matahari, berbaring, kejutkan seekor chukar
lebih awal tiba, kutunjuk gunung jauh berkata
pesona awan, lihat mata air menetes
Dengar! Suara pohon ditebang.
Kita dengar sepanjang hari pohon roboh
musim sedang dimulai, hutan berbenah hijau
Siapa akan melewati istana megah, melewati sejuta
pilar Romawi Kuno dan pedang dan tombak?
Melihat serigala gunung menjelma, lalu jadi manusia
mengarungi lautan ke tepi pantai kuning emas
——— agar sendiri ada sedikit nostalgia
ketika arus pasang berbuih datang
Kau pun tertawa, katamu, namun kita hanya
berbaring di sini, di atas tebing tertutup bunga
matahari, dan hanya bisa menerka bagaimana tenang
menjadi tua, mata air menetes, lewati bebatuan
cadas, di sini kita hidup api, berburu, basuh badan
mendengar suara pohon roboh di jauh
II
Buka pintu kuil, terperanjat warnamu
gunung dan ngarai, setetes telaga memantul
genta tua ketuk selaput waktu, dan aku hanya
seorang kelana putus dawai, suka nyanyi
kisah di malam sebelum benteng runtuh
kereta kuda melesat ke tepi sungai api kemah
Kita kadang juga berbincang sampai ombak laut
prajurit-prajurit gugur di tanah jauh, zirah menyimpan
dingin dataran tinggi, ujung baju melekat biji-biji gandum
kening pecah cahaya dan hampa, siapakah di malam
sebelum benteng runtuh berdoa? Siapakah tangan
melingkar seuntai japamala? Siapakah berselimut jubah
takdir membaca sutra? Sudah berapa kaki
dari permukaan laut, kau bertanya
rambut kacau bahu bergetar
Lain kali bertemu kau lagi, semestinya di kota tua
tropis, saat itu sudah dataran rendah, jangan sebab tiada cinta
duduk di atas kursi rotan di sisi akuarium ikan mas
cuma bicara tentang angin kabut England
selat, lampu, tiang layar, dan arah angin
Lain kali bertemu kau lagi, singkirkan musim hujan
kota kecil, biarkan matahari jemur kolam air mancur
jalanan, bangku taman, kaleng bir, elang berputar
Saya menerima surat dari seorang wanita muda Muslim -yang kepadanya saya ingin mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya untuk rasa ingin tahunya yang besar, ia ingin mengetahui pendapat agama jika seorang muslim seperti dirinya menghabiskan waktu bersama ibunya selama Natal. Dan saya mengagumi kebaikannya dalam menjaga hubungan baik dengan ibunya dan keinginannya untuk menunjukkan contoh yang sangat baik bagaimana Islam sebenarnya.
Saya tetap terkejut dengan pendapat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dari beberapa orang yang mengklaim dirinya sendiri sebagai orang berpengetahuan, yang menyamakan ‘menghabiskan waktu bersama non-muslim selama Natal dan sejenisnya’ adalah syirik atau suatu kemusyrikan! Pendapat ini lebih merupakan penyimpangan belaka dari ajaran otentik Islam yang benar, -baik secara tertulis maupun semangat (spirit).
Islam adalah agama rahmat dan itu adalah nilai yang mencakupi semua manusia terlepas dari perbedaan agama mereka, perbedaan budaya dan latar belakang etnis, bahkan mencakupi juga tanaman, hewan dan benda-benda. Dengan kata lain, konsep rahmat dalam Islam adalah melingkupi seluruh alam semesta, bukankah seperti itu yang dilakukan seorang ibu kandung?
Fakta dalam Al Quran menunjukkan bahwa Allah tidak sekedar mengijinkan kita menjaga hubungan baik dengan keluarga non-muslim, namun lebih dari itu, Al Quran mewajibkan seorang muslim untuk mematuhi apa yang jelas tertulis dalam Al Quran ketika Tuhan mengatakan, ” Tapi jika mereka (orang tua Anda) bertekad membuatmu menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui, janganlah kamu mematuhi perintah mereka melainkan temanilah mereka di dunia ini dengan kebajikan sepatutnya dan ikutlah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku [ dalam pertobatan ] …” (?) 31:15[1]
Dalam ayat yang mulia ini, Allah memerintahkan kita untuk menjaga hubungan yang hangat dengan keluarga kita, -bahkan ketika mereka mengerahkan segala upaya dan tekanan pada kita untuk meninggalkan agama kita, sebagaimana kita menjaga hubungan hangat dengan mereka yang menunjukkan rasa hormat kepada pilihan agama kita dan mereka yang tidak menghina keyakinan kita dalam cara atau bentuk apapun; bukankah kita seharusnya lebih bergairah untuk menunjukkan kebaikan ekstrim kita dan menyelimuti mereka dengan rahmat melalui ucapan dan perbuatan kita sebagai wujud nyata bahwa Islam adalah segalanya?
Muslim mengungkapkan kasih kepada segenap ciptaan Tuhan sebagai tanda hormat kepada Yang Illahi dan Islam menempatkan pentingnya konsep moral yang tinggi dan membuat hubungan yang unik antara standar etika yang baik dengan iman dan keyakinan. Nabi (saw) mengatakan “Ia yang terdekat denganku di hari penghakiman adalah orang-orang yang memiliki moral tertinggi “. Oleh karena itu kita diperintahkan untuk menunjukkan kebaikan kepada setiap orang dan memperlakukan mereka dengan rahmat dan cinta serta menahan diri dari tindakan diskriminasi terhadap mereka terlepas dari apapun agama mereka, latar belakang budaya atau sejenisnya .
