Arsip Tag: garuda

Korupsi Pertama Sebuah Bangsa

Gerundelan Hendi Jo

gambar diunduh dari uniknyaindonesia.blogspot.com
gambar diunduh dari uniknyaindonesia.blogspot.com

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis tentang prilaku para pejuang dan lasykar yang kerjaannya “nyusahin” rakyat di daerah pendudukan selama Perang Kemerdekaan berlangsung (1945-1949). Mereka yang mengatasnamakan pejuang kemerdekaan, sesungguhnya hanya terdiri dari para “penumpang gelap” revolusi: berlaku gagah-gagahan tapi kerjaannya hanya merampok, menggarong dan memperkosa (mayoritas korbannya perempuan-perempuan Belanda dan Indo).

Tapi sesungguhnya prilaku konyol dan merugikan itu bukan hanya milik para bawahan saja ataupun terbatas hanya prilaku kaum bersenjata semata. Laiknya hari ini, di tingkat pejabat, praktek penggarongan dalam nama korupsi pun juga terjadi. Bahkan dengan memakan korban jumlah uang yang lumayan banyak. Inilah salah satu kisahnya.

Juni 1948, Presiden Sukarno melakukan muhibah ke Aceh. Di ranah rencong tersebut, ia tidak saja disambut secara gempita tapi juga didapuk oleh tokoh-tokoh setempat untuk menyebut sesuatu hal yang menjadi kebutuhan urgen dari pemerintah barunya. “Alangkah baiknya jika Indonesia mempunyai kapal udara untuk membuat pertahanan negara dan mempererat hubungan antara pulau dan pulau…”kata Sukarno seperti dituliskan oleh M. Nur El Ibrahimy dalam Kisah Kembalinya Tengku Muhammad Daud Beureueh ke Pangkuan Republik Indonesia (1979).

Begitu keluar ucapan tersebut dari mulut Sukarno, tanpa banyak cakap, rakyat Aceh merogoh saku dan mencopot perhiasan yang ada di tubuh mereka. Begitu tingginya semangat untuk berkorban, hingga konon antrian para donatur (terdiri dari kalangan kaya maupun kalangan biasa) di beberapa masjid dan pusat pemerintahan Kotaradja (sekarang Banda Aceh) panjangnya sampai ratusan meter. Beberapa jam kemudian terkumpulah dana sebesar 120.000 straits dollar ditambah 20 kg emas.

Singkat cerita, dana itu kemudian diancer-ancer untuk membeli sebuah pesawat terbang. Sebagai pimpro dipilihlah Wiweko Soepono, penerbang senior Indonesia sekaligus salah satu direktur Garuda paling sukses sepanjang sejarah. Dengan bekal wessel 120.000 straits dollar ia kemudian terbang untuk mencari pesawat di Thailand. Namun anehnya, saat Wiweko ke bank, mereka hanya bilang dana yang ada tinggal 60.000 straits dollar saja. Raib 50%!

Wiweko akhirnya mafhum, dirinya “dibokisin”. “Saya hanya menerima setengah dari dana sumbangan…,” ungkapnya ketika diwawancara oleh Majalah Angkasa pada tahun 2000.

Soal siapa yang bokis dalam masalah ini, Wiweko mengaku tak tahu sama sekali. Ia pun tak mau berspekulasi bahwa pemberi wessel (yang enggan ia sebut namanya) adalah penilep sebagian uang sumbangan itu. Untuk menghindari fitnah dan intrik, Wiweko memotokopi pencairan wessel tersebut. Hingga dirinya beranjak tua, fotokopi wessel itu tetap ia simpan.

Dengan uang 60.000 straits dollar, perwira Angkatan Udara Republik Indonesia itu berhasil membawa pulang sebuah Dakota DC-47B yang kemudian diberi nama Seulawah (artinya Gunung Emas). Nomor registrasi penerbangannya: RI-001. Pesawat itu kemudian secara resmi menjadi pesawat kepresidenan pertama sebelum beberapa tahun kemudian dikomersialisasi untuk melayani penerbangan sipil di Burma.

Lantas, bagaimana kabar uang 60.000 staits dollar dan 20 kg emas hasil sumbangan dari rakyat Aceh? Laiknya kasus-kasus mega korupsi yang terjadi kemudian, soal itu seolah sirna, tertumpuki cerita-cerita sejarah yang lainnya hingga orang-orang lupa sama sekali . Indonesia banget ya?

Pancasila(isme)

