Cerita Bersambung Martin Siregar Bagian 8 Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcomSusanti gembira sekali mendengar Om-nya memelihara kontak komunikasi dengan kawan-kawannya di FDP. Sementara Tigor merasa bahwa kontak FDP dengan lembaga dana masih terlalu pagi. FDP harus menunjukkan eksistensinya bekerja di masyarakat lapis bawah, setelah itu baru layak menjalin kontak dengan lembaga dana. Armand yang sangat terobsesi untuk membiayai kuliahnya, tidak lagi mendapat subsidi dari orang tua, Arman merasa sangat riang hati. “Kalau sudah ada dukungan dana, maka kita tak perlu minta uang kuliah dari orang tua. Kita harus menjadi mahasiswa yang mandiri. Kiranya, tercapai kesepakatan FDP dengan Mukurata. Walaupun kita masih mahasiswa, tapi kita sudah menjadi orang yang profesionil bekerja di masyarakat. Sudah tak kalah dengan para dosen-dosen yang sok menggurui kita. Ha…ha..ha..” Armand tertawa sendiri membayangkan dirinya sudah menjadi orang yang profesionil.
DR Pardomuan hanya diam mendengarkan segala macam pendapat kawan-kawannya yang masih muda. Dia amati pola tingkah laku bicara kaum muda ini. Beliau cukup tekun mengamati perkembangan psykologis seluruh anggota FDP. Pernah satu waktu beliau lupa mengunci laci lemari kerjanya. Di situlah ditemukan Ucok, bahwa setiap anggota FDP punya map masing-masing. Pada map itu DR Pardomuan menuliskan segala hasil pengamatannya terhadap seluruh personil FDP. Panjang lebar dituliskannya kesan pribadinya pada setiap anggota. Ucok kagum dan terheran melihat ketekunan saudara tua mereka. Dan tak diceritakannya rahasia itu kepada orang lain. Dalam hati, Ucok berjanji akan mencontoh kebiasaan baik yang dipelihara saudara tuanya yang mengasihi mereka dengan sungguh – sungguh. Tekun menuliskan kesan apa saja yang diperoleh dalam realitas hidup sehari-hari pasti akan memampukan kita lebih tajam lagi menganalisa kehidupan sosial kemasyarakatan. Begitulah tekad mahasiswa yang tempramental itu.
“Panas panas taik ayam, sebentar lagi pasti dingin taik ayamnya.” Itulah kalimat yang sering dilontarkan Arman kalau mengejek Ucok.
Mukurata hanya dua hari di Rilmafrid. Dengan bahasa inggris yang sudah lancar, ia banyak berkomunikasi dengan DR Pardomuan dan Susanti yang menjadi juru bicara FDP. Bersama Mukurata FDP lebih banyak menghabiskan waktu membahas penulisan proporsal sesuai dengan standard Sabidaor Foundation.
“Sial! Aku tak lancar berbahasa inggris. Kalau aku lancar,pasti kutanya standard gaji yang ditetapkan Sabidaor,” kata Armand setelah pulang antarkan Mukurata ke airport.
“Dasar mata duitan,” Ningsih kesal mendengar Arman. Ibu dan Arben Rizaldi kali ini bingung menyimak pembicaran mereka. “Rupanya tamu mereka tadi adalah orang Taiwan yang akan memberikan mereka gaji bulanan,” kata Arben.
“Ah! Masyak! Dari mana mereka kenal orang itu dan kenapa pula dia mau memberi gaji kepada pendaki-pendaki gunung yang puncaknya kekonyolan?” Ibu merasa aneh. “Jangan-jangan kau salah dengar,” katanya pula pada Arben.
Sebenarnya Ibu adalah mahasiswa yang cerdas. Mery Anita namanya, dikenal sebagai kembang kampus yang banyak menarik simpatik kaum hawa. Tapi, ketika menulis skripsi, dosen pembimbingnya Drs Bachtiar Harjatmo ingin memperkosa Ibu waktu berkunjung ke rumah Drs Bachtiar Harjatmo yang ketika itu tak ada penghuni. Pulang dari rumah dosen, dibakarlah seluruh naskah skripsinya oleh Ibu. “Saya tidak mau lagi melanjutkan penulisan skripsi. Drs Bachtiar Harjatmo harus dipecat dari dosen fakultas sastra dan dijebloskan ke penjara selama 6 bulan.” Kata Ibu waktu itu. Memang sang dosen akhirnya masuk penjara sesuai dengan keinginan ibu.
Tapi, Ibu sudah tak selera lagi melanjutkan kuliah. Ibu frustasi dan hampir gila. DR Pardomuan-lah yang diminta keluarga untuk sabar tabah membujuk ibu agar memiliki gairah hidup. Intensitas jumpa yang cukup lama membuat mereka berpacaran. Kemudian menjalin mahligai rumah tangga sampai saat sekarang memiliki anak tunggal yang manja, Arben Rizaldi, sudah jadi mahasiswa semester 3 di akademi pariwisata.
“Aku sudah hampir satu jam di kantin tunggu kau.” Mikail jumpai Tigor sehabis kuliah. “Dosennya terlalu asyik memberi kuliah sehingga waktu terlewatkan setengah jam.” Lalu mereka sama sama diam menuju parkir motor. Akibat kesibukan di FDP, kedua mahasiswa ini tak punya kesempatan untuk bertamu ke rumah Susanti. Sudah lebih 2 bulan mereka tak pernah lagi menjumpai Susanti. Berkas proporsal untuk diajukan ke Sabidaor Foundation ada di ransel Mikail untuk diinggriskan Susanti. Sebentar mereka beli pisang goreng Bi Inah langganan tetap Tigor 2 tahun ini. Tapi, dekat simpang empat menuju ke rumah Susanti, ada kerumunan orang. Ada yang bawa pentungan, menggengam batu besar, buka baju muka bringas siap bertempur. Ada dua orang hanya pakai celana dalam dan kaus, badan penuh dengan bengkak. Tangan mereka diikat kuat pakai tali raffia. Mata lebam warna biru meneteskan darah kental habis dipukuli massa yang masih terkonsentrasi di tempat kejadian.
“Pak,.. ada apa Pak.” Mikail sangat ingin tahu.
“Ini dua polisi mau menangkap anak muda itu,” kata bapak setengah baya sambil tunjuk seorang anak muda. “Ketika berdiri mendekati motor anak muda itu, dari kantong celana polisi jatuh setumpuk daun kering ganja. Langsung saja anak muda yang ditangkap polisi itu memukul polisi dan berteriak memanggil semua orang yang ada di sekitar tempat kejadian.”
“Ooaaalllaahh.. mampuslah negara kita ini. Polisi pun sudah kantongi ganja. Mampuslah kita ini.” Mikail tak habis pikir, kenapa ada polisi yang ikut sindikat perdagangan ganja.
“Ah.., syukurlah kalian datang, aku sudah rindu mendengar kalian bertengkar.”
Susanti menyambut mereka dengan piring di tangan. Susanti sudah tahu, pasti mereka datang membawa pisang goreng.
“Iya,..kami juga rindu juga sama kau. Kami sudah tak pernah lagi nonton bioskop bersama. Otomatis tak ada topik pertengkaran kami.”
“Aku pun tak pernah lagi nginap di rumah Mikail.” Tigor juga tersenyum menyambut Susanti.
Kesan terhadap kedatangan Mukurata serta membayangkan keberadaan FDP menangani program yang didukung oleh Sabidaor menjadi topik hangat sore ini.
“Ah, si Mikail ini, namanya saja pacarku. Hanya datang malam minggu. Itu pun hanya sebentar. Tak pernah ada suasana romantic,” Susanti kesal.
Si Mikail hanya menundukan kepala pertanda mengaku kesalahannya di hadapan Susanti dan Tigor. Kondisi mereka sore ini agak tegang juga gara-gara pernyataan Susanti yang merasa status pacaran tak pernah dinikmatinya bersama Mikail. Setelah diam beberapa saat Tigor dengan lembut buka bicara,” Susanti, kalau bisa 2 hari ini proprsal kita sudah siap diinggriskan.”
Masih lemas Susanti menjawab Tigor,” Mudah-mudahan bisa. Soalnya seminggu ini aku janji membantu Evi, kawanku ngerjakan tugas kuliah.”
Suasana yang diharapkan cerah ceria ternyata berubah menjadi tegang dan kaku. Susanti memang sudah lama memendam rasa jengkelnya melihat tingkah laku Mikail yang tak punya perhatian untuknya.
Terkadang Tuhan pertemukan dua orang untuk saling jatuh cinta
tetapi tidak untuk saling memiliki.
gambar diunduh dari bp_blogspot.comDia memakai kemeja hitam dan jeans hitam. Senang sekali bisa bersamanya di luar jam kuliah. Meskipun kami tidak hanya berdua. Ada Ferdi, Ilma dan Ares. Kami berada di cafeteria kampus. Entah keberapa kalinya aku kembali satu kelompok dengan Dee. Seperti biasa, dia sangat dingin dan tidak bersahabat. Padahal ini bukan pertamakalinya kami ada di kelompok yang sama.
“Ini, Ree … Hasil penelitian dari Kampung Leles. Udah aku susun semuanya,” kata Ilma sambil menyerahkan flashdisk-nya. Sementara Dee, Ares dan Ferdi sibuk dengan kegiatan mereka serta obrolannya.
“Hei, siapa yang belum ngasihin tugasnya ke Ilma?!” tanyaku sinis kepada mereka bertiga setelah meneliti data-data dalam flashdisk Ilma.
“Ares udah loh, Ree. Iya kan, Il?” tanya Ares meminta pembelaan Ilma. Ilma mengangguk.
“Aku udah !!” jawab Ferdi sambil mengangkat tangannya, seperti ditodong polisi.
Aku menatap Dee. Meskipun aku menyukainya bukan berarti dia bebas dari tugasnya.
“Sepertinya cuma aku aja yang belum. Maaf ya Ree, sini biar aku aja yang beresin” ucap Dee sambil menggaruk-garuk kepalanya. Aku mencibir. Tidak biasanya dia seperti ini.
“Berarti tinggal buat BAB I dan BAB III-nya” ucapku.
“Kata Pengantar, Daftar Isi dan Daftar Pustaka” tambah Ilma. Aku mengacungi jempol ke arahnya.
Tidak lama kemudian kami semua sibuk dalam pembuatan BAB I dan BAB III. Aku, Dee dan Ferdi membuat BAB I sementara Ilma dan Ares menyelesaikan BAB III.
“Aduh .. kok pusing gini ya” ucapku setelah sepuluh menit berlalu tanpa mengetik apapun.
“Santei aja, Ree” sahut Ferdi tanpa menoleh ke arahku.
Tidak lama kemudian, Dee tiba-tiba kembali mengeluarkan suara emasnya. “Di, ini ..” katanya sambil menyerahkan BB-Touch miliknya pada Ferdi.
“Apaan?” Ferdi bingung.
“Kita foto-foto dulu biar ga ruwet” jawabnya.
Eh? Sejak kapan Dee jadi peduli dengan sekitarnya?.
“Fotoin aku sama Ares, Di …” kata Ilma antusias. Teman-teman sekelasku memang seperti ini, selalu eksis depan kamera. Aku tidak menghiraukan mereka, aku melanjutkan tugasku.
“Ferdi, fotoin sama Ree” kata Dee.
“Eh?” aku melongo ke arah Dee. Dee tidak sakit kan?. Dee acuh dan sudah siap dengan gaya cool-nya.
