Semua tulisan dari Ragil K

Sebuah titik di jagat semesta.

Perangkap

Cerpen Aditya Sylvana Day

aditya silvanaPerempuan bertubuh ramping itu berdiri di tepi sungai,…bukan..bukan hanya di tepinya. Kakinya semata kaki menjejak dalam air sungai yang deras. Pasti hujan tadi hulu. Kepalanya menunduk, rambut ikalnya tergerai menutup wajahnya dari pandangan orang seandainya ada yang melihatnya saat itu. Tapi tak ada orang lain malam ini, dia hanya sendirian di tepi sungai Bahau, di jantung Kalimantan. Matanya menatap golak arus yang kuat itu. Gemuruhnya air memenuhi telinganya, hatinya, dan rasanya.

Ada selembar kertas tergenggam di tangan kanannya, tergenggam kuat, tercengkeram, segala kegeraman hatinya seakan terwakili oleh cengkeraman jemarinya pada kertas itu. Ia menerimanya tadi siang, sepucuk surat yang dibawa oleh dispatch, dibawa dari dunia luar yang riuh, untuk mengusik ketenangannya dalam belantara ini. Surat dari Mayang.
Mayang! Setiap kali Mayang menulis surat kepadanya, selalu akan ada ketenangannya yang terusik. Selama ini dia selalu mampu menepiskannya. Ya, Mayang yang selalu cemburu padanya, selalu saja mencari dan mengorek hal-hal yang diperkirakannya akan mampu menghancurkan hatinya. Mayang suka bercerita tentang kesuksesannya dalam karir atau teman-teman kuliahnya yang lain, untuk dibandingkannya dengah dirinya sendiri yang seakan tercampak dalam pekerjaan sepele dalam belantara ini. Atau tentang mantan kekasihnya, yang sekarang hidup berbahagia dengan keluarganya setelah memutuskan hubungan dengannya. Atau tentang pekerjaannya yang lama, yang bisa dianggap suatu puncak kesuksesan, yang sekarang telah diambil alih oleh Mayang. Selama ini, semua pancingan ini tak pernah benar-benar berhasil mengusiknya. Mayang tak tahu bahwa belantara dan pekerjaan sederhana sebagai peneliti lapangan justru mendatangkan kepuasan dan ketenangan hati baginya.
Tapi tidak kali ini. Surat yang terakhir ini membawa kebekuan pada hatinya. Satu pukulan telak pada hati yang sebenarnya rapuh, yang selama ini tersembunyi rapat di balik sikap tegas gagah yang tampil di luar. Suatu kabar tentang pengkhianatan. Ah, sebenarnya dia tak terkejut mendengar kabar ini. Surat Mayang ini hanya merupakan konfirmasi dari kecurigaannya yang semakin lama semakin mengusik. Tentang cinta dan kesetiaan, dari lelakinya, dunianya, semestanya.
Sudah cukup lama ia merasakan perubahan sikap Ernanda, kekasihnya itu. Bagaimana ia menghindarinya, menutup diri, dan membuat berbagai alasan untuk tidak bertetap pada komitmen cinta mereka. Kebingungan dan kepedihan itu yang mendorongnya untuk menerima tugas yang membawanya kembali ke belantara Kalimantan, ke Kayan Mentarang. Namun, ia masih berharap, karena memang belum ada kepastian dari Ernanda mengenai hubungan mereka. Ia masih berharap. Karena itu ia menyurati Mayang, bertanya pada perempuan itu tentang apa yang diketahuinya tentang Ernanda. Dan Mayang pun dengan penuh kepuasan memenuhi permintaannya dan mencari tahu
Surat Mayang ini bercerita dengan rasa sukacita yang tak tersembunyi, tentang Ernanda dan perempuan barunya. “Benar firasatmu”, kata Mayang, “Ernanda menyelingkuhimu”. “Ia punya kekasih baru,” seakan tersenyum Mayang menulis, “seorang perempuan yang lebih daripadamu dalam segala hal.”. Mayang juga menulis dengan puas bahwa sebenarnya Ernanda tak menyembunyikan hubungannya dengan perempuan itu, mereka terlihat kemana-mana bersama. Bahkan baru-baru ini, mereka menghabiskan seminggu bersama berlibur di suatu tempat yang teramat romantis. Beberapa teman kita melihat mereka, begitu laporan Mayang. Lalu Mayang bercerita dengan penuh detail yang bersemangat tentang apa yang dilakukan oleh Ernanda pada kekasihnya yang cantik itu. Dia tahu Mayang tak berdusta padanya. Perempuan itu sangat ingin menghancurkan hatinya, dan kabar tentang Ernanda adalah kebenaran yang akan menghancurkannya. Dan memang, dia tahu itu semua benar, dia merasakannya, di jantungnya, di rasanya.
Dengan pahit diremas-remasnya surat dalam genggamannya, lalu dijatuhkannya ke dalam air sungai yang dengan deras menyapunya ke hilir. Lalu, perlahan, entahlah…rasa dingin yang membekukan hatinya mereda, yang tersisa adalah nir-rasa. Sungguh, ia tak mampu lagi merasakan apa-apa. Dengan tiadanya rasa, perlahan kesenyapan semu menyelinap.
Gemuruh sungai tak lagi tertangkap telinganya, sinar perak purnama tak lagi tertangkap matanya. Seakan dia melangkah ke dalam dunia mati tanpa lebih dulu melewati gerbang kematian itu sendiri. Tanpa merasa, dia melangkah maju, menuju ke kedalaman sungai yang arusnya tengah bergelora itu. Selangkah lagi, dan lagi. Perlahan air naik ke pinggangnya, dan arusnya yang kuat menyapu kakinya, mengangkatnya, menariknya. Dan ia tak melawannnya. Biarlah…….
Tiba-tiba sepasang tangan kekar menariknya keluar dari pelukan sungai itu, menyentaknya, dan kemudian membungkusnya dalam rangkulan yang kuat. Hangat.
“Ibu! “suara yang dikenalnya. Dia tak menjawab, tak bisa, tak ingin memecah heningnya. Matanya bertemu dengan sepasang mata yang bersinar kuatir. Lukas. Asistennya.
“Ibu Desi, kita ke rumahku ya, “ kata Lukas lagi. Dia masih diam, tapi membiarkan tubuhnya dibimbing separuh diseret menuju ke rumah yang letaknya tak jauh dari tepi sungai. Lukas harus menggendongnya menaiki tangga takik ke atas rumah panggung itu, karena otaknya masih belum bisa memerintahkan kakinya untuk bergerak
Sesampai di dalam rumah, pemuda kekar itu tampak agak kebingungan melihat bajunya yang basah kuyup, tapi akhirnya membiarkannya dan hanya mencoba mengeringkannya dengan handuk dan kemudian membungkusnya dengan selimut. Lalu diambilnya secangkir arak beras ketan, dan meminumkannya. Perlahan arak itu mendatangkan rasa hangat ke perutnya dan kemudian menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan seiring dengan rasa hangat itu, kembali juga cengkeraman dingin terasa dalam hatinya. Air matanya menetes. Tak tertahankan, isaknya pun pecah. Ditekuknya tubuhnya untuk mencoba meredakan sakit yang menikam di ulu hatinya.
Mula-mula Lukas hanya memandangnya dengan bingung, tapi kemudian lelaki itu meraihnya dalam pelukannya, memelukkan wajahnya ke dada bidangnya dan membiarkannya menangis terisak di sana. Dan ia menangis. Seperti terlepas bendungan dukanya, mengalir. Lukas memeluknya lembut, sesekali tangannya membelai rambut ikal perempuan itu atau mengelus punggungnya. Hatinya terenyuh mendengar isak penuh kepedihan itu, isak yang tak pernah diduganya dapat lahir dari perempuan tegar yang selama ini dikaguminya.
Hampir sejam berlalu, ketika akhirnya perempuan itu menarik dirinya keluar dari pelukan Lukas. Matanya yang merah bengkak menatap pemuda itu dengan penuh terima kasih dan juga malu.
“Terima kasih Lukas, “katanya, “Maaf ya, kemejamu jadi basah.”
Lukas tersenyum. “Tidak apa-apa, Ibu”
Lukas memang selalu sopan terhadapnya, selalu menyebutnya dengan panggilan Ibu Desi.
Perempuan itu, Desiree Wila Riwu, menyandarkan tubuh letihnya di dinding, lalu menekuk lututnya dan memeluknya. Dia menghela napas panjang dan menatap Lukas. Mereka duduk di lantai di atas anyaman tikar rotan. Seperti lazimnya rumah-rumah panggung di kampung Dayak ini, tak ada meja kursi di dalam rumah ini, rumah Lukas Anau. Pemuda itu duduk di hadapannya, memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Dia pertama kali berkenalan dengan Lukas, hampir sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu usianya baru 23 tahun, baru dua tahun lulus dari kesarjanaannya. Lulus suma cum laude dari sebuah universitas terkemuka di negeri ini. Dia menerima pekerjaan ini, yang membawanya ke jantung belantara Kalimantan ini dengan tujuan untuk memakai pengalaman dan informasi yang akan diperolehnya sebagai bekalnya untuk mewujudkan rencananya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dunianya penuh rencana, tertata menuju jenjang kesuksesan.
Lukas sendiri waktu itu baru berumur 18 tahun, tak lulus SMA. Di kampungnya belum ada sarana pendidikan menengah atas, sehingga dia harus pergi ke ibukota kabupaten untuk itu. Namun hanya sempat setahun di sana, dia harus kembali ke kampungnya karena keluarganya tak mampu menopang kehidupannya di kota dan juga tenaganya dibutuhkan untuk berladang. Selain petani peladang, Lukas, yang badannya tegap dan jauh lebih tinggi dari rata-rata pemuda di kampungnya, terkenal sebagai pemburu yang cakap. Anjing-anjing peliharaanya terkenal tangkas dan terlatih menggiring binatang buruan. Desiree tiba di kampong itu di antara musim tanam dan musim panen, di mana kegiatan perladangan agak sela, dan Lukas dalam waktu luangnya di pekerjakan oleh lembaga tempatnya bekerja sebagai asistennya. Tugasnya adalah sebagai penterjemah, penunjuk jalan, dan pelindungnya
Sejak awal pertemuan, ada rasa saling menghormati yang tumbuh di antara keduanya. Desi tak pernah memandang rendah pada Lukas, yang kalau memakai kacamata orang kota, adalah seorang yang tak punya masa depan, seorang yang seumur hidup tak akan pernah keluar dari kehidupannya sederhana dan terbelakang ini. Dia melihat bahwa Lukas mencintai kehidupannya itu, dan bahwa cita-cita sederhananya adalah kelak akan memiliki ladangnya sendiri, ditemani oleh istri dan anak-anaknya. Walaupun hanya lulusan SMP, Desi melihat kecerdasan alami pada Lukas. Sebaliknya, Lukas tak dapat menyembunyikan kekagumannya pada perempuan kota yang tangguh ini. Biasanya, para peneliti lapangan dari kota menjadi bahan lelucon para penduduk desa karena kemanjaannya dan ketidakmandirian mereka di alam liar ini. Desi berbeda. Dia merasa nyaman di tengah keliaran ini. Perjalanan merambah rimba, menerjuni sungai, mengarungi lumpur dilakukannya dengan tanpa mengeluh. Dia pula satu-satunya peneliti dari kota yang mampu mencari dan menemukan arah dengan tepat di tengah hutan, hanya berpandukan matahari dan tumbuhan lumut pada pohon
Pasangan peneliti Desiree dan Lukas segera terkenal sebagai pasangan yang kompak dan sangat efisien. Keduanya saling mengambil pelajaran dari yang lain. Lukas mengajarinya mengenai bagaimana bertahan hidup di liarnya belantara, sementara ia mengajari Lukas berbahasa Inggris, suatu keahlian yang akan meningkatkan nilainya kelak dalam pekerjaannya sebagai asisten bagi peneliti-peneliti asing.
Rekan-rekan peneliti yang lain sering menggoda kedekatannya dengan Lukas. Memang sudah menjadi rahasia umum, bahwa antara peneliti dan asistennya yang berbeda jenis, sering terjadi hubungan yang lebih dari sebatas relasi professional. Banyak yang menduga bahwa antara dia dan Lukas juga demikian. Kesempatan bukannya tidak ada, seringkali dalam perjalanan, mereka harus menginap berdua dalam tenda di tengah hutan. Dan bukan sekali dua kali, dia menangkap Lukas memandangnya dengan tatapan yang sulit dimengerti. Namun, sedari dini Desi menegaskan bahwa dia tak akan memanfaatkan kedekatan mereka untuk sekedar pemuasan gairah. Baginya, hubungan seperti itu hanya akan terjadi bila ada cinta. Tak ada pilihan lain. Dan Lukas menghormati pendiriannya. Tak pernah sekalipun ia bertindak tak sopan, dan sejak awal hingga sekarang ia selalu menyapanya dengan sebutan : Ibu Desi.
Sepuluh tahun kemudian, dibawa oleh hati yang sarat, dia kembali ke Kayan Mentarang, dan di sini mereka bertemu lagi, duduk berhadapan, dilatarbelakangi gemuruhnya sungai Bahau. Desi menghela napasnya.
“Maafkan aku, Ukat, “ dia menyapanya dengan nama kecilnya, “entah apa yang membuatku sebodoh itu tadi. Tak pernah kuniati.”
Lukas mengangguk. Matanya tajam menatapnya.
“Surat yang dibawa dispatch tadi yang membuat Ibu resah, “katanya. Bukan pertanyaan.
Desi mengangguk.
“Berita buruk?” tanyanya. Desi menimbang sejenak, lalu mengangguk.
“Surat itu dari Mayang, temanku di Jakarta,”jawabnya.
Lalu lama dia terdiam. Dia tak terbiasa mengungkapkan perasaannya kepada orang lain. Tak terbiasa berkeluh kesah. Sikap yang membuat banyak orang menganggapnya sebagai perempuan tegar, bahkan dingin. Tapi dia tahu, ketegaran itu hanya tameng pelindung hatinya, yang sebenarnya rapuh dan telah pernah terluka parah. Tapi tameng itu tak cukup. Kali ini hatinya kembali berkeping.
“Surat ini membawa kabar tentang pengkhianatan, Ukat,”katanya. “Pengkhianatan kekasihku.”
“Itu membuatmu gelap mata?” Lukas menatap lekat matanya. “Pasti Ibu sangat mencintainya.”
Desi mengangguk. Dialihkannya matanya dari tatapan lelaki itu, dan dipandanginya lampu petromax yang digantung Lukas di tengah ruangan.
“Lelaki itu pasti seorang yang bodoh, melepaskan cintamu,”kata Lukas. “Seorang bodoh tak pantas menerima kehormatan pengorbanan hidupmu!”
Desi menggeleng.
“Kamu tak mengerti Lukas. Aku mencintainya secara total. Seluruh hidupku aku sandarkan padanya. Dan sekarang itu sudah berlalu. Juga hidupku.”
Tiba-tiba Lukas bangkit dari duduknya, lalu pindah duduk di sisinya. Tangannya meraih bahu Desi, dan kembali menariknya ke dalam pelukannya.
“Ibu dari dulu selalu begitu, selalu total dalam segala hal. Aku mengagumimu sejak dulu. Akupun sudah mengira, dalam bercinta pasti Ibu juga demikian. Aku sering membayangkan dan mencemburui lelaki mana yang akan menerima cintamu”
Desi menolehkan kepalanya menatap wajah lelaki muda itu, yang kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
“Tapi ada satu hal yang Ibu lupa. Yaitu mencintai dirimu sendiri secara total”
Hati Desi tercekat.
“Ibu ingat Sarin? Anak Pak Njau yang rumahnya paling hulu?”
“Tentu,”sahut Desi. “Bukankah dia tunangananmu dulu? Ah, aku malah belum sempat bertanya tentangnya.”
“Aku dulu mencintainya seperti Ibu mencintai kekasihmu. Seluruhnya hanya untuk dia dan tentang dia. Lalu ketika aku menemani peneliti Inggris itu ke hulu selama dua bulan,…ketika aku kembali Sarin telah mengandung anak dari teman seperburuanku.”
Dia terdiam matanya menerawang jauh. Lalu ia menghela napas dan melanjutkan ceritanya.
“Aku hampir melakukan apa yang tadi hampir Ibu lakukan. Aku masuk ke hutan berhari-hari, tanpa mengindahkan bahaya. Aku mencari gerbang kematian. Tapi, tidak ketemu.”
Lukas menoleh dan tersenyum kepada Desi.
“Mungkin karena aku terlalu ahli di hutan ya? Tapi yang jelas, kutemukan bahwa diriku masih memiliki diriku sendiri. Kupikir Sarin lah duniaku, dan bersama hilangnya, hilang juga tempat berlabuh. Tapi, tidak. Aku juga adalah duniaku. Aku berharga, kan? Ibu juga dulu yang mengajariku mengenal nilaiku.”
Kembali matanya menemukan mata perempuan itu yang masih sembab bekas tangisannya tadi.
“Aku tahu, dulu kebanyakan peneliti dari kota memandang rendah padaku yang hanya jebolan SMA. Tak bermasa depan, kan? Orang hutan. Tapi Ibu menunjukkan padaku bahwa, apa yang aku punyai, apa yang ada padaku, berarti dan berharga.”
Tiba-tiba lelaki itu menundukkan wajahnya ke arah Desi, dan dengan lembut ditautkanya bibirnya pada bibir perempuan itu. Sejenak Desi tersentak, belum pernah ia membiarkan siapapun menciumnya kecuali kekasihnya. Tapi kemudian kehangatan nafas Lukas menyelinap menghangatkan nafasnya, dan dia pun menyerahkan dirinya pada kelembutan ciuman itu.
“Kamu pun berarti, Desi. Bagiku, tapi terlebih bagi dirimu sendiri, “Lukas mendesahkan kalimat itu, ketika dia sejenak melepaskan tautan bibir mereka. Lalu dengan lembut kecupannya dialihkannya ke mata sembab perempuan itu, lalu ke lehernya, dengan gairah yang semakin membakar. Desi tak menahannya, dibiarkannya tubuhnya hanyut dalam arus yang tak kalah kuatnya dengan arus banjir sungai Bahau.
Sekian lama, ya, bahkan sepanjang hidupnya ia percaya akan kesakralan suatu percintaan. Selama ini, hanya dalam cinta ia mau menyerahkan diri terhadap gairah ragawi. Tapi cinta telah menkhianatinya berkali-kali. Ah, malam ini diserahkannya tubuhnya semata untuk gairah itu sendiri.
Dirasakann dan dinikmantinya sentuhan bibir Lukas, yang kadang lembut, kadang penuh desakan yang membara. Dibiarkannya jemarinya yang kasar itu menyusuri sekujur tubuhnya dan membangunkan jutaan sensasi.
Lukas menghentikan cumbuannya hanya untuk mengangkat tubuh rampingnya ke kasur tipis di sudut kamar sederhana itu. Lalu dengan tanpa ketergesaan melepaskan pakaian basahperempuan itu, satu persatu, sehingga dia terbaring polos di hadapan pemburu tampan itu. Lelaki itu lalu memandangi tubuhnya dengan keterpesonaan yang terbuka, tak sekejabpun matanya meninggalkan tubuhnya, sembari ia sendiri melepaskan diri dari kungkungan pakaiannya. Desi merasakan tatapan itu memuja dan mencumbui tubuhnya bahkan lebih mesra daripada cumbuan bibir dan jemarinya tadi
Malam ini, ia mencampakkan apa yang selama ini dipercayainya, mencampakkan kesakralan cinta dan membiarkan tubuhnya yang berbicara. Malam ini dia memadukan gairahnya dengan seorang lelaki yang bukan kekasihnya, bukan yang dicintainya. Malam ini tak terpikirkan konsep dosa dan tabu, apalagi kesetiaan terhadap seorang lelaki bernama Ernanda. Malam ini hanya ada Desi dan Lukas, dan sepasang tubuh yang masing-masing saling membutuhkan, terdesak oleh gairah yang tiba-tiba timbul tanpa dirancang, dan tanpa dicegah. Malam ini, Desiree mengenyahkan segala kenangan, segala keinginan yang utopis, segala rancangan yang rasional, ketika lelaki itu menyetubuhinya dan membawanya ke puncak-puncak ekstasi yang tanpa kekangan…ah.
Di subuh menjelang pagi, mereka mengulangi percintaan mereka lagi dengan intensitas yang sama, tapi dengan penuh kelembutan yang juga bernadakan kesedihan. Desi tahu, kejadian malam ini tak akan terulang lagi. Walaupun tubuhnya merasakan ekstasi dan kepuasan, ada kekosongan yang menggigit dalam jiwanya. Lukas bukan Ernanda, bukan cintanya, bukan semesta keberadaannya. Lukas tak bisa mengisi kekosongan yang menganga yang ditinggalkan Ernanda itu. Ada perasaan bersalah yang tak dapat dicegah menyelinap masuk, dia merasa seakan memanfaatkan Lukas dan gairahnya untuk mengobati hatinya yang luka.
Dalam pelukan Lukas, setelah itu orgasme yang melayangkan tubuhnya, Desi mengucapkan selamat tinggal pada pemburu gagah itu. Dikatakannya rencananya untuk kembali ke kota bersama perahu dispatch siang nanti. Diceritakannya keinginannya menjumpai Ernanda untuk meminta ketegasan tentang hubungan mereka.
“Tapi aku akan tegar, Ukat,”janjinya, “aku akan menghargai diriku lagi.”
Lukas terdiam sejenak, lalu mencium bibirnya lembut.
“Selamat jalan, Ibu, jaga dirimu, kau berharga bagiku”.

