Kaligrafi Su Dongpo ( 1037 – 1101, Dinasti Song )Kalau melihat tiga jurus sebelumnya, dapat diketahui bahwa yang diajarkan Nyonya Wei kepada Wang Xizhi seperti bukan sepenuhnya kaligrafi, tetapi membiarkan Wang Xizhi sendiri merasakan berbagai macam bentuk, berat, tekstur, dan gejala di alam terbuka.
Hubungan goresan kaligrafi dengan alam yang ada di dalam tiga jurus sebelumnya tidak sulit dipahami oleh anak sekarang. Namun, jurus keempat ini saya rasa tidak mudah, dan juga telah melanggar perlindungan binatang: Tebas Putus Cula dan Gading.
Tebas Putus Cula dan Gadingadalah berbicara tentang satu unsur di dalam karakter Han: Tendangan kuas menurun ke arah kiri yang disebut 撇 (baca: pei), misalnya karakter 匕 (baca: bi, bisa diartikan, sendok, sekop, mata panah…), pada goresan terakhir ada satu tendangan kuas menurun dari kanan ke kiri, itu yang disebut ‘pei’. Ini adalah gerakan kuas lawan arah, ujung kuas bergerak ke arah berlawanan, harus seperti cula badak yang tajam ditebas putus, atau seperti gading gajah yang melengkung ditebas putus, mesti terasa tajam dan keras.
Dua benda yang diumpamakan dalam jurus keempat ini tidak mudah kita temui hari ini, mungkin sesekali dapat melihatnya di kebun binatang, tetapi tetap terasa sangat asing. Jurus Tebas Putus Cula dan Gading adalah dari tubuh binatang memahami tendangan kuas ke arah kiri dalam kaligrafi, seperti dalam jurus Rotan Kering Seribu Tahun belajar ‘ garis vertikal ‘ yang lentur dan kuat dari tumbuhan. Begitulah Formasi Tempur Kuas, menggunakan berbagai benda di alam untuk mempelajari kaligrafi. Oleh sebab itu, jika bisa memahami inti dari Formasi Tempur Kuas, mungkin bisa menggunakan contoh yang berbeda di jaman yang berbeda pula.
‘Tendangan ke kiri’ di dalam karakter Han, harus tajam, keras, dan ada terasa semacam gerak lawan arus. Satu goresan begini, misalkan di jaman sekarang, tidak tahu Nyonya Wei akan mengumpamakan benda apa untuk menjelaskan kepada Wang Xizhi?
***
Urutan goresan kuas [ Delapan Unsur Karakter Yong ] Formasi Tempur Kuas selain sebagai sebuah cara belajar, juga membuka dunia pengetahuan dan rasa yang kaya bagi seorang anak.
Di masa antara Dinasti Chen ( 557 – 589 ) dan Dinasti Sui ( 589 – 618 ) mulai beredar buku pelajaran kaligrafi bernama: 永字八法 ( baca: Yong Zi Ba Fa, (artinya: Delapan Unsur Karakter Yong), dengan cara membongkar karakter Han, dibagi menjadi delapan unsur, sebagai dasar seorang anak mengenal karakter Han. Delapan Unsur Karakter Yong sangat jelas dikembangkan dari Formasi Tempur Kuas, dan pengelompokan unsur dasar karakter Han menjadi lebih sempurna. Namun, Delapan Unsur Karakter Yong agak abstrak, membongkar karakter 永 berdasarkan urutan goresan kuas menjadi delapan unsur ——— 侧 ( baca: ze, artinya: menyamping ) sama dengan ‘titik’ dalam Formasi Tempur Kuas ; 勒 ( baca: le, artinya: tali kekang ) sama dengan ‘ garis horizontal ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 努 ( baca: nu, artinya: berusaha, berupaya ) sama seperti ‘ garis vertikal ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 趯 ( baca: ti, artinya: lompat ) sama dengan ‘ mata kail ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 策 ( baca: ce, artinya: memcambuk ) sama dengan ‘ garis horizontal menengadah ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 掠 ( baca: lue, artinya: merebut, merampas ) sama dengan ‘ tendangan panjang ke kiri ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 啄 ( baca: zhuo, artinya: mematuk ) sama dengan ‘ tendangan ke kiri ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 磔 ( baca: zhe, artinya: membelah ) sama dengan ‘ tendangan ke kanan ‘ dalam Formasi Tempur Kuas
Kaligrafi Huang Tingjian ( 1045 -1105, Dinasti Song )Walaupun pengelompokan unsur dasar menjadi lebih sempurna, terutama dapat membagi ‘ tendangan kuas ‘ menjadi empat unsur: 策 ( memcambuk ), 掠 ( merampas ), 啄 ( mematuk ), 磔 ( membelah ) lalu dibagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih terperinci ( saya rasa kurang cocok dimasukkan semuanya di sini ), namun dari segi pengajaran ——— terutama untuk seorang anak, kurang perumpamaan yang mudah dimengerti, sehingga belajar kaligrafi kehilangan pemahaman estetika, terjerumus ke dalam penjiplakan bentuk belaka.
Saya sendiri lebih menyukai Formasi Tempur Kuas, karena cara pengajarannya berdiri di atas landasan ‘ apresiasi keindahan ‘, bukan hanya mengajari bentuk saja, tetapi lebih menekankan seorang anak sendiri merasakan dan memahami proses belajar itu.
Saya rasa apresiasi keindahan mesti berhubungan erat dengan kegiatan dalam kehidupan sendiri, seandainya kehilangan itu, seni dan keindahan tidak lebih hanya bentuk saja.
Kaligrafi 徐渭 ( Xu Wei, 1521 – 1593, Dinasti Ming )Pelajaran ketiga dari Nyonya Wei untuk Wang Xizhi adalah ‘ garis vertikal ‘, inilah garis di tengah yang ditarik memanjang ketika menulis karakter 中 ( baca: zhong , artinya: tengah ). Ketika menulis karakter Han, menggoreskan satu garis tegak lurus ini memang sedap. Waktu kecil saya sering melihat tukang obat memamerkan kemampuannya di depan kelenteng, selain jual obat, juga memperagakan jurus kungfu, gambar jimat, sering juga menulis kaligrafi, dia akan di atas selembar kertas besar menulis karakter 虎 ( baca: hu, artinya: harimau ) yang juga sangat besar. Karakter ‘ harimau ‘ ini jika ditulis dengan salah satu gaya kaligrafi: ‘ Gaya Rumput ‘ ( semacam stenografi ), maka garis terakhir akan ditarik sangat panjang, memanjang hingga ke ujung kertas, satu ‘ garis vertikal ‘ yang sungguh panjang.Saya pernah melihat tukang obat menggunakan sebuah kuas yang kurang lebih sebesar sapu, penuh tinta, leluasa dan meluap, dengan gerakan tarian atau kungfu, seakan terbang dengan kuas di atas kertas, qi-nya penuh meluap. Ketika menulis hingga goresan terakhir, kuasnya berhenti di satu tempat di atas kertas, bersiap menarik ke bawah satu goresan ‘ garis vertikal ‘, muridnya harus sigap menarik kertas ke depan, ditarik jadi satu garis yang sangat panjang. Kecepatan tarikan garis begini harus benar-benar terjaga, dan garis itu akan timbul semacam bentuk yang disebut putih terbang. Putih Terbang ini terjadi karena tinta di dalam kuas tidak cukup, dan kuas kering akan menciptakan garis-garis tipis, seperti serat-serat di dalam rotan kering, di indera penglihatan berubah menjadi sangat indah. Seperti pohon tua, seperti rotan kering, seperti serat-serat di dalam kayu atau bambu yang penuh kelenturan dan tidak mudah ditarik putus.
