Arsip Tag: puisi

Puisi Alra Ramadhan

Puisi Alra Ramadhan

gambar diunduh dari ceritainspirasi.net

Padam

Mungkin malam nanti aku nyalakan lagi,
lilin yang kecil,
yang kemarin dulu terang,
yang pagi lalu redup,
yang sore ini padam,
lalu aura terpancar lagi,
lalu kita bisa membuat bayang-bayang burung, anjing, atau dinosaurus;
lalu kita bisa tertawa atau menyanyi,
mulai malam nanti,
saat lilin itu menyala lagi,
atau esok hari..

“Ya, bisa juga ku nyalakan esok hari..”
lalu kelam lari; menjauh; sembunyi..
Dan bunga mekar,
dan Afrodit cemburu,
Kamaratih juga begitu,
Kamajaya bakal patah hati,
Hathor dan Freya pasti juga iri,
semoga Tuhan tak..

Tapi barangkali ada matahari esok–seperti tadi?

Cahaya lain..
Matari pagi yang hangat,
yang tak silau,
seperti lilin itu, lilin kita–tiada silau
Tapi bukankah matahari memanas saat siang?

Barangkali hanya malam lilin dapat menyala,
atau saat cahaya sedang beristirahat,
saat bulan tak meninggalkan relief,
dan bintang juga,
atau ketika lampu telah ejakulasi,
baru lilin perlu,
baru lilin dinyalakan,
dengan api yang membara di tengah hati..

Sebab kita mesti menunggu Udumbara mekar lagi,
kecuali jika perempuan itu menggumam,
“Masihkah ada yang pantas dipertahankan?”

 

(Malang, 11 September 2012)

 

Balada Lontang dan Lantung

Lontang berjalan menembus malam,
menggendong berat pada pundaknya yang kecil,
mengusir nyamuk-nyamuk yang menguing,
mencoba menikam sepi,
dan dingin bulan yang makin tinggi..

Lantung berjalan membelah siang,
menggendong berat pada hatinya yang karut,
menangkis terik yang menelisik,
membunuh keramaian,
dan matahari yang kian elusif..

Lontang bersandar pada dinding jembatan layang,
Lantung selonjor pada tanah gersang,
tak bisa menjauh,
tak pula mendekat,
dan Lontang bersedih karena pertimbangan,
dan Lantung tertawa karena kerinduan..
Lontang mati, Lantung mati pula..

Lontang bernyanyi di sela candra,
Lantung bercinta di celah matari..
Ceritera mereka terdengar nyaring,
di sela singkat senja dan pagi hening,
bertemu pada bergantinya hari.

 

(Malang, 12 Agustus 2012)

Alra Ramadhan, Lahir 9 Maret 1993 di Kulon Progo, salah satu nama kabupaten di D.I. Yogyakarta.. Saat ini berkuliah di Jurusan Teknik Elektro Univ. Brawijaya, Malang.. Lebih lanjut, dipersilakan berkunjung di @alravox..

Pilih Selembar Foto Buat Waktu

Puisi John Kuan

gambar diunduh dari http://www.yangunikcantik.blogspot.com

Selembar ini ada rintik hujan Chaplin,

bau mentol, amat sejuk, agaknya musim gugur.

Dua orang duduk berhadapan di kiri, sisanya

dibiarkan kelabu keluar hingga jauh.

Ada ranting sehabis menggugurkan daun-daunya

entah di mana, masuk berkecambah sunyi di sisi atas.

Sebuah meja pendek tegar di antara mereka, menjaga

poci dan cangkir teh tetap berasap, sentuh ranting sentuh awan.

Dia sedang meraba rambutnya, ujung jari menyentuh keringat

dan wangi melati akar rambut, menyusuri helai-helai hitam kilap

berhenti di lekuk leher giok putih. Air mendidih, dunia selembar kabut.

Di seberang meja dia sedang menyeruput hidup, ada aroma teh

ada senyum dikulum sekian tahun, ada harum tertinggal di akar lidah

untuk peristiwa selanjutnya agaknya hambar, atau semacam manis

berayun di antara ada dan tiada, bagai sepotong awan melayang

keluar dunia sejengkal, mungkin tidak lebih dari dua tiga helai

daun kering terapung atau mengendap di dalam cangkir.

