Semua tulisan dari Ragil K

Sebuah titik di jagat semesta.

Pasir Panjang

Cerpen Weny Widianti

pantai singkawang
ilustrasi dari univpancasila.ac.id
Berdiri di Pasir Panjang memang mengasyikkan. Sekedar untuk menantang angin laut yang berhembus, menerbangkan helai-helai rambut dan mengobrak-abriknya dengan sukses. Cukup membuat mata pedas dan mengeluarkan air. Atau bermain dengan ombak Selat Karimata yang berbuih pelan. Desirannya mengalun lembut merasuki jiwa. Dasar laut yang beriak tergulung laju ombak, begitu juga pasir putih yang terhampar luas di tepian pantai. Ada banyak goresan pasang surut laut di sana. Jika diperhatikan butiran-butirannya yang halus seakan terikat satu sama lain oleh asinnya air laut.
Sigit sedang berdiri di sana, menghadap matahari yang pelan-pelan sedang turun ke peraduannya di ufuk barat. Setiap hari Sigit melakukan ini. Sejak menginjakkan kaki di Singkawang, melepas kepergian matahari merupakan kegiatan favoritnya seolah-olah dia sedang melaporkan diri bahwa kehidupannya hari ini telah bergulir. Tiap kali Sigit datang ke Pasir Panjang, dia akan berdiri berlama-lama menatap sinar matahari. Dia akan merentangkan tangannya lebar-lebar sambil memejamkan mata. Dia tak peduli pada orang lain yang membicarakan tingkah anehnya dengan berbisik-bisik. Bisa juga dia berjalan menyusuri Pasir Panjang sementara kakinya mempermainkan air. Terkadang dia duduk, tangannya meraup-raup pasir dan berusaha membuat gunungan tak jelas. Barangkali dia ingin meniru gaya orang bule yang membuat istana pasir, tapi yang terjadi malah gundukan rumah keong yang abstrak. Sigit selalu menertawakan hasil karyanya itu.
Banyak orang hilir mudik di Pasir Panjang. Sepasang kekasih yang bergandengan tangan atau berpelukan mesra menjadi pemandangan yang biasa. Anak-anak kecil hingga remaja berlarian seraya berteriak-teriak. Suara lantang mereka mengalahkan suara ombak. Para orangtua yang mengajak anak-anak mereka jalan-jalan tampak sibuk mengawasi buah hati mereka yang sedang bermain pasir. Sesekali terdengar teriakan seru mereka ketika menemukan keong, siput atau kepiting di antara lubang-lubang kecil di pasir.
Sigit tidak peduli. Bila dia memperhatikan semua orang yang bertingkah segala rupa itu, dia akan teringat rumahnya di Tuban, sebuah kota kecil di pesisir pantai utara Jawa. Pemandangannya tak jauh beda dengan Singkawang. Sepanjang jalan yang akan ditemukan adalah laut. Melihat para orangtua dan putra putrinya, dia teringat pada kedua orangtua dan adik-adiknya. Sigit terpaksa meninggalkan mereka untuk merantau di Singkawang, bertugas demi negara. Konsekuensi menjadi pegawai negeri sipil adalah demikian, mesti bersedia berpisah dengan keluarga untuk ditempatkan di seluruh wilayah negara Indonesia. Tidak mudah memang. Berkali-kali Sigit menahan tangisnya agar tidak pecah sebab menahan rindu pada orang-orang di kampung halamannya.
“ Mas Sigit, kapan pulang?,” tanya Dika, adiknya yang paling kecil, pada waktu Sigit menelpon ke rumah.
“ Nanti kalau lebaran, Mas Sigit pulang ke rumah,” jawab Sigit lembut.
“ Bagaimana pekerjaanmu disana?,” tanya bapaknya.
“ Lancar, Bapak. Alhamdulillah tidak ada halangan.”
“ Kamu tidak mengajukan pindah kemari, Git?” kata ibunya.
Sigit tersenyum pahit. “ Ibu tahu aku ingin sekali, tapi masih belum bisa. Aku belum ada lima tahun kerja di sini.”
Hm, bisa dimaklumi seandainya pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu dihujamkan pada Sigit. Bekerja di tanah perantauan dan jauh dari keluarga, yang ada dalam kepala adalah pertanyaan “kapan Sigit pulang?”
Bicara mengenai teman, Sigit sempat mengalami sindrom friendness. Itu hanyalah sebutan fiktif untuk kerinduan kepada kawan-kawan lamanya di Tuban. Melihat remaja-remaja bergerombol, berteriak-teriak dan tertawa lepas, membuat penyakit friendness-nya kambuh. Dulu saat usianya masih belasan tahun, dia selalu turun ke pantai bersama teman-temannya di setiap hari Minggu. Dia akan menghabiskan waktu berlama-lama berkecipak dengan air laut pantai utara Jawa. Konyolnya, mereka tidak akan pulang sebelum baju dan celana mereka basah kuyub.
Sigit ingat betul bagaimana kehebohan yang terjadi gara-gara Heri, salah satu teman karibnya, kehabisan napas karena hampir saja ditenggelamkan oleh Sigit, Hamdan, Budi dan Tono. Di antara mereka berlima, hanya Heri yang tidak bisa berenang.
Pada hari itu, mereka beruntung mendapat pinjaman sampan dari nelayan yang berdomisili sekitar pantai.
“Aku tidak mau ikut,” kata Heri. Dia kelihatan ketakutan.
“Kenapa?” tanya Budi.
“Kalau tenggelam bagaimana?” kata Heri.
“Tidak akan tenggelam,” sahut Tono.
“Aku tidak bisa berenang.” Heri benar-benar gemetar.
“Tenang! Kalau perahunya terbalik dan tenggelam, kami kan bisa berenang,” kata Sigit.
“Sudahlah, Her, ayo ikut! Kau mau ketinggalan pengalaman mengasyikkan bersama kami?” desak Tono.
Heri akhirnya menurut. Wajahnya pucat pasi. Ketika Tono dan Budi mulai mendayung dan mengarahkan sampan ke tengah lautan, tangan Heri berpegangan kuat pada sisi sampan dan mulutnya komat-kamit tiada henti. Tiap sampan bergetar terkena laju ombak, dia yang pertama kali berteriak keras. Mengetahui kepanikan Heri yang sedemikian rupa, semangat jahil Hamdan timbul. Tiba-tiba saja dia menggoyang-goyangkan sampan dan berteriak,” Ada ikan hiu menyerang kita!”
Sigit, Tono dan Budi tahu bahwa itu konyol. Mereka sedang berada di pantai utara Jawa, bukan di Samudra Pasifik, dan di kedalaman beberapa meter tidak mungkin ada hiu berkeliaran, tapi Heri termakan gurauan Hamdan. Emosinya benar-benar tidak bisa dikendalikan.
“Hiu? Ada hiu? Bagaimana ini?” teriaknya. Dia sudah melakukan gerakan jongkok berdiri. Seandainya sampan ini tidak kecil, mungkin dia juga melakukan salto dan jungkir balik.
“Heri, tenanglah!” kata Sigit. Dia, Tono dan Budi berusaha tidak tertawa, sementara Hamdan terus membuat sampan kami bergoyang bahkan semakin kencang.
“ Bagaimana bisa tenang? Keselamatan kita terancam!” teriak Heri.
Hamdan mendoyongkan sampan ke kiri, membuat Heri oleng dan tercebur ke laut. Heri berteriak keras,”Tolong! Tolong aku!” Tangannya menggapai-gapai permukaan laut.
Bodohnya, saking tertegun dan ingin tertawa, Sigit dan yang lain hanya menonton dari tepi sampan. Senyum mereka lenyap ketika Heri beserta tangannya menghilang dari permukaan. Buru-buru Hamdan menceburkan diri ke laut untuk menolongnya. Sesampainya di pantai, mereka segera melarikan Heri ke rumah sakit yang letaknya tak seberapa jauh. Jelas mereka takut terjadi sesuatu yang fatal terhadap Heri sebab menurut Hamdan tadi, Heri sempat tak bernapas. Syukurlah, Heri selamat. Dia hanya kehabisan napas dan banyak minum air laut. Dalam sekejab dia sudah diperbolehkan pulang dan keesokan harinya dia sudah badung lagi seakan-akan peristiwa kemarin tak pernah terjadi padanya.
Sigit tersenyum geli mengingat kejadian itu. Seandainya kala itu nyawa Heri tidak terselamatkan, barangkali beritanya akan masuk ke surat kabar dengan judul besar-besar “Seorang Bocah Tenggelam Karena Takut Hiu” dan foto mayat Heri terpampang di sana.
Yah, home sweet home. Sesukses apapun pekerjaannya di Singkawang, Sigit tetap merasa hidup di rumah sendiri lebih nyaman meskipun penuh dengan semak berduri. Untuk mengatasi kesendiriannya, Sigit pergi ke Taman Bougenville, sekedar berkumpul dengan teman-teman kantor dan kenalannya sembari duduk mengopi. Letaknya yang di atas bukit sehingga memudahkan kita menatap sekeliling. Jika malam tiba, kota Singkawang terlihat seolah dipenuhi kunang-kunang. Lampu-lampu rumah dan jalan berkelap-kelip warna-warni. Mobil dan motor yang melintas tampak seperti titik cahaya kecil yang bergerak. Pemandangan yang luar biasa. Bandingannya adalah Kecamatan Grabagan di Tuban. Sepanjang yang dilihat adalah gundukan-gundukan batu kapur, jalan yang berkelok dan naik turun, serta tanah merah nan subur. Dari atas bukit kapurnya, kita bisa melihat hijaunya sawah dan padatnya rumah-rumah penduduk. Sungai Bengawan Solo, sungai yang terkenal karena dijadikan judul lagu itu pun, tampak meliuk membelah Kecamatan Rengel, Plumpang dan Widang. Kalau musim penghujan tiba, kita bisa menyaksikan sang bengawan legendaris itu murka hingga memuntahkan airnya ke daratan.
Suara burung-burung terdengar berkoak-koak memecah langit senja Pasir Panjang. Menjelang matahari terbenam, Pasir Panjang dipenuhi manusia berbagai rupa, sedangkan angkasa dipenuhi oleh burung berbagai jenis. Tak dapat dikenali satu per satu. Mungkin ada camar, walet atau bahkan elang. Mereka keluar masuk Pulau Lemukutan. Pulau kecil yang berada di selatan Pasir Panjang itu adalah surga bagi segala jenis burung liar yang menggantungkan nasib dari laut Pasir Panjang. Disanalah burung-burung itu berlabuh dan menghabiskan malam setelah seharian mengais makanan.
Langit sudah berpendar merah, memantulkan sinar matahari menembus awan-awan tipis yang bergerak. Tidak semua momen yang terjadi di pantai adalah momen yang menyenangkan untuk dikenang. Sigit pernah menghabiskan senja terburuk dalam hidupnya di pantai utara Jawa Tuban. Ironisnya, bersama Rini, perempuan yang berhasil menggetarkan hatinya. Secara fisik, Rini tidak cantik. Dari postur dan bentuk tubuh, Rini tidak ada apa-apanya. Dia juga tidak sehalus dan secerdas putri keraton. Yang jelas Sigit mencintainya. Sepengetahuan Sigit, Rini pun demikian. Tidak mungkin dia tidak mencintai Sigit bila dia rela menjalin cinta jarak jauh dengan Sigit. Barangkali kesabaran dan kesetiaan Rini lah yang membuat Sigit tak sampai hati mengkhianatinya. Namun, sore itu merupakan malapetaka terdahsyat bagi Sigit ketika kalimat “Aku ingin mengakhiri hubungan kita” keluar dari mulut Rini.
Sigit terpaku di tempatnya. Wangi dupa dari Klenteng Kwan Sing Bio yang terletak di depan pantai utara Jawa Tuban menyusup ke hidung Sigit. Angin laut menerpa tubuhnya, membuatnya terhuyung miring. Salahkah pendengarannya?
“Rini, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan?” kata Sigit.
Rini menitikkan air mata. “Aku minta maaf, Sigit. Aku tidak sanggup melanjutkan hubungan kita. Terlalu sulit dan banyak godaan.”
“Tapi selama ini kita baik-baik saja.”
“Aku berbohong. Sudah lama aku tidak nyaman dengan keadaan kita. Aku tidak bisa bersikap tidak ada apa-apa. Aku tidak mau menyembunyikannya lagi.”
Sigit terdiam.
“Aku minta maaf, Sigit. Maafkan aku.”
Sigit menghembuskan napas panjang. Mengingatnya membuat hatinya sakit. Sekuat mungkin dia berusaha menghapus pita-pita rekaman pahit itu dari kepalanya. Terlalu menyakitkan untuk disimpan. Dia tidak sanggup. Hidupnya sudah cukup menyedihkan untuk ditambah dengan hal-hal melankolis macam itu.
Perlu waktu untuk menyembuhkan luka-luka yang menggores ulu hatinya. Bahkan ketika perempuan-perempuan Singkawang datang silih berganti, menjejali ruang di hati Sigit yang telah penuh, dia masih belum bisa melupakan Rini seutuhnya. Padahal tak sedikit tangis dan air mata mereka yang tumpah di dada Sigit. Tak sedikit pula tawa riang dan senyum manis mereka mengembang di pelupuk mata Sigit yang kering. Ada Mona dan Adies yang berwajah oriental khas Singkawang; juga Rachel, gadis keturunan suku Dayak secantik Natalie Sarah; atau Sutra, gadis asal Rembang, Jawa Tengah yang kemudian pulang kampung karena menikah dengan tetangganya sendiri.
Matahari sudah benar-benar tenggelam. Bulan tampak mengintip dari balik tirai langit. Kehadirannya menyambut malam, memberi salam penghormatan pada matahari yang bersiap menutup lembaran siang hari ini.
“Ayah…”
Seorang gadis cilik berusia empat tahun teriak sembari berlari kecil. Bocah laki-laki berjalan di belakangnya, tertatih-tatih mengatasi kaki kecilnya yang terjerembab dalam pasir putih. Seorang wanita muda berjilbab mengawasi bocah laki-laki itu dengan sabar dan sesekali menggandeng tangannya.
“Ayah,…,” gadis kecil itu berteriak lagi. Rambutnya yang ikal dan dikuncir kuda berlarian mengikuti langkah kaki kecilnya menapaki Pasir Panjang, kemudian dia memeluk kaki Sigit. Dengan gembira Sigit meraihnya, menggendongnya dan menciumi kedua belah pipinya yang gemuk. Gadis cilik itu adalah Nabila, sedangkan bocah laki-laki itu adalah Nail. Mereka adalah anak pertama dan kedua Sigit dari pernikahannya dengan Mia, wanita asal Tuban, sama seperti dirinya.
Mia menggendong Nail sambil berdendang, menyusul Sigit dan Nabila. “Sudah selesai, Ayah?” tanya Mia.
Sigit mengangguk. Dia kembali menatap langit Pasir Panjang. Dulu dia menghabiskan waktu di pantai ini sendirian. Kini setelah sepuluh tahun berlalu sejak kedatangannya di Singkawang untuk pertama kalinya, dia berdiri menghadap matahari bersama Mia, Nabila dan Nail, bersama keluarga yang dia bangun di Singkawang.
Ini adalah terakhir kalinya mereka melakukan ritual kepada matahari Pasir Panjang sebab besok si burung besi Garuda akan mengantarkan mereka pulang keharibaan tanah kelahiran Sigit dan Mia di Tuban. Sigit pindah tugas di Jawa, akhirnya. Impiannya berkumpul dengan keluarganya terwujud. Meskipun dia akan berdinas di Madiun, setidaknya jarak yang ditempuh untuk bersilaturahmi dengan keluarga di Tuban tidaklah sejauh di Singkawang.
“Beri salam pada Pasir Panjang, Nabila, Nail. Besok kita tidak bertemu dengannya lagi,” kata Sigit.
Nabila dan Nail melambaikan tangan kecil mereka dengan semangat sembari berseru,” Dah…”
Sigit, Mia, Nabila dan Nail berjalan memunggungi Pasir Panjang, meninggalkan segala kenangan manis yang terpatri dalam setiap butiran pasirnya. Singkawang tinggal kenangan. Pasir Panjang akan selalu diingat. Pulau Lemukutan tetap menjadi tempat singgah. Taman Bougenville tetap indah dan ramai. Para gadis berwajah oriental masih ditemui di setiap sudut kota Singkawang.
“Selamat tinggal, Singkawang. Aku pulang,” batin Sigit. Untuk kesekian kalinya, dia menoleh ke Pasir Panjang.

