Alkisah sudah puluhan tahun Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusing kenapa Hari Raya Idul Fitri jatuh pada hari berbeda antar golongan. Lalu salah seorang dari mereka mendapat ilham untuk belajar dari buku. Maka dipanggillah Pedagang Krupuk yang mengarang buku berjudul “BEDA HARI, SAMA HUKUMNYA”.
Dari penjelasan Pedagang Krupuk maka terungkap falsafah yang menggembirakan hati anggota Majelis. Yaitu ibarat menikmati krupuk maka jangan risau hari kapan akan dimakan. Yang penting tidak melempem akibat kelamaan terkena udara.
Hati Majelis berbunga-bunga merasa mendapat dukungan moril dari kandungan falsafah “BEDA HARI, SAMA HUKUMNYA”. Pusing akibat beda hari raya lebaran sirna sudah.
Rencananya Hari Senin akan datang tamu dari luar negeri. (Nggak tahu sekarang hari apa :D) AL Habib dari Emirat Arab adalah tamu istimewa kali ini. Anggota Majelis harus pesan spanduk yang berisi ucapan selamat datang dan poster bergambar wajah sang tamu dengan dirinya sedang senyum-senyum. Poster akan dipasang di halaman rumah. Biar keren…
Teringat pedagang kerupuk, anggota majelis ingin menyampaikan rasa terimakasih kepadanya dengan cara order spanduk dan poster tanda sambutan kepada tamu yang akan berkunjung besok. Dia janji akan bayar 10x lipat dari tarif normal. Saat itu hari Minggu malam jam 12, sedangkan tamu akan datang Senin pagi.
Pedagang Krupuk girang dapat order senilai 5juta dari harga normal 500ribu.
HARI SENIN:
Tamu datang tapi poster dan spanduk belum dipasang, Pedagang Krupuk tidak bisa dihubungi.
Majelis kecewa berat.
HARI SELASA:
Tamu istirahat di kamar tamu. Pedagang Krupuk datang untuk minta maaf. Majelis kecewa sedikit tapi sangat bersyukur karena tidak jadi keluar ongkos 5juta.
“Aaah tidak apa-apa. Tidak perlu minta maaf. Kalau rejeki pasti datang pada waktunya yang ditentukan, hehe.”
HARI RABU:
Al Habib sudah pulang ke Emirat Arab. Ketika Majelis selesai telpon-telponan datang Pedagang Krupuk membawa invoice (tagihan) 5juta.
Majelis heran!
Dalam keadaan terbengong-bengong dia melongok dari jendela. Matanya menyaksikan spanduk dan poster sudah terpasang di halaman rumah dinas.
“SELAMAT DATANG TUAN AL HABIB DARI EMIRAT ARAB”
Hampir saja Majelis marah besar, tapi urung. Dia ingat buku berjudul “Beda Hari, Sama Hukumnya”.
image from google.co.idBikini Bottom adalah sebuah kota yang indah. Kota ini berada dalam lautan pasifik. Atau mungkin lebih tepatnya kota yang tenggelam di lautan. Hampir setiap orang dari berbagai umur menyukai kota ini. Bayangkan segerombolan mahkluk hidup yang gembira ria tinggal di selembar bikini yang melekat di bottom (=pantat). Saya termasuk yang menyukai tinggal dekat pantat itu.
Pagi itu, Bikini Bottom belum ramai. Spongebob hendak pergi ke luar. Mungkin hendak belanja bahan-bahan untuk membuat burger Kraby Patty. Sekembali dari “pergi ke luar” SpongeBob menemukan Patrick sedang asyik duduk menonton TV di restoran Krusty Krab.
“Jadi begini kerjamu? Duduk dan menonton TV?” sembur Spongebob pada Patrick.
“Hey, ini tidak segampang yang kamu lihat Spongebob. Kadang saya kehilangan remotenya, kadang saya harus memperbaiki antena tv, dan kadang pantat saya sakit!” jawab Patrick.
Spongebob merupakan tokoh sentral yang memiliki karakter polos, optimis, selalu ceria, dan memiliki prasangka baik terhadap siapapun. Tidak jarang Spongebob mendapat kesulitan karena terlalu “antusias” membantu orang lain. Di sisi lain, Patrick adalah tokoh yang didominasi karakter malas, bodoh yang mendekati idiot dan menimbulkan banyak kelucuan karena pertanyaan-pertanyaan atau jawaban “bodoh”. Percakapan Spongebob dengan Patrick seringkali “menyedihkan” seperti percakapan di atas. Dan percakapan menyedihkan itu menjadi humor segar yang dinikmati semua usia. Coba simak juga percakapan berikut ini:
Patrick : Spongebob? Psstttt, Spongebob? Pssst. Saya mau mengatakan sesuatu, sesuatu yang sangat penting!
Spongbob : Apa?
