Arsip Kategori: Retakan Kata

24 Posisi Matahari (6)

Kolom John Kuan

morning_dew
Gambar dari http://www.historylines.net

 ☉寒露

 ——— angsa liar berbaris terbang selatan; pipit menjelma kerang; bunga krisan mekar.

Sepotong jalan ini empat musim indah, terutama mapel merah di kedalaman musim gugur, saya melangkah sendiri, melihat di bawah sebatang pohon besar di jauh berdiri dua gadis kecil sedang bertepuk tangan ke arahku, kenapa? Mereka salah mengenal orang?

Makin dekat, makin jelas mereka memang bertepuk tangan menyambut saya. Sebuah rumah warna putih dan anggun, menjulur selapangan rumput hijau, di luar pagar barulah jalan, meja bundar kecil diletakkan di sisi jalan, dua buah kursi anak-anak, mereka berdua jelas adalah kakak beradik, gaun chiffon putih dengan warna-warni serpihan bunga, di atas meja bundar dipajang beberapa untai kalung dan gelang, manik-maniknya juga berwarna-warni, amat pastel ——— mereka adalah pedagang, sendiri merangkai, sendiri menentukan harga, berharap laku, labanya kakak beradik bagi rata.

Sepotong jalan ini jarang dilalui orang, apalagi pembeli potensial, saya berlagak serius memilih, ambil empat untai, bertanya:

       [Apakah kalian merasa empat untai ini paling cantik?]

       [Iya, ini adalah empat untai tercantik!]

Saya membayar, mereka menyerahkan barang, saling terima kasih.

Terus melangkah, berpikir: Seandainya menoleh lihat, mereka telah lenyap tanpa jejak, maka mereka adalah peri yang datang ke dunia manusia, dan saya adalah seorang anak kecil beruntung; seandainya menoleh lihat mereka masih di bawah pohon menunggu, maka mereka adalah pedagang kecil, dan saya adalah pelanggan yang selangkah-selangkah membungkuk tua.

24 Posisi Matahari ( 5 )

Kolom John Kuan

☉秋分

 ——— guruh mulai diam; serangga menutup sarang; air menyurut

Membawa beberapa lembar peta dan sekepala labirin sejarah, saya sampai di Alhambra. Jauh-jauh datang mendengar kisahnya, sebuah kisah musim gugur:

Sekitar abad ke-7 Masehi ada sekelompok Orang Arab dan Orang Berber menyeberang dari Afrika Utara bagian barat masuk Semenanjung Iberia, membangun sebuah rezim, sejarah memanggilnya [Orang Moor]. Sampai di abad ke-15 Masehi, Orang Moor telah memerintah tanah ini lebih dari 700 tahun, darah persaudaraan dan bahasa telah lama terbaur, mereka samasekali tidak pernah curiga terhadap kepatutan mereka memerintah. Cuma beberapa catatan sejarah awal mengutarakan, nenek moyang mereka bagaimana mengarung dari Afrika Utara ke sini pada masa itu.

Namun, orang Spanyol tidak lupa, mereka sudah sejak awal memupuk gerakan merebut kembali tanah yang dirampas. Gerakan inilah yang mengingatkan Orang Moor, urusannya sedikit merepotkan. Pada masa itu Orang Moor dilihat dari segi apapun jauh lebih kuat daripada Orang Spanyol, sebab itu sekalipun merasa repot, mereka tetap bisa hadapi dengan tenang. Namun bibit yang ditanam dalam-dalam begini, sungguh memiliki waktu.

Seratus tahun, seratus tahun perlahan berlalu, kekuatan politik daerah utara mulai bangkit, gerakan perebutan kembali tanah yang dirampas pelan-pelan juga memiliki pemimpin dan momentumnya. Akhirnya, berubah menjadi operasi militer yang kuat dan bergaung. Ketika Orang Moor sadar, mereka telah dikepung, dan lingkaran kepungan makin lama makin mengecil, sudah tidak bisa diterobos.

Solusi paling masuk akal adalah dengan sukarela pergi. Namun mereka bukan baru datang puluhan tahun, masih bisa menemukan titik awal berangkat, di tempat ini mereka telah puluhan generasi mengakar, sudah tidak tahu harus balik ke mana.

Hal paling mengejutkan adalah, Orang Spanyol yang telah menaklukkan sebagian besar daerah selatan, seperti sengaja menyisakan Granada terisolir, dan pengepungan ini ternyata bisa berlangsung lebih dari 200 tahun!

Para sejarawan menyampaikan banyak alasan dan teori untuk menjelaskan kenapa pengepungan ini bisa berlangsung demikian lama, namun saya paling tertarik adalah psikologi silang budaya kedua pihak selama lebih dari 200 tahun itu.

Orang Moor tentu membuka banyak rapat, menggunakan banyak akal, memikirkan banyak jalan keluar, namun setelah berulang kali gagal, mereka terpaksa harus mengakui, ini adalah dinasti terakhir Orang Moor di Semenanjung Iberia. Keputus-asaan begini pada tahap awal adalah pedih pilu dan amarah, tapi karena waktu diundur terlalu lama, pelan-pelan mengerut jadi hening. Dan keputus-asaan yang hening selalu indah.

Istana Alhambra yang diukir dan dipahat demikian persisi dan indah ini adalah diselesaikan dalam keputus-asaan yang hening. Oleh sebab itu, segala ketelitiannya bukanlah demi diwariskan ke generasi berikutnya, lebih bukan demi pamer, namun adalah memasuki suatu tahap nirguna.

Saya pikir, perumpamaan yang paling tepat untuknya adalah berhias di depan maut. Tahu ajal sudah menyusul, namun masih memiliki sedikit waktu, sendiri masih penuh daya, indera bekerja sempurna, sebab itu dengan perlahan dan teliti mulai menghias diri. Sudah tidak peduli lagi esok, tidak peduli lagi penonton, tidak peduli lagi penilaian, seluruhnya adalah buat dinikmati sendiri, seluruh akal pikiran yang halus dan rumit telah ditaruh di dalamnya.

Kapan pasukan musuh akan datang menyerang, membakar, membinasakan seluruh ini? Mungkin saja besok, mungkin juga ratusan tahun. Tidak peduli, hanya ingin sedikit-sedikit dibangun, sepenggal-sepenggal diukir. Suasana hati dan pikiran begini masih belum pernah saya alami di tempat lain.

Sekarang kita lihat di luar benteng. Pada waktu itu pasukan dipimpin langsung oleh Fernando II dan Isabel I, perkawinan Raja Aragon dan Ratu Kastilia ini telah mendorong Spanyol bersatu, hanya sisa Granada sebagai batu sandungan terakhir. Dan di dalam benteng, di antara pilar dan dinding berukir sedang bertahta seorang raja berusia muda, namanya Abu Abdullah Muhammad XII. Orang Spanyol memanggilnya el chico, saya tidak tahu ini keluar dari simpati atau penghinaan. Ayahnya karena mencintai seorang pengikut agama Kristen dan diturunkan dari tahta, dan Abdullah sendiri setelah memegang tampuk kuasa langsung berhadapan dengan sebuah kondisi kacau yang tak terurai. Keabsurdan ayahnya adalah menggunakan cinta mengkhianti politik, sudah tahu seluruh rakyat sedang mengangkat panji agama melawan musuh di luar benteng, sebab selain itu sudah tidak ada panji lain bisa dilambaikan, dia justru menyerahkan cintanya kepada agama di luar benteng. Abdullah tidak tahu yang dilakukan ayahnya ini mau disebut berdamai, menerobos kepungan, atau menyerah, yang jelas dia sendiri tiba-tiba sudah diletakkan di atas batu menjadi domba korban.

Semua inilah yang menyebabkan pilihan Abdullah yang terakhir: Menyerah. Sebab itu tenda-tenda Fernando dan Isabel yang rapat berlapis-lapis menjadi tidak berguna. Orang Spanyol anggap ini adalah mujizat, puluhan ribu orang setelah mendengar kabar ini langsung berlutut di bawah benteng bersyukur, saya kira mereka semestinya berterima kasih kepada raja yang muda dan berakal jernih ini. Seandainya waktu itu pikirannya menjadi keruh, atau ingin memperagakan sedikit gaya ksatria, mungkin saja menyebabkan ujung tombak bertemu ujung tombak, bumi bersimbah darah dan entah berapa banyak nyawa akan melayang.

Raja yang masih muda itu mencari sebuah pintu samping istana, berjalan sampai di atas bukit jauh baru menoleh, diam-diam meneteskan airmata. Menurut cerita saat itu ibunya berdiri di sisinya berkata: “Tangislah, anakku, seorang lelaki yang tidak mampu membela dirinya, semestinya menetes sedikit airmata!”

Sebuah dinasti, sepotong sejarah, ternyata bisa berakhir demikian damai. Sebab itu, bahkan setiap lekuk motif yang paling halus di dalam Istana Alhambra hingga hari ini pun masih bisa tersenyum tanpa pernah diusik.

Hari itu, adalah 2 Januari 1492

24 Posisi Matahari ( 4 )

Kolom John Kuan

☉處暑

  ——— elang giat memburu; alam gugur luruh; bulir padi penuh

Seperti apa musim gugur itu? Musim gugur pernah adalah milik Qu Yuan, milik Du Fu dan Li Shangyin. Namun musim gugur kali ini milik Rilke. sebab musim gugur saya begini datangnya, malam buka jendela membaca, melihat orang lalu-lalang dengan langkah-langkah gegas, teringat Rilke; di dalam riuh rendah seharian merasa sangat lelah dan bosan, teringat Rilke; bertemu orang asing, berbincang dengan orang asing, berpisah dengan orang asing, pulang sendiri ke kamar hotel, juga teringat Rilke.

Musim gugur tidak perlu basa-basi, dia begitu saja tiba. Sebab itu daun musim gugur yang diselip di halaman buku akhirnya tinggal urat-urat daun, semua urat daun juga memiliki masa lalu, juga pernah memikirkan isi hati. Musim gugur sering tiba di saat isi hati semua orang membisu, memberi isyarat kepada saya hidup pada dasarnya hanya mengikuti hati bagai awan berarak, namun juga dalam terukir bagai cetakan besi. Tetapi saya tetap ingin melakukan sesuatu, di saat mengutip selembar daun kuning tergenang air hujan, ada pergolakan yang bernama [sia-sia], sebab itu saya baca kembali Rilke:

Herbsttag

Herr: es ist Zeit. Der Sommer war sehr groß.
Leg deinen Schatten auf die Sonnenuhren,
und auf den Fluren laß die Winde los.

Befiel den letzten Früchten voll zu sein;
gib ihnen noch zwei südlichere Tage,
dränge sie zur Vollendung hin und jage
die letzte Süße in den schweren Wein.

Wer jetzt kein Haus hat, baut sich keines mehr.
Wer jetzt allein ist, wird es lange bleiben,
wird wachen, lesen, lange Briefe schreiben
und wird in den Alleen hin und her
unruhig wandern, wenn die Blätter treiben.

 

Musim Gugur

Tuan: ini saatnya. Musim panas pernah begitu montok.
Lemparkan bayang pekatmu ke arah jam matahari,
dan biarkan angin gila meniup lewat padang liar.

