Cerita Bersambung Martin Siregar Bagian 5 Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom“Ada empat jenis gerakan sosial yang dikenal sejak dunia ini diciptakan Sang Khalik Semesta Alam. Pertama sering disebut dengan istilah Karitatif. Sebuah gerakan sosial yang ditujukan kepada fakir miskin atau korban bencana alam. Memberi sumbangan baju, makanan, susu dan lain sebagainya. Inilah gerakan sosial yang paling genit. Oleh sebab itu, acara seperti ini diselenggarakan oleh para ibu. Lengkap dengan baju seragam, mendengarkan kata sambutan, tepuk tangan, doa bersama dan bersalam-salaman, berfoto-foto. Setelah mengumbar berjuta ungkapan saling mengasihi sesama mahkluk Tuhan, rombongan meninggalkan korban muka sayu lemah lunglai. Sementara wajah anggota rombongan kembali lagi segar bugar. Mereka telah menyelesaikan sandiwara satu babak. Hua…ha…ha…”
Suasana jadi meriah dibuat Pdt DR Tumpak Parningotan. Diteguknya kopi yang masih hangat, kemudian dilanjutkannya bicara.
“Kedua adalah gerakan sosial Transformatif. Seluruh perangkat organisasi yang sudah ada dalam sebuah komunitas tidak aktif menyelenggarakan program yang sudah disusun. Program membutuhkan sebuah panitia penyelenggara yang membentuk organisasi baru. Biasanya program yang disusun adalah hal-hal yang berkaitan dengan teknologi tepat guna, ternak ayam, arisan babi atau membuat kolam ikan, pertukangan secara aktif partisipatif. Melibatkan anggota masyarakat sebanyak-banyaknya, agar perasaan memiliki program dirasakan oleh seluruh anggota masyarakat.”
Mikail sibuk menulis segala ucapan penting yang didengarnya. Dia yakin bahwa dari catatan-catatan kecil itu akan berhasil menuliskan tugasnya membuat pengantar diskusi pada Forum Diskusi Pelangi.
“Berikutnya, gerakan sosial Reformatif. Program yang disusun tak banyak beda dengan apa yang diprogramkan oleh gerakan sosial transformatif. Tapi, dalam gerakan sosial reformatif, tidak membangun organisasi baru. Reformatif memperbaharui organisasi yang sudah ada dalam masyarakat untuk melaksanakan program yang sudah disusun. Harus atas izin restu para petinggi-petinggi desa.”
“Saya pikir gerakan sosial transformatif dan reformatif adalah gerakan sosial yang malu-malu kucing. Tidak menyentuh persoalan-persoalan structural,” Kata Tigor dengan perasan kesal.
“Sudah diam kau dulu!! Oke ..Pak lanjutkan Pak,” Mikail merasa terganggu menyimak pelajaran oleh karena suara Tigor.
Hari sudah jam 7 malam. Di jalan raya tampak sebuah truk besar sesak dengan orang-orang miskin berikat kepala sambil berteriak- teriak menandaskan tenaga mereka yang sudah habis terkuras. Mereka baru pulang dari unjuk rasa ke gedung DPR. Mereka adalah petani miskin yang menuntut DPR agar mendesak pemerintah agar harga dasar pupuk tidak jadi dinaikkan. Tekanan hidup berbiaya tinggi belakangan ini tidak mungkin membuat petani sanggup membeli pupuk jika sudah naik harganya.
“Pasti usaha petani miskin akan mengalami jalan buntu, walaupun mereka sudah habiskan energi ke DPR. Nanti malam pasukan bawah tanah militer, polisi dan preman akan melacak pentolan-pentolan demonstrasi. Dan, secara perlahan tapi pasti, gerakan petani akan semakin melemah.” DR Pardomuan memberi komentar menghentikan uraian DR Tumpak Parningotan.
Dalam menyambut tahun 1981 ini, negara Trieste berada pada kondisi penuh kesesakan. Harga-harga kebutuhan keluarga setiap hari naik membumbung tiggi. Jumlah penduduk miskin akan meningkat secara drastis karena inflasi besar-besaran. Beberapa mantan aktifis mahasiswa yang sangat vocal menghujat negara 10 – 15 tahun yang lalu, sekarang diangkat menjadi menteri. Menjadi pemimpin tertinggi departemen. Prof DR Ir Setiaditis menjadi menteri keuangan. Padahal ketika masih mahasiswa beliau pernah di penjara 2 tahun. DR Fatilda wanita jiwa besi yang keras kepala diangkat menjadi menteri perdagangan.
“Mereka semua alumni Eropa Barat yang menjadi bonekanya kapitalisme di Trieste” DR Pardomuan tertunduk lemas setelah membaca koran.
“Sebentar lagi kita makan malam bersama, ya..,” DR Tumpak melanjutkan,” mari kita persilahkan DR Tumpak Parningotan melanjutkan uraiannya.”
“Baiklah, tadi kita sudah sampai ke jenis ketiga gerakan sosial. Jenis keempat inilah yang paling prinsip, terkenal dengan sebutan gerakan sosial yang radikal revolusioner. Garis massa adalah kekuatan utama dalam gerakan ini. Kaum intelektual yang kesadaran kelasnya tinggi, akan datang dan hidup bersama rakyat tertindas. Melakukan bunuh diri kelas. Dan, secara non formal terus menerus menggugah rakyat miskin untuk semakin kritis melihat realitas kehidupanya. Dan, bangkit melawan segala bentuk penindasan.”
“Nah..! Inilah yang namanya gerakan kiri habis,” Mikail gembira mendengar kalimat DR Tumpak.
“Iya…, dengan cara inilah revolusi industri dilawan oleh kaum proletariat beberapa abad yang lalu,” DR Pardomuan menambahkan keterangan.
DR Tumpak dengan senyum mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedangkan Muslimin tampak bingung menyimak pembicaraan. Tak berapa lama kemudian, “Sudahlah,..istri saya sudah siapkan makanan untuk kita.” Lalu mereka bangkit berdiri menuju rumah utama.
“Mari…mari Pak, seadanya saja ya…Pak,” Ibu mempersilahkan tamunya duduk di meja makan. Kemudian istri DR Pardomuan ke dapur menjumpai Arben yang sudah menantinya. Lantas, mereka berdua cekikikan,”Hi…hi..hi..” Cekikikan itu sama sekali tak kedengaran. Hanya ada suasana dan perasaan lucu melihat bentuk-bentuk manusia aneh penghuni dunia antah brantah di Rilmafrid.
Cerpen Maria Immaculata Ita Gambar diunduh dari kabinet transformasi.org“Hei, telingamu ?”
Usianya sekitar empat belas atau lima belas tahunan, sebaya dengan teman-teman sekelasnya. Berkulit putih keju, hidung mancung. Tinggi badan melebihi rata-rata. Menyandang tas warna hitam keluaran distro abal-abal, bernoda tipe ex di bagian depan, dekat resleting utama. Ekor bajunya hampir tak pernah tersembunyi di balik celana pendek. Terjulur begitu saja, tanpa takut ketahuan. Tampan, tapi tak terawat. Keturunan Arab, namanya Malkus.
Malkus, abinya seorang pembantu di rumah walikota. Tapi Malkus bukan satu-satunya keturunan Arab di daerah itu. Beberapa pembantu di rumah walikota rata-rata warga keturunan Arab juga. Entah mengapa.
“Mengapa ibu mendekati saya ?”
Usia Cen Vei Yin sekitar dua puluh lima tahun, sepuluh tahun lebih tua dari Malkus. Sesuai dengan namanya, Vei Yin keturunan Cina. Kulit kuning langsat, mata sipit. Hidung agak mancung, membuatnya terlihat aneh untuk gadis keturunan Cina seperti dirinya. Tinggi badan Vei Yin seratus enam puluh centimeter. Menyandang handbag coklat Elizabeth. Ekor baju hitamnya terlihat menutupi lingkar pinggang. Selalu warna hitam. Lengan panjang. Dengan paduan rok impor Taiwan berploi. Cantik, tapi rambut lurusnya tak pernah rapi.
Cen Vei Yin, mamanya seorang penjual mimpi di deretan ruko di jantung kota. Hanya saja, Vei Yin satu-satunya keturunan Cina di daerah itu.
“Telingamu, aku tak melihat telingamu mencuat di sisi kepala ?”
Malkus tak pernah mengerjakan pe-er Fisika. Tapi ia belum pernah terlambat atau belum pernah tak berangkat sekolah. Setidaknya begitu di mata Vei Yin. Sepertinya ia tak pernah sakit, tak perlu izin tidak masuk hanya untuk urusan keluarga atau pura-pura lupa jalan menuju sekolah.
“Bantu saya mencari daun telinga, bu …”
Dua tahun belakangan ini, Cen Vei Yin mengajar Fisika di sekolah tempat Malkus belajar. Setiap hari dia melihat mata, telinga, hidung dan mulut beraneka rupa. Tapi Malkus tak bertelinga hari ini. Mata Vei Yin meneliti lembaran-lembaran rambut yang tumbuh di kepala Malkus. Tak ada. Lalu diintipnya kantong saku yang terjahit di baju seragam Malkus. Juga tak ada. Daun telinga Malkus tak ada.
“Aku bertemu laki-laki itu semalam, bu …”
Vei Yin membungkukkan badannya. Barangkali terselip di kerah belakang Malkus, batin Vei Yin. Tak ada juga.
“Apa kau sudah bertemu laki-laki itu, Malkus?”
Siang terlewati dengan rapi. Jarum jam terdorong ke bawah menuju angka tiga.
Malkus tak juga beranjak dari tempat duduknya. Tetap sama, di bawah pohon Matoa. Sementara sekolah sudah begitu sepi. Kepala sekolah yang biasanya menutup pintu paling akhir pun tak kelihatan lagi. Pintu ruangan sudah terkunci.
“Laki-laki itu menghunuskan pedangnya … lalu mendekati saya dengan muka merah.”
Vei Yin menarik ekor mata sipitnya. Melipat tangan di atas dada yang hampir rata. Menarik nafas, seperti putus asa karena tak menemukan daun telinga anak muridnya.
“Pasti laki-laki itu …”
Malkus menggeser bokongnya, seperti menyilakan Vei Yin untuk duduk di sampingnya. Bersama-sama, di bawah pohon Matoa.
“Laki-laki itu mengayunkan pedangnya, dalam sekejap daun telinga saya tak ada di tempatnya semula. Di depan abi saya, bu … tapi abi diam saja.”
Akhirnya Vei Yin duduk. Tapi bukan di samping Malkus. Dia memilih mengambil posisi di depannya, sambil melirik air muka Malkus yang tak berubah. Cen Vei Yin, guru Fisika, dan Malkus, anak muridnya.
“Aku tahu laki-laki itu pasti menghunuskan pedangnya …”
Malkus menghembuskan nafas pelan-pelan.
“Perih … rasanya semua darah dalam tubuh saya mengalir keluar dari luka itu. Rasanya bayangan umi saya tiba-tiba hadir dan protes keras pada laki-laki itu. Tapi abi tetap diam saja … dan bayangan umi menggantung begitu saja di atas lantai tanpa bisa berbuat apa-apa, karena daun telinga saya terlanjur lepas.”
Vei Yin membuka tas, mengeluarkan sebungkus tisu dan menarik satu lipatan. Diberikan tisu itu pada Malkus. Lalu menarik satu lipatan lagi untuk dirinya sendiri. Vei Yin menepuk-nepuk telinga kanannya yang mendadak ngilu, dengan tisu.
“Pasti laki-laki itu buru-buru melarikan diri setelah mengayunkan pedangnya padamu …”
Malkus menopang dagunya dengan kepalan tangan kanan. Menggosok hidung hingga agak kemerahan dengan telunjuk kiri. Dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal beberapa kali.
“Dia tak segera pergi. Malah memandangi bayangan umi saya tanpa berkedip. Saya kira mereka kawan lama dari cara dia memandang umi. Dan pasti tak mengenal abi saya dari cara dia mengayunkan pedang”
Malkus membuka tasnya. Mengeluarkan sebuah pigura kosong tanpa foto. Menimang benda itu sejenak, lalu mengangsurkannya pada Vei Yin. Vei Yin menerimanya, dengan tangan kiri karena tangan kanannya masih menempel pada daun telinga. Pigura kosong tanpa foto. Vei Yin juga punya. Dengan pinggiran bermotif kupu-kupu dan floral. Hanya saja pigura tanpa foto itu digantungkannya di dinding kamar, di atas ranjang, di sebelah gantungan abu jenazah. Pigura yang ia terima dari mamanya setelah papanya meninggal sepuluh tahun lalu.
“Kata abi, umi saya menitipkan benda ini untuk saya, bu … dan saya tak boleh mengisinya dengan foto siapa pun, termasuk foto saya, selama saya masih bertelinga. Tapi sekarang saya sudah tak bertelinga. Telinga saya terlepas entah di mana. Saya menunggu laki-laki itu datang lagi tapi tak datang juga. Saya ingin dia mengembalikan telinga saya. Dan abi harus melihat saya pulang lengkap dengan telinga.”
Mama Vei Yin seorang penjual mimpi. Ketika papanya meninggal, mamanya memberikan pigura tanpa foto untuk Vei Yin. Pigura tanpa foto, tanda kasih keramat papanya untuk mama Vei Yin. Sejak saat itu mamanya menjadi pembual yang sehari-hari mendekam di depan ruko-ruko pribumi, menjual kata-kata, menjual mimpi. Papa Vei Yin sudah meninggal. Umi Malkus tinggal bayang-bayang.
“Laki-laki itu tak akan pernah kembali untuk yang kedua kali. Mungkin dia sudah menemukan umimu dalam daun telingamu, karena daun telinga itu miliknya yang pernah dipinjam umimu. Dan abimu pasti akan tetap diam saja. Pigura ini, simpanlah. Gantungkan di sebelah bayangan umimu.”
Malkus meraba sisi kepala. Daun telinganya memang tak ada. Lalu Vei Yin menyerahkan pigura tanpa foto itu pada Malkus.
“Saya tak ingin pulang, tanpa telinga.”
Malkus enggan menggerakkan badannya untuk tegak. Dia tetap duduk sambil mendekap pigura tanpa foto di dadanya, di depan Vei Yin, di bawah pohon Matoa.
“Saya harus pulang. Sudah ditunggu oleh pigura tanpa foto juga di kamar. Sementara saya tak mungkin meninggalkanmu sendirian, dan tak mungkin meminjamkan daun telinga. Hari sudah sore.”