Penulis tinggal di Tuban

Tetangga

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

tangan tuhan
Ilustrasi dari wordpress
Ceritanya begini. Mungkin ini kesalahan saya ketika saya nekad mendirikan rumah bersebelahan dengan mereka. Kautahu, tanah dan rumah sekarang amat mahal. Lalu saya mendapat tanah kosong yang dijual begitu murah, tanah sebelah tetangga itu. Tentu saja langsung saya beli. Adakah pilihan yang lebih baik bagi orang miskin selain sesuatu berharga murah?
Usut punya usut, tanah tersebut dijual murah sebab tetangga itu begitu sangar dan mengerikan, satu keluarga dengan pola pikir picik, egois, fanatik dan nyaris tidak manusiawi. Tidak ada seorang pun yang betah tinggal dekat mereka. Anak-anak mereka begitu banyak dan nyaris tiap hari bertengkar meributkan sesuatu yang sepele seperti misalnya siapa yang mendapat giliran buang sampah hari ini. Hal sepele bisa berujung pada perkelahian sengit sampai ke pelataran tetangga.
Awalnya aku tidak terlalu peduli. Aku berpikir, tanah sudah kubayar lunas, rumahku sudah layak huni dan aku ingin tidur pulas waktu malam hingga cerita-cerita yang pernah kudengar tentang apa yang membuat tanah ini murah mulai mengusikku. Anak-anak mereka tumbuh besar dan memperanakkan lagi. Suasana gaduh semakin riuh. Rumah mereka disekat-sekat hingga nyaris sulit untuk dapat disebut rumah. Mungkin lebih tepatnya, kandang ternak manusia. Dalam satu rumah terdengar bunyi saut-sautan, entah dari televisi, tape recorder ataupun suara perdebatan sesama mereka. Bising. Dan pembunuhan sesama mereka tersembunyi di balik kebisingan yang semakin memekakkan telinga. Tidak ada tetangga lain yang peduli. Berurusan dengan tetangga satu ini, sama saja dengan berurusan dengan neraka.
Memprihatinkan. Sebagai sesama manusia, tentu saja aku ingin mereka hidup damai, sebab dengan begitu rumahku pun menjadi lebih damai. Dan yang lebih penting, aku tidak mau rugi. Aku tidak ingin harga tanah dan rumahku hancur hanya karena dekat neraka. Maka hari itu aku datangi mereka yang sedang bertikai dalam rumah sendiri dengan toa. Lalu kukatakan pada mereka,”sejujurnya saya tidak peduli kalian mau saling bunuh sekalipun. Tapi tolong usahakan pembunuhan itu terjadi dalam diam, sebab saya ingin tidur.”
Lalu keesokan paginya saya melihat rumah saya dibakar habis. Itulah upah yang harus diterima orang yang suka mengganggu rumah tangga orang lain, kata mereka.