Perintahkan buah terakhir segera ranum;
tambah lagi dua hari terik tanah selatan,
desak mereka sintal dan penuh, agar harum
manis terakhir, tenggelam di anggur kental

Siapa kini tiada rumah, tidak usah lagi dibangun
Siapa kini sendiri, biarkan dia selamanya sepi
terjaga, membaca: menulis surat-surat panjang
dan biarkan dia mondar-mandir di setapak
melangkah ke dalam tarian daun gugur

☉白露

  ——— angsa liar terbang selatan; burung layang-layang ke utara; semua burung berbekal

Saya duduk menyandar di jendela kereta api, kereta melaju dengan ritme yang stabil dan teratur, bagai sebuah nyanyian yang akrab, saya mengatupkan mata merasakan bunyi repetisi begini. Setengah tertidur, seolah di mulut jendela mimpi. Tiba-tiba merasa ada sebiji mata lain terbuka, tampak benda-benda yang biasanya tidak mudah kelihatan. Saya melihat di atas punggung gunung ada bayang awan berpindah perlahan. Sepotong bayang hitam di atas punggung gunung yang amat hijau, bagai tanda lahir di tubuh manusia, seperti sedang mengisyaratkan sesuatu yang telah lama kita lupakan. Sebuah mitos purba yang menghubungkan lanskap dan gejala alam dengan tubuh manusia. Dan seluruh garis lekuk pegunungan, juga karena sepotong bayang awan yang bergerak itu, kelihatan luar biasa indah.

Perlahan tapi pasti, saya merasa cahaya matahari musim gugur miring menembus masuk dari jendela kereta, melumuri sebagian lengan dan wajah. Cahaya warna kuning emas dan hangat, mengikuti goyangan kereta sebentar kuat sebentar lemah. Di dalam cahaya matahari keemasan juga diaduk sedikit bayang hitam sekuntum awan itu, sedikit hijau ladang di dua sisi rel, dan sedikit silau pantulan air sungai yang bertebaran batu-batu bulat telur.

Kereta masuk terowongan, cahaya matahari disimpan di luar gua. Derit gesekan rel dan roda kereta kian tajam, seluruh gua penuh gema. Di dalam sebuah gua gelap dan panjang, segala mata di dalam setengah tidurku terbuka. Saya melihat cahaya-cahaya lemah berseliwer, berkedip-kedip di dinding gua.

Di dalam indera penglihatan tidak ada gelap absolut, di dalam penglihatan batin juga tidak ada kegelapan absolut.

Di dalam gelap penuh dengan cahaya yang bergetar, persis seperti melihat lukisan Rembrandt, pertama kali melihat adalah selapis hitam; tenangkan pikiran sedetik lalu cermati, akan menemukan sebersit cahaya.

Rembrandt di abad ke-17 melukis di dalam cahaya lilin dan obor. Dia juga mengamati cahaya dari fajar menyingsing hingga matahari terbenam, lalu dari matahari terbenam hingga bulan muncul. Di musim dingin negeri utara yang kelam, dia akan konsentrasi menatap sedikit cahaya di atas salju malam yang tidak mudah terasa, dia akan konsentrasi hingga lelah, lalu mengatup mata.

Saya selalu merasa, setelah mengatup mata, Rembrandt baru benar-benar melihat cahaya yang paling indah. Cahaya itu bergerak di punggung telapak tangan renta ibu yang membuka kitab suci, punggung telapak tangan yang penuh garis-garis keriput, di celah garis-garis keriput yang gelap penuh berisi cahaya tipis.

24 Posisi Matahari (3)

Kolom John Kuan

☉大暑

 ——— rumput mati kunang-kunang lahir; tanah lembab udara basah; hujan lebat menyapa

jejak kaki
ilustrasi dari 2.bp.blogspot.com

Orang tua di dalam cerpen Borges [El Libro de Arena] akhirnya menyelipkan buku yang menghabiskan seluruh uang pensiunnya itu ke dalam rak berdebu di Perpustakaan Nasional Buenos Aires. Ini adalah sebuah metafora yang sangat puitis: Mungkin hanya pengetahuan dapat menelan pengetahuan; tulisan dapat menampung tulisan. Borges berkata: [Tidak peduli pasir ataupun buku, sama-sama tak bertepi]. Dia bukan cuma menguasai semiotika, dia juga seorang pakar teori sastra dan seni yang penting, saya kira tentu bukan [pasir] yang menjadi perhatiannya, itu hanya sekedar simbol buat mengumpamakan pengetahuan manusia yang terus menggelembung.

Setiap kali membaca kembali cerita ini, akan timbul keingin-tahuan: kenapa dia berkata pasir tidak bertepi? Apakah pasir di sini berarti gurun, namun gurun juga bertepi. Atau mungkin maksudnya lebih abstrak, tempat sebiji pasir terakhir jatuh itulah batas gurun. Tak bertepi yang dimaksud Borges, mungkin ingin mengatakan ketika sejurus angin berembus, gurun akan mempunyai bentuk baru, batas baru, semacam amorfos.

Hari panas bisa membuat saya teringat gurun, tetapi lebih sering pulau kecil tempat lahirku. Petang turun sendiri ke pantai, mengutip siput, mengutip kerang, mencari lokan, mentarang, ketam bakau. Di bibir pantai yang berbuih saat pasang naik selalu ada yang tak terduga, dapat sebiji bola kaki, sebuah mainan plastik, seekor ikan mati, mayat anjing; kadang-kadang juga lari terbirit-birit melihat mayat manusia atau disengat sembilang. Seringkali juga terbangun di tengah malam negeri asing, pikiran kacau, melihat keluar jendela, seolah di luar berlapis-lapis pencakar langit ada segaris pantai panjang, bukan berpasir putih, tetapi lumpur pasir abu-abu penuh jejak kaki. Itulah magis realismeku. Sangat kempes.

☉立秋

 ——— angin mengiris; kabut turun; tonggeret pekik dingin

Daun itu bulat lonjong, kurang lebih sebesar telapak tangan, sedikit menguning, hampir tembus pandang, taruh di telapak tangan dapat jelas kelihatan jaringan urat-urat daun yang halus dan rumit. Tepinya samar-samar ada gerigi kecil, seluruh gerigi menunjuk ke satu arah, dari pangkal daun hingga ujungnya yang meruncing, bagai selembar jahitan yang paling rapi dan indah. Saya bertanya penduduk setempat yang istirahat di taman, kata mereka daun bodhi. Saya ingat daun bodhi jauh lebih besar, ujung daun yang runcing mungkin dua tiga kali lipat lebih panjang dari yang di tanganku.

kekuatan daun
Ilustrasi dari Inankittikaro.com

Saya suka daun bodhi, mungkin ada hubungannya dengan cerita-cerita tentang Buddha Gautama. Membayangkan seorang pertapa duduk di bawah pohon bodhi di Bodgaya mendengar suara angin lembut melewati sela dedaunan, atau mungkin daun-daun dengan tenang jatuh, menyentuh bumi, menimbulkan getaran seketika di hati. Namun renungan tetap hanya sekedar renungan, daun ini bisa saja tidak ada hubungannya dengan cerita. Seorang teman yang belajar botani sering memberi saya jawaban yang tidak serupa, katanya: tangkai daun walau kecil tetapi sangat kuat, sebab harus menopang beban seluruh daun. Dia juga berkata: Kebanyakan gerigi di tepi daun adalah siasat pertahanan, dan terhadap ujung daun yang meruncing indah dia menjelaskan: Ujung daun yang runcing umumnya adalah buat pembuangan air. Dia melengkapi: terutama di daerah tropis, hujan badai sering datang tak terduga, air hujan yang terlalu banyak tergenang di permukaan daun akan menyebabkan daun mudah terluka, rusak dan hancur; maka daun tumbuhan terus memperbaiki fungsi pembuangan airnya, bentuk sesungguhnya hanyalah hasil penyempurnaan fungsi dalam jangka waktu yang panjang.

Jadi kekuatan tangkai daun, urat-urat daun yang serumit sistem syaraf manusia, gerigi tepi daun yang bagai rajutan, ujung daun yang meruncing sehalus bulu itu, semua yang kusebut-sebut itu, hanya jejak berbagai penderitaan selembar daun untuk bertahan hidup dalam jangka waktu yang pelan dan panjang?

Perlu berapa lama berevolusi hingga bentuk begini? Saya bertanya teman. Dia mengangkat sedikit bahunya jawab: Mungkin puluhan juta tahun.

Jawabannya membuat saya terpelosok ke dalam keheningan. Apakah keindahan adalah ingatan terakhir dari penderitaan bertahan hidup? Apakah semacam kepedihan dalam merampungkan diri? Sebab itu indah membuat saya suka, juga membuat saya duka.

24 Posisi Matahari (2)

Kolom John Kuan

☉夏至

 ——— kijang bersalin tanduk; tonggeret mulai menjerit; si naga hijau tumbuh

Hari berikutnya saya sudah hampir lupa hamparan bukit putih itu. Melangkah pulang ke penginapan sudah menjelang malam, pada tikungan terakhir saya melihat sebuah taman. Tidak luas, membentang satu jalan pintas yang menghubungkan dua jalan utama, sederet bangku, orang-orang pulang kantor lalu-lalang. Saya pilih sebuah bangku kosong, duduk teringat bunga tung, kesukaanmu. Waktu itu umur kita berapa? 20, 23? Saya berkata saya lebih suka bunga alpinia, sebab berasal dan tumbuh liar di hutan, di dalam jelita yang pedas membawa sedikit aroma jalang yang memabukkan. Daunnya hijau berminyak lancip memanjang, sedikit menyerupai bunga gandasuli, tetapi tidak seapik itu dan agak sembrono. Daunnya juga sering dipakai buat membungkus bakcang; di dalam wangi beras bercampur sedikit wangi pedas daun yang kenyang menerima cahaya matahari dan air hujan. Bunga alpina putih porselin, satu tangkai berkerumun berpuluh kuntum. Setiap kuntum ujungnya ada sedikit merah, merah yang menggetarkan, merah yang terlalu kampungan. Bunga putih selalu dengan wanginya mengundang datang lebah, wangi bunga alpinia tidak mengecewakan, apalagi di ujung mahkotanya masih memberi tanda merah yang merebut mata, biar kumbang lebih mudah mengenalinya.

Suatu hari kamu bertanya: Apakah seorang anak muda yang belajar seni mesti menyimpan seluruh ingatan [ indah ]? Saya kira kamu bukan sedang menanyaku, kamu sedang tanya jawab sendiri, saya tentu tersenyum tanpa kata, menunggu kamu membuat kesimpulanmu. Saya tahu sendiri terlalu serakah [ keindahan ], tak terobati. Namun saya bisa memiliki berapa besar kapasitas memori, buat menyimpan segala yang ada di dunia luas ini?

Keluar taman, melangkah di kerumunan, seolah ada aroma yang mengitariku, terus mengikutiku hingga kamar penginapan. Waktu ganti baju baru menyadari rambut dan punggung melekat serpihan bunga kuning. Saya periksa di bawah lampu, ternyata adalah bunga akasia dari taman, terbawa saat duduk di bangku.

Mereka tidak bermaksud ikut masuk ke dalam duniaku, hanya saya sendiri rindu, anggap semacam jodoh, bisa diingat, bisa dilupakan.

