Wajah dalam cermin berurai air mata. Aku ingin meminum air yang berlimpah di sana. Air dari air mata. Air mata dari wajah yang pernah kukenal. Lalu gelas bening di tanganku tiba-tiba terisi  penuh air. Aku tuang sedikit ke mukaku. Basah. Wajah dalam cermin basah. Cermin basah. Tanganku basah.

Air dalam gelas bening tidak berkurang. Mataku basah. Bak mandi basah. Kran air, basah. Semua menjadi basah. Aku menangis bahagia sejadi-jadinya. Rumahku berlimpah ruah dan membasah. Air rembes dari mana saja. Dari mataku mengalir air tak berkesudahan. Membanjiri rumah. Membanjiri segala. Sejak itu aku terbiasa minum air mata dan memasak dengan air mata.

 

Ujung Mendung, Desember 2011

Andai

Cerpen Gunawan Wiyogo Siswantoro

kota semrawut
Gambar diunduh dari byskell.files.wordpress.com
Hari ini Jakarta resmi menjadi kota mati! Seakan sebuah black hole ditaruh di pusat kota dan menelan habis setiap gram denyut kota lengkap dengan segala energi kehidupan di dalamnya. Satu dua helai daun meluruh malas ditiup angin melewati beberapa angkot dan bus yang teronggok di tengah jalan. Tapi sungguh aku lebih suka Jakarta yang mati. Seperti saat ini.

*****

“Dengar! Aku tidak suka dikencingin!!!”
“Phufft, aku kira tidak ada satu pun yang suka.”
“Setidaknya dia bisa membersihkan bekasnya.”
“Jangan harap, norma sudah lama mati.”
“Ingin rasanya aku tendang pas di kemaluannya!!”
“Haha, sebaiknya jangan, pasti modar itu orang.”
“Pokoknya aku tidak bisa terima, Eko-. Selain itu, kau ingat kapan terakhir kali lokomotif kita diservis? Aku kira itu beberapa tahun yang lalu. Ingat teman kita, si Ekonomi Jurusan Bogor-Jakarta Kota yang dibakar supporter bola kemarin hari gara-gara dia ngadat di tengah jalan raya yang sedang padat. Aku tau dia mempunyai masalah di lokomotifnya yang sudah tua. Oh, jangan berusaha membantahku. Dia sendiri sering mengeluh padaku sehabis seharian disiksa jadwal, penumpang dan bos kita.”
“Aku tidak berusaha membantahmu kawan. Aku cuma mau bilang kita semua mempunyai nasib yang hampir sama di sini. Sudah, sudah. Waktunya kerja dan ingat… Jangan mencelakai orang. Setidaknya kau lebih bermartabat ketimbang aku. Gerbongmu ber-AC, kau tak pernah merasakan membawa penumpang 2 kali batas maksimalmu kan? Syukuri itu, Fellas.”
“Entahlah, aku sudah cukup muak. Oke oke baik, aku tidak akan bertingkah, jadi tolong singkirkan wajah cemberutmu itu.”
“Hehe, kau memang lucu.”

*****

Nafasku tersisa separuh saat seorang petugas loket kereta api menguap lebar pagi itu. Ketololanku bermalas-malasan di tempat tidur 10 menit lebih lama di pagi hari tadi terbayar sudah dengan sederet macet yang menghadangku. Belum genap pukul setengah tujuh dan aku sudah harus berjibaku tergopoh-gopoh jika tidak ingin gajiku yang kecil tersunat karena telat masuk kantor. Beruntung kereta lokal tujuan Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat (stasiun terdekat dengan kantorku) yang menjadi langgananku 5 tahun terakhir belum berangkat meskipun penumpang di dalamnya sudah dalam kondisi yang sangat tidak manusiawi. Berjubel, berdesakan sampai hampir tumpah ruah di dekat pintu masuk gerbong. Yah, untuk dua ribu perak itulah layanan terbaik yang bisa kau dapatkan. Puluhan juta pekerja dengan bermacam profesi di kawasan Jabodetabek ini memang sudah sangat bergantung dengan keberadaan angkutan kereta lokal meskipun harus berimpitan satu sama lain seperti sekarang. Sebenarnya ada alternatif lain untuk hal ini. Kereta lokal express atau kereta lokal ekonomi AC yang jauh lebih longgar, nyaman, cepat, tepat waktu dan mahal tentu saja. Tarifnya yang sedikit menguras kocek membuatku berpikir dua kali menimbang kebutuhan bulanan versus gajiku yang sering minus.

*****

Ibu Ratih masih memegang pisau dapur saat mengangkat telepon rumahnya yang berdering. Sebuah deringan yang akan merusak pagi indahnya.

“Selamat pagi, apa benar ini kediaman Bapak Wiliam Sujatmiko?”
“Selamat pagi, iya benar sekali.”
“Dengan ibu siapa saya berbicara?”
“Saya Ibu Ratih, istri beliau. Mohon maaf, Pak. Suami saya sudah berangkat kerja sekitar 20 menit yang lalu.”
“Sebenarnya bukan itu maksud dan tujuan saya menelpon Ibu. Sedikit sulit untuk mengatakannya.”
“Maaf, saya tidak mengerti maksud Bapak.”
“Mmmhh, suami Anda mengalami kecelakaan lalu lintas di Jalan Sudirman dan sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit.”
“Apa???!!!! Bagaimana keadaan suami saya, Pak??!! Saya harus segera ke sana, tolong berikan alamat rumah sakitnya!!”
“Iya Bu, tapi saya minta Ibu menenangkan diri. Kita doakan yang terbaik untuk suami Ibu. Ibu sekarang langsung ke Rumah Sakit Fatmawati”
*Klik*.

Ibu Ratih merasakan degup jantungnya berlarian sepanjang jalan. Mulutnya yang mungil tak henti merapal sesuatu, entah itu doa, entah gugup. Rumah Sakit Fatmawati memang hanya berjarak 5 km dari rumahnya, namun kali ini perjalanan 20 menit menuju tempat itu terasa seperti perjalanan melewati dimensi lain, terasa berjam-jam bagi Bu Ratih. Sesampainya di rumah sakit, hentakan di jantungnya makin mengejar kala beliau tiba di rumah sakit yang dimaksud penelpon tadi. Bagaimana bisa itu terjadi, suaminya tidak ada di rumah sakit yang disebutkan tadi dan tidak ketahuan rimbanya. Untung dia sempat menyimpan nomor penelpon tadi.