TANKA MAGNOLIA

Puisi Ahmad Yulden Erwin

kita adalah percik
dari kesunyian,

jejak kosong
di ladang bintang-bintang,

lalu puisi dituliskan
— perlahan

satu dunia tercipta,
tumbuh di putik magnolia,

mekar dan gugur,
lalu hancur

— tanpa kata
matahari kita:

mekar di kuntum magnolia.

catatan:

cempaka
gambar diunduh dari Ahmad Yulden Erwin facebook

Tanka dalam puisi Jepang artinya: puisi panjang. Padahal sebenarnya tidak panjang. Ia disebut panjang, hanya karena lebih panjang daripada puisi haiku yang hanya terdiri dari 3 baris dan 17 suku kata.

Bunga Magnolia, sejenis bunga cempaka. Wangi. Penyebaran utamanya di Asia Tenggara dan Asia Timur. Sekarang menyebar juga di Amerika Serikat. Fosil-fosil bunga Magnolia ini ditemukan bahkan berumur sampai 20 juta tahun,  sehingga diketahui bahwa Magnolia berevolusi lebih awal daripada lebah, hewan yang sekarang menjadi penyerbuk utama bunga ini. Marga dari bunga Magnolia mencakup sekitar 120 jenis. Nama marga Magnolia ini diambil dari nama botaniwan Prancis, Pierre Magnol.

Engkau dalam Lima Elemen

Puisi John Kuan

five element
gambar diunduh dari http://www.ariellucky.files.wordpress.com

Jika kau adalah mimpi, bagai api di sumbu
lilin, cahayamu di kaca jendela menjilat embun beku.
Jika kau adalah api, mata hangat, nostalgia mendidih,
udara kamar menggelegak, bara cengkeh berdesis
di antara bibir. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah api,
petir, guruh, lintang kemukus, setitik lampu tidak sengaja
terbuka di satu sudut badai, mimpi menyala

Jika kau adalah mimpi, bagai air mencair di dasar
tempayan musim semi, selamatkan dahaga seekor burung sesat.
Jika kau adalah air, sepenuh rongga tubuh, bawa perahu
ke lengkung teluk, hujan menjelang subuh, menetes tembus
buah rindu. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah air,
salju, sungai, kelenjar, uap, setetes kafein di petang senyap
mengapungkan serpihan waktu, mimpi hanyut

Jika kau adalah mimpi, bagai logam di tungku
ingatan, melebur setiap partikel giwang rebah di bantal.
Jika kau adalah logam, sebuah hati emas, setua bumi
gantung di lekuk leher, mendekati jantung, cakram rem
di tikungan maut. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah logam,
rambut perak, kulit tembaga, jarum dalam tumpukan jerami
cahaya mata seribu satu malam, mimpi memuai

Jika kau adalah mimpi, bagai kayu seranting
bunga plum, makin dingin makin pecah kecambah.
Jika kau adalah kayu, suara bakiak tersenyum di ujung lorong,
empat kaki meja, satu bangku di stasiun terlantar, selembar kertas
tertulis rapi. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah kayu,
duri mawar, inang benalu, pijar batubara, menunggumu sejajar
di luar garis lingkaran tahun, mimpi membatu

Jika kau adalah mimpi, bagai tanah penuh
debu cinta, diterbangkan angin hasrat ke ladang-ladang kekal.
Jika kau adalah tanah, segel sebuah fosil di antara bibir,
jejak kaki hujan, aroma lumpur musim semi, rawa ilalang
persembunyian angsa liar. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah tanah,
bejana, malam savana, pagi tundra, sungai-sungai mengalir
lewat, aku mengayuh sampai di jendelamu, mimpi tumbuh

Empat Belas Baris Suratmu

Puisi John Kuan

kupu-kupu
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com

Ingin jadi seorang gadis Andalusia di hidup nanti, katamu

menari flamenco, hempas diri jadi sebentang laut.

mungkin sebatang pohon ceri di dataran tinggi Kurdistan,

melihat kuda hitam datang dan pergi, serpihan bunga jatuh

di jendela penyair tua, atau jadi saja sekuntum awan di atas Lhasa

geram guruh di langit cerah, mantera putar hidup putar musnah.

Sekarang malah jadi sekuntum lotus salju di pinggang Himalaya

sekejap Durga sekejap Parvati di atas rasa dingin sepuluh ribu kaki.

Atau jadi saja satu denting lonceng angin di sudut atap

suara rem mendadak di luar tiga potong jalan petang senyap.

Ingin jadi sesendok penuh kuah rasa matahari khatulistiwa,

panggang sebuah pesan pendek membeku beberapa abad, buatmu:

Jangan bilang kau telah jadi prajurit terakota tanpa zirah,

tiada sisik ongkang-ongkang di tepi laut tropis memancing hangat

Puisi-Puisi Ragil Koentjorodjati #3

Semua Tentangmu

[1]

adalah engkau, puisi yang gagal kurangkai.
katakata tanpa bunyi,
lalu terbakar,

bukan amarah tapi hampa tak berkesudahan.
rasa ini, cobalah kaumaknai,
bukan sepi, bukan mati.
sebab kitalah sepi. kitalah yang telah mati.

