Arsip Kategori: Cerpen

Tiga Permintaan

Cerpen John Kuan

” Di dalam rumah sudah terlampau dingin ” Dia berpikir. Angin dari sela-sela pintu dan jendela menelusup masuk, seperti mata pisau, tajam menyayat kulit. Namun, beberapa bingkai jendela dan daun pintu rumah reyot ini telah dibakar buat menghadapi musim dingin yang panjang, sudah benar-benar tidak ada lagi yang bisa digunakan untuk menyalakan api.
Mudah ditebak, agak menggelikan, jalan ceritanya amat sederhana. Semua orang pasti sudah pernah membaca atau mendengarnya. Cerita sepasang suami isteri yang tamak dan tolol.
Seiring bertambahnya usia, tidak tahu kenapa kembali teringat dongeng sederhana ini, seolah membawa makna tertentu, pelan-pelan merambat di dalam hati.
Jalan cerita yang asli sungguh terlalu sederhana, saya ingin memberi pembaca sedikit latar belakang.edit farmersSeharusnya adalah suatu malam musim salju yang dingin beku, di sebuah dusun miskin dan terpencil di daerah Eropa Utara, sepasang suami isteri yang terkenal dungu duduk berhadapan di sebuah meja kosong
Di tanah utara ini, satu tahun bisa separuh adalah musim dingin, matahari juga takut mampir, dia lebih memilih memutar jalan jauh daripada melewati tempat ini. Sepanjang musim dingin hampir tidak bertemu hari terang, gelap berselimut kabut hitam, jalanan penuh tanah becek bercampur salju yang belum mencair, bahkan rubah yang cekatan juga sering terpeleset.
Orang-orang bersembunyi di dalam rumah, di luar angin utara terus mengiris.
Selain orang-orang yang menerjang salju pergi berburu dan mencari kayu bakar, di atas bumi yang gundul samasekali tidak tampak jejak manusia.
Musim dingin yang demikian panjang menyebabkan tempat ini amat sulit dibuat bercocok tanam, yang bisa dihasilkan hanya sedikit lobak atau umbi-umbian lain. Miskin dan terbelakang, penduduk selalu mengalami kelaparan, dan mereka yang mempunyai sedikit kemampuan pasti berusaha mati-matian, memeras otak mencari akal agar bisa pindah keluar dari tempat ini, ke daerah selatan yang lebih hangat mencari kehidupan baru.
Sepasang suami isteri itu, sewaktu muda, juga pernah ada mimpi begini, ke daerah selatan yang hangat.
” Bibit ditaburkan pagi hari, siang keliling sekali, sore datang lihat lagi, sudah pecah kecambah, sudah segera akan berbunga. Jagung dan gandum menumpuk penuh beberapa gudang, bahkan keledai dan kuda penarik kereta juga diberi makan jagung dan gandum yang bersih menyilaukan mata! Pernahkah bertemu hari-hari bahagia begini? ”
Perempuan itu selalu merapatkan kedua telapak tangan di dada, seperti sedang berdoa, menceritakan segala macam hal tentang daerah selatan yang ada di dalam mimpi.
” Satu hari ada enam belas jam cahaya matahari, ini sudah pasti, sangat pasti; madu dan mentega yang dioles di atas roti betul-betul ada setebal dinding. ” Perempuan itu menjilat bibirnya, aroma manis dan harum di dalam pikiran saja bisa terasa begitu indah.
” Dibayangkan saja sudah demikian enak. ” Dia geleng kepala menghela nafas.
Dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang telah jadi begitu kasar dan kaku karena terlalu lama ditempa berbagai pekerjaan berat, tulang jemari yang telah berubah bentuk kelihatan seperti tangan lelaki buruh kasar. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana lagaknya perempuan daerah selatan memoleskan kemenyan arab di kulit mereka seperti yang diceritakan di dalam dongeng-dongeng, lalu mulai cekikikan.
Suaminya, seperti umumnya petani daerah utara. Lurus dan jujur, tampak agak dungu, saat bekerja seperti seekor sapi, tidak pernah tahu apa itu letih. Otaknya sederhana dan praktis, samasekali tidak tahu apa itu imajinasi, sekalipun bermimpi tetap adalah hal-hal semacam induk itiknya bertelur lebih sebiji.
Melihat isterinya berhenti kerja dan cekikikan sendiri, dia agak dongkol, menggerutu, namun tidak berani menegurnya, dia sangat takut isteri.
Lelaki itu samasekali tidak mengerti dunia imajinasi isterinya yang magis. Kebahagian-kebahagiaan yang berlebihan dan absurd, terdengar seperti mantera. Isterinya setiap hari dengan mantera-mantera begini mencari kesenangan hingga cekikikan mulai membuat dia takut.
Di dusun ini dia adalah satu-satunya lelaki yang tidak memukul isteri. Tubuhnya besar kekar, kuat seperti seekor sapi, kepalan tangannya keras berisi, kalau diayunkan, tulang-belulang isterinya yang kecil dan rapuh pasti akan remuk, tapi dia tidak pernah mempunyai pikiran begitu.
Awalnya dia memarahi isterinya yang cekikikan sambil bekerja, tetapi setelah dibalas jeritan kalap dan pekik tangis yang mengerikan ditambah sumpah serapah, dia akhirnya tidak berani lagi protes. Dia tahu, di dalam batok kepala kecil perempuan ini ada sesuatu yang jauh lebih dahsyat daripada tubuhnya yang kekar.
Karena watak penakut suaminya, perempuan itu kian menjadi-jadi. Perubahan fisik setelah melewati parobaya, ditambah angan-angan puluhan tahun yang tidak tampak ada kemungkinan menjadi kenyataan; hampir semua keluarga di dusun telah membawa serta kuda dan keledai mereka pindah ke daerah selatan, bahkan Hendrik yang dianggap paling bodoh dan tinggal di ujung dusun juga sudah pindah, angan-angan perempuan ini akhirnya berubah menjadi amarah. Suaminya yang selalu bungkam, suaminya yang bekerja tanpa mengeluh, suaminya yang sabar dan selalu menurutinya, juga seolah menjelma jadi sindiran tajam atas impiannya yang indah.
Setelah memasuki usia tua, dia menjelma seluruh kekuatan imajinasinya yang tak mungkin menjadi kenyataan itu menjadi dendam dan sumpah serapah terhadap suaminya. Dia masih dengan imajinasinya yang tak bertepi mengganggu suaminya, madu dan mentega masih setebal dinding, matahari satu hari masih tetap enam belas jam, hanya sekarang imajinasinya yang indah telah bercampur kesedihan yang tidak bisa menjadi kenyataan itu.
” Ah, tanah selatan ——— ” Dia meraba-raba wajahnya yang tua dan kasar seperti keriput kulit kayu, melihat suaminya yang bekerja seharian tanpa membawa hasil pulang, dia juga sudah lelaki tua dan bungkuk, gerak langkahnya tampak sulit, dia menurunkan perkakas tani yang berat dari pundaknya. Kuda dan keledai sudah lama dijadikan lauk, sekarang dia sendiri yang membajak.
Melihat suaminya masuk ke rumah, perempuan itu langsung memulai omelannya, sebuah nyanyian pedih bercampur aduk antara keindahan mimpi dan kepahitan hidup dari hari ke hari.
Lelaki tua juga sudah lama terbiasa, suara isterinya sudah seperti angin utara yang menyeru, setelah beberapa waktu, seolah-olah tidak terdengar lagi. Dia goyangkan tubuh menjatuhkan selantai serpihan salju, lalu seperti biasa dengan matanya yang redup dan kekuningan memandang isterinya sekilas, sepertinya juga ingin mengeluh telah bekerja seharian tapi tidak bisa membawa pulang apapun.
” Di dalam rumah sudah terlampau dingin ” Dia berpikir. Angin dari sela-sela pintu dan jendela menelusup masuk, seperti mata pisau, tajam menyayat kulit. Namun, beberapa bingkai jendela dan daun pintu rumah reyot ini telah dibakar buat menghadapi musim dingin yang panjang, sudah benar-benar tidak ada lagi yang bisa digunakan untuk menyalakan api.
” Tidak ada lagi yang tersisa, semua yang bisa dimakan sudah dikeruk habis, bahkan jejak hewan juga tidak tampak lagi, sekarang orang-orang dusun sedang memikirkan bagaimana caranya makan kepompong yang bersembunyi di dalam tanah musim dingin itu, jika terus begini, semua orang pasti akan mati kelaparan ” Dia begitu risau. Sebagian salju mulai mencair di atas rambut dan kumisnya yang kusut, lalu berubah menjadi lapisan es, berpijar-pijar.
” Enam belas jam matahari sehari, roti dioles madu dan mentega setebal dinding, pernah kau melihat tempat begini? Kutukan apa yang membuat kakimu terpaku di tempat bagai neraka ini, sepanjang hidup. ”
Karena lapar, suara perempuan itu berubah melengking seolah tangisan.
Kaki tangannya, karena lapar dan dingin, telah lama membeku. Lebih mengerikan adalah rasa beku terus menjalar ke pinggang. Dia begitu ketakutan, sehingga suaranya kian melengking menceritakan berbagai hal tentang daerah selatan, seolah ingin menggunakan angan-angan yang indah menahan lapar dan dingin yang menyerang tubuh.
Lelaki itu berputar-putar di dalam rumah, tetap tidak bisa menemukan kayu yang bisa dibakar. Hanya tinggal sepasang bakiak, ini adalah bakiak yang dia bikin sendiri buat isterinya sewaktu baru menikah, bahkan dipernis, licin mengkilap. Dia beberapa kali terpikir ini adalah satu-satunya benda buat menghidupkan api, tetapi niat ini akhirnya dibuang.
Letih dan frustrasi dia duduk di depan perempuan itu, di atas meja tidak ada apapun, dia masih dengan matanya yang redup dan kekuningan menyapu seluruh permukaan meja, berharap bisa menemukan secuil makanan yang tersisa. Dia sudah satu minggu tidak makan, lapar membuat kepala dan matanya sangat berat, dan perempuan itu masih tanpa henti menuturkan daerah selatan, tentang enam belas jam cahaya matahari yang hangat, tentang roti yang dioles madu dan mentega setebal dinding, dia seolah pertama kali merasakan semua ini nyata, terpampang di depan mata.
” Teruskan, teruskan, mentega, madu, roti, cahaya matahari, bahkan keledai juga makan gandum. Dia begini teriak di dalam hati, dia harus menahan sakit yang mengiris di lambung dan usus.
Perempuan itu juga mulai merasakan dingin beku pelan-pelan memanjat ke dada, dia merasa agak sesak, rasa beku ini telah dari segala arah mengepung jantungnya, kata-kata yang keluar dari mulutnya kian lemah dan kacau, namun dia tidak berani berhenti, suaranya menjadi aneh bercampur aduk dengan rintihan dan tangis.
” Bunda Maria, Bapaku, Bapaku, Yesus Kristus ——— ”
Tangannya yang merapat sudah tidak bisa dipisahkan, beku di dalam sebuah posisi berdoa. Matanya mengalir keluar airmata, kematian membuat dia pertama kali merasa begitu dekat dengan Tuhan, dia terus-menerus memanggil nama malaikat.
” Ah ——— ”
Dia terasa berputar-putar, di depannya sehamparan kuning keemasan berpijar, ada suara dentingan yang halus berasal dari empat penjuru.
Ada satu malaikat bersayap panjang telah tegak di depannya.
Malaikat?
Telah ada berbagai macam penelitian dari pakar-pakar tentang hal-hal begini yang konon disebabkan halusinasi karena kelaparan ataupun penderitaan berkepanjangan, tetapi itu tidak begitu penting dalam jalan cerita ini.
Malaikat berkata: ” Perempuan, doamu telah didengar Mahatahu, kalian bisa mengajukan tiga permintaan, apapun yang kalian inginkan, pasti terkabul ”
Konon, kata-kata malaikat jauh lebih anggun [ persis seperti Kidung Agung ] kata perempuan itu. Tetapi karena perempuan itu buta huruf, tidak tahu tatabahasa, apalagi retorika yang memukau, sehingga kata-kata malaikat itu menjadi kasar, hal ini telah membuat gusar banyak teolog, tentu itu adalah urusan lain lagi.
Pokoknya, poin terpenting adalah sepasang suami isteri tua yang tidak memiliki apapun, di saat dingin dan lapar, tiba-tiba dikasihi Tuhan, memberi mereka tiga permintaan, dan paling penting adalah pasti dikabulkan.
” Tiga permintaan ” Perempuan itu berlinang airmata, terus-menerus menyembah ke arah malaikat menghilang, tiba-tiba dia merasa kaki tangannya hangat kembali. Mulutnya komat-kamit menuturkan segala puja-puji yang dia hafal. Dia tenggelam di dalam semacam keriangan baru, kaki tangannya kembali lincah, loncat dari kursi, berteriak dan berputar-putar di dalam rumah.
” Tiga permintaan, tiga permintaan, ah, bagaimana menggunakan tiga permintaan ini? ”
Dia gundah, ” Ke daerah selatan, enam belas jam cahaya matahari, roti yang dioles madu dan mentega setebal dinding, ——— tidak, tidak, aku bisa mendapatkan yang lebih bagus, roti masih terlalu mudah didapat, apa yang akan kuminta? ”
” Mesti baik-baik mempergunakan tiga permintaan ini. Jadi raja, jadi ratu, ada beratus beribu pembantu melayani, ada makanan enak yang tiada putus, ingin seribu potong sapi panggang, buat apa masih makan roti, ya? ” Dia teriak ke arah suaminya yang masih linglung: ” Nasib baikmu sudah tiba, tahu tidak? Tolol, mahkota Raja Philip yang penuh permata juga bisa dipindahkan ke kepala babimu, kau harus cepat-cepat berterima kasih kepada Tuhan! Mengenai daku, ah! Aku ingin mandi susu, pelan-pelan menggosok tubuhku… ”
Dia mulai cekikikan, suaminya amat ketakutan. Lelaki tua ini merasa tiga permintaan yang diberikan oleh malaikat ini benar-benar sangat nyata, dia sudah lapar setengah mati, dia harus segera mempunyai makanan menganjal perut, dia menggunakan seluruh kekuatan di dalam hidupnya teriak ke udara:
” Malaikat, beri aku sepiring sosis panas mengepul! ”
Saat tulis lambat, waktu itu cepat, di atas meja sudah muncul sepiring sosis, tentu ala Eropa Utara, tambah bawang putih dan daun adas, dan benar-benar panas mengepul.
Lelaki tua itu antara terkejut dan terpesona, yang jelas bengong.
Perempuan tua langsung meledak. Dia hidup-hidup diseret keluar dari kebahagiaan yang belum tampak tepi, melihat suaminya yang dungu merusak sebuah permintaan yang begitu berharga, tidak dapat menahan amarah, dengan kata-kata paling menusuk menjerit ke arah suaminya:
” Kau keledai bodoh yang seharusnya disembelih, kau bangsat yang menjijikkan, kau telah membuang sebuah hadiah dari malaikat. Oh, malaikat, maafkan kami! Kau kesurupan, buat apa minta sosis yang membuat mual…… ”
Lelaki tua itu termangu menatap sepiring sosis, uap minyak yang indah melayang ke sana ke sini, dia hanya berpikir segera menggigit sepotong.
” Hentikan tanganmu, ” Api amarah perempuan itu sudah di ubun-ubun, dia berteriak keras:
” Aku ingin sosis ini segera menempel ke hidungmu! ”
Tanpa sadar perempuan itu telah menggunakan permintaan kedua.
Saat tulis lambat, waktu itu cepat, sepotong-sepotong sosis telah menempel di hidung lelaki tua
Piring kosong, lelaki tua merasa dari hidungnya menyebar aroma sedap, dia berusaha menatap ke bawah, menemukan beberapa potong sosis yang indah tergantung di hidungnya, bisa dilihat tapi tidak bisa digapai. Dia coba menjulurkan lidah, tetapi tidak bisa menjilatnya. Sosis begitu dekat, kenyal dan bergoyang-goyang, tetapi tidak bisa dicicipi, dia merasa begitu putus asa.
” Ah ——— ” Perempuan itu menutup mulut menangis sejadi-jadinya.
Penyebab dia menangis teramat rumit, yang paling dangkal tentu adalah dia segera menyadari dia telah sia-siakan permintaan berharga yang kedua.
” Aku bisa menggunakan ini untuk meminta sebuah istana yang ditempel dengan koin emas! ” Demikian dia berpikir: ” Namun sungguh bodoh, aku hanya menggunakannya buat menempel beberapa potong sosis di atas hidung keledai bodoh ini. ”
Tambah membuat dia sedih adalah hidung suaminya yang tergantung beberapa potong sosis itu sangat menakutkan, jika dilihat tetangga, akan bagaimana mereka bergosip dan menilai dirinya.
Dia terus menangis, menyalahkan nasib, menyalahkan suaminya yang bodoh, dia berpikir meninggalkan lelaki tua dan bodoh ini.
” Kau bawa saja sosis sialan ini bersamamu ke neraka! ” dia berkata.
Dia berputar satu kali di dalam rumah, bersiap-siap melangkah keluar, tetapi masih ragu-ragu tidak tahu apakah ada sesuatu yang terlupakan, sesungguhnya mereka sudah samasekali tidak memiliki apapun di dalam rumah, setelah mencari ke sana-sini, yang bisa dibawa hanya sepasang bakiak pemberian suaminya.
Dia memegang bakiak di tangan, kembali menangis.
Lelaki tua itu masih tegak melongo, dengan berbagai cara coba menjilat sosis yang tergantung dihidungnya, tetapi apapun cara yang dia gunakan, sosis selalu sedikit diluar jangkauan ujung lidahnya
” Aduh, sayang sekali hanya selisih setengah centi. ” Lelaki tua berkata di dalam hati.
Perempuan tua menenteng bakiak, melihat suaminya yang buruk dan rakus itu, makin dipikir makin menakutkan, seorang lelaki dengan sosis menempel di hidung, bagaimana melangkah keluar rumah, bagaimana bertemu orang? Bagimana seandainya orang-orang masih ingat aku adalah isterinya……
” Ah ——— ” Dia kembali menangis, bakiak di tangan terasa begitu berat, dia merasa luar biasa capek.
” Tapi, tapi, tapi aku tinggal satu permintaan ” Hatinya terasa amat berat
Konon, dalam keadaan hati yang penuh sesal dan dendam, dia melonglong, merasa seluruh hidupnya telah hancur, lalu melemparkan sepasang bakiak ke arah suaminya, dan dengan suara paling memilukan teriak:
” Sosis sialan, kalian semuanya kembali ke dalam piring ”

Paninea

Cerpen Gui Susan

Jika kita tahu rasanya lapar, maka, ketika kita merasakan perasaan kenyang, kita akan bersyukur dan terberkati.

cerpen anak malang
gambar diunduh dari nosirds-files-wordpress.com

Paninea menutup bukunya, tulisan yang sederhana itu cukup menghibur hatinya. Tapi, tetap tidak bisa membohongi dirinya dari rasa lapar. Paninea mengelus perutnya, seperti ingin sekedar menabahkan perutnya yang sedang digerus rasa lapar.

Paninea menatap ke sekeliling pasar, banyak orang berhilir mudik. Kebanyakan mereka membawa kantung-kantung belanjaan yang diisi sayuran, daging, atau baju. Hari raya, seharusnya Paninea pun merasakan makan daging. Tidak dia pikirkan baju baru, Paninea sangat mendambakan makan daging. Dalam benaknya ada terselip doa, semoga tetangga di samping-samping rumahnya bersudi diri untuk memberikan semur daging dan ketupat ketika hari raya nanti. Di kehidupan keseharian, untuk memakan daging, Paninea harus mengikhlaskan kakinya dipukul ibunya.

“Apa kau bilang Nea? Kau mau minta dibuatkan semur daging? Buta mata kau itu? Orang miskin kaya kita harus pandai bersyukur! Ketemu nasi sudah cukup, jangan minta macam-macam,” hardik Ibu sewaktu Paninea merenggek ingin merasakan semur daging. Dan hardikan ibu itu disimpan baik dalam hati Paninea. Angin berhembus kencang, orang masih banyak berlalu lalang, ada juga penjual sayuran yang berleye-leye karena dagangannya tidak laku.

Paninea membuka lagi bukunya, dengan tangan gemetar dia mulai menyusun kembali kata-kata.

Apa kabar bapak? Apa bapak ingat kalau Nea masih hidup dengan ibu? Katanya bapak akan jemput Nea dan bawa  Nea makan enak, main komidi putar terus beli gulali. Apa bapak tahu apa yang ibu lakukan setelah bapak pergi?

***

Paninea hanya gadis kurus berkulit coklat, rambutnya sepunggung, matanya cokelat, dan kukunya panjang-panjang. Paninea adalah gadis kecil yang menjual plastik di pasar dari jam enam pagi sampai jam dua siang, lalu Paninea akan bergegas menuju surau kecil yang terletak di ujung lorong. Di saku belakang celana Paninea selalu ada buku notes kecil dan pensil yang panjangnya tidak lebih dari jari kelingking. Paninea suka menulis, itu alasan kenapa dia selalu membawa buku notes dan pensil ke mana-mana.

Jam sepuluh pagi, Paninea berjalan gontai menawarkan plastik ke ibu-ibu yang dilihatnya kesulitan dengan barang belanjaannya. Sejak dari jam enam pagi, Paninea hanya dapat uang lima ribu rupiah. Keringat keluar dari kulit jangatnya. Wajah Paninea memucat, karena biasanya sebelum jarum jam menunjuk angka sepuluh, dia sudah bisa menjual plsatik dan mengumpulkan uang hingga lima belas ribu rupiah di saku bajunya. Hari itu, sepertinya akan menjadi hari yang buruk. Paninea duduk di ujung lorong, dia mengeluarkan buku dan pensilnya.

Cuma 5000 pasti ibu marah sekali. Tidak ada beras, tidak ada daging, pasti aku dipukul lagi.

Paninea menarik nafas dalam-dalam. Ketakutan terbesar Paninea adalah rumah. Rumah di mana Paninea tinggal dengan ibunya; ibu tiri. Sudah 3 tahun kabar dari Bapak Paninea tidak terdengar lagi. Paninea ingat, Bapak Paninea pamit untuk mencari uang di kota. Itulah kabar terakhir yang bertahan di ingatannya, sejak perpisahan itu, tidak ada lagi kabar.

Paninea tinggal dengan ibu tirinya, Mak Suripah, dan Paninea kerap dijadikan bulan-bulanan kemarahan jika ibunya tidak ada panggilan nyanyi di dangdut dorong atau di pesta-pesta kawinan. Jikapun ada panggilan, ibunya kerap pulang dalam keadaan tidak sadar dan bau alkohol. Yang paling membuat heran Paninea adalah ibunya sering pulang bersama lelaki yang berbeda. Jika sudah ada lelaki yang bertandang ke rumah mereka, Paninea akan dapat uang jajan untuk beli gulali di warung, tidak banyak, cuma 4 butir tapi hal itu menggembirakan hati kecil Paninea.

Paninea mengeluarkan buku dan pensilnya.

Apa ibu sayang dengan nea?

Paninea berdiri dan kembali mencoba menjual plastik. Hingga sore, Paninea hanya dapat sepuluh ribu rupiah. Wajahnya pucat ketakutan, dengan gontai Paninea berjalan pulang ke rumahnya. Di depan pintu, Paninea melihat sebuah motor terparkir di bawah pohon mangga. Hati Paninea sedikit terhibur, tandanya ibu ada kerja malam ini. Paninea masuk ke dalam rumah, Pak Masus, pemilik orkes dangdut sedang duduk manis di samping ibu.

“Heh, dapat berapa jualannya?” tanya Ibu.

“Sepuluh ribu, Bu.”

“Ahh..kok cuma segitu!”

Pak Masus mengelus pundak Ibu.

