Mengantar Wang Wei Pulang

Puisi John Kuan

Buat Ahmad Yulden Erwin

gambar diunduh dari lgt560111.blog.163.com
gambar diunduh dari lgt560111.blog.163.com

Sedahan burung gunung tegak ngantuk, kaget
terbangun oleh risik bulan origami kertas puisiku
Suara kepak sayap menghardik bubar seluruh daun
Gunung hampa. Tiadakah orang? Hanya kau
tangan di tepi sungai menyentuh lumut di atas batu

Ah! Sudah begini tua. Selembah musim semi, bunga
sesuai waktu lalu gugur. Tarikh Tianpo 10 tahun?
12 tahun? 15 tahun? Hidup boleh, mati boleh, gontai boleh
santai boleh bagai sekuntum teratai di kolam belakang
dan setiap petang, dalam luar tubuh selapis hijau kelabu

hanya tinggal lekuk batu tinta belum kering
masih tergenang penuh keangkuhan hitam
sebab itu, agak santai, agak malas, tongkat ranting
di tangan, keluar tiga li ke arah tepi air melangkah

.

Tegak, mendongak, tengok gunung, tengok awan
melintas, bergeser, menyebar dari keningmu yang sunyi
di saat begini mendadak terpetik sepatah puisi indah
lalu hilang ditiup rambut kusut baru kau rapikan
Beberapa saat lalu, ada orang datang menyapa:

Puisimu yang mana paling ada renungan zen?
Kau menjawab santai: Bukankah bangau putih itu
diam-diam terbang keluar baris ketiga Genangan
Hujan Wangchuan. Habis ucap, selengan baju bunga alfalfa
menyusuri batu anak tangga, terguncang jatuh

Musim gugur, dengan kurus, dengan ikut
hangat senja, menyusup ke dalam sepi rumahmu
hari disiram hujan gunung, bisa semadi, bisa edit puisi
cicip sedikit hambar Zhuangzi, atau lewat jendela kuyup
menonton asap liar di kaki gunung kepang rambut

Kadang juga teringat An Lushan dan segala rutinitas
Dinasti Tang, atau berdiri, atau duduk, atau lempar pena
bangkit, hingga matahari di ujung dermaga terbenam
dimuat sampan nelayan ke seberang. Pada hening kolam pagi
melihat diri telah sebatang bambu, ditiup angin

setiap ruas bergoyang, setiap ruas tampak kukuh

.

Antar kau, di setapak Hujan Wangchuan, memasuki
kosong ruasmu yang terakhir kau sisakan buatku

Tiga Kilasan Gaya John Kuan

Puisi Ahmad Yulden Erwin

john kuan

1.

Ini bukan soal tiga pon jerami, barangkali
Cuma cahaya tiga lampion, atau mirip senyum
Peramal Tao dengan sebotol arak di bahunya
Lalu pergi: jalan itu, kerikil itu — ia melangkah
Lurus, pelan — sesekali bayangnya bisa menoleh

2.

Tiga koi merah bersisik perak di kepala
Berkilat di kolam dekat kuil; jembatan itu lama
Ditinggalkan — hanya sesekali gema genta
Dicuil jadi sarapan bangau lukisan — mereka
Sebut itu gugus awan: jembatan Joshu yang lain

3.

Koko telanjang dada di bawah bulan petik
Kecapi — sebelum lubang cacing putih memilin
Ujung telunjuk Juzhi pada touchscreen — mungkin
Kita pas berpisah frekwensi di ruang yang sama
Begini saja mestinya sudah cukup jadi jalan pulang

Dua Puisi Kotbah

Puisi John Kuan

1. Santo Fransiskus Berkotbah pada Burung

Pak Fransiskus, santo dari Asisi, bruder kita
pendiri ordo Fransiskan: padang liar abad ke-13
Italia bagaimana? Berbagai rupa dan warna
burung berbaju bagaimana berbeda, berkicau
bagaimana memukau, membuat kau tidak bisa
menahan diri siapkan buat mereka satu pelajaran
demikian indah. Menguak satu tradisi baru, riang
fokus dan bebas begini sebuah ekstrakurikuler?
Mereka sebagai pendengarmu, kau anggap kawula
burung liar sebagai gurumu, membuat kau di abad 21
serentak diangkat sebagai ketua kehormatan WWF,
klub burung, dan perlindungan lingkungan hidup.
Hari itu cahaya matahari berkilau, kau melangkah
di jalan gunung pinggiran Asisi, melewati jembatan
kecil, sampai di bawah sebatang pohon ek hijau, duduk
istirahat di atas sebongkah batu, memandang lembah
di depan mata. Kau mendengar di balik hutan ek
mengapung datang suara nyanyian seekor robin, seolah
searus sungai kecil mengalir berbagai mutiara langka:
memakai satu topi indah berwarna hitam, dada merah
oranje, saudara kita bersayap ini. Kau sungguh
berharap bukan memakai ikat kepala bruder, tetapi
adalah topi hitam seperti dia, selanjutnya seekor wren
tampil melengking, gegas berputar, seolah dipental
ke sana kemari oleh tunas bening di langit, betapa lucu
burung merah kecil! Suster tekukur juga bersenandung
pelan-pelan, kemudian kau mendengar suster vireo
bertopi hitam bolak-balik mencat warna vokalnya
Ah, aku tahu, begini rupanya coloratura soprano berasal

Dia tarik datang lebih banyak kicauan, kau bahkan
mendengar siulan seekor robin kuning bagai tiupan
seruling di tepi mimpi, suaranya lincah seperti cikukua
di dalam senja bertabur cahaya permata, suaranya
terputus-putus mendendangkan suster kita remetuk laut…
Nyanyian mereka mengumpal jadi sebuah pulau suara
penuh bertebaran bermacam warna tanda seru,
tanda titik, tanda koma, titik koma, titik dua, kutip tunggal,
kutip ganda, elipsis terapung di atas laut berlangit biru
kidung mulia nan indah dari paduan suara semesta.
Memuji siapa? Memuji Sang Pencipta memberi mereka
keriangan dan kebebasan, gunakan warna dan irama
berbincang dengan langit dan bumi, berbincang
dengan Dia, dan Dia bersama langit dan bumi
juga membalas dalam warna dan irama…

Kau tiba-tiba bangkit dari bongkahan batu, melangkah
ke tengah jalan bergetar bayang pohon ek,
luruskan pinggang, mendongak bagai seorang tamu
mata telinga dan hati habis dijamu santapan enak,
tegak khidmat bersiap memberi seuntai terima
kasih. Kau tatap burung-burung bernyanyi
di dua sisi hutan pohon ek, mereka lalu heningkan diri,
bangga juga rendah hati berlagak menyambut piala
atau pidato ” Saudara-saudari burung yang tercinta ”
Kau mulai berbicara. ” Terima kasih kalian gunakan
bahasa malaikat, musik tanpa kata membantu aku
buktikan kebenaran Dia bocorkan kepada kami.
Dia beri kalian sepasang sayap lincah, beri kalian langit,
atmosfer, awan, angin, bulan, matahari dan bintang
sebagai pandu dan rambu lalu lintas kalian. Dia beri
kalian warna-warni, aneka bentuk pakaian bulu
dua lapis tiga lapis, walau kalian tidak tahu
merajut dan menjahit. Dia beri kalian pohon tinggi,
rumput hijau, lumut buat sarang, beri kalian air
sungai dan kolam lepas dahaga, sediakan makanan
kesukaan kalian, tidak usah tanam dan panen,
juga tidak usah gesek kartu atau bayar tunai.
Dia cinta kalian, mengajar kalian bersyukur indah
dan riangnya dunia, menikmati perjalanan gaib…
Ah, teruslah kalian memujiNya, dengan berbagai
warna suara, dengan berlembar-lembar gambar
berbeda, perangko berbeda, terbang ke empat penjuru,
bersama segala benda, di antara nyata dan hampa,
tembus waktu, jauh dekat satu cinta, begitu mengikat… ”

2. San Antonio Berkotbah pada Ikan

Melalui Des Knaben Wunderhorn ciptaan Mahler 
di akhir abad ke-19 pertama kali mendengar kisah
kau berkotbah pada ikan: dari kampung halamanmu
Lisboa ke Italia, saudara fransiskan kita, bruder
Antonio, yang berusia 26 tahun dalam Kapitel Tikar di Asisi
tempat berkumpulnya 3000 bruder bertemu santo
Fransisikus yang 39 tahun. Kalian gelar tikar tidur,
pakai kain belacu, dengan kaki telanjang, dengan miskin,
dengan menyebar ajaran, dengan membantu orang
sebagai hiburan. Kau pasti pernah mendengar cerita
dia berkotbah pada burung ( atau mungkin kalian
bisa dengan daya komunikasi ajaib masing-masing
berdialog dengan bahasa ikan dan burung ) Dia minta
kau buka pikiran dulu baru belajar. Kau justru
menyebar ajaran kepada penganut agama lain
di dalam gereja suaramu lantang bergema,
di luar gereja mereka menutup telinga. Kau berjalan
sampai muara sungai, nelayan di atas perahu melihat
kau bagai transparan, kau berbicara pada air mengalir
ke laut, berbuih-buih tiada habis, emang sangat cair.
Tiba-tiba meloncat keluar seekor ikan barakuda
santai menembus permukaan air, dia sambil cuci telinga
sambil menegakkan badan dengar, bagai sebuah roket
didorong panah api semangat bersiap naik angkasa
Salmon yang sedang mudik juga datang, ikan mas
yang mengandung telur juga, belut plotos bermuka
mulus, juga ikan trout yang bergerak anggun.
Mereka begitu riang mengitarimu, bagai menunggu
undian promosi produk baru. Ketam yang malang
melintang, udang di balik batu, pelan-pelan bergerak
dari laut. Kau tersenyum pada mereka dan berkata:
” Aku tidak menjual barang, hanya memberi kalian
hadiah, Bapa yang setiap hari memberi kalian makan
tiga kali, memberi kalian kenikmatan ikan bertemu air
sungai dan laut itu, ingin aku menyampaikan kepada
kalian suaraNya. Dia memberi alam sebuah lemari baju
maha besar, agar kalian kawula ikan bisa memilih
sehelai baju renang atau baju kasual atau formal
sesuai selera masing-masing dan pas. Kalian sering
dengan gerakan tari paling luwes, suasana hati
paling gembira, memuji Bapa! ” Ikan-ikan setelah dengar
mata terbelalak, mulut menganga, berebut goyang
sisik-sisik ditubuhnya, suara sisik bagai suara lonceng
bergetar, segelombang-segelombang umpama tsunami
mencapai permukaan laut, perahu-perahu yang baru
bertolak lekas balik haluan, semua nelayan serentak
mengetuk papan geladak, dengan jempol mereka
menekan [ suka ], irisan-irisan sashimi di atas perahu
disayat hidup-hidup dari ikan tuna, ikan todak,
setengah mati berusaha menemukan jati diri, seolah
telah resureksi bergegas lompat ke dalam air.

