Cerita Bersambung: Tunangan (4)

Cerita Anton Chekhov
Alih Bahasa Retakankata

kasih tak sampaiDi pertengahan bulan Juni, Sasha tiba-tiba merasa bosan dan memutuskan untuk kembali ke Moskow.
“Aku tidak bisa hidup di kota ini,” katanya muram. “Tidak ada pasokan air, tidak ada saluran pembuangan. Makan malam menjadi begit menjijikkan dengan kotoran berjibun di dapur..”
“Tunggulah sebentar, Anakku yang hilang!” Nenek berusaha membujuknya, berbicara untuk membisikkan beberapa alasan, “pernikahan tinggal tujuh hari lagi.”
“Aku tidak mau.”
“Itu berarti kamu hanya akan tinggal bersama kami sampai bulan September!”
“Tapi sekarang, Anda lihat, aku tidak menginginkannya. Aku harus bekerja.”
Musim panas kelabu dan dingin, pohon-pohon basah, segala sesuatu di taman tampak sedih dan tidak mengundang selera, membuat hari begitu panjang bagi yang bekerja. Suara-suara perempuan asing terdengar di lantai bawah dan lantai atas. Ada rentetan suara mesin jahit di kamar Nenek, mereka bekerja keras mempersiapkan baju pengantin. Untuk mantel bulu saja, enam telah diberikan Nadya. Kata Nenek, dari enam mantel itu, yang termurah seharga tiga ratus rubel! Keriuhan itu menjadikan Sasha kesal. Ia tinggal di kamarnya, sendiri dan tersiksa, tapi semua orang membujuknya untuk tetap tinggal, dan ia berjanji tidak akan pergi sampai minggu pertama bulan Juli.
Waktu berlalu dengan cepat. Pada hari perayaan Santo Petrus, setelah makan malam, Andrey Andreitch dan Nadya pergi ke Moskow Street untuk sekali lagi melihat rumah yang telah mereka ambil dan persiapkan beberapa waktu sebelumnya untuk mereka, pasangan muda. Sebuah rumah dua lantai, namun sejauh ini hanya lantai atas yang siap ditempati. Aula lantai bersinar dengan cat dan berlapis parquete, ada kursi Wina, piano, biola berdiri, dan aroma cat. Di dinding tergantung sebuah lukisan cat minyak besar dalam bingkai emas – seorang wanita telanjang di samping sebuah vas berwarna ungu dengan pegangan rusak.
“Gambar yang indah,” kata Andrey Andreitch, dan ia menghela napas hormat. “Ini karya seniman Shismatchevsky.”
Lalu ada ruang tamu dengan meja bundar, sofa dan kursi berlapis biru terang. Di atas sofa tergantung foto besar Bapa Andrey memakai topi beludru seorang imam dan berdekorasi. Kemudian mereka pergi ke ruang makan di mana ada sebuah lemari. Kemudian ke kamar tidur, di sini tiang penyangga tempat tidur setengah berdiri berdampingan, dan tampak seolah-olah kamar telah dihiasi dengan gagasan bahwa hal itu akan selalu sangat menyenangkan di sana dan tidak mungkin ada hal lain. Andrey Andreitch membimbing Nadya ke kamar, sambil melingkarkan lengannya di pinggang Nadya, dan Nadya merasa lemah dan hatinya tertekan. Dia membenci semua kamar, tempat tidur, kursi malas; ia mual oleh wanita telanjang. Sudah jelas baginya sekarang bahwa dia telah berhenti mencintai Andrey Andreitch atau mungkin tidak pernah mencintainya sama sekali. Tetapi bagaimana mengatakan ini dan kepada siapa atau kepada apa mengatakannya, ia tidak mengerti, dan tidak bisa mengerti, meskipun dia memikirkannya sepanjang hari dan sepanjang malam.
Andrey Andreitch merangkul pinggang Nadya, berbicara penuh rasa sayang, begitu sederhana, begitu bahagia, berjalan mengitari rumahnya, sementara Nadya tidak melihat apa pun di dalamnya kecuali seronok, bodoh, naif, vulgar tak tertahankan, dan lengan dipinggangnya terasa begitu keras dan dingin bagai ring besi. Dan setiap menit adalah rangkaian titik untuk lari, meledakkan tangis, atau melemparkan dirinya keluar jendela. Andrey Andreitch membimbingnya ke kamar mandi lalu menekan keran air di dinding dan sekali sentuh air mengalir.
“Bagaimana pendapatmu?” katanya sambil tertawa. “Aku punya tangki dua ratus galon di loteng, dan kita tidak akan kekurangan air.”
Mereka melintasi halaman, pergi ke jalan dan naik taksi. Awan tebal berdebu bertiup, tampaknya akan hujan.
“Kamu tidak dingin?” tanya Andrey Andreitch, mengacaukan matanya dari debu.
Nadya tidak menjawab.
“Kamu ingat, kemarin Sasha menyalahkan aku karena tidak melakukan apa-apa,” katanya, setelah keheningan singkat. “Yah, dia benar, mutlak benar! Aku tidak melakukan apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa. Mengapa? Apa yang berharga dariku? Mengapa, bahwa berpikir suatu hari nanti aku mungkin memperbaiki simpul pita topiku saat masuk ke kantor layanan pemerintah yang kemudian sangat aku benci, itu pantas dipikirkan? Mengapa aku merasa begitu tidak nyaman ketika melihat seorang pengacara atau master Latin atau anggota Zemstvo? O..Ibu, O Rusia? Hai Ibu Rusia, apakah engkau masih menanggung beban orang-orang yang menganggur dan tidak berguna? Berapa banyak orang seperti aku berada di atasmu, lama menderita, O Ibu!”
Dan fakta menunjukkan ketika ia tidak melakukan apa pun, ia menarik generalisasi, melihat pada tanda-tanda zaman.
“Jika kita sudah menikah, mari kita pergi ke kota, sayangku. Di sana kita akan bekerja, membeli sepotong kecil tanah dengan taman dan sungai, mempekerjakan orang dan mengamati kehidupan. Oh, betapa akan sangat indah! ”
Ia melepas topinya, dan rambutnya melayang di udara, sementara Nadya mendengarkannya sambil berpikir: “Ya Tuhan, aku berharap aku ada di rumah.”
Ketika mereka cukup dekat dengan rumah, Bapa Andrey menyusul mereka.
“Ah, ayah datang,” teriak Andrey Andreitch senang, dan ia melambaikan topinya. “Aku benar-benar mencintai ayah,” katanya sambil membayar kusir taksi. “Dia orang tua yang indah, seorang rekan tersayang.”
Nadya masuk ke dalam rumah, merasa pusing dan tidak sehat ketika memikirkan bahwa akan ada pengunjung sepanjang malam, dan bahwa dia harus menghibur mereka, tersenyum, mendengarkan biola, mendengarkan segala macam omong kosong, dan tidak ada topik pembicaraan selain pernikahan. Nenek yang akan tampak bermartabat dan cantik dalam gaun sutra, duduk angkuh di depan samovar sebelum pengunjung datang. Lalu Pastor Andrey datang dengan senyum liciknya.
“Saya sungguh merasa tersanjung dan terberkati melihat Anda dalam keadaan sehat,” katanya kepada Nenek. Dan sulit untuk mengatakan apakah dia bercanda atau berbicara serius.

Bersambung…

Catatan:

Samovar
Samovar: semacam alat seperti poci untuk menjaga teh tetap panas di meja makan.