“Sabar Jeng, nanti malam kan dapat bagian nyanyi. Sini Nea, Om kasih uang beli gulali. Belinya yang jauh ya,” Pak Masus mengeluarkan uang lima ribuan. Paninea berdiri terpaku. Ibunya menatap dengan sedikit melotot, seakan memberi instruksi untuk mengambil uang itu dan menyuruh Paninea lekas keluar dari rumah.

Paninea mengambil uang yang disodorkan oleh Pak Masus lalu pergi gegas tanpa melihat lagi ke belakang. Paninea berjalan tidak tentu arah, dia tidak pergi ke warung. Hati kecilnya berkata bahwa dia tidak ingin gulali, ini bukan uang yang baik, gumamnya pelan. Akhirnya Paninea memutuskan untuk duduk di pojok surau sembari menuliskan banyak sekali kalimat. Hingga akhirnya Paninea tertidur karena terlalu letih.

***

Paninea akhirnya terbangun ketika suara bedug dipukul; menggema ke seluruh kampung. Paninea menatap ke jam dinding, subuh. Matanya mengerjap seakan ingin meyakinkan diri kalau-kalau dia salah melihat. Tersadar kalau memang sudah subuh, Paninea langsung berdiri dan berlari pulang ke rumahnya, ibunya pasti mengamuk, pikirnya.

Sesampainya di halaman rumah, motor Pak Masus masih terparkir di bawah pohon mangga. Perasaan Paninea tercampur aduk. Pelan-pelan dia masuk ke dalam rumah, Pak Masus sedang duduk, bertelanjang dada dan terselip rokok di bibirnya. Seketika bulu kuduk Paninea meremang tidak menentu, dadanya berdegup kencang.

“Sini duduk, deket Om,” panggil Pak Masus.

Paninea diam kaku, tanpa memperdulikan ajakan Pak Masus, Paninea masuk ke dalam kamar. Tapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh Pak Masus. Paninea terjatuh ke lantai dan pak Masus menindihnya dari atas. Paninea menangis menjadi-jadi, dan tiba-tiba ibu sudah berdiri tepat di belakang Pak Masus.

Air matanya menetes, entah mengapa, untuk pertama kali Paninea melihat ibunya menangis. Ibu berlari ke dapur, lalu tidak berapa lama kemudian ibu datang dengan membawa pisau dapur. Mata Paninea ketakutan. Ibu, sembari menutup matanya menghujamkan pisau dapur itu tepat ke punggung bagian tengah Pak Masus.

Pak Masus berteriak kesakitan sebelum kemudian jatuh ke atas tubuh Paninea, ujung pisau tepat mengenai bagian tengah dada Paninea. Darah mengalir. Ibu menarik tubuh Pak Masus dan menarik Paninea untuk berdiri. Ibu membuka baju Paninea dan memeriksa ke lukanya. Bergegas Ibu masuk ke kamar. Di tangannya terkepal segulung uang yang diikat karet gelang. Ibu mengulurkan uang itu dan menaruhnya di tangan Paninea. Paninea menangis terisak.

“Pergi sana, jangan kembali ke sini. Anggap ibu mati, ” ujar ibu pelan.

Dada Paninea sekejap nyeri. Monster yang sangat ia takuti kini bersukarela melindunginya. Paninea menggeleng, dia tidak mau berlari seperti pengecut.

“Pergi!” hardik Ibu.

Paninea menggeleng.

“Pergi!! Jangan pernah kembali, ibu sudah mati.”

Paninea menggeleng lagi.

Ibu mendorong tubuh Paninea keluar dari pintu, Paninea berontak. Lalu ibu mengunci pintu dari dalam. Paninea menangis dan mengetuk.

“Ibu!” jerit Paninea

“Pergilah Nak, ini akan berat buatmu. Itu uang untuk bekalmu hidup ke depan. Ibu sudah mati.”

Untuk pertama kali, Ibu memanggil Paninea dengan kata-kata ‘Nak’. Paninea semakin menangis tersedu.

“Pergilah Nea, beli makanan yang kau suka,” ujar Ibu.

Itulah kata-kata Ibu yang akan menjadi kata-kata terakhir yang didengar Paninea, sebab pada keesokan paginya, ketika pintu rumah dibuka paksa oleh warga kampung, Ibu sudah meninggal dengan pisau tertancap di dadanya. Paninea berdiri kaku di bawah pohon mangga. Air matanya mengalir. Tanpa henti. Kali ini, dia tidak lagi ingin menulis. Tidak ada lagi kata-kata yang pantas untuk menceritakan ini.

 

Cahaya terang berisi air itu menghasilkan buih-buih yang menutupi permukaannya, yang meghalangi kita untuk dapat melihatnya dengan sumber mata batin yang berada jauh di dalam.”

 Rumi. Matsanawi VI, 3400-3431.

*) Gui Susan,  pecinta buku dan seorang ibu, tinggal di Jakarta, berjejaring sosial di twitter @GuiSusan dan Facebook: Gui Susan. Beberapa puisi dan cerpennya pernah dimuat di Kompas.com

Terowongan Maut

Cerpen A. Kohar Ibrahim

Sitoyen Sant-Jean
Novel “Sitoyen Sant-Jean – Antara Hidup Dan Mati” oleh A.Kohar Ibrahim; Penerbit Titik Cahaya Elka, Batam, Kepri 2008. Editing: Lisya Anggraini.
KISAH sekitar atau berkaitan dengan terowongan seringkali sarat akan perasaan gairah penuh asa bisa sekalian juga tak lepas rasa was-was. Seperti kisah dalam cerpen Maxim Gorky yang justeru berjudul ‘Terowongan’. Seperti kisah kapal tenggelam Titanic. Juga seperti perasaan yang timbul campur imajinasi ketika mengunjungi terowongan yang digunakan Tentara Merah dalam sejarah Perang Rakyat Tiongkok. Dan juga ketika kami sempat mengunjungi musium tambang batu bara Bligny di daerah Walonia Belgia. Yang kesemuanya, kisah-kisah itu saling silang seling berkaitan dengan makna operasi, makna kekerasan dalam aksi peperangan maupun aksi kerja keras rakyat pekerja.
Sungguh sesungguhnyalah kata operasi adalah kata yang jarang aku gunakan. Kata yang kedengarannya tak aku suka, lantaran secara subyektif kontan mengingatkan pada tindakan kekerasan. Apa pula ditambah kata bedah atau pembedahan. Lebih-lebih lagi operasi pembedahan itu bukan tertuju pada orang lain, melainkan pada diriku sendiri. Pada tubuhku sendiri. Pada perutku sendiri. Kedua kata itu – operasi bedah – sungguh membuat aku terkejut melongok, tercenung merenung, bingung.

Aku rasakan, aku bayangkan, diriku bagai sehelai daun menguning nyaris kering di ujung ranting. Antara asa dan putus asa. Runtuh jatuh melayang-layang antara bumi dan kahyangan. Betapa gamang kegamangan ini begitu mengerikan dalam kelengang-hampaan. Takut. Rasa takut ketakutan menerjang sekalian menyergap, menikung jiwa-ragaku dalam kurungan. Aku berteriak. Memberontak. Aku tak mau dikurung pun terkurung dalam kebingungan sekalian dirajam ketakutan.

Dalam mengayunkan langkah menelusuri perjalanan hidup kehidupanku tidaklah sederhana dan mudah. Seperti tertera dalam catatan atau kenangan tertulisku, sejak masa muda remaja sampai lansia. Antara lain pengakuanku: Iya, aku terjatuh jatuh bangun. Namun jejak langkah terus kuayun. Menelusuri rimba raya, lembah, lereng bukit dan gunung atau pun gurun. Ya Allah, Allahu Akbar! Betapa tabah ketabahan bermakna besar, seraya setia menjaga marwah dalam gairah maupun dalam susah payah. Tak kan sekali kali kubertekuk lutut sekalipun garangnya musuh dan maut. Sekali pun sekali terjatuh aku bangun lagi, mengayun langkah dengan tabah sekalian menjaga marwah.

Aku jatuh terjatuh lalu bangkit kembali menegakkan langkah yang jadi kebiasaanku selama ini. Begitulah. Tekadku tak berubah. Meski aku ngaku, ragaku tidak lagi dalam masa remaja sampai dewasa yang gagah; memasuki masa lansia terasa keperkasaannya berangsur melemah. Apa pula jatuh terajam penyakit yang tak pernah aku suka pun tak pernah aku duga. Hingga menjadi lemah lantaran kekurangan darah: Anemia adanya. Lantas mesti mengalami operasi bedah? Ah… !

Operasi dioperasi dibedah, sungguh aku tak suka mendengar ujar kata itu. Apa pula mesti aku sendiri yang akan mengalaminya. Tapi apa daya, hal itu sudah merupakan keputusan dari tim kedokteran dan pengobatan Klinik Saint-Jean. Sebagai diagnosa dari pemeriksaan-pengobatan-perawatan sejak aku masuk rumah sakit atau klinik ini. Jelasnya, sebagai hasil kesimpulan dari pemeriksaan yang terakhir aku jalani. Yakni gastroskopi dan kolonoskopi.

Dua pemeriksaan yang aku jalani Jumat kemarin — pagi-pagi sekali kemudian siang hari — macam pemeriksaan keadaan kesehatan badan yang paling berat aku rasakan.

Yang pertama. Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Jam enam. Badanku yang sudah lemas bertambah lemas lantaran puasa. Tidak boleh makan dan minum sejak kemarin malam. Pagi hari tentu saja tanpa sarapan pagi. Pada jam delapan seorang juru-rawat sudah siap mengantarku, dengan menggunakan kursi-dorong, dari kamar biasa di tingkat tiga turun ke ruangan lantai bawah-tanah. Perutku yang memang sering terasa sakit dan mual, kian bertambah mual saja, ketika turun menggunakan lift.

“Courage, Monsieur“, ujar sang juru-rawat asal Afrika bernama Clemantine – seperti tertera di kartunama tanda pengenal yang nyantel di dadanya. “Gastroskopi merupakan pemeriksaan yang tak menyenangkan. Harap sabar dan tabah.”

Harus tabah dan bersabar, itulah nasihat sang juru-rawat berkulit-hitam manis teriring senyum, menyerahkanku kepada seorang juru-rawat yang bertugas di lantai bawah-tanah. Di ruangan yang cukup luas memanjang, dengan warna dinding tembok yang putih keabu-abuan. Rasanya dingin kebanding di ruang lantai atas. Dan aku dideret-jajarkan dengan para pasien lainnya. Lantas menyuruhku meminum segelas besar air yang sebenarnya dicampur zat obat pengobatan. Rasanya agak aneh sekalipun ada aroma jeruknya. Setelah tiga perempat jam baru aku dibawa masuk ke ruang khusus untuk gastoskopi. Dibaringkan dengan posisi miring sebelah kiri, di atas meja yang mirip ranjang berseprei putih. Lantas seorang dokter datang menyapa dengan ramah seraya minta kerjasamaku. Agar supaya pemeriksaan berlangsung secara lancar dan mencapai hasil yang diperlukan. Ketika aku penasaran tanya,” Kerjasamanya bagaimana, Tuan Dokter?”

Sang dokter tersenyum. “Mudah saja,” katanya. “Jaga ketenangan, jangan panik. Meski nanti terasa haus dan hangat di tenggorokan. Dan bernafaslah dengan mulut, setuju?”

Oui, Docteur. D’accord,” jawabku polos.

Jawaban polosku itu sesungguhnya berupa kepasrahan saja, meski sarat nekad sekalian itikad untuk memulihkan kembali kesehatanku. Dengan mencari sekaligus menemukan sebab-musabab keadaan anemia lantaran terjadinya pendarahan. Maka aku tak berkutik pun tanpa berkata apa-apa lagi ketika menerima saluran oksigin via lubang hidungku. Ketika ada alat di mulutku supaya tetap mangap. Ketika menerima zat yang hangat-hangat panas mengalir di jalur kerongkonganku. Dan ketika, akhirnya, via kerongkongan sang dokter memasukkan pipa mungil yang dilengkapi kamera untuk mendeteksi sekaligus memotret panorama perutku — usus besar dan jalur kolon-nya sekalian. Rasa perasaan aneh menghujam-rajam diriku, seluruh jiwa-ragaku. Anehnya rasa haus kehausan dan sakit kesakitan yang luar biasa, ketika sang dokter melakukan pencariannya dengan alat yang bagiku aneh pula itu. Kadang rasa haus dahaga begitu terasa. Ah, kehaus-dahagaan melebihi ketika puasa di bulan Ramadan; mungkin lebih jitu kehaus-dahagaan seperti musyafir di padang pasir? Kadang pula terasa dingin, seperti terbenam di dasar laut. Tak ubahnya seperti kapal Titanic yang diselami penyelam dengan dilengkapi pipa berkamera untuk mendeteksi sekaligus memotret apa saja yang dianggap penting, sebagai penemuan yang layak disimak dan sebagai pengetahuan bermakna.

Selama beberapa saat panas-dingin merejam badan kian menigkat terasa, sepertinya aku telah kehabisan nafas, nyaris pingsan. Sampai saat sang dokter menarik kembali pipa secara keseluruhan, dan aku bisa bernafas kembali seperti biasanya. Aku pejamkan mata lantaran keletihan. Baru terjaga beberapa lama kemudian ketika sudah kembali berada di kamar pasien di lantai atas.

Agaknya selama dua jam lebih aku terlena dengan nyenyak, membikin badan terasa lebih enak. Hanya untuk mengalami pemeriksaan lainnya – kolonoskopi — beberapa jam kemudian. Yakni pada jam lima sore. Pemeriksaan yang juga aneh, menimbulkan rasa aneh keanehan akibat alat yang digunakan — semacam pipa yang juga dilengkapi pendeksi sekaligus pemotret keadaan kolon. Keanehan yang menerkam rejam jiwa raga terkesankan kenyerian dan kewaswasan serta penasaran. Meskipun berlangsung tidak lama dan betapa sigap-cakapnya sang dokter memanipulasi alat yang digunakannya – mulai dari mulut lubang dubur sampai masuk merasuk ke dalam perut, istimewa ke usus yang disebut kolon itu — namun kiranya, ya ampun, cukuplah sekali itu saja.

Iya. Sekali itu saja. Masing-masing sekali itu saja – pemeriksaan yang disebut gastroskopi dan kolonoskopi itu. Sekali itu saja dan terakhir kali, akupun bergerak secara otomatik begitu mendengar saran sang dokter supaya aku cepat ke toilet. Gerak cepat seperti robot otomatik dari meja pasien ke toilet hanya untuk secepatnya mengeluarkan isi perut sehabis-habisnya hingga kempis. Untuk kedua kalinya perasaan aneh lantaran keletihan menyergap jiwa-ragaku. Ketika sang juru-rawat menjemputku kembali ke ruang kamar pasien, aku segera terbaring di ranjang dan tertidur lelap.

Suasana kedua macam pemeriksaan medis itu layaknya membawaku pada kenangan sekaligus pengalaman yang menimbulkan perasaan sarat asa dan ketiadaan asa, campur-baur rasa ngeri dan was-was berkenaan dengan terowongan. Timbulnya rasa perasaan aneh di dalam terowongan sekaligus sebagai terowongan. Terowongan dalam perjuangan hidup-mati di medan laga peperangan, pekerjaan dan di dalam jiwa-raga diri sendiri.

Akan tetapi, suka tak suka, kedua macam pemeriksaan bagaikan terowongan itu, merupakan lanjutan yang wajar. Sebagai mata-rantai tak terpisahkan dari rangkaian pemeriksaan medis lainnya yang tidak bisa tidak dijalani. Karena atas dasar kesemuanya itulah team kedokteran menyatakan diagnosanya, menarik kesimpulan dan memutuskan cara terbaik untuk menghentikan pendarahan yang terjadi. Yakni dengan melakukan operasi pembedahan. Operasi untuk melikwidasi tumor yang mengidap di bagian kolon dalam perutku.

Iya. Kolon itu tak ubahnya bagai terowongan yang selain bisa hidup menghidupkan, sebagai saluran pembuangan sampah atau kotoran dari dalam perut, sekaligus juga bisa mematikan jika tersumbat atau diidapi tumor yang gawat jadi penyebab pendarahan hingga kehilangan darah.

Catatan:

Naskah “Terowongan Maut” bisa dianggap cerpen, meski merupakan bagian dari Novel berjudul “Sitoyen Sant-Jean – Antara Hidup Dan Mati” oleh A.Kohar Ibrahim, hlm 129-137; Penerbit Titik Cahaya Elka, Batam, Kepri 2008. Editing: Lisya Anggraini.