“Gaya dong Ree” kata Ferdi. Aku cepat-cepat mengubah ekspresi kaget dengan tersenyum depan kamera. Dan jadilah fotoku dan Dee yang sedang tersenyum.
Senja itu diakhiri dengan selesainya tugas penelitian Sistem Sosial Budaya Indonesia yang harus segera di kumpulkan sebelum UAS berlangsung. Oh, Tuhan … ! Ini luar biasa, aku berfoto bersama Dee ! Aku menjadikannya wallpaper di handphone-ku. Rasanya lucu sekali. Ini benar-benar diluar dugaan. Terimakasih, Dee …
***
Siang ini dia berjaket tebal. Jaket tebal berwarna merah dengan jeans biru dan sepatu kets coklat. Siang ini mendung, dan angin bertiup kencang. Mungkin itu sebabnya dia berpakaian layaknya orang eskimo. Aku memandangnya, sesekali tertunduk agar mataku dan mata sayunya tidak beradu pandang. Hari ini UAS Penulisan Berita, dan itu adalah alasan mengapa aku dan dia ada di tempat yang sama.
Hembusan angin memainkan rambut disekitar keningnya. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membuat rambut belakangnya sedikit berantakan. Kemudian berjalan menuju kumpulan anak-anak kelas.
Aku duduk bersandar menghadapkan badanku agar selaras dengan tempatnya duduk sekarang. Dia lebih menawan ketika tersenyum dan tertawa. Melihatnya seperti ini rasanya cukup. Ya, cukup untuk mengobati kerinduan tentangnya. Meskipun rasa yang semakin mengendap ke dasar nurani ini butuh jawab.
“Dee, sini …” teriak Syila, kemudian Dee menghampirinya. Syila langsung menarik tangan Dee. Dan … jepret .. jepret …
Kamera Canon EOS 550D itu merekam frame mereka. Syila menggandeng tangan Dee ! Aah, Tuhan .. mengapa harus merasa sulit seperti ini. Aku hanya memalingkan wajah, berusaha fokus pada UAS yang akan berlangsung.
Dee memang dingin. Jadi dia hanya tersenyum tipis ketika berfoto. Tangannya melipat tepat diatas perutnya. Dan .. yah … tangan Syila mencari celah untuk bisa bergantung diantara tangan Dee.
“Arial, Rena, Tio, Refa, Lila” panggil dosen, namaku ada diantaranya. Aku bergegas memasuki ruangan ujian. Meninggalkan Dee yang masih berfoto dengan Syila. Aku berharap bisa berdampingan dengannya di ruang ujian ini.
Dua menit berlalu dan sejauh ini ujian lisanku lancar. Berita yang ku buat hanya -1. Tinggal mengubah Lead-nya saja. Kemudian Dee masuk bersama beberapa orang selanjutnya. Aku masih mengotak-atik Lead yang sudah di salin dua kali di kertas yang sama. Aku terus mengamatinya. Ingin lebih lama di ruangan ini. Aku sudah selesai dengan tugasku. Tapi dia belum juga mendapat giliran untuk mempertanggung jawabkan beritanya. Aku penasaran, apakah skill-nya sebanding dengan permainannya di lapangan ?
Aah, tapi ini terlalu lama! Aku sudah selesai sementara nama Dee belum juga dipanggil oleh dosen. Beberapa temanku yang masuk bersama telah keluar sejak tadi.
“Kamu belum selesai?” tanya Dosen melirik ke arahku.
“Oh, iya Pak … udah ..” jawabku tidak bisa menyela, dengan berat hati harus meninggalkan ruangan ini. Aah, Dee … aku duluan .. Aku melihatnya sekilas kemudian meninggalkannya di ruang ujian.
***
Terbaring di bangsal berwarna putih ini memang menyebalkan. Bagaimana lagi, seminggu dua kali harus Hemodialisis . Pada akhirnya aku memang akan mati, namun ini adalah usaha agar hidupku di dunia ini tidak terlampau sia-sia.
“Sendirian aja, dek? Mana pacarnya?” tanya perawat cantik itu, dengan sigap dia mempersiapkan alat-alatnya. Aku hanya tersenyum. Pacar? Ah, aku ingat pada Dee …
“Gimana kuliahnya?” tanya Miss Dinda, dokter muda yang menangani ku sejak pertamakali melakukan Hemodialisis. Aku lebih senang memanggilnya Miss. Usianya sekitar 25 tahun.
“Lancar Miss … Kemarin baru selesai UAS Penulisan Berita” jawabku sumringah, dengan hati-hati Miss Dinda memasukkan jarum yang diikuti selang untuk mengalirkan darah di tubuhku ke Dializer .
“Hasilnya? Baguskan?” tanyanya lagi.
“Belum tahu, Miss … tapi aku optimis …” jawabku mantap.
“Nah, seharusnya semua mahasiswa itu seperti kamu Ree .. Ga gampang nyerah, lagi sakit juga tetep ambisi pengen IP 4” ucap Miss Dinda sambil tersenyum penuh makna.
Aku hanya tersenyum mendengar gurauannya. Dokter muda nan cantik ini memang memesona. Dan aku nyaman berada di dekatnya.
Hemodialisis berlangsung selama tiga jam. Dan itu membuatku sangat bosan, sebenarnya. Rasanya sudah tidak sakit lagi, tidak … sakit sebenarnya tapi tubuhku sudah mulai terbiasa. Jadi, tidak masalah. Aku membuat beberapa catatan kecil tentang Dee …
Aku jatuh cinta, Dee ..
Entah cinta seperti apa yang hadir di pelupuk mataku
Definisi itu begitu teoritis dan empiris jika dijabarkan
Maka aku tak dapat ungkapkan seperti apa
Aku jatuh cinta, Dee …
Rasa itu menyelinap dan mencari celah untuk dapat bernafas
Bukan, tetapi mencari kehidupan ditempat yang telah tandus
Perlahan namun semakin menjalar
Jatuh cinta memang indah. Tapi aku merasa tertatih ketika mencintaimu, Dee. Mungkin karena rasa ini hanya aku yang miliki, bukan kita. Minggu ini terakhir kita bertemu, sebelum UAS resmi dari fakultas minggu depan. Aah, Dee aku tidak yakin akan bertahan sampai liburan semester depan. Aku masih berharap dapat melihat senyum menawan milikmu di semester depan.
***
Hari ini Dee sangat rapi dan tetap menawan. Kemeja coklat dengan jeans biru, sepatu kets coklat dan tas punggung hitamnya membuat dia tampak makin cool. “Dee, selamat pagi …” sapaan itu hanya mampu berbisik dalam hati. Dia duduk di ujung barisan kedua dekat jendela, itu tempat favoritnya. Aku lebih sering melihatnya memilih kursi disana. Tapi duduk disana memang menyenangkan. Aku pernah mencobanya. Penarasan karena dia selalu duduk di tempat itu. Kursi itu memang strategis, saat bosan dengan ceramah-ceramah dosen, kamu bisa berpaling ke luar dan melihat langit biru serta taman kecil samping kelas yang jarang dilalui orang. Dee, makhluk seperti apa dirimu?
“Basket ikut ya Ree ..” ucap Syila sambil menepuk bahuku. Aku tersenyum ke arahnya.
“Siaap !!” berusaha agar nada suaraku terkesan meyakinkan. Hei, apa aku kuat? Aah, pasti bisa.
“Ayoo, sini dulu … Briefing sama coach” ajak Syila. Dan para pemain basket wanita yang hanya berjumlah 10 orang ini segera mengerubuninya. Dee. Dee didampingi Ares menyusun strategi. Kami akan bertanding dengan anak-anak Public Relations. Pertandingan persahabatan memang, tapi kami tetap ingin menang.
Aku ikut mengerubuni Dee. Dee salah satu pemain terbaik jurusan kami di cabang basketball. Tidak heran lagi jurusan kami selalu memboyong piala setinggi 1 meter, tahun ini pun demikian.
Tiba-tiba aku tersadar. Oh Tuhan, aku ada di dekat Dee … sangat dekat! Aku menatap wajahnya di jarak sedekat ini. Dia sibuk berceloteh kepada yang lain. Aku lebih fokus menatapnya, bukan memperhatikan strateginya.
“Ree, kamu jadi pertahanan disini ya …” ucap Dee, menatap ke arahku kemudian menunjuk ke gambar yang dibuatnya. Pandangan kita beradu ! Ohh, Tuhan …
“Ahh, iya Dee ..” ujarku dan aku segera mengalihkan pandangan. Tidak ingin dia tahu aku menatapnya sejak tadi.
“Sukses ya semuanya !” ucap Dee sambil beralu setelah menyampaikan arahannya.
“Jangan kupa dateng ya Dee…” pinta Syila, merajuk.
Dee hanya mengangguk dan pergi. Dee, sampai jumpa di lapangan … ucapku yang hanya sampai ditenggorokan saja.
“Eh, Ree …” Dee tiba-tiba memanggilku ! Oh, Tuhan … Aku menoleh ke arahnya. “Nanti sms aku ya jadwal UAS yang lainnya”
Aku menatapnya datar “I-i-ya …” speechless ! Aku hanya menjawab sekenanya.
“Makasih ya. Aku duluan Ree …” Dia pamit dan berlalu begitu saja.
Aku tersenyum geli. Ini pertama kalinya Dee memintaku seperti itu. Dan ini pertama kalinya aku berbincang dengannya diluar tugas kuliah. Dee …
“Speechless ni yee …” goda Nadia yang ternyata memperhatikanku sejak tadi.
“Keliatan ya?” tanyaku cengengesan.
“Bego ..” katanya sambil menimpuk kepalaku. Kami cengengesan. Hari ini benar-benar indah.
***
Pertandingan dimulai. Dee tidak juga muncul di lapangan. Kemana dia? Aku bermain seperti yang Dee katakan ketika breifing. Tapi aku sama sekali tidak bersemangat.
“Ree, jaga nomor 4” teriak Fany. Aku sekuat tenaga berlari untuk menghalangi si nomor 4 ini, berusaha merebut bolanya. Aku berhasil merebut bola membawanya ke wilayah lawan. Tapi … tiba-tiba pandanganku kabur. Semua yang ada dihadapanku terasa berputar. Aku ambruk.
“Ree …!!” teriakan mereka membawaku dalam dunia yang lebih gelap.
***
Karbol. Obat. Sayur bening tanpa rasa. Bau yang tidak asing lagi. Jarum infus terpasang ditangan kananku. Selang oksigen masih berbelit diantara hidung dan mulut bagian atas. Aku tidak mengira lima menit berada di lapangan itu bisa demikian parahnya. Padahal aku merasa sehat. Aku tidak ingat lagi setelah kegelapan menyelimutiku waktu itu. Aku benci hal ini, mengapa harus ada penyakit kutukan ini? Semuanya terasa amat terbatas.
Mungkin saja petahanan tubuh ini makin melemah. Ini sudah bulan ke enam. Sejak awal semester melakukan Hemodialisis. Tanganku tidak lagi semulus gadis lain, setiap tempat penuh dengan bekas tusukan jarum. Aku hanya tersenyum, lagi pula waktuku tidak akan cukup untuk mencapai kehidupan indah bernama pernikahan. Bahkan rasa yang mengendap itu masih saja merengek meminta jawab. Tapi aku terlalu takut. Takut bila Dee tidak akan pernah membalasnya. Jadi, akan lebih baik jika rasa itu tenggelam lebih dalam lagi. Agar perlahan menghilang di kegelapan.