Tentang Lomba Menulis Cerpen RetakanKata 2013

Kabar Budaya – RetakanKata

Setelah masa pengumpulan naskah diperpanjang hingga 16 Juni 2013, tercatat 502 judul naskah cerpen diikutkan dalam lomba menulis cerpen RetakanKata tahun ini. Mungkin karena kurang memahami petunjuk lomba, banyak pembaca yang mendaftarkan diri namun tidak melampirkan naskah lomba. Peserta yang demikian secara otomatis tidak terdaftar.

Judul-judul cerpen yang masuk dapat dibaca di situs BukuOnlineStore.com. (Private: Naskah Cerpen yang Diterima Panitia Lomba Menulis Cerpen RetakanKata 2013) Dengan password dan link yang dikirim ke alamat email peserta, Anda dapat membaca judul-judul cerpen yang ikut dalam perlombaan ini. Tanpa login terlebih dahulu, Anda tidak akan dapat membaca artikel yang bersifat private tersebut.

Mengingat jadwal pengumpulan naskah yang diperpanjang dan banyaknya cerpen yang ikut dalam perlombaan, maka target pengumuman lomba diperpanjang sampai tanggal 17 Agustus 2013. Pengumuman lomba akan disampaikan melalui situs RetakanKata dan BukuOnlineStore. Panitia akan mengumumkan judul-judul yang terpilih dan peserta pemilik naskah akan diminta untuk konfirmasi ke panitia.

Terima kasih atas partisipasi para sahabat RetakanKata dalam lomba menulis cerpen RetakanKata 2013. Ikuti terus informasi terkait lomba ini hanya di RetakanKata. Salam menulis dan jayalah sastra Indonesia!

Artikel Terkait:

Lomba Menulis Cerpen RetakanKata 2013

Perubahan Ketentuan Lomba Menulis Cerpen RetakanKata 2013

Puisi-puisi Ahmad Yulden Erwin #2

AJISAKA
Bapak moyang saya seperti ayat
Dicatat pagi jadi sesayat mata mayat
Menatap kosong angkasa, kemukus

Melintas sekejap, saya tersadar
Sebentar pikiran saya akan berkisar
Pada sebelas bintang rasi dan arah angin

Jadi pedoman para pelaut pemburu paus
‘Lemparkan mata tombak itu, cepat!’
Tapi saya ganti lihat kilasan yang lain

Sebelum pecah perang paling keji
Tanpa musuh, cuma virus buatan berbiak
Menyantap habis neuron di otak

Dalam ruang kemudi pesawat antariksa
Terakhir saya tatap stratosfer planet biru
Saya mesti pergi menuju pusat paling sunyi

Ke inti Bima Sakti, menyingkap teka-teki
Sejarah 200.000 tahun para dewa bintang
Pembiak bibit genetik para pemburu binatang

Sebelum seorang perawi pelan terhisak
Mencatat laung kisah peradaban yang hilang
Pada tabula berkilat darah di ujung duri landak

Bandarlampung, 20 Mei 2013

THE NEW LEMURIA

Jalan-jalannya  terbuat  dari wangi bunga.

Setiap orang bebas  memilih  harumnya,

dan  tak ada  orang  akan  bilang: ‘Dusta!’

 

Gedung-gedungnya beratap tawa canda.

Seluruh  terminal,  stasiun,  dan  bandara

dibangun  dari  tepung kerang-suka-cita.

 

Setiap rumah semata  pintu yang  terbuka.

Jendelanya  sepoi  angin  di daun angsana.

Halamannya  tak  lain  jiwa-jiwa  merdeka.

 

Warganya  bebas  memilih kertas atau palu

sesuka mereka. Tak ada tuan atau hamba.

Di sana senyum tulus adalah bahasa utama.

Para bocah selalu berbinar saat membaca,

tapi hati mereka bebas  bermain di angkasa,

melayang bersama kakatua dan elang raja.

 

Kebahagiaan adalah hukum pertama. Musik,

tarian, dan pantun  itulah  samadi mereka.

Misteri adalah  cahaya lilin beraneka warna.

 

Kini,  aku  tak  mungkin pulang ke kotaku,

karena mimpinya tengah berlayar ke hatimu.

Serigala, Ular, Katedral, dan Baca Alkitab

Kolom John Kuan

Kadang-kadang tanpa sadar bisa mendapat tiga jam yang tak terduga, misalnya mengulang Dances with Wolves dari awal hingga akhir. Filem ini memberikan satu pandangan baru: Serigala adalah baik, kuda adalah baik, suku Indian ramah bersahabat, gagah berani, dan sangat bijaksana. Namun siapakah orang-orang jahat? Siapakah lemah, absurd, tolol, rakus, suka ribut, berkuda dan menembak dua-duanya tidak memadai, [buta huruf tambah tidak higiene]? Adalah perwira-perwira dan prajurit-prajurit kulit putih yang memakai seragam, adalah pasukan tentara utara yang menang dalam perang sipil, merekalah orang-orang jahat.

Ini adalah satu pengenalan atau kesadaran yang luar biasa. Kevin Costner telah mengubah ukuran tradisional filem western, seluruhnya dijungkir balik.

Seingat saya cuma ada satu yang pernah secara mendasar menelusuri masalah ini, dan dengan sepenuh daya membentangkan pandangan ini, yaitu [Legenda Ular Putih]. Di dalam legenda ini susunan tokoh baik dan jahat berturut-turut sebagai berikut: reptil, perempuan, lelaki, dan yang paling jahat ternyata adalah biksu. Ini sungguh adalah satu tambuhan genderang yang luar biasa! Cerita ini benar-benar secara total mengubah tolok ukur masyarakat tradisional Cina, seluruhnya dijungkir balik.

Demi serigala yang ditembak mati Tentara Federal dan meneteskan airmata. Demi ular yang dikejar dan dibasmi habis-habisan oleh Biksu Fahai dan meneteskan airmata, bahkan harus menambahkan satu bab [Pagoda Persembahan] sebagai poetic justice baru puas. Semua ini sungguh layak buat direnungkan.

~

Salah benar dan baik jahatnya seseorang, agaknya tidak ada hubungan dengan agama dan keyakinannya.

Agama dapat membuat seseorang tegar dan teguh, juga dapat membuat seseorang menyimpang dan keras kepala. Orang-orang yang percaya tuhan seringkali tidak takut mati, melihat singa datang menerkam, berdoa, tidak takut, ini adalah cerita penganut Agama Kristen pada masa awal, membuat bulu kuduk berdiri. Tentu, yang dimaksud [Tuhan], tidak mesti seperti yang ditentukan oleh ajaran Agama Kristen, bisa dengan berbagai cara memahami, menghayati.

~

Di dalam [Kompendium Lima Lampu – 五灯会元] dicatat kisah Guru Zen Yuande – 缘德禅师 dari Dinasti Song. Suatu kali Panglima Besar Cao Han sampai di Kuil Yuantong di Gunung Lu, Yuande duduk tenang tidak bangkit menyambutnya. Cao Han naik pitam: “Pak Tua tidak pernah mendengar Jenderal yang membunuh tak kedip mata?” Yuande buka mata menatapnya, agak lama baru berkata: “Kau tidak tahu ada biksu yang tidak takut hidup dan mati!”

~

Wang Shao (1030 – 1081) mengundurkan diri bertapa di Sungai Sembilan – 九江, Guru Zen Foyin (1032 – 1098) bersemadi di Gunung Lu – 庐山 , dan Wang Shao tetap masuk gunung memohon pencerahan. Foyin berkata kepadanya: “Tuan adalah Jenderal yang bersujud menyebut diri membunuh tak kedip mata, berdiri sudah jadi buddha, buat apa pencerahan?”

Kalau lihat catatan sejarah, Wang Shao adalah manusia yang sangat keji. Dia awalnya adalah pejabat sipil yang lolos Ujian Kerajaan. Di awal 1068 mempersembahkan [Strategi Meredakan Peperangan Perbatasan – 平戎策; baca: ping rong ce] kepada Kaisar Shenzong. Kaisar menerima strateginya dan mengutuskan dia memimpin pasukan menumpas Suku Qiang di daerah Sichuan. Penyerangan ini sangat berhasil, dan jabatannya pernah sampai tingkat menteri. Di awal 1081 meninggal dunia karena sakit. Orang ini sangat lihai dalam siasat perang, hanya saja sewaktu membunuh penduduk Suku Qiang yang menyerah, dia mencatat jasa prajuritnya dengan hitungan kepala yang terpenggal, luar biasa keji. Di masa tua kata dan laku tidak normal, sesat hati hilang akal. Tubuhnya hancur digerogoti bisul dan penyakit lain hingga seluruh organ dalam tampak, ada yang berkata karena sepanjang hidupnya membunuh terlalu banyak. Riwayatnya bisa ditelusuri di dalam Gulungan Nomor 321 Sejarah Song.

Foyin berkata [buat apa pencerahan], sesungguhnya sudah mengingatkan dia. Tetapi orang begini bagaimana bisa mengerti renungan Zen?

