Alkisah

Puisi Titarubi Tita
sendu
Gambar oleh styvob, diunduh dari bp.blogspot.com
panji-panji tampaknya mulai diacungkan, bahkan oleh tuan dan puan yang paling terhormat yang mengaku paling jernih pikirannya dan yang merasa paling waras sekalipun. hingga dipanggil dan diseru setan dan malaikat sejagat. Tuhan yang hanya satu-satunya itu, geming, diperebutkan sedemikian banyak pasukan, bahkan orang per orang, terserah orang berteriak hingga parau atau mulutnya sampai sobek sekalipun. Dia hanya menunggu laporan malaikat dan mengawasi setan. penilaian toh akan dilakukan di hari kemudian.

lalu mereka: “sebaiknya masing-masing dari kita mulai membentuk pasukan sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing, satu agama atau kepercayaan beda pasukan, tak apa-apa, asalkan mampu. mereka yang tak mampu harus berusaha, tugas manusia adalah berusaha”. orang-orang tak mampu dan mampu berusaha dengan berbagai cara yang bisa. untuk mampu dan lebih mampu. jika tak bisa, maksa.

semakin banyak pasukan tampaknya memang dibutuhkan, karena perang saudara sudah mulai dikibarkan. segera dicanangkan. kalau bisa jangan tunda. jika tak turut ke kancah, maka setidaknya untuk bertahan kalau-kalau tiba-tiba ada serangan—beralasan ataupun tidak— atau yang salah sasaran.

begitulah: jika pun termasuk kaum yang selamat, sebaiknya menyiapkan bendera putih—bukan tanda menyerah bukan pula tanda suci, hanya untuk menyeret mereka yang merah: mayat-mayat atau yang sekarat. tak bisa mengandalkan tentara dan polisi, mereka terlalu sibuk untuk lebih tambun. begitu pun mereka yang meminta suara— hanya rakus dan penuh hasrat untuk bertambah gembul. jangan berharap pula pada penguasa ruang-ruang sidang untuk minta keadilan, karena mereka hanyalah orang-orang kelaparan, kalau tak minta disuapkan makanannya, maka tubuh pemohonlah yang jadi suguhan altar untuk sesaji, semakin sedikit pasukanmu semakin berani, semakin irit koneksimu semakin bernyali, apalagi jika kau sendiri.

entah mengapa mereka begitu membenci negeri ini dan ingin mengubahnya menjadi negeri-negeri jauh di seberang sana. hingga menangis darahpun tak akan pernah diketahui jawabannya.

jika memang begitu benci pada negeri ini, sebenarnya mudah: mintalah semua orang secara bersama-sama untuk meludah. pulau per pulau. di mana bisa dimulai dari yang paling kecil jika untuk membuktikan. bahwa dengan ludah bersama-sama ini, jika bersama-sama kompak, dengan mudah pulau-pulau bisa tenggelam. kalau pun semua jadi manusia perahu, setidaknya itu dilakukan bersama-sama, tanpa perang saudara, dan bukan tenggelam oleh darah yang tumpah. itulah salah satu cara jika begitu benci, ingin mengakhiri negeri alkisah. memang sungguh mudah.

Kakek Longor Kecewa

Gerundelan Martin Siregar
Cucunya kakek Longor yang paling tua Theresia sudah duduk di kelas III SMP. Sekolah itu dekat rumah kakek Longor, sehingga murid jalan kaki pergi/pulang sekolah menjadi perhatiannya. Pulang sekolah Theresia selalu singgah di rumah Pak Longor. Dan sering kelabakan menjawab pertanyaan sang kakek yang cerewet. Mulai dari pertanyaan cara guru mengajar, materi mata pelajaran, korelasi antar guru, murid dan orang tua murid, interaksi antar murid dan lain lain. Tapi, kadang Theresia bangga punya kakek Longor. Pertanyaan-pertanyaan si Kakek mempertajam kemampuan Theresia memahami realitas kehidupannya.

“Siapa murid yang rambut pendek, cantik, badannya agak tinggi itu?” Mendengar pertanyaan ini Theresia jengkel. ”Banyak murid rambut pendek yang lewat sini. Kenapa rupanya Kek?” Kali ini dengan lembut Theresia merespon sang Kakek. Lantas dengan senang hati sang kakek berkata,”Kami sering beradu pandang, saling lempar senyum dan kakek yakin bahwa dia murid cerdas.” Kalau ada kesempatan kakek mau memandu dia agar lebih kritis merancang masa depannya. Banyak kakek lihat murid cerdas di desa tak berhasil merancang masa depannya dengan baik. Karena berbagai keterbatasan fasilitas yang tersedia di sekolah, keluarga maupun minimnya fasilitas di desa. Ingin menyumbangkan pengetahuannya (tanpa pamrih) untuk para muda membuat Theresia mengagumi jiwa kakek Longor.

Pada misa gereja minggu jam 8 pagi, secara kebetulan kakek Longor duduk bersebelahan dengan murid yang disenanginya. Di celah-celah ibadah kakek Longor membuka dialog. ”Namanya siapa? Kelas berapa?” Interaksi mereka berjalan dengan mulus, kakek Longor tidak bertepuk sebelah tangan. Ternyata Mawar juga sudah rindu bisa berkomunikasi dengan kakek Longor. ”Nama saya Mawar, Kek. Kelas II SMP, Kek.” Kita sering beradu pandang dan saling lempar senyum kalau kakek duduk di teras depan. Kesan saya, kakek walau sudah tua tapi punya energi ilmu pengetahuan yang terpendam. Begitulah kesan saya, Mawar cerah ceria menyambut dialog tersebut. Beberapa potong pengalaman hidup dan kerja pengembangan masyarakat membuat Mawar semakin kagum sama kakek Longor.

Senin pulang sekolah Theresia bingung melihat Mawar singgah di rumah tuk mengambil buku dari si kakek.”Iya…Baca buku tipis ini, minggu depan kembalikan ke kakek.” Kita bedah buku ini sebagai bekal Mawar meniti cita-cita. Mawar senyum bahagia melanjutkan jalan kaki pulang ke rumah. Kemudian si kakek berkata kepada Theresia,”Senin depan kakek dan Mawar akan bedah buku yang sudah Theresia baca.” Theresia heran,” Buku yang mana Kek?” Wajar saja Theresia bingung karena sudah banyak buku kakek Longor yang dibacanya. “Buku: Logika dan Interpersonal dengan Tuhan.” Mendengar hal ini Theresia bahagia,” Ooo… Wiwin, Rizki, Dea, juga sudah baca buku tersebut. Mereka mengaku ada beberapa bagian buku yang belum kami mengerti. Jadi diskusi bersama Mawar dan kakek adalah hal yang kami harapkan. Okelah.., Kek, Theresia pulang dulu ya…”

Tapi besoknya Theresia, Rizki, Dea dan Wiwin kelabakan mencari Mawar di sekolah. Mereka ingin membicarakan rencana diskusi bedah buku itu bersama kakek Longor. Kemana Mawar????. Kok nggak ada di sekolah beberapa hari ini??? Hari kamis tanggal 3 Mei mereka sangat terkejut. Dengan kasar penuh emosi Mawar diusir sang ayah dari rumah. Di kamarnya Mawar ketahuan melakukan hubungan lesbian dengan kawan sekelasnya.

Kakek Longor hanya tertunduk pedih kecewa mendengar kabar itu.