Tidak ada halangan hukum untuk berpartisipasi dalam merayakan kelahiran Yesus (saw). Islam adalah sistem terbuka dan para pengikutnya percaya , menghargai dan menghormati semua nabi dan rasul, dan memperlakukan para pengikut agama-agama lain dengan kebaikan sesuai dengan kata-kata dari Tuhan Yang Maha Esa : Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka[2], dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.” [ Al – ‘ Ankabut , 46 ][3]
Yesus putra Maryam, (saw ), adalah salah satu dari para nabi yang ditandai dengan tekad , resolusi dan kesabaran . Nabi Muhammad [saw] berkata : “Aku lebih berhak atas Yesus anak Mariam daripada siapa pun dalam kehidupan ini dan di akhirat, tidak ada nabi lain yang telah dikirim di antara kami. ” Setiap Muslim percaya bahwa Yesus adalah seorang nabi manusia yang melakukan mujizat yang besar , seperti menghidupkan kembali orang mati dan menyembuhkan orang sakit dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
Ini bukan karena ia adalah seorang dewa atau anak Allah dalam arti fisik prokreasi – Allah lebih penting di atas itu. Merayakan hari kelahiran Yesus adalah tindakan keyakinan terlepas dari iman orang-orang Kristen dalam hal itu . Oleh karena itu , berpartisipasilah dalam perayaan teman dan keluarga, makan dengan mereka dan secara sopan dan bijaksana menahan diri dari makan daging babi dan minum alkohol. Jangan memberi perhatian kepada siapa saja yang ingin merusak hubungan antara Anda dengan keluarga Anda dan orang lain atas nama Islam, karena Islam bebas dari semua ini.
[1](But if they (your parents) endeavor to make you associate with Me that of which you have no knowledge, do not obey them but accompany them in [this] world with appropriate kindness and follow the way of those who turn back to Me [in repentance]… 31:15).
Terjemahan Al Quran Indonesia:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.”
[2] Yang dimaksud dengan orang-orang yang zalim ialah: orang-orang yang setelah diberikan kepadanya keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan dengan cara yang paling baik, mereka tetap membantah dan membangkang dan tetap menyatakan permusuhan.
[3] Kutipan pada ayat ini diperlengkap sesuai dengan ayat yang dimaksudkan.
Untuk bapakku, lelaki yang pantang menyerah. Untuk bapakmu, ayah yang paling kauhargai keberadaannya. Untuk seluruh ayah di negeriku tercinta.
Pukul 12 siang, di suatu hari, di awal tahun 2005.
gambar diolah dari annida.online
Kami membunuh waktu dengan bermain bersama ketika menunggu Bapak pulang dari menjajakan sepatu kulitnya. Aku, Bimo, adikku yang paling kecil, dan Ibu. Canda tawa menepiskan lapar dari ingatan kami. Meski perut kami sesekali berbunyi, mendentangkan waktu diisi kembali, kami harus bertahan menunggu kepulangan Bapak dari menjajakan sepatu kulitnya. Memang perih perut kami, tapi itu tak berarti jika dibanding perih kaki Bapak yang menghujamkan sedikit nelangsa di hati kami.
Bapak bukan pedagang sepatu. Tetapi Bapak sedang menjajakan sepatu. Sepatu satu-satunya yang setiap hari menemaninya bekerja sebagai pendidik sebuah SMP di desa Sawit, Boyolali. Kami tahu persis sepatu itu. Susah payah Bapak menyisihkan sisa gaji guru yang tak seberapa untuk membeli sepatu itu. Dan lapar di perut kami tidak mau diberi janji. Meski begitu, Bapak tidak mengajarkan kami untuk berhutang atau mencari jalan-jalan pintas. Memberdayakan apa yang dimiliki, itu yang senantiasa ditanamkan pada kami.
“Jangan pernah menyerah pada keadaan. Ikhtiar. Selalu berusaha, insyaallah, Tuhan akan menunjukkan jalan.” Begitu pesannya pada kami ketika semangat kami merapuh menapaki hidup yang semakin sulit. Serba berkekurangan.
Melawan kekurangan, Bapak menyempatkan diri mengajar les di rumah. Pernah Bapak mengajar murid SLB, yang terbelakang mentalnya. Aku tahu mengajar anak seperti itu menguras tenaga Bapak, dan kadang menguras emosi juga. Kamu tahu, itu melakukan hal semacam itu membutuhkan kesabaran luar biasa. Meski begitu, Bapak tidak mengeluh, malah justru sangat menyayangi muridnya itu. Bapak ingin melihat muridnya lancar mengikuti pelajaran di sekolah. Kadang sukar kupahami ketulusan macam apa yang Bapak punya saat mengajar murid-muridnya, tak pelak Bapak menjadi guru matematika favorit bagi murid di sekolahnya.
Pernah suatu hari di hari ulang tahun Bapak, murid-murid di salah satu kelas yang diajarnya, memberikan kejutan ulang tahun berupa nyanyian ulang tahun dengan gitar dan kado untuk Bapak. Bapak menceritakan kejadian itu kepada kami sambil menangis haru. Haru karena tak menyangka ternyata murid-muridnya menyayangi dan memperhatikan Bapak. Mungkin diberikan kejutan ulang tahun adalah hal yang biasa bagi sebagian orang, namun tidak bagi Bapak yang tidak pernah sekalipun merayakan ulang tahunnya.
Semangat hidup yang tak pernah surut itu tidak hanya dinasehatkan, tetapi juga dicontohkan oleh Bapak. Berusaha, apapun caranya, selama masih di jalan-Nya, itu akan menjadi berkah. Begitu selalu pesannya pada kami. Dan menjual sepatu kulit Bapak, nyata menjadi satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan kami saat itu.
Dua jam berlalu, Bapak pun pulang. Seperti biasa kami mencium tangannya. Beliau terlihat gembira pulang membawa makan siang untuk kami dan seiris buah semangka yang dibelinya di jalan. Kami membaginya bertiga dan menggigitnya tiga kali hingga tandas tinggal kulit buahnya. Bapak tersenyum menyaksikan kerakusan kami. Senyum bahagia demi melihat anak-anaknya kembali bercahaya. Kebahagiaan yang menepiskan ingatan bahwa ia sendiri belum menyantap nasi sehari itu. Ia melupakan dirinya sendiri demi kebahagiaan kami semua.
