Menyematkan Rindu Pada Bulir Padi yang Menguning

Cerpen DeAnnita

Panas terik matahari siang ini kembali membakar kulit sawo matangku. Setelah lelah sedari pagi membantu mamak dan bapak memanen padi, aku duduk di sebuah gubuk bambu yang sengaja bapak buat sebagai tempat peristirahatan. Kulihat mamak dan bapak tampak begitu lahap menyantap bekal makan siang yang setiap hari mamak persiapkan sebelum pergi ke sawah. Mamak selalu membawanya dalam rantang abu-abu itu.

Aku tak lapar, sama sekali tidak. Di setiap waktu makan siang seperti ini, rasa laparku selalu terkalahkan oleh satu rasa yang begitu menggebu. Rasa yang mengikat hatiku pada sebuah janji yang kau ucapkan dua tahun yang lalu–di gubuk bambu ini. Rasa itu kuberi nama rindu. Lalu hari-hariku seperti anak-anak sekolah. Aku mempunyai pekerjaan rumah untuk menyematkan rindu pada bulir padi yang menguning.

Dulu, sebelum kau pergi membawa mimpimu ke kota megapolitan itu, kita selalu berbagi makan siang di sini. Kau selalu membawa ubi rebus yang mamak-mu rebus sebelum kau pergi bermain ke tanah hijau ini. Sebagai gantinya, aku membawakanmu pisang bakar yang kubakar sendiri di bawah luweng. Kau mengatakan bahwa pisang bakar buatanku adalah pisang bakar terlezat yang pernah kau makan sepanjang hidupmu.

Beberapa detik kemudian, kurasakan batinku mulai mengharu biru kembali. Sementara itu, mamak dan bapak bersiap untuk kembali memanen padi. Mamak dan bapak memakai caping yang di beberapa sisi anyaman bambunya sudah agak berantakan dan mencuat dari jalurnya. Tak bisa kucegah sekeping memori tentang pertemuan kita dulu. Pertemuan yang membawa kita berjalan menuju sebuah rangkaian yang kebanyakan orang menyebutnya dengan panggilan persahabatan.

Waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar kelas tiga dan kau kelas empat. Siang itu aku duduk di kelas sendiri dan menundukkan kepala dalam-dalam. Ruang kelas kita bersebelahan. Kau berhenti tepat di depan kelasku dan menatapku dengan penuh tanda tanya. Terang saja, di saat anak-anak lain sudah pulang, aku masih duduk di kelas dengan sikap yang aneh.

Kau berjalan mendekatiku, duduk di sampingku, lalu berkata, “Kamu ndak pulang?”

Perlahan kutengadahkan kepala untuk melihat wajahmu sambil menghapus sisa air mata yang membasahi pipiku. Aku diam tak menjawab pertanyaanmu. Lalu aku kembali menundukkan kepala dan memilin-milinkan ujung dasiku.

“Aku ndak akan jahatin kamu kok. Kamu ngopo nangis?” rupanya kau seperti bisa membaca pikiranku saat itu. Kau malah semakin ingin tahu mengapa aku menangis sendirian di kelas saat itu.

Sekuat tenaga kutahan tangisku untuk menjawab pertanyaanmu. Kau sedikit memiringkan kepala untuk melihat wajahku yang masih tertunduk.

“Aku mau pulang,” aku masih mengingat dengan jelas bagaimana nada bicaraku saat itu. Sungguh, aku begitu terdengar menderita dan memelas.

Kau tertawa begitu puas setelah mendengar jawabanku. Seketika saja, kau berdiri dan memegang tangaku untuk berdiri. Aku masih menatapmu tanpa kata-kata.

“Pulang tinggal pulang, to? Kalau di sini terus kapan sampai rumah?”

Dengan malu-malu kujawab pertanyaanmu, “Aku ndak punya uang. Uangku diambil sama Si Lemu.” Setelah itu tangisku kembali pecah.

Kau melepaskan genggaman tanganmu dan menghapus air mataku. Aku tersentak kaget dengan perlakuanmu saat itu. Tawamu yang tadi mengejekku berubah menjadi sifat seorang kakak yang mengayomi adiknya.

“Ya, sudah, ayo tak antar pulang,” ucapmu sambil menuntunku keluar kelas.

Siang itu kau mengantarku sampai rumah. Aku tersenyum begitu bahagia saat itu.

Kau mengulurkan tanganmu seraya berkata, “Panji.”

Secepat kilat aku membalas uluran tanganmu, “Ayu.”

Siang itu adalah awal persahabatan kita. Kau dan aku mulai bermain bersama di sekolah ketika istirahat tiba. Tak jarang, kau berkunjung ke rumahku. Kau mengajariku menerbangkan layang-layang. Aku ingat layang-layang pertama yang bisa kuterbangkan berkat ajaranmu. Warnanya putih dengan garis hitam di sisi kirinya. Lalu di tengahnya tertulis nama kau dan aku.

Aku berteriak kegirangan, “Panjiii, layang-layangku bisa terbang!”

Kau berdiri di sampingku sambil melihat ke layang-layang yang berhasil kuterbangkan dengan indah. “Siapa dulu yang mengajari? Panji!” jawabmu bangga sambil membusungkan dada.

Sebagai gantinya, aku mengajakmu bermain di sawah bapakku. Kau begitu sumringah ketika kuajak melihat padi-padi yang menguning dan siap dipanen. Kau juga mengatakan bahwa suara burung pipit di sawahku membuat hatimu ceria.

Aku tersadar dari lamunanku ketika bapak menggerakkan boneka sawah yang sengaja dibuat untuk mengusir burung-burung pipit yang datang mematuki padi-padi kami. Tanpa kusadari ada setetes bulir hangat yang jatuh membasahi pipiku. Ah, jangan menyebutku sebagai gadis desa yang cengeng! Aku memang selalu seperti ini. Rinduku padamu seperti cambuk yang siap mengeksekusi teroris di tiang cambukkan. Tidak, rinduku padamu serupa bulir padi yang menguning begitu indah dan dinantikan berjuta umat manusia.

Seandainya saja aku bisa mencegah kepergianmu untuk tidak menuntut ilmu di kota besar yang kini membuatmu lupa akan ubi rebus, pisang bakar buatanku, bermain layang-layang, dan kicau burung pipit yang membuat hatimu ceria. Seandainya saja aku bisa sedikit berargumen, mungkin kau akan mempertimbangkan kembali kepergianmu. Ah, sudahlah. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu kedatanganmu setiap tahun dan terus fokus pada pendidikanku yang sudah separuh jalan ini.

Aku memang selalu menasihati diri agar bersabar menunggumu, namun batinku meronta karena setiap keping kenangan kita berbunyi seperti logam yang jatuh di atas keramik. Dan memori kepergianmu terputar lagi di benakku.

Senja menguning dengan sempurna sore itu. Padi-padi yang siap dipanen merunduk dan menari setelah angin sore mengecupnya dengan lembut. Suara jangkrik dan katak sawah mulai terdengar melantunkan nyanyian malam dengan penuh semangat. Kau menjemputku di rumah dengan sepeda ontelmu dan membawaku ke gubuk bambu yang bapak buat. Kau bilang ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Lagi-lagi kau bilang hal yang akan kau sampaikan menyangkut masa depan kita.

“Bagaimana perasaanmu menunggu hasil ujian nasional?” ucapku saat itu dengan hati yang berdebar. Ujian Nasional yang baru saja kau lewati menciptakan lega sekaligus ketegangan baru untukku.

Sepertinya kau tak mendengar ucapanku. Kau terlihat begitu gelisah. Kakimu kau ayunkan ke depan dan ke belakang yang semakin mempertegas kegelisahanmu.

“Aku harus pergi, Yu,” ucapmu sambil menatap mataku lekat-lekat.

Aku terkaget mendengar ucapanmu. Seketika saja, kurasakan detak jantungku seperti berhenti setelah beberapa detik. Aku tersadar dan dengan cepat menyuruh jantungku untuk berdetak kembali. Namun, hanya diam yang kuberikan sebagai jawaban atas ucapanmu.

“Aku akan melanjutkan kuliah di ibu kota. Aku sudah diterima di salah satu universitas di sana,” ucapmu lanjut. Dari air wajahmu aku tahu ada rasa yang memberatkanmu saat menyampaikannya padaku.

pemandangan_sawah
foto milik Teresia Prahesti

Seketika saja aku terhenyak dan menyandarkan diri pada bambu penyangga gubuk. Aku merasa seperti ada yang menghujam tepat di jantungku. Kau yang menyadari perubahan ekspresiku langsung berkata, “Tenanglah, Yu. Aku ndak akan melupakanmu. Aku akan pulang kampung setiap tahun.”

Kau diam sejenak sebelum akhirnya menggenggam tanganku erat dan berjanji, “Aku berjanji tak akan melupakanmu. Percayalah padaku. Aku akan setia pada janji kita. Kau dan aku di usia 25 tahun nanti.”

Lalu padi yang menguning semakin merunduk saat itu. Senja yang berubah menjadi jingga rasanya begitu kelabu. Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam dan memegangi pinggangmu dengan erat. Kau mengayuh sepeda ontelmu dengan pelan, layaknya petani yang kelelahan setelah seharian mengurus sawahnya.

Suara mamak memanggilku dengan lantang, membuyarkanku dari lamunan tentangmu.

“Ayo pulang, wis sore mengko ndak kewengen,” mamak berteriak sekali lagi.

Inggih, Mak,” jawabku singkat.

Aku beranjak dari gubuk bambu yang penuh dengan kepingan kenangan kita dengan malas. Sebelum benar-benar melangkahkan kaki, kupandangi gubuk bambu itu dengan rasa yang mengharu biru. Aku melihat tawa, kata, cerita, dan tangis kita menguap di udara menuju peristirahatan hari. Lalu kepingan-kepingan itu berserakan, usang karena lama tak kau sentuh.

Sejenak aku berdiri memandangi padi-padi yang menguning dengan rasa haru yang luar biasa. Isakanku kujelmakan pada lukisan langit jingga yang sempurna. Ah, aku tak akan berharap terlalu banyak. Sebab kedatanganmu selalu membuatku  kecewa bahwa kau melupakan setiap hal yang pernah kita lalui dengan alasan setumpuk tugas dan hal baru di ibu kota yang kau anggap sebagai modernisasi.

Kau mengernyitkan dahi melihat pisang bakar yang kusodorkan. Dengan penuh semangat dan sukacita aku membakarnya untukmu, namun kau membalas kegembiraanku dengan tanda tanya.

“Aku tak lagi memakan pisang bakar seperti ini, Yu. Jorok dan tidak menarik. Di kampus aku diajari kebersihan yang begitu ketat. Aku baru menyadari bahwa pola hidupku selama ini sungguh jorok,” ucapmu ringan sambil memainkan handphone layar sentuh yang kau bilang sedang trend.

Aku hanya diam, mengangguk, dan berkata “oh” atau “iya” atas segala ceritamu tentang isi ibu kota. Lalu kau membuat hatiku hancur berkeping-keping. Rasanya seperti banjir yang membuat semua isi kolam ikan mbah kakung meluap, berserakan ke jalanan dan ikan-ikan di dalamnya tak bisa bernafas. Akulah ikan itu.

“Setelah selesai S1, aku ditawarkan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri oleh salah satu kawanku. Bagaimana menurutmu, Yu?” kali ini kau bertanya sambil menatapku.

Aku diam sejenak, kebingungan dengan jawaban yang harus kupersembahkan untukmu. “Ya, itu bagus. Lalu bagaimana dengan janji kita di usia 25 tahun?” kuberanikan diri untuk melontarkan pertanyaan itu.

“Yang terpenting saat ini adalah pendidikan. Kau tak perlu memikirkan hal yang belum tentu terjadi,” lalu kau mengeluarkan sebuah gantungan kunci dengan boneka beruang biru yang menggantung pada lingkaran pengaitnya.

Kau memberikannya untukku. Aku memandangi gantungan kunci itu dengan hampa. Tak tahu lagi harus berkata apa. Lalu kuseka air mata yang hampir saja memberontak ingin menampar kata-katamu.

Sekuat tenaga kukatakan padamu, “Aku menunggumu di usia 25 tahun itu, Panji. Aku menunggu janjimu, janji kita.” Kau tersenyum mendengar ucapanku. Lalu tanganmu menggenggam erat tanganku. Kurasakan ada kehangatan yang mendarat di keningku. Ah rasanya begitu manis.

Aku berdebar mengingatnya, selalu berdebar. Aku melangkah perlahan menyusuri pematang sawah. Dan biarlah, tetap dan terus kusematkan rindu pada bulir padi yang menguning.

Kampus GG IPB

10:42

DeAnnita, kelahiran kota hujan. Mencintai hujan, rindu, senja, dan pantai.