panas terik, 7 mei

Akankah hatiku ditabur gerlap gemilangnya bahagia

Detik

Gerundelan Alra Ramadhan
detik waktu
gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Pernah terpikir olehku bahwa dunia ini akan berakhir bahagia. Bahwa kehidupan ini akan memberi akhir yang menyenangkan bagi semua manusia. Bahwa akhir kehidupan ini tak sebegitu ngeri. Bahwa dunia ini berakhir dengan penuh pengertian Yang Maha. Bukan berakhir dengan berbagai perhitungan dan hukuman-hukuman, seperti yang diceritakan kitab-kitab, guru agama, atau kyai. Di suatu senja yang memerah aku terpikir hal tersebut.
“Kau sudah sinting!”
Demikian kata salah satu teman rumah kontrakku ketika suatu hari kuceritakan apa yang terserak dalam pikiranku tersebut.
“Tidak kawan,” timpalku.
Aku diam sejenak, mendeham.
“Percayalah, kehidupan ini berakhir bahagia kelak. Dan hal yang kukatakan ini bukan pula tanpa alasan. Alasan, tepatnya dasar teori, itu begitu banyak. Semuanya bercampur, melebur, dan lantas kutarik kesimpulan sederhana bahwa kehidupan ini berakhir dengan damai.”
“Peradaban,” kataku lagi kemudian. “bukankah dapat dipandang sebagai suatu proses bagaimana manusia menunjukkan kemampuannya dalam menaklukkan alam semesta?”
Mungkin saja bila Adam tak diturunkan ke dunia ini, beliau akan tetap hidup bergantung pada Tuhan. Di surga, atau sekali waktu berjalan-jalan di sekitar neraka bila bosan atau kedinginan. Tapi Tuhan sungguh baik, kawan, Ia tetap tak mau Adam yang dibuat-Nya dengan sesempurna mungkin itu hanya bermanja-manja saja di khayangan. Maka ditakdirkan oleh Yang Maha demikian:
Makhluk yang sudah ia ciptakan sebelumnya, malaikat, salah satu di antara mereka membangkang ketika Tuhan memerintahkan bersujud kepada Adam. Keduanya beradu, Tuhan dan pembangkang tersebut.
“Aku hanya mau bersujud kepada-Mu,” kata pembangkang itu.
Tuhan pun menghukum malaikat tersebut: melemparkannya, dengan kengerian yang kau sendiri tak bisa bayangkan, ke padang tanah gersang. Lantas memburukkan rupanya, menjadi apa yang disebut iblis.
Aku menghela napas.
Ketika satu saat malaikat pembangkang tersebut hendak mencari kawan, digodalah Adam dan Hawa. Ia masuk ke taring ular dan lantas berbicara pada Adam agar memakan buah terlarang yang ada di surga. Tuhan, meskipun aku sendiri tak mengerti bagaimana Yang Maha Tahu bisa ‘kecolongan’ atas tindakan tersebut, lantas menghukum Adam dan Hawa dengan hukuman yang sama dengan apa yang didapatkan si pembangkang: turun ke dunia. Dihilangkan-Nya kemewahan surga, terbukalah aurat di antara keduanya, tapi keduanya terpisah sedemikian jauh di dunia ini.
“Inilah alasanku!!” kataku. Kawanku tetap diam.
“Usaha,” lanjutku.
Itulah usaha manusia pertama untuk yang pertama kali. Mereka berdua berjalan, berjalan, dan berjalan sedemikian jauh, untuk bertemu. Mereka berjuang agar mereka dapat berjumpa kembali dan kemudian dapat saling mengisi dan melengkapi. Tuhan masih tetap Maha Baik, mereka dipertemukan. Lalu terjadilah putra dan putri dari mereka. Dunia semakin meriah. Putra-putrinya pun disilangkan, maka semakin berkelompoklah manusia. Kemudian, terjadilah peradaban manusia. Malaikat pembangkang yang membuat istana di gua tua yang mendengar berita tersebut tak bisa menerima begitu saja keputusan Tuhan. Bagaimana mungkin ia dihukum, tanpa mendapatkan kemudahan, hanya gara-gara tak mau bersujud. Sedang Adam Hawa yang makan buah terlarang, masih diberi kemudahan. Ia menggoda Adam, juga Hawa, juga keturunan peradaban manusia tersebut.
“Hingga detik terakhir,” demikian niatnya.
Tuhan tetap Maha Baik, peradaban tersebut diizinkan tetap berusaha dan berjuang. Entah berapa abad setelah era Adam Hawa, konsepsi pertama yang dicari adalah tentang Tuhan. Sembari berburu, lalu bercocok tanam, menunggu hujan, atau pun ketika membangun keluarga dan anak turun. Segalanya dikaitkan dengan Tuhan Tertinggi: tak terkonsepkan. Tapi manusia sungguh makhluk Tuhan yang pantang menyerah. Mereka menguji seberapa tangguh mereka melawan alam semesta buatan Tuhan. Tidakkah ini bentuk pembangkangan pula, kawan?
Kawanku diam.
Dan hingga sekarang, di antara beberapa manusia telah banyak mencipta benda untuk menaklukkan keterbatasan mereka. Manusia, termasuk aku dan kau, mulai dapat mengendalikan kekuatan yang besar dan yang kecil. Aku contohkan, ribuan tahun lalu manusia memanfaatkan keberadaan hewan untuk dapat dimakan dan tetap bertahan hidup. Manusia memanfaatkan kulitnya untuk berlindung dari badai. Juga taringnya untuk berburu hewan selanjutnya, atau bila dirangkai, jadilah pemanis di leher mereka. Tetumbuhan dibabat, dijadikan tempat tinggal yang lebih hangat dari bebatuan gua. Dedaunan dapat dimasak. Bebuahan bisa menjadi cemilan ketika menunggu buruan lengah.
Dan berabad berlalu, manusia menemukan alat untuk mempersingkat jarak. Dengan telepon, jarak jauh sekali pun mereka tetap dapat saling bersapa. Atau dengan internet, berbicara, bahkan melihat foto atau pun gambar gerak dapat dilakukan dengan mudah. Manusia telah dapat memperluas kemampuan indera mereka, melebihi yang diberikan Tuhan.
Kau pikir Tuhan marah?
“Tidak kataku!!” Tuhan, bagiku, tetap Maha Baik. Berabad berlalu lagi, orang tuli kini sudah dapat mendengar suara dari yang lain dengan alat bantu yang pastilah buatan manusia. Petir, dapat ditangkal dengan sebuah kabel yang terhubung ke tanah, kekuatannya dapat dikendalikan ke arah tanah dengan itu. Motor juga mobil, menaklukkan waktu, mempersingkatnya, sayang tak memikirkan dimensi ruang. Manusia tak hanya berdiam di dunia, mereka menjelajah dunia lain, planet lain, meneliti sumber cahaya kehidupan, lain sebagainya.
“Dan bukan tidak mungkin esok, lusa, atau beberapa waktu nanti, Tuhan dapat dijelaskan dengan akal sehat yang dimiliki manusia,” kataku sembari mengepulkan asap kretekku.
“Pemikiranmu terlalu sederhana, kawan!!” katanya bersungut.
“Hmm, mungkin…”
Tapi bisa saja, suatu hari manusia dapat merumuskan bagaimana Tuhan. Bentuk-Nya, singgasana-Nya, dan lantas takjub melihat mata Tuhan. Mereka kembali menemukan yang telah berabad tak diketahui manusia: Tuhan. Aku rasa, Tuhan menakdirkan Adam dan Hawa tak bercerita tentang wujud-Nya. Karenanya berabad kemudian barulah manusia sadar akan kehadiran Yang Maha.
Dan di suatu senja yang mulai memerah inilah aku terpikir bahwa akhir dunia ini adalah bahagia: ketika, suatu saat kelak, Tuhan dapat terumuskan oleh manusia. Dan manusia yang mulanya menentang kehadiran-Nya menjadi percaya. Tak lagi ada peperangan keyakinan, tak ada lagi alasan manusia dapat menyerang agama lain karena keyakinannya lebih benar.
Saat itulah Tuhan ikut turun ke dunia, memberi penghargaan kepada manusia atas apa yang diperjuangkannya. Tuhan bertemu mereka tanpa perantara barang kabut pun—seperti ketika Musa bercengkerama di Sinai. Saat itulah, manusia mendapat bukti nyata bahwa mereka berasal dari satu sumber Yang Maha. Manusia kembali percaya pada satu Tuhan Tertinggi yang kekuasaannya sungguhlah amat dahsyat.
Kemudian dunia bosan menari……

Malang, 21 Maret 2012
Alra Ramadhan, Lahir 9 Maret 1993 di Kulon Progo, salah satu nama kabupaten di D.I. Yogyakarta.. Saat ini berkuliah di Jurusan Teknik Elektro Univ. Brawijaya, Malang.. Lebih lanjut, dipersilakan berkunjung di @alravox..

Kinanti

Cerpen Uzairul Anam
malaikat maut
gambar diunduh dari mediaphotobucketdotcom
ALIEN muncul lagi. Aneh. Terlalu sering menampakkan diri tiba-tiba, tanpa bisa diduga. Masih mending bila muncul dengan salam sapaan. Selalu, orang itu datang mengagetkan. Pantas, Kinanti menyebutnya Alien.
“Aku Abdi,” jawab Alien, saat Kinanti bertanya nama.
Katanya ia datang dari seberang. Tak jelas seberang mana. Katanya ia memang sengaja ditugaskan menemui Kinanti. Tapi yang terlintas di pikiran Kinanti, Abdi tak lebih dari sekadar lelaki hidung belang yang gemar merayu. Selama ini Kinanti beranggapan, lelaki mana yang tak ngilu saat melihat bempernya melenggak-lenggok. Lelaki mana yang tak kepincut melihat gincu merah pekat di sepotong bibirnya. Dan lelaki mana yang tak menginginkannya sebagai teman ranjang saat melihat rok mini super ketatnya. Selama ini Kinanti sukses menjaring mangsa berhidung belang.
“Kau selalu mengagetkan. Bisakah kau lebih pandai lagi bergaul? Salam itu penting. Kau tahu berapa banyak orang mati bunuh diri karena tersinggung tak pernah mendapat salam dari orang lain?” Kinanti meracau. Ia bosan dengan sosok Abdi, si Alien itu.
“Ah, kenapa kau belum terbiasa dengan kedatanganku? Ayolah… Maksudku baik. Aku selalu mengunjungimu saat kau butuh teman, bukan? Dan itu penting untuk orang sepertimu.” Abdi menjawab dengan santai. Dengan senyum. Dengan suara yang terlalu lembut untuk seorang pria.
“Kau gila! Aku tak butuh teman sepertimu. Sebentar lagi, pasti ada yang datang menghampiriku. Yang tampan, tajir, pandai melucu, dan lebih sopan ketimbang Alien sepertimu.”
Okey. Baiklah, aku pergi.” Abdi melangkah menjauh. “Oh. Aku lupa. Aku ingin mengajakmu pulang. Kau mau, bukan?”
“Pergilah!”
Ribuan kali Abdi mengajak pulang. Kinanti selalu bertanya-tanya, ke mana ia akan dibawa pulang oleh Abdi? Ke kampung halamannya di Jawa pelosok sana? Yang tak pernah tampak di peta meski memakai kaca pembesar ekstra. Karena memang pembuat peta tak akan sudi menuliskan nama kota asalnya. Atau mungkin karena kampung halamannya memang tak perlu ada. Bisa jadi karena sebab itu, tempat tinggal Kinanti dulu tak pernah tersambangi subsidi pemerintah. Lantas, alasan klise laiknya si fakir dialami pula oleh Kinanti. Ia pun merantau ke kota, pusat peradaban. Berbekal ciuman tangan-kaki orang tua, Kinanti nekat menerobos gemerlap kota yang sejatinya temaram.
Dan jadilah Kinanti seperti sekarang ini. Seorang pedagang. Yang hanya berjualan di malam pekat. Para pembelinya adalah mereka yang haus jimak. Dan barang dagangannya pun harus dipesan satu paket: hotel dan alat pengaman.
Setelah Abdi pergi, Kinanti seorang diri di bangku kosong memandangi gelinding roda-roda kendaraan. Di pinggir jalan. Di depannya pelalulalang berseliweran. Acap dari mereka melengos ke arahnya. Macam-macam mata pria. Ada kalanya terbelalak, ada kalanya melirik munafik. Namun bukan Kinanti jika tak mahir membaca situasi. Seorang pengemudi memperlamban mobilnya. Ia menegur sapa Kinanti. Keduanya bertransaksi. Dunia malam menawar janji birahi. Kinanti pun masuk mobil setelah keduanya ada akad janji.
Yang terjadi kemudian, Kinanti dibawa terbang ke arah losmen syaitonirojim.