Bagian Putih Terbang dalam kaligrafi Cina menciptakan perasaan kecepatan kibasan dan kealotan. Nyonya Wei membawa Wang Xizhi ke dalam hutan, dari rotan kasar dan tua belajar kekuatan gerakan kuas.
Lukisan 徐渭 ( Xu Wei, 1521 – 1593, Dinasti Ming )Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi melihat Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun, saat mendaki gunung berpegang pada sepotong rotan kering, sepotong yang di dalam perjalanan waktu yang panjang tumbuh menjadi kehidupan. Anak itu meminjam kekuatan rotan, menaikkan tubuhnya ke atas, meminjam kekuatan rotan, menggantung di udara. Tubuh yang menggelatung di udara dapat merasakan kealotan sepotong rotan ——— kekuatan yang alot dan keras yang tidak dapat ditarik putus.
Rotan tua tidak bisa ditarik putus, alot dan keras, ingatan ini kemudian berubah menjadi penghayatan di dalam menulis kaligrafi. ‘ Garis vertikal ‘ ini mesti ditulis hingga tidak bisa ditarik putus, ditulis menjadi alot, ditulis menjadi lentur, di dalamnya akan ada daya yang meluap keluar dari dua sisi.
Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun bukan hanya tumbuhan di alam terbuka, ia telah diumpamakan menjadi sepotong garis kehidupan yang tegar dan kuat dalam kaligrafi Cina. Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun terhadap apa saja kelihatan sangat tua, tetapi ada kehormatan terhadap ketegaran hidup yang samasekali tak tertaklukan.
Wang Xizhi masih anak kecil, namun Nyonya Wei melalui Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun membuat dia di dalam perjalanan hidup yang pelan dan panjang memiliki kekuatan yang alot. Keindahan kaligrafi, selalu saling berhubungan dengan kehidupan.
Batu Jatuh dari Puncak Tinngi mempelajari berat dan kecepatan
Arakan Awan Seribu Li mempelajari kelapangan dada
Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun mengerti keteguhan dan ketegaran
Nyonya Wei adalah guru kaligrafi, dia juga guru kehidupan
Kaligrafi Yan Zhenqing, 709 -784, Dinasti TangBanyak sisi dari Formasi Tempur Kuas milik Nyonya Wei yang pantas untuk direnungkan. Pelajarannya yang kedua adalah membawa Wang Xizhi mengenali unsur dasar lain dari tulisan Han, yaitu ‘ garis horizontal ‘ atau karakter Han [ 一 ] yang artinya ‘ satu ‘
Seandainya menarik keluar [ 一 ] dari sebuah karakter, kita akan menemukan beberapa rahasia kaligrafi: [ 一 ] dan ‘ titik ‘ sama-sama adalah unsur dasar pembentukan tulisan Han. Pelajaran kaligrafi yang diberikan Nyonya Wei kepada Wang Xizhi memang dimulai dari latihan unsur dasar. Saya ingin memberikan beberapa contoh [ 一 ] dari kaligrafer-kaligrafer berbagai Dinasti setelah Wang Xizhi, seperti: 颜真卿 ( Yan Zhenqing, 709 -784, Dinasti Tang ), 宋徽宗 ( Song Huizong, 1082 -1135, Dinasti Song ), 董其昌 ( Dong Qichang, 1555 – 1636, Dinasti Ming ), 何绍基 ( He Shaoqi, 1799 -1873, Dinasti Qing ). Karya-karya mereka sangat berpengaruh dan berkarakter, jadi sekalipun mereka yang tidak begitu kenal dengan kaligrafi Cina juga dapat membedakan unsur [ 一 ] di dalam karya kaligrafi mereka.
Unsur [ 一 ] dalam karya Yan Zhenqing dan Song Huizong berbeda sangat jauh, ‘ garis horizontal ‘ Yan Zhenqing begitu kokoh dan berat, sedangkan ‘ garis horizontal ‘ Song Huizong kurus langsing dan di ujungnya ditekuk jadi mata kail; begitu juga unsur [ 一 ] dalam karya Dong Qichang dan He Shaoqi juga tidak sama, ‘ garis horizontal ‘ Dong Qichang tipis jernih bagai benang sutera melambai di dalam air, dan unsur [ 一 ] He Shaoqi ada ketegaran yang kusut mengikat. Kaligrafi Song Huizong, 1082 -1135, Dinasti Song
Pada jaman Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi menulis, masih belum begitu banyak maestro dari Dinasti sebelumnya yang dapat dijadikan panutan, dan Nyonya Wei seperti juga tidak menganjurkan seorang anak terlalu cepat mencontoh kaligrafer yang sudah ‘ jadi ‘. Oleh sebab itu, Wang Xizhi bukan mulai mengenal garis horizontal dari [ 一 ] yang ditulis kaligrafer sebelumnya. Kaligrafi Dong Qichang, 1555 – 1636, Dinasti MingPelajaran pengenalan terhadap unsur [ 一 ] ini justru berlangsung di alam yang luas.
Nyonya Wei membawa Wang Xizhi keluar rumah, seorang anak kecil, berdiri di padang datar yang luas, menatap cakrawala, menatap cakrawala yang merentang jauh, menatap barisan gumpalan awan di atas cakrawala pelan-pelan bergerak ke dua arah. Nyonya Wei berbisik di telinga anak itu: ” Arakan Awan Seribu Li ” Kaligrafi He Shaoqi, 1799 -1873, Dinasti QingArakan Awan Seribu Li, empat kata ini tidak mudah dijelaskan, selalu merasa menulis [ 一 ] hanya perlu pergi memperhatikan cakrawala. Sesungguhnya Arakan Awan Seribu Li adalah menunjukkan barisan awan di atas horizon. Awan rendah-rendah memenuhi, berbaris, menggelinding di atas horizon, itu yang dimaksud Arakan Awan Seribu Li. Ada perasaan yang luas, ada perasaan terbuka menjulur di kedua sisi. Saya agak lama berpikir, mengapa mesti mengunakan dua kata ini, ‘ arakan awan ‘?
Ketika awan membuka barisan, ada semacam gerakan yang sangat pelan, sangat mirip dengan kandungan air kuas perlahan diserap dan menebar di atas kertas. Maka, Arakan Awan Seribu Li adalah hubungan antara kuas, tinta, dan jenis kertas yang kuat menyerap. Menggunakan pena atau pensil atau alat tulis berujung keras sangat sulit merasakan Arakan Awan Seribu Li
Waktu kecil belajar kaligrafi, sering mendengar orang berkata bahwa kaligrafi yang bagus mesti seperti ‘ bekas bocoran di dinding ‘ Waktu itu saya kurang mengerti apa sesungguhnya yang dimaksud ‘ bekas bocoran ‘ itu. Kemudian baru pelan-pelan menemukan, sewaktu menulis kaligrafi, di sekitar goresan kuas akan meninggalkan segaris bekas air agak bening di atas kertas kasar, ini adalah bekas yang menebar dari serapan air tinta, bukan sesuatu yang yang sengaja digores kuas. Sebab bukan garis yang sengaja digores, sehingga mirip kesederhanaan yang primitif dan ketidak-beraturan yang dicapai bekas-bekas yang tercetak alamiah, oleh sebab itu kelihatan agak kalem.