 ☉小暑

 ——— angin telah hangat; jangkrik sembunyi di tembok; elang belajar memburu

Melangkah sendiri di kota asing sering membuat saya teringat buku-buku perjalanan Jiang Yi ( 1903 -1977 ), dia menyebut dirinya Silent Traveller. Dia menulis London, menulis Oxford, menulis Edinburgh, suasana di dalam tulisannya selalu ringan penuh humor, ditambah ilustrasi yang sangat berkarakter, kadang-kadang juga dihias satu dua buah puisi pendek, demikian kental gaya cendekiawan Cina tradisional. Ketika menulis gubuk Ratu Victoria:

Taman Kew kuasai seluruh sejuk malam,

lonceng biru habis mekar masih tersisa harum.

Percuma berkunjung jejak jelita ratusan tahun,

gubuk sepi menatap matahari terbenam.

mendaki bukit belakang Kebun Binatang Edinburg, dia menulis:

Sejenak di batu cadas duduk,

angin pinus jernih hatiku.

Melongok bibir tebing curam,

entah berapa dalam biru lautnya?

Ini sudah mendekati gaya kehampaan Wang Wei dan Wei Yingwu, namun yang ditulis adalah lanskap negeri asing, Jiang Yi berkata dia adalah kelana senyap, mungkin yang ingin diutarakan adalah sekat bahasa dan budaya antara Inggris dan Cina. Namun saya kira senyap tidak berarti bisu, mungkin lebih mendekati pengalaman indah di dalam puisi Cina yang disebut [ 忘言- wangyan; kehabisan kata-kata? ], puisi Cina yang sesungguhnya, selalu bertunas sehabis senyap.

Perjalanan penyair, ataupun penyair dalam perjalanan, kadang setelah membaca puisi-puisi begitu, akan timbul keinginan melancong, berusaha di jalan yang pernah dilalui penyair mencari lanskap yang pernah menyentuhnya, ingin mengalami suasana yang bisa menghasilkan baris-baris puisi yang indah, namun kita juga tahu itu adalah hal yang paling sia-sia. Lahirnya puisi selamanya adalah sebuah rahasia, jawaban puisi juga selamanya perlu satu perjalanan hidup untuk merampungkannya — kita bagaimana bisa hanya dengan beberapa perjalanan pendek, sudah ingin mengerti keabadian atau sampai di tujuan seberang?

Melewati jalan besar dan lorong sempit sebuah kota juga sering membuat saya terasa bagai kelana senyap, atau mungkin flaneul, pengembara di bawah pena Baudelaire, di luar gedung tinggi sesekali ada bulan jernih, kehampaan sejenak di musim semi, bahkan slogan-slogan yang kering kerontang dan kerumunan orang-orang yang basah kuyup, sering begitu menyentuh, seolah menghasilkan sesuatu yang menyerupai puisi. Namun saya tetap tidak menulisnya jadi puisi, hanya dengan cara yang sederhana mencatatnya, tunggu hingga suatu hari mungkin benar-benar dapat menjelaskan keindahan mereka, benar-benar mengerti kata-kata yang belum pernah diucapkan, sekalipun berserpih bagai angin.

…bersambung

24 Posisi Matahari (1)

Kolom John Kuan

☉冬至

——— cacing tanah memilin; rusa bersalin tanduk; mata air menetes

Semangkuk ronde. Tiga warna. Merah dan hijau isi kacang tanah, putih isi kacang merah. Ada wangi jahe, kenyal ketan, gurih kacang. Sedikit pedas, hangatkan tubuh di hari hujan. Setelah semangkuk ronde, kekuatan [ yin ] perlahan pupus, alam akan kembali memasuki suasana [ yang ]. Di malam dingin sering teringat berbagai macam sup. Saya periksa dapur, ada sepotong labu, dipotong dadu campur irisan bawang bombai, rosemary, kulit kayu manis, garam dan sedikit minyak sayur, direbus perlahan dengan api kecil, tambah sedikit susu, saat disajikan di atas meja tambah lagi sesendok keju Mascarpone. Demikian sudah semangkuk kuah labu yang membawa suasana kuning emas musim panas. Atau siapkan seekor ikan mas, dilumuri garam Himalaya dan diamkan sebentar lalu digoreng hingga harum, masukkan air didih, setelah itu ikan bersama kuah dituangkan ke dalam sup tahu, biarkan mereka perlahan menyatu di atas api kecil, tambah arak, jahe, daun bawang, takaran sesuai kata hati, pindahkan ke dalam periuk sapo, mengitarinya di bawah cahaya lampu sudah suatu kebahagiaan.

Sup selain hangatkan tubuh juga hangatkan persaudaraan yang mungkin telah renggang, dingin, membeku, atau retak, basi, dan lapuk. Dengan semangkuk sup kita bisa saling mengalirkan sedikit sorotan mata hangat, tegur sapa akrab, merapatkan hati, mencairkan hubungan yang telah beku, atau mungkin hatimu mendadak bergetar karena nama kecilmu tiba-tiba dipanggil setelah dua tiga puluh tahun tidak pernah terdengar lagi. Begini ceritanya, suatu kali Du Fu dan sekeluarga dalam pelarian, setelah menderita beberapa hari di hutan, suatu malam sampai di tempat seorang kawan lamanya, Sun Zai. Cara Sun Zai menyambut penyair kita adalah terlebih dahulu menyiapkan semangkuk sup ——— [ Sup hangat menyusup hingga ke ujung kakiku ] demikian penyair mencatat, hangat yang menyebar dari telapak kaki ke seluruh tubuh itu, menghilangkan letih, menggetarkan hati puisi, selamanya dikenang penyair.

Semua sup selalu di malam dingin di bawah sebuah lampu mengepul uap panas, adalah sebuah tegur sapa lembut ribuan tahun, embun beku dan salju musim dingin tiga ribu tahun di bawah telapak kaki.

 

☉小寒

——— angsa liar mudik utara; kucica mulai bikin sarang; ayam hutan saling bersahut

Tertidur di dalam suara hujan. Saat bangun pagi cerah. Sekelompok pipit berkelakar di luar jendela, terbang berputar saling mengejar, dengan tepat dan serentak terbang ke segala arah menyelidik. Tiba-tiba mendarat di atas rumput di bawah pohon mencari makanan. Saya duduk hadap jendela memperhatikan mereka, memperhatikan mereka seperti beberapa waktu lalu di negeri lain. Juga suatu pagi yang cerah, seluruh pekarangan dan jalan telah tertutup salju, mereka juga dengan riang terbang dan saling mengejar, kadang-kadang juga berputar ke halaman belakang yang penuh bertaburan buah-buah apel yang jatuh di musim gugur, hari itu satu per satu mencuat setelah salju mulai mencair, pipit bergiliran mematuk, tidak sampai sehari sudah bersih. Langit amat benderang. Jendela tercetak pantulan matahari. Saya masuk ke ruang tengah, sesekali terdengar bunyi benturan keras, itu adalah pipit menabrak kaca jendela. Setelah mendengar satu benturan sangat keras, saya periksa ke depan, jendela telah menempel dua helai bulu abu-abu dan setetes darah, buka pintu keluar melihat, seekor burung jatuh di samping rumah, sayapnya bergerak sedikit, ternyata sudah mati.

Saya gali satu lobang kecil di bawah pohon pinus, angkat burung itu dengan sebuah sekop kecil, bersiap-siap menguburnya. Seorang anak lelaki tetangga berdiri di sisiku memperhatikan, ada semacam sedih atau iba di matanya. Dia berkata: [ Mata pipit sudah mengatup ] Lalu bertanya: [ Mengapa mesti menguburnya? ]

[ Ia sudah mati, sebaiknya memang dikubur ]

[ Lalu setelah dikubur? ]

[ Setelah dikubur? ] Saya berkata: [ Tahun depan dia akan terbang kembali ]

[ Oh ——— tahun depan pipit akan terbang kembali ]

 

☉大寒

——— induk ayam mengeram; elang lincah berburu; sungai beku ke dasar

Sebelum gelap mesti periksa pemanas. Satu musim dingin itu saya hampir lewati sendiri di Brooklyn. Pemanas sering tidak berfungsi, tetapi malam itu pemanas bekerja sempurna, seluruh ruangan ada semacam bau kain disetrika. Duduk membaca, setumpuk koran golongan kiri, setumpuk golongan kanan, saya terbakar sendiri digosok ke dua tumpuk kertas dingin itu. Menjelang dinihari, salju turun lagi.

Waktu itu saya sedang menyelesaikan sebuah tulisan, sebentar tulis sebentar edit, setiap malam, dari meja tulis melihat ke luar, melihat salju turun lagi, gelisah dan putus asa ——— namun pemandangan salju di malam hening sesungguhnya sangat memukau, kadang berdiri di depan jendela menatap, agak lama, setelah merasa seluruh ruangan seolah dingin kembali, baru bergegas ke arah pemanas memeriksa, kemudian membenamkan kepala ke dalam tumpukan kertas lagi. Sering tidur terlambat, bangun juga terlambat, tetapi tidak begitu peduli, saya seperti terperangkap di dalam suatu kurun waktu yang sangat tua. Bahan yang saya pelajari adalah puisi-puisi klasik yang setidaknya sudah berumur dua ribu tiga ratus tahun sampai tiga ribu tahun, himne, drama, heroisme, epik, definisi terhadap ketidak-beradaban, simbol, parabel, coba menyatukan berbagai kerangka pikiran, coba menyelidik gaya dan warna Cina Kuno, namun bolak-balik yang muncul di benakku adalah Dante, Shakespeare, Cicero, Aristoteles, Boccaccio, Eliot, Plato dan Yeats

Saya coba merangkai beberapa kerangka pikiran, mengarang sebuah buku, namun buku ini mesti lain daripada yang lain. Yeats pernah menulis sebuah puisi:

 

Because I seek an image, not a book

Those men that in their writing are most wise

Own nothing but their blind, stupefied hearts

I call to the mysterious one who yet

Shall walk the wet sands by the edge of the stream

( Ego Dominus Tuus )

 

Setelah salju leleh, saya bangun dari mimpi, sekelompok pipit terbang berputar di luar jendela, bercericit riuh rendah, menguasai pagiku yang setengah terjaga. Saya teringat orang-orang yang begitu serius dengan sastra sebagai tumpuan cita-cita ——— ataupun dengan cita-cita ingin membentuk kembali roh sastra, terpikir orang-orang ini di dalam hari-hari yang perlahan melemah dan muram, pada sebuah jaman yang segalanya begitu deras terlupakan, serius mengarang sebuah buku, mengejar, namun yang dikejar bukan buku, hanya beberapa citra.

 

☉立春

——— angin timur melepas beku; serangga telah keluar sarang; ikan mengibas es terapung

Sisa-sisa salju jatuh dari ujung ranting ceri hitam.

Air genangan di bawah sorotan matahari memantul berbagai bentuk awan. Kali terakhir salju meleleh, sesungguhnya musim semi sudah agak terlambat datang, tiba-tiba di saat saya masih setengah sadar akan peralihan musim, daun-daun muda yang kurang lebih sekecil pangkal jarum telah memenuhi ranting-ranting gemuk, anggun, lincah, serasi.

Dedaunan tumbuh pesat, setelah ditinggal beberapa hari, bagian ceri hitam yang menghadap ke arahku telah merentang berlapis-lapis jala hijau. Di dalam ini mungkin saja mengandung suatu isyarat atau filsafat, namun saya tidak ingin menyelidik. Di saat dedauan masih belum sepenuhnya tumbuh sempurna, ceri hitam ini seolah di ujung ranting-rantingnya telah berbunga ——— seolah saja, seolah juga belum pasti. Cuaca kadang hangat kadang dingin, kadang di belakang hujan deras menyorot cahaya matahari, dari tengah danau memanjat selengkung bianglala menakjubkan, bagai irama musik yang berlapis-lapis mendaki, bagai Appassionata Beethoven, membuat hati seketika bergetar. Getaran hati yang demikian bersahaja, kembali ke jaman Romantis yang sederhana dan jelas, di petang yang sekejap, pelangi tinggi-tinggi melampaui pucuk ceri hitam, dua ujungnya melengkung di utara dan selatan.