“Pak, suami saya di mana??!! Saya sudah di rumah sakit tapi tidak ada pasien dengan nama suami saya. Jangan macam-macam ya, Anda bisa saya laporkan polisi kalau berniat jahat pada suami saya.”
“Ibu, ibu tenang dulu. Saya bukan penjahat, saya ini pegawai di Rumah Sakit Fatmawati dan saya sama sekali tidak berniat jahat kepada siapapun. Suami ibu dan saya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, kami sedang di dalam ambulans namun macet sangat parah disini Bu.”
“Tt..tolong suami s..saya, Pak.”
“Pasti Bu, kami upayakan yang terbaik untuk suami Ibu, tolong Ibu bantu dengan doa dan keikhlasan.”

Ibu Ratih sudah dalam kondisi setengah pingsan saat ambulans itu datang 3 jam setelah percakapan terakhir dengan petugas rumah sakit yang menolong suaminya. Yah, 3 jam dalam perjalanan yang membuat suaminya kehabisan banyak darah dan meninggal di tengah kerumunan macet Jakarta. Tak perlu ditanya bagaimana kondisi Ibu Ratih yang seketika itu histeris dan terjatuh lemas, pingsan. Butuh beberapa jam hingga beliau siuman dan pingsan lagi setelah ditemani petugas rumah sakit yang tadi. Beberapa kata yang sempat didengarnya bahwa suaminya terjatuh setelah bersenggolan dengan sesama pengemudi motor yang melaju meliuk-liuk di kerumunan macet pagi itu di bilangan Jalan Sudirman.

*****

Oke, kantorku memang tergolong dekat dilihat jaraknya hanya sekitar 25 km dari kostku. Hanya dibutuhkan kurang dari setengah jam kalau ditempuh dengan motor tua bebek tahun ’70-an yang kecepatan maksimalnya hanya 70 km/jam seperti yang aku pakai setiap hari. Namun itu jika Jakarta dalam keadaan ‘tidak normal’ alias keadaan hari Minggu atau keadaan hari libur nasional atau dalam bahasa yang lebih mudah dikatakan, TIDAK MACET. Jadi dalam keadaan Jakarta ‘normal’ perjalananku ke kantor memakan waktu tak kurang dari 2 jam penuh bahkan sering lebih lama. Wow! Artinya setiap hari aku harus bangun sangat pagi bahkan sebelum matahari mengucek matanya. Tapi sebenarnya apa yang membuatku muak bukan mengenai lama perjalanan itu. Berlama-lama di tengah kemacetan membuatku merasa sangat tidak berguna. Bahkan aku percaya emosiku yang tidak stabil dan kecerdasan otak yang menurun disebabkan karena seseorang terlalu lama disekap kemacetan. Yah, aku percaya itu terjadi padaku di hari-hari pertama aku masuk kantor. Beruntungnya 1 km dari tempat kostku ada stasiun kecil dan ada kereta lokal tujuan Stasiun Pasar Senen yang singgah di stasiun kecil itu setiap 1 jam sekali. Kantorku pun bisa dijangkau dengan jalan kaki 10 menit dari Stasiun Pasar Senen itu. Ya bisa dibilang solusi yang menyelamatkan hidupku beberapa bulan terakhir.
Namun pagi itu aku cukup malas untuk bangun. Alhasil berangkat ke kantor hanya dengan cuci muka dan gosok gigi. Nanti aku mandi di kantor saja, begitu pikirku. Motor tua itu pun kugeber habis-habisan menuju stasiun untuk mengejar kereta lokal langgananku. Sial memang kalau prinsip semesta bahwa malas hanya mendatangkan masalah memang benar adanya. Macet pun tidak mau berkompromi. Jurus terakhir, gigi persneling motor aku oper, gas motor dan rem bergantian aku permainkan, meliuk-liuk di tengah keramaian Jakarta pagi. Ah, cukup berhasil. Stasiun hanya terpisah 1 belokan depan. Sekali lagi aku berkelit sana sini dan kemudian tanpa sengaja stang motorku menyenggol seorang pengendara motor lainnya. Sempat kulirik dia oleng ke kiri dan di saat bersamaan sebuah bis lokal Jakarta menyerobot celah sempit di samping pengendara tadi. Kelihatannya dia terhantam badan bus tadi. Mungkin sedikit parah lukanya. Beberapa detik aku sudah mengerem motorku namun kemudian aku geber kembali. Aku pikir pasti nanti dia ditolong warga sekitar. Susah untuk berbelok putar arah di tengah kerumunan onggokan besi-besi bermesin yang meraung-raung ini. Selain itu aku tak mau terlambat. Semoga lukanya tidak terlalu parah.

*****

“Bah, macam mana pula itu kereta. Seenaknya jidat dia berhenti di situ. Kita mana bisa lewat kalo begini caranya. Anak istriku makan apa kereta tolol !!”
“Sabar atuh bang, kan emang di mana-mana kalo kereta mau lewat yang lain ya kudu berhenti.”
“Tak usah kau bilang aku pun tau kalo macam itu. Yang awak maksud, lihat itu, lihat! Kenapa kereta tolol itu berhenti di tengah jalan macam begitu, palang pintu pun tak akan terbuka lah kalo kereta belum jalan. Itu kereta mogok tau ! Ah tolol pula kau ini!”
“Mana aku tahu Bang itu kereta mogok atau nggak. Saha atuh yang peduli?”
“Kalo kereta itu sering mogok seperti sekarang, waktu jadi terbuang, penumpang kurang, kita ngejar setoran juga seret. Mikir dikit lah kau ini!! Lagian sudah beberapa bulan ini kereta-kereta di Jakarta sering mogok, di mana-mana mogok. Baca berita di televisi lah kau ini biar ga tolol-tolol amat.”
“Ah, kumaha sia wae lah, anying! Tuh udah jalan itu, kebuka tuh palang pintunya. Ayo buruan Bang, jangan ngomel mulu.”
“Aaaaah, apapula awak bilang, susah kan. Pekara kereta usai, macet pun datang. Kapan awak kaya kalo gini, kalo kejar setoran aja susah, hah?”
“Berisik terus sih Bang, tuh ada ruang kosong tuh sebelah kanan, ambil bang! ambil! seroboott!”
“Iya, tau. Jangan macam istriku pula kau ini, ngomel tak henti-henti”
“Bang! liat kanan bang! awaassss!!
*Braakkk!!!!!!*