Air bocor merambat dari atap, tanpa warna, bekasnya tidak jelas. Namun setelah lama diendap waktu, bekas-bekas ini akan timbul warna yang agak kuning, agak cokelat, agak merah, dan itu adalah jejak dari penderitaan waktu, oleh sebab itu adalah tingkat teratas apresiasi keindahan.
Kaligrafi Wang Xizhi, 303? -361?, Dinasti JinKalau jaman dulu mengajar kaligrafi mesti membawa anak-anak pergi melihat ‘ bekas bocoran ‘, pergi mengubah jejak yang ditinggalkan waktu ke dalam kaligrafi, mungkin Arakan Awan Seribu Li juga mempunyai makna tersendiri? Yaitu ketika menulis garis horizontal, bagaimana agar ia ditarik terbuka sehingga tercipta hubungan yang bergerak beraturan antara kuas, tinta dan kertas, adalah timbulnya ingatan terhadap lapisan awan yang bergerak tenang di atas padang luas yang senyap, memahami kebesaran, keheningan kehidupan, dan setelah itu jika menulis [ 一 ] lagi, baru mungkin ada gema percakapan antara langit dan bumi.
gambar diunduh dari bp.blogspot.comSetiap tahun, ratusan perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri di seluruh Indonesia mencetak sekian banyak wisudawan, sarjana-sarjana yang siap kerja dengan berbagai visi dan karakter juga watak yang bebeda. Seiring dengan semakin banyaknya tenaga lulusan perguruan tinggi justru memunculkan spekulasi-spekulasi yang baik disadari atau tidak oleh masyarakat, sering terlupakan dalam perkembanganya. Sudah cukupkah hanya dengan ijazah dengan IPK tinggi dan gelar sarjana menjadikan individu tersebut dibilang berhasil? Lantas keberhasilan yang bagaimana?
Seseorang bisa dikatakan berhasil bukan hanya dipandang dari segi berapa banyak jumlah gaji yang diperoleh dari pekerjaan, atau berapa besar kekayaanya setelah mereka bekerja, melainkan keberhasilan yang lebih mencerminkan sebuah hasil yang telah kita lakukan dari hasil kerja atau kegiatan yang berintegritas. Banyak bukti yang dapat kita lihat secara mata telanjang dan terjadi di sekeliling kita, dapat kita lihat di setiap cover surat kabar, atau pun menjadi topik perbincangan terhangat di berita elektronik ibukota, mulai dari masalah maraknya korupsi baik di badan pemerintahan tertinggi sampai rakyat jelata atau masalah-masalah di dunia pendidikan misalnya saja, adanya demo mahasiswa yang anarki bahkan berbagai berita yang membahas tindakan-tindakan tercela para pendidik yang semestinya di gugu dan tiru malah memberi bocoran soal ujian pada siswanya. Sungguh hal menghawatirkan serta memberikan dampak besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin membuktikan banyaknya pelanggaran-pelanggaran.
Integritas Generasi Muda
Salah satu penyebab dikatakan tidak berhasilnya seseorang adalah terkait telah hancurnya integritas masyarakat baik secara kolektif dan terutama personal. Perlunya kder- kader baru yakni genereasi muda yang sedari sekarang kita pupuk dan tumbuhkan dalam pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial di sistem sosial serta mampu menjadi penyatu unsur-unsur di berbagai bidang kehidupan bermasyarakat
Sudah sewajibnya mulai dari sekarang generasi muda khususnya menyadari bahwa pemuda menjadi tonggak kemajuan segala bidang, yang harus mulai menumbuhkan loyalitas dan integritasnya. Sekarang bukan waktunya untuk mengutuk kegelapan atas apa yang terjadi di negara kita, lebih baik mulai dari masing-masing individu untuk menyalakan obor penerang, dengan menjadi leaderships visioner dan transformative, serta berkekuatan intelektual dan mampu menggunakan kemampuan tersebut secara bijak dan berintegritas. Begerak sesuai jalur dalam birokrasi, tidak melanggar hukum, dan menjadi pribadi anti korupsi. Yang bukan hanya memahami dan menghayati tapi jauh berimbas bila kita mau mengubah pikiran dan pandangan kita akan arti kesuksesan itu dan tentunya diimbangi dengan nilai-nilai budaya serta keagamaan dari masing-masing individu.
Nailatul Faiqoh adalah mahasiswa fakultas teknik sipil Universitas Negeri Semarang
Tidak banyak yang tahu nama ini, kecuali mereka yang tertarik dengan sejarah kaligrafi Cina. Dia samasekali tidak meninggalkan jejak tulisan tangannya, kita hanya dapat menduga tulisannya dari delapan baris jiplakan dalam cetakan kayu yang tersimpan di dalam sebuah buku bernama: Kumpulan Kaligrafi Chunhua ( 淳化阁帖, baca: Chun Hua Ge Tei, terbit sekitar tahun 992 ). Dialah Wei Shou – 卫铄, biasa dipanggil Nyonya Wei, hidup di masa Dinasti Jin ( 265 -420 ). Mungkin sedemikian saja yang kita ketahui tentang dirinya.Walaupun Nyonya Wei tidak meninggalkan karya penting, tetapi memiliki pengaruh besar yang tidak bisa diabaikan: Dia telah berhasil melatih seorang kaligrafer paling penting dalam sejarah kaligrafi Cina: Wang Xizhi – 王羲之 dan sebuah karangan pendek mengenai teknik penguasaan kuas Cina: Formasi Tempur Kuas ( 笔阵图, baca: Bi Zhen Tu ). Karangan ini sering dimuat di dalam berbagai macam buku yang membahas kaligrafi, semacam pelajaran dasar kaligrafi Cina. Dan bagi saya, makna Formasi Tempur Kuas adalah untuk memahami bagaimana Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi memasuki dunia kaligrafi pada masa itu.
***
Tulisan tidak pasti sama dengan kaligrafi, menulis mungkin hanya ingin menyampaikan maksud. Bentuk tulisan yang dibangun dari garis, belum pasti akan menimbulkan getaran keindahan bagi indera penglihatan. Artinya, fungsi sebagian tulisan hanya bersifat praktikal. Namun, seandainya kita melihat sepucuk surat yang ditulis seseorang, sehabis membaca, setelah mengerti maksudnya, tidak tahan masih ingin melihat lagi, begitu ‘ melihat ‘ berulang kali, pelan-pelan melupakan artinya, mulai merasa lekuk garis-garisnya amat indah, bentuknya amat indah, bidang kosongnya amat indah, saat itu baru disebut kaligrafi. Kaligrafi bukan hanya teknik, kaligrafi adalah semacam apresiasi keindahan. Melihat keindahan garis, keindahan antara titik dan goresan, keindahan bidang kosong, masuk ke dalam mabuk apresiasi keindahan yang murni, dengan begitu sisi seni kaligrafi baru akan tampak.
