Arsip Kategori: Puisi

Empat Belas Baris Suratmu

Puisi John Kuan

kupu-kupu
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com

Ingin jadi seorang gadis Andalusia di hidup nanti, katamu

menari flamenco, hempas diri jadi sebentang laut.

mungkin sebatang pohon ceri di dataran tinggi Kurdistan,

melihat kuda hitam datang dan pergi, serpihan bunga jatuh

di jendela penyair tua, atau jadi saja sekuntum awan di atas Lhasa

geram guruh di langit cerah, mantera putar hidup putar musnah.

Sekarang malah jadi sekuntum lotus salju di pinggang Himalaya

sekejap Durga sekejap Parvati di atas rasa dingin sepuluh ribu kaki.

Atau jadi saja satu denting lonceng angin di sudut atap

suara rem mendadak di luar tiga potong jalan petang senyap.

Ingin jadi sesendok penuh kuah rasa matahari khatulistiwa,

panggang sebuah pesan pendek membeku beberapa abad, buatmu:

Jangan bilang kau telah jadi prajurit terakota tanpa zirah,

tiada sisik ongkang-ongkang di tepi laut tropis memancing hangat

Puisi-Puisi Ragil Koentjorodjati #3

Semua Tentangmu

[1]

adalah engkau, puisi yang gagal kurangkai.
katakata tanpa bunyi,
lalu terbakar,

bukan amarah tapi hampa tak berkesudahan.
rasa ini, cobalah kaumaknai,
bukan sepi, bukan mati.
sebab kitalah sepi. kitalah yang telah mati.

[2]

airmatamu adalah bait puisi tersendiri yang paling kunikmati,
iramanya menganak sungai,

membelah bukit di dadamu yang gersang,
menetes,
menetas, lalu tuntas,
menyisakan jernih yang ibu,
mengajarmu lebih banyak diam menerima cinta yang kuajarkan.

 

Perjalanan Pulang

[1]

tak ada bintang, Sayang,
malam ini langit sepi,
dan lampulampu itu,
berirama merah dan kuning dan hijau,
tidak ada ungu.
rel itu masih amat panjang,
dengan kereta yang berjanji membawaku pulang,
menjauh dari kota tempat namamu tak lagi bertuan.

[2]

kereta itu, ya, kereta itu tak kunjung datang.
semoga kaupaham, Sayang.
perbuatan tak semudah perkataan.
mungkin, – sangat mungkin-, kereta itu
dan engkau, hanya ada dalam lamunan.
aku hanya rindu pulang,
semoga kaupaham, Sayang.

 

Kuhembuskan Namamu

pada ubun-ubun malam,
kuhembuskan namamu.
mengalir bersama deru
debar dada digunting suram.

 

Orang Gila

Orang gila itu, melangkah begitu gagah. Mungkin ia pernah jatuh cinta, menulis sebuah nama di batin yang miskin. Siapa ynag peduli tangis batin seseorang? Dan mendung tidak memilih waktu untuk menghujaninya dengan tusukan rindu. Ia tetap seperti biasa. Melangkah dengan gagah. Meski ia tahu, satu per satu sahabat meninggalkannya. Ia tetap berjalan. Sendirian.

 

The Opera

the bird sing ‘Halelujah’
and I said ‘Amen’,
the darkness shines,
a little one’s scream.

The opera has just begun.

Tentang Masa, Ketika Aku Hidup Untuk Mencintaimu

Puisi Dianna Firefly

mother's love
Gambar diunduh dari http://www.kemonbaca.blogspot.com

[1]
Mungkin di keheningan ini, aku bisa mendengar suaramu.
Yang tak ada pada nyata.
Yang begitu sulit menembus masa,
Ketika aku hidup untuk mencintaimu.

[2]
Dan sunyi bersetubuh dengan angin, merajam jiwaku. Desaunya mengantar berita, kamu sudah tak ada. Jadi percuma aku berkelana, mencarimu di lorong-lorong khayalku. Memang sudah tiada, pagi di mana aku bisa suguhkan kopi manis untukmu. Memang sudah tiada, senja yang kurancang untuk melihat wajah tuamu berkilauan di bawah cahaya. Memang tak akan pernah ada, malam di mana aku bisa mendoakanmu.

