Andai Google Bisa Bicara

Set Me Free!!!
Tulisan ini boleh dibilang hasil “daur ulang” dari artikel yang pernah saya posting sebelumnya di sebuah blog, pada tahun lalu ketika kedatangan Miyabi ke Indonesia menjadi pemicu kontroversi di negeri ini. Artikel yang bermula dari keisengan mencari kata kunci yang “berpengaruh” pada mesin pencari di dunia maya. Dengan bantuan zeitgeist, yaitu alat yang disediakan google untuk mengetahui trend kata yang paling sering dicari di internet, dan google trends for website, keluarlah kata-kata yang paling sering dicari di Indonesia pada saat itu, dengan urutan sebagai berikut:
1. wikipedia indonesia
2. primbon
3. bokep
4. suster keramas
5. rin sakuragi
6. games co id
7. miyabi
8. indowebster
9. download mp3 gratis
10. kaskus
Melihat hasil tersebut, rasa ingin tahu berkembang menjadi pertanyaan, daerah mana yang mengakses situs bertema hantu dan sex tersebut. Dan hasilnya adalah sebagai berikut:
data diolah dari google

Ada beberapa hal yang cukup menarik dari kesimpulan statistik google tersebut. Urutan pertama dalam daftar pencarian adalah Wikipedia. Sebagian besar dari kita tentu tahu bahwa Wikipedia merupakan website yang berisi pengetahuan. Dari hal tersebut mungkin dapat ditarik inferensi bahwa masyarakat kita masih menempatkan pengetahuan pada tempat tertinggi. Dengan kata lain rasa ingin tahu masyarakat akan pengetahuan (umumnya) relative tinggi. Dapat diduga bahwa sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa jawaban dan penjelasan atas pertanyaan yang ada dalam pikiran mereka terdapat di Wikipedia.
Setelah kata Wikipedia, kata kunci berikutnya, secara berurutan, kata primbon, bokep, suster keramas, rin sakuragi, games co id, miyabi, indowebster, download mp3 dan kaskus. Rin sakuragi dan miyabi adalah bintang film porno asal Jepang. Cukup menarik jika melihat beberapa kata kunci sepertinya terasosiasi dengan “dunia perhantuan” dan pornografi. Jika dihubungkan dengan kata kunci yang lain, maka sepertinya dunia internet didominasi kalangan muda untuk tujuan “mencari kesenangan”.
Terkait dengan daerah pengakses, cukup sulit untuk menarik suatu kesimpulan karena banyak faktor lain yang tentu saja berpengaruh seperti ketersediaan jaringan, kepadatan penduduk, daya beli masyarakat dan lain sebagainya. Meski demikian, kecenderungan (trend) yang ditunjukkan google cukup member informasi bahwa dari daerah-daerah tersebutlah kata-kata kunci mendominasi search engine. Apakah ini berhubungan dengan banyaknya jumlah pemuda dan pelajar di daerah tersebut, masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
Jaman mungkin saja berubah. Data tahun ini mungkin saja berbeda dengan data tahun 2010 lalu. Jika ada kesempatan, cukup menarik jika perkembangan diteliti secara sederhana terus menerus. Adakah perubahan, atau masih berkisar pada “yang itu-itu” saja. Kita tentu tidak ingin mendengar ada yang berkata “andai google bisa bicara, mungkin dia akan bilang, wah otak orang Indonesia isinya takhayul sama sex, pantesan ngurus yang lain kedodoran 😀 “.

Bahasa Menunjukkan Bangsa: Turunan Kaum Misuh?