Nelayan Malam

Cerpen Mo Yan
Alih Bahasa John Kuan

Setelah menggesek dan merenggek begitu lama, akhirnya Paman 9 mengangguk bawa aku ikut serta menangkap ketam di malam hari. Itu adalah pertengahan tahun 60-an, tiap tahun pasti pergi tangkap, dua li keluar dari kampung, tempat sebuah rawa terbentang.
Usai makan malam, Paman 9 membawa aku keluar kampung. Waktu akan berangkat, ibu berulang kali berpesan agar aku mesti dengar kata-kata Paman 9, jangan sembarangan lari dan gerak, serta berpesan agar Paman 9 menjagaku baik-baik. Paman 9 berkata: “Tak usah risau Kak, aku tak hilang, dia juga tak akan hilang.” Ibu menyodorkan kepada kami dua potong roti bawang, agar ketika waktu lapar tiba, bisa ganjal perut. Kami memakai jas hujan dari bambu, menutup kepala dengan caping. Aku membawa dua buah karung goni, Paman 9 memegang sebuah lampu minyak dan sebuah sekop di pundak. Belum jauh keluar dari kampung, kami sudah kehabisan jalan, di mana-mana hanya tanah becek air lumpur dan batang-batang sorgum malang melintang. Untung kami berkaki ayam dan punggung telanjang, tidak peduli entah apa air entah lumpur.
Malam itu bulan amat besar. Kalau bukan hari empat belas pasti hari enam belas bulan delapan. Yang jelas sudah pertengahan musim gugur, angin malam sejuk enak. Cahaya bulan putih bersih, menyorot di atas air -di sela-sela batang sorgum-, sekeping-sekeping bagai kilau perak memancarkan cahaya. Puak katak yang telah bising satu musim panas kini sedang sibuk mengheningkan diri, oleh sebab itu sangat tenang. Suara langkah kami yang bawa air seret lumpur kedengaran makin jelas. Terasa seperti sudah berjalan sangat sangat lama, baru berdiri keluar dari lahan sorgum. Memanjat ke atas sepotong pematang, kata Paman 9, ini adalah tanggul kali, tempat memasang jaring menangkap ketam.
Paman 9 melepaskan jas bambu dan caping, juga melorotkan celana yang ikat di pinggang, telanjang bulat-bulat. Dengan sekop di pundak dia loncat ke dalam kali yang lebarnya kurang lebih sepuluh meter itu, menyekop bongkahan tanah basah berserabut akar rumput. Air kali sekitar setengah meter dalamnya, arusnya sangat pelan. Hanya sebentar saja Paman 9 sudah membangun sepotong bendungan hitam di tengah kali, agak mendekati tanggul, dibuka sebuah mulut kurang lebih dua meter, dipasang dua lapis pagar dari batang sorgum sebagai jaring ketam. Paman 9 menggantungkan lampu minyak di samping pagar sorgum, lalu menarik aku duduk di luar cahaya lampu, menunggu tangkap ketam.
Aku bertanya kepada Paman 9, “Jadi tangkap ketam begini mudah?”
Paman 9 berkata,” Lihat saja nanti. Malam ini bertiup angin kecil barat daya. Angin barat daya mengiang, kaki ketam pun miang. Ketam-ketam di dalam lobang lumpur bergegas kumpul ke sungai sehitam tinta rapat. Kali kecil ini adalah jalan yang mesti dilewati, takutnya sampai langit terang, kita pakai dua karung goni pun tidak cukup muat.”
Di atas tanggul memang lembab. Paman 9 mengelar sebuah jas bambu, suruh aku duduk di atasnya. Paman 9 membiarkan tubuhnya tetap bugil, ototnya berpijar-pijar cahaya perak. Aku merasa dia sangat gagah, lalu kukatakan dia sangat gagah. Dia dengan sombong berdiri, merentangkan tangan menyepakkan kaki, polos seperti seorang anak kecil.
Tahun itu usia Paman 9 agaknya delapan belas lebih sedikit, masih belum punya isteri. Dia suka main dan pandai pula main, pukat ikan tangkap burung, curi labu ngutil jujube, semuanya dikuasai, semuanya ahli, kami sangat senang bisa bermain bersamanya.
Setelah menyiksa diri beberapa waktu, dia memakai kembali celananya, duduk di atas jas hujan, berkata, “Jangan gerak atau keluar suara, ketam paling hantu, kalau dengar suara langsung menempel tidak merayap lagi.”
Kami hening, sebentar memandang lampu yang memancarkan cahaya kuning nan hangat, sebentar melototi tembok mematikan dari batang sorgum itu. Paman 9 berkata asal ketam memanjat ke dalam pagar batang sorgum, pasti tidak bisa lolos lagi, kita hanya perlu turun mengambilnya.
Air kali terang berayun-ayun, seolah tidak tampak mengalir, hanya sedikit buih yang memercik dan menggulung di pagar batang sorgum menunjukkan air masih mengalir. Ketam belum tampak, aku mulai sedikit tidak sabar, maka bertanya kepada Paman 9. Dia berkata, hati jangan hilang sabar, hati hilang sabar tidak bisa cicip bubur panas.
Kemudian uap lembab mengapung dari permukaan tanah, bulan memanjat sampai tempat yang sangat tinggi, bulatnya kelihatan agak kecil, tapi pijarnya makin terang, biru-biru lebam, di dalam lahan-lahan sorgum yang jauh dan dekat, uap kabut segumpal-segumpal, selapis-selapis, kadang kental kadang ringan, sedap betul dipandang. Di tengah semak tepi kali, serangga musim gugur teriak nyaring, ada yang mengaung, ada yang mencericit, ada yang mendesah, menyatu jadi sebuah nyanyian. Suara serangga membuat malam seperti makin hening. Di dalam lahan sorgum, sesekali masih ada suara kaki nyemplung ke dalam air, seperti ada orang bergerak dengan langkah-langkah lebar. Kabut di atas kali juga kental ringan tidak merata, terus berubah tak terduga, air kali yang berpijar keperakan kadang-kadang tertutup kabut, kadang-kadang menampakkan diri dari tengah kabut.
Ketam masih belum tampak, aku sudah mulai gelisah. Paman 9 juga menggerutu, berdiri lalu jalan ke samping memeriksa pagar batang sorgum. Setelah kembali dia berkata: “Aneh aneh aneh, malam ini seharusnya adalah arus besar pelintasan ketam.” Katanya, angin barat daya mengiang kaki ketam pun miang, ketam tidak keluar ini macam ada hantu.
Dari sebatang pohon di tepi kali Paman 9 memetik selembar daun yang mengkilap, dijepit di dua bibirnya, meniup keluar suara-suara seperti rintihan yang aneh. Aku merasa tubuhku dingin sekali, lalu berkata: “Paman 9, kau jangan tiup lagi, kata ibuku malam gelap bersiul mengundang hantu.” Paman 9 sembari meniup daun pohon, menoleh lihat aku sekejap, sorotan matanya kehijau-hijauan, menimbulkan rasa aneh. Hatiku seketika berloncat cepat, tiba-tiba merasa Paman 9 amat asing. Aku mengkerut ke dalam jas bambu, kedinginan hingga seluruh tubuh gemetar.
Paman 9 konsentrasi meniup daun pohon, tubuhnya terendam dalam cahaya bulan yang makin putih bersih, bagai sebuah patung yang dipahat dari bongkahan es. Hatiku penuh tanda tanya: Tadi Paman 9 suruh aku jangan menimbulkan suara, takut ketam kaget, kenapa sekejap saja ia malah meniup daun pohon? Ataukah ini adalah salah satu cara memanggil ketam?
Aku mengecilkan suara memanggilnya: “Paman 9, Paman 9.” Dia samasekali tidak hirau dengan panggilanku, masih tetap meniup daun pohon, seperti rintih seperti kesah seperti entah, suaranya semakin didengar semakin aneh. Dalam panik aku coba gigit jariku, sangat sakit, membuktikan ini bukan di tengah mimpi. Menjulurkan tangan mencolek punggung Paman 9, ternyata dingin sampai menusuk tulang. Saat itu, aku benar-benar mulai merasa takut. Aku ingin lari, namun jalan malam sungguh gelap, tanah becek air lumpur, di mana-mana tertutup batang sorgum, bagaimana bisa sampai rumah? Aku telah menyesal ikut Paman 9 datang tangkap ketam. Lelaki dingin yang meniup daun pohon ini mungkin sudah lama bukan lagi Paman 9, mungkin saja siluman buaya atau jejadian ikan atau entah apa. Terpikir sampai di sini, aku takut hingga kulit kepala meledak, aku kira malam ini pasti tidak bisa pulang hidup-hidup.
Aku tidak tahu sejak kapan langit memunculkan sekuntum awan kuning, sepi sendirian, bulan tepat menyelinap ke dalamnya. Aku merasa pemandangan ini terlalu mengada-ada, langit yang begini luas, bulan mempunyai jalan yang begitu lebar untuk bergerak, kenapa mesti menelusup ke dalam gumpalan awan itu?
Cahaya dingin sudah terhalang, kali kecil, lahan-lahan luas mulai kabur menghitam, hingga cahaya lampu minyak itu kelihatan makin terang. Sesaat, tiba-tiba aku mencium ada sejurus bau wangi yang ringan. Bau wangi itu berasal dari kali kecil. Mengikuti bau wangi itu aku menatap, kelihatan di atas permukaan kali berdiri sebatang bunga teratai yang putih bersih. Bunga berada di dalam lingkaran cahaya lampu minyak, begitu luwes, begitu suci. Kolam di depan pintu rumah kami juga selalu memekarkan banyak sekali bunga teratai, namun tidak ada sebatang pun setara dengan yang di depan mata ini.
Munculnya bunga teratai membuat aku lupa akan takut, membuat aku terendam di dalam semacam perasaan bersih dan sejuk yang belum pernah kualami. Tanpa sadar aku berdiri, melepas jas bambu, berjalan ke arah bunga teratai. Kakiku terendam di dalam air hangat dan lembut, air yang mengalir pelan dan hangat mengelus-elus pahaku. Aku merasa sudah hampir mati keenakan. Jarak dengan bunga teratai sebenarnya hanya beberapa langkah, tetapi saat dijalani seperti luar biasa jauh. Antara aku dan bunga teratai jaraknya seolah tidak pernah berubah, seperti aku maju selangkah, ia mundur selangkah. Hatiku berada di dalam suatu kondisi terbius kebahagiaan. Aku tak berharap memetik bunga teratai ini, aku berharap selamanya bertahan di dalam kondisi bunga teratai berjalan dan aku juga berjalan, di dalam suatu pengejaran yang pelan dan memiliki tujuan yang indah, elusan air kali yang hangat, memberi aku suatu pengalaman kebahagian yang tak terlupakan sepanjang hidup.
Kemudian, cahaya bulan tiba-tiba menebar di seluruh permukaan kali, sekejap, aku melihat dia bergetar dua kali, memancarkan beberapa jurus cahaya putih yang lebih menyilaukan mata daripada kilat, kemudian, sekeping-sekeping bunga yang bagai pahatan giok jatuh berguguran. Serpihan bunga menyentuh permukaan air, hancur menjadi kepingan-kepingan bulat kecil, berputar hilang di dalam air kali yang berpijar-pijar. Batang teratai yang tadi mengangkat bunga tinggi-tinggi itu, setelah bunga luruh, juga ikut layu dan ambruk, berkelenjot dua tiga kali di atas permukaan air, lalu berubah jadi lingkaran riak air…
Tanpa terasa di dalam mataku mengalir deras air mata hangat, hati penuh dengan kesedihan yang manis. Hatiku sesungguhnya tidak pedih, hanya sedih saja. Semua yang terjadi di depan mata, bagai sebuah alam mimpi yang indah. Namun aku sedang bugil berdiri di dalam kali, air setinggi jantungku, setiap detakan jantungku membuat air kali bergetar sedikit, membentuk lingkaran riak. Walaupun bunga teratai telah hilang, namun wanginya yang ringan masih belum sirna, mengapung di atas permukaan air, menyatu dengan cahaya bulan yang putih dan jeritan lirih serangga…
Sebuah tangan kuat cengkeram leherku, mengangkat aku ke atas permukaan air. Seuntai-seuntai butiran air, bagai mutiara, dari dadaku, dari perutku, dari burung kecilku yang sebesar kepompong ulat sutera, menetes bergulir ke atas permukaan air. Aku mendengar air kali dikuak sepasang paha yang besar dan kokoh, menimbulkan suara gemuruh. Setelah itu, tubuhku dilempar ke atas, berputar satu kali di udara, kemudian mendarat di atas jas bambu.
Aku kira pasti Paman 9 yang menarik aku keluar dari tengah kali, namun setelah kulihat dengan seksama, Paman 9 masih duduk abadi di atas tanggul, masih begitu terpukau meniup daun pohon, samasekali tidak tampak ada jejak gerakan.
Aku teriak: ” Paman 9!”
Paman 9 masih menggigit daun pohon, menoleh sapu aku semata, sorotan matanya benar-benar seperti sorotan mata orang asing, bahkan dari sorotan itu mengalir keluar sedikit kedongkolan, seperti menyalahkan aku telah mengganggu dia meniup irama. Setelah punya pengalaman turun ke kali mengejar bunga teratai, takutku ternyata telah sirna, aku sudah tidak begitu peduli apakah Paman 9 itu manusia atau hantu. Dia seolah hanya seorang pemandu jalan yang membawa aku masuk ke alam yang aneh, tempat tujuan sudah sampai, keberadaannya juga sudah kehilangan makna. Dengan berpikir demikian, suara tiupan daun pohon yang awalnya seperti rintihan hantu telah berubah menjadi irama yang lembut dan merdu di telinga.
Cahaya kuning buram lampu minyak mengisyaratkan padaku, kami ke sini adalah untuk menangkap ketam. Sekali tunduk kepala, begitu angkat lagi, sudah kelihatan bergerombol berbaris ketam-ketam memanjat ke atas pagar batang sorgum. Ukuran ketam sangat rata, semuanya kurang lebih sebesar tapak kuda, cangkangnya hijau mengkilap, matanya panjang-panjang, capitnya diangkat tinggi-tinggi, gagah dan garang. Sejak lahir aku juga belum pernah melihat ketam yang begitu besar dan begitu banyak berkumpul, di dalam hati riang dan takut bercampur aduk. Colek Paman 9, tapi Paman 9 diam saja. Aku agak marah, ketam tidak datang, kau gelisah; ketam datang, kau tiup daun pohon, kalau memang mau tiup daun pohon buat apa di tengah malam susah payah lari ke tempat begini meniup? Aku sekali lagi merasa Paman 9 sudah bukan lagi Paman 9.
oriental on the river
ilustrasi disunting dari poster white snake legend
Sebuah tangan lembut macam kapas menyentuh kepalaku, begitu angkat kepala lihat, ternyata adalah seorang perempuan muda yang mukanya laksana baskom perak. Rambutnya sangat panjang dan tebal, di dekat telinganya terselip sekuntum bunga putih sebesar bunga kamboja, bau wangi menyerang hidung, aku tidak tahu itu bunga apa. Wajahnya menebarkan senyum, di tengah-tengah keningnya ada sebiji tahi lalat hitam. Dia memakai sebuah gaun putih panjang dan sangat longgar, begitu anggun berdiri di bawah cahaya bulan, luar biasa cantik, persis seperti dewi yang digambarkan di dalam legenda.
Dia dengan suara serak dan manis bertanya kepadaku: “Anak kecil, kau buat apa di sini?”
Aku berkata: “Aku ke sini tangkap ketam.”
Dia mulai tertawa terangguk-angguk, berkata: “Kecil begini, juga tahu tangkap ketam?”
Aku berkata: “Aku datang bersama Paman 9, dia adalah orang paling lihai tangkap ketam di kampung kami.”
Dia sambil tertawa berkata: ” Bengak, pamanmu adalah orang paling bodoh sejagat.”
Aku berkata: “Kaulah orang bodoh!”
Dia berkata: “Budak kecil, biar kutunjukkan agar kau tahu aku ini orang bodoh atau bukan.”
Tangannya menarik keluar sebatang sorgum yang masih penuh berjuntai biji dari belakang tubuhnya, kemudian menjulurkan satu ujung ke tengah dua lapis pagar batang sorgum yang di sisi kali, ketam-ketam hijau langsung bergegas menyusuri batang sorgum itu merayap ke atas. Dia lalu memasukkan ujung lain ke dalam mulut karung goni, ketam-ketam itu satu mengikuti satu berbaris masuk ke dalam karung goni. Karung goni yang pipih dan kering sekejap sudah menggelembung, di dalamnya berisik suara beribu cakar menggaruk, beribu mulut membuih ludah. Sebentar saja satu karung goni sudah penuh, dengan kakinya dia angkat seutas akar rumput, dua putar tiga putar, mulut karung goni sudah diikatnya. Karung goni yang lain sebentar saja juga sudah penuh, dia kembali menggunakan seutas akar rumput mengikat mulut karung.
“Bagaimana?” dengan sombong dia bertanya.
Aku berkata: “Kau pasti dewi khayangan.”
Dia menggelengkan kepala, berkata: “Aku bukan dewi khayangan.”
“Kalau begitu kau pasti siluman rubah,” penuh yakin aku berkata.
Dia terbahak: “Aku lebih tidak mungkin adalah siluman rubah, rubah, itu makhluk yang teramat jelek, wajah kurus, ekor panjang, tubuh penuh bulu kotor, seluruh badannya berbau amis.” Dia menyorongkan tubuhnya ke arahku, berkata: “Coba kau cium, apakah di badanku ada bau amis?”
Seluruh wajahku terselubung di dalam bau wanginnya yang memabukkan, kepala terasa agak pusing. Pakaiannya bergesek di wajahku, sedikit sejuk, sedikit licin, nyaman setengah mati.
Aku teringat kata-kata orang dewasa: rubah bisa menjelma jadi perempuan jelita, namun ekornya tidak bisa disembunyikan. Lalu berkata: Apakah kau berani biarkan aku meraba pantatmu? Jika tidak ada ekor, aku baru percaya kau bukan siluman rubah.”
“Iih, budak ini, kau berani melecehkan bibimu?” Dia sangat serius.
“Takut diraba berarti kau siluman rubah.” Aku samasekali tidak mau mengalah.
“Baiklah,” katanya,” Biar kau raba, tapi tanganmu sebaiknya jujur, hati-hati raba, jika kau membuat aku sakit, akan kutenggelamkan kau ke dalam kali.”
Dia mengangkat gaunnya, menyuruh aku memasukkan tangan ke dalam. Kulitnya licin tak tertangkap tangan, dua bongkah pantat besar dan bulat, mana ada ekor?
Dia menoleh bertanya kepadaku: “Ada ekor?”
Agak malu aku berkata: Tidak ada ”
“Masih bilang aku siluman rubah?”
“Tidak lagi.”
Dia menekankan jari telunjuk di kepalaku, berkata: “Budak kecil licin dan licik.”
Aku bertanya: “Jika kau bukan siluman rubah, juga bukan dewi khayangan, kau ini sebenarnya apa?”
Dia berkata: “Aku manusia.”
Aku berkata: “Kau mana mungkin manusia? Mana ada manusia yang begini bersih, begini harum, dan begini pandai?”
Dia berkata: “Budak kecil, kukasih tahu pun kau juga tidak akan mengerti. Dua puluh lima tahun nanti, di atas sebuah pulau di arah tenggara, kita masih akan bersua sekali lagi, sampai saat itu kau pasti akan mengerti.”
Dia mencabut bunga putih yang terselip di dekat telinga itu lalu menyuruh aku cium, kemudian menjulurkan tangan menepuk kepalaku, berkata: “Kau adalah anak yang berbakat, aku hadiahkan kau empat baris kalimat, kau mesti ingat betul-betul, akan berguna di kemudian hari: Gunting pisau lembing kapak, bawang putih kunyit jahe lobak. Kala menyayat hati kau mesti sayat, di atas pohon durian tumbuh buah pinang.”
Kata-katanya masih belum benar-benar selesai, mataku sudah kabur.
Ketika aku sadar kembali, sudah saatnya matahari merah mulai terbit, air kali dan lahan-lahan luas telah diselimuti cahaya merah nan megah, sorgum yang terbentang tak habis dipandang seperti lautan darah yang diam tak bergerak. Saat itu, aku mendengar jauh dan dekat banyak orang sedang memanggil namaku. Aku menyahut dengan keras. Sekejap, ayah ibuku, paman dan bibi, kakak dan isterinya menerobos keluar dari lahan sorgum, di antara mereka juga ada Paman 9. Dia langsung memegangku, sangat marah menanyaku: “Kau lari ke mana?!”
Menurut cerita Paman 9, aku mengikutinya keluar kampung, masuk ke dalam lahan sorgum, dia jatuh terpeleset ke dalam lumpur, begitu bangun berdiri lagi sudah tidak melihat aku, lampu minyak juga hilang. Dia teriak sekuat tenaga, tidak ada sahutan, dia berlari ke rumah mencari aku, di rumah juga tidak menemukan aku. Seluruh anggota keluarga ikut bergerak, membawa lampion, cari semalam suntuk. Aku berkata: “Aku terus bersamamu.”
“Bohong!” kata Paman 9.
“Dua karung goni ini apa?” tanya kakak.
“Ketam,” kataku
Paman 9 membuka ikatan akar rumput di mulut karung, ketam-ketam besar dengan cepat merangkak keluar.
“Ini kau yang tangkap?” Paman 9 kaget sekali bertanya kepadaku. Aku tidak menjawab.

Musim panas tahun ini, di dalam sebuah mal di Singapura, aku ikut teman pergi membeli baju buat anak perempuanku, saat sedang lirik sana lirik sini, mendadak, sejurus wangi menusuk hidung, angkat kepala, dari sebuah kamar pas, sibak tirai berjalan keluar seorang ibu muda. Wajahnya bagai bulan musim gugur, alisnya bagai lembayung musim gugur, matanya dua biji bintang terang, anggun mengepak keluar, laksana belibis kaget memandang bayangnya. Aku tertegun melihatnya. Dia membalas aku satu senyuman ayu, balik badan hilang di dalam hiruk pikuk arus manusia. Raut senyumnya, seperti sebatang panah tajam, tembus melobangi dadaku. Bersandar pada sebatang pilar, hati berloncat nafas tersengal, kepala pusing mata mengabur, lama sekali baru normal kembali. Teman bertanya ada apa, aku tanpa hati menggeleng-gelengkan kepala, tidak menjawab. Setelah kembali ke hotel, tiba-tiba teringat perempuan yang membantu aku tangkap ketam itu, hitung-hitung dengan jari, waktunya pas dua puluh lima tahun, dan Singapura, juga [sebuah pulau di arah tenggara].

Wasiat Emak

Cerpen Susan Dwi

lukisan a hadi
ilustrasi diunduh dari foto lukisan ibu anak karya A Hadi di situs bejubel.com

Ada yang berbeda di serambi rumah Emak malam ini. Ketiga putranya yang sudah lebih dari lima bulan tak pernah menampakkan batang hidung, tiba-tiba datang berkumpul. Satu tujuan mereka, membicarakan wasiat Emak. Aku turut diundang karena sore tadi hanya aku yang berada di sisi wanita itu sebelum nafas terakhirnya terhembus.

Katakan pada anak Emak, harus ada yang jaga lapak itu,

“Emak minta salah seorang putranya menggantikan Emak berjualan di pasar,” ucapku lirih.

Edi, putra sulung Emak mengernyitkan dahinya. Ia menghisap rokok dalam-dalam lalu menghembuskannya ke udara. Aku menahan batuk. Melihat wajah Edi, aku jadi teringat Emak yang dulu selalu mengeluhkan kebiasaan buruk Edi semasa muda. Judi adalah kawan akrab lelaki itu hingga akhirnya Emak harus menjual sawah warisan Simbah untuk menutup hutang putranya.

“Emak tidak sebutkan nama?” tanya Edi. Alis kanannya sedikit terangkat. Mimik mukanya menyiratkan kecurigaan. Sepertinya ia tak percaya padaku.

Aku menggeleng. Aku ingat betul, apa yang diucapkan Emak. Meski dengan terbata-bata, aku dapat mendengarnya dengan jelas.

“Itu saja?”

Aku mengangguk lemah.

“Emak tak bicara soal warisan?” Tono menyesap kopi pekatnya. Di ujung bibirnya tampak ampas kopi yang tertinggal.

Huh, kau bahkan tak mau merawat Emak! Sekarang minta warisan?

Aku menggeleng lagi. Ingin sekali aku mengumpat karena kesal pada putra kedua Emak itu. Meski ia adalah suami kakakku, namun kadang aku tak habis pikir. Bagaimana mungkin Mbak Yuli bisa memercayakan setengah masa hidupnya kepada lelaki mata duitan dan pelit macam Tono.

“Kita bagi saja biar adil,” Agung, putra bungsu Emak yang sedari tadi asyik menikmati pisang goreng sisa tahlilan, menyampaikan usul. Serentak Edi dan Tono mengangguk setuju.

“Lalu wasiat Emak?” aku terperanjat. Acara membahas wasiat terakhir Emak berubah menjadi ajang pembagian warisan.

“Kita bahas nanti saja,” Agung menyunggingkan senyum di wajahnya. Matanya menghakimiku, isyarat aku tak diperbolehkan ikut campur dalam pembagian warisan. Dengan lunglai, kutinggalkan tiga bersaudara itu.

***

Mendung kelabu menggantung kian rendah di langit gelap. Hawa dingin bertiup mengiringi gerimis yang sejak satu jam lalu hadir bersama galau di hatiku. Malam ini makam Emak pasti basah. Mungkin akan sebasah pipi Emak jika melihat betapa rakus ketiga buah hatinya. Sejauh ini, tak terlihat setitik pun air mata mengaliri wajah mereka karena sedih.

Edi yang tinggal di kota, bahkan rela menempuh perjalanan empat jam demi membahas warisan yang mungkin ditinggalkan Emak untuknya. Padahal, lebaran kemarin ia tak dapat meluangkan sedikit waktunya untuk sekedar mencium tangan Emak.

Tono, kakak iparku, putra kedua Emak. Meski hidup dalam gelimang harta, tak serupiah pun ia pernah berikan pada wanita yang telah menghadirkan dirinya di dunia ini. Aku, adik kandung istrinya, juga tak dibiayai sekolah. Tiga tahun lalu, lelaki itu malah ’membuangku’ di rumah Emak. Meski begitu, justru aku dapat bernafas lega karena tak jadi putus sekolah. Emak menghidupiku layaknya putra sendiri.

Agung, putra bungsu yang tak pernah absen meminta-minta pada Emak. Usianya sudah menginjak kepala tiga, memiliki seorang istri dan dua orang anak. Namun tak pernah sekali pun ia memberi nafkah yang layak pada keluarga dengan jerih payahnya sendiri. Cerita dari Emak, istrinyalah yang bekerja sejak mereka menikah. Tiga tahun pertama menjadi buruh pabrik. Tiga tahun selanjutnya jadi buruh tani di sawah Tono. Tiga tahun terakhir, mengadu nasib di negeri tetangga. Kabar yang kudengar, istri Agung tak kirim uang lagi sejak tiga bulan lalu.

“Aku minta rumah saja,” sayup terdengar suara Tono. Kami hanya terpisah selembar bilik bambu yang jadi dinding rumah Emak. Jangankan suara, asap rokok ketiga orang itu mampu menyelinap melalui celah anyaman bambu. Kulekatkan telinga pada daun jendela.

“Aku minta semua ternak,” Agung meninggikan suara seperti takut jatah warisannya direbut kedua kakak lelakinya.

“Aku yang memutuskan. Aku anak tertua,” Edi berseru tak ingin kalah.

Aku menahan nafas agar dapat jelas mendengar percakapan mereka. Aku telah menduga sejak awal, Edi akan menggunakan dalih ’anak tertua’ sebagai senjata dalam pembagian harta.

“Tono dapat semua ternak. Agung dapat semua sawah. Rumah Emak jadi bagianku. Adil kan?” Edi beranjak meninggalkan kedua adiknya yang melongo melihat kakaknya jadi hakim.

***

Malam belum usai. Hawa dingin melingkupi seluruh desa yang baru saja diguyur hujan. Aku harus merapatkan sarung untuk mengusir gigitan udara malam. Aroma pohon bambu yang tumbuh mengelilingi pekarangan Emak menyeruak. Suara katak meramaikan nyanyian jangkrik di tengah guyuran hujan. Ramai yang senyap. Sunyi karena malam ini aku tak mendengar cerita Emak tentang ketiga putranya lagi.

Tubuhku terbaring. Mataku terpejam. Tetapi aku masih terjaga. Sekitar sepuluh jam sejak kepergian Emak, hatiku sudah dipeluk kerinduan padanya. Biasanya, tiap jam tiga pagi, Emak mengendap-endap berangkat ke pasar karena takut membangunkanku. Jika aku terlanjur bangun, Emak selalu menyuruhku kembali ke kamar untuk kembali tidur.

Rasa kasihan menggelayut di benakku. Mengira-ngira salah serta dosa apa yang dulu telah diperbuat Emak hingga Tuhan memberinya tiga orang anak lelaki berperangai buruk. Aku yakin, darah Bapak begitu kental mengaliri pembuluh nadi mereka.

Tiga puluh tiga tahun Emak menjanda. Suami Emak juga tak pernah kembali dari rantauannya. Hanya dua kali Bapak pulang kampung. Kepulangannya yang terakhir untuk mengurus cerai. Lelaki tua itu hendak menikah lagi setelah bertemu seorang janda di kota.

Anganku terbang melayang.

Katakan pada anak Emak, harus ada yang jaga lapak itu,

Sepenggal kalimat itu terurai dari bibir Emak menjelang ajalnya. Dengan air mata bercucuran karena ketiga putranya tak sempat mendampingi di saat terakhir. Suaranya begitu lirih dan tersendat-sendat oleh nafas yang hampir putus.

Sebenarnya sejak lusa kemarin, Emak telah meminta mereka untuk menuntun Emak mengucapkan syahadat. Rupanya, wanita itu telah merasakan kehadiran malaikat pencabut nyawa di sisinya. Sayang, meski aku telah pontang-panting menyusuri desa untuk menjemput Tono dan Agung, mereka bergeming. Banyak urusan, kilah mereka.

Meski nyaris putus asa, nama Edi terlintas di ingatanku. Sengaja kupinjam telepon di balai desa untuk menghubunginya. Tetapi dengan menelan kekecewaan, aku harus mendengar penolakan yang begitu kejam.

Katakan pada Emak, aku masih banyak pekerjaan. Belum lagi, aku harus cari uang dulu buat ongkos. Bilang saja, lebaran tahun ini, aku sempatkan ke sana!

Aku menarik nafas dalam-dalam. Berusaha mengisi sistem pernafasanku dengan udara yang lebih bersih. Asap rokok bertebaran dari luar ruangan itu. Tono dan Agung terus saja membakar tembakau di serambi depan. Mereka tengah asyik berbincang seolah tak ada kantuk yang membebani mata keduanya.

Banyak hal yang mereka bahas. Sayang, semua hanya omong kosong. Kurasa mereka tak berminat membuka memori untuk mengenang kebaikan Emak semasa hidup.

Aku terhenyak. Harusnya mereka bersyukur karena memiliki ibu yang begitu penyayang dan sabar. Dan mestinya mereka menyesal karena belum dapat membalas kebaikan Emak dengan cara yang pantas.