*****

“Oke, kawan, kita semua tahu bagaimana perlakuan mereka terhadap kita. Kita memang seonggok besi bermesin bagi mereka, tapi tidakkah mereka belajar merawat dan menjaga hal-hal yang setidaknya menolong mereka? Berguna bagi mereka? Aku ingin sedikit mengajarkan pada mereka 1 hal tentang itu. Besok aku dan teman-teman yang lain akan mogok total di semua trayek, jadwal, dan stasiun.”
“Ayolah kawan, jangan sesinis itu. Mungkin efeknya sedikit terasa jika seluruh teman-temanmu mogok. Aku yakin mereka akan segera beralih ke yang lain dan melupakan perihal kau mogok dan sebagainya. Mereka akan tetap seperti itu, mati rasa dan satu lagi, jujur aku dan teman-temanku yang lain pasti tidak suka mendapat limpahan penumpang darimu dan teman-temanmu. Beban kami sudah cukup berat.”
“Kau selalu cerdas kawan, aku pun memikirkan hal serupa. Kalau hanya aku dan teman-temanku yang mogok, mereka hanya menganggap masalah ini sekilas saja. Tidak akan pernah sadar dan karena itulah aku sudah berbicara dengan beberapa angkot dan bajaj kenalanku yang cukup senior. Mereka setuju dan berjanji akan memimpin yang lain untuk melakukan hal serupa.”
“Lalu?”
“Aku memintamu dan teman-temanmu untuk bergabung besok. Kita mogok bersama. Kita jadikan Jakarta kota mati meskipun mungkin hanya beberapa hari.”
“Setelah itu?”
“Ya, kita berharap mereka mau memperhatikan sedikit nasib kita, sedikitnya tidak membiarkan terseok-seok. Kau dan kawan-kawanmu pun bisa merasakan hawa AC dan parfum di bangku-bangku penumpangmu kalau beruntung. Setidaknya pinggangmu tak akan ngilu saat digeber kalau suspensimu itu diganti. Aku hanya ingin nasib kita semua lebih beradab kawan.”
“Yah…..mungkin aku bisa membicarakannya dengan teman-temanku setelah ini”
“Bagus, aku tau kau memang bisa diandalkan. Oh ya, hampir kelupaan bagian terbaik dari rencana kita. Kau tahu mobil-mobil dan motor-motor pribadi yang sering congkak selama ini? Kita akan balas mereka. Besok kita akan mogok, tapi bukan di sembarang tempat. Aku sudah membaginya. Aku dan teman-temanku akan mogok di hampir setiap perpotongan jalan raya dan rel kereta api. Angkot dan bajaj yang jumlahnya luar biasa akan mogok di setiap pintu masuk-keluar perumahan elit, minimal berjajar 2-3 angkot atau bajaj. Sisanya akan memblokir ruas jalan dan persimpangan yang cukup vital. Lalu kau beserta teman-temanmu akan mogok malang melintang di setiap pintu masuk ataupun pintu keluar tol. Kita buat mereka mengenang hari itu.”
“W.w..wo..w. Kau brilian.”

*****

Aku terengah-engah saat bangun pagi ini. Mimpi yang cukup aneh. Aku bermimpi mengalami kejadian yang sama persis seperti yang aku alami pagi kemarin saat berangkat kerja. Bersepeda motor meliuk-liuk kemudian menyenggol pengendara motor. Sama persis, namun yang membuat bulu kudukku masih meremang sampai sekarang, di dalam mimpiku pengendara motor yang ternyata seorang bapak berumur 45 tahunan itu meninggal di TKP. Berdarah-darah kepalanya ditutupi daun pisang ala kadarnya. Aku dalam mimpi itu berhenti dan menoleh ke mayat bapak itu saat diangkat ke mobil jenazah dan sekejap seakan nyawanya ditiupkan kembali, mayat bapak itu bangun sekelebat. Menuding dan memandang tajam ke arahku. Matanya yang semerah saga itu membuatku berteriak ketakutan dan terbangun dengan keringat mengucur. Aku merasa bersalah meninggalkannya kemarin, di tengah jalan.
Dan ternyata mimpiku tadi pagi bukan satu-satunya hal teraneh yang aku alami hari ini. Keluar dari kost dengan motor tuaku, aku dikejutkan dengan kerumunan orang-orang yang berusaha memindahkan bajaj dan angkot yang secara ajaib berjajar menutupi pintu masuk-keluar gang. Entah ke mana sopirnya. Kulihat beberapa montir menyumpah serapah di kejauhan sambil menendangi ban bus yang tampaknya juga mogok. Namun yang aneh bus itu mogok tidak dalam posisi yang wajar. Bagaimana mungkin bus mogok dengan posisi tepat melintang menutup akses jalan seakan posisi itu memang disengaja. Entahlah yang aku tahu, hari ini aku tidak akan sampai di kantor tepat waktu. Atau mungkin tidak sama sekali.

Senandung Lirih Lagu Tanpa Syair di Gelapnya Malam dan Seekor Anjing Hitam yang Tertidur di Atas Ranjang

Cerpen Yayag YP

perempuan jalang
Gambar diunduh dari 0.facebook.com
Kusisir helai demi helai rambut panjangku yang menjuntai sampai ke pangkuan dengan jemari-jemari tangan yang bergetar. Kupandangi wajahku di depan cermin besar yang menggantung diam di dinding kamar sambil bersenandung lirih. Lagu yang sama, lagu yang tiap malam kunyanyikan sayup-sayup saat bercermin dan menyisir rambut. Tak satu pun kerlip lampu di dalam kamarku, tak juga jelas mata mereka memandangku ketika bercermin. Hanya ada diriku sendiri disana, hanya aku yang bisa melihat.

“Kenapa selalu lagu itu yang kau nyanyikan tiap bersamaku?”

Kusisir rambutku dari atas hingga sampai pada pangkuan, pelan. Aku menikmati setiap kali duduk di depan cermin dan menyisir rambut dalam gelapnya kamar. Terkadang tidak ada tanya yang mengganggu ketika aku bercermin, hanya sesekali terdengar suara mirip gumam tak jelas dan hembusan angin yang menerobos masuk lewat jendela besar disamping tempatku duduk memagut diri.