Kejadian

Puisi Binandar Dwi Setiawan

Ternyata bukan hanya segala yang kau sadari saja yang diperhitungkan oleh aturan aturan kejadian, tetapi juga untuk segala yang tidak kau sadari, untuk segala yang kau anggap tidak ada, untuk segala yang kau pikir tak pantas dijadikan pertimbangan aturan kejadian. Bajingan, semuanya terlalu tidak terjangkau akal untuk terjelaskan. Aku lukis begini saja, mereka – faktor faktor itu, segala yang kau tahu, segala yang tidak kau tahu, segala yang kau kenal, segala yang tidak kau kenal, segala yang kau anggap ada, segala yang kau anggap tidak ada- bagaikan para anggota senat yang hendak merumuskan sebuah keputusan saling berebut mengajukan pendapat dan argumen, sedangkan keputusannya sendiri bagaikan kejadian yang terjadi. Sang kejadian, memutlak sedemikian kuat tak bisa kau sanggah, tak bisa kau interupsi.

Mungkin kau bisa mengatur rencana ini itu, tetapi ketika kejadian telah benar benar terjadi pas sempurna sesuai dengan yang kau rencanakan sesungguhnya itu sama sekali tak berhubungan dengan sang rencana yang kau lahirkan. Aku tak sedang menakut nakutimu, tetapi memang begitulah faktanya. Aku tak sedang mengurangi kebesaranmu, tetapi memang kau adalah sesuatu yang kecil, yang bahkan demi kehalusan bahasa maka kukatakan sebagai sesuatu, sejujurnya kau sama sekali bukan sesuatu. Aku mohon, jangan kemudian lantas bertanya, “Siapa aku…?”, kau tak pantas untuk pertanyaan itu.

Ketika kau berdiri, kepalamu hanya akan dipukul untuk kau menunduk, ketika kau menunduk, punggungmu hanya akan dipatahkan untuk kau membungkuk, ketika kau membungkuk, sendi sendimu hanya akan dilepas dari tempatnya untuk kau menyungkur. Ancuuk, memang begitulah faktanya, semakin banyak kehidupan yang kau keras kepalai untuk kau hidupi, semakin banyak pula pilihan cara untuk membunuh kehidupanmu. Maka putuskan segera, apa yang kau pilih, mati dibunuh atau membunuh pembunuhanmu. Iya, menjadi kekallah, itulah impian para pemberani.

Ini bukan tentang penderitaan atau kebahagiaan, bukan tentang pesimis atau optimis, ini tentang kejadian dan ketidakpantasan yang dijadikan menuntut tentukan apa yang terjadi.

Kau tak berarti apapun. Tak menguasai apapun, tak memiliki apapun, tak memberhaki apapun. Ada yang sudah benar benar ada dan tak bisa mungkin disifati dengan ketiadaan, sedangkan kita tak lain hanyalah keadaan yang diingini semata. Maka kaulah wujud keinginan itu, dan bukankah keinginan dalam geraknya yang bagaimanapun tetaplah merupakan pelayan dari yang memilikinya. Semoga kau kini tahu, dan tak dikalahkan oleh tangismu.

Menjadi bebaslah kekasih, jangan pandang para ironi sebagai rantai yang membelenggumu. Sayang , kau memintaku menjadi diriku sendiri, dan kau tahu, satu satunya cara menjadikan aku sebagai diriku sendiri adalah dengan menjadikanmu sebagai dirimu sendiri. Jika kau tahu betapa rindunya aku terlepas darimu, mungkin kau akan segera pergi. Sayangnya yang kau tahu hanyalah bahwa aku begitu mencintaimu, ketahuilah aku, kenalilah aku sekeras kepala aku berusaha mengenalmu. Bahwa aku sesungguhnya menguasai, bahwa aku sesungguhnya memiliki, bahwa aku sesungguhnya memberhaki. Bahwa kau dan aku tak bisa bersatu dan tak bisa berpisah itu benar adanya, tetapi bukankah kau tahu jika fakta itu tetap saja tak mencegahku menantangmu menjadi pemberani.

Hangus Membaca

Gerundelan John Kuan

Sebuah meja bersama bangku, hangus, menjadi arang. Ada sebuah buku tebal di atas meja, putih, mulus tanpa satu goresan. Karya Titarubi ini berjudul: Bacalah! Terbuat dari Yin Yang Lima Elemen, saya duga. Meja dan kursi kayu, paku logam, buku tanah air, dibakar api, melewati perubahan Yin Yang. Sempurna.

Buku dari lempung. Begitulah orang Mesopotamia Kuno menggunakannya untuk menulis Epik Gilgames, puisi perjalanan manusia setengah dewa. Puisi yang setelah melewati beberapa ribu tahun masih hidup di dalam tablet-tablet tanah liat yang tahan bakar, bahkan menjadi jauh lebih kuat setelah keluar dari tungku pembakaran. Mereka memang telah berhasil melewati salah satu musuh bebuyutan buku: api. Tetapi apakah mereka cukup kuat menghadapi api amarah manusia moderen yang kian membara? Apakah masih dapat utuh terkubur setelah rudal-rudal dijatuhkan di atasnya, seperti beberapa ribu tahun yang lalu terkubur bersama Kekaisaran Asiria? Begitukah cara mereka mengelabui waktu?

Ternyata saya salah, buku putih ini bukan terbuat dari tanah liat.

*

Lapangan kecil di depan perpustakaan itu menyisakan satu jendela, tertutup kaca tebal, di bawahnya ada sebuah ruangan, ke empat dinding ruangan itu adalah rak-rak buku kosong. Tidak jauh dari jendela itu ada sebuah kutipan Heinrich Heine: Bakar buku, mungkin adalah petanda awal manusia memusnahkan dirinya. Lapangan ini berada di Universitas Humboldt.

Saya tidak tahu apakah ini benar posisi ruang penyimpanan buku sewaktu pembakaran buku terjadi di sini pada 10 Mei 1933, atau hanya sebuah rancangan untuk memperingati peristiwa itu. Tidak peduli yang manapun, pasti membuat orang yang melihatnya tercengang, hati terasa sekosong rak buku.

Sebuah institusi pendidikan bertaraf internasional merancang sebuah pemandangan begini di depan pintunya, adalah semacam peringatan, semacam keterus-terangan: ” Yang membakar buku di sini adalah murid-murid kita sendiri, segala tindakan pemusnahan budaya, juga memiliki nama dan identitas budaya, maka orang-orang yang bergegas dan berlalu-lalang, jangan terlalu percaya terhadap tempat ini! ”

Kutipan Heine di samping rak buku kosong itu berasal dari sebuah dramanya yang menceritakan tentang pembakaran buku di Spanyol dan Portugis pada abad ke-15: Almansor. Demikianlah, sebuah kutipan dari seorang cendekiawan yang hidup di abad ke- 19 dipakai untuk sebuah peristiwa di abad ke- 20 yang kurang lebih sama dengan yang terjadi di abad ke-15. Membakar buku memang terjadi sepanjang sejarah dan hampir pada semua bangsa yang mengenal tulisan, rak-rak buku kosong membuat saya teringat cerita-cerita kelam selama Revolusi Kebudayaan di Cina. Ada sebuah puisi yang ditulis Liu Shahe berjudul Bakar Buku:

Menahanmu sudah tidak bisa

Menyembunyikanmu juga susah

Malam ini mengantarmu ke dalam tungku api

Selamat tinggal

Chekov!

Kaca mata bulat berjanggut kambing gunung

kau sedang tertawa, kau sedang menangis.

abu terbang asap lenyap terang berakhir

Selamat tinggal

Chekov!

Dia adalah seorang anak tuan tanah, dengan latar belakang begini dapat kita bayangkan bagaimana penderitaan Liu Shahe selama Revolusi Kebudayaan.

Seorang teman berkata pada saya bahwa sekarang mulai banyak orang menggunakan cara ” Revolusi Kebudayaan “, serampangan merekayasa dan menulis ulang banyak kenyataan. Ini adalah sebuah isyarat yang berbahaya, penyebabnya adalah orang-orang tidak berani menggunakan cara yang kokoh dan transparan mempertahankan jejak-jejak sejarah sebuah malapetaka. Saya tidak tahu mengapa terhadap jejak-jejak sejarah begini jarang ada yang berani mengingat, waspada, dan berterus-terang.

Sebuah meja dan bangku hangus, sebuah buku putih polos di atas meja, saya lama menatap gambar yang tampil di dalam layar komputer itu. Kita memang mudah terbakar, meja hangus, bangku hangus, manusia hangus, namun tidak untuk sebuah buku putih polos, dia tidak hangus karena dia kosong, hampa, seakan tiada. Manusia paling suka menggunakan pengetahuan membakar pengetahuan, menggunakan keyakinan membakar keyakinan, menggunakan budaya membakar budaya, dan terakhir akan menggunakan kemanusiaan membakar kemanusiaan. Sebuah buku akan selamat ketika dia dianggap tidak memiliki pengetahuan, tidak berarti, sebuah buku kosong.

