Arsip Tag: artikel

Sajak Manusia

Puisi Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi: Heny Ayu Candrasasi
Di langlang laju langkah kaki-kaki,
riuh hati bertaruh melempar undi,
siapa-siapa tanya siapa memenangi,
pertarungan yang mestinya dikandangi.
Laksa derita tertera di dada-dada,
doa,
dupa,
mantra,
novena,
lesat nguap di sela kala,
sia-sia.
Darah rembes di puting susu,
kering payudara para ibu,
sekerontang kerongkongan tergantang siang,
melahirkan bocah-bocah yang sejak lahir menghisap darah.
Pada bumi mereka mengadu,
pada bumi simpuh berkeluh meretas sendu,
kusut beringsut mengeja tahajud.
Bukan,
bukan itu yang dimau.

Pilihan selalu tak semudah yang dibayangkan
ketika nurani dibui bui,
segala menjelma sepanas bara,
manusia serupa satwa pemangsa.

Akhir Mei 2011.

Kasih Ayah

Puisi Ragil Koentjorodjati

Father n Son_ilustrasi dari FB Sapto T Poedjanarto
Ia mengasihimu dengan cara yang tak pernah kau tahu,
ia memandangmu seteduh pandangan seorang ayah yang malu-malu mengintipmu bercanda ria di bawah ritmis hujan,
betapa rindu ia ingin mengingatkanmu agar kau tidak jatuh sakit,
tetapi ia membiarkanmu larut dalam derai tawa suka cita,
hanya lirih hatinya berkata,”semoga engkau selalu sehat dan bahagia”,
begitulah ia mengasihimu.

Ketika kau dewasa,
kau mulai berani memakinya hanya karena di matamu raganya berangsur renta,
dan kau tidak pernah menyaksikan lelaki perkasa yang menitikkan air mata di sudut senyap kamarnya,
sendiri, memanjatkan doa,”semoga engkau selalu sehat dan bahagia”,
begitulah ia mengasihimu.

Ketika Delapan Bidadari Bersimfoni (24 – Senarai Kisah dari Kampung Fiksi)

Buku 24 - Senarai Kisah dari Kampung Fiksi
Apa yang kau rasakan ketika menyaksikan delapan bidadari bersimfoni? Gundahkah? Resahkah? Atau terbengong-bengong terhujam selaksa rasa yang sepertinya hanya ada dalam imaji khayalmu? Cinta. Rindu. Bahagia. Lega. Harap. Mimpi. Maya. Atau hanya rasa sederhana: suka!
Aku? Terpelanting pada rasa tidak percaya. Delapan bidadari itu memainkan simfoni kata-kata. Saling mengisi. Saling melengkapi. Hingga nada sumbang menjadi tembang. Dan tarian kata mencipta pesan nyata: hidup ini indah!
Seperti ketika engkau berdiri di tepi laut biru. Mencecap aromanya setetes demi setetes. Lalu desah debur ombaknya dapat kau rasa bersama Lelaki yang Melukis Negeri di Seberang Laut yang berkata: Akan kulukis negeri ini, seperti indahnya negeri seberang yang terletak di balik horizon, nun jauh di sana. Itu persis seperti ketika engkau menikmati nada lembut alunan organ yang mengalir tanpa sela hingga membawamu melayang, Bertualang dalam Lamunan bersama Indah Widianto yang terperangkap angan bersama Francesco Totti.
Jangan salahkan dirimu jika ketika menyaksikan delapan bidadari bersimfoni lantas kau nyaris ekstase. Permainan denting-denting melodi G pada Bayi dalam Diksi menimpali nada sederhana 13 Perempuan Endah Raharjo hingga mungkin saja ekstasemu nyaris semakin menjadi-jadi. Jangan pula salahkan dirimu jika kemudian engkau menjadi ketagihan. Sebab, simfoni itu Bagai Shabu-sabhu. Melambungkanmu ke awan. Berulang. Berkali-kali. Up-down-up-down yang kemudian mengajakmu untuk mengulang lagi, lagi, sekali lagi dan lagi.
Untuk menjagamu tetap sadar, selingi keasyikanmu dengan menyantap Cupcake Cinta Winda Krisnadefa. Agar selagi engkau menikmati simfoni, tetaplah kakimu berpijak pada bumi seperti Sri dan Merapi. Tak perlu Takut kehilangan, karena ada kata Setia Ria Tumimomor. Hidup ini memang indah, meski kadang berbalut kesah bagai Wanita di Balik Jendela yang mungkin tersiksa Gara-gara Main Hati. Saat resah menyapa, dengarkan simfoni dari delapan bidadari. Pagi. Siang. Senja. Malam. Jangan kau penggal-penggal nadanya. Jangan kau acak-acak aransemennya. Sebab, jika engkau begitu, engkau tidak akan mendapat yang lebih sempurna. Dengarkan secara utuh. Lihat tarian kata dengan penuh. Niscaya sampai Akhir Sebuah Perjalanan, semua terasa indah. Bersama delapan bidadari bersimfoni -Winda Krisnadefa, Deasy Maria, Endah Raharjo, G, Sari Novita, Indah Widianto, Ria Tumimomor, dan Meliana Indie– melantunkan 24 Senarai Kisah dari Kampung Fiksi.