[3]
Karena seorang anak akan mencari sepi di mana ia bisa mengenang kedua orang tuanya. Namun kau memang tak pernah ada, ketika sepi, bahkan seramai apa pun hidupku.
Senyap.

[4]
Karena memang selalu ada waktu bagi jiwa untuk merindukan seseorang yang tak pernah ada saat aku membuka mata. Mungkin dia ada, di masa lalu yang paling suram, yang semua orang ingin meniadakannya. Tapi jika aku bisa, aku ingin dewasa kala itu juga, agar aku bisa memilah mana yang baik dan jahat. Melihatmu untuk mengerti posisimu. Mendengarmu untuk memahami kondisimu. Memelukmu meski sekali saja dalam hidupku. Namun kini aku terlanjur tahu segala yang buruk tentangmu. Bagaimana mungkin aku bisa mencintaimu?

 

April 2012

*) Untuk saudara-saudaraku di jalanan, anak-anak yang ditinggalkan; kita.

 

Penulis: Dianna Firefly, berusia dua puluh tahun namun terkadang merasa telah hidup ratusan tahun lamanya. Tentu usia seperti itu tidak terbukti karena usia twitternya saja baru dua tahun. Twitter? Intinya mau promosi, jangan lupa follow @DiannaFirefly ya.

A JUBILEE

Puisi Juminten Gerimis Rindu Rindu

keriaan
Gambar diunduh dari akun facebook Juminten Gerimis Rindu Rindu

ah, a jubilee
everywhere adorns gold
smiling masks sneer
foul whispers
throw waves
rotate in the same axis
dig deeper
where has the real
buried?
the moon weeps
brave a star is a joke
keep dancing
please don’t stumble

(wish
could hide
in your arms)

 

KERIAAN

ah, keriaan
di mana pun berhias emas
seringai senyum topeng
bisik-bisik cemar
melempar gelombang
berputar dalam inti sama
gali lebih dalam
di manakah yang sejati
terkubur?
rembulan merintih
tegar gemintang jadi lelucon
tetaplah menari
janganlah terjatuh

(berharap
bisa sembunyi
di rengkuhmu)

Puisi-Puisi Lara Hati

Puisi Ragil Koentjorodjati

air mata tak pernah bohong
Tears don’t lie by ThysLara
Gambar diunduh dari creativephotographymagazine.com

~tentang kamu~

angin muson adalah kamu,
dari barat daya membawa riuh yang basah,
dari timur laut membawa sepi yang kering,
silih berganti,
sepanjang tahun.

~Maria~

aku ingin mempersuntingmu,
oh, sang perawan,
tak peduli pun bila harus berkelahi dengan tuhan.

~pagi yang rapuh~

aku tertawa menatap pagi yang rapuh,
tertatih-tatih menuntun setiap orang bertegur sapa dengan kesakitan.
Ia dilupakan, sebab orang lebih rindu pada malam.

~sesuatu hilang di sore tadi~
sore tadi,
matahari begitu merah saga,
bulat penuh, di langit biru bersih.
Kupandangi cukup lama hingga aku menyadari harus kembali melangkah.
Sebagian diriku yang tertinggal dibawanya entah ke mana.

~ketika senja tiba namun aku belum mati~

ketika senja tiba,
saatnya aku tenggelam,
bersama matahari,
dan semua menjadi dingin.
Sangat dingin.

~malam: ketika bahagia~
di kepak riang burung hantu,
ada bulu-bulu yang rontok,
dan duka mata yang terlalu bercahaya di kegelapan.
Hanya saja mungkin engkau tidak mampu melihatnya.

 

Catatan:

mengenali orang yang menyayangimu adalah sederhana,
jika kamu sedang bahagia, ia menunjukkan turut bahagia,
jika kamu sedang tidak bahagia,
ia mencoba membangkitkan kebahagiaanmu,

jika kamu memberi, ia akan memberimu lebih banyak,
jika kamu menolak pemberiannya, ia merasa sedih.
Jika kamu direndahkan, ia akan marah.
Jika kamu ditinggikan, ia mengabarkan ke sahabat-sahabatnya.
Jika ada yang menyakitimu, ia ikut tersakiti.