Vei Yin bimbang dihadapkan pilihan, antara harus pulang dan masih ingin bersama Malkus. Tapi pigura tanpa foto di kamarnya sudah menunggu.
“Saya tak mungkin pulang tanpa telinga, bu … bagaimana saya bisa mendengar suara abi saya ? Saya akan menunggu laki-laki itu kembali.”
Malkus semakin enggan menggerakkan badan. Dia tak ingin pulang tanpa daun telinga.
“Kau tetap harus pulang, Malkus … hari semakin senja … Tentu abimu akan lebih suka kau pulang tepat waktu. Tak usah lagi kau pedulikan telingamu. Toh, kau tetap bisa mendengar suaraku dengan matamu. Pulang, gantungkan pigura itu di sebelah bayangan umimu.”
Malkus menatap Vei Yin seperti berusaha menemukan foto siapa yang akan ia pasang untuk piguranya.
“Pohon Matoa … pohon Matoa … bu Vei Yin seperti memintaku pulang tanpa telinga, membawa kembali pigura tanpa foto dan menggantungkannya di sebelah bayang-bayang umiku. Tolong jelaskan padaku mengapa ?”
Vei Yin menatap Malkus seperti berusaha menjelaskan foto siapa yang harus ia pasang untuk piguranya.
“Pohon Matoa … pohon Matoa … jelaskan pada Malkus tentang laki-laki dan pedangnya, tentang daun telinga dan pigura tanpa fotonya, tentang bayang-bayang uminya dan abinya, tentang aku dan almarhum papaku, tentang mamaku dan jualan mimpinya.”
Cen Vei Yin beranjak dari tempat duduknya. Pergi. Menyisakan Malkus, di bawah pohon Matoa yang tak bergeming.
“Bu Vei Yin, kalau boleh saya ingin memasang foto ibu pada pigura ini.”
Malkus meraba sisi kepalanya.
“… dan telinga ini untuk ibu. Laki-laki itu, pasti bu Vei Yin mengenalnya. Saya akan katakan pada bayang-bayang umi saya, bahwa saya telah menemukan isi foto pigura ini. Dan saya yakin abi akan tetap diam saja.”
Malkus meraba sisi kepalanya sekali lagi. Daun telinga itu memang tak mungkin kembali. Terlanjur lepas. Tapi dia yakin daun telinga itu dibawa ke tempat yang semestinya. Mungkin akan menjadi isi pigura tanpa foto juga, di sebelah abu jenazah.
“Esok kita bertemu lagi, Malkus … tapi ku harap kau tak lagi duduk di bawah pohon Matoa itu.”
Malkus mengiringi langkah Vei Yin yang menjauh dengan matanya.
“Titip salam untuk daun telinga saya, bu Vei Yin … juga untuk abu jenazah di sebelah pigura tanpa foto milik ibu. Sebentar lagi saya akan pulang.”
Vei Yin melambaikan tangan pada Malkus sebelum akhirnya hilang di balik pintu gerbang. Tersenyum, sesuatu yang tak dia lakukan dari pertama melihat Malkus di bawah pohon Matoa. Senyuman pertama untuk Malkus.
“Baik-baiklah, Malkus … sampaikan salam saya untuk bayang-bayang umimu. Saya pulang pada mamaku, kau pulang pada abimu. Tetap harus begitu.”
Malkus menganggukan kepala, anggukan pertama untuk Cen Vei Yin.
***
Maria Immaculata Ita, Penulis buku kumpulan puisi Ibukota Serigala
Gambar diunduh dari mw2.google.comPemberontakan An Lushan yang bertahan delapan tahun ( 755 – 763 ) telah menyapu habis seluruh kebesaran dan kemegahan Dinasti Tang. Sejak itu Dinasti Tang di mata penyairnya telah berubah menjadi selingkar matahari musim dingin di ufuk barat. Sekalipun kadang-kadang masih kelihatan berpijar kemerah-merahan, tetapi bagaimana pun sedang perlahan-lahan terbenam. Dan kelapangan dada, semangat bergelora, dan keyakinan mencengangkan yang diwakili oleh Li Bai dan Du Fu, telah layu dan gugur di dada penyair. Mungkin kadang-kadang masih berkedip sekejap di dalam satu dua puisi penyair masa itu, tetapi sudah tidak bisa bertahan lama lagi. Ini mungkin dapat disebut suatu penyakit zaman: Realita yang merosot telah meracuni jiwa penyair ——— realita yang terpampang jelas di depan mata, siapa pun tidak mampu berlagak tidak kelihatan.
Pemberontakan memang berhasil dipadamkan, tetapi kedaulatan dan kekuasaan Dinasti Tang telah jauh berbeda. Untuk memadamkan pemberontakan ini Klan Li sebagai penguasa Dinasti Tang telah melakukan berbagai kompromi politik dan meminta bantuan militer dari jenderal-jenderal asing yang berkuasa di perbatasan. Tentu bantuan militer begini bukan tanpa imbalan; ada yang dijanjikan untuk menjarah kota yang berhasil direbut, ada yang dijanjikan jabatan Gubernur Jenderal setelah berhasil menguasai daerah itu. Keputusan-keputusan begini yang kemudian membentuk provinsi-provinsi yang memiliki otonomi penuh yang biasa disebut Provinsi Militer atau dalam catatan sejarah Cina disebut 藩镇 ( baca: fanzhen ). Provinsi-provinsi ini sesungguhnya memiliki kedaulatan penuh atas teritorinya, mereka juga tidak menyerahkan pajak ke pemerintah pusat, yang mereka lakukan terhadap pemerintah pusat di Chang’an tidak lebih daripada lip service. Permbangkangan provinsi militer serta pertikaian politik istana antara gerombolan kasim yang mengitari Kaisar dengan pejabat-pejabat tinggi dan jenderal-jenderal yang masih setia kepada kerajaan menjadi pemicu utama runtuhnya Dinasti Tang.
Menyusul krisis politik tentu adalah krisis sosial. Setelah provinsi-provinsi militer menolak menyetor pajak ke kas negara, dan biaya besar yang mesti dikeluarkan untuk memerangi pemberontakan yang meletup di sana-sini, keuangan kerajaan pada dasarnya sudah bangkrut, dan keadaan ini telah menggoyahkan sendi-sendii perekonomian, ditambah lagi kota-kota besar seperti Chang’an dan Louyang sudah tinggal puing setelah berulang kali dijarah, baik oleh tentara pemberontak, tentara asing maupun tentara kerajaan, maka pengungsian terjadi di mana-mana, kehidupan rakyat merosot dratis.
Gelombang pengungsian terus mengalir ke daerah selatan Cina, terutama ke Zhexi ( Provinsi Zhejiang ), Suzhou ( Provinsi Jiangsu ), Guangdong, dan Fujian. Daerah-daerah ini cukup aman dan belum begitu tersentuh api perang, perekonomian dan kebudayaan juga cukup berkembang.
Pengungsian sejumlah besar intelektual dari Cina bagian utara telah mengairahkan kehidupan budaya di daerah selatan ini, terutama sastra. Pada masa inilah komunitas-komunitas sastra berkembang pesat di daerah ini. Sebagian besar komunitas begini dibentuk atau didirikan oleh biksu penyair ( biksu yang suka menulis puisi ) yang cukup terpandang ataupun pejabat penting setempat, dan mereka biasanya melakukan pertemuan, diskusi, pembahasan puisi di kuil ataupun tempat yang disediakan pejabat. Antologi puisi mereka juga berhasil melewati kekacauan jaman dan masih bisa kita nikmati hari ini. Salah satu bentuk puisi yang agak menonjol dari komunitas sastra masa ini adalah Puisi Berantai atau Puisi Kolaborasi yang dalam Sastra Cina Klasik disebut 联句 ( baca: lianju ). Sekalipun bentuk puisi ini tidak pernah mendapat tempat dalam Sastra Cina Klasik ——— bentuk ini sudah mulai digunakan sejak Dinasti Han ( 202 SM – 220 ), tetapi mungkin adalah bentuk awal yang dibawa ke Jepang dan kemudian berkembang menjadi Renga yang merupakan cikal bakal Haiku. Dalam catatan pendek ini saya tidak bermaksud dan juga tidak memiliki kapasitas untuk membahasnya, mengenai hubungan Lianju dan Renga yang ditulis di sini hanyalah sebuah bersitan pikiran, untuk membahas hubungan mereka saya rasa masih perlu pendalaman.
Sekarang seperti sudah saatnya menampilkan tokoh utama dalam catatan ini: Meng Jiao. Dia hidup di dalam waktu dan ruang seperti yang digambarkan dalam paragraf di atas, lahir pada tahun 751 di Huzhou ( sekarang Wukang, Provinsi Zhejiang ). Seluruh masa mudanya dihabiskan di daerah ini, dia mungkin pernah bergabung dengan salah satu komunitas sastra yang dibentuk oleh biksu di sana, tidak jelas, namun ada satu hal yang bisa dipastikan adalah dia pernah hidup sebagai pertapa sebelum meninggalkan kampung halamannya pada usia 30 tahun. Hanya itulah yang kita ketahui tentang masa mudanya, dan beberapa paragraf di atas memang khusus ditugaskan membawa dia ke hadapan pembaca yang terhormat.
Suatu malam di awal musim semi 792, Meng Jiao duduk sendiri di mulut jendela sebuah kamar penginapan di Chang’an. Dia sedang bersedih, pengembaraan selama sepuluh tahun untuk mengumpulkan keberanian dan biaya mengikuti Ujian Negara telah sia-sia, tadi pagi namanya tidak muncul di papan pengumuman lulus. Tanpa terasa malam telah berangsur-angsur mundur dan pagi musim semi yang menyongsong terasa luar biasa dingin dan kecut. Bulan yang tergantung di satu sudut langit seperti sekeping cermin bulat, pucat dan redup. Tunas-tunas daun di ranting pohon seluruhnya tertutup embun beku, tidak ada kepakan burung yang memberitakan pagi musim semi. Dia tahu dunia pagi ini masih bulat, hanya saja terlalu hening dan sunyi. Dan sunyi ini telah masuk dan mengiris-iris tulang sepinya.
Dia tentu tidak tahu ini bukan terakhir kali dia mencicipi kekalahan, tahun berikutnya 793, dia kembali gagal dalam Ujian Negara. Dunianya mungkin sudah lama tidak utuh, tetapi kali ini dentingan serpihannya terasa jauh lebih menyayat.
Meng Jiao mungkin termasuk salah satu penyair Tang yang paling menderita hidupnya, dia tidak pernah benar-benar berhasil melepaskan diri dari kemiskinan yang mengerogotinya sejak kecil, dan kemalangan-kemalangan yang menimpanya sepanjang hidupnya telah membuat puisi-puisinya memiliki ciri khas yang tidak dapat ditiru penyair lain: dingin, pahit dan eksentrik.
Tetapi kekalahan demi kekalahan dan kemalangan yang datang beruntun dalam hidupnya tidak membuatnya roboh, kekuatan penopang ini terutama datang dari orang-orang yang tidak kenal lelah mendukungnya; ibunya, isterinya, dan seorang teman karibnya: Han Yu. Dia dan Han Yu membentuk satu kelompok penyair yang kemudian menjadi salah satu kelompok yang paling menonjol dalam puisi Tang Tengah, biasanya disebut Perkumpulan Mbeling atau Eksentrik. Sekalipun Han Yu adalah tokoh sentral dalam kelompok ini, tetapi Meng Jiao merupakan penyair terpenting dalam kelompok ini, dan namanya juga disejajarkan dengan Han Yu, sehingga dalam Sastra Cina Klasik juga disebut Perkumpulan Han Meng.
Dia mengenal Han Yu mungkin sewaktu menempuh Ujian Negara di Chang’an, antara 791 sampai 792, persahabatan ini bertahan sepanjang hidupnya. Walaupun umur mereka terpaut jauh, Han Yu lebih muda 17 tahun dari Meng Jiao, tetapi mereka memiliki pandangan yang sangat dekat tentang puisi, mungkin ini yang menyebabkan mereka selalu dianggap mewakili suatu kelompok penyair eksentrik yang suka menggunakan kata-kata kuno dan menciptakan suasana surealis dalam puisi-puisi mereka. Namun sesungguhnya puisi penyair-penyair ini memiliki perbedaan yang sangat mendasar dengan Meng Jiao maupun Han Yu.
Atas dorongan dan dukungan Han Yu, Meng Jiao kembali mencoba Ujian Negara dan berhasil lulus pada tahun 796, waktu itu usianya sudah 45 tahun. Upaya selama bertahun-tahun akhirnya membawa hasil. Kegembiraan dan hati yang meluap-luap ini dia tuangkan dalam sebuah puisi; walaupun puisi itu kedengaran sedikit lupa diri, tetapi kegalauan yang terpendam selama bertahun-tahun ketika dilepaskan pasti agak sedikit bau, saya rasa masih wajar, lagipula puisinya jarang ada yang bersuasana riang:
Gelisah tempo hari gemeretak di sela gigi
tidak usah diungkit,
pagi ini lepas kendali pikiran mengapung
tak bertepi
Angin musim semi meniup hati angkuh
tapak kuda melesat pergi.
Satu hari mata menyapu seluruh bunga
Chang’an habis
登科后
昔日龌龊不足夸,今朝放荡思无涯。
春风得意马蹄疾,一日看尽长安花。
Keriangan yang meluap ini sebentar saja sudah berubah menjadi sebuah penantian pahit. Setelah menunggu empat tahun yang melelahkan, Meng Jiao yang sudah berumur setengah abad ini akhirnya diberi sebuah jabatan kecil di kota Liyang ( Provinsi Jiangsu ). Hanya beberapa bulan berkantor di sana dia sudah dilaporkan melalaikan tugas. Dilaporkan bahwa dia sering seorang diri naik keledai ke pinggiran kota, memandang gunung menatap sungai, saya rasa pasti juga menulis sajak.
Dulu saya tidak bisa mengerti mengapa sebuah kesempatan yang ditunggu dengan susah payah selama puluhan tahun bisa dibuang begitu saja. Untung akhirnya saya paham. Paham akan frustasi seorang lelaki berumur 50 tahun yang mungkin seumur hidupnya belum pernah menyentuh birokrasi pemerintah, tiba-tiba sudah berada di dalam sebuah sistem yang kusut masai. Apakah ini bukan suatu hal yang membosankan dan melelahkan? Dia mungkin gagap atau enggan belajar, tetapi jabatan yang diberikan kepadanya memang terlalu kecil, semacam pegawai rendah di kantor kecamatan. Jabatan Meng Jiao ini akhirnya tetap dipertahankan atas bantuan teman-temannya di pemerintah pusat, namun gajinya dipotong separuh untuk mengangkat seorang wakil yang akan membantu dia menyelesaikan tugas-tugasnya. Keuangannya yang baru sedikit membaik kembali terpuruk.