“Ini nasi dan lauknya. Mari kita nikmati bersama,” kata Bapak membuyarkan keasyikan kami. Ia tahu bahwa kami belum cukup kenyang.
“Nggih, Pak,”jawab kami hampir berbareng.
Ibu bergegas ke dapur mengatur makanan kami supaya cukup dimakan berempat. Alhamdulillah, siang itu kami makan dengan lahapnya. Senyum dan semburat bahagia kembali mengembang di paras Bapak. Tapi aku tak kan pernah lupa bahwa hari itu kami makan sepatu kulit kesayangan Bapak.
***
Dan bila surya mulai tenggelam,
malam pun menjelang,
ingin rasanya aku tidur dalam dongengmu.
Orang yang lanjut usia itu menatap ke lautan yang bergelora, bumi semakin gelisah dan sebentar lagi Penguasa Langit akan memerintah bumi ini, dengan kuda perangnya akan binasakan kerajaan bumi, si Ular Tua yang berzina dengan segala makhluk akan gemetar.
Sebentar lagi Malam Perjamuan Tuan akan disiapkan, barangsiapa yang menjadi bagian darinya akan memakan roti tak beragi dan meminum anggur, sebagai lambang simbolik, ya sebentar lagi bumi akan memuntahkan makanan bergizi ke dalam laut.
Hai orang-orang yang di bumi dengarkan, sampaikan kapan kamu sekalian berzina dengan sundal Babel Besar itu, enyahlah dari hadapanku kamu sekalian penumpah darah, palingkanlah matamu kepada keselamatan Yang Maha Tinggi.
#2 Aku Berhenti
Serdadu tua dengan perjalanan jauhnya, berkuda seperti Don Qisot, dengan pakaian logam yang penyok di sana-sini, sehabis bertempur, meninggalkan gelanggang medan laga, dengan kesedihan yang pilu wajahnya tertunduk, dia telah banyak membunuh serdadu lawan dengan kejam, dengan pedang tajam yang haus darah.
Sesampainya di benteng kota, dia disambut oleh raja yang mengelu-elukan dirinya: ‘Pahlawan besar sudah datang, mari kita berpestapora untuk kemenangan ini, sahur raja penuh sukacita, semua rakyat berkumpul di alun-alun kota berbenteng itu, tak satu pun senyum di raut wajah serdadu tua namun kekar, dialah sang jendral perang yang lihai
Di hadapan sang raja dan pembesar kerajaan, sang jendral berkata: “Aku lelah, beri aku minum, dan beri juga kudaku makan dan air, ada yang ingin kukatakan, aku berhenti jadi panglima perang.” Darah di mana-mana.
#3 Aku Ingin Jadi Raja
Aku ingin jadi raja
memerintah dengan bijaksana
seperti raja Sulaiman
yang memiliki hikmat setinggi langit
bisakah aku?
Zaman dahulu raja diangkat dan
ditasbihkan oleh Allah,
sekarang raja dipilih oleh rakyat,
melalui yang namanya kendaraan politik
karena suara rakyat adalah suara Allah
sama maknanya bukan?
Siapa sesungguhnya rajaku sebenarnya?
#4 Laskar Puisi
Puisiku berbaris seperti tentara
huruf-hurufnya tersusun teratur dan disiplin
serta patuh kaidah-kaidah moral yang tinggi
siap membela yang lemah
yang miskin dan teraniaya
dia menyanjung nilai kemanusiaan
cinta damai dan respek akan kehidupan
dia bersahabat karib dengan pena dan kertas
dia musuh kebencian dan politik
si lalim pasti menindasnya
dia tidak perduli kemarahan
baginya dia berdiri di kakinya sendiri
dia hanya bisa satu bahasa karena
dia benci bahasa lain,
bahasa lalim
dia bersahabat dekat dengan pilu
4 (empat) puisi yang merupakan bagian dari antologi puisi, buku ini merupakan yang kedua dari buku antologi puisi di group puisi Coretan Dinding Kita, dan merupakan buku keempat antologi puisi Sonny H. Sayangbati tahun 2013
Ribut soal natal ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Inggris muncul isu yang lebih parah dari sekedar mengucapkan selamat natal: boikot natal. Suasana yang dipandang tidak kondusif tersebut mendorong Dewan Masjid Inggris untuk mengeluarkan selebaran guna menjernihkan suasana dan menghimbau umat Kristen tetap tenang dalam merayakan natal.
“Bagi sebagian orang di negeri ini, natal adalah tanda sukacita bersama keluarga menyambut kelahiran Yesus. Beberapa muslim akan bergabung dalam perayaan natal tersebut, mengingat bahwa Yesus adalah juga seorang Nabi penting dalam Islam.”
Dewan menegaskan tidak akan ada umat muslim yang akan memboikot natal. Mungkin ada beberapa umat muslim yang merasa tidak nyaman dengan perayaan natal, namun itu jumlahnya sangat sedikit. Dan jumlah ini tidak terus kemudian mewajibkan umat Kristen mengubah kebiasaan mereka.
Dewan juga mempersilakan umat Kristen untuk tetap memasang pohon natal dan dengan tenang merayakan liburan bersama keluarga.
“Anda merayakan natal atau tidak, semoga liburan ini membawa sukacita dan kebahagiaan bagi Anda dan orang yang Anda cintai.”
Menikmati kehangatan udara siang musim semi, kuakui Kyoto memang cantik. Dengan pesona kuno Jepang, saat haru[1] begini, Philosopher’s Path menjadi salah satu tempat terindah dan teromantis. Ratusan pohon sakura berbaris di pinggir Kanal, menjadikan kuil-kuil di sekitar jalan terlihat makin indah. Ah, aku jadi ingin berlama-lama di Kyoto. Sayang, aku hanya satu minggu di sini. Tak lama, aku akan kembali ke Indonesia.