Sewaktu kecil, Wang Xizhi dilatih menulis oleh Nyonya Wei, saya ingat waktu kecil juga dilatih menulis tulisan Han oleh kakek dengan sejenis buku tulis bernama ‘ sembilan petak ‘. Buku tulis ini adalah untuk melatih struktur tulisan, setiap halaman penuh dengan kotak-kotak yang dibagi dengan garis merah menjadi sembilan petak.
Jumlah goresan setiap karakter Han bisa sangat jauh berbeda. Bisa banyak hingga tiga puluh sampai empat puluh goresan, misalnya 籲 ( baca: yu, artinya: mengimbau ); ada yang sesederhana hanya satu goresan, misalnya 一 ( baca: yi, artinya: satu ), tidak peduli tiga puluh dua goresan atau pun satu goresan semuanya mesti ditaruh ke dalam ‘ sembilan petak ‘, menempati ruang yang sama, mencapai keseimbangan, serasi, harmonis, mantap dan penuh.
Andaikan mengembalikan kaligrafi ke strukturnya yang paling dasar, dia sesungguhnya adalah latihan indera penglihatan yang sangat menarik. Keseimbangan, keserasian, interaksi, isi dan hampa, berbagai macam latihan dasar apresiasi keindahan ada di dalamnya.
Di dalam sebuah kotak kecil, seperti seorang arsitek, latih menggunakan dan mengatur ruang. Memasukkan karakter dengan goresan paling banyak dan paling sedikit ke dalam ruang ‘ sembilan petak ‘ yang sama besar. Penguasaan setiap ruang harus seolah sama ——— sisi ini paling menarik, sebab sekalipun [ 一 ], di dalam ‘ sembilan petak ‘ juga tidak boleh terasa terlalu lapang, terlalu sedikit, terlalu sepi, sebaliknya, mesti seolah penuh memenuhi ruang. Demikian juga dengan [ 籲 ] yang ditaruh di dalam ‘ sembilan petak ‘, tidak boleh terasa terlalu sesak, terlalu ramai. Dan di saat ini, di antara isi dan hampa, di antara garis dan titik, akan ada perubahan-perubahan yang tak terduga banyaknya.
***
Jurus Pertama: Batu Jatuh dari Puncak Tinggi
Pertama kali membaca Formasi Tempur Kuasyang ditulis Nyonya Wei, saya agak terkejut, sebab catatan yang diwariskan ini terlalu sederhana, sederhana hingga sedikit sulit menafsirkannya. Misalnya, dia membongkar sebuah karakter ( huruf ), setelah dibongkar terdapat sebuah unsur, mungkin adalah unsur paling dasar dalam kaligrafi Cina ——— sebuah titik. Titik ini digunakan di banyak karakter. Menulis 江 ( baca: jiang, artinya: sungai ) ada tiga titik di sisi kiri, namun arah, tekanan, ukuran, gaya ketiga titik ini tetap sedikit berbeda.
Titik, di dalam struktur kaligrafi adalah dasar yang sangat penting
Walaupun hanya berupa sebuah titik, tetapi perubahannya sangat banyak. Misalnya, karakter 無 ( baca: wu, artinya: hampa, tiada ), ada empat titik di bagian bawah, cara menulis empat titik ini baik arah, tekanan, ukuran, maupun gaya kemungkinan juga berbeda. Di lain kesempatan ketika melihat sebuah tulisan Han, mungkin bisa perhatikan apakah ada unsur ‘ titik ‘, atau coba analisa watak ‘ titik ‘ itu, renungkan sejenak ‘ titik ‘ itu, apakah seperti Batu Jatuh dari Puncak Tinggi yang disebut Nyonya Wei.
Kalau melihat Formasi Tempur Kuas, Nyonya Wei seperti tidak mengajari Wang Xizhi menulis, tetapi membongkar karakter ( huruf ), dan ketika sebuah karakter dibongkar, maka maknanya akan menguap. Dia menuntun Wang Xizhi memasuki apresiasi keindahan indera penglihatan, hanya mengajari dia menulis sebuah ‘ titik ‘, melatih ‘ titik ‘, merasakan ‘ titik ‘. Dia ingin Wang Xizhi kecil melihat bekas yang ditinggalkan kuas yang telah mencelup tinta di atas permukaan kertas, sekalian menjelaskan frasa ini: Batu Jatuh dari Gunung Tinggi.
Dia ingin anak ( Wang Xizhi ) yang belajar kaligrafi ini merasakan, merasakan di atas tebing ada sebongkah batu jatuh, ‘ titik ‘ itu, persis seperti kekuatan batu jatuh dari tempat yang tinggi.
Mungkin ada yang curiga: Sebenarnya Nyonya Wei sedang mengajari Wang Xizhi kaligrafi atau gerak jatuh bebas ilmu fisika? Kita tahu yang diajarkan Nyonya Wei kepada Wang Xizhi seperti bukan kaligrafi saja. Saya selalu berpikir, mungkin Nyonya Wei benar-benar membawa anak ini ke atas gunung, membiarkan dia merasakan batu, lalu menjatuhkan sebuah batu dari puncak, atau bahkan melempar sebuah batu agar Wang Xizhi menyambut. Kalau begini, pelajaran Batu Jatuh dari Puncak Tinggi pasti menjadi sangat menarik.
Batu adalah sebuah benda, di indera penglihatan ada wujud, saat dipegang ada berat. Bentuk dan berat berbeda. Tangan memegang batu, dapat menimbang beratnya, merasakan lekukannya. Saat batu jatuh, akan memiliki kecepatan, kecepatan sendiri di dalam rangka ‘ jatuh ‘ masih memiliki percepatan yang ada di ilmu fisika; menghantam ke atas tanah, akan menimbulkan kekuatan benturan dengan permukaan tanah ——— semua ini begitu kaya rasa diserap seorang anak kecil. Kaya rasa adalah permulaan apresiasi keindahan. Kata Pengantar Lanting 兰亭序
Saya tidak tahu ‘ titik ‘ yang ditulis Wang Xizhi setelah dewasa, apakah ada hubungannya dengan pendidikan yang diberikan Nyonya Wei. Banyak yang berkata bahwa titik di setiap karakter 之 yang ada di dalam karya kaligrafinya yang paling terkenal: Kata Pengantar Lanting兰亭序 ( baca: Langting Xu ) berbeda. Ini adalah sebuah draft yang ditulis Wang Xizhi ketika mabuk, oleh sebab itu ada salah tulis, ada coretan. Setelah sadar, dia sendiri mungkin juga terkejut, bagaimana dirinya bisa menghasilkan kaligrafi yang begitu indah, dan mungkin mencoba lagi, namun bagaimana pun sudah tidak bisa menghasilkan yang sebagus ‘ draft awal ‘
Di belakang karya kaligrafi terkenal ini tersembunyi beberapa hal yang menarik, membuat kita menerka: mengapa Nyonya Wei tidak begitu peduli tulisan Wang Xizhi baik atau tidak, malahan sangat peduli Wang Xizhi mampu atau tidak merasakan kekuatan batu jatuh?
Sebenarnya pelajaran pertama Nyonya Wei ini meninggalkan banyak bagian kosong, saya tidak dapat menduga Nyonya Wei membiarkan Wang Xizhi latih berapa lama, apakah waktunya mencapai beberapa bulan atau beberapa tahun, baru dilanjutkan dengan pelajaran kedua? Namun jurus dasar mengenai ‘ titik ‘ ini, seperti sangat dalam mempengaruhi seorang kaligrafer besar di kemudian hari.