***
Hari ini UAS terakhir sebelum libur panjang. UAS Filsafat. Aku mempersiapkan dengan matang karena tidak begitu paham dengan mata kuliah yang satu ini. Ujian lisan lagi. Aku sampai di tempat ujian. Dee sudah disana bersama beberapa teman sekelas. Dia duduk di anak tangga ke empat dari bawah menuju lantai 4. Aku melihatnya sekilas, dia sedang membaca catatannya.
Hei, Dee … sudah menghapal? Kamu siap? Aku berlalu, mencari tempat yang lebih sunyi untuk me-review hapalanku.
Ujian dimulai. Enam orang pertama masuk. Sepuluh menit kemudian satu persatu mereka keluar. Aku segera masuk karena ingin ujian cepat berakhir. Ruangan itu mendadak seperti tempat eksekusi narapidana hukuman mati. Kami duduk sembarang, ada enam orang dalam ruangan dengan empat kursi yang saling berhadapan.
Aku melihat Dee masuk ruangan setelah salah seorang di ruangan ini selesai. Dee duduk disampingku ! Bukan, maksudku satu kursi dari sampingku. Jadi ada kursi kosong diantara kami. Sekarang giliranku untuk menjawab soal-soal dari dosen. Aku menjawab sebisaku. Dan cukup.
“Silahkan keluar …” kata dosen setelah menandatangani kartu ujianku. Aah, padahal aku ingin lihat Dee … Ingin memberinya support.
Semoga berhasil, Dee … Aku melihat ke arahnya. Dan sosoknya menghilang dari pandanganku begitu aku keluar dari ruangan itu.
***
Aku berjalan di sekitar koridor. Memandang taman yang nampak indah. Transpalasi ginjal tidak berjalan baik. Ya, aku akan segera mati. Ginjal yang sudah digantikan ini tidak mau berfungsi. Aku akan segera meninggalkan keindahan dunia. Cepat atau lambat.
Pandanganku teralihkan. Ada sosok yang ku kenal diatas kursi roda yang di dampingi suster itu. Dia duduk diatas kursi roda dengan mata tertutup perban. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Aku segera mendekat ke tempatnya.
“Dee?” tanyaku, kemudian dia mengarahkan kepalanya ke sumber suara.
“Oh, kamu temannya?” tanya suster itu. Aku mengangguk. “Baiklah, tolong temani dia jalan-jalan ya .. Saya masih harus mendatangi pasien lain, tidak apa-apakan?”
“Ya, suster … jangan sungkan ..” jawabku. Dan suster itu beranjak meninggalkan kami yang masih terdiam.
“Maaf, siapa ya?” tanya Dee setelah suster itu pergi. Aku mendorong kursi rodanya perlahan. Membawanya ke dekat jendela.
“Pemain Basketball yang pingsan saat lima menit pertamanya …” jawabku singkat.
“Aah, Ree?” tanyanya lagi. “Kenapa ada disini?”
“Entahlah, hehe … Aku sedang demam, jadi datang kesini ..” Aku berbohong pada Dee.
“Memangnya di Bandung tidak ada rumah sakit ya?”tanya Dee tertawa renyah. Sikapnya lebih bersahabat.
“Memangnya di Depok tidak ada rumah sakit?” aku balik bertanya, membalas tawanya.
“Bodoh … Depok lebih dekat ke Jakarta” jawabnya singkat, lengkungan manis itu menghiasi wajahnya yang pucat.
Sungguh, ditengah keputusasaan ini dia datang sebagai oase kehidupan. Tuhan, terimakasih masih memberiku kesempatan untuk melihatnya.
***
Liburan di rumah sakit tidak begitu buruk. Apalagi ada Dee disini. Ketika berjalan menuju kamar Dee, aku melihat dr. Joe keluar dari kamar yang sama. Tanpa basa-basi aku langsung bertanya padanya.
“Dokter, bisakah beri tahu aku tentang kondisi Dee?” tanyaku ketika berpapasan dengan dr. Joe di koridor menuju ruangan Dee.
“Kamu?” dr. Joe mengerutkan keningnya menatapku heran.
“Saya Ree temannya Dee, pasien dr. Dinda. ” jawabku singkat.
“Oh, baiklah … kita bicara di ruangan saya saja” ajaknya, aku mengekor dibelakang dr. Joe.
Sampai di ruangannya, dr. Joe langsung menjelaskan kondisi Dee saat ini.
“Setahun yang lalu Dee pernah kecelakaan yang menyebabkan matanya rusak dan sempat mengalami kebutaan selama beberapa bulan, namun bisa pulih kembali walaupun tidak seperti keadaan semula. Dan seminggu yang lalu matanya terkena hantaman keras dari bola sepak. Saya ragu dia akan bisa melihat kembali.”
“Apakah artinya … dia akan buta permanen?” tanyaku ragu-ragu.
“Itu kemungkinan terburuknya. Tapi saya belum berani mengatakan itu pada Dee. Kondisi psikologis sangat buruk.”
“Tidak adakah donor mata baginya?”
“Saya sedang berusaha mencari pendonor bagi matanya. Sulit sekali menemukan pendonor mata terutama di Indonesia”
“Bisakah dokter melakukan tes pada mataku?” pintaku tanpa ragu. dr. Joe mengangguk tanpa bertanya apapun lagi.
***
Sebelum masuk ruang Hemodialisis, aku berkunjung ke ruangan Dee. Sekedar menyapa dan menghiburnya. Aku rasa dia kesepian tanpa teman di tempat berbau karbol ini. Ya, sama sepertiku. Tanpa ayah dan ibu. Ayah lebih banyak menghabiskan waktunya untuk kerja terutama sejak Ibu meninggal. Katanya rumah selalu mengingatkan pada Ibu. Aku paham dan tidak lagi memintanya untuk pulang. Bahkan ketika keadaanku sedang sekarat, aku tidak pernah mengatakan hal ini pada Ayah. Entahlah, aku menghela nafas sebelum masuk ke ruangannya. Aku masuk tanpa mengetuk.
“Selamat pagi, Dee …” sapaku, ruangan Dee sama seperti ruanganku. Tidak ada yang menunggu disana.
“Ree? Kamu masih disini?” tanyanya heran.
“Iya, hehe. Aku masih harus menginap disini Dee …”
“Kamu sakit apa?” tanyanya antusias.
“Demam Dee … entahlah aku tidak begitu tahu tentang hal-hal medis …” jawabku sambil mengambil kursi dan duduk di samping bangasalnya.
“Semoga cepat sembuh ya … ” ucapnya sambil tersenyum, perban di matanya masih belum dilepas. Ini bagus, dia tidak akan melihatku dalam keadaan yang mengenaskan.
“Kamu sendiri, kenapa terdampar disini?” tanyaku iseng.
“Aku … mataku kena hantaman bola, Ree … Konyol kan?” jawabnya sambil menyeringai.
“Oh, Kok bisa ya … Ga elit banget sih Dee… Haha”
“Begitulah …” Dee hanya tersenyum kemudian terdiam cukup lama setelah itu dia berkata pelan “Aku takut Ree … Takut jika aku tidak dapat menikmati keindahan dunia ini melalui mataku lagi”
Aku tahu kekhawatiran itu Dee, aku tahu ketakutan yang sedang menyelimutimu. Aku yang akan menghilangkan ketakutanmu. Aku janji, Dee …
Aku hanya menepuk bahunya “Tenang saja Dee …” bisikku dalam hati.
***
“Miss, aku akan segera mati kan?” tanyaku di ruangan Hemodialisis. Miss Dinda tidak seperti biasanya. Dia nampak panik.
“Kamu harus tetap optimis” jawab Miss Dinda tanpa menatap wajahku. Sikap Miss Dinda tidak biasa.
Aku menarik lengan Miss Dinda. “Jelaskan padaku yang sebenarnya”
Miss Dinda menghela nafas panjang “Baiklah, Ree … Sebenarnya tubuhmu sudah menolak proses Hemodialisis ini. Keadaanmu akan semakin memburuk.” jawab Miss Dinda, matanya agak berembun.
“Berapa lama lagi aku bisa bertahan?” aku tahu, Izrail pasti sedang mengintaiku sekarang.
“Tidak lama lagi, Ree …” jawab Miss Dinda sambil memelukku yang terbaring di bangsal. Mataku ikut berembun, tiba-tiba dadaku menjadi sesak. Tapi aku tetap tersenyum. Tidak ingin membuat Miss Dinda lebih sedih.
“Aku punya permintaan terakhir, Miss …” ucapku sambil menatapnya. Miss Dinda mengusap pipinya kemudian mendengarkanku dengan seksama.
***
“Terimakasih, Suster …” ucapku setelah dia mengantarku ke kamar Dee. Tenagaku tidak cukup kuat untuk mendorong kursi roda ini. Suster itu tersenyum kemudian pamit meninggalkanku di depan bangsal Dee.
“Selamat pagi, Dee …” sapaku berusaha agar suaraku terdengar ceria. Dee sedang mendengarkan musik di Ipod-nya.
“Ree?” tanyanya seperti tidak yakin.
“Iya, ini aku ..” jawabku agak lemas.
“Kamu tidak seperti biasanya. Masih sakit?”
“Iya … Tapi sebentar lagi juga pulang” jawabku singkat. Mataku mulai memanas. Keadaanku makin memburuk, Dee … batinku.
Dee tersenyum kemudian menyerahkan sebelah earphone-nya kepadaku “Coba dengarkan lagu ini …”
Aku menancapkan earphone itu dan potongan lagu mulai terdengar I wish upon tonight … To see you smile … If only for awhile to know you’re there … A breath away not far … To where you are .
“Wow …” aku agak terkejut kemudian tersenyum manis sambil terus mendengarkan.
“Kenapa?” tanya Dee, padahal suaraku pelan.
“Aku juga suka lagu ini” jawabku dan terus menikmati lagu ini.
Aku menghela nafas kemudian memandang Dee. Hei, Dee .. sekalipun aku dalam kesunyian, aku masih bisa mendengar suaramu. Karena ingin melihatmu setiap hari maka aku bertahan dan terus berjuang. Menikmati tiap detik seperti saat ini sungguh menyenangkan bagiku. Ku rasa, jika Tuhan memintaku kembali pada-Nya maka aku akan pulang dengan tersenyum. Setidaknya aku tidak akan gentayangan seperti arwah-arwah yang mati penasaran. Aku akan pergi dengan tenang jika kamu dalam keadaan baik, Dee.
***
Suster membantuku naik ke bangsal. Dengan susah payah dan tenaga yang ku punya, aku mengangkat tubuhku yang makin kurus dan kering. Sesungguhnya, keadaan seperti ini sangat menyiksa. Tapi aku masih ingin bertahan. Masih ingin melihat senyummu, Dee.
“Bagaimana harimu? Menyenangkan?” Miss Dinda mengembalikanku ke alam sadar.
“Menyenangkan” jawabku singkat sambil tersenyum ke arah Miss Dinda. “Bagaimana?”
“Hasilnya cocok, kamu tidak perlu cemas” jawabnya sambil menggenggam erat tanganku. Karena beberapa hari ini aku tidak bisa bertemu dr. Joe maka Miss Dinda membantuku dengan menemui dr. Joe secara langsung.
“Bisakah kau memelukku, Miss?” aku merasakan kehangatan seorang ibu dalam diri Miss Dinda. Miss Dinda langsung memelukku, dia menangis sesegukkan. “Terimakasih, Miss… Terimakasih” bisikku membuat tangisnya makin menjadi.
***
Dua bulan kemudian …
“Terimakasih, Dokter …” ucap Dee sebelum meninggalkan rumah sakit. Hampir empat bulan dia berada di rumah sakit ini.
“Berterimakasihlah pada Dokter Dinda, dia yang menemukan pendonor untukmu” jawab dr. Joe.