~

Pagi di kamar hotel lantai sepuluh, tirai sudah ditarik terbuka, cahaya lemah dan kelabu menembus masuk. Hujan seperti baru berhenti, rasa sejuk di luar seperti menyatu dengan suhu kamar yang dikendali pendingin udara. Ini adalah daerah Bugis di Singapura, berbagai bangunan baru dan lama menjulang berdempetan. Saya melihat tepat di luar jendela ada sebuah gereja.

Gereja ini mungkin dibangun pada abad ke-18. Saya ingat di dekat sana juga ada sebuah kuil Kwan Im dan sebuah kuil Hindu, walaupun sekarang tidak tampak di luar jendela. Itu adalah rute saya setiap pagi beberapa puluh tahun silam, setelah sembahyang di kuil Kwan Im pasti melewati pintu depan kuil Hindu, berhenti sejenak tukar senyum dengan penjaga kuil. Berjalan lagi beberapa saat akan bertemu dengan sebuah pintu besi yang selalu terkuak sedikit, di balik pintu adaah pekarangan gereja yang luas. Setelah menyusup ke dalam pekarangan, akan tampak di sana-sini bertebar beberapa batu nisan. Pintu gereja hampir selalu tertutup, saya belum pernah melihat bagian dalamnya, agaknya tidak akan jauh berbeda dengan gereja lain. Itu adalah jalan pintas saya menuju tempat kerja, bisa menghemat lima kali penyeberangan. Suatu kali saya membawa seorang teman melewati rute ini. Dia berkata: “Bagaimana kamu bisa menggunakan pekarangan gereja sebagai jalan pintas?” Saya melonggo. Mungkin karena pintu masuk dan pintu keluar selalu terbuka, jawabku. Tahun berikutnya saya mendapat kabar dia telah pindah ke Chicago belajar filsafat.

~

Gereja tua ini adalah bangunan paling pendek yang terpampang di depan mata. Saya bersandar di jendela memandang, hanya kelihatan dia berdiri berdempetan di antara begitu banyak hotel, bank, gedung perkantoran, dia kelihatan sedikit aneh. Dari tempat yang tinggi memandang sebuah gereja, terasa amat canggung. Dia merendah, khidmat, taat.

Begini dari atas memandang ke bawah sebuah gereja, seharusnya adalah jalur tuhan dan para malaikat, ini adalah semacam hak istimewa. Kita makhluk fana (tidak peduli pengikut atau tidak pengikut, saudara lelaki atau saudara perempuan) cocok dari bawah ke atas menengadah. Sebab sudah lama terbiasa, perlahan merasa cocok. Jika bukan kebetulan, bagaimana mungkin ada kesempatan yang aneh ini?

~

Bagian dinding luar gereja menempel sebentuk salib, tepat di luar jendela tempat saya berdiri. Salib ini kelihatan sangat berimbang, terkurung di dalam sebuah lingkaran, sebab itu atas bawah dan kanan kiri sama panjang, saling menyilang di pusat lingkaran, polos, sederhana, antik, sungguh merebut hati.

Setahu saya, salib begini disebut bentuk Yunani, mungkin ini adalah gereja Ortodok Yunani, namun teman pernah beritahu ini adalah gereja orang Portugis. Hal ruwet begini tentu bukan pencari jalan pintas seperti saya bisa menjelaskan. Saya juga tahu, salib yang paling sering kelihatan adalah atas bawah lebih panjang daripada kanan kiri, dan biasanya disilangkan di tempat yang agak tinggi, bentuknya seperti sebilah pedang menusuk ke bawah, disebut bentuk salib Latin Romawi Kuno. Seandainya di tempat persilangan salib Latin ada sebuah lingkaran, disebut bentuk salib Keltik, banyak ditemukan di Irlandia, Skotlandia, Wales, dan Inggris.

Panjang lebar di atas diperoleh dari ilmu lambang (heraldry).

~

Ilmu lambang ( heraldry ) tentu amat rumit, bukan saya bisa sepenuhnya memahami. Bentuk yang berhubungan dengan salib di dalam ilmu lambang (heraldry) sangat penting. Perbedaan antara bentuk Yunani dan bentuk Latin mudah sekali kelihatan. Dari dua bentuk ini berkembang keluar berbagai bentuk yang berubah menjadi warisan budaya yang sangat penting di dalam sejarah Eropa, di antara yang paling menarik selain yang dipasang di dalam dan di luar gereja, mungkin adalah yang tampak di bendera ksatria. Umpama salib Yunani yang sangat berimbang itu, jika di keempat ujung salib ditambah trefoil, disebut Botonee; jika di keempat ujung salib pecah bercabang dan agak melengkung ke dalam, disebut Moline.

Dengan salib Moline sebagai lambang bendera di era ksatria abad pertengahan Eropa, menunjukkan di dalam sebuah pasukan yang sedang menderu dan berkibas adalah putra ke-8 sang penguasa.

~

Di tengah kota Singapura yang sudah mirip dengan kota di dalam permainan komputer terdapat sebuah gereja tua, tentu bagus sekali. Di atapnya telah melekat banyak lumut, jendelanya yang jangkung dihias dengan kaca berwarna. Dindingnya agak tua dan kusam tetapi tampak masih kokoh, membuat hati terasa tenang dan damai. Di pekarangan samping yang cukup luas berhenti beberapa buah mobil.

Merpati.

Kembali lagi melihat merpati kepak sayap terjun dari atap gereja, tujuannya adalah pekarangan samping, mungkin di sana lebih mudah mencari makanan. Mereka bergegas mendarat, mengangguk, lalu kepak sayap naik, berputar-putar kemudian mendarat kembali.

Angin pagi bertiup perlahan, bersenda-gurau dengan merpati.

Beberapa bendera negara yang berbeda warna di ujung tiang yang tinggi, dengan sulit bergoyang, berlagak akan terbang, namun lesu dan lelah, seperti layang-layang yang tergantung di tiang listrik, tidak ada lagi harapan berkibas di angkasa.

~

Benda yang sama, dipandang dari atas ke bawah dengan dari bawah ke atas ternyata bisa demikian besar perbedaannya!

~

Saya sering teringat sebuah gereja gaya Spanyol di daerah pergunungan. Bangunannya tidak seberapa besar, tetapi pekarangan dan taman bunganya sangat luas, tentu dengan perbandingan yang sangat bagus. Saya juga sering teringat pastor yang bangun pagi di dalam taman, persis seperti babak II adegan 3 Romeo dan Juliet:

Mata kelabu pagi tersenyum pada malam tua berkerut,
awan satu per satu di timur berlumur cahaya,
langit hitam tembus berpijar bagai pemabuk
sempoyongan melintas di tempat roda langit membara.
Selagi matahari masih belum dengan matanya yang membakar
cemerlangkan hari menjemur kering embun malam yang lembab,
aku harus bergegas memetik lebih banyak bunga dan rumput unik
ingin mengisi penuh keranjang ranting dedalu kita

The gray-eyed morn smiles on the frowning night,
Checkering the eastern clouds with streaks of light,
And fleckled darkness like a drunkard reels
From forth day’s path and Titan’s fiery wheels.
Now, ere the sun advance his burning eye,
The day to cheer and night’s dank dew to dry,
I must upfill this osier cage of ours
With baleful weeds and precious-juicèd flowers.

Lalu dia selangkah sekata mengucapkan bentuk bebas sepuluh suku kata ini, dengan tenang berjalan melewati lorong, melangkah masuk ke dalam taman, sebuah taman beragam tumbuhan yang tidak terlalu lengkap.

Pemerintah daerah melakukan pelebaran jalan, ekskavator tanpa belas kasih mengeruk separuh pekarangan depan pastor, pagar didesak mendekati bangunan gereja, hanya menyisakan sepotong setapak tanah kuning yang sangat sempit.

Ah, keindahan yang maha kuat tiada batas berada
pada kandungan murni pepohonan, bunga, rumput dan batu

Oh, mickle is the powerful grace that lies
In herbs, plants, stones, and their true qualities.

~

Membangun sebuah gereja, di dunia Barat sering adalah memamerkan akumulasi perbuatan baik dari berbagai jaman, terutama membangun katedral. Dengan waktu seratus tahun dua ratus tahun, atau tiga ratus tahun putus-sambung menyelesaikan sebuah katedral, adalah hal yang sangat lumrah di abad pertengahan Eropa. Bahkan dengan tiga ratus tahun atau lima ratus tahun, atau lebih lama lagi, buat merasakan bahwa katedral tersebut masih belum selesai dibangun, juga merupakan hal yang sangat lumrah.

Katedral Koln yang di sisi Sungai Rhein, sudah dibangun beberapa ratus tahun, sampai sekarang masih belum selesai. Tentu, sekalipun katanya masih belum selesai dibangun, selama bertahun-tahun orang-orang juga terus menggunakannya, jadi sesungguhnya dia adalah bangunan lama yang sangat tua, namun masih belum selesai dibangun. Orang-orang jika memiliki kesempatan akan menambah beberapa potong bata, dengan tulus dan tegas, suatu hari akan serentak berkata: “Sudah, sudah selesai dibangun!” Jika membangun rumah dengan cara begini, harap jangan curi bahan lalai kerja, kalau tidak pasti dicaci maki anak cucu.

~

Konon pada masa-masa akhir Perang Dunia Kedua, pesawat-pesawat tempur Sekutu yang membombardir daerah-daerah yang dikuasai Nazi sangat berhasil, lalu masuk ke dalam teritori Jerman. Ketika ada pesawat tempur sedang bersiap-siap melepaskan bom di sekitar tepi Sungai Rhein, ada yang menyatakan, Katedral Koln tidak boleh dihancurkan. Markas besar Sekutu segera menurunkan perintah, pesawat pengebom harus menghindari Katedral Koln.

Maka katedral itu masih ada di sana, katedral yang belum selesai dibangun.

