Siapa yang Masuk ke Surga?

Renungan Kandjeng Pangeran Karyonagoro
Suatu kali pada jam istirahat, sehabis menggoda manusia, sebagai setan, saya menemui Tuhan.
“Selamat siang Tuhan. Salam hormat.”
“Maaf, saya bukan seorang militer.”
“Oh maaf Tuhan.”
“Langsung saja pada pokok persoalan.”
“Hmm … begini Tuhan. Saya jadi ragu.”
“Kenapa?”
“Memangnya ukuran manusia yang akan Engkau masukan ke sorga itu apa Tuhan?”
“Ya seperti kamu “
“Ah Tuhan bisa aja. Saya serius Tuhan.”
“Apa yang membuat kamu ragu?”
“Saya lihat kok manusia yang beragama banyak yang kasar, sok suci, munafik dan .. tidak toleran ya Tuhan?”
“Oh itu masalahnya. Itulah manusia yang pertama saya tendang masuk neraka.”
“Yang berdoa menangis-nangis bagaimana Tuhan?”
“Oh itu juga. Masak tidak bisa menerima kenyataan yang saya berikan.”
“Yang minta-minta sumbangan di jalan dan mengajukan proposal kemana-mana dengan alasan pembangunan rumah ibadah Tuhan?”
“Itu yang lebih parah. Menjual nama saya demi keuntungan dunia. Bohong itu.”
“Yang tidak beragama tapi berkepribadian baik bagaimana Tuhan?”
“Itu yang penting.”
“Jadi untuk apa agama Tuhan?”
“Itu kan buatan manusia.”
“Yang buatan Tuhan?”
“Hati mereka. Nurani mereka. Itu kuncinya.”
“Jadi agama itu salah Tuhan?”
“Bukan salah. Apa saja boleh asal hati manusia itu baik. Mau beragama atau tidak sama saja. Yang penting hatinya.”
“Maksudnya Tuhan?”
“Yang beragama ada juga yang berhati baik. Yang tidak beragama juga ada yang berhati baik. Begitu juga sebaliknya. Intinya pada kebaikannya. Bukan pada beragama atau tidaknya”.
Salam Welas Asih, Rahayu.

You, The Guy I Fall in Love Again

Puisi Tania Limanto

Love,
I lie and said I don’t love you.
Hate,
I lie again and said I hate you.
But,
You know what really inside me.
And,
I know what lies in your heart…
Go,
Is the word I ask you to do.
Tears,
Is only you can make me cry.
Laugh,
We always laugh together and cannot stop it.
Forever,
Is the word that we never have.
Miss,
Is the every moments feeling that I have for you.
I love you and please go away….
Sad,
this love will end with that word…..

Adigang, Adigung, Adiguna

Renungan Agus Handoko

jika tidak mampu menjadi bintang di langit malam, jadilah sebatang lilin yang meneduhkan (retakankata)