Ode untuk Jazz

Puisi Binandar Dwi Setiawan

mawar merah
Ilustrasi dari shutterstock
Di dalammu aku melihat air belum tentu mengalir
Ada kemungkinan air menyala
Kau mencipta aturanmu sendiri
Memaksa libatnya seluruh unsur keadaan mengatur wujud sebersama mungkin
Yang spesial darimu adalah kemampuanmu mempertunjukkan keluarbiasaan dirimu tanpa butuh mengagetkan penginderaan
Kau selalu menarikku ke dalammu
Untuk mensinyalkan bahwa aku pun adalah bagianmu
Kau merendah dan meninggi pada saat bersamaan
Kau menyentak para kejadian ketika caramu bersikap tak sepercik pun terbenak oleh mereka
Kau adalah pengharga terhebat ketika tak menganggap kecil sebagai kecil dan besar sebagai besar
Itu mengajariku untuk menggantungkan kebenaran kepada apa
Kau terlibat sekaligus tak terlibat, kau berbuat sekaligus tak berbuat
Wajahmu yang rumit tak sedikitpun menghalangiku melihat kesederhanaanmu
Sekaligus kealamianmu tak sedikitpun menghalangimu menjadi tak alami
Kau letakkan segalanya pada tempatnya
Menampilkan semuanya tanpa terjebak untuk memewahkan yang satu di antara yang lain
Aku tak punya kalimat untuk memprotesmu
Hanya bertekuk lutut menatapmu bagai aku
Terlalu banyak yang kau suguhkan
Kau puaskan dahagaku dengan melahirkan dahaga yang baru
Jazz, ketika apapun berkemungkinan menjadi dirimu
Aku jadi curiga, darimanakah aku berasal
Jazz, ketika terlalu banyak batas yang kau terabas
Aku tahu ada yang sanggup memelukku menenangkan seluruhnya resahku
Jazz, ketika yang duka dan yang suka kau sikapi sama
Aku jadi tahu mengapa kata sempurna pantas disandang oleh siapapun

Sastra di Tengah Patronase Sosial

Oleh Binhad Nurrohmat*

seni dan moralHubungan sastra dengan masyarakatnya memang rumit dan potensial menyembulkan perbedaan pendapat. Sastra bisa dinilai lantaran ada perangkat-perangkat aturan, konvensi, atau kode; dan antara perangkat yang satu dengan perangkat yang lain tak sama.
Selain itu, sastra juga punya sejumlah kemungkinan hubungan dengan struktur sosial masyarakat yang memunculkannya, ekspresi pandangan dunia atau ideologinya (Lucien Goldmann, 1977), dan juga konvensi estetikanya maupun mediasi kondisi produksinya (baik kondisi teknologis, kelembagaan, dan kondisi sosial dalam produksi seni) untuk bisa memahami dan menjelaskan fenomena sastra (Janet Wolff, 1982).
Ada anggapan bahwa sastra sebagaimana lembaga sosial yang sah dan punya konvensi yang menuntut kepatuhan terhadap sejumlah urusan demi tegaknya kesahan dan konvensinya. Pelanggaran terhadap konvensi sebuah lembaga sastra merupakan ancaman sebagaimana pelanggaran terhadap konvensi dalam sebuah lembaga masyarakat.
Ada hubungan kelembagaan antara konvensi sastra dan masyarakatnya, misalnya puisi kita pada dekade awal 1900-an yang cenderung meninggalkan pola puisi lama atau tradisional demi menyesuaikan diri dengan masyarakat yang baru. Kecenderungan ini terucapkan dalam puisi Rustam Effendi, “Sarat-saraf saya mungkiri, untai rangkaian seloka lama, beta buang beta singkiri, sebab laguku menurut sukma”.
Sastra juga dipandang sebagai sebuah model yang terbatas dari semesta yang tak terbatas. Sastra merupakan model dunia imajiner yang membonceng bahasa, baik dunia sosial, personal, individual, maupun hubungan antarindividu dan kemungkinan-kemungkinan hubungan yang lain. Contohnya, kasus cerpen Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin pada 1968.
Cerpen ini dianggap melukai kepercayaan Muslim karena penggambaran unsur-unsur yang berkaitan dengan agama Islam di dalam cerpen itu. Akibatnya, HB Jassin, pemimpin majalah yang memuat cerpen itu, diadili dan dihukum, meski HB Jassin menyatakan gambaran dalam cerpen itu merupakan model dunia imajinasi. Tapi masyarakat seakan menganggap penggambaran dalam cerpen itu adalah dunia kenyataan itu sendiri.
Sastra pun mengembangkan rancangan khusus berupa bangunan penafsiran yang menuntut diperlakukan sebagaimana rancangan khususnya itu. Dengan kata lain, hubungan karya sastra dengan struktur sosial tidak muncul sebagaimana adanya dalam karya sastra, misalnya, novel Siti Nurbaya yang memuat masalah politik melalui tokoh Syamsul Bahri yang berperang untuk mencari kematiannya agar berjumpa dengan kekasihnya. Novel ini diterbitkan oleh Balai Pustaka karena motif Syamsul Bahri itu romantik dan bukan karena urusan yang politis.
Selain itu, sastra kerap dirundung pembatasan atau konvensi “bisu” dalam urusan mengungkap peristiwa-peristiwa atau gagasan-gagasan tertentu. Apa yang membuat sebuah teks dianggap sebagai karya sastra karena kecocokannya dengan ukuran tertentu yang bersifat ideologis, misalnya tak melanggar “stabilitas” politik kekuasaan dan “kesopanan” umum. Kasus pamflet Rendra dan puisi Widji Thukul merupakan contoh hubungan sastra dengan standardisasi sastra versi kekuasaan.
Selain hubungan-hubungan itu, untuk memahami kondisi sastra juga perlu memerhatikan urusan yang berkaitan dengan produksi seni, yaitu teknologi dan lembaga sosial.
Teknologi cetak dan teknologi komunikasi memengaruhi kesusastraan, misalnya maraknya penerbitan buku, internet (situs dan blog) dan koran di Tanah Air setelah jatuhnya rezim Orde Baru yang berefek pada produksi dan penyebaran karya sastra. Banyak pengarang yang tak lagi berhubungan dengan penerbit resmi karena teknologi cetak yang murah (komputer/fotokopi) dan teknologi komunikasi (internet). Hambatan penyaluran karya sastra makin menyingkir dengan adanya situs di internet, kantong sastra, dan toko buku di luar jaringan toko buku besar.
Selain teknologi, lembaga sosial di dalam kesenian pun punya peran penentu dalam urusan produksi sastra. Dewan kesenian, gedung kesenian, taman budaya, media sastra, kritikus, maupun komunitas sastra merupakan wujud lembaga sastra yang punya otoritas penilaian atau legitimasi. Dulu TIM dan majalah sastra Horison dianggap sebagai pusat legitimasi kesenian di negeri ini. Setiap seniman yang diundang tampil di TIM atau karyanya dimuat Horison dianggap sebagai seniman papan atas.
Lembaga sosial dalam kesenian punya selera estetik tertentu dan perannya bisa menjadi politis dalam penarikan anggotanya (rekruitmen). Zaman dulu, penguasa di Barat menyediakan pusat latihan seni (gilda) bagi seniman yang direkrut untuk memuja dirinya.
Di zaman modern, rekruitmen seniman terselenggara lebih longgar melalui sistem sekolah maupun pelatihan yang didanai oleh sponsor, misalnya Ubud Writers dan Readers Festival dan Program Penulisan Majelis Asia Tenggara (Mastera). Secara sosiologis, dalam rekruitmen seniman ada faktor kekuatan sosial yang mendorong seseorang untuk bersekutu dengan kelompok tertentu untuk mengembangkan kerja atau karier kesenimanan.
Selain rekruitmen, lembaga sosial dalam kesenian juga menjalankan patronase, yaitu suatu hubungan di mana sang patron (pelindung) memberikan sesuatu ke pihak lain, misalnya sokongan material atau perlindungan ke seniman yang memungkinkan karya sang seniman diproduksi dan didistribusikan dalam lingkungan yang serba tak pasti dan bahkan penuh perseteruan, sedangkan sang seniman memberikan kesetiaannya kepada sang patron sebagai imbalannya, misalnya dengan penyesuaian selera ideologi atau estetikanya. Memang tak ada campur tangan langsung sang patron terhadap karya seni sang seniman, tapi ada seleksi tertentu dalam pemberian dana dapat mengindikasikan ideologi sang patron.
Menurut Edwar B Henning (1970), pengaruh patronase terjadi dalam tiga cara. Pertama, menarik seniman untuk bergabung melalui performa intelektual atau moral yang simpatik serta dukungan material. Kedua, stipulasi (persyaratan suatu kesepakatan yang harus dilaksanakan sang seniman). Ketiga, seleksi terhadap karya seni dilakukan oleh patron yang biasanya berasal dari kelompok ekonomi yang kuat dan dapat memengaruhi gaya seni sang seniman.
Patronase kesusastraan berperan penting dalam sejarah sastra Barat, misalnya patronase raja dan gereja abad XIV dan XV, patronase bangsawan pada abad XVI, dan patronase politik pada abad XVII. Mulai abad XVIII sistem patronase lenyap dan sastrawan menghadapi situasi baru yang menawarkan kebebasan lebih besar, tapi membuat sastrawan menerima tekanan hubungan pasar dan kerawanan ekonomik.
Pada abad XX hingga kini muncul patronase baru yang menggantikan hubungan patronase tradisional, misalnya pengarang menulis untuk koran, fotografer dipekerjakan oleh majalah, dan juga pengarang yang memperoleh dana dari lembaga pemerintah atau swasta dalam negeri maupun asing.

*Penulis adalah Penyair

Sumber: Republika, 02 September 2007.