Keadaan ini tidak bertahan lama, dia akhirnya mengundurkan diri dan membawa keluarganya kembali ke kampung halamannya: Huzhou pada tahun 804. Kemudian pindah menetap di Changzhou ( Provinsi Jiangsu ), di sini dia membeli rumah dan sawah. Pada tahun 806 pindah lagi ke Chang’an dan setahun kemudian pindah ke Louyang. Walaupun berpindah-pindah, tetapi kehidupannya pada tahun-tahun ini termasuk tenang dan berkecukupan.
Tetapi kemalangan kembali menghampirinya. Dia kehilangan anak bungsunya pada tahun 808, waktu itu usianya sudah 58 tahun. Dari puisi-puisinya kita tahu dia kehilangan tiga anak lelaki, dua meninggal ketika masih bayi, dan satu lagi meninggal pada usia sepuluh tahun. Di ujung senja usia dia tiba-tiba mendapati dirinya sudah tidak memiliki keturunan, hal ini adalah pukulan terberat bagi Meng Jiao. Dia adalah seorang pengikut Kongfuzi, dan tidak memiliki keturunan adalah durhaka terbesar dalam Konghucuisme. Penderitaan batinnya tidak usah ditulis lagi.
Ibunya meninggal dunia di tahun berikutnya. Pukulan demi pukulan telah menghancurkan sedikit ketenangan yang tidak mudah dia peroleh di usia senja. Pada masa-masa inilah Meng Jiao menulis cukup banyak puisi-puisi sekuens yang panjang, dingin, dan pahit. Ini adalah cara dia mengobati dirinya. Penderitaan tahun-tahun terakhirnya di Louyang sangat sulit dibayangkan; tua, miskin, dan sunyi. Walaupun demikian, keinginan untuk berbuat sesuatu untuk negara ( dunia? ) masih belum padam.
Pada awal musim semi 814 dia menerima tawaran seorang kenalannya, Zheng Yuqing – 郑余庆 ( waktu itu memegang jabatan sekretaris jenderal biro eksekutif ) sebagai penasehat. Dia berangkat bersama isterinya, tetapi jatuh sakit di tengah perjalanan, dan meninggal beberapa waktu kemudian. Dia meninggal dalam keadaan miskin, tanpa anak, jauh dari rumah. Bab penutupnya ini terlalu menyedihkan. Pemakamannya diurus oleh Han Yu dan beberapa temannya yang merupakan penyair Tang Tengah terkenal, seperti Zhang Jie, Wang Jian, dan Jia Dao. Dia dikubur di sebelah timur luar kota Louyang.
Puisi-puisi Meng Jiao baru mulai dikumpulkan dan dibukunya pada awal Dinasti Song ( 960 -1279 ), sehingga jumlah puisi yang hilang mungkin tidak kalah dengan yang berhasil dikumpulkan. Kumpulan puisinya yang beredar hingga hari ini adalah sebuah buku berisi 511 puisi yang disusun oleh sejarawan Dinasti Song: Song Minqiu – 宋敏求 ( 1019 – 1079 ). Dari 511 puisi saya memilih 13 puisi untuk diterjemahkan.
Di catatan ini saya rasa tidak usah lagi membahas puisi-puisinya, terlalu pahit dan dingin, mungkin dilompati dengan satu dua kalimat saja, dan tulisan ini memang sudah terlalu panjang. Hidupnya yang malang tertuang seluruhnya di dalam puisi-puisinya, ini sangat mudah kita rasakan. Dia hampir tidak menggunakan alusi dalam puisi-puisinya, cara ini dianggap aneh bagi pembaca puisi Cina Klasik. Dia suka menggunakan kata-kata kuno, atau yang mati suri, atau yang jarang digunakan. Dia sengaja menciptakan irama janggal yang terasa menusuk bagi telinga-telinga tradisional. Dia suka menciptakan pemandangan artifisial atau fantasi dan menghadirkan indah dan buruk secara beriringan…
(1) Pengakuan Dosa
Suster muda seranum pagi tunduk dalam-dalam di hadapan Pastur yang menyambutnya dengan,”semoga Tuhan mengampunimu.”
Binar mata tidak disembunyikannya ketika ia berkata,”Pastur, saya hendak mengaku dosa. Dosa saya yang pertama adalah aku mencintaimu.”
Gambar diunduh dari kolomkita.detik.com(2) Telur Paskah
Bagi Yohanes Mohammad Ponijan yang terlahir sebagai jawa tulen bernama Ponijan kemudian ditambahi Mohammad oleh tetangganya dan terakhir dibaptis dengan nama asing Yohanes, paskah berarti hanya satu: telur paskah. Saat minggu pagi ramai pendaftaran lomba telur paskah, bocah itu akan bergerilya mencuri telur paskah yang disembunyikan di balik sesemak. Kemenangan lomba dan perayaan paskah tidak lebih penting dari lauk seminggu hasil curiannya. Paskah tetap meriah.
(3) Janji Baptis
Gereja hening. Hanya aroma dupa dan melati bernyanyi di udara. Janji baptis seperti biasa, akan diulangulang. Setiap tahun.
“Bersediakah Saudara menolak segala bentuk ketidakadilan dan segala hal yang melanggar hak asasi manusia?” suara Pastur bergema. Gaduh umat menjawab,”ya saya bersedia.” Seseorang membisu.
“Bersediakah Saudara menolak setan dan segala ketahkayulan?”
“Ya, saya setan!” Seseorang menjawab dan berlalu.
Gerundelan Regalia Pertanyaan seumur hidup, ketika orang mendengar kalimat “pertanyaan seumur hidup” sebagian orang akan menerka isi dari artikel ini tanpa membacanya. Sebagian yang lain akan merasa tertarik untuk membuka artikel ini.
Dari sebagian yang tertarik itu akan membaca sekedar untuk memuaskan rasa ingin tahu & sebagian lain akan membaca untuk membandingkan isi artikel ini dengan apa yang ia alami & rasakan selama ini. Untuk menyakinkan dirinya bahwa orang lain pun ada yang seperti dirinya, memiliki pertanyaan seumur hidup. Bukan karena tidak ada jawabannya sehingga menjadi pertanyaan untuk seumur hidup, tetapi karena pertanyaan yang setiap jawabannya akan didapatkan dengan menjalani kehidupan ini.
Sebenarnya jawaban-jawaban dari pertanyaan ini sudah tersedia dan dapat diperoleh dengan instant tanpa perlu menunggu hingga seumur hidup untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Tetapi jawaban-jawaban tersebut akan kurang memberikan kepuasan & terkadang terlupakan begitu saja sehingga pertanyaan-pertanyaan tersebut akan muncul kembali seperti sebuah siklus.
Hal ini karena melewatkan satu tahapan penting yaitu proses bagaimana jawaban itu bisa terbentuk.
Untuk itulah saya mencoba menulis artikel, artikel ini saya tulis untuk diri saya sendiri & juga orang-orang yang saya yakini akan membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan seumur hidup saya. Salah satunya seseorang yang saat ini sedang berjuang untuk bisa mencapai impiannya. Seseorang yang memiliki tekad kuat & saya yakini akan membantu menulis kisah hidup saya.
Artikel ini saya buat untuk memberi-tahu dia, kenapa saya bisa merasa yakin kepadanya.
Saya mulai artikel ini dengan sebuah pertanyaan kepada diri saya sendiri, pertanyaan yang terus terngiang di telinga saya sejak saya berumur 15 tahun: “APA SEBENARNYA TUJUAN HIDUP SAYA DI DUNIA INI?”
Sebuah pertanyaan yang sering diajukan orang kepada dirinya sendiri. Sebuah pertanyaan yang memiliki banyak sekali jawaban. Beberapa kali saya coba menjawab pertanyaan ini. Jawaban pertama yang saya yakini adalah “Untuk menjadi orang sukses & membahagiakan orang tua”. Sebuah jawaban yang menjadi tujuan hidup banyak manusia pada umumnya.
Selang beberapa tahun kemudian saya mulai menyakini jawaban lain. Tujuan hidup saya adalah untuk menjadi orang yang bahagia di dunia & akhirat. Cukup lama saya menyakini jawaban ini, karena jawaban ini sesuai dengan apa yang diajarkan oleh kepercayaan saya.
Setelah beberapa lama kemudian saya mulai mengubah jawaban saya lagi. Jawaban ini saya peroleh setelah saya membaca sejarah dan kisah para nabi & para ulama. Saya terinspirasi akan sebuah kisah yang terdapat dalam salah satu kitab yang menyatakan “tidak ada kebahagian yang melebihi bahagianya dapat bertatap muka dengan Sang Pencipta kita ALLAH SWT, Dan hanya orang-orang tertentu saja yang akan mendapatkan keistimewaan tersebut”.
Hati saya bergetar ketika membaca kata-kata tersebut, diri saya bergejolak & bersemangat, Saya bisa merasakan bahwa inilah yang menjadi tujuan dari hidup saya. Saya ingin sekali menjadi salah satu manusia yang memperoleh keistimewaan tersebut. Dan untuk itu saya bertekad untuk menjadi seseorang di antaranya,
TAPI BAGAIAMANA CARANYA? Pertanyaan baru ini timbul dari dalam diri saya, saya pun coba belajar, belajar belajar, hingga akhirnya saya merasa jenuh karena saya belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan baru saya ini.
Di zaman ini banyak sekali ajaran-ajaran yang ada di dunia ini yang mengajarkan bagaimana cara menjadi orang seperti itu, dan satu sama lain terkadang saling bertentangan. Yang mana harus saya pilih. Pertanyaan itu terus menggema di telinga saya.
Hingga suatu ketika saya teringat pada tujuan awal hidup saya yaitu ingin membahagiakan keluarga saya. Dan saya mulai menetapkan kalau saya akan mengikuti ajaran yang dianut oleh keluarga saya, karena sejak awal saya ingin membahagiakan mereka & mereka pun pasti menginginkan saya bahagia.
Dengan keyakinan teguh saya mulai mendalami ajaran yang dianut oleh keluarga saya agar bisa menjadi orang yang seperti saya inginkan,
Saya belajar dan terus belajar, hingga saya mulai memahami bahwa sangat sulit sekali untuk menempuh jalan supaya dapat memperoleh keistimewaan tersebut. Apalagi mengingat situasi zaman yang seperti sekarang ini. Untuk bisa menempuh jalan itu saya harus merelakan hal-hal yang bersifat nafsu duniawi & fokus beribadah kepada-NYA.
Saya juga harus merelakan kehidupan bahagia bersama keluarga saya agar bisa fokus. Hal ini sangat sulit sekali untuk saya lakukan karena ternyata tujuan untuk membahagiakan keluarga telah meresap ke setiap darah saya tanpa saya sadari, Ternyata ketika saya mengubah tujuan hidup saya, tujuan hidup yang dulu saya tinggalkan tersebut telah melebur sepenuhnya dalam diri saya. Saya mulai menyadari & bisa memahami takdir hidup saya. Selama ini saya telah membuat 3 titik tujuan hidup yang ternyata saling terhubung satu-sama lainnya & sulit untuk memisahkannya. Tapi apakah tujuan hidup saya tidak akan bertambah di masa depan? saya tidak tahu. Saat ini saya hanya bisa membiarkannya, membiarkannya terjawab dengan sendirinya seiring berjalannya waktu atau menghilang dalam benak saya karena sejak awal pertanyaan itu memang tidak seharusnya dipertanyakan.
Tiga tujuan hidup.
Tiga tekad hati.
Tiga aliran kehidupan
Tiga yang saling mempertemukan,
Tiga yang saling menghubungkan,
Tiga yang saling menjelaskan.
Tiga yang akan membuka,
Tiga yang akan mengisi,
Tiga yang akan menutup,
Itulah bagaimana saat ini hati saya menjelaskan pemahaman hidup saya tentang tujuan hidup yang saya inginkan. Untuk itu…
Saya harus bisa memahami semua tujuan hidup saya ini.
Saya harus bisa memiliki tekad hati yang kuat untuk bisa menggapai semua tujuan hidup saya.
Saya harus bisa membawa aliran kehidupan menuju tujuan hidup saya.
Saya harus yakin bahwa tujuan-tujuan ini akan mempertemukan saya dengan orang-orang & pengalaman hidup yang luar biasa sehingga saya bisa memahami tujuan hidup saya.
Saya harus yakin bahwa tujuan-tujuan ini akan menghubungkan perasaan saya dengan semua orang yang ada di dunia sehingga saya bisa memilki tekad hati sekuat mereka yang telah & sedang berjuang untuk dirinya.
Saya harus yakin bahwa tujuan-tujuan ini akan menjelaskan arti keberadaan saya di dunia ini sehingga saya bisa menjalani aliran kehidupan ini seperti yang saya & DIA inginkan.
Saya harus selalu ingat bahwa tujuan-tujuan ini akan membuka sebuah kisah tentang perjalanan seseorang yang telah mempertemukan dirinya dengan tujuan hidupnya.
Saya harus selalu ingat bahwa tujuan-tujuan ini akan mengisi seluruh kisah perjalanan tersebut dengan menghubungkan perasaan antara tokoh-tokoh di dalamnya yang dengan tekad kuat berusaha & berjuang untuk memperoleh apa yang mereka inginkan.
Saya harus ingat bahwa tujuan-tujuan ini akan menutup kisah akhir perjalanannya dengan menjelaskan kepada para pembaca tentang sang tokoh utama yang tersenyum bahagia karena telah melewati aliran kehidupan tanpa penyesalan sedikit pun walau mungkin di akhirat kelak ia belum tentu dapat bertatap muka dengan Yang Maha Esa.
Ya Tuhan, terima kasih atas semua yang telah engkau berikan pada hambamu ini, juga terima kasih karena…
Tujuan-tujuan hidup ini telah mempertemukan pikiran hamba dengan pertanyaan seumur hidup sehingga membuka mata hamba untuk melihat jauh ke masa depan dengan VISI.
Tujuan-tujuan hidup ini telah menghubungkan hati hamba dengan pertanyaan seumur hidup sehingga hamba selalu berusaha mengisi kehidupan ini dengan berdasarkan NURANI.
