Wanita Itu Bernama Marida #9

Cerbung Willy Wonga

 

“Demikian kalian bukan lagi dua melainkan satu…” suara Pastor bertalu-talu dalam telingaku. Aku tahu artinya, lalu di mana aku harus berada kini? Aku merintih dalam hati. Aku merasa ditinggalkan.

Suara musik di pagi buta menyingkap kantuk. Kendati kuap masih tergantung pada bibir, aku pasang telinga. Aku kenal aliran melodi serupa; yang mengalir bagai sungai tak berbatu, eine kleine nachtmusik. Musik favorit milik segitiga cinta. Andre menyukai Mozart dan Bethoven dan di masa lalu, kala pagi berdenyut dia putarkan musik itu. Seraya kami bertiga merayap bangun dari sarang berkasur.
Mungkin Mozart-lah yang memikatku lalu Andre menyekolahkan aku di sekolah musik sekarang. Musik semacam itu rupanya telah hilang selama ini, seiring runtuhnya kejayaan segitiga cinta milik kami. Baru pagi ini, serupa mimpi saja aku mendengar denting nostalgia berdengung. Mengalir menenangkan. Aku tahu kenapa. Nelangsa menggelayuti lagi. Otakku tak mau lekangkan aroma bahagia yang terkuar dari dua sosok antagonisku kemarin di gereja. Aku terpaksa memaksa diri tidak menangis kedua kali menyaksikan tali pernikahan tersemat pada masing-masing tangan di depan altar. Perut buncit Marida tertutup gaun pengantin putihnya, sementara Andre tak henti-henti tersenyum. Aku tahu dia bahagia setulus hati, mungkin setulus pernikahan pertama dengan Yohana, mungkin juga akan setulus pernikahan dengan wanita lain lagi bila Marida tak berjejak lagi lantaran sang Ilahi memanggil kelak. Selama Andre masih lelaki bebas.

cerita bersambung
gambar diunduh dari bp.blogspot.com
“Demikian kalian bukan lagi dua melainkan satu…” suara Pastor bertalu-talu dalam telingaku. Aku tahu artinya, lalu di mana aku harus berada kini? Aku merintih dalam hati. Aku merasa ditinggalkan.
Hari-hari setelah pernikahan mereka adalah benar-benar gila. Musik selalu mengawali hari, mengawali kemesraan mereka di depanku sehingga aku harus-cepat-cepat berlalu untuk menghindari sakit hati lagi.
Buncitnya makin subur saja. Membuat Andre kehilangan selera terhadap kehidupan larut malamnya. Dia tidak pernah pulang subuh sejak Marida datang, lalu sekarang setiap petang dia telah sampai rumah. Aku tetap curiga tentang perempuan-perempuan teman kencannya. Entahlah apa wanita itu juga tahu mengenai ini. Kendati alasan Andre pulang larut waktu itu sebatas pekerjaan semata, karena studionya dibangun jauh dari rumah ini. Aku tetap curiga dia masih sering main dengan wanita lain.
Hari lekas berganti. Tak terasa telah enam bilangan bulan aku hidup bersama wanita itu dalam satu rumah. Kemesraan demi kemesraan melaburi waktu-waktu mereka berdua, menumpuk sakit hatiku.
Hari-hari melesat. Namun tak pernah mnyembuhkan perasaanku, setidaknya aku bertahan pada apa yang kini terasa telah menjadi bagian diriku. Marahku beranak-pinak. Pasti benci telah berkarat seperti jelaga. Dan dua tahun terlewat nyaris sempurna. Aku terus menantang Marida bertarung. Dengan segala hal dan pada kesempatan apa saja. Andre lebih banyak memilih bungkam. Aku sangka dia menjadi begitu jarang keluar malam lantaran wanita itu, aku sebenarnya iri dia mampu membuat Andre betah di rumah. Juga selama dua tahun ini, yang aku diam-diam berburuk sangka, bertiga kami selalu berakhir pekan. Merayakannya. Tetapi masih saja bagiku itu pura-pura sikap sang rupawati agar aku mengakui dia. Bah..!
“……. dokter dia …….. sejenis electra………,” kata-kata pertama di meja makan pada suatu hari di bulan agustus. Di luar dedaunan meranggas. Aku langsung tertegun di depan pintu kamarku, tidak jadi bergabung menghabiskan roti sarapan. Kendati aku tangkap hanya potongan-potongan kata, tetapi jelas mereka membicarakanku. Intuisiku berkata demikian.
“Jangan mengada-ada Andre, itu hanya masalah psikologis yang coba dirumuskan Freud. Aleksa tidak sakit.” Bantah Marida. Jadi mereka membicarakanku. Setelah nyaman hidup begini, maksudnya dengan tidak merasakan sakit apapun, tiba-tiba saja vonis itu terdengar mendakwa. Aku memaku langkah di depan pintu. Aku lemas dianggap sakit. Juga sakit hati jadi bertambah-tambah.
“Sekian persen kemungkinan memang itu terjadi pada manusia, Mar.”
“Tapi aku tak tega berkata begitu, itu hanya masalah psikis, mungkin aku berhasil mengembalikan kepercayaan dirinya.” Marida terdengar kacau.
“Kamu dokter, apa tidak bisa mengetahuinya dengan lebih pasti?”
“Dokter kandungan, bukan psikolog. Dia hanya tidak ingin kehilangan kamu.”
“Lalu? Apakah sepanjang hidup dia akan bergantung terus padaku?”
“Aku tidak tahu, Andre. Kadang-kadang ilmu tidak bisa menjelas hal-hal seperti ini.”
“Iya, tetap saja kamu lebih mengerti dariku.”
“Jangan memaksa aku Andre. Aku akan berusaha sekuat mungkin, tapi butuh waktu.”
Diam mengambil alih. Andre terlihat menghembus napas berat, mengolesi roti tawarnya dengan selai kacang.
“Aku tidak tahu bagaimana harus berterimakasih. Kamu orang yang tepat.”
“Jangan berkata begitu, aku terlalu kalut menghadapi ini semua, aku berpura-pura bertahan.” Andre terharu, terdengar dari katanya kemudian, “terima kasih sayang. Kamu tahu, aku tidak pernah salah pilih.”
“Maksudmu?”
“Kamu tahu kan, aku lebih memilih kamu ketimbang mereka.”
“Dulu kamu selalu meragukan; apakah wanita sepertiku, tukang aborsi ini bisa menerima seorang anak dalam hidupnya.”
“Kamu telah membuktikan bahwa kamu pantas.”
“Terima kasih. Jangan menyanjungku karena telah berhenti dari aborsi dan memilih menjadi pencinta anak-anak Andre.”
“Aku merasa jatuh cinta lagi.”
Terdengar mereka tertawa-tawa. Aku tetap diam saja. Sementara otakku mulai mengira-ngira. Aku sakit, namun rasanya bukan itu isi pembicaraan yang sebenarnya. Makin sembunyi mereka akan keadaanku, sebab aku tidak mungkin mencari tahu sendiri, tidak untuk saat ini, makin lestari rasa marahku.
Aku terus lampiaskan pada Marida. Terkadang aku menghabiskan hari di sekolah seniku, membiarkan Marida menunggu hingga malam di tempat parkir. Setiap kali dia bicara, aku diamkan saja. Lalu menyerangnya dengan kalimat-kalimat berisi penghinaan dan tuduhan-tuduhan. Tetapi sebalnya dia tak terpengaruh. Walaupun sering dia pias mukanya, oleh kalimatku yang serampangan.
Setelah aku tahu ada sebuah penyakit tersembunyi dalam diriku, aku uring-uringan. Apalagi bila Andre berada di rumah. Dan hanya kami berdua sementara Marida sibuk dengan pasien-pasien berperut buncit. Serta-merta Andre menyebut namaku, memintaku untuk diam dari keusilan atau sekedar berhenti dari sikap kanak-kanak. Bila kata-kata Andre menohok, aku berlari ke kamar tidur dan tetap di sana hingga malam hari. Kadang sampai malas berangkat belajar, sampai-sampai Andre menilai aku mundur pesat. Lalu aku pun berdalih karena kedatangan Marida.
Masih penasaran mengapa aku betah berada dekat Marida. Pernah aku bilang itu lantaran wangi lavender di tubuhnya. Bisa jadi jawaban itu tidak benar. Sebab tidak jarang dia menyiram tubuh pakai parfum jenis lain, dan aku tetap mau saja dia ajak berbelanja baju. Atau pada hari libur ke toko buku, ke toko peralatan musik sederhana. Aku tidak hubung-hubungkan ini dengan rasa marah. Memang, setiap berada dekatnya aku menyembur-nyembur lidah panas mirip naga dalam film kolosal.
“Aku tidak mau!” pintu kamar aku banting dengan kesal. Betapa tidak, hari ini, minggu, aku dia ajak ke salon. Mana aku mau. Bagiku itu hanya akan mempertegas kejelekan rupaku yang buat aku jadi perempuan sinting pembenci wanita cantik.
Marida buka pintu. Dia masih tetap cantik dari perempuan mana pun, menurut mataku ini.
“Tidak ada seorang wanita yang tidak mau tampil cantik…”
“Ada…aku,” aku sela bicaranya.
“Ayolah, cukup sekali ini saja.”
“Jangan buat malu, aku tidak mau!”
“Sayang, kamu terlalu keras pada dirimu. Sekali ini saja, setelah itu kamu boleh menolak.”
Aku lihat dia sungguh-sungguh. Atau setan tengah mempermainkanku sehingga aku bangun dari kasur. Melangkah gontai menuruti langkah kaki Marida. Kami ke salon, dan menjadi kunjungan terakhirku ke tempat bedah rupa itu.
Tak terbayangkan marahku meluap. Meja riasku berhamburan kaca-kacanya. Marida berdiri tegang di ambang pintu menyaksikan aku mengobrak seisi kamarku. Aku sakit minta ampun.
“Pipinya kelewat tembam, dia harus di…” aku menyerakan botol-botol kosmetik dari atas meja. Menghalau kata-kata yang menyinggung sisi hidupku yang terluka.
“Untuk hidung pesek, kamu mesti..” aku tidak mau ingat lagi kata-kata pelayan salon. Aku pungut sebotol penghitam rambut dari lantai, memandang wanita di ambang pintu melalu mata marah yang amat sangat, lantas melemparnya. Ah, Tuhan masih saja menyelamatkan hambanya itu. Padahal seandainya berhasil mengenai wajah Marida pastilah sedikit keindahan itu akan pudar.
“Aku tidak bermaksud buat kamu marah,”
“Diam!” aku bahkan berontak dalam pelukannya.
“Aleks..”
“Sialan!”
Sekilas sebelum dia keluar cepat-cepat dari kamar ada air mata terbentuk di mata Marida. Aku anggap itu bagian dari rasa bersalahnya, tetapi tetaplah pura-pura.
 