Woman & La Bete, diunduh dari 3bp.blogspot.comIni adalah satu halaman paling kelam dalam sejarah Abad Pertengahan Eropa, karena manusia pada masa itu panik terhadap ketidak-jelasan masa depan, ditambah diskriminasi terhadap kemerdekaan berpikir kaum perempuan, sehingga pelan-pelan terbentuk sepotong sejarah panjang pemburuan penyihir selama tiga abad. Dan Vaud ( Swiss ) adalah tempat pemburuan penyihir yang paling gaduh. Dari abad ke-15 hingga abad ke-17, tertangkap sekitar lima ribu penyihir di daerah ini, sekitar tiga ribu lima ratus penyihir dihukum mati, tujuh puluh persen adalah perempuan.
Kastil anggun Chateau de Chillon yang berdiri di tepi Danau Jenewa adalah tempat pengurungan dan eksekusi pada masa itu, sekarang telah menjadi tempat wisata yang mendunia.
Sebenarnya kaum perempuan cukup dihormati di Eropa sebelum Abad Pertengahan, terutama mereka yang mahir meramu obat, melakukan pengobatan, atau pun yang bisa membaca dan menulis. Tetapi mengapa sampai di abad ke-15 ” pemburuan penyihir ” bisa berpusat pada kaum perempuan? Semua ini terutama karena terbitnya sebuah buku, judulnya: Malleus Maleficarum, Martil Para Penyihir. Ini adalah salah satu buku yang paling jahat dan keji dalam sejarah manusia.
Tahun 1487, Malleus Maleficarum terbit di Jerman, menguakkan pintu pengadilan yang sangat gila, dan memperparah pandangan bias dan cenderung merusak terhadap perempuan di Eropa pada masa itu. Isi buku mengajari orang bagaimana mengenali ilmu sihir, membuktikan penyihir perempuan dan melaksanakan hukuman kejam terhadap mereka.
Menurut teori buku ini, karena ” penyihir perempuan ” telah diperdaya iblis, mereka tidak lagi peka terhadap rasa sakit, sehingga bisa sesuka hati melakukan hukuman kejam. Misalnya, menggunakan sekeping besi panas memerah membakar tangan mereka, seandainya tangan terluka, membuktikan mereka berdosa; menyuruh mereka mengambil sebentuk cincin suci di dalam air mendidih, kemudian tangannya diperban dan distempel, tiga hari kemudian jika ada bekas, berarti berdosa; atau pun langsung saja diikat dengan sebongkah batu lempar ke dalam danau, jika bisa selamat, berarti tidak berdosa.
Dalam tiga abad, ” penyihir perempuan ” yang dieksekusi di Kastil Chateau de Chillon berjumlah 3371 orang, kebanyakan dengan pembakaran, sebab waktu itu beredar isu bahwa penyihir perempuan harus dibakar agar tidak bisa reinkarnasi. Korban-korban ini kebanyakan berasal dari lapisan masyarakat bawah, mereka adalah perempuan-perempuan tua, sakit, miskin, tinggal sendiri, dan yang belum menikah.
Meteorologi tentu masih belum begitu dipahami pada masa itu, orang-orang mengalihkan ketakutan dan kegusarannya terhadap cuaca ke ilmu sihir, mereka menganggap ilmu sihir yang menyebabkan bencana yang datang sambung menyambung. Walaupun Gereja telah menolak ada hubungan antara cuaca dan ilmu sihir, namun masyarakat tetap saja sangat percaya. Cuaca yang tak terduga menyebabkan panen tidak stabil, lalu kelaparan menyusul, dan kelaparan menyebabkan tekanan sosial yang dashyat.
Kelaparan ditambah wabah yang meluas, kepanikan makin lama makin tak terkendali, emosi sosial kian perlu terobosan dan pelepasan, terakhir mendesak penguasa mengeluarkan perintah pemburuan penyihir, dan ini adalah salah satu cara masyarakat patriarki mempertahankan kuasa.
Begini tercatat di dalam sejarah Vaud:
Tahun 1572 terjadi kelaparan dan harga pangan melambung, penyihir perempuan pertama, Verena Gehrig mati dibakar. Kelaparan pada tahun 1589 juga menyebabkan beberapa penyihir perempuan dieksekusi. Wabah hitam yang meletus di tahun 1628 menyebabkan makin banyak penyihir perempuan mati… Orang-orang memasukkan berbagai macam bencana ini sebagai perbuatan penyihir perempuan, oleh sebab itu pemburuan penyihir pada tahun-tahun itu mencapai puncaknya, sedikit pun tidak aneh, lagipula semua penyihir perempuan ini termasuk secara terbuka mengakui diri mereka adalah penyebab semua bencana itu.
Berapa orang yang kuat menahan hukuman kejam itu, pengakuan mereka kemungkinan besar adalah karena tidak mampu atau tidak ingin lagi menahan siksaan, dengan kondisi dan kedudukan mereka pada masa itu, bagaimana mereka membela diri mereka?
Dari tahun lalu hingga Juli 2012, Kastil Chateau de Chillon yang pernah mengadili dan mengeksekusi begitu banyak penyihir perempuan ini, memamerkan sepotong sejarah pemburuan penyihir yang penuh bercak darah, ini adalah satu irisan masyarakat yang kehilangan nalar di Abad Pertengahan. Sepotong sejarah kelam ini, menjadi saksi sejarah perjalanan manusia dari ketidak-tahuan menuju peradaban.
Fenomena SEKS PRANIKAH, merupakan sebuah fenomena yang menimbulkan persoalan sekaligus merugikan kehidupan kaum perempuan. Fenomena tersebut memunculkan luka mendalam bagi perempuan, terlebih lagi juga mengganggu psikologisnya. Pemikiran saya, sebagai kaum muda untuk membantu menyembuhkan ‘luka’ akibat seks yang dilakukan oleh perempuan yang terlanjur menyerahkan kehormatannya kepada lelaki yang ternyata tidak menjadi suaminya adalah dengan memberinya motivasi, memberikan banyak dukungan dan membangunkan semangatnya kembali. Memberi dukungan adalah hal yang sangat perlu diberikan karena hal tersebut merupakan salah satu obat yang bisa menyembuhkan luka terlebih lagi secara psikologisnya perempuan itu mengalami guncangan yang dahsyat. Karena dengan semangat yang kita berikan itulah ia merasa bahwa hidupnya belum berakhir dan ia tidak akan merasa hidup sendirian di dunia ini.
Seharusnya kesalahan yang telah diperbuatnya, kita sebagai sesama kaum perempuan tidak perlu mengejeknya atau bahkan mengucilkannya. Dukungan dari semua pihak yang terdiri dari dukungan kedua orang tua, teman-teman dan lingkungan di sekitarnya sangat diperlukan. Memberikan dia motivasi juga sangat perlu dilakukan karena hal tersebut dapat membuka hati dan pikirannya karena dengan mendapat motivasi dan dukungan dari semua pihak, perempuan tersebut dapat melanjutkan hidupnya, meraih masa depannya dan berada di jalan yang semestinya ia jalani seperti perempuan yang lainnya pada umumnya.