Mengamalkan Ta’limul Muta’alim Untuk Kemajuan Pendidikan

Gerundelan M Samsul Hadi

belajar_ilmu
gambar diunduh dari 3bp.blogspot.com

Talimul Mutaalim adalah suatu kitab yang di susun oleh seorang ulama yang bernama Syekh Az-Zarnuji. Dengan tujuan agar dalam proses belajar dan mengajar dapat meraih kemanfaatannya, seperti yang di katakan beliau dalam bab muqodimahnya “Kalau saya memperhatikan para pelajar (santri), sebenarnya mereka telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tapi banyak dari mereka tidak mendapat manfaat dari ilmunya, yakni berupa pengalaman dari ilmu tersebut dan menyebarkannya. Hal itu terjadi karena cara mereka menuntut ilmu salah, dan syarat-syaratnya mereka tinggalkan. karena, barangsiapa salah jalan, tentu tersesat tidak dapat mencapai tujuan”. Ini adalah permasalahan yang terjadi di dunia pendidikan yang dimiliki bangsa kita. Melalui program-programnya, pemerintahan telah mencoba agar sumberdaya manusia khususnya dalam bidang pendidikan dapat bersaing dengan bangsa lain, juga didukung usaha-usaha yang di lakukan oleh tenaga pendidik. Mulai dari pelatihan menyusun perangkat pembelajaran, mengikuti acara-acara diklat dan juga melaksanakan pertemuan antar guru. Namun sepertinya usaha yang telah di laksanakan semaksimal mungkin itu belum sepenuhnya menuai keberhasilan. Hal itu terbukti dengan masih adanya beberapa kelakuan dari peserta didik maupun tenaga pendidik yang belum mencerminkan nilai-nilai dari tujuan pendidikan. Tawuran antar pelajar, pelecehan seksual dan kekerasan sampai detik ini masih saja terus di beritakan oleh media masa. Jika masih saja berlarut seperti ini, maka tepat jika kita mengkoreksi letak kesalahan atau kekurangan yang belum kita benahi. Mungkin betul menurut beliau Syekh Az-Zarnuji, cara kita dalam menuntut ilmu masih ada yang salah dan juga kita masih terlalu sering meninggalkan syarat-syarat dalam menuntut ilmu. Sementara itu kita terus saja disibukan oleh pelatihan-pelatihan dan sebagainya.
Ada beberapa cara dalam menuntut ilmu yang semestinya kita lakukan, yang pertama adalah mengenai niat dalam menuntut ilmu. Kondisi kebanyakan yang berkembang saat ini adalah belajar atau menuntut ilmu itu dengan harapan kelak akan menjadi seorang yang kaya raya, mudah mendapat pekerjaan atau terangkat status sosial kemasyarakatannya. Jika pelajar tidak berhasil dengan cita-citanya yang seperti itu, maka instansi pendidikan tersebut dianggap telah gagal dalam mengemban tugasnya. Lambat waktu instansi pendidikan tersebut pun akan bangkrut dan tutup, selanjutnya muncul kembali instansi-instansi pendidikan yang menjanjikan berbagai macam keahlian dan jaminan bagi peserta didiknya.
Yang kedua adalah cara kita dalam menghormati sebuah ilmu dan guru, jika menginginkan agar para pelajar dapat menghormati ilmu dan guru. Maka kita sebagai tenaga pendidik harus mencontohkan terlebih dahulu. Jangankan untuk menghormati ilmu ataupun seorang guru.Terkadang untuk menghormati diri sendiri, kedua orang tua dan teman sebaya saja kita masih belum mampu. Salah niat dalam mendidik adalah salah satu dari sikap kurang bisanya menghormati diri sendiri. Menyukupi kebutuhan hidup adalah suatu hal yang wajar bagi siapa saja, namun jika terlalu terpesona dengan gemerlapnya dunia sehingga kita harus turun ke jalan meminta kenaikan upah, tentu itu sudah keluar dari tujuan mulia bagi seorang pendidik. Di sinilah peran pemerintah yang semestinya harus lebih dominan, agar tidak ada lagi tenaga pendidik yang merasa kekurangan dalam segi finansialnya dan tentunya diimbangi dengan profesional dalam mendidik. Lepas dari semua itu kita juga dituntut agar dapat menghormati ilmu diantaranya yaitu dengan tidak menaruh buku di sembarang tempat.
Sebetulnya masih banyak lagi yang harus kita kaji dalam kitab Talimul Mutaalim, di antaranya adalah kesungguhan dalam mencari ilmu, beristiqamah, cita-cita yang luhur, tawakal, waktu belajar, saling mengasihi dan saling menasehati, mencari tambahan ilmu pengetahuan dan bersikap wara’ ketika menuntut ilmu. Namun sebelum melangkah ke ranah yang lebih jauh, alangkah baiknya jika kita terlebih dahulu mengukuhkan sesuatu yang paling mendasar dalam proses pembelajaran yaitu niat dalam mencari ilmu serta menghormati ilmu dan seorang guru.
Niat dalam mencari ilmu seharusnya tidak lain hanyalah untuk mencari ridha Allah, seperti yang tertulis dalam kitab Talimul Mutaalim. “Di waktu belajar hendaklah berniat mencari ridha Allah swt. Kebahagian akhirat, memerangi kebodohan sendiri dan segenap kaum bodoh, mengembangkan agama. Dengan belajar pula, hendaklah diniati untuk mensyukuri kenikmatan akal dan badan yang sehat. Belajar jangan diniatkan untuk mencari pengaruh, kenikmatan dunia ataupun kehormatan di depan sultan atau penguasa-penguasa lain.” Jika sudah seperti itu maka diharapkan akan terwujudnya proses belajar dan mengajar dengan rasa nyaman dan penuh konsentrasi, karena sudah tidak lagi mencemaskan masa depannya yang berhubungan dengan kenikmatan duniawinya.
Setelah berusaha mengamalkan niat dengan benar, langkah selanjutnya yang harus kita lakukan agar berhasil dalam menuntut ilmu ialah dengan menghormati sebuah ilmu dan guru. Berikut yang di tulis oleh beliau Syekh Az-Zarnuji dalam kitabnya, “Seorang pelajar tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat, selain jika mau mengagungkan ilmu itu sendiri, ahli ilmu, dan menghormati keagungan gurunya. Dapatnya orang mencapai sesuatu hanya karena mengagungkan sesuatu itu, dan gagalnya pula karena tidak mau mengagungkannya. Tidaklah anda telah tahu, manusia tidak menjadi kafir karena maksiatnya, tapi jadi kafir lantaran tidak mengagungkan Allah.” Pertanyaanya adalah bagaimanakah cara kita dalam menghormati atau mengagungkan ilmu dan seorang guru, untuk menghormati ilmu salah satunya yaitu dengan memuliakan sebuah kitab atau buku tersebut, yaitu dengan cara tidak menaruh buku di sembarang tempat, tidak meletakan kaki sejajar dengan buku, tidak menggunakan tinta berwarna merah dan berusaha senantiasa dalam keadaan suci (berwudlu) ketika mengambil buku atau ketika sedang dalam proses belajar dan mengajar. Selanjutnya adalah dengan menghormati seorang guru, termasuk arti menghormati guru yaitu tidak berjalan di depannya, duduk di tempatnya, memulai mengajak bicara kecuali atas perkenan darinya dan berbicara macam-macam tentangnya.
Di akhir tulisan yang sederhana ini marilah kita senantiasa memajukan dunia pendidikan dengan selalu mengingat tujuan pendidikan itu sendiri. Semoga nantinya pendidikan di bangsa ini benar-benar mempunyai karakter yang diharapkan, seorang guru yang mengamalkan ilmunya dengan penuh keikhlasan, pelajar yang belajar dengan penuh rasa ta’dim dan kesungguhan, orang tua yang senantiasa mendo’akan seberhasilan putra putrinya, dan lingkungan yang penuh dengan keharmonisan.

Puisi-puisi Arinta Ds Tika

Bersama Gerimis

Melihatmu, seperti melihat gerimis datang
Berarah dan menetes setiap langkahnya
Merasakan hal yang ingin aku jumpai
Bersama gerimis dan bersamamu
Aku mengenalmu itu
Entah kapan aku akan berhenti mengenalmu
Aku selalu mengingatmu
Entah apa yang ingin aku lakukan
Mengenalmu dan berbagi cerita
Aku ingin bercerita tentang satu hal
Denganmu.. bersama angin dan gerimis

Mereka

Semua mengatakan tentang kebodohan
Entah apa yang mereka lakukan
Berdesir kuat saat aku tenang
Melamunkan satu hal yang awam
Mereka tak tau, dan mungkin tak kan tau tentang itu
Aku memilih satu subjek
Mereka memilih lebih dari aku
Aku tak percaya tentang kepastian hal
Mereka slalu mengatakan
Apa akan terus mendesir jika itu benar?
Uh… payah sekali hal itu
Kenapa aku harus bersimpati?
Kenapa juga aku harus memikirkan hal itu?
Bukankan hal itu akan membuat kita merasa mati?
Sia-sia dan tak kan pernah terjadi
Yah… itu hal konyol
Aku tak mengerti tentang mereka
Apa aku terlalu kolot tentang itu?
Jauh… aku sama sekali tak mengerti
Terlalu konyol untuk dipikirkan

tears become rain
gambar diunduh dari isgodasquirrel

Ingin Bersamamu

Hanya mengagumimu dari jauh
Mungkin itu sebab aku tak berkutik
Sama sekali..
Aku hanya ingin melihat malam saat ini
Bintang begitu cerah tanpa terluka
Aku melakukan dengan mataku
Melihat dan sesekali mencoba memohon
Apa kamu tau itu?
Sesekali melihat itu
Begitu indah..
Dan sesekali ingin melihatnya bersamamu
Uh.. aku hanya bermimpi
Semuanya tak kan terjadi
Dan aku sadar hal itu

Kamu

Hanya bergaung di lintasan kerdil yang suram
Berlutut hingga padam hatimu
Tak bisakah kamu melihat?
Bagaimana aku melakukan ini untukmu?
Kamu bergaung hanya untuk pembelaan
Harusnya kamu sadar
Tak bisakah kamu sadar?
Aku sedikit marah denganmu
Marah dan mungkin membencimu
Apa kamu mata, hanya untuk melihat?
Apa kamu telinga,hanya untuk mendengar?
Kamu tak akan sadar jika hanya bergaung
Rendah dan akan semakin rendah
Mulutmu benar tak berguna
Aku kira kamu super
Tak lain hanya kosong
Hanya itu…
Dan mungkin itu…

Penulis adalah pelajar di SMK Telkom Sandhy Putra Malang

Kapal Perang Ini Kami Ambil Alih! #3

Sebuah Catatan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia (3)

Oleh Hendi Jo

SEHARI USAI MENINGGALKAN Pelabuhan Oleh Le, secara resmi pimpinan pemberontakan mengeluarkan suatu  pernyataan pers dalam bahasa Belanda, Inggris dan Indonesia. Pernyataan yang dibacakan oleh Rumambi berbunyi sebagai berikut:

berita
berita kapal tujuh di media belanda

“Kapal perang ini kami ambil alih. Zeven Provincien pada waktu ini ada di bawah kekuasaan kami, anak buah kapal  Zeven Provincien  berbangsa Indonesia, dengan bermaksud menuju Surabaya. Sehari sebelum tiba kami akan menyerahkan komando kembali kepada komandan semula. Maksud kami melakukan aksi ini adalah untuk memprotes pemotongan gaji yang tidak adil dan menuntut agar rekan-rekan kami yang ditahan pada waktu berselang segera dibebaskan! Keadaan dalam kapal aman tidak ada paksaan dan tidak ada orang yang terluka”

Pemerintah Hindia Belanda tentu saja tidak tinggal diam terhadap aksi pemberontakan tersebut. Lewat KM, mereka lantas  memerintahkan kapal perang Aldebaren untuk memburu Kapal Tujuh. Letnan Kolonel Laut Eikenboom  yang merasa terhina dengan aksi anak buahnya itu, turut serta dalam pengejaran itu.

Kendati berhasil menyusul Kapal Tujuh, namun  Kawilarang dan para marinir pemberontak tidak memberi kesempatan sedikitpun Aldebaran  untuk mendekat. Mereka mengirimkan isyarat jika kapal perang itu mendekat maka akan langsung ditembak. Aldebaran pun gentar dan menghentikan pengejarannya.

Habis Aldebaran muncul Goudenleeuw. Kapal perang penyebar ranjau itu dalam  kenyataannya tak memiliki nyali untuk mendekat. Mereka hanya bisa mengikuti kapal Tujuh dalam radius yang sangat jauh. Kenapa dua  kapal perang terkemuka milik KM itu sebegitu ciut nyalinya? Rupanya diantara ketiga kapal itu, Kapal Tujuh-lah yang memiliki kelengkapan paling canggih (saat itu)  termasuk tersedianya meriam yang paling besar dan persenjataan yang paling kuat.

Pada 5  Februari, Kapal Tujuh sudah memasuki wilayah Pulau Berueh. Besoknya, mereka merambah Pulau Simeuleu, Pulau Nias, Tapaktuan, Pulau Sinabang. Tepat jam 9 pagi, pada 10 Febuari 1933,  Kapal Tujuh berada di perairan Selat Sunda. Di laut sempit pembatas Sumatera dan Jawa itulah, Kapal Tujuh dikepung oleh 3 kapal perang (Goudenleeuw, Sumatera dan Java), dua kapal pemburu torpedo (Piet Hien dan Evetsen) dan dua skwardon Dornier (pesawat pemburu yang dilengkapi bom seberat 50 kg).

Sebelumnya, semua anak buah kapal bumiputera di kapal perang  Java, Sumatera, Piet Hein dan Evertsen yang dicurigai, telah di turunkan di Pelabuhan Surabaya dan senjata mereka telah dilucuti. Itu dilakukan sebagai bentuk tindakan antisipasitif pihak militer Hindia Belanda. Dikhawatirkan jika melibatkan pelaut bumiputera dalam pengejaran mereka akan menolak untuk menembak kawan sebangsanya.

Kapal perang Java  yang dipimpin oleh Van Dulm memberikan ultimatum agar Kapal Tujuh segera menyerah. Alih-alih takut terhadap ultimatum tersebut, Kapal Tujuh malah mengarahkan moncongn Meriam 28 ke arah kapal perang Java. Van Dulm mengancam lagi akan menyapu bersih Kapal Tujuh dari permukaan laut jika tidak mau menyerah. Tetapi lagi-lagi Kawilarang, Rumambi, Paradja, Boshart dan para marinir pemberontak lainnya,  enggan menyerah: “Kami tidak mau diganggu dan akan meneruskan pelayaran menuju Surabaya” jawab Kawilarang.

awak kapal tujuh ditangkap
awak kapal tujuh ditangkap

Begitu ultimatum ditolak, terdengar dengungan mesin pesawat terbang Dornier D 11 di atas Kapal Tujuh. Mereka mengirim pesan agar Kapal Tujuh menyerah saja. Tetapi rupanya urat takut Kawilarang dan kawan-kawannya  sudah putus. Mereka bertekad tidak mau menyerah dan tetap akan melanjutkan perjalanan sampai Surabaya.