Ketika Rabi Haninah ben Teradion sedang dibakar bersama Kitab Taurat oleh tentara Romawi di abad ke-2 Masehi berkata kepada murid-muridnya: ” Aku melihat hanya gulungan saja yang terbakar, sedangkan huruf-huruf berterbangan ke atas ” Seandainya dinding ruang bawah tanah di samping kutipan Heine itu ditaruh rak-rak kosong yang hangus dan diisi dengan buku-buku putih polos, mungkin dapat membuat orang-orang yang melihatnya sedikit lebih waspada.

Atau mungkin membaca sejak awal sudah berhubungan dengan membakar buku, setidaknya hubungan begini sudah ada di dalam mitologi Romawi yang menceritakan Cumaean Sibyl dan buku-buku ramalannya tentang kejayaan Roma.

Semasa gadis, Cumaean Sibyl berkali-kali menolak Dewa Apollo, dan dewa ini kemudian melakukan pembalasan dengan memberinya kehidupan abadi yang diidam-idamkannya, namun tanpa memberi dia kemudaan abadi. Maka gadis muda yang hidup abadi ini tua di dalam waktu, tidak dapat menolak kulit berkeriput dan punggung membungkuk. Akhirnya Dewa Apollo menaruh kasihan kepadannya dengan memberi dia kemampuan meramal. Dia duduk di dalam gua di Bukit Cumae, melewati masa ke masa dengan menulis ramalannya di atas daun palem. Dalam cerita Virgil, Aineias mendarat di Cumae dan bertemu dengan gadis ini, dia kemudian memberitahu Aineias ramalannya yang menakjubkan sekaligus mengerikan akan masa depan Roma.

Salah satu fresko di Salone Sistino menceritakan tentang pembakaran buku ramalan Cumaean Sibyl oleh dirinya sendiri. Diceritakan bahwa gadis ini menawarkan sembilan buku ramalan yang ditulisnya kepada Raja Tarquin. Ketika raja menolak membelinya dia melemparkan tiga buku pertama ke dalam api, dan menawarkan enam buku yang tersisa dengan harga semula. Raja tetap menolak beli, dan dia kembali melemparkan tiga buku lagi ke dalam api, raja yang kurang panjang akal ini akhirnya sadar, lalu membayarnya dengan harga yang sama untuk tiga buku yang tersisa. Fresko itu menggambarkan Raja Tarquin dengan wajah sedih menatap tumpukan buku yang menyala di dalam api, sementara Cumaea Sibyl berdiri di samping dengan air muka yang datar.

*

Sekitar 100 tahun setelah Qin Shi Huang menurunkan perintah pembakaran buku, Sima Qian di dalam karya agungnya, Shiji, menulis bahwa Perdana Menteri Li Shi sangat menekankan usulannya:

Di masa lampau kerajaan ini terpecah belah dalam kekacauan dan tiada seorang pun mampu mempersatukannya. Oleh sebab itu semua penguasa-penguasa feodal bangkit, mereka semua berkoar-koar tentang masa kuno untuk mengacaukan masa kini, memamerkan kata-kata kosong untuk membingungkan kenyataan. Orang-orang membanggakan diri sendiri dengan teori-teori pribadinya dan mengkritik aturan-aturan yang diterima atasanya… Maka, hamba meminta semua catatan-catatan sejarawan selain sejarah Negeri Qin dibakar

Dan terakhir Sima Qian ingin meyakinkan pembacanya menulis: Kaisar sangat menyetujui proposal ini

Pembakaran buku oleh Qin Shi Huang merupakan peristiwa biblioklasme pertama yang tercatat dalam sejarah. Ini juga mungkin merupakan pemberangusan ideologi dalam skala besar pertama kali dicatat. Pasti tidak mudah untuk membakar begitu banyak buku-buku filsafat Cina Kuno, waktu itu kertas belum ditemukan, buku-buku pada masa itu umumnya berupa kepingan-kepingan bambu yang diikat jadi satu, ataupun ditulis di atas kain sutera. Sungguh suatu pemandangan yang mengerikan jika membayangkan di depan setiap sekolah-sekolah filasat yang sangat berkembang pada masa itu bertumpuk kepingan-kepingan bambu yang telah menjadi arang

Kebudayaan Cina dapat berkesinambungan selama lima ribu tahun tentu memiliki kelenturan dan dayanya yang tersembunyi. Ketika Qin Shi Huang sedang gencar-gencarnya melakukan pembakaran buku, cucu generasi ke delapan Kongfuzi berhasil menyembunyikan kitab-kitab penting sekolah Ru, seperti Shangshu, Liji, Lunyu, Xiaojing, di dalam tembok. Setelah berlalu sekitar seratus tahun, sewaktu Liu Yu yang diangkat sebagai Pangeran Gong di Negeri Lu ingin memperbaiki tempat tinggal Kongfuzi, dari dalam tembok buku-buku yang disangka sudah hilang itu kembali ditemukan.

Setiap kebudayaan pasti akan menghadapi masa-masa sulit dan diuji kesinambungannya, kebudayaan Cina paling diuji kelenturan dan ketahanannya terhadap perubahan jaman dan gempuran dari luar pada pertengahan abad ke- 19 hingga pertengahan abad ke- 20, terutama kerusakaan yang dialami dalam perang-perang melawan aliansi kekuatan Barat, serta penghancuran dan perampasan perpustakaan-perpustakaan di hampir semua kota penting di Cina oleh tentara Jepang dalam perang Cina- Jepang II. Kebrutalan dan kerusakannya sudah tidak perlu diceritakan lagi, di sini saya hanya ingin mengungkapkan satu bentuk lain perampasan dan pengerusakan budaya yang sering terjadi di abad ke- 20 atas nama perlindungan. Suatu produk budaya dicabut begitu saja dari tempatnya hidup dan berkembang lalu diletakkan di suatu tempat yang samasekali tidak berhubungan dengannya.

Misalnya yang terjadi di dalam Gua Mogao pada awal abad ke -20, sebuah kisah jual beli kitab-kitab agama Buddha yang paling tidak adil dan penuh rahasia di antara tiga orang lelaki. Yang pertama adalah Wang Yuanlu, seorang pendeta Tao yang tidak begitu berpendidikan dan waktu itu adalah penanggungjawab Gua Mogao, kedua adalah Aurel Stein, seorang arkeolog Hungaria yang baru pindah menjadi warga negara Inggeris, ketiga adalah seorang penerjemah bernama Jiang Xiaowan

Setelah Wang Yuanlu secara tidak sengaja menemukan sebuah ruang penyimpanan kitab-kitab agama Buddha di Gua Mogao, kabar dengan cepat menyebar keluar dan sampai di telinga Aurel Stein, tetapi arkeolog yang menguasai tujuh delapan bahasa ini ternyata tidak menguasai bahasa Mandarin, demikianlah Jiang Xiaowan terlibat dalam persekongkolan ini.

Awalnya Wang Yuanlu menunjukkan sikap waspada, menghindar, dan menolak kehadiran Aurel Stein. Jiang Xiaowan berbohong kepadanya bahwa Stein datang dari India adalah untuk mengembalikan kitab-kitab Xuanzang ke tempat asalnya, dan Stein juga bersedia membayarnya. Wang Yuanlu seperti umumnya rakyat Cina, sangat mengenal dan mengagumi cerita tentang mencari kitab ke Barat yang ada di dalam ‘ Kisah Perjalanan ke Barat ‘ itu, mendengar penjelasan Jiang Xiaowan dan juga melihat Aurel Stein berkali-kali bakar dupa bersujud di depan Buddha, hatinya tergerak. Maka, ketika Jiang Xiaowan mengatakan ingin ‘ meminjam ‘ beberapa kitab untuk dilihat, Wang Yuanlu yang awalnya ragu-ragu, agak lama mempertimbangkan, akhirnya tetap memberi dia beberapa kitab.

Ketika Jiang Xiaowan di bawah lampu redup membuka baca kitab-kitab yang diserahkan oleh Wang Yuanlu. Dia agak terkejut, buku yang serampangan diambil Wang Yuanlu dari tumpukan buku ini ternyata benar-benar adalah terjemahan-terjemahan dari kitab-kitab yang diperoleh Xuanzang dari tanah Barat, Wang Yuanlu sendiri juga terkejut dan terharu memandang jari-jari tangannya, seakan-akan mendengar perintah Buddha. Begitulah, pintu-pintu Gua Mogao pun terbuka lebar untuk Aurel Stein.

Setelah pintu terbuka dan isinya siap dikuras, tentu masih Jiang Xiowan yang membaca dan memilih di dalam tumpukan buku-buku tua itu, sebab Aurel Stein samasekali tidak mengerti bahasa Mandarin. Di malam-malam gurun yang dingin, ketika Aurel Stein dan Wang Yuanlu sudah tertidur, hanya tinggal dia sendiri yang membaca dan memecahkan kode-kode budaya untuk pertama kalinya setelah tersimpan lebih dari seribu tahun. Kedua pihak, pembeli dan penjual sama-sama tidak mengerti apa yang terkandung di dalam setumpuk-setumpuk lembaran kertas. Hanya dia sendiri yang mengerti, dia sendiri yang membuat keputusan diterima atau tidaknya sebuah kitab.

Demikianlah sebuah traksaksi yang paling tidak adil di dunia berlangsung, Aurel Stein menggunakan sangat sedikit uang untuk mendapatkan produk-produk budaya dari satu masa peradaban Cina yang berlangsung selama beberapa abad. Dan ini bahkan menjadi contoh sempurna untuk petualang-petualang dari beberapa negara kuat yang datang dengan sikap memborong barang murah dan ternyata memang dapat pulang dengan muatan penuh.

Ada sebuah kejadian yang perlu saya tuliskan di sini, suatu hari Wang Yuanlu merasa Aurel Stein sudah meminta terlalu banyak, dia lalu membawa sebagian kitab dan gulungan lukisan yang telah dipilih kembali ke ruang penyimpanan kitab, Aurel Stein meminta Jiang Xiowan pergi negosiasi, ingin menggunakan empat puluh tahil perak menukar kembali kitab-kitab dan gulungan lukisan itu. Ternyata Jiang Xiowan hanya menggunakan empat tahil perak sudah dapat menyelesaikan perkara ini. Aurel Stein sangat memujinya, bahkan mengatakan ini adalah sebuah kemenangan diplomasi Cina Inggeris. Jiang Xiaowan sangat bangga mendengar pujian itu, terhadap kebanggaan begini saya merasa sedikit mual.

Akhirnya, Alein Stein berhasil mendapatkan lebih dari sembilan ribu kitab Buddha dan sekitar lima ratus gulungan lukisan, semua ini dikemas ke dalam dua puluh sembilan peti kayu selama tujuh hari, unta dan kuda yang dibawa semula ternyata tidak cukup, dia kemudian memanggil lima kereta besar yang masing-masing ditarik oleh tiga ekor kuda.

Itu adalah satu senja yang sedih, barisan kereta mulai bergerak, Wang Yuanlu berdiri di sisi jalan mengantar. Aurel Stein ‘ belanja ‘ dua puluh sembilan peti barang-barang budaya langka, jumlah uang yang dikeluarkan untuk Wang Yuanlu, saya benar-benar tidak tega menulisnya, namun saat ini sudah seharusnya diungkapkan, nilainya jika ditukarkan dengan mata uang Inggeris, kurang lebih tiga puluh pounds! Begitu sedikit, tetapi bagi Wang Yuanlu sudah merupakan jumlah yang sangat luar biasa dibandingkan dengan uang yang dia dapat dari pemberian penduduk setempat yang serba kekurangan. Di dalam pikiran Wang Yuanlu, Aurel Stein adalah seorang dermawan dan tamu terhormat

Hal begini mungkin tidak hanya terjadi di Gua Mogao pada awal abad ke -20, di sekitar kita mungkin banyak hal begini sedang diam-diam berlangsung.

*

Al-Qifti, sejarawan abad ke-12 menceritakan bahwa ketika Mesir ditaklukan oleh Arab di tahun 641, Yahya al-Nahwi ( John Philoponus? ), seorang pendeta Koptik yang tinggal di Iskandariyah menghadap Amru bin Ash memohon agar buku-buku di dalam Perpustakaan Iskandariyah dapat diurusnya. Panglima menjawab bahwa dia tidak dapat memutuskan nasib buku-buku tersebut tanpa terlebih dahulu meminta petunjuk dari Khalifah Umar bin Khattab. Dan Khalifah menjawab: ” Buku-buku yang kau sebut, seandainya apa yang ditulis di dalamnya sesuai dengan Kitab Allah, kita sudah memilikinya, jika berlawanan, kita tidak memerlukannya, maka dapat dimusnahkan ” Konon, buku-buku yang berupa gulungan itu dikumpulkan dan diantar ke pemandian-pemandian umum sebagai bahan bakar, di sana, di tungku-tungku pemanas dibakar hingga enam bulan.

Sungguh cerita yang berwarna dan dramatis, hanya kebenarannya agak diragukan. Menurut Mostafa el-Abbadi, seorang pakar Klasik dari Mesir, kemungkinan al-Qifti menciptakan cerita ini untuk membenarkan tindakan Salahuddin Ayyubi menjual seluruh perpustakaan untuk membiayai perlawanannya terhadap tentara Salib.

Sekalipun cerita ini kemungkinan besar berakar Islam, namun diwariskan dan dijaga di dunia Barat sebagai ratapan Orientalis terhadap nasib peradaban Hellenistik di Timur Dekat.

Bagaimanapun ceritanya, buku-buku di Perpustakaan Iskandariyah kemungkinan selamat di masa Khalifah Umar, sebab ada sejumlah besar buku-buku perpustakaan ini kemudian dipindahkan ke Antiokhia yang dibawah Khalifah Umar II.

Ketika Dinasti Fatimiyah berkuasa di Mesir, Khalifah al-Aziz membangun sebuah perpustakaan di Kairo, berisi sekitar enam ratus ribu buku yang dijilid dengan indah, kemudian Khalifah al-Hakim menggabungkannya ke dalam perpustakaannya sehingga mencapai satu setengah juta buku. Namun, pada tahun 1068 ketika tentara Turki menghancurkan Kairo, sampul-sampul buku yang terbuat dari kulit bagus ini dilepas untuk dijadikan sepatu, sisa-sisa halaman buku yang tersobek dikuburkan di luar Kairo, dan tempat ini kemudian dikenal sebagai ‘ Bukit Buku ‘

Buku dan perpustakaan tumbuh pesat di setiap tempat yang dicapai Islam. Ibnu Sina memberikan kesaksiaannya terhadap perpustakaan yang menakjubkan di istana Persia. Di Baghdad, di Baitul Hikmah yang pada masa itu merupakan perpustakaan, pusat terjemahan, pusat penelitian, serta pusat perbandingan kearifan orang-orang dibawah Islam dari India hingga Semanjung Iberia. Di tempat ini, Banu Musa, tiga bersaudara merampungkan Kitab marifat mashakat al-ashkal, salah satu buku peletak dasar matermatika Arab. Di tempat ini, al-Hajjaj menerjemahkan Euklides, dan al-Khwarizmi, penemu aljabar membaca karangan-karangan matematika Hindu yang dikumpulkan perpustakaan kemudian mengadopsi sistem bilangan Hindu untuk kegunaan dirinya, melahirkan angka Arab yang kita kenal sekarang. Tetapi ketika langkah-langkah kuda perang Mongol menyerbu Baghdad beberapa ratus tahun kemudian, memporak-porandakan Baitul Hikmah, menghitamkan air ibu peradaban, Tigris dan Eufrat. Pikiran-pikiran cemerlang kembali menjadi tinta mengalir di dalam airmata hitam ibu peradaban. Mungkin di dalam reruntuhan kita masih bisa menemukan satu dua huruf yang telah hangus, atau mungkin kita akan sangka hanya potongan-potongan arang.