~

Dalam beberapa kali penyerangan terhadap Irak yang dipimpin oleh Amerika Serikat, pesawat-pesawat tempur Sekutu sering tanpa pandang bulu membombardir daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat yang disebut sebagai ayunan peradaban kuno itu, banyak sekali menelan korban, tentara maupun rakyat Irak — mereka seolah tidak mengangap orang-orang yang tinggal di sana manusia; kadangkala mengunci satu sasaran, menghancurkan semua bangunan yang tampak di atas bumi, sehingga fasilitas militer dan situs peninggalan kuno ikut celaka, hancur remuk — siapa peduli, juga bukan peninggalan peradaban Kristen, sekalipun pasti lebih tua beberapa ribu tahun dari katedral.

Ini adalah hal yang amat menyakitkan hati.

Seorang teman Kristen berkata pada saya: Di dalam injil ada nubuat, Babilonia yang jahat harus dihancurkan. ” Irak ” katanya: “adalah Babilonia yang jahat.”

Ini sungguh adalah sebuah alasan yang luar biasa.

~

Membangun katedral adalah semacam cara pengungkapan terima kasih kepada anugerah Tuhan. Seringkali, katedral juga pas digunakan sebagai tempat peletakan abu tulang tentara salib. Pada abad ke-13, menurut imajinasi David Macaulay, ketika orang-orang sepakat membangun sebuah katedral, mereka sudah siap dengan masa seratus tahun ke atas pelan-pelan menyelesaikan.

Tentu, seandainya berbagai syarat sudah terpenuhi, dan tidak ada peperangan, wabah penyakit, banjir dan kekeringan yang terlalu parah, dengan masa seratus tahun menyelesaikan sebuah katedral adalah sangat mungkin. Namun, manusia menghitung tuhan menentukan, peperangan dan bencana pada dasarnya adalah hal yang sering terjadi di dunia ini, dipastikan setiap saat bisa memutuskan perkembangan pembangunan, akan membuat kau keletihan, menderita, putus asa.

Seandainya bukan karena berterima kasih kepada Tuhan, mengagungkan Tuhan, pasti akan karena keletihan, menderita, putus asa lalu menyerah. Karena tujuan mulia begitu, maka tidak peduli betapa sulit juga akan dilampaui, hari ini tidak mampu besok lanjutkan, generasi ini mati masih ada generasi berikutnya.

Oleh sebab itu di dunia ini hanya ada katedral yang sudah selesai dibangun dan yang sedang dibangun, tidak ada katedral yang ditelantarkan tidak dibangun.

~

Tamu berkata: “Tentu ada, tentu ada yang ditelantarkan tidak dibangun.”

Saya terkejut bertanya: “Mana mungkin?”

Tamu berkata: “Seandainya orang-orang secara kolektif mengubah keyakinannya, atau tiba-tiba menemukan percaya tuhan atau kekuatan gaib adalah hal yang menggelikan, tidak lagi beragama, tentu rancangan katedral akan dibatalkan, tidak usah dibangun lagi.”

Saya berkata: “Eh, eh, bukan, bukan, atau ——— kau seharusnya berkata seandainya tuhan telah mati, maka tidak perlu lagi kita memeras otak mengagungkan Dia, begitu bukankah lebih gampang?”

Tamu berkata: “Dia? kata aneh apapula ini?”

Saya tersenyum menjawab: “Dia adalah dia,”

Tamu berkata: “Dia adalah dia! Ijinkan saya membaca sepenggal ini: [Dua orang itu balik badan meninggalkan tempat itu, menuju Sodom, Abraham masih berdiri di depan Yehowa. Abraham berjalan mendekat dan berkata: Tidak peduli orang benar atau fasik, Engkau juga akan memusnahkan? Bagaimana kalau di kota itu ada lima puluh orang benar, apakah Engkau akan memusnahkan kota itu juga, tidak demi lima puluh orang benar memaafkan orang-orang lain yang ada di dalamnya? Orang benar dan orang fasik dibunuh bersama, memperlakukan orang benar dan orang fasik sama, itu pasti bukan tindakan Engkau. Hakim segenap bumi, mana bisa tidak menjalankan keadilan? Yehowa berkata: Seandainya Aku menemukan lima puluh orang benar di Sodom, aku akan karena mereka mengampuni semua orang di tempat itu. Abraham berkata: Walaupun aku adalah debu, masih memberanikan diri berkata kepada Tuhan ——— seandainya lima puluh orang itu kurang lima orang, apakah Engkau akan karena kurang lima orang memusnahkan seluruh kota itu? Dia berkata: Seandainya Aku menemukan empat puluh lima orang di sana, juga tidak akan memusnahkan kota itu. Abraham berkata lagi kepadaNya: Bagaimana kalau ada empat puluh orang di sana? Dia berkata: Demi empat puluh orang itu, Aku tidak akan melakukan. Abraham berkata: Mohon Tuhan jangan marah, ijinkan aku berkata, seandainya di sana ada tiga puluh orang, bagaimana? Dia berkata: Jika di sana ada tiga puluh orang, Aku tidak akan lakukan juga. Abraham berkata: Aku masih memberanikan diri berkata kepada Tuhan, bagaimana kalau di sana ada dua puluh orang? Dia berkata: Demi dua puluh orang itu, Aku juga tidak memusnahkan kota itu. Abraham berkata: Mohon Tuhan jangan marah, aku berkata sekali lagi, seandainya di sana ada sepuluh orang? Dia berkata: Demi sepuluh orang ini, Aku juga tidak membinasakan kota itu. Yehowa setelah berkata pada Abraham lalu pergi, dan Abraham juga kembali ke tempat tinggalnya.]

~

Sodom hanya ada satu orang benar, namanya Lot. Menggunakan percakapan Abraham, kurang sembilan orang, kota ini pasti dimusnahkan. Malaikat memandu Lot sekeluarga ke Zoar, lalu Yehowa menjatuhkan belerang dan api di Sodom dan Gomora, [kota-kota itu, dan lembah Yordan, juga seluruh penduduk kota-kota itu serta yang tumbuh di atas bumi, dibinasakan.]

Cerita Seonggok Abu

Cerpen Octaviana Dina

gambar disediakan penulis
gambar disediakan penulis

“Begitulah awalnya, saya mencuri sandal. Sepasang sandal pria yang bagus dan kokoh bentuknya. Saya tak tahu nomor berapa ukurannya. Barangkali empat puluh dua. Saya tak sempat mengeceknya karena terburu-buru. Dan karena terburu-buru, saya jatuh tersandung,” ujarnya mengawali kisah di tengah dingin udara malam. Malam yang tak seperti biasanya.

“Sandal itu terlalu besar untuk kaki saya. Tapi saya tak punya pilihan lain kecuali memakainya. Saya tak membawa kantong, apalagi tas untuk menyimpan sandal itu. Saat itu saya hanya bertindak cepat menuruti kata hati saya. ‘Tanggalkan sandal bututmu, dan pakai sandal kulit itu’, begitu perintahnya. Lantas saya pun berbuat demikian.”

“Lalu apa yang terjadi selanjutnya?” tanya sosok lain yang berdiri bersandar pada sebuah tiang beton. Seorang lelaki muda berumur sekitar  tujuh belas tahun. Berkulit terang dengan wajah bagai pahatan tangan seniman jenius. Sempurna dan menyenangkan mata.

Sosok yang ditanya, seorang pria paruh baya bertubuh pendek dan kurus, kembali bersuara. “Setelah memakai sandal itu saya segera pergi, terburu-buru karena takut dipergoki orang. Saya mencuri. Saya tahu itu perbuatan tak terpuji, tapi saya tak sempat lagi berpikir panjang. Kata hati saya tegas-tegas menyuruh saya mengambil sandal itu. Saya berjalan secepat mungkin, lalu entah bagaimana sandal itu lepas dari pijakan dan membuat saya tersandung. Sandal itu memang kelewat besar buat kaki saya. Saya terjatuh. Seseorang datang membantu saya berdiri. Kelihatannya ia warga setempat. Saya buru-buru mengucapkan terima kasih dan berniat segera berlalu dari situ, namun orang itu mendadak menahan tangan saya. Ia mengamati saya dengan pandangan tajam. Sepertinya ia mulai curiga. Saya jadi gugup, apalagi saat matanya menghunjam ke kaki saya. Saya makin gugup dan berusaha melepaskan diri, tetapi ia mencengkeram saya dan bertanya tentang sandal itu. Saya katakan sandal itu milik saya. Tapi orang itu tampak tak percaya. Ia terus mencecar dengan serentetan pertanyaan seputar sandal itu: ukuran, merek, harga, di mana membelinya.

“Aduh, saya sungguh panik. Saya jawab sekenanya. Saya tak ingat lagi apa yang saya katakan, namun pastilah jawaban saya amburadul. Orang itu menghardik saya dengan keras, menuduh saya telah mencuri sandal. Katanya, saya pasti mencurinya karena sandal itu terlalu bagus untuk orang sekumuh saya. Saya ketakutan. Orang itu tinggi besar. Saya pasti mati jika dipukulinya. Sebisanya saya berusaha berkelit. Saya katakan, apa orang sekumuh saya tak boleh pakai sandal bagus? Memangnya orang yang berkulit dekil seperti saya sudah pasti miskin dan tak mampu membeli sandal bagus? Tapi…yah, usaha saya itu sia-sia. Saya tak bisa meyakinkannya. Saya memang tak pandai berbohong,” tuturnya getir. Kemudian ia terdiam. Lama.

Lelaki muda yang mendengarkan ceritanya dengan seksama juga tak berkata sepatah pun. Udara dingin. Bulan sabit menyeruak redup dari balik awan gelap. Tengah malam masih jauh, namun entah kenapa suasana telah teramat lengang. Tak terlihat satu pun orang lalu-lalang di situ. Malam yang tak biasa.

Laki-laki paruh baya itu menghela nafas panjang. Berat dan sarat kepedihan. Sesaat, suaranya terdengar kembali. “Begitulah. Kejadian itu cepat sekali. Tiba-tiba saja orang banyak telah mengerumuni saya. Orang bertubuh tinggi besar itu terus berteriak-teriak menuduh saya mencuri. Saya sangat ketakutan. Saya takut mati dikeroyok.”