Konsultasi antar keluarga juga diperlukan untuk mengurangi beban yang ia pikul sendiri. Peran orang tua sangat diperlukan, dengan kasih sayang dan kehangatan dari keluargalah yang dapat menghapus beban dan pikirannya. Belajar dari pengalaman yang sudah terjadi, orang tua harus dengan senang hati dan tak pernah lelah memberikan nasehat dan tidak boleh lengah dalam mengawasi anak perempuannya. Hal tersebut sangat dianjurkan untuk mencegah agar tidak jatuh pada lubang yang sama. Keluarga merupakan segalanya untuk kita karena dalam kondisi apapun kita pasti kembalinya akan keluarga kita juga.
* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang. Catatan: Opini ini terpilih sebagai opini favorit dari rekan mahasiswa tentang ‘Seks Pranikah’
RetakanKata – Terima kasih kepada sahabat RetakanKata dan rekan-rekan mahasiswa yang telah berpartisipasi aktif dalam sayembara ‘menulis opini dapat pulsa’ dengan tema SEKS PRANIKAH. Jangka waktu tiga hari ternyata tetap tidak membatasi semangat para sahabat untuk mengirimkan opininya.
Dan berikut ini diumumkan nama penulis dan opini yang terpilih sebagai opini terbaik pertama, kedua dan ketiga.
Selain ketiga opini tersebut, sebagai bentuk penghargaan RetakanKata kepada rekan-rekan mahasiswa, maka RetakanKata juga memilih satu opini favorit dari rekan mahasiswa berjudul “Keluargaku Adalah Segalanya Untukku” karya Anita Rachmawati.
Opini terbaik pertama akan mendapat hadiah pulsa senilai Rp 100.000,00. Opini terbaik kedua dan ketiga akan mendapat pulsa senilai Rp 50.000,00. Untuk opini favorit dari rekan mahasiswa akan mendapat pulsa senilai Rp 25.000,00. Pastikan nomor hape yang dicantumkan aktif sebab RetakanKata akan menghubungi anda dengan nomor 085958551155 untuk memastikan pengiriman pulsa jarak jauh.
Semoga pengumuman ini dapat memacu gairah menulis para sahabat RetakanKata dan rekan-rekan mahasiswa di seluruh penjuru Nusantara yang ingin ikut berpartisipasi atau yang karyanya belum terpilih untuk dimuat di blog RetakanKata. Sahabat RetakanKata dan rekan-rekan mahasiswa dapat mengikuti sayembara ‘menulis opini dapat pulsa’ berikutnya, dengan tema ABORSI.
Selamat mengikuti sayembara berikutnya! Salam membaca dan menulis!
Kolam teratai musim gugur hanya menyisakan serpihan bunga dan daun rapuh, melalui kisi-kisi jendela saya duduk merasakan kesunyian setelah seluruh warna musim panas pudar, merasakan waktu pelan-pelan mendinginkan secangkir teh Cina, merasakan semacam sepi yang mengharukan di dalam lukisan-lukisan Sanyu yang dipamerkan di Museum Sejarah Nasional Taiwan hari itu. Pameran lukisan Sanyu berjudul Di Mana Kampung Halaman
Sanyu, dalam Bahasa Mandarin dipanggil 常玉 ( baca: Chang Yu ) lahir di Provinsi Sichuan, Cina pada tahun 1901, berasal dari keluarga kaya. Sejak ke Paris belajar melukis ketika berumur 20 tahun hingga meninggal dunia di usia 67 tahun di Paris karena keracunan gas di studionya, dia hanya sekali saja kembali menginjak kakinya di tanah kampung halaman, sisa hidupnya hampir seluruhnya dihabiskan di perantauan, menjelma jadi sebutir bintang seni yang sunyi menggantung di tepi langit.
Sanyu tidak meninggalkan catatan apa pun, riwayatnya yang ada sekarang hanya berupa anekdot-anekdot dalam beberapa tulisan teman-teman sejamannya atau sesama pelukis Cina yang merantau ke Paris. Beberapa cerita itu muncul berulang kali dalam tulisan mengenai dirinya; seperti dia pernah menikah dengan seorang gadis Perancis, tetapi tidak bertahan lama, atau dia pernah hidup seatap dengan seorang gadis bertubuh montok, atau pun dia pernah hidup bersama dengan seorang gadis Jerman. Dalam tulisan lain diceritakan bahwa dia pernah akan dipromosikan oleh seorang agen lukisan yang sangat berpengaruh, namun tidak dapat menyerahkan 20 lukisan seperti yang dijanjikan tepat waktu, sehingga agen tersebut terpaksa mengangkat pelukis Asia yang lain, seorang pelukis Jepang: Foujita. Juga beberapa hal lain yang berhubungan dengan sifatnya yang agak eksentrik, tertutup, kurang bertanggung jawab, memuja kebebasan jiwa, seperti banyak kehidupan seniman di Paris sehabis Perang Dunia.
Agak kabur, tetapi ada dua hal yang sangat jelas. Pertama, hampir semua teman-temannya dan sesama pelukis mengakui Sanyu sebagai pelukis yang sangat berbakat. Kedua, hidup sengsara dan melarat di Paris, terutama setelah kakak sulungnya yang mendukung hidupnya di Paris meninggal. Kehidupannya di hari tua sangat menyedihkan, dia bertahan hidup sebagai tukang cat dan tukang kayu bagi teman-temannya sesama perantau Cina di Paris; pemilik restoran dan pemilik toko perabot. Pada masa-masa sulit inilah Sanyu melukis seekor gajah yang sangat kecil berlari di gurun yang tak bertepi. Sambil menunjuk gajah kecil yang hampir terkubur gurun itu berkata kepada temannya: Itulah diriku!
Melihat lukisan Sanyu di Museum Sejarah Nasional Taiwan bukan sekedar menikmati sebuah karya seni, tetapi seolah membaca sepotong sejarah senirupa Cina Moderen. Sekitar tahun 1968 Menteri Pendidikan Taiwan mengundang Sanyu mengadakan pameran lukisan di Taiwan. Sanyu setuju, dia memilih empat puluh dua lukisannya untuk dikirim ke Museum Sejarah Nasional Taiwan, dan pemerintah Taiwan juga segera mengirim biaya perjalanan untuknya. Setelah menerima uang Sanyu tiba-tiba berubah pikiran, dia merasa sinar matahari dan piramida Mesir jauh lebih menarik. Tetapi begitu pulang dari melancong dia sendiri juga bingung kemana mencari biaya untuk perjalanannya ke Taiwan, dia tidak muncul, museum terus menunggu, setelah menunggu beberapa waktu, tiba-tiba Sanyu meninggal dunia di Paris.
Sanyu tidak memiliki keturunan, maka museum akan selamanya mewakili dia menyimpan lukisan-lukisannya itu. Tidak tahu apakah ini sebuah kebetulan atau sesuatu yang sudah direncanakannya. Tanpa kebetulan ini sesungguhnya sangat sulit mengumpulkan lukisan-lukisan Sanyu dari berbagai periodenya dalam jumlah begitu banyak. Apalagi sekarang, lukisannya sudah merupakan lukisan cat minyak pelukis Cina yang paling mahal. Kalau melihat sikap dia terhadap karyanya seperti yang dicatat teman-temanya, dia mungkin sengaja mewariskan lukisan-lukisan ini kepada museum. Dia pernah berkata dengan enteng ketika seorang temannya bertanya kenapa dia menolak seseorang yang ingin membeli lukisannya: ” Saya tidak suka wajahnya, dan saya juga tidak ingin lukisanku hidup bersamanya ”
Banyak dari lukisan itu dilukis di atas selembar papan kayu atau daun pintu atau daun jendela, karena pelukisnya tidak ada uang untuk membeli kanvas, sehingga di dunia pun muncul ” lukisan cat minyak di atas papan kayu “. Hubungan antara cat dengan papan kayu kadang-kadang agak sulit, maka tak terelakan banyak sudut-sudut lukisan retak, mengelupas, tergores, membuat orang iba. Terindah dan terburuk bersama-sama hadir dalam sebuah lukisan, apakah bukan sebuah peringatan?