 
bersambung…
 
 
Baca kisah sebelumnya: Wanita Itu Bernama Marida #8

Perempuan Bernama Nira

Oleh Binandar Dwi Setiawan

 

siapa dirimu
gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Bintang malam ini belum cukup cemerlang untuk menerangkan kepadaku akan siapa dirimu. Kisah belum lagi berubah ketika pada titik ini aku tersentak, bahwa yang selama ini kau lakukan bukan hanya mengenalkan dirimu kepadaku, tetapi juga memaksaku untuk yakin bahwa setiap kepingan penyusun diriku tak lain dan tak bukan hanyalah kelemahan semata. Yang mendudukkan dengan jelas siapa yang dirimu, siapa yang diriku. Mungkin kau dapati aku kebingungan, saat kau tegaskan bahwa ke arah manapun aku melangkah hanyalah sekedar mendekatkan diri kepadamu, tetapi tidak. Sejatinya aku tak sedang kebingungan. Kau membuat dirimu tak bisa habis untuk kunikmati. Setiap aroma barumu mengalahkan ketakutan ketakutanku untuk maju. Sedangkan kudapati kau tak pernah lama, senantiasa baru, hanya kau yang benar benar selalu baru. Tidak ada yang lain. Memang tidak ada yang lain.
Perempuan bernama Nira. Aku tak sedang menggugat setiap keputusan yang kau ambil, adalah boleh bagimu untuk berbuat sekehendakmu, tetapi oleh hal itu adalah mungkin juga bagiku untuk tak setiap waktu bisa mengimbangi nada nadamu. Dan kau tahu sedang seperti apa aku sekarang ini. Tertunduk, tak ingin bersikap, apapun, kepadamu. Jarak yang kau ambil sekaligus yang kubiarkan terjadilah yang akhirnya membuatku memakai keberanianku, memasuki belantara ini. Keterlanjuran yang hebat. Kini tinggal aku dan diriku, sementara tak kutahu seberapa luas belantara ini, juga seberapa pantas kesiapanku menemukan ujung jalan keluarnya. Aku, hanya bagai maju menghadapi seribu musuh tanpa satu pun senjata yang kugenggam bahkan tak juga tahu apakah memang tersediakan untukku senjata. Kau andalkan keyakinanmu untuk menumbuhkan keyakinanku, bahwa aku tak bisa mati diakhiri oleh semua ini.
Nira, kapan aku sampai kepadamu. Aku juga menanyakan, apakah aku telah bergeser dari tempatku semula, lebih dekat kepadamu?. Atau hanya senantiasa membenarkan arah pandangku, agar tepat lurus langsung kepadamu. Iya, aku memang lebih dekat kepadamu, tetapi juga sekaligus kau lebih jauh kepadaku. Kau selalu mengejutkanku dengan kebiasaanmu memasuki ruangan yang kusangka tak pernah ada. Kita bergerak dengan kecepatan yang sama, setiap yang kumasuki adalah bekas keberadaanmu, dan kau pasti tahu benar sakitnya mencumbu itu semua. Kita dikenai oleh aturan hebat yang bahkan kau pun tak sanggup menghindar darinya, bahwa setiap cintaku kepadamu menguat, maka pada saat yang sama cintamu kepadaku jauh lebih kuat. Itulah yang menciptakan semuanya. Mereka, kejadian kejadian itu adalah anak anak kita, yang lahir oleh kita. Maka kita setiap saatnya selalu tertuntut untuk membahagiakan anak anak kita, meletakkan segalanya pada tempatnya masing masing. Keterlaluan, kita dikebiri oleh kebahagiaan yang memabukkan.
Nira, kapan kau ijinkan aku pulang. Untuk bermakan malam denganmu. Saja. Untuk mengetahui apa yang kau ketahui, untuk melihat apa yang kau lihat, untuk merasakan apa yang kau rasakan. Nira, aku tahu benar bahwa rindu ini sejatinya adalah kendaraku, tetapi kengerian yang ditimbulkan olehnya membuatku seakan akan merasakan rindu ini adalah kerandaku, dan aku bagai jasad yang diusungnya saja, yang tak berhak memilih akan dimana tempat pemberhentian, yang telah mati, kehilangan kemampuan untuk merasakan. Nira, jika sedetik saja kau takut suatu saat aku akan takut, maka perjalananku menujumu tak lagi hendak memberi bunga, tetapi menghunus pedang. Nira, aku menantangmu untuk melawan setiap ketakutanmu kehilangan diriku!

Agama yang Sempurna: Adakah?

Oleh Ulil Abshar Abdalla

agama agama
gambar diunduh dari hr2012_wordpressdotcom
Istilah “agama yang sempurna” banyak dipakai oleh aktivis Muslim akhir-akhir ini. Istilah ini erat kaitannya dengan konsep Islam kaffah. Ide “agama sempurna” ini populer di kalangan aktivis Muslim yang sering disebut dengan kalangan tarbiyah. Gampangnya, PKS-lah. Aktivis tarbiyah punya teori tentang Islam sebagai agama yang sempurna. Istilah yang kerap dipakai: Islam kamil dan syamil. Istilah “Islam kamil dan syamil” maksudnya: Islam sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh (komprehensif).
Sumber ide “Islam kaffah” dan “Islam kamil” itu, kalau dilacak, sebetulnya berasal dari ideology-ideologi Ikhwanul Muslimin. Kedua ide itu merupakan batu bata yang membentuk ideologi politik Islamisme yang dibangun oleh Ikhwanul Muslimin di Mesir. Dengan ideologi Islamisme, aktivis Ikhwan hendak mengatakan bahwa Islam adalah ideologi yang sempurna. Bagi aktivis Ikhwanul, ideologi Islamisme adalah cara yang dianggap “cespleng” untuk menandingi kapitalisme dan komunisme. Salah satu perumus penting ideologi Islamisme adalah Sayyid Qutb, ideolog Ikhwanul yang dihukum gantung oleh Presiden Nasser. Ingat, saat ideologi Islamisme dirumuskan pada 50-an dan 60-an, sedang berkecamuk persaingan antara kapitalisme+komunisme. Jadi, ideologi Islamisme memang dirumuskan dalam konteks yang spesifik: era ketika dunia masih menyaksikan persaingan ideologi.
“Islam kaffah” dan “Islam kamil” dengan demikian adalah istilah ideologis. Bagian dari ideologi Islamisme Ikhwan. Sekarang kedua istilah itu sudah banyak mempengaruhi kalangan di luar Ikhwan, terutama di kalangan aktivis Muslim perkotaan. Kalau anda bergaul dengan kalangan pesantren NU, istilah Islam kaffah dan Islam kamil kurang begitu popular.
Sekarang, perkenankan saya memberikan tinjauan kritis atas konsep “Islam kamil” yang merupakan ideologi Ikhwan itu. Saya akan mulai dengan pertanyaan pembuka: Apakah ada agama yang sempurna? Jawabannya: Tentu saja ada. Lalu, agama apa yang sempurna itu? Jawabannya: Semua agama, sempurna.
Anda heran? Berikut ini penjelasannya. Apa sih sebetulnya yang dimaksud dengan “sempurna” dalam kata “agama yang sempurna”? Apakah sempurna maksudnya hebat, super? Bukan. Sempurna dalam istilah “agama sempurna” maksudnya bukan hebat, super, perfect, unggul . Yang dimaksud dengan “sempurna” adalah agama bersangkutan memenuhi dua kebutuhan pokok setiap umat beragama. Yaitu kebutuhan kosmologis dan etis.
Kebutuhan kosmologis menyangkut pertanyaan dasar tentangg asal dan tujuan hidup. Kebutuhan kosmologis menyangkut apa yang oleh orang Jawa disebut dengan falsafah “sangkan paraning urip”. “Sangkan paraning urip” maksudnya: dari mana kehidupan ini berasal, dan ke mana arah serta ujungnya. Kebutuhan etis maksudnya adalah norma yang mengatur tingkah laku manusia dalam mengarungi hidup sehari-hari.
Agama harus bisa menjawab kedua kebutuhan manusia itu: kebutuhan kosmologis dan kebutuhan etis. Kebutuhan kosmologis biasanya dijawab oleh agama dengan doktrin, doxa, atau, dalam istilah Islam, aqidah. Kebutuhan etis dijawab oleh agama dengan norma etis yang menuntun kehidupan manusia sehari-hari. Semacam kompas moral.
Semua agama mencoba memuaskan dua kebutuhan pokok dalam beragama itu. Tentu dengan cara yang berbeda-beda. Semua agama saya anggap sempurna karena mereka memenuhi dua kebutuhan dasar tadi. Semua agama, tanpa kecuali. Sekarang, mari kita periksa, apa yang dimaksud dengan Islam kamil atau Islam sebagai agama sempurna dalam konsepsi aktivis tarbiyah itu.
Sebagaimana saya katakan sebelumnya, istilah “Islam kamil” bukan sekedar ide biasa, tapi bagian dari ideologi politik. Dalam pandangan aktivis tarbiyah, Islam kamil berarti: Islam yang sempurna, komprehensif, mengatur segala hal. Saya sudah tunjukkan bahwa gagasan tentang Islam yang mengatur semua hal itu tak benar. Yang benar adalah Islam mengatur sebagian perkara saja dalam kehidupan. Bukan semuanya. Dasar yang kerap dipakai untuk mendukung ide tentang Islam kamil adalah ayat 5:3 (Al-Maidah: 3). Mari kita periksa ayat itu.
Bunyi ayat 5:3 itu adalah:

Al-yauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’mati wa radlitu lakum al-Islama dina.

Artinya:

Hari ini, Aku (Tuhan) sempurnakan bagimu agamamu, dan Aku lengkapkan ni’matKu untukmu, dan Aku rela Islam sebagai agamamu.

Dari kata “akmaltu” (=Aku sempurnakan) dalam ayat 5:3 tadi, muncullah istilah “Islam kamil”. Islam yang sempurna. Mari kita lihat pendapat penafsir Islam klasik tentang makna “menyempurnakan” dalam ayat tadi. Apa yang disempurnakan?
Saya akan ambil Tafsir Tabari sebagai rujukan. Apa kata Imam Tabari tentang kata “menyempurnakan” (akmaltu) dalam ayat tadi. Ada dua pendapat. Yang pertama: Yang dimaksud adalah menyempurnakan hukum-hukum (syariat) tentang halal dan haram. Pendapat kedua: Yang dimaksud adalah kembalinya tanah suci Mekah ke tangan umat Islam sehingga mereka bisa menunaikan haji. Imam Tabari memilih pendapat kedua sebagai pendapat yang lebih kuat ketimbang yang pertama.
Saya mendukung pendapat beliau. Ayat 5:3 turun di Arafah saat Nabi melaksanakan haji yang terakhir sebelum wafat. Jadi, ayat tadi disebut sebagai ayat terakhir. Setelah hijrah ke Madinah, Nabi tak bisa menengok kembali tanah airnya Mekah atau melaksanakan haji di sana. Bertahun-tahun, umat Islam zaman Nabi tak bisa melaksanakan haji. Sehingga mereka belum sempurna menunaikan agamanya. Setelah menanti 10 tahun, akhirnya Nabi bisa menaklukkan kota Mekah dan bisa menyelenggarakan haji bersama sahabatnya. Di tengah-tengah melaksanakan haji itulah, turun ayat 5:3. Melihat konteks ini, pendapat Imam Tabari sangat masuk akal. Jadi, ayat 5:3 tadi tidak berbicara tentang Islam sebagai agama yang sempurna, tapi tentang kembalinya Mekah ke tangan umat Islam. Dengan kembalinya Mekah ke tangan umat Islam, maka sempurnalah keber-agamaan mereka, karena bisa melaksanakan haji. Sekali lagi, yang dimaksud sempurna dalam ayat tadi adalah: Mekah kembali ke tangan umat Islam.
Menjadikan ayat 5:3 sebagai dalil untuk mendukung ideologi “Islam kamil dan syamil” jelas tak tepat, atau bahkan keliru. Bagaimana kalau kita ikuti pendapat pertama yang mengatakan bahwa yang disempurnakan adalah hukum halal+haram? Oke, kita ikuti pendapat pertama. Apakah pendapat itu akan mendukung gagasan Islam kamil ala aktivis tarbiyah? Tidak juga!
Sebelum bergerak jauh, saya akan sebutkan keberatan Imam Tabari terhadap pendapat pertama tadi. Menarik. Kata Imam Tabari, pendapat pertama tadi tak masuk akal. Sebab setelah ayat tadi, masih ada ayat hukum lain yang turun kepada Nabi. Jadi, kata Imam Tabari, tidak betul bahwa seluruh hukum halal+haram sempurna dan tuntas dengan turunnya ayat 5:3 tadi. Kata Imam Tabari lagi: setelah ayat 5:3 tadi, masih ada ayat lain tentang hukum kewarisan yang turun kepada Nabi, yaitu 4:176. Artinya: saat ayat 5:3 turun kepada Nabi, hukum syariat belum sempurna, sebab masih ada ayat hukum lain yang turun setelah itu. Dengan demikian, menurut Imam Tabari, pendapat pertama tentang apa yang dimaksud “menyempurnakan” dalam ayat 5:3 tak kuat dasarnya.
Saya akan tambahkan alasan lain selain yang sudah disebut oleh Imam Tabari, untuk menyanggah argumen pendapat pertama. Jika kita tes dengan sejarah, sama sekali tak benar bahwa hukum syariat sudah sempurna dengan turunnya ayat 5:3 itu. Banyak hal belum diatur dalam hukum syariat. Misalnya soal tata kelola pemerintahan, antara lain soal suksesi kekuasaan. Karena itulah terjadi cekcok yang nyaris berujung bentrok fisik antar sahabat sepeninggal Nabi, tentang siapa yang akan jadi penguasa. Gara-gara cekcok soal siapa yang jadi penguasa setelah Nabi itu, jenazah beliau terlantar hingga tiga hari, tak dimakamkan. Jika benar hukum syariat sempurna, seperti diklaim aktivis tarbiyah, mestinya ada hukum soal suksesi kepemimpinan. Jika benar ada hukum soal suksesi kepemimpinan yang jelas, mestinya sahabat tak cekcok sengit. Bayangkan, tiga hari jenazah Nabi ditelantarkan sahabat gara-gara perdebatan soal “Pilmam” (Pilihan Imam). Fakta ini menunjukkan bahwa tak benar klaim aktivis-aktivis tarbiyah dan kaum Islamis mengenai hukum Islam yang sempurna.
Sebagai penutup pembahasan, saya akan kemukakan beberapa hal lain berkenaan dengan ide agama sempurna atau Islam kamil. Seperti saya katakan di awal, saya tak menolak adanya agama yang sempurna. Saya katakan: Semua agama adalah sempurna. Sebuah agama bisa dikatakan sempurna karena memenuhi dua kebutuhan/pertanyaan pokok manusia: kosmologis dan etis.
Jika yang dimaksud “agama sempurna” adalah agama tersebut memuat jawaban atas semua masalah, menurut saya tak ada. Seperti saya katakan dalam kultwit sebelumnya: agama tak mengatur semua hal dalam hidup. Hanya sebagian saja. Karena itu, agama juga tak akan menjawab semua masalah. Hanya sebagian masalah saja yang dijawab agama.
Islam juga demikian: Dia tak menjawab semua masalah dalam kehidupan. Hanya sebagian masalah saja. Masalah-masalah yang esensial. Masalah esensial berkenaan dengan dua pertanyaan pokok: kosmologis dan etis. Hanya dua itu yang relevan dijawab oleh Islam. Selebihnya, Tuhan menyerahkan kepada akal manusia untuk mencari jawaban atas masalah-masalah yang mereka hadapi. Agama hanya memberikan dasar-dasar etis umum saja. Tapi solusi atas suatu masalah manusia harus dikembangkan sendiri oleh mereka.
Demikianlah, istilah “Islam kamil” seperti dipahami aktivis tarbiyah itu sama sekali kurang tepat. Bahkan ayat 5:3 yang sering dikutip kalangan tarbiyah itu pun, tak mendukung ide “Islam kamil” versi mereka. Bagi saya, kesempurnaan Islam itu sama dengan kesempurnaan agama-agama lain: Yakni sempurna dari segi nilai-nilai dasarnya saja. Bagaimana nilai-nilai dasar itu diterapkan dalam konteks yang spesifik, Islam tak memberikan jawaban detil. Jadi kesempurnaan Islam atau agama adalah kesempurnaan sebagai jalan hidup. Bukan sebagai ideologi politik, ekonomi, dsb.