Tanpa sengaja mataku menangkap sosok yang membuatku tertarik untuk memperhatikannya. Dia berbeda karena aku yakin dia bukan orang Jepang, tapi Indonesia -sama sepertiku. Namun bukan soal itu yang membuatku tertarik, ia -gadis cantik berambut lurus hitam, sibuk dengan lembaran-lembaran kertas persegi. Duduk di hamparan rumput, di bawah sebuah pohon sakura, bersama beberapa orang yang mungkin keluarga atau temannya, sibuk melipat-lipat kertas di hadapannya tanpa peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Satu per satu kupu-kupu kertas tercipta dan memenuhi tasnya.
Tiba-tiba dia berdiri dan menghampiriku.
“Konnichiwa[2]. Apa kita saling kenal ya? Kenapa kamu memperhatikanku dari tadi?” Gadis itu berkata dengan suaranya yang lembut dan ramah. Namun jelas sekali kalau ia sedang bingung.
“Konnichiwa. Gomen nasai[3]! Aku tertarik dengan kertas-kertas berbentuk kupu-kupu itu,” jawabku sambil menunjuk ke arah tas si gadis.
“Oh…. Eh, kamu orang Indonesia juga?” tanyanya sembari memandangiku dengan mata indahnya.
Aku mengangguk dan tersenyum. “Namaku Fahri. Kamu?”
“Farah,”
Dan beberapa menit setelah perkenalanku dengan Farah -si gadis kupu-kupu kertas, kami sudah berjalan bersama menyusuri Philosopher’s Path. Entah kenapa kami bisa dengan begitu cepat akrab dan saling berbagi cerita.
“Fahri, setelah aku pulang ke Indonesia, kamu ke rumahku ya!” ujar Farah saat kami berhenti di depan kuil Eikan-do.
“Aku boleh ke rumah kamu?” tanyaku bercanda.
“Iya, bolehlah… dan harus! Hehe….” Farah menjawab riang disertai tawa kecilnya yang manis.
***
Mencintaimu, laksana meminum air dari surga. Sangat istimewa dan kesejukannya tak tertandingi. Meski aku belum tahu bagaimana rasanya air surga itu, tapi aku yakin air itu adalah air terbaik yang dianugerahkan Tuhan untuk hamba yang pantas mencicipinya kelak. Begitulah yang kurasakan saat mencintaimu, rasa teristimewa yang pernah menyentuh hatiku. Dan mengenalmu adalah kesempatan terindah yang pernah menghampiri catatan hidupku di dunia. “Terima kasih, Farah. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan untuk mengungkapkan rasa bahagiaku! Sekali lagi terima kasih ya,” kataku hampir berteriak karena terlalu bahagia.
“Aku juga berterima kasih sama kamu, karena kamu telah menorehkan warna-warna indah dalam hidupku, Fahri. Sejak pertemuan kita di Kyoto tiga bulan yang lalu, sebenarnya aku sudah tertarik sama kamu. Dan sungguh aku bahagia saat tahu jika kamu berasal dari Palembang juga. Kebetulan yang menurutku suatu keajaiban. Dan akhirnya, saat-saat yang kutunggu telah tiba. Saat kamu menyatakan cinta padaku,” kata demi kata keluar dari mulut Farah, mengalir laksana alunan nada indah yang menyejukkanku.
Sebagai jawaban atas pernyataan Farah, aku memandangi wajahnya lalu menggenggam jemari lembut gadis yang telah memperkenalkanku tentang sebuah perasaan cinta. Farah tersenyum manis dan menunduk malu. Ah, ekspresi malu-malu Farah malah membuatnya makin terlihat menggemaskan.
“Aku mencintaimu, Farah!”
“Aku juga mencintaimu, Fahri!”
Dan semuanya menjadi indah. Hari-hari berikutnya kulalui dengan senyuman. Kini hidupku semakin berwarna, seperti yang selalu dikatakan Farah jika hidupnya pun seindah warna pelangi saat mengenalku. Emm, cinta memang membahagiakan.
Setelah dua minggu aku dan Farah jadian, aku berkunjung ke rumah Farah yang saat itu sedang sepi.
“Papa dan Mama menghadiri pernikahan saudara di Jakarta, Honey. Aku tidak ikut karena tidak mau meninggalkan pekerjaanku dan …,” jelas Farah saat aku bertanya namun ia tak menyelesaikan kalimatnya yang membuatku sedikit penasaran.
“Dan apa, Honey?”
‘Dan… aku takut akan merindukanmu jika aku ke Jakarta.”
Aku tertawa dan mengusap gemas kepala kekasihku tercinta. “Hahaha… kamu bisa saja!”
Farah hanya tersenyum. Lalu ia menuju ke arah dapur. Aku baru tersadar, di atas meja dekat koleksi guci-guci antik milik papa Farah ada banyak kupu-kupu kertas di dalam kotak yang cukup besar berwarna biru langit. Aku kembali teringat tentang hasil tangan Farah saat pertama kali aku bertemu dengannya di bawah pohon sakura area Philoshoper’s Path, Kyoto. Ternyata sekarang sudah banyak sekali. Aku berpikir dalam kebingungan, untuk apa kupu-kupu kertas itu dibuat oleh Farah?
Farah sudah kembali dengan membawa dua gelas jus mangga yang menggoda. Dia tersenyum saat melihatku berdiri sambil mengamati sebuah kupu-kupu kertas yang kini ada di tanganku.
“Minum dulu, Honey!” ujar Farah sambil memberikan satu gelas jus mangga padaku.
“Terima kasih, Honey.” Dengan cepat kuteguk habis jus mangga di dalam gelas.
“Jumlahnya sudah genap seratus. Setelah ini bantu aku nulis ya,” kata Farah sembari mengambil kotak berisi kupu-kupu kertas tersebut dan membawanya ke ruang tengah.
Aku mengikuti Farah karena belum mengerti apa yang hendak dilakukannya terhadap seratus kupu-kupu kertas itu. Farah menyalakan DVD dan memutar lagu My Love-nya Westlife. Kemudian dia duduk di lantai dan mengeluarkan seratus kupu-kupu kertas dari dalam kotaknya.
Aku pun ikut duduk menghadapnya dan mulai menghitung satu per satu kupu-kupu kertas yang tergeletak di depanku. Satu, dua, tiga… sebelas, dua belas… empat puluh dua….