***

KEMBALI. Di malam berikutnya. Kinanti hadir di bangku kosong. Bangku panjang di pinggir jalan. Hanya ia sendiri duduk di sana. Di bawah langit gelap pekat. Berisi sekadar satu-dua bintang. Sisanya, rembulan amat pelit malam itu. Ia tampil menggores seumpama luka sayatan. Tepatnya, seperti sayatan di punggung kanan Kinanti.
Ia ingat–mungkin juga tak akan pernah lupa. Kejadian menjijikkan yang dilakukan majikannya dulu. Majikan yang menampungnya saat pertama kali menjejakkan kaki di kota pusat peradaban itu. Bermula ketika majikan laki-laki ingin menggagahi tubuhnya, yang sembilan belas tahun pun belum genap. Kala itu ia meronta sejadi-jadinya. Tubuh tambun seberingas binatang. Kinanti berdaya seujung jari lentik. Apalagi, si majikan biadab mengancam dengan benda metal mengkilap: pisau dapur. Kinanti punya naluri seorang wanita suci. Berusaha sekuat tenaga mengelak. Namun pisau terlanjur menggores punggung kanannya. Fatal jika melawan. Ia takluk oleh keadaan. Kinanti terkapar, terjerembab, lunglai tak berdaya. Jadilah musabab dari kenaasan-kenaasan hidupnya kemudian.
Kinanti terpekur mengulas pil pahit masa lalu. Kembali ia melangut di pinggir jalan sembari menanti pelanggan.
“Ah, melamun lagi.” Suara itu kembali mengagetkan Kinanti.
“Selalu saja begitu. Sudah kuduga kau pasti datang lagi.”
“Kenapa? Kau rindu?”
“Tunggu sampai aku sakit jiwa. Baru aku sudi merindukanmu.”
Sebagaimana lazimnya, Abdi datang dan membuat kesal Kinanti.
“Sebenarnya untuk apa kau ke sini? Kau selalu bicara tak jelas. Kali ini kumohon. Jujurlah padaku. Kau ingin tidur denganku, bukan? Kau tak punya uang tapi ingin meniduriku. Mimpi sajalah!”
Abdi terkekeh mendengar pernyataan itu. Kinanti bak pendakwa. Makhluk paling sok tahu.
Sudah dua minggu Abdi muncul di kehidupan Kinanti. Ia selalu muncul tepat saat Kinanti duduk sendirian di malam sunyi. Saat Kinanti menunggui pelanggan di pinggir jalan. Tak jauh dari situ, gapura batas kota berdiri. Gapura yang jika di kampung Kinanti kerap teronggok sesaji di bawahnya. Entah pesugihan, entah pekasih. Yang jelas, gapura adalah pintu masuk sebuah kota. Sedangkan pintu diidentikkan keluar-masuknya bala. Dan mungkin tradisi jampe-jampe semacamnya belum pupus di kampung halaman Kinanti. Warga satu dusunnya belum open-minded dengan teknologi dan modernisasi. Tak lain dan bukan salah lagi. Alasan utamanya, sebab kebodohan. Masa jahiliyah tak kunjung pungkas karena susahnya mengenyam bangku sekolah. Pun dengan Kinanti. Ia amat bersyukur bisa lulus SMP. Teman masa kecilnya banyak yang hanya lulus SD. Atau malah buta huruf.
“Sepertinya susah, bila sekejap saja kau tak melamun, Kinanti,” ujar Abdi memecah bisu.
“Benar sekali. Memang susah bagiku memahami jalan takdir. Ah, sudahlah. Kau tak akan mengerti keadaanku, nasibku, takdirku. Tak ada yang bisa mengerti. Mereka semua hanya melihatku dari luar semata. Lalu merutukku. Mereka bilang aku jalang.”
“Kau benar. Aku memang tak mengerti. Bahkan aku tak mau mengerti bagaimana keadaanmu, nasibmu, takdirmu. Aku tahu kau sudah sangat muak hidup di kota ini. Makanya, aku ingin mengajakmu pulang.”
“Pulang kemana? Aku mau turut kau bawa pulang. Kemana pun itu. Tapi tunggu sampai aku bisa kembali bersih. Tunggu hingga tubuhku kembali suci.”
“Kalau begitu, lakukanlah sekarang.”
“Kau gila. Aku bisa kembali suci hanya dengan reinkarnasi.”
Keduanya terdiam. Abdi melihat Kinanti kembali melangut. Tampak raut sendu Kinanti. Pundaknya memberat seolah ada puluhan peti kemas di atasnya. Tak lama, Abdi pun pergi. Tanpa permisi.
Sesaat setelahnya, mobil mewah berplat merah menghampiri Kinanti. Mereka bertransaksi. Dan klik! Wajah sepakat terpampang di kedua roman muka. Kinanti dibawa terbang lagi. Ke hotel, atau ke losmen syaitonirojim.

***

LALU kali ini. Di minggu lainnya. Kinanti masih tetap menjadi wanita yang sama. Yang gigih berdagang di malam hari.
Kulitnya entah terbuat dari apa. Angin malam tak mempan lagi. Ia pandai menahan gigil. Mungkin karena terbiasa. Ia menjelma jadi makhluk nokturnal. Berkeliaran malam-malam. Menemani mereka yang butuh dilayani.
Kota bernapas siang-malam. Hingga larut pun orang-orang masih sibuk cari rezeki. Termasuk si penjual sate itu. Datang berlalu di depan Kinanti. Ia lupa, perutnya belum sempat terisi. Di panggilnya si tukang sate. Hidung mengendus asap sate yang melenakan bagai anestesi. Perut keroncongan tak tertahankan di balik baju ketatnya. Sementara sebagai pejantan, mata penjual sate sesekali melirik ke dada Kinanti. Mata Kinanti menangkap hal itu. Namun ia sadar akan kejalangannya dan diam saja.
Ketika hendak melahap sebungkus sate di tangan, saat lidah sedetik lagi meraba rasa, ekor mata Kinanti memproyeksikan penampakan di bawah gapura. Seseorang duduk berselonjor di sana. Terdengar suara mengaduh dan mendesis dari mulutnya. Tangannya meremas-remas perutnya sendiri.
Kinanti pun mendekati. Ditemukannya seorang perempuan tua. Lusuh. Pakaian compang-camping. Pikiran Kinanti menangkap bayangan ibunya. Ya, perempuan tua itu seusia ibu. Ia jadi teringat seorang ibu yang selalu menanti kepulangannya. Mungkin saja di desa sana, ibunya sedang kelaparan, lalu menantikannya pulang membawa sebungkus makanan. Sate?
Entah siapa yang menggerakkan. Tangan Kinanti merentang mengulurkan sebungkus sate kepada si perempuan tua. Ada kepuasaan. Ada semacam rasa bungah setelah dilihatnya perempuan tua itu melahap habis sebungkus satenya. Kinanti merasa, hidupnya sebagai jalang ternyata bisa berarti untuk orang lain.
Setelah lama mengamati si perempuan tua makan sate, Kinanti kembali ke bangku kosong biasanya. Di pinggir jalan, sendirian, di telan sepi, dan memandangi roda-roda pelalulalang. Namun serasa ada yang ganjil. Ya, Si Abdi. Kemana Alien itu? Tumben ia belum datang. Bukankah biasanya ia acap datang mengagetkan? Entahlah. Tanpa Abdi, malam jadi hening dan sesenyap kuburan.
Keheningan membuat Kinanti tak siaga.
Awalnya lamat-lamat, namun kemudian suara sirine jadi menggema keras. Mobil patroli. Orang-orang berseragam didalamnya.
Kinanti panik. Ia tahu itu pertanda bahaya. Sesuatu yang harus dihindari segera. Secepat mungkin berlari. Jika tidak, salah seorang dari mereka akan menciduknya, meringkusnya, memungutnya seperti kotoran sapi. Namun sayangnya terlambat. Seorang pria bertubuh kekar berhasil mencengkeram lengannya.
“Mau lari ke mana kau! Dasar sundal!” Pria itu menyalak. Tercium bau alkohol saat ia terbahak.
Kinanti belingsatan. Badannya meronta ingin lepas. Ia ingat sebuah cara melepaskan diri dari hidung belang. Seketika kakinya mengayun. Lututnya menumbuk selangkangan pria bertubuh kekar. Dalam satu hentakkan si pria mengerang. Kinanti melangkah kabur.
Isi kepala Kinanti hanya berpikir tentang cara berlari cepat dan melarikan diri. Saat itu juga, ia ingin menuju ke seberang jalan dan menghilang di perkampungan penduduk. Namun tanpa di duga. Sebuah mobil berlari lebih kencang. Dan, buugg!!
Kinanti terpental setelah sebelumnya kepala membentur kaca depan mobil itu.
Ia tersungkur di atas jalan aspal. Matanya melihat banyak sekali kunang-kunang. Dari mana mereka datang? Jutaan kunang-kunang itu muncul dari balik punggung seseorang yang dikenalnya selama empat puluh hari belakangan.
“Abdi? Kaukah itu?”
“Ya, ini aku. Sekarang mari pulanglah bersamaku.”
“Ke mana?”
“Ke tempat yang telah disebutkan dalam doa wanita pengemis yang kau kasih makan itu.”
Kinanti pasrah tangannya digamit Abdi. Untuk pertama kalinya, Ia melihat Abdi mengepakkan ratusan pasang sayap di punggungnya. Yang tentu mampu membawanya terbang. Ke atas, hingga ia bisa melihat tubuhnya sendiri teronggok bersimbah darah di atas jalan aspal. (*)