“Akhirnya saya mengaku. Percuma saja berkelit, toh saya memang mencuri. Saya katakan bahwa saya terpaksa mencuri karena lapar. Sudah dua hari nyaris tak makan apa-apa. Saya baru tiga hari datang dari daerah. Saya ke sini untuk mencari kerja, tapi sial, saya dirampok orang. Ludes semua. Tak tersisa seperak pun. Saya sebatang kara, tak kenal siapa-siapa di sini. Saya berjalan ke mana saja kaki melangkah demi mencari kerja. Saya bahkan mencoba mengemis di jalanan, tapi malah diusir pengemis yang biasa mengemis di situ.  Saya bingung harus bagaimana. Saya lapar, jadi saya terpaksa mencuri. Sumpah mati, baru kali ini saya mencuri. Habis bagaimana lagi, tak ada yang mau menolong saya. Mungkin karena saya kumuh begini…,” ujarnya dengan suara memelas.

“Saya pasrah kalau saya dibawa ke kantor polisi dan dipenjara, saya memang bersalah. Tapi yah…dasar nasib, orang-orang itu lebih suka mengeroyok saya. Saya menjerit minta ampun, tapi mereka makin gencar memukul, menonjok, dan menendang hingga saya terkapar. Lalu ada yang menyiram saya. Baunya menyengat. Saya tak bisa bangun, badan saya seperti remuk. Lantas… Lantas orang itu menyulut api dan melemparkannya ke badan saya. Saya…saya terbakar. Saya berusaha bangun untuk memadamkan api, tapi aduh, badan saya sakit sekali. Panas, pedih luar biasa. Saya menjerit-jerit minta ampun, tapi tak ada yang mau menolong saya. Lihat, badan saya sampai rusak begini. Apa kesalahan saya sedemikan besar sehingga saya harus dihukum seperti itu…,” ungkapnya diakhiri tangis tersedu yang menyayat.

Pemuda itu trenyuh. Sebetulnya ia ingin sekali menepuk-nepuk pundak lelaki paruh baya itu, sekedar untuk menenangkannya. Namun rasanya hal itu mustahil dilakukan. Hatinya amat terharu hingga tak sanggup berkata sepatah pun. Ia memutuskan untuk diam, menunggu isak yang mengibakan tersebut reda.

 Tak berapa lama kemudian sosok itu kembali meneruskan ceritanya. “Memang malang nasib saya. Yah…apa mau dikata. Tapi saya tak dendam pada orang-orang itu. Saya justru kasihan, mereka jadi berdosa karena saya. Mereka sudah membuat dan membiarkan saya begini, bukankah itu dosa?  Sudahlah, tak ada gunanya menyesali. Sudah terjadi…,” katanya dengan nada pasrah. Tak ada sedikit pun kemarahan tersembunyi dalam suaranya. Ia menghela nafas, “Hanya saja, saya kesepian di sini. Tak bisa ke mana-mana. Tak ada yang bisa saya ajak bicara. Tapi syukurlah, malam ini saya beruntung berjumpa orang sepertimu sehingga saya bisa bercerita. Setidaknya, masih ada yang mau menemani saya di sini. Meski cuma sebentar saja, saya sudah beruntung. Saya berterimakasih padamu, Nak,” ujarnya seraya tersenyum. Diamatinya anak muda itu. Anak ini pastilah bukan dari kalangan sembarangan, pikirnya.

“Ehm, tampaknya Ananda sudah biasa ya mengalami hal-hal begini? Kau sama sekali tidak ketakutan,” lanjutnya lagi.

Pemuda itu tersenyum. “Dulu saya memang sering terkejut, juga takut-takut. Namun kini sudah biasa. Saya sudah terlahir begini. Orang-orang bilang ini adalah karunia. Anugerah dari Sang Pencipta, “ katanya sambil menatap lawan bicaranya. Lelaki paruh baya itu mengangguk-angguk. Anak ini memang istimewa, batinnya. Sinar kebijaksanaan dan welas asih terpancar kuat dari dirinya.

“Baiklah, apakah masih ada lagi yang ingin Bapak ceritakan?”  Lelaki paruh baya itu menggeleng.

“Kalau begitu saya permisi. Sudah hampir tengah malam, saya  harus segera pulang,” kata lelaki muda itu santun.

“Terima kasih banyak, Nak. Saya senang malam ini bisa bercerita padamu,” sahut sang lelaki paruh baya. Pemuda itu berpamitan dengan sikap sopan yang menyenangkan hati dan berlalu menuju mobilnya. Lelaki tua itu melambaikan tangan.

***

 Pemuda itu menghela nafas. Walau terkadang terasa berat,  ia berlapang dada menghadapi hal-hal demikian. Takdir telah memberinya kemampuan itu. Melihat yang tak terlihat, berbicara pada yang tak terlihat. Itu sebabnya tadi ia merelakan diri tatkala lelaki paruh baya tersebut menyapa dan memintanya untuk berhenti sejenak.

Lewat kaca spion pemuda itu menatap sosok yang kian jauh di belakang. Benar-benar mengibakan hati: melepuh, terkelupas dan sebagian lagi gosong. Sosok itu kemudian menyala sesaat, berselubung api, lalu padam berselimut asap. Lenyap dalam telikungan gelap. Kembali pada abu yang semula. Seonggok abu.

Octaviana Dina, alumni Fakultas Sastra (kini FIB) jurusan Sastra Perancis UI. Selain menjadi penulis dan penerjemah, ia menjadi peneliti untuk Yap Thiam Hien Award (2009-2012) dan menulis beberapa artikel dalam buku 20 Tahun Wajah HAM Indonesia 1992-2011 terbitan Yayasan Yap Thiam Hien. Sebagian tulisannya dapat dibaca di Blog Octavianadina

Sekilas Tentang Inggit Garnasih

Gerundelan diambil dari Dokumen Salakanagara

gambar diunduh dari http://aleut.wordpress.com
gambar diunduh dari http://aleut.wordpress.com

Perjalanan hari ini pendek saja, jaraknya mungkin tidak sampai 2km, mulai dari Gedung MKAA sampai ke rumah Inggit Garnasih di Jl. Inggit Garnasih No. 8. Rumah ini mirip sebuah dapur. Dapur bagi perjuangan politik menuju kemerdekaan RI.

Banyak tokoh perintis kemerdekaan RI yang pernah menumpahkan ide-ide perjuangan mereka di rumah ini, Ki Hajar Dewantoro, Agus Salim, HOS Cokroaminoto, KH Mas Mansur, Hatta, Moh Yamin, Trimurti, Oto Iskandardinata, Dr Soetomo, MH Thamrin, Abdul Muis, Sosrokartono, Asmara Hadi, dan lain-lain. Di rumah ini pula diskusi-diskusi dilansungkan dan kemudian melahirkan berdirinya Partai Nasional Indonesia (PNI, 1927), Sumpah Pemuda (1928), dan Partindo (1931).

Inilah rumah tinggal milik Inggit Garnasih, istri seorang intelektual muda yang kemudian hari menjadi presiden RI pertama, Soekarno. Inggit dilahirkan di Kamasan, Banjaran tanggal 17 Februari 1888. Pada usia 12 tahun Inggit sudah menikah dengan Nata Atmaja seorang patih di Kantor Residen Priangan. Perkawinan ini tidak bertahan lama dan beberapa tahun kemudian Inggit menikah lagi dengan seorang pedagang kaya yang juga tokoh perjuangan dari Sarekat Islam Jawa Barat, H. Sanoesi. Mereka tinggal di Jl. Kebonjati.

Tahun 1921, datanglah ke rumah mereka seorang intelektual muda dari Surabaya yang akan melanjutkan pendidikan ke THS (sekarang ITB). Saat itu Soekarno muda datang bersama istrinya, Siti Oetari, puteri dari Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Hubungan Soekarno dengan Oetari ternyata tidak pernah selayaknya suami-istri, Soekarno lebih menganggap Oetari sebagai adiknya saja. Di sisi lain, Soekarno menaruh cinta pada Inggit Garnasih.

Soekarno akhirnya menceraikan Oetari. Dan ajaib, H. Sanoesi merelakan Inggit untuk dinikahi oleh Soekarno. Mereka menikah pada 24 Maret 1923. Alasan apa yang membuat H. Sanoesi mau melakukan itu tetap menjadi misteri mereka hingga sekarang. Menurut Bpk. Tito Zeni, cucu Inggit, kemungkinan karena H. Sanoesi melihat ada banyak harapan perjuangan pada diri Soekarno. Untuk itu Soekarno memerlukan seorang pendamping yang tepat. Dan Inggit, bagian dari perjuangan Sarekat Islam, adalah perempuan yang paling tepat. Kemudian hari terbukti, Inggit selalu mendampingi Soekarno dalam setiap kegiatan politiknya.

Soekarno-Inggit sempat beberapa kali pindah rumah, ke Jl. Djaksa, Jl. Pungkur, Jl. Dewi Sartika hingga akhirnya ke Jl. Ciateul. Rumah terakhir ini menjadi pangkalan para intelektual muda dalam menggodok pemikiran-pemikiran kebangsaan Indonesia. Rumah ini juga dijadikan tempat penyelenggaraan kursus-kursus politik yang diberikan oleh Soekarno.

Inggit selalu mengambil peran terbaiknya sebagai pendamping dalam setiap kegiatan politik Soekarno, saat keluar masuk penjara akibat kegiatan politiknya, maupun ketika dibuang ke Ende, Flores (1934-1938), dan juga waktu dipindahkan ke Bengkulu (1938-1942), Inggit selalu di samping Soekarno.

Di Bengkulu, Soekarno menampung seorang pelajar, putri dari Hassan Din bernama Fatma. Soekarno dan Inggit tidak memiliki keturunan. Dengan alasan itu Soekarno meminta izin pada Inggit untuk menikahi Fatma. Inggit menolak untuk dimadu, dia memaklumi keinginan Soekarno, namun juga memilih bercerai. Mereka kemudian bercerai di Bandung pada tanggal 29 Feruari 1942 dengan disaksikan oleh KH Mas Mansur. Soekarno menyerahkan surat cerainya kepada H. Sanoesi yang mewakili Inggit.