Sekian. In uridu illal ishlah wa ma taufiqi illa bil-Lah

Wanita Itu Bernama Marida #8

Cerbung Willy Wonga

“Enam malam aku tunggu, Mas tidak muncul. Aku kira tidak  mau datang lagi,” gerutu wanita bibir merah setelah sesap segelas bir.

Seorang pemula! Dua kata melekat di benak pria tercintaku. Selalu dari pemula untuk jadi terbiasa sebelum disebut pecandu. Yang mana posisi dia sekarang, Andre kehilangan pijakan. Pada hari-hari kerja dia memikirkan wanita itu. Wanita yang tidak pantas dia sandingi, namun pada remang malam keduanya terlihat pantas. Memang ada segepok rasa bersalah di hati, namun segera muncul pembelaan diri dari nuraninya kini. Aku lelaki yang sedang kesepian!  Dan teringat pula bentuk tipis bibir merahnya pada malam sebelum. Malam yang akan terulang selepas senja.

Kembali ke bar, pesona malam pun terulang mendekap. Membekap separuh otak, pun suara hati agar terabai. Biar tubuh segera terbuai oleh asap rokok dan buih minuman. Bir ini mirip malam itu sendiri. Beradidaya mengelabui akal sehat. Sekali teguk  terasa tak berasa. Dua teguk mengirim bunyi sendawa. Gelas ketiga dan keempat mengambil alih separuh kesadaran hingga suara terasa mengambang. Dunia sungguh indah dinikmati dalam kabut tembakau juga temaram cahaya lampu. Penat terbuang dengan sendirinya setelah  perut kenyang oleh tujuh gelas minuman.

“Akhirnya kamu datang, Mas!” suara itu menembus kebisingan musik. Andre tergeragap. Hati ini, oh! Apa lagi namanya selain sejumput kebahagiaan? Dan yang pelan-pelan terkuak itu, kerinduankah namanya? Tidak! Andre membentak diri. Bahagiaku, rinduku bukan pada wanita pengunjung malam ini. Masih ada sekelompok wanita lain yang lebih layak, seorang penyanyi solo, pemain gitar hingga penjaga butik yang selama ini dia kencani secara bergantian.

cerita bersambung
gambar diunduh dari bp.blogspot.com

“Aku ingin sekedar melepas lelah,” Andre berkata seadanya. Dia halau gambaran bibir merah di depan. Dia membandingkan dengan bibir-bibir lain. Tak sepadan jadinya.

“Enam malam aku tunggu, Mas tidak muncul. Aku kira tidak  mau datang lagi,” gerutu wanita bibir merah setelah sesap segelas bir.

“Diajak teman-teman. Kalau sendiri aku pasti tidak berani,” betapa polos Andre membohong.

“Lama-lama juga jadi berani,” lebih menggoda nada suaranya.

“Kamu kerja di sini?” Andre akhirnya berani bertanya. Setelah pertemuan pertama mereka berakhir dengan tidak saling memberi tahu nama. Sebab pikirnya waktu itu, hanya kebetulan mereka bertemu dan dia tak akan balik lagi. Jadi apa arti sebuah perkenalan singkat yang tak berujung.

“Tidak,”

“Jadi?”

“Aku seperti Mas. Hanya sebagai pengunjung,” ujar wanita itu lugas. Bebas seperti burung di langit. Dan Andre ikan di laut.

“Suamimu tahu?” sedikit lancang dalam suasana ini tidak jadi persoalan.

“Aku lajang, Mas.”

“Jadi sudah sering kamu ke sini rupanya,”

“Iya, sudah seminggu ini,”

“Maksudmu?”

Senyum manis mengambang. Tersirat perasaan yang buat Andre cuma menebak entah.

“Sebelumnya aku bukan pengunjung tetap. Hanya malam-malam jenuh aku akan mampir ke bar ini. Kemudian sejak seminggu lalu aku jadi rutin,”

“Hanya untuk menemuiku?” alkohol membuka semua simpul pengikat di akal, hingga Andre jadi berani membalas godaan serupa.

Senyum itu mengambang berulang.

“Aku butuh teman, Mas, di tempat seperti ini,”

“Teman dalam arti apa yang harus kuterjemahkan?”

“Sekedar pelepas penat.”

“Kau sangat terus terang.”

“Hmm, apa yang tersisa dari seorang seperti aku. Selain kesendirian yang meminta dikawani. Sungguh Mas, aku hanya mau berteman.” Wanita itu terdengar bersungguh-sungguh saat berkata.

Dan Andre terlalu mabuk untuk menduga. Malam itu lewat, masih seperti minggu kemarin. Setelah gelas bir terakhir keduanya berpamitan. Tiada janji. Tapi kini sebuah nama Andre bawa pulang: Marida. Seorang wanita lajang, dia rekam kata-kata itu. Wanita yang menawan meskipun dikerubuti remang malam. Andre membandingkan dengan usianya, cukup sebanding bagi suatu hubungan tak berdasar. Sekedar rasa saling membutuhkan untuk pelepas penat.

Seminggu kini terasa singkat. Sabtu menyapa lagi menawar akhir pekan di bar yang hingar-bingar. Ketika senja merayap lewat lembayung di ufuk barat, aneh, terasa hati tak tenang. Jantung pun berdebam dipalu godam kasat mata. Malam ini, Andre putuskan ke bar dengan pakaian santai. Kaus oblong dan celana pendek. Ada janji telah terucap untuk kembali ke sana malam ini.

Marida ibarat kupu-kupu yang cemerlang. Indah menggelitik hati untuk segera menangkap tetapi bukan untuk dipegang. Sekedar pemuas mata.

“Mas, pernah meneguk bir di pantai?”

“Pantai? Sepanjang kunikmati malam-malam di tempat ini hanya debur ombaklah yang terdengar.”

“Mas mau kan temani aku di sana?” Marida melempar pancing. Andre bertatap pada remang cahaya. Sekedar dia cari iblis di mata perempuan yang duduk berhadapan ini. Atau sedikit muslihat sebagai alasan penolakan. Namun remang kelewat temaram, memudarkan tiap gambar yang hendak dilihat. Saling bergandeng tangan mereka menuju pantai. Dengan segelas bir di tangan masing-masing, sementara Andre menambahkan botol minuman itu di tangan yang satu.

“Apa ada pria dalam hidupmu?”

“Aku terlalu sibuk untuk menerima perhatian seorang pria di siang hari,”

“Jadi apa kerjamu sebenarnya.”

“Dokter kandungan, mas.”

“Selain itu?”

“Hanya itu.”

“Apa yang buatmu ke sini, mengenalkan diri pada kebohongan malam seperti ini?”

“Jangan terlalu puitis,” dia tertawa, terkesan pahit.”Saat SMA aku melakukan aborsi sebanyak dua kali. Sangat mengerikan menyadari dirimu melakukan hal-hal yang bakal membuat ibu atau ayahmu mendadak mendapat serangan jantung. Itu sebenarnya pilihan paling sulit yang telah aku ambil, mas. Berturut-turut. Seperti keledai, dua kali jatuh pada lubang yang sama.” Marida menyesap segelas lagi. Hening sebentar sebelum dia lanjutkan,” Ceritakan tentang dirimu,”

“Seniman, pemusik, pencipta lagu,”

“Hahaha, sangat ringkas.”

“Kamu bisa bayangkan betapa tidak terlalu ringkas pada kenyataannya.”

“ Dan anehnya kita merasa penat pada kesibukan yang tak seberapa.”

“Hmm, tentu kita ada masing-masing alasan lain, kan?”

Demikianlah sekian tanya saling memanah. Hingga bibir mereka benar-benar saling melekat. Entahlah apa terpikir Andre. Seharusnya dia mengibas debu lalu berlalu dari tempat itu. Bukankah Marida secara gamblang dan berani memberitahu celanya? Dua kali aborsi. Wanita macam itu? Tetapi andre tidak mempedulikannya. Baginya, Marida seperti dia. Punya masa lalu, dan orang-orang bilang masa lalu adalah pelajaran paling berharga untuk tidak mengulang hal yang sama. Lebih dari itu mereka adalah dua manusia bebas. Maka, dari seekor burung dan seekor ikan mereka jadi sepasang kelamin binatang purba di atas pasir.

Begitu rupanya. Marida adalah seorang dokter kandungan kesepian. Hanya pada teguk bir dan sindikat malam dia beroleh kesenangan, penatnya terbebas. Oh, bila saja aku tahu cerita ini dari awal dia datang, benciku padanya bakal setinggi air bah. Mana bisa aku biarkan Andre membawa pelacur ke rumah ini. Aku terpaksa terima teman-teman kencannya yang lain selama aku tahu mereka perempuan bukan seperti Marida. Tetapi terlambat warta ini menyambangi telingaku, setelah semua permusuhan terbunuh dan kedamaian akhirnya datang pada suatu hari di masa mendatang.

 

bersambung…

Baca kisah sebelumnya: Wanita Itu Bernama Marida #7

Mohammad Roem dan Hubungan Muslim Kristen di Indonesia Masa Lalu

Oleh Erwan Rosa

Kutipan dari kumpulan tulisan Mohammad Roem yang diterbitkan penerbit Bulan Bintang tahun 1977.