[2]

airmatamu adalah bait puisi tersendiri yang paling kunikmati,
iramanya menganak sungai,

membelah bukit di dadamu yang gersang,
menetes,
menetas, lalu tuntas,
menyisakan jernih yang ibu,
mengajarmu lebih banyak diam menerima cinta yang kuajarkan.

 

Perjalanan Pulang

[1]

tak ada bintang, Sayang,
malam ini langit sepi,
dan lampulampu itu,
berirama merah dan kuning dan hijau,
tidak ada ungu.
rel itu masih amat panjang,
dengan kereta yang berjanji membawaku pulang,
menjauh dari kota tempat namamu tak lagi bertuan.

[2]

kereta itu, ya, kereta itu tak kunjung datang.
semoga kaupaham, Sayang.
perbuatan tak semudah perkataan.
mungkin, – sangat mungkin-, kereta itu
dan engkau, hanya ada dalam lamunan.
aku hanya rindu pulang,
semoga kaupaham, Sayang.

 

Kuhembuskan Namamu

pada ubun-ubun malam,
kuhembuskan namamu.
mengalir bersama deru
debar dada digunting suram.

 

Orang Gila

Orang gila itu, melangkah begitu gagah. Mungkin ia pernah jatuh cinta, menulis sebuah nama di batin yang miskin. Siapa ynag peduli tangis batin seseorang? Dan mendung tidak memilih waktu untuk menghujaninya dengan tusukan rindu. Ia tetap seperti biasa. Melangkah dengan gagah. Meski ia tahu, satu per satu sahabat meninggalkannya. Ia tetap berjalan. Sendirian.

 

The Opera

the bird sing ‘Halelujah’
and I said ‘Amen’,
the darkness shines,
a little one’s scream.

The opera has just begun.

Puisi Alra Ramadhan: Secuil Perjalanan

pengembara
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com

Sawah

 

Sawah hijau..

Sawah kuning..

Sawah cokelat..

Kereta laju tuju Jakarta..

 

Daun hijau..

Daun kuning..

Daun cokelat..

Diam di tempat enggan berkata..

 

Rumah-rumah hijau..

Rumah-rumah kuning..

Rumah-rumah cokelat..

Pagi muram dari balik jendela senja..

 

(Cirebon-Cikampek, 28 April 2012)

Sejajar Empat Rel

 

Pada rel yang berjajar..

Pada harap yang bersandar..

Ada kereta yang melaju..

Ada langit yang mulai biru..

 

Empat jalur berjajar..

Selepas gudang tua,

tiga menyatu, satu membuntu..

 

(Cirebon-Cikampek, 28 April 2012)

—-

Tentang Jalan

 

Andai jalan aspal kecil itu bisa bicara,

ihwal apa hendak ia kata?

Andai jalan aspal kecil itu bisa meratus,

pedang terhunus?

suara ketus?

atau Yang Kudus?

 

(Cikampek-Karawang, 28 April 2012)

Ratu Rosari

 

Aku berkata tentang hati yang terbelah empat..

Cinta yang terbagi-bagi.. Mungkin..

Namun cinta sudah tertambat..

 

Mendung menyelimut,

kabut melumut,

juga wajah yang cemberut..

 

Di bawahku ada dua mawar..

Satu kuncup, satu mekar..

Dengan dua daun sejajar..

 

Di atasku satu mawar seribu kelopak..

 

Sekelilingku abu-abu, samar tampak..

 

(Karawang-Bekasi, 28 April 2012)

—-

Dari Jendela Kereta Senja

 

Yang tertinggi bukan lagi daun pohon..

Lebih tinggi kubah menara masjid,

tiang gantung kabel listrik,

kemudian cerobong pabrik..

 

(Cikarang, 28 April 2012)

 

Di Jatinegara kereta berhenti laju..

Masih berapa stasiun lagi aku?

Berapa lama lagi aku menunggu?

 

(Jatinegara, 28 April 2012)

 

*) Alra Ramadhan, lahir di Kulon Progo, tinggal di Malang sebagai Mahasiswa Teknik Universitas Brawijaya. Selengkapnya: @alravox, atau alravox.wordpress.com

Langit Tua yang Kita Bunuh dengan Sebilah Dahaga

Puisi Diana Firefly

Sepi itukah kamu?
Seusai gema raya semesta membuai mata, telinga dan celana.
Aku gigil ngilu.
Terbelenggu bahu membatu.