19 tahun sudah Inggit mendampingi Soekarno sejak masih berupa bibit intelektual muda dalam perjuangan memerdekakan Indonesia, pergelutannya dengan berbagai pemikiran kebangsaan, sampai pematangannya dalam penjara-penjara dan pembuangannya hingga ke Ende dan Bengkulu. Inggit mendampingi seluruh proses pembelajaran Soekarno hingga menjadi dan setelah itu kembali ke rumahnya yang sekarang menjadi sepi di Jl. Ciateul No. 8.

Inggit Garnasih menjalani pilihannya persis seperti yang digambarkan dalam judul buku roman-biografis Soekarno-Inggit karya Ramadhan KH, “Kuantar ke Gerbang” (1981), Inggit hanya mengantarkan Soekarno mencapai gerbang kemerdekaan RI, ke gerbang istana kepresidenan RI. Walaupun begitu, saya merasa lebih suka bila boleh mengatakan Inggit tidak sekadar mengantarkan, namun juga mempersiapkan Soekarno menuju gerbang itu. Soekarno kemudian memroklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dan menjadi presiden pertama untuk periode 1945-1966.

Inggit sempat mengungsi ke Banjaran dan Garut pada masa Agresi Militer I & II (1946-1949) sebelum kembali lagi ke Bandung dan tinggal di rumah keluarga H. Durasid di Gg. Bapa Rapi. Rumah Jl. Ciateul rusak karena peristiwa Agresi Militer dan baru dibangun ulang dengan bangunan permanen pada tahun 1951 atas prakarsa Asmara Hadi dkk. Di sini Inggit Garnasih melanjutkan hari tua hingga akhir hayatnya. Inggit wafat pada 13 April 1984 dalam usia 96 tahun dan dimakamkan di permakaman Caringin (Babakan Ciparay), Bandung.

Soekarno wafat lebih dulu pada 21 Juni 1970 di Jakarta. Inggit yang renta masih sempat melayat ke rumah duka dan mengatakan, “Ngkus, gening Ngkus teh miheulaan, ku Nggit didoakeun…”

Rumah peninggalan Inggit di Jl. Ciateul No. 8 sekarang selalu tampak sepi. Sudah bertahun-tahun sepi. Sempat terbengkalai tak terurus, kemudian dipugar hanya untuk menemui sepi kembali. Beberapa waktu lalu, rumah ini kembali mengalami beberapa perbaikan, temboknya dicat bersih dan di halaman depan dipasang bilah beton bertuliskan “Rumah Bersejarah Inggit Garnasih”. Mungkin sebuah upaya untuk menghargai sejarah yang sayangnya, tetap saja disambut sepi.

Memang begitulah apreasiasi kita terhadap sejarah bangsa sendiri, seringkali masih tampak lemah. Masih banyak di antara kita yang terus saja mengandalkan dan mengharapkan orang lain untuk melakukan sesuatu sementara kita duduk anggun membicarakan berbagai masalah dalam masyarakat tanpa pernah menyadari bahwa kaki kita tidak menjejak bumi, bahwa tangan kita tak berlumpur karena ikut berkubang dalam berbagai persoalan masyarakat.

Akhirulkalam, bagi saya, Inggit adalah seorang pendamping yang luar biasa, dia bukan pendamping yang sekadar melayani, melainkan pendamping yang menjaga, merawat, dan mengarahkan. Seorang pendamping yang berdaulat atas keputusannya sendiri.

Semasa hidupnya Inggit Garnasih mendapatkan dua tanda kehormatan dari pemerintah RI. “Satyalancana Perintis Kemerdekaan” yang diberikan pada tanggal 17 Agustus 1961 dan “Bintang Mahaputera Utama” yang diserahkan di istana negara pada tanggal 10 November 1977 dan diterima oleh ahliwarisnya, Ratna Djuami.

Nama Sukarno di sini masih ditulis dengan bentuk populernya, dieja dengan ‘oe’ menjadi Soekarno. Namun sebetulnya, sejak diresmikannya Ejaan Republik (sering disebut juga Ejaan Suwandi) pada 19 Maret 1947 menggantikan Ejaan van Ophuijsen, Sukarno menginginkan agar namanya juga dieja berdasarkan ejaan baru tersebut. Sementara mengenai tandatangannya yang masih menuliskan ‘oe’, Sukarno mohon permakluman karena kesulitan mengubah kebiasaan yang sudah dilakukannya selama puluhan tahun.

(Dicandak tina : http://rgalung.wordpress.com/)

Sumber:

  • Cindy Adams, 1966, Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat, Gunung Agung, Jakarta.
  • Obrolan dengan Bpk. Tito Zeni Asmara Hadi, putra Ratna Djuami & Asmara Hadi, cucu Inggit Garnasih, pada tanggal 13 dan 30 Januari 2011.
  • Ramadhan KH, 1981, Kuantar ke Gerbang, Bandung.
  • Wiana Sundari (ed), Dra Eha Solihat, Drs. Eddy Sunarto, Dra., “Rumah Bersejarah -Inggit Garnasih”, Disparbud Pemprov Jabar, Bandung.

 

Artikel Terkait:

Kisah di Balik Pintu

Peluncuran Buku ‘Kisah di Balik Pintu’

Korupsi Pertama Sebuah Bangsa

Gerundelan Hendi Jo

gambar diunduh dari uniknyaindonesia.blogspot.com
gambar diunduh dari uniknyaindonesia.blogspot.com

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis tentang prilaku para pejuang dan lasykar yang kerjaannya “nyusahin” rakyat di daerah pendudukan selama Perang Kemerdekaan berlangsung (1945-1949). Mereka yang mengatasnamakan pejuang kemerdekaan, sesungguhnya hanya terdiri dari para “penumpang gelap” revolusi: berlaku gagah-gagahan tapi kerjaannya hanya merampok, menggarong dan memperkosa (mayoritas korbannya perempuan-perempuan Belanda dan Indo).

Tapi sesungguhnya prilaku konyol dan merugikan itu bukan hanya milik para bawahan saja ataupun terbatas hanya prilaku kaum bersenjata semata. Laiknya hari ini, di tingkat pejabat, praktek penggarongan dalam nama korupsi pun juga terjadi. Bahkan dengan memakan korban jumlah uang yang lumayan banyak. Inilah salah satu kisahnya.

Juni 1948, Presiden Sukarno melakukan muhibah ke Aceh. Di ranah rencong tersebut, ia tidak saja disambut secara gempita tapi juga didapuk oleh tokoh-tokoh setempat untuk menyebut sesuatu hal yang menjadi kebutuhan urgen dari pemerintah barunya. “Alangkah baiknya jika Indonesia mempunyai kapal udara untuk membuat pertahanan negara dan mempererat hubungan antara pulau dan pulau…”kata Sukarno seperti dituliskan oleh M. Nur El Ibrahimy dalam Kisah Kembalinya Tengku Muhammad Daud Beureueh ke Pangkuan Republik Indonesia (1979).

Begitu keluar ucapan tersebut dari mulut Sukarno, tanpa banyak cakap, rakyat Aceh merogoh saku dan mencopot perhiasan yang ada di tubuh mereka. Begitu tingginya semangat untuk berkorban, hingga konon antrian para donatur (terdiri dari kalangan kaya maupun kalangan biasa) di beberapa masjid dan pusat pemerintahan Kotaradja (sekarang Banda Aceh) panjangnya sampai ratusan meter. Beberapa jam kemudian terkumpulah dana sebesar 120.000 straits dollar ditambah 20 kg emas.

Singkat cerita, dana itu kemudian diancer-ancer untuk membeli sebuah pesawat terbang. Sebagai pimpro dipilihlah Wiweko Soepono, penerbang senior Indonesia sekaligus salah satu direktur Garuda paling sukses sepanjang sejarah. Dengan bekal wessel 120.000 straits dollar ia kemudian terbang untuk mencari pesawat di Thailand. Namun anehnya, saat Wiweko ke bank, mereka hanya bilang dana yang ada tinggal 60.000 straits dollar saja. Raib 50%!

Wiweko akhirnya mafhum, dirinya “dibokisin”. “Saya hanya menerima setengah dari dana sumbangan…,” ungkapnya ketika diwawancara oleh Majalah Angkasa pada tahun 2000.

Soal siapa yang bokis dalam masalah ini, Wiweko mengaku tak tahu sama sekali. Ia pun tak mau berspekulasi bahwa pemberi wessel (yang enggan ia sebut namanya) adalah penilep sebagian uang sumbangan itu. Untuk menghindari fitnah dan intrik, Wiweko memotokopi pencairan wessel tersebut. Hingga dirinya beranjak tua, fotokopi wessel itu tetap ia simpan.

Dengan uang 60.000 straits dollar, perwira Angkatan Udara Republik Indonesia itu berhasil membawa pulang sebuah Dakota DC-47B yang kemudian diberi nama Seulawah (artinya Gunung Emas). Nomor registrasi penerbangannya: RI-001. Pesawat itu kemudian secara resmi menjadi pesawat kepresidenan pertama sebelum beberapa tahun kemudian dikomersialisasi untuk melayani penerbangan sipil di Burma.

Lantas, bagaimana kabar uang 60.000 staits dollar dan 20 kg emas hasil sumbangan dari rakyat Aceh? Laiknya kasus-kasus mega korupsi yang terjadi kemudian, soal itu seolah sirna, tertumpuki cerita-cerita sejarah yang lainnya hingga orang-orang lupa sama sekali . Indonesia banget ya?