“Ketika Ibu Roem dan saya beserta anak dan menantu serta cucu (yang pertama) berada di Malang, berhubung dengan adanya Muktamar Partai Muslimin, kami menginap di rumah keluarga Kristen, yaitu keluarga Mawikere.
Hal ini pada waktu itu sangat menarik perhatian.Untuk keluarga-keluarga yang bersangkutan, hal itu biasa. Di Malang kami kenal baik dengan keluarga Koesno sejak kurang lebih 40 tahun. Ibu Koesno adalah ketua Wanita Kristen cabang Malang. Dengan melalui Ibu Koesno kami kenal keluarga Mawikere dengan baik, 10 tahun lalu. Ibu Mawikere adalah wakil ketua Wanita Kristen cabang Malang.
Karena persahabatan yang erat berkat masa yang lama itu maka apabila kami berada di Malang, lebih sering kami menginap di rumah salah satu keluarga itu. Sebaliknya kalau sahabat-sahabat kami itu berada di Jakarta sering pula mereka menginap di rumah kami.
Ketika Wanita Kristen seluruh Indonesia berkonperensi di Jakarta kira-kira 9 tahun lalu, saya sendiri menjemput delegasi dari Malang di Stasion Gambir. Mr. Tambunan yang berada di stasion juga untuk menjemput para delegasi dari tempat-tempat lain, agak heran waktu mengetahui bahwa keperluan saya sama dengan keperluannya. Waktu ia bertanya, mengapa saya datang sendiri, saya menjawab bahwa saya tidak punya sopir. Kawan-kawan saya pemimpin-pemimpin bekas Masyumi dan sekarang pemimpin-pemimpin Partai Muslimin di Malang, sudah tahu hal itu dan tidak heran lagi kalau saya menginap di rumah keluarga Kristen.
Tetapi selama Muktamar Partai Muslimin hal ini sangat menarik perhatian. Keluarga Mawikere mendapat telpon dari pelbagai pihak, juga dari intelijen-intelijen. Kecuali banyak yang heran, banyak juga yang gembira. Karena ada baiknya dalam suasana yang sedang tegang antara kaum Kristen dan Islam. Wartawan harian Sinar Harapan, yang datang untuk memberitakan jalannya Muktamar Partai Muslimin, membuat suatu karangan khusus tentang kejadian ini. Majalah Varia dalam tajuk ceriteranya, menamakan hubungan kami dengan judul karangan ”Persahabatan Keluarga Mawikere-Roem, Lambang Persaudaraan Kristen dan Islam”.
Salah seorang pendeta Kristen di Malang setelah mendengar hal itu merasa demikian syukurnya, sehingga pada hari Minggu, waktu jemaah Kristen sedang berkumpul di gereja ia meminta kepada Ibu Mawikere untuk membacakan doa bagi ”berhasilnya Muktamar Partai Muslimin dan kesehatan keluarga Roem”. Sebenarnya bagi kami yang bersangkutan, hal yang demikian itu tidak kami sukai karena persahabatan itu kurang murni kalau dijadikan bahan propaganda. Tetapi akhirnya kami tidak merasa keberatan kalau orang mensyukuri keadaan yang demikian itu.
Apa sebab persahabatan itu dapat berjalan langsung? Karena kami harga-menghargai. Kalau kami duduk bersama-sama di meja makan, keluarga Roem cukup dengan mengucapkan ”Bismillah”, sedangkan keluarga Mawikere baik waktu berada di rumahnya sendiri maupun waktu berada di rumah kami (di Jakarta) berdoa sesuai dengan agamanya, sebelum makan. Tidak pernah pihak kami berusaha meng-Islamkan pihak yang beragama Kristen dan sebaliknya Ibu Koesno atau Ibu Mawikere tidak pernah mempropagandakan agama Kristennya kepada keluarga Roem.
Demikianlah persahabatan itu telah berlangsung berpuluh tahun dan kami berdoa semoga diridhai Tuhan dan terus berlangsung.”
 
(Mohamad Roem, 1977, Bunga Rampai dari Sejarah II, Bulan Bintang, Jakarta, h. 238-240).

Sumber: Note Achmad Munjid

~diunggah oleh RetakanKata~

Selamat Natal Menurut Al-Qur’an

Oleh Dr. M. Quraish Shihab

Sakit perut menjelang persalinan, memaksa Maryam bersandar ke pohon kurma. Ingin rasanya beliau mati, bahkan tidak pernah hidup sama sekali. Tetapi Malaikat Jibril datang menghibur: “Ada anak sungai di bawahmu, goyanghan pangkal pohon kurma ke arahmu, makan, minum dan senangkan hatimu. Kalau ada yang datang katakan: “Aku bernazar tidak bicara.”haram-ucapkan-selamat-natal“Hai Maryam, engkau melakukan yang amat buruk. Ayahmu bukan penjahat, ibumu pun bukan pezina”, demikian kecaman kaumnya, ketika melihat bayi di gendongannya.Tetapi Maryam terdiam. Beliau hanya menunjuk bayinya. Dan ketika itu bercakaplah sang bayi menjelaskan jati dirinya sebagai hamba Allah yang diberi Al-Kitab, shalat, berzakat serta mengabdi kepada ibunya. Kemudian sang bayi berdoa: “Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan pada hari ketika aku dibangkitkan hidup kembali.”Itu cuplikan kisah Natal dari Al-Quran Surah Maryam ayat 34. Dengan demikian, Al-Quran mengabadikan dan merestui ucapan selamat Natal pertama dari dan untuk Nabi mulia itu, Isa a.s.

Terlarangkah mengucapkan salam semacam itu? Bukankah Al-Quran telah memberikan contoh? Bukankah ada juga salam yang tertuju kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, keluarga Ilyas, serta para nabi lainnya? Setiap Muslim harus percaya kepada Isa a.s. seperti penjelasan ayat di atas, juga harus percaya kepada Muhammad saw., karena keduanya adalah hamba dan utusan Allah. Kita mohonkan curahan shalawat dan salam untuk mereka berdua sebagaimana kita mohonkan untuk seluruh nabi dan rasul. Tidak bolehkah kita merayakan hari lahir (natal) Isa a.s.? Bukankah Nabi saw. juga merayakan hari keselamatan Musa a.s. dari gangguan Fir’aun dengan berpuasa ‘Asyura, seraya bersabda, “Kita lebih wajar merayakannya daripada orang Yahudi pengikut Musa a.s.”

Bukankah, Para Nabi bersaudara hanya ibunya yang berbeda? Seperti disabdakan Nabi Muhammad saw.? Bukankah seluruh umat bersaudara? Apa salahnya kita bergembira dan menyambut kegembiraan saudara kita dalam batas kemampuan kita, atau batas yang digariskan oleh anutan kita? Demikian lebih kurang pandangan satu pendapat.

Banyak persoalan yang berkaitan dengan kehidupan Al-Masih yang dijelaskan oleh sejarah atau agama dan telah disepakati, sehingga harus diterima. Tetapi, ada juga yang tidak dibenarkan atau diperselisihkan. Disini, kita berhenti untuk merujuk kepercayaan kita.

Isa a.s. datang mermbawa kasih, “Kasihilah seterumu dan doakan yang menganiayamu.” Muhammad saw. datang membawa rahmat, “Rahmatilah yang di dunia, niscaya yang di langit merahmatimu.” Manusia adalah fokus ajaran keduanya; karena itu, keduanya bangga dengan kemanusiaan.

Isa menunjuk dirinya sebagai “anak manusia, sedangkan Muhammad saw. diperintahkan oleh Allah untuk berkata: “Aku manusia seperti kamu. Keduanya datang membebaskan manusia dari kemiskinan ruhani, kebodohan, dan belenggu penindasan. Ketika orang-orang mengira bahwa anak Jailrus yang sakit telah mati, Al-Masih yang menyembuhkannya meluruskan kekeliruan mereka dengan berkata, “Dia tidak mati, tetapi tidur.” Dan ketika terjadi gerhana pada hari wafatnya putra Muhammad, orang berkata: Matahari mengalami gerhana karena kematiannya. Muhammad saw. lalu menegur, “Matahari tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehahiran seorang.” Keduanya datang membebaskan maanusia baik yang kecil, lemah dan tertindas dhuâfaâ dan al-mustadhâ’affin dalam istilah Al-Quran.

Bukankah ini satu dari sekian titik temu antara Muhammad dan Al-Masih? Bukankah ini sebagian dari kandungan Kalimat Sawaâ (Kata Sepakat) yang ditawarkan Al-Quran kepada penganut Kristen (dan Yahudi (QS 3:64)? Kalau demikian, apa salahnya mengucapkan selamat natal, selama akidah masih dapat dipelihara dan selama ucapan itu sejalan dengan apa yang dimaksud oleh Al-Quran sendiri yang telah mengabadikan selamat natal itu?

Itulah antara lain alasan yang membenarkan seorang Muslim mengucapkan selamat atau menghadiri upacara Natal yang bukan ritual. Di sisi lain, marilah kita menggunakan kacamata yang melarangnya.

Agama, sebelum negara, menuntut agar kerukunan umat dipelihara. Karenanya salah, bahkan dosa, bila kerukunan dikorbankan atas nama agama. Tetapi, juga salah serta dosa pula, bila kesucian akidah ternodai oleh atau atas nama kerukunan.

Teks keagamaan yang berkaitan dengan akidah sangat jelas, dan tidak juga rinci. Itu semula untuk menghindari kerancuan dan kesalahpahaman. Bahkan Al-Q!uran tidak menggunakan satu kata yang mungkin dapat menimbulkan kesalah-pahaman, sampai dapat terjamin bahwa kata atau kalimat itu, tidak disalahpahami. Kata “Allah”, misalnya, tidak digunakan oleh Al-Quran, ketika pengertian semantiknya yang dipahami masyarakat jahiliah belum sesuai dengan yang dikehendaki Islam.

Kata yang digunakan sebagai ganti ketika itu adalah Rabbuka (Tuhanmu, hai Muhammad) Demikian terlihat pada wahyu pertama hingga surah Al-Ikhlas. Nabi saw. Sering menguji pemahaman umat tentang Tuhan. Beliau tidak sekalipun bertanya, “Di mana Tuhan?” Tertolak riwayat sang menggunakan redaksi itu karena ia menimbulkan kesan keberadaan Tuhan pada satu tempat, hal yang mustahil bagi-Nya dan mustahil pula diucapkan oleh Nabi. Dengan alasan serupa, para ulama bangsa kita enggan menggunakan kata “adaâ” bagi Tuhan, tetapi “wujud” Tuhan.

Natalan, walaupun berkaitan dengan Isa Al-Masih, manusia agung lagi suci itu, namun ia dirayakan oleh umat Kristen yang pandangannya terhadap Al-Masih berbeda dengan pandangan Islam. Nah, mengucapkan “Selamat Natal” atau menghadiri perayaannya dapat menimbulkan kesalahpahaman dan dapat mengantar kepada pengaburan akidah. Ini dapat dipahami sebagai pengakuan akan ketuhanan Al-Masih, satu keyakinan yang secara mutlak bertentangan dengan akidah Islam. Dengan kacamata itu, lahir larangan dan fatwa haram itu, sampai-sampai ada yang beranggapan jangankan ucapan selamat, aktivitas apa pun yang berkaitan dengan Natal tidak dibenarkan, sampai pada jual beli untuk keperluan Natal.

Adakah kacamata lain? Mungkin!

Seperti terlihat, larangan ini muncul dalam rangka upaya memelihara akidah. Karena, kekhawatiran kerancuan pemahaman, agaknya lebih banyak ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan kabur akidahnya. Nah, kalau demikian, jika ada seseorang yang ketika mengucapkannya tetap murni akidahnya atau mengucapkannya sesuai dengan kandungan “Selamat Natal” Qurani, kemudian mempertimbangkan kondisi dan situasi dimana hal itu diucapkan, sehingga tidak menimbulkan kerancuan akidah baik bagi dirinya ataupun Muslim yang lain, maka agaknya tidak beralasan adanya larangan itu. Adakah yang berwewenang melarang seorang membaca atau mengucapkan dan menghayati satu ayat Al-Quran?

Dalam rangka interaksi sosial dan keharmonisan hubungan, Al-Quran memperkenalkan satu bentuk redaksi, dimana lawan bicara memahaminya sesuai dengan pandangan atau keyakinannya, tetapi bukan seperti yang dimaksud oleh pengucapnya. Karena, si pengucap sendiri mengucapkan dan memahami redaksi itu sesuai dengan pandangan dan keyakinannya. Salah satu contoh yang dikemukakan adalah ayat-ayat yang tercantum dalam QS 34:24-25. Kalaupun non Muslim memahami ucapan “Selamat Natal” sesuai dengan keyakinannya, maka biarlah demikian, karena Muslim yang memahami akidahnya akan mengucapkannya sesuai dengan garis keyakinannya. Memang, kearifan dibutuhkan dalam rangka interaksi sosial.

Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan itu, bila ia ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai akidahnya. Tetapi, tidak juga salah mereka yang membolehkannya, selama pengucapnya bersikap arif bijaksana dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan.