sumber: http://www.deadline.com
Siapa yang belum pernah misuh? Kalau memang ada, saya acungkan 6 jempol untuknya. Dua jempol tangan, dua jempol kaki, dua jempol bayangan jempol tangan. 😀
Misuh, kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia sama dengan mengumpat, yaitu mengeluarkan kata-kata (ucapan) keji (kotor, kasar) sebagai pelampiasan kemarahan atau rasa jengkel (KBBI). Kata-kata yang dikeluarkan disebut umpatan yang mana memiliki 12 padanan kata, yaitu bentakan, cacian, cercaan, dampratan, hardikan, hujatan, jerkah, makian, semburan, semprotan, sentakan dan sumpah serapah. Banyak juga ya turunan dari umpatan tersebut.
Banyaknya turunan tersebut tampaknya untuk memfasilitasi banyak ragam amarah yang berkecamuk di dada kaum misuh. Berikut ini beberapa contoh penggunaan umpatan disertai penjelasan kapan biasanya digunakan:
> Dasar anak tengik! (Ayah membentak sang anak ketika si kecil rindu diajak bermain sama bapaknya tapi malah dianggap mengganggu aktivitasnya yang sibuk dengan dunianya sendiri )
> Bisanya cuma mencaci tanpa solusi, dasar beo! (Orang yang mencaci ketika sedang lupa mencaci. Cacian deh lu!)
> Tulisan kayak gitu aja dibanggain, tulisan apaan tuh! (BlogWalker mencerca tulisan bloger lain yang laris manis dibaca. Sirik kali ya?)
> Menteri kok yang diurus cuma alat vital, apa nggak ada urusan lain! (Rakyat yang mencerca menteri, misal karena terpengaruh video ariel dkk).
> Dasar laki-laki brengsek lu! (Makian cewek yang tertipu cowok keren biasanya mendamprat seperti itu)
> Dasar anak tak tahu diri, minggat kau! (adegan menghardik di sinetron indonesia. Ngajarin misuh melulu nih sinetron!)
> Waduh, kok banyak sekali ya contoh umpatan. Kampret, sialan, kutu kupret. (ini contoh sumpah serapah karena ternyata contohnya bisa jadi sangat banyak dan bikin males kasih ilustrasi 😀 )
Ternyata berbagai ragam umpatan di bahasa Indonesia ini teramat banyak. Padanan kata umpatannya saja sampai dua belas. Contoh umpatannya bisa berlembar-lembar. Kalau kita baca koran atau media, rasa-rasanya hampir tiap hari berisi hujatan, cercaan dan makian. Bad news is good news jadi amunisi kritikus mencaci maki. Oh, ya, pernah juga anggota DPR misuh-misuh juga lho. Jangan-jangan kita ini turunan kaum misuh? Yo..mbuhlah…
Lawan dari sifat suka mengumpat adalah bersyukur. Bersyukur berarti berlega hati, berterima kasih kepada Allah karena suatu hal. Itu kata Kamus Besar Bahasa Indonesia lho. Ternyata bersyukur hanya punya dua padanan kata! Itu tadi, berlega hati dan berterima kasih. Ungkapan bersyukur paling banter “Alhamdulillah”, “Puji Tuhan”, Terima kasih”, (aduh, sialan kehabisan kata untuk bersyukur nih! Wah, saya sudah misuh lagi nih, hehehe).
Kalau di-othak-athik gathuk (direka-reka, dihubungkan) sepertinya kita menggunakan 12 kali mengumpat dan hanya dua kali bersyukur. Atau dengan kata lain ternyata bangsa ini lebih banyak memaki ketimbang bersyukur. Lebih sering mencerca daripada berterima kasih. Ah, jangan-jangan memang benar kalau kita ini turunan kaum misuh yang lebih suka misuh ketimbang bersyukur? Entahlah.

Geguritan (1)

Ora krasa wis sawetara,
ngalang ngetutke lakuning lintang.
Nggadhang-nggadhang, ono ngendi dununge pepadhang.
Peteng iki isih ndhedhet,
Gawe lakumu, uga lakuku, kesrimpet srimpet,
Mbulet lan mbundhet koyo benang ruwet.

Tansah setya tuhu ngetutke lakumu.

Sanajan raga ora nyawiji karo sukma.
Raga ringkih, tanpa daya, sukma sugih budi daya.
Tetep setya tuhu.

Upama lintang iku panje rino, tuntunen aku menyang dalan kang padhang.
Upama lintang iku panjer enjing, tuntunen aku duwe budi kang wening.

Jangan Remehkan Akuntan (2)

sumber gambar: uziek.blogspot.com
Suatu ketika serombongan HR dan Akuntan berangkat menuju tempat konferensi perusahaan di kota lain. Mereka berada pada satu gerbong kereta api yang sama. Semua HR sudah membeli dan memegangi tiket masing-masing. Berjaga-jaga kalau ada pemeriksaan tiket. Sementara kelompok akuntan hanya membeli satu tiket. Mengetahui hal tersebut, para HR tersenyum sinis, sambil menggeleng-gelengkan kepala berkata,”belum tahu mereka itu…kena pemeriksaan baru tahu rasa xixixixi”
Tiba-tiba salah satu akuntan berkata,”kondektur datang!”
Segera sekelompok akuntan tersebut masuk ke toilet yang sama di belakang gerbong. Kondektur memeriksa tiket para HR dan tersenyum puas mendapati mereka semua membeli tiket. Ketika melewati pintu toilet dan menyadari ada orang di dalam, kondektur berkata,”maaf, tiketnya!” Segera salah satu akuntan menyodorkan tiket lewat sela-sela pintu. “Terima kasih!” kata kondektur sambil berlalu.
Para akuntan keluar dari toilet sambil tersenyum puas melirik para HR. Xixixixixi
“Semprul! Tunggu pembalasanku,” batin para HR.
Tibalah waktu pulang dari konferensi, dan dua kelompok profesi tersebut kembali berada dalam satu gerbong kereta api. Para HR gantian hanya membeli satu tiket. Akuntan tidak membeli tiket sama sekali.
“Xixixixi, dasar gebleg,” bisik para HR satu sama lain.
Tiba-tiba salah satu akuntan berkata,”kondektur datang!”
Segera para HR berlarian menuju satu toilet dan mengunci dari dalam. Para akuntan dengan santai memasuki toilet di seberang gerbong. Sebelum akuntan terakhir masuk, ia mengetuk pintu dimana para HR berada dan berkata,”maaf, tiketnya!”Begitu tiket disodorkan dari balik pintu, akuntan tersebut langsung mengambil dan menyerahkan ke kondektur sambil masuk ke toilet dimana teman-temannya berada!