 

Nasr City, 23 Januari 2012

*) Penulis adalah Mahasiswa, sedang mendalami bahasa dan kebudayaan Arab, tinggal di Kairo, Mesir

 

Di Balik Sebuah Tangisan

Oleh Nia Oktaviana
di balik air mata
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Sejenak kupejamkan mata, menelan semua kepahitan hidup yang terkadang memaksa kita menitikkan air mata. Akan seperti apapun usahanya untuk menutupi dan menghentikan tetesan air mata , semua itu hanya bagian dari usaha yang akan sulit terwujud dalam menghentikan sebuah tangisan. Hati nurani memang tak pernah berkata dusta tentang perasaan seseorang terhadap sebuah kesedihan, kebahagiaan, kerinduan, kekecewaan, kekaguman atau bahkan kasih sayang yang bisa menjadi alasan demi menetesnya air mata.

Menangis itu indah saat kita bisa berbagi sebuah tangisan bersama orang yang kita sayangi.
Menangis itu menyedihkan ketika orang yang kita tangisi tak pernah mempedulikan kita.
Menangis itu istimewa saat setiap tetesan air mata jatuh di tangan seseorang yang kita sayangi sedang menggenggam tangan kita.
Menangis itu mengharukan saat selembar kertas berisikan tentang puisi kerinduan terhadap orang yang telah tiada terbasahi oleh tetesan air mata.
Menangis adalah kerinduan saat seorang kekasih terpaku di hadapanmu lalu mengusap air matamu.
Menangis itu menyakitkan saat kita merasa iba memandangi seseorang yang kita sayangi terbaring sakit tak berdaya.
Menangis itu kekecewaan saat perasaan tulus kita kepada seseorang hanya dipandang sebelah mata
Menangis itu kagum saat kita melihat seorang sahabat yang berhasil meraih impian besarnya.
Menangislah untuk sebuah kebahagiaan dan kesedihan yang telah mewarnai sepanjang kisah hidupmu.

Bicaralah pada Tuhan Yang Maha Mendengar untuk segala keluh kesahmu di setiap malam yang tak seorang pun bisa mendengar setiap tangisanmu.
Hadapkan dirimu pada Tuhan Yang Maha Melihat atas ketidakberdayaanmu terhadap dunia dan orang-orang yang berlaku tidak adil terhadapmu.
Menangislah selepas kau bisa, agar setiap beban hidup tidak tersimpan dan membusuk terlalu lama dalam hatimu.
Karena dibalik sebuah tangisan selalu tersimpan banyak makna di dalamnya.

Di Siang yang Serba Panas

Puisi Ragil Koentjorodjati


Larik puisi macam apa yang pantas untuk siang yang serba panas,
Keringat kita menetes,
Tak lagi deras. Tapi kerontang memerah hingga perih.
Ya, aku takut. Bukan tak mungkin selanjutnya kulit meneteskan darah.
Apakah hidup ini terlalu keras?
Selebihnya aku tersenyum,
di siang yang serba panas.

Aku ingat lakon sebuah komedi,
nyaris tanpa tamat,
seorang lelaki tertawa –terus tertawa,
lalu terbakar,
meleleh tinggal murung dalam seragam baju serba lucu,
aku yakin, kau tidak pernah tahu berapa musim ia lalui penuh rindu,
rindu yang dingin dan beku pada hari yang serba panas.
Entah untuk apa. Mungkin untuk sesuatu.
Atau untuk seseorang berhati kering dan gersang.

mata pedih
gambar diunduh dari fc07.deviantart.net
Sungguh,
di siang yang serba panas,
kita butuh sebidang dada lapang,
dan hati yang cukup teduh untuk melepas keluh.

Lalu tiba-tiba aku ingat kau,
yang setia menyenyumi bara di dadamu. Tulus.
Selebihnya aku tersenyum,
di siang yang serba panas.

Awal Mei 2012

Tubuh buat Harimau Lapar

Gerundelan John Kuan

mural
Gambar disediakan oleh John Kuan

Mural ini berada di dalam gua nomor 254 di Dunhuang, berasal dari jaman Dinasti Wei Utara ( 386 -534 ), walaupun warnanya tidak begitu semarak, dan garis-garisnya tidak seluwes mural Dinasti Tang, tetapi dapat membuat orang merasakan semacam meluapnya keikhlasan pengorbanan diri berbalut duka. Warnanya kental, berani dan bebas, goresan kuasnya kasar dan agak kaku, bentuknya khidmat dan sederhana. Mural ini tidak kalah dengan Pengadilan Terakhir Michelangelo di Kapel Sistina. Keduanya sama-sama menggunakan jatuhnya tubuh dan perputarannya sebagai topik utama, tubuh yang jatuh bangun, alam yang kelam gelisah dalam biru lebam dan merah kecoklatan, seakan berada di dalam ruang dan waktu yang keruh gelap belum terkuak, tubuh bagaikan masih bingung terhadap keberadaannya. Pangeran Sattva di dalam mural ini sama seperti penebusan tubuh dalam Pengadilan Terakhir  Michelangelo, perenungan yang dalam tentang pertanyaan sulit terhadap hakiki hidup ——— bagaimana tubuh sadar? Dengan bentuk lukisan memaparkan pertanyaan filsafat, keduanya adalah karya agung, hanya saja pelukis di dinding gua 254 tidak meninggalkan nama, lebih awal seribu tahun dari Michelangelo, di dalam gua yang gelap, dan tetap saja merupakan gambar yang mencerahkan umat manusia.
Michelangelo berdasarkan Kitab Wahyu kepada Yohanes melukis Pengadilan Terakhir, mengisahkan keyakinan Yesus terhadap penebusan tubuh. Pelukis mural di gua 254 Dunhuang melukis Pengorbanan Tubuh buat Harimau Lapar berdasarkan Sutra Suvarnaprabhasottama ( Kitab Cahaya Emas ) yang waktu itu baru diterjemahkan ke dalam Bahasa Han, dengan kisah Buddha sendiri menjelaskan pertanyaan berat tentang pengorbanan tubuh, keduanya memiliki mutu estetika yang sangat serupa.

***

Sutra Suvarnaprabhasottama atau dalam Bahasa Han disebut < 金光明经 – baca: Jin Guang Ming Jing > diterjemahkan oleh seorang biksu dari India Tengah bernama Dharmaksema, dan kitab ini dengan cepat menjadi populer di kalangan rakyat, menjadi salah satu kitab penting agama Buddha dalam penyebaran Dharma, juga menjadi dasar cerita pelukis yang menciptakan mural di gua 254. Dharmaksema ( 385 – 433 ) aktif di antara penghujung abad keempat dan awal abad kelima, dia dari India sampai dulu di Shanshan, lalu Kucha, kemungkinan menempuh Jalur Sutera Kuno, yang kini seperti Kashmir, Afganistan, Kizil, sekitar Korla, terus menelusuri Koridor Hexi, sampai di Dunhuang. Kaisar Liang Utara, Jugu Mengxun mengangkatnya menjadi penasehat, memintanya menerjemahkan kitab-kitab agama Buddha, tetapi sesungguhnya Kaisar lebih tertarik terhadap segala macam jampi dan jimat serta kemampuan ajaibnya; waktu itu orang-orang percaya Dharmaksema dapat memanggil makhluk gaib menyembuhkan penyakit dan mampu membuat perempuan subur. Nama Dharmaksema kemudian tersebar luas, bahkan Kaisar pertama Dinasti Wei Utara Touba Tao mengandalkan kekuatan negaranya meminta Jugu Mengxun menyerahkan Dharmaksema, Jugu Mengxun sangka Dharmaksema telah bersekongkol dengan orang luar negeri, dan juga takut dia bekerja untuk orang lain, kemudian membunuhnya, waktu terbunuh usianya baru empat puluh delapan tahun.
Riwayat biksu-biksu penyebar agama Buddha dari India pada periode awal Dinasti Wei Utara sangat mirip legenda misterius, seperti Kumarajiwa ( sekitar 334 – 412 ), seperti Dharmaksema, mereka mengembara di dalam terpaan pasir kuning Jalur Sutera yang luas, dari satu kerajaan ke kerajaan lain, keluar masuk di antara hawa nafsu duniawi dan dharma Buddha, Dharmaksema melarikan diri dari Kerajaan Shanshan karena memiliki hubungan gelap dengan puteri raja, Kumarajiwa terakhir dipaksa Li Guang menikah, dipaksa memelihara sepuluh orang perempuan penghibur, arak dan hubungan badan telah menghancurkan pancasilanya. Konon dia pernah di depan banyak biksu menelan semangkuk jarum besi, membuktikan dirinya belum meninggalkan Dharma.
Mereka datang ke dunia demi menyebarkan Dharma, namun tubuh mereka akhirnya tetap tidak dapat menjaga vinaya di dunia, ikut terseret di dalam pertikaian hawa nafsu dan politik yang rumit, Kumarajiwa maupun Dharmaksema sama-sama bukan biksu yang menempuh jalan pencerahan dengan ketentuan yang dipegang umum, walaupun demikian, kitab-kitab Buddha yang diterjemahkan mereka sangat indah, terutama Kumarajiwa, terjemahannya masih terus dibaca hingga hari ini, bisa tanding indah dengan puisi-puisi Bahasa Han yang paling mempesona. Terjemahannya seperti Sutra Vajracchedika Prajnaparamita ( Kitab Intan ) bisa membuat pembaca tercengang, dia mampu mengubah pemaparan filsafat yang rumit dan sulit menjadi untaian kalimat yang puitis, sederhana dan berirama, seakan membaca puisi, tidak terasa sedang memahami kitab agama, menakjubkan. Dharmaksema jauh lebih muda daripada Kumarajiwa, tetapi Sutra Suvarnaprabhasottama ( Kitab Cahaya Emas ) yang diterjemahkannya kelihatan melanjutkan gaya terjemahan Kumarajiwa, menjalin narasi dan himne dalam satu tubuh teks, arti terjemahan Bahasa Han dan mantera Bahasa Sanskerta sama-sama dapat dipertahankan, sehingga menciptakan teks yang sangat unik. Sutra Prajnaparamita Hrdaya ( Sutra Hati ) dalam terjemahan Bahasa Han yang dibaca secara luas oleh pengikut agama Buddha di Asia Timur adalah contoh kitab yang mempertahankan arti terjemahan Bahasa Han dan nada Sanskerta, sehingga membaca teks adalah di antara memahami arti dan mendengar bunyi. Atau mungkin saat itu pengikut-pengikutnya bukan hanya orang Han saja, di sekitar Jalur Sutera Kuno adalah tempat berkumpulnya berbagai bangsa, Kumarajiwa dan Dharmaksema sendiri berasal dari India, kemudian menetap di berbagai daerah yang memiliki bahasa yang berbeda, sehingga mereka tetap mempertahankan keragaman bahasa.
Masa itu tidak banyak pengikut agama Buddha yang mengenal huruf, teks kitab biasanya dibacakan dan dijelaskan oleh biksu, sehingga Sutra Suvarnaprabhasottama yang diterjemahkan oleh Dharmaksema banyak menggunakan puisi empat kata selarik. Masa itu biksu membaca kitab untuk umat dengan suara tinggi, bahasanya jernih berdenting,:

Adalah tubuh tidak kukuh,
laksana buih di atas air,
adalah tubuh tidak bersih,
banyak berupa jasad cacing.
Adalah tubuh paling celaka,
urat melingkar darah menebar,
kulit tulang sumsum otak,
bersama-sama diuntai diikat.

Inilah pernyataan Pangeran Sattva sebelum mengorbankan tubuhnya, bagai nyanyian bagai ungkapan, umat dengan khidmat mendengar suara nafas yang datang dari rongga tubuh biksu, mungkin resonasi yang datang dari tubuh, jauh lebih memiliki daya pukau daripada membaca teks. Sutra Suvarnaprabhasuttoma terdiri dari sembilan belas bab, pada masa itu paling luas menyebar di masyarakat adalah bab Ikan-ikan Para Murid Jalavahana dan bab Pengorbanan Tubuh. Ini merupakan dua buah kisah yang dituturkan Buddha Gautama di Rajaha kepada muridnya tentang masa lalu hidup sebelumnya. Nidana masa lampau yang dibicarakan dalam kitab ini, dan mungkin tubuh kita, suatu hari juga merupakan sebab akibat masa lampau. Ikan-ikan Para Murid Jalavahana adalah ketika Buddha Gautama di hidup sebelumnya melihat air kolam mengering, sepuluh ribu ikan akan segera mati, dalam hidup itu dia sebagai Jalavahana bersumpah akan dengan dua puluh ekor gajah membawa air, menyelamatkan ikan-ikan itu.

***

Bab Pengorbanan Tubuh menceritakan tentang kisah Pangeran Sattva memberikan tubuhnya buat harimau lapar, alur ceritanya menyerupai novel, sangat memikat, dan pada masa itu telah menjadi topik lukisan yang beredar paling luas. Diceritakan bahwa Raja Maharatha memiliki tiga orang putera, putera pertama bernama Pranada, putera kedua bernama Deva, dan putera ketiga bernama Sattva. Mereka bertiga bermain ke hutan, bertemu dengan seekor induk harimau yang sedang melahirkan, ada tujuh ekor anak harimau yang terlahir, karena tidak makan, induk harimau tidak mampu menyusui anak-anaknya, tanpa makanan, induk harimau bersama anak-anaknya pasti akan mati kelaparan. Pranada memberitahu Sattva: ” Harimau ini hanya makan daging segar darah panas “.  Frasa ” daging segar darah panas ” membuat saya teringat kisah Raja Sivi mengerat dagingnya untuk dimakan rajawali, pengorbanan tubuh India Kuno selalu diawali dengan ” daging segar darah panas ” yang begitu nyata, dan kata-kata ini hampir tidak pernah ditemui dalam kitab-kitab Konghucuisme, tidak tahu waktu pertama kali diterjemahkan ke dalam Bahasa Han, apakah menimbulkan getaran hebat terhadap intelektual-intelektual Han pada masa itu?
Menghadapi sekumpulan harimau lapar, apakah ada orang mau mengorbankan tubuhnya untuk santapan mereka? Pranada berkata: ” Segala yang paling sulit dikorbankan, tidak lebih dari tubuh sendiri ” Adiknya, Deva menyambung: ” Karena terikat dan sayang pada tubuh sendiri, ketika melihat mahkluk lain menderita, walaupun iba tetapi tetap tidak mampu mengorbankan tubuh. Bab Pengorbanan Tubuh menggunakan cara penyampaian cerita yang sangat unik sehingga tiba-tiba sudah memutar ke dalam sumpah Sattva ——— ” sekarang aku mengorbankan tubuh, memang waktuku sudah tiba —— ”
Sebenarnya sangat sulit untuk mengerti alasan dan logika Sattva mengorbankan tubuh, bagi mereka yang dididik dan dibesarkan dalam tradisi Konghucuisme yang kental, misalnya diriku ini, manusia dan harimau adalah di posisi berseberangan, hanya ada  ” Wu Song Membunuh Harimau ” di dalam novel 108 Pendekar, tidak mungkin ada orang mengorbankan tubuh untuk menyelamatkan harimau.
Cerita dituturkan sampai di sini, pengikut-pengikutnya timbul keingin-tahuan yang mengerikan. Kenapa? Kenapa seorang pangeran muda yang hidup tenang dan bermartabat di istana raja, bisa timbul pikiran menggunakan tubuhnya untuk dimakan harimau. Di dalam kitab memang juga tercantum pertanyaan yang sama: Kenapa? Semua pendengar sedang menunggu jawaban.
Renungan Sattva bukan dimulai dari karuna atau welas asih kepada harimau, yang dia pikirkan adalah kondisi tubuh dia sendiri:

Menetap teduh di dalam rumah, pakaian tidak berhenti diberikan, makanan, tempat tidur, obat-obatan, gajah dan kuda, kereta, setiap saat disediakan, sehingga tidak kurang apa pun, aku tidak tahu berterima kasih, justru timbul keluhan yang membingungkan, namun tetap tidak terhindarkan kejatuhan yang tak terduga, adalah tubuh tidak kukuh, tiada keuntungan bisa dipetik, mencelakakan bagai pencuri ———

Seandainya mengorbankan tubuh ini, berarti mengorbankan tak terkira gerogotan cacing, segala penyakit, ratusan ribuan teror dan takut ———

Terhadap tubuhnya yang tidak kekal dia telah melakukan perenungan yang sangat dalam:

Adalah tubuh tidak kukuh, laksana buih di atas air, adalah tubuh tidak bersih, banyak berupa jasad cacing. Adalah tubuh paling celaka, urat melingkar darah menebar, kulit tulang sumsum otak, bersama-sama diuntai diikat ———