Kadang hujan beku, kadang cuma angin.

 

☉雨水

——— berang-berang saji ikan; angsa liar telah tiba; rumput pohon pecah kecambah

Hari itu saya berdiri di mulut jendela menjawab telepon, sudah tidak bisa ingat apa yang diutarakan lawan bicara, mungkin tentang ketulusan dan kemunafikan, hubungan-hubungan yang payah. Mata saya memandang pohon ceri hitam dan sekitarnya, sedikit bosan mengikuti pembicaraannya. Tiba-tiba di luar jendela melayang bintik-bintik putih, ringan melintas, jatuh. Saya kaget memutuskan topik bicara: [ Turun salju ——— ] Lawan bicara berkata mungkin saya terlalu lelah dan mengalami halusinasi, ini bukan cuaca buat turun salju. Salah musim. Saya tidak ingin berdebat, memusatkan perhatian pada salju tipis yang melayang jatuh, seketika tidak tahu apa yang diucapkan lawan bicara, hanya mendengar sehamparan gaung, bagai panggilan kucing tengah malam yang tidak ingin beranjak di atas atap orang. Salju tipis pelan dan ringan menari di udara, saya berpikir. Kemudian saya berpikir lagi: Tidak mungkin, ini bukan salju, ini adalah di pangkal musim semi angin sepoi meniup jatuh serpihan bunga di ujung ranting ceri hitam, begitu mungil, begitu menakjubkan, tetapi bukan salju. Saya membiarkan kawan menyelesaikan pembicaraannya, sebelum menutup telepon saya mengulang sekali lagi [ Turun salju ], sekalipun sudah bisa memastikan itu bukan salju. Di antara kenyataan dan imajinasi selalu adalah kesia-siaan, apalagi ceri hitam sedang dengan sepenuh daya melepaskan seluruh kemewahannya, terus-menerus, membiarkan seluruh kemewahannya lepas jatuh.

Ketika cahaya matahari silau menyorot, seluruh dedaunan ceri hitam telah tumbuh sempurna, kekuatan daya hidup yang demikian jelas berlapis-lapis menunjuk ke atas, rupanya memang seperti harapan saya, samasekali tidak segan, bahkan telah menyebar ke dalam udara sekeliling. Bayangnya yang hitam pekat dilempar ke atas bumi, memanjang bergerak mengikuti matahari, pelan-pelan menuju ke tengah lapangan rumput. [ Apa itu? ] Mungkin mereka akan demikian bertanya padaku, dan saya tidak pernah merasa bosan. Saya akan berkata adalah sebatang ceri hitam: gugur daun, berkecambah, tumbuh bunga, dan akan mekar penuh, menunggu musim panas tiba.

☉驚蟄

——— persik berbunga; kepodang nyanyi; elang menjelma kangkok

Mendengar seorang ekonom ceramah teori-teori dasar ekonomi. Dia dengan penuh percaya diri berujar: Semua perilaku di dunia ini dapat dijelaskan dengan ilmu ekonomi. Misalnya, kita setiap hari pergi dan pulang, hampir selalu mengambil jalan yang sama, ini adalah karena kita ingin menghindari resiko yang akan ditimbulkan oleh ketidak-tahuan kita terhadap jalan yang lain, juga modal waktu dan pikiran yang mesti kita habiskan buat menyelidik sepotong jalan baru. Tiba-tiba saya merasa tercerahkan, berkata di dalam hati, sebab itu kita perlu penyair, sebab itu kita perlu Robert Frost.

Saya sering menyesatkan diri, dalam arti yang sesungguhnya; sering memilih jalan yang tidak saya kenal, sengaja pergi memikul [ resiko ] yang paling ditakuti ahli ekonomi, atau dengan mewah memboroskan [ modal ] yang begitu mereka peduli, sebab itu saya bagai seorang hartawan, bisa menikmati kemewahan dunia, dan tidak perlu melotot neraca untung rugi. Dengan demikian kotak-kotak semen juga bisa tampak lebih bergairah, tembok-tembok tua yang digerogoti jamur juga bisa memberi keriangan sekutum bunga kecil yang menyelip di garis usianya, apalagi di tengah jalan bisa bertemu sebatang pohon yang berusia ratusan tahun, atau mendengar dari jendela tertentu mengalir keluar dentingan piano, itu tentu sebuah rezeki nomplok, dapat durian runtuh, apalagi mau berhenti sejenak, angkat kepala, memandang cahaya merah jingga di ufuk barat, itu adalah selapis keriangan yang lebih dalam, dan musim semi telah merayap di sana.

 

☉春分

——— burung layang-layang kembali; langit gemuruh; petir bersahut

Pendaki gunung kebanyakan sangat senyap. Jalan gunung sempit sekali, tidak ada kesempatan berpapasan dengan orang lain. Di dalam perjalanan yang monoton, pelan dan panjang, selangkah selangkah, memikul beban, juga demi menghemat tenaga, tidak sudi bicara.

Terakhir, hanya terdengar nafas sendiri, teratur dan berat, membuktikan diri mampu memikul beban berjalan jauh, dan perjalanan pun terus berlanjut.

Di dalam gunung, setelah lelah berjalan, bisa duduk; tas punggung yang berat dilepas, taruh di satu sisi, bagai sebongkah batu. Sendiri juga duduk di sisi lain tidak bergerak, juga bagai sebongkah batu.

Pendaki gunung selamanya tidak pernah mengejutkan gunung. Mereka seolah memang bebatuan di sini, cuma perlu melangkah pulang, cari posisi sendiri.

Keculai saya.

 

☉清明

———  poulownia merekah; tikus sawah balik sarang; bianglala tampak

 

Kau sudah lama tahu

Gunung adalah tuan sungai adalah tuan

Kau datang kau pergi

Kau adalah tamu

 

Bunga paulownia masih di ujung ranting sayap musim semi dihujan diangin

 

Kau sudah lama tahu sudah lama tahu

Angin adalah tuan hujan juga

Kau tidur kau bangun

Kau adalah tamu

 

Dibujuk angin dibisik hujan tabur sepinggang gunung

Kupu-kupu bergaris putih

Buih bintang percikan sungai di bahu jalan bukankah kau itu

Ah bunga paulownia

 

☉穀雨

——— kiambang tumbuh; kangkok mengepak sayap; burung hud hud di dahan murbei

Sampai di bawah kaki gunung Hua Shan.

Awal bulan april, musim yang aneh. Saya seolah mengikuti jejak sastra atau ingatan purba sampai di sini, tidak ingin menelusuri. Sejak Dinasti Qin dan Han, banyak sekali alusi di dalam sastra klasik yang berhubungan dengan Hua Shan. Konon di era Qin Mu Gong ( 659 SM – 621 SM ), ada seorang musikus muda bernama Xiao Shi, suka meniup seruling di atas Hua Shan. Puteri Qin Mu Gong, Nong Yu jatuh hati padanya, puteri raja ini tidak peduli ayahnya tidak setuju, melepaskan semua kemewahan, bersusah payah, mendaki gunung mencari Xiao Shi, hingga kini di atas gunung masih ada tempat mereka main musik mengundang datang burung hong: Panggung Perindu Burung Hong.

Di ujung Dinasti Tang yang penuh gejolak sosial, cendekiawan terkenal Chen Bo undur diri menetap di Hua Shan. Zhao Kuangyin setelah mendirikan Dinasti Song, ingin mengajak Chen Bo menjadi pejabatnya, Chen Bo hindar bertemu, menolak surat perintah. Di puncak selatan Hua Shan ada satu tebing curam, diberi nama: Tebing Hindar Surat Perintah.

Kalangan rakyat sangat menyukai Chen Bo, dianggap sebagai dewa, memanggilnya [ Laozhu ]. Kalangan rakyat juga percaya terakhir Zhao Kuangyin sendiri mendaki ke atas gunung, ingin memaksa Chen Bo menjadi pejabatnya. Chen Bo mengajaknya main catur, berkata: ” Kau menang, aku turun gunung menjadi pejabat, aku menang, serahkan Hua Shan kepadaku ” Sekarang di puncak timur Hua Shan ada satu tempat diberi nama [ Pavilun Taruhan Catur ], konon ini adalah tempat Chen Bo memenangkan percaturan itu. Cerita rakyat jangan ditelan bulat-bulat, namun berdiri di Pavilun Taruhan Catur memandang gunung dan sungai, sangat membuka wawasan. Zhao Kuangyin kalah taruhan, turun gunung jadi kaisar, dan Hua Shan menyimpan watak dan kebesaran hati yang tidak mampu diatur penguasa.

Saya sampai di kaki gunung, angkat kepala lihat, gunung besar tinggi menjulang, tidak tahu mesti dari mana mulai mendaki, tiba-tiba teringat Nong Yu, tidak tahu ketika dia sampai di kaki gunung, apakah seperti saya, menarik senafas udara dingin, berpikir ingin balik badan? Waktu itu tidak ada seorang pun setuju Nong Yu ke atas gunung mengejar cintanya. Saya juga teringat Chen Bo, tidak tahu buat apa dia mesti bersikeras menetap di atas gunung.

☉立夏

——— orong-orong menyerit; cacing tanah keluar; batang labu merambat

Menginap di Hancheng. Sendiri. Tengah malam bangun membaca [ Kitab Sejarah – 史記 ], terasa di dalam udara dingin bertebaran roh Sima Qian. Tanpa [ Kitab Sejarah ], tidak tahu catatan sejarah manusia akan kurang berapa kisah? akan kurang berapa tokoh? Jing Ke, Qu Yuan, Xiang Yu, Zhuo Wenjun, Yu Rang. Juga tukang cuci baju yang di saat Han Xin melarat memberi dia semangkuk nasi itu, seringkali membuat saya ketika melangkah di sisi sungai, tidak berani memandang remeh ibu-ibu tidak kukenal yang sedang mencuci baju di sana. Nelayan tua yang bertukar pikiran dengan Qu Yuan itu, juga membuat saya percaya nelayan-nelayan di kampungku pasti bersembunyi orang bijak yang pura-pura bodoh. [ Kitab Sejarah ] menulis semacam keyakinan lain di luar nilai-nilai mainstream.

Tokoh-tokoh paling menyentuh yang ditulis di dalam [ Kitab Sejarah ] hampir semuanya adalah orang-orang kalah di dalam kehidupan nyata. Di dalam syair Tanah Chu yang lantang membahana adalah nyanyian pilu kekalahan Xiang Yu yang tulus, berpisah dengan kudanya yang selalu keluar masuk medan perang bersama, berpisah dengan perempuan yang paling dicintai dalam hidupnya, dia ternyata di ujung hidup tiba-tiba menampilkan kegetiran dan kelembutan di titik temu suka dan duka, di dalam kenyataan yang kejam meninggalkan sepenggal kelembutan hati yang indah.