Jika ia menyayangimu,
ia akan mencari cara mewujudkan rasa sayangnya itu.

:::di tepi hujan sepanjang hari di awal tahun 2012:::

Puisi Alra Ramadhan: Secuil Perjalanan

pengembara
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com

Sawah

 

Sawah hijau..

Sawah kuning..

Sawah cokelat..

Kereta laju tuju Jakarta..

 

Daun hijau..

Daun kuning..

Daun cokelat..

Diam di tempat enggan berkata..

 

Rumah-rumah hijau..

Rumah-rumah kuning..

Rumah-rumah cokelat..

Pagi muram dari balik jendela senja..

 

(Cirebon-Cikampek, 28 April 2012)

Sejajar Empat Rel

 

Pada rel yang berjajar..

Pada harap yang bersandar..

Ada kereta yang melaju..

Ada langit yang mulai biru..

 

Empat jalur berjajar..

Selepas gudang tua,

tiga menyatu, satu membuntu..

 

(Cirebon-Cikampek, 28 April 2012)

—-

Tentang Jalan

 

Andai jalan aspal kecil itu bisa bicara,

ihwal apa hendak ia kata?

Andai jalan aspal kecil itu bisa meratus,

pedang terhunus?

suara ketus?

atau Yang Kudus?

 

(Cikampek-Karawang, 28 April 2012)

Ratu Rosari

 

Aku berkata tentang hati yang terbelah empat..

Cinta yang terbagi-bagi.. Mungkin..

Namun cinta sudah tertambat..

 

Mendung menyelimut,

kabut melumut,

juga wajah yang cemberut..

 

Di bawahku ada dua mawar..

Satu kuncup, satu mekar..

Dengan dua daun sejajar..

 

Di atasku satu mawar seribu kelopak..

 

Sekelilingku abu-abu, samar tampak..

 

(Karawang-Bekasi, 28 April 2012)

—-

Dari Jendela Kereta Senja

 

Yang tertinggi bukan lagi daun pohon..

Lebih tinggi kubah menara masjid,

tiang gantung kabel listrik,

kemudian cerobong pabrik..

 

(Cikarang, 28 April 2012)

 

Di Jatinegara kereta berhenti laju..

Masih berapa stasiun lagi aku?

Berapa lama lagi aku menunggu?

 

(Jatinegara, 28 April 2012)

 

*) Alra Ramadhan, lahir di Kulon Progo, tinggal di Malang sebagai Mahasiswa Teknik Universitas Brawijaya. Selengkapnya: @alravox, atau alravox.wordpress.com

Doa Hari Kelahiran

Puisi Kirana

pendosa dan pendoa
Gambar diunduh dari images.sodahead.com

Tuhanku, Terima kasih telah memberiku umur cukup panjang sampai saat ini. Terima kasih telah melimpahiku dengan nikmat yang berlebih, keluarga yang hebat, teman-teman yang luar biasa, serta…orang-orang baru dalam hidupku.