“Hihihi… kamu ngapain sih, Sayang? Kok dihitung?” tanya Farah geli karena melihatku yang dengan serius menghitung jumlah kupu-kupu kertas.
“Aku tidak yakin jumlahnya tepat seratus. Kamu kan pikun, haha!” kataku mengejek Farah. Farah memonyongkan bibirnya dan melemparkan gumpalan kertas ke arahku.
“Enak saja bilang aku pikun! Kamu yang pikun, kan kemarin kamu lupa pulang gara-gara kita asyik mengobrol,” ujar Farah sambil menjulurkan lidahnya dengan lucu.
“Eh, itu bukan pikun kali! Itu namanya terpanah oleh kamu. Kamu membuatku lupa waktu, hehe….”
Farah tertawa dan mencubit pinggangku. Aku meringis.
“Ampun, Sayangku. Sakit, aduh!”
Farah menghentikan cubitannya. “Jangan suka menggodaku dengan gombalan kamu! Aku tidak akan terpengaruh, hahaha…. Sekarang bantuin aku nulis sesuatu di sayap kupu-kupunya ya!”
“Emm… kita tulis harapan-harapan yang ingin kita gapai. Kupu-kupunya ‘kan ada seratus, jadi lima puluh untuk aku dan lima puluhnya lagi untuk kamu. Aku ingin kupu-kupu ini jadi pengingat tentang sebuah harapan aku dan kamu, juga harapan kita. Dan jika sebuah harapan yang tertulis di salah satu sayap kupu-kupu kita telah berhasil digapai, kupu-kupu kertas itu harus kita terbangkan. Bagaimana?” Farah berusaha menjelaskan padaku dengan panjang lebar.
“Eh, memangnya kupu-kupu kertas ini bisa terbang?” tanyaku bercanda sambil menahan tawa.
“Iih… Sayang, itu ‘kan perumpamaannya saja. Bukan terbang dalam arti sebenarnya, tapi kita lempar kupu-kupunya ke udara. Terserah nanti kupu-kupu kertas itu dibawa oleh angin ke mana.” Farah menjawab dengan mata melotot.
“Hahaha, kasihan sama kamu. Dilempar pasti sakit ya, kupu-kupu. Hiks!” ujarku dengan ekspresi sedih seolah mengajak bicara si kupu-kupu kertas yang kini ada di telapak tanganku.
“Fahri…!” teriak Farah kesal karena aku masih saja tidak serius.
“Bercanda, Sayang. Oh iya, ayo kita tulis harapannya!” ajakku sambil tersenyum lalu mencium kening Farah agar kekasihku itu tidak cemberut lagi.
Farah ikut tersenyum lalu menyerahkan sebuah pena dan kami mulai asyik menulis harapan-harapan untuk hidup ini. Harapan yang akan memberikan motivasi agar bisa lebih baik. Dan tentu saja harapan terbesarku adalah menikah dengan Farah.
***
Setengah tahun kemudian.
Palembang masih tetap sama, macet di mana-mana. Ditambah lagi jalanan tergenang air karena sudah hampir seminggu hujan terus-terusan mengguyur Kota Pempek tercinta. Aku masih tetap bekerja di salah satu perusahaan swasta yang cukup terkenal. Namun bedanya, sekarang aku sudah mendapatkan jabatan yang lumayan dan tentu saja gajiku pun ikut naik. Ini salah satu harapanku yang tertulis di sayap kupu-kupu kertas.
“Selamat ya, Honey! Aku bahagia mendengarnya,” ucap Farah dengan mata berbinar saat kuceritakan tentang kenaikan posisiku di perusahaan.
Aku tersenyum dan membelai rambut kekasihku. “Honey, sekarang kita terbangkan kupu-kupunya ya!”
Lalu kami pun berdiri di pinggiran Sungai Musi dan aku mengambil kupu-kupu kertas yang sayapnya bertuliskan ‘Aku ingin kenaikan posisi di perusahaan’. Kuulurkan kupu-kupu itu tinggi-tinggi. Sejenak kutatap Farah yang tersenyum manis dan ia mulai mengangguk. Kemudian kulepaskan dan kupu-kupu kertas itu pun tertiup angin yang membawanya pergi entah ke mana.
“Semoga setelah ini satu per satu harapan kita akan kembali terwujud. Aamiin!” doaku dengan mata terpejam seraya tetap tak melepaskan jemari Farah dari genggaman tanganku.
Dan benar. Harapan-harapan berikutnya berhasil aku dapatkan. Begitu pun dengan Farah, dia sudah dipercaya menjadi pemimpin di sebuah bank swasta tempatnya bekerja. Hubungan kami pun masih tetap manis seperti sedia kala. Hingga kami mulai merencanakan pernikahan. Tapi….
“Sayangku… percaya tentang jodoh dari Tuhan?” tanya Farah padaku. Wajahnya terlihat muram dan menampakkan raut wajah sedih.
“Percaya, Sayang. Aku yakin kamu adalah jodohku. Kita akan menikah di bulan ini ya. Aku ingin memilikimu dengan sah, sesuai syariat agama.” Aku menjawab tegas demi meyakinkan Farah dan menghibur kesedihannya yang aku tak tahu disebabkan oleh apa.
“Jika nanti kita tak berjodoh, bagaimana menurutmu?”
Aku terdiam. Kutatap mata Farah dalam-dalam. Mata itu tiba-tiba berair dan seketika pecah menjadi sebuah tangisan. Kupeluk tubuh Farah untuk menenangkannya. Farah tidak biasanya seperti ini. Tentu ada hal yang teramat berat dan menyedihkan sehingga membuat airmatanya tumpah.
Di kamar Farah, rasanya aku ingin berteriak marah. Kenapa harus di saat ini aku baru mengetahui sebuah kenyataan. Aku membencinya, aku membenci kenyataan ini. Ah, rasanya aku ingin mati. Kutinggalkan Farah yang menangis dan aku pulang karena tak ingin membuat suasana semakin panas.