Pelukis mural di gua 254 mungkin juga ikut mendengar cerita ini, dia pasti juga terpikir tentang tubuh dia sendiri, begitu banyak risau gelisah, urat melingkar darah menebar, kulit tulang sumsum otak, tubuh yang demikian tidak kukuh sebenarnya buat apa?
Sattva takut kedua kakaknya melarang, terus meminta mereka pergi, dia sendiri kembali ke tempat harimau tergeletak, melepaskan baju, digantung di atas ranting bambu. Pelukis mural mendengar biksu menuturkan cerita, sambil merancang adegan Sattva.
Dia mulai di atas dinding kosong menggoreskan lekukan, Sattva berlutut di tanah, mengangkat lengan kiri, dan lengan kanan di dada, mengucapkan sumpah pengorbanan tubuh. Ada cukup banyak bagian yang dideskripsikan secara terperinci di dalam kitab, sebelum Sattva menjatuhkan diri dari tebing, tiba-tiba terigat induk harimau sudah beberapa hari tidak makan, lemah dan kurus, sudah tidak memiliki tenaga bergerak, sekalipun menjatuhkan dirinya dari tebing, mereka juga tidak mampu datang memakannya, maka Sattva memikirkan satu cara, dengan ranting bambu kering menusuk putus urat leher, agar darah mengalir keluar, sehingga harimau mudah mencicipi darahnya, memulihkan kekuatan tubuh, kemudian baru melahap dagingnya.
Ini mungkin satu bagian dari kitab yang paling membuat orang tercengang, mata pelukis mural mulai timbul airmata panas, dia mungkin tenggelam ke dalam renungan ——— ” Rupanya ingin mengorbankan diri perlu sumpah yang demikian ganas! ” Di dinding kosong pelukis mural menarik garis-garis untuk membentuk gambar Sattva yang pertama: Tangan kanan sedang memegang ranting bambu menusuk lehernya, tangan kiri diangkat tinggi-tinggi, dilanjutkan dengan gambar kedua, gerakan terjun dari tebing.
Menurut cerita, masa itu di dalam gua sangat gelap, cahaya tidak bisa masuk, pelukis gua kadang-kadang menggunakan lilin dan obor untuk penerangan, tetapi kadang-kadang di bagian gua yang paling dalam, karena oksigen tidak cukup, tidak mampu menyalakan api, juga takut asap lilin menghitamkan dinding, sehingga mereka sering menggunakan sekeping cermin untuk memantulkan cahaya luar, cahaya dari cermin itu berkedip di atas dinding gua, lalu pelukis-pelukis ini menciptakan mural di dalam sekeping cahaya yang berkedip itu.
Sattva merapatkan kedua telapak tangan di dada, terjun ke bawah, gayanya persis seperti perserta olahraga selam masa kini, tubuh mudanya telanjang, di lengan tangan ada gelang, tubuhnya yang semula berwarna merah muda, karena termakan usia, berubah menjadi warna cokelat tua, garis-garis lekukan juga teroksidasi menjadi hitam dan kasar, tubuh ini seperti harus mengalami siksaan waktu di dalam kehampaan, berbintik berkerut, setitik-setitik lumer, hilang, musnah, namun sebelum semua akhirnya kembali menjadi mimpi ilusi gelembung bayang, masih ada yang terakhir dipertahankan, freeze frame menjadi sekeping jejak yang tidak ingin hilang di atas dinding gua.
Pelukis mural menggunakan cara ini menyelesaikan tiga tindakan Sattva yang berturut-turut, ” bersumpah sambil menusuk leher “, ” menerjukan dirinya dari tebing “, ” mengorbankan tubuh dimakan harimau ”
Waktu yang membeku di dalam lukisan seakan bumi bergetar hebat, latar belakang tubuh Sattva adalah alam dengan gunung dan sungai berwarna hijau batu dan merah kecoklatan yang timbul tenggelam.
Pencapaian kesenian gua Asia di sekitar abad kelima adalah titik puncak tertinggi dalam sejarah kesenian dunia, namun pelukis-pelukis yang tidak kita kenal ini, telah meninggalkan karya mereka yang cemerlang di dalam gua gelap, dan ini mungkin hanya salah satu cara pertapaan dengan tubuh mencapai pencerahan.
Setiap pelukis mural Dunhuang mungkin adalah Pangeran sattva, tubuh terbaring di dalam waktu yang kekal, biarkan harimau datang mencicipi. Beberapa tahun terakhir ini gua Dunhuang memperlihatkan tempat tinggal pelukis-pelukis gua masa itu, tempat tinggal mereka adalah gua batu yang lebih kecil dan sempit daripada gua tempat mereka menciptakan mural, ketika malam tiba, tubuh yang telah bekerja seharian, hanya bisa meringkuk di dalam gua yang kurang lebih sebesar keranda batu tidur, atau mungkin wajah mereka yang kurus akan berubah menjadi wajah tawa yang penuh di dalam mimpi.
Freeze frame Sattva yang terakhir adalah terbaring di atas bumi, seekor induk harimau sedang mencicipi bagian pinggangnya, dua ekor anak harimau sedang menikmati pahanya. Tubuhnya seperti gaya tarian yang indah, satu tangan menjulur ke belakang, muka menghadap langit, persis seperti patung Pieta Michelangelo dengan Yesus yang terbaring di dalam dekapan Bunda.  Kitab mengatakan ibu Sattva di dalam mimpi dapat merasakan anaknya mengorbankan tubuh, ibunya di dalam mimpi:

Kedua payudara mengeluarkan susu, seluruh sendi tubuh, sakit bagai ditusuk jarum,

dan ini:

Kedua payudara dikerat, semua gigi rontok

Sastra India yang baru menyebar ke dataran Cina begitu kental rasa, sama seperti mural masa itu, penuh warna, cinta dan benci saling mengikat bertempur, kesadaran tubuh seluruhnya ada di sana.

***

Pertama kali melihat mural ini sekitar lima belas tahun yang lalu dalam sebuah jiplakan di atas kertas ukuran 50cm X 50cm di sebuah pasar malam Cap Goh Meh dekat Bugis Junction, Singapura. Penjualnya masih muda, datang dari Provinsi Gansu, Cina, dia terus menceritakan mural-mural yang dia jiplak dari gua-gua Dunhuang, dia mengatakan bahwa sudah tidak banyak lagi orang yang menguasai teknik lukis ini, saya samasekali tidak berani menyangkal. Lalu dia berkata bahwa hasil semua lukisan ini untuk membantu penelitian gurunya, seorang pelukis dan peneliti senior gua Dunhuang, yang ini saya juga tidak berani terlibat. Akhirnya saya memberanikan diri berterus terang bahwa saya sesungguhnya sangat menaksir sepasang sepatu dari tali rami yang digantung di dinding kiosnya.
Sepatu ini sangat mirip dengan yang biasa dipakai biksu-biksu yang mengembara ke tanah barat mencari kitab dalam lukisan-lukisan kuno. Alasnya adalah beberapa lapis kain dan potongan kertas, begitu juga bagian belakang dan depan sepatu, dan sisanya adalah rajutan tali rami kasar, kelihatan cukup kuat untuk menempuh perjalanan sepuluh ribu li. Tetapi setelah saya timbang-timbang sepatu tali ini di tangan, ternyata sangat ringan, sangat sulit membayangkan Faxian, Yijing, Xuanzhuang memakai sepatu ini menempuh perjalanan yang begitu jauh.
” Sepatu begini paling cocok untuk menempuh gurun pasir, ” pemilik kios langsung tahu apa yang saya ragukan, ” ketika kau menginjak ke dalam pasir, kau akan tahu nilai yang diwariskan ribuan tahun, alas sepatu ini tidak lengket, tidak licin, seperti menjadi bagian dari pasir. Saat kaki diangkat melangkah, butiran pasir akan mengelincir keluar dari sela-sela rajutan tali, kaki tetap kering dan bersih, tidak ada pasir yang melengket, ringan, lembut dan sejuk ”
Dalam hidup ini saya jarang membeli sesuatu yang benar-benar berguna, hari itu saya merasa telah diberi kesempatan, walaupun kemudian di tangan saya nasib sepatu ini sangat sulit terduga, bahkan saya sendiri sudah lupa di mana dia ditinggalkan, tetapi malam itu, di dalam kamar hotel, badan letih, hilang niat tidur, telanjang kaki duduk di lantai, tarik nafas coba istirahat. Di dalam pikiran timbul ketiga adegan Sattva, terbayang kakinya yang telanjang, sepasang sepatu rami itu ada di depan mata, tiba-tiba seakan-akan pernah mengenalnya, mungkinkah begini juga boleh disebut nidana masa lampau?