Aku terus bersenandung lirih. Malas rasanya menghentikan nyanyian dan membuka mulut untuk menjawab pertanyaannya. Dari kejadian yang sudah-sudah, kelanjutan adegan berikutnya sangat mudah ditebak. Kemarin aku akan menghentikan senandung lirihku, membalik badan, menatap wajahnya dan menjawab pertanyaannya dengan santun. Tapi sekarang tidak lagi. Aku akan bergeming, terus bersenandung tanpa menggerakkan sedikit pun tubuhku. Dan dari cermin tempatku berkaca, dengan sudut mata kupandangi anjing itu teronggok bisu diatas ranjangku. Tak bergerak. Bulu-bulu hitamnya yang tebal seperti makin menambah gelapnya malam di dalam kamarku. Telinganya yang terbungkus bulu-bulu tipis bergerak naik turun seirama tarikan nafasnya. Moncong hidungnya mengkilat ditimpa sisa lendir yang mungkin di dapatnya dari bagian tubuhku. Entah, bagian tubuhku yang mana. Aku membuang pandangan dari anjing berbulu hitam itu, aku membuang keinginanku untuk ikut berbaring disampingnya, diatas seprai kusut yang masih menyimpan hangat tubuh kami beberapa menit yang lalu. Anjing hitam itu tertidur dengan damai, kedua tangannya memeluk lekat guling itu di dadanya. Ah, hangatnya jika aku ada dalam pelukannya malam ini. Helai-helai rambut yang sebagian menutupi tubuh telanjangku mulai menari ditiupi angin malam. Dingin. Angin malam mulai membuatku ketakutan. Desirnya menyentuh lembut cuping telingaku, bulu kudukku berontak. Kulihat lagi anjing hitam itu dari cermin di depanku. Tidurnya begitu melenakan. Aku ingin ada di sampingnya, luruh dalam buaian bulu-bulu tebalnya, menggulung semua kelelahan, menyerahkan diriku dan memimpikan indahnya cinta yang mungkin ada padanya malam ini. Aku ingin.

“Kau cantik, Nak”

Ibu membelai rambutku dengan lembut ketika kurebahkan diri di pangkuannya malam itu. Senandung lirihnya mulai terdengar di telingaku. Lagu itu, lagu sama yang selalu kunyanyikan tiap malam saat menyisir rambut dengan jemari tangan di depan cermin dalam gelapnya kamarku.
“Kelak akan banyak laki-laki membayar kecantikanmu dengan ego mereka, Nak. Masa itu tidak akan lama lagi,”

Aku tidak terlalu mendengar apa yang ibu katakan. Kepalaku dipenuhi nada-nada dari lagu yang tadi lirih di nyanyikannya. Lagu itu tidak bersyair, hanya nada yang iramanya mengalun seperti deru ombak di laut lepas pada malam-malam yang di sinari bulan purnama, mengajak mata menerawang menjauhi raga. Lagu itu sudah sedari kecil kudengarkan dari bibir ibu yang menggendongku dalam tubuh telanjang dengan keringat hangat yang menyelimutiku dalam gendongannya. Sering aku terkaget ketika dalam tidur lelapku butir-butir airmata ibu menetes di kedua pipiku yang direngkuhnya dalam pelukan menggigil. Terasa sekali tubuhnya yang bergetar memelukku terlalu erat. Aroma tubuhnya tidak seperti aroma tubuhnya yang biasa ku kenali, ada bau lain di helai-helai rambut, leher dada dan sekujur tubuhnya. Entah, aroma apa dan siapa yang menempel pada tubuh ibu malam itu.

Sejak malam dimana aku mengenali ibuku dengan aroma tubuh yang tidak seperti aroma tubuhnya yang akrab dengan penciumanku, sejak itu pula lagu itu menghipnotis malam-malamku bersama ibu. Bahwa sejak malam itu ibu dengan tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar tempatku terbaring di atas ranjang sendirian dengan tubuh telanjangnya, memelukku erat-erat dengan airmata yang menetes satu-satu, adalah malam dimana aku mulai belajar menjadi dewasa.

“Kenapa aku tidak boleh memelukmu?”

Aku menunduk sebentar, menghindari tatapan matanya, lalu berlalu beberapa langkah mendekati jendela. Dia hendak memulai langkahnya,

“Apakah semalam aku tidak memuaskanmu?” Tanyaku.

Dia membatalkan langkahnya, membuat senyum tipis, dan menjawab,

“Hanya kau satu-satunya perempuan yang membuatku bisa menikmati persetubuhan Ryn,”
“Dan selama ini tidak pernah ku kecewakan birahimu di ranjang meski tanpa pelukan,”
“Memang benar….,”
“Pergilah Dan,”

Dan seperti yang lainnya, kau pun akan berlalu, menjauhiku dan membiarkanku menikmati tegak punggung kalian yang perlahan pudar dari pandangan. Kau datang sewaktu matahari tak bisa menyapa wajahmu, dan sebelum matahari datang, kau sudah tidak lagi denganku. Esok, mungkin kau akan kembali, mungkin juga tidak akan pernah kembali. Yang lain tetap akan datang, meski perlakuan kalian terhadapku sama.

Denganmu dan juga mereka tidak akan merubah kebiasaanku pada malam-malam gelap di dalam kamar. Aku tetap akan duduk berlama-lama di depan cermin dalam tubuh telanjang, menyisir rambut dengan jemari tangan sambil berdendang lirih sampai datang pagi, sampai kalian menghilang. Aku harus tetap terjaga saat kau ada di atas ranjangku. Bercermin dan bersenandung di samping jendela besar yang menghitamkan malam-malamku adalah pilihan yang tidak lagi bisa kutawar dengan hal lain.

Aku tidak boleh menyerahkan diri pada ranjang berseprai kusut yang beberapa jam lalu telah menjadi tempat kita membakar birahi dalam tubuh telanjang yang saling mengejar nikmat. Aku tidak akan merebahkan diri di samping seekor anjing berbulu hitam yang sedang pulas dalam tidurnya. Sebesar apa pun kantuk datang menyerang, aku harus bertahan. Aku tidak mungkin bisa tertidur dengan pikiran yang penuh dengan rasa jijik sewaktu membayangkan moncong hitamnya yang berlendir itu menyentuh leher, dada atau mulutku. Aku tidak mau. Aku memilih untuk duduk telanjang di depan cermin sambil menyisir rambut panjangku dengan jemari tangan, bersenandung lirih dengan lagu yang selalu sama dan berharap pagi bisa datang lebih cepat.

Apa yang kulakukan dan pikirkan saat di depan cermin di malam-malam gelap tidak pernah sedikit pun berubah sejak ibu meninggalkanku untuk selamanya. Helai-helai rambut yang kusisir dengan jemari tangan, yang panjangnya sudah sampai pada pangkuanku, adalah malam-malamku berbicara dengan ibu. Ibu meninggalkan banyak cerita pada helai-helai rambutku yang selalu dibelainya tiap malam sewaktu ibu masih hidup. Sebesar apa pun keinginanku untuk bisa tidur disamping laki-laki yang terlelap di ranjangku, sebesar itu pula aku harus membunuh keinginanku. Aku hanya merasa harus duduk bersenandung menatap malam dari luar jendela kamar sambil menyelimutkan rambut panjangku pada sebagian tubuh telanjangku, mengubur jauh-jauh keinginanku akan pelukannya.