Disadur dan diadaptasi dari email berbahasa inggris seorang sahabat

Jangan Remehkan Akuntan (1)

sumber gambar: uziek.blogspot.com
Suatu ketika serombongan HR dan Akuntan berangkat kunjungan keluar kota dengan menggunakan pesawat. Entah karena apa, tiba-tiba pesawat mengalami kecelakaan tersangkut di sebuah pohon raksasa setinggi 100m. Enam penumpang berusaha bertahan dengan menggelantung di sebuah dahan. Lima orang berprofesi sebagai HR, dan satu orang akuntan. Sayang, dahan terlalu lemah untuk digelantungi 6 orang. Sambil bergelantungan, mereka bermusyawarah dan memutuskan bahwa satu orang harus rela berkorban demi menyelamatkan yang lain.
Sekian lama menunggu masih belum ada yang mengajukan diri untuk berkorban. Lagian, mana ada orang yang dengan sukarela mengajukan diri untuk mati dalam kondisi demikian. Bunyi retakan dahan mengingatkan mereka bahwa harus ada yang berkorban untuk yang lain. Tampaknya, lima orang HR sudah mulai frustasi dan memilih “tiji tibeh – mati siji mati kabeh” (kalau satu mati maka yang lain juga harus mati). Disaat kalut demikian tiba-tiba akuntan dengan penuh perasaaan berkata,”Baiklah…demi kepentingan semua, saya akan menjatuhkan diri. Akuntan sudah dipersiapkan untuk berkorban demi perusahaan. Meninggalkan keluarga demi perusahaan. Tidak pernah meminta ganti atas biaya yang dikeluarkan. Bekerja sampai larut tanpa uang lemburan. Fiuh….”
Begitu akuntan selesai berbicara, seluruh HR bertepuk tangan…..tentu saja mereka semua langsung jatuh!!!

Disadur dan diadaptasi dari email berbahasa inggris seorang sahabat.