***
gambar diunduh dari 2bp.blogspot
“Pa, air panasnya sudah mama siapkan.” Sebuah suara dari dalam rumah mengejutkanku, yang tengah terpaku di dekat pagar. Tanganku masih gemetar membaca setiap huruf yang tertulis di sampul surat yang baru saja diantarkan Pak Pos. Farah.
“Iya, Ma!” kataku pada seorang wanita yang sudah tiga tahun menjadi istriku. Lalu cepat-cepat kusimpan surat itu di saku dan segera masuk ke rumah.
Wanita itu istriku. Namanya Alikha. Bukan Farah? Iya, Farah hanyalah masa lalu. Setelah penjelasannya tiga tahun yang lalu di dalam kamarnya, aku dan Farah sudah tak pernah berhubungan lagi, dengan kata lain kami putus. Meski kata putus itu sendiri tak pernah terucap di antara kami. Dan sekarang, aku dan Alikha telah memiliki seorang malaikat kecil berusia dua tahun, yang cantik dan menggemaskan.
Bukan hal yang mudah untuk melupakan Farah, tapi aku bersyukur bisa hidup dengan Alikha, yang dengan kesabarannya mau menerimaku. Aku dan Alikha menikah karena perjodohan orangtua yang khawatir dengan keadaanku. Karena aku tak tahu harus berbuat apalagi, maka aku iyakan saja keinginan kedua orangtuaku. Untuk saat ini, tampaknya aku bahagia bersama Alikha, entah dengan Farah. Usai mandi, tak sabar aku ingin membaca surat dari Farah.
***
Kyoto, 10 Agustus 2012
Fahri, Philosopher’s Path sekarang tetap seindah saat kita bertemu beberapa tahun yang lalu. Meski sekarang sedang natsu[4], sakura-sakuranya masih saja bermekaran dengan indahnya. Kamu masih ingat bukan saat memperhatikanku yang sedang membuat kupu-kupu kertas di bawah pohon sakura bersama keluarga teman orangtuaku?
Oh, ya, sekarang mereka telah benar-benar menjadi keluarga karena pernikahan kami. Aku masih tak percaya, kukira mereka hanya sahabat dekat Papa. Tapi janji mereka untuk menikahkan putra-putrinya malah membawaku dalam keterpurukan. Aku menyesali kenyataan itu namun aku telah menerimanya, yang penting Papa dan Mama berbahagia.
Oh ya Fahri, kupu-kupu kertas milikmu yang sayapnya bertuliskan ‘Farah menjadi istriku’, diterbangkan saja ya. Meski itu tak akan pernah terwujud namun anggap saja sudah terwujud. Karena aku pun begitu, telah menerbangkan kupu-kupu kertas bertuliskan ‘Fahri menjadi suamiku’. Aku di Kyoto baik-baik saja. Dan aku mulai belajar mencintai suamiku. Mungkin ini sedikit sulit, tapi, jika kamu tahu, ia sangat sabar menghadapi sikap dinginku selama tiga tahun ini. Doakan aku ya, agar aku bisa berbahagia seperti kamu.
Kenangan yang jauh ke belakang, seperti membuka lembaran buku bergambar yang bercerita: runtun, runut. Pikiran dan perasaan jauh melambung ke masa silam yang tak bisa diulang. Aku melihat matamu, tanganmu, rambutmu, pinggulmu waktu berjalan, semuanya terlihat jelas, seperti aku tak bisa menghindar dari tubuhmu setiap saat.
Keintiman bukan hanya tubuh tapi jiwa, oleh sebab berjiwa aku melihat kehidupan dalam tubuhmu. Masa adalah jarak yang menakutkan bagiku, sebab aku mengejar keabadian tanpa lelah oleh waktu sesaat dan tua dan kematian. Aku ingin hidup berjiwa yang abadi.
Sebab itu kenangan akan kuulang lagi, kenangan bagiku adalah impian yang akan kucoba kembali, seperti masa muda aku akan kembali pada kekuatanku, kepada membaranya cintaku yang takkan padam, seperti api dalam kawah gunung
Engkau yang pemuja janganlah berhenti dan menghapus kasih yang menyala-nyala, ia seperti kekuatan masa muda, ia akan terus ada dan ada, takkan binasa.
Apabila engkau membaca seluruh kitab para nabi, engkau akan tahu bahwa cinta takkan binasa, dan ingatan masa lalulumu diperbaharui oleh bunga-bunga setaman dalam Firdaus Bumi yang indah, untuk pertama yang seribu tahun, selanjutnya sampai engkau tak mampu lagi menghitung hari-harimu lagi.
Setelah saya membuat dan menyebarkan petisi “Sarwo Edhie bukan Pahlawan” di change.org, pembahasan tentang G30S bergulir lagi. Film Joshua Oppenheimer jelas menyajikan bagaimana para jagal telah membabat nyawa manusia-manusia tak bersalah. Begitu juga akademik seperti John Roosa dan Benedict Anderson, menyatakan bagaimana sejarah pembunuhan massal yang begitu kejam itu, telah dimanipulasi oleh Orde Baru menjadi sejarah kepahlawanan Suharto. Baru-baru ini, sejarawan Asvi Adam juga memaparkan tentang trik-trik keji Sarwo Edhie dalam penumpasan mereka yang diPKI-kan.
Tapi, setelah semua usaha pengungkapan sejarah ini, tetap saja ada yang bertanya: “Lalu versi siapa yang mesti kita percaya?” Ada juga yang masih ngotot setelah nobar film ‘Jagal’. “Itu kan cuma versinya Joshua Oppenheimer. Masih banyak versi lain yang membuktikan kekejaman PKI dan pembunuhan ’65 itu harus dilaksanakan demi menyelamatkan bangsa.” Dengan orang-orang yang ngotot tanpa mau meneliti atau pun membaca lebih lanjut, saya sodorkan argumen berikut: yang terdiri dari 5 bagian (biar mirip Pancasila).