Tujuan-tujuan hidup ini telah menjelaskan diri hamba tentang pertanyaan seumur hidup sehingga kelak hamba bisa menutup akhir kisah hidup hamba tanpa penyesalan sedikit pun dengan mengandalkan INTUISI.
Ya Tuhan jika ENGKAU memperkenankan, hambamu ini ingin menulis takdir hidup yang ingin hamba jalani.
Hamba awali penulisan kisah takdir hidup hamba dengan cerita yang merupakan apa yang telahdirkan kepada hamba sejak lahir hingga hari ini, Saat hamba mulai menulis kisah takdir hidup yang hamba ingink Inilah kisah tersebut…
Seorang anak terlahir dari suatu keluarga sederhana di sebuah kampung di suatu Negara kepulauan. Dia memiliki beberapa saudara dan keluarganya sangat mencintainya. Dia tumbuh dalam keadaan normal hingga suatu hari dia terpaksa dibawa ke rumah sakit karena telah mengalami musibah saat sedang bermain di rumahnya yang sedang tahap renovasi. Akibat kejadian itu dia terpaksa harus kehilangan sebagian penglihatannya sehingga membuatnya tidak bisa bermain dengan leluasa seperti anak-anak pada umumnya dengan tujuan memulihkan kesehatan matanya. Namun ternyata matanya tidak kunjung pulih, dengan berbagai cara keluarganya telah berusaha memulihkan dirinya namun apa daya matanya tetap cacat. Selain dia harus kehilangan sebagian penglihatannya, proses penyembuhannya itu memberikan dampak lain yaitu mengurangi kekebalan tubuhnya & kemampuannya berkomunikasi dengan orang lain. Dan dia pun menjadi penyendiri, hanya memiliki sedikit teman di lingkungannya.
Namun Tuhan Maha Adil karena justru karena sifat penyendirinya dia berhasil mencetak keberhasilan-keberhasilan di sekolahnya yang cukup membahagiakan orang-tuanya. Suatu hari di hari kelulusannya dia menghadapi suatu dilemma karena harus memilih d iantara dua pilihan, bersekolah di sekolah lanjutan impiannya seorang diri atau bersekolah di tempat lain bersama teman-temannya. Saat itu walaupun ia sudah terbiasa menyendiri dia menyadari tentang pentingnya & rasa bahagianya bisa bersama teman-temannya. Ia bimbang, namun pada akhirnya memilih untuk mengejar impiannya & merelakan bisa bersama teman-temannya. Dia pun bersekolah di sekolah lanjutan tersebut sendirian, dengan kemampuan penglihatan, komunikasi, & kekebalan tubuh yang kurang baik.
Awal kehidupannya di sekolah tersebut cukup sulit, namun suatu hari dia bertemu dengan seseorang yang baik hati. Orang itu dengan suka rela membantu dia menghadapi semua kesulitan padahal mereka memiliki kepercayaan berbeda. Mereka pun berteman cukup akrab, tapi sayang pertemanan mereka tidak berlangsung lama, orang itu harus pergi ke luar negeri bersama keluarganya. Dia sangat terpukul atas kepergian temannya itu, namun orang itu berjanji bahwa kelak mereka akan bertemu kembali. Orang itu meminta dia untuk menunggunya. Dia pun berjanji akan menunggu temannya itu. Sampai saat ini pun dia itu masih menunggu kedatangan orang itu.
Waktu pun terus berputar tak terasa sudah waktunya kelulusan, dia pun melanjutkan ke sekolah kejuruan dengan pertimbangan supaya lekas memperoleh pekerjaan. Di sekolah itu ia banyak berjumpa dengan orang-orang yang kelak akan membantunya menulis kisah hidupnya. Di antaranya adalah sekelompok orang yang telah banyak membantu dirinya, yang telah ia siapkan sebuah buku khusus di hatinya untuk ia tulis kisah-kisah hidupnya sebagai kenang-kenangan di akhir hidupnya kelak . Di sekolah itu juga ia bertemu seseorang yang sangat dia sukai namun terpaksa harus dia lupakan karena orang itu tidak suka padanya. Namun dia merasa yakin kelak akan bertemu dengan orang itu kembali.
Tak terasa waktu pun bergulir begitu cepat, saat kelulusan tiba. Dia salah satu orang yang beruntung karena telah memperoleh pekerjaan sebelum pengumuman kelulusan tiba. Di tempat kerjanya itu ia bekerja dengan giat karena akhirnya dia mempunyai kesempatan untuk bisa membalas jasa orang tuanya. Dalam hatinya ia berjanji akan membiayai sekolah adiknya untuk meringankan beban keluarganya & agar kakaknya bisa lekas menikah, sudah waktunya dia mengambil alih beban yang selama ini ditanggung oleh kakaknya. Sudah saatnya kakaknya membina rumah tangga dan memulai kehidupan barunya.
Dunia kerja memang luar biasa, di tempat kerjanya itu dia berjumpa banyak sekali orang-orang luar biasa, salah satunya adalah pimpinannya. Pimpinannya telah membuka matanya untuk bisa melihat dunia wirausaha dan salah satu elemen penting di dalam dunia tersebut. Pimpinan itu juga berhasil membuatnya mempelajari elemen tersebut dengan seluruh kemampuannya untuk memajukan perusahaan. Dan pemimpin itu berjanji akan mengajarinya lebih dalam tentang elemen itu tapi sayang pemimpin itu tidak pernah melakukan. Pemimpin itu mengingkari perkataan yang ia ucapkan & mengecewakannya.
Di samping bertemu dengan pemimpin itu ia juga bertemu dengan seseorang yang mirip dengan dirinya berjuang untuk membiayai sekolah adiknya & juga biaya kuliah dirinya. Dia sangat bersimpati sekali terhadap orang itu. Dia ingin menjaga & merangkul orang itu. Dia seperti melihat dirinya dalam diri orang itu. Namun orang itu memilih jalan yang lebih ekstrim dari dia dengan membiarkan dirinya terbelenggu di tempat itu dalam beberapa waktu ke depan demi membiayai sekolah adiknya & dirinya. Dia ingin sekali berkata pada orang itu bahwa dia sangat kagum pada orang itu dan ingin sekali bisa membantunya. Hingga sesaat rasa simpati itu berubah menjadi suka tapi dia selalu langsung menepis perasaan itu, orang itu akan lebih bahagia jika bersama orang lain lagi pula dia sangat sadar bahwa di masa datang perjalanan hidupnya akan cukup rumit. Tapi walaupun demikian dia selalu memperhatikan orang itu bahkan hingga saat ini dan berharap orang dapat mewujudkan semua impiannya.
Di tempat itu dia juga bertemu seseorang yang bisa membuatnya tertawa lepas, seorang pemimpin sejati, & seorang pengkhianat. Selain itu juga dia bertemu seorang wirausahawaan muda. Wirausahaan muda ini tertarik dengan pola pikir dia. Mereka pun bekerja sama namun sayang kerja sama mereka berlangsung singkat karena si wirausahawan muda diberhentikan dari tempat kerjanya. Dia ditinggalkan si wirausahawan muda juga dikecewakan pemimpinnya, ditambah penghasilan tambahannya pun berkurang akibat kegiatan produksi yang mengalami penurunan. Kini dia merasa situasinya sudah tidak kondusif lagi, di saat yang sama dia memperoleh informasi tentang peluang kerja dari salah satu temannya dulu (salah satu tokoh dari buku yang akan ditulisnya). Saat itu dia merasa Tuhan telah menunjukan takdir hidupnya. Dan setelah berpikir cukup lama, memang ini adalah salah satu jalan agar dia bisa keluar dari semua masalahnya. Dia berniat bekerja beberapa saat di sana hingga mempunyai dana yang cukup untuk membiayai sekolah adiknya hingga lulus kemudian mengundurkan diri dan mengejar impiannya.
Dia pun menggunakan informasi itu dengan sebaik-baiknya & bekerja di sana. Di sana dia bertemu dengan dua orang yang dia janjikan bahwa kelak setelah dia sukses, akan dia kunjungi dan ajak untuk bekerja sama dengan syarat mereka harus berjuang dengan sekuat tenaga untuk mencapai impian mereka hingga hari pertemuaan dengan dia di masa mendatang. Di sana juga dia mulai membuat pembukaan penulisan buku yang akan menjadi kenangan-kenangan untuk dirinya. Selain itu dia pun memberi tahu temannya (salah satu tokoh dari buku yang akan ditulisnya) entah kenapa dia merasa di masa datang dia akan berjalan berlawanan arah dengan temannya tersebut.
Semua berjalan sesuai perkiraan, dia bekerja beberapa saat di sana hingga mempunyai dana yang cukup untuk membiayai sekolah adiknya hingga lulus kemudian mengundurkan diri. Setelah dia mengundurkan diri, dia sekuat tenaga berjuang agar bisa memperoleh tempat kerja yang dekat rumahnya agar dia bisa mewujudkan impiannya atau lebih tepatnya tujuan hidup yang dia inginkan. Karena sebenarnya dia telah membuang impian-impiannya setelah menyadari apa yang mendasari impian-impiannya itu. Baginya impian seperti daun yang terikat pada sebuah ranting bernama tujuan hidup. Dia lebih fokus bagaimana membuat ranting yang kuat untuk mengikat daun daripada mengurus daun yang akan gugur begitu tertiup angin topan ataupun musim panas berkepanjangan. Dia berusaha lebih memahami alasan-alasan yang membuat impian itu dan memperkuatnya dengan segala cara. Dia mulai mengibaratkan bahwa perjalanan hidupnya seperti sebuah pohon di mana batangnya adalah takdir, rantingnya adalah tujuan hidup, daunnya adalah impian, dan buahnya adalah amal perbuatan.
Dia berusaha membuat pohon kehidupannya terus tumbuh, di mulai dengan mencari pekerjaan baru. Ditambah saat ini dia sedang membuat artikel ini agar pertumbuhan pohon kehidupannya bisa lebih baik lagi.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Walaupun dia telah berjuang dengan keras ternyata sangat sulit untuk bisa memperoleh pekerjaan di sekitar rumahnya. Namun dia tetap yakin akan memperolehnya, lagipula dia masih punya cukup waktu hingga waktu yang telah dia tetapkan. Dia mengisi waktu kosongnya itu dengan membuat beberapa karya seni seperti design rumah impiannya, design pohon keluarganya, dan lain-lain. Di selang-selang waktunya dia juga melakukan beberapa penelitian tentang beberapa hal yang ingin dia coba pahami seperti hubungan antara kemajuan suatu bangsa dengan legenda-legenda di Negara tersebut. Dia tertarik untuk mempelajari hubungan antara kemajuan Negara jepang dengan legenda samurai yang menggunakan BUSHIDO sebagai prinsip hidupnya. Dia juga tertarik untuk meneliti hubungan antara kemajuaan Macan Asia yang baru (Negara Cina) dengan legenda Jenderal-jenderal perangnya yang menggunakan THE ART OF WAR karangan Sun Tzu untuk memenangkan berbagai peperangan di masanya. Dan banyak lagi. Dia juga mulai merancang pondasi kerajaan bisnisnya di masa depan bersama salah satu temannya di sekolah kejuruan dahulu. Tapi sayang temannya itu cukup sibuk sehingga belum bisa membantunya. Dia pun bisa memahami keadaan temannya itu dan berkata bahwa dia akan menunggunya. Dia yakin bahwa temannya akan datang dan membantunya. Lagi pula temannya itu telah berjanji. Dia yakin, sangat yakin sekali.
Waktu pun berlalu tidak terasa sudah cukup lama dia menunggu. Menunggu kedatangan temannya, menunggu memperoleh pekerjaan yang dia inginkan. Artikel ini pun telah selesai dia buat. Dia pun mulai mengirimkan kepada orang-orang yang dia yakini akan membantu menulis kisah hidupnya untuk menyemangati mereka, untuk memberi tahu mereka apa yang ia pikirkan. Artikel ini dia kirimkan tanpa identitas pengirim yang jelas karena dia ingin mengetahui pola pikir orang-orang itu lebih dalam dan menyakinkan dirinya bahwa mereka adalah orang-orang yang dia cari selama ini. Tetapi untuk seseorang dia mengirimkan dengan identitas aslinya,
Berbagai macam respon muncul dari orang-orang yang dia kirimi. Beberapa berhasil memecahkan orang yang menulis artikel ini dan mengirimkan artikel balasan karena merasa perlu memberi tahu apa yang mereka pikirkan. Dia menyambut artikel itu dengan sangat senang karena orang yang mengirim artikel balasan adalah orang yang dia cari selama ini. Tapi walaupun dia merasa senang, dia memilih tetap diam dan tidak merespon artikel balesan yang ia terima. Dia menunggu waktu yang tepat untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan mereka.
Waktu pun berlalu, dia akhirnya memperoleh pekerjaan yang dia inginkan dan memulai progam-progam yang telah dia rancang selama ini. Dia juga bertemu dengan orang-orang yang mengirimkan artikel balasan kepadanya, Dia menceritakan kepada orang itu tentang apa yang ingin ia bangun & buat bersama orang-orang itu. Pembicaraan di antara mereka berjalan cukup baik. Mereka pun bahu-membahu membangun impian mereka dengan sekuat tenaga. Mereka bekerja, belajar di universitas, sambil membangun pondasi kerajaan bisnis mereka.
Tahun 2015 memang merupakan tahun fenomenal bagi Negara kepulauan tempat dia tinggal. Tahun itu dia dan temannya mulai mengoperasikan roda kerajaan bisnis. Kerajaan bisnis mereka mulai tumbuh. Walaupun sempat terjadi beberapa guncangan namun mereka berhasil melewatinya dengan dengan baik.
Mereka terus berjuang hingga kerajaan bisnis mereka mulai berkembang.
Dua tahun setelah itu dia menikah dengan seseorang yang mengerti sekali akan dirinya, mereka hidup bahagia. Dia berjanji bahwa akan setia pada pasangannya itu hingga akhir hayat. Setelah menikah dia mengajak pasangannya itu ke luar negeri untuk mengunjungi temannya sewaktu sekolah dulu. Yang dia tunggu-tunggu kedatangannya sejak dahulu. Mereka akhirnya bisa bertemu dan berbincang-bincang hingga sampai pada suatu perbincangan tentang masa depan tanah airnya dan Negara tempat temannya tinggal. Temannya mengatakan sepertinya tak lama lagi tanah air itu akan mengalami krisis yang diakibatkan oleh Negara tempat tinggal temannya. Karena sekarang Negara kepulauan itu sudah menjadi ancaman bagi Negara tempat tinggal temannya. Di situ mereka mulai berselisih paham, temannya meminta dia untuk keluar dari Negara kepulauan tersebut dan tinggal bersamanya dengan begitu dia bisa terhindar dari krisis tersebut. Tapi dia menolaknya, walaupun dia tahu temannya melakukan itu demi masa depannya. Perselisihan di antara mereka pun tak terelakan. Lalu dia pun pulang ke negaranya dan mereka tidak pernah bertemu lagi.