Judul Buku : 24 – Senarai Kisah dari Kampung Fiksi
Penulis : @Kampung Fiksi (Winda Krisnadefa, Deasy Maria, Endah Raharjo, G, Sari Novita, Indah Widianto, Ria Tumimomor, dan Meliana Indie)
Penerbit : Kampung Fiksi
Cetakan : I, 2011
Tebal : 196 halaman

GGL (2)

Karena suatu kecelakaan, Dulkiyuk, si sopir dablongan, dan Nyonya pejabat meninggal bersamaan (memang kalau jodoh gak kemana 😀 ). Waktu itu Dulkiyuk nyopirnya kurang ati-ati sih… Matilah mereka berdua. Sampai di gerbang akhirat mereka berhadapan dengan malaikat penginterogasi. Malaikat ini bertugas menguji layak tidaknya seorang manusia masuk surga. Mulailah wawancanda mereka bertiga.
Malaikat bertanya ke Dulkiyuk: Siapakah Tuhanmu?
Dulkiyuk: Allah SWT
Kalau kamu Nyonya?
Nyonya: Lupa!
Malaikat ke asistennya: catat jawaban mereka!
Malaikat: Dulkiyujk, apa bekal yang kamu bawa dari dunia?
Dulkiyuk: Ampun malaikat. Hamba tidak berbekal apa-apa. Hamba masih penuh dosa. Bahkan hamba pernah berpikir agar Nyonya lupa sama suaminya lalu hehehe, malaikat tentu tahu pikiran hamba. Ampuni hamba ya malaikat …..
Malaikat: Hmmm…. Kalau kamu gimana Nyonya?
Nyonya: Lupa!
Malaikat ke asistennya: Catat! Terus kesimpulannya gimana mereka ini?
Asisten: Sesuai catatan, nama Dulkiyuk masuk neraka Tuan! Tapi kalau Nyonya ini…..
Malaikat: Nyonya ini kenapa? Kok diam saja?
Asisten berkata ke Malaikat sambil mengedipkan sebelah mata: Ampun Tuan. Sepertinya kita lupa mencatat namanya. Di neraka nggak tercatat, di surga juga nggak ada namanya.
Nyonya: Whloh?? Kok bisa gitu? Udah deh, berapa aja gua bayar…asal masuk surga.”
Dulkiyuk: xixixixi susahnya jadi koruptor, di dunia ditolak, di neraka ditolak, apalagi di surga… Jangan-jangan lupa juga kalau gua sopir nyambi simpenannya. Duhai sedihnya di neraka sendirian wua….wua… 

GGL (1)

GGL nih bukan gigolo lho. Buang dulu tuh piktor, hehehe. GGL nih singkatan Gara-Gara Lupa. Sekarang trendnya kan gitu; misalnya karena lupa, sidang ditunda. Karena lupa kalau duit rakyat, main ambil saja, dikira duit sendiri. Karena lupa kalau lagi di syuting, kelihatan noraknya saat sidang terhormat :D.
Nah, cerita yang mau kutuliskan ini tentang lupanya Nyonya pejabat kaya raya. Gara-gara lupa, ada sedikit rasa gembira yang dirasakan Dulkiyuk, sopir si Nyonya. Pasalnya majikannya dinyatakan menderita sakit lupa. Bukannya mau nyukurin tuh majikan, tapi setidaknya dia akan terbebas dari caci maki kalau kerjaan nggak beres. Lupa sih…
Lebih menyenangkan lagi, Dulkiyuk dipastikan akan sering mendapat “rejeki tiban”, entah karena majikannya lupa menaruh uang di meja atau hanya lupa meminta uang kembalian kalau menyuruhnya belanja ke pasar. Lebih mantab lagi, kalau majikannya lupa siapa suaminya, apa nggak “ketiban duren” namanya jiakakakak
“Dulkiyukkkkkk….!!”
“Ya, Nyonyaaaaaaaaaaaa…!”
Pasti majikannya akan menyuruh dia belanja ke pasar. Rejeki pertama nih, pikirnya.
“Tolong belikan multivitamin sebentar ya….”
Waduh… beli multivitamin nih xixixixi
“Siap Nya, uangnya Nya?”
“Oh, ya lupa. Hehehe. Nih, 50 cukup kan?”
Wahhh, kalau nyuruh tapi lupa ngasih duit nih bahaya… pikir Dulkiyuk.
“Cukup Nya, cukup,” girang Dulkiyuk. Rejeki 25 rebu akan segera ditangan. Hehehehe.
Segera dia meluncur ke apotik seberang jalan. Tak berapa lama kemudian.
“Ini Nya multipitaminnya. Tumben beli multipitamin, Nya” kata Dulkiyuk mulai cengegesan.
“Oh, ya. Terima kasih ya…”
Yah, pancingan nggak disambut nih. Tapi nggak papa, yang penting dapat duit kembalian. Hehehehe, kalau rejeki emang nggak kemana, pikir Dulkiyuk sambil ngeloyor pergi. Baru tiga langkah….
“Dulkiyukkkkkk….!!”
“Ya, Nyonyaaaaaaaaaaaa…!”
“Mana kembaliannya…??!!” Teriak si Nyonya, garang.
Dulkiyuk,”#$%%$#%*&^$% Wedeew!! Waktu nyuruh beli dia lupa kasih duit, giliran kembalian, ingat! Dasar koruptor! %^%#$#$%%!!??”