Di antara abad ke-13 hingga ke-15 sebagaian besar perpustakaan dunia Islam sudah hilang, dihancurkan oleh penakluk-penakluknya: tentara Turki, tentara Mongol, dan tentara Salib. Kaisar Habsburg, Charles V ketika menaklukkan Tunis memberi perintah semua buku dalam Bahasa Arab dibakar. Pada tahun 1492, setelah orang-orang Moor disingkirkan dari Spanyol, di seluruh Spanyol hampir tidak dapat menemukan buku yang berbahasa Arab.

Pembakaran buku terus terjadi sepanjang sejarah, dari Dinasti Qin di Cina hingga Hernan Cortes di Tenochtitlan, namun cara baru dan eksploitasi kerusakannya makin disempurnakan dan diujicoba di abad ke -20. Selain pembakaran buku dan penghancuran perpustakaa oleh Nazi, daftar kejadian begini di abad ke-20 bisa sangat panjang. Ketika Tentara Pembebasan Rakyat sampai di Tibet, ribuan buku-buku tua yang sangat bernilai dilempar ke dalam api, dan lebih sulit menceritakan kembali nasib buku-buku selama Revolusi Kebudayaan. Pada tahun 1981, nasionalis Sinhala menghanguskan ribuan manuskrip, buku daun lontar, dan buku-buku cetakan yang berada di dalam perpustakaan orang Tamil: Jaffna. Taliban beberapa tahun sebelum meledakkan patung Buddha di lembah Bamiyan, membakar dan menghancurkan lebih dari lima puluh ribu buku di Pusat Kebudayaan Hakim Naseer Khosrow Balkhi

Penyair Bosnia, Goran Simic menulis sebuah puisi untuk mengenang penghancuran Perpustakaan Nasional dan Universitas Bosnia oleh nasionalis Serbia di malam 25 Agustus, 1992:

huruf-huruf berkelana di jalanan

berbaur dengan orang yang berlalu-lalang dan roh-roh tentara mati

Ini bukan satu-satunya perpustakaan yang diserang nasionalis Serbia, tiga bulan sebelumnya mereka juga menghancurkan Institut Oriental Bosnia, dan ratusan perpustakaan, museum di seluruh Krotia, Bosnia, Herzegovina, dan yang terbaru Kosovo.

Di dalam sebuah buku, saya pernah membaca Andras Reidlmayer, seorang pustakawan dan aktivis Bosnia menceritakan cara lain membakar buku dari seorang temannya yang selamat dalam pengepungan Sarajevo. Pada musim dingin, temannya bercerita bahwa dia dan isterinya kehabisan kayu bakar, maka mereka mulai membakar buku untuk memasak dan menghangatkan tubuh.

” Ini memaksa seseorang harus berpikir kritis, ” temannya berkata, ” seseorang harus bersikap patriot. pertama, harus dipilih buku-buku teks perguruan tinggi, buku-buku ini mungkin sudah tiga puluh tahun tidak kau baca, selanjutnya baru memilih buku-buku duplikat. Namun, terakhir kau tetap harus membuat pilihan berat. Siapa yang akan kau bakar hari ini: Dostoyevsky atau Proust? ” Andras kemudian menceritakan bahwa setelah perang usai temannya masih menyisakan banyak buku, temannya memberitahu dia bahwa kadang-kadang dengan melihat buku-buku itu dia lantas memilih lapar

*

Sebuah meja bersama bangku hangus, menjadi arang. Ada sebuah buku putih di atas meja. Saya melihat beberapa saat gambar ini lagi, seperti dapat merasakan api yang melahap kayu dan suara kertas tersulut api. Saya teringat sebuah pertunjukan Yosuke Yamashita yang difilemkan dengan judul ‘ Burning Piano ‘ di tahun 2008 di sebuah pantai di Ishikawa. Ini mungkin dapat disebut sebagai pertunjukkan ulang, karena pada tahun 1973, ‘ Piano Burning ‘ dengan pemainnya yang sama sudah pernah difilemkan master desain grafis Jepang Kiyoshi Awazu

Beberapa saat setelah Yosuke Yamashita yang memakai helmet pemadam kebakaran mulai menekan tuts piano, asap sudah mengepul di badan piano, kemudian terdengar suara-suara yang terbakar berbaur di dalam dentingan piano. Api dengan cepat menjalar ke seluruh badan piano, bersamaan dengan itu suara piano sudah tidak terdengar jelas lagi, yang tersisa hanya semacam suara letupan kecil ketika kayu bertemu api, bersama satu dua suara ketukan piano yang terhempas, Terakhir piano samasekali tidak mengeluarkan suara lagi, dan yang terdengar hanya suara kayu terbakar dengan sedikit latar suara ombak yang sampai di bibir pantai.

Mengkremasi sebuah piano mungkin bisa berarti mengkremasi suara, jadi apakah membakar buku dapat dianggap mengkremasi tulisan? Saya tidak tahu, dan saya juga tidak berani menjawab. Yang saya tahu adalah sewaktu kecil, orang-orang tua di kampung kami setiap kali melihat kertas yang ada tulisan di jalanan pasti akan dipungutnya, tidak peduli sekalipun hanya sobekan koran bekas, kemudian dibawa ke kelenteng untuk dibakar di sebuah tempat pembakaran tulisan yang biasanya berada di samping tempat pembakaran kertas sembahyang. Walaupun kebanyakan mereka buta huruf, namun setiap kali saya bertanya mengapa kertas-kertas itu harus dibakar, mereka akan mengatakan dengan hati-hati bahwa itu bukan sekedar kertas, tetapi adalah kertas yang ada tulisan di dalamnya, ada pikiran di dalamnya, bagaimana bisa dibiarkan tergeletak di jalan dan diinjak. Begitulah sebuah tulisan dijaga dan dihormati dari generasi ke generasi.

Cinta Pria kepada Wanita

Gerundelan Rere ‘Loreinetta

Bagi seorang wanita (yang lebih emosional), sebuah kata “Aku Cinta Padamu” dari mulut seorang lelaki tidak cukup membuktikan sebuah cinta. Karena itu wanita sering bertanya – tanya dalam hatinya tentang cinta pria kepadanya. Benarkah dia mencintaiku, mungkinkah hubungan ini bertahan lama, apakah cinta ini bisa berlanjut ke tingkat selanjutnya?

Semua perasaan dan pikiran yang bergejolak dalam diri anda tidak salah. Ini normal karena cara anda mencintai berbeda dengan cara pria mencintai. Anda mencintai dengan menyerahkan masa depan anda kepadanya!

Simak tulisan di bawah ini yang akan membantu anda menemukan tanda – tanda seorang pria benar – benar mencintai anda, paling tidak 3 hal ini menegaskan bahwa hubungan anda berada di jalur yang benar, berada dalam sebuah cinta sejati!

3 TANDA CINTA PRIA

Satu hal yang harus anda ketahui dari seorang pria adalah:
Pria itu simpel.
Pria itu sederhana, tidak berbelit-belit, to-the-point, dan praktis dalam hal apapun.

Demikian pula dengan cara pria mencintai seorang wanita.
kata MARS : Ketika kami memutuskan untuk mencintai anda, paling tidak ada tiga hal yang kami lakukan :

Pengakuan
Memenuhi kebutuhan anda
Melindungi anda

TANDA 1 : PENGAKUAN

Sebuah ucapan “Aku cinta padamu” dari mulut seorang pria berarti banyak bagi dirinya. Sayangnya hal ini tidak dipahami dengan benar oleh para wanita. Alasannya sederhana, karena Pria dari Mars dan Wanita dari Venus.

Mereka berbeda asal, berbeda budaya, dan berbeda kodrat!
Pria tidak banyak berbicara, sementara wanita hidup untuk berbicara.
Pria tidak suka ditolong maupun menolong tanpa diminta. Wanita senang menolong dan memiliki insting untuk mengetahui sesuatu yang salah.
Wanita bangga karena bisa membantu sementara pria merasa direndahkan jika dibantu!

Pengakuan Cinta Pria

Sebuah pengakuan cinta dari pria berarti banyak bagi dirinya. Dia menyatakan komitmennya untuk mencintai anda ! Masalahnya ada pada diri anda, para wanita!
Ingatlah bahwa pria adalah makhluk yang simple, sederhana, praktis, dan to-the-point!

Pengakuan aku cinta padamu tidak bisa kami ucapakan setiap minggu, setiap hari, ataupun setiap jam ! Jika itu yang anda inginkan, anda meminta sesuatu yang mustahil ! Mengapa meminta sesuatu yang sudah jelas kami proklamirkan ke anda?

Ketika kami memutuskan untuk mencinta anda, kami akan mengatakan kepada setiap orang yang kami temui bahwa anda adalah pacar kami, kekasih kami, calon istri kami, dan milik kami. Hal ini untuk mencegah pria – pria lain mendekati anda ! Dengan senang hati kami akan menggandeng tangan anda dan mengenalkan anda kepada teman-teman kami. Supaya mereka tahu dan tidak bermain api dengan menggoda anda!

Kita semua tahu bahwa laki-laki itu buaya. Anda tahu itu, apalagi kami para laki-laki buaya Mengakui anda adalah kekasih kami adalah salah satu cara untuk memagari anda dari binatang buas penakluk wanita.

Jadi, tanda pertama cinta seorang pria adalah sebuah pengakuan!

TANDA 2 : MEMENUHI KEBUTUHAN ANDA

Seorang pria yang mencintai anda akan membawa uang ke rumah untuk memastikan anda dan anak-anak terpenuhi semua kebutuhannya. Itulah peran kami, tujuan kami.
Selama berabad – abad masyarakat mengajarkan kepada kami kaum pria bahwa tugas utama kami adalah memastikan keluarga kami terurus, apakah kami masih hidup atau sudah mati, kami akan mengurus orang-orang yang kami cintai tanpa pamrih.

Itulah tugas terpenting menjadi laki-laki, yaitu mencukupi kelurganya.

Pria yang benar – benar mencintai anda tidak akan pernah membuat anda meminta-minta uang untuk keperluan rumah-tangga. Dia akan memastikan anda mendapatkan apa yang anda butuhkan dan inginkan, tanpa pamrih. Dia akan membawa pulang setiap rupiah yang dimilikinya. Dia tidak akan menghambur-hamburkan uangnya lalu pulang dan mengatakan, “Ini seratus ribu – hanya ini yang aku dapatkan bulan ini.”

Dia akan langsung pulang membawa semua gajinya, dan jika masih ada yang belum terbayar setelah semua kebutuhan anda terpenuhi, dia akan mengurus kekurangan itu. Ini urusan laki-laki sayang. Begitulah cara kami bekerja.

Kebutuhan adalah semua hal yang benar-benar anda butuhkan untuk bisa hidup.
Kebutuhan dan keinginan berbeda, seperti bumi dan langit.

Kebutuhan adalah hal – hal yang mendasar, yang penting, dan yang dibutuhkan untuk bisa hidup layak. Keinginan adalah hal-hal diatas kebutuhan, untuk memuaskan diri sendiri, dan bisa ditunda.
Anda harus tahu hal ini dan anda harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Masalah akan timbul jika anda memaksakan keinginan anda menjadi kebutuhan. Jangan menipu diri anda sendiri bahwa pria itu bodoh!
Kami tahu perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Kami akan berusaha untuk memenuhi keinginan anda, tetapi prioritas utama kami adalah kebutuhan anda!

Tanda kedua cinta pria kepada anda adalah memenuhi kebutuhan anda!

Jika mobil anda rusak, dan kami tidak mampu membayar tukang, kami akan meminta tolong kepada teman-teman kami untuk membetulkan mobil anda dan mengantar anda ke tempat yang aman dan nyaman. Jika anda sakit, kami akan membelikan obat untuk anda, memastikan semangkuk bubur hangat untuk anda makan, dan menelepon beberapa kali untuk menanyakan keadaan anda. Jika adik anda akan pergi dan membutuhkan transportasi, kami akan dengan senang hati mengantarkannya. Jika orang tua anda ingin membeli buah-buahan di hokky, kami akan siap berangkat.
Kapanpun kami bisa!

TANDA 3 : MELINDUNGI ANDA

Jika seorang lelaki sungguh-sungguh mencintai anda, orang yang berniat menyerang anda melalui kata-kata, perbuatan, saran, atau bahkan hanya pemikiran, akan dihancurkan. Pria anda akan menghancurkan semua yang menghalangi jalannya untuk memastikan siapapun yang tidak menghormati anda akan menanggung akibatnya.

Memang itulah yang setiap laki-laki bersedia lakukan untuk orang-orang yang dia akui dan nafkahi. Jika seorang pria mengatakan bahwa dia peduli terhadap anda, anda adalah miliknya yang berharga dan dia bersedia melakukan apa saja untuk melindungi miliknya yang berharga itu. Dia akan menjadi pelindung dan pemimpin bagi keluarganya karena dia paham benar bahwa laki-laki sejati adalah seorang pelindung. Tak ada laki-laki sejati yang tak melindungi apa yang dimilikinya. Ini tentang sebuah kehormatan!

Melindungi bukan hanya berarti menggunakan kekerasan fisik terhadap seseorang. Lelaki yang sungguh-sungguh mencintai dan peduli pada anda dapat melindungi dengan cara lain, apakah itu dengan cara memberi saran, atau mengambil alih tugas yang menurutnya berbahaya bagi anda.

Misalnya, jika di luar gelap, dia mungkin tidak membiarkan anda yang memarkir mobil di depan rumah atau mengajak jalan-jalan anjing sendirian karena khawatir akan keselamatan anda; dalam kasus ini, dialah yang akan memindahkan mobil dan mengajak jalan-jalan anjing, sehingga anda tetap aman di dalam rumah meskipun dia baru pulang dari kerja lembur.

Apabila anda berjalan di dekat seorang pria yang agak mencurigakan, pria yang mencintai anda akan memposisikan dirinya di antara anda dan orang itu saat berjalan, sehingga jika dia mencoba berbuat macam-macam pada anda, dia harus melewati lelaki anda terlebih dulu sebelum menyentuh anda.

KESIMPULAN

Anda, para wanita harus berhenti meraba-raba definisi tentang cinta seorang laki-laki dan mulai memahami bahwa pria mencintai dengan cara yang berbeda. Tanda – tanda pria mencintai anda bisa disingkat menjadi 3P yaitu Pengakuan, pemenuhan kebutuhan, dan perlindungan.

Seorang pria mungkin tidak bisa menemani anda berbelanja gaun untuk menghadiri pesta, tetapi pria sejati akan menemani anda menghadiri pesta itu, menggandeng tangan anda, dan dengan bangga memperkenalkan anda sebagai kekasihnya kepada semua yang hadir (pengakuan).