Dia pun tiba di Negara kepulauan, dan mulai mengembangkan kerajaan bisnisnya dengan informasi-informasi yang dia peroleh di selang-selang waktu ketika berkunjung ke tempat temannya dahulu. Dia khawatir akan perkataan temannya menjadi kenyataan dan negaranya mengalami krisis kembali. Walaupun dia sangat sadar bahwa suatu saat perekonomian negaranya akan terguncang kembali. Tapi jika hal itu akan terjadi dalam beberapa tahun lagi rasanya terlalu cepat pikirnya. Negaranya baru saja memulai masa keemasannya, apakah masa ini akan segera berakhir? Pikiran itu terus menghantui dirinya.
Tahun dan tahun berlalu, saat ini kerajaan bisnisnya sudah semakin berkembang. Sekarang mereka sudah memiliki pabrik sendiri dan mulai go public. Perusahaan mulia masuk pasar saham. Dia pun sekarang sudah memiliki seorang anak, seseorang ia harapkan kelak dapat menjadi dirinya sendiri. Dia menyadari dengan lahirnya anak ini, tanggung-jawabnya semakin bertambah. Dia harus bekerja dengan lebih giat guna mempersiapkan masa depan anaknya ini. Namun di samping itu dia juga harus berusaha meluangkan waktu untuk keluarganya lebih banyak dari sebelumnya demi keharmonisan keluarganya.
Sebenarnya ada hal yang dia takuti sejak memulai kerajaan bisnisnya beberapa tahun silam. Yang ia tahu adalah saat tersulit dalam hidupnya. Ketika dia harus mengkhianati dirinya sendiri, salah satu hal yang paling menyakitkan bagi dirinya. Ketika dia harus mengubur salah satu dari 3 senjata yang akan dia gunakan untuk membangun kerajaan bisnisnya kelak. INTUISI nya mengatakan itu pada dirinya bahwa kelak akan tiba masa ketika dia harus mengubur NURANI nya demi mengejar VISI yang lebih besar. Saat hal itu terjadi, hanya akan ada 2 pilihan, mengikuti NURANI dan mengorbankan para pekerja dan pengorbanannya selama ini atau mengikuti VISI dan mengkhianati dirinya sendiri. Di mana dia harus melakukan korporasi dan konspirasi untuk mempertahankan kerajaan bisnisnya. Dia sangat sadari ketika dia akan memulai berbisnis, korporasi & konspirasi adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dihindari dalam usaha pengembangan bisnisnya kelak berdasarkan VISI yang telah buat, Namun di samping itu dia juga menyadari bahwa korporasi dan konspirasi bertentangan dengan apa yang telah diajarkan oleh agama kepercayaannya, yang NURANI-nya yakini.
Setelah masuk ke pasar saham hal yang ia takutkan pun terjadi. Dan dia dipaksa harus melakukan korporasi dan konspirasi agar usahanya bisa terus berkembang. Saat itu NURANI nya benar-benar menderita sekali tapi ia tahu ini bahwa suatu saat hal ini memang akan terjadi. Satu hal yang bisa dia lakukan untuk mengurangi penderitaan NURANI-nya itu adalah dengan tetap hidup sederhana dan banyak membantu lingkungan di sekitarnya walaupun dia tahu dengan apa yang ia miliki saat ini dia bisa hidup lebih dari itu. Dia tidak ingin lebih menyakiti NURANI nya dengan menghamburkan uangnya, karena dia melakukan semua ini bukan demi uang tapi demi VISI. Dia sangat sadar kelak akan sulit sekali menjalankan roda kerajaan bisnis dengan menggunakan NURANI sepenuhnya, setelah memahami fakta sejarah yang telah terjadi. Terkadang NURANI harus dikesampingkan namun tidak dihilangkan.
Tahun-tahun telah berlalu sejak awal perusahaannya masuk ke pasar saham. Negaranya mulai mengalami krisis seperti yang dikatakan temannya dahulu. Masa keemasan mulai mendapat gangguan. Beberapa perusahaan di pasar saham sudah ada yang bangkrut karena krisis ini. Perusahaannya pun bagai telur di ujung tombak. Perusahaannya terancam bangkrut dan salah satu jalan terbaik untuk menyelamatkan perusahaannya adalah menjual sebagian besar sahamnya ke pihak asing guna mendapatkan dana segar untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan. Namun dengan melakukan itu akan dapat mengubah VISI dari perusahaan. Entah apa yang akan dilakukan pihak asing nanti pada perusahaannya yang telah didirikan dari nol bersama temannya itu. Berulang-ulang kali telah diadakan pertemuan untuk mencari solusi dari masalah-masalah tersebut dan menghindari opsi penjualan saham ke pihak asing, namun sayang hasilnya nihil. Di samping itu sepertinya ada beberapa orang dari pihak manajemen yang menginginkan agar pihak asing mulai mengaakusisi perusahaan tersebut.
Setelah dilakukan perundingan terakhir akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa perusahaannya akan menjual sebagian besar dari sahamnya ke pihak asing. Namun dia tetap tidak setuju dan memutuskan untuk mundur dari perusahaan itu dan menjual seluruh saham yang ia miliki pada temannya, dia mempercayakan harapannya itu pada temannya. Dia berkata pada temannya itu “ Dahulu aku pernah berkata bahwa kelak kita akan membangun sebuah perusahaan hebat, namun setelah itu mungkin aku akan berjalan di jalan yang berbeda denganmu. Kurasa inilah waktunya kupercayakan sebagian harapanku ini padamu. Kelak pada saat yang tepat belilah kembali saham dari pihak asing itu dan kembalikan perusahaan kita ke jalannya. Aku tahu kamu bisa.”
Setelah menjual saham itu, dia mulai membuka usaha di sekitar rumahnya & bekerja di tempat lain. Saat itu usia anaknya sudah belasan tahun. Dia pun mulai mendidik anaknya untuk merasakan seperti apa dunia kerja. Saat itu dia lebih banyak meluangkan waktu bersama keluarganya. Waktu pun telah berlalu kini anaknya telah menikah dan mempunyai seorang anak. Dia sekarang telah menjadi seorang kakek. Dia menyadari bahwa waktunya sudah dekat. Sebentar lagi tiba waktunya, ketika dia harus meninggalkan keluarganya demi mengejar tujuan hidupnya yang terakhir. Dia harus melakukannya karena memang ini akhir perjalanan yang ia inginkan.
Di usia berkepala lima dia meninggalkan keluarganya. Namun sebelum kepergiannya itu ia memberikan artikel ini, buku-buku yang telah ia selesaikan, hasil-hasil penelitiannya, dan sebuah peti berisi sejumlah tabungan yang telah ia kumpulkan untuk anaknya. Dia juga meminta maaf kepada istrinya karena tidak bisa menemani istrinya hingga akhir seperti yang ia janjikan dahulu. Dia berharap istrinya bisa hidup bahagia bersama anak & cucunya. Kelak jika ada kesempatan ia berjanji akan mengunjungi mereka. Lalu dia pun pergi ke suatu tempat di daerah pedalaman, ke sebuah pedesaan. Di situ dia hidup menyendiri untuk fokus beribadah kepada-NYA sambil mendirikan sebuah sekolah sederhana untuk mendidik anak-anak di desa tersebut. Terkadang di sela-sela waktunya ia melanjutkan menulis buku-bukunya yang belum selesai. Hingga akhir hayatnya ia tinggal di pedalaman tersebut. Sebelum meninggal ia menitipkan sebuah surat kepada kepala desa tersebut untuk dikirimkan ke keluarganya. Ia pun meninggal dan dimakamkan di tempat itu. Beberapa waktu setelah menerima surat darinya, keluarganya datang ke pedalaman tersebut. Di satu sisi keluarganya sangat sedih sekali akan kepergiannya, namun di lain sisi mereka bahagia karena orang yang sangat mereka cintai tersebut bisa mengakhiri hidup seperti yang ia inginkan dan hidup tanpa penyesalan sedikit pun. Di bekas rumahnya di pedalaman itu anaknya menemukan beberapa buku yang ia tulis. Di antara buku-buku tersebut terdapat sebuah buku yang ia tunjukkan khusus untuk sahabatnya di luar negeri, sebagai permohonan maaf karena dia belum sempat membalas kebaikannya waktu dahulu. Di akhir buku itu tertulis bahwa ia berharap kelak salah satu keturunannya dapat mengunjungi & membantu keturunan temannya itu.
Di bukunya yang lain ia menceritakan kisah-kisah hidup teman-temannya. Dan hampir di semua buku terdapat tulisan, “Hiduplah dengan tujuan yang engkau inginkan hingga akhir agar kelak tidak penyesalan karena hidup hanya sekali, manfaatkanlah sebaik-sebaiknya”.
———————————————————————————————————————————
Jika diperkenankan itulah takdir yang hamba inginkan. Yang hamba ingin ENGKAU berikan. Namun demikian takdir apapun yang akan kau berikan pada hamba, hamba akan berusaha menjalankannya dengan sebaik-baiknya dan hidup tanpa penyesalan sedikit pun.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Pertanyaan seumur hidup berikutnya yang ingin saya cari tahu jawabanya, Apakah takdir yang akan membimbing saya? Atau saya yang akan membimbing takdir sesuai dengan apa yang telah saya tulis seperti di atas? Jawaban hanya akan terjawab oleh waktu.
Terima kasih karena telah membaca artikel ini.
Ditulis untuk diri saya sendiri & juga orang-orang yang saya yakini akan membantu menjawab pertanyaan seumur hidup saya.
Be an Innovator, for change the world better than now.
Flash Fiction Rere ‘Loreinetta
…Dan Ketika Iblis Membentangkan Sajadah
Siang menjelang dzuhur, salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu Jum’at, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk & masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau keluar masuk lewat lubang pembuangan air.
Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir.
Iblis juga menempel di setiap sajadah.
“Hai, Blis!“ panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu.
Iblis merasa terusik. “Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang saya.
Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!“ jawab Iblis ketus.
“Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci, Kalau kau mau ganggu, kau bisa di luar nanti!“ Kiai mencoba mengusir.
“Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru.“
Kiai tercenung.
“Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu.”
“Dengan apa?“
“Dengan sajadah!“
“Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?“
“Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!“
“Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru,Blis?“
“Bukan itu saja Kiai…“
“ Lalu?“
“Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar.“
“Untuk apa?“
“Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang kau pimpin, Kiai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sajadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ saya bisa ikut membentangkan sajadah.“
Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus. Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih kecil. Orang yang punya sajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadahnya, tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang. Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya. Lalu keduanya melakukan sholat sunnah.
“Nah, lihat itu Kiai!“ Iblis memulai dialog lagi.
“Yang mana?“
“Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk di antara mereka.“
Iblis lenyap. Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf.
Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunah. Dan Kiai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya.
Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil kembali berada di bawahnya. Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa. Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan sampai akhir sholat.
Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa kali terlihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di atas, ketimbang menerima di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil.
Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas. Pemilik sajadah lebar, diindentikkan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah yang setiap saat akan selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa. Di atas sajadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain.
“Astaghfirullahal adziiiim, “ ujar sang Kiai pelan.
Cerita Nia Oktaviana
Editor Ragil Koentjorodjati Gambar diunduh dari bp.blogspot.comLangkahku terhalang oleh kabut tebal yang bergelantungan di udara, hujan mengguyur di tempat aku berdiri. Gemuruh petir bersambut pada sore hari yang kelam oleh langit yang bertumpuk kegelapan. Aku berdiri selama beberapa detik ternyata waktu tak segera tiba. Kemudian kusabarkan diri menunggu hingga beberapa menit namun juga tidak hadir yang kuharapkan. Hingga akhirnya aku bosan menunggu. Tak tahu kapan hujan akan setia menghentikan langkah kakiku yang pilu. Kupandangi air hujan yang menetes membasahi bumi ini. Banyak yang berkeluh akan kedatangannya.
Ketika aku mulai terlarut dalam dinginnya sore itu, kudapati diriku termenung dalam hujan.
Semakin lama aku terdiam semakin banyak pula orang beramaian merapat mendekatiku dan duduk di sampingku. Namun mereka semua sibuk dengan keluh kesahnya kepada hujan. Dan tak ada satu pun dari mereka yang menyapaku dan mencoba mengisi kekosongan hatiku yang membeku karena hujan dan segenap udara yang mendinginkan suasana waktu.
Aku duduk bersama deretan teman-teman yang tak cukup aku kenal namun di antara kami masih menggunakan atribut yang sama yaitu seragam sekolah. Untungnya hujan berbaik hati menahanku untuk pulang ke rumah di posisi saat aku masih berada di sekolah, jadi aku sedikit lega dan tidak merasa asing di tempat itu.
Sejenak aku berpikir, mengapa aku harus menangisi hujan yang sebenarnya adalah anugerah dari Tuhan? Mengapa aku tidak menyambut hujan dengan penuh cinta? Mengapa aku harus berpikir bahwa hujan telah mengganggu hidupku?
Semua pertanyaan itu terjawab ketika aku mencoba mengamati orang-orang di sekelilingku.
Sepasang kekasih saling berpegangan tangan dengan penuh cinta dalam dinginnya hujan. Mereka justru memberi kasih sayang yang lebih saat hujan tiba. Mereka lebih saling melindungi saat kemungkinan hujan akan membuat salah satu dari mereka sakit. “Tetaplah disini bersamaku karena hujan masih saja deras dan aku takut kau sakit karenanya,” itulah perkataan yang kudengar dari mulut si lelaki muda itu ketika mencoba menahan kekasihnya ingin bergegas pulang ke rumah.
Hujan telah membuat mereka menghabiskan waktu lebih lama dalam suasana penuh cinta.
Kualihkan pandangan ke sudut lain yang lebih menggugah hatiku. Kucermati, lelaki tua yang biasa disebut seorang ayah sedang menjemput salah satu dari temanku yang sedang terjebak di dalam sekolah karena hujan yang membuat dia takut melangkah lebih jauh dari posisi dia berpijak. Bapak tua itu mengenakan jaket tebal tanpa jas hujan, sedang menunggu putrinya berjalan menghimpit mencari celah agar tidak terkena hujan. Ketika putrinya datang, tampak raut bapak tua yang tadinya cemas sedikit pudar ketika melihat putrinya berjalan cepat menghampirinya. Tanpa banyak waktu terbuang, segera bapak tua itu mengenakan ponco ke tubuh putrinya dengan penuh kasih. Lagi-lagi hujan telah meluluhkan hati seorang ayah untuk berusaha melindungi putrinya dari hujan.