Sepuluh menit berlalu tanpa jawaban. Deru pesawat Dornier terdengar seperti ribuan tawon yang ingin menerkam mangsanya. Rupanya mereka tengah menyiapkan formasi untuk menyerang. Pesawat Dornier pertama mulai menukik dan membuang bom seberat 50 kg itu.  Bom pertama hanya mengenai lautan biru Selat Sunda dan luput mengenai sasaran.

Pesawat Dornier kedua seperti marah. Ia menukik, bermanuver dan bergerak  cepat menghunjam ke arah geladak Kapal Tujuh. Serentetan tembakan senapan otomatis menyambut serangan si burung besi tersebut. Luput. Sebaliknya bom kedua yang dijatuhkan tepat mengenai geladak kapal. Bunyi dasyat mengerikan pun terdengar diiringi jeritan para marinir pemberontak yang tengah bertahan di Kapal Tujuh.

J Pelupessy  yang tengah bertahan dengan senapan otomatisnya mendapat luka-luka cukup parah. Namun ia sempat melihat rekannya, Sagino yang kehilangan sebelah mata mendekati dirinya sambil berkata lirih namun tegas,  “Pessy tolong aku, inilah nafasku yang penghabisan, aku yakin Kerajaan Belanda tidak lama lagi akan tamat riwayatnya. Dan bagi kita, tempat ini bukan Selat Sunda  tapi Selat Kapal Tujuh!”

Sagino kemudian melepaskan nyawanya.  Disusul oleh  marinir lainnya: Amir, Said Bini, Miskam, Gosal, Rumambi, Koliot, Kasueng, Ketutu Kramas, Mohammad Basir, Simon dan sang komandan: Paradja.

Kondisi Kapal Tujuh sendiri benar-benar lumpuh. Saat para marinir itu bahu membahu membentuk pertahanan,  sebuah bom meluncur lagi dari udara, menimbulkan desis mengerikan dan waktu itu pula langsung  memusnahkan sejumlah besar manusia yang berdiri menonton pesawat-pesawat terbang. Begitu bom jatuh, Boshart ingat dirinya terpelanting di atas geladak dan secara refleks ia berdiri lagi untuk mencari perlindungan.

Ia kemudian lari menuju bagian depan. Dan menyaksikan kawan-kawannya seperjuangan tergeletak di atas geladak dengan tubuh yang sudah terbagi-bagi menjadi potongan-potongan kecil. Ada yang terbakar, ada yang berguling-guling dan mandi dalam darahnya dengan luka-luka yang sangat mengerikan. Boshart menyaksikan pula seorang karibnya terluka membentuk lubang sebesar kepalan tangan manusia dewasa di dadanya. “Saya menangis, saya tidak dapat menahan air mata saya ketika menyaksikan pemandangan seperti itu,” kenangnya.

****

pemberontak dibawa ke pengadilan militer
pemberontak dibawa ke pengadilan militer

KAPAL TUJUH akhirnya takluk. Para pemberontak berbangsa Indonesia lantas diangkut dengan kapal perang  Java  sedangkan yang berbangsa Belanda diangkut dengan kapal Orion. Kapal pemburu  Eversten mengangkut para marinir yang gugur dan kemudian  memakamkan mereka dalam satu lobang di Pulau Kerkhof (Pulau Kelor), sedangkan rekan-rekannya yang berbangsa Belanda di Pulau Purmerend (Pulau Bidadari). Dua pulau yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Seribu.

Para pemberontak yang masih hidup diborgol dengan rantai dan dimasukkan ke dalam kamp tawanan di Pulau Onrust. Itu nama sebuah pulau karang bekas galangan kapal-kapal VOC yang terletak di sebelah utara Batavia. Di sana mereka ditempatkan dalam sebuah barak  yang dikepung oleh sebuah tembok setinggi orang dengan atap terbuat dari seng. Diantara atap dan tembok terdapat ruang kosong setengah meter yang ditutup dengan kawat berduri.

Peraturan di barak tersebut sangat ketat. Setiap lima tawanan diborgol secara berantai. Jadi jika ada salah seorang tawanan yang ingin mandi atau buang hajat misalnya, otomatis keempat tawanan lain yang terhubung dengan rantai harus ikut pula.  Di Onrust juga diterapkan peraturan: ” Siapa yang melalui ruang terbuka akan ditembak tanpa peringatan. Jikalau membuat ribut, maka granat tangan akan dilemparkan tanpa peringatan ke dalam barak. Tindakan ini diambil juga terhadap kelasi-kelasi yang berani tertawa atau berbicara dengan suara keras,” ungkap Boshart.

Para tawanan yang tidak mau menandatangani pernyataan bersalah dihukum dengan tidak diberi makan selama 3 hari. Para tawanan yang diperiksa tidak boleh berpindah dari pusat atau melewati batas lingkungan yang diberi tanda garis di lantai dengan kapur. Mereka juga harus berdiri dari pagi sampai sore dengan tangan terborgol sambil dicaci maki oleh para serdadu bersenjata lengkap.

Tujuh bulan lamanya mereka menjadi penghuni “neraka” Onrust.  Hingga pada 19 September 1933, mereka dipindahkan ke Penjara Sukolilo kecuali Kawilarang dan Boshart (karena dianggap pentolan pemberontak paling berbahaya). Mereka berdua ditahan  di Batavia.

Dalam catatan Departemen van Marine (Departemen Kelautan Kerajaan Belanda), ada sekitar 545 marinir bumiputera dan 81 marinir bangsa Belanda dan Indo yang ditahan terkait pemberontakan di Kapal Tujuh. Itu sudah termasuk 182 awak Kapal Tujuh yang dipenjara di kamp konsentrasi Onrust.

Atas terjadinya Insiden Kapal Tujuh itu, Gubernur Jenderal De Jonge sendiri mendapat kecaman keras dari media-media Eropa dan Amerika Serikat. Ia dinilai tidak becus memimpin sebuah koloni terutama soal mengurus disiplin dan kesehjateraan tentaranya di Hindia Belanda. Sementara itu di tanah air, serangan bertubi-tubi pun dilontarkan oleh para jurnalis anti kolonial seperti Raden Tahir Tjindarboemi dari Harian Soeara Oemoem. Imbasnya,  harian milik Dr.Soetomo itu diberedel dan Raden Tahir Tjindarboemi dipenjara.

Lalu menyesalkah para marinir  yang melakukan pemberontakan di Kapal Tujuh tersebut? “Dihukum mati pun saya merasa bangga, karena bagaimanapun saya pernah memimpin De Zeven Provincien, kapal perang kebanggaan Kerajaan Belanda,”ujar Kawilarang, saat pengadilan Mahkamah Militer Hindia Belanda menjatuhkan hukuman 17 tahun penjara baginya. Kebanggan itu pula yang puluhan tahun kemudian masih dimiliki oleh Agih Subakti,seorang putera dari salah satu rekan seperjuangannya.

****

Baca sebelumnya: Pemberontakan Kapal Tujuh

Kapal Perang Ini Kami Ambil Alih! #2

Sebuah Catatan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia (2)

Oleh Hendi Jo

PELABUHAN SABANG, 27 Januari 1933. Belasan kelasi pribumi tengah membersihkan lantai Kapal Tujuh yang sedang menurunkan jangkar di sana. Beberapa di antaranya, ngobrol dalam suara berbisik. Ketegangan meliputi wajah-wajah sawo matang tersebut. Pasalnya adalah keterangan dari seorang Kopral berkebangsaan Belanda yang mendapat informasi A1 (sangat valid) dari radio bahwa hari-hari itu tengah terjadi pemogokan besar-besaran memprotes penurunan gaji yang dilakukan oleh kawan-kawan mereka di Surabaya.

pemimpin pemberontak
maud boshart pemimpin pemberontakan kapal tujuh

Kopral Maud Boshart—nama salah satu marinir Belanda totok  yang pro pemogokan—kelak memberi kesaksian bahwa berita tersebut menjadi percikan awal dari api pemberontakan yang beberapa hari kemudian akan berkobar di Kapal Tujuh. “Kami semua resah, karena secara politis kami sangat mendukung aksi-aksi yang dilakukan oleh para marinir di Surabaya itu,”tulis Boshart dalam Muiterij in de Tropen (Pemberontakan di Daerah Panas).

Kasak-kusuk para marinir tersebut  pada akhirnya mengerucut kepada rencana pemufakatan gelap untuk membahas soal itu besok harinya. Tempatnya mereka tentukan di sebuah gedung bioskop yang terletak di pusat kota Sabang. Dengan alasan untuk merayakan Hari Idul Fitri, permohonan izin pun kemudian diajukan ke Komandan Kapal yang bernama Eikenboom, seorang Belanda yang memiliki pangkat paling tinggi di Kapal Tujuh yakni Letnan Kolonel Laut.

Awalnya para perwira Belanda tidak menaruh syakwasangka dengan pengajuan izin para kelasi pribumi untuk turun ke darat itu. Kecurigaan mulai muncul saat mereka mengetahui ada 30 marinir bangsa Belanda pimpinan Maud Boshart dan Hendrik yang ikut turun juga ke darat. Pikir mereka, apa perdulinya orang-orang Belanda yang Kristen itu ikut-ikutan merayakan Hari Lebaran?

Tak mau ambil resiko, Eikenboom pun lantas berkoordinasi dengan pihak kepolisian setempat. Dan jadilah pertemuan yang tadinya akan bersifat rahasia itu itu diawasi oleh polisi. Namun dalam situasi  kritis itu, tiba-tiba terjadi kebakaran besar di pusat kota. Saya menduga, peristiwa itu bukan suatu kebetulan.Bisa jadi itu sesungguhnya merupakan  bagian skenario yang sudah dibuat para  marinir itu  untuk menghindari pengawasan polisi lokal.

Namun terlepas dari benarnya tidaknya dugaan itu, yang jelas saat terjadi kepanikan tersebut, semua polisi yang menjaga pertemuan para marinir itu seolah lupa dengan tugas utama mereka. Alih-alih tetap siaga di tempat, mereka dengan tergopoh-gopoh malah berlarian kearah pusat api. Begitu lepas dari pengawasan polisi, rapat kilat pun dilakukan. Pidato-pidato keras menolak penurunan gaji serta dukungan terhadap aksi Surabaya dengan lantang disuarakan.

Rombongan para polisi pengawas baru datang setelah acara rapat akan berakhir. Kendati luput mendengar pidato-pidato revolusiener dari para marinir, mereka sempat juga mendengar “para lelaki laut” itu mengumandangkan hymne perjuangan kaum buruh dunia yakni Internationale.

“Werkers, waar g’ ook zwoegt en lijdt Zijn wij niet van enen bloede? Striemt ons niet dezelfde roede? Een in’t juk, dat w’ allen dragen Een de strijd, die heft te wagen‘t Ganse proletariat

(Buruh, di mana saja kau membanting tulang dan menderita Tidakkah kita ini berasal dari satu darah? Tidakkah cambuk yang sama menghantam kita? Satu dalam beban yang kita sekalian pikul Satu saja perjuangan yang berani menempuh Segenap kekuasaan proletariat”.)

Berita pengumandangan lagu Internationale tersebut, tak pelak membuat khawatir para perwira Belanda di Kapal Tujuh. Terlebih dari hari ke hari, mereka mendengar dari radio, aksi pemogokan para marinir Surabaya alih-alih berhenti malah semakin menggila. Karena itu adalah wajar jika kemudian mereka mulai menghubung-hubungkan dan timbul curiga pengaruh “Revolusi Surabaya” telah menyelusup sampai ke tubuh Kapal Tujuh.

Sebagai upaya mengantisipasi terjadinya pergolakan di Kapal Tujuh, pada 31 Januari 1933, Eikenboom mengumpulkan semua awak kapal. Di hadapan 460 para marinir Kapal Tujuh, ia mengatakan: “Berita yang saya terima mengatakan bahwa sekarang ini telah terjadi pemogokan di kalangan marinir di Surabaya. Saya harap jangan sampai kalian meniru contoh yang jelek untuk mengadakan pemogokan juga di kapal ini dengan alasan bahwa kalian tidak dapat menyetujui penurunan gaji. Saya sangat menyesal bilamana kalian berbuat sesuatu yang tidak baik, karena di kapal ini sayalah yang bertanggung jawab. Jadi saya harap semua ABK Tujuh jangan sampai ikut dalam aksi pemogokan seperti yang terjadi di Surabaya itu!”

Bagi para sebagian besar awak Kapal Tujuh, pidato Eikenboom justru seperti  membongkar api dalam sekam. Alih-alih membuat mereka menjadi lebih tenang, keinginan berontak justru semakin berkobar. Setelah melakukan serangkaian pertemuan diam-diam, para pimpinan awak kapal pribumi seperti Sukantaparadja, Rumambi, Gosal dan beberapa kawan-kawan mereka yang berkebangsaan Belanda namun pro terhadap perjuangan menuntut kenaikan gaji, sepakat untuk menjalankan sebuah pemberontakan.

Rencananya mereka akan mengambil alih kekuasaan atas Kapal Tujuh. Setelah itu,  para pemberontak akan mengarahkan kapal kembali menuju Surabaya. Tujuannya, selain untuk membebaskan kawan-kawan mereka yang ditahan di Sukolilo, juga untuk menarik perhatian internasional terhadap  upaya perjuangan mereka.