Pertama: Jika memang PKI yang melakukan pembunuhan para Jendral, apa buktinya? Bukti utama yang ditampilkan oleh Suharto dan pasukannya, adalah mayat para jenderal (yang dipertontonkan fotonya di televisi dan di koran-koran). Tetapi mayat adalah bukti bahwa orang tersebut sudah mati, bukan bukti PKI melakukan pembunuhan. Hal ini seperti mengatakan bahwa rumah saya dibakar oleh warga desa A. Buktinya? Rumah saya rata dengan tanah dan telah menjadi abu. Lalu, apa bukti bahwa penduduk desa A membakarnya? Hanya abu rumah saya! Jika saya mengatakan demikian, banyak orang akan mudah berpikir bahwa saya gila, tapi mengapa tidak dengan Gestapu?
Kedua: Bagaimana mereka bisa sampai pada kesimpulan bahwa PKI serta para komunis-lah yang melakukan pembunuhan para Jenderal, dengan begitu cepat? Kejadian 30 September banyak dikenal sebagai saat di mana 6 Jenderal dibunuh oleh komunis (meskipun sebenarnya kejadian itu terjadi pada 1 Oktober, karena telah melewati tengah malam). Versi sejarah Suharto adalah, para Jenderal disiksa dan dimutilasi sebelum dibunuh. Juga tersebar berita bahwa perempuan Gerwani menari telanjang di sekitar jenderal saat menyilet-nyilet mereka. Kemudian, Sim Salabim Abrakadabra . . . Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober: Suharto berhasil menemukan biang keladinya dan menegakkan Pancasila, dengan komandan Sarwo Edhie, yang sekarang sudah dinobatkan jadi Pahlawan oleh menantunya sendiri.
Bahkan pembunuhan terhadap satu orang, Munir, memakan waktu investigasi bertahun-tahun, masih saja belum terselesaikan. Tetapi pembunuhan enam orang memakan waktu hanya beberapa hari bahkan beberapa jam saja, untuk menyelidiki. Mengapa keputusan untuk membinasakan para komunis datang begitu tiba-tiba, bahkan terburu-buru? Segera setelah pemakaman para jenderal pada tanggal 5 Oktober 1965, kampanye yang menuduh PKI sebagai dalang pembunuhan para Jenderal itu, menyebar luas di seluruh Indonesia. Tidakkah kita berpikir bahwa hal ini pasti bukan keputusan hati-hati atau bijaksana, tapi soal peluang bagi sebagian orang yang memiliki keinginan untuk melakukan genosida?
Ketiga: mungkin sudah waktunya kita mengalah dengan Suharto dan Sarwo Edhie. Kita anggap saja mereka berdua sesakti Batman. Tanpa proses pengadilan atau penyidikan yang ruwet pun, mereka langsung tahu siapa yang jahat. OK, Suharto benar: pembunuhan para Jenderal itu dilakukan oleh komunis. Berapa banyak dari mereka melakukannya? Para anggota PKI dan komunis di seluruh Indonesia? Sekitar 1-3 jutaan dibunuh, jutaan lainnya dipenjara tanpa pengadilan. Apakah jutaan dan jutaan orang-orang ini semua mengambil bagian dalam pembunuhan para jenderal? Apakah mereka menangkap pembunuh sebenarnya dari para jenderal? Atau pembunuhan itu adalah dalih belaka, skenario untuk memberi mereka alasan untuk melakukan genosida? Jika memang anggota PKI membunuh para Jenderal, mengapa tidak mencari pembunuh ini, dibawa ke pengadilan dan dihukum selayaknya? Namun, tidak! Mereka malah sibuk membunuh jutaan orang, yang banyak di antaranya tidak tahu tentang komunis.
Keempat: Pembunuhan para jenderal berlangsung di Jakarta. Tapi mengapa pasukan harus pergi mengembara ke seluruh Indonesia, bahkan sampai ke desa-desa kecil untuk memusnahkan mereka yang dikomuniskan? Banyak dari korbana dalah petani, seniman tradisional dan buruh yang belum pernah ke Jakarta atau aktif terlibat dalam politik!
Kelima: Jika komunis memang agresif dan sadis, mengapa pemberantasan mereka cukup cepat dan efisien? Jika orang-orang komunis memang licik dan sedang mempersiapkan sebuah kudeta ambisius, seperti yang digambarkan oleh Orde Baru, mengapa mereka tidak bersenjata? Mengapa tidak ada perlawanan balik dari mereka? Jika orang-orang komunis memang kejam, mestinya yang terjadi bukan pemberantasan yang singkat, tetapi perang besar! Kebanyakan dari mereka tidak bersenjata, tidak siap atas serangan itu.
Dan bila yang dikudeta adalah Sukarno, mengapa nasib Sukarno hampir sama dengan PKI – digulingkan dan diasingkan? Bahkan beberapa anggota keluarga Sukarno menguak bahwa Sukarno tidak mendapat perawatan ketika sakit. Ini ternyata jadi argumen nomer enam.
Apakah Anda masih berpikir bahwa genosida jutaan jiwa pada 1965-67 dapat dibenarkan? Jika seseorang dirampok dan orang ini dengan cepat menuduh sekelompok manusia, kemudian meminta mereka untuk dihukum seberat-beratnya, Anda akan bertanya-tanya motif di balik tindakan ini. Terutama ketika orang ini masih belum puas, dan men-stigma anak dan cucu dari kelompok manusia yang telah dituduh sebagai perampok dan telah dihukum berat itu. Jika ini adalah tentang salah satu pembunuhan massal terbesar dalam sejarah, mengapa kita tidak bisa berpikir serupa? (Sekarang, jadi nomer tujuh).
Karena itulah, lebih baik saya tutup argumen ini dengan pertanyaan: Masihkah Anda mendukung Sarwo Edhie sebagai pahlawan?