BUDAK

taken from shutterstock.com
“Jadi, menurutmu ini layak disebut berita?” tanyaku pada Bang Madi agak kurang percaya.
Bang Madi, kawanku di desk kriminalitas memandangku dengan heran, kalau tidak bisa dikatakan agak aneh.
“Ada yang salah dengan pertanyaanku?” tanyaku lagi.
“Hmmm…sepertinya iya,” jawabnya,” berapa tahun kamu kerja di koran?”
“Seumur dengan anakku yang di TK, Bang.”
“Dan kamu belum tahu mana berita dan mana yang tidak?”
“Bukan begitu Bang. Maksudku…., sorry, kenapa kita mesti memuat berita seperti ini?”
“Kenapa?” Bang Madi berdiri dari duduknya dan berjalan ke arahku,” karena mereka suka membacanya dan koran kita laku!”
“Tapi…., kenapa? Kenapa kita mesti mengumbar kekerasan? Kenapa kita menjajakan aurat? Kenapa kita mesti….,” kata-kataku terhenti di tenggorokan.
“Kenapa tidak kau lanjutkan?”
“Coba Bang lihat ini. Janda dicekoki miras diperkosa enam belas berandalan. ABG penjaja seks tewas overdosis. Apa tidak ada berita yang lebih mendidik masyarakat?”
“Mendidik atau tidak, itu nomor sekian, Gus. Kita hanya perlu berpikir bagaimana koran kita laku, itu saja.”
“Tapi aku tidak setuju dengan cara pandang seperti itu Bang.”
“Koran ini tidak membutuhkan persetujuanmu untuk dapat terbit, Gus. Kalau kamu tidak puas, mungkin tempatmu bukan disini.”
“Sepertinya memang bukan disini tempatku,” kataku dongkol sambil pergi meninggalkannya.
”Datanglah kemari kalau kamu berubah pikiran!” masih kudengar Bang Madi berteriak.
Aku sudah tidak perduli lagi. Aku tidak akan pernah kembali. Tidak akan!
*****
Sepuluh bulan sudah aku resmi jadi pengangguran. Istriku mulai uring-uringan karena uang belanja tersendat-sendat seperti bantuan kemanusiaan yang entah nyangkut dimana. Uang pesangon sudah tandas sebulan yang lalu. Untuk menyambung hidup, terpaksa istriku sering lembur sampai pagi hanya untuk menyelesaikan jahitan agar uang jasanya dapat segera diminta. Atik, anakku satu-satunya, menjadi lebih sering rewel karena tidak pernah lagi dibelikan boneka mainan. Tidak ada lagi Barbie. Tidak juga Mister Bear. Kami tidak pernah lagi jalan-jalan ke shoping atau sekedar nonton film bersama. Tidak mampu lagi. Begitu mahalkah harga sebuah idealisme?
“Makan tuh idealisme!” jerit istriku suatu pagi saat kami sarapan seadanya. Tempe yang siap kurencah sontak melompat keluar dari mulutku.
“Sampai kapan Mas mempertahankan idealisme konyol itu? Sampai kita semua mati?” sembur istriku lagi.
“Sabarlah Wik. Aku juga tidak mau mati konyol. Sebentar lagi aku akan mendapat pekerjaan,” sahutku berusaha menghibur.
“Akan itu kapan? Besok? Lusa?” katanya mulai menangis.
“Yah…, entahlah,” jawabku sembari mengambil rokok dan pergi meninggalkan istriku yang masih ngoceh kesana kemari dengan tangis yang menjadi-jadi.
Dasar perempuan, maunya uang belanja beres terus, pikirku sambil melangkahkan kakiku ke taman kota. Mana pernah ia mau tahu perasaanku. Mana pernah ia tahu betapa ketakutanku menggila setiap kali menulis pembunuhan, pembantaian, perkosaan dan segala bentuk kesadisan. Mana pernah ia perduli betapa aku menggigil jijik setiap tahu ada pejabat korupsi dan aku harus menulis yang baik-baik saja, tentang reformasi, tentang clean government yang semuanya omong kosong belaka. Betapa aku ingin menangis dan memberontak setiap kali meliput kerusuhan yang membinasakan banyak jiwa tak berdosa, anak-anak yang terlantar tanpa makanan dan pakaian. Betapa aku ingin berteriak menantang dunia setiap kali ada yang mengulurkan amplop dan memesan tulisan yang baik-baik saja, seolah harga diriku hanya sebesar rupiah yang diamplopi. Mana pernah istriku mau mengerti semua itu. Mana pernah ia mau mendengarkan gejolak pikiranku.
Tapi salahku juga telah memilih istri yang hanya lulusan SMEA. Perempuan dengan otak dan cita-cita sederhana, menikah dengan pria mapan, punya anak, sedikit makan enak dan kadang pergi melancong. Sederhana sekali. Tidak perlu pusing memikirkan orang lain, apalagi idealisme. Orang lain kok dipikir, lha wong mikir diri sendiri saja pusing kok, begitu jawabnya setiap kali diajak diskusi. Bahkan, ketika orang ribut reformasi pun ia tidak ambil pusing. Mau reformasi, mau revolusi, atau apa kek, emang gue pikirin. Asal tidak repot nasi, beres sudah. Begitulah ia mengomentari berita di tv, yang kemudian mendarat ke sinetron.
Sinetron. Entah apa yang membuat istriku begitu tergila-gila dengan sinetron.
“Begitu loh Mas…, jadi lelaki itu yang lembut, sopan, penuh kasih pada istri”, begitu ucapnya setiap ada adegan yang sedikit romantis.