Dia mungkin tidak bisa ngemong dan duduk di sisi ranjang sambil memijati kaki anda saat tergolek sakit, tetapi laki-laki yang sungguh-sungguh mencintai anda akan memastikan obat tersedia, bubur hangat waktu makan, dan memastikan ada orang lain yang membantu anda sampai anda benar-benar sehat kembali (pemenuh kebutuhan).

Dan mungkin saja dia tidak dengan sukarela bersedia mengganti pokok, mencuci piring, dan memijat badan anda setelah mandi ari panas, namun lelaki sejati yang sungguh-sungguh mencintai anda tidak segan-segan menembus gunung dan menyeberangi lautan jika ada orang lain yang menyakiti anda (perlindungan).
Anda dapat mempercayai semua itu.

Jika anda telah menemukan laki-laki yang bersedia melakukan semua hal itu untuk anda, percayalah, dia mencintai anda luar dalam!

BACA YA WAHAI WANITA…
Anda pasti akan tertawa ngakak membacanya, karena begitulah anda!!

*ngakaaak.:-)

Referensi:
Men are from Mars, Women are from Venus

Cerita Bersambung: Tunangan (4)

Cerita Anton Chekhov
Alih Bahasa Retakankata

kasih tak sampaiDi pertengahan bulan Juni, Sasha tiba-tiba merasa bosan dan memutuskan untuk kembali ke Moskow.
“Aku tidak bisa hidup di kota ini,” katanya muram. “Tidak ada pasokan air, tidak ada saluran pembuangan. Makan malam menjadi begit menjijikkan dengan kotoran berjibun di dapur..”
“Tunggulah sebentar, Anakku yang hilang!” Nenek berusaha membujuknya, berbicara untuk membisikkan beberapa alasan, “pernikahan tinggal tujuh hari lagi.”
“Aku tidak mau.”
“Itu berarti kamu hanya akan tinggal bersama kami sampai bulan September!”
“Tapi sekarang, Anda lihat, aku tidak menginginkannya. Aku harus bekerja.”
Musim panas kelabu dan dingin, pohon-pohon basah, segala sesuatu di taman tampak sedih dan tidak mengundang selera, membuat hari begitu panjang bagi yang bekerja. Suara-suara perempuan asing terdengar di lantai bawah dan lantai atas. Ada rentetan suara mesin jahit di kamar Nenek, mereka bekerja keras mempersiapkan baju pengantin. Untuk mantel bulu saja, enam telah diberikan Nadya. Kata Nenek, dari enam mantel itu, yang termurah seharga tiga ratus rubel! Keriuhan itu menjadikan Sasha kesal. Ia tinggal di kamarnya, sendiri dan tersiksa, tapi semua orang membujuknya untuk tetap tinggal, dan ia berjanji tidak akan pergi sampai minggu pertama bulan Juli.
Waktu berlalu dengan cepat. Pada hari perayaan Santo Petrus, setelah makan malam, Andrey Andreitch dan Nadya pergi ke Moskow Street untuk sekali lagi melihat rumah yang telah mereka ambil dan persiapkan beberapa waktu sebelumnya untuk mereka, pasangan muda. Sebuah rumah dua lantai, namun sejauh ini hanya lantai atas yang siap ditempati. Aula lantai bersinar dengan cat dan berlapis parquete, ada kursi Wina, piano, biola berdiri, dan aroma cat. Di dinding tergantung sebuah lukisan cat minyak besar dalam bingkai emas – seorang wanita telanjang di samping sebuah vas berwarna ungu dengan pegangan rusak.
“Gambar yang indah,” kata Andrey Andreitch, dan ia menghela napas hormat. “Ini karya seniman Shismatchevsky.”
Lalu ada ruang tamu dengan meja bundar, sofa dan kursi berlapis biru terang. Di atas sofa tergantung foto besar Bapa Andrey memakai topi beludru seorang imam dan berdekorasi. Kemudian mereka pergi ke ruang makan di mana ada sebuah lemari. Kemudian ke kamar tidur, di sini tiang penyangga tempat tidur setengah berdiri berdampingan, dan tampak seolah-olah kamar telah dihiasi dengan gagasan bahwa hal itu akan selalu sangat menyenangkan di sana dan tidak mungkin ada hal lain. Andrey Andreitch membimbing Nadya ke kamar, sambil melingkarkan lengannya di pinggang Nadya, dan Nadya merasa lemah dan hatinya tertekan. Dia membenci semua kamar, tempat tidur, kursi malas; ia mual oleh wanita telanjang. Sudah jelas baginya sekarang bahwa dia telah berhenti mencintai Andrey Andreitch atau mungkin tidak pernah mencintainya sama sekali. Tetapi bagaimana mengatakan ini dan kepada siapa atau kepada apa mengatakannya, ia tidak mengerti, dan tidak bisa mengerti, meskipun dia memikirkannya sepanjang hari dan sepanjang malam.
Andrey Andreitch merangkul pinggang Nadya, berbicara penuh rasa sayang, begitu sederhana, begitu bahagia, berjalan mengitari rumahnya, sementara Nadya tidak melihat apa pun di dalamnya kecuali seronok, bodoh, naif, vulgar tak tertahankan, dan lengan dipinggangnya terasa begitu keras dan dingin bagai ring besi. Dan setiap menit adalah rangkaian titik untuk lari, meledakkan tangis, atau melemparkan dirinya keluar jendela. Andrey Andreitch membimbingnya ke kamar mandi lalu menekan keran air di dinding dan sekali sentuh air mengalir.
“Bagaimana pendapatmu?” katanya sambil tertawa. “Aku punya tangki dua ratus galon di loteng, dan kita tidak akan kekurangan air.”
Mereka melintasi halaman, pergi ke jalan dan naik taksi. Awan tebal berdebu bertiup, tampaknya akan hujan.
“Kamu tidak dingin?” tanya Andrey Andreitch, mengacaukan matanya dari debu.
Nadya tidak menjawab.
“Kamu ingat, kemarin Sasha menyalahkan aku karena tidak melakukan apa-apa,” katanya, setelah keheningan singkat. “Yah, dia benar, mutlak benar! Aku tidak melakukan apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa. Mengapa? Apa yang berharga dariku? Mengapa, bahwa berpikir suatu hari nanti aku mungkin memperbaiki simpul pita topiku saat masuk ke kantor layanan pemerintah yang kemudian sangat aku benci, itu pantas dipikirkan? Mengapa aku merasa begitu tidak nyaman ketika melihat seorang pengacara atau master Latin atau anggota Zemstvo? O..Ibu, O Rusia? Hai Ibu Rusia, apakah engkau masih menanggung beban orang-orang yang menganggur dan tidak berguna? Berapa banyak orang seperti aku berada di atasmu, lama menderita, O Ibu!”
Dan fakta menunjukkan ketika ia tidak melakukan apa pun, ia menarik generalisasi, melihat pada tanda-tanda zaman.
“Jika kita sudah menikah, mari kita pergi ke kota, sayangku. Di sana kita akan bekerja, membeli sepotong kecil tanah dengan taman dan sungai, mempekerjakan orang dan mengamati kehidupan. Oh, betapa akan sangat indah! ”
Ia melepas topinya, dan rambutnya melayang di udara, sementara Nadya mendengarkannya sambil berpikir: “Ya Tuhan, aku berharap aku ada di rumah.”
Ketika mereka cukup dekat dengan rumah, Bapa Andrey menyusul mereka.
“Ah, ayah datang,” teriak Andrey Andreitch senang, dan ia melambaikan topinya. “Aku benar-benar mencintai ayah,” katanya sambil membayar kusir taksi. “Dia orang tua yang indah, seorang rekan tersayang.”
Nadya masuk ke dalam rumah, merasa pusing dan tidak sehat ketika memikirkan bahwa akan ada pengunjung sepanjang malam, dan bahwa dia harus menghibur mereka, tersenyum, mendengarkan biola, mendengarkan segala macam omong kosong, dan tidak ada topik pembicaraan selain pernikahan. Nenek yang akan tampak bermartabat dan cantik dalam gaun sutra, duduk angkuh di depan samovar sebelum pengunjung datang. Lalu Pastor Andrey datang dengan senyum liciknya.
“Saya sungguh merasa tersanjung dan terberkati melihat Anda dalam keadaan sehat,” katanya kepada Nenek. Dan sulit untuk mengatakan apakah dia bercanda atau berbicara serius.

Bersambung…

Catatan:

Samovar
Samovar: semacam alat seperti poci untuk menjaga teh tetap panas di meja makan.

DAFTAR PESERTA LOMBA MENULIS CERPEN RETAKANKATA

Tanggal 5 Februari 2012 sebagai batas akhir waktu pendaftaran lomba menulis cerpen pada blog RetakanKata, telah terlewati. Sejumlah 482 telah mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba. Luar biasa! Terima kasih atas peran serta dan partisipasi rekan-rekan semua. Dan dengan pengumuman ini, PENDAFTARAN SEBAGAI PESERTA LOMBA MENULIS CERPEN DINYATAKAN DITUTUP. Selanjutnya, kami menunggu rekan-rekan yang telah terdaftar sebagai peserta untuk mengirim naskah yang dilombakan sampai dengan batas waktu yang telah ditetapkan.
Berikut adalah DAFTAR PESERTA LOMBA MENULIS CERPEN RETAKANKATA 2012:
yuanitae@
ihsanialaidrus@
guisusan@
yukikana@
aiioe1992@
uswatun3112@
dwiyulihandayani@
dhanzz_dhanzz@
isma.wasingatoen@
doankone@
mitralovelin@
eriesdhycohianessa@
tiowidodo@
buubufun_03@
anynuraisyah@
rtp_eg_snwd@
gaunggerimis@
aliassyah@
azam_rm@
bilabaik@
tinulaberta227@
loesy_dunk@
hanita_mei@
theodorus_xan@
aprilianawakhidah@
one_freedom_united@
irarumantiafauzia@
niilasilalhaa@
lita.narul@
trini_1992@
puzphitasarii@
y_adam_n21@
yudhistira1994@
muhadiw@
sept.wul25@
wondergalzdream@
flamies4@
q_primathika@
irmabjm86@
cah_solih@
rakfir_reza@
vivikusdeean@
irizkiyah@
afif.zakariya@
santiasa_putra@
intan169@
nnovita61@
adnan_ibnusina@
senandunghitamputih@
al_razak13@
v.d.tutupary@
priyox@
sushinez_girl@
yuslinanurmuliani@
nailuffar@
juliaprimadani@
lycha_99@
penulisalammaya@
djat_mico@
damar_crb15@
fari.chen@
pauluscatur@
ophtymistych@
chouchan_imoet@
garonk_baek@
teekaiazmin@
suguhkurniawan@
el_ucup69@
mumuthamuth@
ied_free@
iandt.boyanz@
oliviahalim96@
dhan_ok@
m.hadi_habibi@
willyruniee@
yamassu99@
diaz.rti@
dinellaconcha@
deedyantry@
almurthawy@
lalefatma.yn@
hananicool@
john.darsanto@
rosevirjinia@
uchihaadawiahs@
munictalova@
tulalitulalit@
golintang@
ryan_kharis@
denny_mf_9f@
asro.pamenang@
ranisna90@
tiffanyputri_15@
penakawanbisa@
elis.nari@
tammy.sabaku_rdsb@
gadisgula@
nbrigithainthan@
rickylaode@
i3ncha_cweet@
zhye.cezgil@
tangguhbeta@
cahaya_karra@
zaka_oz@
vanyadankanata@
sastrawanlinglung@
claudya.chicgirl@
kawaii_jippie.chan@
muti_r@
han.rahmad@
gwenyth_06@
ristikum@
dynaz.inase@
edysam48@
niningwws@
hchristonk@
keshiasawitri@
skhana318@
merry.nezcvada15@
nisa.st_khoirin@
ayu_maelani@
etika_sunja@
puisihati_asti@
kcye_ncha@
yoga_yomail@
nirwannuraripin@
meilisa_nrz@
ray_birth@
gigi_abz89@
zulfa_amah@
fatur.sassygirlchunyang@
yatyatyammy@
fatimah.nuno@
muhammadadirangga@
hsdewi.sa@
farridatullatifah@
ira.sapi@
emutlial@
sani.rio@
dee_smile92@
nafa_s72@
ndusst@
maihamdati@
ayuriaandini@
ade.tarjamah@
sisca_njoman@
rsaktiningsih89@
faliatriindaharti@
dysjaemin.cassielf@
permata2009@
dwieranichigo@
dypisces@
santi.english08@
siti_sundari93@
ragilmulia23@
rinze23_deacon@
fa_rice_da_pure@
eput_cute92@
ummisabit@
dewiyf@
miawazmy@
membusuk@
rizami@
dedewqadriani@
nurul.theearthbender@
sherhya@
hikari.airinn@
sulesubaweh@
ghie_neh@
damae53@
hamzah4hz@
sinta_dicarirama@
rezainulakbar@
amarant.flaming@
cutiest_phe@
finosa_ocey@
himmah.fiddien@
res.ant_xxx@
a.rezainul@
nur.chayati83@
marselaniadewi@
adorkableracer@
bimaforever@
ya3263@
rina.rochmawati@
auliyanti@
hulya.urwati@
shofie_vie@
m.ridwanyazid@
omeliamercytikupadang189@
ilalangpenghayal@
me_at13@
martamarvelly@
rahadiwidodo@
agunghariyadi37@
rosa.adellia@
sovy_ratnawati@
lillypelangi981@
rizka.ridwan27@
runiiaprilia@
abonn@
sonia.ssundari@
junaidiabdulmunif@
komala_sari45@
flzefita@
uzairul_anam@
nusukabiru@
arashichiba_aoi@
sure_cahayahati@
suryantisukses@
sweetgirl.brella@
panduputradewa@
momboblucu@
naj_shy@
halimdwi00@
wanswarga@
nurmaimunitaf@
mel_toph@
ayaghe@
yulisutarsih@
zkashifarizka@
panoramadian@
tony.tj88@
braoxmabox@
rhezasatya@
anisa.hidayah@
muara_awan@
tataqweens@
mahdi_idris@
icaaicaa@
sepasangbidadari99@
sakuraimoet35@
nabila_halvawi@
miff.fadh@
wchaala@
emildaherlina@
m_rifqi_s@
shatyantarsa_193@
dee.ismarani@
bintang_cilik16@
hix_muach@
dika_sundari@
rizkimulasaputra@
mira_wirawan@
arshahappy@
thitysofia@
yesshe_c4yn@
edogawarasti@
endahaibara@
zakiyasabdosih@
penaregina@
latus_say@
fredioky@
angin.lembut@
senja_dewanti@
sasamarisa11@
kamiluddinazis@
nidakaniafauzia@
ika_tulistiwa@
marlinda.silviani@
bakwan.didot@
raramorata@
rau.lestari@
nurul_alohomora@
april_fatma@
indrawatiapriyani@
wajah_pagi@
henydria@
mustikarius@
dewi_ana11@
tahrera_lathifah@
septimeliautami@
just_a_b_i@
ken_zarah16@
ken_kinteki@
viari_anti@
rish_fey@
irsanramdany@
naya.syar@
irmadiananggraini@
aulia_khoirul@
fauziyahilma@
trisna_dehonian@
kode2langit@
ayosi71@
adstika@
so_evil_of_me@
mnasif@
cintaraga@
ismailgalang@
putriprincess73@
rief_fatih@
ronrk@
diio_blues@
irvan_sembiring@
anandiamy@
nova_tul@
marwah.thalib@
skets.ubaid@
elispunya@
septyanitriwahyuni@
risty.ridharty@
ciani92.limaran@
missblue_me@
dhani.ramdhani.nur@
naya_45@
reni.dr@
raisha.se@
threepoint_shooter14@
nitanitoz@
mulesimule@
zie_fha@
erika.nm92@
dimaskeche@
shela_ayulia@
far4syah@
dwinta_meylani@
fina.lanahdiana@
rikaulya@
znuris@
rira_pu@
anhar_jankuracool@
ziah_booklover@
hanyfatun@
eqwant.1613@
dhesiptr@
sabirin_clever@
ntanz_uciha@
ranmoury_53@
leenz_kyutz@
jungjiyool@
nnurkaeti@
stroberrinoionoi@
kyuta_zuka@
arklob.nana@
monikamaharani@
gsahadewa@
nida.tsaura@
patrickprasetyo@
e2e_only@
meitamorphosa@
edward_chany@
fmziah@
rintaratna@
elno8abenx@
edvinberliansi@
aditya.hariyadi@
ayuathma@
bayuahmadramdani@
andinakresna@
namiib6@
wulansarinurazkiyah@
veronicachristyn@
rizarahmahangelia@
rofi.aini@
ny.elly2107@
bdxfun@
windi.widiastuty@
zidka_zahrana@
ye_fa_ta@
linduth.kiyuth@
siwisulistyarahayu@
erlindahapsari@
dhilayaumil@
himaprodipbsi@
evillivie@
chenumber1@
gud_nha@
astrikusumand@
erlinda.sw@
imoetinna38@
nyet.onyet92@
risca.dwinov23@
pocci_69@
veronica_faradilla@
ssenimangila@
roro.rhyna@
arisaaqmarina@
d.gamez.l0ver@
lucky_katak@
kucing.senja@
iloel_huda@
deacit@
boelnia@
m_adnan1026@
latifnur99@
suhartinajufri@
mmayyasya@
enurmalanur@
silvia.anggit@
chemist18rahmah@
fahrul.khakim@
tyne_siders@
selly_pee@
azizah_1992@
akoe_rosana@
captain_zero17@
vienomara@
aila.kirisame@
asma_wh@
tiamayaaffrita@
akhi_pangerancibaduyut@
marliyanti.yanti@
dandunsuroto@
ndutzaja@
rafaela_grecella@
yasmin_friendship@
ooooo_belle@
alamatgampang@
khaliefah_assuyuthy@
erni_jayanti90@
sophiemutia@
lovely_yonghwa@
ekalayasaatsenja@
pangeranjodipati@
ginger_thumb@
aquariel_02@
nurul_mira@
ziif@
anjelinalampard@
rickydwi_apriadi_s4@
achzan29@
ninavinolia@
katon_at@
shabriyahakib@
dhunt.dee@
lyzine@
ratlieamour@
ari_11301308_piksi@
dwiapriyanti4@
sbu_21@
maria_ita610@
sevtavianicwp@
cornelia_lovecantik@
el_eyra@
laily_van_borneo@
imardiati@
fireflyseven711@
mumfasiroh@
margaretdolce@
minarsihdaqu@
szn_8745@
heni.cutez31@
irfan.syariputra@
kania_khoirunnisa@
real.linggarjh@
olweztdhebiqo@
lets.saveourearth@
ikramnurfuady@
seviwening@
rahayu_jen@
pramesty_gy@
damas_ucha@
i.figli@
elikamilah@
irwanto.candra@
tantyach@
indrabudipermana@
faraharfi@
aini.nur.sagita@
sunarniriningsih@
chandrawulandari89@
budimanfanny@
kenza_v3acoolz@
setia26pyo@
bean182@
haylswilliams@
anggikhoerunnisa@
mahaputra.excalibur@
dechie_maulidyamarsha@
katulistiwasari@
anesa_niwa@
astrianakrisma@
popo.poyoli@
karimahskarimah@
ican_y07@
starvy16@
muh.abdurrahman_clp@
dwmulyaningsih@
adibsusilo2011@
chandra_suhartono@
salamih_j@

