Tunangan (2)

Cerita Anton Chekhov
Alih Bahasa Retakankata
kasih tak sampai

Seseorang keluar dari rumah kemudian berdiri di tangga. Alexandr Timofeitch, atau biasa dipanggil, Sasha. Sasha datang dari Moskow sepuluh hari yang lalu dan kini tinggal di rumah Nadya. Tahun lalu janda Marya Petrovna, wanita kurus kecil dan sakit-sakitan yang telah tenggelam dalam kemiskinan, datang ke rumah dan meminta bantuan. Hubungan yang tidak begitu akrab dengan ibunya atau nenek Sasha dijadikan alasan untuk meminta bantuan. Perempuan itu memiliki anak laki-laki, Sasha. Untuk beberapa alasan, lelaki ini memiliki bakat sebagai seniman. Ketika ibunya meninggal, demi keselamatan jiwanya, nenek Nadya mengirimnya ke sekolah Komissarovsky di Moskow. Dua tahun kemudian ia pindah sekolah melukis. Hampir lima belas tahun ia menghabiskan waktu di sana, dan menyisakan sedikit ujian praktik pada bagian arsitektur. Dia tidak dipersiapkan menjadi arsitek, meski demikian ia mengambil pekerjaan sebagai juru cetak logam yang ditulisi. Hampir setiap tahun Sasha datang ke rumah dengan kondisi yang biasanya sangat sakit. Ia kemudian tinggal bersama nenek Nadya untuk beristirahat dan memulihkan kondisinya.
Dia mengenakan mantel berkancing di atas dan celana lusuh berbahan kanvas, dengan lipatan kusut di bagian bawah. Kemejanya belum disetrika dan entah bagaimana, semua yang ada padanya tampak tidak segar. Dia sangat kurus dengan mata besar, jari-jari kecil panjang serta wajah berjenggot gelap. Selain itu semua masih tampak sama, dia tampan. Dengan Shumins ia sudah seperti saudara, dan di rumah mereka, ia merasa seperti di rumahnya sendiri. Ruang di mana ia tinggal selama bertahun-tahun di keluarga itu, biasa disebut kamar Sasha.
Saat berdiri di tangga, ia melihat Nadya, kemudian menghampirinya.
“Sangat menyenangkan di sini,” katanya pada Nadya.
“Tentu saja, Kamu harus tinggal di sini sampai musim gugur.”
“Ya, aku harap demikian. Aku memberanikan diri untuk berkata bahwa aku akan tinggal bersamamu sampai September.”
Dia tertawa tanpa alasan, kemudian duduk di samping Nadya.
“Aku sedang duduk sambil menatap ibu,” kata Nadya. “Dia tampak begitu muda dari sini! Tentu saja ibuku memiliki beberapa kelemahan,” ia menambahkan, setelah berhenti sejenak, “tapi tetap saja ia seorang wanita yang luar biasa.”
“Ya, dia sangat menyenangkan…” Sasha setuju. “Ibumu, dengan caranya sendiri tentu saja, adalah wanita yang sangat baik dan manis, tapi… Bagaimana ya mengatakannya? Aku pergi pagi ini ke dapur dan di sana aku menemukan empat pelayan tidur di lantai, tanpa kasur dan kain untuk alas tidur, bau, dan berkutu,… itu sama seperti dua puluh tahun yang lalu, tidak ada perubahan sama sekali. Nah, Nenek – semoga Tuhan memberkatinya- apa lagi yang bisa kamu harapkan dari Nenek? Kamu tahu, ibumu berbicara dengan bahasa Perancis dan bertindak seperti dalam panggung teater pribadinya. Orang harus berpikir untuk mengerti. ”
Sambil berbicara, Sasha meregangkan dua jarinya menjauh dari wajah pendengarnya.
“Entah bagaimana, semua yang ada disini tampak aneh bagiku, aku sedang mencoba keluar dari kebiasaan,” ia melanjutkan. “Tidak ada jalan keluar. Tidak ada yang pernah melakukan sesuatu. Ibumu menghabiskan seluruh hari dengan berjalan berkeliling seperti putri bangsawan. Nenek tidak melakukan apa-apa, demikian juga kamu. Dan Andrey Andreitch-mu itu, ia juga tidak pernah melakukan apa-apa.”
Tahun kemarin Nadya sudah mendengar semua itu, dan dia mengingat-ingat, tahun sebelumnya juga seperti itu. Dia tahu bahwa Sasha tidak bisa membuat kritik lain, dan di hari-hari sebelumnya, itu cukup menggelikannya, tapi sekarang, untuk beberapa alasan dia merasa jengkel.
“Itu semua basi, dan aku telah muak mendengar itu bertahun-tahun,” kata dia sembari bangkit. “Kamu harus memikirkan sesuatu yang sedikit lebih baru.”
Sasha tertawa dan turut bangkit, lalu mereka pergi bersama menuju rumah. Nadya -tinggi, indah, dan diciptakan dengan baik- berdiri di samping Sasha terlihat sangat sehat dan cerdas berpakaian. Nadya menyadari semua itu dan untuk beberapa alasan yang ganjil, ia merasa kasihan pada Sasha.