Dee bingung dibuatnya. “Siapa dr. Dinda?”
“Dia adalah dokter penyakit dalam, dia yang lebih tahu tentang pendonor itu” dr. Joe menjawab dengan bijak, walaupun sebenarnya dia tahu tentang pendonor mata Dee.
Dee merasa dia harus tahu tentang pendonor matanya. Walaupun Dee tidak yakin pendonor matanya masih bernafas seperti dirinya. Dee bergegas menemui dr. Dinda, dia ingin tahu tentang pendonor matanya. dr. Dinda ada di ruangannya. Seolah mengerti tanpa banyak bertanya, dr. Dinda menyerahkan secarik kertas dan sebuah buku diary berwarna biru pada Dee.
Jantungnya berdebar kencang, tangannya gemetar. Kertas putih itu dia buka perlahan. Lipatan demi lipatan dia buka. Matanya terpaku pada paragraf pertama dari surat itu …
Hei, Dee … Apa kabar? Senang bisa menyapamu seperti ini. Cinta memang gila ya, atau mungkin aku yang sudah gila? Entahlah bagiku tidak penting. Yang terpenting kamu bisa kembali hidup dan menikmati kehidupan.
Aku bahagia bisa memberikan kehidupan bagi orang yang masih memiliki banyak waktu. Aura kehidupanku makin meredup dari hari ke hari. Aku tahu, karena ada segerombolan orang berbaju putih melambai-lambai ke arahku bahkan mengulurkan tangannya padaku. Waktu hidupku tidak banyak lagi. Terimaksih, Dee … telah hadir di kehidupanku yang singkat. Aku pikir aku akan mati dalam kesunyian dan kegelapan. Tapi berkat kamu, akhir hidupku menjadi indah.
Maaf, Dee … menjadi pendonor matamu secara diam-diam. Bahkan ketika sekarat pun aku ingin memberikan kehidupan bagimu. Hiduplah dengan bahagia, agar aku tidak menyesal mendonorkan mata ini untuk kehidupanmu … Dee, I love you …
Salam,
Ree
Ada rasa sesak dan penyesalan dalam hatinya. Dia terlambat menyadari tentang perasaannya pada Ree. Dee memejamkan matanya yang mulai berair dan menarik nafas dalam-dalam. Sayup-sayup Dee mendengar lantunan lagu milik Josh Groban … That you are mine. Forever love. And you are watching over me from up above ..
Penulis adalah mahasiswa UIN Sunan Gunung Jati, Bandung
gambar diunduh dari lil4ngel5ing_files_wordpress_com1# Manahku Menggema
Dalam riak air danau itu
Dalam harum mekar merah di taman
Dalam hatiku merasa
Dalam sukma kosong yang hampa
Kala meraung menjerit
Tapi kini kau
Memenuhi ether yang ada
Akasa dalam diri
Citta manahku menjejakimu
Menggaung dan menggema
Memukau
Indriaku tersenyum
Mengikat aku untukmu
2# Isakku Menggelut Malam
Daun-daun berguguran
Menemaniku dalam malam-malam yang berlapis
Suara jangkrik mengitariku
Kabut malam selalu menyelimuti bhatinku
Aku seorang diri
Menggigil di balik daun pintu yang melambai-lambai
Ternyata deru hatiku terhanyut
Tanpa menyesatkan diri dipikiranmu
3# Membusuk di Pantai Candidasa
Belaian udaramu, merapikan barisan rambutku yang pirang
Desir ombakmu serasa menghapus luka sukmaku
Mencium bibirmu serasa kau menarik pengkhianatan itu
Bercumbu dalam keindahanmu
Pantai Candidasa..
Ku tulis perih hatiku dalam lembaranmu
Sakit yang menusuk-nusukku
Dengan mematahkan sayap-sayapku
Dan ranting-ranting tubuhku
Aku menjelaskan padamu
Tapi segera kau menghapus lukaku dengan kesucianmu nan jernih
Melenyapkan duka
Pantai Candidasa
Mendesir desir
Getaran tanganmu mengusap tangisanku
Keperihan dan luka bhatinku
Dapatkah aku berjalan?
Di mana jalan terang yang harus ku pijaki?
RetakanKata – Asal usul tradisi batik di wilayah Yogyakarta dimulai sejak kerajaan Mataram Islam pada paruh keempat abad 16 yang pusatnya terletak di seputaran kawasan Kotagede dan Plered namun masih terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita abdi dalem. Pada perkembangannya, tradisi batik meluas ke kalangan kraton lainnya, yakni istri para abdi dalem dan prajurit. Ketika rakyat mengetahui keberadaan kain bercorak indah tersebut, lambat laun mereka menirunya dan tradisi batik pun mulai tersebar di masyarakat.
Proses pembuatan batik yang cukup lama dan memerlukan modal yang tidak sedikit membuat tidak banyak orang yang sanggup menekuni usaha ini. Kebanyakan warga di Yogyakarta memilih sekedar menjadi buruh pembatik. Mereka mengambil kain dari perusahaan batik (juragan batik) dan mengerjakan proses pembatikan di rumah masing-masing. Proses yang mereka kerjakan hanya menyerat (membatik pola dengan malam). Setelah itu mereka jual kain itu ke pengusaha batik dengan harga tergantung kerumitan motif yang dibatik. Pengusaha batik itu yang nantinya akan melanjutkan proses berikutnya, yakni pencelupan hingga menjadi kain batik yang siap pakai. Biaya celup satu lembar kain rata-rata Rp100.000 dan hingga saat ini banyak pengusaha batik yang belum bisa melakukannya sendiri. Mereka harus membawa ke tempat pencelupan batik, sehingga wajar jika harga selembar kain batik rata-rata mencapai ratusan ribu rupiah.
Proses Membatik
Ngecap: Menorehkan lilin cair panas pada selembar kain dengan menggunakan alat stempel yang terbuat dari tembaga yang dicebut cap. Stempel biasanya berpola geometris yang menjadikan pola berulang. Ngerok (mengerok): menghilangkan lilin dari beberapa bagian kain dengan cara dikerik. Nglorot (meluruh): menghilangkan lilin dari kain dengan cara memasukkannya ke dalam air mendidih.
Masa kejayaan batik terjadi pada kurun waktu tahun 1970-an sampai tahun 1990-an ketika mesin printing menggeser keberadaan pembatik tradisional dengan segala kelebihannya sehingga banyak pengusaha batik mengalami kesulitan dalam mempertahankan kelangsungan usahanya. Disisi lain para pengusaha batik berusaha untuk mempertahankan keaslian batik sebagai warisan budaya yang telah dijalani secara turun menurun.
Seiring perkembangan jaman dan perubahan pola hidup masyarakat dalam penggunaan kain tradisional ke kain modern ikut menyebabkan kain batik kurang diminati oleh konsumen khususnya kaum muda. Banyak yang menganggap bahwa kain batik merupakan pakaian bagi kalangan orang dewasa dan dipergunakan pada saat-saat tertentu.
Usaha yang telah dilakukan oleh Pengusaha Batik Plentong untuk mempertahankan eksistensi dalam bisnis batik antara lain dengan mengembangkan produk dari kain yang hanya bisa dipakai untuk jarit dan kemeja menjadi kain yang bisa dibuat untuk jenis pakaian lainnya, membuka show room, mengikuti pameran, baik yang diselenggarakan di dalam maupun luar negeri dan bekerja sama dengan travel biro untuk menarik wisatawan domestik maupun manca negara. Diharapkan dari usaha-usaha ini dapat mempertahankan dan meningkatkan produksi batik.
Pada era tahun 1990-an guna meningkatkan produktifitas, pengusaha batik plentong pernah mendapatkan kesempatan untuk menjalin kerjasama dengan pihak luar menggunakan teklnologi modern (mesin printing). Namun kesempatan ini tidak di terima oleh pihak pengusaha batik plentong karena masih ingin mempertahankan keaslian ciri batik yang sesungguhnya, sehingga proses pembuatan kain batik tetap dilakukan secara tradisional. Dalam usaha mempertahankan produktifitas dan memenuhi permintaan serta mempertahankan keaslian ciri dan corak batik, perusahaan batik plentong mendistribusikan pekerjaan proses awal pembuatan batik kepada ibu-ibu rumah tangga, yang biasanya dianggap sebagai pekerjaan sambilan.
Perusahaan batik di Yogyakarta pada saat ini tidak mengalami perkembangan, hal tersebut didasarkan pada informasi yang kami peroleh dari perusahaan batik plentong. Tidak berkembangnya perusahaan batik tersebut di sebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:
Keterikatan dan keinginan pengusaha batik untuk tetap mempertahankan keaslian ciri dan corak khas batik yang merupakan warisan budaya.
Tidak dapat diterimanya penggunaan teknologi modern dalam proses pembuatan batik.
Proses pembuatan batik yang cukup lama yang berakibat pada biaya pembuatan batik yang tinggi, sehingga harga jual menjadi tinggi.
Pakaian batik hanya dapat digunakan pada kalangan tertentu dan saat-saat tertentu.
Kegiatan pemasaran batik khususnya batik plentong hanya pada pangsa pasar lokal (hanya di yogyakarta).
Kegiatan pemasaran yang berhubungan dengan luar negeri hanya bila ada pesanan dan menjalin kerjasama dengan travel biro yang mendatangkan wisatawan.
Cerpen Erlinda Sukmasari Wasito gambar diunduh dari bp_blogspot.com
…Lima belas menit setelah itu, aku telah berdiri di hadapan Luna. Ia tersenyum dengan cara aneh, memiringkan salah satu sudut bibirnya dan menunjukkan gigi taring sebelah kirinya dengan cara tidak manusiawi…
Kota ini begitu sepi. Kota pesisir yang hampir tak berpenghuni. begitu kira-kira pendapatku pada kesempatan pertama menginjakkan kaki di sini. Istriku dan putraku–Himada–takjub dengan penataan kota yang indah. Selain jalur pedestrian yang terawat dan taman-taman yang menghiasi di setiap sudut, lautnya pun bersih dan pantainya berpasir kemerahan. Cantik, itu ucap istriku ketika turun dari mobil tua kami. Namun entah kenapa kota ini tidak cukup dikenal orang.
Saat atasanku memutuskan membuka cabang baru perusahaan kami di kota ini, aku tidak pernah mendengar namanya sebelumnya. Jadi, aku mencoba mencari informasi sebanyak-banyaknya. Aku ingin tahu fasilitas pendidikan dan kesehatan yang tersedia. Sebab, aku berencana membawa serta keluarga kecilku pindah ke kota ini. Sayangnya, tidak ada orang yang pernah mendengar nama kota ini. Bahkan, aku tak menemukan jejak dari kehadiran kota ini di internet atau surat kabar. Istriku sudah berpikir yang bukan-bukan, “Jangan-jangan atasanmu membuangmu ke tempat terpencil karena kinerjamu menurun sejak anak kita lahir.”
Aku memahami benar kekalutan istriku. Putra kami terlahir dengan keistimewaan. Ya, bagiku, ia adalah pangeran kecilku yang istimewa. Meski ia tidak dapat mencerna kata-kataku atau memahmi perhatian istriku. Layaknya memiliki dunia sendiri, ia sibuk dengan kesendiriannya. Sering kucoba mengajaknya berinteraksi. Kubelikan ia mainan-mainan yang merangsang kemampuan kognitif dan gerak motoriknya. Kuberi ia makanan bergizi yang menunjang tumbuh kembangnya. Apa mau dikata, ia tetap dalam diam.