“Kenapa Mas Edi pilih rumah, ya?” pertanyaan seputar warisan. Agung, putra Emak yang paling bodoh itu selalu encer otaknya bila berhubungan dengan uang.

“Karena Emak pasti menyimpan semua hartanya di rumah,”

“Oh, pantas saja kau tadi juga minta warisan rumah Emak,”

“Tentu saja,”

Aku menghela nafas cukup panjang.

Mereka ini terbuat dari tanah atau api? Raganya manusia, hatinya iblis!

“Lalu bagaimana dengan Bowo?”

Tono menyebutkan namaku. Semakin kutajamkan pendengaran. Inilah yang aku cemaskan. Aku belum tahu bagaimana nasibku selanjutnya. Siapa yang akan berbaik hati untuk membiayai hidupku. Jelas Tono tak akan bersedia menampungku.

***

Sekali lihat saja, aku dapat merasakan betapa lapuknya lapak Emak. Dindingnya terbuat dari papan triplek dengan anyaman bambu yang tersusun berantakan. Rembesan air sisa hujan semalam tampak merayapi bagian bawah yang menancap ke tanah. Sementara selembar seng berkarat jadi atapnya. Beberapa lubang kecil tersebar di sana. Aku yakin jika hujan datang, Emak akan kuyup. Apabila tengah hari, pastilah panas mendera.

Aku terpaku cukup lama. Lapak ini sudah reyot. Beberapa bulan lagi mungkin saja, atap beserta dindingnya runtuh akibat diterpa angin.

Inilah lapak yang tiga bersaudara itu berikan padaku. Tadi pagi, diam-diam mereka mengadakan rapat rahasia. Edi, Tono, dan Agung akhirnya sepakat memberikan wasiat Emak kepadaku.

“Pakailah lapak itu untuk mencari nafkah,” ujar Edi tadi pagi sebelum pulang, kembali ke kota. Aku sedikit kesal. Mereka tak berniat turut tahlilan selama tujuh hari di rumah Emak. Tono dan Agung juga berencana untuk pulang ke rumah masing-masing. Dari percakapan yang kudengar, minggu depan mereka baru akan kembali ke rumah Emak untuk pengurusan perihal warisan.

“Emak ingin salah seorang dari putranya yang mewarisi lapak itu,” sanggahku. Meski dalam hati aku tak keberatan diberi mandat berharga dari Emak.

“Lapak itu sudah diwariskan padaku, sekarang jadi hak milikku, kan?”

Tono dan Agung mengangguk-angguk. Aku juga.

“Ya sudah, kuberikan padamu. Tolong dirawat, ya?” sorot mata Edi menampakkan rasa iba yang dibuat-buat. Bergegas ia pergi dengan mengendarai motor.

Aku menghirup udara semampuku. Aroma pasar yang basah menyengat, berjejalan masuk memenuhi rongga dadaku. Matahari cukup terik. Tiada tampak lagi penjual dan pembeli berkeliaran. Cuma aku.

Kujejakkan kaki memasuki lapak Emak. Aku menelan ludah. Ini lapak yang digunakan Emak semasa hidup untuk mengais rezeki. Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan dirinya, tetapi juga untuk menafkahiku. Kini lapak telah menjadi milikku.

Lapak seisinya adalah wasiat Emak. Harusnya mereka tidak terlalu serakah dan mengabaikan keinginan wanita yang telah memelihara mereka sejak kecil.

Katakan pada anak Emak, harus ada yang jaga lapak itu,

Kulangkahkan kaki perlahan. Dua langkah, empat langkah. Aku berhenti pada titik di sudut lapak dan berjongkok.

Kugali tanah lempung yang becek dengan jemariku kuat-kuat. Keringat membasahi keningku. Nafasku memburu. Sebuah kotak kayu jati teronggok di pojok ruang gelap yang sempit itu. Aku menelan ludah seolah haus sedang mencapit kerongkongan. Mataku perih. Beberapa tetes peluh menyelinap melewati deretan bulu mataku yang tipis.

Tanganku tergetar ketika membuka kotak itu.

Katakan pada anak Emak, harus ada yang jaga lapak itu, karena di sana Emak menyimpan semua warisan untuk mereka.

***

 

*) Susan Dwi, mahasiswa kelahiran Surabaya 1987, kini tinggal di Surabaya.

 

Baca cerita pendek lain:
Menembus Waktu
Mata Kelinci Bertelaga Teduh
Algojo

Menembus Waktu

Cerpen Rinzhara

Rasa ini sejatinya cinta. Tak selalu indah. Kadang luka mewarnainya. Kadang tangis terselip di antara tawa. Tapi inilah sejatinya cinta. Yang akan terus ada meski semesta menentang. Yang akan kembali hidup saat kematian merenggutnya. Dan  akan tetap kusimpan hingga tiba di masa yang berbeda. Untuk kembali kupersembahkan padamu yang tercinta.

oil painting
Young Girl in the Garden at Mezy by Pierre-Auguste Renoir.
gambar diunduh dari http://www.paintingall.com

Sepedanya belum berdiri sempurna, saat matanya menangkap sosok mungil di tengah rimbunan semak bunga tulip yang hampir mekar. Bergerak lincah dengan rambut hitam panjang melambai tertiup angin senja. Sosok yang membuatnya terpesona. Membuat dadanya berdebar oleh rasa aneh yang menggelitik sukma.

Sosok gadis mungil itu terus bergerak dalam tarian yang indah. Berayun, berkelit dan meliuk di antara tangkai-tangkai tulip yang beraneka warna. Begitu seirama. Begitu indah. Hingga Robert terlupa oleh niat kedatangannya, terlalu sibuk terpesona. Terlalu sibuk menikmati tarian. Dan terlalu sibuk menenangkan debar, mempertanyakan apa istimewanya gadis mungil yang sibuk di kerumunan bunga tulip di taman sana hingga jantungnya bertalu kencang. Hingga dia tak ingin bergegas. Hingga dia lupa sekelilingnya!

 

***

Berdiri dalam keremangan. Menatapmu dalam diam. Tak mampu berkata, bahkan tak sanggup mendekat. Inginnya aku ada di sana, mengusap bulir yang turun deras membasahi wajahmu yang rupawan, inginku membuai sedihmu hingga larut tak berbekas dan merengkuhmu meski sesaat.

Ahh…, jangan sakiti dirimu dalam duka Clara! Bisikku lirih pada senyap hampir gelap.
Kulihat kau mulai melangkah, berputar tak tentu arah, mengelilingi ruang serentang waktu sekejap.
Hentikan sayang! Jangan kausiksa dirimu dalam keterdiaman. Keluarlah dan tertawa! Kataku menggema tapi tak cukup membuatmu mendengar.

Cerialah Clara! Kembalilah bersuka! Dukamu membuatku tak mampu bergerak! Tangismu membuatku tak sanggup bertahan! Bergembiralah Clara! Jangan kausiksa aku dengan isak dan lara! Bersukalah! Hingga tiba waktu kita untuk kembali bersama! Dan kembali aku berteriak, memprotes semesta yang membuat kami jadi berjarak. Merobek heningnya malam dengan segala tanyaku yang tak terjawab. Bahkan tangisku tak mampu membuat semesta menggeliat!

 

***

Melangkah pelan di antara rimbunan semak tulip yang hampir mekar. Meliuk di antara celah belukarnya. Menghirup aroma senja yang begitu menyejukkan. Menikmati merdu gemericik air sungai yang tak jauh dari rumahnya. Membuat berbagai kenangan di masa entah, kembali menari dalam relungnya. Kenangan yang selalu hadir setiap musim tulip bermekaran.

Bertahun lalu.

“Biji?” Keningnya berkerut saat mendapati beberapa buah biji yang digenggamkan Gerard di telapaknya kala itu.

“Tulip christmas dream. Bunga itu secantik kau saat berbunga.”

“Hahahaa..” Merdu tawanya berbaur dengan gemerisik kincir angin yang berputar tak jauh dari tempat mereka.

“Kau akan langsung jatuh cinta saat melihatnya. Seperti aku, yang langsung jatuh cinta saat melihatmu.”

Clara menyibak helai rambut yang menutupi wajah. Seolah ingin menepis kenangan yang melekat. Menyibukkan diri dengan tulip di hadapan. Menggenggam erat jarum jahit di tangan. Dan menunduk untuk mencari tempat yang tepat. Tempat seperti yang ditunjukkan Gerard di masa entah.

“Tusuk tiap tulip yang hampir mekar. Tepat di bawah kelopaknya.”

Keningnya berkerut heran. Sebuah tanya menyeruak. Bagaimana dia bisa melukai tulip yang tengah berjuang membuka kelopaknya? Bagaimana dia bisa merusak keindahan di depannya?

“Luka itu akan membuat mekarnya lebih lama.”

“Tidakkah itu akan merusaknya?” Keraguan tersirat nyata.

”Hanya tusukan kecil. Kau tak akan merusaknya.”

Keraguan itu masih menyelimutinya untuk sesaat. Dia tak ingin melakukan kesalahan. Terlalu lama dia menunggu saat tulip siap mekar. Dan kini haruskah dia kehilangan kesempatan untuk melihat keindahan yang dirindunya? Dia mendesah resah. Bahkan tulip itu belum membuka kelopaknya.

Gerard menatapnya dengan jenaka. Kebingungannya justru menggelikan kekasihnya.

“Kau meragukanku!” Tuduh Gerard diantara derai tawa.

“Entahlah! Bagaimana luka bisa membuat keindahan itu bertahan lama?”

“Tak semua luka menghancurkan. Luka yang diperolehnya justru membuat tulip bekerja keras menghasilkan gas eliten untuk memperpanjang umurnya.”

Dia hanya terdiam. Tersentuh oleh cerita Gerard tentang tulip yang tak kenal putus asa berjuang hinga kelopaknya bermekaran. Ya! Luka itu justru membuat tulip bertahan! Dan entah kenapa debar aneh yang meresahkan perlahan datang menguasai hatinya.

“Kadang dari luka-lah, kekuatan datang. Tulip menjadikan luka itu sebagai cambuk untuk meraih puncak keindahannya.”

Tatap mata Gerard menyimpan banyak rahasia. Debar aneh itu semakin terasa. Apa yang ingin Gerard sampaikan padanya? Bisiknya dalam diam. Saat itu dia tak tahu bahwa Gerard sedang berusaha menyatakan kebenaran. Kebahagiaan masih menjadi bagian dari kebersamaan mereka. Dan Clara tak pernah mengira bahwa saat itu Gerard sedang mempersiapkan hatinya untuk menerima perpisahan tanpa air mata.

Ingatan masa itu kembali menusuk rasa Clara. Membuat kristal bening berjatuhan seiring isak yang tak mampu dibendungnya.

Gerard! Betapa rindu ini tak tertahankan, bisik Clara di antara kesibukannya melukai setiap tangkai tulip yang hampir mekar. Menusuk tangkai tulip perlahan dengan berbagai kenangan dan rasa. Seolah ingin mentransfer lukanya di tiap tulip yang hampir mekar. Seolah ingin membuang kesedihan. Seolah dengan begitu dia mampu menyerap kekuatan tulip untuk bertahan. Menjaga keindahannya seiring waktu yang berjalan. Mempertahankan kesetiannya hingga waktunya tiba.

Clara kembali mendesah. Tusukan di dadanya semakin terasa nyata. Menyakitinya! Membuat dadanya sesak oleh berbagai kenangan. Kenangan yang mengalir seperti arus sungai di belakang rumahnya. Mengalir tak kenal lelah hingga bermuara ke dalam sungai Rhine yang membelah kota Leiden. Kota yang mempertemukannya dengan sosok lelaki beda bangsa. Yang membuatnya terpana oleh keindahan tulip yang berbunga. Yang mampu menghanyutkannya dalam kisah mengharukan. Gerard! Karena lelaki itulah dia kini menetap di kota Laiden setelah menyelesaikan studinya. Karena lelaki itulah dia menjadi warga asing di negara yang penuh irama gemericik sungai-sungai yang membelah di setiap kotanya. Karena Gerard-lah dia sanggup bertahan untuk menjemput kebahagiaan yang dijanjikannya!

Clara jatuh terduduk sambil menekan dadanya yang tertusuk kenangan. Rasa sakit itu bukan lagi rasa di masa entah. Rasa sakit itu kini menyerangnya begitu nyata. Menyakitinya begitu dalam. Hingga tak memperdulikan angin senja yang terus mengurai rambut hitamnya yang mulai beruban. Tak memperdulikan air sungai yang terus berkecipak tak kenal lelah. Bahkan rasa sakit itu membuatnya tak memperdulikan sisa tulip yang masih harus ditusuknya!

***

Tak perlu mendekat. Tak perlu bertanya apa yang membuat air mata Clara bercucuran. Berpuluh tahun aku telah melihat air mata itu setiap April datang. Berpuluh tahun pula aku tergugu tak mampu merengkuh bahu Clara, hanya bisa menatap dari kejauhan. Hanya mampu mendesah. Dan mengutuki kebodohan karena begitu tega menyakiti hati Clara.

Cinta memang mengaburkan logika. Perasaan itu datang tiba-tiba saat melihat Clara pertama kalinya. Berdesir melihat wajah eksotis khas asia. Tak berkedip menatap aura kelembutan yang terpancar dari aroma ketimuran. Dan bergetar menginginkan perempuan mungil itu untuk menemani hari-hari yang tak kan lama. Ya! Bahkan, seharusnya saat itu harinya diisi dengan menghitung detik yang berjalan. Dan bukan justru berusaha keras mendapatkan kerling perempuan mungil yang disukanya. Seharusnya saat itu aku duduk tenang menanti virus mengikis habis waktu yang tersisa. Dan bukan justru mengajak seorang perempuan ceria untuk membangun mimpi indah bersama dan lalu menghempaskannya. Seharusnya saat itu aku berlari menjauh agar Clara tak mengenalnya. Dan bukan justru menjanjikan sebuah harapan semu tentang cinta. Dan dari semuanya. Kebodohan terbesar yang kulakukan saat aku memintanya untuk setia, memberinya kekuatan di atas fatamorgana!

“Percayakah kau akan kehidupan kembali setelah kematian?”

“Hanya roh kita yang hidup untuk mempertanggungjawabkan semua amalan.”

“Bukan itu yang kumaksudkan. Bahwa kita akan kembali terlahir dalam sosok lain di masa kemudian.”

Clara tersenyum sebelum menjawab tanya. Senyum menyejukkan yang selalu memberinya kekuatan untuk bertahan dari sengatan virus yang menghancurkan raganya.

“Aku pernah membacanya. Dan semua kisah akan kembali terulang. Kita akan dipertemukan sosok-sosok tersayang di masa lampau dalam tubuh baru di masa depan. Ya! Andai itu benar..”

“Aku mempercayainya. Kita akan kembali mengulang kisah. Kita akan bersama. Dan saat itu, semesta tak akan membuat kita terpisah.”

Senyum Clara meredup. Berganti dengan genangan air mata. Hatiku tertusuk melihat kekasihku begitu terluka.

“Jangan menangis, Clara! Aku akan mencari di setiap ruang hingga menemukanmu di masa kemudian. Kita akan kembali bersama. Dan saat itu tak kan kuijinkan kesedihan mewarnai kisah kita.”

Kuusap lembut bahu Clara untuk meredakan isaknya. “Percayalah! Kumohon…, hanya dengan kepercayaan yang kuat maka semuanya akan terjadi seperti kemauan kita. Dengan keyakinan kita berdua, semesta akan mengabulkan.”

Aku tersentak. Kenangan itu mengabur sudah. Tatapanku nanar menatap sosok Clara di antara kerumunan tulip yang hampir mekar. Apa yang terjadi dengannya? Tanya itu menyeruak. Namun kakiku diam tak mampu melangkah. Ragaku beku melihat tangan perempuan yang kucinta melambai dengan sorot mata penuh kepanikan. Inginku berlari ke arahnya. Menarik tubuhnya yang perlahan merosot jatuh di antara semak tulip di taman belakang rumah. Inginku merengkuhnya. Saat tangan Clara yang lain mendekap dada penuh aura kesakitan. Inginku ada di sana. Menguatkan dan menghilangkan apapun yang menyakitinya.

Tapi apa yang bisa kulakukan? Bahkan sekedar berteriak memanggil pertolongan pun tak dapat kulakukan. Apa yang bisa kuperbuat? Selain tergugu dan meneriakkan pada semesta untuk menolong Clara. Ya! Hanya semesta yang bisa mendengarnya. Hanya semesta yang tahu keberadaannya. Dan hanya semesta yang menyaksikannya terpuruk saat melihat kekasihnya telah tiba saat untuk meninggalkan dunia.

Aku masih terkurung dalam keterpakuan. Saat kurasakan keberadaanku perlahan memudar.  Mengurai pelan. Melebur dalam cahaya yang menyilaukan. Membuatku tergagap. Tak sempat bertanya saat mataku terpejam erat oleh sinar terang membutakan mata!

***

“Menunduklah!” Suara yang datang dari belakang itu mengejutkannya. Diputarnya badan dan berkerut heran mendapatkan anak lelaki berambut ikal pirang seusianya berdiri menatap sambil menggenggam seikat tulip christmas dream yang begitu disukainya.

“Tusuk tangkai di bawah kelopak itu pelan.”

“Untuk apa?”

“Agar kau bisa mendapatkan tulip mekar lebih lama dari yang seharusnya.”

“Jangan bercanda! Tusukan hanya akan merusaknya.”

“Tusukan itu akan membuat tulip memproduksi gas etilen. Dan gas itulah yang akan membuat tulip mekar lebih lama.”

“Bagaimana tulip bisa bertahan dalam keadaan terluka? Bagaimana mungkin luka bisa membuat keindahan bertahan?”

“Tak semua luka menghancurkan. Luka yang diperolehanya justru membuat tulip bekerja keras menghasilkan gas eliten untuk memperpanjang umurnya.”

Putri terkesima. Bukan hanya oleh kata-kata lelaki bule di depannya. Tapi lebih pada perasaan aneh yang menyerangnya. Debar aneh yang datang seiring ingatan akan kejadian serupa.

“Kadang dari lukalah, kekuatan datang. Tulip menjadikan luka itu sebagai cambuk untuk meraih puncak keindahannya.”
Desiran panas membuatnya ternganga. Entah apa yang terjadi dengan kepalanya. Seorang lelaki belanda yang menggenggam tulip christmas dream kesukaannya. Di taman belakang rumahnya. Di antara tulip yang hampir mekar. Diiringi gemericik air dari sungai yang tak jauh dari rumahnya.

Kata-kata lelaki itu tentang tulip, luka dan kebahagiaan, membuat semuanya terasa lengkap. Membuatnya terserang semacam déjà vu yang dia sendiri tak ingat kapan semuanya pernah terjadi dalam hidupnya. Dan dia masih diam ternganga, sibuk membuka ingatan. Hingga tak memperhatikan bahwa lelaki di depannya berdiri linglung dengan kerutan di keningnya.

“Seperti déjà vu!” bisik Robert lebih pada dirinya. Sambil sibuk menenangkan hatinya yang terus berdebar menatap sosok perempuan asia di depannya. Tak mengerti dengan rasa déjà vu yang begitu pekat terasa. Tak mampu mengingat kapan mengenal gadis mungil itu sebelumnya. Dan kening Robert terus berkerut heran. Berbagai tanya menyerangnya. Kenapa sosok gadis itu seolah begitu dekat. Kenapa dia seolah mengenal gadis itu bertahun lamanya. Siapa dia?

Putri Kusuma! Bahkan hanya itu yang Robert tahu tentang sosok mungil di depannya. Tapi kerasnya debar di dada, ketertarikannya yang tak mampu dicegah dan keinginannya untuk terus dekat dengan gadis itu membuat Robert sadar bahwa cinta telah berdenyut di hatinya. Bukan cinta yang datang tiba-tiba. Tapi jauh di masa entah. Bahkan mungkin sebelum mereka berjumpa untuk pertama kalinya.

*)Rinzhara, seorang ibu rumah tangga yang memiliki kesukaan menulis fiksi.

Mata Kelinci Bertelaga Teduh

Cerpen Aksan Taqwin

/1/

Telaga teduh. Pohon jambu. Rumput mengering. Ayam bertamu. Ikan kecil serupa kecebong secara cekat kabur ketika Kasrun hendak menangkap. Ibunya telah meracik berbagai bumbu-bumbu yang akan segara ditumpahkan di sekujur tubuh indah sang ikan. Masih belum juga reda hujan sedari pagi. Kasrun pun belum juga kembali. Ikan belum sempat ia kemasi dari peraduan yang hening. Hanya tiga ekor ikan yang masuk di sebuah timba kecil warna hijau. Sehijau rumput depan rumahnya. Lalu mengalirlah senyum Ibunya ketika mata Kasrun menyapa sambil menenteng timba.

lukisan kanvas
Absurditas (aquarelle on paper, 37cm x 32cm, 2005), karya Antonsammut.
website http://www.antonsammut.com

Mata kelinci. Serupa syarif. Kadang mata serupa kembang kamboja yang menggerimisi tanah. Telah menjadi segumpal kedamaian sejenak, bertaburan sepi serupa kuburan. Namun tampak damai dan bahagia. Mengais hidup yang buaya. Kasrun masih diam. Menggenang di atas tepian air. Telaga teduh bermata merah jambu. Dikelilingi gunung bonsai berdiam pohon kelapa yang miring. Tiada wajah yang menguning kepada keluarga yang hening. Berkecukupan adalah sebatas syukur yang tiada keluh kesah bagi mereka. Berdiam hati, meski cemooh mengalirkan ludah hingga ke tanah menusuk telinga, hati merunduk masihlah teduh bagi mereka.

Bapaknya pegawai negeri sipil di perangkat desa—Narko. Berhati kelinci yang selalu menanam senyum di penjuruhan desa. Tiada air mata atau pun mengais kesakitan pada lambung-lambung fakir. Tergolong absolut yang berdiri di tengah-tengah gambut. Bisa jadi alunan beserta senyum akan disuguhkan melalui bibirnya, kepada Narko mereka patuh. Narko yang mengalir laksana asap cerutunya yang cokelat.

Menangkap senja. Gerimis tipis merinai pada gambut yang memerah. Hingga pada mata Kasrun menculik teduh rumah. Berduyun sambil membawa ikan-ikan kecil yang tidak seberapa ukuran tubuhnya. Bersamaan dengan Bapaknya pulang kerja. Masih tampak rapi dan berwajah pohon jati. Bapaknya tampak letih. Bersamaan dengan senja perempuan, keduanya saling mencucui diri. Ibunya masih sibuk mempersiapkan makan malam. Meracik bumbu-bumbu yang belum usai. Senyum liris mengiris bawang bombai. Cabe yang sadis telah diiris, hingga sampai pada harapan yang siap dihidangkan.

/2/

Seperti bapaknya. Wajah Narko serupa bapaknya yang dahulu menjadi kepala desa di kota yang selalu mendapatkan adi pura. Nyaris sama. Hati kelinci, mata sapi, tubuh kuda yang adalah sama ada pada dirinya. Narko bersayap letih, berangkat dari keluarga fakir pada awalnya. Atas kejujuran dan kebaikan bapaknya serupa merpati, hingga ia diangkat dan didorong para warga menjadi bupati. Asal tunjuk jari sudah jadi.

“Bapak, sepatu saya sudah rusak.” Rintihan Kasrun kepada bapaknya.

Cukup mengangguk lalu diam. Sibuk membaca surat kabar tentang pelecehan seksual, korupsi adalah menyentuh hati. Berimajinasi menjadi pemimpin paling tinggi akan dihamburkan kemakmuran pada garis tanah yang damai bagi Narko. Wajah Kasrun sepi. Malu kembali merintih di atas wajah bapaknya yang putih. Berkesinambungan di beranda rumah nun damai adalah keluarga paling bahagia, baginya. Yang terpenting berkecukupan saja sudah cukup, begitulah ucap Sarni adalah suami Narko ketika ditanya tetangga mengapa tidak membeli alat kendaraan. Keterbiasaan hidup sederhana adalah penenaman berawal dari diri Narko. Tipis duka.