Limbok

Cerita KauMuda Karya Nailatul Faiqoh*
Editor Ragil Koentjorodjati

kecupan gadis
Ilustrasi dari masbeni.file.myopera.com
Langit abu-abu tertiup angin pagi sepoi-sepoi, mendayu-dayu menerpa bulu roma sampai bergidik. Perlahan butiran air gerimis menghujam kulit yang semakin terasa tajamnya. Tak juga kunjung terang airnya. Sudah sedari malam gerimis seperti ini membasahi desa kami. Luapan sungai sudah hampir di atas mata kaki. Padi musim panen kali ini sudah rubuh tertiup angin kencang tengah malam tadi. Hal yang lebih ditakutkan warga bila angin terus berhembus dengan kencangnya adalah robohnya rumah-rumah gedheg atau bahkan menumbangkan pohon besar di area sekitar rumah. Untungnya pagi ini angin tak lagi menggarang, hanya menyisakan gerimis dan langit mendung.
Jam tujuh hampir tercapai namun ruang kelas masih terlihat sepi, hanya beberapa anak yang rumahnya di sekitar sekolah sibuk membantuku memindahkan bangku dan meja ke tempat yang lebih kering. Masih kurang beberapa anak yang belum datang sampai aku putuskan pelajaran harus dimulai. Sesekali pandanganku menengok ke arah luar, mungkin saja seorang anak spesial datang terlambat. Anak itu bernama Limbok.
Dulu anak itu hampir tak dapat bersekolah di tempat ini. Sekolah luar biasa letaknya jauh dari desa. Biaya akomodasi terbilang mahal untuk keluarga Limbok, apalagi ibunya yang sudah menjanda. Sejak Limbok berumur 3 tahun, ibunya hanya bekerja sebagai buruh tani di sawah milik tetangga. Membanting tulang mencari uang sendiri tidaklah memungkinkan bagi ibu Limbok menungguinya di sekolah sampai selesai.
Ibunyalah yang bersikeras memohon kepada pihak sekolah agar Limbok diperkenankan tetap mendapat pengetahuan. Untungnya pengurus sekolah dan juga sebagian guru tersentuh dengan cerita ibu Limbok dan memperbolehkanya bersekolah di tempatku mengajar secara sukarela sebab kekurangan tenaga pengajar. Sistem pengajaran yang diberikan pada Limbok cukup berbeda dari murid lain.
Untungnya sebagian banyak murid tidak pernah mempertanyakan keadaan Limbok, seolah mereka sudah paham dengan perbedaan di antara mereka. Bahkan beberapa anak sering mengajari Limbok berhitung atau menulis. Ibu Limbok bersyukur karena teman Limbok baik-baik dan selalu mengantarkan Limbok pulang sekolah. Limbok tidak pernah membuat ulah atau menjahili teman-temannya. Walau tumbuh sebagai anak dengan keterbatasan otak, Limbok cukup punya semangat yang tinggi.
Limbok sering bilang, ibunya selalu bercerita kalau jadi orang pinter nanti bisa punya banyak uang untuk beli mainan dan ibu Limbok juga sering menangis sambil menyuruhnya belajar terus. Karena tak mau melihat ibunya menangis itulah yang mungkin membuat Limbok selalu bersemangat untuk sekolah. Bahkan ibu Limbok pernah bercerita kalau limbok itu selalu bangun pagi dan ingin cepat pergi sekolah. Pernah saat itu Limbok sakit panas meski masih kuat berjalan ibu Limbok tidak memperbolehkanya pergi ke sekolah tapi Limbok justru menangis sampai ibunya tidak kuasa menahan keinginan anaknya itu untuk tetap pergi bersekolah. Namun terkejut yang didapati ibunya, lantaran Limbok kembali sehat dan sudah turun panas tubuhnya. Pastilah sungguh sayang ibu Limbok pada anak perempuan satu-satunya itu.
Sudah seperempat jam pelajaran dan Limbok tak juga muncul. Padahal di hari biasa Limbok selalu jadi yang pertama kali datang ke sekolah. Apa mungkin Limbok sakit, atau karena gerimis dan angin kencang tadi malam yang membuat ibu Limbok harus datang pagi ke sawah sampai tak sempat mengantarkan anaknya? Bukankah kalau tak sempat mengantar Limbok selalu dititipkan pada anak tetangga yang lantas mengantarnya ke sekolah?
Kembali pandanganku mengarah ke luar pintu. Kali ini tampak dari jauh seorang wanita setengah baya mengenakan plastik hitam di kepala tengah menggandeng seorang gadis kecil dan payungnya tampak berlubang di beberapa bagian. Itu Limbok yang tersenyum lebar menatap ke arahku. Senyumku memecah kecemasanku yang membuat bibir ini menyapa kedatangannya. Setengah berlari Limbok mencium tanganku dan masuk ke dalam kelas, sementara aku dan ibu Limbok masih tersenyum memandang keceriaan Limbok.
“Tumben sekali Limbok terlambat Bu, pikir saya Ibu sedang sibuk mengurus panenan yang rusak sampai tidak sempat mengantar Limbok.” Sambil tersenyum ibu Limbok bercerita tentang Limbok yang sibuk membuat PR menulis surat hingga tengah malam sampai-sampai ibunya kesiangan bangun. Seperginya ibu Limbok aku kembali masuk ruang kelas dan kembali mngajar dengan perasaan lega.
Sudah menjadi kebiasaan anak-anak ketika jam pulang sekolah berdoa dan salam di ucapkan bersama, adat mencium tangan pada guru belum pernah mereka lewatkan. Terutama Limbok yang berpolah lucu dengan kebiasaanya memberi ciuman jauh lalu melambaikan tanganya kepadaku. Sungguh anak itu tak pernah lekang memberi keceriaan pada semua orang. Dan itu merupakan suatu penyemangat tersendiri bagiku.
Ramai keceriaan serta semangat belajar yang tinggi dari anak-anak sudah mulai hening. Kini tinggal aku sendiri di dalam kelas dengan tumpukan buku tugas milik anak-anak. Memang baru kemarin aku memberikan tugas menulis sebuah surat yang telah menunggu untuk aku baca.
Satu demi satu surat aku baca. Beragam isinya ada si Ratna yang menulis surat untuk bapaknya di Arab Saudi, ada juga surat Uyung yang menceritakan kondisi sekolahnya, dan kini giliran surat Limbok yang harus aku baca. Entahlah karena apa aku sedikit merinding saat memegang surat ini. Tulisanya tak rapi , lebih cocok kalau disebut tulisan anak berumur 4 tahun yang sedang semangat belajar menulis. Sempat aku teringat cerita ibu Limbok tadi pagi perihal keterlambatan Limbok masuk sekolah karena harus menunggui Limbok menulis surat untuk pak presiden katanya. Penasaranku kemudian menyelinap memaksaku segera membaca isinya.
“Kata Ibu, presiden itu seorang pemimpin. Ibu juga bilang pemimpin suka membantu orang. Limbok ingin presiden bantu ibu cari uang banyak. Kalau ibu punya uang banyak tidak lagi ngarit sawah tetangga. Kalau uang ibu banyak Limbok juga mau minta dibuatkan tempat sekolah yang ga bocor langitnya, yang ga banyak rayapnya. Presiden harus bantu Ibu Limbok ya.”
Air mata tak sadar menetes tak mampu kubendung lagi. Aku sadar air mata ini seolah membuktikan bahwa anak-anak butuh tempat lebih layak dari pada tempat ini. Bukan masalah gaji seadanya untuk kami para guru sukarelawan yang berupa hasil kebun sumbangan warga. Tapi ini lebih karena suasana belajar murid yang tak kondusif. Pikirku, andai presiden juga membaca surat ini mungkin sama terkejutnya denganku, membaca isi surat anak yang dengan pertumbuhan dan pemikiran lambat.
Sudah satu minggu ini langit mendung meski hujan juga tak menampakan diri sama seperti suasana kelas ini yang tak lagi cerah seperti saat Limbok ada di antara kami. Saat tawa kami pecah mendengar suara kentut Limbok yang keras melantun membuat anak-anak menutup hidung. Atau keceriaan Limbok saat melihat ada anak yang terpeleset genangan air saat hendak maju ke depan kelas, juga peristiwa-peristiwa haru saat Limbok bercerita tentang dirinya yang senang makan nasi kur atau nasi bekas pemberian tetangga yang dikeringkan lalu di masak kembali yang kemudian dimakan bersama timun rebus serta sambal buatan ibunya. Katanya rasanya nikmat bila dari tangan ibu.
Banyak cerita-cerita lain yang sering kami dengar terutama saat jam istirahat. Aku terkesan dengan hidupnya juga ibunya yang hebat membesarkan Limbok seorang diri. Mungkin juga anak-anak yang mulai menyayangi Limbok yang sama terkesannya denganku.
Semua pelajaran telah selesai. Saatnya mereka untuk membereskan alat tulis dan bersiap pulang. Salam belum sempat aku ucapkan ketika tiba-tiba Pak Soleh, salah seorang guru yang mengajar di kelas 4 datang memberi pengumuman bahwa Limbok telah meninggal dunia siang ini.
Kedua kakiku bergetar, tak kuat menopang tubuh ini mendengar kabar kematian Limbok. Aku terkejut sampai tak mampu membendung tangis. Begitu halnya dengan anak anak yang kemudian dituntun Pak Soleh untuk membacakan doa untuk Limbok.
Limbok sudah lama sering mengeluh sakit kepala, tapi kondisi keuangan yang membuat Limbok hanya diminumi obat yang dibeli dari warung. Makin lama kondisi Limbok makin menjadi, bahkan sampai membuatnya kejang dan sering tidak sadarkan diri. Hal ini membuat ibunya mau tak mau berhutang untuk memeriksakannya ke Pak Mantri namun tak juga mendapat hasil, sampai puncaknya kemarin sore Limbok kembali pingsan yang lantas para tetangga membawanya ke rumah sakit dengan biaya sukarela warga. Namun terlambat, penyakit kanker otak sudah menjalar ke seluruh tubuh dan tepatnya siang ini Limbok pun meninggal dunia.
Sorenya setelah semua kelas kosong, aku bersama guru yang lain melayat ke rumah Limbok. Sampai di sana aku dapati segerombolan anak masih memakai baju seragam memenuhi rumah Limbok yang tak salah lagi adalah teman sekolahnya. Haru makin menjadi, membuat tubuhku lemas sampai harus dipapah beberapa guru saat ibu Limbok memberiku sebuah celengan berisi recehan uang saku yang tak pernah dihabiskan semua dan sudah lama dia kumpulkan katanya.
Uang ini kalau sudah banyak mau digunakan untuk membangun sekolah yang bagus biar Limbok dan teman-teman bisa sekolah dengan nyaman, dan ibunya juga tidak perlu memanasi baju mereka di tungku sampai kering setiap kali air hujan turun dari bagian genteng yang bolong lalu membasahi seragam satu-satunya yang dimiliki. Semakin tak aku sangka ketidaksempurnaan Limbok ternyata menyimpan hati yang berusaha menyempurnakan orang lain.
Tak ada satu pun umat yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Sama halnya kepergian Limbok kian membuat kesedihan di hati kami yang menyayanginya. Canda dan tawa kepolosanya tentu tak dapat kami temui esok. Tapi Tuhan tahu yang terbaik untuk semua. Tuhan punya banyak rencana yang tak diduga umat-Nya. Kepergian Limbok membuat kami keluarganya di sekolah sadar akan hidup yang fana. Terutama aku dan sahabat-sahabatnya yang sadar bahwa secara tidak langsung Limbok mengajarkan kami arti ketulusan, kasih sayang, juga semangat untuk menggapai impian, seperti yang Limbok lakukan.

