Retakan Kata

Pernah dulu kurangkai kata dari setiap serpihan luka,
mencoba melukis makna agar asa tak jadi sirna.
Kutorehkan pada kayu,
pada batu,
dan pada tubuh bernanah.

Kubasuh dengan air mata,
Kubaluri dengan doa-doa.
Sekiranya nyawaku tinggal sejengkal,
aku masih dapat membacanya,
abadi, membara.
Meski nafasku tersengal,
disanalah rohku pernah singgah.
terkapar, berdarah-darah.

Hingga tiba masa kata tak lagi berdaya,
Hidup bagai palu godam menghantam,
Meretakkan setiap kata yang tersisa,
Meluluhlantakkan butir-butir nyali yang sempat bersemi.

Kini aku tinggal di dalamnya,
Menari dan bernyanyi di sela retakan kata,
Menanti Sang Pemahat Sejati memurnikan jiwa sunyi.
Sendiri.

14 Feb 2011

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s