DAFTAR PESERTA LOMBA MENULIS CERPEN RETAKANKATA

Tanggal 5 Februari 2012 sebagai batas akhir waktu pendaftaran lomba menulis cerpen pada blog RetakanKata, telah terlewati. Sejumlah 482 telah mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba. Luar biasa! Terima kasih atas peran serta dan partisipasi rekan-rekan semua. Dan dengan pengumuman ini, PENDAFTARAN SEBAGAI PESERTA LOMBA MENULIS CERPEN DINYATAKAN DITUTUP. Selanjutnya, kami menunggu rekan-rekan yang telah terdaftar sebagai peserta untuk mengirim naskah yang dilombakan sampai dengan batas waktu yang telah ditetapkan.
Berikut adalah DAFTAR PESERTA LOMBA MENULIS CERPEN RETAKANKATA 2012:
yuanitae@
ihsanialaidrus@
guisusan@
yukikana@
aiioe1992@
uswatun3112@
dwiyulihandayani@
dhanzz_dhanzz@
isma.wasingatoen@
doankone@
mitralovelin@
eriesdhycohianessa@
tiowidodo@
buubufun_03@
anynuraisyah@
rtp_eg_snwd@
gaunggerimis@
aliassyah@
azam_rm@
bilabaik@
tinulaberta227@
loesy_dunk@
hanita_mei@
theodorus_xan@
aprilianawakhidah@
one_freedom_united@
irarumantiafauzia@
niilasilalhaa@
lita.narul@
trini_1992@
puzphitasarii@
y_adam_n21@
yudhistira1994@
muhadiw@
sept.wul25@
wondergalzdream@
flamies4@
q_primathika@
irmabjm86@
cah_solih@
rakfir_reza@
vivikusdeean@
irizkiyah@
afif.zakariya@
santiasa_putra@
intan169@
nnovita61@
adnan_ibnusina@
senandunghitamputih@
al_razak13@
v.d.tutupary@
priyox@
sushinez_girl@
yuslinanurmuliani@
nailuffar@
juliaprimadani@
lycha_99@
penulisalammaya@
djat_mico@
damar_crb15@
fari.chen@
pauluscatur@
ophtymistych@
chouchan_imoet@
garonk_baek@
teekaiazmin@
suguhkurniawan@
el_ucup69@
mumuthamuth@
ied_free@
iandt.boyanz@
oliviahalim96@
dhan_ok@
m.hadi_habibi@
willyruniee@
yamassu99@
diaz.rti@
dinellaconcha@
deedyantry@
almurthawy@
lalefatma.yn@
hananicool@
john.darsanto@
rosevirjinia@
uchihaadawiahs@
munictalova@
tulalitulalit@
golintang@
ryan_kharis@
denny_mf_9f@
asro.pamenang@
ranisna90@
tiffanyputri_15@
penakawanbisa@
elis.nari@
tammy.sabaku_rdsb@
gadisgula@
nbrigithainthan@
rickylaode@
i3ncha_cweet@
zhye.cezgil@
tangguhbeta@
cahaya_karra@
zaka_oz@
vanyadankanata@
sastrawanlinglung@
claudya.chicgirl@
kawaii_jippie.chan@
muti_r@
han.rahmad@
gwenyth_06@
ristikum@
dynaz.inase@
edysam48@
niningwws@
hchristonk@
keshiasawitri@
skhana318@
merry.nezcvada15@
nisa.st_khoirin@
ayu_maelani@
etika_sunja@
puisihati_asti@
kcye_ncha@
yoga_yomail@
nirwannuraripin@
meilisa_nrz@
ray_birth@
gigi_abz89@
zulfa_amah@
fatur.sassygirlchunyang@
yatyatyammy@
fatimah.nuno@
muhammadadirangga@
hsdewi.sa@
farridatullatifah@
ira.sapi@
emutlial@
sani.rio@
dee_smile92@
nafa_s72@
ndusst@
maihamdati@
ayuriaandini@
ade.tarjamah@
sisca_njoman@
rsaktiningsih89@
faliatriindaharti@
dysjaemin.cassielf@
permata2009@
dwieranichigo@
dypisces@
santi.english08@
siti_sundari93@
ragilmulia23@
rinze23_deacon@
fa_rice_da_pure@
eput_cute92@
ummisabit@
dewiyf@
miawazmy@
membusuk@
rizami@
dedewqadriani@
nurul.theearthbender@
sherhya@
hikari.airinn@
sulesubaweh@
ghie_neh@
damae53@
hamzah4hz@
sinta_dicarirama@
rezainulakbar@
amarant.flaming@
cutiest_phe@
finosa_ocey@
himmah.fiddien@
res.ant_xxx@
a.rezainul@
nur.chayati83@
marselaniadewi@
adorkableracer@
bimaforever@
ya3263@
rina.rochmawati@
auliyanti@
hulya.urwati@
shofie_vie@
m.ridwanyazid@
omeliamercytikupadang189@
ilalangpenghayal@
me_at13@
martamarvelly@
rahadiwidodo@
agunghariyadi37@
rosa.adellia@
sovy_ratnawati@
lillypelangi981@
rizka.ridwan27@
runiiaprilia@
abonn@
sonia.ssundari@
junaidiabdulmunif@
komala_sari45@
flzefita@
uzairul_anam@
nusukabiru@
arashichiba_aoi@
sure_cahayahati@
suryantisukses@
sweetgirl.brella@
panduputradewa@
momboblucu@
naj_shy@
halimdwi00@
wanswarga@
nurmaimunitaf@
mel_toph@
ayaghe@
yulisutarsih@
zkashifarizka@
panoramadian@
tony.tj88@
braoxmabox@
rhezasatya@
anisa.hidayah@
muara_awan@
tataqweens@
mahdi_idris@
icaaicaa@
sepasangbidadari99@
sakuraimoet35@
nabila_halvawi@
miff.fadh@
wchaala@
emildaherlina@
m_rifqi_s@
shatyantarsa_193@
dee.ismarani@
bintang_cilik16@
hix_muach@
dika_sundari@
rizkimulasaputra@
mira_wirawan@
arshahappy@
thitysofia@
yesshe_c4yn@
edogawarasti@
endahaibara@
zakiyasabdosih@
penaregina@
latus_say@
fredioky@
angin.lembut@
senja_dewanti@
sasamarisa11@
kamiluddinazis@
nidakaniafauzia@
ika_tulistiwa@
marlinda.silviani@
bakwan.didot@
raramorata@
rau.lestari@
nurul_alohomora@
april_fatma@
indrawatiapriyani@
wajah_pagi@
henydria@
mustikarius@
dewi_ana11@
tahrera_lathifah@
septimeliautami@
just_a_b_i@
ken_zarah16@
ken_kinteki@
viari_anti@
rish_fey@
irsanramdany@
naya.syar@
irmadiananggraini@
aulia_khoirul@
fauziyahilma@
trisna_dehonian@
kode2langit@
ayosi71@
adstika@
so_evil_of_me@
mnasif@
cintaraga@
ismailgalang@
putriprincess73@
rief_fatih@
ronrk@
diio_blues@
irvan_sembiring@
anandiamy@
nova_tul@
marwah.thalib@
skets.ubaid@
elispunya@
septyanitriwahyuni@
risty.ridharty@
ciani92.limaran@
missblue_me@
dhani.ramdhani.nur@
naya_45@
reni.dr@
raisha.se@
threepoint_shooter14@
nitanitoz@
mulesimule@
zie_fha@
erika.nm92@
dimaskeche@
shela_ayulia@
far4syah@
dwinta_meylani@
fina.lanahdiana@
rikaulya@
znuris@
rira_pu@
anhar_jankuracool@
ziah_booklover@
hanyfatun@
eqwant.1613@
dhesiptr@
sabirin_clever@
ntanz_uciha@
ranmoury_53@
leenz_kyutz@
jungjiyool@
nnurkaeti@
stroberrinoionoi@
kyuta_zuka@
arklob.nana@
monikamaharani@
gsahadewa@
nida.tsaura@
patrickprasetyo@
e2e_only@
meitamorphosa@
edward_chany@
fmziah@
rintaratna@
elno8abenx@
edvinberliansi@
aditya.hariyadi@
ayuathma@
bayuahmadramdani@
andinakresna@
namiib6@
wulansarinurazkiyah@
veronicachristyn@
rizarahmahangelia@
rofi.aini@
ny.elly2107@
bdxfun@
windi.widiastuty@
zidka_zahrana@
ye_fa_ta@
linduth.kiyuth@
siwisulistyarahayu@
erlindahapsari@
dhilayaumil@
himaprodipbsi@
evillivie@
chenumber1@
gud_nha@
astrikusumand@
erlinda.sw@
imoetinna38@
nyet.onyet92@
risca.dwinov23@
pocci_69@
veronica_faradilla@
ssenimangila@
roro.rhyna@
arisaaqmarina@
d.gamez.l0ver@
lucky_katak@
kucing.senja@
iloel_huda@
deacit@
boelnia@
m_adnan1026@
latifnur99@
suhartinajufri@
mmayyasya@
enurmalanur@
silvia.anggit@
chemist18rahmah@
fahrul.khakim@
tyne_siders@
selly_pee@
azizah_1992@
akoe_rosana@
captain_zero17@
vienomara@
aila.kirisame@
asma_wh@
tiamayaaffrita@
akhi_pangerancibaduyut@
marliyanti.yanti@
dandunsuroto@
ndutzaja@
rafaela_grecella@
yasmin_friendship@
ooooo_belle@
alamatgampang@
khaliefah_assuyuthy@
erni_jayanti90@
sophiemutia@
lovely_yonghwa@
ekalayasaatsenja@
pangeranjodipati@
ginger_thumb@
aquariel_02@
nurul_mira@
ziif@
anjelinalampard@
rickydwi_apriadi_s4@
achzan29@
ninavinolia@
katon_at@
shabriyahakib@
dhunt.dee@
lyzine@
ratlieamour@
ari_11301308_piksi@
dwiapriyanti4@
sbu_21@
maria_ita610@
sevtavianicwp@
cornelia_lovecantik@
el_eyra@
laily_van_borneo@
imardiati@
fireflyseven711@
mumfasiroh@
margaretdolce@
minarsihdaqu@
szn_8745@
heni.cutez31@
irfan.syariputra@
kania_khoirunnisa@
real.linggarjh@
olweztdhebiqo@
lets.saveourearth@
ikramnurfuady@
seviwening@
rahayu_jen@
pramesty_gy@
damas_ucha@
i.figli@
elikamilah@
irwanto.candra@
tantyach@
indrabudipermana@
faraharfi@
aini.nur.sagita@
sunarniriningsih@
chandrawulandari89@
budimanfanny@
kenza_v3acoolz@
setia26pyo@
bean182@
haylswilliams@
anggikhoerunnisa@
mahaputra.excalibur@
dechie_maulidyamarsha@
katulistiwasari@
anesa_niwa@
astrianakrisma@
popo.poyoli@
karimahskarimah@
ican_y07@
starvy16@
muh.abdurrahman_clp@
dwmulyaningsih@
adibsusilo2011@
chandra_suhartono@
salamih_j@

SALAM SASTRA DAN SELAMAT BERJUANG!