“Kita tidak boleh memeluk laki-laki yang datang pada kita, Nak,”
“Kenapa tidak boleh Bu?”
“Kelak kau akan menemukan sendiri jawaban dari pertanyaanmu itu,”

Tiba-tiba ada hening diantara kami. Ibu memandang jauh ke depan dalam tatapan kosong. Aku masih berharap ibu menjawab pertanyaannku.

“Apakah ibu juga tidak memeluk laki-laki?”
“Pernah sekali, dan itu kesalahan besar yang pernah ibu lakukan,”

Tak ada penjelasan lagi tentang pertanyaanku itu di kemudian hari. Tiap kali aku bertanya tentang alasan ibu untuk hal yang dilarangnya itu, tiap kali juga aku tidak pernah mendapatkan jawaban dari ibu.

Sampai suatu saat tanpa sengaja aku melihat ibu memeluk erat seorang laki-laki yang tidak ku kenal dari dalam kamarnya. Kedua tangan ibu melingkari punggung laki-laki yang tubuhnya jauh lebih tinggi dari ibu. Mereka berpelukan lama sekali. Ibu melanggar ucapannya sendiri! Aku kecewa pada ibu. Kemarahanku memuncak, aku merasa perlu bereaksi dengan pengkhianatan ibu padaku. Emosi membuatku hendak membuka lebih lebar pintu kamar ibu yang sedari tadi tidak tertutup rapat. Baru saja hendak kubuka pintu kamar ibu lebih lebar, ketika tiba-tiba kudapati seekor anjing berbulu hitam legam berada persis di kepala ibu. Anjing hitam itu mengibas-ngibaskan ekornya dengan moncongnya yang basah, lalu mulutnya terbuka lebar. Ibu masih memeluk laki-laki itu dengan erat, ada sedikit senyum di bibirnya. Laki-laki itu memeluknya dalam seringai yang sulit kutebak artinya. Mata laki-laki itu menatap ibuku dengan pandangan yang sangat aneh. Kedua tangannya yang memeluk tubuh ibuku penuh dengan bulu-bulu hitam legam dan kuku-kukunya yang runcing itu nyaris menusuk punggung ibuku. Aku hendak meneriaki ibu, tapi mulutku gagu dan tubuhku kaku. Anjing itu mencakar-cakar kepala ibu, menumpahkan liurnya di sekitar wajah ibu. Ibu diam saja. Ibu tersenyum!

Secepatnya aku berlari ke kamar meninggalkan ibu dengan laki-laki berbulu hitam tebal yang memeluknya dengan kuku-kuku tajamnya. Perutku terasa mual sekali menyaksikan pemandangan yang membuat perasaanku bercampur aduk, bingung, marah, heran dan benci. Aku bingung, tak menahu ada apa sebenarnya dengan ibu. Apa yang sudah ibu lakukan, kenapa ibu diam saja ketika anjing hitam legam itu mulai mencakar-cakar tubuhnya dengan jemarinya yang dipenuhi kuku-kuku tajam? Lama aku bergelut dengan semua kebingunganku, berhari-hari mengurung diri di dalam kamar, menjauhi ibu. Sampai akhirnya malam itu ibu menghampiriku di kamar.

“Perempuan seperti ibumu ini tidak boleh berharap, Nak…karena harapan yang menghampiri, datangnya selalu bersamaan dengan penderitaan,”

Pandangan mata ibu menerawang jauh, entah ke masa yang mana. Di bawanya kepalaku bersandar di pangkuannya.

“Perempuan seperti kita benar-benar tidak boleh memeluk laki-laki yang datang pada kita. Ketika kita memeluk mereka, ketika itu juga kaki-kaki kita patah, jari-jari kita terlepas, kepala kita pecah berkeping-keping di udara dan hati kita hancur tak berbentuk,”

Suara ibu bergetar, aku tak berani menghentikan ucapan ibu.

“Kita ini hanya pelacur Nak, tempat laki-laki membuang nikmat di pangkal pahanya. Semalam dipakai, selebihnya tak pernah diingat,”

Ibu menangis.

“Kalau saja sedari dulu ibu tidak pernah membiarkan tubuh ibu dipeluk laki-laki, mungkin ibu tidak akan pernah mengerti seberapa kotor dan hinanya pekerjaan ibu,”

Tangis ibu pecah. Butir-butir airmatanya menetes sampai pada luka-luka menganga berwarna merah yang ada di sekujur tubuhku. Perih. Tapi aku tak mampu merintih kesakitan, tidak juga mampu menangis. Seluruh tubuhku lemas. Aku tersungkur di bawah kaki laki-laki itu. Helai demi helai rambut panjangku terlepas dari kulit kepala, berhamburan satu persatu menyentuh lantai dan terbawa angin malam. Luka itu bertambah banyak dan memenuhi tubuh telanjangku yang mulai berwarna merah karena darah yang terus mengucur dari setiap luka yang ada.

Laki-laki itu memelukku. Menghujaniku dengan mimpi tentang sebuah rumah kecil dengan taman bunga yang bermekaran di pagi hari dengannya dan dengan diriku yang tidak lagi telanjang. Mataku berhias wajah-wajah mungil dua anak kecil yang sedang berlarian di atas rumput hijau yang membungkus halaman kecil rumah indah itu. Aku tidak lagi telanjang, aku bukan pelacur. Aku perempuan yang mempunyai seorang suami dengan dua anak dan rumah mungil bertaman bunga. Rambutku tak sepanjang cerita-cerita ibu yang penuh dengan kisah muram dan sedih. Aku memiliki semua yang dimiliki perempuan lainnya. Aku bukan pelacur, aku punyai semuanya.

“Tidurlah, aku harus pulang malam ini. Besok aku akan kemari lagi,”

Kuku-kuku runcingnya yang sedari tadi membelai tubuhku dengan lembut tiba-tiba menusuk tajam menembus kulit dan nadiku. Mulutnya memanjang ke depan, moncong hitamnya berkilatan dengan lendir. Taring-taringnya mencabik-cabik tubuhku. Aku tersungkur penuh luka memerah. Perih. Kucoba mencari rumah mungil, taman bunga, dua wajah anak kecil dan laki-laki itu kesana kemari. Kutengok ke kanan ke kiri, ke depan ke belakang, tak ada apa pun. Tak ada satu pun terlihat di mataku. Hilang.