Kematian Trisa

Cerpen Willy Wonga
Editor Ragil Koentjorodjati

mawar_02_
mawar_02_ (Photo credit: maskoen)

Aku ingat sekarang. Sebelum hari kematiannya, malam sebelum itu aku bermimpi. Mimpi Trisa sedang berenang. Separuh tubuh belangnya meliuk-liuk mirip ular di dalam air. Hidung merah mudanya mengapung di depan wajah lucunya. Mata hitam bulatnya menatapku dengan lugu. Aneh. Biasanya dia takut air. Selain aneh karena tiba-tiba dia berenang ke sana-kemari dengan kebahagiaannya, Trisy tidak nampak dalam mimpi tersebut. Sepanjang hidup Trisa, dia selalu bersama saudari kembarnya Trisy. Tidak terpisahkan. Mereka berbagi piring makanan. Tidur saling berpelukan. Setelah mandi biasanya keduanya saling bergantian mengeringkan tubuh mereka dengan lidah masing-masing. Yang kutahu, mereka adalah dua kembar yang sangat bahagia selama ini.

Beberapa waktu kemudian, setelah kesedihanku mereda, aku memikirkan kembali mimpi itu. Mata hitam Trisa itu sangat menggangguku, belum lagi tatapannya yang lugu. Sampai-sampai sepanjang hari pikiran tentang mimpi tersebut menggangguku. Kalau saja setelah mimpi Trisa tidak mati, aku akan baik-baik saja. Tetapi dia mati. Itu bisa jadi pertanda buruk. Jadi Aku giat membaca buku-buku tentang ilusi, penglihatan, mimpi-mimpi aneh, yang menurutku bisa sedikit menerangiku.

Sebulan berlalu, tidak ada hasil. Mimpi itu membuatku takut tidur malam.

Aku tahu itu hanyalah mimpi, tetapi sebuah suara dari dalam diriku mengatakan tidak. Bila aku bermimpi tentang Trisa sebelum kematiannya, itu berarti ada sesuatu yang hendak disampaikan. Entah berupa pesan atau sesuatu yang lain.

Tiga bulan setelah itu, pernikahanku yang baru dua tahun terancam rubuh. Istriku memutuskan mengikuti rombongan yang berwisata di pulau Flores selama sebulan. Dengan sengaja dia memberiku waktu untuk memikirkan semuanya, sekaligus mengambil keputusan bila mungkin. Keputusan istriku sudah seratus persen; kalau menurutnya aku tidak pernah berubah selama setidaknya dua bulan ke depan, maka pernikahan kami hanya akan menjadi kenang-kenangan di hari tua.

Suara orang asing dalam diriku bilang; pertanda buruk.

Sejak saat itulah aku mulai memikirkan berbagai kemungkinan yang membuat hubungan kami tersendat-sendat. Semula aku mengambil sudut pandang perselingkuhanku sebagai akar masalahnya. Perselingkuhan itu sendiri baru sekitar sebulan sebelumnya, kemungkinan istriku mengetahuinya adalah kemungkinan kecil. Kalau dipikir-pikir seharusnya aku mengambil sudut pandang lain. Mungkinkah ketidakcocokan itu sendiri yang membuat kami tidak akur lagi? Apakah sebenarnya kami tidak cocok dan pernikahan ini tidak perlu dilakukan dari dulu? Oh, tidak. Orang bisa menjadi tidak cocok kapan saja dan sering tanpa perlu alasan. Aku pun menoleh ke belakang. Melihat bulan-bulan terakhir kami, percintaan kami yang tidak semenggelora sebelum-sebelumnya.

Apakah itu pertandanya?

Aku terus memikirkannya sepanjang tiga hari pertama. Tetapi pemikiranku hanya seputar ketidakcocokan dan perselingkuhanku. Tidak pernah aku menaruh prasangka buruk terhadap istriku, Mawar. Dia tidak mungkin bermain dengan pria lain. Aku tahu saja mengenai itu, dan orang asing menyetujui pendapatku tentang istriku. Dari hari ke hari aku memilah-milah, mereka dan menebak. Lantas membuat serangkaian keputusan yang tentunya mempertahankan pernikahan kami. Mawarku tidak boleh meninggalkanku. Seharusnya aku tidak selingkuh, aku menyalahi diri sendiri. Bisa jadi perselingkuhan itu, sekalipun tidak diketahui Mawar, tetap saja mempengaruhi sikapku.

Hari berikutnya, aku membuat keputusan dengan berat hati. Sebelum Mawar pulang, perselingkuhanku harus sudah berakhir.

Hari berikutnya lagi, si orang asing menggangguku. Keputusanku goyah. Menurutnya, aku akan sia-sia sebab masalahnya bukan itu. Aku tidak masuk kantor hari itu hanya untuk bergumul dengannya. Aku membuat opini-opiniku sendiri, tetapi dia selalu berhasil membuka mataku untuk melihat kebenaran kata-katanya. Aku memohon padanya. Aku berdoa kepada Tuhan agar, siapapun yang sedang berbicara kepadaku saat ini memperjelas maksudnya. Doaku baru terkabul dua hari berikutnya lagi. Tuhan kadang bermain dengan perasaan mahkluk ciptaanNya, pikirku.

Orang asing dalam diriku menyebutnya suatu pagi. Chemistry, katanya. Sesuatu yang lebih dari sekedar kecocokan, bahkan lebih dari cinta itu sendiri. Aku kelabakan. Chemistry merupakan sebuah kata yang tidak asing dalam duniaku, bersama mitraku, selingkuhanku bahkan dengan Mawar pernah kami membahasnya.

“Apa kau pernah merasakannya?” tanya suara asing.

“Ya,” jawabku.

“Apa kau pernah berusaha menciptakannya?”

“Maksudmu?” aku tidak tahu kalau chemistry bisa diciptakan.

“Seperti energi, begitulah chemistry. Ketika dia habis, orang harus menciptakannya lagi.”

Kata si orang asing selanjutnya; seharusnya aku melihat kucing hitam itu sebagai sudut pandang. Hah? Aku sampai berpikir mungkin aku semakin gila sekarang. Namun, suara asing itu bersikeras. Di sanalah kau akan menemukan apa yang kauperlu, katanya. Aku merenung. Ah, yang benar saja. Kupandang Trisy dari seberang meja. Mencari-cari petunjuk. Biasanya ilham dapat diperoleh dari apa saja. Trisy merasakan pandanganku, dia mendongak. Dan..astaga, di matanya, warna matanya maksudku, membuatku tertegun. Lantas orang asing dalam diriku menghargai keterkejutanku. Dia membimbingku menyelami kedalamam mata Trisy. Dia berbisik, di sana aku akan menemukan masalahku.

Dua tahun lalu kami menikah. Kebetulan kami berdua dilahirkan katolik jadi secara katolik pula kami mengikat janji. Dalam suka maupun duka….

Kami menikah dalam suasana serba tidak berlebihan. Demi menghindari campur tangan adat istiadat di negeri asal kami masing-masing, pernikahan itu terjadi di kota ini. Bahkan tidak pernah ada acara lamaran dan pertunangan sebelumnya. Kami berpacaran tiga tahun di bangku kuliah, lalu setelah kami lulus pada tahun yang sama dan bekerja pada dua kantor yang berbeda kami akhirnya memutuskan untuk menikah. Perwakilan dari keluargaku hanya mengirimkan empat orang dalam pernikahan itu yakni ayah dan ibu serta kedua saudara. Dari pihak Mawar cuma bapak dan ibunya. Satu-satunya biaya yang kupikirkan adalah resepsi buat teman-teman kuliah serta teman-teman kantor. Itu saja.

Aku dan Mawar berdebar-debar sejak malam pertama kami. Lalu pada bulan madu kami di Pulau Komodo. Bahkan sepanjang setahun kemudian kami masih selalu berdebar-debar dan was-was kalau duduk berdua untuk membicarakannya. Kami sangat mengharapkan kehadiran anak-anak. Pada suatu malam, kami duduk berpelukan dekat jendela. Memandang lampu jalan yang menggantikan sebentuk bulan di langit dari balik kaca.

“Aku menginginkan anak laki-laki sebagai anak sulung, saying,” kataku bermaksud bercanda sebab Tuhan yang menentukan jenis kelamin bayi-bayi yang lahir ke dunia.

“Kalau itu baik bagimu, ya aku manut.” Mawar menyahutku. Dia meletakan kepalanya di pangkuanku agar aku membelai rambutnya.

“Anak laki-laki lebih kuat sebagai pembuka jalan. Dia akan menjadi pelindung buat adik-adiknya.” Aku bertaruh kalau teoriku itu benar. Dan Mawar menertawaiku. Kami saling bertatapan lama sekali. Aku menangkap pijar-pijar yang bergeletaran di selaput hitam bola matanya. Aku ingin mencium istriku namun dia cepat-cepat mengalihkan pandangan kembali kepada lampu jalan. Tentu Mawar tak ingin mendesakku, apalagi menuduhku. Kami selalu yakin kalau anak itu anugerah Yang Di Atas.

“Aku pengen miliki dua bayi kembar, deh.” Giliran Mawar mengeluarkan candanya. Aku menggodanya dengan mengatakan bisa-bisa rahimnya tidak sanggup menampung dua janin sekaligus. Kalau jebol gimana?

“Hus,” Mawar memasang tampang serius.”Jangan bicara begitu tentang rahim deh. Ibuku selalu bilang bagi seorang wanita rahim adalah sesuatu yang sangat sakral. Bahkan ketika hatinya sendiri sangat kotor oleh dosa, rahimnya masih tetap suci. Itulah mengapa Tuhan masih menitipkan bayi-bayi lewat wanita-wanita tuna susila.”

“Ibumu pasti menjadi Imam kalau dilahirkan laki-laki, ya.” Lagi-lagi aku menggodanya. Mawar memberengut pura-pura. Menggemaskan melihat istriku menjadi manja begitu.

“Jadi bagaimana dengan wanita-wanita yang tidak pernah melahirkan dan yang mandul?” aku bertanya dan membuat Mawar salah tingkah. Melihat wanita itu menjadi rapuh, aku merasa remuk. Aku mendekapnya sampai Mawar benar-benar menangis.

Dua tahun berlalu. Debaran jantung kami yang menunggu kelahiran bayi lesap oleh hitungan hari. Kami berhenti berharap pada Tuhan. Lalu pada suatu malam, aku membawa pulang dua ekor kucing kembar ke rumah. Mawar melihatnya namun diam saja. Padahal tadi aku berharap ini kejutan menyenangkan untuk Mawar. Dia malah menyuruhku cepat-cepat makan dan segera tidur karena sudah sangat larut sekarang. Hatiku mencelos.