Versi yang lebih pendek dari artikel ini dapat dibaca diTempo
Aku melihat sabana
Dan domba yang mengikuti tuannya
Di sana
Aku juga mengikut, merunut
Lalu aku berdiri di tepi kali
Dengan ikan warna warni
Bak surgawi
Di sana aku menceburkan diri
Menceburkan diri berkali-kali
Melunturkan daki, juga warna diri
Aku juga melihat bukit yang lebih tinggi
Hingga ujungnya menyentuh cakrawala
Tapi tuanku tidak di sana
Dia di singgasanaNya
Yang tak pernah kutemukan di ujung bumiNya
Meski tubuhku abang biru
Tuanku tak terusik
Seperti hati yang tak pernah berhenti meyakini
gambar diunduh dari ceritainspirasi.net
#2 Bolehkah Aku Sembahyang
Tuhan, hari ini aku datang
Setelah puluhan kali aku tangguhkan
Kini, bolehkah aku bersembahyang?
Di tengah ladang penuh kotoran
Bajuku pun hanya setengah menutupi badan
Di setiap sisinya penuh lubang
Tuhan, kali ini aku datang
Terhuyung sempoyongan
Menatap nanar tanpa haluan
Bisakah aku bersembahyang?
Bayangan ku sudah disemayamkan
Bersama reruntuhan aku ku
Bolehkah aku bersembahyang?
Di antara sampah yang beronggokan
Tuhan, pada akhirnya aku meyakini
Saat keningku kembali pada bumi
Sepenuh hati, setengah badan
Sehabis yang sebagian berceceran
Je Zee adalah nama pena dari Nur Ika Zuli Mulyasari, anak pertama dari tiga bersaudara. Lahir di Mojokerto 22 tahun yang lalu. Suka dengan Nh.Dini, Sutardji, Chairil. Suka juga dengan Kahlil Gibran. Pekerjaan sehari-hari hanya buruh di perusahaan swasta dengan gaji rata-rata. Menulis di sela jam kerja, atau sebelum tidur.Dapat disapa lewat FB dengan nama di atas.
Siapa yang kuingat
saat ku terbaring sendiri
dalam galian lahat yang masih basah
Sisi-sisinya memenjarakanku
Gelap, sepi, terlalu sepi!
Ingin aku teriak
agar mereka tidak pergi
Memberiku bunga-bunga wangi
Menyirami teras rumahku ini dengan air
Mendendangkan ayat-ayat suci yang lama kucemooh
biar tidak sesepi ini
Temanku semua tuli
tak pernah menyahut panggilanku
Atau memang lidahku yang sudah tumpul
kawanku semua mematung
Saat aku coba mengelusnya
atau memang syarafku telah dimatikan
Hei, kau!
Apa yang kaulakukan di rumahku?
Jangan bercumbu di sini!
Pulang dan bawa pergi wanita yang melayanimu itu!
Tapi, sepertinya wanita itu,
wanita itu, aku!
Aku ingat, aku wanita jalang
Aku ingat tentang diriku sendiri
melayani pria-pria itu
Tapi apakah mereka mengingatku sekarang?
Tubuh molekku hanya berbungkus kain putih ini
Riasan wajahku hanya gumpalan kapas ini
Parfumku hanya pengharum kamper ini
Aku tinggal mayat
mayat wanita jalang yang dilupakan
Saat aku sendiri aku ingat,
aku ingat punya Tuhan
Semoga Tuhan mengingatku
Siapa yang berjalan di sampingmu?
Kutahu kau sendiri
Namun saat kulihat kau
di tengah persimpangan
Seseorang berjalan di sampingmu
Bahkan ku tak tahu
Apakah ia wanita atau pria
dengan bawaan di punggungnya
Tolong tanyakan padanya
Dia yang berjalan di sampingmu
Apa yang dibawa bersamanya
karena aku berharap itu kebenaran
dan maaf untukku.
Dhianita Kusuma Pertiwi, mahasiswi Universitas Negeri Malang.
Cintaku
Mereka tak pernah sebaik Kamu
Tapi aku tidak mungkin memutar waktu
Aku menjemput senjaku lebih cepat dari helaan nafas
Cintaku
Aku berlarian, selebihnya diam
Menghitung mundur, merangkulMu
Cintaku
Aku menggantung namaMu lekat, dekat
Di tempat harusnya aku selalu melihat
Tapi cintaku, aku berbatas
Aku masih merangkaki jalan dimana kita berpisah
Mencecap setiap duri yg mengukuhkan perih
Memanggilmu sekeras bisuku
Seandainya masih mampu kita bertemu
Ikat erat ujung tali itu di kakiku
Dan ujung yang lain di tanganMu
Agar sejauh apapun aku pergi, aku tahu tempatku kembali
***
Je Zee adalah nama pena dari Nur Ika Zuli Mulyasari, anak pertama dari tiga bersaudara. Lahir di Mojokerto 22 tahun yang lalu. Suka dengan Nh.Dini, Sutardji, Chairil. Suka juga dengan Kahlil Gibran. Pekerjaan sehari-hari hanya buruh di perusahaan swasta dengan gaji rata-rata. Menulis di sela jam kerja, atau sebelum tidur.Dapat disapa lewat FB dengan nama di atas.
Ini tentang rentang
Rentang yang membentang antara hadirku dan hadirmu
Rentang yang membelah hatimu dan hatiku
Rentang yang,
Tampak begitu terentang: 7 langit, jutaan kilometer, milyaran kaki
Tampak amat jauh terbentang
Lalu mengapa harus kurasa suara
Dari nurani yang tak bersuara?
Adakah kau bersemayam di sana, Tuhan?
gambar diunduh dari hr2012_wordpressdotcom
Beda Sama
Jalanmu jalanku memang beda
Jalanmu jalanku memang tak sama
Jalanmu, jalanmu
Jalanku, jalanku
Kiblatku kiblatmu memang beda
Kiblatmu kiblatku memang tak sama
Kiblatmu, kiblatmu
Kiblatku, kiblatku
Imamku imammu memang beda
Imammu imamku memang tak sama
Imammu, imammu
Imamku, imamku
Tapi apatah harus kita mem-beda
Bila tujuan kita sama:
Tuhan
Dan, Tuhanku Tuhanmu Tuhan mereka
Haruskah di-beda?
Bila memang sama-sama:
MahaEsa