Hanya ada anjing berbulu hitam di depanku. Anjing hitam itu terus mencabik-cabik tubuhku dengan biadab. Kemaluannya mengencingi mukaku yang penuh dengan gurat luka cakar. Aku diam, tak mampu melawan, segala daya upayaku memuai. Kakiku patah, jari-jemariku terlepas satu-satu, kepalaku pecah berkeping-keping di udara dan hatiku hancur tak berbentuk. Sekali lagi aku berusaha mencari sosok laki-laki yang tadi memeluk tubuhku dengan erat, aku mencarinya. Tanganku yang tak lagi berjemari, menggapai-gapai ke udara, dimana dia? Pagi sudah datang, tapi mataku tak bisa melihatnya di ruangan ini.

“Kau melakukan kesalahan pertamamu, Nak,”

Aku tersentak. Suara dan sosok ibu tiba-tiba hadir di hadapanku.
Aku menangis tersedu.

“Kita terlanjur kalah, Nak,”
“Aku hanya ingin merasakan pelukannya Bu, sekali saja…,”
“Menangislah kalau kau ingin menangis,”
“Ibuuuu…………………..,”

Ibu memelukku dengan penuh kasih. Tangisku pecah di bahunya.

“Aku melihat surga ketika aku memeluknya, Bu…,”
“Aku menginginkan surga itu, Bu…,”

Ibu tidak berbicara, hanya pelukannya terasa makin erat.

“Surga tidak pernah ada untuk pelacur seperti kita, Nak…Surga yang kau lihat saat memeluknya akan begitu saja terpendar saat pelukannya harus berakhir di pagi hari. Dia akan kembali pada dunianya yang benderang, dunia yang tak kita kenali. Dan kita akan berakhir lagi disini, sendiri menunggunya kembali dengan harapan dan mimpi, sampai terbunuh waktu yang tak pernah lagi membawanya kembali pada kita,”

Dalam perih yang masih terasa sampai malam ini, aku terus bersenandung di depan cermin besar di samping jendela besar dalam tubuh telanjang sambil menyisir rambut panjangku yang sudah sampai di pangkuan dengan jari-jari tangan yang bergetar. Senandung lagu yang sama, lagu tanpa syair. Dan jauh di dalam cermin tempatku berkaca, anjing hitam itu tergolek di ranjang berseprai kusut yang masih menyimpan hangat sisa bara tubuh kami selepas bercinta beberapa jam yang lalu. Bulu-bulu hitam di tubuhnya semakin legam menutupi sekujur tubuhnya. Moncong hitamnya masih mengkilat karena lendir yang menempel disana. Aku masih seorang pelacur yang tiap malam dalam ketelanjangannya menunggu pagi datang dengan senandung lirih lagu tanpa syair ; tak lagi menginginkan pelukan dari anjing-anjing hitam yang datang padaku, tak lagi ingin bermimpi tentang surga yang tak pernah ada.

MISTERI GUA KUCING

Cerpen Era Sofiah

Editor Ragil Koenjorodjati

kucing gua
Cave Cat by Erica Shipley, diunduh dari erica-shipley.com

Val benar-benar kagum dengan eksotika pulau ini. Di bagian timur dan selatan pulau tersebut membentang pasir putih yang lautnya belum tercemar dan nampak kebiru-biruan. Pasti sangat menyenangkan berada di tengah-tengah pulau nan indah, jauh dari kebisingan kota dan suara-suara teriakan minta deadline ‘’bisik Val’’ ditambah keramahan penduduk pulau yang jarang Val temukan di kota. Baru beberapa jam Val tiba warga kampung beramai-ramai datang ke rumah pak Rustam tempat Val menginap untuk sekedar bersalaman dengan Val. Val diperlakukan bak seorang selebritis. Lalu semangkok soto khas Madura lengkap dengan toppanya menjadi hidangan yang cukup mengganjal perut Val yang sedari tadi sudah bernyanyi setelah menempuh perjalanan selama berjam-jam.
Gili ketapang, begitulah nama sebuah kampung dan pulau kecil di Selat Madura, tepatnya 8 km di lepas pantai utara Probolinggo yang menjadi tujuan Val kali ini. Gili ketapang dihuni oleh suku Madura. Tak seperti kebanyakan dalam pikiran orang yang menganggap mereka suku yang arogan dan kasar dengan sebilah celurit yang setiap saat siap memakan korban. Bagi Val mereka cukup ramah dan bersahabat. Ah, masalah suku ini kerap kali menjadi awal pertikaian di negeri tercinta ini. Val yang asli Solo sering kali menjadi bahan ledekan teman-teman sekantornya yang selalu mengkonotasikan dirinya dengan putri Solo yang kerjanya lamban. Namun akhirnya Val bisa membuktikan bahwa putri solo juga bisa bekerja secara cekatan dan ulet hingga akhirnya Val bisa menduduki jabatan sebagai redaktur. Atau si Roy yang berasal dari ujung negeri ini kerap kali dipanggil si keriting. Val tak habis pikir, bukankah Tuhan menciptakan umat-Nya berbeda-beda dan bersuku-suku untuk saling mengenal dan melengkapi satu sama lain bukan untuk saling mencaci dan saling bermusuhan.