Istilah adigang, adigung dan adiguna dikenal pada budaya jawa yang pada garis besarnya menunjukkan sifat sombong karena merasa memiliki suatu kelebihan. Kelebihan tersebut dapat beraneka ragam seperti kecantikan atau ketampanan paras, keelokan dan keindahan tubuh, status sosial – garis ningrat, keturunan priyayi atau bukan- dan bisa juga karena kepandaian ilmu pengetahuan serta kemahiran yang dipunyai. Sebagaimana tersirat dalam sebuah nasehat di komunitas jawa bahwa sifat adigang adigung dan adiguna hendaknya dijauhi dengan berpegang pada bahwa semua kelebihan hanyalah wujud kasih Sang Pencipta dan hanyalah sebuah titipan yang dikaruniakan Tuhan YME. Titipan yang sewaktu-waktu akan diambil dan diminta pertanggungjawabannya kelak.
Sifat dan perilaku Adigang sering kali digambarkan sebagai seekor menjangan atau rusa yang cantik menawan, elok rupawan dan bermahkota tanduk yang tiada duanya di dunia. Keelokan dan semua kelebihan penampilan wadag tersebut seringkali menggiring sang rusa memandang dirinya sendiri terlalu tinggi dan merasa paling berharga. Cara memandang seperti itu sering kali menjadikannya congkak, menyombongkan diri dan pamer kepada yang lain. Ia lupa bahwa karena tanduknya pula rusa mendapat malapetaka dengan dijadikan sasaran para pemburu. Ia juga lupa tanduknya yang indah begitu mudah tersangkut, terjepit di semak belukar yang kemudian menyebabkan kematiannya.
Sedang sifat dan perilaku Adigung dapat dicontohkan sebagai gajah yang besar dan kuat. Dengan segala keperkasaannya itu, ia merasa mampu melawan segala rintangan dari lawan-lawannya. Badannya gedhe ditakuti binatang lainya. Namun, apabila tidak disadari, kelebihan gajah tersebut juga menyimpan malapetaka bagi dirinya sendri. Gadingnya yang megah menjadi incara pemburu. Dan badan yang besar dan berat menyulitkannya menyelamatkan diri ketika terjerumus lubang buatan para pemburunya. Sifat adigung, mengandalkan kekuatan keperkasaannya semata sehingga tidak eling dan waspada akan marabahaya yang pada akhirnya mencelakakan dirinya.
Sifat dan perilaku Adiguna dianalogikan sebagai ular berbisa yang dengan racunnya mudah melumpuhkan bahkan membuat mati lawannya. Menggunakan kelebihannya dengan sembrono menjadikan ular dianggap sebagai binatang dan musuh yang berbahaya. Kesombongan yang bersumber dari kesaktiannya menjadikannya dimusuhi dan menjadi sumber malapetaka bagi dirinya.
Selain adigang, adigung dan adiguna di atas, jaman ini melahirkan juga adiwicara yang bisa dijelaskan sebagai sifat dan perilaku ceroboh dengan mengumbar pembicaraan. Seperti burung-burung yang berkicau ke sana kemari tanpa memperhatikan manfaat dan pengaruhnya terhadap yang mendengarkan. Dan seperti juga burung, jika kicauannya indah, burung itu akan dicari pemburu. Jika kicauannya buruk ia akan dibinasakan.
Tidak ada yang lebih pantas untuk dilakukan selain mencegah diri dari kesombongan karena berbagai karunia yang dimiliki. Eling lan wapada bahwa semua karunia hanyalah titipan Illahi. Semoga ramadhan kali ini memampukan kita semua untuk belajar mengendalikan hawa nafsu, berbenah untuk selalu sadar dan mawas diri agar menjadi lebih baik dan memberi manfaat bagi hidup dan kehidupan. Semoga. Selamat menjalankan ibadah puasa. Rahayu, rahayu, rahayu.

Cerita Bersambung: Tunangan (1)

Cerita Anton Chekhov
Alih Bahasa Retakankata
kasih tak sampai

Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam dan bulan purnama bersinar penuh di atas kebun. Di rumah Shumins acara merayakan malam atas permintaan nenek, Marfa Mikhailovna sudah berakhir. Nadya – tadi dia pergi sejenak ke taman – kini bisa melihat meja tempat pesta makan malam itu di ruang makan, sementara neneknya begitu gaduh dengan gaun sutra cantik nya. Bapa Andrey, seorang imam kepala katedral, sedang berbicara dengan ibu Nadya, Nina Ivanovna di bawah bayang cahaya senja yang menerobos melalui jendela. Ibunya, untuk beberapa alasan, tampak sangat muda di bayang cahaya senja itu. Andrey Andreitch, putra Bapa Andrey, berdiri mendengarkan pembicaraan itu dengan penuh perhatian.
Seperti biasa, udara di taman terasa sejuk, dan bayang gelap penuh kedamaian berbaring di tanah. Ada suara katak bernyanyi, jauh, jauh melampaui kota. Ada rasa bulan Mei, Mei yang manis! Seseorang menarik napas dalam-dalam dan meinginkan kemewahan yang tidak ada di sini, tetapi jauh di bawah langit, di atas pohon-pohon, jauh di alam terbuka, atau di ladang dan kayu hutan. Kehidupan musim semi yang sedang berlangsung, penuh misteri, indah, kaya dan suci di luar pemahaman yang lemah, manusia pendosa. Untuk beberapa alasan seseorang ingin menangis.
Dia, Nadya, sudah dua puluh tiga tahun. Sejak berumur enam belas tahun, ia begitu memimpikan pernikahan dan pada akhirnya ia bertunangan dengan Andrey Andreitch, pria muda yang kini berdiri di sisi lain jendela. Dia menyukainya, dan pernikahan mereka sudah ditetapkan tanggal 7 Juli. Namun entah mengapa, tidak ada sukacita dalam hatinya. Tidurnya tidak nyenyak dan semangatnya terkulai. Melalui lubang jendela yang menghubungkan dengan dapur di bawah tanah, dia dapat mendengar suara para pelayan bergegas, kelontang pisau, dan debam pintu ayun. Lalu bau kalkun panggang dan ceri acar menyeruak, dan untuk beberapa alasan tampaknya ia akan seperti itu sepanjang hidupnya, tidak ada perubahan dan tidak ada akhirnya.