Kemampuanya terbilang lambat. Ia baru bisa berjalan di usia tiga tahun. Pada ulang tahunnya yang kelima ia baru bisa mengucapkan “mama” dan “papa”. Usia tujuh tahun adalah salah satu masa keemasannya ketika ia berhasil menendang bola karet kesayangannya ke dalam gawang yang kubuat di belakang rumah lama kami. Ia banyak berkembang. Jangan harap ia berkembang seperti anak-anak seusianya yang seharusnya telah duduk di bangku sekolah dasar. Ia mulai belajar memegang sendok, minum susu dari gelas–biasanya pakai botol–menggunakan toilet, dan menatap mataku. Meski tatapannya kosong dan hanya sekian detik. Aku sungguh bahagia.
Istriku telah mencari informasi harga rumah kecil yang murah dan bisa dikredit. Pada penantian panjang dan harapannya yang hampir pupus, ia menemukan sebuah keluarga yang membutuhkan uang dengan segera. Akhirnya kami memiliki rumah sederhana yang sesuai dengan kocek kami. Rumah itu menghadap ke laut–sesuai keinginan istriku–dan halamannya sangat luas. Di sana aku telah berencana membuatkan arena bermain demi putraku. Himada menunjukkan kesenangannya. Ia tersenyum lalu duduk tenang di halaman rumah baru kami. Biasanya, ia tak suka duduk di atas rumput. Ia takut melihat cacing.
Atasanku memberikan keleluasaan padaku untuk mengelola cabang baru perusahaan. Ia menyerahkan semuanya padaku. Aku hanya perlu melapor setiap enam bulan sekali. Tentu ini menyenangkan. Sebab aku ingin punya lebih banyak waktu bersama Himada. Ia membutuhkanku. Lagi pula, aku tak tega melihat istriku merasa kesepian. Tetangga terdekat kami letaknya dua ratus meter dari sini. Benar-benar sepi. Namun kami nyaman dan berharap betah tinggal.
Suatu hari, aku berkenalan dengan seorang montir yang bekerja di bengkel yang memang cuma satu-satunya di kota ini. Montir itu–Hendrik–orang yang serius dan pecinta kopi. Tiap aku bertemu dengannya ketika malam, ia tengah duduk di beranda bersama segelas besar kopi. Seakan, jika aku berbincang dengannya, aroma kopi akan menguar kental dari mulutnya. Kumisnya lebat dan matanya sayu. Tipikal pekerja keras sekaligus penyayang keluarga. Tak pernah kulihat ia selain di bengkel atau di rumahnya.
“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Hendrik suatu kali. “Banyak hal yang masih harus kukerjakan. Kantor cabang ini belumlah punya nama di sini. Namun aku masih punya banyak waktu. Atasanku tidak meminta hasil dengan waktu singkat. Ia tahu aku tengah memperjuangkannya.”
“Apa sih jenis perusahaanmu?”
“Perusahaan yang bergelut di bidang definisi mimpi. Kami akan melihat dan memeriksa mimpi-mimpi di kepala klien. Lalu kami tafsirkan dan kami bantu wujudkan. Sebetulnya kami hanya perantara untuk memuluskan harapan orang-orang terhadap masa depannya. Kami menangkap mimpi-mimpi klien kemudian kami bangun stukturnya agar terwujud. Butuh tenaga ahli dalam bisnis ini.”
“Jadi kau tenaga ahlinya?”
“Ya, Hendrik. Aku telah terbiasa menemukan mimpi-mimpi yang absurd dan mustahil menjadi nyata tapi aku bisa membuktikannya.”
“Pernahkah kau menggunakan kemampuanmu untuk dirimu sendiri? Tidak pernahkah kau memimpikan putramu terlahir normal?”
Aku membetulkan dasiku yang baik-baik saja. Namun semacam rasa gatal mengusik tenggorokanku. Kata-kata Hendrik cukup menusuk hati. Kukatakan pendapatku dengan hati-hati, “Himada, dia itu berbeda. Atas kuasa Tuhan-lah hingga aku memilikinya. Tidak semua orangtua mendapat kesempatan membesarkan seorang anak berkebutuhan khusus. Dan, aku tak tertarik mengubah takdirku. Himada telah ada, bukan rencanaku dari masa lalu untuk masa depanku. Meskipun seandainya aku bisa membetulkan kesalahan dalam otaknya ketika lahir sehingga bisa tumbuh normal, aku memilih mencintai Himada yang ini, Himada putraku yang spesial.”
Hendrik mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia tak meributkannya lagi. Ia lalu berganti topik pembicaraan dan berkeluh kesah tentang anak gadisnya. “Luna tumbuh menjadi gadis penyendiri. Padahal, ketika kanak-kanak, ia sangat ceria dan memiliki banyak kawan. Sejak kematian sahabat karibnya, ia berubah menjadi pemurung. Ia tak lagi mau bercerita kepadaku atau istriku. Ia mengacuhkan kami. Ia seperti tak mau diganggu.”
“Bisakah kemampuanku menolongnya, Hendrik?”
“Apa kau mau melawan alam? Kau mau menolak Tuhan? Impiannya adalah bertemu kembali dengan sahabatnya. Bagaimana mungkin kau hidupkan yang telah habis masanya?”
“Aku ingin membantunya menerima realita, Hendrik.”
“Realita? Kau pikir Luna sudah gila?”
“Tidak, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin menolongnya untuk melupakan kesedihannya akan kematian sahabatnya.”
Namun dalam hati, aku penuh tanya. Separah itukah Luna merasa kehilangan sahabatnya hingga ia berubah? Bukankah meski kita kehilangan seseorang yang berharga bagi kita, kita harus tetap menjalani hidup? Hendrik terlihat sedih dan putus asa. Mata sayunya terlihat makin menyedihkan. “Lakukan apa yang kau bisa lakukan. Aku cukup menunggu. Aku tak pernah tahu kapan suatu saat nanti Luna keluar dari rumah dan tersenyum pada orang lain. Sudah terlalu lama ia menangisi sahabatnya itu.”
Malam itu, kuputuskan membawa serta istriku dan Himada. Kami akan datang ke jamuan makan malam Hendrik. Kuceritakan keinginanku menolong putri Hendrik, Luna. Istriku merespon dengan baik. “Silakan, gunakan kemampuanmu menolong orang lain. Aku selalu di sampingmu,” ujarnya. Kalimatnya melegakan hatiku.
Makan malam berlangsung dengan tenang. Himada tampak menikmati suapan demi suapan masakan istri Hendrik. Nyonya Hendrik memang jago masak. Dulu, ketika masih muda, ia seorang koki di sebuah restoran terkenal di ibu kota. Ia tahu Himada alergi dengan beberapa jenis bahan pangan. Dengan baik hati ia menyiapkan menu khusus yang bisa dinikmati semua orang termasuk Himada. Istriku berbisik, ia harus mempelajari resep-resep itu agar Himada dapat menikmati waktu makannya. Himada memang jarang menyukai jam makan. Sebagian besar makanan yang ia lahap ia muntahkan. Malam ini, semua suapan makanan tertelan sempurna.
Luna duduk di ujung meja makan. Tatapannya lurus ke piring bulat berisi sepotong roti. Ia menolak makan nasi dan sup. Bahkan lauknya tak ia sentuh. Hendrik bilang, Luna tidak alergi. Ia memang membenci berbagai jenis makanan. Sepanjang usianya, ia lebih sering mengonsumsi roti. Luna bersikap seakan aku dan istriku tak ada. Ia tidak menyapa kami. Namun, sesekali, pandangannya tertuju pada Himada. Sementara Himada asyik melahap suapan terakhir supnya. Himada tidak mempedulikan semua orang.
Rencananya, aku akan mengajak bicara Luna seusai jamuan makan malam. Aku mengatakan pada Hendrik hal itu. Ia setuju-setuju saja. Aku mendekati Luna. Kuperhatikan ia menyingkir dari semua orang. Ia menuju teras depan. Aku mengikutinya. Ketika ia duduk, aku keluar dan duduk di sampingnya. Ia agak terkejut tapi terlihat berusaha bersikap biasa. Belum sempat aku mulai bicara, istriku panik. Himada terjatuh di dapur Hendrik. Ia kejang-kejang. Darahnya berceceran dari kepala. Kulitnya sedikit tersingkap. Kulit Himada terkelupas! Ia membentur ujung lemari pendek! Istriku menangis histeris. Teriakanku tak kalah histeris. Kami membawa Himada ke rumah sakit.
Dini hari, pukul satu pagi. Dokter telah menangani Himada dengan baik. Istriku masih terjaga di samping Himada di rumah sakit. Aku akan pulang dulu, mengambil uang dan barang-barang. Himada harus dirawat inap hingga luka di kepalanya pulih. Sebetulnya aku cemas meninggalkannya. Tapi aku percaya ia di bawah pengawasan dokter dan istriku.
Aku menyetir mobil tuaku pelan-pelan. Rumah sakit ini kebetulan dekat dengan rumah Hendrik. Beruntung, kami bisa membawa Himada secepatnya. Dokter bilang hampir saja Himada tak punya kesempatan. Aku berlega hati. Ketika mobilku melewati rumah Hendrik–aku terbiasa menyetir dengan jendela mobil terbuka lebar–kudengar suara lengkingan. Deg! Jatungku terpaku mendengarnya. Detaknya seakan berhenti mendadak. Kepalaku menoleh. Namun rumah Hendrik gelap. Aku takut bila itu sekedar halusinasiku. Tapi?
Aku menyetir secepat yang kubisa. Segera kudatangi kantor polisi dan kulaporkan jeritan itu. Polisi itu ikut cemas melihatku sangat ketakutan. Lima belas menit setelah itu, aku telah berdiri di hadapan Luna. Ia tersenyum dengan cara aneh, memiringkan salah satu sudut bibirnya dan menunjukkan gigi taring sebelah kirinya dengan cara tidak manusiawi. Ia tanya kenapa aku datang bersama polisi dan bagaimana keadaan Himada. Kuceritakan bahwa Himada baik-baik saja dan kutanya mana orangtuanya.
Ia mempersilakan aku dan dua orang polisi itu masuk. Ia bilang, Hendrik buru-buru pergi mengantar istrinya ke kota tetangga karena keluarga mereka di sana meninggal. Ia juga bilang, ia disuruh menjaga rumah. “Mungkin suara yang kau dengar tadi adalah jeritan ibuku menerima telpon karena anggota keluarga kami meninggal,” ujarnya padaku. Jelas sekali terlihat bahwa aku tak dapat mempercayai ekspresinya. Kedua polisi itupun merasakan hal yang sama. Kemudian ia mengizinkan kami memeriksa seluruh sudut rumah. Memang benar, semua terlihat normal.
Ia menarik kursi dan memintaku beserta kedua polisi itu duduk di ruang tengah. Posisinya duduk agak di dekatku. Ia bercerita panjang lebar sambil menangis sesenggukan menceritakan kematian anggota keluarganya. Aku mulai percaya. Sepertinya, salahku telah berpikiran negatif. Kedua polisi itu menyatakan duka citanya. Ia mengangguk sembari menghapus air matanya. Ketika kami bangkit dan pamit, ia tiba-tiba diam. Sikapnya aneh. Matanya memancarkan kengerian. Nafasnya tertahan. Kedua alisnya bertaut, antara bingung bercampur khawatir. Udara malam serasa berhenti. Aku mencium ketidakberesan. Ia mulai tertawa terbahak dan memukul lenganku. Kedua polisi itu saling pandang penuh tanya.