Nailatul Faiqoh adalah Mahasiswi Universitas Semarang, tinggal di Rembang.

Adakah Krisis Moralitas dalam Kesusastraan Indonesia?

Gerundelan Richard Oh

seni dan moralSelain bahasa yang sering disebut-sebut sebagai salah satu biang yang mengakibatkan krisis sastra masa kini di Indonesia, moralitas juga sekarang menjadi fokus para penulis senior ataupun para akademisi. Saya merasa sangat terusik untuk membahas soal krisis moral dalam sastra Indonesia yang konon oleh beberapa penulis senior ibarat tubuh yang sudah kehilangan kepala. Yang dimaksud penulis-penulis ini tentu saja adalah sastra modern seakan-akan sangat terjerumus dalam persoalan eros dan erotisisme ketimbang moralitas.
Pergunjingan soal moralitas muncul dalam kesusastraan dan kebudayaan pada awal agama mulai tersebar luas dalam peradaban. Sebelumnya moralitas dalam karya-karya drama ataupun mitos Yunani terasa sangat terbuka dan sifatnya tidak mengkhotbah, tetapi lebih sering merupakan sebuah ungkapan dari kehidupan, atau lebih tepatnya seperti disebut oleh Nietzsche, The Gay Science, yang intinya adalah bahwa moralitas pun merupakan suatu aspek ringan atau komedi dalam kehidupan kita. Moralitas menjadi momok yang sering dipergunakan oleh para wali keagamaan untuk menindas para pemikir dan pekerja kesenian selama berabad-abad. Walaupun demikian, dari masa ke masa, dari peralihan zaman pencerahan hingga ke era Victoria hingga masa kini, moralitas tidak hentinya digempur oleh para penulis dan seniman di mana pun.
Adalah suatu pemikiran yang sangat kolot dan antimodernisme untuk meneropong sastra Indonesia saat ini bagaikan seorang moralis yang merasa jijik melihat kenyataan bahwa dunia yang bajik dan sangat sempurna yang dihuni mereka sudah berubah begitu dahsyatnya. Keberatan mereka seharusnya ditujukan pada persoalan kehidupan masa kini yang memang sejak perang dunia kedua telah usang, daripada menekan para penulis sastra masa kini yang ingin membawakan berbagai kompleksitas kehidupan masa kini dalam karya-karya mereka. Keberanian dari para penulis ini, menurut saya patut kita puji, karena penulis-penulis ini telah beranjak jauh dari zaman di mana sastra masih ditindas oleh kekangan masyarakat ataupun agama, seperti pada masa Flaubert, yang karyanya Madame Bovary dihujat sebagai amoral, dan zaman DH Lawrence, yang karyanya Lady Chatterly’s Lover dianggap mesum, dan James Joyce dengan karyanya Ulysses yang terpaksa harus diterbitkan di Perancis, karena dianggap porno! Tetapi sebelum para penulis berani ini, mereka sudah punya kolega yang tidak kalah beraninya: Daniel Dafoe di abad ke-18, dengan karya yang berani Moll Flanders tentang pelacuran, di abad ke-16, Rabelais dengan karya Gargantua and Pantagruel yang heboh karena keberaniannya mencatat kebobrokan manusia dalam detail-detail yang berani, dan Chaucer, di abad ke-14 bahkan sebelum Shakespeare, dengan karyanya Canterbury’s Tales, melukiskan keanekaragaman karakter manusia dari yang munafik hingga yang seronok.
Di masanya, penulis-penulis ini dianggap sangat kontroversial dan sering ditindas oleh para wali agama ataupun penguasa, tetapi hari ini mereka kita anggap sebagai pahlawan-pahlawan sastra yang karyanya dipelajari oleh siswa-siswa di sekolah di segala penjuru dunia.
Penafsiran pada suatu karya sastra menurut saya menjadi problematika kalau tolok ukurnya adalah moralitas. Penulis sastra tidak bertanggung jawab pada suatu masyarakat ataupun pembaca akan keabsahan moralitas mereka dalam karya-karya yang ditampilkannya. Seorang seniman menciptakan sebuah karya tidak berdasarkan suatu konsensus massa ataupun masa, tujuan akhir dari sebuah karya bukanlah betapa tingginya nilai moralitas yang dicapai tetapi seberapa jauhnya estetika ataupun moralitas yang dianut sekelompok masyarakat dapat digeserkan. Karena melalui tiap pergeseran ini, yang sebenarnya juga merupakan cerminan dari masyarakat itu sendiri, maka terciptalah karya-karya terobosan besar. Persoalan menjadi semakin runyam ketika penulis-penulis yang berani menulis karya-karya yang berani dikaitkan dengan kebobrokan pribadi mereka. Atau mereka dianggap pengaruh negatif yang merusak serat moralitas masyarakat.
Di sini letak kemunafikan suatu komunitas. Karena di satu sisi para seniman diminta untuk melakukan terobosan dengan berani dalam karya-karya mereka, di sisi lain mereka juga diberikan batas-batas kelayakan yang dianggap merupakan konsensus umum yang perlu dipertahankan. Alasan mereka selalu adalah bila tidak pilar-pilar kesusilaan sipil akan roboh. Apakah kehebatan suatu masyarakat dan kemandiriannya bisa dirobohkan oleh karya-karya seni? Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana suatu karya seni bisa melakukan terobosan dengan batas-batas seperti ditetapkan oleh para petinggi moralitas itu? Saya kira pertanyaan balasan yang tepat adalah kenapa pula kita perlu takut dengan karya-karya berani ini? Kalau kita tidak ingin anak-anak kita membaca karya-karya tertentu, atau pemikiran kita bahwa mereka masih belum siap membaca karya-karya tertentu, kita bisa melarang mereka untuk tidak membaca karya-karya itu. Jadi batas-batas kelayakan pada karya sastra tidak perlu kita pergunjingkan sebagai persoalan publik tetapi membataskannya menjadi suatu persoalan individu. Seperti juga bagaimana kita menyambut dengan gembira buku-buku berbobot moralitas tinggi, kita seharusnya juga bisa menyambut dengan toleransi yang tinggi buku-buku yang berani menerobos batas-batas kelayakan itu. Keberatan kita dan ketakutan kita menerima karya-karya tersebut hanya mencerminkan keangkuhan supremasi moralitas kita atau memberikan kesan seakan batas zona keamanan pribadi sedang terancam.
Di sini kita perlu bedakan antara erotisisme dan pornografi, karena kedua hal sering disalahtafsirkan, atau menjadi tercampuraduk dalam pembahasan soal kelayakan dalam satu karya seni. Eros dan erotisisme oleh Octavio Paz digambarkan sebagai kecenderungan yang normal bagi manusia yang punya imajinasi dan budi pekerti. Berbeda dengan hewan yang dalam tindakan seksualnya hanya untuk mereproduksi, menurut Octavio Paz, manusia mempunyai kapasitas untuk merasakan kenikmatan dan punya daya imajinasi yang tinggi untuk menambah nilai kenikmatan itu dalam hubungan seksual. Dengan demikian, erotisisme adalah bagian yang wajar dari fakultas manusiawi, sedangkan pornografi adalah suatu penghasutan indera yang tidak mempunyai nilai imajinasi. Repetisi imaji yang ditampilkan untuk menggugah berahi terlihat jelas sangat mekanis dan tidak mempunyai nilai-nilai estetika ataupun tujuan lain selain menggugah insting-insting purba dalam diri kita.
Berbicara tentang estetika dan etika, perlu juga kita bahas apakah sebuah karya perlu ada sebuah tujuan etika yang konkret. Perlukah sebuah karya punya misi moralitas? Inilah antara lain hal yang sering dipersoalkan dalam pembahasan krisis moral dalam kesusastraan kita. Persoalan ini menurut saya akan sangat sulit diselesaikan karena kalau kita serapkan apa yang ditulis oleh Nietzsche dalam karyanya The Genealogy of Morals, maka sangat jelas sekali bahwa seharusnya kita menanggapi pergeseran moralitas dalam karya seni dengan keringanan jiwa. Karena persoalan moralitas akan sangat relatif. Bagaimana seseorang mengukur batas-batas etika yang seharusnya ataupun seharusnya tidak dilanggar dalam sebuah karya? Apakah karya-karya seni harus merujuk pada suatu pakam moralitas suatu kepercayaan ataupun suatu konsensus massa? Bila demikian halnya, saya kira karya-karya yang diciptakan tidak lagi bisa dikategorikan sebagai karya seni, tetapi lebih mendekati karya-karya hymna bagi suatu kepercayaan.
Tuntutan pada seorang seniman menjadi seorang panutan moralitas tinggi menurut saya adalah penafsiran yang salah pada fungsi seorang seniman. Penafsiran ini seakan menempatkan seorang seniman pada posisi seorang pengkhotbah ataupun seorang wali terhormat dari suatu masyarakat. Pemikiran demikian sangat bertolak belakang dengan kenyataan posisi seorang seniman. Seniman di bidang mana pun senantiasa akan tetap merupakan manusia marjinal. Posisi mereka, bila bukan karena dalam realitas mereka memang terpojok ke pinggiran kehidupan, adalah pilihan mereka sendiri dalam menempatkan diri di pinggiran sehingga mereka dapat menyaksikan ataupun meneropong dunia dari dekat, yang kemudian, melalui kepedihan hasil pergelutan kehidupan mereka dengan dunia ataupun kejeliannya dalam mengupas kehidupan di hadapan mata mereka, akan menjelma menjadi keoriginalitas karya-karya seniman itu.
Lihat dalam sejarah kesusastraan dunia dan Anda akan menemukan nama-nama besar seperti Rimbaud, penyair muda yang berhenti menulis syair pada saat dia berumur 20 tahun, yang mempunyai metode khusus mengakses keaslian jiwanya dengan membius otaknya dengan rangsangan alkohol dalam kuantitas yang tinggi. Pelbagai penggunaan obat terlarang juga dilakukan oleh penulis-penulis besar, seperti dengan opium oleh Graham Greene, LSD oleh semua penulis generasi Beatnik dari Allen Ginsberg hingga Jack Keruac, dan di era 80-an, kokain oleh Jay McInnerny, dan alkohol, pilihan Bacchus favorit rata-rata semua penulis, dari William Faulkner hingga Dylan Thomas. Mereka ini manusia besar dalam kesusastraan yang gagal dalam ketertiban kehidupan sehari-hari. Mereka jauh dari manusia sempurna yang didambakan banyak orang. Karya-karya mereka diciptakan juga bukan untuk diukur dari segi bobot moralitas pribadi mereka, tetapi dari kedalaman jiwa mereka yang lahir dari pergesekan mereka dengan dunia.
Sampai di sini, saya mendengar keluhan sang moralis yang menanyakan, “Jadi apa fungsi sastra sebenarnya?” Sastra menurut saya adalah muntahan balik dari seorang penulis kepada masyarakatnya. Keberaniannya dan ketulusannya dalam berkarya adalah keoriginalitas suaranya. Perkembangan sastra sudah lama bergeser dari karya-karya sastra yang gentil. Karya-karya penuh bobot moralitas Jane Austen hingga Nathaniel Hawthorn sudah tergeser oleh karya-karya pembangkang seperti Flaubert, James Joyce, DH Lawrence, Baudelaire, dan pada era modern oleh hampir semua penulis berani dari Jean Genet, Allen Ginsberg, Bukowski, John Fante hingga oleh pemenang Nobel tahun 2004 Elfriede Jelinek. Hampir semua tabu dalam kehidupan sudah dilabrak oleh penulis-penulis ini. Adalah sangat egois bagi para petinggi moralitas di negara kita menuntut bahwa penulis-penulis kita kembali ke zaman abad pertengahan dan mengabadikan karya-karya mereka pada kebesaran moralitas dengan huruf M besar, sedangkan perkembangan sastra dunia sudah berlaju demikian maju dan sudah lama meninggalkan rambu-rambu moralitas yang masih dipersoalkan kita. Karena selain tidak mungkin memutarbalikkan perkembangan masa, saya rasa tuntutan para petinggi moralitas ini sangat mengganjal perkembangan sastra di negeri ini. Persoalan moralitas seharusnya dibahas dalam konteks di luar kesenian seperti dalam forum kebatinan ataupun dalam kajian sosiologi. Karena persoalan moralitas sangat berseberangan dengan penciptaan karya seni. Seniman tidak kenal rambu-rambu moralitas dalam penciptaan mereka. Yang disasarkan dalam setiap karya seni bukan lagi capaian moralitas, tetapi capaian originalitas dalam suara, visi ataupun estetika. Sastra dunia sudah mencapai titik capaian yang begitu maju sehingga ia tidak lagi mencoba mengupas moralitas manusia tetapi lebih pada bagaimana menangkap dilema ataupun paradoks manusia dalam sekeping kehidupannya. Kadang bahkan tanpa suatu tujuan ataupun subyek yang jelas, selain potret-portret kecil suatu kehidupan seperti yang ditampilkan dalam cerita-cerita penulis Sicilia Giovanni Verga.
Menutup penulisan ini saya ingin mengutip Oscar Wilde, juga salah satu spirit pembangkang dalam kesusastraan yang ditindas oleh para petinggi moralitas masyarakatnya pada masanya. Dia mengatakan bahwa kebenaran tidak lagi benar bila ia diterima oleh semua pihak. Semangat setiap pekerja kreatif adalah bagaimana berbagi kebenaran individunya dengan dunia di mana dia bercokol. Persembahan mereka yang diperoleh dari tetes-tetes darah jiwa mereka merupakan ungkapan kecintaan ataupun ketulusan mereka pada dunia. Penindasan, penghujatan, pendakwahan negatif pada karya-karya seni sudah bukan hal baru lagi bagi mereka, dan tidak pernah berhasil menghalangi mereka, bahkan malah mengobarkan semangat mereka, untuk tetap menampilkan tiap karya mereka dengan keberanian dan ketulusan yang tidak dapat dikompromikan.