Bersambung…

Concerto Rasa

seperti gula-gula dalam balutan nada minir
terkadang datar tanpa getar
menyisip ironi pada simfoni

Tubuhmu adalah lagu,
tempat syair-syair hendak kutulis
huruf demi huruf,
kata demi kata,
melengkapi irama jiwa yang kaucipta
sempurna
dari setiap liuk racau galau penghamba cinta
helaan nafas serupa gesekan biola
dan desahmu,
desah panjang penari yang kehilangan malam untuk sembunyi
dari kata di ujung senja
-jangan tinggalkan aku sendiri-

Concerto rasa ini,
Beku manakala pandang matamu sedingin salju
:jangan pernah kaumenangis
Agar kaudengar doa
biarkan aku mati, usai menyelesaikan concerto rasa ini.

Balada Tembok Stasiun

Air mata rembes dari tembok-tembok pinggiran stasiun,
tak berbentuk aromanya,
ada asin yang kering, atau amis dan pesing
kombinasi sempurna suram dan tanpa harapan
:lelaki berkelamin serupa kuas dengan kencing melukis tanda “i love u”
nenek tua tergelak berkata:
:engkau hanya perkasa pada tembok
dan tetes-tetes keringat menggerimis dari punggung bernanah,
perempuan tua menua sia-sia

Pecah pilunya,
tergerus derit gerigi besi panjang melengking
seiring erang perempuan meregang di bawah bayang hitam malam,
peluh sakit berpuluh sehari menempel mencetak gambar tangan menggenggam rupiah puluhan ribu
ditingkahi sorot lampu kereta serupa efek cahaya memandikan dua manusia karam dalam dosa
Begitu mulia!

Ah, wangi karat besi itu
mengingatkanku akan engkau
yang setia menunggu di jam dua pagi
di ujung lorong sepi
tembok-tembok pinggiran stasiun
berpuluh tahun lalu.

medio Juli 2011

Puisi Kekasih Hatiku

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

ilustrasi ilikesunflower.files.wordpress.com
Ini puisi kekasih hatiku. Katanya, ia tidak mampu menuliskan rasa dalam kata. Jadi, ia memintaku memaafkan kenaifannya. Tentu saja, itu sesuatu yang tak perlu diminta.
Awalnya ia bertanya, “Kata apa yg mewakili hati penuh syukur, berpasrah dan meletakkan segala persoalan pada-Nya?”
“Cukup rumit kurasa. Kenapa tidak kaupakai metafor saja?”
Hingga di satu ketika, ia menuliskan dua kata pertama, kerudung jiwa. Lalu serupa mantra, kata-kata menggelora dari hatinya.

Kerudung Jiwa

Inginku hanya sederhana,
menjadi perempuan seutuhnya
menghamba Ia Sang Maha Cinta
dengan segenap pujian dari setiap degup dada

Kututupi jiwaku yang suci sejak di detik pertama kelahirannya
berkerudung doa berenda puja
agar senantiasa perawan hingga ajal menjelang.
Bukankah tidak ada aurat yang lebih berharga selain jiwa suci yang Ia titipkan dalam hati?

