Tuhan Sedang dalam Tahanan

Cerpen Janardana
Editor Ragil Koentjorodjati

ilustrasi dari shutterstock
Di bulan Maret, pada sebuah tahun, mentari senja bersinar malas. Pisau keemasan yang dilemparkan langit dari barat cakrawala membelah siluet gereja tua menjadi garis-garis hitam pada tanah. Sore tampak menyedihkan dalam genggaman bayang-bayang malam. Bunga-bunga yang semula tegak meregang tegang, kini menunduk menekuk wajah. Senyum bocah-bocah di riang siang, meliuk lunglai keletihan. Di sore yang muram ini, angin pun enggan berjalan menyapa keringat manusia yang rindu kesejukan.
Kesunyian yang sakit dan membosankan sore itu mengalir memasuki ruangan gereja tua, di mana seorang pemuda duduk membisu. Matanya tajam menatap Isa yang tergantung di salib, di atas tabernakel. Senyuman para malaikat di kanan dan kiri ruangan altar tidak dihiraukannya. Sesekali matanya beralih dari Isa ke sepotong koran yang digengamnya. Sekejap kemudian ia berdiri, memetik setangkai melati yang banyak tersedia dalam vas bunga menghiasi meja altar, lalu melemparkan bunga itu ke Isa Anak Maria, sambil berkata,”Apa yang sedang Kaulakukan di situ?”
“Apa yang sedang kauperbuat, Nak? Tidak tahukah engkau bahwa ini tempat ibadah? Rumah Allah?”
Tiba-tiba seorang pastur sudah berada di belakang pemuda itu. Tatapannya penuh kasih, namun tidak cukup kuat untuk menutupi kecurigaan yang mengintip di balik kelopak matanya.
“Siapakah engkau, dan apa yang sedang kaulakukan di sini?” tanya pastur kepada pemuda.
Ruangan sejenak mempersilahkan ketegangan singgah dan bermain di sana. Kuku-kuku kecurigaan pun tergurat, meski membeku. Pemuda tahu siapa yang sedang dihadapannya.
“Aku seorang pemuda yang ingin bertanya pada Isa, apa yang sedang Ia lakukan di sana,” katanya sambil menunjuk salib Isa.
“Tapi kenapa engkau melemparinya dengan bunga melati itu? Tidak tahukah engkau bahwa ini adalah rumah ibadah? Aku tidak melihat rasa hormatmu terhadap tempat ini”, kata Pastur masih dengan ucapan yang lembut.
“Pastur, bagaimana kalau kita bekerja sama membakar gereja ini? Setelah itu kita bakar pula masjid-masjid, vihara, pura dan tempat-tempat pemujaan setan yang tersebar di mana-mana?”
“Anak muda, apakah engkau tidak sedang sakit?” tanya Pastur penuh kecurigaan dan kecemasan.
“Tentu aku sangat sehat, Pastur. Aku bukan seorang kristen. Aku juga bukan seorang muslim. Aku bukan orang Budha, bukan pula orang Hindu, Yahudi, atau pun Taoisme. Dan aku juga bukan orang Atheis!”
“Pastur, anda baca koran ini,” katanya sambil mengulurkan koran yang digenggamnya,”diluar sana banyak orang yang ingin membakar tempat ibadah. Ada beberapa alasan mengapa seseorang merasa perlu untuk membakar tempat ibadah. Pertama, karena mereka tidak ingin ada agama lain di luar agama yang dianutnya. Khalayak ramai pun tahu mengenai fanatiisme yang sempit ini.”
Pemuda itu terus berbicara sambil berjalan kian kemari. Tangannya dilipat kebelakang. Tatapan matanya penuh keyakinan. Sang Pastur memandangnya dalam kebingungan. Orang macam apakah yang sedang kuhadapi ini, pikir Pastur.