“Selama ini, saya sering mendengar para perwira kami  mengejek bahwa kelasi-kelasi inlander tak lebih hanya penggosok tembaga saja. Mereka bilang, sebenarnya  kalian sangat tidak pantas ada di sebuah kapal perang milik Kerajaan. Saya pikir, inilah waktunya  untuk kawan-kawan membuktikan bahwa kaum pribumi pun dapat juga memimpin kapal perang dan menyumpal omong kosong mereka yang selalu menghina kita!” seru Boshart  dalam sebuah pidato terakhir untuk merencanakan pemberontakan tersebut.

Sebagai komandan pemberontakan, para awak kapal memilih Kawilarang. Ia dibantu oleh Rumambi, Gosal, Paradja, Tumuhena, Suwarso, Hendrik dan Boshart. Mereka percaya bahwa sebuah pemberontakan lintas kebangsaan akan berlangsung di sebuah kapal perang kolonial!

kapal pemberontakISU PEMBERONTAKAN di Kapal Tujuh bukannya tidak diketahui oleh para perwira kapal perang tersebut. Namun rupanya, sikap merendahkan potensi inlander lebih dominan bersingasana di benak mereka. “Babi-babi itu hendak melarikan sebuah kapal yang begitu besar? Itu tidak masuk akal, sedangkan sebelah kanan kapal saja mereka tidak dapat membedakan dari sebelah kirinya, apalagi melarikan sebuah kapal yang begitu besar !”ujar Eikenboom saat dilapori anak buahnya kelak saat  para marinir sedang menyiapkan pemberontakan di kapalnya.

Tidak ada upaya antisipasi terhadap isu  pemberontakan itu. Alih-alih begerak cepat menangkap para marinir yang dianggap sebagai pentolan pemberontakan, para elite pimpinan Kapal Tujuh malah membuat situasi blunder. Bentuknya, mereka memilih untuk pergi ke pesta dansa di kantin KNIL di Uleelheue, Aceh.

“Pesta yang menghadirkan noni-noni Belanda itu, konon menelan biaya sampai 500 gulden,” tulis M. Sapiya dalam Pemberontakan Kapal Tujuh.

Untuk “mendinginkan” para marinir bumiputera, pada 4 Februari siang, Eikenboom malah menyelenggarakan pertandingan sepakbola  antara anak buah kapal Tujuh dengan pihak tentara Angkatan Darat (KNIL) pada 4 Februari. Pertandingan persahabatan itu berakhir dengan kekalahan para marinir KM dalam skor 2-4.

Usai magrib, suasana tenang masih meliputi Kapal Tujuh. Para anak buah kapal terlihat santai. Di geladak, beberapa di antara mereka, masih terlibat perbincangan sekitar pertandingan sepakbola tadi siang. Sementara itu, rangkaian bunga sebagai tanda penghormatan dari pihak KNIL masih segar tergantung di dekat tangga kapal. Belakangan Boshart  mengakui rangkaian bungai itu sengaja digantungkan oleh dirinya, sebagai taktik  untuk mengelabui suasana tegang sebagian besar awak Kapal Tujuh yang tengah bersiap menjalankan pemberontakan.

“Rupanya pra kondisi yang kami lakukan berhasil, sekitar jam 8 malam Eikenboom,  Meijer dan para perwira tanpa curiga memutuskan turun ke daratan untuk menghadiri pesta dansa di Aceh Club,”tulis Boshart.

Begitu iring-iringan para perwira tersebut hilang dari pandangan dan situasi dinilai kondusif, secara cepat Kawilarang  mengatur tugas  para kelasi bumiputera  untuk menduduki pos-pos yang telah ditetapkan. Wahab, Saleh, Katenghado dan Manuputty memegang kemudi kapal, beberapa orang lainya mengurus mesin pengangkat jangkar, menyiapkan peta-peta untuk pelayaran menyusuri pantai Sumatera.

“Sementara para marinir bumiputera dipimpin langsung oleh Kawilarang, maka para marinir Belanda dan Indo dipimpin oleh saya dan Dooyeweerd,” ujar Boshart

Setengah jam setelah kepergian para perwira tersebut, Kawilarang memerintahkan ABK Subari (yang bekerja dalam ruangan makan para perwira) untuk memeriksa semua pistol yang ada di ruangan perwira. Ia pun memerintahkan ABK Hardjosuria (yang bekerja di dalam ruang makan bintara) untuk memeriksa tempat penyimpanan gewerrek  (senjata kokang)  dan gudang amunisi  meriam 28 cm.

Para pemberontak pimpinan Boshart juga tak kalah cepat bergerak. Mereka masuk melalui schoorsteen  (cerobong asap) kapal dalam gerak senyap dan turun ke bawah menuju kamar mesin dengan dibantu oleh kawan bumiputera yang bernama Ali Partodihardjo. Setiba di kamar mesin, mereka mulai memanaskan mesin sedemikian rupa sehingga orang tidak dapat menduga bahwa mereka sedang mengadakan persiapan untuk memberangkatkan kapal.

Di bagian lain,  para kelasi bumiputera  pimpinan  Parinussa dan Suwarso mengawasi gerak para marinir Belanda yang dicurigai dan juga membantu menaikkan sekoci jika kapal berangkat.Semua tugas tersebut dilakukan sebelum pemberontakan dimulai. Salvo tanda dimulainya pemberontakan dilakukan dengan jalan meniup bootsmanfluitje (peluit serang) yang dilakukan oleh Kawilarang sendiri sebagai komandan tertinggi kapal.

Sekitar pukul 10 malam, para petugas  piket berkebangsaan Belanda ribut. Saat memeriksa, pimpinan mereka yang bernama Letnan (Laut Kelas Dua) Van Boven mendapati peluru-peluru dalam lemari di atas geladak raib. Mereka lantas mencari Paradja yang menjadi penanggungjawab keberadaan peluru-peluru tersebut di Kapal Tujuh. Saat ditemui, Paradja ada dalam situasi yang tengah santai di geladak kapal dekat Meriam 28: bercelana jeans pendek dan berkaos oblong.

Demi menyaksikan pemandangan tersebut, Van Boven menegur keras Paradja sambil memerintahkan untuk segera berpakaian lengkap dan pergi menghadap atasannya di daratan. Mendapat teguran keras tersebut, Paradja naik pitam. Alih-alih, menemui atasanya untuk melapor, ia  malah turun ke ruangan makan khusus untuk kelasi bumiputera, tempat para pemberontak bersenjata lengkap tengah bersiap.

“Hai, saudara-saudara sekalian, sekarang sudah tiba saatnya untuk berontak, marilah kita berontak, ayo, serbu sekarang!” teriaknya.

Salah satu orang Belanda yang ikut memimpin pemberontakan: Maud Boshart

Kawilarang yang mendengar suara Paradja langsung meniup peluit serangnya sebagai tanda pemberontakan dimulai pada jam 10 malam itu. Begitu peluit berbunyi, seluruh lampu kapal tiba-tiba padam diiringi aksi penyerangan mendadak dibawah pimpinan Paradja, Gosal, Sudiana, Mitje J, Parinussa dan Suahardjo serta para ABK bangsa Belanda dan Indo  pimpinan Boshart dan Dooyeweerd. Lima belas pemberontak lainnya langsung menguasai dan bekerja di kamar mesin.

”Seluruh pasukan lawan dapat kami lumpuhkan dan semua ruangan dalam kapal akhirnya kami bisa kuasai, kecuali ruang radio,” kisah Boshart.

Untuk menguasai ruangan radio tersebut, Kawilarang memerintahkan pasukan Boshart untuk menanganinya. Begitu pasukan pemberontak sampai di ruangan radio, terlihat perwira Belanda bernama Baron Devos Van Steenwijk  tengah menghardik seorang kelasi Belanda untuk segera menyiarkan terjadinya pemberontakan di Kapal Tujuh.

Boshart balik membentak Baron Devos. Dengan mengacungkan pistolnya, marinir yang merupakan aktivis serikat buruh sosialis itu berteriak “Ga Weg, jij, of ik schiet (pergi dari situ atau kau aku tembak)!”Demi melihat ramainya para marinir  sebangsanya datang bersenjata lengkap dan memandangnya dengan mata penuh ancaman,  perwira radio itu pun memutuskan untuk menyerah.

Dua perwira berkebangsaan Belanda: Vels dan Bolhouwer -yang pada malam itu ditugaskan untuk mengawasi kapal selama Eikenboom dan perwira lainnya turun ke daratan- berhasil lolos. Saat proses penguasaan Kapal Tujuh dilakukan, mereka diam-diam meloloskan diri lewat patrijspoort (jendela kapal) dan berenang menuju daratan. Seorang kelasi bumiputera coba membidik mereka.Namun sayang, tembakannya luput. Bisa jadi mereka berdua radiusnya sudah terlalu jauh.

Beberapa perwira Belanda lainnya juga ada yang berhasil lolos. Sebelum meloloskan diri, mereka sempat mengunci kemudi kapal, hingga tak bisa digunakan oleh para pemberontak.  Di tengah kesulitan karena kemudi terkunci, Kawilarang dengan tangkas menggunakan dua buah mesin (stuurboord dan backboard) sebagai pengganti kemudi yang sudah lumpuh itu. Kendati Pelabuhan Oleh Le banyak dipenuhi oleh pulau-pulau kecil dan ranjau-ranjau karang, pelaut asal Sulawesi itu berhasil membawa kapalnya dengan selamat keluar dari pelabuhan tersebut.

Lepas dari Pelabuhan Oleh Le,  Kapal Tujuh memutar haluannya menuju Surabaya. Atas perintah Kawilarang, kemudi yang terkunci dengan slot merek Lips, dibongkar paksa dengan mengggunakan sebuah palu besi  seberat 8 kg. Dengan demikian kemudi Kapal Tujuh itu dapat berfungsi kembali.

***

Baca Sebelumnya: Kapal Perang Ini Kami Ambil Alih

Baca Selanjutnya: Pemberontakan Kapal Tujuh Kalah

I’ll Be Waiting For You

Cerita Phelina Felim

Aku mengenakan sebuah gaun berwarna coklat selutut dengan sebuah syal melingkari leherku. Dengan cepat aku mengambil tas dan payung transparanku keluar kamar asramaku. Di luar hujan sangat deras. Aku membuka payung dan berlari keluar untuk mencari taksi. Hari ini aku akan menemui seseorang di sebuah bandara, seseorang yang belum pernah kutemui sebelumnya. Aku mengenalnya melalui situs jejaring sosial. Dia pria yang menyenangkan, umurnya 26 tahun, 5 tahun di atasku. Sayangnya ia tidak pernah memasang foto dirinya di sana dan menurut khayalanku, ia adalah seorang pria yang tampan, tinggi, dan putih, mengingat bahwa ia mengaku dirinya adalah keturunan chinese, sama denganku.

Setelah kurang lebih satu tahun aku mengenalnya, aku merasa aku mulai menyukainya, bahkan bisa dibilang aku jatuh cinta padanya. Konyol, memang, tapi aku tahu hatiku tidak pernah berbohong. Kami tinggal di kota yang sama, tapi aku tidak pernah sekalipun menerima ajakannya untuk bertemu. Aku takut kecewa, takut bila semuanya tidak sesuai dengan harapanku, takut dia juga tidak menyukaiku dan hubungan kami akan kandas begitu saja. Dia memaklumi alasanku untuk tidak menemuinya. Aku senang ia mau memahamiku.

Namun kemarin saat kami sedang mengobrol di chatting, kabar buruk itu datang secara mendadak. Pria itu bilang bahwa ia akan keluar negeri untuk waktu yang lumayan lama dan kemungkinan kami untuk sering ngobrol pun akan berkurang. Aku sedih sekali mendengarnya, aku ingin sekali bertemu dengannya untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Oleh karena itulah aku memutuskan untuk menyusulnya ke bandara hari ini. Aku juga sudah memberitahunya hal ini dan ia sangat antusias dengan keputusanku ini.

Sialnya hari ini aku bangun kesiangan. Pesawat akan berangkat pukul 11 dan aku baru bangun pukul 10. Dengan cepat aku mandi, mungkin mandi tercepat yang pernah kulakukan dan langsung berangkat ke bandara. Dan di sinilah aku berada, di dalam taksi yang tengah melewati jalanan yang ramai menuju bandara. Hatiku sangat gelisah. Aku terus saja memandangi jam tangan, sebentar lagi pukul 11 dan aku masih setengah perjalanan.

Singkat cerita, aku sampai di bandara pukul 11.15, pupus sudah harapanku untuk bertemu dengannya. Tapi aku masih berharap bisa bertemu dengannya, aku berharap pesawatnya akan mengalami delay. Aku langsung berlari menuju sebuah cafe di mana aku dan dia berjanji untuk bertemu kemarin. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling cafe, berusaha mencari sosok pria yang kucari, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya. Aku berharap instingku bisa diandalkan kali ini. Begitu banyak pengunjung di cafe itu dan aku tidak tahu pria itu di mana.

“Ada yang bisa saya bantu?” seorang wanita pelayan cafe menghampiriku.

“Ah, aku sedang mencari seseorang.”

“Apakah anda yang bernama Xiao Ling?”

“Ah iya! Dari mana anda tahu?”

“Tadi ada seorang pria yang menitipkan pesan bahwa ia sudah harus pergi ke ruang tunggu pesawat dan ia menitipkan surat ini.”

Aku kecewa dan kakiku langsung lemas. Sudah terlambat, aku tidak bisa lagi menemuinya.

“Tapi tadi saya dengar pesawat yang ditumpangi pria itu mengalami delay setengah jam. Anda pasti mengharapkan seperti itu bukan? Pria itu juga berharap begitu, tadi ia mengatakannya padaku.”

“Benarkah?”

“Pergilah.”

“Apa?”