Kujaga pandanganku dari buruk prasangka
Kujaga bibirku dari bicara sia-sia
Kujaga tubuhku dari gerak tanpa makna
Kubiarkan mereka yang mengejekku kala tak kukenakan penutup kepala
Kumohonkan maaf bagi mereka yang mengataiku mengumbar nafsu pria
Kulapangkan jalan bagi mereka yang menuduhku berlumur dosa

Sebab Ia tidak memandang apa yang menutup kepala
Sebab Ia menginginkanku mengenakan kerudung jiwa
Agar satu-satunya aurat yang kupunya, layak kupersembahkan pada-Nya.

Itulah puisi kekasih hatiku. Lucu ya? Tapi, ia tidak sempat menuliskannya. Sang Maha Cinta memilih jiwa perawan kekasih hatiku bersemayam di kalbu-Nya. Hanya bisiknya yang kudengar dari surga.

Medio juni 2011

retakan kata

Puisi Sri Wahyuni

ilustrasi: radiokonsultan.multiply.com
Lembar demi lembar,
kau cipta puisi cinta.
aku harus menyebutnya apa,
tentang semua rasa ini?
ketika aku tahu pasti,
hatimu kosong tak berpenghuni.

Kau,
membahasakan dirimu adalah kendi
yang berisi air suci
bagi mereka
musafir yang ingin melepaskan dahaga.
tanpa pernah sadar
tentang kamuflase
pada sebuah oase
di rangkaian rima
pustaka kata-kata.