Romantis? Alamak…bagiku tak lebih dari stensilan picisan. Kadang aku tidak habis mengerti kenapa aku bisa memiliki istri bermental tempe seperti ini. Tetapi, entah setan mana yang merasukiku, setiap ia mengedip-kedipkan matanya, biasanya aku langsung menyerah. Mungkin inilah cinta yang logikanya tidak pernah dapat kumengerti. Sebenarnya aku atau dia yang bodoh, aku juga bingung.
Aku tersenyum sendiri mengenang kekonyolan-kekonyolan itu. Betapa aku sangat merindukannya saat seperti ini. Hal-hal yang kuanggap kelemahan itu yang membuatku tidak pernah tega untuk menyakitinya. Justeru sebaliknya, aku ingin menjaga, melindungi, membangun, serta memperbaikinya agar menjadi manusia yang lebih baik menurutku. Alangkah kasihan orang yang tidak mampu mencintai kelemahan dan kekurangan.
Teringat kelemahan istriku, aku bertekad harus mendapat pekerjaan lagi. Tak sabar mataku menelanjangi berlembar surat kabar yang memajang iklan lowongan pekerjaan disana sini, meski sebenarnya alergiku pada koran belum sembuh betul.
Dicari: sekretaris muda berpengalaman. Diutamakan berpenampilan menarik.
Dicari: sarjana teknik mesin…, insinyur pertanian…, staf akuntansi dan manajemen…
Mataku terus menari di antara deretan huruf.
Dicari: anak berumur lima tahun, hilang pada hari Senin…
Dicari: sopir pengganti…
Berita duka…
In memoriam…
Aksi massa, tiga orang tewas…
Mataku mulai pedih.
Tawuran pelajar…
WTS overdosis…
Perhatianku mulai bergeser ke artikel kriminal. Menjemukan. Semua masih seperti dulu. Aku letih. Tidak adakah irama hidup yang lebih menyenangkan untuk didendangkan? Bisnis media ini semakin hari semakin rakus melahap apa saja yang ada di dekatnya, pikirku dongkol. Koran kubuang ke selokan. Pekerjaan yang kucari tak kudapati. Aku pulang dalam kemarahan!
“Seharian ngelayap terus. Suami macam apa kau ini. Anak istri kelaparan di rumah, eh…malah enak-enak nongkrong!” sembur istriku penuh emosi.
Tanpa dapat kutahan, kemarahanku pun memuncak!
“Diam kau perempuan sundal! Kau pikir aku suka jadi pengangguran? Ngomong yang enak sedikit kenapa. Memangnya aku sudah gila?”
“Hu..hu..hu..”
Terdengar suara tangis. Anakku, Atik, mulai menangis.
“Lihat anak kita Mas. Lihat baik-baik,” istriku pun ikut meradang,”Atik butuh susu. Ia butuh uang untuk sekolah, untuk berobat. Sampai kapan Mas mau bertahan dengan idealisme konyol itu?”
Baru kali ini kulihat istriku semarah itu. Aku tidak pernah mengira kalau ia berani melawanku, hingga aku tergagap tak bisa bicara.
“Kalau Mas mau hidup bersih terus, Mas salah telah menikahi aku karena seharusnya Mas tinggal di tengah hutan sambil merenungi segala tetek bengek kebajikan. Seharusnya Mas tidak disini, karena disini tempatnya kenyataan. Kemunafikan, kebohongan, kebiadaban, egoisme dan segala sesuatu yang Mas sebut kebobrokan mental, itu semua adalah kenyataan yang harus diterima kalau kita tetap ingin hidup. Kecuali kalau Mas bisa hidup di dasar laut, itu lain perkara!”
Istriku nyerocos terus tanpa memberi kesempatan padaku untuk membela diri. Perempuan itu sungguh aneh, pikirku. Sepuluh tahun aku menikah dengannya, tapi aku tak pernah dapat mengerti apa yang ada dalam hatinya. Bagaimana mungkin ia yang begitu tergila-gila dengan sinetron bisa berbicara tentang kenyataan hidup? Tetapi kalau dirasakan, pendapatnya benar juga. Apa gunanya aku pusing memikirkan orang lain, sementara tidak ada yang perduli denganku. Tidak ada yang perduli ketika anak dan istriku kelaparan. Untuk apa aku bersikap jujur, sementara mereka berbohong padaku. Etika, kebaikan, moralitas agama hanya dijadikan tameng untuk menindas orang lemah sepertiku. Untuk apa aku menjadi manusia kalau ternyata aku hidup di antara budak harta.
“Jadi…, apa yang harus kuperbuat?” tanyaku melunak.
“Cari pekerjaan apa pun, atau…”
“Atau apa?” sergahku.
“Atau kita cerai!”
Masyaallah! Aku meloncat kaget bagai tersengat aliran listrik 220 volt. Seingatku, baru kali ini istriku mengancam cerai. Tentu ia tidak main-main. Tak pernah terpikir olehku untuk bercerai. Sebodoh-bodohnya ia, pantang bagiku untuk menceraikan istriku. Aku harus segera mencari pekerjaan. Sulit membayangkan jika aku harus hidup tanpa Nita, tanpa Tika. Bagaimanapun aku tidak ingin kehilangan mereka. Tokh aku hanya manusia biasa. Aku bukan nabi. Aku ingin berarti bagi anak dan istriku meskipun mungkin aku harus kehilangan kemerdekaanku sebagai manusia. Setidaknya aku tidak membunuh mereka dengan pikiranku.