Pertarungan Chu dan Han, Liu Bang adalah pemenang, [ Kitab Sejarah ] menulis Liu Bang, menyunguhkan satu sudut pandang lain terhadap pemenang. [ Pasukan kuda Chu mengejar Raja Han, Raja Han panik, mendorong jatuh Xiao Hui, Lu Yuan ], Xiao Hui adalah putera pertama Liu Bang, Lu Yuan adalah puteri pertamanya. Penguasa sukses di saat  bahaya, demi menyelamatkan diri, bisa mendorong keluar anak sendiri dari kereta. Seorang pembantunya tidak tega, turun dari keretanya menyelamatkan kedua anak itu. Namun Liu Bang yang panik ingin segera keluar kepungan, kembali mendorong keluar kedua anaknya dari kereta. [ Kitab Sejarah ] berkata: Demikian berulang tiga kali. [ Kitab Sejarah ] dengan dingin menulis penguasa kehilangan sifat kemanusiaan, satu sisi gelap yang membuat kita bergidik.

Pertarungan Chu dan Han sudah berakhir. Xiang Yu kalah, Liu Bang menang. Namun penilaian sejarah belum berakhir, di bawah pena Sima Qian ada kalah dan menang yang lain.

 

☉小滿

——— sayur pahit berbiji; camelina mati; bulir gandum mulai berisi

Setelah melewati sebuah pintu rendah, terpampang di depan mata adalah sebidang dinding kayu yang sangat tua, hanya bisa dilalui satu badan saja. Namun begitu memutar langsung akan kelihatan pemandangan di balik dinding, sungguh mengejutkan.

Sebuah ruangan besar, telah duduk sekitar seratus sampai dua ratus orang. Semuanya mengitari meja-meja kecil minum anggur, suara percakapan sangat kecil, cahaya lilin bergetar di atas meja, suasananya agak misterius. Bagian dalam ruangan ada sebuah panggung, tempat pertunjukan sebuah kelompok tari keluarga.

Cahaya panggung menyala, pertunjukan telah dimulai.

Anggun melangkah keluar tiga perempuan muda, satu lembut, satu pedas, satu agak sulit dideskripsi, ketiganya amat jelita, kuduga adalah anak perempuan atau menantu keluarga ini. Mereka maju dengan khidmat, bagai baru mengikuti sebuah upacara sekolah, atau bareng mau ke gereja. Seketika, salah satu di antaranya bagai angin puyuh naik, awan buka sayap merentang, mulai menari, dua yang lain teratur mundur ke samping. Penari samasekali tidak memandang sekeliling, hanya tertunduk dengan mata sedikit mengatup, seolah sedang introspeksi diri, tetapi lengan dan badan bergerak bagai kerasukan, angin menderu petir menyilat.

Namun pada sesaat yang tak terduga pula, dia mendadak berhenti, angkat rok tegak bangau. Seharusnya ada seulas senyum tampak di wajah, tapi tidak ada, hanya dengan keheningan mengingkari segala yang baru berlalu, membuat penonton seluruh ruangan berkedip mata curiga pada diri sendiri: bagaimana mungkin perempuan yang begini lemah lembut melakukan putaran cepat.

Lelaki kurus sewajah galau, begitu masuk panggung langsung mempercepat langkah kakinya menjadi titik-titik hujan musim panas, seolah ingin kobaran dan gerah sekujur tubuhnya tertuang habis. Dia semestinya adalah anak bungsu keluarga ini, hereditas memungkinkan dia memiliki gerak langkah yang demikian kuat.

Hening. Sangat khidmat, seorang perempuan parobaya masuk panggung, dia kiranya adalah menantu sulung keluarga ini. Kelincahan dan daya pukau yang sama ketika disajikan olehnya boleh disimpulkan sebagai suci bersih, gairah yang sama padanya menjelma jadi renungan. Akhirnya dia pun tertawa, di saat dia selesai, semua penari muda tidak tampak ada yang tersenyum atau mengiyakan, hanya dia berani tertawa, namun di dalam tawanya menyimpan sindiran. Apakah dia sedang menyindir orang lain atau menyindir dirinya? Apakah sedang menyindir dunia atau sedang menyindir panggung? Tidak tahu, hanya tahu 3/4 tawanya adalah sindiran, dengan demikian panggung ini sudah tidak biasa lagi, sudah memasuki suatu kematangan yang bisa rata memandang seribu gunung.

Satu sisi panggung berdiri seorang lelaki tua gemuk, tampaknya adalah kepala keluarga, sedang memperhatikan jalannya pertunjukan. Setelah menantu sulungnya mundur, dia sendiri melangkah ke tengah panggung. Sangka akan menyampaikan sesuatu, ternyata tidak, hanya melihat dia tiba-tiba mengangkat sedikit ujung jasnya, perlahan mulai menari. Badan terlalu gemuk dan kaku, sulit berputar cepat, namun dia memiliki sejurus daya, sudah mengental demikian tebal, ditunjukkan sedikit saja sudah bisa merasakan gerakan tangan dan kakinya yang demikian menguras, namun samasekali tidak tergesa, pelan-pelan memutar keluar daya pukau jantan, humor lelaki tua. Penari yang paling tidak mirip penari ini diletakkan di mana juga bisa, usia membuat semua gerak-geriknya menjadi sulap klasik kehidupan.

Puncak sensasi adalah ketika seorang perempuan tua masuk panggung, seluruh penari dengan hormat berdiri di tepi panggung menatapnya, termasuk lelaki tua itu, suaminya. Bahkan beberapa pekerja belakang panggung juga buru-buru ikut berdiri di satu sudut panggung, begitu lihat sudah tahu ini adalah prosesi terpenting keluarga ini. Segala gerak tari di atas panggung yang baru ditampilkan tadi adalah setetes setetes diturunkan oleh perempuan tua ini, sekarang sang maestro tampil, seluruh ruangan hening. Pada wajah perempuan tua ini, tidak ada ketenangan anak perempuannya, tidak ada kegalauan anak lelakinya, tidak ada kesinisan menantu sulungnya, juga tidak ada humor lelaki tua itu, dia hanya sedikit mengernyitkan alis dan samasekali tidak ada ekspresi, segala macam ekspresi akan menjadi terlalu lumrah baginya, setiap gerak-geriknya adalah gerakan klasik yang setiap hari mereka hadapi, namun juga seolah selamanya tidak terjangkau.

Di samping ada orang berkata: Di seluruh Spanyol sudah sedikit yang mampu seperti dia, tubuh bagian bawah demikian dashyat bergetar menari dan tubuh bagian atas bisa samasekali tidak bergerak.

Akhirnya perempuan tua selesai menari, di dalam suara tepuk tangan, mereka sekeluarga masuk ke dalam suatu kondisi pukau tari, untuk mengakhiri pertunjukan malam ini. Tetapi anehnya adalah para penari seperti tidak memiliki ikatan gerak atau saling memberi sedikit isyarat atau sapaan, juga tidak peduli penonton di bawah panggung, masing-masing seolah masuk ke dalam suasana kosong, sebab itu tidak menemukan keriangan, kegenitan, rasa terima kasih dan perpisahan yang terduga. Hanya ada keangkuhan yang membakar, kesepian yang mengalir, kelincahan yang gelisah.

Sampai di sini penonton sudah tidak merasa ini adalah sebuah pertunjukan tari keluarga di malam buta di sepotong lorong yang tersembunyi, hanya merasa kedip cahaya lilin sepenuh ruangan, telah berubah menjadi sinar matahari Andalusia.

☉芒種

——— belalang lahir; burung cendet bersiul; mockingbird senyap

Tiba di kotamu hari sudah petang. Masuk penginapan, istirahat sejenak. Sebelum langit benar-benar gelap bangun memandang keluar jendela. Bukit belakang ada sehamparan pepohonan berbunga putih, kiranya adalah pohon minyak tung, dipandang dari jauh, hamparan bukit sudah memutih, bagai salju. Saya ingat bunga tung adalah kesukaanmu.

Pagi itu kamu mengajakku pergi bersama melihat bunga tung. Sebuah pagi yang basah, baru diguyur hujan semalaman, di setapak bertaburan bunga-bunga gugur. Kita berjalan di antara pepohonan, bunga-bunga merekah di ujung ranting, sekelompok-sekelompok seolah disanjung dedauanan hijau selebar telapak tangan. Bentuk bunga samar-samar, justru di antara daun dan bunga menebar selapis cahaya matahari, di dalam cahaya melayang gemulai serpihan bunga gugur, persis salju jatuh berputar di udara. Juga menyerupai berpuluh ribu kupu-kupu, menari sepenuh langit; di tengah udara naik turun merenggang merapat, lalu bersama-sama melayang jatuh, jatuh di wajah orang-orang yang menengadah, di kepala, di badan, juga jatuh di atas tanah, di setapak, penuh bertabur bunga-bunga seputih salju.

Saya menyambut sekuntum yang melayang jatuh di depanku, seksama memperhatikan bentuk bunga. Mahkota bunga lima helai, putih bening, kuncup sangat kecil, di tengah-tengah bunga ada satu titik merah muda, apakah agar lebah lebih mudah datang melakukan penyerbukan?

Kamu berkata: Yang jatuh adalah bunga jantan, bunga betina tetap di atas pohon, mesti menjadi buah.

Bunga betina mesti menjadi buah, dengan tegar tetap berada di atas pohon; bunga jantan setelah selesai kawin, satu persatu melayang jatuh. Hidup telah rampung, pisah ranting pisah daun, sesungguhnya tidak terlalu menyedihkan.

Di telapak tanganku ada sekuntum bunga gugur, mahkota lima helai, ditopang sebuah kelopak kecil, mungkin bunga yang jatuh atau tetap di atas pohon adalah menggunakan cara berbeda merampungkan diri, pengetahuan kita sangat terbatas, sering menderita ketakutan dan kesedihan yang tidak perlu.

Tenang, Ini Hanya Natal

Kabar Budaya – RetakanKata

meributkan-natalRibut soal natal ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Inggris muncul isu yang lebih parah dari sekedar mengucapkan selamat natal: boikot natal. Suasana yang dipandang tidak kondusif tersebut mendorong Dewan Masjid Inggris untuk mengeluarkan selebaran guna menjernihkan suasana dan menghimbau umat Kristen tetap tenang dalam merayakan natal.

“Bagi sebagian orang di negeri ini, natal adalah tanda sukacita bersama keluarga menyambut kelahiran Yesus. Beberapa muslim akan bergabung dalam perayaan natal tersebut, mengingat bahwa Yesus adalah juga seorang Nabi penting dalam Islam.”

Dewan menegaskan tidak akan ada umat muslim yang akan memboikot natal. Mungkin ada beberapa umat muslim yang merasa tidak nyaman dengan perayaan natal, namun itu jumlahnya sangat sedikit. Dan jumlah ini tidak terus kemudian mewajibkan umat Kristen mengubah kebiasaan mereka.

Dewan juga mempersilakan umat Kristen untuk tetap memasang pohon natal dan dengan tenang merayakan liburan bersama keluarga.

“Anda merayakan natal atau tidak, semoga liburan ini membawa sukacita dan kebahagiaan bagi Anda dan orang yang Anda cintai.”