Buruh Migran dalam Deretan Angka

Gerundelan Ragil Koentjorodjati

manusia yang terbelenggu
Berapa sebenarnya harga satu buruh migran? Tidak perlu kaget dengan pertanyaan semacam ini.
Jika kita merujuk pada berita di media massa, maka harga tangan senilai Rp 250 juta. Nyawa Darsem senilai Rp 4,5 milyar (kompas). TKI yang terancam hukuman mati 303 orang. Kalau dikalikan 4,7 milyar, menjadi sejumlah Rp 1.424,1 milyar. Satu trilyun lebih.
Merujuk pada keterangan Migrant Care, para buruh migrant memberikan penghasilan pada Kemenakertrans senilai rata-rata Rp 750 milyar setahun. Dari jumlah tersebut, Rp 500 milyar dari dana perlindungan yang dipungut dari TKI, yaitu sebesar USD 15 per TKI. Selain itu, calon TKI juga harus membeli asuransi seharga Rp 400.000 per orang. Setiap tahun, rata-rata 600.000 TKI diberangkatkan. Jika menghubungkan dengan data dari International Organization for Migration (IOM), pada tahun 2007, terdapat 2.700.000 TKI ke berbagai belahan dunia, maka saat ini terdapat kurang lebih 5.100.000 TKI. Pada tahun 2007, jumlah TKI kita masih menduduki urutan kedua setelah Filipina yang sejumlah kurang lebih 8.233.000 TKI.
Bayangkan perputaran uang yang ada di sana. Luar biasa besar. Pada tahun 2006, Bank Dunia memperkirakan bahwa adanya migrasi mampu mendorong perputaran uang senilai USD 150 milyar per tahun. Dan pada tahun 2009, pengiriman uang ke Negara-negara pengirim TKI mencapai USD 416,5 milyar. TKI kita berkontribusi sebesar 1,63% atau senilai USD 6, 788 milyar. Atau kalau dengan rupiah menjadi sebesar Rp 67.889,5 milyar.
Menakjubkan angka-angka dari bisnis buruh migrant ini. Menjadi sangat masuk akal jika berbagai pihak ingin terlibat mencicipi manisnya buruh migrant. Daro uraian tersebut menjadi sangat mudah menentukan berapa harga satu buruh migrant. Dengan menggunakan rata-rata, maka satu buruh migrant menghasilkan kurang lebih Rp 133 juta setahun. Jadi kalau harga tangan Rp 250 juta, maka itu sudah terlalu mahal. Apalagi Rp 4,7 milyar per orang.
Namun perlu saya tegaskan bahwa logika seperti itu amat sangat ngawur. Jika anda mencermati angka-angka tersebut, maka banyak pertanyaan yang semestinya dipikirkan berbagai pihak. Fakta menunjukkan, jumlah TKI menduduki peringkat kedua tertinggi di Asia, namun memberikan hasil sangat sedikit (hanya 1, 63%). Angka tersebut mengindikasikan bahwa kualitas TKI kita buruk. Kualitas yang buruk tentu disebabkan penanganan yang buruk dari berbagai pihak yang berkepentingan atas perputaran uang dari bisnis TKI. Kenyataan ini didukung dengan berbagai data yang menunjukkan adanya kasus 49 ribu lebih TKI menghadapi persoalan di luar negeri (Kompas). Persoalan yang disebabkan oleh TKI sendiri, disebabkan oleh system dan disebabkan oleh orang-orang yang tidak punya hati.
Angka-angka dan persoalan tersebut menunjukkan bahwa buruh migran melulu hanya dipandang sebagai sebuah komoditas. Bahkan jika pun itu dipandang komoditas, penanganannya pun sangat buruk. Yang ada di benak mayoritas pihak hanya bagaimana mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari para buruh migran. Sangat jauh harapan buruh migran diperlakukan sebagai manusia Indonesia yang tidak boleh dihargai dengan uang. Berapa pun mahalnya. Lalu apa yang seharusnya dilakukan?
Mereka adalah manusia. Meski di Arab ada kemungkinan dianggap budak, mereka adalah tetap manusia Indonesia. Perlakukan mereka sebagaimana layaknya manusia. Penanganan segala persoalan terkait paut dengan TKI yang butuh makan dan butuh hidup, harus ditegaskan dalam hukum yang memanusiakan manusia. Hukum dibangun sebagai landasan membentuk system yang melindungi mereka. Bila perlu sanksi berat dan tegas bagi pihak-pihak yang lalai dan melanggar aturan. Kita tahu banyak calo dan agen liar yang begitu mudah berkeliaran. Kita tahu institusi legal seperti perusahaan asuransi dan perbankan yang hanya mengambil keuntungan. Kenakan hukum tegas pada mereka, termasuk aparat pemerintah yang tidak becus menangani TKI. Adakan persyaratan yang memadai bagi infrastruktur buruh migran agar buruh migran tidak sekedar menjadi budak dengan sebutan pembantu. Bekali mereka dengan keahlian yang cukup.
Lebih penting dari semua itu adalah memanusiakan mereka di negeri sendiri. Sehingga mereka merasa memiliki rumah dan betah tinggal di rumah bernama Indonesia. Ciptakan pemerataan lapangan kerja buat mereka.

Tirani Kelamin Jingga

(Untuk perempuan-perempuan mati di perantauan)

Puisi Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi: i241.photobucket.com

Rembulan kesiangan, Sayang
lama lelah di penantian
tanpa ada yang merindukan

Wajahmu? buram
centang perentang penuh radang
tertikam tirani kelamin jingga

Namamu? Cemar
sisa kelahi nasib semalam
menyisakan rembulan kesiangan
di wajahmu,

Di dadamu,
di punggungmu,
di rahimmu
meleleh birahi lelaki berkelamin jingga
Dan kami?
terbuai nikmat desah sedihmu

Hidup kita? Suram
berada di ujung tanduk kelamin jingga
lelaki terberkati para nabi

Kepala kita? Hilang
terbenam lendir kemunafikan
menunggu perayaan di hari lebaran
tanpa badan sebagai bingkisan ucapan maaf memaafkan.