“Ada apa, Luna? Apa yang lucu?” tanyaku hati-hati. “Di sini! Di sini! Di sini! Bongkar lantai kayu ini! Aku tidak tahan lagi! Suara itu, caci maki yang keluar dari mulutnya! Aku tak tahaaaaaaan!” Perempuan muda itu hampir merobek ujung gaun putih pucatnya. Ia mencengkeram ujung gaunnya sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku-kuku panjangnya menggores telapak tangannya. Matanya melotot menyeramkan. Sudut-sudut bibirnya tegang. Wajahnya seperti terbuat dari kayu. Bola mata itu lalu menelanjangiku, memandangku dengan penuh kebencian seakan ingin menarik jiwaku keluar. Aku menelan ludah tapi mulutku tetap terasa kering. Jantungku tak bisa kukendalikan degupnya.
Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 7 Dengan lancar Tigor memberikan pengantar diskusi mereka di ruang meditasi, markas besar FDP. Tanggapan-tanggapan gencar diutarakan oleh peserta diskusi. Sebenarnya sebuah pertemuan ilmiah tidak resmi sedang berlangsung dengan hangat. Bahkan, Ucok, anak sastra Zatingon, berani mengklaim bahwa forum mereka jauh lebih bermutu daripada rancangan para petinggi perguruan tinggi. Segala landasan teori yang selalu dimamah biak peserta diskusi tertumpah pada acara forum perdana tahun 1981. Sehingga, Armand anak fakultas sosial politik Rilmafrid yang bertugas menjadi notulen gelagapan menjalankan tugasnya. Sementara Tigor lunglai segera membaringkan tubuh sehabis diskusi. Di hirupnya rokok gudang garam kretek sekuat tenaga. “Aku takut, kalau kita terlalu intens berdiskusi, maka kemampuan kita berintegrasi di tengah-tengah rakyat miskin akan terganggu. Kita tak tahu lagi bahasa rakyat, karena sudah terlalu banyak istilah ilmiah di kepala kita,” Tigor mengoceh. Dia sudah tak perduli entah siapa yang mendengar ucapannya. Dan, dalam kesunyian, suara Armand bernyanyi:…Lelah …lelah hati ini…menggapai hatimu… Mungkin maksudnya menyindir si Tigor yang sudah tak kuasa lagi berpikir. Mereka berdua memang selalu saling sindir menyindir tanpa rasa dendam. Hubungan interpersonal antar Armand dan Tigor dapat juga dikatakan pencipta suasana segar di FDP.
“Untunglah ada Arman dan Tigor sehingga stres saya bisa hilang.” Muslimin anak fakultas pertanian Rilmafrid tersenyum lega. Ucok juga merasa hal yang sama dengan Muslimin. Ucok memang agak temperamental, dia selalu khawatir kalau saja Tigor dan Arman berkelahi gara-gara beda pendapat yang runcing. Tapi, selama 2 tahun perjalanan mereka, belum pernah terjadi kekhawatiran Ucok. Semuanya berjalan lancar dan menyegarkan. Semuanya berdampak positif untuk perkembangan FDP. Apalagi kadang-kadang Susanti datang bersama kawannya Ayong mewarnai forum mereka yang sangat minim perempuan.
Sekitar 3 bulan berpisah dengan DR Tumpak Parningotan, siang itu suratnya datang ke markas besar FDP. Kebetulan Ningsih dan pacarnya Dedi Kantingan sedang berada di tempat. Segera dibaca mereka surat tersebut.
Kepriano, 23 Febuari 1981
Kepada Yth : Teman – Teman
di
Ruang Meditasi
Salam Pembebasan,
Terus terang saya sangat terkesan berjumpa dengan teman-teman di Rilmafrid. Saya merasa komitmen yang teman-teman miliki sudah sangat kuat. Sudah siap tempur untuk melawan kezaliman penguasa negara kita, Trieste. Sedangkan saya di Kepriano belum pernah bertemu dengan kawan-kawan yang punya perhatian besar terhadap gagasan perubahan sosial. Mereka terlarut oleh watak komsumtif yang dikampanyekan oleh penguasa negeri ini. Itu makanya (sebenarnya) saya iri hati melihat solidnya kawan-kawan yang tergabung dalam FDP. Sementara saya sudah hampir patah arang.
Dua minggu yang lalu, kebetulan di gereja datang tamu dari lembaga dana meninjau program-program gereja kami yang mereka dukung. Salah seorang tamu itu adalah warga negara Taiwan yang bekerja di lembaga dana Sabidaor Fundation. Sebuah lembaga dana yang bersedia memberi dukungan untuk gerakan bawah tanah. Saya tak mengerti kenapa dia bisa ikut hadir dalam kunjungan Ichbenlip Foundation Belanda. Lembaga dana yang siap sedia mendukung program dengan visi transformatif.
Malamnya tanpa diketahui oleh pihak lain, Mukutara (orang Jepang yang jadi warga negara Taiwan) datang berkunjung ke rumah saya.
Dikatakannya Sabidaor Foundation secara rahasia sedang mencari kontaknya di Trieste.
Agar ada jaringan kerjanya di negara kita. Sabidaor sama sekali tidak tertarik membangun jaringan dengan lembaga-lembaga formal. Justru watak organisasi seperti FDP-lah yang menjadi pusat perhatiannya. Dan, saya sudah mempromosikan FDP sekaligus berikan alamat FDP kepada Mukurata.
Mungkin, pertengahan Maret mendatang, Mukurata akan berkunjung ke FDP. Kiranya kerja sama FDP dan Sabidaor terjalin dengan baik
Selamat bekerja dan sukse selalu
Salam dari keluarga saya untuk seluruh warga FDP
jabat erat
tumpak parningotan
“Tak ditulis gelar kesarjanaannya. Namanya pun seluruhnya pakai huruf kecil,” kata Ningsih sehabis membaca.
“Yah,…mungkin itu simbol kesederhanaan jiwanya.” Kantingan memberi respon simpatik kepada pacarnya Ningsih.
Sore hari sudah semua anggota FDP bergembira hati membaca surat tersebut. Surat Tumpak Parningotan membuat FDP merancang acara apa yang patut disajikan apabila Mukurata datang berkunjung. Kedatangan tamu asing seperti ini adalah pengalaman perdana FDP. FDP sama sekali tidak pernah menjalin kontak dengan lembaga dana. Walaupun DR Pardomuan secara pribadi sering juga dikunjungi oleh kawan-kawannya semasa kuliah di Uni Sovyet.
“Mudah-mudahan Mukurata dapat menuntun kita memformulasikan program FDP lebih permanen lagi,” Ucok berharap.
“Yah,..kita harus lebih profesionil lagi bekerja di tengah-tengah rakyat,” Arman menimpali. Surat yang dikirim pakai kilat khusus tiba di tangan FDP tanggal 25 Febuari. Berarti kita masih punya waktu 2 minggu lagi untuk memikirkan acara-acara untuk menyambut Mukurata.
“Hanonton ringgit menangis asekel muda hidepan, huwus wruh tuwin, jan
walulang inukir molah angucap” (Lukman Pasha)
Makna dari kalimat di atas adalah bahwa ada orang melihat wayang menangis, kagum serta sedih hatinya. Walaupun sudah mengerti bahwa yang dilihat itu hanya kulit yang dipahat berbentuk orang dapat bergerak dan berbicara.
Begitu membaca buku Tasawuf Pandawa (Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) sekan-akan kita diajak menelusuri pemikiran penulis, kemudian berdialog dan selanjutnya seakan-akan kita menjadi sutradara dadakan yang mempunyai peran terbesar atas alur sebuah peristiwa. Pembaca diberi kebebasan dalam mengembangkan pemahamannya akan isi buku ini, pembaca menjadi dalang sekaligus lakonnya.
Muhammad Zaairul Haq menyadari bahwa wayang merupakan hasil kebudayaan yang sarat akan nilai kehidupan sehari-hari. Lima belas tahun yang lalu kita masih bisa melihat pertunjukan wayang di desa-desa dengan penuh hikmat. Pertunjukan wayang ini selain sebagai penghibur juga berperan besar dalam penyebaran Ad-dienul Islam. Namun, kini kesenian wayang sudah kehilangan gaungnya, ia hanya sebatas cerita turun temurun secara lisan yang diturunkan oleh pendahulu-pendahulu kita, dan kenyataannya kini kian lama kian terkikis. Bahkan wayang kembali menjadi perbincangan elit segelintir orang saja. Melihat kondisi seperti ini rupannya penulis dengan penuh kesadaran ingin menghadirkan kembali nilai-nilai yang terdapat di dalam jagad pakeliran. Sebagaimana diungkapkan di dalam bukunya “Wayang sebagai kesenian sudah habis, tetapi sebagai budaya ia masih hidup dalam diri kita”, nilai-nilai yang terdapat di dalamnya memang tidak pernah akan hilang.
Di dalam buku ini diceritakan terjadinya perang Bharatayuddha, yang mengisahkan terjadinya perang besar antara keluarga Pandawa melawan Korawa. Perang besar antara tokoh protagonis dan antagonis, satu peperangan yang membuka hijab kegelapan dan kejahatan, satu peperangan yang mengisahkan arti penting dari kemuliaan dan kebenaran. Peperangan besar yang memiliki makna simbolik bahwa kebenaran pasti akan menang dan kejahatan bagaimanapun besar dan dahsyatnya pasti akan terkalahkan.
Di sisi lain perang saudara ini bisa menjadi cermin dari setiap insan sepenuhnya bahwa kecenderungan setiap manusia adalah menyukai harta benda serta kekayaan. Kecenderungan setiap manusia adalah marah serta tidak ikhlas ketika harta benda mereka diusik sedemikian rupa apalagi dijajah atau diambil secara paksa.
Disebutkan oleh Muhammad Zaairul Haq, sang penulis buku ini, bahwa Korawa selalu hidup dalam dunia kegelapan, bermegah-megahan serta tak pernah memikirkan kebutuhan rohaninya. Hal ini tampaknya dipengaruhi oleh pendidikan yang diajarkan kepada Korawa, yaitu pendidikan kegelapan. Ini simbol dari kebutaan yang dialami oleh sang ayah serta tabiat sang ibu yang ikut-ikutan membutakan kedua matanya dengan kain. Kebutaaan ini secara simbolik memiliki arti bahwa kegelapan selalu menyertai putra-putra mereka. Keberpalingan Gendari dari mensyukuri nikmat Tuhan berupa penglihatan dapat diartikan sebagai keberpalingan Korawa, dan Korawa memilih menjadi pengikut kegelapan.
Pesan lain yang dimunculkan dalam buku ini adalah tentang kekalnya suatu kaum karena perbuatan mereka sendiri. Sebagaimana tersebut “sesungguhnya kekalnya suatu bangsa adalah selama akhlaknya kekal (mereka masih memiliki akhlak yang baik) tetapi jika akhlaknya sudah lenyap, musnah pulalah bangsa itu”. Tidak dapat dipungkiri jika akhirnya Korawa hilang dari peradaban oleh tingkah mereka sendiri, dan akhirnya Pandawa-lah yang menjadi pemenangnya.
Ketika pernyataan di atas kita sinkronkan dengan pilar-pilar yang ada dalam rumah tangga islam, “buniyal islamu ‘ala khomsin”. Lima pilar utama yang akan menjadikan umat islam kokoh, rukun islam menjadi pondasi kita dalam beragama islam. Rupanya hal inilah yang ingin dicerminkan oleh keluarga pandawa yang senantiasa memenuhi kebutuhan jasmani serta rohaninya.