*****
“Selamat bergabung kembali dengan kami Gus,” sambut Bang Madi setelah aku diterima kembali sebagai reporter harian Sinar Cahaya. “Aku yakin, kau pasti kembali.”
“Terima kasih, Bang,” jawabku lemah.
“Jadi, ngomong-ngomong, sekarang kamu sudah tahu apa itu berita?” tanyanya.
“Kurasa demikian,” kataku mantab. Aku benci sekali mendengar suaraku. Aku benar-benar telah menjadi budak.

Teluk Penyu, akhir Februari 2000.

Daya Magis Kata

Konon katanya, semua berawal dari kata. Ketika roh Allah melayang-layang, Ia berfirman (mengeluarkan kata) jadilah bumi! Maka bumi ini pun jadilah. Tentu saja dengan kuasa Allah bumi ini ada. Namun, kata, dengan tanpa mengabaikan siapa yang mengeluarkannya, secara hakiki memiliki kekuatannya sendiri yang luar biasa. Kata bukan sekedar rangkaian huruf vocal dan konsonan yang bersanding disana-sini. Tetapi ia merupakan suatu rangkaian ajaib yang memberikan daya magis bagi siapa pun yang mendengar maupun membacanya. Tanpa perlu tahu siapa yang mengucapkannya, atau siapa yang menuliskannya, kata akan mempengaruhi anda.
Bayangkan ketika suatu hari anda berimpitan dalam sebuah bus di tengah udara panas dan campur aduk bau keringat. Jengkel, marah dan bosan serasa siap meledak dari ubun-ubun. Lalu di sebuah kursi terdapat coretan “damai itu indah”. Maka, seperti bara yang mendapat setetes air, terasa berkurang panasnya, meskipun mungkin tidak memadamkan api kemarahan itu. Setidaknya anda akan bertahan sebentar dan mencoba berdamai dengan lingkungan dan kondisi yang tidak menyenangkan itu.
Akan lain lagi ceritanya jika coretan yang tertulis di kursi “persetan”. Maka kemarahan itu akan menjadi seperti bara yang tersiram minyak. Rasa marah dan tidak perduli menuntun anda untuk menyikut, mendorong, menginjak kaki atau mendesak orang lain agar posisi anda lebih nyaman. Ketika batin membisikkan “mbok jangan gitu”, jawaban yang keluar adalah “persetan”.
Kata “damai” dan “indah” di mata saya memiliki kekuatan positif seperti juga kata “cinta”, “kasih”, “jujur”, dan “percaya”. Sedangkan kata “persetan” memancarkan energi negative seperti juga kata “buruk”, “jahat”, “benci”, “bohong” dan “marah”. Saya memiliki keyakinan bahwa semakin sering seseorang berinteraksi dengan kata-kata tertentu, maka perilakunya akan terpengaruh oleh kekuatan dari kata-kata tersebut. Mari kita ambil contoh kata “terima kasih”. Ucapkan dan tuliskan kata tersebut pada orang yang sungguh keras hati untuk mengucapkan terima kasih. Pelan tapi pasti, saya yakin orang tersebut akan mulai juga untuk menulis terima kasih, kalau masih berat untuk mengucapkannya.
Diantara banyak kata, saya paling suka dengan kata “kasih” yang kalau diterjemahkan dalam bahasa inggris menjadi LOVE. (Jadi ingat lagunya Michael Bolton, A Love is Beautiful). Karena begitu sukanya saya dengan kata itu, maka saya memaknai LOVE sebagai akronim dari LIFE; OPPORTUNITY; VIRTUE; EMPATHY. Suatu keadaan bernuansa kasih jika keadaan tersebut membawa kehidupan, memberi kesempatan (memaafkan dan tidak egois), membawa kebajikan, dan turut merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang dikasihi. Jika suatu tindakan bertentangan dengan keempat kata tersebut, maka sulit dikatakan bahwa ada kasih disana. Demikian juga jika ada yang berkata pada anda “I Love U” tapi tidak mengandung life, opportunity, virtue dan empathy, maka jangan terburu-buru untuk percaya. 😀
Sayangnya, akhir-akhir ini kata-kata dengan energy positif retak disana-sini tergusur kata-kata negative.
Adalah hak kita semua untuk mendapat energy posistif dalam bertumbuh kembang bersama. Retakan kata itu perlu ditutup dan kata dimurnikan. Kita membutuhkan kata-kata untuk dapat tetap bertahan. Tulislah terus harapan demi harapan. Suarakan terus kedamaian, rendah hati dan suka cita. Mari kita perbanyak menggunakan kata positive dalam keseharian. Yakinlah, kita bisa!

14 Februari 2011

Lelaki Pengecut

Bagi Deilla, ruangan 4×5 itu terasa sempit dan menyesakkan. Kesunyian malam menyergap menambah kepiluan mendalam ketika menyaksikan sosok lelaki dengan nafas satu-satu tergolek tak berdaya di tempat tidur. Fisiknya tidak terluka. Tetapi sorot mata sayu itu lebih banyak bercerita tentang ribuan racun yang mengendap dalam di relung hatinya. Tak pernah terbayangkan lelaki yang selalu tampak kokoh seperti batu karang itu kini terkulai lemah bagai pohon pisang tumbang. Deilla yakin, tak lama lagi ia akan mati!
“Dewa, kamu kenapa?,”
Deilla terisak. Air mata membanjir di kedua pipinya. Baru kemarin kebahagiaan itu dirasakannya. Bahkan ranjang pengantin itu masih berbau melati. Kado-kado belum dibuka. Namun kini ia bagai terempas ke dalam jurang penderitaan begitu dalam dan gelap.
“Deilla…,” bisik Dewa tersendat-sendat,” kenapa kamu menangis? Tersenyumlah dan jangan kamu kotori kebahagiaanmu dengan derai air mata.”
“Kamu kenapa Dewa? Mengapa kamu melakukan semua ini?,” Deilla meraung semakin keras mendengar kata-kata Dewa.
Lelaki itulah sandaran hidupnya selama ini. Di setiap duka dan derita. Di sela-sela keputusasaan. Bahkan ketika ia begitu kebingungan mempersiapkan pernikahan, lelaki itulah yang selalu menguatkannya. Masih terbayang betapa sibuknya mereka berdua memilih warna baju, mendesain tata ruang, menelpon sana-sini hanya untuk meyakinkan bahwa tidak ada rencana yang terbengkalai.
“Deilla…maafkan aku ya…….” ucap Dewa dengan nafas terengah-engah. Dewa sadar hidupnya tidak akan lama lagi. Racun itu telah merusak hatinya.
Air mata Deilla membanjir semakin deras. Seprei, bantal dan seluruh pakaian Dewa sudah basah oleh air mata. Kata-kata Dewa bagai ribuan jarum menusuk ulu hatinya, merobek segenap perasaannya.
“Kamu pengecut Dewa… Tak kusangka, kamu sungguh pengecut membiarkanku menderita hidup sendiri ,” jerit Deilla. “Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya kepadaku? Kenapa?”
Tangis Dilla semakin histeris.
“Maafkan aku…Deilla. Lelaki itulah yang terbaik buatmu… Selamat tinggal Deilla…”
Mendadak dunia menjadi gelap dan pekat. Dilla pingsan!