“Berapa harga sepatu itu?” bibir Narko mencoba menyapa kembali kalimat anaknya.

Setelah menyebut merk dan harga membuat Narko semakin bingung. Sepasang sepatu yang adalah gaji sebulan. Sedang lambung butuh tanaman, cairan dan segala nafas untuk hidup. Buatnya, ibunya, juga rumah. Sementara adalah penundaan. Mencoba menasehati dari bibir tipisnya, Kasrun cukup mengganggukan kepala.

“Biarkan Bapak menabung dulu, anakku. Namun, tidakkah kau beli saja sepatu yang lebih murah yang sepertiga dari gaji bapak?”

Gelengan kepala Kasrun membuat Narko resah semakin gelisah. Mencoba meredamkan penuh sabar hingga tiada penutup usia bagi penyakitnya yang adalah jantung. Hampir lima tahun dia berjuang sekuat tenaga demi penyakitnya yang sudah berskala tinggi. Ibunya cukup cantik, bersabar menyambung hidup dalam kederhanan. Kesederhanaan yang bagi mereka adalah saru. Pejabat yang bermata kelinci.

/3/

Narko sangat bijak dalam berkemimpinan. Sangat deras dana untuk desa masuk padanya, namun dia hanya semata-mata membuat keperluan seluruh warga dan desa. Tak pernah sepeser pun ia ambil meski untuk sebungkus rokok. Kerap warga menyukainya, meski terkadang ia hidup sengsara.

“Bapak, apa sudah cukup membeli sepatu buat Kasrun?” rintih Kasrun sambil memanja.

Narko semakin bingung. Uang yang sudah tekumpul hampir cukup telah dipinjam karibnya. Dia memubutuhkan untuk operasi sesar istrinya. Narko tak kuasa menahan rintihan karibnya yang menyapa dan bertamu di beranda retinanya. Mengalir air mata hangat pada mata karib adalah prihatin. Lalu esoklah membeli sepatu untuk anak, nyanyian hati yang sepi.

/4/

“Apa kau tidak mampu mendidik anakmu? Bagaimana bisa terwujud keindahan di indonesia sedangkan anak pejabat mencuri sepatu kelas tinggi tanpa risih. Kuakui kau memang becus memimpin rakyatmu, juga mampu menjaga profesi, namun bukan berarti kau lalai dalam mendidik anak. Masak membelikan sepatu anak saja tidak mampu.” Hentak warga menghakimi.

Narko cukup diam dan merasa bersalah kepada anaknya. Tidak mampu memberikan pelangi yang telah ia minta. Iya, baginya sepatu itu adalah pelangi. Berdiam diri dan merasa malu kepada para warga, mengiris hatinya sendiri, mencoba bertahan atas jantungnya yang hampir meledak.

“Jika tidak mampu, kau bisa ambil beberapa uang untuk pembangunan jalan desa. Dan kami ikhlas.” Sartir getir menusuk telinga Narko dari salah satu warga dari puluhan warga.

Narko cukup diam. Mengelus dada. Merasa berenang di telaga darah bertabur gigi buaya yang sewaktu-waktu siap dikunyah. Matanya menyepi. Wajahnya menguning. Istrinya mencoba menghiburnya, menyanyikan nada-nada semasa muda demi meredamkan api dalam hati.

Hujan. Menengadah sebagai pelebur resah. Semangkok keringat pada pembakaran ego. Ego bertudung kesabaran mata. Wajah. Hati. Sampai mengerucut pada jiwa. Menutup aib, mencairkan kembali darah mengalir di penjuruhan nadi.

“Janganlah kau ulangi lagi, anakku. Bapak akan menabung kembali untukmu. Membeli sepatu yang kau mau.” Rintihan yang mengelus pundaknya adalah senyum ibunya.

Kasrun cukup menganggukan kepala. Sambil berdiam diri dan menyepikan hati dia menuliskan sebuah sajak untuk bapaknya. Baginya hati bapak adalah hati Bung Hatta. Sesosok pemimpin yang anti korupsi. Sajak yang ia tulis menyentuh hati Narko. Bersikap sedemikian pun tanpa ia sadari. Bermuncul pada masa lalu atau terkait pada mimpinya yang kerap mencintai kepribadian Bung Hatta.

Rumah kamboja. Sepi nun damai adalah keluarga. Menukar kata, menyelimuti segala keluh kesah menjadi hal yang sangat biasa. Begitu pula istrinya yang kerap memasak mata kuda untuk suaminya. Seperti mata-mata yang menyelinap di lorong-lorong tabuh dalam jalan hidup keluarga.

/5/

            Kampung itu kembali riuh. Dikejutkan kembali dengan peristiwa yang serupa dengan Kasrun. Tetangga sebelah semalam telah tertimpa musibah. Seluruh hartanya ludes dimaling orang yang tidak dapat dijangkau batang hidungnya. Histeris. Depresi. Wajahnya lucet, hingga pada akhirnya Narko menghampirinya penuh santun.

Sebenarnya Narko sudah enggan berhadapan dengannya. Karena dia adalah warga yang sangat sombong dan kikir pada umumnya. Hingga pada akhirnya Narko yang tak lebih dari seorang pemimpin harus bersikap bijak. Menghampirinya dan mencoba meredamkan keluh kesahnya.

“Pakailah uang ini sebagai kebutuhanmu. Sebagai pengganti hartamu yang hilang” lantunan Narko menyentuh hati.

Kerap tidak jadi membelikan sepatu untuk anaknya. Kasrun cukup pasrah dan diam dalam kekinian. Tiada resah atau tangis lagi baginya. Yang ada hanyalah bapak yang bermurah hati pada warga. Pelangi di matanya, kesejukan pada hati kecilnya. Seseuatu yang adalah kebanggaan tersendiri.

“Wah berarti dia adalah salah satu komplotan dari maling itu?” celetukan salah satu warga yang adalah fitnah.

Serentak para warga percaya. Menghabisi rumah Narko beserta isinya. Menghabisi Narko hingga tak berdaya, bertudung pada usia yang menyempit atas jantungnya. Lagi-lagi Narko hanya bertahan hidup untuk anak dan istrinya. Kembali meredamkan hati kembali dan tersenyum tipis meski rumah sudah habis.

“Pentingkanlah orang lain yang membutuhkanmu, anakku” Lantunan terakhir Narko kepada anaknya di mata istrinya. Wajahnya serupa kamboja. Hingga kembali pada telaga teduh. Telaga teduh. Pohon jambu. Rumput mengering. Ayam bertamu. Perkampungan yang indah. Pada telaga teduh yang menggenang di mata Narko serupa mata kelinci. Lembut berhati tunduk.

Brondong, 15 Juni 2012

*) AKSAN TAQWIN, terlahir di kota soto; Lamongan 18 Maret 1989. Mahasiswa Universitas PGRI Ronggolawe Tuban ini memiliki aktivitas menulis yang cukup. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini cukup kreatif dalam menulis, jadi tak heran berbagai tulisannya telah dimuat di media cetak. Beberapa Esai, cerpen dan Puisi-puisinya pernah dimuat di Jawa Pos (Radar Bojonegoro), Majalah Akbar, kotakata ,Tabloid Nusa, Majalah Sagang, Majalah Warta. Puisi-Puisinya juga tergabung dalam antologi bersama: Jual-Beli Bibir (Ilalang Pustaka:Mei 2011), Sehelai Waktu (Scolar: juli 2011). Mimpi Kecil(Seruni 2011), Deverse 120 Indonesian poet: Puisi dua bahasa (Jagad shell publishing 2012). 50 Puisi terbaik untuk kota padang tercinta se-Indonesia 2011. 15 Besar Puisi Rinai Rindu Untuk Muhammad-Mu. 20 besar pusi terbaik Lingkar Bhineka 2012. 10 Puisi terbaik lomba cipta puisi Koran Bogor 2012.  Cerpennya Kutilang Mencium Bulan (Pemenang Harapan Empat Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) Award 2011 Nasional.). Pemenang harapan Lomba cipta cerpen Kalimantan selatan dalam cerita. Kawa Banua 2012. Seringkali menghadiri acara sastra lintas kota di Indonesia. Temu penyair muda 2011.

Aktivitasnya selain tergabung dalam Komunitas Penulis (Komunitas Sanggar Sastra:KOSTRA), dia juga tergabung dalam teater LABU Tuban.

Cerita Pendek Mingguan yang Lain:

Bagaikan Nyala Api

Pencuri Mimpi

MISTERI GUA KUCING

Ponte Vecchio

Algojo

Cerpen Junaidi Abdul Munif
Editor Ragil Koentjorodjati

Perkenalkan, namaku Jimmy. Lengkapnya, aku tak perlu menyebutkannya, karena aku takut Anda akan terus mengingat namaku. Kasihan sekali Anda jika tahu nama lengkapku, karena otak Anda akan diisi oleh sesuatu yang –menurutku- kurang berarti. Aku sarjana ekonomi lulusan dari sebuah universitas ternama. Kalau ditulis lengkap, namaku akan menjadi Jimmy……… SE. Hebat bukan?
Namun, aku sering dipanggil dengan nama Jack. Apa hubungannya? Jangan dibahas terlalu lanjut. Dan aku rasa itu bukan hal penting. Banyak sekali nama panggilan yang sangat jauh berbeda dan kelihatannya sama sekali tak ada hubungannya dengan nama asli. Kalau nama panggilanku Jack, minimal masih ada hubungannya bahwa keduanya sama-sama diawali dengan huruf J.
Profesiku? Mungkin Anda akan mengira aku bekerja di sebuah perusahaan besar dengan gaji besar. Berpenampilan parlente dengan menenteng tas ke mana-mana. Bukan, bukan itu. Aku sangat jauh dari kesan itu: seorang eksekutif muda yang jadwal hari-hari dipenuhi rapat dan rapat, ketemu relasi bisnis, seorang pekerja yang tak pernah kekurangan uang di kantong, dompet dan rekeningnya, yang jika berbelanja hanya tinggal menggesekkan kartu kredit.
Sekarang aku akan memberitahukan apa pekerjaanku. Dan, ini penting, Anda harus mencatatnya, sekaligus……waspada! Pekerjaanku adalah pembunuh bayaran!
Tentang profesi yang mengerikan ini, aku juga tidak tahu pasti mengapa ada profesi seperti itu di dunia ini. Sangat jauh dari ilmu yang aku pelajari selama kuliah. Tapi itulah, di negara tercinta ini sudah terlalu banyak sarjana sehingga lapangan pekerjaan yang sedikit itu pun harus diperebutkan oleh orang yang di belakang namanya dipenuhi dengan gelar. Pekerjaan seperti sebutir gula yang diperebutkan oleh ribuan semut. Dan karena aku gagal bersaing untuk mendapat pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikanku, apa boleh buat, untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin tinggi, akhirnya aku memilih pekerjaan ini.
Aku cukup bersyukur. Di tengah persaingan hidup yang semakin sengit, pekerjaanku masih jalan terus. Pekerjaanku tidak pernah terkena imbas krisis global. Bahwa sering ada orang yang kena PHK, aku sama sekali tak pernah mengalami hal itu. Ya, Anda harus tahu, kalau Anda sering menonton berita kriminal di televisi, banyak sekali terjadi peristiwa pembunuhan. Tahukah Anda, bahwa dari yang mati itu ada yang merupakan korbanku? Aku sangat beruntung, polisi tak bisa melacak jejakku. Bukankah ada adagium, penjahat selalu selangkah lebih maju dari polisi? Mungkin Anda menganggap aku sebagai pembunuh profesional yang sangat lihai. Terima kasih kalau Anda berpikir begitu, artinya Anda memberi apresiasi pada pekerjaanku.
Tentang polisi yang selalu gagal mencium jejakku, aku tak tahu kenapa. Padahal aku tak pernah secara khusus belajar keterampilan membunuh secara canggih, yang jejaknya tak bakal diketahui polisi. Aku menjadi percaya, bahwa nasib baik dan keberuntungan itu memang ada. Dan selalu lolosnya aku dari tangkapan polisi adalah salah satu keberuntungan itu.
Order pembunuhan yang pertama kali kuterima datang dari seorang pemilik toko. Aku tak akan menyebutkan jenis tokonya itu. Aku takut Anda akan mencurigai orang itu. Toko itu menghidupi banyak karyawan. Kasihan jika karyawan-karyawan itu mesti kehilangan pekerjaannya jika banyak orang seperti Anda akan memboikot toko itu.
Dia menyuruhku karena benci usahanya disaingi. Ya, pada awalnya toko pengorder jasaku ini masih bisa mengimbangi toko saingannya. Namun pelan-pelan, para pelanggannya mulai beralih ke toko saingannya itu. Pengorderku merugi. Ia mendapat modal dari mengutang. Karena ia tak bisa membayar utangnya, ia semakin benci pada saingannya dan berniat menghabisinya. Tapi ia bingung bagaimana caranya menghabisi nyawa pemilik toko rival bisnisnya. Ia takut tertangkap polisi.
Beruntung saat itu aku sedang membeli suatu barang di tokonya. Aku bilang padanya, aku sangat butuh barang itu tapi tak mampu membayarnya. Ia pun mengatakan bahwa usahanya mulai seret. Ia berkeluh kesah tentang keuntungannya yang semakin hari semakin menyusut. Lantas aku bilang, akan bekerja menjadi pelayan di tokonya. Ia menjawab bahwa ia sudah tak mampu lagi membayar karyawan. Lalu aku mengatakan apa pun akan kulakukan untuk membayar sebagai kompensasi kalau aku telah mengambil barangnya. Secara tak terduga, dia memanggilku masuk ke ruangan kecil yang sunyi. Di situ dia mengeluarkan ide gila untuk membunuh pemilik toko yang membuat usahanya bangkrut. Gilanya, aku menyanggupi untuk membunuhnya. Bukankah aku sudah mengatakan akan melakukan apa saja untuk membayar barang yang kuambil itu?
Selama dua hari aku selalu datang kepadanya, berdiskusi dengan cara apa aku harus membunuh saingannya. Kami saling bertukar pendapat tentang cara yang paling aman dari kecurigaan polisi. Dan akhirnya kami sepakat membunuhnya dengan suatu cara. Cara apa itu? Aku tak akan menjelaskannya di sini. Takut kalau Anda tertarik untuk mengikutinya. Bisa-bisa orderku berkurang, diserobot oleh Anda!
Pemilik toko saingannya itu seminggu kemudian mati di tanganku. Pengorderku senang bukan main. Ia memberiku uang dua juta. Tapi aku menolaknya. Dalam perjanjian sebelumnya tak ada kesepakatan kalau aku akan menerima imbalan uang. Aku menganggap pembunuhan itu sesuai dengan nilai barang yang kuambil darinya. Ya, mau apa lagi, kalau sedang butuh, tak ada nilai yang sanggup menghargai sebuah barang.
Dari mulut ke mulut, kabar tentang keberhasilanku membunuh yang tak mampu terlacak oleh polisi menyebar secara rahasia. Aku diberitahu oleh pengorder pertamaku bahwa ada temannya yang akan menyewa jasaku. Akhirnya aku meminta handphone pada pengorder pertamaku -dan ia tak keberatan- agar memudahkan berkomuniksi dengan pengorder selanjutnya.
Mulailah aku menjalani sepak terjang sebagai seorang pembunuh profesional. Banyak dari pengorder langsung menyebutkan harga untuk nyawa orang yang aku bunuh itu. Sangat menggiurkan. Kalau sepuluh kali saja aku mendapat order membunuh, aku akan langsung jadi orang kaya. Jika telah menjadi kaya, aku berjanji akan mulai usaha dengan jalan yang benar, tentu dengan strategi membangun yayasan untuk membantu kerja pemerintah mengentaskan kemiskinan dan merawat anak-anak terlantar.

***
pembunuh bayaran
gambar diunduh dari http://www.fitr4y.files.wordpress.com

Sekarang aku akan menceritakan order terakhir pembunuhan yang kuterima. Anda adalah orang yang beruntung karena mengetahuinya. Jarang-jarang lho.
Aku sedang tiduran di kasur butut sambil merokok dan menikmati segelas kopi.
Tiba-tiba sebuah sms masuk ke nomor handphone-ku.
“Bisa Anda ke Jl Melati 20? Sangat penting.” Begitu isi sms itu.
Aku langsung membalasnya. “Bisa. Kapan? Sekarang?”
“Iya. Sekarang.”
Aku segera mengambil jaket kulit dan keluar menyetop taksi. Malam yang pekat dengan udara dingin cukup membuat kota yang siang hari sangat menggeliat ini mati.
Tak ada keramaian seperti yang terjadi di siang hari.
Setelah berdiri di pinggir jalan, sekitar seperempat jam, akhirnya aku mendapat sebuah taksi.“Jalan Melati,” kataku.
Sopir taksi langsung menjalankan taksinya tanpa sedikitpun menoleh kepadaku. Aku lebih banyak diam dari pada mengajak sopir untuk bercakap-cakap, meski sekadar omong kosong yang akan menghangatkan suasana malam yang begitu dingin ini.
Jalan Melati sangat sepi. Seperti bagian lain kota ini, seperi seorang tua renta yang kehabisan tenaga sehingga tak mampu bergerak sedikitpun. Aku mencari rumah benomor 20. Ketemu. Sudah gelap memang, tapi sebuah lampu lima watt yang menyala cukup memberi bukti bahwa memang betul ada orang memintaku untuk datang ke tempat ini.
“Selamat datang, Jack. Saya sangat butuh jasa Anda,” katanya. Ia seorang laki-laki parlente yang masih memakai setelan jas rapi, meski hari sudah malam begini.
“Siapa yang mesti saya bunuh?” tanyaku setelah duduk di sofa butut yang di sana-sini sudah berlubang.
“Ini alamatnya,” ia menyodorkan secarik kertas padaku “Dan ini fotonya,” lanjutnya sambil menyerahkan selembar foto bergambar laki-laki tua yang dandanannya tak kalah parlente dengan pengorderku ini.
“Kapan nyawanya harus keluar dari tubuhnya?” tanyaku sambil mengambil sebatang rokok filter dan menyelipkannya di bibir.
“Malam ini.”
Secepat itukah? Pertanyaan ini batal kulontarkan. Sebagai pembunuh profesional, aku memang dituntut siap bekerja kapan saja. Kapan diperintah untuk membunuh, saat itu juga aku akan membunuh.
“Ini dp-nya. Sisanya setelah pekerjaan Anda selesai,” ia menyodorkan sebuah amplop padaku. Aku tak tahu berapa isinya, karena langsung kumasukkan ke saku jaket. Tabu bagiku untuk tahu berapa ongkos tiap nyawa yang kucabut.
Aku segera melesat menembus malam yang dingin. Rokok yang kuhisap cukup untuk menghangatkan tubuh yang mulai diserang bermacam penyakit ini. Jalan Wisanggeni 35. Itu adalah alamat yang diberikan pengorderku di Jl Melati 20.
Entahlah, aku merasa kurang nyaman malam ini. Tidak seperti biasanya, aku akan sangat bersemangat untuk menghabisi nyawa seseorang. Menyaksikan orang mati terkapar oleh tanganku, ada kepuasan tersendiri. Anda bilang aku sadis? Itu terserah Anda. Yang penting aku puas, dapat uang banyak. Sederhana bukan?
Tapi nyatanya, aku bukan termasuk orang yang kaya. Sudah lebih dari seratus kali aku menghabisi nyawa orang, tapi tetap tidak kaya. Masih tinggal di rumah kontrakan yang sempit dengan kebersihan yang tidak terjamin. Kamar mandi bau pesing karena harus bergantian dengan penghuni kontrakan lainnya. Dan kenyamanan yang terenggut karena penghuni kamar di sebelahku selalu menyetel musik rock keras-keras, seolah penghuni lainnya harus mendengar musik yang disukainya itu.
Aku telah sampai di jalan Wisanggeni 35. Sayang, aku tak bisa segera beraksi. Masih banyak orang di rumah itu. Bahkan suara para penghuni yang ada di dalamnya terdengar hingga ke pinggir jalan di tempat aku sekarang berdiri. Aku mencari tempat yang aman untuk sembunyi dan mengintai. Menunggu waktu yang tepat untuk beraksi menghilangkan nyawa orang yang fotonya ada di tanganku ini.
Aku menelepon pengorderku di Jalan Melati 20.
“Suasana belum aman. Bisa ditunda besok saja?” kataku mengabarkan situasi rumah di Jalan Wisanggeni 35.
“Harus sekarang. Tunggu sampai ada waktu yang tepat. Kalau malam ini Anda tidak berhasil membunuhnya, bisa-bisa besok saya yang akan mati.”
Akhirnya aku tetap berdiri di tempat yang terhalang semak-semak, sambil menghabiskan berbatang-batang rokok yang ada di saku jaketku. Gila! Lama sekali orang yang berkumpul itu membubarkan diri? Tapi sebagai pembunuh profesional, mau tak mau aku harus tetap menunggu.
Akhirnya jam dua pagi tak ada lagi keramaian di rumah itu. Aku segera menyelinap ke sana. Kebetulan lampunya masih menyala. Berarti orang yang harus kubunuh itu belum tidur. Bukan masalah buatku, orang yang akan kubunuh sudah tidur atau belum. Kalau sudah, tentu akan sangat mudah membunuhnya. Kalau belum, berarti aku harus bertarung dulu dengannya karena dia pasti akan mempertahankan diri. Ya, itung-itung sebagai hiburan dan pengalaman. Kalau pekerjaan yang aku jalani ini tidak semuanya berjalan mulus.
Aku sudah berada di depan pintu. Kudorong pintu itu sedikit. Ternyata belum dikunci. Aku tak membuang tenaga untuk mendobrak membuka pintu yang sudah dikunci.
Aku tak menyangka, orang yang akan kubunuh ini tahu kalau nyawanya mungkin sebentar lagi akan melayang di tanganku. Sama sekali ia tak takut sedikitpun menghadapiku. Malah ia tersenyum, seperti bertemu dengan sahabat yang lama tidak ketemu.
“Anda Jack? Algojo yang ditugaskan untuk membunuh saya? Sabar, masih banyak waktu. Jangan terburu-buru. Saya tak akan lari dari Anda,” katanya tenang.
Gila! Pikirku. Mau mati saja masih santai kayak gitu. Apa dia belum tahu reputasiku selama ini?
“Anda pasti pembunuh yang sangat profesional. Saya yakin akan segera mati jika Anda sekali saja menyentuh saya. Ngomong-ngomong dengan apa saya akan Anda bunuh? Anda belum pernah gagal dalam membunuh, bukan? Jangan takut, saya tak akan mengecewakan Anda. Tapi sebelum saya mati di tangan Anda, saya ingin meditasi dulu. Semacam persiapan kalau kematianku sudah tiba. Tadi banyak tamu yang datang ke rumah saya ini hingga meditasi baru bisa saya lakukan sekarang.”
Menyebalkan! Mau mati saja masih memikirkan meditasi. Kenapa ia tidak berpikir bagaimana caranya meloloskan diri dari tanganku?
Tapi memang, malam ini aku merasa aneh. Perasaanku tidak tenang seperti biasanya. Aku kurang enjoy untuk beraksi. Bahkan gugup menghadapi orang yang begitu tenang menjelang ajalnya ini.
Aku duduk di kursi yang ada di belakang tempat dia meditasi. Aku harus sabar menunggunya. Bukankah aku cukup baik membiarkan calon korbanku melaksanakan keinginannya untuk yang terakhir kali sebelum pergi untuk selama-lamanya? Jarang aku berbaik hati seperti ini.
Tapi lama sekali ia meditasi. Ia tenang duduk bersila sambil mulutnya komat-kamit. Entah sedang membaca apa. Dan aku pun tak sabar untuk menghabisinya karena waktu sudah hampir menunjukkan jam tiga pagi.
Aku mendekatinya, merogoh belati dari dalam jaket kulitku. Pelan-pelan aku dekati dia. Aku begitu hati-hati mendekatinya hingga langkah kakiku nyaris tak menimbulkan suara. Ia sama sekali tak menghiraukan kalau aku sudah berada di belakangnya. Tinggal pegang lehernya dan aku tancapkan pisau belati ini ke dadanya. Beres sudah. Aku tak pernah gagal dalam membunuh.
Namun tiba-tiba, seperti ada yang mencegah tanganku untuk memegang lehernya dan menancapkan belati di dadanya. Nafasku tiba-tiba sesak. Aku jatuh tersungkur di lantai. Aku berusaha bangkit untuk membunuhnya. Tapi aku tak pernah bisa bangkit lagi. Aku pun mati sebelum berhasil membunuh orang itu. Untuk pertama kali inilah aku gagal menyelesaikan tugasku, pembunuhan ke-seratus satu.