Dostojeivsky (1821-1881), pengarang Rusia kenamaan, pernah berimajinasi tentang kedatangan kembali Al-Masih. Sebagian umat Islam pun percaya akan kedatangannya kembali. Terlepas dari penilaian terhadap imajinasi dan kepercayaan itu, kita dapat memastikan bahwa jika benar beliau datang, seluruh umat berkewajiban menyambut dan mendukungnya, dan pada saat kehadirannya itu pasti banyak hal yang akan beliau luruskan. Bukan saja sikap dan ucapan umatnya, tetapi juga sikap dan ucapan umat Muhammad saw. Salam sejahtera semoga tercurah kepada beliau, pada hari Natalnya, hari wafat dan hari kebangkitannya nanti.

Sumber: Membumikan Al-Quran

Catatan:
Artikel ini dicantumkan oleh Penulis Meributkan Natal sebagai jawaban atas tulisan Tanggapan atas Artikel ‘Meributkan Natal’ Achmad Munjid

Mungkin Anda tertarik juga membaca Fatwa Natal, Ujung dan Pangkal atau Pendapat Mufti Besar Mesir soal Merayakan Natal

~diunggah oleh RetakanKata~

Kekasihku Pulang

Fiksi Kilat V. Fajar A.

jo artwork
gambar diunduh dari jo artwork 2010

Semua serasa tak beres di pagi menjelang kaupergi. Awan-awan hitam bergulung-gulung datang, angin dingin menusuk tulang membuatku menggigil ngilu saat membuka jendela yang kacanya masih buram tertutup embun dan percik air sisa hujan semalam. Aroma kopi hitam yang kuseduh tanpa gula memenuhi ruang makan sempit tempat kita berdua beradu pandang dalam diam yang menggelisahkan.

Kutahu kau ingin bicara, dengan serak suara tersisa, karena semalam tak kunjung henti menahan isak, hingga fajar menjemput dan memaksamu menghadapi hari dengan berat hati. Sebab kakimu akan melangkah amat jauh, menjemput entah apa yang lama bersemayam dalam pikiran sejak dulu. Lalu keheningan jadi kawan sepanjang jalan, hingga burung besi mengangkasa membawa separuh jiwaku turut serta.

Sendiri. Untuk kali ini, aku masih bisa terima, sambil diam-diam berhitung seiring hembusan nafas masygul kehilanganmu. Kutunggu, berapa lama pun itu.

—ooo—

Waktu jadi lambat. Dunia berputar di situ-situ saja. Mungkin cuma aku, sebab susah payah mengingkari betapa diri merana bila sendiri.

Tapi tak dinyana ternyata semua tak berjalan begitu lama. Tiba-tiba surat cinta dan kata manis jadi hambar tak berasa. Cerita-cerita menguap dalam ruang dan waktu yang tersia-sia. Terlampau banyak yang bisa dikerjakan tinimbang muram menunggumu datang. Pelan-pelan aku berdamai dengan sepi. Sendiri itu nikmat sekali.

—ooo—

Sudah empat kali putaran musim datang dan pergi. Ada yang tak beres di hari kaukembali. Hari begitu hangat di senja yang merona jingga. Degup jantungku berlomba dalam irama yang tak biasa. Bukankah rindu telah lama kusimpan dalam-dalam? Terkubur dalam jiwa yang kerontang tanpa pernah kusapa. Mungkin kali ini saatnya ia hadir menemukan muara.

Suara itu, langkah ringan yang mendekat, lembut sapa lewat tatapan mata penuh rasa. Entah apa. Sebab, aku hanya bisa terpaku, seperti dulu-dulu juga. Hadirku hanya buat menanti, kaupergi, kaukembali.

Senyum mengembang di wajahmu yang anggun. Kutahu, kau ingin menghambur dalam pelukku. Mendengar suaraku bergetar menyebut namamu, bukan seperti dalam surat-surat cinta itu.

Namun entahlah, apa bisa? Saat kupandangi wajahmu begitu rupa. Kucari-cari warna koral teduh matamu yang kerap kuingat dalam lamunan. Dia tak di sana. Kau tak di sana. Maafkan, tapi telah kulupa warna matamu

Isakan itu. Dua tetes meluncur di lembut pipimu. Mungkin kini kau tersadar, betapa mahal harga menunggu.

Adelaide, 19 Desember 2012

–Saat aku lupa arti merindu-

Seikat Catatan Acak

Kolom John Kuan

red rose
gambar diunduh dari shutterstock

Sederet jendela hadap ke arah barat, dari pagi hingga siang menembus masuk biru abu-abu yang hening; setelah siang, kuning emas pelan-pelan meluap keluar. Ketika senja, matahari menginjak lewat sederet punggung atap rumah-rumah pendek datang bertatap muka denganku, ingin saya merasakan sedikit kegetiran, sedikit cinta kasih di dalam keletihannya yang tak terucapkan.
Hari panjang hampir berakhir, melangkah pulang dalam kemenangan yang megah keemasan, lampu-lampu gedung tinggi lebih awal menyala daripada bintang-bintang. Bayang ditarik kian panjang, selalu menyeret keluar renungan tak bertepi, urusan-urusan di atas meja kayu kecil untuk sementara dianggap selesai, tidak ada kejutan juga tidak ada yang tak terduga, seharusnya tidak akan diingat oleh siapapun.
Hidup dan kerja begitu rutin juga praktis, saya telah menjadi satu lempengan gir yang berputar bagus dan pas, berputar serentak mengantar pergi embun di pucuk rumput hijau, berputar sendiri menyambut senja, demi setiap pertemuan diam-diam tersentuh, kemudian di dalam perpisahan yang niscaya mengerti akan lupa. Masuk parobaya, tak terhindarkan bercerita dengan orang, berkata [ terhadap segalanya apatis ] adalah bohong, berkata [ pasti ada cita-cita yang lebih jernih ] juga adalah bohong. Kegelisahan yang sesungguhnya di saat ini, di dalam sisa serpihan cahaya keemasan merasakan langit dan bumi bisa demikian hening, bisa dengan ringan mengelus setiap kehidupan yang buta menerjang dan lemah agar bisa rebah dengan tenang, dan tubuhku juga ada di dalamnya.
Ada gunung hijau di luar gunung, ada gedung di luar gedung, sekalipun di dalam kehidupan sering ada tempat yang sedih dan murung, namun pasti juga ada suatu tempat yang terang benderang. Oleh sebab itu saya berencana mencatat getaran hati ini, mungkin ditinggalkan buat gedung kecil gunung hijau yang lain, ditinggalkan buat seseorang yang tersentuh hatinya di tahun lain. Atau mungkin ditinggalkan buat sendiri, di saat-saat menjelang malam, di satu sudut hati yang berkedip-kedip tersimpan sebaris jejak kata yang tidak begitu jelas.

Musim panas seekor lebah mati terkapar ——— membaca Jules Supervielle, sambil berpikir
Pohon telah tumbang……
Penyair berkata:

Carilah wahai burung, carilah
di dalam ingatan begini menjulang
di manakah letak sarangmu?

Seperti penyair Persia Kuno, bisa di dekat air mancur atau di antara bunga-bunga iris pelan-pelan merancang karyanya, di sisi anggur dari madu atau di bawah tenda yang berkepak-kepak digoda angin mempertimbangkan sebuah retorika, betapa bahagia itu. Saya berjalan sampai di taman bunga senyap ini, pohon beringin, bunga azalea, tumbuhan yang sering ditanam di daerah hangat ini diam-diam menerima sengatan matahari semusim, cuma di bawah pohon ketapang di dekat tembok terasa rindang sejuk, menatap langit biru petang yang mulus, hari-hari musim panas bagai sebuah nyanyian jernih menjulur hingga tempat yang tak terjangkau, dari keheningan melantun pelan dan sejuk.
Di bawah rindang pohon, seekor lebah terkapar, sekarat, dia telah rebah di atas tanah kuning, sesekali berusaha mengepakkan sayapnya, namun dia sudah tidak mampu terbang lagi, hanya sia-sia berputar satu kali di atas tanah, setelah itu diam. Begitu berulang-ulang beberapa kali, kemudian perlahan-lahan tidak bergerak lagi, tangan kecilnya melengkung, seolah memanjatkan doa terakhir menjelang ajalnya: Ah, Cahaya sakti! Tolong bersihkan aku yang melahirkan kegelisahan, bawa roh kecil ini ke depan tempat duduk abadi.
Cukup lama memperhatikan, saya berpikir ingin memberi dia beberapa tetes air, begini mungkin bisa sedikit meringankan deritanya, namun ini jelas sangat menggelikan; niat berputar tajam, atau diinjak mati saja agar dia tidak usah lagi menahan kepahitan jatuh di dalam debu pasir, namun langit begini bersih dan indah, sepenuh taman rumput hijau menerbarkan harum, mungkin mata majemuknya masih mengalir spektrum cahaya matahari keemasan, jantungnya yang kecil masih berdenyut, masih menunggu terbang satu kali lagi. Oleh sebab itu saya hanya bisa diam-diam menemaninya, menghadapi satu kematian di puncak musim panas yang terang.
Menurut berita, beberapa tahun terakhir ini di berbagai tempat di dunia, ada suatu sebab yang misterius menyebabkan lebah-lebah peternak tidak pulang sarang, sehingga jumlah mereka berkurang dratis di peternakan-peternakan lebah. Saya tidak tahu apakah lebah ini juga menghadapi masalah yang sama ( penyakit menular, bergesernya medan magnet, penyalahgunaan pestisida, percemaran sumber air, makhluk luar angkasa…… ), adalah perabadan atau ramalan kiamat membuat makhluk kecil ini sesat, atau mungkin dia sudah semestinya terbang sampai di ujung hidupnya. Saya teringat puisi pendek Emily itu:

If I can ease one life the aching,
Or cool one pain,
Or help one fainting robin
Unto his nest again,
I shall not live in vain.

Namun saya tidak tahu di mana sarangnya.
Cahaya matahari dari sela-sela dedaunan setitik-setitik menebar ke bawah, ketika angin sepoi datang, di atas tanah seperti mengalir cairan emas. Sekarang baru bulan Juli, musim gugur masih amat jauh, apalagi musim dingin, mengapa lebah ini sudah mati? Di dalam taman, bunga-bunga sedang gegap gempita merayakan hidup, lebah seharusnya sedang giat-giatnya memanen madu, membantu penyerbukan, dan pembuahan, lalu hidup terus berlanjut, hingga abadi. Namun apa itu abadi? Dikatakan: Ujung paling sempurna adalah tiada ujung; ini adalah serpihan puisi yang tersangkut di dalam ingatan, juga merupakan suatu musim panas yang selamanya menempati dasar hati. Tetapi di ujung keletihan tentu adalah kematian, apakah dia sudah bosan dengan kerja keras setiap hari, bosan dengan cahaya matahari terik, bosan dengan sarang lebah yang penuh sesak, bosan dengan hidup…… Lebah mati terkapar di musim panas, tidak peduli dunia betapa terang berpijar, dia akhirnya juga tenggelam ke dalam kegelapan yang panjang. Kematian tampak memilukan, disebabkan kesunyian di dalam dirinya, atau terlalu mengenang hiruk pikuk dan kemegahan dunia?
Saya dengan tenang menatap makhluk kecil ini, dia berjuang dan mengeliat lemah, lalu perlahan-lahan mati, dunia samasekali tidak ada perubahan apapun, yang haus masih juga haus, yang menunggu masih juga menunggu. Namun saya tiba-tiba merasa cahaya matahari demikian benderang, dan di tempat gelap bersembunyi sederet panjang pasukan yang kelihatan sudah tidak sabar ingin datang memungut. Di dalam puisi Supervielle menceritakan seseorang selalu dengan tangannya bergerak melewati api lilin, buat memastikan dirinya masih hidup; dan suatu hari, api lilin masih sediakala, tetapi orang itu telah menyimpan tangannya.
Saya menjulurkan kedua tangan, menciptakan berbagai bentuk bayangan di atas tanah, menggunakan bayangan-bayangan ini menutup lebah yang sudah samasekali tidak bergerak, laksana sekeping awan hitam…… Sesaat, saya tiba-tiba ingin menyeruput seteguk arak dingin, mendengar sepotong irama Marzuka yang meriah, atau biarkan perasaan yang seperti pasir halus mengalir ke dalam hati, biarkan hati yang membatu beberapa saat ini dalam-dalam dikuasai kembali oleh perasaan yang bercampur aduk, kegembiraan meluap, kesedihan menyayat, keibaan yang ngilu, kegelisahan tiada ujung, sebelum pohon tumbang. Sesaat ——— tubuh masih milikku, roh masih milikku.

~~~

Hotel berada di pinggiran kota, stasiun terakhir trem, bagian tengah yang dikelilingi rel seperti sebuah taman kecil, setiap saat ada orang datang dan pergi.
Pemandangan yang murung dan rusak, persis seperti tempat Tereza dan Tomas bertemu di bawah pena Milan Kundera, bahkan bangku panjangnya juga sangat cocok buat suasana begitu, dan cerita pun dimulai, seandainya hidup hanya satu kali, lalu apakah boleh dikatakan pernah terjadi? Seandainya dunia dibagi menjadi dua sisi, berat dan ringan, jiwa dan raga, lalu sebelah mana yang benar-benar ada?
Di Praha ada terlalu banyak patut dikenang, serangga Kafka, [ Don Giovanni ] Mozart, dan pengamen di sudut jalan tengah malam, namun yang membuat saya berkesan justru taman stasiun kecil ini, saya seolah bertemu Tereza dan Tomas, mereka satu tangan memegang [ Anna Karenina ], tangan lain bergandengan, Tereza menggigit sebuah bagel, seperti angin begitu saja melewati hidupku, [ Turis yang sangat aneh! ] mungkin mereka sedang berpikir demikian, dan mereka pasti tidak tahu saya telah berulang kali bolak-balik membaca seluruh hidup mereka, bahkan percaya sendiri akan bersenggolan dengan mereka di jalan-jalan batu di kota.
Hidup pada dasarnya adalah terus menerus mencari, melalui kebetulan-kebetulan dan tak terduga, ” selama bertahun-tahun, aku terus memikirkan Tomas, seperti hanya mengandalkan kenangan menahan cahaya, baru bisa melihat jelas orang ini. ” Waktu itu adalah jam enam sore, Tereza baru saja pulang kerja, Tomas duduk di bangku panjang tepat di depan hotel membaca, saya berjalan masuk ke dalam cerita mereka yang murung dan dingin, bahkan memotret, buat kenangan.