Tuhanku, mungkin aku bertemu denganMu setiap hari dalam doa-doaku, tapi mungkin aku tidak mengucapkan dengan khusyuk betapa aku berterima kasih atas semua yang telah Kau berikan kepadaku, terutama kesempatan untuk belajar mengenai kehidupan melalui jalan yang telah Kau pilihkan untukku. Lurus maupun berliku.
Tuhanku, tahun lalu begitu banyak yang telah terjadi dalam hidupku. Jujur mungkin tahun lalu adalah tahun terberat sepanjang hidupku sampai saat ini. Baik karena masalah masa depan, keluarga dan cinta. Aku tahu Kau bergerak dengan cara yang misterius, dan entah bagaimana aku merasa mulai memahami semua kesulitan yang ada kemarin sebagai suatu caraMu untuk menjadikanku seseorang yang lebih baik dalam berbagai hal.
Tuhanku, Kau menemukanku dengan orang-orang baru dalam hidupku, menghantarkanku pada kehidupan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, menamparku dengan pengalaman-pengalaman yang begitu menyentuh, menyadarkanku akan kehidupan superficial yang selama ini aku jalani. Membuatku lebih sangat bersyukur dan menyadari besarnya nikmat yang ada dalam hidupku. Apakah aku menjadi seseorang yang lebih baik karenanya?? Aku sangat berharap hal itu terjadi.
Tuhanku, Terima kasih,terima kasih atas semuanya. Terima kasih atas kesempatan yang telah Kau berikan untukku di sepanjang kehidupanku. Tolong terus bimbing aku, arahkan aku, tegur aku, lindungi aku, dan bantu aku untuk terus mengingat bahwa aku sangat mencintaiMu dan membutuhkanMu…
Tuhanku, bila tidak terlalu merepotkan, dengan caraMu, tolong sampaikan pada orang-orang tercinta dalam hidupku bahwa aku sangat menyayangi mereka. Mungkin caraku tak dapat mereka mengerti atau malah dapat mebuat mereka salah paham akan maksudku. Aku masih terus belajar menjadi orang yang lebih baik dan lebih pengasih kepada orang-orang di sekitarku. Jadi untuk saat ini aku hanya dapat meminta Kau membukakan jalan ke hati mereka, baik keluargaku, sahabat-sahabatku, teman-temanku dan orang-orang yang selintas bertemu dalam hidupku namun memberikan dampak kecil maupun besar dalam hidupku, untuk membiarkan mereka tahu bahwa aku mencintai mereka dan sangat menghargai mereka dalam hidupku.
Tuhanku, untuk seseorang yang ada saat ini, baik dia akan menjadi seseorangku di masa depan maupun hanya sesaat saat ini, tolong beritahu dia bahwa aku menyayanginya. Aku menghargai keberadaannya dalam hidupku dan dengannya aku merasa sangat bahagia. Bantu dia untuk mengerti aku sebenarnya, karena sepertinya terkadang dia tersesat untuk mengetahui aku yang sesungguhnya. Bantu dia mengerti, bahwa dalam kekerasan, keacuhan dan ledakan emosionalku aku hanya butuh dia selalu menyayangiku dan ada untukku. Mungkin dia tak akan mengerti aku seutuhnya sampai kapanpun, tapi aku hanya butuh dia mau untuk berusaha mengerti sebagaimana aku terus berusaha untuk memahami dia dan ada untuknya. Bahwa dalam setiap keraguanku untuk bersamanya, setiap itu jugalah aku berdoa agar Kau menghapus keraguan itu. Bahwa setiap aku merasa dia ragu padaku, saat itu jugalah aku berdoa agar Kau yakinkan dia. Bahwa saat bersamanya aku merasa menjadi seseorang yang lebih baik, aku berdoa padaMu agar dia menjadi seseorang yang lebih baik karenaku. Bahwa setiap aku berkeluh kesah mengenai sikapnya, sesaat setelah itu aku menyesal karena tidak cukup berterima kasih atas semua usaha yang telah dia buat untuk menyayangiku. Bahwa saat aku berfikir seandainya dia memang bukan untukku, aku sangat-sangat berdoa dengan siapapun dia, dia akan bahagia. Sebagaimana dia sudah membuatku bahagia selama ini. Bahwa saat aku berfikir seandainya aku bukan untuknya, seseorangku di masa depanku memiliki kebaikan hatinya, kesabarannya, kepintarannya dan kehangatannya. Tuhanku, Aku berjanji untuk berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Selama Kau membimbingku Tuhanku terkasih, aku tahu aku akan baik-baik saja.

Penuh Cinta, Gadis yang Merayakan Hari Kelahiran

Dobo, 17 February 2011
Kirana: Hanya seseorang yang kadang tersesat dalam alam pikirannya dan menemukan jalan keluar melalui goresan-rangkaian kata.