***

Dua hari setelah kegagaln itu, sebuah berita di koran menyebutkan ada seorang laki-laki yang frustrasi karena terhimpit masalah ekonomi hendak mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri di sebuah rumah yang telah ditinggalkan penghuninya untuk liburan ke Paris. Namun sebelum berhasil membunuh dirinya sendiri dengan belati yang digenggamnya, ia keburu mati. Tak ditemukan bekas penganiayaan di tubuh lelaki itu. Tak ada sesuatu yang menjelaskan identitas lelaki itu. Di saku jaketnya hanya ditemukan sebuah amplop berisi potongan-potongan kertas yang ditata menyerupai uang. Diduga kuat laki-laki itu juga mengalami sakit jiwa, mungkin karena saking lamanya terhimpit kemiskinan.
Berita itu ada di pojok kanan bawah koran dengan gambar seorang lelaki yang diburamkan wajahnya, mengenakan jaket kulit sedang terkapar di lantai dengan tangan memegang belati. Sayang, tak ada yang begitu antusias membaca berita yang berjudul “Gagal Bunuh Diri, Tetap Mati” itu.

Erina ke Jakarta

Cerpen Bhima Yudistira
Editor Ragil Koentjorodjati

City_Rain_by_jesidangerously

Senja di desa Wae Sano memang menyilaukan mata, dengan keindahan latar belakang bukit-bukit kapur yang terbentang sepanjang danau belerang, di tepi barat pulau Flores. Seorang gadis, bernama Erina sudah ditakdirkan lahir di alam yang mengagumkan ini. Segalanya akan dimulai dari tanah leluhur ini, tanah penuh harapan sekaligus kebencian, tanah masa lalu sekaligus menyimpan mimpi seorang Erina, gadis Wae Sano, begitu orang biasa memanggilnya. Ia asli Flores, lahir dan dibesarkan di kampung Wae Sano, dengan kondisi yang hampir tidak terjamah manusia kota. Dengan debit air diambang batas kritis, penduduk desa hidup dalam keterbatasan yang mungkin menyebabkan separuh dari penduduk desa meninggalkan kampungnya dalam seperempat abad terakhir ini.  Mereka yang mampu bertahan tinggal orang-orang tua dengan kaki kapalan karena harus menempuh jarak berkilo-kilo meter hanya untuk mendapatkan satu jerigen air bersih. Jangankan berbicara kehidupan layak, listrik pun belum dikenal di desa ini.

Anak-anak yang berangkat ke sekolah tidak membawa buku tulis dan  pensil atau jenis lainnya dari keperluan normal sekolah, mereka membawa jerigen air, bayangkan kawan, jerigen air bukan lainnya. Mereka dengan semangat mendaki bukit-bukit terjal di sisi kampung, masuk ke pedalaman hutan di Lenda hingga ke tepi danau berbau asam, berlarian membawa jerigen kosong yang akan penuh terisi ketika mereka pulang sekolah. Kehidupan manusia-manusia di Wae Sano tidaklah seindah dongeng-dongeng pahlawan atau lagu-lagu yang sering dinyanyikan orang tua saat meninabobokan anak mereka. Kehidupan di Wae Sano sangat keras, dan menyakitkan.

Bukit-bukit terjal di sekeliling Wae Sano menjadi saksi kerasnya kehidupan masyarakat desa. Danau yang elok jika dilihat oleh para wisatawan tidak dapat mendatangkan kemakmuran apapun, bahkan menjadi malapetaka di setiap awal musim hujan. Debit air danau belerang yang tajam baunya perlahan bertambah, seiring dengan racun-racun berwarna kuning kehitaman yang meluap-luap di pesisir danau. “Jangan sekali-kali Kae dekati danau itu! Sebuah laknat akan menimpa setiap orang. Ya benar, danau itu keramat,” ujar Tua Golo. Keramat karena telah menelan puluhan nyawa yang mencoba untuk berenang, atau menyebrangi danau penuh lumpur kuning beracun. “Danau sial!” begitu sebut Tua Golo (adat) ketika berkeliling sekitar danau sebagai tradisi menolak segala celaka yang bisa timbul di tahun-tahun penuh hujan.

Pernah Erina seorang diri berendam di pemandian air panas di balik danau, tiba-tiba warna air berubah menjadi abu-abu penuh lumpur. Erina berteriak, untung Papa Petrus dengan sigap berlari dari rumahnya untuk menyelamatkan Erina yang mulai merasakan mati rasa di kakinya. Danau itu mengalirkan racun yang teramat berbahaya, bahkan pemburu hutan menggunakan lumpur danau untuk menjebak babi hutan, yang tewas seketika memakan daun-daunan bercampur air danau.

Erina memang bukan sembarang gadis, ia tergolong anak cerdas, di tengah penduduk desa yang kurang gizi dan air bersih, soal hitung-menghitung Erina paling pandai. Ia anak tunggal dari Papa Pedo, seorang tukang batu yang menjual keringatnya kepada pemerintah kabupaten. Batu-batu dikumpulkan mulai matahari belum terbit, hingga malam dengan penerangan lampu minyak seadanya, Ayah Erina menggali dan memukul batu kemudian menjualnya untuk perbaikan jalan antar kabupaten di Labuan Bajo. Hasil kerja kerasnya digunakan untuk membeli beras dan kecap di pasar tiap sabtu, itu pun masih berhutang sana-sini. “Yang penting kamu sekolah yang tinggi Nak, capai cita-citamu. Itu pesan bapak, jadilah perempuan seperti Kartini yang pernah Bapak baca waktu seumur kamu dulu, sayang bapak sudah tidak bisa membaca lagi,” pesan Ayah Erina. Ia peluk anaknya dengan kehangatan seorang bapak tukang batu.

Perjalanan kehidupan membuat Ayah Erina sadar, bahwa profesi tukang batu akan segera tergantikan oleh mesin-mesin pemecah batu pesanan kabupaten. Ia bergumam, “Tenaga tua ini segera akan punah, ya Tuhan, harus kerja apa lagi untuk hidup, mengapa hidup begitu penat dan berat seperti ini?” Terkadang Erina mengintip ke dalam kamar ayahnya ketika melihat ayahnya menangis, meratapi tembok-tembok rumahnya yang hampir rubuh. Erina terlahir dari keluarga serba kurang, namun semangatnya tinggi, ia rela menghabiskan waktu tanpa bermain hampir 10 tahun dari waktu hidupnya.

Pulang dari sekolah, Erina mengambil alat pemukul kemiri, lalu membuka karung goni berisi kemiri milik pamannya. Erina diupah per kilogram lima ratus rupiah, tidak pernah naik mulai dari dulu ia pertama kali mencoba membantu pamannya menjadi kuli pecah kemiri. Ibu Erina sudah lama meninggal akibat wabah disentri yang tidak jelas kapan datang dan hilangnya. Ketika bercerita soal ibu Erina, Papa Pedo hanya mengumpat danau belerang yang terkutuk itu, menuduh danau itu penyebab malapetaka hilangnya nyawa Ibu Erina. Walaupun dokter keliling sudah menjelaskan kepada penduduk, bahwa disentri bukan disebabkan karena belerang, tetap saja Ayah Erina tidak percaya, bahkan sekali waktu dokter keliling yang ditugaskan langsung dari Dinas Kesehatan Kabupaten dibentaknya dengan sumpah serapah karena menurutnya dokter itu menyebarkan kebohongan tentang disentri.

Danau yang tidak pernah menghasilkan ikan apapun itu selalu dikutuk oleh penduduk ketika salah seorang diantara mereka meninggal, sakit jantung, ginjal, bahkan tertabrak truk, tetap saja danau itu yang disumpah telah membawa kematian. “Oh. Betapa bodohnya penduduk desa ini, semoga Tuhan memberi kesempatan belajar untuk anak-anak yang tertular penyakit bodoh orang-orang tua itu. Ya Tuhan selamatkanlah anak-anak, aku tidak peduli dengan manusia-manusia kolot sok pintar di desa ini!” Hanya itu yang bisa Pastur Maksimus gumamkan ketika ia mendapati berbagai macam tingkah aneh penduduk ketika meratapi kematian saudara atau teman dekatnya.

Sebulan sudah sejak Ayah Erina tidak mendapatkan pesanan memecah batu untuk perbaikan jalan karena dana kabupaten untuk membeli batu guna memperbaiki jalan dihentikan, anggarannya digunakan untuk membeli mesin pemecah batu yang baru. Waktu mendengar kabar datangnya rencana pembelian mesin itu, ayah Erina segera meloncat dari tempat tidurnya jam dua malam, berlarian seperti orang kesetanan, menyumpah di tepi danau, “Mati kau Danau sial! Terkutuk!”

Ya, gejala orang frustasi, mungkin ia terkena sakit gila pikir penduduk yang terganggu tidurnya akibat teriakan-teriakan ayah Erina. Di jalan ia berteriak-teriak, “Habis sudah kae, habis sudah!” Penduduk mungkin sudah terbiasa mendengar orang tiba-tiba berteriak sambil berlarian di jalan-jalan kampung, kalau bukan ada festival desa, kemungkinan kedua, ada orang gila.

Tua Golo malam itu berkumpul di rumah Pastur Eman, sambil membawa oleh-oleh buah-buahan yang biasa diberikan kepada Pastur sebelum memulai jamuan rohani di minggu pagi. Tua Golo bercerita tentang peristiwa tadi siang yang menimpa Papa Pedo. Ia dengan miris bercerita tentang malangnya kehidupan ayah satu anak itu setelah pemerintah kabupaten tidak membutuhkan tenaganya lagi. “Dua puluh lima tahun sudah ia bekerja menjadi tukang batu, bayangkan Bapa, 25 tahun! Dan sekarang pekerjaan satu-satunya hilang sudah! Nasib benar Kae Pedo!” seru Tua Golo yang bersemangat bercerita tentang malapetaka hari ini. “Lalu, apa kita masih mengumpat pada danau yang membawa celaka itu?” kata Pastur sambil tertawa. “Tentu itu bukan maksud saya Bapa, tapi mungkin danau itu malapetaka juga, lain waktu aku akan menyumpahi danau itu! Sekarang kita harus menolong Kae Pedo mendapatkan pekerjaan. Menurut Bapa bagaimana?” Pastur terdiam sebentar berhenti tertawa sambil melihat mata bulat Tua Golo yang berapi-api memikirkan satu penduduk kampungnya yang baru saja menjadi pengangguran. “Itu yang saya tunggu Tua Golo, kebetulan saya punya kawan di Jakarta, ia kerja jadi tukang bangunan, mungkin Kae Pedo bisa bantu-bantu sedikit.” Secercah harapan muncul di mata Tua Golo, “Baiklah besok saya sampaikan, tolong Bapa bantu atur ya, saya tidak mau penyakit gilanya Kae Pedo menular ke penduduk lain, bencana! Bencana benar itu Bapa! Kasihan juga Erina harus menanggung beban berat, ia sudah banyak berkorban Bapa!”

Setelah berusaha menghibur ayah Erina, Tua Golo memberikan informasi pekerjaan dengan penghidupan yang lebih baik di kota Jakarta. Banyak pemuda yang bekerja di Jakarta setelah lulus sekolah menengah di desa ini, lalu bertaruh nasib menjadi tukang bangunan atau juru parkir di Jakarta. “Ah.. aku memang belum tau Jakarta, tapi aku yakin d isana lebih baik, dan di sana juga tidak ada danau pembawa sial seperti di sini, Semoga kau mendapatkan kerja di sana, aku sudah atur dengan Bapa, apa yang bisa kami bantu, mungkin uang seperlunya dan bekal makanan hingga kau tiba di Jakarta.” Kemudian ayah Erina menatap Tua Golo sambil matanya berkaca-kaca, “Kau memang pemimpin desa, kau bahkan tidak pernah berutang budi padaku, aku yang akan mengingat kebaikanmu dan desa ini, aku berjanji Kae!” Sambil meminum kopi, kemudian ayah Erina memanggil Erina, “Nak, kau sudah besar sekarang, sudah gadis pula, Bapak ingin cari kerja di Jakarta, kau teruslah sekolah, setiap bulan Bapak kirim uang untuk sekolahmu, jangan putus atau kau gunakan untuk membeli barang yang tidak perlu! Ingat! Sekolah! Itu yang utamanya, Mau kau jadi seperti Bapak?” Erina hanya terdiam. Ayah Erina menyadari bahwa keputusan untuk pergi ke Jakarta dan meninggalkan anak gadisnya di desa merupakan hal yang harus dilakukan.

Setahun berlalu..

Sudah tiga bulan Erina tidak mendapatkan kabar dari ayahnya, di mana ia sekarang atau bagaimana kesehatannya. Kiriman uang pun berhenti, Erina hanya membantu menjadi penjaga toko kelontong milik Tua Golo di sudut pasar Lenda. Ia bertanya pada setiap orang yang baru kembali dari Jakarta di terminal pasar Lenda, “Ada yang tau bapak? Pedo namanya, tinggi dan berkumis, dengan tanda bekas luka di dahinya, pernahkah Kae melihat?” sambil ditunjukkan foto ayahnya. Tak satu pun yang tahu keberadaan ayahnya. Selama ini ayahnya hanya menelpon untuk mengetahui kabar Erina dan menanyakan apakah uang kirimannya telah sampai ke tangan Erina, tanpa menyebutkan alamat tempat dia kini tinggal di Jakarta.

Didesak oleh situasi yang membuat hatinya cemas, akhirnya Erina mengambil sisa uang di amplop wesel berwarna biru kiriman terakhir ayahnya sebelum kabar ayahnya tidak terdengar lagi. Dibuka amplop itu dan terdapat selembar kertas, mungkin berisi alamat rumah pikir Erina, ternyata ia tersentak, itu semacam surat pesan yang biasa ditulis oleh orang yang sangat dekat dengan kematian.

Ananda Erina,

Surat ini bukan untuk dijawab, simpanlah baik-baik, dan jagalah. Berikan kepada anakmu kelak…

Apa menurutmu kebahagiaan yang paling ingin Bapak rasakan? Bapak ingin sekali lagi melihat kau dipangku oleh ibumu dalam dekapan yang penuh hangat. Kini aku hanya seongok manusia yang tidak pantas kau panggil Bapak. Aku sudah gagal, gagal di dalam kehidupan ini, uang yang kukirimkan ini, mungkin uang Bapak yang terakhir. Simpanlah baik-baik. Ingat pesan Bapak yang selalu terucap, tapi jangan pernah kau bosan mendengarnya Nak, Bapak ingin kau sekolah setinggi-tingginya, jadilah manusia bebas, lakukan apa saja yang kau inginkan Nak dengan ilmumu, jadilah manusia-manusia yang punya harapan!

Hidup bukan untuk menangisi kesedihan, hidup untuk melawan, melawan nasib yang menidurkanmu Nak, nasib yang berkuasa atas hidupmu. Lawan Nak! Lawan! Kau harapan bapak yang terakhir!

 

Ttd.

Ayah seorang “putri penantang nasib!”

Setelah membacanya, Erina menangis terisak-isak, “Di mana bapak sekarang? Tegakah melihat aku sendiri di sini? Pulang Pak. Erina ingin bersama Bapak.”

Satu bulan telah berlalu sejak wesel terakhir dikirim ke Erina, berisi uang Rp.500.000,-. Teringat akan foto ayahnya yang ia letakkan di bawah bantal, sewaktu-waktu ia ingin menangis, ia lihat foto ayahnya untuk membangunkan semangat yang hampir runtuh. Gadis belia kini tanpa siapa-siapa, tanpa apa-apa, dan hidupnya hanya menunggu dipinang oleh pemuda desa, itu pun jika beruntung mendapatkan pemuda yang ingin menikahinya. Mungkin dijadikan istri ketiga sudah bersyukur.

Sejak saat itu Erina tidak percaya lagi akan adanya doa, ia tidak lagi pergi ke gereja seperti yang pernah ia lakukan dulu. Tuhan baginya tidak pernah ada, kalaupun ada, Tuhan hanyalah gambaran akan nestapa dan rasa sedihnya. “Tuhan tak mampu menjawab doaku. Aku Erina dan aku ingin menjadi manusia-manusia bebas seperti yang bapak bilang dulu,” gumam Erina di dalam hati.

Sudah setahun semenjak surat terakhir bapak, Erina sangat ingin pergi ke Jakarta, berusaha menemukan tempat tinggal terakhir ayahnya, di surat weselnya tercantum alamat pengirimnya yang mungkin saja mengarahkan Erina kepada ayahnya yang sangat ia rindukan. Berangkatlah Erina dengan uang secukupnya, dari Wae Sano ke Jakarta membutuhkan waktu 4 hari pelayaran dan bisa mencapai waktu 1 minggu jika pelabuhan sape di Bima terpaksa ditutup karena tingginya ombak membuat kapal membatalkan jadwal normalnya.

Erina akhirnya sampai di kota Jakarta, kota dengan bayangan-bayangan aneh, wanita-wanita malam di sepanjang stasiun Senen dengan rok mini menjajakan cinta semalam, dan pedagang-pedagang asongan di sekitar Pasar Senen membuat mata Erina berputar-putar mencari nama jalan yang sulit untuk diingatnya, jalan Kampung Rambutan no.3, Pasar Senen seperti yang tertulis di belakang wesel pos berwarna biru. Akhirnya Erina menemukan rumah dengan pintu cat hijau, dan pagar setinggi lutut. Setelah bertanya pada tetangga, ternyata rumah itu memang pernah dijadikan tempat tinggal tukang bangunan yang sedang mengerjakan proyek perumahan tak jauh dari situ. Kini dada Erina berdebar-debar, berharap ia masih bisa mencari alamat tinggal ayahnya, setidaknya jika ayahnya sudah tiada ia masih bisa menemukan tempat ayahnya dikubur. Senja semakin gelap, Erina terpaksa mencari tempat penginapan, sekalian makan, pikirnya. Ada sebuah rumah yang bertuliskan “menerima tamu” tak jauh dari stasiun Pasar Senen. Ia sendirian masuk ke dalam rumah itu, dengan uang seadanya ia memesan satu kamar dengan kipas angin. Hmm ini murah, Jakarta tidak seperti dugaanya dulu, semua begitu mahal, dan orang-orangnya brutal. Ternyata Jakarta sangat ramah dengan tempat penginapan yang murah, “apa mungkin aku sedang beruntung?”. Ia rebahan di atas kasur kemudian tertidur.

Esoknya ketika bangun ia meraba-raba tas yang seingatnya tadi malam di simpan di dalam lemari. Hilang semua. Hilang tak tersisa, beserta uang dan amplop wesel biru dan foto ayahnya. Ia bertanya kepada penjaga penginapan yang tidak tahu menahu masalah tas yang hilang di dalam kamar malah membentaknya dengan kasar. “Maaf Mbak, tapi itu salah lu sendiri ga hati-hati naroh tas di dalam lemari yang ga dikunci, barang hilang gue ga bisa tanggung jawab, lo urus sendiri! Sekarang lo mau bayar pake apa nih?” Dengan nada mengancam ibu penjaga malah menagih uang sewa kamar kepada Erina. Dengan bingung Erina tidak bisa melakukan apa-apa, lalu bu Retno menunjuk rumah di depannya sambil berkata “Udah, mending lo sekarang cari kerja di situ, bantu cuci-cuci piring, atau ngapain deh yang penting ntar lo balikin uang sewa ya! Sana kerja!”

Sebulan sudah semenjak Erina tiba di Jakarta, kini ia menyewa kamar di rumah bu Retno, dan sehari-hari penghasilannya hanya cukup untuk membayar uang sewa dan makan nasi sayur secukupnya bahkan terpaksa berhutang. Ia terjebak, tapi tak bisa apa-apa. “Sekarang aku bekerja mencuci piring, kukumpulkan uangku sedikit demi sedikit untuk mencari rumah ayah,” besar harapan Erina untuk bertemu kembali dengan ayahnya.

Di hari yang panas itu, Erina sedang mengerjakan mencuci piring seperti biasa, kini ia bertugas membersihkan kamar-kamar kosong di lantai dua gedung yang gelap penerangannya. Ketika membersihkan kamar di pojokan, tiba-tiba Erina tersentak hingga ia hampir terjatuh. Di dalam kamar itu ada sosok laki-laki yang dikenalinya, sedang berdua dengan wanita dalam kondisi yang tak layak. Segera ia memekik, “Ayah?” Pria yang sedang asyik berduaan dengan wanita tersebut kemudian berbalik badan dan setengah telanjang ia menarik selimutnya, “Siapa kau?”

“Aku Erina, kaukah Papa Pedo?” seru Erina secara spontan

Dengan keadaan yang aneh itu pria tadi menjawab, “Ah, Anakku,” sambil matanya berkaca-kaca seolah tidak percaya.

“Apa yang sedang Ayah lakukan?” tanya Erina

“Tidak anakku, mari kukenalkan dengan teman Ayah,” sapa hangat ayah Erina

Pertemuan singkat ini bukanlah momen yang diharapkan oleh Erina, aneh, tak terduga dan membuat pikirannya berputar-putar, lutut Erina langsung lemas, “Benarkah ia Ayah yang Erina kenal? Yang ia cari selama ini? Atau aku sedang bermimpi?” gumam Erina.

Sambil memakai baju, pria yang memang ayah Erina berkata, “Mendekatlah anakku, aku takut sekali menghadapi Jakarta. Aku ingin kita pulang ke kampung lagi, menyumpahi danau Wae Sano yang telah membawa laknat kepada tanah leluhur kita. Mari anakku, bukan tempatmu di sini,” sambil ia berusaha memeluk Erina.

Erina tidak menangis sedikitpun, ia masih belum percaya pria setengah telanjang yang beberapa menit yang lalu sedang tidur dengan wanita entah dari mana kini memanggilnya lembut “Mari pulang Anakku”. Pria yang dulu menjadi teladan hidupnya, kini begitu asing.

Di tengah-tengah hiruk pikuk Jakarta, Erina dan Ayahnya keluar dari kamar itu, sambil berpengangan tangan, dengan latar gedung tempat Erina bekerja sebulan ini, di kamar penuh tanda tanya itu tertulis “Panti Pijat Sinar Melati”.