Sumber: The Muslim Council of Britain

Mungkin Anda tertarik juga untuk membaca:

Meributkan Natal

Bukan Sebuah Anti-Travelouge

Puisi John Kuan

Setetes Air Hujan

setetes air hujan juga bisa nyanyi

bisa menari di atas jamur tumbuh

bunga mekar sebatang flamboyan

ekor anjing liar, ujung lancip bulan sabit

saat mereka berbaris ketuk sekali

tap dance, riang saat kau juga sudi

mengerutkan diri, membuka selaput

agar-agar waktu, ketuk tapak kaki

menari, bawa lapisan atsmosfer kalbu

pergi bersama, telah lama kau ingin

satu perjalanan tapi tidak terbentang

pada terang dan malam, bagai sepotong

agar-agar, kenyal melompat ke jauh

ke tempat setetes air hujan, begitu

leha-leha, bagai seorang gelandangan

membawa seluruh kisahnya, lupa

dirinya, pernah adalah setetes hujan

Lewat Gubuk Rumput Du Fu

kau di dalam senja sebiji jeruk

mengapit tunas rumput, angin sepoi,

dataran luas, musim gugur segera

matang, umpama kuning kepodang

papan catur baru digambar isteri

Gubuk berjingkat, langkahi dangkal

dalam sealir sungai, dari sana waktu

pasang naik, lalu diam-diam surut

biji catur masih di tangan, sisi depan

kabut, sisi belakang sedikit debu

ikan juga arak juga, dari celah-celah

waktu disodor keluar, matahari terbenam

juga, saat begini tiada orang datang

tiada orang pergi, titian di bawah kaki awan

dijalan jadi selembar peta, tampak jauh

adalah papan catur, siapa masih di dalam

angin malam bermain, taruh dua biji

tiga biji bintang tidak kalah tidak menang

dari mana ada pasukan tentara musuh

pada hidup itu ( atau hidup ini )

kau angkat kepala adalah dataran luas

( atau pantulan dataran luas ), sejarah

juga bukan sejarah, kekacauan atau bukan

kekacauan sekejap itu, dalam hening kelam

malam kepak sayap terbang ke angkasa

Mykonos Terapung

Salju yang siuman, jatuh di punggung

atap rumah musim panas, salah sangka

adalah mimpi lupa dibawa pergi rusa

waktu itu, orang-orang terapung di tengah

angkasa, dengan gaya punggung dan

kupu-kupu berenang, melampaui

hidup lalu yang diterjang ombak

juga hidup lalu yang lalu, dari jauh

terapung datang, di luar bingkai mimpi

kampung halaman entah siapa.

penjaja ikan keliling satu teriakan

sudah pecah berderai

Seekor Rusa Hujan di Nara

Kau pelan-pelan mengunyah

Opium. Ranting zaitun.

Tiga puluh juta seketika

Hujan jatuh di telapak licin

tumbuh jadi sebatang

pohon di tengah mimpi gelap

disambung dengan benang

Esok. Tak terhitung jamur,

serangga juga burung dara

pasti akan terbang naik

putus-putus nyala-nyala

di dalam hujan

di dalam lidah api

Dan kau hanya mengunyah

dedaunan yang riang

menari sepenuh langit

jatuh ke bumi lapuk

bagai lautan termanis

tetesan air paling asin

kau hanya mengunyah

sebatang pohon hidup

dengan langkah tidak bisa

kuberi nama, berkedip mata

ah, perahu biji zaitun itu

menumpang onak mimpi

di saat warna langit

menginjak pingsan senja

luap keluar indah kilau cahaya

 

Artikel Terkait:

Sebuah Anti Travelogue

Tiga Kilasan Gaya John Kuan.

Pengumuman Lomba Cerpen RetakanKata 2013

Kabar Budaya – RetakanKata

jawara menulis
Ilustrasi dari apegejadifilewordpressdotcom

Anda tentu sependapat bahwa lebih banyak orang yang meyakini menulis cerpen itu bukan suatu pekerjaan yang mudah. Banyak tip-tip ditulis di website, blog maupun buku-buku untuk memudahkan penulisan menunjukkan bahwa ada suatu tingkat kesulitan yang coba dipecahkan para pengarang. Harapannya, tentu para penulis tip menginginkan lebih banyak orang memiliki kemampuan menulis, tidak hanya cerpen namun juga jenis karangan yang lain.

Maka melimpahnya peserta lomba menulis cerpen RetakanKata 2013 patut disyukuri. Apresiasi luar biasa perlu disampaikan kepada para peserta yang telah berupaya dengan segenap kemampuan untuk menghasilkan karya-karya terbaik mereka, terutama pada para sahabat buruh migran yang telah mencuri waktu untuk menulis di tengah-tengah kesibukan mereka. Meski tidak semua dapat menjadi pemenang lomba tahun ini, namun ada harapan besar di kemudian hari para penulis ini akan menjadi penulis besar.

Dari dua kategori yang dilombakan tahun ini, sayangnya hanya sedikit yang mengikuti kategori B (buruh migran). Tercatat hanya ada empat naskah untuk kategori B. Hal ini bukan berarti tidak ada peserta dari buruh migran sebab para sahabat buruh migran lebih banyak mengikuti lomba pada kategori A (umum). Untuk itu, kedua kategori dilebur menjadi satu dan jumlah pemenang tahun ini diperbanyak menjadi 20 pemenang lomba dari 504 naskah cerpen yang masuk.

Menimbang pada dua kategori yang digabung menjadi satu, maka hadiah yang diberikan kepada para pemenang lomba adalah sebagai berikut.

  • Juara I, cerpen berjudul Jendela-jendela Aba karya Oddie Frente, berhak mendapat uang tunai Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 2 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.
  • Juara II, cerpen berjudul Aedh Tak Lagi Mengharap Kain Sulaman Surga karya Victor Delvy Tutupary, berhak mendapat uang tunai Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 2 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.
  • Juara III, cerpen berjudul Angsa Salju karya Sulfiza Ariska, berhak mendapat uang tunai Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 2 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.
  • Cerpen Laki-laki dalam Kereta, Sesuatu yang Tak Menyenangkan dari Ibu Mertuaku dan Legiun Dajjal, berhak mendapat uang tunai masing-masing Rp 150.000 (seratus lima puluh ribu rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 1 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.

Dan berikut ini adalah cerpen-cerpen terbaik yang berhak masuk dalam buku Antologi Cerpen RetakanKata 2013:

  1. Jendela-jendela Aba karya Oddie Frente
  2. Aedh Tak Lagi Mengharap Kain Sulaman Surga karya Victor Delvy Tutupary
  3. Angsa Salju karya Sulfiza Ariska
  4. Laki-laki dalam Kereta karya Diyah Hayu Rahmitasari
  5. Sesuatu yang Tak Menyenangkan dari Ibu Mertuaku karya Ardi Kresna Crenata
  6. Legiun Dajjal karya Royyan Julian
  7. Mak Parmi karya Danang Duror Alfajri
  8. Bayi yang Hilang karya Albert Wirya
  9. Savitri Jadi Sintren karya Imamul Muttaqin
  10. Anak Kocok karya M. Said Hudaini
  11. Garis Rosary karya Dhianita Kusuma Pertiwi
  12. Kirana karya Jenni Anggita
  13. Pulang karya Meilina Widyawati
  14. Musim Semi di Taman Ueno karya Yanti Hanalia Mantriani
  15. Esspreso Cinta karya Kadek Lestari Diah Paramitha
  16. Makan Malam Terakhir karya Lidya Pawestri Ayuningtyas
  17. Garis Waktu karya Wilibrodus Wonga
  18. Penari Tiang karya Marina Herlambang
  19. Hukum Pancung karya Upik Junianti
  20. Dubai di Ujung Hari karya Meylani Nurdiana

Catatan:

Seluruh cerpen pemenang lomba akan dibukukan dan masing-masing pemenang akan mendapatkan satu buku gratis Antologi Cerpen RetakanKata 2013. Pemenang yang ingin mendapatkan lebih dari satu buku, dapat melakukan pemesanan terlebih dahulu melalui email retakankata@gmail.com dengan mengganti  uang cetak dan penerbitan buku yang dipesan.

Para peserta dan pembaca yang ingin memesan buku Antologi Cerpen RetakanKata 2013 dapat mengirim pesanan melalui retakankata@gmail.com dengan melakukan pembayaran dimuka sebesar Rp 50.000 per buku belum termasuk ongkos kirim. Hubungi redaksi RetakanKata untuk keterangan lebih lanjut.

Hadiah berupa blog dan buku tidak dapat ditukar dengan uang dan blog tidak dapat dialihkan kepada pihak lain tanpa persetujuan dari RetakanKata. Lihat harga blog di Lapak RetakanKata.

Seluruh pemenang diwajibkan melakukan verifikasi dengan mengirim email yang dilampiri data diri berikut foto serta profile singkat penulis sebagai pelengkap penerbitan buku. Verifikasi dapat dilakukan sampai dengan akhir Agustus 2013. Jika lewat dari bulan Agustus pemenang belum melakukan verifikasi, maka kemenangannya dibatalkan dan hak-haknya dicabut.

Apabila para pembaca mengetahui adanya kecurangan, ketidakbenaran data dan naskah cerpen, diharapkan memberikan informasi kepada RetakanKata melalui retakankata@gmail.com sampai batas waktu akhir bulan Agustus.

Pengumuman ini juga dapat dibaca di BUKUONLINESTORE.COM sebagai bagian dari RetakanKata Network. Lihat juga blog-blog yang ada di bawah BukuOnlineStore:

Semi-Otomatis Menulis Puisi

Kolom John Kuan

——— Untuk Abdul Hadi WM

:: seluruh kata dan kalimat di dalam 10 puisi ini saya jambret dari buku puisi Abdul Hadi WM: Tuhan, Kita Begitu Dekat ::

1. Tuhan, Kita Begitu Dekat

Tuhan dekat, aku panas
dalam kainmu arahnya gelap
aku nyala lampu padammu

2. Langit Di Mana-Mana

Di atas air, di atas pasir
senja haus waktu, cair
dinding hatimu pada kayu
muara kemarau, putri-putri buih
di atas badan sunyi perahu dagang
membersihkan gelap
menelan dongengmu, penunggu muara ramah itu

3. Sarangan

Cemara menyerbu
bulan, kolam luka-lukanya
sejoli tidur

4. Pelabuhan Banyuwangi

Ombak berdiri di geladak
kelasi percaya seketika, seketika
mengalir tali temali, tiang, lampu-lampu
pelabuhankah bersuara?

5. Kuncup

Kuncup dunia
batu menggeliat
suara airmata hama
palangnya diberi nama gelisah

6. Anak

Anak gelombang mengerti
terpendam, diam, surut, tak karam
tidur merenggut bintang

7. Kudengar

Bersua rambut hitammu
gelombang bunga terjaga
di ruang susut ranjang cakrawala

8. Tangan

——— Untuk Sutardji Calzoum Bachri

Tangan di kabut meluap
jantung, sungai, tebing curam
tak lebih dalam, kita tahu
tapi ombak bosan karang

9. Doa I

Kenyang hingga lapar
Kaulah kenyang itu
Nasi jiwa lapar
Sekedar kenyang
Kaulah airmata. Amin

10. Cinta

——— Untuk Tedjawati

Laut pada arus
ombaknya hatimu
memukul kegelapan
menangkap cahaya
pecah menjelma di sampingku di sampingmu
kata-kata, waktu
jembatan kalbu

Catatan:

Seluruh puisi-puisi ini berasal dari buku puisi Abdul Hadi WM: Tuhan, Kita Begitu Dekat. Judul di atas sama persis seperti judul di dalam buku puisi Pak Abdul Hadi WM, isinya sudah saya utak-atik, begini yang saya sebut semi-otomatis menulis puisi. Misalnya yang No. 1 Tuhan, Kita Begitu Dekat, puisi aslinya begini:

Tuhan
Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas
Aku panas dalam apimu

Tuhan
Kita begitu dekat
Seperti kain dengan kapas
Aku kapas dalam kainmu

Tuhan
Kita begitu dekat
Seperti angin dan arahnya

Kita begitu dekat

Dalam gelap
kini aku nyala
pada lampu padammu

Tentang Lomba Menulis Cerpen RetakanKata 2013

Kabar Budaya – RetakanKata

Setelah masa pengumpulan naskah diperpanjang hingga 16 Juni 2013, tercatat 502 judul naskah cerpen diikutkan dalam lomba menulis cerpen RetakanKata tahun ini. Mungkin karena kurang memahami petunjuk lomba, banyak pembaca yang mendaftarkan diri namun tidak melampirkan naskah lomba. Peserta yang demikian secara otomatis tidak terdaftar.