“Kedua, karena ada orang yang tidak menyukai ada tempat ibadah di wilayahnya. Ketiga, karena ada orang yang ingin memetik keuntungan dari kekacauan politik akibat konflik agama. Keempat, karena ada orang yang frustasi dan tidak tahu apa yang akan dilakukan dengan kemarahannya. Mereka kemudian ikut-ikutan menghancurkan tempat ibadah hanya untuk melampiaskan kekesalan hatinya.”
“Bagaimana Pastur, alasan-alasan tersebut sangat masuk akal bukan?”
“Ya. Agaknya memang seperti itu. Tapi alasan yang mana yang kauajukan hingga engkau mengajakku untuk membakar gereja ini?”
“Tidak satu pun dari keempat alasan itu yang kupakai, maka aku mengajakmu. Engkau bukan seorang fanatik. Aku yakin meskipun aku meludahi patung Maria di sudut itu, engkau pasti tidak akan marah. Engkau bukan seorang materialis atau pun gila kekuasaan layaknya seorang tokoh spiritual. Engkau juga bukan orang yang bodoh yang tidak tahu apa yang harus dikerjakan untuk Tuhanmu, untuk agamamu dan untuk negaramu.”
“Ya. Tapi aku seorang pastur, tokoh agama, pemuka masyarakat. Apa kata mereka jika aku mengikuti kata-katamu untuk membakar gereja ini?” kata Pastur dengan wajah yang mencoba menerangkan suatu kebenaran.
Pemuda itu menatap Sang Pastur dengan sedih. Matanya berkaca-kaca, tangannya terkepal erat, dan dengan lirih ia berkata,”Aku yakin kalau Pastur tidak tahu bahwa saat ini Tuhan sedang dalam tahanan.”
Pastur menjadi masgul mendengar perkataan Pemuda. Ia mulai mengerti manusia macam apa yang sedang ia hadapi saat ini. Hanya ada tiga jalan untuk menyelesaikan perkara dengan pemuda ini. Pertama, mengajaknya berbicara secara baik-baik untuk mengetahui masalah yang sebenarnya sedang ia hadapi. Kedua, memanggil satpam gereja supaya menyeretnya keluar dan diserahkan ke rumah sakit jiwa. Dan yang ketiga, menendangnya seperti seekor anjing!
Tapi sepertinya Pastur ingin membantu meringankan beban psikologis orang yang membutuhkan pertolongan, seperti yang seharusnya dilakukan oleh para rohaniwan maupun alim ulama.
“Nak, aku memang tidak tahu kalau Tuhan sedang dalam tahanan. Tetapi menurutku sebaiknya engkau kembali ke rumahmu, mungkin ayah ibumu saat ini kebingungan mencarimu, Nak. Biarlah Tuhan membebaskan diri-Nya sendiri. Bukankah engkau tahu bahwa Ia Yang Maha Kuasa?”
“Bagaimana kalau Tuhan keburu mati dalam tahanan sebelum Ia sempat membebaskan diri-Nya?”
Semakin kuatlah keyakinan Pastur bahwa pemuda ini sedang mengalami goncangan jiwa. Sejak kapan Tuhan bisa mati, pikir Pastur. Saat seperti ini menjelaskan adalah satu pekerjaan yang sia-sia.
Hanya orang-orang gila yang tidak bisa menerima sebuah penjelasan akal sehat. Mereka telah kehilangan akal budinya, namun tidak kehilangan pikirannya sehingga mereka bergerak liar mengikuti keliaran otaknya. Mereka sakit namun tidak merasa sakit. Dan jika anda mengingatkan orang gila tentang penyakit yang dideritanya, maka andalah yang akan dikatakan gila. Inilah sebuah fenomena kegilaan!
“Nak, kalau boleh aku membantumu, sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu?”