Ponte Vecchio

Cerpen Indah Margaret
Editor Ragil Koentjorodjati

 

gambar diunduh dari pengusaha.org

Jakarta, 1998

“Dinara! Aku dapat sepuluh. Aku yang menang!” Ranum tertawa riang sambil menari-nari di bawah cahaya senja yang mengabur perlahan menjadi malam.
“Ah, curang kamu Ranum. Pasti tadi sudah kamu bawa dari rumah. Masa baru berapa menit sudah dapat sepuluh?” aku menyahut tidak terima. Namun ia malah ikut menari bersamaku.
“Eh..eh..wah gerombolannya datang lagi. Itu..sstt..happ!”  Ranum menghentikan tariannya, lalu  berlari perlahan meraih dedaunan yang menjuntai lembut menyentuh rambutnya yang berwarna cokelat emas. Dengan cekatan ia menangkap satu kunang-kunang baru.
“Huwa..! Dapat lagi! Sekarang aku dapat sebelas kunang-kunang!” Serunya puas.
“Haaaa.. Ranum sekarang punya sebelas kunang-kunang. Aku hanya punya satu..” keluhku  sambil memandangi kunang-kunang hasil tangkapannya di dalam sebuah kotak transparan.
“Ini.  Aku berikan lima kunang-kunangku buatmu.”
Aku terdiam. “Ah..Ranum..”
“Jadi sekarang kita sama-sama punya enam kunang-kunang.” Ranum tersenyum puas saat memandangi kotak milikku yang sudah berisi lima kunang-kunang miliknya.
“Terimakasih ya, Num.”  Kami saling melempar senyum, kemudian duduk menyandarkan tubuh yang mungil pada dinding jembatan yang kokoh. Air sungai menderai sejuk seperti suara burung-burung gereja di pagi hari.
“Num, kenapa sih kamu sebut tempat ini Ponte Vecchio? Ini kan hanya kolong jembatan saja?” Ranum hanya memandang langit, sambil menghamparkan hatinya yang damai tertiup angin malam yang mesra.
“Nenekku sering  bercerita tentang kisah jembatan Ponte Veccio. Kisah dalam sebuah lagu klasik, tepatnya.”
“Lagu klasik?”
“O Mio Babbino Caro[1]. Nenekku sering sekali menyanyikan lagu itu. Kisahnya tentang seorang perempuan yang bercerita pada Ayahnya tentang rasa cinta pada kekasihnya. Dia ingin Ayahnya merestui cinta untuk kekasihnya itu. Seandainya Ayahnya tidak setuju, perempuan itu akan pergi ke Ponte Vecchio, dan menceburkan diri ke sana.”
“Maksudmu?”
“Dia mau mati.”
“Lalu, apa dia mati?”
Ranum mengangkat bahu.
“Aku tidak tahu. Ceritanya hanya sampai di situ.”
“Memangnya, apa itu Ponte Vecchio? Jauh tidak dari sini? Ayo kita ke sana!”
“Mana bisa kita ke sana, Nar. Ponte Vecchio itu nama sebuah jembatan di Italia.”
“Oh.. ya ampun! Kamu sebut tempat ini Ponte Vecchio karena cerita itu?” Dipandanginya jembatan yang melingkar menyambung sungai di atas kami dengan wajah jenaka. Ranum yang dari tadi bertindak sebagai pencerita itu tersenyum menerawang cahaya senja di depannya  yang mulai menghitam.
“Aku kan tidak bisa ke sana. Tempatnya jauh sekali. Tapi aku suka sekali lagu itu. Jadi..” Ia terdiam sesaat, kemudian melanjutkan ceritanya lagi. “Kusebut saja tempat ini, Ponte Vecchio kolong Jakarta.” Senyumnya cerah seperti sinar matahari yang membias di balik kelopak bunga mawar di pagi hari.
“O mio babbino caro. Mi piace è bello, bello..”
Ia pun mulai bersenandung.

***

Jakarta, 2012

Ranum, kita harus bertemu.
Kularikan ragaku menembus  udara sore yang entah mengapa terasa cukup pengap untuk kuhirup.  Sejauh mataku memandang, hanya ada lautan manusia yang semerawut menjejaki aktivitas sore kota Jakarta yang rimbun dan sesak. Ada yang dengan tanpa bersalah menerobos si tuan lampu merah dengan percaya diri, ada yang memaksakan bunyi klakson mobilnya dengan penuh kemarahan, ada yang pasrah saja melepas kopling mobilnya karena yakin bahwa kesemerawutan ini hanya akan menimbulkan kemacetan tanpa pergerakan sedikit pun.

‘Tin, tin, tiiiiiiiiiiin…’

Kutekan klakson mobilku dengan geram. Kenapa tiba-tiba sore ini rimbunnya jalanan sudah lebih-lebih dari pasar ikan pagi hari di pinggir kota? Akh!

‘Tin, tiiiiiiiiiiiiiin..’

‘Ngeng..ngeeeeng.’ Seorang pengendara sepeda motor mengepulkan asap dari knalpot motornya di depan mobilku, sambil membalikkan wajahnya yang tertutup helm ke arahku. Tampaknya pria dengan jaket kulit cokelat itu kesal dengan bunyi klakson mobilku.

“Apa? Apa lihat-lihat?” Aku bergumam kesal ketika si tuan lampu merah berubah warna menjadi hijau. Semua makhluk di jalanan seketika melakukan pergerakan dengan kendaraan masing-masing, Begitu pun denganku. Kupandangi langit sekilas, lalu kembali melemparkan pandanganku ke arah jalan yang ada  di depanku.

Ranum, kita harus bertemu.

Kupegang erat kemudi mobilku, berusaha menekan perasaanku sendiri yang terlalu berkecamuk untuk mampu kulukiskan. Tiba-tiba saja aku merasa ingin sekali menghilang dari dunia. Aku tahu entah bagaimanapun keadaanku, toh langit tetap masih biru, dan udara masih tersisa banyak untuk membiarkanku tetap hidup. Namun ternyata, itu tak mampu menggoda hatiku untuk merasa lebih baik saat ini. Bukankah seharusnya hari ini aku berbahagia? Bukankah seharusnya hari ini akan menjadi hari terindah setelah esok? Aku menarik nafas panjang.

Ranum, kita harus bertemu.

Dan meskipun mobilku sejuk karena air conditioner yang menunjuk tombol ON, namun entah mengapa udara semakin lama semakin terasa sesak untukku. Kunyalakan audio mobilku, menekan tombol yes pada sebuah lagu favorit. Namun ternyata, suara merdu Elton John pun tak mampu meredam kegundahanku. Malah, resahku semakin menjadi-jadi. Kuputuskan untuk mematikan audio mobil. Sepertinya, sunyi lebih baik. Ingin sekali rasanya memejamkan mata untuk beberapa menit, dan melepaskan diri dari kemudi yang sebenarnya semakin membuatku takut. Namun tentu saja itu tidak bisa. Mobil ini harus terus berjalan menembus jalan. Mobil ini harus mengantarku pada sebuah kejelasan. Mobil ini harus kulajukan demi menebus resah yang membuncah tidak karuan.

Ranum, kita harus bertemu.

Mobilku melaju melewati sebuah gereja tua di pinggir kota.

Tidak pernah berubah..

Aku berbisik pelan berdialog dengan diriku sendiri saat sebentar kupandang gereja tua itu. Masih saja kucintai, bunga-bunga Lily yang cantik itu, juga halaman yang tak terlalu besar namun cukup lega untuk tempat aku bermain semasa kecil dulu. Ranting-ranting kecil yang jatuh menyebar di kaki pohon, daun-daun hijau yang seringkali berguguran saat angin menghembus di kala terik, bunga madu yang seringkali kupetik sampai gundul karena rasa penasaranku untuk menghisap madunya; semua mendesirkan jiwaku. Rindu ini menggumpal di pembuluh darahku. Lalu, apakah aku akan menangis sekarang? Atau lebih tepatnya, apakah aku cukup pantas untuk menangis sekarang?

Kulajukan terus mobilku tanpa henti. Kutelusuri jalan berbatu yang semakin lama semakin menyempit. Dari sini, wangi desa mulai terasa meskipun aku tidak membuka kaca jendela mobilku. Ingin benar rasanya berhenti sebentar dari lintasan ini, dan mencium satu per satu kerinduan yang merogoh hatiku sejak tadi. Namun, aku tidak punya banyak waktu. Aku harus bergerak cepat sebelum senja mencuri kesempatanku. Kuinjak pedal gas mobilku, merasakan adrenalin semakin menghujamku bagai cambukan yang melukai punggungku dengan beraturan. Suara air sungai yang teduh menjadi gerbang yang kutunggu-tunggu. Baiklah..

Ranum, kita akan bertemu.

Kuhentikan laju mobilku, dan menyandarkan diri sejenak pada kecamuk yang merindangiku. Kutarik nafas dalam-dalam, dan menguatkan diri untuk sanggup membuka pintu mobil dan berdiri menghadapi kenyataan. Namun sebelum aku mampu melakukan itu, kupandangi sebuah kotak transparan yang kuletakkan di sampingku. Kupandangi kotak itu dengan kerinduan dan irama lain yang sungguh terlalu sulit untuk kujelaskan. Kuraih kotak itu, dan kugenggam dengan kedua tanganku. Perlahan kubuka pintu mobil, dan saat itu pula, jantungku seperti tertohok sesuatu yang keras. Seperti ada lonceng besar yang berdentum keras di kerongkonganku. Kubiarkan kakiku melangkah menyusuri tepian sungai yang wanginya segar seperti wangi pepohonan Cytrus. Di depanku, awan menyulam tarian-tarian malaikat lewat angin yang bertiup mesra. Seperti yang aku tahu, angin membawaku ke tempat di mana aku harus berada hari ini.

Dan di depanku,  aku melihat Ranum.

Ia berdiri menahan sinar matahari yang mulai menjingga di pelupuk mataku dengan tubuhnya. Bayangan tubuh rampingnya jatuh remang menghampar di atas bebatuan. Rambut cokelat emasnya terhempas-hempas oleh angin sore yang merinai mesra menjemput malam. Wajahnya yang lembut berkilau-kilau tersiram cahaya langit sore.

“Dinara..” Ia menyebut namaku saat melihatku datang.

Ranum.. Ranum.. Maafkan aku..Maafkan aku.. Belum saja aku sanggup berkata-kata, mataku sudah perih menahan air mata.

“Apa kabar, Nar? Seperti sudah begitu banyak hal yang berubah, ya?” Kedua mata sendu itu tenggelam memandangi aliran air sungai yang tampak seperti anak-anak kecil yang berlarian hendak pulang ke pangkuan ibunya.

Aku bahkan tidak sanggup memandang kedua mata itu. Kubuang saja pandanganku ke arah jembatan besar yang melenggang gagah di atas sungai ini. Jembatan besar yang tampak seperti lembayung romansa setiap kali aku menghabiskan waktu bermainku bersama seorang sahabat kecil di kala senja dahulu. Kurasakan perih meluruh dalam hatiku.

“Bagaimana rasanya, Nar?” Ranum tetap tidak bergerak dari tempatnya.

“Bagaimana rasanya akan menikah dengan orang yang kau cintai esok hari?”

Tiba-tiba aku merasa seperti ada malaikat menamparku keras-keras. Ranum memandangiku dengan tatapannya yang penuh luka.

“Ranum.. Maafkan aku..” Aku menangis saat kupandangi wajahnya. Tapi Ranum hanya terdiam.

“Aku tidak pernah berniat merebut kekasihmu. Aku juga tidak mengerti mengapa aku tidak bisa berhenti mencintai Adian. Aku merebut Adian darimu. Aku jahat kepadamu. Maafkan aku, Ranum..” Tangisku pecah.

Kenapa harus kekasihmu, Num?  Kenapa harus laki-laki yang paling kau cintai? Kenapa harus sahabat yang paling kusayangi? Kenapa harus kau yang sudah begitu baik kepadaku? Kenapa harus aku? Kenapa harus kita?

“Kenapa tidak dari awal kau katakan? Kenapa kau harus menusukku dari belakang? Kenapa harus kau yang merebut Adian? Kenapa?” Suara Ranum terdengar pelan dan tenang. Namun, aku dapat merasakan luka dari suara itu. Luka itu menggetarkan dan semakin meyesakkan hatiku.

“Maafkan aku, Num..” Kusentuh kedua lengannya, sementara ia tetap diam.

“Semoga kau bahagia dengan hidup barumu, Nar. Maaf, besok aku tidak bisa datang ke pernikahan kalian.” Suara Ranum bergetar.

“Aku akan pindah ke Italia.” Ucapan Ranum barusan membuatku nyeri sampai ke ujung kepala.

“Kenapa, Num? Apa karena..”

“Aku akan melanjutkan studi ke sana. Mungkin..” Ia terdiam sejenak.

“Akan menetap selamanya..” Ranum memandang nanar ke arah langit. Wajahnya sudah basah karena air mata.

Selamanya? Selamanya? Aku merasa seperti ada badai berputar-putar di belakangku.

Apakah karenaku, Num? Apakah karenaku kau akan pergi jauh? Lalu, apakah kau akan melupakanku? Kalau kau pergi, aku tidak akan pernah punya sahabat lagi. Tidak akan pernah ada yang sebaik engkau, Num. Tidak akan ada..

Kurasakan duka mencambuk hatiku keras-keras.

“Aku akan merangkai hidupku dari awal. Lagipula sudah lama Paman memintaku untuk tinggal di sana. Kau tahu, aku selalu ingin berkunjung ke Ponte Vecchio.” Ranum tersenyum simpul. Namun senyum itu malah semakin melukaiku.

Ponte Vecchio.. Ponte Vecchio.. Bukankah kita biasanya mencari kunang-kunang di Ponte Vecchio kolong Jakarta ini bersama-sama? Lalu, apakah kita tidak akan pernah lagi..?

“Semoga kau bahagia, Dinara. Aku hanya bisa bilang itu..” Ranum memandangi wajahku dengan kedua matanya yang menyiratkan luka. Perlahan, Ia melangkahkan kakinya beranjak melaluiku, meninggalkanku.

“Ranum.” Ia menghentikan langkahnya saat aku memanggilnya, namun tak sedikit pun ia membalikkan tubuhnya.

“Ini.” Dengan hati bergetar aku memberikan kotak transparan yang dari tadi kugenggam dengan tanganku. Ranum menerima kotak itu, dan memandanginya selama beberapa detik.

“Ini.. ada sebelas kunang-kunang di dalamnya. Kau ingat? Dulu kau pernah memberikan lima kunang-kunangmu untukku. Padahal, seharusnya kau punya sebelas kunang-kunang dan aku hanya punya satu. Tapi kau malah memberikan lima kunang-kunangmu untukku. Sehingga kita sama-sama punya enam kunang-kunang.” Aku melihat Ranum terdiam saat menerima kotak berisi sebelas kunang-kunang itu, sebelum ia mulai menangis lagi.

Aku menghambur memeluknya.

“Maafkan aku, Ranum. Aku jahat kepadamu. Seandainya aku bisa memilih, aku tidak ingin melukaimu. Kumohon, maafkanlah aku..”

***

Hari ini adalah sebuah sore yang tak terlukiskan ketukannya. Seperti sebuah sore yang datang terlambat atau terlalu cepat dari rotasi waktu yang seharusnya. Suara angin riuh lelah seperti puing-puing hujan yang beku. Di sekelilingku, daun-daun bergoyang anggun bagaikan tirai pagelaran yang membuka  sebuah pementasan yang indah. Namun  ironisnya, pementasan itu adalah sebuah panggung tanpa warna. Tidak ada violinis yang memainkan melodi-melodi adagio yang menyayat hati, tidak ada pianis yang memainkan irama staccato yang melonjak-lonjakkan nadi, tidak ada timbaland yang memainkan dentuman ketukan dengan gagah, tidak ada suara. Ini adalah sebuah pementasan kosong. Yang ada hanya orang lalu lalang di atas panggung melafalkan setiap dialog bisu, tanpa irama.

Lalu, di atas sana, kulihat beberapa burung-burung kecil menari-nari lugu membelah udara. Dua di antaranya terbang beriringan, ikut mengikuti satu sama lain. Dua yang lainnya menari dengan irama yang berbeda. Lebih bebas, lebih luwes. Empat burung kecil itu seolah membentuk rasi bintang termanis yang tak pernah tertulis dalam kisah sejarah  astrologi. Kubayangkan aku dan sahabat kecilku berlari-lari mengejar kunang-kunang senja di Ponte Vecchio. Aku tersenyum saat mulai menangis.

Ranum.. Apa kabarmu, sekarang?

Aku merindu.


[1] O Mio Babbino Caro adalah sebuah lagu klasik dari opera Gianni Schicchi, 1918.

Gadis Terbungkus Kertas Koran

Cerpen Willybrodus Wonga

gambar diunduh dari 3.bp.blogspot.com

Rasanya hantu-hantu berdesing melewatiku; hantu hitler dengan moncong pistol menempel pada pelipisku, hantu bethoven yang mendayukan sonata kesedihan, hantu karl Max menyeringai lebar lebar dengan sepotong pizza yang mencederai cintaku pada tahu isi,hingga hantu Bung Tomo dengan telunjuk seolah mencongkel mataku karena melupakan sejarah bangsa. Belum lagi hantu-hantu lain dengan segala masa lalu mereka yang melekat di bumi, entah urusan apa mereka berputar-putar mengenakan jubah bau bangkai ini. Hantu mereka berkerumun di bawah kakiku, menjepit leherku dengan napas-napas dingin serta wajah penuh belatung, dan Hitler mencemoohku habis-habisan ketika kereta ini menuntunku menemuimu; menuju masa lalu. Pasti Hitler yang pasi itu mengolok-olok karena kejahatanku atau mungkin karena sebentar lagi aku akan memilih mati mengikuti hantu-hantu tersebut. Tetapi aku telah menabung keberanianku untuk hari ini; ketika  ribuan hari melebur dalam bilangan tahun demi tahun yang datang dan berlalu kadang berbekas kadang terhapus oleh hujan di tiap musimnya, bahkan ketika kenangan telah terkuras habis oleh keringat yang mengalir deras dari tubuh kuyu yang beranjak sepuh, aku putuskan menemuimu sekali lagi. Bukan sekedar kunjungan dengan gairah-gairah terkekang, tetapi karena aku pernah keceplosan berkata padamu bahwa kutukan memilih jalannya sendiri. Jadi alih-alih mengindahkan hantu-hantu yang berusaha mencegahku aku mengutuk mereka: menyingkirlah kalian, mahkluk tanpa nurani, sejenak ke neraka atau ke surgamu.

Meski harus kuakui dengan semborono bahwa ingatanku pada setiap detil tubuhmu seakan tidak ikut terlebur oleh jutaan menit, aku cukup tegang akan menatapmu untuk sebuah jangka waktu 21 tahun perpisahan kita. Otak setengah mesumku mengandai; barangkali kau akan keluar dari pintu berpelitur halus itu dengan pulasan lipstik merah marun kebangganku, mengenakan celana pendek mencekik paha dan sebuah sweater yang menyembunyikan kutang hitam yang sering kau siram dengan parfum kesayanganmu. Kau akan berdiri di sana, dengan batas tidak jelas antara seringai dan senyummu menyembul dari balik pintu. Akankah aku terpana seperti pandangan kesekian kali kala kita bertemu di tengah keramaian kampus, dengan menawarkan senyum profesionalmu tetapi selalu aku bilang senyummu lebih menarik kala kau kelelahan di samping ketiakku? Yang pasti akan aku katakan padamu, dengan setengah linglung, dengan setengah pucat bahwa kendati kita adalah sesama pemuja globalisasi yang memarkir norma susila dalam garasi kultur kita yang masih purbawi, lalu memilih bersuka cita oleh cara kehidupan asing yang menyusup lewat burger dan mac donalds dan kini kau punya kehidupan normalmu yang mungkin antah berantah aku ingin bertemu sekali lagi.

Langit tempat rumahmu tumbuh kini meludahkan hujan. Jogjakarta basah. Kereta tetap melaju mendekati stasiun.

Jangan kecewakanku, sebab bukankah kemarin siang kau menjawab teleponku lalu dengan riang kau nyatakan ada waktu bagi seorang sahabat lama? Jantung sialan ini masih juga menabuh genderang mendengar suaramu, meneteskan keringat yang menari-nari keluar dari pori tubuhku dan folikel rambutku yang mulai kendur. Berbohonglah pada suamimu, atau kepada siapa lelaki yang kini sering meminjam ragamu untuk sebuah kenikmatan yang dulu milik kita berdua. Jangan pula kau sertakan anakmu, bayimu mungkin, sebab itu akan mengingatkan akan berbagai hal lain, dosa-dosa tak termaafkan kita.

Hai,,,Petra! Puput! Marsha! Bela!!!!

Sapaan apalagi selain keempat nama yang cenderung, dan ini sesuai persetujuanmu, kunamaimu sesuai suasana hatiku? Kau hanyalah Petra yang biasa-biasa saja di pagi hari, yang mengolesi mukamu dengan make up lalu mengubahnya jadi topeng kecantikan, kemudian berubah jadi puput yang menawan pada makan siang, yang kadang menolak masakan pribumimu dan merasa lebih cocok menipu lidahmu dengan masakan ala jepang atau ala perancis. Aku kagum dengan caramu beradaptasi secara global. Dengan rambut kadang dikelabang dengan pita kau disapa Bela oleh teman-temanmu namun dalam hangat gesekan kulit kita kau berubah jadi Marsha yang penuh gairah. Dulu kadang aku membiarkan mulutku mendesahkan kata seperti; sayang! Atau my baby! Atau honeyku! Namun kata-kata itu terasa gombal dan tidak sepadan dengan dirimu. Pernah sekali, karena perasaan yang melimpah pada setiap lekak tubuhmu aku nyaris memanggilmu dengan kata; Malena, yang pada akhirnya Aku mengutuki diri sebab telah memikirkanmu sebagai maria magdalena, nama si pelacur itu. Oh, maafkan aku sebab aku telah memanggilmu dengan banyak nama dan membuatmu terkesan sedikit murahan, meski bersama teman-temanmu, harus kuakui, kau lebih sering memajang dirimu di mal-mal dan tempat-tempat hiburan.

Aku melangkah keluar stasiun dalam dedas angin. Jogjakarta, kota pelajar, mahasiswa berserakan dan aku makin mengingat masa kuliahmu.

“Sederhana. Kamu royal dan aku membutuhkan uang saku yang lebih demi pendidikanku yang mahal.” Kau menerawang saat menjawab tanyaku mengapa kau menodai kegadisanmu denganku.

Lalu akankah kau masih tersenyum manis, yang tentunya terlalu palsu dalam gaya genitmu, saat mendengarkan salah satu nama di atas tercetus dari bibir berkumis yang pernah melekat di atas bibirmu? Atau malah kamu melengos pergi untuk sebuah masa lalu kita yang benderang oleh kasmaran serta sebuah cinta terpasung?

Ah, Petra! Seandainya aku memiliki sedikit nyali untuk menciptakan Tuhan yang benar-benar baru, dimana kepadanya aku akan bersembah dan berterima kasih karena telah menciptakanmu, aku yakin akan melupakan norma agama yang ada dalam kultur kita ini dan berpaling dari istriku kepada tawaran dadamu yang membuncah. Tetapi, sekalipun menjadi anggota laskar westernisasi yang membutuhkan seks seolah seorang istri tidaklah mencukupi dan pernikahan tidaklah terlalu suci untuk setia serta yakin jiwaku akan masuk neraka, aku masih saja takut membenarkan hubungan kita kepada orang kebanyakan. Namun karena pengertian luarbiasamu untuk suami kesepian macamku, Aku semakin mencintai, bahkan berharap aku mati sambil mencium telapak kakimu.

Aku yakin sudah lebih dari sekali membuka-buka kenangan lama kita yang masih terasa semanis es jeruk di lapak Bu Wati pada siang-siang musim panas kita. Aku akan membayangkan dengan sedikit kehilangan bagaimana rupamu bila disengat panas, dengan butir-butir keringat hinggap di dahi, hingga wangi minyak wangimu meruap melalui udara yang kering. Menyangkut bau tubuhmu Puput; Aku pernah membelikan parfum mahal pada hari natalmu, kemudian berbulan-bulan kemudian kamu mengirim pesan bahwa parfum itu cocok buatmu sehingga uang bulanan selalu kusisipkan beberapa lembar sampai botol-botol serupa parfum pertama berjejer di atas lemarimu. Musim panas kita, setelah kuingat kembali, seolah-olah matahari berhenti berputar di atas kamarku atau kamarmu. Biar aku katakan kepada orang-orang mengenai gairah liar kita. Entah siang entah malam, oleh gelenyar desah dan tabuhan jantung yang seakan diremas kenikmatan cinta liar, kita selalu berakhir dengan bersimbah peluh. Dengan napas memburu. Bahkan di tengah malam sekalipun, ketika seluruh jagat seakan larut dalam penat kita malah masih saling menjamah. Kala tiap orang dibius mimpi dan telinga mereka berhenti dari kebisingan, telinga kita masih saja jangak menelan bisikan demi bisikan yang selalu terulang keesokan hari.