Tuhan Sedang dalam Tahanan

Cerpen Janardana
Editor Ragil Koentjorodjati

ilustrasi dari shutterstock
Di bulan Maret, pada sebuah tahun, mentari senja bersinar malas. Pisau keemasan yang dilemparkan langit dari barat cakrawala membelah siluet gereja tua menjadi garis-garis hitam pada tanah. Sore tampak menyedihkan dalam genggaman bayang-bayang malam. Bunga-bunga yang semula tegak meregang tegang, kini menunduk menekuk wajah. Senyum bocah-bocah di riang siang, meliuk lunglai keletihan. Di sore yang muram ini, angin pun enggan berjalan menyapa keringat manusia yang rindu kesejukan.
Kesunyian yang sakit dan membosankan sore itu mengalir memasuki ruangan gereja tua, di mana seorang pemuda duduk membisu. Matanya tajam menatap Isa yang tergantung di salib, di atas tabernakel. Senyuman para malaikat di kanan dan kiri ruangan altar tidak dihiraukannya. Sesekali matanya beralih dari Isa ke sepotong koran yang digengamnya. Sekejap kemudian ia berdiri, memetik setangkai melati yang banyak tersedia dalam vas bunga menghiasi meja altar, lalu melemparkan bunga itu ke Isa Anak Maria, sambil berkata,”Apa yang sedang Kaulakukan di situ?”
“Apa yang sedang kauperbuat, Nak? Tidak tahukah engkau bahwa ini tempat ibadah? Rumah Allah?”
Tiba-tiba seorang pastur sudah berada di belakang pemuda itu. Tatapannya penuh kasih, namun tidak cukup kuat untuk menutupi kecurigaan yang mengintip di balik kelopak matanya.
“Siapakah engkau, dan apa yang sedang kaulakukan di sini?” tanya pastur kepada pemuda.
Ruangan sejenak mempersilahkan ketegangan singgah dan bermain di sana. Kuku-kuku kecurigaan pun tergurat, meski membeku. Pemuda tahu siapa yang sedang dihadapannya.
“Aku seorang pemuda yang ingin bertanya pada Isa, apa yang sedang Ia lakukan di sana,” katanya sambil menunjuk salib Isa.
“Tapi kenapa engkau melemparinya dengan bunga melati itu? Tidak tahukah engkau bahwa ini adalah rumah ibadah? Aku tidak melihat rasa hormatmu terhadap tempat ini”, kata Pastur masih dengan ucapan yang lembut.
“Pastur, bagaimana kalau kita bekerja sama membakar gereja ini? Setelah itu kita bakar pula masjid-masjid, vihara, pura dan tempat-tempat pemujaan setan yang tersebar di mana-mana?”
“Anak muda, apakah engkau tidak sedang sakit?” tanya Pastur penuh kecurigaan dan kecemasan.
“Tentu aku sangat sehat, Pastur. Aku bukan seorang kristen. Aku juga bukan seorang muslim. Aku bukan orang Budha, bukan pula orang Hindu, Yahudi, atau pun Taoisme. Dan aku juga bukan orang Atheis!”
“Pastur, anda baca koran ini,” katanya sambil mengulurkan koran yang digenggamnya,”diluar sana banyak orang yang ingin membakar tempat ibadah. Ada beberapa alasan mengapa seseorang merasa perlu untuk membakar tempat ibadah. Pertama, karena mereka tidak ingin ada agama lain di luar agama yang dianutnya. Khalayak ramai pun tahu mengenai fanatiisme yang sempit ini.”
Pemuda itu terus berbicara sambil berjalan kian kemari. Tangannya dilipat kebelakang. Tatapan matanya penuh keyakinan. Sang Pastur memandangnya dalam kebingungan. Orang macam apakah yang sedang kuhadapi ini, pikir Pastur.
“Kedua, karena ada orang yang tidak menyukai ada tempat ibadah di wilayahnya. Ketiga, karena ada orang yang ingin memetik keuntungan dari kekacauan politik akibat konflik agama. Keempat, karena ada orang yang frustasi dan tidak tahu apa yang akan dilakukan dengan kemarahannya. Mereka kemudian ikut-ikutan menghancurkan tempat ibadah hanya untuk melampiaskan kekesalan hatinya.”
“Bagaimana Pastur, alasan-alasan tersebut sangat masuk akal bukan?”
“Ya. Agaknya memang seperti itu. Tapi alasan yang mana yang kauajukan hingga engkau mengajakku untuk membakar gereja ini?”
“Tidak satu pun dari keempat alasan itu yang kupakai, maka aku mengajakmu. Engkau bukan seorang fanatik. Aku yakin meskipun aku meludahi patung Maria di sudut itu, engkau pasti tidak akan marah. Engkau bukan seorang materialis atau pun gila kekuasaan layaknya seorang tokoh spiritual. Engkau juga bukan orang yang bodoh yang tidak tahu apa yang harus dikerjakan untuk Tuhanmu, untuk agamamu dan untuk negaramu.”
“Ya. Tapi aku seorang pastur, tokoh agama, pemuka masyarakat. Apa kata mereka jika aku mengikuti kata-katamu untuk membakar gereja ini?” kata Pastur dengan wajah yang mencoba menerangkan suatu kebenaran.
Pemuda itu menatap Sang Pastur dengan sedih. Matanya berkaca-kaca, tangannya terkepal erat, dan dengan lirih ia berkata,”Aku yakin kalau Pastur tidak tahu bahwa saat ini Tuhan sedang dalam tahanan.”
Pastur menjadi masgul mendengar perkataan Pemuda. Ia mulai mengerti manusia macam apa yang sedang ia hadapi saat ini. Hanya ada tiga jalan untuk menyelesaikan perkara dengan pemuda ini. Pertama, mengajaknya berbicara secara baik-baik untuk mengetahui masalah yang sebenarnya sedang ia hadapi. Kedua, memanggil satpam gereja supaya menyeretnya keluar dan diserahkan ke rumah sakit jiwa. Dan yang ketiga, menendangnya seperti seekor anjing!
Tapi sepertinya Pastur ingin membantu meringankan beban psikologis orang yang membutuhkan pertolongan, seperti yang seharusnya dilakukan oleh para rohaniwan maupun alim ulama.
“Nak, aku memang tidak tahu kalau Tuhan sedang dalam tahanan. Tetapi menurutku sebaiknya engkau kembali ke rumahmu, mungkin ayah ibumu saat ini kebingungan mencarimu, Nak. Biarlah Tuhan membebaskan diri-Nya sendiri. Bukankah engkau tahu bahwa Ia Yang Maha Kuasa?”
“Bagaimana kalau Tuhan keburu mati dalam tahanan sebelum Ia sempat membebaskan diri-Nya?”
Semakin kuatlah keyakinan Pastur bahwa pemuda ini sedang mengalami goncangan jiwa. Sejak kapan Tuhan bisa mati, pikir Pastur. Saat seperti ini menjelaskan adalah satu pekerjaan yang sia-sia.
Hanya orang-orang gila yang tidak bisa menerima sebuah penjelasan akal sehat. Mereka telah kehilangan akal budinya, namun tidak kehilangan pikirannya sehingga mereka bergerak liar mengikuti keliaran otaknya. Mereka sakit namun tidak merasa sakit. Dan jika anda mengingatkan orang gila tentang penyakit yang dideritanya, maka andalah yang akan dikatakan gila. Inilah sebuah fenomena kegilaan!
“Nak, kalau boleh aku membantumu, sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu?”
“Pastur tidak percaya padaku? Percayalah, saat ini Tuhan sedang dalam tahanan. Dan jika kita tidak segera membebaskan-Nya, mungkin Tuhan sebentar lagi mati. Aku sudah mengatakan hal ini kepada banyak orang, kepada para pemimpin agama, kepada tokoh masyarakat. Namun mereka mencemoohku dan menganggapku orang gila!”
“Baiklah kalau Tuhan sedang dalam tahanan, di manakah Ia ditahan saat ini, agar kita dapat segera menolong-Nya.”
Akhirnya Pastur mengikuti jalan liar pikiran Pemuda itu. Mungkin dengan demikian ia dapat mengetahui permasalahan yang sebenarnya, pikirnya.
“Apakah Pastur ingat perkataan salah seorang bajingan yang disalib bersama Yesus?” tanya Pemuda dengan pandangan menerawang.
“Golgota adalah puncak bukit yang gersang. Ratusan manusia telah mati di sana. Menyerahkan daging tubuhnya pada burung-burung bangkai serta meninggalkan tulang belulang pada batu-batu gunung. Maka tempat itu disebut juga Bukit Tengkorak. Dan di situlah Yesus bergantung di kayu salib menunggu saat-saat terakhir bersama dua orang penyamun. Saat itu salah seorang dari penyamun itu berkata, jika Engkau benar Anak Allah turunlah dari salib-Mu dan bebaskanlah aku. Pastur ingat?”
“Ya. Tapi Ia hanya diam saja.”
“Mengapa Ia diam saja? Apakah Pastur tahu arti diam-Nya? Apakah Pastur tahu mengapa Ia tetap bergantung di salib itu?”
Pemuda itu berkata sambil menunjuk Isa Putera Maria penuh kemarahan, namun terbalut kesedihan. Sementara Pastur mulai tersinggung dengan perkataan Pemuda itu.
“Anak muda, apakah engkau berpikir bahwa Tuhan tidak mampu berbuat apa-apa? Ia bisa membebaskan diri-Nya, namun Ia taat untuk menyelesaikan tugas-Nya. Ia mampu berbuat apa saja, termasuk hanya untuk turun dari kayu salib dan membebaskan berandalan pembunuh yang disalib di samping-Nya.”
“Pastur, ketahuilah, sebenarnya Yesus diam karena Ia sudah bosan melayani manusia. Sekian lama manusia mendikte Tuhan, meminta ini, meminta itu. Apa yang telah diberikan manusia kepada-Nya? Manusia telah diberi pinjaman, namun mereka hanya mengembalikan sebagian bahkan mereka menganggap bahwa itu adalah persembahan buat Tuhan. Ketika Tuhan dalam tahanan seperti ini, siapakah yang hendak membebaskan-Nya?”
“Sebenarnya apa yang kauinginkan, Anak muda? Aku jadi bingung mendengar semua perkataanmu. Sejak tadi engkau selalu berkata kalau Tuhan sedang dalam tahanan dan kalau kita tidak segera membebaskan-Nya, mungkin Ia akan segera mati?”
Dengan sedih dan putus asa pemuda itu berkata,” Ya, saat ini Ia sedang sedih dan kecewa. Ia telah ditangkap dan dimasukkan kurungan oleh manusia yang diciptakan-Nya. Tidak seorang pun mendengar rintihan kelukaan-Nya. Ia hanya dijadikan azimat sakti untuk mengabulkan setiap keinginan dan hawa nafsu manusia. Maka, Pastur, segera tanggalkan jubahmu dan mari kita bakar gereja ini. Kita bakar masjid-masjid, pura dan vihara. Kita bakar semua tempat yang digunakan untuk meminta dan menodong Tuhan. Sudah saatnya Tuhan dibebaskan dari tahanan. Sudah saatnya Tuhan dibiarkan untuk berbuat sekehendak hati-Nya.”