Medio juni 2011

Jangan Salahkan Jika Rakyat Kecil Berbohong!

image: 2.bp.blogspot.com
Sekali lagi kita terperangah adanya kasus ironis di negeri ini. Ny. Siami dan keluarga adalah pemicunya ketika prinsip-prinsip mereka bertentangan dengan kepentingan warga . Lalu beramai-ramai media massa (koran dan elektronik) termasuk pengamat moral menghakimi bahwa moral warga bobrok dan bahkan beberapa mencanangkan perlunya gerakan nasional kejujuran.
Saya tidak hendak mentertawakan perjuangan mereka yang mengutamakan kejujuran. Saya tidak hendak mentertawakan “kebodohan” Ny Siami dan keluarganya. Sungguh, saya juga turut prihatin dengan kondisi mereka. Tetapi saya juga harus tertawa sekeras-kerasnya. Mengapa? Karena di tengah hiruk-pikuk bahwa kejujuran itu penting TIDAK ADA yang bertanya mengapa yang dijadikan contoh dan diangkat media NY SIAMI? Mencermati isu itu, mau tidak mau saya jadi berprasangka buruk, bagaimana mungkin memperjuangkan kejujuran dengan mengelabui atau membuat pembodohan “bagaimana jujur yang seharusnya”.
Ada banyak korban-korban keculasan masyarakat di negeri ini. Ada banyak orang yang hancur karena jujur di berbagai instansi dan pelosok negeri. Tetapi mengapa Ny Siami yang diangkat? Apakah itu hanya kebetulan belaka media menemukannya? Mengapa bukan orang-orang penting yang diambil contoh sebagai tauladan bahwa kejujuran memang pantas diperjuangkan? Secara kasar media hendak mengatakan: lihat, orang kecil saja bisa jujur, mengapa kamu tidak?
Kejujuran dalam Belenggu Kekuasaan
Di mata saya, Ny Siami adalah wujud konkrit rakyat kecil yang benar-benar tertindas dari segi apapun. Lalu di mana letak pembodohan itu? Ketika orang lemah, tertindas secara politik, ekonomi bahkan tertindas dalam menafsirkan keutamaan, tetapi diposisikan untuk berjuang melawan masyarakat yang culas, pemilik kekuasaan yang tidak jujur, DI SITULAH pembodohan itu. Di tengah masyarakat yang serba kekurangan, mereka harus bertahan hidup dengan menjunjung tinggi keutamaan. Rakyat kecil harus fair play, tetapi pemilik modal dan kekuasaan boleh tidak fair play. Itulah yang saya sebut kejujuran dalam belenggu kekuasaan. Mengambil contoh pada titik akhir akibat dari satu persoalan menjadi sangat picik dalam kondisi Indonesia yang serba sakit.
Mari kita lihat posisi sekolah dalam persoalan itu. Mengapa mereka melakukan upaya “contek massal”? Apakah penganjur strategi contek massal dinilai tidak jujur di mata atasannya? Di situ muncul berbagai paradok yang tidak semudah mengatakan bahwa setiap orang harus jujur. Mungkin saja jika tidak dilakukan langkah “contek massal” akan berakibat pada kerusakan yang lebih luas karena banyaknya siswa yang tidak terselamatkan. Bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga kerusakan mental.
Perkembangan kejujuran membutuhkan situasi kondusif dari pemegang kekuasaan dan pemilik modal. Mereka juga harus jujur ke bawah jika menuntut yang di bawah berbuat jujur. Mereka harus memberi ruang yang lebih luas untuk berbeda pendapat demi menemukan kebenaran. Sangat tidak adil menuntut yang di bawah dengan alasan loyalitas pada kelompok, mereka harus jujur pada yang di atas, tetapi yang di atas bersikukuh, demi keutuhan komunitas, yang di atas boleh berbohong bahkan menyebarkan berbagai kebohongan. Ini tidak hanya berlaku pada sektor swasta, tetapi juga sektor pemerintah. Kejujuran justeru harus ditegakkan di mulai dari para pemimpin agama, pemerintah, bos-bos perusahaan, sehingga orang kecil mudah untuk menyerahkan loyalitas dan kejujuran pada siapa mereka mengabdi. Jadi, seandainya Ny Siami memilih tidak jujur, saya pun tetap mengerti pilihan itu. Karena sistem yang dibangun oleh orang-orang yang tidak jujur, dikelola orang-orang tidak jujur, hanya akan menghasilkan ketidakjujuran baru. Jangan salahkan jika rakyat kecil berbohong.

Karena Setiap Kata Punya Makna