~~~

Ada kedai-kedai tertentu memang memiliki karya yang luar biasa, ditambah lingkungannya yang membangkitkan selera, sangat cocok buat duduk sejenak mencicipi kenikmatan dunia, hanya saja pemiliknya selalu demi menciptakan semacam suasana akan mengisi ruangannya dengan musik tertentu, tetapi musik yang dimainkan ini tepat pula merusak nuansa yang mereka inginkan, ini tentu mengecewakan, sebab ketika musik mulai melayang naik, seniman tarik suara tanpa basa-basi langsung menunjukkan selera tersembunyi pemilik kedai, maksud awal bersiap-siap menikmati sepiring kecil cuci mulut yang manis tiba-tiba telah berubah menjadi kegelisahan berkalori tinggi, tentu merasa kepuasan telah ditebas sebelum sampai ujung.
Di sekitar pusat Kota Tainan, dekat hotel tempat saya menginap ada sebuah kedai es, namanya [ Xiao Douzi ], khusus menjual es cincau campur ronde talas, es sirupnya yang segar diterjang masuk krim, di dalam wangi segar cincau berputar ronde talas yang kenyal, sebuah pesta meriah di puncak musim panas, dia juga menjual semacam es teh hijau, hijaunya sudah tidak usah cerita, mata lihat saja seluruh badan bisa sejuk, saya juga sudah mencobanya. Dekorasi [ Xiao Douzi ] sangat sederhana, dinding lantai bata merah, kursi meja kayu dan pendek, kasar dan kikuk seperti juga cocok buat seruput es setengah jongkok ( kalau jongkok penuh artinya seruput es kacang hijau dekat Jalan Lautze ). Petang musim panas yang membosankan, hujan dan guruh sedang ragu-ragu entah mau datang entah tidak, di dalam ruangan sedang dialirkan musik, suara penyanyi perempuan yang tinggi melengkung berputar sangat memukau, seperti ada semacam kesepian mendaki sendiri di ketinggian tangga nada, agaknya dari cakram penyanyi Norwegia: Silje Vige, tamu di beberapa meja terdiam di dalam petang yang murung, hanya sebentar hujan sudah tumpah-ruah memenuhi langit dan bumi, dan suara penyanyi masih tetap memukau, bahasa utara yang asing dinyanyikan hingga mengenangi melankolis dunia selatan yang lembab.
Setiap kali bertemu keadaan begini, saya selalu teringat ketika Sabina dan Franz duduk di dalam restoran, Sabina mengeluh musik terlalu berisik, namun berkata di dalam hatinya: ” …… di jaman Bach, musik-musik itu bagaikan mawar yang mekar di atas hamparan salju yang sunyi senyap tak bertepi ”
Ah!

~~~

Ketika pelayan membawa datang semangkuk ramen daging panggang yang masih mengepul, saya teringat di dalam filem Juzo Itami [ Tampopo ], tentang keteguhan orang Jepang terhadap ramen yang sudah mendekati gila, oleh sebab itu menjadi khidmat, makan mi, seruput kuah, menarik satu nafas dalam-dalam, merasakan manis dan sedikit harum pedas daun bawang di dalam kuah yang tertutup uap panas, lalu beribu kali mengingat kenangan akan derita dan keriangan indera rasa, kemudian di dalam sekejap sentuhan, sekuatnya melupakan segalanya.
Di dalam beberapa buku tentang ramen Sapporo di Hokkaido yang pernah saya baca, semua penulis bulat satu suara menjulurkan lidah ke arah pintu Tokeidai Ramen. Letaknya dekat Menara Jam Kota Sapporo ( Sapporo Tokeidai ), saya kira begitulah mereka mengambil nama ini. Sejujurnya, ramen [ Tokeidai Ramen ] memang sedap, namun yang meninggalkan jejak rasa di lidah saya ada di dalam sebuah kedai kecil di dekat stasiun kereta api kota kecil Biei, menelusup lewat kain tirai pintunya yang usang dan robek, di dalam penuh pengunjung berdiri dan duduk, suara kuah membahana, seluruh ruangan penuh suara tenggorokan, tiada seorangpun sempat menggunakan mulut berbicara.
Siang yang gerimis dan dingin, ditambah lagi tersesat di sana-sini, setelah mi kuah sampai di atas meja, saya langsung bergabung dalam barisan panduan suara tenggorokan ini, sedikit menyerupai nyanyian Orang Tuva, sedikit menyerupai nyanyian Orang Inuit, paling mirip mungkin dengan Rekuhkara, nyanyian Suku Ainu Hokkaido. Juzo Itami di dalam filemnya [ Tampopo ] memberi perumpamaan ketika menikmati makanan lezat atau arak harum: ” Waktu tiba-tiba berubah menjadi begitu panjang “, betapa betulnya dia!
Dalam perjalanan pulang singgah lagi ke Sapporo, menyempatkan diri pergi mencicipi semangkuk ramen Tokedai lagi, bagi indera rasa, sering makanan enak yang tersaji di depan mata hanya menyodorkan semacam kesia-siaan dan kesedihan, terhadap yang pernah, juga terhadap yang tidak lagi.

Desember Debu Kelabu

Puisi Anwari WMK

burung pipit
gambar oleh Anwari WMK

Bertengger di reranting pohon
Seekor burung bernyanyi
Senandungkan lagu ihwal
Desember mendebu kelabu

Nyanyian adalah tanda
Tentang suka cita jiwa
Untuk selarik makna
Nikmat mereguk fana

Sukma kian tercabik dingin
Desember mendebu kelabu
Seekor burung di reranting pohon
Hanya dimampukan takdir
Senandungkan tembang pilu

Hingga senja menjelang
Burung itu masih bernyanyi:

“Tak ada perih lebih sembilu
Dari Desember mendebu kelabu
Tak ada pedih di atas nyeri
Dari Desember mendebu kelabu”

(Desember 2012)

Tanggapan atas Artikel ‘Meributkan Natal’ Achmad Munjid

Penulis Muhammad Abduh Tuasikal

Alhamdulillahi robbil ‘alamin, wa shalaatu wa salaamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
haram-ucapkan-selamat-natalSudah sering kita mendengar ucapan semacam ini menjelang perayaan Natal yang dilaksanakan oleh orang Nashrani. Mengenai dibolehkannya mengucapkan selamat natal ataukah tidak kepada orang Nashrani, sebagian kaum muslimin masih kabur mengenai hal ini. Sebagian di antara mereka dikaburkan oleh pemikiran sebagian orang yang dikatakan pintar (baca : cendekiawan), sehingga mereka menganggap bahwa mengucapkan selamat natal kepada orang Nashrani tidaklah mengapa (alias ‘boleh-boleh saja’). Bahkan sebagian orang pintar tadi mengatakan bahwa hal ini diperintahkan atau dianjurkan.
Namun untuk mengetahui manakah yang benar, tentu saja kita harus merujuk pada Al Qur’an dan As Sunnah, juga pada ulama yang mumpuni, yang betul-betul memahami agama ini. Ajaran islam ini janganlah kita ambil dari sembarang orang, walaupun mungkin orang-orang yang diambil ilmunya tersebut dikatakan sebagai cendekiawan. Namun sayang seribu sayang, sumber orang-orang semacam ini kebanyakan merujuk pada perkataan orientalis barat yang ingin menghancurkan agama ini. Mereka berusaha mengutak-atik dalil atau perkataan para ulama yang sesuai dengan hawa nafsunya. Mereka bukan karena ingin mencari kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya, namun sekedar mengikuti hawa nafsu. Jika sesuai dengan pikiran mereka yang sudah terkotori dengan paham orientalis, barulah mereka ambil. Namun jika tidak bersesuaian dengan hawa nafsu mereka, mereka akan tolak mentah-mentah. Ya Allah, tunjukilah kami kepada kebenaran dari berbagai jalan yang diperselisihkan –dengan izin-Mu-
Semoga dengan berbagai fatwa dari ulama yang mumpuni ini, kita mendapat titik terang mengenai permasalahan ini.:: Fatwa Pertama ::

Mengucapkan Selamat Natal dan Merayakan Natal Bersama

Berikut adalah fatwa ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah, dari kumpulan risalah (tulisan) dan fatwa beliau (Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin), 3/28-29, no. 404.
Beliau rahimahullah pernah ditanya,

“Apa hukum mengucapkan selamat natal (Merry Christmas) pada orang kafir (Nashrani) dan bagaimana membalas ucapan mereka? Bolehkah kami menghadiri acara perayaan mereka (perayaan Natal)? Apakah seseorang berdosa jika dia melakukan hal-hal yang dimaksudkan tadi, tanpa maksud apa-apa? Orang tersebut melakukannya karena ingin bersikap ramah, karena malu, karena kondisi tertekan, atau karena berbagai alasan lainnya. Bolehkah kita tasyabbuh (menyerupai) mereka dalam perayaan ini?”

Beliau rahimahullah menjawab :

Memberi ucapan Selamat Natal atau mengucapkan selamat dalam hari raya mereka (dalam agama) yang lainnya pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca : ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya ‘Ahkamu Ahlidz Dzimmah’. Beliau rahimahullah mengatakan,

“Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.

Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” –Demikian perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah-
Dari penjelasan di atas, maka dapat kita tangkap bahwa mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. Alasannya, ketika mengucapkan seperti ini berarti seseorang itu setuju dan ridho dengan syiar kekufuran yang mereka perbuat. Meskipun mungkin seseorang tidak ridho dengan kekufuran itu sendiri, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk ridho terhadap syiar kekufuran atau memberi ucapan selamat pada syiar kekafiran lainnya karena Allah Ta’ala sendiri tidaklah meridhoi hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (QS. Az Zumar [39] : 7)

Allah Ta’ala juga berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Maidah [5] : 3)

Apakah Perlu Membalas Ucapan Selamat Natal?

Memberi ucapan selamat semacam ini pada mereka adalah sesuatu yang diharamkan, baik mereka adalah rekan bisnis ataukah tidak. Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka pada kita, maka tidak perlu kita jawab karena itu bukanlah hari raya kita dan hari raya mereka sama sekali tidak diridhoi oleh Allah Ta’ala. Hari raya tersebut boleh jadi hari raya yang dibuat-buat oleh mereka (baca : bid’ah). Atau mungkin juga hari raya tersebut disyariatkan, namun setelah Islam datang, ajaran mereka dihapus dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran Islam ini adalah ajaran untuk seluruh makhluk.

Mengenai agama Islam yang mulia ini, Allah Ta’ala sendiri berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imron [3] : 85)

Bagaimana Jika Menghadiri Perayaan Natal?

Adapun seorang muslim memenuhi undangan perayaan hari raya mereka, maka ini diharamkan. Karena perbuatan semacam ini tentu saja lebih parah daripada cuma sekedar memberi ucapan selamat terhadap hari raya mereka. Menghadiri perayaan mereka juga bisa jadi menunjukkan bahwa kita ikut berserikat dalam mengadakan perayaan tersebut.

Bagaimana Hukum Menyerupai Orang Nashrani dalam Merayakan Natal?

Begitu pula diharamkan bagi kaum muslimin menyerupai orang kafir dengan mengadakan pesta natal, atau saling tukar kado (hadiah), atau membagi-bagikan permen atau makanan (yang disimbolkan dengan ‘santa clause’ yang berseragam merah-putih, lalu membagi-bagikan hadiah, pen) atau sengaja meliburkan kerja (karena bertepatan dengan hari natal). Alasannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim mengatakan,