“Pastur tidak percaya padaku? Percayalah, saat ini Tuhan sedang dalam tahanan. Dan jika kita tidak segera membebaskan-Nya, mungkin Tuhan sebentar lagi mati. Aku sudah mengatakan hal ini kepada banyak orang, kepada para pemimpin agama, kepada tokoh masyarakat. Namun mereka mencemoohku dan menganggapku orang gila!”
“Baiklah kalau Tuhan sedang dalam tahanan, di manakah Ia ditahan saat ini, agar kita dapat segera menolong-Nya.”
Akhirnya Pastur mengikuti jalan liar pikiran Pemuda itu. Mungkin dengan demikian ia dapat mengetahui permasalahan yang sebenarnya, pikirnya.
“Apakah Pastur ingat perkataan salah seorang bajingan yang disalib bersama Yesus?” tanya Pemuda dengan pandangan menerawang.
“Golgota adalah puncak bukit yang gersang. Ratusan manusia telah mati di sana. Menyerahkan daging tubuhnya pada burung-burung bangkai serta meninggalkan tulang belulang pada batu-batu gunung. Maka tempat itu disebut juga Bukit Tengkorak. Dan di situlah Yesus bergantung di kayu salib menunggu saat-saat terakhir bersama dua orang penyamun. Saat itu salah seorang dari penyamun itu berkata, jika Engkau benar Anak Allah turunlah dari salib-Mu dan bebaskanlah aku. Pastur ingat?”
“Ya. Tapi Ia hanya diam saja.”
“Mengapa Ia diam saja? Apakah Pastur tahu arti diam-Nya? Apakah Pastur tahu mengapa Ia tetap bergantung di salib itu?”
Pemuda itu berkata sambil menunjuk Isa Putera Maria penuh kemarahan, namun terbalut kesedihan. Sementara Pastur mulai tersinggung dengan perkataan Pemuda itu.
“Anak muda, apakah engkau berpikir bahwa Tuhan tidak mampu berbuat apa-apa? Ia bisa membebaskan diri-Nya, namun Ia taat untuk menyelesaikan tugas-Nya. Ia mampu berbuat apa saja, termasuk hanya untuk turun dari kayu salib dan membebaskan berandalan pembunuh yang disalib di samping-Nya.”
“Pastur, ketahuilah, sebenarnya Yesus diam karena Ia sudah bosan melayani manusia. Sekian lama manusia mendikte Tuhan, meminta ini, meminta itu. Apa yang telah diberikan manusia kepada-Nya? Manusia telah diberi pinjaman, namun mereka hanya mengembalikan sebagian bahkan mereka menganggap bahwa itu adalah persembahan buat Tuhan. Ketika Tuhan dalam tahanan seperti ini, siapakah yang hendak membebaskan-Nya?”
“Sebenarnya apa yang kauinginkan, Anak muda? Aku jadi bingung mendengar semua perkataanmu. Sejak tadi engkau selalu berkata kalau Tuhan sedang dalam tahanan dan kalau kita tidak segera membebaskan-Nya, mungkin Ia akan segera mati?”
Dengan sedih dan putus asa pemuda itu berkata,” Ya, saat ini Ia sedang sedih dan kecewa. Ia telah ditangkap dan dimasukkan kurungan oleh manusia yang diciptakan-Nya. Tidak seorang pun mendengar rintihan kelukaan-Nya. Ia hanya dijadikan azimat sakti untuk mengabulkan setiap keinginan dan hawa nafsu manusia. Maka, Pastur, segera tanggalkan jubahmu dan mari kita bakar gereja ini. Kita bakar masjid-masjid, pura dan vihara. Kita bakar semua tempat yang digunakan untuk meminta dan menodong Tuhan. Sudah saatnya Tuhan dibebaskan dari tahanan. Sudah saatnya Tuhan dibiarkan untuk berbuat sekehendak hati-Nya.”

“Kita harus bersegera, sebelum Tuhan menemui ajal-Nya!”

Bintaro, Awal April 2003

Sumber diambil dari Kompasiana.