Judul-judul cerpen yang masuk dapat dibaca di situs BukuOnlineStore.com. (Private: Naskah Cerpen yang Diterima Panitia Lomba Menulis Cerpen RetakanKata 2013) Dengan password dan link yang dikirim ke alamat email peserta, Anda dapat membaca judul-judul cerpen yang ikut dalam perlombaan ini. Tanpa login terlebih dahulu, Anda tidak akan dapat membaca artikel yang bersifat private tersebut.

Mengingat jadwal pengumpulan naskah yang diperpanjang dan banyaknya cerpen yang ikut dalam perlombaan, maka target pengumuman lomba diperpanjang sampai tanggal 17 Agustus 2013. Pengumuman lomba akan disampaikan melalui situs RetakanKata dan BukuOnlineStore. Panitia akan mengumumkan judul-judul yang terpilih dan peserta pemilik naskah akan diminta untuk konfirmasi ke panitia.

Terima kasih atas partisipasi para sahabat RetakanKata dalam lomba menulis cerpen RetakanKata 2013. Ikuti terus informasi terkait lomba ini hanya di RetakanKata. Salam menulis dan jayalah sastra Indonesia!

Artikel Terkait:

Lomba Menulis Cerpen RetakanKata 2013

Perubahan Ketentuan Lomba Menulis Cerpen RetakanKata 2013

Serigala, Ular, Katedral, dan Baca Alkitab

Kolom John Kuan

Kadang-kadang tanpa sadar bisa mendapat tiga jam yang tak terduga, misalnya mengulang Dances with Wolves dari awal hingga akhir. Filem ini memberikan satu pandangan baru: Serigala adalah baik, kuda adalah baik, suku Indian ramah bersahabat, gagah berani, dan sangat bijaksana. Namun siapakah orang-orang jahat? Siapakah lemah, absurd, tolol, rakus, suka ribut, berkuda dan menembak dua-duanya tidak memadai, [buta huruf tambah tidak higiene]? Adalah perwira-perwira dan prajurit-prajurit kulit putih yang memakai seragam, adalah pasukan tentara utara yang menang dalam perang sipil, merekalah orang-orang jahat.

Ini adalah satu pengenalan atau kesadaran yang luar biasa. Kevin Costner telah mengubah ukuran tradisional filem western, seluruhnya dijungkir balik.

Seingat saya cuma ada satu yang pernah secara mendasar menelusuri masalah ini, dan dengan sepenuh daya membentangkan pandangan ini, yaitu [Legenda Ular Putih]. Di dalam legenda ini susunan tokoh baik dan jahat berturut-turut sebagai berikut: reptil, perempuan, lelaki, dan yang paling jahat ternyata adalah biksu. Ini sungguh adalah satu tambuhan genderang yang luar biasa! Cerita ini benar-benar secara total mengubah tolok ukur masyarakat tradisional Cina, seluruhnya dijungkir balik.

Demi serigala yang ditembak mati Tentara Federal dan meneteskan airmata. Demi ular yang dikejar dan dibasmi habis-habisan oleh Biksu Fahai dan meneteskan airmata, bahkan harus menambahkan satu bab [Pagoda Persembahan] sebagai poetic justice baru puas. Semua ini sungguh layak buat direnungkan.

~

Salah benar dan baik jahatnya seseorang, agaknya tidak ada hubungan dengan agama dan keyakinannya.

Agama dapat membuat seseorang tegar dan teguh, juga dapat membuat seseorang menyimpang dan keras kepala. Orang-orang yang percaya tuhan seringkali tidak takut mati, melihat singa datang menerkam, berdoa, tidak takut, ini adalah cerita penganut Agama Kristen pada masa awal, membuat bulu kuduk berdiri. Tentu, yang dimaksud [Tuhan], tidak mesti seperti yang ditentukan oleh ajaran Agama Kristen, bisa dengan berbagai cara memahami, menghayati.

~

Di dalam [Kompendium Lima Lampu – 五灯会元] dicatat kisah Guru Zen Yuande – 缘德禅师 dari Dinasti Song. Suatu kali Panglima Besar Cao Han sampai di Kuil Yuantong di Gunung Lu, Yuande duduk tenang tidak bangkit menyambutnya. Cao Han naik pitam: “Pak Tua tidak pernah mendengar Jenderal yang membunuh tak kedip mata?” Yuande buka mata menatapnya, agak lama baru berkata: “Kau tidak tahu ada biksu yang tidak takut hidup dan mati!”

~

Wang Shao (1030 – 1081) mengundurkan diri bertapa di Sungai Sembilan – 九江, Guru Zen Foyin (1032 – 1098) bersemadi di Gunung Lu – 庐山 , dan Wang Shao tetap masuk gunung memohon pencerahan. Foyin berkata kepadanya: “Tuan adalah Jenderal yang bersujud menyebut diri membunuh tak kedip mata, berdiri sudah jadi buddha, buat apa pencerahan?”

Kalau lihat catatan sejarah, Wang Shao adalah manusia yang sangat keji. Dia awalnya adalah pejabat sipil yang lolos Ujian Kerajaan. Di awal 1068 mempersembahkan [Strategi Meredakan Peperangan Perbatasan – 平戎策; baca: ping rong ce] kepada Kaisar Shenzong. Kaisar menerima strateginya dan mengutuskan dia memimpin pasukan menumpas Suku Qiang di daerah Sichuan. Penyerangan ini sangat berhasil, dan jabatannya pernah sampai tingkat menteri. Di awal 1081 meninggal dunia karena sakit. Orang ini sangat lihai dalam siasat perang, hanya saja sewaktu membunuh penduduk Suku Qiang yang menyerah, dia mencatat jasa prajuritnya dengan hitungan kepala yang terpenggal, luar biasa keji. Di masa tua kata dan laku tidak normal, sesat hati hilang akal. Tubuhnya hancur digerogoti bisul dan penyakit lain hingga seluruh organ dalam tampak, ada yang berkata karena sepanjang hidupnya membunuh terlalu banyak. Riwayatnya bisa ditelusuri di dalam Gulungan Nomor 321 Sejarah Song.

Foyin berkata [buat apa pencerahan], sesungguhnya sudah mengingatkan dia. Tetapi orang begini bagaimana bisa mengerti renungan Zen?

~

Pagi di kamar hotel lantai sepuluh, tirai sudah ditarik terbuka, cahaya lemah dan kelabu menembus masuk. Hujan seperti baru berhenti, rasa sejuk di luar seperti menyatu dengan suhu kamar yang dikendali pendingin udara. Ini adalah daerah Bugis di Singapura, berbagai bangunan baru dan lama menjulang berdempetan. Saya melihat tepat di luar jendela ada sebuah gereja.

Gereja ini mungkin dibangun pada abad ke-18. Saya ingat di dekat sana juga ada sebuah kuil Kwan Im dan sebuah kuil Hindu, walaupun sekarang tidak tampak di luar jendela. Itu adalah rute saya setiap pagi beberapa puluh tahun silam, setelah sembahyang di kuil Kwan Im pasti melewati pintu depan kuil Hindu, berhenti sejenak tukar senyum dengan penjaga kuil. Berjalan lagi beberapa saat akan bertemu dengan sebuah pintu besi yang selalu terkuak sedikit, di balik pintu adaah pekarangan gereja yang luas. Setelah menyusup ke dalam pekarangan, akan tampak di sana-sini bertebar beberapa batu nisan. Pintu gereja hampir selalu tertutup, saya belum pernah melihat bagian dalamnya, agaknya tidak akan jauh berbeda dengan gereja lain. Itu adalah jalan pintas saya menuju tempat kerja, bisa menghemat lima kali penyeberangan. Suatu kali saya membawa seorang teman melewati rute ini. Dia berkata: “Bagaimana kamu bisa menggunakan pekarangan gereja sebagai jalan pintas?” Saya melonggo. Mungkin karena pintu masuk dan pintu keluar selalu terbuka, jawabku. Tahun berikutnya saya mendapat kabar dia telah pindah ke Chicago belajar filsafat.

~

Gereja tua ini adalah bangunan paling pendek yang terpampang di depan mata. Saya bersandar di jendela memandang, hanya kelihatan dia berdiri berdempetan di antara begitu banyak hotel, bank, gedung perkantoran, dia kelihatan sedikit aneh. Dari tempat yang tinggi memandang sebuah gereja, terasa amat canggung. Dia merendah, khidmat, taat.

Begini dari atas memandang ke bawah sebuah gereja, seharusnya adalah jalur tuhan dan para malaikat, ini adalah semacam hak istimewa. Kita makhluk fana (tidak peduli pengikut atau tidak pengikut, saudara lelaki atau saudara perempuan) cocok dari bawah ke atas menengadah. Sebab sudah lama terbiasa, perlahan merasa cocok. Jika bukan kebetulan, bagaimana mungkin ada kesempatan yang aneh ini?

~

Bagian dinding luar gereja menempel sebentuk salib, tepat di luar jendela tempat saya berdiri. Salib ini kelihatan sangat berimbang, terkurung di dalam sebuah lingkaran, sebab itu atas bawah dan kanan kiri sama panjang, saling menyilang di pusat lingkaran, polos, sederhana, antik, sungguh merebut hati.

Setahu saya, salib begini disebut bentuk Yunani, mungkin ini adalah gereja Ortodok Yunani, namun teman pernah beritahu ini adalah gereja orang Portugis. Hal ruwet begini tentu bukan pencari jalan pintas seperti saya bisa menjelaskan. Saya juga tahu, salib yang paling sering kelihatan adalah atas bawah lebih panjang daripada kanan kiri, dan biasanya disilangkan di tempat yang agak tinggi, bentuknya seperti sebilah pedang menusuk ke bawah, disebut bentuk salib Latin Romawi Kuno. Seandainya di tempat persilangan salib Latin ada sebuah lingkaran, disebut bentuk salib Keltik, banyak ditemukan di Irlandia, Skotlandia, Wales, dan Inggris.

Panjang lebar di atas diperoleh dari ilmu lambang (heraldry).

~

Ilmu lambang ( heraldry ) tentu amat rumit, bukan saya bisa sepenuhnya memahami. Bentuk yang berhubungan dengan salib di dalam ilmu lambang (heraldry) sangat penting. Perbedaan antara bentuk Yunani dan bentuk Latin mudah sekali kelihatan. Dari dua bentuk ini berkembang keluar berbagai bentuk yang berubah menjadi warisan budaya yang sangat penting di dalam sejarah Eropa, di antara yang paling menarik selain yang dipasang di dalam dan di luar gereja, mungkin adalah yang tampak di bendera ksatria. Umpama salib Yunani yang sangat berimbang itu, jika di keempat ujung salib ditambah trefoil, disebut Botonee; jika di keempat ujung salib pecah bercabang dan agak melengkung ke dalam, disebut Moline.