“Kita harus bersegera, sebelum Tuhan menemui ajal-Nya!”

Bintaro, Awal April 2003

Sumber diambil dari Kompasiana.

Dewa Kecil Menari

Puisi Agung Triatmoko

Tarian anak jalanan - Sketsa Haryono

Dewa kecil menari
merengkuh debu jalanan dengan tangan-tangan mungilnya
merengkuh hati lewat hati diam
tak bersuara
tak mampu bersuara
tapi lantang menyentuh tiap relung lain

Dewa kecil menari
meletakkan dahaga kasih sayang pada ketipung jalang
menempelkan harapan pada gitar butut pengamen kecil
terserah
jika kau hendak hentikan dahaga
terserah, jika hendak kau pungut harapan
Dewa kecil tetap menari, memejamkan mata, meliuk, menghentak, bagai dewa dusta mengumbar nafsu
menjauh dari resah dan lapar
karena memang hanya itu yang dimiliki sang dewa kecil
Dewa kecil tetap menari

Dari Mana Datangnya Dinasti Tang? (Bagian 2)

Oleh John Kuan

Ilustrasi diambil dari bp.blogspot.com
Membahas reformasi yang dilakukan oleh Kaisar Xiowen sering membuat saya ragu, takut hal ini dapat membawa kesalah-pahaman kepada orang-orang yang terlalu berlebihan mengunggulkan budaya Han. Reformasi yang dilakukan oleh Kaisar Xiowen seakan-akan sekali lagi memberi mereka bukti bahwa budaya Han memang memiliki kedudukan tertinggi. Tentu, dibandingkan dengan suku Xianbei yang baru melangkah keluar dari masyarakat primitif, kebudayaan Han jauh lebih matang. Suku Han yang telah melewati Dinasti Xia, Shang, dan Zhou ini pernah menghasilkan cukup banyak pemimpin-pemimpin yang membawa kemajuan dalam masyarakatnya, kemudian diperkaya oleh filsuf-filsuf pada akhir Dinasti Zhou, dan juga hasil nyata yang gemilang dari Dinasti Qin dan Han, semua ini bukan saja cukup layak menuntun satu suku nomaden yang ingin secara cepat memajukan kebudayaannya, bahkan materinya sudah terlalu berat. Dalam lembaran-lembaran sejarah sangat mudah menemukan suku Han yang setelah ditaklukkan oleh suku lain justru dapat menaklukkan suku tersebut dari sisi budaya.
Sesungguhnya hanisasi yang dilakukan oleh Kaisar Xiowen bukan hanya sekedar mengakui keunggulan budaya Han, tetapi masih ada sebab lain yang lebih realistis. Ketika dia membuka mata melihat dirinya telah diwariskan sebuah kerajaan yang begitu luas, dia merenung sejenak, lalu cepat-cepat mencari alasan lain di luar keunggulan militer sebagai penguasa. Mungkin seperti Iskandar Agung, penakluk Macedonia Kuno yang juga meninggal pada usia tiga puluh dua tahun itu, selalu bersujud di depan altar wilayah-wilayah yang telah ditakluknya. Tujuannya juga untuk mencari alasan penaklukan di luar kekuatan militer.
Ada satu kenyataan yang mesti diperhatikan: Kaisar Xiowen memaksa bawahannya mengadopsi budaya suku Han, tetapi tidak pernah melarang mereka membawa masuk unsur-unsur budaya nomaden yang bersifat terbuka ke dalam budaya Han, atau dengan kata lain, hanya ketika mereka sudah sepenuhnya terhanisasi, unsur-unsur budaya nomaden baru mungkin benar-benar meresap ke dalam budaya Han.
Dia melarang suku Xianbei tidak memakai pakaian Han, tidak menggunakan bahasa Han, tetapi dia tidak melarang orang Han tidak memakai pakaian Han, tidak menggunakan bahasa Han. Sesungguhnya, saat ‘ suku asing ‘ dihanisasi, sebenarnya juga merupakan ‘ proses pengasingan ‘ suku Han. Mungkin ini merupakan suatu bentuk peleburan dua arah dalam satu tubuh.
Sejak Dinasti Wei Utara, banyak sekali budaya suku-suku minoritas di perbatasan utara dan barat diserap suku Han, contoh-contoh nyata begini sangat mudah ditemukan, misalnya alat musik, mulai dari mandolin, seruling, rebana, hingga pipa… seandainya tanpa suara-suara merdu ini, orkestra yang dimainkan Dinasti Tang pasti kehilangan sebagian besar kemegahannya. Hal ini sangat mudah dimengerti jika melihat lukisan-lukisan dinding gua di Dunhuang, atau membaca puisi-puisi Tang. Satu kenyataan adalah budaya Han sejak jaman dulu bukan saja sebagai penyumbang untuk budaya suku lain tetapi juga sebagai penerima atau penyerap budaya suku lain. Dan bukan hanya di bidang musik saja, hampir pada segala bidang mempunyai proses yang hampir sama. Dari ini dapat ditarik kesimpulan, Dinasti Tang, bukan suku Han sendiri yang dapat ciptakan.
Lebih penting lagi adalah adanya suatu daya yang bersifat terbuka dalam budaya nomaden yang dimasukkan ke dalam budaya Han. Daya itu sedikit liar, sedikit dingin, sedikit kasar, sedikit kacau, namun begitu luas, begitu bebas, begitu santai. ” Langit begitu biru, padang begitu luas ” yang belum pernah dirasakan oleh filsuf-filsuf Cina Kuno di atas pedati di sisi sungai, sudah berubah menjadi latar budaya baru. Kebudayaan Cina seperti menunggang kuda lincah di padang rumput, suara cambuk berbunyi, kaki kuda melesat ke depan, menyongsong sebuah masa depan yang penuh daya hidup.
Reformasi ini bukan hanya demikian saja. Sejak Kaisar Xiowen menganjurkan kawin campur antara suku Xianbei dan suku Han, suatu proses pembauran darah begitu lebar terbuka. Dan ini tidak lagi bersifat politis, tetapi lebih merupakan suatu pembauran alamiah. Dari ini kita dapat menguak sebuah rahasia yang terpedam di lapisan yang cukup dalam tentang terbentuknya Dinasti Tang: Klan Li ( 李氏 ), penguasa Dinasti Tang, merupakan kristalisasi dari kawin campur antara suku Xianbei dan suku Han.
Ibu Kaisar Tang Gaozu ( Li Yuan, 566 – 635 ) maupun Kaisar Tang Taizong ( Li Shimin, 599 – 649 ) adalah orang Xianbei. Isteri Li Shimin juga orang Xianbei. Maka, di dalam tubuh Kaisar Tang Gaocong ( Li Zhi, 628 – 683 ) mengalir tiga per empat darah Xianbei dan seperempat darah Han. Sesungguhnya ibu Kaisar Yang dari Dinasti Sui ( 569 – 618 ) juga orang Xianbei, bahkan adalah saudara kandung ibu Li Yuan. Dalam kartu keluarga mereka semuanya tercantum berasal dari ‘ Luoyang, Henan ‘. Kita tahu, nama tempat asal ini merupakan rancangan Kaisar Xiowen. Sampai di sini kita harus sekali lagi mengakui visi Kaisar Xiowen. Dia menggunakan cara yang paling lembut, paling realistis, mengajak sukunya ikut mengambil bagian dalam proses terciptanya sebuah era yang terang dan gemilang.
Sepotong jalan menuju Dinasti Tang yang megah sudah terbuka lebar. Jalan ini awalnya sedikit sempit, sedikit menyimpang, sedikit berbahaya, namun akhirnya menjadi sepotong jalan besar yang memiliki arti yang sangat penting dalam perjalanan sejarah Cina. Ada dua tempat yang paling dapat mewakili telah terbukanya jalan besar menuju Dinasti Tang, yaitu Gua Yungang ( 云冈石窟 ) dan Gua Longmen ( 龙门石窟 ). Gua Yungang berada di Datong, Provinsi Shanxi dan Gua Longmen berada di Luoyang, Provinsi Henan, dua tempat ini sama-sama merupakan ibukota Dinasti Wei Utara. Dua tempat ini dapat dilihat sebagai tanda perpindahan Dinasti Wei Utara.
Sebenarnya saya sangat ingin mendeskripsikan ke dua gua yang pasti akan membuat setiap orang yang memandangnya terpana, namun saya kemudian sadar, di depan ke dua gua ini, kata-kata tidak akan berdaya. Di sini, kita bukan hanya dapat merasakan suatu keindahan yang agung, bertenaga, dan terbuka dari penguasa suku Xianbei, tetapi juga perpaduan yang serasi dari lebih banyak kebudayaan-kebudayaan yang berasal dari tempat yang lebih jauh.