Luka itukah kamu?
Seusai kutelanjangi sebuah dada dengan air mata.
Lecut bekas bibirmu.
Kamu tergugu, aku termangu.
Kamu membisu, aku sudah beku.
Di kamar nomor enamsembilan, kita sama memunggungi nyata.
Lalu lihatlah, langit tua yang kita bunuh dengan sebilah dahaga.

di tepi langit malam
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com

Penulis: Dianna Firefly, berusia dua puluh tahun namun terkadang merasa telah hidup ratusan tahun lamanya. Tentu usia seperti itu tidak terbukti karena usia twitternya saja baru dua tahun. Twitter? Intinya mau promosi, jangan lupa follow @DiannaFirefly ya.

Melancholic Rahvana

Puisi Paulus Catur Wibawa

Rahwana menundukkan kepala,
telah dicukurnya rambut dan bulu-bulu lembut pada dada perkasa
dipangkasnya pula semacam cinta

      yang menjalar dan menjulur di dinding hatinya yang luka

“kesepian dan kesedihan adalah milik manusia,
bahkan jika ia adalah penjahat yang tampak terasing dari air mata”

Maka digapainya pena dan ditulisnya untuk Rama,

Telah kucium harum rambut Shinta
tapi wanginya justru membakar Alengka—negeri
yang selama bertahun-tahun kubangun dalam mendung dan hujan tak reda-reda—
kini kukembalikan ia seutuhnya
dengan rambut panjang, leher jenjang
dan cintanya yang perawan
Kau telah menang
bahkan sebelum perang
Tapi aku pun punya kemenangan Yang kamu tak perlu paham, Selamat berjuang
Aku tiba-tiba rindu pada kematian
sesuatu yang pernah dengan keras kau perjuangkan
tapi tak pernah mampu kau dapatkan
Sampai aku mencair  menjadi darah dan menyelusup di kaki pegunungan
tempat Hanuman bertapa, membaca dan menulis sajak cinta

rama dan sinta
Gambar diunduh dari http://www.wisatamelayu.com

Di Siang yang Serba Panas

Puisi Ragil Koentjorodjati


Larik puisi macam apa yang pantas untuk siang yang serba panas,
Keringat kita menetes,
Tak lagi deras. Tapi kerontang memerah hingga perih.
Ya, aku takut. Bukan tak mungkin selanjutnya kulit meneteskan darah.
Apakah hidup ini terlalu keras?
Selebihnya aku tersenyum,
di siang yang serba panas.

Aku ingat lakon sebuah komedi,
nyaris tanpa tamat,
seorang lelaki tertawa –terus tertawa,
lalu terbakar,
meleleh tinggal murung dalam seragam baju serba lucu,
aku yakin, kau tidak pernah tahu berapa musim ia lalui penuh rindu,
rindu yang dingin dan beku pada hari yang serba panas.
Entah untuk apa. Mungkin untuk sesuatu.
Atau untuk seseorang berhati kering dan gersang.

mata pedih
gambar diunduh dari fc07.deviantart.net
Sungguh,
di siang yang serba panas,
kita butuh sebidang dada lapang,
dan hati yang cukup teduh untuk melepas keluh.

Lalu tiba-tiba aku ingat kau,
yang setia menyenyumi bara di dadamu. Tulus.
Selebihnya aku tersenyum,
di siang yang serba panas.

Awal Mei 2012

Malam Rindu

Puisi Lila Prabandari

lihatlah,

pelangi telah mengakhiri warnanya dengan ungu

hujan telah meneteskan rintiknya bergemericik

mentaripun menyisakan sinarnya dengan jingga kelam

masih akan berapa lama lagi

malam mengitari langit

tanpa bintang-bintang

yang telah kurengkuh menanti hadirmu

rindu…

seperti pengantin menanti bulan madunya

bernyanyi-nyanyi bergumam riang

menekuk-nekuk bantal mengusap renda

mengitari waktu dengan senyum sempurna

selalu…

rindu,malam rindu

Puisimu Mawarku

Puisi Endah Soe Trusthi

mawar dan hujan

aku masih ingin kau buatkan puisi
tukar dengan mawarku

hurufmu mewangi
kuharap bungaku juga bermakna

beri aku sebait
lalu aku petik setangkai

di puisimu ada hujan
juga matahari
mengertilah
di kebunku hujan dan matahari menyuburkan mawarnya
pada pagi mawar takhluk untuk dihinggapi embun
yang menjadi judul kerinduan pada puisimu

6 Oktober 2011