Sumber: Blog Richard Oh 18 January 2008

Satu Puisi

Puisi Charles Roring

satwa papua
Ilustrasi dari Rere 'Loreinetta

Cantik parasmu bagai warna burung surga
Seperti penjaga menunggu fajar
Di tepi sungai kita menanti
Cahaya mentari mulai berpendar

Sejak subuh tadi, hujan t’lah berhenti
Pertanda gelapnya malam segera memudar
Di jalan setapak, kaki kita mulai meniti

Bersama kita mengayun langkah
Menyusuri sungai yang setia mengalirkan air
Membuyar dua ikan yang bermanja di akar nipah
Dingin membasuh kaki, gemericik air

Ke lereng Gunung Arfak tempat kita kan berdua
Menanti datangnya Cendrawasih burung-burung surya
Menuju rumpunan bambu kita kan mendaki
Di balik dedaunannya kita kan berhenti

Sebentar lagi para jantan kan berdansa mengumbar cinta
Agar menyatu dengan para betina, itu yang mereka pinta

Kulirik engkau sebentar-sebentar
Cantik parasmu, harum rambutmu, dadaku bergetar
Gerai rambutmu semerbak wangi seperti minyak cendana
Kau duduk di dekatku sambil memandang ke atas sana

Andai aku si Cendrawasih jantan yang lihai menari
Kan kurayu kau sang betina dan tak akan kubiarkan berlari
Mendekatimu kukepak sayapku perlahan-lahan
Merapat, kutatap matamu yang lembut sayu nan menawan

Matamu bagai permata safir
Senyummu, darah dalam nadiku semakin berdesir
Andaikan kita bisa terbang jauh bersama-sama
Kalau lelah di tepi pantai, kita hinggap di dahan palma

Gairah cinta kita, bagai laut biru bergemuruh ombak
Dimabuk cinta, bagi kita lebih nikmat daripada menegak tuak

Semoga setelah ini kita kan bersua lagi
Ke negeri jauh pun menemuimu ku akan terbang pergi

Ubud Bali, 23 Jan 2012

Cerita Bersambung: Tunangan (5)