***
Pagi cerah ditemani Munah anak pak Rustam, Val berjalan menyusuri pantai. Semilir angin dan deburan lembut ombak hangat menusuk-nusuk kalbunya. Bagaikan labrin yang membentuk formasi begitu indah, saat Val menyaksikan di kejauhan perahu-perahu nelayan yang baru pulang melaut. Sementara di pinggir pantai para perempuan berjejer menanti kepulangan suami dan anak-anak mereka. Maka setelah puas bermain dengan deburan ombak sampailah Val pada sebuah titik. Sebuah batu karang raksasa berbentuk bulat memanjang yang memang menjadi tujuan kedatangan Val ke pulau ini.
‘’Inilah yang dinamakan gua kucing Kak, konon menurut cerita, dahulu pulau ini dihuni ribuan kucing yang dipelihara oleh syech Ishaq, salah seorang penyebar agama Islam di pulau ini. Namun setelah beliau meninggalkan tempat ini kucing-kucing itu menghilang tanpa diketahui rimbanya. Tapi anehnya setiap malam jum’at legi suara- suara kucing itu terdengar dari dalam gua.” Val mendengarkan cerita Munah dengan seksama. Tak hanya misteri tentang gua kucing yang membuat Val penasaran, namun bau-bau kemenyan serta beberapa bekas ritual yang dibiarkan berserakan membuat bulu kuduk Val merinding.
Meong!!! Seekor kucing berwarna belang tiba-tiba meloncat dari balik batu karang tepat disamping Val diikuti kucing-kucing lainnya hingga jumlahnya puluhan. Lalu di belakang kucing-kucing itu muncullah seorang gadis kecil berperawakan sedang. Beberapa saat kemudian gadis itu melemparkan remah-remah ikan asin membuat suara kucing-kucing itu semakin gaduh.. Gadis itu bagaikan ratu kucing di antara puluhan kucing-kucing itu.
‘’Dia Naila kak. Kasihan dia, emaknya meninggal saat melahirkannya sementara Eppaknya hilang di laut beberapa bulan lalu karena terseret ombak dan sekarang Naila hanya tinggal bersama kakeknya yang sudah tua. Kakeknya dari pagi hingga sore bekerja memperbaiki jaring dan kapal-kapal nelayan di kampung sebelah. Jadi setiap hari Naila hanya ditemani kucing-kucingnya itu. Orang-orang sini percaya bahwa Naila merupakan titisan salah satu pengikut syech Ishaq, yang lama tinggal di pulau ini dan kemudian menikah dengan salah satu penduduk’’ Gadis kecil yang unik, Val mengambil beberapa gambar keakraban dua makhluk berbeda rupa itu dengan camera pocketnya.
Ngapote…..
Wak lajere ethangale….
Reng majeng tantona la padha mole….
Sambil membelai kucing-kucingnya gadis itu ngejungan lirih, membuat Val semakin penasaran untuk mengenalnya lebih dekat.
***
Esoknya Val kembali ke tempat itu. ‘’Hai, aku Val, boleh kakak duduk di sini?’’ Val mengambil tempat di sebelah Naila. Sesekali Val ikut membelai kucing-kucing itu yang terlihat bersahabat. Gadis bernama Naila itu hanya sesaat tersenyum ke arah Val, sebelum kembali. bercengkerama dengan kucing-kucingnya. Namun dari sorot matanya, Val yakin gadis itu menerima kehadirannya. Beberapa saat mereka terdiam dan hanya terdengar deburan ombak dan suara riuh kucing-kucing Naila.
‘’Namaku Naila, kalau kakak ingin kenal dengan kucing-kucingku yang lain mari ikut ke rumahku.’’ Gadis itu berlari-lari kecil menuju rumahnya, tak jauh dari gua. Di sebelah rumah sederhana itu terdapat sebuah tempat semacam kandang ayam lengkap dengan kardus-kardus bekas dan kain perca sebagai alas. Di dalam kardus beberapa ekor bayi kucing yang masih merah sedang menyusu pada induknya. Tak beberapa lama Naila masuk ke dalam dan mengambil piring kemudian meletakkan remah-remah ikan asin lalu mengelus bayi-bayi kucing itu penuh kasih. Setelah memberi makan kucingnya, Naila mengajak Val masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang sangat jauh dari kata layak untuk dihuni, batin Val. Hanya ada sebuah meja dan dipan tua berbaur menjadi satu dengan dapur sehingga menimbulkan aroma yang sangat tidak nyaman. Namun ada hal lain yang membuat Val berdecak kagum. Dinding-dinding yang sebagian telah berlubang dipenuhi lukisan-lukisan yang juga bergambar kucing.
‘’Ini lukisan Nai, bagus kan Kak?’’ Gadis itu membawa selembar lukisan yang masih basah oleh cat warna. Val mengangguk mantap.
Val teringat beberapa waktu lalu, Val juga memiliki sepasang kucing ras pemberian seorang sahabatnya. Setiap saat Val menghabiskan waktunya bercengkerama dengan kucing-kucingnya. Val begitu sayang terhadap kucing-kucingnya. Val memberi mereka makanan juga tidak sembarangan. Dia memberi makanan khusus untuk kucing ras yang berharga cukup mahal, sehingga kucingnya terlihat sehat dan menggemaskan hingga rajin membawa ke dokter hewan. Satu hari kucingnya melahirkan beberapa ekor anak kucing yang juga lucu-lucu. Semakin ramailah rumah Val dengan kehadiran kucing-kucing mungil itu. Setiap pagi kucing-kucingnya mengantar Val ke depan pintu gerbang rumahnya sambil berputar-putar dan mengeong-ngeong manja seakan ingin mengatakan agar Val cepat pulang dan kembali bercengkerama dengan mereka. Namun pekerjaan Val sebagai seorang jurnalis yang harus meninggalkan rumah hingga berhari-hari membuat Val tak bisa merawat kucingnya seperti dulu. Pun demikian mama papanya juga sibuk bekerja. Lalu Val pun berpikir untuk menyewa seorang pembantu yang khusus merawat kucing-kucingnya. Namun binatang juga punya perasaan seperti halnya manusia. Mereka akan lebih nyaman jika yang merawat adalah majikannya sendiri. Kucingnya berubah menjadi pemurung dan tidak mau menyentuh makanan. Karena takut terjadi sesuatu akhirnya Val menitipkan kucing-kucingnya untuk dirawat saudaranya yang juga memiliki beberapa ekor kucing ras. Sungguh, Val sangat merindukan saat-saat menyenangkan itu.
***
Malam telah larut saat Val menyelesaikan laporannya. Val membuka kelambu, angin laut lembut menampar wajah putihnya. Di kejauhan lampu kelap-kelip dari perahu-perahu nelayan menambah indah suasana malam. Malam ini tepat malam jum’at legi, sayup-sayup Val mendengar puluhan kucing mengeong-ngeong riuh. Seperti kepercayaan warga setempat, setiap malam jum’at legi akan teredengar suara-suara kucing dari dalam gua. Namun Val lebih berpikir realistis, bahwa suara-suara itu pastilah datang dari kucing-kucing Naila yang memang dibiarkan bebas berkeliaran.