Karena mereka dapat dengan sikap terbuka menerima keunggulan budaya Han, tentu juga akan bersikap serupa terhadap budaya lain. Mereka telah berubah menjadi semacam ‘ busa ‘ yang memiliki daya isap yang tinggi, budaya apapun pasti akan mendapat satu kedudukan di dalamnya. Mereka sendiri agak kekurangan ketebalan budaya, masih belum terbentuk kebudayaan yang rumit dan dalam, kelemahan ini dengan cepat berubah menjadi keunggulan mereka, karena mereka agak jarang menolak ‘ yang lain ‘ kemudian berubah menjadi ‘ tuan rumah ‘ yang memiliki pembauran berbagai macam budaya. Jadi, sebuah perjamuan budaya meriah yang sesungguhnya sudah siap dihidangkan.
Ambil satu umpama untuk hal ini. Misalkan ada sekelompok tetua yang memiliki ilmu pengetahuan yang dalam menetap secara terpencar, ada yang dekat, ada yang jauh, karena latar belakang dan kekuatan masing-masing membuat mereka bersikap saling bertahan. Tiba-tiba dari daerah luar datang seorang anak muda yang sehat dan kuat namun sejak kecil kehilangan kesempatan mencecap pendidikan, terhadap ilmu siapa pun dia menaruh hormat dan menerima, tanpa prasangka, dan memiliki tenaga untuk mengundang ke sana kemari tetua-tetua itu, akhirnya, dengan dia sebagai pusat, tetua-tetua itu pelan-pelan mulai berjalan seiring, ramai sekali.
Anak muda yang sehat dan kuat ini, dialah klan Touba dari suku Xianbei. Perjamuan budaya yang meriah, itulah Gua Yungang dan Gua Longmen.
Perancang dan pemimpin pembukaan Gua Yungang yang paling penting adalah seorang biksu bernama Tan Yao ( 昙曜 ). Dia sesungguhnya adalah biksu yang menetap di Liangzhou ( 凉州 – kini sekitar Wuwei, Provinsi Gansu ), waktu itu Liangzhou merupakan pusat kebudayaan Buddha yang sangat penting. Pada tahun 439, setelah Dinasti Wei Utara berhasil menguasi Liangzhou, sekitar tiga puluh ribu penduduk dan beberapa ribu biksu yang tertawan dibawa ke Pingcheng ( ibukota Dinasti Wei Utara ), banyak dari tawanan itu merupakan perancang dan pemahat batu gua Buddhis, Tan Yao juga termasuk salah satu di antaranya, oleh sebab itu Gua Yungang memiliki corak Liangzhou yang sangat kental. Dan gua-gua Buddhis di Liangzhou merupakan titik bertemunya berbagai kebudayaan, di sana ada kebudayaan India, Asia Selatan, dan Asia Tengah. Maka, Gua Yungang yang melalui peralihan dari gua-gua di Liangzhou, telah mengendap selapis kebudayaan luar yang sangat tua dan jauh. Seni pahat Yunani sangat menonjol di sini, tentu karena pengaruh seni Gandhara, dan itulah perpaduan antara kebudayaan India dan kebudayaan Yunani.
Sebelum Gandhara, seni Buddhis kebanyakan dengan stupa atau bangunan memorial lain sebagai lambang, sejak invasi Iskandar Agung, sekelompok besar seniman yang mengikuti pasukan tentara juga sampai, seni Buddhis mengalami perubahan yang dratis, serangkaian perubahan mulai dari batang hidung, cekung mata, garis bibir hingga lengkung dagu yang khas orang Eropa terjadi, dan perubahan ini menyebar luas masuk ke daerah perbatasan barat Cina, seperti daerah Kucha dan Khotan di Xinjiang. Karena Gua Yungang telah menyerap corak Liangzhou, Kucha, dan Khotan, berarti juga telah menyerap kebudayaan India dan kebudayaan Yunani.
Setelah ibukota Dinasti Wei Utara pindah ke Luoyang, perhatian terpusat pada pembangunan Gua Longmen. Gua ini melanjutkan gaya Gua Yungang, namun merangkul lebih banyak lagi budaya luar, dan perbandingan budaya Cina juga makin meningkat.
Itulah kegagahan Dinasti Wei Utara. Menelan seribu aliran, menerima yang jauh dan dekat, hampir mengumpulkan seluruh intisari dari beberapa kebudayaan besar dan penting di dunia, dilebur dalam satu tubuh, saling berkembang, tumbuh dan bergelora. Kebesaran ini, tiada duanya, oleh sebab itu, Dinasti Tang sudah sangat dekat.
Dinasti Tang dapat menjadi sebuah jaman keemasan, tepat karena dia tidak murni. Sepanjang sejarah tidak sedikit cendekiawan yang ingin mencari kemurnian sebuah kebudayaan, di dalamnya termasuk bahasa, begitu juga para cendekiawan Cina. Sesungguhnya, terlalu murni akan berubah jadi sesuatu yang terbuat dari kaca, biarpun tiap hari digosok hingga mengkilap dan tembus pandang, tetapi tetap tidak dapat mengubah dirinya yang kecil, tipis, dan rapuh. Dan mungkin suatu hari, karena agak kuat menggenggamnya sewaktu menggosok sehingga dia hancur berkeping, dan kepingan itu juga sangat mungkin melukai tangan. Apalagi, kaca juga merupakan senyawa kimia, bagaimana dapat dikatakan benar-benar murni?
Dinasti Wei Utara menggunakan seluruh dayanya mempersiapkan Dinasti Tang yang tidak murni. Karena tidak murni maka jalan itu berubah menjadi lebar dan terbuka, dan di sisinya masih ada dua pintu gua batu yang megah, ini adalah satu jalan besar yang disusun dari potongan-potongan batu keras, membentang di antara langit dan bumi. Jika dibandingkan, maka setapak kebudayaan yang tersembunyi di dalam gulungan kertas yang tersimpan di dalam perpustakaan, tampak terlalu sepele.
Di sekitar jalan besar ini, semua kebudayaan yang memiliki daya hidup pasti akan mendekat, ini adalah gambaran kebudayaan yang penuh warna dan hidup. Kadang-kadang kita hanya dapat mengeluh saat melihat banyak kebudayaan yang sesungguhnya sudah terbentang sepotong jalan lebar menuju kejayaan, namun begitu saja dikuburkan, hanya karena tidak dapat menerima perbedaan. Manusia selalu begitu, terlalu pintar, setelah menciptakan kebudayaan sendiri, kemudian menjadi sangat peka dan menarik garis pembatas dengan kebudayaan lain. Akibatnya, karena ingin melindungi diri sendiri akhirnya terjerumus menjadi mengekang diri sendiri. Seandainya kita melepaskan kepintaran ini, seluruh pemandangan akan menjadi berbeda, dengan demikian, saya rasa sudah sampai di depan gerbang megah Dinasti Tang.

Baca sebelumnya:
Dari Mana Datangnya Dinasti Tang? (Bagian 1)

Informasi Lomba Cerpen RetakanKata

Semarak Lomba Cerpen RetakanKata masih terus berlangsung. Sampai saat ini, 29 Januari 2012, sebanyak 315 orang mendaftarkan diri sebagai peserta, dan 100 karya sudah masuk ke panitia. Pendaftaran lomba masih terbuka sampai dengan tanggal 5 Februari 2012. Mengenai cara mendaftarkan diri, bisa dilihat di sini atau di sini. Batas akhir pengiriman naskah tanggal 10 Februari 2012. Tata cara pengiriman naskah dapat dilihat di sini dan di sini. Terima kasih atas partisipasinya.
Mengingat banyaknya peserta dan naskah yang masuk, tidak memungkinkan bagi panitia untuk melakukan update informasi setiap saat dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama berulang-ulang di blog ini dikarenakan teknis website yang menganggap pertanyaan dan jawaban yang sama sebagai SPAM. Terkait dengan hal tersebut, maka sangat diharapkan agar teman-teman melihat dan membaca posting-posting yang ada di PAGE FACEBOOK RetakanKata (Blog Seni dan Budaya).
Sekali lagi terima kasih atas kerja sama dan partisipasi sahabat semua. Selamat Berlomba!