“Kejar dia. Mungkin dia masih ada di ruang tunggu pesawat.”

Aku mematung sejenak kemudian tersenyum gembira.

“Baiklah, terima kasih!”

Aku pun berlari sambil menangis. Aku sungguh berharap aku masih sempat. Sambil menggenggam surat darinya, aku tidak berhenti berlari. Sesampainya di ruang tunggu aku mengedarkan padanganku. Aku terus berdoa dalam hati, kembali mengandalkan instingku untuk mengenalinya. Aku menutup mata, meminta bantuan Tuhan untuk menemukannya. Tapi saat kubuka mataku dan kembali memandangi seluruh ruangan, aku belum juga menemukannya. Ya, Tuhan, yang mana dirinya? Mengapa susah sekali mengenalinya? Kenapa dia tidak pernah memasang fotonya di situs sosial itu? Dasar bodoh!

Tiba-tiba saja mataku tertuju pada satu titik. Ada seorang pria tidak jauh dariku yang sedang memainkan ponselnya dengan serius. Sesekali ia mendekatkan ponsel itu di telinganya. Pria itu tampak gelisah. Wajahnya putih dan tampan, sesuai dengan khayalanku tentang pria yang kukenal itu. Lalu aku tersadar. Ponsel! Mengapa aku begitu bodoh? Sekarang aku hidup di jaman apa?! Aku kan bisa menghubungi ponselnya. Bodoh sekali aku.

Aku mengeluarkan ponsel dari tasku. Ada 20 misscall di sana. Sejak kemarin aku memang men-silent ponselku, kebiasaanku saat hendak tidur supaya aku tidak terganggu bunyi SMS di pagi-pagi buta dan aku lupa mengaktifkan nada deringnya lagi karena bangun kesiangan. Betapa terkejutnya saat kubuka siapa yang misscall itu. Semuanya dari pria itu. Aku hendak meneleponnya balik saat tiba-tiba ponselku berdering lagi dan jantungku berhenti berdetak begitu melihat namanya. Pria itu! Berarti ia belum naik ke pesawat. Harapanku kembali timbul. Aku berdebar-debar saat mengangkatnya.

“Ha.. Halo..” kataku grogi.

“Hei, akhirnya kau angkat juga. Kau di mana? Tidak jadi datang? Kau tidak apa-apa kan? Aku menunggumu dari tadi. Aku khawatir sekali. Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?” nadanya terdengar kecewa dan cemas. Aku senang ia mengkhawatirkanku.

“A.. Aku bangun kesiangan. Maaf..”

“Syukurlah, aku kira kau kenapa-kenapa. Jadi kau sekarang masih di asrama?”

Aku terdiam. Haruskah aku mengakuinya? Sejujurnya aku masih takut untuk menemuinya, tapi kapan lagi? Ini kesempatan terakhirku.

“Aku.. Aku sudah di bandara.”

“Apa?! Kau di mana?” suara pria itu terdengar sedikit keras sehingga aku menjauhkan sedikit ponselku. Seketika itu juga aku melihat pria tampan tadi berdiri dari kursinya dan melihat-lihat ke sekelilingnya. Jantungku semakin berdetak cepat. Apakah pria itu yang aku cari?

Da Dong ge* , kau di mana sekarang? Kau pakai baju apa?” aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Aku sudah di ruang tunggu bandara. Aku memakai kemeja berwana biru dan celana putih. Hey, kenapa kau menanyakan hal itu? Kau di mana sekarang?”

“Aku.. Aku sedang melihatmu, ge.. Aku juga ada di ruang tunggu sekarang.”

Ya benar! Pria tampan itulah yang sedang kucari, dan begitu mendengar jawabanku pria itu terdiam sejenak. Matanya mengelilingi ruang tunggu dan kemudian berhenti saat pandangannya terarah kepadaku. Jantungku berdebar cepat. Da Dong mengenaliku? Benarkah?

“Kau mengenakan gaun coklat dengan syal hitam di lehermu?” Aku melihat pria itu menggerakkan bibirnya sambil terus menatap ke arahku. Ponselnya masih di telinganya. Aku mengangguk pelan.

“Iya..”

Pria itu kemudian menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam saku celana. Ia berjalan menghampiriku. Jantungku semakin cepat berdetak, rasanya ingin pingsan saja. Pria tampan itu benar-benar Wang Dong Cheng, yang biasa aku panggil Da Dong. Dialah pria yang selama setahun ini membuat hari-hariku semakin berwarna. Dialah pria yang kucintai, meski aku tidak pernah bertemu dengannya.

Semakin dekat ia berjalan, langkahnya semakin cepat. Perlahan aku menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam saku gaunku, tepat saat Da Dong sudah berdiri di hadapanku.

“Kau.. Xiao Ling?”

Aku mengangguk. Air mataku sudah tak terbendung. Aku bahagia, akhirnya aku bisa bertemu dengannya.

“Hey, kenapa kau menangis?” Da Dong menghapus air mataku dengan jarinya yang hangat. Hatiku senang dan hangat karena sentuhannya.

“Kau.. tidak kecewa bertemu denganku?” aku bertanya dengan hati-hati.

“Kenapa aku harus kecewa? Kau.. cantik.. Rambutmu.. Kupikir rambutmu panjang seperti di foto profilmu. Makanya aku tidak mengenalimu tadi.”

“Y.. Ya.. Aku memotong rambutku 3 bulan yang lalu. Itu foto lamaku. Ke.. kenapa? Terlihat aneh?”

“Tidak. tentu saja tidak. Kau.. cantik.. sungguh..”

Aku tersenyum.

“Kau sendiri? Tidak kecewa bertemu denganku? Kau selalu bilang bahwa kau takut kalau kita bertemu. Kau takut kecewa saat tahu wajahku tidak seperti bayanganmu kan?”

“Bagaimana kau tahu?”

“Hey, kita sudah satu tahun berteman. Walaupun aku tidak pernah bertemu denganmu, bukan berarti aku tidak mengenalmu. Aku tahu semua isi hatimu.”

Wajahku memerah. Semua isi hatiku? Apakah dia juga tahu bahwa aku menyukainya?

“Jadi? Kau kecewa?” tanyanya lagi.

“Tidak. Sama sekali tidak. Aku senang, sungguh.”

“Karena wajahku tampan? Karena itukah kau senang? Tapi jika wajahku jelek, kau akan kecewa?”

Bukan! Bukan itu maksudku.. Bagaimana mungkin ia berpikir seperti itu?!

“Hahaha..” tiba-tiba ia tertawa. “Aku hanya bercanda. Aku tahu kau tidak akan kecewa bagaimanapun penampilanku. Kau sudah datang ke sini saja, itu sudah menandakan bahwa kau serius berteman denganku, tidak peduli bagaimana wajahku nantinya kan?”

Aku mengangguk cepat. Aku memang menyukainya, tidak peduli bagaimana penampilannya. Mungkin aku memang akan sedikit kecewa apabila tidak sesuai dengan khayalanku selama ini, tapi aku sudah terlanjur menyukainya, mencintainya!

“Kau suka padaku?” pertanyaan yang terlontar dari mulutnya membuatku terbelalak.

kiss goodbye
gambar diunduh dari iiayayarahayu.blogspot.com

“A.. apa?”

“Hahaha.. Kau ini lucu sekali!”

Ugh, ternyata ia hanya mempermainkanku! Aku merengut.

“Ehm.. Maaf.. Tapi.. Pertanyaanku serius. Kau menyukaiku?”

Aku jadi salah tingkah. Wajahku memanas. Haruskah aku mengatakan ya? Tapi jika ia tidak punya perasaan yang sama, bagaimana?

“Sayang sekali bila kau tidak menyukaiku. Berarti aku baru saja patah hati.”

“Apa?” Maksudnya? Dia..?

“Aku menyukaimu. Ehm.. Aku mencintaimu.” Da Dong memandang mataku dengan tatapan yang sangat dalam. Wajahku kembali memanas, pasti sekarang wajahku sudah memerah sekarang.

“Kau menyukaiku?” aku bertanya ragu.

“Ya..” Da Dong menggaruk kepalanya dengan salah tingkah. “Mungkin ini terdengar bodoh, padahal aku tidak pernah bertemu denganmu, tapi setiap kali aku ngobrol denganmu di telepon, atau bahkan melihat namamu sedang online, hatiku berdebar, aku senang sekali, ingin selalu berbagi cerita denganmu dan mendengar semua kegiatanmu. Semua ceritamu itu membuatku merasa, kau adalah wanita yang ceria. Walau mood-mu gampang berubah, tapi aku menyukainya. Aku.. menyukaimu.”

“Kau.. Kau tidak bodoh..” aku akhirnya berani bersuara. “Karena aku.. merasakan apa yang kau rasakan,” kataku perlahan.

“Benarkah?” Da Dong tersenyum lebar, matanya berbinar-binar, membuatku ingin sekali memeluknya.

Aku mengangguk pasti.

Da Dong memelukku dengan cepat. Membuatku sedikit terkejut karena baru saja aku berpikir ingin memeluknya. Kami berpelukan lama sekali, tidak peduli semua mata tertuju pada kami.

“Pesawat _______ akan segera berangkat. Diharapkan semua penumpang memasuki pesawat.” informasi itu membuat hatiku mencelos. Inikah saatnya aku akan berpisah dengan Da Dong? Secepat ini?

“Xiao Ling.” Da Dong berbisik di telingaku, kami masih saja berpelukan.

“Ya?” aku berusaha tegar. Air mataku sudah mengumpul di pelupuk mata tapi aku menahannya.

“Maukah kau menungguku? Tiga tahun. Apakah terlalu lama?”

“Tentu saja tidak. Aku akan menunggu.” Jangan pergi! Aku ingin sekali meneriakkannya.

“Aku akan berusaha menghubungimu kapanpun aku sempat.”

Take your time, ge. Jangan mengkhawatirkanku. Jaga dirimu ya.”

“Kau juga. Aku akan segera kembali. Aku janji.”

Da Dong melepas pelukannya dan mengambil sesuatu dari sakunya. Sebuah kotak beludru berwarna merah. Ia membukanya dan tampaklah sebuah cincin yang sangat indah.

“Maukah kau memakainya? Mungkin ini bukan cincin mahal yang pantas kuberikan padamu. Tapi aku janji, tiga tahun lagi aku akan kembali dan menukarnya dengan cincin yang lebih indah dari ini, dengan namaku terukir di dalamnya..”

Aku mengangguk. Air mataku pun mengalir.

“Jangan menangis. Oke?” Da Dong menghapus lagi air mataku dan memakaikan cincin itu di jari manis kananku. Kemudian mencium keningku.

“Sampai jumpa.” katanya lalu mengambil kopernya. Menatapku sejenak, tersenyum dan melambaikan tangan sambil melangkah menuju pesawat. Aku pun membalas lambaian tangannya dengan senyuman.

I’ll be waiting for you, Da Dong ge. Aku janji. Sampai jumpa! Wo ai ni.

 

Catatan:

Da dong ge: kakak laki-laki dalam bahasa mandarin.

*)Penulis adalah mahasiswi Universitas Tarumanagara jurusan DKV semester 8 dan sedang menyiapkan skripsi. Menyukai bidang tulis-menulis dan bercita-cita untuk menerbitkan minimal 1 buku seumur hidup.

 

Blokir Berarti Bebas Bermimpi

Weekly Writing Challenge Retna Agustina

kebebasan
gambar diunduh dari weheartit.com

Aku berharap segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku akan berhenti sampai disini. Tapi jarum jam tetap berputar seolah mengingatkan aku bahwa dia lebih berkuasa untuk menaklukan waktu. Aku sedang dihadapkan pada dua pilihan dan detik-detik jam serasa memaksaku untuk segera mengambil keputusan. Pilihan pertama, aku menuruti keinginan paman dan bibiku untuk melanjutkan studi di Amerika, artinya aku akan tinggal bersama mereka disana selamanya. Pilihan kedua, aku menolak perintah mereka dan mulai menentukan masa depanku sendiri. Aku menyandang status yatim piatu sejak berumur lima tahun. Orang tuaku meninggal karena kecelakaan dan kerabat satu-satunya yang merawatku selama ini adalah bibi Orora. Ini adalah kebimbangan pertama yang aku alami. Aku berencana melakukan pemberontakan setelah sekian lama patuh padanya.

Aku menekan beberapa digit angka yang kemudian segera diikuti nada sambung. Aku menutup mata sampai terdengar sapaan bibi Orora dari seberang, ”Hallo dear!” Aku serasa tercekik mendengar suaranya yang selama ini berotoritas penuh atas hidupku itu. ”Sayang, kapan kau akan berangkat ke Chicago huh?” Bibi kembali bersuara setelah beberapa detik aku terdiam.

Aku menarik nafas dalam-dalam mengalahkan orang sakit asma. Aku sudah memilih untuk mandiri dan aku tidak tahu bagaimana menyampaikan keinginanku ini pada bibiku. ”Claris?” Nada suara bibi mulai meninggi.

”Emm..emm aku.. ,” nafasku tertahan. Aku memukuli dahiku berharap hal itu bisa menyatukan kata-kata yang teracak dalam pikiranku.

”Carilah jadwal penerbangan tercepat hari ini! Aku tidak bisa menunggumu lebih lama lagi.” Bibi mengambil alih semuanya dan komunikasi diputus secara sepihak. Aku menjatuhkan gagang telepon dan membiarkannya menggantung. Aku sangat mengenal bibi Orora. Jika aku tidak menurutinya, maka semua fasilitas yang menyertaiku selama ini akan diberhentikan. Dan mungkin akan berat bagiku untuk memulai semuanya dari awal.