Namun bukan suara-suara itu yang mengganggu pikirannya. Ada hal lain yang lebih penting yang membuat matanya tak juga terpejam. Tiga hari lalu Gili Ketapang kedatangan tamu dari dinas kesehatan kota yang memberikan pengobatan secara gratis. Satu hal yang sangat menggembirakan dan ditunggu-tunggu warga kampung. Karena bagi mereka yang kebanyakan adalah nelayan kecil biaya kesehatan masih teramat mahal. Setelah pemeriksaan usai tersiarlah kabar yang mengejutkan sekaligus mengerikan. Beberapa perempuan didiagnosis terjangkit virus toksoplasma dan harus mendapatkan perawatan secara intensif. Dan menurut dokter satu-satunya cara memutus rantai penyebaran toksoplasma adalah dengan mengkarantina seluruh hewan peliharaan warga yang terindikasi menularkan virus itu termasuk puluhan kucing milik Naila. Berat bagi Val menyampaikan berita yang pasti akan sangat menyakitkan bagi Naila, namun harus Val katakan demi keselamatan warga kampung. Selama ini terjalin kedekatan yang cukup akrab antara Val, Naila dan kucing-kucingya. Naila banyak bercerita betapa dia sangat menyayangi kucing-kucingnya dan tak ingin berpisah dengan mereka selamanya.
Bagai petir di siang bolong. Naila benar-benar shock mendengar kabar yang disampaikan Val siang itu. Sesuatu hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Air matanya luruh saat petugas dari dinas kehewanan lengkap dengan masker dan sarung tangan mengambil satu persatu binatang piaraan milik warga untuk dimasukkan ke dalam sebuah kerangkeng besar. Hingga tiba pada eksekusi kucing-kucing Naila. Namun tak seperti binatang peliharaan warga lain yang begitu penurut ketika dibawa petugas. Kucing-kucing Naila yang semula jinak, berubah menjadi liar dan ganas. Beberapa mencoba mengeong, mencakar, meronta, seakan tidak rela dipisahkan dari tuannya.
‘’Jangan, jangan ambil kucingku.’’ Naila berusaha sekuat tenaga mencoba menghalangi proses eksekusi dengan membentangkan kedua tangan mungilnya di depan petugas.
‘’Biarlah Nak, mereka sementara membawa kucing-kucingmu,’’ kakeknya mencoba membujuknya. Namun Naila bersikeras tetap tak mengijinkan petugas membawa kucing-kucingnya.
‘’Kak Val, mengapa mereka begitu jahat ingin mengambil kucing-kucing Naila. Apa salahku?’’ kali ini suaranya merintih
‘’Percayalah, Bapak-bapak itu tidak sejahat yang Naila pikirkan, mereka hanya ingin mengobati kucing-kucing Naila supaya sehat ‘’
‘’Benarkah kak?’’
Val mengangguk kelu. Val menghapus air mata yang membanjiri pipi mungil Naila.
Meong!!! Seekor kucing berwarna kuning keemasan tiba-tiba lepas dari gendongan petugas dan menghambur ke pelukan Naila kemudian menjilati tangannya seakan ingin mengucapkan salam perpisahan.
“Pergilah pus, nanti Naila pasti akan datang mengunjungi kamu,’’ sesaat Naila memeluk dan menciuminya berkali-kali sebelum menyerahkan kepada petugas. Val benar-benar terenyuh menyaksikan peristiwa ini. Terbuat dari apa hatimu Nai, hingga makhluk-makhluk tak berdosa itu begitu mencintaimu dan ingin selalu ada di sisimu, batin Val. Beberapa saat kemudian truk yang membawa puluhan ekor kucing itu menderu pelan, meninggalkan jejak luka di hati Naila.
Lalu kegetiran melingkupi hari-hari Naila. Kemurungan tampak jelas di wajahnya. Sepulang sekolah atau mengaji Naila lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah. Tak ada lagi keceriaan atau canda tawa Naila dengan kucing-kucingnya. Tak ada riuh suara berebutan remah-remah ikan asin. Val benar-benar merasa bersalah tak bisa berbuat apa-apa untuk menghapus kesedihannya. Beberapa kali dia menanyakan kabar kucing-kucingnya dan kapan mereka dikembalikan membuat hati Val makin trenyuh. Karena Val tahu untuk mengembalikan binatang yang telah terjangkit penyakit tidaklah mudah. Ingin rasanya Val membawa Nai ke kota, membelikannya beberapa boneka kucing yang lucu atau mug-mug cantik bergambar kucing, sekedar menjadi pelipur hatinya.
Menjelang hari-hari terakhir kepulangannya, tiba-tiba Naila menderita demam tinggi. Val yang mengunjunginya sempat mendengar beberapa kali Naila mengigau memanggil kucing-kucingnya. Naila terlihat sangat merindukan kucing-kucingnya. Kembalikan kucingku, kembalikan! Val menitikkan air mata, tak kuasa setiap mendengar rintahannya. Beruntung setelah mantri desa memberi obat penurun panas, demam Naila sedikit mereda.
‘’Kak, jangan pergi!‘’ Naila menatap wajah Val dengan tatapan sendu. Matanya menyiratkan kesedihan sekan tak rela kehilangan sahabat untuk kedua kalinya. Val mencoba membujuknya dengan mengatakan bahwa dia pasti akan mengunjunginya kembali.
‘’Kalau kakak ke kota, Nai titip salam yah untuk kucing-kucingku. Tolong bilang kalau Naila sangat merindukan mereka.’’ Val mengangguk mantap
‘’ Ini ada hadiah untuk kakak.’’ Naila menyerahkan sebuah lukisan sederahana yang telah dibingkai dengan selembar plastik.
‘’Terima kasih saying.’’ Val memeluk dan mengecup pipi Naila lembut.
***
Val kembali memandangi gambar yang diberikan Nai. Gadis bermata belok dan berambut panjang dikelilingi oleh puluhan kucing, sungguh sangat indah dan terasa hidup. Anak itu benar-benar berbakat menjadi pelukis hebat, batin Val. Tiba-tiba ekor mata Val tertumbuk pada sudut lukisan yang lain. Sebuah titik-titik buram berwarna hitam. Seingat Val titik-titik itu tak ada sebelumnya. Penasaran, dengan sebuah spidol Val menghubungkan titik-titik itu. Deg! Sebuah perasan bergemuruh, seakan tak percaya dengan pengliatannya. Batu bulat memanjang dengan ujung lancip dan sebuah nama tertulis di sana, NAILA, aneh, apa maksud gambar ini. Belum selesai Val berpikir, Roy menyerahkan sebuah surat bersampul coklat susu. Maimunah, Gili Ketapang, Val membaca alamat yang tertera di sampul surat. Keringat dingin membanjiri wajahnya saat membaca kalimat demi kalimat dalam surat itu. Singkat namun membuat kepala Val berputar-putar tak karuan, Naila dan kucing-kucing kesayangannya. Malam jum’at legi. Mungkinkah ini jawaban misteri gua kucing itu? Jantung Val semakin berdetak tak karuan.

Malang, 09 Februari 2012

Keterangan :
Topa : sejenis lontong
Probolinggo : nama salah satu kota di Jawa Timur
Eppak : bapak
Ngapote ….Wak lajere ethangale…. Reng majeng tantona la padha mole…. ; Lagu berbahasa Madura
Ngejungan : bernyanyi
Toksoplasma : semacam infeksi kandungan yang disebabkan oleh hewan peliharaan seperti kucing, kera ataupun anjing. Toksoplasma akan berbahya jika menyerang wanita hamil, karena akan menyebabkan janin yang dikandung menjadi cacat.