Tak lama kemudian, mereka menghilang dari pandanganku. Mobil sedan silver melaju pelan memasuki sekolah kami. Oh ternyata itu mobil temanku yang terkenal akan kekayaannya yang cukup mengagumkan itu. Maklum dia putra seorang konglomerat negeri ini. Kemudian mobil berhenti tepat di hadapanku. Seorang sopir yang gagah keluar dari mobil sambil memekarkan payungnya dan satu payung lagi tergenggam erat di tangannya . Dia sedang mencari anak dari majikannya yang sangat dia hormati. Sopir itu menghampiri temanku dengan penuh rasa hormat memberikan payung lalu menuntunnya masuk ke dalam mobil mewah itu. Sungguh, untuk kali ke tiga hujan telah membuat siapa pun bersikap lebih baik dan penuh kasih dari biasanya.
Tidak lama setelah itu, aku sedikit tergugah dari kesendirianku oleh canda tawa beberapa teman dan sahabat-sahabatnya. Mereka berlarian saling berkejaran dalam suka dan kegembiraan. Mereka tidak menghiraukan basah yang memusatkan banyak perhatian orang-orang terhadap mereka. Tawa manis mereka menari di atas genangan air hujan. Mereka pikir karena hari itu hari sabtu, jadi mereka tak peduli jika mereka harus basah kuyub. Hanya tawa yang aku dengar dari mulut mereka. Mereka mencoba mengajakku bergabung, namun aku menolak dengan senyuman. Hujan telah menghangatkan persahabatan mereka.
Kuhela nafas cukup panjang, senyum simpul membekas di bibirku lalu kupikirkan tentang apa yang kulihat dan kurasakan di sekelilingku. Aku melihat, merasakan, dan mendengar semua larut dalam cinta karena hujan. Sejak saat itulah semua fakta telah mengubah cara berpikirku tentang hujan yang banyak orang keluhkan namun sangat berarti banyak cinta jika kita mampu memahami hikmah di dalam hujan. Kupandangi jam tanganku, mengagetkan. Ternyata sudah jam 5 sore namun tak ada yang bisa kulakukan selain memandangi mereka yang menarik perhatianku. Lalu kulanjutkan menikmati hujan bersama kata-kata yang membisu di bibir namun berteriak dalam hati tentang keindahan hujan .
Sesaat setelah itu, kurasakan kehadiran sosok lelaki yang mungkin sedang aku rindukan. Jejak kakinya terdengar jelas di telingaku. Bau parfumnya, aku sangat hafal. Ternyata dia kekasihku. Seharian itu aku tidak melihatnya. Namun tiba-tiba kehadirannya mengagetkanku di sore itu. Sambil memberikan teh hangat kepadaku, dia berkata,” Maaf ya telah membuat harimu sedikit kosong. Aku baru saja menyelesaikan semua tugasku yang sempat aku tunda. Akan kubalas kekosongan harimu dengan menghabiskan waktu bersama hujan denganmu. Aku akan menunggumu sampai hujan reda lalu mengantarkanmu pulang. Tenanglah dan minumlah teh ini untuk menghangatkanmu”.
Yang kurasakan adalah rasa syukur yang tak ternilai ketikan dia mengucapkan beberapa patah kata untuk menghiburku. Dan cinta yang aku sebut-sebut dalam hujan saat itu telah menghampiriku lewat lelaki yang aku cintai dengan penuh cinta dan kasih bersedia bersamaku saat hujan walaupun hanya sebentar. Kehadirannya membawa warna-warni cinta saat hujan turun.
Kini aku sadar, melebihi manusia yang tersadar dari tidur panjangnya, bahwa aku bersyukur Tuhan dengan penuh kasih menurunkan hujan supaya manusia tidak merasa kekeringan. Air hujan yang menetes terus-menerus itu tanda bahwa kasih sayang Tuhan terhadap manusia tak pernah putus.
Kupandangi hujan, lalu kutemukan banyak cinta di dalamnya. Tidak hanya yang dialami orang lain, tapi hujan memang jelas tergambar bersama cinta . Hujan telah mengajarkan banyak hal padaku tentang warna-warni cinta.
Cerita Bersambung Martin Siregar Bagian 5 Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom“Tigor.., tak usah kau bingung. Nanti aku jumpakan kau dengan Om (adik mamaku) yang doktor teologi,” kata Susanti, “beliau mungkin nasibnya persis sama dengan DR Pardomuan.
Tigor tersentak. “Persis sama? macam mana maksudmu?” Mikail juga terkejut mendengar ucapan Susanti.
“Gagasannya tentang pelayanan jemaat sering ditentang oleh pendeta-pendeta. Tapi, dia tak perduli, dia tetap berkotbah dan selalu mendapat simpatik dari jemaat. Dia tidak mengundurkan diri dari hirarki gereja. Jadi tidak macam DR Pardomuan yang meninggalkan perguruan tinggi.” Susanti tampaknya kenal betul dengan Om-nya yang doktor teologia.
“Sekarang dia tugas di mana?” Tampak hasrat Mikail ingin jumpa dengan Om-nya Susanti.
“Oh,…dia tugas di Propinsi Kepriano. Bulan ini akan datang berkunjung ke sini, karena ada keponakannya yang melangsungkan perkawinan. Kalian todong saja dia untuk diskusi panjang, Pasti dia bersedia,” kata Susanti sambil berdiri menuju dapur membuat minum untuk Tigor dan Mikail.
“Okelah kalau begitu. Segera kirim surat untuk beliau mengatakan maksud kita kalau Om itu datang ke sini.” Tigor lega, beban beratnya tak dipikul oleh dirinya sendiri. Sudah ada Om-nya Susanti yang bersedia membantunya memikul beban berat tersebut.
Keluarga DR Pardomuan adalah orang kaya berat sejak tujuh keturunan sebelumnya. Sehingga, profesi dosen yang ditinggalkannya tidaklah menggangu biaya hidup keluarga. DR Pardomuan sekarang hidup dari bunga deposito bank setiap bulan warisan keluarga. Beliau berhasrat juga berjumpa dengan bapak Pendeta DR Tumpak Parningotan (Om-nya Susanti). Di ruang meditasi samping rumah utama DR Pardomuan, Tigor sampaikan kabar baik dari Susanti. Setelah mendengar kabar baik itu, DR Pardomuan mengalihkan pembicaraan. “Sekarang ruang meditasi kita masih sunyi dikunjungi orang. Mungkin masih sibuk dengan urusan tahun baru bersama keluarga. Tapi, saya khawatir tahun ini semakin berkurang anggota FDP,” kata DR Pardomuan.
“Ah..! tak usah khawatir Pak,..kapal tetap bisa berjalan walaupun hanya tinggal nahkodanya saja di dalam kapal.” Mikail memberi semangat DR Pardomuan. “Forum kita harus tetap berjalan walaupun hanya tinggal kita bertiga anggotanya.” Mikail melanjutkan ucapannya.
“Ah.., sudahlah. Tolong tutup pintunya, aku mau latihan pernafasan,” kata Tigor kepada Mikail.
Duduk layaknya seorang pendeta Budha dengan mata terpejam, Tigor mulai latihan pernafasan. Sementara DR Pardomuan dan Mikail duduk di teras depan menikmati kopi hangat sore hari. Sedangkan istri DR Pardomuan, sedang kedatangan tamu, mengintip mereka dari jendela rumah utama. Sang tamu adalah ibu tetangga yang merasa heran melihat kegiatan mereka.
“Apa mereka tak capek dengan cara hidup yang sangat serius,” kata sang tamu.
“Saya pun heran dan sering kesal melihat suami saya menghabiskan hari-harinya hanya untuk meditasi sepanjang waktu. Tapi, saya tak kuasa melarang suami saya, karena saya yakin batinnya tersiksa melihat realitas perguruan tinggi yang sangat bobrok. Makanya saya biarkan saja dia heboh melayani kedua murid setia yang goblok ini. Hua…ha…ha….” Mereka tertawa melihat DR Pardomuan dan Mikail sedang ngobrol serius. “Anak saya, saya larang mengikuti kegiatan ayahnya. Saya takut nanti anak saya sudah puas hidup seadanya seperti ayahnya. Untuk apa hidup seadanya kalau kesempatan hidup mewah masih terbuka lebar. Hua…ha…ha..” Kembali lagi istri DR Pardomuan tertawa puas.
Arben Rizaldi, anak tunggal DR Pardomuan, muncul dari kamar. Rupanya dia dari tadi mendengar isi pembicraan ibunya dengan ibu tetangga. “Semua anak muda sedang mendaki gunung yang puncaknya berbeda,” katanya. “Ada yang puncak gunungnya hidup kaya berlimpah ruah. Ada yang puncak gunungnya hidup seperti selebrity. Tapi, tak ada anak muda mendaki gunung yang puncaknya “kekonyolan” seperti Tigor dan Mikail. Hua..ha..ha..” Sekarang ketawa mereka bertiga semakin deras. DR Pardomuan dan Tigor tak sadar bahwa mereka menjadi objek pembicaraan. Sekaligus objek bahan tertawaan. Mereka tetap saja dengan muka ketat berbeban berat mendiskusikan soal-soal yang mendasar dalam hidup ini.
Tibalah waktunya Pendeta DR Tumpak Parningotan berada di rumah Susanti. Hanya basa basi sebentar saja, Tigor langsung undang tamu penting tersebut berkunjung ke rumah DR Pardomuan. Bukan ke rumah utama, tapi ke ruang meditasi.
“Inilah gubuk tempat kami selalu berkumpul,” kata Mikail merendah.
“Seperti rumah sendiri, mau makan atau minum tinggal ambil dari rumah utama. Mau bermalam bermeditasi atau bermalas-malasan sendirian juga boleh nginap di sini. Biasanya kami ada 6- 7 orang yang sering ke sini,” sambung Tigor.
“Ah… sebuah tempat yang menyenangkan. Saya rasa aura saya dingin bahagia berada di sini. Kiranya ini pertanda bahwa kita dapat berkawan dalam tempo yang panjang. Kiranya pula, itulah harapan kita bersama.” Dari bahasa serta intonasi suara yang lembut dan kalimat-kalimat yang dipakai Pendeta DR Tumpak Parningotan kelihatan jelas sekali dia adalah rohaniawan yang rendah hati.
Ibu dan Arben Rizaldi anak sulung DR Pardomuan kembali lagi melakukan kebiasaan mereka. Mengintip kegiatan sambil menyimak ucapan-ucapan gerombolan ayahnya di ruang meditasi.
“Kok macam pengusaha kaya raya tamu mereka sekali ini,” kata Ibu.
“Mungkin mereka sudah mulai sadar bahwa hanya Yesus Kristus saja yang bisa hidup dengan makan roti saja. Sedangkan manusia biasa butuh baju yang cantik, makanan yang lezat di tempat yang bergengsi,” Arben tampak terkejut melihat tamu mereka.
“Ah! mana mungkin orang-orang yang sudah keras membatu seperti mereka dapat merubah falsafah hidupnya.” Ibu membantah Arben Rizaldi.
“Atau mungkin mereka sedang menghasut orang kaya raya supaya meninggalkan kekayaannya dan ikut bergabung bersama mereka yang sudah gila.”
“Huuss !! .. diam kau! Mari kita dengar isi pembicaraan mereka.”
Lalu Ibu dan Arben diam senyap mengkonsentrasikan kupingnya untuk mendengar isi percakapan ayah dan tamu barunya.
“Saya tidak percaya kerajinan orang ke gereja sebagai jaminan orang bisa masuk ke kerajaan Allah,” kata Pendeta Dr Tumpak Parningotan. Mendengar ucapan tersebut Arben segera memberi komentar “Oh..rupanya pakaian dan penampilannya saja seperti pengusah kaya raya. Ternyata isi kepala tamu baru itu sama gilanya dengan mereka. Hi…hi…hi…” Suara sayup volume rendah kedengaran lembut. Kemudian ibu dan Arben meninggalkan tempat, sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sudah lelah kuping ibu dan Arben mendengar nada-nada suara kaum pemberontak norma sosial.
Gambar diunduh dari meme.zenfs.com“Lihatlah sungai yang mengalir itu,” kata sahabatku suatu hari di bulan Agustus tahun 1930. Saat itu kami sedang duduk di tepi sungai yang memisahkan desa kami dengan desa sebelah. Aku mengalihkan perhatianku dari sekumpulan anak seusia kami yang berenang-renang dengan gembira—dengan menggunakan batang bambu milikku dan sahabatku sebagai pelampung—lalu memandang wajah sahabatku. Mata cokelatnya bersinar terang ketika aliran sungai memantulkan cahaya matahari ke wajahnya di siang yang terik itu. Matanya indah, namun lebam kemerahan di kelopak mata kanannya membuat bola mata kanannya yang indah itu sedikit tersembunyi.
“Pada tahun 1582, Oda Nobunaga memerintahkan Toyotomi Hideyoshi untuk mengambil alih Benteng Takamatsu1 ,” katanya lagi dengan ekspresi serius. Aku tersenyum saat mendengarnya mulai menceritakan lagi tokoh-tokoh yang dikaguminya. “Toyotomi Hideyoshi dibekali 20.000 pasukan, sementara pihak lawan hanya mempertahankan bentengnya dengan lima ribu samurai.” Dia sudah akan melanjutkan, tapi aku menyelanya.
“Tentu saja Toyotomi Hideyoshi menang,” kataku. “Itu kemenangan yang mudah.”
Sahabatku tersenyum. “Dia hampir mengalami kekalahan,” katanya.
Aku terkejut mendengarnya.
“Benteng Takamatsu terlindung oleh sungai, danau, dan rawa di sekelilingnya. Itu menghambat pergerakan pasukan Toyotomi Hideyoshi. Ketika prajurit dari pihaknya mulai berjatuhan, Toyotomi Hideyoshi menyadari bahwa taktik biasa tak akan berguna. Dia pun memutar otak, dan mendapatkan sebuah pencerahan tentang bagaimana cara membuat kekuatan yang dimiliki Benteng Takamatsu menjadi kelemahannya. Jika sungai melindungi Benteng Takamatsu, mengapa dia tidak menjadikan sungai itu sebagai senjata? Dia pun membangun sebuah bendungan, membelokkan aliran sungai, dan menghancurkan benteng itu dengan serangan air. Benteng Takamatsu akhirnya berubah menjadi danau buatan dan menyerah tidak lama setelah itu.”