Pyaaar. Aku terjingkat mendengar suara pecahan kaca. Kedengarannya tidak jauh, sepertinya dari arah ruang tamuku. Seorang anak laki-laki menebarkan pandangannya ke segala arah dalam rumahku untuk mendeteksi keberadaan pemilik rumah. Aku menghampirinya dan dia menyambutku dengan sebuah pengakuan, ”Kak Claris maaf, aku menendang bola terlalu keras dan memecahkan kaca rumahmu!”

Oh…gosh! Anak kecil ini tahu siapa namaku sementara aku merasa tidak pernah mengenalnya. Tiba-tiba dia mendekat dan menjabat tanganku, ”Oh ya, namaku Kevin. Aku tahu tentang kakak dari cerita ibuku! Ibu bilang kalau besar nanti aku harus seperti kak Claris yang hidupnya selalu sukses dan membanggakan orang tua.”

Aku tercekik untuk yang kesekian kalinya hari ini. Tapi aku menghargai kejujurannya. ”Baiklah! Pujian yang tepat dan kau selamat! Ambil bolamu dan kejar impianmu!”

”Suatu saat nanti kalau kakak ganti memecahkan kaca rumahku, aku akan memberikan kebebasan padamu.”

Kevin dengan sigap mengambil bolanya dan kembali bermain di halaman rumahku. Sekarang aku sadar hadiah dari bibi Orora bukanlah impianku. Kata-kata kebebasan yang sempat dia ucapkan itulah yang aku inginkan. Aku berlari ke kamarku, meraih beberapa barang penting dan memasukkannya secara paksa kedalam tas koperku. Sekarang aku semakin yakin bahwa rumah dan segala isinya inilah yang memenjarakan masa depanku. Semasa kecil, aku masih ingat bahwa bibi akan memberiku hadiah jika aku menurut pada aturan mainnya. Saat itu, aku lebih memilih belajar seharian di kamar daripada berkenalan dengan tetangga baruku. Aku menurut untuk fokus pada bidang pendidikan yang sebenarnya tidak aku sukai. Aku menekuni pekerjaan yang menurutku membosankan sepanjang hari. Aku harus membaca dan menuruti pesan dinding di facebook yang selalu dia posting. Tidak ada pilihan lain. Aku akan memblokir semua akses internet yang bibi gunakan dan memutuskan semua sarana komunikasi antar negara yang kami lakukan selama ini. Setelah berhasil melaksanakan pemberontakan ringan itu, aku keluar dari rumahku.

”Hey kak, apa yang akan kau lakukan dengan kopermu itu?” tegur Kevin sambil memainkan bolanya dengan lincah.

”Aku menginginkan kebebasan.” Aku melirik kaca rumahnya sekedar menggoda janji yang pernah dia ucapkan.

”Hah? jadi kau akan benar-benar memecahkan kaca rumahku?!”

Keluguannya itu membuat tawaku meledak. Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Aku bisa bergurau dengan siapa saja dan melakukan apapun yang aku sukai. Aku tidak percaya bahwa aku akan memblokir jalur komunikasi antara aku dengan orang yang selama ini mengasuhku. Aku akan memblokir semua campur tangan bibi dari kehidupanku. Masa depanku adalah milikku. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap bibi, aku akan meraih cita-cita yang selama ini aku harapkan dan rindukan dengan cara-cara sederhana bersama orang-orang yang aku cintai.

Hannah Arendt dan Politik Alternatif

Resensi Arif Saifudin Yudistira

Arendt1

Fenomena politik yang ada di negeri ini dipandang oleh hampir semua orang yang memiliki kegelisahan akan situasi negerinya sebagai politik yang tak sehat, bahkan rizal ramli menyebut “politik kita adalah politik yang banal”. Sebutan ini hampir sama dengan apa yang dikatakan oleh arendt yang menyebut “banalitas kejahatan”. Kejahatan korupsi layak untuk disebut banal, bukan hanya karena efek yang ditimbulkan, melainkan penyakit .mentalitas inilah yang membuat Indonesia hancur lebur dengan sendirinya.

Bagaimana bisa negeri yang dikaruniai kekayaan sumber daya alam, tetapi dirampok oleh politik kartel yang didukung oleh dinasti politik untuk merampok kekayaan alam ini demi kemakmuran golongan, keluarga dan kelompoknya. Kita mengilhami bahwa politik saat ini jauh dari misi suci politik yang sebenarnya. Berbeda dengan para politikus saat ini syahrir menilai politik adalah “jalan sekaligus alat untuk memenangkan perjuangan”. Akan tetapi politik saat ini lebih condong pada sesuatu yang beringas, tak pandang kawan dan lawan alias abu-abu, hingga menjadikan “kuasa” sebagai tujuan. Maka tak heran, di akhir kepemimpinannya di PSI, syahrir lebih memilih partainya sebagai perkaderan terhadap rakyat, sehingga mereka yang dari luar lebih mengejek syahrir partai yang hanya makan “gagasan” tanpa menggrubis kekuasaan. Oleh karena itulah, partai sosialis Indonesia pun mengalami nasib tak mengenakkan dibubarkan soekarno.(Anwar,Rosihan :2012)

Untuk itulah, buku “politik otentik” ini dihadirkan oleh sang penulis. Agus sudibyo yang semula hobi akhirnya mencintai filsafat membedah arendt untuk situasi politik masa kini. Menurutnya, kajian arendt masih relevan untuk membongkar bagaimana situasi politik negeri ini dibaca dan ditafsirkan. Agus membedah arendt dalam konteks bagaimana kebebasan dan pemikiran manusia itu ditempatkan. Dalam buku politik otentik ini, kita bisa menelisik pemikiran arendt tentang mentalitas, manusia tindakan, hingga factor-faktor yang menyebabkan politik itu tak lagi otentik.

Vita activa

            Arendt mendefinisikan bahwa politik itu tak sekadar vita contempativa, sebagaimana yang diuraikan oleh plato dan para filsuf lainnya. Arendt mengartikan politik sebagai suatu tindakan. Tindakan disini diartikan sebagai aktifitas yang melebihi dari kegiatan kontemplatif semata. Ia memiliki konsekuensi selanjutnya yakni berbuat. Arendt mengartikan politik itu vita activa yakni kerja,karya, dan tindakan. Arendt mengartikan politik ini sebagai politik yang strategis, dengan menyuarakan wicara dan dialog. Menurut arendt manusia itu memiliki sifat plural, sehingga dari kepluralan itulah maka akan ditemukan satu alternative gagasan yang bermacam-macam untuk satu tindakan politis.

Dalam human condition arendt memiliki pandangan bahwa distingsi ruang di dunia ini ada ruang privat dan ruang public. Arendt menilai, selama ini manusia lebih cenderung mengejar ruang public sebagai sarana mencapai ruang privat. Sehingga, tujuan dari tindakan politik tak lain adalah mengembalikan fungsi ruang public itu agar kembali sebagaimana seharusnya tetap plural dan mengembalikan naturalisme manusia. Sehingga politik itu bisa dimaknai dengan nilai-nilai kerjasama,saling memahami, dan tanpa dominasi satu dengan yang lain. Akan tetapi agus sudibyo dalam bukunya ini juga menegaskan satu sintesa dari pemikiran arendt, bahwa ide arendt itu dipandang terlalu utopis, karena setiap manusia memiliki hasrat politik yang tinggi dengan meletakkan dominasi sebagai cara untuk memenangkan politik.

Alternative

Tujuan dari buku ini tak lain adalah menguaraikan kembali relevansi pemikiran politik Hannah arendt, bahwa politik itu mesti dikembalikan pada hakikat politik yakni politik otentik. Politik otentik dimaknai sebagai satu tindakan kebebasan manusia, yang mempertimbangkan penilaian dan pemikiran untuk satu tujuan yakni meletakkan kembali manusia sebagai makhluk yang mampu berfikir diluar batas-batas dan berdasarkan kata hati(hal.177). Untuk itulah, arendt menyarankan manusia yang bertindak dengan politik otentik, tak mungkin meninggalkan dua aktifitas yakni berfikir, dan melakukan penilaian sebelum melakukan tindakan politik.

Selain itu, manusia politik yang diuraikan dalam buku “politik otentik” mesti memerhatikan bagaimana kebersamaan dan keragaman itu bisa berjalan beriringan dan demi mencapai satu tujuan bersama. Maka sudah tentu manusia politik menurut Hannah arendt menghilangkan nilai-nilai dominasi, individualism hingga pengejaran akan kekuasaan semata. Buku ini memberikan satu pemahaman jernih tentang bagaimana arendt memandang, sebab dari timbulnya kejahatan atau korupsi selama ini tak lain dari hilangnya (absennya) pikiran dari manusia itu sendiri.

Maka kita pun melihat, bagaimana para politisi sering tebar pesona dan tersenyum riang ketika mereka tertangkap oleh kamera televise, diwawancarai, dan dipenjara. Tak ada penyesalan, raut muka sedih pun tak muncul, itu semua disebabkan dari absennya pikiran tadi. Bukan karena mereka bodoh dan mereka tak mengerti, melainkan hilangnya pikiran kemanusiaannya. Begitu juga ketika kita melihat kasus yang baru-baru terjadi, seorang siswa yang telah menewaskan saudaranya dalam tragedy tawuran beberapa waktu lalu dijakarta pun tak jauh beda. Ia pun mengatakan dengan leganya “saya puas”. Pernyataan itu adalah wujud bagaimana politik berubah menjadi “ekspansi ruang privat”. Ruang public jadi hilang, tapi dominasi ruang-ruang privat itulah yang lebih muncul melalui media dan alat-kuasa politik.

Agus sudibyo menyajikan bagaimana arendt menyajikan “politik alternative” yang memungkinkan manusia itu menyusun kembali hakikatnya. Yakni sebagai makhluk yang plural, penuh keberagaman, dan menyatu dalam satu tujuan bersama tanpa menonjolkan kepentingan privat. Barangkali buku ini lebih terdengar sebagai seruan fantastis sebagaimana ungkapan Dr. B.Herry-Priyono. Akan tetapi usaha agus setidaknya adalah satu alternative di tengah kebuntuan politik yang selama ini kaku, penuh abu-abu, dan banal. Buku ini setidaknya adalah jawaban bahwa masih ada alternative, untuk mewujudkan politik yang otentik yang penuh kelenturan, yang penuh kebersamaan, tapi juga menyatukan tujuan dan hakikat politik itu sendiri yakni mengembalikan manusia sebagai manusia sebagaimana yang tertulis dalam max havelar. Begitu.

Politik OtentikJudul: Poletik Otentik,Manusia dan Kebebasan Dalam pemikiran Hannah Arendt
Penulis: Agus Sudibyo
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun: 2012
Tebal: 240  halaman
ISBN: 978  979 1260 145
Harga: Rp.50.000,00

Arif Saifudin Yudistira adalah Presidium kawah institute Indonesia, santri di bilik literasi solo

Kapal Perang Ini Kami Ambil Alih! #1

Sebuah Catatan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia (1)

Oleh Hendi Jo

Tepat delapanpuluh tahun yang lalu, De Zeven Provincien dibajak oleh ratusan awaknya yang terdiri dari kelasi pribumi, kelasi  Indo dan kelasi Belanda. Bagaimana revolusi  bisa terjadi di salah satu kapal perang terbesar milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda itu? Inilah kisahnya.

saleh basari
Salah Basari Wangsadireja di masa muda

Agih Subakti (67) bercerita dalam nada bangga. Sambil menyebut sebuah nama, ia mengisahkan tentang sebuah perlawanan lama. Ya, lebih kurang 80 tahun lalu, sang ayah yang bernama R. Saleh Basari Wangsadiredja adalah salah satu dari ratusan marinir yang terkait dalam  pemberontakan di atas Kapal De Zeven Provincien (Kapal Tujuh). Itu adalah nama sebuah kapal perang legendaris milik Koninklijke Marine (KM) atau Angkatan Laut Kerajaan Belanda.

Namun kebanggaan itu seolah bertepuk sebelah tangan. Lelaki dengan 9 cucu tahu betul generasi sekarang sangat asing dengan peristiwa tersebut. Padahal menurutnya, dari aspek sejarah, perlawanan itu sangat penting karena terkait dengan perjuangan bangsa ini dalam merebut kemerdekaan.

”Peristiwa Pemberontakan De Zeven Provincien itu sangat tajam bau nasionalismenya,” ujar mantan adminisratur di beberapa perkebunan milik negara itu.

Pernyataan Agih memang benar adanya. Suyatno Kartodiredjo dalam Pemberontakan Anak Buah Kapal Zeven Provincien Tahun 1933, menyebut Peristiwa Kapal Tujuh merupakan salah satu episode dari sejarah panjang pergerakan nasional di Indonesia.” Getarannya bahkan terasa sampai ke tingkat tertinggi pimpinan politik negeri Belanda saat itu,”tulisnya.

Bahkan sejarah mencatat, bukan hanya di Hindia dan negeri Belanda saja, dunia pun dibuat geger oleh kejadian tersebut. Pers Barat dan Amerika menyebut  pemberontakan Kapal Tujuh sebagai Potemkin jilid 2, sebuah nama yang mengacu kepada sebuah kapal perang milik Angkatan Laut Tsar Rusia yang para awaknya  pernah menjalankan pemberontakan pada 1905. Motivasi perlawanan mereka pun sama dengan yang dimiliki oleh para awak Kapal Tujuh: kesewenang-wenangan pihak penguasa terhadap mereka dan rakyat pada umumnya.

*

TAHUN 1930-an bencana ekonomi melanda dunia. Situasi krisis tersebut  sampai pula ke tanah Hindia Belanda. Harga berbagai komoditas ekspor andalan dari Hindia Belanda seperti teh, kopi, gula, tembakau dan karet harganya merosot tajam di pasaran internasional. Akibatnya banyak perusahaan perkebunan terancam bangkrut.