Petra, Bidadari liarku, cinta sesatku: pasti kau telah sangat merindukan jakarta. Ketika hujan tiba-tiba mengurungmu di kamar kosku, kau akan selalu jadi gadis beliaku sayang. Kendati dua puluh satu tahun membenamkan rahasia-rahasia tak terbongkar kita, aku akan selalu dibayangi mimpi tentangmu.

Biarkan aku melantur, Bella, karena aku tahu bahasaku akan mewakili semua ekspresi kejahatan seorang suami kepada istrinya. Sekalipun berhasil mendapatkan logika untuk diriku bahwa aku hanya ingin sebuah hubungan tanpa ikatan dan sebuah makan malam yang tenang, aku masih saja meragukan akal sehat kita berdua. Kau adalah mahasiswa keperawatan yang bisa saja memiliki kekasih normal dengan segenggam iming-iming tentang masa depan sementara aku adalah pria dua puluh tujuh tahun yang baru tiga tahun menikah namun memilih menghindari istriku yang serewel anak tujuh tahun. Pertemuan sehari kita di plaza yang mengawali tiap derap gairah tentu kau masih kenang. Aku memang memiliki setidaknya beberapa alasan yang menurutku cukup wajar membuatku menemuimu, begitupun kau pasti memiliki kesenangan tersendiri dari hubungan kurang ajar kita. Kau bisa memiliki motor sendiri, bukan dari hasil keringatmu tetapi oleh karena belas kasihku atas pemberianmu yang tiada batas. Namun, sekuat apapun aku menghindari rasa bersalah, sekuat itu pula rasa bersalah menggerogoti jiwaku.

Akhirnya, kamu berbicara tentang anak;

“Ceritakan mengenai anak pertamamu,” demikian kau bertanya pada sebuah makan malam yang sudah tidak kuingat. Aku mendelik, bagimu pasti kelihatan sangat genit untuk ukuran seorang lelaki, membuatmu tertawa renyah. Aku sahut;

“Menginginkan seorang anak adalah naluri seorang suami yang baik.” Aku cukup filosofis, pujimu selanjutnya. Kini, setelah dua puluh satu tahun wanita cerewet teman pelaminanku tersebut belum juga menetaskan sebuah janin sekalipun, Marsha. Dari cerita-cerita kita tentang berbagai hal, kau memberitahu bahwa kau pecinta makhluk-mahkluk kecil yang lucu itu. Mimpi-mimpi besarmu tentang masa depan selalu berhiaskan bayi-bayi mungil, bukankah begitu bela? Kau pun membingkiskan senyum buat bayi-bayi impianmu. Duhai Petra-ku, seharusnya aku tidak merusak mimpi-mimpi muliamu. Sebab sebelum aku berhasil meyakinkanmu kalau kau akan jadi seorang ibu yang baik kelak, rahimmu telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Seketika fantasi indahmu musnah dalam simbahan tangis pertama di kamar kosku. Aku turut diurung ketakutan serupamu, sayang, takut karena tiba-tiba mahkluk malang itu berkunjung ke dalam perutmu. Kita hanya bisa saling bertanya; kapan, malam keberapa, siang yang mana, saat kesiagaan kita dilebur gelombang nafsu-nafsu purba sehingga kita begitu teledor membiarkan pertemuan dua cairan tubuh kita melakukan pembuahan? Kau menangis sekali lagi dengan bisikan kecemasan yang luar biasa gundah. Tetapi, sekali lagi kukatakan sangat beruntunglah diriku memilikimu oleh karena loyalitasmu. Tidak macam gadis cengeng dengan seratus alasan untuk memerasku, kau lebih memilih pasrah. Katamu, seperti kutukan, hidup juga memilih jalannya sendiri. Di sanalah dirimu. Kau menolak menggugurkan jabang bayi kita. Bagian kecil dari fantasimu tentang bayi-bayi mungil di hari yang lain, menyisakan rongga di hatimu yang terluka. Meski dengan tangis, kau relakan makananmu turut menutrisi si penyusup kecil itu. Kau biarkan tanganmu mengelus-elus dirinya dari balik kulit pucatmu. Aku sangat tertekan melihat cinta tanpa pamrihmu.

Namun, bagaikan tersengat arus listrik atau kalajengking bunting aku menjerit di suatu senja setelah beberapa hari kelahiran putri kita. Kau mengiba-iba. Terucap serentetan kalimat memelas dari mulutmu bahwa karena beban moral, karena kau masih kuliah, dan karena hubungan terlarang kau telah bungkus bayi terkasihmu dalam sebuah kertas koran berlapis, dalam sebuah kardus bertuliskan indomie, kau letakan dia di depan toko swalayan yang sepi pada subuh yang dingin. Oh, itulah awal dari akhir kita.

Sudahlah, aku tak mau berlama-lama mengusik harta-harta kenangan sementara ini, meskipun aku berhak berlarut-larut, sebab langkahku telah mencapai pintu beralamatkan sesuai pemberianmu. Aku di depan pintu rumahmu, sayang.

Bukalah pintu itu, segera!!

*****

Aku mulai saja karena sudah hampir sejam kita berpelukan, hanya berpelukan seolah kata-kata kerinduan menjalar lewat kehangatan suhu kita. Kau hanya perlu mendengarkan, aku akan mengisahkan dia selama kita masih berpelukan dan terima kasih kau masih menggunakan merk parfum ini.

Seperti pribadimu; kekasih baruku punya banyak nama. Benar-benar kebiasaan tak patut ditiru dariku menamai sesuka hati. Mungkin aku mencontohi indutri musik kita yang memberi peluang tiap orang boleh bebas meniru gaya, penampilan, yang belaka milik orang sehingga musik zaman sekarang begitu trendy, sehingga aku merasa akan lebih terkesan bila kunamai kekasihku dengan nama-nama terkini. Dia adalah paula dengan gaun kuliahnya di pagi hari. Dia adalah Tasya dalam sebuatan ibu kosnya tiap kali aku mampir menanyakan dia. Dalam kartu mahasiswanya dia adalah paula anastasya. Namun dalam pelukanku, dia kunamai karlita. Sungguh aku punya maksud menamai dia seperti itu, sekedar menghidupkan sensasi lama kita bila kulit kita bergesekan di atas kasurku yang empuk dan yang selalu kau senangi.

Bella, izinkanku menceritakan tentang setan menggairahkan itu. Inilah tujuanku menemuimu; mencaritahu tentang dia.

Aku mula-mula bertemu paula pada suatu malam di sebuah tempat hiburan, dosaku terkasih, dan aku mendapati diriku tidak mengeluhkan kebiasaan anak muda yang menghabiskan uang kuliah seperti ini. Aku malah terus memandanginya hingga ia jengah, sebab dalam balutan gaun seronok, sumpah kupikir dia adalah dirimu. Aku sampai gila mengira Tasya adalah titisanmu. Sampai pada batas kewarasanku yang berpikir dia adalah dirimu yang tidak akan pernah menua, aku pun berhasil menutup “fase”-mu dengan sosoknya. Lalu, tak malu-malu lagi kami pun jatuh cinta. Oh, Marsha; makan malam bersama kita di waktu-waktu yang telah menumpuk dalam sejarah sungguh menenangkanku dari segala omong kosong di meja kerja. Dan demikian kami sekarang, sayangku. Paula sangat manusiawi dengan menolak pikiran pelajarnya bahwa aku hanyalah si tua beruban yang mengincar paha mulus gadis dua puluhan. Sejauh ini, aku yakin dia tidak pernah menuntut terlalu banyak. Tidak memanfaatkan dompetku yang tebal. Mengapa ada kemiripan hampir mutlak macam ini antara kalian, Bela?

Petualangan kecil kami, membujukku menyewa kamar kos di sekitar kampusnya. Aku menginap di sana selalu dua hari dalam seminggu yang menyedihkan karena perselingkuhanku, dan tahukah kamu bahwa istriku sama sekali menelan kebohonganku seperti menelan pil-pil yang membantunya tertidur lebih awal? Lembur di kantor. Minum bersama teman. Membahas peluang investasi, dan sebagainya. Dan sebagainya. Istriku percaya begitu saja selama cinta adalah uang dan uang adalah kebahagiaan rumah tangga kami.

Aku adalah kuda, Marsha. Maksudku bertenaga kuda. Dengan mengantongi angka usia menjelang lima puluh tahun, api sulbiku masih memanas memandangi paha mulusnya. Paula sangat wangi saat pertama kali segala pertanyaannya tentang rahasia apa di balik kulitnya yang sesegar jambu air menemui jawaban melalui lenguhanku. Gelenyar asmara berpendar hingga ke langit. Sayangnya, tidak sepertimu yang tabah, dia menitikkan air mata. Entahlah. Namun kau harus pandai menduga bahwa keesokan harinya dia mengirimi pesan singkat tentang kalimat-kalimat rindunya. Hmm, bagaikan kembang krisan mekar di sela-sela pagi.

Puput sayang, Jakarta selalu cocok buatku. Dimana macet menawarkan asusila kami di dalam mobilku yang merayap. Peluh bersimbah di balik baju kuliahnya, lutut kami bergetar takut ketahuan di negara hukum kita ini. Namun ketika mobil melaju lagi dalam kecepatan standarku, kami pun akan saling menertawakan lagi. Kegilaan yang manis dan bertabur bintang-bintang.

Petraku terkasih,,singkat cerita dia adalah dirimu. Semacam titisan yang mendebarkan. Aku menyerah berbulan-bulan ini untuk mengabaikan kemiripan kalian. Dan sebelum kisahku berakhir, benar-benar tuntas dalam satu letusan kembang api tahun baru itu aku ingin bertanya padamu. Pertanyaan antara kita berdua. Kau mesti mengetahui keberanian amat besar dalam diriku bahkan mengabaikan sekerumunan hantu-hantu yang tengah mengejekku untuk bertemu wajah masa lalumu, jadi bersikaplah terbuka padaku sayang.

“Apakah, bayiku, bayi kita…oh, betapa memalukan aku mengakui sebagai ayah mahkluk tak bersalah itu, memiliki setitik penanda di pipinya? Tepat di pipinya seperti milikku ini? Sebintik hitam yang katamu tahi lalat? Benarkah, bela?..jawablah!”

Aku juga selalu berprasangka, bahwa karena setelah kelahirannya aku tidak pernah sekali jua berani menatapnya, menggendong, menciuminya, Tuhan berhenti memberiku seorang bocah kecil pada rahim istri sahku. Ini pula yang membuatku tidak pernah tahu seperti apa rupa anak kita, sayang. Mungkin itu bagian dari kutukan-kutukanku.

Oh Marsha, tataplah aku. Biarkan matamu menyampaikan kebenaran. Kau berpaling, matamu meredup, padahal sesungguhnya aku mimpikan melihat cahaya dalam biasan korneamu yang sehitam malam. Karena redup memiliki arti mengerikan seumpama rasa bersalahmu. Aku terpaku ketika kamu mengangguk.

Aku teringat pernah berdoa kepada Tuhan yang mungkin telah meludahi perbuatan nekadku, memohon agar apapun kesamaan fisik antara kau dan dia, paula bukanlah hasil rahimmu. Malahan aku masih tekun bersujud setelah dengan gamblang pada suatu malam Tasya mengatakan bahwa dia adalah anak pungut, benar-benar anak pungut. Dengan bersungguh-sungguh, aku berdoa agar bayi yang kau bungkus dengan kertas koran dan ditinggalkan di dekat toko pada subuh yang dingin itu tidak pernah tumbuh sebagai remaja yang memabukanku. Kau tahu berapa usianya kini? 22 tahun, Bella. Bukankah 22 tahun yang lalu seorang bayi perempuan pernah dibiarkan digeluti gigil sendirian, hingga barangkali Tuhan mengirimkan seorang malaikatnya, mungkin seorang penjaga toko atau seorang pengemis jalanan atau seorang pengendara motor memungutnya. Aku mau mati saja karena berharap paula bukan bayimu, Petra tersayang…

Namun, aku ingat akan kalimatku. Kutukan memilih jalannya sendiri. Barangkali, di usia hendak menuju senjaku, dengan uban di sana-sini sementara kebejatanku belum berakhir juga, Tuhan telah mengutukku dengan membuat kutukan paling mengerikan ini. Dan hantu si Lincoln tersenyum bijak. Aku berbisik-bisik di sampingmu oleh ketakutan akan dosa tak termaaf; apakah aku masih layak hidup di pagi besok sementara wujud manusiaku seharusnya telah berubah jadi seekor anjing karena telah meniduri putrinya sendiri?? Hantu-hantu itu mengerubungikui bagai belatung, dari mulut Hitler terdengar bisikan sesak, “bergabunglah bersama kami, besok!”

Sementara hantu Max menyodorkan sisa pizza-nya.

Tanda Mata

Cerpen Chotibul Umam

gambar diunduh dari 1.bo.blogspot.com

Seorang pemuda dengan wajah tenang sedang duduk di atas kursi roda. Sudah sekian bulan dia terbaring seperti tak bernyawa. Entah penyakit apalagi yang tak jenuh menghinggap di tubuhnya. Daya tahan tubuh seakan tak lagi mau berpihak pada niatnya untuk menjalani hidup. Tapi di balik matanya yang bulat dia masih menyisahkan cita-cita yang selama ini tertunda. Seperti sedang merencanakan sesuatu yang barangkali dia sendiri tak tahu bagaimana akan bertindak.

Dari kejahuan tampak seorang gadis yang tiba-tiba mampu memecah ingatannya. Diputarlah roda yang membawa tubuh lemahnya untuk lebih dekat namun tetap menjaga jarak dengan gadis tersebut. Gadis berambut gelombang itu seakan tak sungkan untuk mengenakan pakaian layaknya seorang pria. Rambutnya yang tergerai ditutup dengan topi khas gaya Putu Wijaya, dan tas yang menungging di punggungnya seolah ingin menunjukkan bahwa dia menyimpan berbagai macam lensa yang dibutuhkan, di sisi lain baju rompi yang turut mempercantik penampilannya lebih memberi kesan bahwa dirinya memang  fotografer yang berpengalaman.

Sepucuk mawar di pagi itu mulai mekar. Harumnya mulai turut memperindah taman bunga di tepian kolam air mancur. Angin segar yang berhembus ringan semakin kian diburu oleh para pasien sebelum ikut membaur bersama polusi, ditemani sanak famili atau perawat pribadi, mereka berharap segala duka akan segera hilang.   

Pemuda itu sempat menyimpan pertanyaan dalam hati saat melihat gadis itu. “Apa yang diharapkannya dengan mengambil gambar di tempat seperti ini? Bukankah ada yang lebih indah dari sekedar mengabadikan orang-orang yang dirundung duka?” ujarnya dalam hati.

Matanya terlihat cekung dengan warna hitam yang membalut tepat di pelupuknya. Belum sempat keinginannya untuk menyapa tiba-tiba rasa nyeri di kepala menyerang. Diputarlah kursi roda yang membawa tubuh ringannya untuk segera kembali ke kamar. Kembali untuk mengurai beban kepala yang tak sebanding dengan cintanya.

“Bagaimana dengan hari ini Mas Adam? Apakah sudah lebih baik,” tanya suster pribadinya sembari mengantarkan sarapan pagi. 

Ia seperti terkejut ketika melihat suster muncul dari bilik pintu kamarnya. Hanya dengan senyum ringan pemuda berparas layu itu menjawabnya, selebihnya tak ada kata yang keluar.

“Sebelum dokter datang memeriksa, ada baiknya Mas Adam sarapan dulu mumpung lagi hangat buburnya.”

“Sus, masih berapa lama lagi saya tinggal di sini?” tanyanya

“Kata dokter tidak lama lagi. Hanya saja kondisi tubuh Mas Adam masih diragukan maka dari itu dokter menyarankan lebih baik tinggal di sini dulu,” jawabnya.

“Boleh saya bertanya Sus?” tanya pemuda beralis tebal itu.

“Boleh Mas…”

“Apa Suster pernah jatuh cinta?”

“Ya sering Mas, malahan hampir tiap hari,” jawabnya meledek.

“Apa yang biasanya orang berikan sebagai tanda cinta kepada orang yang dicintainya?”

“Ya macam-macam Mas. Dengan bunga boleh. Lukisan juga boleh atau puisi apalagi. Bisa juga dengan memberikan sesuatu yang menjadi kesukaannya. Oh…, ada yang sedang jatuh cinta ya,” guraunya.

“Mungkin Sus, tapi nggak tahu.”

“Nggak tahu atau nggak berani Mas,” seraya tersenyum.

“ Heheh…ya terimakasih Sus atas sarannya”

“Ya sama-sama Mas,” senyumnya ramah.

Kamar bernomor 13 ruang VIP adalah tempat dimana dia merebahkan segela penat. Tak ada satupun keluarganya yang berkunjung, sebab dia menutup diri dari keluarga maupun teman dekatnya. Dipilihnya rumah sakit sebagai tempat tinggalnya sementara adalah atas kemauannya sendiri. Dia sangat menyadari dengan kondisinya yang telah berbulan-bulan menahan rasa sakit di kepala.

Malam telah menjelang dan bulan yang terang  sinarnya perlahan jatuh menembus dinding-dinding sepinya malam. Bila saat-saat seperti ini para pasien tak lagi diperbolehkan keluar dari kamarnya. Karena udara malam dianggap  liar seperti tak kenal memilih untuk dijadikan korbanya. Di setiap barisan bangsal mata malaikat maut seolah mengintai para penghuninya. Meski itu sebuah resiko usaha dan doa harus tetap dilakukan.

Mula-mula kepalanya mulai nyeri dicarinya tempat obat. Dia menelusuri disekitar laci ,meja, sampai dibawah ranjang. Ketika tak sengaja dia menendang kotak sampah lalu jatuh berserakan dia melihat sebungkus obat. Diambilnya dengan tergesah-gesah lalu lekas diminumnya sesaat kemudian jatuh tertidur di atas lantai tanpa alas.

“Mas Adam,….!” teriaknya suster ketika membuka pintu

“Mas Adam bangun Mas” sembari meanggoyangkan tubuhnya.

Akhirnya dia terbangun dengan tergagap. Dengan wajah pucat pasi dia dipapah berdiri kemudian dibaringkan tubuhnya di atas ranjang.

“Bagaimana Mas Adam bisa tertidur di atas lantai” tanya suster penuh.

“Tidak  tahu Sus, setelah saya minum obat langsung terjatuh”

“Pasti terlalu capek.”

“Sekarang Mas Adam mandi dulu habis itu kita jalan-jalan keluar” lanjut suster.

Dia bergegas membersihkan tubuhnya. Berpakain rapi dengan sedikit berdandan. Hari ini tidak seperti biasanya dia terlihat tampan, berbeda betul dengan hari-hari sebelumnya. Rambutnya yang pendek dibiarkan sedikit acak-acakkan. Tak ketinggalan pula dia memakai wangi-wangian. Disemprotkan parfum bermerk ke tubuh kurusnya seperti ingin memberi aroma semangat dalam hidup.

“Wah  hari ini mas terlihat tampan,” puji suster.

“Memang Mas Adam punya janji hari ini, dengan seseorang mungkin,? ujarnya.

“Nggak ada Sus, cuma ingin tampil beda dari hari biasanya.”

“Baguslah Mas, saya senang mendengarnya,” katanya begitu riang seraya mendorang kursi roda.

Dari kejauhan terlihat lagi seorang gadis fotografer seperti tempo itu. Untuk kali ini dia sedang membidik objek. Sekali bidik sesekali itu pula dia langsung melihat bidikannya mengoreksi hasil dari gambar kameranya. Mungkin dirasa belum cukup puas hasil jepretannya lalu diarahkan lagi mata kamera ke objek tadi. Setelah sekian kali dia membidik, baru sebentar senyumnya mulai mengembang seperti merasa puas dengan hasil yang terakhir ini. Sejurus kemudian dia mengedarkan matanya dengan jeli berharap menemukan sesuatu yang menarik. Tiba-tiba kamera itu diarahkan kepada sosok pemuda yang duduk di kursi roda dengan seorang suster sedang mendorong dibelakangnya.

“Cekrek.”

Tersontak ketika dia tahu bahwa dirinya sedang dijadikan objek gambar seorang fotografer.

“Sus, dia itu fotografer?” tanya pemuda itu dengan menunjuk ke arah gadis yang sedang mengambil gambar.

“Ya Mas, hampir satu minggu dia di sini katanya mau mengadakan pameran fotografi di kota ini.”

Si gadis sepertinya menyapa pemuda yang berkursi roda itu dengan tersenyum manis. Gadis itu pun berjalan menuju ke arah pemuda yang ditemani seorang suster tersebut.

“Pagi Mas, kenalkan saya Ana” gadis cantik itu menyapa sembari memperkenalkan namanya    

“Pagi juga Mbak Anan, saya Adam” pemuda itu pun membalasnya.

“ Mbak Ana katanya ingin mengadakan pameran fotografi di kota ini?”  

“Ya Mas, rencananya bulan depan bareng teman-teman”

“Mas, saya tinggal dulu mau ke ruang dokter pribadi Mas Adam” sela suster di tengah percakapan mereka.

“Mbak Ana saya tak tinggal dulu ya?” lanjutnya.

“Oh ya silahkan Sus.”

“Kalau boleh tahu kenapa yang jadi objek rumah sakit Mbak?”

“Heem, karena saya ingin mengabadikan orang-orang yang tegar dan berani bertahan menghadapi hidup, dan saya kira orang-orang di luar sana harus bisa mengambil pelajaran dari orang-orang yang sakit. Mereka yang jelas-jelas dalam keadaan sakit masih mau mencuri kesempatan untuk membahagiakan orang-orang yang dicintainya” jawabnya dengan lugas.

Angin pagi itu menerpa tubuh sakitnya. Semacam duka atau suka meski itu semua silih berganti beranjak. Entah apa yang ada dalam pikiranya seperti ingin menyampaikan kata-kata tapi tak selugas apa yang biasa dia katakan.

“Begini Mbak, saya punya permintaan yang mungkin bisa dijadikan bahan untuk pameran nanti” pintanya dengan tatapan sedikit nanar.

“Apa itu Mas?”

“Tolong bidik mata saya, cuma mata saya,” tegasnya.

“Boleh juga Mas.”

“Cekrek,,cekrek,,cekrek” beberapa kali gadis bermata jelita itu mengambil gambar sesuai keinginannya.

“Terima kasih Mbak”

“Ehm punya kertas dan pensil Mbak”

“Ini Mas” disodorkannya kertas dan pensil.

Tidak lama dia menuliskan sesuatu di atas kertas. Lalu diberikannya lagi kepada gadis bernama Ana itu.

“Kalau memang gambar tadi bisa dijadikan sebagai bahan pameran. Saya minta judul dan sinopsis ceritanya sama persis dengan apa yang saya tulis tadi Mbak” pintanya.

“Siap Mas” jawabnya gadis berparas anggun itu.

Selang beberapa saat sang suster datang bersama dokter pribadinya. Mereka pun akhirnya berpamitan kepada  si gadis . Ditariknya pemuda tersebut dari tempat semula. Entah baru beberapa jam lewat. Tak lama kemudian sebuah kereta ranjang keluar dari kamar bernomor 13. Terlihat kain putih itu telah menutup seluruh tubuh yang nampak terbujur kaku berjalan di depan mata si gadis. Dia  terpaku melihat sosok yang telah tertidur panjang. Suara serak roda kereta ranjang itu seperti ingin mengabarkan bahwa usia hidupnya memang tak sepanjang usia cintanya.

Tepat ketika pameran fotografer itu dibuka. Di samping pintu masuk pameran terpajang foto berukuran paling besar. Siapa pun yang akan masuk ke ruang galeri itu pasti tak akan melewatkan foto bertuliskan tanda mata dengan sinopsis” ketika kata-kata tak lagi bisa menjadi peluru, bisakah tanda mata sebagai ungkapan cintaku padamu?” teruntuk Fhy Savitri.