Aku mendengar ceritanya dengan mata berbinar dan mulut menganga. Augusto selalu menceritakan kisah-kisah hebat padaku, karena saat itu aku belum bisa membaca. Tapi, di antara banyak tokoh hebat yang diceritakannya padaku, Toyotomi Hideyoshi telah menjadi semacam idola bagi kami. Terutama bagiku, karena aku menyukai beberapa kemiripan kami. Kami sama-sama merupakan anak petani miskin, sama-sama ditinggalkan satu orang tua (meskipun Toyotomi Hideyoshi ditinggalkan ayahnya sementara aku telah ditinggal ibuku), dan sama-sama bertubuh pendek.
Augusto mengalihkan wajahnya dariku dan menatap sekumpulan anak laki-laki yang masih berenang dengan tatapan penuh kemarahan. Aku mengikuti jejak Augusto dan menatap kumpulan anak-anak itu. Mereka dulu temanku. Namun, setelah aku memutuskan berteman dengan Augusto, mereka mulai menjauhiku. Mereka bahkan memukuliku saat aku mulai membela Augusto ketika mereka mengeroyok Augusto yang, meskipun tubuhnya lebih tinggi dari kami anak-anak pribumi, nyalinya tidak ada seujung kuku kami.
Hari itu mereka juga mengeroyokku dan Augusto. Awalnya kami berdua turun ke sungai dengan suka cita sambil membawa sebatang bambu yang telah dipotong oleh ayahku. Namun, belum sempat kami menggunakan potongan bambu itu sebagai pelampung, sekumpulan anak nakal itu menghadang kami. Mereka merebut paksa bambu kami dan menghajar kami ketika—dengan keras kepala—kami mencoba mempertahankan potongan bambu yang berharga itu.
Setelah itu aku dan Augusto hanya bisa duduk di tepi sungai dan memandang kebahagiaan anak-anak itu dengan iri. Augusto berdiri dan berjalan pulang beberapa saat kemudian. Aku mengikuti di belakangnya.
“Toyotomi Hideyoshi mampu menjadikan kekurangannya menjadi kelebihan, dan kelebihan lawan menjadi kekurangan,” katanya. Menyadari dia masih melanjutkan ceritanya, aku berlari kecil di sampingnya untuk menyamakan langkah kami, seperti seekor anjing yang setia. “Aku pun, suatu saat nanti, ingin sepertinya.”
Aku tersenyum saat menyadari bahwa sebenarnya dia tengah berbicara tentang anak-anak itu.
“Tentu saja kau bisa,” kataku dengan lembut; masih tersenyum.
Wajah Augusto sedikit lebih cerah setelah mendengarnya. Dia menyeringai, tapi lalu meringis ketika rasa sakit menyerang bibirnya yang robek. Aku pun tertawa.
“Berhenti tertawa!” bentaknya, tapi aku tahu dia tidak sungguh-sungguh, maka aku tidak menghentikan tawaku. Baru kusadari bahwa wajahnya yang lebam di sana-sini membuatnya tampak konyol. Augusto menatapku sambil mendengus. Tanpa peduli rasa sakit yang menyerang bibirnya, dia pun ikut tertawa bersamaku, sambil meringis dan memegangi lebam-lebam di wajahnya.
***
Penjajahan Portugis berakhir pada abad ke 16. Masa pendudukan Belanda dimulai. Setelah kekalahannya melawan Belanda, tidak semua bangsa Portugis meninggalkan Bumi Nusantara. Banyak yang memilih untuk menetap di beberapa daerah, sementara sisanya sengaja dibawa ke Batavia sebagai tawanan perang setelah VOC menaklukan Malaka pada tahun 1641, termasuk leluhur Augusto.
Augusto dan ayahnya datang ke desaku sekitar dua tahun sebelum hari ketika kami duduk di tepi sungai dengan lebam di sana-sini. Desaku berada jauh di pedalaman gunung dan sangat sulit diakses dari luar, sehingga, meskipun terdapat beberapa rumah orang Belanda di desa yang lebih rendah, hari ketika Augusto dan ayahnya datang adalah hari pertama bagiku dan penduduk desa melihat orang-orang dengan kulit terang. Kabar tentang orang-orang kulit putih yang mengambil alih tanah rakyat dan memaksa pribumi bekerja untuk mereka telah mencapai desa jauh sebelum Augusto dan ayahnya, João de Fretes, tiba. Hal itu membuat mudah bagi kami untuk salah paham dan mengira bahwa ayah Augusto adalah salah satu dari orang-orang kulit putih biadab itu.
Ayah Augusto membeli tanah dari seorang tuan tanah di desa kami dan mendirikan rumah di sana dengan meminta bantuan penduduk desa. Ayahku termasuk salah satu orang yang membantunya mendirikan rumah yang kelak akan menjadi rumah terindah dan termegah di desa kami.
Suatu malam seseorang mengetuk pintu rumah ayahku yang reyot. Aku dan ayahku sedang bersiap-siap tidur saat itu. Begitu mendengar suara ketukan di pintu, dengan sigap dan secepat kilat aku melompat dari dipan dan berlari untuk membuka pintu itu, karena jika seseorang di balik pintu itu mengetuk lebih lama dan lebih kuat, tak diragukan lagi pintu itu akan lepas dari engselnya.
Aku membuka pintu itu, terkejut mendapati dua orang asing berkulit putih sedang berdiri di depanku, satu orang dewasa sedangkan yang lainnya adalah anak-anak. Aku menatap mata cokelat dari orang kulit putih yang masih anak-anak, yang kelak kuketahui bernama Augusto de Fretes. Dia menatapku sekilas, tapi lalu menunduk. Ayah telah berdiri di belakangku dan membuka pintu lebih lebar agar bisa melihat siapa tamu yang datang. Aku melihat keterkejutan yang sama dari matanya saat dia melihat kedua tamunya.
Malam itu ayah Augusto mengutarakan keinginannya untuk meminta bantuan ayahku mendirikan rumahnya, sementara aku dan Augusto hanya duduk diam. Malam itu pun, karena hari telah larut dan terlalu berbahaya untuk berjalan menerobos kegelapan di tempat yang didominasi pepohonan, ayahku menawarkan kepada ayah Augusto untuk menginap. Ayah Augusto menyetujuinya. Aku dan Augusto hanya diam, beberapa kali kami saling mencuri pandang. Bahkan saat itu pun, ketika kami hanya duduk diam dan saling mencuri pandang, aku tahu kami akan menjadi teman suatu hari nanti.
Hari itu tiba kurang dari setahun kemudian, ketika rumah besar itu selesai dibangun, dan mereka berdua meninggali rumah barunya. Entah apa yang dipikirkan ayah Augusto, tapi saat itu dia memintaku dan ayahku untuk tinggal bersama mereka di rumah besarnya. Ayah meminta waktu untuk memikirkannya. Dia tidak mendiskusikannya padaku, tapi keesokan harinya kami telah tinggal di sebuah kamar di rumah besar itu. Sejak itu ayahku menjadi pelayan di rumah besar itu, mengubah statusku dari anak seorang petani miskin menjadi anak seorang pelayan di rumah besar. Aku tidak tahu mana yang lebih baik dari keduanya.
Aku pun mulai menjalankan tugas sebagai anak pelayan setelah itu. Pada pagi hari, aku menghidangkan sarapan, membersihkan rumah, dan menyeterika pakaian Augusto dan ayahnya. Sementara aku bekerja, Augusto hanya duduk di dekatku sambil membaca buku-buku milik ayahnya. Aku tahu dia ingin berbicara denganku dan aku pun ingin bicara dengannya. Akan tetapi, tidak ada satu pun dari kami yang bersedia memulainya.
“Kau tahu siapa sebenarnya yang ingin kita tinggal di tempat ini?” tanya ayahku suatu malam. Kami berbagi selimut di kasur yang sama. Aku membuka mataku dengan enggan dan melihat wajah Ayah yang hanya terlihat sebagai siluet hitam. “Augusto yang menginginkannya,” katanya. “Dia tidak bisa membayangkan anak sekecil dirimu tidur kedinginan setiap malam.” Ayah tertawa sesaat, sementara aku terdiam sambil memikirkan kata-katanya. “Ya, rumah kita memang punya banyak lubang, angin malam bisa menerobos masuk dengan leluasa.” Ayah mengubah posisi tidurnya sehingga wajahnya bisa menghadap wajahku. “Tuan Fretes yang menceritakannya padaku tadi pagi.” Ayah lagi-lagi tertawa kecil. “Menurutku, mungkin Tuan Augusto hanya ingin berteman denganmu,” katanya. Selama beberapa saat Ayah terdiam, sehingga hanya suara nafas kami yang terdengar kala itu, sementara aku meresapi kata-katanya. “Selain itu… bukankah di sini sangat nyaman?” Ayah memelukku.
Malam itu aku memikirkan semua kata-katanya. Jantungku berdebar-debar memikirkan, jika esok aku harus menghadapi Augusto, apa yang harus kukatakan padanya.
Aku menuangkan teh untuk Augusto keesokan harinya. Sementara Augusto menyeruput teh itu dengan perlahan, aku tetap berdiri mematung di sisinya.
“Apakah terlalu panas?” tanyaku saat dia meletakkan cangkir itu di meja. Augusto memandangku dengan wajah memerah. Dia menggeleng.
“Apakah terlalu manis?”
Augusto tidak menjawab. Aku melihat Ayah dan Tuan Fretes di seberang ruangan, mereka memandang kami berdua dengan senyuman tipis di bibir mereka. Ketika kembali mengalihkan pandangan ke Augusto dengan gugup, aku terkejut melihatnya tengah tersenyum.
“Teh ini tidak terlalu panas maupun terlalu manis,” kata Augusto. Itu pertama kalinya aku mendengar suaranya. Aku membalas senyumannya.
“Terima kasih,” kata kami bersamaan, lalu mendengus tertawa sedetik kemudian.
***
Asap membubung tinggi dari bagian belakang kediaman Tuan Fretes. Bau asap menyebar di udara. Aku dan Augusto berjalan terseok-seok dengan wajah penuh memar, senyuman menghilang dari wajah kami, sementara rasa sakit semakin terasa. Sesekali Augusto mendesis menahan sakit, begitu pun aku. Beberapa saat kemudian kami tiba di belakang kediaman Tuan Fretes, di mana Ayah dan Tuan Fretes sedang membakar sampah-sampah kering. Api berwarna jingga berkobar-kobar di hadapan mereka.
“O Pai2 ,” panggil Augusto. Tuan Fretes menoleh, terkesima beberapa saat melihat anak dan putra pelayannya yang sedang mendekat dengan wajah lebam. Aku mengikuti di belakang Augusto, mencoba melirik Ayah, dan melihatnya sedang menggelengkan kepala sambil menahan cengiran.
“Berkelahi lagi?” tanya Tuan Fretes. Augusto mengangkat bahu sambil mengambil selembar daun kering yang menggelepar di sisi kakinya dan membuangnya ke dalam api menyala-nyala.
Aku menghampiri Ayah dan mengambil sapu lidi yang ada di tangannya. “Aku akan menggantikan Ayah.”
Setelah itu Ayah dan Tuan Fretes meninggalkanku dan Augusto yang termenung menatap api dengan tatapan merana.
“Saat rumahmu terbakar oleh api, tanpa memikirkan api itu berasal dari dalam atau dari luar rumah, kita pasti akan berusaha memadamkannya,” kata Augusto.
“Kewajiban kita untuk mencegah perang terjadi. Namun, jika perang itu benar-benar terjadi, siapapun yang memulainya, kita harus mempertahankan diri,” kataku.
“Kau mengingatnya dengan cukup baik,” Augusto pasti akan tersenyum beberapa saat sebelum itu. Tapi ketika rasa sakit akibat berkelahi itu semakin terasa, kami berusaha melakukan gerakan bibir sesedikit mungkin.
“Itu kata-kata Thomas Jefferson , bukan?” tanyaku; nyaris tanpa menggerakkan bibir.
“Hm,” sahutnya dengan ekspresi datar.
Malam harinya, di kamar Augusto, setelah seorang wanita tua dari desaku merawat luka-luka kami, aku dan Augusto sibuk membicarakan rencana kami memadamkan “api” di antara kami dan anak-anak yang dulunya adalah teman-temanku. Kini masalahnya, bagaimana cara menemukan hal yang menjadi kelemahan anak-anak itu, seperti yang dilakukan Toyotomi Hideyoshi pada Benteng Takamatsu?
Berbagai cara dan ide bermunculan, namun tak ada satu pun yang akan terealisasi dengan benar. Dengan putus asa, Augusto melempar-tangkap sebuah buku tebal bersampul kulit yang akan dibacakannya untukku. Augusto melempar buku itu sekali lagi, tepat ketika pintu kamar terbuka. Aku menoleh untuk melihat siapa yang akan masuk; Augusto mengerang dengan tiba-tiba. Aku tidak menoleh, tapi, dari suara yang dihasilkan, aku menduga buku dengan sampul kulit itu telah menimpa kepalanya.
“Aku lupa membicarakan ini sebelumnya, tapi besok aku akan ke kota,” kata Tuan Fretes. Dia sudah duduk di ujung ranjang Augusto. “Apakah ada yang kau inginkan untuk hari ulang tahunmu?”
Augusto tidak menjawab, terlihat berpikir. Tuan Fretes menatapku, “Apakah ada yang kau inginkan?”
Aku berpikir sejenak, lalu ide itu melintas di kepalaku. Aku melompat mendekat pada Augusto dan membisikkan sesuatu di telinganya.
“Aha!” dia berteriak keras beberapa detik kemudian, lalu meringis kesakitan saat luka yang telah mengering di bibirnya kembali pecah.
***
Rencana kami berhasil dengan baik. Beberapa hari setelah pergi ke kota, Tuan Fretes pulang dengan membawa berbagai barang. Dia meletakkan karung kecil di hadapan kami ketika Augusto sedang bersamaku di dapur untuk membuat teh. Tanpa mengatakan apapun, Tuan Fretes mengangkat alis dan pergi. Aku dan Augusto saling bertukar pandang, lalu, dengan tidak sabar, menyerbu karung itu dan membukanya. Kami menahan nafas saat melihat lebih dari sepuluh gasing di dalam karung itu.