Pemecatan pun menjadi cerita sehari-hari para buruh di Hindia Belanda. Dalam catatan Suyatno Kartodiredjo, pada awal 1930-an, ada sekitar 100.000 buruh pribumi diberhentikan menyusul berhentinya produksi ratusan pabrik dan perusahaan perkebunan. “Rata-rata mereka memutuskan pulang dan kembali menjadi beban sosial dan ekonomi desa,” ungkap Suyatno.

Angkatan Perang Kerajaan Belanda tak lepas dari situasi depresi besar tersebut. Pada akhir Desember 1932, pemerintah Hindia Belanda di bawah Gubernur Bonifacius Cornelis de Jonge (1931-1936) memutuskan untuk melakukan pemangkasan gaji semua anggota militer sebesar 7%. Bisa jadi itu dilakukan sebagai upaya Pemerintah Hindia Belanda menghindari opsi pemecataan massal seperti yang terjadi di perusahaan-perusahaan swasta.

kapal tujuh
De Zeven Provincien dilihat dari atas

Bagi para marinir KM, keputusan De Jonge itu seolah menggarami luka yang sudah menganga. Bukan rahasia lagi jika sistem penggajian di tubuh KM saat itu berjalan tidak adil. Bayangkan saja, untuk para awak kapal pribumi, gaji mereka hanya 60%  dari gaji awak kapal  berkebangsaan Belanda. Nasib lebih baik dialami awak kapal Indo Belanda/Eropa. Mereka digaji  sebesar 75% dari  gaji awak kapal berkebangsaan Belanda. Padahal untuk masalah tugas dan tanggungjawab, mereka memiliki kewajiban sama dengan awak kapal Belanda totok.

Tidak cukup soal penggajian, dalam keseharian pun diskriminasi kerap dipraktekkan secara menyolok mata oleh para perwira Belanda. Sebagai contoh jika awak kapal pribumi cukup mendapatkan ransum ikan asin maka  para awak kapal bangsa Belanda selalu mendapatkan ransum daging. Jika lemari pakaian pakaian awak kapal pribumi mendapat tempat di bawah, berdekatan dengan ruangan kamar mesin yang selalu mengeluarkan hawa panas, sebaliknya orang-orang Belanda mendapatkan tempat di sebelah atas yang jauh dari hawa panas ruang mesin.

Perlakuan tidak adil tersebut makin kentara dengan adanya sikap sombong  sebagian awak kapal Belanda (terutama para perwiranya) terhadap awak kapal pribumi dan Indo. Tak jarang makian god verdomme alias goblok atau vuile inlander (pribumi tolol) keluar dari mulut orang-orang Belanda dan diterima sebagai sebuah “hal yang biasa” dalam keseharian tugas.

Sesungguhnya sikap diskrimanatif itu bukan hanya menjadi miliki KM semata. Di tubuh KNIL (Koninjlike Nederland Indisce Leger, Tentara Kerajaan Hindia Belanda) situasi yang sama terjadi. Bedanya orang-orang bumiputera di KNIL lebih memilih diam dan menerima nasibnya secara pasrah.

Pada mulanya, para marinir KM bumiputera bersikap sama. Namun lama kelamaan mereka merasa muak juga dan mulai bereaksi keras. Dari hari ke hari, reaksi keras itu semakin menyebar dan  membentuk aksi-aksi  yang mengarah kepada upaya pembangkangan militer. Contoh yang paling nyata adalah Peristiwa Januari 1933. Itu adalah peristiwa demonstrasi beruntun sebulan penuh yang berpuncak pada pemogokan massal yang melibatkan 308 marinir berkebangsaan pribumi dan indo serta 40  marinir berkebangsaan Belanda di hampir semua kapal perang milik KM.

Aksi ini kemudian melebar ke beberapa basis marinir lainnya di Surabaya seperti tangsi KM di Ujung dan kapal-kapal selam yang tengah berlabuh di Pelabuhan Tandjung Perak. Para awak KM yang bertugas di Pangkalan Pesawat Terbang Moro Kembangan pun tak mau kalah menjalankan aksi menolak untuk bekerja. Akibatnya untuk beberapa waktu kekuatan Angkatan Laut Kerajaan Belanda lumpuh. Sebuah situasi yang akan sangat fatal jika saat itu ada kekuatan musuh menyerang Hindia Belanda

Demi menghadapi aksi pembangkangan itu,seminggu kemudian Pemerintah Hindia Belanda melancarkan tindakan keras. Mereka mengirim satu batalyon (kurang lebih 700 sedadu) KNIL dari Malang dengan persenjataan lengkap seperti mitraliyur berat. Pada akhirnya, aksi damai para marinir itu dapat dibubarkan dengan cara kekerasan. Ratusan pembangkang dan pemogok pun dijebloskan ke Penjara Sukolilo di Madura.

**

Bersambung…

Bersama Selembar Daun

Puisi Anwari WMK

daun gugur
ilustrasi diunduh dari iwanandesta.blogspot.com

Pagi hari di akhir bulan Januari
Dalam dekapan tahun penuh resah
Engkau datang bersama selembar daun

Ucapanmu waktu itu:
Di selembar daun ini tertulis tergores
Rajutan-rajutan takdir cinta
Cinta yang tak sampai

Saat hendak kutanya:
Cinta siapakah itu?

Tiba-tiba runtuh air hujan
Dan engkau bergegas pergi
Bersama selembar daun itu
Daun yang hendak kumiliki

Sejak saat itu
Sajak-sajak cinta dan rindu
Puisi-puisi cinta dan rindu
Bersimbah airmata

(2013)