Malam Rindu

Puisi Lila Prabandari

lihatlah,

pelangi telah mengakhiri warnanya dengan ungu

hujan telah meneteskan rintiknya bergemericik

mentaripun menyisakan sinarnya dengan jingga kelam

masih akan berapa lama lagi

malam mengitari langit

tanpa bintang-bintang

yang telah kurengkuh menanti hadirmu

rindu…

seperti pengantin menanti bulan madunya

bernyanyi-nyanyi bergumam riang

menekuk-nekuk bantal mengusap renda

mengitari waktu dengan senyum sempurna

selalu…

rindu,malam rindu

Pencuri Mimpi

Cerpen Ragil Koentjorodjati

pencuri mimpi
gambar diunduh dari raisalogi_blogspot.com
“Sial! Mentari tak lama lagi terbit, masih dua orang lagi yang harus kuhabisi malam ini,” gumam bayangan hitam,”aku harus bergegas!”
Bayangan itu berkelebat cepat ke barat. Seekor burung hantu terbang di atas kepalanya. Rambutnya panjang berkibar terurai angin. Gerimis dan pekat malam tidak menyurutkan langkahnya untuk berlari dan terus berlari dengan kaki terpincang-pincang.
“Bangsat Si Jogoragan!” umpatnya sambil sesekali meludah ke kanan dan ke kiri. “Ilmunya benar-benar tidak boleh diremehkan. Untung saja kau membantuku Rohpati,” sambungnya sembari menatap burung hantu di atas kepalanya. Burung itu hanya mencicit lirih. Mereka terus melesat ke barat.
“Sekarang giliran Nyi Darsini dan Joko Gembong yang harus kita habisi,” bisiknya. “Dua orang itu sudah terlalu lama masyuk dengan mimpi-mimpinya.”
Di pekat malam, terlihat setitik cahaya di ujung barat desa. Cahaya lampu minyak yang menyeruak dari bilik kayu. Bayangan hitam itu sedang menuju ke sana, rumah Darsini. Tak berapa lama, ia sudah mengendap-endap di bawah jendela kamar Darsini.
“Ada suara burung hantu Kang…” bisik sebuah suara dari bilik itu. Suara desah Darsini. “Aku takut Kang..”
“Tidak perlu takut Nyi. Aku menemanimu,” jawab suara satunya. Berat sedikit parau, khas suara laki-laki setengah baya. Ia itu Joko Gembong.
“Firasatku tidak enak Kang. Aku takut Bapak bangun. Kalau ketahuan kita bisa celaka,” rintih Nyi Darsini.
“Kalau ketahuan, aku akan menikahimu,” jawab Joko Gembong mantab.
“Kalau memang mau menikahiku, kenapa harus nunggu ketahuan Kang? Kenapa tidak kaulamar aku secara baik-baik?” cecar Nyi Darsini.
“Orang tuamu dan penduduk di sini masih menganggapku kafir. Dan aku tidak mau masuk agamamu,” jawab Joko,” kalau kamu mau pergi dari sini, aku segera menikahimu.”
“Pilihanmu sulit semua Kang. Aku tidak sanggup,” keluh Darsini,”biarlah kita serahkan semua pada Sang Khalik.” Tak terasa air mata Darsini meleleh. Ketika rindu membiru menyatu dengan syahdu, hati manusia meronta ingin terbebas dari nestapa. Tak lama kemudian mereka berdua pun tenggelam masyuk dalam lautan asmara.
Bayangan hitam yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan dua orang yang mabuk cinta itu tersenyum sinis. Akulah jawaban atas doa kalian, batinnya. Aku tunggu sampai kalian kelelahan dan terlelap. Bayangan hitam itu kemudian mengambil sikap samadi. Asap putih mengepul dari ubun-ubunnya dan perlahan membentuk sesosok makhluk yang persis dirinya. Tanpa suara, mahkluk itu melayang menembus dinding bilik kamar Darsini dan Joko Gembong. Dua manusia yang baru saja diamuk badai asmara itu tidur terlentang tanpa sehelai benang. Mereka pulas mendengkur dengan senyum mengembang di bibir. Dalam tidurnya mereka bertemu dengan mahkluk putih yang melayang-layang tanpa dapat dikenali wajahnya karena tertutup rambut panjang riap-riapan.
“Hei, mau di bawa kemana kang Joko,” jerit Darsini. Darsini melihat mahkluk putih itu mengempit tubuh Joko yang meronta-ronta tanpa daya.
“Akulah jawaban atas doamu,” kata mahkluk putih sambil melayang keluar.
Hampir berbarengan dengan jerit Darsini, suara Joko menggelegar.
“Hei, siapa kau? Mau kau apakan Darsini-ku,” lengking Joko. Joko melihat mahkluk putih itu terbang sambil menggendong Darsini. Joko berusaha mengejar namun tubuhnya seperti lunglai tanpa daya.
“Kalian tidak berhak atas mimpi-mimpi itu,” kata mahkluk putih,”mimpi kalian membahayakan orang lain. Besok pagi kalian akan menyadari kebodohan kalian.” Mahkluk putih melayang keluar bilik dan kembali masuk ke raga bayangan hitam. Tubuh halus Darsini dan Joko Gembong diberikannya pada Rohpati. Burung hantu itu segera menghisap habis kedua tubuh halus manusia malang itu.
“Tugas kita hari ini selesai,” kata bayangan itu. Sekejap kemudian mereka sudah hilang di pekat malam.
Pagi harinya, penduduk kampung Jogoragan geger. Nyi Darsini dan Joko Gembong terkapar tumpang tindih mandi darah dengan urat nadi putus. Amis mengering memenuhi ruangan. Satu lembar kertas tergeletak di samping tubuh mereka. Di kertas itu tertulis:

mimpi itu terasa sangat mustahil untuk dapat kami wujudkan. Maafkan kami, Mbok. Maafkan kekhilafan kami Pak. Jika kami tidak dapat hidup bersama di dunia ini, biarlah kami hidup bersama di akhirat.
Darsini & Joko Gembong.

***
Sore itu tidak seperti biasanya. Tidak ada rinai gerimis, dan senja belum lagi datang, tetapi wajah penduduk tampak muram. Mulanya cuma satu dua orang. Tetapi dari hari ke hari semakin banyak yang menekuk wajah. Para lelaki berkeluh kesah. Bahkan tidak terlihat lagi gadis-gadis desa tersenyum sumringah. Semua terlihat lelah. Sangat lelah. Mereka tidak lagi menikmati senja. Senja berarti gerbang kematian bagi mereka. Candik ala di batas cakrawala bagai mulut Kala menganga mencari mangsa. Petanda petaka. Hari-hari semakin kusut. Dan malam menjadi begitu kelam. Menyelimuti segenap rasa, hati dan pikiran mereka. Tak ada yang berani memecah sunyi. Tak ada yang berani mengakhiri sepi. Jiwa-jiwa mereka merintih di kegelapan, mengharap pertolongan. Mata nyalang terpicing sepanjang hitam. Mereka takut tertidur. Mereka takut bermimpi. Di ujung desa, sang pencuri mimpi tertawa, hadapilah kenyataan hidup. Jangan hanya bermimpi, gumamnya.
“Kita harus mengakhiri semua ini,” kata Ki Lurah Jogoragan di tengah pertemuan para pinisepuh desa.
Ia mulai khawatir melihat perubahan warganya. Maka ia memutuskan untuk mengumpulkan para sesepuh pada malam sabtu pahingan untuk membahas masalah itu. Ada Mbah Modin, Pak Carik, dan Ki Bayan. Ada Nyi Sari dukun bayi. Ada juga bu Bidan Tantri, satu-satunya perempuan jelita dengan baju hitam legam membungkus tubuhnya yang putih pucat.
“Menurutku, ini ulah Nyi Sumbi, Ki Lurah,” kata Ki Bayan pelan.
Asap tembakau bau kemenyan mengepul pekat dari mulut Ki Bayan. Ada rasa takut menyelinap ketika Ki Bayan menyebut nama Nyi Sumbi. Nyi Sumbi adalah perempuan renta yang tinggal di ujung barat desa, persis di belakang pemakaman umum yang membentang sepanjang kali. Ia dikabarkan memiliki ilmu tenung. Konon, tinggalnya di pemakaman sebagai syarat menyempurnakan ilmunya.
“Jangan terburu-buru menuduh Ki,” ucap Nyi Sari,”kita belum punya bukti.”
“Kita tidak perlu bukti Nyi. Sudah jelas penduduk terkena pengaruh tenung,” bantah Ki Bayan sedikit gusar. “Mereka terlihat selalu bermuram durja. Aku yakin, Nyi Sumbi sedang mempraktikkan ilmu pengambil roh untuk memangsa korbannya,” Ki Bayan menambahkan.
“Tunggu dulu Ki Bayan,” Mbah Modin memotong. “Ilmu pengambil roh, setahuku menyebabkan si korban lupa siapa dirinya. Kenyataannya, para penduduk itu tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Hanya saja, wajahnya selalu muram.”
“Hmm..benar juga,” gumam Pak Carik.
“Maaf, saya harus meninggalkan pertemuan ini,” sela Bidan Tantri dengan suara merdu. ”Ada bayi yang saya perkirakan akan lahir malam ini,” tambahnya.
“Oh, monggo-monggo. Silahkan Bu,” jawab Ki Lurah mantab.
Bidan Tantri beranjak pergi dengan meninggalkan aroma pekat kamboja. Malam semakin mencekam. Dari surau sayup terdengar lantunan ayat suci. Tak lama kemudian disusul rintih burung hantu dari samping rumah.
“Aku kok malah curiga dengan bidan cantik itu Kangmas,” kata Pak Carik kepada Ki Lurah Jogoragan.
“Hmm..memang sejak kedatangannya desa kita jadi kurang tenteram. Sebenarnya, ini ulah pencuri mimpi. Dan dia memiliki ciri-ciri yang sama dengan orang yang bertarung denganku malam itu. Sayang, aku tidak melihat wajahnya karena malam sangat gelap dan hujan.”
“Pencuri mimpi?” belalak yang lain penuh rasa penasaran.
“Ya,” tegas Ki Lurah,” dengan kesaktiannya ia mengambil mimpi orang yang punya cita-cita besar. Tetapi, sepertinya ia mulai liar dengan mengambil mimpi semua orang. Akibatnya, warga kita seperti orang yang tidak punya harapan. Mengeluh. Mengutuki hari dan semua yang ada di sekitarnya hanya menimbulkan derita.”
“Sebentar Ki Lurah,” potong Mbah Modin,” untuk apa orang itu mencuri mimpi?”
“Entahlah,” desah Ki Lurah,” mungkin saja dijual, atau hanya disimpannya sendiri. Aku tidak tahu.”
Malam semakin larut. Suara burung hantu semakin keras terdengar meremangkan bulu roma. Hari itu sepertinya serangga malam malas bercengkerama. Tanpa bunyi, tanpa suara.
“Sulit untuk dipercaya kalau Bidan Tantri pelakunya. Ia terlalu lemah dan ..cantik,” gumam Ki Bayan.
“Ada baiknya juga kalau ada yang mengawasinya. Apa alasan sebenarnya ia meninggalkan pertemuan ini dengan terburu-buru,” kata Ki Lurah.
“Aku akan mengikutinya Kangmas,” sambut Pak Carik. Inilah kesempatan untuk dapat mengutarakan isi hatinya yang selama ini terpendam pada bidan cantik itu. Dan jika memang benar bidan itu si pencuri mimpi, ada baiknya untuk menjalin kerja sama dengannya untuk menyingkirkan Ki Lurah, akal licik Pak Carik berputar-putar.
“Baiklah. Hati-hati Dhimas. Segera pulang kalau sudah mendapat kejelasan,” pesan Ki Lurah.
“Baik, Kangmas.” Bergegas Pak Carik menuju ke arah Bidan Tantri pergi.
“Mari kita istirahat sejenak sembari menunggu Pak Carik pulang,” ajak Ki Lurah melihat para sesepuh mulai kelelahan. “Diusahakan jangan sampai tertidur. Firasatku mengatakan sesuatu akan terjadi malam ini,” tambahnya.
“Firasatku juga demikian Ki,” sambung Ki Bayan,” suara burung hantu itu membuatku gelisah.Tidak seperti biasanya.”
Sementara itu, di rumah bidan Tantri seorang ibu muda tergolek lemah. Di sampingnya berdiri bidan itu sambil menimang bayi yang terlihat baru saja dilahirkan dari rahim ibunya.
“Hmmm..bayi yang montok dan sehat,” gumamnya. “Silahkan masuk Pak Carik. Tak perlu kau mengintipku seperti itu,” kata bidan pula sembari menoleh ke pintu.
Terkejut bukan main Pak Carik mendengar suara itu. Tampaknya benar Bidan Tantri-lah si pencuri mimpi itu, desahnya pelan. Bagaimana ia tahu kalau aku mengintainya, gumam Pak Carik. Seketika sekujur tubuhnya lemas. Ketakutan mendekap kakinya erat-erat hingga ia tidak sanggup berlari. Matanya melotot melihat Bidan Tanti menghampirinya.
“Ampun..bu. tolong ampuni saya,” ratap Pak Carik menggigil ketakutan teringat kesaktian si pencuri mimpi yang diceritakan Ki Lurah.
“Kamu salah sangka Pak Carik. Justeru aku baru saja menyelamatkan ibu itu dengan bayinya,” kata Bidan Tantri sambil meletakkan bayi itu di samping ibunya.
“Maksud bu Bidan?”
“Mari silahkan masuk, nanti kujelaskan,” ajak bu Bidan dengan senyum mengembang. Mendengar kata Bidan Tantri kalau ia salah sangka, Pak Carik mulai bangkit kembali semangatnya.
“Aku tahu Pak Carik sudah lama merindukan saat seperti ini,” bisik bu Bidan menggoda. “Masuklah. Udara malam tidak baik untuk orang setua Pak Carik,” sambungnya. Pak Carik segera mengikuti Bidan Tantri masuk ke rumah.
Tiba-tiba, suara burung hantu terdengar dari belakang rumah. Suara Rohpati. Bulu kuduk Pak Carik meremang.
“Mengapa burung hantu itu mengikutiku?” gumamnya. “Tadi di rumah Ki Lurah burung itu juga terdengar. Persis seperti itu, seperti suara orang menangis.”
“Sudahlah Pak Carik, tak usah dihiraukan. Mari kita nikmati kesempatan ini,” desahnya. Dengan perasaan gundah, antara cemas dan gembira, Pak Carik mengikuti saja kemauan Bidan Tantri.
Hari sudah menjelang subuh ketika dua manusia berlainan jenis itu tenggelam dalam gairah birahi. Tidak menyadari suara burung hantu yang semakin pilu dari atap rumah. Tidak menyadari sesosok bayangan hitam mengintai dari balik jendela.
“Ayo…lanjutkan, sampai kalian puas,” desis bayangan itu,” sebentar lagi kalian akan menyusul Ki Jogoragan dan teman-temannya.
***
Keesokan harinya, udara begitu cerah. Pemandangan indah desa Jogoragan tampak berkebalikan dengan wajah para penghuninya yang selalu muram. Seorang perempuan tua dengan rambut riap-riapan, melenggang di tengah pemakaman dengan kaki terpincang-pincang.
“Pembalasan ini cukup untuk setiap mimpiku yang kalian rampas,” desis Nyi Sumbi. Lalu ia pergi meninggalkan desa Jogoragan tanpa mimpi. Benarkah tanpa mimpi? Tidak! Karena sejak saat itu, penduduk desa menjadi lebih sering bermimpi. Mimpi yang buruk sekali!