Puntadewa sebagai simbol seorang yang sabar dan mampu mengayomi saudara-saudaranya. Puntadewa memiliki sebuat jimat bernama jamus kalimasada, jimat ini bermakna syahadatain. Di mana syahadatain di sini merupakan pondasi awal bagi seorang ketika dirinya telah percaya sepenuhnya terhadap keberadaan Allah Swt. Dengan kata lain, seseorang tidak akan bisa mencapai kesempurnaan bangunan islam dan iman sebelum ia bersyahadat.
Kehidupan spiritual selalu identik dengan olah-batin, hal ini menjadi sarana untuk mendapatkan kesempurnaan hidup. Yang padanya dicari suasana yang sejiwa dan sesuai dengan prinsip-prinsip hidup, sehingga batin menjadi siap ditanami dengan berbagai ilmu kerohanian. Dalam konteks keislaman, muka Bima (Werkudara) seperti orang menunduk dan belakangnya yang tiinggi digambarkan seperti orang sedang sholat. Dia tidak melayani orang lain jika pekerjaannya sendiri belum selesai. Isyarat bahwa sholat tidak boleh dibatalkan.
Titisan Bathara Indra yang memiliki sifat sebagai seorang yang tekun dan khusyuk dalam bertapa, pancaran mukanya cerah seperti matahari, menjadikan dirinya seorang kesatria yang terkemuka. Di sisi lain Arjuna juga sosok yang mampu khusyuk dalam bertapa dan tabah dalam menghadapi godaan. Dalam konteks keislaman sosok Arjuna dicirikan dengan orang yang selalu berpuasa, menahan diri dari godaan-godaan duniawi.
Nakula sebagai seorang yang tak pernah lupa terhadap segala hal yang dialaminya. Begitulah gambaran seorang yang selalu mensucikan diri akan keberadaan hartanya. Dalam keluarga Pandawa ia layaknya dewa pengobat, senang mengeluarkan zakat. Titisan dari Bathara Aswin ini identik dengan manusia tipe “zakat” arti bakunya yakni orang yang suka beramal atau shodaqoh kepada fakir-miskin.
Kembaran dari Nakula, yaitu Sadewa tercitra sebagai seorang yang tampan, cerdas, rajin, serta patuh dan berbudi bawaleksana. Sadewa menjadi seorang yang ahli peternakan, Sadewa tumbuh menjadi manusia yang “sebenarnya” kaya raya. Digambarkan sebagai sosok manusia yang mampu (secara materi) melakukan ibadah haji dikarenakan hartanya yang cukup, kaya dan terpenuhi sandang pangan serta dermawan.
Secara keseluruhan cerita wayang sebenarnya mendidik, tetapi orientasi pendidikan itu berupa penyajian kejadian yang artinya dapat dirasakan dan ditafsirkan oleh penontonnya menurut kemampuannya masing-masing dan kapasitasnya masing-masing. Pesan yang disampaikan melalui sajian peristiwa ini menggambarkan bagaimana perjalanan seorang manusia menjadi insan kamil, yang dimulai dengan muhasabah al-nafs, kemudian al-iffah dan yang terakhir adalah tazkiyatun nafs.
Judul buku : Tasawuf Pandawa
(Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa)
Penulis : Muhammad Zaairul Haq
Penerbit : Pustaka Pelajar
Harga : Rp. 50.000
Tahun : 2010
Tebal : 399 halaman
ISBN : 978-602-8479-91-2
*) Peresensi adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta Program Studi Pendidikan Biologi Semester IV
Saartjie Baartman lahir pada tahun 1789 di tepi sungai Gamtoos
Pada jaman kekuasaan laut sedang pasang naik, awalnya dijadikan
budak di pertenakan orang Belanda, kemudian karena bentuk alat kelamin,
lalu dibawa ke sirkus di Paris dan dilatih oleh pelatih binatang
bersama hewan-hewan lain. Setelah meninggal, tulang-belulang
dan sebagian organ direndam formalin dan dipamerkan sebagai makhluk
aneh oleh peradaban Barat lebih dari seratus tahun, hingga 2002
arwahnya baru dikembalikan ke kampung halaman. Pemimpin suku Khoisan
meletakkan di atas kerandanya sebuah busur, dan sebatang anak panah
patah, dan renungan ‘ perdamaian ‘ dan ‘ hak asasi manusia ‘ masih terus
berlanjut……
Bersama roh. Akhirnya kau kembali ke dalam nyanyian
bahasa ibu di tepi sungai Gamtoos, dengar
sepuluh ribu tebing terjal mengitari lembah sungai
dengung pemburu menguak hutan di kaki gunung
inilah maklumat puakmu peroleh dari dalam nafas,
nyanyian suci pada cahaya. Milik Afrika, milik macan tutul
Macan tutul juga mewakili satu nyanyian pulang
di sisi lain padang rumput, sebab berpisah maka luas
Sebab cinta, kemarin dan hari ini baru bermakna
Bibir dan bibir baru dapat mengucap nama bersuhu hangat
menyanyikan lagu tua tapi iramanya berjalan seiring kita.
Kau lihat, pohon ek tua dari masa kanak-kanak
baru selesai membangun sebuah sarang
Apakah bulat telur wajahmu sudah menemukan tempat
berehat di sana. Aku melihat, sinar matahari mengeram
keluar sayap lebih besar dari cahaya, lembut
berpijar, bukan lagi patung gipsum hitam
bukan lagi malam tak bertepi sebagai material
waktu mengumpal jadi Venus Hitam
Oleh sebab itu, mata dikembalikan kepadamu
agar kau melihat tanah air sendiri
Andaikan pohon ek harus diproses jadi gabus
juga dapat mengikuti berbagai anggur dan bau tubuh
bukan menyumbat jiwamu, telingamu.
Oleh sebab itu, telinga dikembalikan kepadamu
agar kau mendengar nyanyian tua
puakmu akan menginjak keluar irama
menginjak keluar bayang dan warna kulit sendiri
warna kulit dikembalikan kepadamu
agar kau sungguh menikmati cinta, bebas dan setara
Rasa dan jiwa, seluruhnya dikembalikan kepadamu
Akhirnya pulang, sudah seratus tahun lebih
setiap ruas tulang setiap malam mengetuk rasi bintang
sekalipun tidak bisa memecahkan kaca dingin Museum Nasional
Perancis, setidaknya diketuk jadi sederet peta laut HAM
dan kerangka tulangmu sebagai kompas, sebagai titik koordinat
di jaman kekuasaan laut sedang pasang
di jaman ikan terbang dan burung laut juga bisa menyalahkan penyair
Romantisme adalah ombak menggulung di angkasa
dan kampungmu, di angkasa seperti ada seekor macan tutul
sangat tenang, berbaring melihat keyakinan disalin ulang awan hitam
dan organmu, bersembunyi di dalam formalin yang lebih kelam dari hutan
Dari selembar kertas kebohongan
memulai perjalanan pergi, dan semua kebohongan telah dijual-beli
adalah sebuah kisah yang sudah ditenggelamkan jangkar
bagasi hanya berisi sakit, satu-satunya teman adalah tangan menggenggam
tajam bulan sabit. Sangat pasti, Dia menggunakan bahasa paling lurus
agar kau mendengar maut, bahkan sebagai teman karib satu perahu
Tapi itu bukan kebenaran.
Akhirnya kau pulang, bersama puakmu berterima kasih kepada hewan
mempersembahkan tubuh mereka sebagai makanan,
dua tangan menyentuh dada lalu istirahat,
tidak perlu tegak menjadi dinding lembah
tiada formalin yang mesti bertanggung jawab
kepada politik, akhirnya kau juga bisa membuka tabir seluruh malam
bagai lengkung tali busur
pada bintang sirius melintas di atas padang rumput
memburu seekor mimpi kehilangan tanduk
Terhadap masa lalu, dunia seolah-olah tidak bisa melihat atau mendengar
tulang belulang waktu, hanya mungkin di tengah jalan cerita memilih lupa
Lupa terhadap hewan istimewa yang dijinakkan di sirkus tahun itu
Sudah lebih dari seratus tahun, ada orang menerka
dia adalah herbivora. Aku berkata bukan
Kalau tidak, peradaban bagaimana bisa begini melukai orang
Olokan dan sindiran mereka waktu itu berasal dari dagingmu
Penjelajah tidak tahu, belahan selatan dan belahan utara memiliki tangkai
yang sama, menunggu hadirnya milenium yang sama
Atau menunggu fajar menyingsing yang sama?
Waktu memanjangkan lehernya, jatuh ke bumi adalah batok kepala
adalah cinta, dan juga sering dimaafkan
seperti perdamaian yang sering kita kulum di mulut
Tidak boleh disangkal simbol luka sepanjang hayatmu terlalu berat
Saatrjie Baartman, sekali lagi menyebut namamu
seluruh suku kata telah menggilukan gigi berlobang
pasti bukan karena manis, mungkin selepas membaca doa lupa berkumur
Benar. Kita masih belum kembali ke dalam cahaya
sebuah busur, sebatang anak panah patah
apakah dunia sejak ini akan gila kehidupan, gila perdamaian?
Ranting mencakar ke segala arah
ketika sinar matahari pertama pelan-pelan melebarkan
sayap, pelan-pelan bernafas di bawah pohon esok
Apakah kita juga menemukan arti bernafas?
Hari ini kabut menyelubung
hawa kelam seperti penunggang abad pertengahan
dari dalam hutan menghunus keluar sebumi daun gugur
dia bersiul bunga mawar, ke arah menanjak bersujud
agar aku mengajukan seorang gadis
suci dan akrab, lalu diberi nama Cahaya
parasnya persis seperti gadis yang suka bertanya di dalam kelas
juga bisa seperti seorang penari
di ujung kaki menemukan janji danau kepada angsa putih
atau, seperti selembar kertas warna berulang kali salah dilipat
atau lebih mirip sebuah akordion di tangan seniman jalanan
berubah jadi irama di dalam cahaya, mengitarinya
~patah~
memoriku tentangmu adalah sesuatu yang tak terjangkau,
harapanku padamu adalah jalan pulang orang tak dikenal,
cintaku padamu adalah lorong gelap tanpa ujung.
~tegar~
engkau mengajariku menatap karang di hempasan ombak,
kikisan batu yang berjubah riak gelombang menyebar keindahan,
aku malu padamu
sebab aku hanya ingin menjadi setetes air mencari jalan pulang,
ke rahim samudera.
~doa sebatang rumput~
Aku rindu hujan yang asin,
serindu tanah pada kekasih.
Lalu aku akan mengapung,
dan engkau menenggelamkanku.
~menutup malam~
seperti biasa, lembar demi lembar catatan harian usai,
selalu saja ada kalimat ‘semoga kaumimpi indah’ di akhir paragraf,
dan aku lupa mengganti pintu yang kaulewati,
ketika aku berdoa agar engkau lekas kembali.
Resensi Ragil Koentjorodjati Dari perempuan untuk perempuan, itu yang awal terlintas di benak saya ketika membaca kumpulan cerita pendek “Perempuan di Tengah Badai” karya Kit Rose menyusul buku pertamanya “Melukis Langit”. Kemudian buku itu saya buka lembar demi lembar, saya baca dan nikmati, tanpa terburu-buru. Ada warna hitam mendominasi di sampul buku, separuh langit di sampul belakang menjadi seperti penuh warna mendung, setangkai mawar hitam menggantung di sudut atas kiri. Kemudian ada foto wajah, setengahnya tertutup gelap.
Di sampul belakang tertulis: “Mahligai rumah tangga dengan landasan cinta yang tulus dan suci, seringkali dijadikan perhentian terakhir setiap perempuan. Itulah yang membuat perempuan sering terjebak pada perasaan dan nalar manusia dalam memegang sucinya cinta, yang tanpa syarat dan tidak menyakiti.”