LABIRIN IMPIAN (kukenali wajahmu dalam kebingunganku)

Meliuk di sela fatamorgana senja
Mencari kepastian untuk setiap persimpangan
masih setia kutiti jalan setapak
Kembali di awal angan bercecabang
Sesekali menangisi lukisan dahulu kala
Mungkinkah semua pilihan seindah yang terbayangkan?

Wajahmu terdampar di reruntuhan
Benda-benda mati kau beri sebagai ganti
Tetap mengiris sesekali
Mendetakkan langkah pada titik nadir
Menggoyahkan otot-otot
Bahwa semestinya aku melupakanmu

(Mungkinkah kudapati kebahagiaan yang sama seandainya kukecup keningmu saat ini?)

Tergurat asa pada jejak-jejak kaki
telah melangkah, dan terus melangkah,
Mencecap terik hidup
Pantaskah sebuah kerinduan?
Karena aku tidak akan kesana,
Dan tidak akan pernah kesana

Masih setia kutiti jalan setapak
Kembali di awal angan bercecabang

Biar kureguk dan terus kureguk
Debu-debu yang memedihkan mata
Sampai membuta
Sampai membisu
Sampai mati
Karena aku tahu permainan ini tak kan terulang

Anak manusia telah memilih takdirnya
Biarlah sekali ini terlempar berputar menggelepar
Tak berdaya di labirin impian.

Bintaro, awal nov 2003

Retakan Kata

Pernah dulu kurangkai kata dari setiap serpihan luka,
mencoba melukis makna agar asa tak jadi sirna.
Kutorehkan pada kayu,
pada batu,
dan pada tubuh bernanah.

Kubasuh dengan air mata,
Kubaluri dengan doa-doa.
Sekiranya nyawaku tinggal sejengkal,
aku masih dapat membacanya,
abadi, membara.
Meski nafasku tersengal,
disanalah rohku pernah singgah.
terkapar, berdarah-darah.

Hingga tiba masa kata tak lagi berdaya,
Hidup bagai palu godam menghantam,
Meretakkan setiap kata yang tersisa,
Meluluhlantakkan butir-butir nyali yang sempat bersemi.

Kini aku tinggal di dalamnya,
Menari dan bernyanyi di sela retakan kata,
Menanti Sang Pemahat Sejati memurnikan jiwa sunyi.
Sendiri.

14 Feb 2011

Doa Saja Tidak Cukup

image from dodiksetiawan.wordpress.com
…dan kita termangu,
masihkah bumi ini punya kita?

Berduyun orang menjerit dan limbung
terpatah…
tercabik awan panas membumbung.
Lalu legam nasib menghitam
bau daging terpanggang memenuhi ruang
sapi, kerbau, ayam, kambing
(…dan kami sama perihnya)
tak lagi lada sebagai penghangat suasana
tapi berton-ton debu membasuh kalbu.
Kalbu yang sekian lama buta, tuli dan bisu
…dan kita termangu.
Benarkah kita kuasa atas semesta?
pantai
gunung
udara
tanah
tak lagi ramah
lalu semua beribadat
tanpa beribadah

…dan kita termangu,
tak juga beranjak berkarya …….
meski sederhana,
doa saja tidak cukup

Atau…
Sangkamu, Tuhan itu budakmu?