SALAM SASTRA DAN SELAMAT BERJUANG!

Tuhan Sedang dalam Tahanan

Cerpen Janardana
Editor Ragil Koentjorodjati

ilustrasi dari shutterstock
Di bulan Maret, pada sebuah tahun, mentari senja bersinar malas. Pisau keemasan yang dilemparkan langit dari barat cakrawala membelah siluet gereja tua menjadi garis-garis hitam pada tanah. Sore tampak menyedihkan dalam genggaman bayang-bayang malam. Bunga-bunga yang semula tegak meregang tegang, kini menunduk menekuk wajah. Senyum bocah-bocah di riang siang, meliuk lunglai keletihan. Di sore yang muram ini, angin pun enggan berjalan menyapa keringat manusia yang rindu kesejukan.
Kesunyian yang sakit dan membosankan sore itu mengalir memasuki ruangan gereja tua, di mana seorang pemuda duduk membisu. Matanya tajam menatap Isa yang tergantung di salib, di atas tabernakel. Senyuman para malaikat di kanan dan kiri ruangan altar tidak dihiraukannya. Sesekali matanya beralih dari Isa ke sepotong koran yang digengamnya. Sekejap kemudian ia berdiri, memetik setangkai melati yang banyak tersedia dalam vas bunga menghiasi meja altar, lalu melemparkan bunga itu ke Isa Anak Maria, sambil berkata,”Apa yang sedang Kaulakukan di situ?”
“Apa yang sedang kauperbuat, Nak? Tidak tahukah engkau bahwa ini tempat ibadah? Rumah Allah?”
Tiba-tiba seorang pastur sudah berada di belakang pemuda itu. Tatapannya penuh kasih, namun tidak cukup kuat untuk menutupi kecurigaan yang mengintip di balik kelopak matanya.
“Siapakah engkau, dan apa yang sedang kaulakukan di sini?” tanya pastur kepada pemuda.
Ruangan sejenak mempersilahkan ketegangan singgah dan bermain di sana. Kuku-kuku kecurigaan pun tergurat, meski membeku. Pemuda tahu siapa yang sedang dihadapannya.
“Aku seorang pemuda yang ingin bertanya pada Isa, apa yang sedang Ia lakukan di sana,” katanya sambil menunjuk salib Isa.
“Tapi kenapa engkau melemparinya dengan bunga melati itu? Tidak tahukah engkau bahwa ini adalah rumah ibadah? Aku tidak melihat rasa hormatmu terhadap tempat ini”, kata Pastur masih dengan ucapan yang lembut.
“Pastur, bagaimana kalau kita bekerja sama membakar gereja ini? Setelah itu kita bakar pula masjid-masjid, vihara, pura dan tempat-tempat pemujaan setan yang tersebar di mana-mana?”
“Anak muda, apakah engkau tidak sedang sakit?” tanya Pastur penuh kecurigaan dan kecemasan.
“Tentu aku sangat sehat, Pastur. Aku bukan seorang kristen. Aku juga bukan seorang muslim. Aku bukan orang Budha, bukan pula orang Hindu, Yahudi, atau pun Taoisme. Dan aku juga bukan orang Atheis!”
“Pastur, anda baca koran ini,” katanya sambil mengulurkan koran yang digenggamnya,”diluar sana banyak orang yang ingin membakar tempat ibadah. Ada beberapa alasan mengapa seseorang merasa perlu untuk membakar tempat ibadah. Pertama, karena mereka tidak ingin ada agama lain di luar agama yang dianutnya. Khalayak ramai pun tahu mengenai fanatiisme yang sempit ini.”
Pemuda itu terus berbicara sambil berjalan kian kemari. Tangannya dilipat kebelakang. Tatapan matanya penuh keyakinan. Sang Pastur memandangnya dalam kebingungan. Orang macam apakah yang sedang kuhadapi ini, pikir Pastur.
“Kedua, karena ada orang yang tidak menyukai ada tempat ibadah di wilayahnya. Ketiga, karena ada orang yang ingin memetik keuntungan dari kekacauan politik akibat konflik agama. Keempat, karena ada orang yang frustasi dan tidak tahu apa yang akan dilakukan dengan kemarahannya. Mereka kemudian ikut-ikutan menghancurkan tempat ibadah hanya untuk melampiaskan kekesalan hatinya.”
“Bagaimana Pastur, alasan-alasan tersebut sangat masuk akal bukan?”
“Ya. Agaknya memang seperti itu. Tapi alasan yang mana yang kauajukan hingga engkau mengajakku untuk membakar gereja ini?”
“Tidak satu pun dari keempat alasan itu yang kupakai, maka aku mengajakmu. Engkau bukan seorang fanatik. Aku yakin meskipun aku meludahi patung Maria di sudut itu, engkau pasti tidak akan marah. Engkau bukan seorang materialis atau pun gila kekuasaan layaknya seorang tokoh spiritual. Engkau juga bukan orang yang bodoh yang tidak tahu apa yang harus dikerjakan untuk Tuhanmu, untuk agamamu dan untuk negaramu.”
“Ya. Tapi aku seorang pastur, tokoh agama, pemuka masyarakat. Apa kata mereka jika aku mengikuti kata-katamu untuk membakar gereja ini?” kata Pastur dengan wajah yang mencoba menerangkan suatu kebenaran.
Pemuda itu menatap Sang Pastur dengan sedih. Matanya berkaca-kaca, tangannya terkepal erat, dan dengan lirih ia berkata,”Aku yakin kalau Pastur tidak tahu bahwa saat ini Tuhan sedang dalam tahanan.”
Pastur menjadi masgul mendengar perkataan Pemuda. Ia mulai mengerti manusia macam apa yang sedang ia hadapi saat ini. Hanya ada tiga jalan untuk menyelesaikan perkara dengan pemuda ini. Pertama, mengajaknya berbicara secara baik-baik untuk mengetahui masalah yang sebenarnya sedang ia hadapi. Kedua, memanggil satpam gereja supaya menyeretnya keluar dan diserahkan ke rumah sakit jiwa. Dan yang ketiga, menendangnya seperti seekor anjing!
Tapi sepertinya Pastur ingin membantu meringankan beban psikologis orang yang membutuhkan pertolongan, seperti yang seharusnya dilakukan oleh para rohaniwan maupun alim ulama.
“Nak, aku memang tidak tahu kalau Tuhan sedang dalam tahanan. Tetapi menurutku sebaiknya engkau kembali ke rumahmu, mungkin ayah ibumu saat ini kebingungan mencarimu, Nak. Biarlah Tuhan membebaskan diri-Nya sendiri. Bukankah engkau tahu bahwa Ia Yang Maha Kuasa?”
“Bagaimana kalau Tuhan keburu mati dalam tahanan sebelum Ia sempat membebaskan diri-Nya?”
Semakin kuatlah keyakinan Pastur bahwa pemuda ini sedang mengalami goncangan jiwa. Sejak kapan Tuhan bisa mati, pikir Pastur. Saat seperti ini menjelaskan adalah satu pekerjaan yang sia-sia.
Hanya orang-orang gila yang tidak bisa menerima sebuah penjelasan akal sehat. Mereka telah kehilangan akal budinya, namun tidak kehilangan pikirannya sehingga mereka bergerak liar mengikuti keliaran otaknya. Mereka sakit namun tidak merasa sakit. Dan jika anda mengingatkan orang gila tentang penyakit yang dideritanya, maka andalah yang akan dikatakan gila. Inilah sebuah fenomena kegilaan!
“Nak, kalau boleh aku membantumu, sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu?”
“Pastur tidak percaya padaku? Percayalah, saat ini Tuhan sedang dalam tahanan. Dan jika kita tidak segera membebaskan-Nya, mungkin Tuhan sebentar lagi mati. Aku sudah mengatakan hal ini kepada banyak orang, kepada para pemimpin agama, kepada tokoh masyarakat. Namun mereka mencemoohku dan menganggapku orang gila!”
“Baiklah kalau Tuhan sedang dalam tahanan, di manakah Ia ditahan saat ini, agar kita dapat segera menolong-Nya.”
Akhirnya Pastur mengikuti jalan liar pikiran Pemuda itu. Mungkin dengan demikian ia dapat mengetahui permasalahan yang sebenarnya, pikirnya.
“Apakah Pastur ingat perkataan salah seorang bajingan yang disalib bersama Yesus?” tanya Pemuda dengan pandangan menerawang.
“Golgota adalah puncak bukit yang gersang. Ratusan manusia telah mati di sana. Menyerahkan daging tubuhnya pada burung-burung bangkai serta meninggalkan tulang belulang pada batu-batu gunung. Maka tempat itu disebut juga Bukit Tengkorak. Dan di situlah Yesus bergantung di kayu salib menunggu saat-saat terakhir bersama dua orang penyamun. Saat itu salah seorang dari penyamun itu berkata, jika Engkau benar Anak Allah turunlah dari salib-Mu dan bebaskanlah aku. Pastur ingat?”
“Ya. Tapi Ia hanya diam saja.”
“Mengapa Ia diam saja? Apakah Pastur tahu arti diam-Nya? Apakah Pastur tahu mengapa Ia tetap bergantung di salib itu?”
Pemuda itu berkata sambil menunjuk Isa Putera Maria penuh kemarahan, namun terbalut kesedihan. Sementara Pastur mulai tersinggung dengan perkataan Pemuda itu.
“Anak muda, apakah engkau berpikir bahwa Tuhan tidak mampu berbuat apa-apa? Ia bisa membebaskan diri-Nya, namun Ia taat untuk menyelesaikan tugas-Nya. Ia mampu berbuat apa saja, termasuk hanya untuk turun dari kayu salib dan membebaskan berandalan pembunuh yang disalib di samping-Nya.”
“Pastur, ketahuilah, sebenarnya Yesus diam karena Ia sudah bosan melayani manusia. Sekian lama manusia mendikte Tuhan, meminta ini, meminta itu. Apa yang telah diberikan manusia kepada-Nya? Manusia telah diberi pinjaman, namun mereka hanya mengembalikan sebagian bahkan mereka menganggap bahwa itu adalah persembahan buat Tuhan. Ketika Tuhan dalam tahanan seperti ini, siapakah yang hendak membebaskan-Nya?”
“Sebenarnya apa yang kauinginkan, Anak muda? Aku jadi bingung mendengar semua perkataanmu. Sejak tadi engkau selalu berkata kalau Tuhan sedang dalam tahanan dan kalau kita tidak segera membebaskan-Nya, mungkin Ia akan segera mati?”
Dengan sedih dan putus asa pemuda itu berkata,” Ya, saat ini Ia sedang sedih dan kecewa. Ia telah ditangkap dan dimasukkan kurungan oleh manusia yang diciptakan-Nya. Tidak seorang pun mendengar rintihan kelukaan-Nya. Ia hanya dijadikan azimat sakti untuk mengabulkan setiap keinginan dan hawa nafsu manusia. Maka, Pastur, segera tanggalkan jubahmu dan mari kita bakar gereja ini. Kita bakar masjid-masjid, pura dan vihara. Kita bakar semua tempat yang digunakan untuk meminta dan menodong Tuhan. Sudah saatnya Tuhan dibebaskan dari tahanan. Sudah saatnya Tuhan dibiarkan untuk berbuat sekehendak hati-Nya.”