Tiga Permintaan

Cerpen John Kuan

” Di dalam rumah sudah terlampau dingin ” Dia berpikir. Angin dari sela-sela pintu dan jendela menelusup masuk, seperti mata pisau, tajam menyayat kulit. Namun, beberapa bingkai jendela dan daun pintu rumah reyot ini telah dibakar buat menghadapi musim dingin yang panjang, sudah benar-benar tidak ada lagi yang bisa digunakan untuk menyalakan api.
Mudah ditebak, agak menggelikan, jalan ceritanya amat sederhana. Semua orang pasti sudah pernah membaca atau mendengarnya. Cerita sepasang suami isteri yang tamak dan tolol.
Seiring bertambahnya usia, tidak tahu kenapa kembali teringat dongeng sederhana ini, seolah membawa makna tertentu, pelan-pelan merambat di dalam hati.
Jalan cerita yang asli sungguh terlalu sederhana, saya ingin memberi pembaca sedikit latar belakang.edit farmersSeharusnya adalah suatu malam musim salju yang dingin beku, di sebuah dusun miskin dan terpencil di daerah Eropa Utara, sepasang suami isteri yang terkenal dungu duduk berhadapan di sebuah meja kosong
Di tanah utara ini, satu tahun bisa separuh adalah musim dingin, matahari juga takut mampir, dia lebih memilih memutar jalan jauh daripada melewati tempat ini. Sepanjang musim dingin hampir tidak bertemu hari terang, gelap berselimut kabut hitam, jalanan penuh tanah becek bercampur salju yang belum mencair, bahkan rubah yang cekatan juga sering terpeleset.
Orang-orang bersembunyi di dalam rumah, di luar angin utara terus mengiris.
Selain orang-orang yang menerjang salju pergi berburu dan mencari kayu bakar, di atas bumi yang gundul samasekali tidak tampak jejak manusia.
Musim dingin yang demikian panjang menyebabkan tempat ini amat sulit dibuat bercocok tanam, yang bisa dihasilkan hanya sedikit lobak atau umbi-umbian lain. Miskin dan terbelakang, penduduk selalu mengalami kelaparan, dan mereka yang mempunyai sedikit kemampuan pasti berusaha mati-matian, memeras otak mencari akal agar bisa pindah keluar dari tempat ini, ke daerah selatan yang lebih hangat mencari kehidupan baru.
Sepasang suami isteri itu, sewaktu muda, juga pernah ada mimpi begini, ke daerah selatan yang hangat.
” Bibit ditaburkan pagi hari, siang keliling sekali, sore datang lihat lagi, sudah pecah kecambah, sudah segera akan berbunga. Jagung dan gandum menumpuk penuh beberapa gudang, bahkan keledai dan kuda penarik kereta juga diberi makan jagung dan gandum yang bersih menyilaukan mata! Pernahkah bertemu hari-hari bahagia begini? ”
Perempuan itu selalu merapatkan kedua telapak tangan di dada, seperti sedang berdoa, menceritakan segala macam hal tentang daerah selatan yang ada di dalam mimpi.
” Satu hari ada enam belas jam cahaya matahari, ini sudah pasti, sangat pasti; madu dan mentega yang dioles di atas roti betul-betul ada setebal dinding. ” Perempuan itu menjilat bibirnya, aroma manis dan harum di dalam pikiran saja bisa terasa begitu indah.
” Dibayangkan saja sudah demikian enak. ” Dia geleng kepala menghela nafas.
Dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang telah jadi begitu kasar dan kaku karena terlalu lama ditempa berbagai pekerjaan berat, tulang jemari yang telah berubah bentuk kelihatan seperti tangan lelaki buruh kasar. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana lagaknya perempuan daerah selatan memoleskan kemenyan arab di kulit mereka seperti yang diceritakan di dalam dongeng-dongeng, lalu mulai cekikikan.
Suaminya, seperti umumnya petani daerah utara. Lurus dan jujur, tampak agak dungu, saat bekerja seperti seekor sapi, tidak pernah tahu apa itu letih. Otaknya sederhana dan praktis, samasekali tidak tahu apa itu imajinasi, sekalipun bermimpi tetap adalah hal-hal semacam induk itiknya bertelur lebih sebiji.
Melihat isterinya berhenti kerja dan cekikikan sendiri, dia agak dongkol, menggerutu, namun tidak berani menegurnya, dia sangat takut isteri.
Lelaki itu samasekali tidak mengerti dunia imajinasi isterinya yang magis. Kebahagian-kebahagiaan yang berlebihan dan absurd, terdengar seperti mantera. Isterinya setiap hari dengan mantera-mantera begini mencari kesenangan hingga cekikikan mulai membuat dia takut.
Di dusun ini dia adalah satu-satunya lelaki yang tidak memukul isteri. Tubuhnya besar kekar, kuat seperti seekor sapi, kepalan tangannya keras berisi, kalau diayunkan, tulang-belulang isterinya yang kecil dan rapuh pasti akan remuk, tapi dia tidak pernah mempunyai pikiran begitu.
Awalnya dia memarahi isterinya yang cekikikan sambil bekerja, tetapi setelah dibalas jeritan kalap dan pekik tangis yang mengerikan ditambah sumpah serapah, dia akhirnya tidak berani lagi protes. Dia tahu, di dalam batok kepala kecil perempuan ini ada sesuatu yang jauh lebih dahsyat daripada tubuhnya yang kekar.
Karena watak penakut suaminya, perempuan itu kian menjadi-jadi. Perubahan fisik setelah melewati parobaya, ditambah angan-angan puluhan tahun yang tidak tampak ada kemungkinan menjadi kenyataan; hampir semua keluarga di dusun telah membawa serta kuda dan keledai mereka pindah ke daerah selatan, bahkan Hendrik yang dianggap paling bodoh dan tinggal di ujung dusun juga sudah pindah, angan-angan perempuan ini akhirnya berubah menjadi amarah. Suaminya yang selalu bungkam, suaminya yang bekerja tanpa mengeluh, suaminya yang sabar dan selalu menurutinya, juga seolah menjelma jadi sindiran tajam atas impiannya yang indah.
Setelah memasuki usia tua, dia menjelma seluruh kekuatan imajinasinya yang tak mungkin menjadi kenyataan itu menjadi dendam dan sumpah serapah terhadap suaminya. Dia masih dengan imajinasinya yang tak bertepi mengganggu suaminya, madu dan mentega masih setebal dinding, matahari satu hari masih tetap enam belas jam, hanya sekarang imajinasinya yang indah telah bercampur kesedihan yang tidak bisa menjadi kenyataan itu.
” Ah, tanah selatan ——— ” Dia meraba-raba wajahnya yang tua dan kasar seperti keriput kulit kayu, melihat suaminya yang bekerja seharian tanpa membawa hasil pulang, dia juga sudah lelaki tua dan bungkuk, gerak langkahnya tampak sulit, dia menurunkan perkakas tani yang berat dari pundaknya. Kuda dan keledai sudah lama dijadikan lauk, sekarang dia sendiri yang membajak.
Melihat suaminya masuk ke rumah, perempuan itu langsung memulai omelannya, sebuah nyanyian pedih bercampur aduk antara keindahan mimpi dan kepahitan hidup dari hari ke hari.
Lelaki tua juga sudah lama terbiasa, suara isterinya sudah seperti angin utara yang menyeru, setelah beberapa waktu, seolah-olah tidak terdengar lagi. Dia goyangkan tubuh menjatuhkan selantai serpihan salju, lalu seperti biasa dengan matanya yang redup dan kekuningan memandang isterinya sekilas, sepertinya juga ingin mengeluh telah bekerja seharian tapi tidak bisa membawa pulang apapun.
” Di dalam rumah sudah terlampau dingin ” Dia berpikir. Angin dari sela-sela pintu dan jendela menelusup masuk, seperti mata pisau, tajam menyayat kulit. Namun, beberapa bingkai jendela dan daun pintu rumah reyot ini telah dibakar buat menghadapi musim dingin yang panjang, sudah benar-benar tidak ada lagi yang bisa digunakan untuk menyalakan api.
” Tidak ada lagi yang tersisa, semua yang bisa dimakan sudah dikeruk habis, bahkan jejak hewan juga tidak tampak lagi, sekarang orang-orang dusun sedang memikirkan bagaimana caranya makan kepompong yang bersembunyi di dalam tanah musim dingin itu, jika terus begini, semua orang pasti akan mati kelaparan ” Dia begitu risau. Sebagian salju mulai mencair di atas rambut dan kumisnya yang kusut, lalu berubah menjadi lapisan es, berpijar-pijar.
” Enam belas jam matahari sehari, roti dioles madu dan mentega setebal dinding, pernah kau melihat tempat begini? Kutukan apa yang membuat kakimu terpaku di tempat bagai neraka ini, sepanjang hidup. ”
Karena lapar, suara perempuan itu berubah melengking seolah tangisan.
Kaki tangannya, karena lapar dan dingin, telah lama membeku. Lebih mengerikan adalah rasa beku terus menjalar ke pinggang. Dia begitu ketakutan, sehingga suaranya kian melengking menceritakan berbagai hal tentang daerah selatan, seolah ingin menggunakan angan-angan yang indah menahan lapar dan dingin yang menyerang tubuh.
Lelaki itu berputar-putar di dalam rumah, tetap tidak bisa menemukan kayu yang bisa dibakar. Hanya tinggal sepasang bakiak, ini adalah bakiak yang dia bikin sendiri buat isterinya sewaktu baru menikah, bahkan dipernis, licin mengkilap. Dia beberapa kali terpikir ini adalah satu-satunya benda buat menghidupkan api, tetapi niat ini akhirnya dibuang.
Letih dan frustrasi dia duduk di depan perempuan itu, di atas meja tidak ada apapun, dia masih dengan matanya yang redup dan kekuningan menyapu seluruh permukaan meja, berharap bisa menemukan secuil makanan yang tersisa. Dia sudah satu minggu tidak makan, lapar membuat kepala dan matanya sangat berat, dan perempuan itu masih tanpa henti menuturkan daerah selatan, tentang enam belas jam cahaya matahari yang hangat, tentang roti yang dioles madu dan mentega setebal dinding, dia seolah pertama kali merasakan semua ini nyata, terpampang di depan mata.
” Teruskan, teruskan, mentega, madu, roti, cahaya matahari, bahkan keledai juga makan gandum. Dia begini teriak di dalam hati, dia harus menahan sakit yang mengiris di lambung dan usus.
Perempuan itu juga mulai merasakan dingin beku pelan-pelan memanjat ke dada, dia merasa agak sesak, rasa beku ini telah dari segala arah mengepung jantungnya, kata-kata yang keluar dari mulutnya kian lemah dan kacau, namun dia tidak berani berhenti, suaranya menjadi aneh bercampur aduk dengan rintihan dan tangis.
” Bunda Maria, Bapaku, Bapaku, Yesus Kristus ——— ”
Tangannya yang merapat sudah tidak bisa dipisahkan, beku di dalam sebuah posisi berdoa. Matanya mengalir keluar airmata, kematian membuat dia pertama kali merasa begitu dekat dengan Tuhan, dia terus-menerus memanggil nama malaikat.
” Ah ——— ”
Dia terasa berputar-putar, di depannya sehamparan kuning keemasan berpijar, ada suara dentingan yang halus berasal dari empat penjuru.
Ada satu malaikat bersayap panjang telah tegak di depannya.
Malaikat?
Telah ada berbagai macam penelitian dari pakar-pakar tentang hal-hal begini yang konon disebabkan halusinasi karena kelaparan ataupun penderitaan berkepanjangan, tetapi itu tidak begitu penting dalam jalan cerita ini.
Malaikat berkata: ” Perempuan, doamu telah didengar Mahatahu, kalian bisa mengajukan tiga permintaan, apapun yang kalian inginkan, pasti terkabul ”
Konon, kata-kata malaikat jauh lebih anggun [ persis seperti Kidung Agung ] kata perempuan itu. Tetapi karena perempuan itu buta huruf, tidak tahu tatabahasa, apalagi retorika yang memukau, sehingga kata-kata malaikat itu menjadi kasar, hal ini telah membuat gusar banyak teolog, tentu itu adalah urusan lain lagi.
Pokoknya, poin terpenting adalah sepasang suami isteri tua yang tidak memiliki apapun, di saat dingin dan lapar, tiba-tiba dikasihi Tuhan, memberi mereka tiga permintaan, dan paling penting adalah pasti dikabulkan.
” Tiga permintaan ” Perempuan itu berlinang airmata, terus-menerus menyembah ke arah malaikat menghilang, tiba-tiba dia merasa kaki tangannya hangat kembali. Mulutnya komat-kamit menuturkan segala puja-puji yang dia hafal. Dia tenggelam di dalam semacam keriangan baru, kaki tangannya kembali lincah, loncat dari kursi, berteriak dan berputar-putar di dalam rumah.
” Tiga permintaan, tiga permintaan, ah, bagaimana menggunakan tiga permintaan ini? ”
Dia gundah, ” Ke daerah selatan, enam belas jam cahaya matahari, roti yang dioles madu dan mentega setebal dinding, ——— tidak, tidak, aku bisa mendapatkan yang lebih bagus, roti masih terlalu mudah didapat, apa yang akan kuminta? ”
” Mesti baik-baik mempergunakan tiga permintaan ini. Jadi raja, jadi ratu, ada beratus beribu pembantu melayani, ada makanan enak yang tiada putus, ingin seribu potong sapi panggang, buat apa masih makan roti, ya? ” Dia teriak ke arah suaminya yang masih linglung: ” Nasib baikmu sudah tiba, tahu tidak? Tolol, mahkota Raja Philip yang penuh permata juga bisa dipindahkan ke kepala babimu, kau harus cepat-cepat berterima kasih kepada Tuhan! Mengenai daku, ah! Aku ingin mandi susu, pelan-pelan menggosok tubuhku… ”
Dia mulai cekikikan, suaminya amat ketakutan. Lelaki tua ini merasa tiga permintaan yang diberikan oleh malaikat ini benar-benar sangat nyata, dia sudah lapar setengah mati, dia harus segera mempunyai makanan menganjal perut, dia menggunakan seluruh kekuatan di dalam hidupnya teriak ke udara:
” Malaikat, beri aku sepiring sosis panas mengepul! ”
Saat tulis lambat, waktu itu cepat, di atas meja sudah muncul sepiring sosis, tentu ala Eropa Utara, tambah bawang putih dan daun adas, dan benar-benar panas mengepul.
Lelaki tua itu antara terkejut dan terpesona, yang jelas bengong.
Perempuan tua langsung meledak. Dia hidup-hidup diseret keluar dari kebahagiaan yang belum tampak tepi, melihat suaminya yang dungu merusak sebuah permintaan yang begitu berharga, tidak dapat menahan amarah, dengan kata-kata paling menusuk menjerit ke arah suaminya:
” Kau keledai bodoh yang seharusnya disembelih, kau bangsat yang menjijikkan, kau telah membuang sebuah hadiah dari malaikat. Oh, malaikat, maafkan kami! Kau kesurupan, buat apa minta sosis yang membuat mual…… ”
Lelaki tua itu termangu menatap sepiring sosis, uap minyak yang indah melayang ke sana ke sini, dia hanya berpikir segera menggigit sepotong.
” Hentikan tanganmu, ” Api amarah perempuan itu sudah di ubun-ubun, dia berteriak keras:
” Aku ingin sosis ini segera menempel ke hidungmu! ”
Tanpa sadar perempuan itu telah menggunakan permintaan kedua.
Saat tulis lambat, waktu itu cepat, sepotong-sepotong sosis telah menempel di hidung lelaki tua
Piring kosong, lelaki tua merasa dari hidungnya menyebar aroma sedap, dia berusaha menatap ke bawah, menemukan beberapa potong sosis yang indah tergantung di hidungnya, bisa dilihat tapi tidak bisa digapai. Dia coba menjulurkan lidah, tetapi tidak bisa menjilatnya. Sosis begitu dekat, kenyal dan bergoyang-goyang, tetapi tidak bisa dicicipi, dia merasa begitu putus asa.
” Ah ——— ” Perempuan itu menutup mulut menangis sejadi-jadinya.
Penyebab dia menangis teramat rumit, yang paling dangkal tentu adalah dia segera menyadari dia telah sia-siakan permintaan berharga yang kedua.
” Aku bisa menggunakan ini untuk meminta sebuah istana yang ditempel dengan koin emas! ” Demikian dia berpikir: ” Namun sungguh bodoh, aku hanya menggunakannya buat menempel beberapa potong sosis di atas hidung keledai bodoh ini. ”
Tambah membuat dia sedih adalah hidung suaminya yang tergantung beberapa potong sosis itu sangat menakutkan, jika dilihat tetangga, akan bagaimana mereka bergosip dan menilai dirinya.
Dia terus menangis, menyalahkan nasib, menyalahkan suaminya yang bodoh, dia berpikir meninggalkan lelaki tua dan bodoh ini.
” Kau bawa saja sosis sialan ini bersamamu ke neraka! ” dia berkata.
Dia berputar satu kali di dalam rumah, bersiap-siap melangkah keluar, tetapi masih ragu-ragu tidak tahu apakah ada sesuatu yang terlupakan, sesungguhnya mereka sudah samasekali tidak memiliki apapun di dalam rumah, setelah mencari ke sana-sini, yang bisa dibawa hanya sepasang bakiak pemberian suaminya.
Dia memegang bakiak di tangan, kembali menangis.
Lelaki tua itu masih tegak melongo, dengan berbagai cara coba menjilat sosis yang tergantung dihidungnya, tetapi apapun cara yang dia gunakan, sosis selalu sedikit diluar jangkauan ujung lidahnya
” Aduh, sayang sekali hanya selisih setengah centi. ” Lelaki tua berkata di dalam hati.
Perempuan tua menenteng bakiak, melihat suaminya yang buruk dan rakus itu, makin dipikir makin menakutkan, seorang lelaki dengan sosis menempel di hidung, bagaimana melangkah keluar rumah, bagaimana bertemu orang? Bagimana seandainya orang-orang masih ingat aku adalah isterinya……
” Ah ——— ” Dia kembali menangis, bakiak di tangan terasa begitu berat, dia merasa luar biasa capek.
” Tapi, tapi, tapi aku tinggal satu permintaan ” Hatinya terasa amat berat
Konon, dalam keadaan hati yang penuh sesal dan dendam, dia melonglong, merasa seluruh hidupnya telah hancur, lalu melemparkan sepasang bakiak ke arah suaminya, dan dengan suara paling memilukan teriak:
” Sosis sialan, kalian semuanya kembali ke dalam piring ”

Dua Tiga Perihal Teh Susu Masa Kecil

Puisi John Kuan

1.

Dari kaleng teh oolong masa kecil
pertama kali mengenal sungai dan gunung
Tiongkok, kata kakek: awan dan kabut
Gunung Wuyi terkurung di dalam kerutan daun.
Duduk di pelantar, ombak putih, pantai abu-abu
camar berputar, teriak, kami tujuh mulut delapan lidah
berebut cicip dan tanya: Kakek injak awan atau ombak datang?
Angin menyobek daun pisang, buah jambu jatuh di atap,
ayam berkokok petang, jauh dekat bunyi ketuk tambal kapal,
matahari tropis, punggung telanjang, bau damar terbakar
Sungai meliuk keluar kaleng, gunung berlapis,
ranting dedalu menyentuh muka meja, ada seseorang,
amat kecil, menuntun kuda, menoleh di ujung jembatan,
beberapa helai daun jambu terbang ke atas meja,
gunung dan sungai di kaleng ikut bergetar, asap
gubuk membumbung, suara seruling merayap keluar
mulut jendela di tepi sungai, hujan baru jatuh di dermaga
Suatu hari aku pasti ikut perahu berlayar: lautan jauh,
cinta platonik, mulut menghafal sabda Guru dan puisi Tang
hati ikut angin amis terombang-ambing di Laut Mediterania.

2.

Dari kaleng susu kental masa kecil
pertama kali mengenal Olanda, negeri air, negeri bunga,
negeri berbagai ternak, padang rumput dipotong kanal-kanal
Sapi perah hitam putih, yang muda bagai nyonya bangsawan
yang tua bagai kepala keluarga. Domba putih, rumput hijau,
gerombolan babi hitam menganguk-anguk,
seolah apapun setuju, anak ayam berjuta, kambing hutan
berbulu panjang, tapi tidak tampak bayang manusia
Petang, ada orang di atas geladak kapal kecil
duduk memerah susu, langit barat dikuas kuning emas
di jauh ada suara peluit kapal uap, selebihnya senyap
pemerah susu lebih suka tutup mulut
Tong-tong penuh susu bergerak perlahan-lahan
truk, kereta api, menuju kota dekat dan jauh
Anjing tidak menyalak, sapi tidak melenguh
kuda tidak menyepak kandang, malam hitam pekat,
beberapa mercusuar berkedip cahaya lemah

3.

Dari botol minyak ikan masa kecil
pertama kali mengenal Eropa Utara, ternyata juga ada
polusi, grafiti, dan sapaan petang kincir angin,
voltase 220, bak mandi lebar dan dalam,
pintu kamar berpalang, perlu hati-hati,
sekitar Helsingor, Kastil Kronborg, ada perkara Hamlet
Sepanjang malam putih bulan Juli, tanpa buka lampu
juga bisa membaca lembaran-lembaran melankolis
Kierkegaard, filsafat selalu kebutuhan sekunder,
warna abu-abu merpati, domba sesat mengembek pedih
Soren Kierkegaard sepanjang hidup cuma pernah ke Berlin
Selain tidak pindah ke negeri tetangga, hatinya pun utuh diberikan
bisa ratap bisa tertawa, atau sambil ratap sambil tertawa
hijau tua Finlandia, hijau hambar Islandia,
ungu Swedia, cokelat Norwegia
Denmark hitam putih kuning, seolah kejadian itu
persahabatan Nietzsche dan Brandes yang mengepul
satu lalluby di tengah badai telah kabarkan keheningan.

Karena Setiap Kata Punya Makna