Belum Ada Judul

Puisi Dewi Nawangwulan

tetes air mata
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com
pada benderangnya siang yang gempita..
di heningnya malam yang senyap
aku akan selalu mengingatmu..
tiada henti aku merinduimu sayang

burung merpati di angkasa menukik turun membawa kabarmu
kudengar kamu sedang murung melamunkanku..
Kurasakan jua kamu merintih merinduiku sayang..

angin berhembus lembut sepoi
menyapu sampai jantungku..
kudengar degup jantungmu
yang berdetak menyerukan namaku selalu..

cintaku
dalam kerinduanmu
selalu aku merinduimu..
dalam tangis harapmu
selalu kuteteskan air mata untukmu

sabarlah cintaku
hari indah itu segera tiba
satu purnama lagi sayang..
kau dan aku akan satu dekapan hangat lagi..
satu purnama lagi
kita akan bersatu dalam rumah cinta kita
rumah cinta yang selalu kamu rindu dan aku damba
sukoharjo,04 juni 2012

Langit Tua yang Kita Bunuh dengan Sebilah Dahaga

Puisi Diana Firefly

Sepi itukah kamu?
Seusai gema raya semesta membuai mata, telinga dan celana.
Aku gigil ngilu.
Terbelenggu bahu membatu.

Luka itukah kamu?
Seusai kutelanjangi sebuah dada dengan air mata.
Lecut bekas bibirmu.
Kamu tergugu, aku termangu.
Kamu membisu, aku sudah beku.
Di kamar nomor enamsembilan, kita sama memunggungi nyata.
Lalu lihatlah, langit tua yang kita bunuh dengan sebilah dahaga.

di tepi langit malam
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com

Penulis: Dianna Firefly, berusia dua puluh tahun namun terkadang merasa telah hidup ratusan tahun lamanya. Tentu usia seperti itu tidak terbukti karena usia twitternya saja baru dua tahun. Twitter? Intinya mau promosi, jangan lupa follow @DiannaFirefly ya.

Melancholic Rahvana

Puisi Paulus Catur Wibawa

Rahwana menundukkan kepala,
telah dicukurnya rambut dan bulu-bulu lembut pada dada perkasa
dipangkasnya pula semacam cinta

      yang menjalar dan menjulur di dinding hatinya yang luka

“kesepian dan kesedihan adalah milik manusia,
bahkan jika ia adalah penjahat yang tampak terasing dari air mata”

Maka digapainya pena dan ditulisnya untuk Rama,

Telah kucium harum rambut Shinta
tapi wanginya justru membakar Alengka—negeri
yang selama bertahun-tahun kubangun dalam mendung dan hujan tak reda-reda—
kini kukembalikan ia seutuhnya
dengan rambut panjang, leher jenjang
dan cintanya yang perawan
Kau telah menang
bahkan sebelum perang
Tapi aku pun punya kemenangan Yang kamu tak perlu paham, Selamat berjuang
Aku tiba-tiba rindu pada kematian
sesuatu yang pernah dengan keras kau perjuangkan
tapi tak pernah mampu kau dapatkan
Sampai aku mencair  menjadi darah dan menyelusup di kaki pegunungan
tempat Hanuman bertapa, membaca dan menulis sajak cinta