Cerita Anton Chekhov
Alih Bahasa RetakanKata

kasih tak sampai
Ilustrasi dari 3_bp_blogspotdotcom1
Angin berhembus memukul atap dan jendela. Ada suara siulan. Dan di dalam tungku, aura rumah cemberut dan sedih mengocehkan lagunya. Hari sudah lewat tengah malam, semua orang rumah telah beranjak pergi ke kamar masing-masing, tapi tidak ada yang tertidur, dan tampaknya semua seperti itu bagi Nadya. Seolah-olah mereka sedang bermain biola di bawah. Ada suara berdebam keras; daun jendela telah ditutup. Semenit kemudian Nina lvanovna dengan masih memakai baju tidur datang dengan lilin di tangan.
“Apa yang berdebam tadi, Nadya?” tanyanya.
Ibunya, dengan rambut ekor kuda dan senyum malu-malu di wajahnya, tampak lebih tua, lebih sederhana, lebih kecil pada malam berhujan badai. Nadya ingat beberapa waktu lalu pernah berpikir bahwa ibunya adalah seorang wanita yang luar biasa dan ia mendengarkan setiap kata-katanya dengan bangga. Sekarang dia tidak bisa mengingat hal-hal itu, segala sesuatu yang kini datang ke dalam pikirannya adalah ibu yang begitu lemah dan tak berguna. Dari dalam tungku terdengar suara-suara bass paduan suara, dan bahkan dia juga mendengar suara, “Oh.., Tuhanku!” Nadya duduk di tempat tidur, dan tiba-tiba dia mencengkeram rambutnya dan terisak.
“Ibu, oh, ibuku,” katanya. “Kalau saja Ibu tahu apa yang terjadi padaku! Aku mohon, aku meminta pengertianmu, biarkan aku pergi. Aku mohon padamu!”
“Ke mana?” tanya Nina Ivanovna tidak memahami permasalahan, dan dia duduk di ranjang. “Kamu hendak pergi ke mana?”
Selama beberapa saat Nadya menangis dan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
“Biarkan aku pergi jauh dari kota,” akhirnya ia berkata. “Pernikahan ini tidak ada dan tidak akan ada, pahamilah! Saya tidak mencintai pria itu. Aku bahkan tidak bisa berbicara sesuatu pun tentang dia.”
“Tidak, anakku, tidak!” Nina Ivanovna berkata cepat, sangat khawatir. “Tenangkan dirimu – itu hanya karena semangatmu melemah dan akan segera berlalu. Hal seperti ini sering terjadi. Mungkin kamu sedang bertengkar dengan Andrey, tetapi hanya pertengkaran kecil dan pecinta yang bertengkar selalu berakhir dengan ciuman..!”
“Oh, pergilah, ibu, oh, pergi,” isak Nadya.
“Ya…,” kata Nina lvanovna setelah diam beberapa saat, “semua ini tampak begitu singkat, dulu kamu masih bayi, menjadi seorang gadis kecil, dan sekarang bertunangan dan akan menikah. Di alam ini ada transmutasi zat terus-menerus. Sebelum kamu tahu di mana kamu saat ini, kamu akan menjadi ibu bagi dirimu sendiri dan seorang wanita tua, dan akan punya anak perempuan pemberontak seperti yang kumiliki sekarang.”
“Sayangku, manisku, anda pandai, anda tahu, anda sedang tidak bahagia,” kata Nadya. “Ibu sangat tidak bahagia, mengapa kaukatakan semua seperti sangat membosankan, hal-hal biasa itu? Demi Tuhan, mengapa?”
Nina Ivanovna mencoba mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, dia terisak dan pergi ke kamarnya sendiri. Di tungku suara-suara bass mulai mengoceh lagi, dan Nadya tiba-tiba merasa ketakutan. Dia melompat dari tempat tidurnya dan dengan cepat pergi menyusul ibunya. Nina Ivanovna, dengan air mata berlinang di wajahnya, berbaring di tempat tidur terbungkus selimut biru pucat dan memegang sebuah buku di tangannya.
“Ibu, dengarkan aku!” kata Nadya. “Saya mohon Anda mengerti! Jika saja Ibu memahami betapa kehidupan kita begitu kecil dan rendah. Mataku telah terbuka, dan sekarang saya mengerti. Dan tentang Andrey Andreitch? Ia tidak cerdas, ibu! Demi surga yang penyayang, mengertilah, Ibu, dia bodoh!”
Nina Ivanovna tiba-tiba duduk.
“Kamu dan nenekmu sama-sama menyiksaku,” katanya sambil terisak. “Aku ingin hidup! Hidup!” ulangnya, dan dua kali ia memukulkan tinju kecilnya di atas dadanya. “Biarkan aku bebas! Aku masih muda! Aku ingin hidup, dan kalian telah membuat aku menjadi perempuan tua di antara kalian!”
Nina Ivanovna tenggelan dalam air mata pahit, berbaring dan meringkuk di bawah selimut, tampak begitu kecil, begitu menyedihkan, dan begitu bodoh. Nadya pergi ke kamarnya, berpakaian, dan duduk di jendela menunggu pagi tiba. Sepanjang malam ia berpikir, sementara seseorang tampak menyelinap jendela dan bersiul di halaman.
Pagi hari Nenek mengeluh bahwa angin telah meruntuhkan semua buah apel di kebun, dan mematahkan pohon anggur tua. Semua tampak abu-abu, suram, muram, cukup gelap untuk nyala lilin, semua orang mengeluhkan hawa dingin, dan hujan mendera di jendela. Setelah minum teh Nadya pergi ke kamar Sasha dan tanpa mengucap sepatah kata berlutut di depan kursi di pojok dan menyembunyikan wajah di tangannya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Sasha.
“Aku tidak bisa …” katanya. “Bagaimana bisa aku tinggal di sini selama ini, aku tidak mengerti. Aku tidak bisa hamil dengan orang yang kubenci. Aku benci tunanganku. Aku benci diriku sendiri, aku benci semua ini. Aku benci kehampaan ini dan semua hal yang tidak masuk akal.”
“Wah, wah,” kata Sasha, belum menangkap apa yang dimaksud. “Tidak apa-apa … itu bagus.”
“Aku muak dengan kehidupan ini,” lanjut Nadya. “Aku tidak tahan sehari lagi di sini. Besok aku akan pergi. Demi Tuhan bawa aku pergi!”
Untuk satu menit Sasha menatapnya dengan heran; akhirnya ia mengerti dan senang seperti seorang bocah. Dia melambaikan tangannya dan mulai bergegas mengenakan sandal seolah-olah dia sedang menari dengan gembira.
“Luar biasa,” katanya sambil menggosok tangannya. “Ya ampun, betapa menakjubkan semua ini!”
Dan Nadya menatapnya tanpa berkedip, dengan mata memuja, seakan terpesona, berharap setiap menit ia akan mengatakan sesuatu yang penting, sesuatu yang jauh signifikan. Dan Sasha belum mengatakan apa-apa, tapi bagi Nadya sudah tampak sesuatu yang baru dan besar telah terbuka di hadapannya sampai saat itu, dan Nadya menatap Sasha penuh harapan, siap menghadapi apa pun, bahkan kematian.
“Besok aku akan pergi,” akhirnya Sasha berkata setelah berpikir sejenak. “Temui aku di stasiun, aku akan membawa barang-barangmu di koporku, lalu aku akan membeli tiket untukmu, dan ketika bel ketiga berbunyi, masuklah ke kereta, dan kita akan pergi. Kita akan pergi sejauh ke Moskow dan kemudian ke Petersburg. Kamu punya paspor?”
“Ya.”
“Aku jamin, kamu tidak akan menyesal,” kata Sasha, dengan penuh keyakinan. “Kamu akan pergi, akan belajar, dan kemudian pergi ke mana nasib membawamu. Bila kamu mengubah hidupmu, membalikkan hidupmu, semuanya akan berubah. Hal yang besar adalah mengubah hidupmu dan membaliknya sedemikian rupa, dan yang lainnya tidak penting. Jadi kita akan berangkat besok? ”
“Oh ya, demi Tuhan!”
Tampak Nadya merasa sangat bahagia, dan hatinya terasa lebih berat dari sebelumnya. Ia akan menghabiskan sepanjang waktu menunggu sampai saat dia pergi dalam kesengsaraan dan menyiksa pikiran, tetapi ia tidak pergi ke atas dan berbaring di tempat tidurnya ketika ia jatuh tertidur, dengan jejak air mata dan senyum di wajahnya, dan tidur nyenyak hingga malam larut.

Bersambung…
Cerita sebelumnya:
Cerita Bersambung: Tunangan (4)

Menulislah

Puisi Ragil Koentjorodjati

one day writing
Ilustrasi dari ioneday.blogspot.com

Menulislah,
Jika kamu tidak lagi sanggup berbicara,
Simbol-simbol yang berhamparan di jagad ini menunggu seseorang untuk merangkainya menjadi suatu yang nyata. Sesuatu yang dapat dibaca. Tidak saja wujud harfiahnya tetapi juga bentuk-bentuk di sebaliknya.
Menulislah,
Jika suaramu tidak lagi ada yang mendengar,
Suara yang melekat pada batu-batu dinding kotamu tidak sekokoh goresan tangan yang berotot keprihatinan. Suara akan melembab di kaki-kaki pengembara dan meringkuk hilang makna seiring waktu menua. Tetapi tulisan tidak. Ia akan dibaca sebagaimana ia tertulis sepanjang masa.
Menulislah,
Jika namamu ingin tercatat di lintasan sejarah,
Betapa banyak jiwa-jiwa membeku di pengap waktu. Mereka binasa dengan sia-sia. Bergumul dalam kesendirian dan tidak mampu menolak zaman yang mengutuknya menjadi sekedar deretan huruf dan angka-angka. Bebaskan jiwamu dan jadilah manusia merdeka.
Menulislah,
Tangan dan kakimu dapat terbelenggu, tetapi tidak hati dan pikiranmu. Pikiran adalah hantu yang tidak terikat ruang dan waktu dan ia menyatakan dirinya dalam tulisan-tulisan. Menulis menghubungkanmu antara dunia jiwa dengan dunia nyata.
Menulislah,
Meski tulisanmu tidak seagung karya para pujangga atau tidak seindah rangkaian kata para penyair yang mabuk rindu. Meski penamu tak lagi tajam dan kertasmu mulai buram. Sebab Ia telah menghamparkan kertas di depan mata kita, mengisi penuh tinta di hati dan pikiran kita. Ia menunggu kita menulis sesuatu yang bermakna.
Menulislah,
Sebab sesungguhnya hidupmu lebih sastra daripada karya para pujangga dan lebih puisi daripada rangkaian kata para penyair.

Siapa Saja Ateis di Indonesia?

Gerundelan Soe Tjen Marching*)

merpati perdamaian
Ilustrasi dari img.brothersoft.com
Awal bulan Januari tahun ini, seperti dilaporkan dalam surat kabar: lelaki bernama Alex Aan ditahan polisi karena tulisannya di Facebook “Tuhan tidak ada”. Alex juga sempat mengumumkan bahwa ia tidak percaya malaikat, setan, surga atau neraka. Dan karena itu, ia dikenal sebagai seorang ateis. Saya tidak tahu apakah Alex telah berbuat hal lain, selain yang sudah disebut oleh koran, sehingga ia menghadapi ancaman 5 tahun penjara. Tapi kasus ini membuat saya bertanya “kenapa ateisme begitu disikapi dengan kecurigaan di Indonesia? Apakah seseorang yang menyatakan bahwa ia tidak percaya pada Tuhan benar-benar menyinggung agama? Apakah hanya ateis yang tidak percaya pada Tuhan? Dan Tuhan yang mana?