Waktu jaman sekolah dulu, saya paling benci pelajaran Pe-eM-Pe (Pendidikan Moral Pancasila). Selain membosankan, model pembelajaran yang diberikan lebih mirip mencekoki ayam dengan gumpalan nasi yang dipadatkan. Yang dicekoki modot molet, mata mendelik keloloten. Tidak mengerti apa-apa tapi merasa kenyang. Pelajaran penuh indoktrinasi. Setelah sekian tahun menerima tanpa sempat mengkritisi, dengan memberanikan diri berpikir bebas saya bertanya, mengapa Pancasila kok urutannya begitu? Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa. Dua…, tiga.. dan seterusnya. Masih hapal tho? Biadab kalau tidak hapal.
Meski tidak suka dengan Pe-eM-Pe, bukan berarti nilai saya jelek. Tidak bagus, iya. Tapi setidaknya pernah lomba cerdas cermat Pe Empat. Itu semacam lomba menghapal nilai-nilai luhur Pancasila. Indoktrinasi (lagi) yang dilombakan. Setelah bertahun kemudian, saya tambah bingung karena begitu banyak hal-hal yang dilekatkan ke Pancasila. Ambil contoh rumusan Pancasila sebagai hasil produk pemikiran, Pancasila sebagai proses, Pancasila sebagai pandangan hidup, Pancasila sebagai ideologi, Pancasila sebagai sistem filsafat. Dan masih banyak lagi pemikiran-pemikiran terkait dengan Pancasila. Sepertinya proses menggali Pancasila tidak akan menemukan titik akhir. Celakanya, lebih mengasyikkan mengkaji dan berwacana ketimbang penerapannya.
Gerundelan ini tidak hendak mengupas berbagai hal tersebut di atas. Itu akan menjadi sama membosankan dengan indoktrinasi Pancasila jaman dulu. Pancasila jaman dulu, baik jaman orde lama maupun orde baru, menurut saya perlu diupdate. Misal dari lambangnya saja, garuda pancasila, mengapa mesti meleng ke kanan? Apakah itu sebab bangsa kita lebih fanatik ke kanan daripada ke kiri? Radikalisme lebih di mulai dari sisi kanan. Kondisi ini tentu saja perlu ada terobosan baru yang tidak hanya mengembalikan Pancasila pada tempatnya, tetapi jauh lebih ke depan, mendorong Pancasila(isme). Isme yang berasal dari Indonesia dan jika perlu menularkan virus Pancasilaisme ke berbagai belahan dunia.
Untuk itu, ada baiknya jika kita melakukan permenungan terlebih dahulu di peringatan hari lahir Pancasila ini. Permenungan ini perlu untuk merumuskan kembali Pancasilaisme yang tidak seperti sebelumnya, antara lain dengan mempertanyakan kembali, mengapa Pancasila kok urutannya begitu? Apakah pancasila yang tercantum dalam pembukaan UUD’45 itu merupakan suatu urutan? Menurut saya kok tidak. Pancasila yang menjadi dasar negara sebagaimana dalam pembukaan tersebut bukan suatu yang bertingkat melainkan setara, sama pentingnya. Lalu bagaimana dengan pancasila sebagai ideologi? Apakah itu sesuatu yang sudah jadi atau sesuatu yang harus dicapai? Jika Pancasila merupakan sesuatu yang harus dicapai, maka saya lebih suka mengubah urutan Pancasila sesuai dengan kondisi dan persoalan terkini.
Persoalan bangsa terkini membutuhkan indonesia yang kompak untuk menghadapi persaingan global. (Sebenarnya kita bersaing dengan siapa sih?) Tanpa kekompakan, kita akan mudah dilibas bangsa lain, dipecah belah dan diekploitasi habis-habisan. Tidak mudah untuk kompak di tengah prahara sektariasnisme. Persatuan Indonesia, apapun agamanya, apapun suku dan asalnya, itu yang sekarang mendesak untuk ditekankan kembali.
Untuk apa kita bersatu menyepakati konsensus berbangsa dan bernegara? Tentunya untuk mencapai keadilan sosial yang di dalamnya juga berarti kemakmuran bersama. Adanya rasa aman dari persatuan menjadi landasan kuat untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup. Baru kemudian jika persoalan muncul, maka asas kerakyatan diutamakan. Dengan kata lain, dalam menghadapi persoalan sehari-hari, kebutuhan rakyat banyak menjadi pertimbangan utama. Jika musyawarah tidak bijaksana, maka mufakat juga tidak bijaksana. Jika musyawarah tercapai mufakat, namun jika bertentangan dengan kerakyatan, maka itu mufakat yang tidak bijaksana.
Jika kondisi-kondisi ideal pada tataran pragmatis tersebut dapat dicapai, maka mengkaji dan berpikir tentang kemanusiaan dan ketuhanan dapat maju dan berkembang. Hal tersebut bukan berarti bahwa dalam tataran praktik boleh abai terhadap kemanusiaan dan ketuhanan, tetapi justru sebaliknya. Persoalan kemanusiaan dan ketuhanan akan menjadi bukan apa-apa jika tidak ada perbuatan konkrit dalam keseharian. Cara pandang yang ada sekarang ini lebih berfokus pada bagaimana memenuhi tuntutan agama daripada bagaimana mewujudkan surga di bumi. Ketuhanan telah melenceng menjadi keagamaan yang kemudian diturunkan untuk mengatur kemanusiaan. Ketuhanan diletakkan paling bawah, karena memang pada intinya, semestinya menjadi pondasi, bukan diartikan sebagai bukan prioritas awal.
Membangun yang tampak itu lebih mudah ketimbang yang tidak tampak. Jika kebutuhan primitif manusia terpenuhi, manusia indonesia lebih mudah diajak meraih capaian lebih tinggi, yaitu manusia yang menjadi berkat bagi semesta, berkemanusiaan dan berketuhanan. Untungnya, berkemanusiaan dan berketuhanan membutuhkan praktik nyata, bukan hanya retorika di tempat ibadah
Dengan uraian demikian, maka Pancasila menjadi sebagai berikut:
1. Persatuan Indonesia;
2. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
3. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
4. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
5. Ketuhanan yang maha esa.
Yah, beginilah generasi baru Pancasila(isme). Generasi yang tidak boleh hanya berhenti pada indoktrinasi. Generasi yang semestinya memberikan wajah baru Pancasila sehingga Pancasila menjadi sesuatu yang indah, menarik, populer dan menjadi budaya baru. Karena Pancasila butuh pembaharuan. Ia butuh kemasan baru, meski content-nya tetap sama. Itulah tugas pengikut Pancasila(isme). Tugas pertama mendekonstruksi Pancasila sesuai situasi dan kondisi daerahnya. Monggo…