Dengan salib Moline sebagai lambang bendera di era ksatria abad pertengahan Eropa, menunjukkan di dalam sebuah pasukan yang sedang menderu dan berkibas adalah putra ke-8 sang penguasa.

~

Di tengah kota Singapura yang sudah mirip dengan kota di dalam permainan komputer terdapat sebuah gereja tua, tentu bagus sekali. Di atapnya telah melekat banyak lumut, jendelanya yang jangkung dihias dengan kaca berwarna. Dindingnya agak tua dan kusam tetapi tampak masih kokoh, membuat hati terasa tenang dan damai. Di pekarangan samping yang cukup luas berhenti beberapa buah mobil.

Merpati.

Kembali lagi melihat merpati kepak sayap terjun dari atap gereja, tujuannya adalah pekarangan samping, mungkin di sana lebih mudah mencari makanan. Mereka bergegas mendarat, mengangguk, lalu kepak sayap naik, berputar-putar kemudian mendarat kembali.

Angin pagi bertiup perlahan, bersenda-gurau dengan merpati.

Beberapa bendera negara yang berbeda warna di ujung tiang yang tinggi, dengan sulit bergoyang, berlagak akan terbang, namun lesu dan lelah, seperti layang-layang yang tergantung di tiang listrik, tidak ada lagi harapan berkibas di angkasa.

~

Benda yang sama, dipandang dari atas ke bawah dengan dari bawah ke atas ternyata bisa demikian besar perbedaannya!

~

Saya sering teringat sebuah gereja gaya Spanyol di daerah pergunungan. Bangunannya tidak seberapa besar, tetapi pekarangan dan taman bunganya sangat luas, tentu dengan perbandingan yang sangat bagus. Saya juga sering teringat pastor yang bangun pagi di dalam taman, persis seperti babak II adegan 3 Romeo dan Juliet:

Mata kelabu pagi tersenyum pada malam tua berkerut,
awan satu per satu di timur berlumur cahaya,
langit hitam tembus berpijar bagai pemabuk
sempoyongan melintas di tempat roda langit membara.
Selagi matahari masih belum dengan matanya yang membakar
cemerlangkan hari menjemur kering embun malam yang lembab,
aku harus bergegas memetik lebih banyak bunga dan rumput unik
ingin mengisi penuh keranjang ranting dedalu kita

The gray-eyed morn smiles on the frowning night,
Checkering the eastern clouds with streaks of light,
And fleckled darkness like a drunkard reels
From forth day’s path and Titan’s fiery wheels.
Now, ere the sun advance his burning eye,
The day to cheer and night’s dank dew to dry,
I must upfill this osier cage of ours
With baleful weeds and precious-juicèd flowers.

Lalu dia selangkah sekata mengucapkan bentuk bebas sepuluh suku kata ini, dengan tenang berjalan melewati lorong, melangkah masuk ke dalam taman, sebuah taman beragam tumbuhan yang tidak terlalu lengkap.

Pemerintah daerah melakukan pelebaran jalan, ekskavator tanpa belas kasih mengeruk separuh pekarangan depan pastor, pagar didesak mendekati bangunan gereja, hanya menyisakan sepotong setapak tanah kuning yang sangat sempit.

Ah, keindahan yang maha kuat tiada batas berada
pada kandungan murni pepohonan, bunga, rumput dan batu

Oh, mickle is the powerful grace that lies
In herbs, plants, stones, and their true qualities.

~

Membangun sebuah gereja, di dunia Barat sering adalah memamerkan akumulasi perbuatan baik dari berbagai jaman, terutama membangun katedral. Dengan waktu seratus tahun dua ratus tahun, atau tiga ratus tahun putus-sambung menyelesaikan sebuah katedral, adalah hal yang sangat lumrah di abad pertengahan Eropa. Bahkan dengan tiga ratus tahun atau lima ratus tahun, atau lebih lama lagi, buat merasakan bahwa katedral tersebut masih belum selesai dibangun, juga merupakan hal yang sangat lumrah.

Katedral Koln yang di sisi Sungai Rhein, sudah dibangun beberapa ratus tahun, sampai sekarang masih belum selesai. Tentu, sekalipun katanya masih belum selesai dibangun, selama bertahun-tahun orang-orang juga terus menggunakannya, jadi sesungguhnya dia adalah bangunan lama yang sangat tua, namun masih belum selesai dibangun. Orang-orang jika memiliki kesempatan akan menambah beberapa potong bata, dengan tulus dan tegas, suatu hari akan serentak berkata: “Sudah, sudah selesai dibangun!” Jika membangun rumah dengan cara begini, harap jangan curi bahan lalai kerja, kalau tidak pasti dicaci maki anak cucu.

~

Konon pada masa-masa akhir Perang Dunia Kedua, pesawat-pesawat tempur Sekutu yang membombardir daerah-daerah yang dikuasai Nazi sangat berhasil, lalu masuk ke dalam teritori Jerman. Ketika ada pesawat tempur sedang bersiap-siap melepaskan bom di sekitar tepi Sungai Rhein, ada yang menyatakan, Katedral Koln tidak boleh dihancurkan. Markas besar Sekutu segera menurunkan perintah, pesawat pengebom harus menghindari Katedral Koln.

Maka katedral itu masih ada di sana, katedral yang belum selesai dibangun.

~

Dalam beberapa kali penyerangan terhadap Irak yang dipimpin oleh Amerika Serikat, pesawat-pesawat tempur Sekutu sering tanpa pandang bulu membombardir daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat yang disebut sebagai ayunan peradaban kuno itu, banyak sekali menelan korban, tentara maupun rakyat Irak — mereka seolah tidak mengangap orang-orang yang tinggal di sana manusia; kadangkala mengunci satu sasaran, menghancurkan semua bangunan yang tampak di atas bumi, sehingga fasilitas militer dan situs peninggalan kuno ikut celaka, hancur remuk — siapa peduli, juga bukan peninggalan peradaban Kristen, sekalipun pasti lebih tua beberapa ribu tahun dari katedral.

Ini adalah hal yang amat menyakitkan hati.

Seorang teman Kristen berkata pada saya: Di dalam injil ada nubuat, Babilonia yang jahat harus dihancurkan. ” Irak ” katanya: “adalah Babilonia yang jahat.”

Ini sungguh adalah sebuah alasan yang luar biasa.

~

Membangun katedral adalah semacam cara pengungkapan terima kasih kepada anugerah Tuhan. Seringkali, katedral juga pas digunakan sebagai tempat peletakan abu tulang tentara salib. Pada abad ke-13, menurut imajinasi David Macaulay, ketika orang-orang sepakat membangun sebuah katedral, mereka sudah siap dengan masa seratus tahun ke atas pelan-pelan menyelesaikan.

Tentu, seandainya berbagai syarat sudah terpenuhi, dan tidak ada peperangan, wabah penyakit, banjir dan kekeringan yang terlalu parah, dengan masa seratus tahun menyelesaikan sebuah katedral adalah sangat mungkin. Namun, manusia menghitung tuhan menentukan, peperangan dan bencana pada dasarnya adalah hal yang sering terjadi di dunia ini, dipastikan setiap saat bisa memutuskan perkembangan pembangunan, akan membuat kau keletihan, menderita, putus asa.

Seandainya bukan karena berterima kasih kepada Tuhan, mengagungkan Tuhan, pasti akan karena keletihan, menderita, putus asa lalu menyerah. Karena tujuan mulia begitu, maka tidak peduli betapa sulit juga akan dilampaui, hari ini tidak mampu besok lanjutkan, generasi ini mati masih ada generasi berikutnya.

Oleh sebab itu di dunia ini hanya ada katedral yang sudah selesai dibangun dan yang sedang dibangun, tidak ada katedral yang ditelantarkan tidak dibangun.

~

Tamu berkata: “Tentu ada, tentu ada yang ditelantarkan tidak dibangun.”

Saya terkejut bertanya: “Mana mungkin?”

Tamu berkata: “Seandainya orang-orang secara kolektif mengubah keyakinannya, atau tiba-tiba menemukan percaya tuhan atau kekuatan gaib adalah hal yang menggelikan, tidak lagi beragama, tentu rancangan katedral akan dibatalkan, tidak usah dibangun lagi.”

Saya berkata: “Eh, eh, bukan, bukan, atau ——— kau seharusnya berkata seandainya tuhan telah mati, maka tidak perlu lagi kita memeras otak mengagungkan Dia, begitu bukankah lebih gampang?”

Tamu berkata: “Dia? kata aneh apapula ini?”

Saya tersenyum menjawab: “Dia adalah dia,”

Tamu berkata: “Dia adalah dia! Ijinkan saya membaca sepenggal ini: [Dua orang itu balik badan meninggalkan tempat itu, menuju Sodom, Abraham masih berdiri di depan Yehowa. Abraham berjalan mendekat dan berkata: Tidak peduli orang benar atau fasik, Engkau juga akan memusnahkan? Bagaimana kalau di kota itu ada lima puluh orang benar, apakah Engkau akan memusnahkan kota itu juga, tidak demi lima puluh orang benar memaafkan orang-orang lain yang ada di dalamnya? Orang benar dan orang fasik dibunuh bersama, memperlakukan orang benar dan orang fasik sama, itu pasti bukan tindakan Engkau. Hakim segenap bumi, mana bisa tidak menjalankan keadilan? Yehowa berkata: Seandainya Aku menemukan lima puluh orang benar di Sodom, aku akan karena mereka mengampuni semua orang di tempat itu. Abraham berkata: Walaupun aku adalah debu, masih memberanikan diri berkata kepada Tuhan ——— seandainya lima puluh orang itu kurang lima orang, apakah Engkau akan karena kurang lima orang memusnahkan seluruh kota itu? Dia berkata: Seandainya Aku menemukan empat puluh lima orang di sana, juga tidak akan memusnahkan kota itu. Abraham berkata lagi kepadaNya: Bagaimana kalau ada empat puluh orang di sana? Dia berkata: Demi empat puluh orang itu, Aku tidak akan melakukan. Abraham berkata: Mohon Tuhan jangan marah, ijinkan aku berkata, seandainya di sana ada tiga puluh orang, bagaimana? Dia berkata: Jika di sana ada tiga puluh orang, Aku tidak akan lakukan juga. Abraham berkata: Aku masih memberanikan diri berkata kepada Tuhan, bagaimana kalau di sana ada dua puluh orang? Dia berkata: Demi dua puluh orang itu, Aku juga tidak memusnahkan kota itu. Abraham berkata: Mohon Tuhan jangan marah, aku berkata sekali lagi, seandainya di sana ada sepuluh orang? Dia berkata: Demi sepuluh orang ini, Aku juga tidak membinasakan kota itu. Yehowa setelah berkata pada Abraham lalu pergi, dan Abraham juga kembali ke tempat tinggalnya.]

~

Sodom hanya ada satu orang benar, namanya Lot. Menggunakan percakapan Abraham, kurang sembilan orang, kota ini pasti dimusnahkan. Malaikat memandu Lot sekeluarga ke Zoar, lalu Yehowa menjatuhkan belerang dan api di Sodom dan Gomora, [kota-kota itu, dan lembah Yordan, juga seluruh penduduk kota-kota itu serta yang tumbuh di atas bumi, dibinasakan.]