“Kita harus bersegera, sebelum Tuhan menemui ajal-Nya!”

Bintaro, Awal April 2003

Sumber diambil dari Kompasiana.

Dewa Kecil Menari

Puisi Agung Triatmoko

Tarian anak jalanan - Sketsa Haryono

Dewa kecil menari
merengkuh debu jalanan dengan tangan-tangan mungilnya
merengkuh hati lewat hati diam
tak bersuara
tak mampu bersuara
tapi lantang menyentuh tiap relung lain

Dewa kecil menari
meletakkan dahaga kasih sayang pada ketipung jalang
menempelkan harapan pada gitar butut pengamen kecil
terserah
jika kau hendak hentikan dahaga
terserah, jika hendak kau pungut harapan
Dewa kecil tetap menari, memejamkan mata, meliuk, menghentak, bagai dewa dusta mengumbar nafsu
menjauh dari resah dan lapar
karena memang hanya itu yang dimiliki sang dewa kecil
Dewa kecil tetap menari

Dari Mana Datangnya Dinasti Tang? (Bagian 2)

Oleh John Kuan

Ilustrasi diambil dari bp.blogspot.com
Membahas reformasi yang dilakukan oleh Kaisar Xiowen sering membuat saya ragu, takut hal ini dapat membawa kesalah-pahaman kepada orang-orang yang terlalu berlebihan mengunggulkan budaya Han. Reformasi yang dilakukan oleh Kaisar Xiowen seakan-akan sekali lagi memberi mereka bukti bahwa budaya Han memang memiliki kedudukan tertinggi. Tentu, dibandingkan dengan suku Xianbei yang baru melangkah keluar dari masyarakat primitif, kebudayaan Han jauh lebih matang. Suku Han yang telah melewati Dinasti Xia, Shang, dan Zhou ini pernah menghasilkan cukup banyak pemimpin-pemimpin yang membawa kemajuan dalam masyarakatnya, kemudian diperkaya oleh filsuf-filsuf pada akhir Dinasti Zhou, dan juga hasil nyata yang gemilang dari Dinasti Qin dan Han, semua ini bukan saja cukup layak menuntun satu suku nomaden yang ingin secara cepat memajukan kebudayaannya, bahkan materinya sudah terlalu berat. Dalam lembaran-lembaran sejarah sangat mudah menemukan suku Han yang setelah ditaklukkan oleh suku lain justru dapat menaklukkan suku tersebut dari sisi budaya.
Sesungguhnya hanisasi yang dilakukan oleh Kaisar Xiowen bukan hanya sekedar mengakui keunggulan budaya Han, tetapi masih ada sebab lain yang lebih realistis. Ketika dia membuka mata melihat dirinya telah diwariskan sebuah kerajaan yang begitu luas, dia merenung sejenak, lalu cepat-cepat mencari alasan lain di luar keunggulan militer sebagai penguasa. Mungkin seperti Iskandar Agung, penakluk Macedonia Kuno yang juga meninggal pada usia tiga puluh dua tahun itu, selalu bersujud di depan altar wilayah-wilayah yang telah ditakluknya. Tujuannya juga untuk mencari alasan penaklukan di luar kekuatan militer.
Ada satu kenyataan yang mesti diperhatikan: Kaisar Xiowen memaksa bawahannya mengadopsi budaya suku Han, tetapi tidak pernah melarang mereka membawa masuk unsur-unsur budaya nomaden yang bersifat terbuka ke dalam budaya Han, atau dengan kata lain, hanya ketika mereka sudah sepenuhnya terhanisasi, unsur-unsur budaya nomaden baru mungkin benar-benar meresap ke dalam budaya Han.
Dia melarang suku Xianbei tidak memakai pakaian Han, tidak menggunakan bahasa Han, tetapi dia tidak melarang orang Han tidak memakai pakaian Han, tidak menggunakan bahasa Han. Sesungguhnya, saat ‘ suku asing ‘ dihanisasi, sebenarnya juga merupakan ‘ proses pengasingan ‘ suku Han. Mungkin ini merupakan suatu bentuk peleburan dua arah dalam satu tubuh.
Sejak Dinasti Wei Utara, banyak sekali budaya suku-suku minoritas di perbatasan utara dan barat diserap suku Han, contoh-contoh nyata begini sangat mudah ditemukan, misalnya alat musik, mulai dari mandolin, seruling, rebana, hingga pipa… seandainya tanpa suara-suara merdu ini, orkestra yang dimainkan Dinasti Tang pasti kehilangan sebagian besar kemegahannya. Hal ini sangat mudah dimengerti jika melihat lukisan-lukisan dinding gua di Dunhuang, atau membaca puisi-puisi Tang. Satu kenyataan adalah budaya Han sejak jaman dulu bukan saja sebagai penyumbang untuk budaya suku lain tetapi juga sebagai penerima atau penyerap budaya suku lain. Dan bukan hanya di bidang musik saja, hampir pada segala bidang mempunyai proses yang hampir sama. Dari ini dapat ditarik kesimpulan, Dinasti Tang, bukan suku Han sendiri yang dapat ciptakan.
Lebih penting lagi adalah adanya suatu daya yang bersifat terbuka dalam budaya nomaden yang dimasukkan ke dalam budaya Han. Daya itu sedikit liar, sedikit dingin, sedikit kasar, sedikit kacau, namun begitu luas, begitu bebas, begitu santai. ” Langit begitu biru, padang begitu luas ” yang belum pernah dirasakan oleh filsuf-filsuf Cina Kuno di atas pedati di sisi sungai, sudah berubah menjadi latar budaya baru. Kebudayaan Cina seperti menunggang kuda lincah di padang rumput, suara cambuk berbunyi, kaki kuda melesat ke depan, menyongsong sebuah masa depan yang penuh daya hidup.
Reformasi ini bukan hanya demikian saja. Sejak Kaisar Xiowen menganjurkan kawin campur antara suku Xianbei dan suku Han, suatu proses pembauran darah begitu lebar terbuka. Dan ini tidak lagi bersifat politis, tetapi lebih merupakan suatu pembauran alamiah. Dari ini kita dapat menguak sebuah rahasia yang terpedam di lapisan yang cukup dalam tentang terbentuknya Dinasti Tang: Klan Li ( 李氏 ), penguasa Dinasti Tang, merupakan kristalisasi dari kawin campur antara suku Xianbei dan suku Han.
Ibu Kaisar Tang Gaozu ( Li Yuan, 566 – 635 ) maupun Kaisar Tang Taizong ( Li Shimin, 599 – 649 ) adalah orang Xianbei. Isteri Li Shimin juga orang Xianbei. Maka, di dalam tubuh Kaisar Tang Gaocong ( Li Zhi, 628 – 683 ) mengalir tiga per empat darah Xianbei dan seperempat darah Han. Sesungguhnya ibu Kaisar Yang dari Dinasti Sui ( 569 – 618 ) juga orang Xianbei, bahkan adalah saudara kandung ibu Li Yuan. Dalam kartu keluarga mereka semuanya tercantum berasal dari ‘ Luoyang, Henan ‘. Kita tahu, nama tempat asal ini merupakan rancangan Kaisar Xiowen. Sampai di sini kita harus sekali lagi mengakui visi Kaisar Xiowen. Dia menggunakan cara yang paling lembut, paling realistis, mengajak sukunya ikut mengambil bagian dalam proses terciptanya sebuah era yang terang dan gemilang.
Sepotong jalan menuju Dinasti Tang yang megah sudah terbuka lebar. Jalan ini awalnya sedikit sempit, sedikit menyimpang, sedikit berbahaya, namun akhirnya menjadi sepotong jalan besar yang memiliki arti yang sangat penting dalam perjalanan sejarah Cina. Ada dua tempat yang paling dapat mewakili telah terbukanya jalan besar menuju Dinasti Tang, yaitu Gua Yungang ( 云冈石窟 ) dan Gua Longmen ( 龙门石窟 ). Gua Yungang berada di Datong, Provinsi Shanxi dan Gua Longmen berada di Luoyang, Provinsi Henan, dua tempat ini sama-sama merupakan ibukota Dinasti Wei Utara. Dua tempat ini dapat dilihat sebagai tanda perpindahan Dinasti Wei Utara.
Sebenarnya saya sangat ingin mendeskripsikan ke dua gua yang pasti akan membuat setiap orang yang memandangnya terpana, namun saya kemudian sadar, di depan ke dua gua ini, kata-kata tidak akan berdaya. Di sini, kita bukan hanya dapat merasakan suatu keindahan yang agung, bertenaga, dan terbuka dari penguasa suku Xianbei, tetapi juga perpaduan yang serasi dari lebih banyak kebudayaan-kebudayaan yang berasal dari tempat yang lebih jauh.
Karena mereka dapat dengan sikap terbuka menerima keunggulan budaya Han, tentu juga akan bersikap serupa terhadap budaya lain. Mereka telah berubah menjadi semacam ‘ busa ‘ yang memiliki daya isap yang tinggi, budaya apapun pasti akan mendapat satu kedudukan di dalamnya. Mereka sendiri agak kekurangan ketebalan budaya, masih belum terbentuk kebudayaan yang rumit dan dalam, kelemahan ini dengan cepat berubah menjadi keunggulan mereka, karena mereka agak jarang menolak ‘ yang lain ‘ kemudian berubah menjadi ‘ tuan rumah ‘ yang memiliki pembauran berbagai macam budaya. Jadi, sebuah perjamuan budaya meriah yang sesungguhnya sudah siap dihidangkan.
Ambil satu umpama untuk hal ini. Misalkan ada sekelompok tetua yang memiliki ilmu pengetahuan yang dalam menetap secara terpencar, ada yang dekat, ada yang jauh, karena latar belakang dan kekuatan masing-masing membuat mereka bersikap saling bertahan. Tiba-tiba dari daerah luar datang seorang anak muda yang sehat dan kuat namun sejak kecil kehilangan kesempatan mencecap pendidikan, terhadap ilmu siapa pun dia menaruh hormat dan menerima, tanpa prasangka, dan memiliki tenaga untuk mengundang ke sana kemari tetua-tetua itu, akhirnya, dengan dia sebagai pusat, tetua-tetua itu pelan-pelan mulai berjalan seiring, ramai sekali.
Anak muda yang sehat dan kuat ini, dialah klan Touba dari suku Xianbei. Perjamuan budaya yang meriah, itulah Gua Yungang dan Gua Longmen.
Perancang dan pemimpin pembukaan Gua Yungang yang paling penting adalah seorang biksu bernama Tan Yao ( 昙曜 ). Dia sesungguhnya adalah biksu yang menetap di Liangzhou ( 凉州 – kini sekitar Wuwei, Provinsi Gansu ), waktu itu Liangzhou merupakan pusat kebudayaan Buddha yang sangat penting. Pada tahun 439, setelah Dinasti Wei Utara berhasil menguasi Liangzhou, sekitar tiga puluh ribu penduduk dan beberapa ribu biksu yang tertawan dibawa ke Pingcheng ( ibukota Dinasti Wei Utara ), banyak dari tawanan itu merupakan perancang dan pemahat batu gua Buddhis, Tan Yao juga termasuk salah satu di antaranya, oleh sebab itu Gua Yungang memiliki corak Liangzhou yang sangat kental. Dan gua-gua Buddhis di Liangzhou merupakan titik bertemunya berbagai kebudayaan, di sana ada kebudayaan India, Asia Selatan, dan Asia Tengah. Maka, Gua Yungang yang melalui peralihan dari gua-gua di Liangzhou, telah mengendap selapis kebudayaan luar yang sangat tua dan jauh. Seni pahat Yunani sangat menonjol di sini, tentu karena pengaruh seni Gandhara, dan itulah perpaduan antara kebudayaan India dan kebudayaan Yunani.
Sebelum Gandhara, seni Buddhis kebanyakan dengan stupa atau bangunan memorial lain sebagai lambang, sejak invasi Iskandar Agung, sekelompok besar seniman yang mengikuti pasukan tentara juga sampai, seni Buddhis mengalami perubahan yang dratis, serangkaian perubahan mulai dari batang hidung, cekung mata, garis bibir hingga lengkung dagu yang khas orang Eropa terjadi, dan perubahan ini menyebar luas masuk ke daerah perbatasan barat Cina, seperti daerah Kucha dan Khotan di Xinjiang. Karena Gua Yungang telah menyerap corak Liangzhou, Kucha, dan Khotan, berarti juga telah menyerap kebudayaan India dan kebudayaan Yunani.
Setelah ibukota Dinasti Wei Utara pindah ke Luoyang, perhatian terpusat pada pembangunan Gua Longmen. Gua ini melanjutkan gaya Gua Yungang, namun merangkul lebih banyak lagi budaya luar, dan perbandingan budaya Cina juga makin meningkat.
Itulah kegagahan Dinasti Wei Utara. Menelan seribu aliran, menerima yang jauh dan dekat, hampir mengumpulkan seluruh intisari dari beberapa kebudayaan besar dan penting di dunia, dilebur dalam satu tubuh, saling berkembang, tumbuh dan bergelora. Kebesaran ini, tiada duanya, oleh sebab itu, Dinasti Tang sudah sangat dekat.
Dinasti Tang dapat menjadi sebuah jaman keemasan, tepat karena dia tidak murni. Sepanjang sejarah tidak sedikit cendekiawan yang ingin mencari kemurnian sebuah kebudayaan, di dalamnya termasuk bahasa, begitu juga para cendekiawan Cina. Sesungguhnya, terlalu murni akan berubah jadi sesuatu yang terbuat dari kaca, biarpun tiap hari digosok hingga mengkilap dan tembus pandang, tetapi tetap tidak dapat mengubah dirinya yang kecil, tipis, dan rapuh. Dan mungkin suatu hari, karena agak kuat menggenggamnya sewaktu menggosok sehingga dia hancur berkeping, dan kepingan itu juga sangat mungkin melukai tangan. Apalagi, kaca juga merupakan senyawa kimia, bagaimana dapat dikatakan benar-benar murni?
Dinasti Wei Utara menggunakan seluruh dayanya mempersiapkan Dinasti Tang yang tidak murni. Karena tidak murni maka jalan itu berubah menjadi lebar dan terbuka, dan di sisinya masih ada dua pintu gua batu yang megah, ini adalah satu jalan besar yang disusun dari potongan-potongan batu keras, membentang di antara langit dan bumi. Jika dibandingkan, maka setapak kebudayaan yang tersembunyi di dalam gulungan kertas yang tersimpan di dalam perpustakaan, tampak terlalu sepele.
Di sekitar jalan besar ini, semua kebudayaan yang memiliki daya hidup pasti akan mendekat, ini adalah gambaran kebudayaan yang penuh warna dan hidup. Kadang-kadang kita hanya dapat mengeluh saat melihat banyak kebudayaan yang sesungguhnya sudah terbentang sepotong jalan lebar menuju kejayaan, namun begitu saja dikuburkan, hanya karena tidak dapat menerima perbedaan. Manusia selalu begitu, terlalu pintar, setelah menciptakan kebudayaan sendiri, kemudian menjadi sangat peka dan menarik garis pembatas dengan kebudayaan lain. Akibatnya, karena ingin melindungi diri sendiri akhirnya terjerumus menjadi mengekang diri sendiri. Seandainya kita melepaskan kepintaran ini, seluruh pemandangan akan menjadi berbeda, dengan demikian, saya rasa sudah sampai di depan gerbang megah Dinasti Tang.