“Menyerupai orang kafir dalam sebagian hari raya mereka bisa menyebabkan hati mereka merasa senang atas kebatilan yang mereka lakukan. Bisa jadi hal itu akan mendatangkan keuntungan pada mereka karena ini berarti memberi kesempatan pada mereka untuk menghinakan kaum muslimin.” -Demikian perkataan Syaikhul Islam-
Barangsiapa yang melakukan sebagian dari hal ini maka dia berdosa, baik dia melakukannya karena alasan ingin ramah dengan mereka, atau supaya ingin mengikat persahabatan, atau karena malu atau sebab lainnya. Perbuatan seperti ini termasuk cari muka (menjilat), namun agama Allah yang jadi korban. Ini juga akan menyebabkan hati orang kafir semakin kuat dan mereka akan semakin bangga dengan agama mereka.
Allah-lah tempat kita meminta. Semoga Allah memuliakan kaum muslimin dengan agama mereka. Semoga Allah memberikan keistiqomahan pada kita dalam agama ini. Semoga Allah menolong kaum muslimin atas musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Mulia.

:: Fatwa Kedua ::

Berkunjung Ke Tempat Orang Nashrani untuk Mengucapkan Selamat Natal pada Mereka

Masih dari fatwa Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah dari Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin, 3/29-30, no. 405.
Syaikh rahimahullah ditanya: Apakah diperbolehkan pergi ke tempat pastur (pendeta), lalu kita mengucapkan selamat hari raya dengan tujuan untuk menjaga hubungan atau melakukan kunjungan?

Beliau rahimahullah menjawab :
Tidak diperbolehkan seorang muslim pergi ke tempat seorang pun dari orang-orang kafir, lalu kedatangannya ke sana ingin mengucapkan selamat hari raya, walaupun itu dilakukan dengan tujuan agar terjalin hubungan atau sekedar memberi selamat (salam) padanya. Karena terdapat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167)

Adapun dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkunjung ke tempat orang Yahudi yang sedang sakit ketika itu, ini dilakukan karena dulu ketika kecil, Yahudi tersebut pernah menjadi pembantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala Yahudi tersebut sakit, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya dengan maksud untuk menawarkannya masuk Islam. Akhirnya, Yahudi tersebut pun masuk Islam.

Bagaimana mungkin perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengunjungi seorang Yahudi untuk mengajaknya masuk Islam, kita samakan dengan orang yang bertandang ke non muslim untuk menyampaikan selamat hari raya untuk menjaga hubungan?! Tidaklah mungkin kita kiaskan seperti ini kecuali hal ini dilakukan oleh orang yang jahil dan pengikut hawa nafsu.

:: Fatwa Ketiga ::

Merayakan Natal Bersama

Fatwa berikut adalah fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi) no. 8848.

Pertanyaan : Apakah seorang muslim diperbolehkan bekerjasama dengan orang-orang Nashrani dalam perayaan Natal yang biasa dilaksanakan pada akhir bulan Desember? Di sekitar kami ada sebagian orang yang menyandarkan pada orang-orang yang dianggap berilmu bahwa mereka duduk di majelis orang Nashrani dalam perayaan mereka. Mereka mengatakan bahwa hal ini boleh-boleh saja. Apakah perkataan mereka semacam ini benar? Apakah ada dalil syar’i yang membolehkan hal ini?

Jawab :

Tidak boleh bagi kita bekerjasama dengan orang-orang Nashrani dalam melaksanakan hari raya mereka, walaupun ada sebagian orang yang dikatakan berilmu melakukan semacam ini. Hal ini diharamkan karena dapat membuat mereka semakin bangga dengan jumlah mereka yang banyak. Di samping itu pula, hal ini termasuk bentuk tolong menolong dalam berbuat dosa. Padahal Allah berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al Maidah [5] : 2)

Semoga Allah memberi taufik pada kita. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, pengikut dan sahabatnya.

Ketua Al Lajnah Ad Da’imah : Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz

Saatnya Menarik Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, kita dapat menarik beberapa kesimpulan :

Pertama, Kita –kaum muslimin- diharamkan menghadiri perayaan orang kafir termasuk di dalamnya adalah perayaan Natal. Bahkan mengenai hal ini telah dinyatakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia sebagaimana dapat dilihat dalam fatwa MUI yang dikeluarkan pada tanggal 7 Maret 1981.

Kedua, Kaum muslimin juga diharamkan mengucapkan ‘selamat natal’ kepada orang Nashrani dan ini berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim. Jadi, cukup ijma’ kaum muslimin ini sebagai dalil terlarangnya hal ini. Yang menyelisihi ijma’ ini akan mendapat ancaman yang keras sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(QS. An Nisa’ [4] : 115). Jalan orang-orang mukmin inilah ijma’ (kesepakatan) mereka.

Oleh karena itu, yang mengatakan bahwa Al Qur’an dan Hadits tidak melarang mengucapkan selamat hari raya pada orang kafir, maka ini pendapat yang keliru. Karena ijma’ kaum muslimin menunjukkan terlarangnya hal ini. Dan ijma’ adalah sumber hukum Islam, sama dengan Al Qur’an dan Al Hadits. Ijma’ juga wajib diikuti sebagaimana disebutkan dalam surat An Nisa ayat 115 di atas karena adanya ancaman kesesatan jika menyelisihinya.

Ketiga, jika diberi ucapan selamat natal, tidak perlu kita jawab (balas) karena itu bukanlah hari raya kita dan hari raya mereka sama sekali tidak diridhoi oleh Allah Ta’ala.

Keempat, tidak diperbolehkan seorang muslim pergi ke tempat seorang pun dari orang-orang kafir untuk mengucapkan selamat hari raya.

Kelima, membantu orang Nashrani dalam merayakan Natal juga tidak diperbolehkan karena ini termasuk tolong menolong dalam berbuat dosa.

Keenam, diharamkan bagi kaum muslimin menyerupai orang kafir dengan mengadakan pesta natal, atau saling tukar kado (hadiah), atau membagi-bagikan permen atau makanan dalam rangka mengikuti orang kafir pada hari tersebut.

Demikianlah beberapa fatwa ulama mengenai hal ini. Semoga kaum muslimin diberi taufiko oleh Allah untuk menghindari hal-hal yang terlarang ini. Semoga Allah selalu menunjuki kita ke jalan yang lurus dan menghindarkan kita dari berbagai penyimpangan. Hanya Allah-lah yang dapat memberi taufik.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘alihi wa shohbihi wa sallam.

Diselesaikan pada siang hari, di rumah mertua tercinta, Panggang-Gunung Kidul, 18 Dzulhijah 1429 H

Baca artikel terkait:

Meributkan NatalFatwa Natal, Ujung dan Pangkal

Fatwa Natal, Ujung dan Pangkal

Gerundelan KH. Abdurrahman WahidKASUS “Fatwa Natal” dari Majelis Ulama Indonesia ternyata menghebohkan juga. Lembaga itu didesak agar “mencabut peredaran” fatwa yang melarang kaum muslimin untuk menghadiri perayaan keagamaan golongan agama lain.

haram-ucapkan-selamat-natalIni sungguh merepotkan, hingga orang sesabar dan sebaik Buya Hamka sampai meletakkan jabatan sebagai ketua umum MUI. Emosi pun mudah terganggu mendengarnya, kemarahan gampang terpancing, dan kesadaran lalu hilang di hadapannya: yang tinggal cuma sumpah serapah.

Padahal, masalahnya kompleks. Sebagai kumpulannya para ulama, bolehkah MUI menggunakan terminologi dan pengertian yang lain dari apa yang diikuti para ulama umumnya? Kalau tidak boleh, bukankah sudah logis kalau MUI mengeluarkan fatwa seperti itu, karena memang masih demikianlah pengertian para ulama sendiri? Kalau boleh, lalu terminologi dan pengertian apakah yang harus dipergunakan oleh MUI?

Jadi, ternyata pangkal persoalan belum ditemukan pemecahannya. Ia menyangkut penetapan wewenang membuat penafsiran kembali banyak prinsip keagamaan yang sudah diterima sebagai bagian inheren dari sistem berpikir keagamaan kaum muslimin.

Lembaga seperti MUI, yang memang dibuat hanya sekadar sebagai penghubung antara pemerintah dan umat pemeluk agama Islam (itu pun yang masih merasa memerlukan kontak ke luar), sudah tentu sangat gegabah untuk diharapkan dapat berfungsi demikian. Ia hanyalah sebuah pusat informasi yang memberikan keterangan tentang umat kepada pemerintah dan maksud pemerintah kepada kaum muslimin.

Tidak lebih dari itu. Kalau lebih, mengapa ia dirumuskan sebagai “tidak bersifat operatif dan tidak memiliki jenjang vertikal dengan Majelis-majelis­ Ulama di daerah? Kalau ia dikehendaki mampu merumuskan sendiri pedoman pengambilan keputusan atas nama umat Islam, mengapakah bukan tokoh-tokoh puncak tiap organisasi Islam yang dijadikan “perwakilan” di dalamnya?

Main Mutlak-mutlakan­ Itu tadi tentang pangkal persoalannya: tidak jelasnya status keputusan yang dikeluarkan MUI, di mana titik pijak berpikirnya, dan kepada siapakah ia selalu harus berbicara (supaya jangan selalu babak belur dicaci maki pihak yang terkena).

Bagaimana halnya dengan ujung persoalan “Fatwa Natal”? Apakah lalu akan keluar fatwa tidak boleh pacaran dengan gadis beragama lain, lalu fatwa sama sekali tidak boleh pacaran? Apakah menganggukkan kepala kalau bertemu gadis juga dimasukkan ke dalam kategori pacaran? Bagaimana pula tersenyum (baik malu-malu ataupun penuh harapan)? Bolehkah, nanti anak saya bersekolah satu bangku dengan murid lain yang beragama Budha? Bagaimana kalau ada tamu Hindu, haruskah saya banting pecahkan gelas bekas ia meneguk minuman yang saya suguhkan (walaupun mungkin gelas pinjam dari orang lain)? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Kalau tidak ada keinginan menetapkan ujung persoalannya, jangan-jangan nanti kita tidak boleh membiarkan orang Kristen naik taksi yang di kacanya tertulis kaligrafi Arab berbunyi Bismillahirrahm­anirrahim. Alangkah pengapnya udara kehidupan kita semua, kalau sampai demikian!

Tetapi, mencari ujung itu juga tidak mudah, karena ia berangkat dari seperangkat postulat yang main mutlak-mutlakan­ dalam pemikiran keagamaan kita.

Yang celaka kalau pemeluk agama-agama lain juga bersikap eksklusif seperti itu. Salah-salah, si muslim nakal bisa mengalami nasib sial: sudah mencuri-curi perginya melihat perayaan Natal (takut dimarahi MUI), sesampai di tempat perayaan itu diusir oleh penjaga pintu pula.

Karenanya, mengapakah tidak kita mulai saja mengusulkan batasan yang jelas tentang wilayah “kajian” (atau keputusan, atau pertimbangan, atau entah apa lagi) yang baik dipegangi oleh MUI? Mengapakah tidak masalah-masalah­ dasar yang dihadapi bangsa saja. Bagaimana merumuskan kemiskinan dari sudut pandangan agama, bagaimana mendorong penanganan masalah itu menurut pandangan agama, bagaimana meletakkan kedudukan upaya penanganan kemiskinan (haram, halal, mubah, makruh, sunahkah?) oleh berbagai lembaga di bawah? Bagaimana pula kaum muslimin seyogianya bersikap terhadap ketidakadilan, terhadap kebodohan?