Negara di Bawah Bayang-bayang Ranjang

Gerundelan Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi diunduh dari kompas.com

Sebenarnya saya cukup ragu menggunakan judul di atas. Mungkin akan lebih menarik jika berjudul “Negara Seluas Ranjang”. Tapi judul demikian akan terbaca terlalu satire dan tampak seperti mengarah pada satu ranjang saja. Bisa jadi pembaca menginterpretasikan sebagai ranjang Presiden saja. Ingatan pembaca seolah dikembalikan pada rumor pernikahan Pak Beye sebelum masuk Akabri. Padahal ingatan publik akan pernikahan Edhie Baskoro Yudhoyono dan Siti Aliya Radjasa belum lama ini, masih cukup hangat. Sebagian pengamat menyebut pernikahan tersebut sebagai pernikahan politik yang tentu saja dibantah Presiden (Republika, 22 November 2011). Bantahan Pak Beye pantas dimaklumi mengingat kesulitan awam membayangkan apa yang disebut pernikahan politik sebab sebenarnya memang tidak mudah mengawinkan ideologi.
Awalnya adalah Michael Foucault yang memberi istilah “tubuh adalah politik karena seks” pada wacana seks dan kekuasaan. Sebagaimana ditulis Haryatmoko (2010), Foucault memaparkan bahwa kekuasaan yang berfungsi mengatur kehidupan, memiliki tanggung jawab atas kehidupan sehingga memberi akses pada kekuasaan untuk masuk sampai pada tubuh. Dalam konteks demikian, tubuh bukan menjadi sesuatu yang penting jika tidak terdapat unsur seks. Kekuasaan menggunakan seks untuk mempolitisasi tubuh demi kekuasaan itu sendiri. Tanpa seks, tubuh bukanlah politik sebab yang demikian tidak menunjukkan tanggung jawab kekuasaan atas keberlangsungan kehidupan. (Catatan penulis tubuh di sini bisa saja tubuh lelaki atau tubuh perempuan). Penjelasan Foucault atas fenomena tersebut menarik untuk diperbincangkan terkait fenomena keindonesiaan akhir-akhir ini terutama bahwa pernikahan Ibas dan Aliya mendapatkan konteksnya. Tanpa ketertarikan seksual antara Ibas kepada Aliya atau sebaliknya, maka dapat dikatakan pernikahan Ibas dan Aliya memperoleh justifikasi sebagai pengawinan politik untuk kekuasaan semata.
Seharusnya, awal tulisan ini saya cantumi definisi seks terlebih dahulu. Mungkin saya cantumkan definisi menurut kamus besar bahasa Indonesia yang memberi definisi seks sebagai alat kelamin atau sebagai suatu hal yang berhubungan dengan kelamin atau sebagai birahi. Tetapi definisi-definisi tersebut masih belum cukup jelas menjelaskan “tubuh adalah politik karena seks”. Beberapa artikel terkait dengan seksual seperti pelecehan seksual, kuasa seks, paradok seks dan di beberapa artikel lain belum saya temukan penjelasan yang memuaskan mengenai seks. Dengan demikian saya tidak mencantumkan definisi seks sebab saya beranggapan definisi utuh serta berterima umum mengenai seks belum saya temukan.
Dengan ketidakpahaman secara utuh tentang seks, bagaimana saya harus menjelaskan keberadaan “tubuh adalah politik karena seks” pada fenomena menarik seperti pertarungan pilkada Bupati Kediri antara istri tua, Haryanti, dengan istri muda, Nurlaela, pada tahun 2010 lalu. Sebelumnya, kita ingat Rano Karno dan Dede Yusuf berhasil memenangkan pilkada. Jujur, andai mereka tidak ganteng dan seksi di mata pemilihnya, saya tidak begitu yakin mereka akan memenangkan pilkada sebab saya belum pernah membaca tulisan pemikiran Rano Karno maupun Dede Yusuf. Saya juga belum pernah membaca tulisan pemikiran Julia Peres, Inul Daratista dan Ayu Azhari yang mencoba peruntungan menjadi pejabat daerah. Absennya pemikiran dari para artis seksual tersebut seperti menjelaskan kepada publik bahwa mereka sedang mempolitisasi tubuh untuk mendapat kekuasaan. (Atau malah sebaliknya, seks menunjukkan kekuasaannya dengan menaklukkan kalkulasi-kalkulasi politik?)
Bagi kaum pembela hak-hak politik perempuan fenomena tersebut mungkin dianggap sebagai salah satu kemajuan emansipasi serta kesetaraan gender dalam hukum, politik dan kekuasaan kepemerintahan. Persoalannya, seksi pada dasarnya bukan monopoli kaum perempuan. Bisa jadi kemenangan Rano Karno, Dede Yusuf dan Dicky Chandra pun adalah karena keseksian mereka. Mengapa yang dikaitkan dengan keseksian mesti harus perempuan?
Bagi politisi tulen, tanpa daya tarik seksual mereka, tubuh-tubuh tersebut tidak menghasilkan keuntungan apapun. Tubuh-tubuh yang berpolitik tanpa comparative advantage. Adanya daya tarik seksual membuat mereka mampu melakukan penaklukan terhadap pakem politik yang lazim meski tentu saja tidak dapat dihindari perebutan kekuasaan antara politik dan seks itu sendiri. Untuk mengukur seberapa kuat daya tarik seks para calon bupati dan wakil bupati tersebut, mungkin dapat dilakukan dengan mengukur seberapa kuat competitive advantage antar mereka. Pada titik ini, apa yang disampaikan Foucault bahwa kapitalisme membutuhkan tubuh yang dapat dikontrol untuk produksi, kembali menemukan konteksnya.
Tetapi tulisan ini akan melenceng terlalu jauh dari pokok permasalahan semula tentang negara yang di bawah bayang-bayang ranjang jika memasuki kajian mana yang lebih kuat antara seks dan politik pada kekuasaan, terlepas dari rerangka kekuasaan kapitalisme yang mungkin tidak terlalu peduli mana yang lebih kuat, sepanjang tetap menghasilkan keuntungan maksimal bagi pemilik modal, itu bukan masalah urgen. Dengan kata lain, siapa yang mampu mengontrol tubuh, ia akan memperoleh keuntungan maksimal. Dan seksualitas berkali-kali tampaknya merupakan alat paling efektif dan efisien untuk melakukan kontrol tubuh. Pembicaraan di ranjang bisa jadi bermuara pada munculnya berbagai kebijakan di ranah publik. Pembicaraan para politisi dengan istrinya. Atau pembicaraan istri pertama dengan istri kedua. Atau pembicaraan para politisi dengan istri simpanannya. Atau pembicaraan entah dengan siapa yang kebetulan tidur satu ranjang. Dan di ranjang-ranjang yang tersembunyi, publik tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dibicarakan yang kemudian juga bisa jadi kebijakan yang sulit terpahami publik. Ketika kisah ranjang tersebut terkuak, kriminalisasi terhadap perempuan biasanya yang lebih dulu dilakukan.
Ambil contoh misalnya kasus Bill Clinton dan Lewinsky. Publik Amerika yang diperkenalkan sebagai negara dengan seks bebas dan bertanggung jawab, tetap lebih memilih agar Clinton mengakui perbuatan yang tidak patut. Mereka “hanya” menginginkan presidennya tidak berbohong. Tetapi, sejauh pengetahuan penulis, publik Amerika tidak menanyakan adakah kebijakan publik yang dipengaruhi kedekatan Clinton dengan Lewinsky.
Kita lihat kemudian kasus yang terjadi di Indonesia. Kasus Yahya Zaini, kasus bupati Pekalongan Qomariyah-Wahyudi, termasuk fenomena-fenomena politik yang telah disebutkan sebelumnya seperti pemilihan bupati Kediri, pencalonan Julia Perez, Inul dan Ayu Azhari. Publik lebih menyukai pewacanaan seks yang ada pada kasus-kasus tersebut tetapi abai pada substansi siapa sebenarnya pengambil keputusan yang nantinya akan berdampak luas. Pewacanaan seks ini lebih sering berujung pada kriminalisasi perempuan daripada, minimal menuntut politisi untuk tidak berbohong mengakui perbuatannya. Mengakui bahwa mereka takluk pada seks. Yang cukup mengkhawatirkan adalah apabila ternyata kriminalisasi perempuan merupakan bentuk balas dendam dari setiap kekalahan kekuasaan lelaki atas ranjang. Sayangnya, belum ada penelitian empiris tentang berbagai pertanyaan tersebut.
Dari uraian-uraian sebelumnya, saya ingin menyimpulkan bahwa terdapat kemungkinan bahwa kekuasaan dalam konteks kepemerintahan sebuah negara bisa jadi bukan tersebab oleh politik melainkan oleh dominasi seks. Dominasi tersebut tidak saja pada tataran konkrit yang kasat mata tetapi juga pada tataran abstrak imajinasi para pelaku atau obyek-obyek seks yang menjadi sasaran kekuasaan. Bayangkan perebutan kekuasaan atas kontrol tubuh itu terjadi di ranjang-ranjang para politisi kita. Bayangkan daya tarik seks Julia Peres, Inul dan Ayu Azhari menguasai imajinasi para pemilih yang kemudian dibawa keranjang kapan pun mereka mau. Emansipasi perempuan pada ranah politik mungkin saja melangkah maju, tetapi istri-istri atau perempuan-perempuan yang hak-hak seksualnya tidak terpenuhi adalah kemunduran di sisi lain.
Pada konteks pemikiran sebagaimana diuraikan di atas, pada akhirnya, baik buruknya sebuah negara, maju tidaknya sebuah negara, akan bergantung pada siapa yang menguasai ranjang. Dan celakanya, entah lelaki atau perempuan yang menguasai ranjang, pemenangnya adalah tetap kapitalisme. Mungkin kaum perempuan harus berpikir ulang perjuangan untuk kaum mereka yang sesungguhnya. Atau setidaknya, kita harus berpikir ulang tentang relevansi daya tarik seksual untuk memperoleh kekuasaan di satu sisi, dan berpikir tentang relasi seks dan kekuasaan dengan kapitalisme di sisi lain.