“Kamu mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya kamu katakan,” katanya. “Kamu baru saja berbicara tentang Andrey-ku seolah-olah kamu mengenalnya, padahal tidak.”
” Andrey-ku….? persetan dengannya, Andrey-mu. Aku turut bersedih untuk masa mudamu.”
Mereka –keluarga Shumins- sedang duduk untuk makan malam ketika dua orang muda itu masuk ke ruang makan. Nenek, atau yang biasa dipanggil Granny di rumah itu adalah seorang wanita yang sangat gemuk, sederhana dan polos dengan alis lebat dan sedikit kumis. Ia berbicara dengan keras, dan dari suara serta caranya berbicara dapat dilihat bahwa dia adalah orang paling penting dalam rumah. Ia memiliki komplek pertokoan di pasar, sebuah rumah kuno dengan kebun dan jalan setapak, namun setiap pagi ia berdoa dengan berlinang air mata supaya Tuhan menyelamatkan dirinya dari kehancuran. Putri menantunya, ibu Nadya -Nina lvanovna- seorang wanita berambut pirang yang diikat ke dalam, berkacamata untuk satu mata, dan memakai cincin berlian di setiap jarinya. Bapa Andrey, seorang pria kurus tua ompong yang wajahnya selalu tampak seolah-olah dia hanya akan mengatakan sesuatu yang lucu, dan putranya, Andrey Andreitch, seorang pemuda kekar dan tampan dengan rambut keriting, tampak seperti seorang seniman atau aktor. Mereka semua berbicara tentang hipnotisme.
“Kamu akan sembuh dalam seminggu di sini,” kata Nenek kepada Sasha. “Hanya saja, kamu harus makan lebih banyak. Apa yang kau lihat?” ia mendesah. “Kamu benar-benar mengerikan! Kamu seperti anak pada umumnya, pemboros, itulah kamu!”
“Setelah menghambur-hamburkan kekayaan ayahnya dengan hidup berfoya-foya,” kata Bapa Andrey perlahan, dengan mata tertawa. “Dia makan dengan selera binatang.”
“Saya suka ayahku,” kata Andrey Andreitch, menyentuh bahu ayahnya. “Dia orang tua yang indah, seorang rekan tersayang.”
Semua orang terdiam untuk beberapa saat. Sasha tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dan menaruh serbet makan ke mulutnya.
“Jadi Anda percaya pada hipnotis?” tanya Bapa Andrey pada Nina Ivanovna.
“Saya tidak bisa, tentu saja, menyatakan bahwa saya percaya,” jawab Nina Ivanovna, dengan mimik serius, bahkan nyaris tersiksa, “tapi menurut saya, ada banyak hal yang misterius dan tak terpahami di alam.”
“Saya cukup setuju dengan Anda, meskipun saya harus menambahkan bahwa agama jelas membatasi bagi kita domain yang misterius.”
Sebuah kalkun besar dan sangat gemuk disajikan. Bapa Andrey dan Nina lvanovna melanjutkan percakapan mereka. Berlian Nina Ivanovna bersinar di jarinya, kemudian air mata mulai berkilauan di matanya, ia tumbuh bersemangat.
“Meskipun saya tidak bisa mendebat Anda,” katanya, “Anda harus mengakui ada begitu banyak teka-teki larut dalam hidup ini!”
“Semua mengakui, saya jamin.”
Setelah makan malam Andrey Andreitch memainkan biola dan Nina lvanovna menemaninya dengan piano. Sepuluh tahun lalu ia mendapat gelar dari Fakultas Seni sebuah universitas, namun sampai sekarang ia tidak pernah bertahan di satu bidang, tidak punya pekerjaan pasti, dan dari waktu ke waktu hanya turut ambil bagian dalam konser amal. Dan di kota ia dianggap sebagai musisi.
Andrey Andreitch mulai bermain, semua mendengarkan dalam diam. Samovar*) mendidih diam-diam di atas meja dan tidak ada yang minum teh selain Sasha. Kemudian ketika dua belas string biola yang berdenting tiba-tiba putus, semua orang tertawa, sibuk ke sana kemari, lalu mulai mengucapkan selamat tinggal.
Setelah melihat tunangannya keluar, Nadya naik ke lantai atas di mana kamarnya dan kamar ibunya berada. (Lantai di bawahnya ditempati nenek). Mereka mulai menempatkan lampu di bawah ruang makan, sementara Sasha masih duduk minum teh. Dia selalu menghabiskan waktu lama untuk minum teh dalam gaya Moskow, minum sebanyak tujuh gelas pada suatu waktu. Beberapa saat setelah Nadya menanggalkan pakaian dan pergi ke tempat tidur dia bisa mendengar pelayan membersihkan lantai bawah dan suara Nenek yang berbicara dengan marah. Akhirnya semua hening, dan tidak ada lagi suara terdengar, selain batuk Sasha yang dari waktu ke waktu memberat di kamarnya, di lantai bawah.

Bersambung…

Catatan:

Samovar
Samovar: semacam alat seperti poci untuk menjaga teh tetap panas di meja makan.

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s