Repost: puisi yag dibuat untuk mengenang korban merapi 2010

Reformasi Politik Tanpa Revolusi Budaya Adalah Pekerjaan Sia-sia

image from shutterstock
Sejak reformasi 98 kita telah mengalami pergantian kekuasaan (baca presiden) sebanyak empat kali. Mulai dari Habibie, Gus Dur, Megawati sampai SBY. Penting untuk diingat bahwa turunnya Soeharto membawa benih budaya baru, yaitu penurunan paksa seorang presiden. Sejak saat itu tak henti-hentinya bangsa kita penuh dengan kegaduhan politik. Demonstrasi lebih sering dilakukan seiring dengan wacana demokrasi yang berkembang pesat. Mulai dari guru SD, petani, buruh, karyawan dan mahasiswa, semua menjadi akrab dengan demonstrasi. Tidak jarang demonstrasi tersebut malah berujung pada konflik kekerasan. Demonstrasi di peringatan setahun SBY-Boediono merupakan contoh aktual fenomena tersebut . Kebebasan berpendapat begitu luas sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis tampak tinggal selangkah ke depan, seandainya bangsa ini siap menerima anugerah itu.
Ketidaksiapan bangsa ini dianalogikan beberapa tokoh sebagai ketidaksiapan menampung aliran sungai demokrasi yang sekian lama terbendung kemudian secara tiba-tiba terbuka lebar. Air mengalir liar tanpa kendali. Ibarat air yang semestinya menghidupi para petani justeru menjadi sumber mala petaka karena merusak kehidupan petani sebagai simbol rakyat kecil. Terbuka lebarnya kran demokrasi juga melahirkan otonomi daerah yang dirasa beberapa ahli sudah cenderung kebablasan. Beberapa aturan yang terbit saling tumpang tindih atau bahkan bertentangan dengan ketentuan yang lebih tinggi. Demokrasi telah termaknai sebagai kebebasan yang sebebas-bebasnya, bahkan kalau mungkin bangsa ini tanpa pimpinan dan aturan. Pancasila sebagai landasan demokrasi terabaikan dan seolah terkriminalisasi yang mana menyebut Pancasila adalah bagian dari orde baru yang tidak layak dipertahankan.
Perlahan kita menyadari bahwa banyak masalah yang belum terselesaikan. Pendekatan politik dan hukum sudah terbukti kurang efektif dalam mempercepat tumbuh kembangnya bangsa ini. Korupsi masih tetap tinggi. Kesenjangan sosial masih lebar bahkan semakin lebar dengan meningkatnya pola kapitalistik dan konsumtif. Perilaku masyarakat bukan mengarah ke hal yang lebih konstruktif namun justeru menjauh dari apa yang dicita-citakan sebagai manusia indonesia seutuhnya. Pergaulan bebas, pola hidup serba instan dan berbagai kecurangan di berbagai sendi kehidupan seolah menjadi suatu kewajaran. Perilaku mengemudi merupakan cerminan kecil dari perilaku orang dalam hidup keseharian. Ketika di jalan saling berebut, saling serobot, dan hidup seperti dikejar ketakutan, begitu pula perilaku hidup di tengah-tengah masyarakat. Takut gagal, takut miskin, takut kalah, dan semua jenis ketakutan yang mendorong setiap orang untuk membabi buta bertahan hidup.
Pertanyaan bagaimana membangun masyarakat indonesia yang berpancasila, yaitu masyarakat yang berketuhanan, menjunjung tinggi kemanusiaan, memiliki nasionalisme, mengutamakan musyawarah dan mufakat, serta berkeadilan sosial, menjadi mendesak untuk dijawab. Pendekatan politik, hukum dan beberapa mainstream agama selama ini, dalam tanda petik, menggunakan asumsi bahwa manusia perlu diatur karena buruk dan jahat. Kita lupa bahwa setiap manusia senantiasa menyimpan niat baik, paling tidak niat berbuat baik bagi orang-orang yang di cintainya. Inilah modal awal bahwa kehidupan ini masih bisa terus ditumbuhkembangkan. Pendekatan budaya menjadi penting dan mendesak untuk dilakukan dalam rangka memelihara dan memberi makna baru dari niat baik setiap orang. Sebagaimana dikatakan Herskovits dan Malinowski bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Dalam budaya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat (Edward Burnett Tylor), yang merupakan hasil karya cipta, rasa dan karya masyarakat (Selo Soemardjan).
Budaya yang baik akan menghasilkan proses (politik) dan hasil politik yang baik. Begitu juga budaya yang baik akan menghasilkan proses dan produk hukum yang baik. Menumbuhkan budaya malu berbuat curang akan menghasilkan budaya menghormati karya orang lain, sesederhana apapun karya yang dihasilkan orang lain. Budaya memberi arti lebih pada proses ketimbang hasil. Dampaknya, budaya dalam proses politik menjadi lebih penting dan bermakna ketimbang menjadi sekedar formalitas yang direkayasa. Budaya juga akan membuka pemikiran masyarakat untuk menjadi lebih cerdas dalam setiap tahapan proses politik. Masyarakat tidak hanya sekedar menjadi obyek para politisi, tetapi subyek dari setiap proses politik itu sendiri.
Pada tataran yang lebih umum, budaya kerja sama dan gotong royong yang positif mendorong tumbuhnya budaya tidak takut. Persaingan global yang tampak kejam dengan pakaian individualisme dan materialisme semestinya dapat dibendung dengan kebersamaan, bukan pembinasaan antar komponen masyarakat sehingga dunia tampak seperti rimba belantara dengan gedung-gedung sebagai ganti pepohonan. Budaya persaingan yang sehat, mengaku kalah jika memang kalah secara fair memberi ruang tumbuhnya budaya ksatria. Budaya yang menghormati proses, diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan terhadap hasil dari proses-proses tersebut.
Memang, pembangunan budaya lebih lamban. Untuk itulah percepatan dengan revolusi budaya diperlukan. Sejarah di belahan dunia seperti di Korea Selatan, Cina, dan Jepang sudah membuktikan bahwa reformasi politik membutuhkan revolusi budaya. Tanpa revolusi budaya, reformasi politik hanya menjadi pekerjaan yang sia-sia.

Repost dari Note FB

Karena Setiap Kata Punya Makna