Ngisor Tugu, Januari 2011 (repost)

Candik Ala 1965: Luka Sejarah di Mata Bocah

Resensi Ragil Koentjorodjati
novel tinuk yampolskySatu pikiran terlintas di benak saya ketika mata saya tertahan pada sebuah novel berjudul Candik Ala 1965 karya Tinuk Yampolsky adalah hal baru apa yang ditawarkan pengarangnya. Kita tahu, sudah banyak cerita berlatar belakang apa yang disebut banyak orang sebagai “Pemberontakan G 30 S PKI”. Beberapa dari kita yang lahir pada masa orde baru telah begitu karib dengan kekerasan fisik seperti pembunuhan sadis, sayatan silet serta teror mental seiring dengan pemutaran film G 30 S PKI yang itu-itu saja. Masih lekat di benak saya bagaimana serombongan bocah SD digiring untuk nonton film itu ramai-ramai. Setiap tahun. Mengenang jasa para pahlawan revolusi. Dan pada saat itu tidak ada yang lebih mengasyikkan selain berpelukan atau berhimpit saling mendekap sesama kawan karena ketakutan tiada tara. Beberapa kawan perempuan ada yang sekedar ngompol saking jerihnya. Hanya karena sebuah film. Lalu bagaimana jika kekerasan fisik dan psikologis itu terjadi di depan mata?
Menyelami kepribadian Nik, tokoh dalam novel Candik Ala itu, serasa saya diajak mengenang kembali ke masa awal orde baru. Kemiskinan yang meraja lela, makan telor-terigu dadar – saya sebut telor terigu dadar karena lebih banyak tepung terigunya ketimbang telurnya yang hanya satu-, lalu juga penculikan-penculikan dan penembakan misterius (petrus). Agak merinding juga mengikuti cerita Nik ini, apalagi ketika bersamanya menyaksikan banyak orang di jemur di bawah terik sambil mata mereka harus menatap matahari. Seperti menonton film perang Indonesia-Jepang. Mengasyikkan sebagai sebuah tontonan. Sekaligus mengerikan!
Lalu saya teringat cerpen Candik Ala karya GM Sudarta yang juga berlatar belakang tahun 65-an. Secara tidak sengaja nalar saya membandingkan antara novel dengan cerita pendek berjudul nyaris sama, hanya berbeda pada ‘1965’. Meski sebenarnya tidak dapat diperbandingkan, candik ala – candik ala tersebut sepertinya mengangkat hal yang nyaris sama: luka sejarah di mata bocah. Satu hal yang pasti, tahun 65-an telah mempopulerkan istilah ‘candik ala’ yang sangat digemari banyak penulis. Kita tahu, candik ala adalah ketika warna jingga kemerah-merahan mengembang di barat cakrawala senja. Itu selalu memunculkan rasa sepi dan kehilangan yang menyedihkan. Dulu, pada saat seperti itu, (bukan mengutip cerpen GM Sudarta) ibu saya selalu mengingatkan untuk segera masuk ke dalam rumah sebab Bathara Kala sedang mencari mangsa. Aroma kengerian yang sangat, persis kengerian tokoh ‘aku’ dalam cerpen Candik Ala dan tokoh Nik dalam novel.
Hal yang cukup berbeda dalam novel Candik Ala adalah nuansa sekarat lalu bangkitnya kembali sebuah pemahaman pada masa peralihan (awal tahun 80-an). Sehingga sepintas novel ini lebih mirip balada ideologi ketimbang perjalanan hidup seseorang, meski banyak catatan-catatan semacam buku harian seorang militan sehingga kadang saya merasa sedang membaca novel dan pada saat yang sama juga membaca kumpulan cerpen. Ada bagian-bagian novel yang asyik dinikmati sebagai sebuah fragmen yang terpisah dari alur utama novel. Mungkin model kisahan seperti itu juga hal baru yang ditawarkan novel ini, seperti misalnya mengubah tokoh Nik dari ‘ia’ menjadi ‘aku’.
Jika ada hal yang sedikit mengganggu, mungkin lebih pada masalah teknis bahasa. Awalnya saya ingin menjadikan “tata cara penulisan” pada novel itu sebagai salah satu acuan menulis. Tentu saja saya punya alasan kuat terkait hal ini. Lihat saja, orang-orang besar dalam dunia sastra seperti Goenawan Mohamad dan Joko Pinurbo terlibat dalam pembuatan novel ini. Namun, saya menjadi sedikit kecewa dan ragu-ragu setelah meneliti lebih lanjut. Banyak hal berbeda dalam cara penulisannya. Saya berpikir, mungkin saya ketinggalan pedoman penulisan karya sastra.
Tetapi, tentu saja soal sastra tidak melulu soal teknis bahasa. Itu hal yang sangat mudah diperbaiki. Di lain sisi, malah bahasa yang digunakan dalam novel ini menjadi daya ungkit tersendiri sehingga nuansa geger 65 di kota para priyayi jawa menjadi begitu hidup dan nyata. Hal-hal yang ‘waktu itu’ hanya sekedar tontonan menjadi tampak jelas ‘kekerasan psikologinya’ terhadap seorang anak. Dan itu mencipta trauma berkepanjangan. Tidak hanya bagi seorang bocah bernama ‘Nik’ tetapi sebuah generasi yang harus ikut merasakan sakitnya luka sejarah bangsa ini. Meski mungkin sebagian hanya tahu lewat cerita.

novel tinuk yampolskyJudul : Candik Ala 1965 – sebuah novel
Pengarang : Tinuk R. Yampolsky
Penerbit : Katakita
Tahun : Juni 2011
Tebal : 222 hal
ISBN: 978-979-3788-66-2

Jelaga

Puisi Vivi Fajar A.

Kukawani setiap kemarahan dengan putus asa
Bergelung dalam ruang sempit, kotor dan pekat
Meneriakan hingga serak serentetan caci maki
Pada angin, hujan, matahari, bulan,
pada binatang yang menyaru menjadi manusia,
pada penguasa, kesombongan, kekerdilan
kesemrawutan, kesedihan, pada apa saja…

jelaga
gambar diunduh dari i2_ytimg_com

Lalu aku lelah
Kubunuh diriku sendiri berkali-kali
Namun ia enggan mati
Kucecap pahit, panas dan dingin,
sampai kelu tak merasa lagi
Tetap saja tak mampu kuluruhkan gelap
Aku menyepi dalam raga tanpa hati
Adelaide, April 27 th, 2012
The fall..

Karena Setiap Kata Punya Makna