rama dan sinta
Gambar diunduh dari http://www.wisatamelayu.com

Kematian (T)uhan

Puisi Dianna Firefly
kenaikan isa
Gambar diunduh dari blogs.elca.org
Kini (T)uhan hanya sebaris kalimat yang kau gunakan sebagai mantra pembunuh dan mereka adalah tumbal yang darahnya menjadi perlambang bahwa kebenaran sudah mati. (T)uhan pun ikut mati. Aku melihat (T)uhan mati di genangan darah yang keluar dari tubuh mereka. Mati dengan keji dan (T)uhan tidak pernah bangkit sejak hari itu. (I)a tidak pernah menuju surga.
Satu persatu manusia mati dalam raganya yang hidup. Mereka berkeliaran seperti anjing-anjing tidak bertuan. Mengais alasan sebagai pembenaran. Menggerogoti tulang belulang yang ia anggap lawan. Kadang menangis tanpa air mata lalu tertawa hingga gila.
Sejak kematian (T)uhan yang entah. Aku berdiri di bawah tiang salib. Merenungi apa yang kuimani. Berkali-kali mencari. Mencari sesosok manusia yang dua ribu tahun lalu disalibkan. Tiang salibnya kini dijadikan kayu bakar. Apakah yang telah (T)uhan korbankan? Ada atau tidak. Apakah yang aku mau dari sesuatu yang kukehendaki? Tentang (T)uhan dan hidup.
Dunia telah banyak berubah. Dua ribu tahun sejak saat itu berlalu, bahkan lebih dari itu. Para ilmuwan menghitung umur bebatuan –mereka lebih suka menghitung umur bebatuan daripada mengingat umurnya sendiri– dan mendapatkan hasil bahwa bumi berumur milyaran tahun, (T)uhan dimana selama itu?
(T)uhan baru saja lahir, tepat pada saat (K)itab pertama diturunkan. (K)itab yang entah. Melayang-layang dari langit kepada orang (t)erpilih, yang memang terpilih atau menganggap diri menjadi pilihan.
(K)itab lain pun bermunculan. Mungkin, itu terjadi saat (T)uhan lahir berkali-kali. Reinkarnasi. Dalam rupa dan watak berbeda. Lahir di bangunan mirip kastil dan berlonceng, di bangunan yang selalu malam penuh bulan bintang, di bangunan yang terbuat dari batu-batu, di bangunan yang selalu diasapi, di patung-patung, di gunung, di lembah dan ngarai, dimana saja (T)uhan-(t)uhan mau lahir. Toh, (I)a adalah (T)uhan kan?
(T)uhan pun hidup bersama manusia. Bergandengan tangan, tertawa ria. Hanya saja, (T)uhan terkadang menjadi pencemburu, tamak, dan tidak berbelas kasih. Manusia apa lagi? Akhirnya mereka berebut harta warisan: (s)urga. (T)uhan melawan (T)uhan, (T)uhan melawan manusia. Manusia melawan manusia.
Aku menyaksikan semua itu. Aku diam saja. Aku menderita. Setiap luka mereka adalah lukaku, begitu juga tangisnya. Namun aku tidak peduli, tidak bisa berbuat apa-apa. Aku bukan Tuhan meskipun aku diper(t)uhankan.

Puisi-Puisi Paulus Catur Wibawa

danmedhurst.com
Foto Anna, Maria, Venice by danmedhurst.com, diunduh dari flickr.com

Doa dalam Sebotol Waktu

Aku tak pintar bikin doa yang merdu
Jadi kumulai doaku dengan
“Aku tak bertanya kenapa cuaca begini buruk, Ibu
Tapi beri aku gerimis yang manis
Dalam sebotol waktu
Tegukkan di leher ayahku yang sedang sakit rindu”

Kututup dengan “Amin” sebelum kutitipkan padamu

Lalu kita menunggu
Selagi kemarau gigih meyakinkan kita bahwa langit menyimpan begitu banyak cahaya
Doa kita mungkin akan sampai di sana
Sebagai air mata yang mengental dalam sebongkah mega

Dan masih saja kita menunggu
entah sampai kapan
sampai doa kita pulang bersama hujan
sampai kudengar tawa ayahku dari seberang
sampai kututup doaku dengan “Terima kasih, Ibu” padamu

sementara engkau masih saja bertahan menunggu
di dalam gua batu

***

Seorang Anak di Depan Patung Maria

Tak rela melihat gadis yang dipujanya
Berdiri terus di dalam gua, letih, kurang tidur dan tampak merana
Peziarah kecil datang menyerahkan pensil dan buku tulisnya

Tiap pagi kutulis kata-kata pak guru di sini
Kalau sudah siang dan pak guru mulai membosankan
Aku selalu tertidur di atas buku ini
Tapi kini buku tulis ini untukmu
Agar kau bisa menulis pesanan mereka yang memohon-mohon padamu Agar kau bisa tidur dengan tentram kalau lilin doa dan bunga-bunga Mulai membosankanmu