Ada satu masa, seperti semua pelukis Barat mesti melukis pot bunga, tentu termasuk pot bunga matahari milik Van Gogh itu. Bunga pelukis Barat selalu begitu cemerlang dan penuh sehingga mata orang yang melihat seolah kewalahan menangkapnya. Dan Sanyu juga melukis bunga, namun tidak seperti ” bunga potong ” pelukis Barat, bunga Sanyu selalu ditanam di dalam pot tanah liat berbentuk persegi. Menurut pandangan saya, pot itu pasti produk dari dapur pembakaran di kampung halamannya: Sichuan. Kenapa Sanyu melukis bunga mesti memberi juga kita satu pot tanah dangkal? Apakah itu cara dia bertahan? Hidup di perantauan, di Paris, di pusat kekuasaan keindahan Barat, dia melawan, mungkin saja bunga kecil dan lemah yang dia lukis itu adalah dirinya? Di dalam hatinya pasti juga menyisakan sepotong tanah sempit dan dangkal untuk dirinya hidup?
Anehnya, tanah di dalam pot begitu dangkal, bukan saja ada pohon yang tumbuh, bahkan berbunga, walaupun kecil-kecil, dan di sana-sini juga ada tunas mencuat, dan lebih mengejutkan adalah ada seekor burung hinggap di sana, dan ternyata burung itu sedang bernyanyi.
Saya merasa di belakang bunga, burung, dan pot tanah liat itu ada sepatah dua patah kata yang menunggu dijelaskan ——— namun, saya juga tidak ingin mengungkapkan, maka saya memilih pergi duduk melihat teratai layu di musim gugur, sambil menerka mengapa semua perempuan di dalam lukisannya tampak samping dan belakang?
RetakanKata – Mengingat jangka waktu ‘Menulis Opini Dapat Pulsa‘ sebelumnya sangat pendek (hanya 3 hari), saya memaklumi kesulitan rekan-rekan RetakanKata dalam membuat tulisan. Untuk menebus ‘dosa’ tersebut, maka sekali lagi RetakanKata menyelenggarakan sayembara menulis opini dapat pulsa lagi. Hadiah tetap sama, yaitu tulisan pertama terbaik mendapat pulsa Rp 100.000,- dan dua tulisan terbaik berikutnya mendapat pulsa Rp 50.000,- Jadi jangan sampai lupa mencantumkan nomor hape ya!
Ketentuan sayembara sebagai berikut:
Tema: ABORSI
Panjang tulisan: minimal 1 lembar A4, dengan huruf Times New Roman, spasi 1,5, margin 3 atas, 3 kiri, 2,5 kanan dan 2,5 bawah. Maksimal 2 lembar A4.
Menggunakan bahasa Indonesia sesuai EYD
Jika ada referensi, kutipan dan daftar pustaka, maka harus mencantumkan sumber-sumbernya. Sumber referensi tidak boleh mengambil dari wikipedia.
Batas waktu kirim artikel 3 Juni 2012 pukul 00.00 WIB
Cantumkan identitas pengirim secukupnya dan mudah dihubungi.
Pemenang adalah yang artikelnya dimuat pada minggu berikutnya (tanggal 10 Juni 2012)
RetakanKata – Fenomena SEKS PRANIKAH, siapa yang tidak tahu itu? Sebuah fenomena ‘kewajaran’ yang menimbulkan persoalan baru terutama bagi kaum muda perempuan. Kewajaran dalam tanda kutip yang berarti bahwa secara umum seks pranikah dianggap tabu namun pada kenyataannya telah dilakukan banyak orang sehingga menjadi sebuah rahasia umum. Beberapa penelitian yang telah dibukukan menunjukkan fenomena tersebut.
Fenomena tersebut bisa jadi memunculkan persoalan baru terutama bagi pihak perempuan, yaitu luka dalam arti sesungguhnya dan dalam arti psikologis. Pertanyaan yang ingin dijawab adalah: bagaimana pemikiran kamu, sebagai kaum muda, untuk menyembuhkan ‘luka’ akibat seks pranikah pada perempuan yang terlanjur menyerahkan kehormatannya kepada lelaki yang ternyata tidak menjadi suaminya.
Anggaplah salah satu temanmu curhat masalah yang dihadapinya yang intinya sudah terlanjur melakukan seks pranikah tetapi ditinggalkan pasangan lelakinya. Tulis pendapatmu dalam bentuk opini, dengan titik fokus pada pemecahan masalah (BUKAN MEMPERSOALKAN SEKS PRANIKAH ITU TABU ATAU TIDAK). Tidak ada batasan jumlah lembar dan kata. Kirim opinimu ke RetakanKata melalui menu ‘kirim naskah’ atau lewat email retakankata@gmail.com paling lambat (deadline) hari Minggu tanggal 13 Mei 2012 pukul 00.00. Cantumkan identitas pengirim dengan jelas.
Artikel terbaik pertama sampai ketiga akan dimuat pada minggu berikutnya dan mendapat pulsa sebesar: Rp 100.000,- untuk artikel pertama terbaik.
Rp 50.000, untuk artikel kedua dan ketiga terbaik.
Ditunggu pemikiranmu!
Gerundelan Alra Ramadhan gambar diunduh dari bp.blogspot.comPernah terpikir olehku bahwa dunia ini akan berakhir bahagia. Bahwa kehidupan ini akan memberi akhir yang menyenangkan bagi semua manusia. Bahwa akhir kehidupan ini tak sebegitu ngeri. Bahwa dunia ini berakhir dengan penuh pengertian Yang Maha. Bukan berakhir dengan berbagai perhitungan dan hukuman-hukuman, seperti yang diceritakan kitab-kitab, guru agama, atau kyai. Di suatu senja yang memerah aku terpikir hal tersebut.
“Kau sudah sinting!”
Demikian kata salah satu teman rumah kontrakku ketika suatu hari kuceritakan apa yang terserak dalam pikiranku tersebut.
“Tidak kawan,” timpalku.
Aku diam sejenak, mendeham.
“Percayalah, kehidupan ini berakhir bahagia kelak. Dan hal yang kukatakan ini bukan pula tanpa alasan. Alasan, tepatnya dasar teori, itu begitu banyak. Semuanya bercampur, melebur, dan lantas kutarik kesimpulan sederhana bahwa kehidupan ini berakhir dengan damai.”
“Peradaban,” kataku lagi kemudian. “bukankah dapat dipandang sebagai suatu proses bagaimana manusia menunjukkan kemampuannya dalam menaklukkan alam semesta?”