WITCHBLADE | the movie

Resensi Rere ‘Loreinetta

Witchblade adalah senjata mistis yang memberi kekuatan super bagi para pemakainya – seorang wanita untuk setiap generasi .
Dari generasi ke generasi, para wanita pejuang pemilik Witchblade selalu menggunakannya untuk menghancurkan kejahatan yang mengancam kemanusiaan. Pemegang senjata mistis ini harus juga melawan kekuatan kegelapan yang sangat menginginkan kekuatan Witchblade .
Daftar pengguna Witchblade sangat panjang dan terdiri dari beberapa wanita yang paling terkenal dalam sejarah kita, di dalamnya termasuk Cleopatra dan Joan of Arc.
Cleopatra adalah seorang Ratu Mesir kuno, anggota terakhir dinasti Ptolemeus. Sedangkan Joan of Arc) adalah pahlawan negara Perancis dan orang suci (santa) dalam agama Katolik.
Namun menjadi pemilik Witchblade juga memiliki resiko sangat besar karena jika tidak hati-hati atau kuat mentalnya akan bisa menjadi budak senjata hidup yang mempunyai pikiran yang tidak selalu sejalan dengan pemiliknya.
Itulah yang digambarkan dalam film aksi laga hasil besutan sutradara Ralph Hemecker pada tahun 2000 yang berdasarkan komik karya Marc Silvestri yaitu “Witchblade”.
Selama beberapa dekade terakhir ini Witchblade tidak muncul di dunia, namun kini pada awal abad ke-21 ini Witchblade telah memilih pemilik barunya dan maka perang antara kebaikan dan kejahatan pun dimulai.
Kisahnya dimulai pada suatu hari ketika Detektif Polisi NYPD Sara Pezzini (Yancy Butler) bersama mitranya Danny Woo menyelidiki kematian teman Sara semasa kecil.
Ketika mengejar pembunuh temannya hingga ke sebuah museum, Sara menghadapi kenyataan pahit karena mitranya tewas. Bahkan Sara hampir saja tewas jika ia tidak mengenakan Witchblade yang tersimpan di museum.
Ketika pembunuh menembaknya, Witchblade yang tersimpan dalam kaca pecah terkena peluru pembunuh, terjadi kejadian aneh karena Witchblade secara ajaib mendadak sudah dikenakan (terpakai) Sara sehingga berhasil memantulkan peluru yang menuju ke arahnya.
sebelumnya memang Sara seperti terhipnotis oleh keberadaan waitchblade yang ternyata mempunyai mata merah yang bisa terbuka dan tertutup. Belum habis keheranan Sara, ia menemukan mitranya tergeletak tewas tanpa bisa ditolongnya.
Kemarahan dan kesedihan Sara ternyata membuat senjata Witchblade-nya menjadi hidup dan menunjukkan angkara murkanya sehingga anak buah pembunuh Danny pun tewas mengenaskan. Sara tentu saja terkejut karena tidak menyangka senjata barunya memiliki pikiran sendiri tanpa bisa dikendalikannya.
Kini Sara harus belajar bagaimana mengendalikan Witchblade agar tidak bertindak semaunya. Selain itu muncul dua pria misterius yaitu Ian Nottingham dan majikannya Kenneth Irons yang memiliki kaitan erat dengan Witchblade itu.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Siapakah Ian Nottingham dan Kenneth Irons yang begitu menaruh perhatian terhadap Sara?

Title: Witchblade
Director:Ralph Hemecker
Actors: Yancy Butler, Eric Etebari, Anthony Cistaro, Will Yun Lee, David Chokachi
Studio: Warner Home Video
DVD Release Date: July 29, 2008
Run Time: 1122 minutes

Data Sumber: Amazon.com

Dari Mana Datangnya Dinasti Tang? (Bagian 1)

Oleh John Kuan

Ilustrasi diambil dari bp.blogspot.com
Sebelum melanjutkan terjemahan puisi-puisi Dinasti Tang, saya ingin menulis satu dua hal yang berhubungan dengan latar belakang sejarah dan kebudayaan masa itu, catatan-catatan ini dapat dibaca sebagai lampiran untuk puisi-puisi Dinasti Tang yang pernah saya terjemahkan ataupun yang akan diterjemahkan. Catatan pertama ini akan menelusuri sepotong jalan yang cukup panjang menuju satu masa keemasan dalam sejarah Cina, yaitu Dinasti Tang.
Dari arah dan jalan mana Cina menuju Dinasti Tang? Sebagian besar cendekiawan berpendapat, hanya perlu mengikuti jalan budaya Cina yang sudah tersedia, cepat atau lambat pasti akan sampai di masa keemasan itu. Namun, kenyataannya mungkin tidak demikian. Jalan menuju jaman keemasan yang seperti Dinasti Tang memerlukan suatu kekuatan yang dashyat dan terbuka. Kekuatan ini juga pernah dimiliki Dinasti Qin dan Han, namun Dinasti Qin terlalu banyak menghabiskannya dalam intrik-intrik politik istana dan proyek-proyek raksasa, sedangkan Dinasti Han menghabiskannya dalam enam puluh tahun peperangan melawan suku Xiongnu di perbatasan, akhirnya dengan kesombongan dan kemewahan yang berlebihan telah menyebabkannya terpecah belah dan megap-megap. Walaupun Dinasti Wei (220 – 265) dan Dinasti Jin ( 265 – 420 ) terus berusaha menyusun kembali kekuatan melangkah ke arah terang, tetapi itu adalah sebuah jaman kegelapan, dengan setitik cahaya lemah dari para cendekiawan yang cenderung misterius seperti Tao Yuanming atau Wang Xizhi, bagaimana dapat menembus setapak yang gelap dan berkabut itu? Jadi bagaimana dalam keadaan begini dapat menciptakan sebuah jaman yang megah seperti Dinasti Tang?
Kekuatan yang diperlukan untuk membuka sebuah jaman keemasan sudah tidak mungkin lagi dihasilkan istana ataupun dunia cendekiawan, kekuatan itu hanya mungkin berasal dari alam terbuka. Kekuatan alam terbuka, juga dapat disebut kekuatan liar, sesuatu yang belum menyentuh peradaban. Apakah mungkin suatu kekuatan liar dapat ikut membangun sebuah puncak kebudayaan besar? Ini sangat tergantung apakah dia dapat dengan cepat memasuki peradaban. Seandainya demikian, maka kekuatan liar itu akan dapat menopang seluruh peradaban yang dimasukinya.
Tepat pada waktu itu Cina mendapat satu kekuatan liar begini, kekuatan ini berasal dari Donglu, bagian paling utara Pergunungan Khingan Agung di daerah Mongolia. Di sana hidup orang-orang nomaden yang disebut suku Xianbei, di antaranya ada satu klan yang agak menonjol, yaitu klan Tuoba. Setelah suku Xiongnu terpencar ke arah barat dan selatan dalam penaklukan Kaisar Han Wudi (156 SM – 87 SM), klan Tuoba datang ke tanah suku Xiongnu yang semula, dengan kekuatannya memaksa orang-orang Xiongnu yang tersisa beraliansi, mengalahkan suku-suku lain, menjadi yang terkuat di daerah utara, kemudian di ujung abad ke-4 mendirikan sebuah kerajaan di Pingcheng ( kini terletak di Datong, Provinsi Shanxi ). Atas saran seorang suku Han, nama kerajaannya diubah menjadi ‘ Wei “, ini untuk menunjukkan bahwa dia telah menerima kekuasaan dari klan Wei jaman Sanguo ( Samkok ) dan resmi memasuki sejarah Cina, catatan sejarah menyebutnya Dinasti Wei Utara. Dan setelah melalui peperangan dan penaklukan selama setengah abad, Dinasti Wei Utara telah selesai menyatukan seluruh daerah perairan Sungai Kuning.
Kemenangan, serta meluasnya teritori kekuasaan yang dibawa oleh kemenangan telah membuat pemimpin suku Xianbei yang mendirikan Dinasti Wei Utara terpaksa harus terlibat dalam pemikiran-pemikiran tentang kebudayaan. Persoalan yang paling jelas adalah: Suku Han telah dikalahkan, dapat diberdayakan, namun, yang diwakili suku Han adalah peradaban agraris, dan ini tidak dapat begitu saja diberdayakan oleh aturan-aturan peradaban nomaden. Ingin efektif memerintah sebuah peradaban agraris, tentu harus menekan kekuasaan absolut, melaksanakan sistem persamaan tanah ( 均田制 ), sistem pencatatan kartu keluarga ( 户籍制 ), sistem pembayaran pajak ( 纳税制 ), sistem pembagian wilayah, dan sistem-sistem ini masih menyeret serangkaian perubahan besar dalam cara hidup dan bentuk kebudayaan. Mereka dapat memilih tidak melakukan perubahan, menelantarkan tanah subur delta Sungai Kuning menjadi tanah berburu, bersama-sama mundur ke jaman primitif; atau memilih melakukan perubahan, membiarkan kebudayaan suku yang telah dikalahkan mengalahkan mereka, bersama-sama maju menuju peradaban baru.
Orang-orang bijak suku Xianbei dengan tekad dan keberanian memilih dikalahkan. Ini tentu harus menghadapi berbagai rintangan dari lingkup dalam mereka. Jiwa kesukuan yang tertutup dan angkuh serta rapuh, berkali-kali berubah jadi pembunuhan brutal. Banyak juga suku Han yang menjadi pejabat di sana mati dengan mengenaskan. Namun, sejarah memihaknya, Langit memberkati, sepotong jalan revolusi penuh bercak darah itu akhirnya dapat menembus satu kesimpulan: Hanisasi (Saya lebih suka menggunakan kata yang saya buat sendiri ini daripada Sinifikasi – kurang lebih artinya mengadopsi kebudayaan suku Han). Sekitar ujung abad ke-5 Masehi, dimulai oleh Ratu Feng (442 – 490) dan dilanjutkan Kaisar Xiaowen (467 – 499), serangkaian penerapan hanisasi dilaksanakan dengan keras dan efektif. Terlebih dahulu diterapkan pada sistem pemerintahan dan sistem pertanian, kemudian perubahan-perubahan ini dengan cepat didorong ke arah kebudayaan.
Pertama, memindahkan ibukota ke arah selatan dari Pingcheng (Datong, Provinsi Shanxi) ke Luoyang di Henan. Alasannya adalah kampung halaman di utara lebih cocok ‘ pemerintah militer ( 武功 ) ‘ ala nomaden, dan daerah selatan akan lebih cocok menerapkan ‘ pemerintah sipil ( 文治 ) ‘. Dan yang dimaksud ‘ pemerintah sipil ‘ di sini adalah sepenuhnya menerapkan sistem pemberdayaan masyarakat orang Han.
Kedua, dilarang menggunakan bahasa suku Xianbei, seluruhnya menggunakan bahasa Han. Pejabat-pejabat yang telah berumur diijinkan satu masa adaptasi, dan bagi pejabat muda dibawah tiga puluh tahun jika masih menggunakan bahasa suku Xianbei, segera diturunkan pangkat dan dihukum.
Ketiga, meninggalkan pakaian adat dan pernak-pernik suku Xianbei, menerapkan tatacara dan aturan berpakaian suku Han.
Keempat, orang-orang suku Xianbei yang telah pindah ke Luoyang, seluruhnya mengubah tempat asal menjadi ‘ Luoyang, Henan ‘, setelah mati dikuburkan di Bukit Mang ( 邙山 ) di sisi utara Luoyang.
Kelima, nama klan suku Xianbei diubah menjadi marga suku Han yang satu kata.
Keenam, menerapkan tatacara li ( 礼 – di sini mungkin bisa diartikan sebagai ritual ) suku Han untuk menggantikan cara-cara lama penyembahan suku Xianbei.
Ketujuh, menganjurkan kawin campur antara suku Xianbei dan suku Han, ditentukan harus dimulai oleh bangsawan suku Xianbei, kawin campur dengan golongan terpelajar suku Han.