Sejenak saya tertegun. Ada harapan perempuan tersirat di sana. Harapan akan sebuah keluarga yang nyaman, damai penuh cinta dan bahagia. Harapan sederhana hampir kesemua wanita. Sederhana dan tidak mudah. Sebab harapan itu juga harapan akan adanya pasangan hidup yang baik, lelaki yang memahami dan bersedia bekerja sama mewujudkan mimpi-mimpi mahligai rumah tangga. Dan pada akhirnya, harapan itu menjadi harapan bersama –lelaki dan perempuan-.
Jadi, ternyata buku ini tidak hanya “dari perempuan untuk perempuan” sebagaimana awal terlintas di benak saya. Buku kumpulan cerpen ini juga untuk lelaki, lelaki yang mau memahami harapan perempuan, lelaki yang bersedia mendengarkan keluh kesah dan tentu saja ratapan yang tersembunyi di kegelapan malam. Di sinilah buku ini menjadi sangat berharga, menyampaikan hal-hal tersembunyi, hal-hal yang tidak terungkapkan dari perempuan yang menyelami kehidupan berumah tangga tanpa abai pada lingkungan sosialnya.
Buku kumpulan cerpen ini dibagi menjadi tiga bagian, Meletakkan Cinta dan Prahara pada Tempatnya; Meraih Cinta Menetapkan Hati; dan Pedih adalah Indahnya Cinta. Masing-masing bagian diisi lima buah cerita pendek dan masing-masing bagian terdapat pengantar singkat, sangat membantu pembaca untuk memahami persoalan dan tema yang diangkat. Misalnya, pada Meletakkan Cinta dan Prahara pada Tempatnya, tertulis:
“Pada saat kita menemukan cinta kita mengalami ujian atau godaan, baik pada diri sendiri atau pada pasangan, sebenarnya ini adalah penguat atas kokohnya cinta yang terbungkus dalam kedewasaan. Perjuangan seorang istri dalam mempertahankan pernikahannya ketika sang suami tergoda mencari kesenangan di luar, dengan tanpa amarah, adalah contoh dari bagaimana cinta mengalami pendewasaan.”
Selain kisah-kisah ringan dan mudah dicerna, pembaca juga disaji puisi-puisi segar dan romantis di setiap cerita pendek. Simak saja salah satu puisi dalam cerita “Pangeran Cinta” berikut ini:
Rembulan menyapa wajah malu-malu dalam remang indahnya.
Angin malam membelai dinding hati membisikkan cinta penuh mesra.
Dan redupnya bintang mengukirkan lukisan hangat pada senyap yang kian rakus menggerogoti kesunyian mimpi.
Di sini aku masih menatap kelam.
Aku tetap memeluk mimpi.
Aku merintih kedinginan di tengah alunan cinta.
Dan aku mencari di mana sang kekasih hati hendak menjemput.
Aku juga masih merajut dongeng pangeran pujaan hati singgah di hati yang tak pernah bicara ini.
Adakah tersisa dongeng itu untukku walau hanya sekejap?
Aku ‘kan menunggu sampai kering hausku dan lenyap dibawa nyanyian bisu.
Dan aku masih bersama cintaNya merangkai hari indah.
Tentu model penulisan seperti ini tidak untuk menggalaukan pembaca tetapi lebih pada menguatkan bagaimana perempuan melewati badai kehidupannya dengan memetik pesan dan manfaat dari kisah yang disampaikan. Sebab kisah adalah jembatan pelangi yang menghubungkan “yang tidak terungkap” dengan realita.
Judul buku : Perempuan di Tengah Badai
Penulis : Kit Rose
Penerbit : Pensil-324
Tahun : 2011
Tebal : xvi+254 halaman
ISBN : 978-979-3622-91-0
Gerundelan Martin Siregar
Metoda adalah cara kerja yang sistematis untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditentukan; Jadi, secara mendalam sebenarnya kata Metodologi mengandung nilai-nilai kehidupan yang sangat mendasar. Metodologi dalam perspektif pengembangan masyarakat adalah proses membangkitkan kesadaran masyarakat secara bersama-sama, mewujudkan kesejahteraan dan peradaban yang tinggi.
Melalui metodologi kita bersama masyarakat berusaha memperoleh gambaran yang lengkap mengenai realitas sosial multidimensional dalam kaitan struktural dan historis.
Paham Metodologi yang kita anut adalah proses yang terfokus pada pemberdayaan dan pembebasan masyarakat dari belenggu ketidakberdayaan.
Oleh sebab itu mendorong masyarakat memahami realitas kehidupan menjadi titik tekan program kerja yang telah dirancang. Lihat, Dengar, Pikir, Tulis Refleksi
Apa yang kita lihat, dengar, pikir, tulis refleksi kehidupan sehari-hari di lapangan akan digodok untuk merancang aksi ke 2. Misi yang diemban pada aksi ke 3 akan ditentukan oleh Lihat, Dengar, Pikir, Tulis Refleksi pada aksi ke dua. Demikian seterusnya. Sehingga melalui proses tersebut kita semakin menguasai gambaran realitas sosial di komunitas. Fase atau sistematika implementasi program dalam konteks metodologi sangatlah ditentukan oleh intensitas hubungan fasilitator di tengah-tengah masyarakat. Secara kelembagaan hanya mengukur kinerja fasilitator dalam interaksinya di komunitas. Inilah pijakan konseptual untuk pelaksanaan/sistematika program.
Dorongan semangat pengulangan terjun ke lapangan dengan disiplin yang ketat akan membantu kita semakin menyadari betapa pentingnya memahami hal-hal yang menarik dan yang menjadi kebutuhan komunitas. Betapa pentingnya jiwa yang rendah hati dalam membangun dialog yang segar . Demi untuk menampung aspirasi – aspirasi yang diutarakan oleh masyarakat. Implementasi program haruslah mengarah kepada pengenalan realitas komunitas secara utuh, sekaligus pengenalan akan diri sendiri.
Atas dasar Metoda pelaksanaan program seperti ini, kita harapkan :
A. Semakin banyak masyarakat terlibat dalam proses memahami realitasnya.
B. Semakin objektif argumentatif menggambarkan realitas sosial.
C. Semakin kuat integrasi antara fasilitator dan masyarakat
Point C di atas, memang harus terus menerus dilaksanakan. Point C di atas adalah persoalan internal yang tidak punya kaitan langsung dengan kontrak kerja. Sedangkan apa yang tertera pada point A dan B harus menjadi perhatian yang tekun dari fasilitator sebagai tahapan dari pelaksana program. Hal itu karena semakin banyak masyarakat terlibat dalam proses Dengar, Lihat, Pikir dan Tulis Refleksi. Dan, semakin objektif argumentatif realitas sosial yang disimpulkan.
Membangun Interaksi dan Komunitas
Ada seorang anak yang sangat suka makan nasi goreng. Pada suatu hari dia berangkat ke pinggir sungai untuk memancing. Di mata kailnya bukan nasi goreng yang dibuatnya menjadi umpan ikan. Melainkan cacing. Karena kita tahu bahwa ikan yang dipancingnya suka makan cacing, bukan nasi goreng.
Oleh sebab itu dalam interaksi dengan komunitas, kita harus membunuh seluruh cita rasa dan status sosial kita. Sambil memeras otak dan hati nurani agar mampu memahami cita rasa serta seluruh aspek kehidupan komunitas. Cita rasa dan aspek kehidupan mereka yang sangat jauh dari realitas kehidupan kita sehari hari.
Dalam proses menghilangkan cita rasa status sosial agar mampu memahami cita rasa kehidupan komunitas, — kita harus sadar bahwa metoda utamanya adalah : “Ngobrol Panjang yang Segar” —. Inilah keterampilan pokok dan mutlak harus dimiliki oleh fasilitator. Karena “Ngobrol panjang dan segar” adalah sarana untuk masuk ke proses memahami alam pikir dan alam kehidupan masyarakat semaksimal mungkin. Bukan ngobrol yang tanpa arah.
Dengan tidak sungguh-sungguh merendahkan hati ketika berinteraksi, maka sering sekali kita jadi jenuh panik sesak nafas dan salah arah dalam menjalankan program. Kita membuat komunitas hanya mendengar instruksi-instruksi dan keinginan kita yang angkuh ini.
Sering juga kita kehabisan kata-kata dalam berinteraksi. Padahal, ngobrol panjang adalah salah satu usaha memberanikan komunitas mengekspresikan dirinya. Dan, terlibat menentukan arah dan tahapan dari program yang dirancang.
Fasilitator dan komunitasnya selalu melakukan komunikasi. Tempat kita untuk saling mempertukarkan pengalaman, saling mengutarakan perasaan serta alat melayani warga mengekspresikan sikap, keinginan dan impiannya.
Mengelola ngobrol dengan metoda partisipatif menempatkan diri sejajar dengan komunitas. Memang dibutuhkan sikap sabar penuh kedewasan.dan selalu belajar.
Lihat, Dengar, Pikir, Tulis Refleksi lama kelamaan akan dikerjakan secara partisipatif bersama sama dengan komunitas. Jangan berhenti dan tidak bergairah menjalankan program. Cambuk diri kerjakan tugas penuh semangat — pasti fasilitator semakin bijaksana —-.
Pantat parang yang tebal itu kalau diasah dengan seksama lama kelamaan bisa juga tajam mampu menyembeleh leher sapi yang tebal..
Pemerintahan Indonesia hanya sarat dengan kolusi korupsi nepotisme dan jauh dari etos kerja produktif. Fasiltator hadir untuk masuk ke proses menggapai kehidupan masyarakat sejahtera yang berperadaban. Betapa beruntungnya kita ini. Itu makanya kita laksanakan proses ini semaksimal mungkin,
Martin Siregar
sejak zaman dahulu kala.
Catatan Tambahan:
Perbedaan Prespektif tentang Pengembangan Masyarakat
Program bersama Masyarakat
Program tentang Masyarakat
Hakekatnya:
Pengorganisasian berada di tengah tengah masyarakat dan menyesuaikan diri
dengan komunitas untuk jangka waktu relative panjang/lama.
Hakekatnya:
Pengorganisasian berada di tengah tengah masyarakat dalam waktu singkat
Cukup untuk mendapatkan informasi dan legitimasi untuk berbicara tentang
kemiskinan.
Output:
Sejumlah orang miskin berhasil memperbaiki nasibnya berkat perubahan wawasan
maupun berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.
Masyarakat hidup minim mampu dan trampil menjadi juru bicara bagi kepentingan
kehidupannya.
Output:
Hidup keseharian masyarakat miskin, merupakan representasi tentang kemiskinan
sebagai sarana untuk mendidik orang miskin
Menghimbau orang lain supaya tahu, peka dan mau berbuat untuk memperbaiki
nasib orang miskin.
Disiplin ilmu pendukung
Psikologi praktis, antropologi, ekonomi mikro.
Disiplin ilmu pendukung
Ilmu politik, sosiologi, ekonomi makro.
Kelemahannya
Aktivisme, partikularisme
Nasib hidup komunitas tetap sulit berubah karena pusat pengambilan keputusan
ada di luar komunitasnya (yang mungkin tidak perduli kepada nasib mereka)
Ketergantungan komunitas miskin terhadap program kerja.
Kelemahannya
Verbalisme universalisme
Nasib hidup komunitas yang kebetulan disuarakan nasibnya mungkin akan
meningkat untuk beberapa saat.
Kelas menengah sebagai juru bicara masyarakat miskin.