Mungkin saja bila Adam tak diturunkan ke dunia ini, beliau akan tetap hidup bergantung pada Tuhan. Di surga, atau sekali waktu berjalan-jalan di sekitar neraka bila bosan atau kedinginan. Tapi Tuhan sungguh baik, kawan, Ia tetap tak mau Adam yang dibuat-Nya dengan sesempurna mungkin itu hanya bermanja-manja saja di khayangan. Maka ditakdirkan oleh Yang Maha demikian:
Makhluk yang sudah ia ciptakan sebelumnya, malaikat, salah satu di antara mereka membangkang ketika Tuhan memerintahkan bersujud kepada Adam. Keduanya beradu, Tuhan dan pembangkang tersebut.
“Aku hanya mau bersujud kepada-Mu,” kata pembangkang itu.
Tuhan pun menghukum malaikat tersebut: melemparkannya, dengan kengerian yang kau sendiri tak bisa bayangkan, ke padang tanah gersang. Lantas memburukkan rupanya, menjadi apa yang disebut iblis.
Aku menghela napas.
Ketika satu saat malaikat pembangkang tersebut hendak mencari kawan, digodalah Adam dan Hawa. Ia masuk ke taring ular dan lantas berbicara pada Adam agar memakan buah terlarang yang ada di surga. Tuhan, meskipun aku sendiri tak mengerti bagaimana Yang Maha Tahu bisa ‘kecolongan’ atas tindakan tersebut, lantas menghukum Adam dan Hawa dengan hukuman yang sama dengan apa yang didapatkan si pembangkang: turun ke dunia. Dihilangkan-Nya kemewahan surga, terbukalah aurat di antara keduanya, tapi keduanya terpisah sedemikian jauh di dunia ini.
“Inilah alasanku!!” kataku. Kawanku tetap diam.
“Usaha,” lanjutku.
Itulah usaha manusia pertama untuk yang pertama kali. Mereka berdua berjalan, berjalan, dan berjalan sedemikian jauh, untuk bertemu. Mereka berjuang agar mereka dapat berjumpa kembali dan kemudian dapat saling mengisi dan melengkapi. Tuhan masih tetap Maha Baik, mereka dipertemukan. Lalu terjadilah putra dan putri dari mereka. Dunia semakin meriah. Putra-putrinya pun disilangkan, maka semakin berkelompoklah manusia. Kemudian, terjadilah peradaban manusia. Malaikat pembangkang yang membuat istana di gua tua yang mendengar berita tersebut tak bisa menerima begitu saja keputusan Tuhan. Bagaimana mungkin ia dihukum, tanpa mendapatkan kemudahan, hanya gara-gara tak mau bersujud. Sedang Adam Hawa yang makan buah terlarang, masih diberi kemudahan. Ia menggoda Adam, juga Hawa, juga keturunan peradaban manusia tersebut.
“Hingga detik terakhir,” demikian niatnya.
Tuhan tetap Maha Baik, peradaban tersebut diizinkan tetap berusaha dan berjuang. Entah berapa abad setelah era Adam Hawa, konsepsi pertama yang dicari adalah tentang Tuhan. Sembari berburu, lalu bercocok tanam, menunggu hujan, atau pun ketika membangun keluarga dan anak turun. Segalanya dikaitkan dengan Tuhan Tertinggi: tak terkonsepkan. Tapi manusia sungguh makhluk Tuhan yang pantang menyerah. Mereka menguji seberapa tangguh mereka melawan alam semesta buatan Tuhan. Tidakkah ini bentuk pembangkangan pula, kawan?
Kawanku diam.
Dan hingga sekarang, di antara beberapa manusia telah banyak mencipta benda untuk menaklukkan keterbatasan mereka. Manusia, termasuk aku dan kau, mulai dapat mengendalikan kekuatan yang besar dan yang kecil. Aku contohkan, ribuan tahun lalu manusia memanfaatkan keberadaan hewan untuk dapat dimakan dan tetap bertahan hidup. Manusia memanfaatkan kulitnya untuk berlindung dari badai. Juga taringnya untuk berburu hewan selanjutnya, atau bila dirangkai, jadilah pemanis di leher mereka. Tetumbuhan dibabat, dijadikan tempat tinggal yang lebih hangat dari bebatuan gua. Dedaunan dapat dimasak. Bebuahan bisa menjadi cemilan ketika menunggu buruan lengah.
Dan berabad berlalu, manusia menemukan alat untuk mempersingkat jarak. Dengan telepon, jarak jauh sekali pun mereka tetap dapat saling bersapa. Atau dengan internet, berbicara, bahkan melihat foto atau pun gambar gerak dapat dilakukan dengan mudah. Manusia telah dapat memperluas kemampuan indera mereka, melebihi yang diberikan Tuhan.
Kau pikir Tuhan marah?
“Tidak kataku!!” Tuhan, bagiku, tetap Maha Baik. Berabad berlalu lagi, orang tuli kini sudah dapat mendengar suara dari yang lain dengan alat bantu yang pastilah buatan manusia. Petir, dapat ditangkal dengan sebuah kabel yang terhubung ke tanah, kekuatannya dapat dikendalikan ke arah tanah dengan itu. Motor juga mobil, menaklukkan waktu, mempersingkatnya, sayang tak memikirkan dimensi ruang. Manusia tak hanya berdiam di dunia, mereka menjelajah dunia lain, planet lain, meneliti sumber cahaya kehidupan, lain sebagainya.
“Dan bukan tidak mungkin esok, lusa, atau beberapa waktu nanti, Tuhan dapat dijelaskan dengan akal sehat yang dimiliki manusia,” kataku sembari mengepulkan asap kretekku.
“Pemikiranmu terlalu sederhana, kawan!!” katanya bersungut.
“Hmm, mungkin…”
Tapi bisa saja, suatu hari manusia dapat merumuskan bagaimana Tuhan. Bentuk-Nya, singgasana-Nya, dan lantas takjub melihat mata Tuhan. Mereka kembali menemukan yang telah berabad tak diketahui manusia: Tuhan. Aku rasa, Tuhan menakdirkan Adam dan Hawa tak bercerita tentang wujud-Nya. Karenanya berabad kemudian barulah manusia sadar akan kehadiran Yang Maha.
Dan di suatu senja yang mulai memerah inilah aku terpikir bahwa akhir dunia ini adalah bahagia: ketika, suatu saat kelak, Tuhan dapat terumuskan oleh manusia. Dan manusia yang mulanya menentang kehadiran-Nya menjadi percaya. Tak lagi ada peperangan keyakinan, tak ada lagi alasan manusia dapat menyerang agama lain karena keyakinannya lebih benar.
Saat itulah Tuhan ikut turun ke dunia, memberi penghargaan kepada manusia atas apa yang diperjuangkannya. Tuhan bertemu mereka tanpa perantara barang kabut pun—seperti ketika Musa bercengkerama di Sinai. Saat itulah, manusia mendapat bukti nyata bahwa mereka berasal dari satu sumber Yang Maha. Manusia kembali percaya pada satu Tuhan Tertinggi yang kekuasaannya sungguhlah amat dahsyat.
Kemudian dunia bosan menari……
Malang, 21 Maret 2012
Alra Ramadhan, Lahir 9 Maret 1993 di Kulon Progo, salah satu nama kabupaten di D.I. Yogyakarta.. Saat ini berkuliah di Jurusan Teknik Elektro Univ. Brawijaya, Malang.. Lebih lanjut, dipersilakan berkunjung di @alravox..