……

Begini banyak perintah, dikeluarkan oleh seorang penguasa minoritas yang kuat menggenggam tampuk kekuasaan, dan di sekelilingnya tidak ada yang mendesaknya melakukan semua ini, memang dapat membuat orang terhenyak. Saya rasa, ini bukan hanya di Cina, bahkan di dunia juga sangat jarang terjadi.
Perlawanan yang keras dan penuh amarah terhadap hal ini dapat dengan mudah kita bayangkan, semua perlawanan itu berentetan, penuh semangat, berhubungan dengan harga diri suku. Bahkan melibatkan anggota keluarga Kaisar Xiowen dan putra mahkota. Hukuman dari Kaisar Xiowen terhadap perlawanan ini juga sangat kejam, samasekali tidak memberi kesempatan.
Ini sudah sedikit menyerupai tokoh dalam drama Shakespeare. Sebagai penerus penguasa minoritas, dia pasti merasa bangga dengan leluhurnya, tetapi dia juga yang harus mengeluarkan perintah-perintah melepaskan tradisi leluhurnya. Terhadap hal ini, dia berusaha keras menahan penderitaan batin. Namun karena sangat menderita dan pahit, maka dia memilih perubahan yang tuntas, tidak membiarkan dirinya dan bawahannya ragu dan goyang. Dia menghukum setiap perlawanan persis seperti dia menghukum dirinya yang satu lagi.
Raja sebelumnya, Touba Gui ( 拓拔珪, yang bergelar Kaisar Daowu – 道武帝, 386 – 409 ) yang pertama kali menggagas hanisasi, dan karena pergolakan batin yang sama menyebabkan dia mengalami kekacauan pikiran, berbicara sendiri, berubah jadi beringas, sesuka hati membunuh bawahannya. Ini mungkin merupakan akibat yang pasti akan terjadi dari proses penggabungan dua budaya atau cara hidup yang sangat berbeda. Proses begini biasanya berlangsung ratusan tahun atau kadang-kadang bahkan sampai ribuan tahun baru selesai. Namun mereka memaksa menekan menjadi puluhan tahun, oleh sebab itu, sejarah sendiri saja dibuatnya limbung dan hampir pingsan.
Kaisar Xiowen meninggal di tahun penutup abad ke-5, namun, usianya hanya tiga puluh dua tahun. Kaisar Xiowen yang bernama Tuoba Hong ( 拓拔弘 ) ini hanya tiga puluh dua tahun di dunia dan ternyata telah melakukan begitu banyak perubahan-perubahan besar, benar-benar sulit dipercaya. Dalam catatan resmi dia naik tahta pada usia empat tahun, di atas tahta selama dua puluh delapan tahun, namun kenyataan adalah neneknya, Ratu Feng yang mengendalikan seluruh urusan negara. Setelah Ratu Feng meninggal dunia, dia sudah berumur dua puluh tiga tahun, jadi, dia secara mandiri memerintah hanya sekitar sembilan tahun.
Ini adalah sembilan tahun yang luar biasa. Walaupun ketegasan dan keberaniannya telah membawa akibat kekacauan politik yang rumit setelah dia meninggal. Tetapi, serangkaian perubahan-perubahan yang sangat mendalam terhadap kehidupan dan kebudayaan sudah sangat sulit berbalik arah lagi, dan inilah hal yang paling penting. Dia menggunakan sembilan tahun mendorong Cina bagian utara memasuki satu titik kebudayaan yang sangat menentukan arah perkembangan kebudayaan Cina. Oleh sebab itu dia adalah seorang Kaisar yang sangat berhasil dalam sejarah suku Xianbei, atau sejarah Dinasti Wei Utara maupun sejarah Cina secara keseluruhan. Saya kira dialah orang yang melakukan reformasi kebudayaan dalam arti yang sebenarnya.

Dari Mana datangnya Dinasti Tang? (Bagian 2)

Tentang Engkau

Puisi Ragil Koentjorodjati

ilustrasi diunduh dari google
Aku membebaskanmu,
serupa bibir pantai melepas resah,
dari berjuta rasa yang dilesakkan kecupan ombak,
meski cecamar membisik: jangan!

Aku membebaskanmu,
sebebas petualang membawa hati terbang,
membadaikan rasa: jatuh-melayang-jatuh-mengawang,
meski sekeping diri terbawa, entah ke mana menuju.

Aku membebaskanmu,
sebebas kehendak mempermainkan tulus cinta,
hingga saat musim hujan tiba, aromaku akan bersamamu,
mengingat perih batin mengering di hari bergerimis yang setiap rintiknya adalah basah

Dan ketika semua kausadari,
betapa waktu mampu mengubah cinta,
kita bukan lagi manusia yang sama.
:bukankah sepenggal kata yang telah terucap tak mungkin ditarik kembali?

25/01/2012

DI MANA?

Puisi Rere ‘Loreinetta
berada di mana engkau, belahan jiwaku?
adakah sedang berada di sempit ruang kecil sucimu
tempat engkau biasa berkeluh kesah pada dinding
atas semua bias sinar kelabu rona kehidupan
yang kadang tak berpihak padamu?

berada di mana engkau, jiwa kembarku?
adalah sedang berada di indah taman bunga hatimu
tempat engkau berdendang riang bersuka cita
nikmati semua keceriaan warna kehidupan
yang sesekali memberimu kesenangan?

berada di mana engkau, sahabat jiwaku?
atau engkau sedang berbicara pada alam semesta
di tengah padang sabana hatimu sendiri
tentang cinta dan kecintaan yang menyertai
halusinasi dan bayang khayalmu?

berada di mana engkau, pasangan jiwaku?
adakah engkau terbangun di malam sunyi sepi,
biarkan angin menelusup kisi-kisi jendela jiwamu
bawakan luapan gejolak kerinduan dan sepotong
cinta dariku yang senantiasa memandangmu
pastikan engkau ukir wajahku dalam kenanganmu?

berada di mana engkau, kekasih jiwaku?
masihkan di tempat semula menantikanku
yang terdiam dalam kacaunya kehidupan yang
menjebloskan paksa aku ke dalam hidupmu?

Puisi-puisi Ragil Koentjorodjati

1. Semu
padaku kaukatakan,
:aku cinta padamu.
padamu kukatakan,
:kamu cinta padamu.

2. Cemburu
tuhan,
ada batu di hatiku,
warnanya ungu,
siap kulempar ke arahmu,
sejak kutahu kaumampu berbuat sesukamu.

3. Jarak
antara dua hati yang begitu lekat,
kaubentangkan jarak,
hanya diam dan hitam dan rindu dan dalam
hingga kita tidak tahu,
hati siapa yang sedang beranjak pergi.

4. Gerhana
gerhana bulan di luar sana?
oh? sudahlah!
cukup lama aku melupakannya.
sejak gerhana hati di dalam sini.

5. Lelah
setangkai kembang,
sebotol bir,
alkitab,
sebatang pisau,
selembar kafan,
doa,
:tuhan, aku lelah

setetes darah,
sepucuk wasiat,
dangdut,
:lebih baik aku mati di tanganmu daripada aku mati bunuh diri

catatan:
baris terakhir puisi lelah diambil dari lagu Muchsin Alatas.

Karena Setiap Kata Punya Makna