Jawabannya tentulah harus terperinci dan konkret, jangan cuma sitiran satu dua hadis tentang kewajiban belajar hingga ke liang kubur saja. Nah, kapankah akan ada kejelasan tentang ujung dan pangkal kasus “Fatwa Natal”, yang juga berarti ujung dan pangkal MUI sendiri?

Kolom TEMPO, 30 Mei 1981

Sumber: catatan Akhmad Sahal

Artikel terkait: Meributkan Natal

~diunggah oleh RetakanKata~

Meributkan Natal

Gerundelan Achmad Munjidharam-ucapkan-selamat-natal
Menjelang awal atau akhir bulan puasa, sebagian orang Islam di Indonesia suka ribut. Begitu terjadi perbedaan hasil perhitungan antara metode ru’yah (observasi empiris langsung) versus hilal (kalkulasi kalender), mereka segera gaduh memperselisihkan tanggal mana yang paling sah untuk menentukan khususnya Idul Fitri. Dengan berbagai alasan, ini bisa dimaklumi. Bagaimanapun Idul Fitri adalah suatu hari raya penting Islam yang terkait dengan ibadah wajib, yakni puasa Ramadhan.Tapi orang-orang Islam Indonesia ini belakangan juga suka meributkan hari raya ummat lain. Setiap sekitar Natal seperti sekarang, kita suka cekcok.  Jelas soalnya bukan tanggal. Dengan sengit, sebagian Muslim mengharamkan kita untuk mengucapkan “Selamat Natal” kepada teman atau tentanga yang Kristen. Muslim yang mengucapkannya dituduh membahayakan aqidah Islam, kalau bukan telah mengorbankannya. Jadi ini bukan perkara sepele, apalagi main-main.Menarik untuk dicatat, banyak pendukung pengharaman “Selamat Natal” yang sering merujuk pada Fatwa MUI 1981 dan pendapat Buya HAMKA soal ini sebagai pijakan. Anehnya, ketika diselidik, MUI sendiri ternyata tidak pernah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan ucapan Selamat Natal. Buya HAMKA bahkan terang-terangan membolehkannya.

Sebagai bagian dari topik lebih luas, isu ini sebetulnya sudah berkali-kali dibahas dalam sejumlah riset yang lebih mendalam, antara lain seperti telah dilakukan oleh Atho’ Mudzhar (1996), Karel Steenbrink (2000) dan Mujiburrahman (2006). Tulisan kecil ini dibuat sebagai penegasan ulang saja, sekaligus klarifikasi. Mudah-mudahan ia bisa turut menjernihkan kembali “pesan berantai” yang entah dengan maksud apa isinya telah jauh terpelintir ketika sampai ke telinga kita.

* * * * *

Ketika menyampaikan program rutin “kuliyah shubuh” yang disiarkan RRI pada tahun 1974, Buya HAMKA mendapat pertanyaan dari seorang pendengar. “Apa sikap yang pantas kita tunjukkan sebagai Muslim ketika diundang untuk menghadiri acara Natal dari teman atau tetangga yang beragama Kristen?,” begitu kira-kira pertanyaannya. Karena keterbatasan waktu, HAMKA kemudian memberikan jawaban tertulis berjudul “Toleransi Bukan Pengorbanan ‘Aqidah” yang dimuat majalah Panji Masyarakat No. 142 tahun 1974.

Sembari menjelaskan perbedaan fundamental soal kedudukan Yesus—sebagai inkarnasi Tuhan dalam agama Kristen dan Isa a.s. sebagai seorang Nabi dan manusia biasa dalam Islam—secara eksplisit HAMKA menyatakan bahwa mengucapkan Selamat Natal sebagai ungkapan toleransi beragama adalah boleh-boleh saja. Tetapi orang Islam tidak dibenarkan berpartisipasi dalam ritual perayaan Natal. Ilustrasinya, orang-orang Kristen juga sudah biasa menyampaikan ucapan Selamat Idul Fitri kepada kita, tapi mereka tentu tidak akan ikut sembahyang di masjid atau di lapangan terbuka yang kita selenggarakan. Ditambahkannya pula, jangankan berpartisipasi dalam perayaan ibadah Natal, sebagian ulama seperti Ibn Taimiyyah atau kelompok Persis di Indonesia bahkan juga melarang orang Islam merayakan Maulid yang merupakan hari lahir Nabi kita sendiri. Ini semua dilakukan demi menjaga aqidah.

Penjelasan HAMKA itu tidak menimbulkan kontroversi apa pun. Dan memang tidak ada yang kontroversial.

Sekitar lima tahun kemudian, Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dibentuk tahun 1975 oleh Orde Baru sebagai jembatan antara ummat Islam dengan Pemerintah, mengeluarkan fatwa pada tanggal 7 Maret 1981 mengenai isu serupa. Ketua MUI-nya adalah HAMKA yang hanya bersedia diangkat oleh Suharto dengan satu syarat: “tidak akan menerima gaji dari Pemerintah” (demi memelihara independensi lembaganya).

Sebetulnya isi fatwa tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah disampaikan HAMKA sebelumnya. Tapi kali ini dalilnya lebih lengkap dan argumennya lebih tegas. Fatwa ini sendiri dikeluarkan atas permintaan kantor kementerian agama untuk evaluasi internal sekaligus buat menanggapi keresahan sebagian Muslim akibat kian maraknya perayaan Natal bersama di kantor-kantor dan sekolah-sekolah.

Kita tahu, tahun-tahun 1980-an adalah masa ketika rejim militer Suharto sedang kuat-kuatnya mencengkeramkan kekuasaan sekaligus lebih mesra dengan kelompok Kristen dan abangan. Ummat Islam dipaksa menerima kenyataan sebagai kelompok “mayoritas angka” yang tak punya peluang dan peran strategis signifikan. Dengan sokongan sekaligus kendali rejim itu, kelompok minoritas Kristen dan keturunan Cina bisa memainkan kekuasaan tertentu, yang membuat Muslim kian merasa kecewa dan tersingkir. Terkait Natal bersama yang menjadi konteks fatwa MUI tadi, Panji Masyarakat melaporkan maraknya pengharusan oleh sekolah Kristen tertentu terhadap siswa Muslim untuk terlibat dalam perayaan Natal, entah sebagai penyanyi koor atau pemeran tokoh dalam drama Natal dll.

Ancaman akidah yang disebut dalam fatwa tadi, karenanya, bisa dibaca sebagai retorika tawar-menawar ummat Islam di depan pemerintah dan kelompok minoritas Kristen yang posisinya jauh lebih baik secara ekonomi dan politik.

Tapi fatwa ini tidak pernah sekalipun menyebut soal haramnya mengucapkan “Selamat Natal” oleh orang Islam. Yang diharamkan adalah partisipasi orang Islam pada acara Natal dalam konteks di atas. Teks fatwa itu kemudian dikirim ke kantor-kantor wilayah MUI daerah dan dimuat dalam Buletin Majelis Ulama Nomor 3 April 1981. Meski buletin itu cuma dicetak 300 eksemplar, tak pelak, fatwa ini segera beredar cukup luas, terutama setelah diliput media. Dari sinilah kontroversi berawal.

Alamsjah Ratuprawinegara sebagai Menteri Agama yang sedang gencar mempromosikan “Tri Kerukunan” (kerukunan intern ummat beragama, kerukunan antar ummat beragama, kerukunan antara ummat beragama dengan Pemerintah), merasa terpojok dan jengkel. Pertama, ia tidak mengharapkan fatwa untuk kepentingan terbatas itu tersebar luas. Kedua, program “Tri Kerukunan” yang tengah dipromosikannya terancam gagal. Dalam suatu pertemuan antara pihak MUI dengan Menag, sebagai reaksi keras terhadap fatwa itu, Alamsjah sempat menyatakan akan mundur. Akibatnya, MUI segera menerbitkan surat keputusan yang ditandatangani HAMKA dan sektrarisnya. Seperti dimuat harian Pelita, SK itu menyatakan bahwa fatwa kontroversial itu dicabut peredarannya—meski dalam kesempatan lain HAMKA tetap menyatakan validitas isi fatwa itu sendiri. Akibat ketidaknyamanan yang ditimbulkan fatwa itu, HAMKA menyatakan bahwa dirinyalah yang bertanggung jawab untuk mundur, bukan Menag.

HAMKA akhirnya benar-benar mundur sebagai ketua MUI pada tanggal 19 Mei 1981. Dalam sejarah MUI sampai sekarang, hanya beliaulah satu-satunya ketua MUI yang mengundurkan diri, tak pernah menerima gaji, sekaligus yang pernah mengeluarkan fatwa berseberangan dengan posisi pemerintah.

Tempo memuat berita ini dalam edisi Buya, Fatwa dan Kerukunan Beragama tanggal 30 Mei 1981. Gus Dur menulis kolom dalam edisi itu, berjudul “Fatwa Natal, Ujung dan Pangkal” yang, bisa kita duga, isinya mengkritik keras fatwa tadi.

Tapi, sekali lagi, baik HAMKA maupun MUI tak pernah menyebut haramnya ucapan Selamat Natal. Majalah Panji Masyarakat yang diasuh HAMKA pada nomor 325 edisi Juni 1981 bahkan memuat tulisan Samudi Abdullah yang menyarankan agar orang Islam yang mendapat undangan acara Natal untuk “datang, duduk dengan tenang dan menyantap makanan ketika dihidangkan.” Sebab yang diharamkan adalah partisipasi dalam ritual dan bukan kehadiran dalam acara Natal.

Lalu dari mana datangnya klaim haramnya ucapan “Selamat Natal”? Entah.

Meminjam istilah Mujiburrahman, feeling threatened boleh jadi adalah salah satu penjelasannya. Perasaan terancam, baik di kalangan Muslim maupun Kristen, juga ummat beragama lain, memang telah lama merupakan atmosfir yang terus menyelimuti hubungan antar ummat beragama di Indonesia.

Meski sejak 1990-an dengan berdirinya ICMI situasi Islam sudah terbalik, ternyata psikologi itu terus dipelihara di kalangan Muslim. Dalam bayang-bayang rasa terancam, ketika jadi pecundang, orang Islam selalu takut tidak kebagian. Ketika jadi pemenang seperti sekarang, kita takut kehilangan. Itulah kenapa bahkan hanya mengucapkan “Selamat Natal” sebagai ungkapan tata-krama pergaulan sosial pun sebagian Muslim tidak bisa, karena takut ‘kehilangan’. Kalau dulu  ‘perlindungan akidah’ dipakai sebagai retorika untuk menaikkan daya tawar, sekarang retorika yang sama digunakan untuk mempertahankan privilege sebagai kelompok mayoritas yang sesungguhnya.

Tapi perasaan terancam yang terus dipelihara, apalagi digunakan sebagai alat permainan politik demikian, tentu sangat berbahaya. Serangkaian praktek diskriminasi, bahkan persekusi yang kian memburuk dan terus memakan banyak korban belakangan ini, entah kaum Ahmadi di Cikeusik, Syiah di Sampang, Gereja Yasmin di Bogor dll, adalah konsekuensi dibiarkannya manipulasi atas perasaan terancam di kalangan mayoritas Muslim.

Pemelintiran haramnya partisipasi Muslim dalam aspek ritual Natal seperti pernah dikemukakan oleh Buya HAMKA tahun 1974 dan fatwa MUI tahun 1981 menjadi haram mengucapkan “Selamat Natal” adalah cerminan kian menggumpalnya perasaan terancam sebagian orang Islam sekaligus kehendak intoleran sebagai golongan mayoritas yang harus dicegah. Mayoritas atau bukan, tidak ada seorang pun yang boleh sembarangan memanipulasi kenyataan demi kepentingan sempit kelompoknya.

Jika tidak, keadaan bisa terus memburuk dan menggiring bangsa ini menuju liang kubur bersama.

Mungkin Anda tertarik juga untuk membaca:

Selamat Natal Menurut Al Quran

Fatwa Natal, Ujung dan Pangkal

Tanggapan ‘Meributkan Natal’

Muslim Controversy ove ‘Merry Christmas’ Greeting

~diunggah oleh RetakanKata~

Karena Setiap Kata Punya Makna