Pada hari setelah kematian Trisa, Aku bertanya apakah dia sesedih diriku? Mawar bilang tidak sesedih itu. Dia mengatakan dia sangat marah pada Tuhan.

“Aku tidak tahu mengapa Tuhan mengirim kucing ketika aku senantiasa berdoa mohon dua bayi kembar darinya?” kata Mawar dingin.

Perawi Rempah

Puisi Ahmad Yulden Erwin

1

 

Minggu  pagi  menggigil  di sayap  burung  undan, seperti ratusan

minggu pagi  lainnya, menyusun  sesatu  kenangan. Kau  mencari

beberapa  onggok pulau  di Timur dengan wangi  cengkih  tertiup

angin  muson, dan kelasi itu  berteriak,  ‘Surga telah  ditemukan!’

 

Ketika itu  di anjungan, kau  nampak berdiri menatap  selengkung

ombak biru, setapak  jejak  sepatu mengutuk layar  kapalmu; kini

kaubayangkan putri duyung  berbau  pala  di  ranjang  kabut pagi,

kaubayangkan  lidah jahe  menjilat  ususmu.  Saat itu angin mati,

 

separuh  kelasi  lapar  dihajar kudis.  ‘Bunuh saja aku!’ gerutumu.

Lalu kaukenang  janjimu, atau  mimpi  buruk itu:  berkarung  lada

dan kapulaga bagi tumbung gurita raksasa saat  kembali, delapan

tentakelnya membelit  sepeti  koin  emas, tentu  saja bajingan itu

 

keranjingan menuntut  balas andai tiada kautebus  amis mulutnya

dengan  kayu  manis, plus  bebiji lada, dari ladang rahasia. Maka,

demi berkah Yesua, kauburu rempah sepanjang bandar antik dan

teluk  Afrika:  ‘Meski  badai  mendampar  kami ke tengah pasifik.’

 

‘Surga  telah  dihamparkan!’  kelasi itu  kembali berteriak, ombak

mencium wangi  tangkai  cengkih  di puting  pelangi. Kau terjaga.

Bagai tak percaya  kaugosok  kedua  matamu  di bawah alis pagi:

Yesua telah berbaring nudis di pantai sunyi. ‘Haleluyah!’ Alangkah

 

bahagia: kau tengah menapak di pasir pantainya. Tentulah wajar

bila kaupungut  bebulir hitam  terserak di sana, surga akan selalu

berlimpah. Pantaslah  tamak-tamak  kauisi palka kapalmu dengan

bebiji rempah. Beginilah  hikayat  Nusa Permata sebelum dijarah.

 

 

2

 

Sesayat mimpi  bersama  irisan daging kering, kutu dan belatung

pasti  lebih  dulu menyantapnya, begitu  sarapan bagi para kelasi

hingga  makan siang  dan makan malam mereka; sesayat mimpi

demi  setimbun  rempah  eksotis  di pulau tropika. Mereka bukan

 

awak perompak  Selat  Malaka, mereka  lanun  penggila  misteri,

juru selamat  kaum kafir dari ketel neraka. Tiada gentar mereka,

sebab wahyu  telah  mekar di ladang nyali  musim  dingin Eropa,

sebab tukak dihangati lada, sebab tafsir tertera dalam sabdanya:

 

Setiap sebiji rempah kaurampas di tanah ini akan menjelma doa,

sebab  misi  sempurna, resah  tiada, kaulah wakil kerajaan Bapa.

Di  pantai itu  kau  berdoa: ‘Undanglah  kami, O Yesua, mencicipi

lezatnya gurita,  beraroma rempah, semeja-hidang Ratu Sheba.’

 

Fakta cogito akhirnya, bukanlah Yesua  undang kalian, melainkan

diseret  tentara  Sultan:  ‘Kalian  babi bulai pencuri  pala petani!’

Randai beriring  mereka  digiring  ke halaman istana; menanting

aneka  piring,  panci,  kuali dan peralatan makan lainnya –– juga

 

kompas  juru  peta,  juga  Kidung  Cinta Salomo  penakluk dunia:

kuasa gaharu  di hidung  surga.  ‘Kenapa Tuan Nakhoda  curi  itu

bebiji  pala?’  murka  Sultan Boalief.  ‘Sebab di sini tanah  Yesua,

segala bole  dipungut  seturut  kami suka,’ singut Tuan  Nakhoda,

 

sejenak  kecut,  ditatapnya  merah  jambul  kasuari di pici Sultan

dandan Persia.  ‘Di Nusa Tarnate  orang  bole ambil segala suka,

andailah  bisa Tuan  ganti  kami  punya!’  Ciutlah  nyali  nakhoda,

bekal segala habis di Sunda Kelapa, hanya jubah lusuh dan zirah

 

besi  miliknya semata. Cemas oleh gagal akan misinya, pias akan

cekik delapan  tentakel gurita, ia letakkan sarung  belati dan kitab

suci di duli kaki  Sultan Tarnate,  ‘Habis  kini  harta  tersisa.’ Haru

sebab siasah begini, setengah tertawa, Sultan berbagi jatah pala.

 

 

3

 

Mereka  membangun  benteng  kecil  di  tengah  padang  ilalang,

sebelum  kaum kafir itu  mengayunkan  pedang,  sebelum  tarian

bumbung hantu dikepung tabun perang. Cuaca melesit langit biru

jadi kelabu, disorot gahar sebiji mata kucing lapar. Dagumu naik,

 

sedikit bergetar, lekas  meracau kalimat jemu, ‘Salju tak laik ada

di lekang pulau tropika.’  Kecuali  batu dan  kepulan debu, musim

kemarau menyulut pasukan Tidore  membakar  benteng kecilmu,

melampuskan segenap harapmu; begitulah kauputuskan  segera

 

menikahi gadis  coklat itu, pentil  sepasang teteknya berbau pala.

Jadi, diam-diam  kautakik   tradisi  membenci, melawan nasibmu

sembari berburu babi, begitu  jelas taktik  paling minim, sebelum

fajar kaukirim sepucuk surat itu, sebelum  datang  penjarah baru

 

melocok  senapan  dengan mesiu; terayun  dari  moncong buaya

ke taring singa, begini nasibmu terbantun dikutuk aroma rempah

serupa kemaruk busuk mulut gurita. Tiada Yesua di pantai surga,

tiada Bapa, kecuali  sepasang  beruk  keling memanjat  sebatang

 

pohon Cockyane tumbuh subur di ranah mimpimu, mereka kawin

dan berpinak di sana, merekalah moyang segala penjarah terkeji

di  muka  bumi, pelahir  jadah-jadah  sinting  sejarah, penghasut

jenial cacing-cacing  pita  penafsir vagina-kedamaian paling suci;

 

‘Jadi begini  saat  paling  tepat  buat pembalasan, bukan?’ Begitu

kaucatat dalam  suratmu  ke Lisbon, usai  perjanjian  paling oon

membelah bumi semata milik dua kerajaan –– seekor paus putih

resmi melontarkan restu  dari moncongnya menganga kelaparan

 

melahap  segala  plankton, ubur-ubur,  plus  ganggang beracun;

teritip  di lambung kapalmu makin mengganas, kau tak berharap

bisa kembali, jadi  kauputuskan  wajib menjarah dan membantai

sepulau  penduduk  surga ini, meski Yesua mesti disalib dua kali.

 

perawi rempah

Catatan:

1. Cogito: aku berpikir; prinsip filsafat Descartes: Cogito Ergo Sum.

2. Bole: boleh.

3. Oon: dungu.

4. Gahar: garang.

Kotak

Puisi Agung Triatmoko

Aku pernah membuat sebuah kotak tanpa ukiran dan tanpa kaca, agar tak nampak istimewa dan timbul alasan untuk diperebutkan.

Bagian dalam kotak aku buat nyaman dengan lapisan karpet merah jambu yang aku pintal sendiri, bahannya aku ambil dari benang-benang yang lembut namun kuat, yang aku kumpulkan dari hari-hari aku merayu semesta.

Di kotak itu……

Aku letakkan setangkai kembang liar yang aku petik dari kerumunan duri dan auman serigala-serigala garang.

Pelahan aku letakkan kembang liar di pembaringan kotak, aku selimuti tubuhnya dengan do’a, aku terangi ruang kotak dengan puisi-puisi, dan aku hembuskan kesejukan dengan harapan.

Di kotak itu……

Aku sematkan sebuah nama…….. namamu.

Aku tak pernah pergi tanpa kotak itu.

Sesekali, aku letakkan kotak itu di tepi pantai, agar sang kembang liar pandai menirukan gemulai ombak yang sering membuatku terpesona.

Sesekali, aku letakkan kotak itu di tepi riuhnya jalanan, agar sang kembang liar menjadi cerdas dan tangguh seperti angin dan debu.

Sesekali, aku letakkan kotak itu di puncak gunung tandus, agar sang kembang liar mampu memandang dunia dengan tatapan pasti.

Sesekali, aku letakkan kotak itu disampingku berbaring, agar dapat kuhirup aroma wanginya.

Suatu hari, sesaat setelah seribu kepenatan mulai hendak beranjak pergi, saat kerinduan akan aromanya memuncak, kucoba membuka kotak itu, namun tak kutemukan lagi kembang liar di dalamnya, yang tertinggal hanya sisa aroma yang mengabarkan sebuah kepergian.

Kini kotak itu tak berpenghuni, tak akan pernah lagi mengabarkan harapan, kapan dapat kugenggam tangkainya yang lembut, sembari kuhirup aromanya.

Bangku Kosong
Bangku Kosong (Photo credit: Gage Batubara)

Ya sudah…, aku simpan saja kotak ini untuk menyimpan bulir demi bulir

air mata yang membatu. Lantas kutulis sebait puisi di dinding luarnya, “Terimakasih kembang, aroma rindumu yang kemarin dulu masih aku simpan jauh di dalam hati”.

Karena Setiap Kata Punya Makna