Baca sebelumnya:
Dari Mana Datangnya Dinasti Tang? (Bagian 1)

Informasi Lomba Cerpen RetakanKata

Semarak Lomba Cerpen RetakanKata masih terus berlangsung. Sampai saat ini, 29 Januari 2012, sebanyak 315 orang mendaftarkan diri sebagai peserta, dan 100 karya sudah masuk ke panitia. Pendaftaran lomba masih terbuka sampai dengan tanggal 5 Februari 2012. Mengenai cara mendaftarkan diri, bisa dilihat di sini atau di sini. Batas akhir pengiriman naskah tanggal 10 Februari 2012. Tata cara pengiriman naskah dapat dilihat di sini dan di sini. Terima kasih atas partisipasinya.
Mengingat banyaknya peserta dan naskah yang masuk, tidak memungkinkan bagi panitia untuk melakukan update informasi setiap saat dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama berulang-ulang di blog ini dikarenakan teknis website yang menganggap pertanyaan dan jawaban yang sama sebagai SPAM. Terkait dengan hal tersebut, maka sangat diharapkan agar teman-teman melihat dan membaca posting-posting yang ada di PAGE FACEBOOK RetakanKata (Blog Seni dan Budaya).
Sekali lagi terima kasih atas kerja sama dan partisipasi sahabat semua. Selamat Berlomba!

Negara di Bawah Bayang-bayang Ranjang

Gerundelan Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi diunduh dari kompas.com

Sebenarnya saya cukup ragu menggunakan judul di atas. Mungkin akan lebih menarik jika berjudul “Negara Seluas Ranjang”. Tapi judul demikian akan terbaca terlalu satire dan tampak seperti mengarah pada satu ranjang saja. Bisa jadi pembaca menginterpretasikan sebagai ranjang Presiden saja. Ingatan pembaca seolah dikembalikan pada rumor pernikahan Pak Beye sebelum masuk Akabri. Padahal ingatan publik akan pernikahan Edhie Baskoro Yudhoyono dan Siti Aliya Radjasa belum lama ini, masih cukup hangat. Sebagian pengamat menyebut pernikahan tersebut sebagai pernikahan politik yang tentu saja dibantah Presiden (Republika, 22 November 2011). Bantahan Pak Beye pantas dimaklumi mengingat kesulitan awam membayangkan apa yang disebut pernikahan politik sebab sebenarnya memang tidak mudah mengawinkan ideologi.
Awalnya adalah Michael Foucault yang memberi istilah “tubuh adalah politik karena seks” pada wacana seks dan kekuasaan. Sebagaimana ditulis Haryatmoko (2010), Foucault memaparkan bahwa kekuasaan yang berfungsi mengatur kehidupan, memiliki tanggung jawab atas kehidupan sehingga memberi akses pada kekuasaan untuk masuk sampai pada tubuh. Dalam konteks demikian, tubuh bukan menjadi sesuatu yang penting jika tidak terdapat unsur seks. Kekuasaan menggunakan seks untuk mempolitisasi tubuh demi kekuasaan itu sendiri. Tanpa seks, tubuh bukanlah politik sebab yang demikian tidak menunjukkan tanggung jawab kekuasaan atas keberlangsungan kehidupan. (Catatan penulis tubuh di sini bisa saja tubuh lelaki atau tubuh perempuan). Penjelasan Foucault atas fenomena tersebut menarik untuk diperbincangkan terkait fenomena keindonesiaan akhir-akhir ini terutama bahwa pernikahan Ibas dan Aliya mendapatkan konteksnya. Tanpa ketertarikan seksual antara Ibas kepada Aliya atau sebaliknya, maka dapat dikatakan pernikahan Ibas dan Aliya memperoleh justifikasi sebagai pengawinan politik untuk kekuasaan semata.
Seharusnya, awal tulisan ini saya cantumi definisi seks terlebih dahulu. Mungkin saya cantumkan definisi menurut kamus besar bahasa Indonesia yang memberi definisi seks sebagai alat kelamin atau sebagai suatu hal yang berhubungan dengan kelamin atau sebagai birahi. Tetapi definisi-definisi tersebut masih belum cukup jelas menjelaskan “tubuh adalah politik karena seks”. Beberapa artikel terkait dengan seksual seperti pelecehan seksual, kuasa seks, paradok seks dan di beberapa artikel lain belum saya temukan penjelasan yang memuaskan mengenai seks. Dengan demikian saya tidak mencantumkan definisi seks sebab saya beranggapan definisi utuh serta berterima umum mengenai seks belum saya temukan.
Dengan ketidakpahaman secara utuh tentang seks, bagaimana saya harus menjelaskan keberadaan “tubuh adalah politik karena seks” pada fenomena menarik seperti pertarungan pilkada Bupati Kediri antara istri tua, Haryanti, dengan istri muda, Nurlaela, pada tahun 2010 lalu. Sebelumnya, kita ingat Rano Karno dan Dede Yusuf berhasil memenangkan pilkada. Jujur, andai mereka tidak ganteng dan seksi di mata pemilihnya, saya tidak begitu yakin mereka akan memenangkan pilkada sebab saya belum pernah membaca tulisan pemikiran Rano Karno maupun Dede Yusuf. Saya juga belum pernah membaca tulisan pemikiran Julia Peres, Inul Daratista dan Ayu Azhari yang mencoba peruntungan menjadi pejabat daerah. Absennya pemikiran dari para artis seksual tersebut seperti menjelaskan kepada publik bahwa mereka sedang mempolitisasi tubuh untuk mendapat kekuasaan. (Atau malah sebaliknya, seks menunjukkan kekuasaannya dengan menaklukkan kalkulasi-kalkulasi politik?)
Bagi kaum pembela hak-hak politik perempuan fenomena tersebut mungkin dianggap sebagai salah satu kemajuan emansipasi serta kesetaraan gender dalam hukum, politik dan kekuasaan kepemerintahan. Persoalannya, seksi pada dasarnya bukan monopoli kaum perempuan. Bisa jadi kemenangan Rano Karno, Dede Yusuf dan Dicky Chandra pun adalah karena keseksian mereka. Mengapa yang dikaitkan dengan keseksian mesti harus perempuan?
Bagi politisi tulen, tanpa daya tarik seksual mereka, tubuh-tubuh tersebut tidak menghasilkan keuntungan apapun. Tubuh-tubuh yang berpolitik tanpa comparative advantage. Adanya daya tarik seksual membuat mereka mampu melakukan penaklukan terhadap pakem politik yang lazim meski tentu saja tidak dapat dihindari perebutan kekuasaan antara politik dan seks itu sendiri. Untuk mengukur seberapa kuat daya tarik seks para calon bupati dan wakil bupati tersebut, mungkin dapat dilakukan dengan mengukur seberapa kuat competitive advantage antar mereka. Pada titik ini, apa yang disampaikan Foucault bahwa kapitalisme membutuhkan tubuh yang dapat dikontrol untuk produksi, kembali menemukan konteksnya.
Tetapi tulisan ini akan melenceng terlalu jauh dari pokok permasalahan semula tentang negara yang di bawah bayang-bayang ranjang jika memasuki kajian mana yang lebih kuat antara seks dan politik pada kekuasaan, terlepas dari rerangka kekuasaan kapitalisme yang mungkin tidak terlalu peduli mana yang lebih kuat, sepanjang tetap menghasilkan keuntungan maksimal bagi pemilik modal, itu bukan masalah urgen. Dengan kata lain, siapa yang mampu mengontrol tubuh, ia akan memperoleh keuntungan maksimal. Dan seksualitas berkali-kali tampaknya merupakan alat paling efektif dan efisien untuk melakukan kontrol tubuh. Pembicaraan di ranjang bisa jadi bermuara pada munculnya berbagai kebijakan di ranah publik. Pembicaraan para politisi dengan istrinya. Atau pembicaraan istri pertama dengan istri kedua. Atau pembicaraan para politisi dengan istri simpanannya. Atau pembicaraan entah dengan siapa yang kebetulan tidur satu ranjang. Dan di ranjang-ranjang yang tersembunyi, publik tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dibicarakan yang kemudian juga bisa jadi kebijakan yang sulit terpahami publik. Ketika kisah ranjang tersebut terkuak, kriminalisasi terhadap perempuan biasanya yang lebih dulu dilakukan.
Ambil contoh misalnya kasus Bill Clinton dan Lewinsky. Publik Amerika yang diperkenalkan sebagai negara dengan seks bebas dan bertanggung jawab, tetap lebih memilih agar Clinton mengakui perbuatan yang tidak patut. Mereka “hanya” menginginkan presidennya tidak berbohong. Tetapi, sejauh pengetahuan penulis, publik Amerika tidak menanyakan adakah kebijakan publik yang dipengaruhi kedekatan Clinton dengan Lewinsky.
Kita lihat kemudian kasus yang terjadi di Indonesia. Kasus Yahya Zaini, kasus bupati Pekalongan Qomariyah-Wahyudi, termasuk fenomena-fenomena politik yang telah disebutkan sebelumnya seperti pemilihan bupati Kediri, pencalonan Julia Perez, Inul dan Ayu Azhari. Publik lebih menyukai pewacanaan seks yang ada pada kasus-kasus tersebut tetapi abai pada substansi siapa sebenarnya pengambil keputusan yang nantinya akan berdampak luas. Pewacanaan seks ini lebih sering berujung pada kriminalisasi perempuan daripada, minimal menuntut politisi untuk tidak berbohong mengakui perbuatannya. Mengakui bahwa mereka takluk pada seks. Yang cukup mengkhawatirkan adalah apabila ternyata kriminalisasi perempuan merupakan bentuk balas dendam dari setiap kekalahan kekuasaan lelaki atas ranjang. Sayangnya, belum ada penelitian empiris tentang berbagai pertanyaan tersebut.
Dari uraian-uraian sebelumnya, saya ingin menyimpulkan bahwa terdapat kemungkinan bahwa kekuasaan dalam konteks kepemerintahan sebuah negara bisa jadi bukan tersebab oleh politik melainkan oleh dominasi seks. Dominasi tersebut tidak saja pada tataran konkrit yang kasat mata tetapi juga pada tataran abstrak imajinasi para pelaku atau obyek-obyek seks yang menjadi sasaran kekuasaan. Bayangkan perebutan kekuasaan atas kontrol tubuh itu terjadi di ranjang-ranjang para politisi kita. Bayangkan daya tarik seks Julia Peres, Inul dan Ayu Azhari menguasai imajinasi para pemilih yang kemudian dibawa keranjang kapan pun mereka mau. Emansipasi perempuan pada ranah politik mungkin saja melangkah maju, tetapi istri-istri atau perempuan-perempuan yang hak-hak seksualnya tidak terpenuhi adalah kemunduran di sisi lain.
Pada konteks pemikiran sebagaimana diuraikan di atas, pada akhirnya, baik buruknya sebuah negara, maju tidaknya sebuah negara, akan bergantung pada siapa yang menguasai ranjang. Dan celakanya, entah lelaki atau perempuan yang menguasai ranjang, pemenangnya adalah tetap kapitalisme. Mungkin kaum perempuan harus berpikir ulang perjuangan untuk kaum mereka yang sesungguhnya. Atau setidaknya, kita harus berpikir ulang tentang relevansi daya tarik seksual untuk memperoleh kekuasaan di satu sisi, dan berpikir tentang relasi seks dan kekuasaan dengan kapitalisme di sisi lain.

WITCHBLADE | the movie

Resensi Rere ‘Loreinetta

Witchblade adalah senjata mistis yang memberi kekuatan super bagi para pemakainya – seorang wanita untuk setiap generasi .
Dari generasi ke generasi, para wanita pejuang pemilik Witchblade selalu menggunakannya untuk menghancurkan kejahatan yang mengancam kemanusiaan. Pemegang senjata mistis ini harus juga melawan kekuatan kegelapan yang sangat menginginkan kekuatan Witchblade .
Daftar pengguna Witchblade sangat panjang dan terdiri dari beberapa wanita yang paling terkenal dalam sejarah kita, di dalamnya termasuk Cleopatra dan Joan of Arc.
Cleopatra adalah seorang Ratu Mesir kuno, anggota terakhir dinasti Ptolemeus. Sedangkan Joan of Arc) adalah pahlawan negara Perancis dan orang suci (santa) dalam agama Katolik.
Namun menjadi pemilik Witchblade juga memiliki resiko sangat besar karena jika tidak hati-hati atau kuat mentalnya akan bisa menjadi budak senjata hidup yang mempunyai pikiran yang tidak selalu sejalan dengan pemiliknya.
Itulah yang digambarkan dalam film aksi laga hasil besutan sutradara Ralph Hemecker pada tahun 2000 yang berdasarkan komik karya Marc Silvestri yaitu “Witchblade”.
Selama beberapa dekade terakhir ini Witchblade tidak muncul di dunia, namun kini pada awal abad ke-21 ini Witchblade telah memilih pemilik barunya dan maka perang antara kebaikan dan kejahatan pun dimulai.
Kisahnya dimulai pada suatu hari ketika Detektif Polisi NYPD Sara Pezzini (Yancy Butler) bersama mitranya Danny Woo menyelidiki kematian teman Sara semasa kecil.
Ketika mengejar pembunuh temannya hingga ke sebuah museum, Sara menghadapi kenyataan pahit karena mitranya tewas. Bahkan Sara hampir saja tewas jika ia tidak mengenakan Witchblade yang tersimpan di museum.
Ketika pembunuh menembaknya, Witchblade yang tersimpan dalam kaca pecah terkena peluru pembunuh, terjadi kejadian aneh karena Witchblade secara ajaib mendadak sudah dikenakan (terpakai) Sara sehingga berhasil memantulkan peluru yang menuju ke arahnya.
sebelumnya memang Sara seperti terhipnotis oleh keberadaan waitchblade yang ternyata mempunyai mata merah yang bisa terbuka dan tertutup. Belum habis keheranan Sara, ia menemukan mitranya tergeletak tewas tanpa bisa ditolongnya.
Kemarahan dan kesedihan Sara ternyata membuat senjata Witchblade-nya menjadi hidup dan menunjukkan angkara murkanya sehingga anak buah pembunuh Danny pun tewas mengenaskan. Sara tentu saja terkejut karena tidak menyangka senjata barunya memiliki pikiran sendiri tanpa bisa dikendalikannya.
Kini Sara harus belajar bagaimana mengendalikan Witchblade agar tidak bertindak semaunya. Selain itu muncul dua pria misterius yaitu Ian Nottingham dan majikannya Kenneth Irons yang memiliki kaitan erat dengan Witchblade itu.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Siapakah Ian Nottingham dan Kenneth Irons yang begitu menaruh perhatian terhadap Sara?

Title: Witchblade
Director:Ralph Hemecker
Actors: Yancy Butler, Eric Etebari, Anthony Cistaro, Will Yun Lee, David Chokachi
Studio: Warner Home Video
DVD Release Date: July 29, 2008
Run Time: 1122 minutes

Data Sumber: Amazon.com