Teh di dapur segera terlupakan. Aku dan Augusto, tanpa berbicara satu sama lain, berjalan tergopoh-gopoh menuju sungai dengan menggotong sekarung gasing. Seperti dugaan kami, anak-anak itu sedang bermain di sungai. Aku dan Augusto terhenti. Memandang anak-anak itu dengan jantung berdebar-debar karena dua alasan. Pertama, karena gelisah memikirkan apakah rencana itu akan berhasil. Kedua, karena kami takut pulang dengan lebam-lebam di wajah kami.
Ketika salah satu dari mereka menyadari keberadaan kami, insting mereka memerintahkan untuk menghampiri kami. Dengan wajah galak, Bogel, yang terbesar di antara mereka, merebut karung di tanganku dan Augusto.
“Apa ini?” tanyanya dengan suara kasar. Begitu membukanya, wajahnya seketika merona. Aku mengenali ekspresi penuh damba pada wajahnya saat itu. Bagaimanapun, aku lebih lama berteman dengannya dari pada dengan Augusto.
“Itu punya kalian,” kata Augusto dengan suara gemetar. Anak-anak itu menatap Augusto dengan ekspresi tidak percaya. “Ayahku yang membelikannya. Ambillah,” kata Augusto. Aku heran dengan suaranya yang terlalu gemetar. Maksudku, aku tidak mengira dia akan setakut itu. Saat menoleh untuk menatapnya, aku menyadari bahwa itu bukanlah rasa takut.
“Aku selalu ingin berteman dengan kalian,” katanya. Suaranya bergetar karena emosi yang tidak terduga. “Tapi kenapa kalian selalu memperlakukanku dan dia dengan kejam?”
Bogel terlihat kehilangan kata-kata. Dia menggeleng lalu berkata, “Tapi kau kulit putih! Kau penjajah!”
“Aku bukan penjajah!” teriak Augusto. Setelah itu dia tidak mengatakan apapun dan menangis, bahkan ketika aku membimbingnya pulang.
Kami duduk di teras rumah ketika senja sore itu membuat bayang-bayang pepohonan memanjang, sehingga rumah terlihat lebih gelap.
“Aku bahkan bukan kulit putih,” kata Augusto dengan mata sembab. “Aku bangsa Kaukasian.”
“Apakah itu berbeda?” tanyaku.
Augusto mengangguk. Bogel dan anak yang lain muncul tiba-tiba tanpa kami sadari sebelumnya. Bogel terlihat salah tingkah, tapi lalu berkata kepada Augusto, “Kau serius tentang gasing-gasing itu?”
Augusto berdiri, menghampiri mereka, lalu mengangguk.
“Terimakasih,” kata Bogel, diikuti anak-anak yang lain.
“Apa kita teman sekarang?”
Bogel menunduk malu, lalu mengangguk. Augusto memeluknya seketika. Aku tidak ingin kehilangan momen itu dan berlari menghampiri mereka untuk memeluknya. Anak-anak yang lain juga memeluk kami setelah itu.
Senja itu, api di antara kami berhasil dipadamkan. Aku tahu sebenarnya mereka adalah teman-teman yang baik. Hanya saja, sebelumnya, mereka tidak ingin membuka diri kepada orang yang terlalu berbeda. Hal sederhana seperti gasing—atau malah tangisan Augusto?—telah membuka diri mereka kepada Augusto. Sebagai hadiah atas ideku, Augusto mengajariku membaca untuk pertama kalinya malam itu.
***
Suatu hari di bulan Januari tahun 1940, Tuan Fretes meninggal. Ayahku meninggal beberapa hari setelahnya. Bahkan, dengan keberadaan Augusto di rumah besar itu, semuanya tetap terasa begitu kosong. Seperti ada sesuatu yang salah.
Kami duduk di teras rumah pada senja setelah pemakaman ayahku, persis seperti sepuluh tahun sebelumnya, ketika kami berusia sembilan tahun. Senja itu, Augusto mengutarakan keinginannya untuk pergi dari tempat ini.
“Terlalu banyak kenangan di tempat ini,” katanya. “Beberapa hari terakhir aku hanya menutup mata tanpa tidur di malam hari, dengan harapan, ketika membuka mata, kita akan kembali ke masa-masa itu.”
Aku tersenyum. “Mungkin malam ini aku pun akan begitu.”
“Aku berpikir,” katanya dengan suara berbisik, “apakah kau akan baik-baik saja.” Dia terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan, “Apakah tidak apa-apa kalau aku pergi meninggalkanmu?”
Aku menatap wajahnya, dan dia menatap wajahku. Aku tahu, tidak ada yang bisa kukatakan untuk mencegahnya pergi. Seminggu setelah itu, aku menatap lekat-lekat mata cokelat Augusto untuk terakhir kalinya. Saat-saat itu begitu emosional dan dia memelukku erat-erat.
“Selama ini aku tidak pernah menganggapmu sebagai pelayan,” katanya. “Kau adalah saudaraku.” Dia melepas pelukannya, mencengkeram bahuku erat-erat. Dia tersenyum, tapi aku melihat matanya berkilau oleh air mata. “Semua bukuku kini milikmu. Kau bisa membaca kisah Toyotomi Hideyoshi dengan leluasa sekarang.”
Aku tersenyum tanpa berkata-kata, karena aku tahu, mengucapkan sepatah kata saja akan membuatku menangis.
“Selamat tinggal, saudaraku,” katanya sambil berjalan menjauh.
***
Ada kerinduan yang menyeruak di antara hujan petang itu, di bulan Februari tahun 1941. Aku berdiri di depan jendela di kediaman baruku di Djodipan, Malang. Tetes-tetes hujan sebesar butir peluru memberondong tanah. Tangan kananku menggenggam selembar kertas, sepucuk surat dari Augusto, singkat, tapi sanggup menggugah suasana hatiku menjadi tidak menentu.
Tepat sehari setelah kepergian Augusto pada bulan Januari tahun 1940, aku memutuskan untuk pergi dari tanah kelahiranku. Sebelum itu, aku meminta Bogel menjaga dan merawat rumah Tuan Fretes dan meninggali kamarku. Di Malang-lah pada akhirnya aku memilih kehidupan baruku. Di kota itu, aku bekerja sebagai seorang juru cetak di sebuah percetakan surat kabar dan berbagi rumah dengan Kromo (dia bekerja di Radio Goldberg ). Pekerjaanku cukup merepotkan, karena kala itu percetakan-percetakan masih menggunakan handset; huruf demi huruf harus disusun membentuk kata, kata per kata disusun membentuk kalimat di sebuah permukaan. Setelah seluruh alinea tersusun, aku akan memasukkannya ke mesin cetak dan mulai mencetak lembar demi lembar; harus berhati-hati agar tanganku tidak terjepit mesin cetak saat meletakkan selembar kertas dan mengambilnya. Jika pencetakan telah selesai, aku akan melepas huruf-huruf itu dan menyimpannya untuk kemudian hari. Lebih dari setahun aku menjalani hidup di tempat ini hingga pada suatu siang di bulan Februari tahun 1941, Bogel—terlihat lebih hitam dan kurus—tiba-tiba muncul di kediamanku untuk mengantarkan sepucuk surat.
Aku membukanya, isinya cukup singkat. Augusto memberitahuku bahwa saat itu dia tinggal di sebuah kota di Jepang. “Bukan kota di mana istana Toyotomi Hideyoshi berada,” tulisnya. “Tapi aku akan mengunjunginya suatu hari nanti.”
Senyum bahagia mengembang di bibirku. Aku menuliskan balasan untuknya, mengirim surat itu keesokan harinya, dengan harapan balasan darinya akan meluncur dengan cepat mengarungi lautan. Sejak itu, setidaknya dalam setahun akan selalu ada sepucuk surat darinya untukku.
***
Pada 7 Desember 1941 pagi, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang menyerang Honolulu, Hawai. Serangan ini dikenal dengan Serangan Pearl Harbor dan memicu pecahnya Perang Pasifik. Dengan menggunakan taktik Jerman, Jepang melancarkan perang kilat ke Asia Tenggara. Negara-negara jajahan Barat jatuh ke genggaman Jepang; Nusantara jatuh ke tangan Jepang pada tahun 1942, dan, pada 8 Maret 1942, Jepang memasuki Malang.
Jepang mengeluarkan sebuah pengumuman yang intinya berupa larangan untuk mencetak segala hal yang berhubungan dengan pengumuman atau penerangan, kecuali untuk badan-badan yang mendapatkan izin. Dengan peraturan baru itu, penerbitan tempatku bekerja ditutup dan aku kehilangan pekerjaan. Kromo sudah lama kehilangan pekerjaannya, tapi dia beruntung karena pada akhinya bekerja di eks-radio Belanda yang diperbaharui menjadi Malang Hosokyokai6 setelah menyatakan bersedia mendukung alat propaganda Jepang itu.
Kromo dan rekan-rekannya melakukan kegiatan “bawah tanah”—dengan melakukan observasi siaran radio asing—memasuki tahun 1944 untuk menggali informasi tentang apa yang terjadi di dunia luar. Mereka harus memperhitungkannya dengan tepat karena, jika tidak, mereka akan bernasib sama dengan seorang wartawan Domei7 yang dibunuh karena dituduh mendengarkan siaran radio musuh. Melalui radio-radio asing itu, kami mengetahui kejadian-kejadian mendebarkan di awal Agustus 1945.
Saat itu aku baru saja memasuki rumah ketika Kromo mengatakan sebuah kabar yang membuatku membeku selama beberapa saat. Sebuah bom atom telah dijatuhkan Amerika di atas Hiroshima pada tanggal 6 Agustus. Aku ingat tubuhku yang menjadi dingin dan membeku. Suara dentuman bom itu seakan terdengar di telingaku, membuatnya berdenging untuk beberapa saat.
Hari itu juga, dengan jantung berdegub kencang, aku menulis surat untuk Augusto. Aku bersepeda dengan kencang menyusuri Pecinan8 menuju Kantor Pos dan Tilgram9 di Jalan Kayutangan. Mendekati Alon-alon, terlihat gedung-gedung megah yang mengelilinginya, di antaranya Javasche Bank10 , Palace Hotel11 , Gedung Societeit Concordia12 , sebuah gereja bergaya Neo Gothik, gedung Asisten Malang Residen13 , dan Kantor Pos dan Tilgram sendiri. Aku menghentikan sepedaku yang melaju begitu kencang di depan Kantor Pos dan Tilgram, membuat roda depan sepedaku berdecit nyaring. Begitu masuk ke dalamnya, aku menjalani beberapa prosedur, dan mengirim surat itu; berharap Augusto masih akan membaca suratku.
***
Hari ini, ketika aku berdiri kembali di kediaman Tuan Fretes, adalah bulan Agustus tahun 1957, dua belas tahun sejak surat terakhir yang kukirimkan untuk Augusto, sahabatku, tak berbalas. Bagiku, ini adalah waktu yang cukup lama untuk membuktikan satu hal: bahwa Augusto telah tiada, tepat di hari ketika bom atom dijatuhkan di Hiroshima.
Aku berjalan ke belakang rumah yang pernah megah ini, dan melihat halaman belakang. Samar-samar, aku seakan mendengar suara dua langkah kecil yang terseret-seret, lalu suara Augusto yang memanggil ayahnya, “O Pai.”
Tuan Fretes menoleh, di sebelahnya berdiri ayahku yang menopangkan berat tubuhnya pada gagang sapu lidi. Aku dan Augusto muncul dari sesemakan dengan wajah lebam di sana-sini dan mendekati api. Aku menatap mata cokelat gelap milik Augusto dengan haru, sekali lagi. Mata itu memantulkan api yang berkobar di hadapan kami, terlihat menyala-nyala, lalu aku menghampiri sahabatku yang telah lama pergi dan memeluknya untuk melepas rindu.
Kenzarah Zhetira Alam adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Jakarta, Penulis Novel “Kick-Off!!!”
Catatan: 1. Berdasarkan The Swordless Samurai Pemimpin Legendaris Jepang abad XVI oleh Kitami Masao, diedit oleh Tim Clark. DIterbitkan di Indonesia oleh Zahir Books.
2. Pai adalah Ayah; dalam bahasa Portugis.
3. Thomas Jefferson adalah Presiden ke-3 Amerika Serikat. Masa jabatan: 1801-1809.
4. Radio Goldberg, berada di Toko Goldberg, sekarang Jalan Basuki Rahmat. (http://www.rri-malang.com/history/index.html)
5. Serangan Jepang ke Honolulu berdasarkan sumber Wikipedia.
6. Terletak di Jalan Betek, sekarang Jalan Mayjen Pandjaitan.
7. Bernama Koesen, pembunuhnya bernama Kenpei. Berita lain menyebutkan Koesen dibunuh karena menyembunyikan buronan Jepang. Sumber: http://www.stikosa-aws.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=157:sejarah-pers-indonesia-pada-masa-penjajahan&catid=138:artikel&Itemid=107
8. Sekarang Jalan Pasar Besar.
9. Sekarang sudah dibongkar.
10.Sekarang Bank Indonesia.
11.Sekarang Hotel Pelangi.
12.Sudah runtuh, di atasnya dibangun pertokoan.
13.Terletak di selatan Alon-alon, sekarang sudah dibongkar.
Gambar diunduh dari health.detik.comAdalah seorang bocah yang senang bertanya pada Ayahnya ketika menurutnya ada sesuatu yang janggal. Suatu hari rumahnya didatangi pengemis dan bocah itu melemparkan uang kepada pengemis itu. Sang Ayah pun menegurnya. Lalu bocah itu membela diri, katanya,”Ayah, orang itu pemalas. Badannya masih sehat tapi mengemis.”
“Aku menyuruhmu memberi uang dengan cara yang baik, supaya ia belajar malu. Kalau kamu ingin menjadi anak baik, lakukan dengan cara yang baik.”
Suatu hari datanglah penjaja makanan keliling ke rumah mereka. Oleh Ayahnya, si anak disuruh membeli. Tetapi karena sebelumnya ia pernah membeli dan makanan itu tidak enak, si anak protes,”makanannya tidak enak Yah.”
Kata sang ayah,”belilah. Lama-lama ia akan membuat makanan yang enak untukmu. Ia menjual makanan karena tidak mau menjadi pengemis yang malas itu.”
Sang anak pun terdiam.
Ketika dewasa, bocah itu paham maksud ayahnya bahwa memberi tidak bisa dengan cara melempar dan ketulusan perbuatan lebih penting dari nasehat terbaik. Lalu ia pun rindu jajanan bocah yang dulu sempat dikatainya tidak enak.