Ateis secara umum diartikan sebagai “tidak percaya pada tuhan”. Sedangkan, di Indonesia, dikenal semboyan “Tuhan yang maha Esa”. Tuhan itu satu. Tapi bila Tuhan itu satu, mengapa titahnya begitu berbeda dari agama satu dan lainnya, dan bahkan bisa bertentangan?

Sebagai contoh, umat Islam memiliki buku suci mereka sendiri dan Allah sendiri, masing-masing terpisah dari orang-orang Kristen. Banyak Muslim dan Kristen akan mempertimbangkan dewa dalam bentuk seekor gajah atau monyet (dewa Hindu Ganesha dan Hanuman) hanyalah mitos. Saya kira, pemeluk agama Hindu tidak akan senang jika mereka harus menyembah Allah atau Yesus Kristus. Ini berarti bahwa jika Anda meyakini atau memeluk agama tertentu, Anda biasanya akan tidak percaya pada dewa-dewa atau Tuhan lain selain Tuhan agama Anda sendiri. Artinya, orang beragama bisa dianggap ateis (tidak mempercayai) tuhan dan dewa-dewa agama-agama lain.

Bahkan aliran yang berbeda dari agama yang sama dapat memiliki keyakinan yang berbeda. Pertimbangkan dua komunitas utama Islam di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. NU percaya bahwa tahlil (mengucapkan doa untuk orang mati) adalah suatu yang Islami, karena ritual tahlil adalah dzikir (mengingat dan menghormati Allah). Namun, praktik ini dianggap sesat oleh Muhammadiyah. Jadi, pujian untuk Allah bagi suatu aliran bisa dianggap sebaliknya oleh aliran lain.

Berbagai denominasi Kristen juga memiliki perbedaan mereka; Protestan dan Katolik, misalnya. Protestan tidak berdoa kepada Santa Perawan Maria. Alasannya? Mereka percaya bahwa Alkitab menyatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya pengantara antara manusia dan Tuhan. Berikut adalah petikan yang sering dikutip mereka: “Karena ada satu Allah, dan satu pengantara antara Allah dan manusia, yaitu Yesus Kristus ” (1 Timotius 2:5). Protestan biasanya menganggap doa orang-orang Katolik terhadap Bunda Maria sebagai penyembahan berhala.

Di sisi lain, Katolik percaya bahwa karena Tuhan memilih perempuan ini untuk menjadi ibu dari Yesus, ada tempat khusus bagi sang Bunda dalam agama mereka. Karena itu, penghormatan terhadap sang perempuan adalah rasa hormat kepada Allah dan mereka mempunyai berbagai pujian terhadap Maria. Bahkan, dalam doa Rosario, mereka harus mengucapkan berpuluh kali doa “Salam Maria“.

Ada lebih banyak lagi perbedaan antara Protestan dan Katolik, salah satu yang penting adalah kepercayaan antara surga dan neraka. Katolik percaya bahwa kebanyakan orang pada akhirnya akan pergi ke surga setelah mati (bahkan beberapa ajaran menyebutkan semua manusia akhirnya akan masuk surga). Namun, mereka yang dianggap belum “layak” untuk langsung menuju ke tempat indah ini karena dosa-dosa mereka, akan dikirim terlebih dahulu ke dalam api penyucian – yaitu, tempat untuk penyiksaan sampai mereka bersih dari kesalahan mereka.

Tetapi, tidak ada api penyucian dalam Protestan. Mereka biasanya percaya bahwa orang akan pergi ke surga atau neraka, tidak ada di antara keduanya. Jadi, dalam agama yang sama pun, Tuhan tampaknya memiliki aturan yang berbeda. Memang, kebiasaan suatu agama atau bahkan aliran dapat dianggap di mata orang lain. Jika kita berbicara tentang agama-agama di dunia, bisa Anda bayangkan perbedaan mereka? Berapa macam surga, neraka dan dewa-dewa yang ada?

Ketika Agama Dianggap Ateis

Beberapa abad yang lalu, Roma menganut paham politeisme (percaya terhadap banyak tuhan), dan pada umumnya cukup toleran terhadap agama-agama lain. Mereka bahkan sering mengadopsi dewa-dewa orang lain. Namun, kepercayaan pada satu Tuhan dianggap aneh bagi penduduk Mediterania kuno. Akibatnya, banyak orang Yunani, Romawi dan Mesir memandang dengan kecurigaan agama baru saat itu, Kristen. Bahkan, tersebar isu bahkan orang-orang Kristen itu kanibal, karena mereka memakan tubuh Kristus. Dan mereka dianggap “ateis”.

Pada 64 M, selama pemerintahan Kaisar Nero (37-68), api mengoyak Roma selama enam hari. Kota Roma hampir hancur. Dalam kemarahan, rakyat menyalahkan Kaisar yang tidak bisa menangani tragedi ini. Nero segera menuding jarinya kepada orang-orang Kristen, untuk mengalihkan kemarahan rakyatnya. Nero memerintahkan beberapa pentolan kelompok “ateis” ini ditangkap. Orang-orang Kristen yang ditangkap ini, kemudian disiksa untuk menyerahkan nama orang-orang Kristen lainnya. Dan mereka-mereka ini dihukum, antara lain, dengan dijadikan santapan singa, dengan ditonton oleh publik Roma.

Ateis – Berbeda pada Waktu dan Tempat

Kristen adalah korban dalam cerita itu, tapi mereka kemudian menjadi para penganiaya di lain waktu. Selama Perang Salib, orang-orang Kristen menyatakan perang terhadap kaum politeis dan Muslim. Intinya adalah, dalam era yang berbeda dan di tempat yang berbeda, berbagai dewa atau tuhan dapat dianggap lebih benar dan asli daripada yang lain. Yang dianggap sebagai ateis juga dapat bervariasi. Bila dulu, Kristen dianggap ateis oleh para politeis Roma, pada jaman lainnya orang Kristenlah yang menuduh politeis sebagai ateis. Seringkali, kita dapat dianggap ateis oleh orang-orang dengan sistem kepercayaan yang berbeda.Karena itulah, Stephen Roberts yang mendeklarasikan dirinya sebagai ateis, pernah berkata: “Sebenarnya kita berdua adalah ateis. Aku hanya percaya pada satu tuhan lebih sedikit daripada Anda.”

(Versi yang hampir sama dalam bahasa Inggris telah dimuat di Jakarta Globe).

*)Soe Tjen Marching adalah penulis “Kisah di Balik Pintu”.

Jika Saat Perpisahan Harus Tiba

Puisi Ragil Koentjorodjati

kehilangan kekasih
Ilustrasi diunduh dari google

Hidup ini tidak abadi dan cinta sepasang anak manusia pun tidak abadi.

Jika tibatiba hariharimu sunyi dan kosong, semua kaurasa hampa dan membosankan,
ketahuilah bahwa aku juga menjalani harihariku yang sunyi dan kosong, semua terasa hampa dan membosankan.

Jika tanganmu menggapai, mencari pegangan untuk setiap kelelahan, mencari jawaban atas setiap kebingungan,
tanganku pun akan menggapai, mencari pegangan untuk setiap kelelahan dan berharap menemui jawaban atas setiap kebingungan.

Jika engkau menyesali saat pertemuan, berharap engkau tidak pernah bertemu denganku,
Aku akan melupakan semua harapan untuk bertemu denganmu, dan menghapus semua penyesalan.
Dan ketika hatimu menjadi sakit dan terbelah saat kaupergi semakin menjauh dariku,
Hatiku pun akan sakit dan terbelah seiring jauh langkahmu dari diriku.

Jika kenangan tentangku adalah sesuatu yang dapat engkau ingat, maka aku akan mengingat segala sesuatu yang ada padamu.
Jika sepenggal demi sepenggal engkau menghapus kenangan itu, maka aku pun akan menghapus semua tentangmu sepenggal demi sepenggal.
Jika suatu hari nanti kita bertemu kembali, dan kamu mengajakku berkenalan layaknya orang asing,
aku akan memperkenalkan diriku padamu sebagai orang asing.

Jika saat perpisahan harus tiba, dan engkau belum mau mati, lalu mulai belajar mencintai orang yang mencintaimu,
Maka aku pun juga belum mau mati dan belajar mencintai orang yang mencintaiku.

Dan kita tidak akan pernah menemukan jawaban mengapa kita harus berpisah selain bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini.

Cuma Nyaris Mati

Puisi Ragil Koentjorodjati
pelepasan roh
Ini adalah puisi kesekian kali yang rencananya kutulis berkali-kali,
tentang kecewa,
tentang pedih,
dan sedikit tentang luka.

untuk binarbinar mata yang menggelepar,
untuk getir hatihati yang menggetar,
untuk tubuhtubuh luruh dalam rapuh,
untuk jiwajiwa ranggas usai getas.

Ini adalah puisi kesekian kali yang rencananya kutulis berkali-kali,
tentang amarah,
tentang benci,
dan sedikit tentang cinta.

mungkin juga pernah kaurasa,
hati tercabik -terbengkalai- putus asa,
ditinggalkan dan meninggalkan,
harga diri terbelenggu di lacilaci.
lalu perlahan dan mengular tumbuh keinginanmu untuk mati,
segera mati; mati segera,
hingga pasrah; hingga sumarah,
hingga tanpa kausadari nyawamu terbelahbelah,
tujuh belah.

satu nyawa mati untuk kekasih hati,
satu nyawa mati untuk ditinggalkan,
satu nyawa mati untuk meninggalkan,
satu nyawa mati untuk harga diri,
satu nyawa mati untuk pasrah,
satu nyawa mati untuk sumarah,
satu nyawa mati untuk tujuh nyawa hidup kembali.

lalu engkau akan mati berkalikali,
berkali dan berkali,
tidak ada lagi rasa takut mati,
engkau menunggunya dan terus menunggunya,
hingga bosan,
hingga engkau sanggup berkata,
:semua luka membuatku cuma nyaris mati.

Sungguh, ini adalah puisi kesekian kali yang rencananya kutulis berkalikali.