Bahasa Menunjukkan Bangsa: Turunan Kaum Misuh?

sumber: http://www.deadline.com
Siapa yang belum pernah misuh? Kalau memang ada, saya acungkan 6 jempol untuknya. Dua jempol tangan, dua jempol kaki, dua jempol bayangan jempol tangan. 😀
Misuh, kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia sama dengan mengumpat, yaitu mengeluarkan kata-kata (ucapan) keji (kotor, kasar) sebagai pelampiasan kemarahan atau rasa jengkel (KBBI). Kata-kata yang dikeluarkan disebut umpatan yang mana memiliki 12 padanan kata, yaitu bentakan, cacian, cercaan, dampratan, hardikan, hujatan, jerkah, makian, semburan, semprotan, sentakan dan sumpah serapah. Banyak juga ya turunan dari umpatan tersebut.
Banyaknya turunan tersebut tampaknya untuk memfasilitasi banyak ragam amarah yang berkecamuk di dada kaum misuh. Berikut ini beberapa contoh penggunaan umpatan disertai penjelasan kapan biasanya digunakan:
> Dasar anak tengik! (Ayah membentak sang anak ketika si kecil rindu diajak bermain sama bapaknya tapi malah dianggap mengganggu aktivitasnya yang sibuk dengan dunianya sendiri )
> Bisanya cuma mencaci tanpa solusi, dasar beo! (Orang yang mencaci ketika sedang lupa mencaci. Cacian deh lu!)
> Tulisan kayak gitu aja dibanggain, tulisan apaan tuh! (BlogWalker mencerca tulisan bloger lain yang laris manis dibaca. Sirik kali ya?)
> Menteri kok yang diurus cuma alat vital, apa nggak ada urusan lain! (Rakyat yang mencerca menteri, misal karena terpengaruh video ariel dkk).
> Dasar laki-laki brengsek lu! (Makian cewek yang tertipu cowok keren biasanya mendamprat seperti itu)
> Dasar anak tak tahu diri, minggat kau! (adegan menghardik di sinetron indonesia. Ngajarin misuh melulu nih sinetron!)
> Waduh, kok banyak sekali ya contoh umpatan. Kampret, sialan, kutu kupret. (ini contoh sumpah serapah karena ternyata contohnya bisa jadi sangat banyak dan bikin males kasih ilustrasi 😀 )
Ternyata berbagai ragam umpatan di bahasa Indonesia ini teramat banyak. Padanan kata umpatannya saja sampai dua belas. Contoh umpatannya bisa berlembar-lembar. Kalau kita baca koran atau media, rasa-rasanya hampir tiap hari berisi hujatan, cercaan dan makian. Bad news is good news jadi amunisi kritikus mencaci maki. Oh, ya, pernah juga anggota DPR misuh-misuh juga lho. Jangan-jangan kita ini turunan kaum misuh? Yo..mbuhlah…
Lawan dari sifat suka mengumpat adalah bersyukur. Bersyukur berarti berlega hati, berterima kasih kepada Allah karena suatu hal. Itu kata Kamus Besar Bahasa Indonesia lho. Ternyata bersyukur hanya punya dua padanan kata! Itu tadi, berlega hati dan berterima kasih. Ungkapan bersyukur paling banter “Alhamdulillah”, “Puji Tuhan”, Terima kasih”, (aduh, sialan kehabisan kata untuk bersyukur nih! Wah, saya sudah misuh lagi nih, hehehe).
Kalau di-othak-athik gathuk (direka-reka, dihubungkan) sepertinya kita menggunakan 12 kali mengumpat dan hanya dua kali bersyukur. Atau dengan kata lain ternyata bangsa ini lebih banyak memaki ketimbang bersyukur. Lebih sering mencerca daripada berterima kasih. Ah, jangan-jangan memang benar kalau kita ini turunan kaum misuh yang lebih suka misuh ketimbang bersyukur? Entahlah.