Patrick : Hai… image from poster.netDan para penonton tertawa terpingkal menyaksikan “ketololan-ketololan” yang ada di Bikini Bottom. Penonton mentertawakan Patrick yang “idiot” mengucapkan “hai”. Atau tertawa mendengar jawaban Patrick yang membenarkan dirinya sendiri dengan alasan yang menurut kelaziman “tidak masuk akal”. Apakah percakapan yang ada di kartun Spongebob itu hanya lelucon biasa? Banyak pemirsa yang mengatakan “tidak”. Banyak pesan-pesan bernas yang belum saatnya dicerna pikiran anak-anak. Misalnya saja, mengapa kota dinamai “pantat (ber)bikini”? Atau mengapa tokoh yang begitu baik di kota lebih mudah dinamai “alat cuci piring”. Atau mungkin lebih tepatnya “sponge pengelap pantat?” Dan memang, pada kenyataanya orang baik hanya menjadi “alat pengelap pantat”. Itu sesuatu yang lucu. Begitulah SpongeBob-isme. Isme yang kental dengan nuansa sarkastis, sinis dan anarkis terhadap segala sesuatu yang dianggap tidak pada tempatnya. Di Bikini Bottom, hidup hanyalah lelucon menyedihkan dan tidak semua orang sanggup mengakuinya. Nasehat dan kata-kata bijak seringkali disampaikan. Kiasan dan kata-kata indah pun tidak kurang. Simak misalnya ucapan Spongebob,”jika kamu ingin terbang, maka yang kamu butuhkan adalah persahabatan.” Atau ucapan Sandy si tupai cantik,” Jika kamu ingin jadi sahabatku, maka jadilah dirimu sendiri.”
Tetapi kata-kata bijak semacam itu hanya membuat orang tersenyum dan tidak segera membuat orang beranjak bangkit dan tetap “status quo” seperti Patrick yang meraih penghargaan sebagai “Yang Tidak Melakukan Apa-apa dalam Waktu Paling Lama.” Hidup menjadi semakin tampak menyedihkan bukan? Dan kehidupan yang semacam itu membuat frustasi setiap orang. Yang rajin berbuat baik seperti Spongebob menjadi malas, tertular kemalasan Patrick. Yang malas menjadi semakin tidak perduli. Dan yang perduli namun tidak mampu berbuat apa-apa menjadi marah seperti Squidward. Simak saja percakapan Spongebob dengan Squidward berikut ini:
Spongebob : Adakah yang lebih baik dari “melayani dengan tersenyum”?
Squidward : Mati! Atau ada yang lain?
Puisi Lila Prabandari ilustrasi dari webpages_scu_edu
aku tak akan meneteskan airmata,
meski kudengar lirih ceria tawamu
senyum kemenanganmu yang menggores
melengkungkan garis dipipimu
aku juga tak akan meneteskan airmata,
meski alis kananmu kaunaikkan
hingga membentuk kurva enampuluh derajat
atau kaubengkokkan bibir atasmu seperti tikungan
tidak…
aku hanya ingin menatapmu saja
menatapmu dengan rasa
yang mengumpul bergumpal-gumpal di pelupuk mata
dan mungkin…
Puisi Endah Soe Trusthi mawar dan hujan
aku masih ingin kau buatkan puisi
tukar dengan mawarku
hurufmu mewangi
kuharap bungaku juga bermakna
beri aku sebait
lalu aku petik setangkai
di puisimu ada hujan
juga matahari
mengertilah
di kebunku hujan dan matahari menyuburkan mawarnya
pada pagi mawar takhluk untuk dihinggapi embun
yang menjadi judul kerinduan pada puisimu
Puisi Rere ‘Loreinetta rere's guitar
Sahabat…
Kemarilah duduk disampingku sebentar
Merapat pada bahuku
Dan dengarkan aku berkata kepadamu
Meski pelan dan tersamar
Genggam erat jemariku
Dan rasakanlah gerakanya yang gemetar
Tataplah jauh di kedalaman danau mataku
Hingga menembus hati
Lalu lihatlah…
Semua rasa dan bahasa kasih yang kusimpan dan kumiliki
Biarkan semuanya mengalir padamu
Untuk kau terjemahkan sendiri
Diamlah sejenak dan dengarkan
Bayangkan dan fikirkan tanpa perlu aku mengungkapkan kepadamu
Bahwa begitu banyak hal hebat yang telah kita lalui bersama
Penuh derai tawa dan juga air mata
Kesedihan…
Amarah…
Bahagia…
Semua kita telah rasa…
Jangan biarkan itu semua tenggelam begitu saja
Ke dalam lubang hitam kenangan dan sejarah suram
Atau kita buang dan abaikan.
Tetapi,
Mari kita jadikan itu semua sebagai kekuatan kehidupan
Dan sejarah yang takkan pernah terlabur dan terlupakan
Sahabat…
AKu ingin kau tahu dan mengerti,
Bahwa perjumpaan dan mengenalmu
Menjadi bagian dari hidup dan hatimu
Adalah takdir dan hadiah yang terindah
Yang telah diberikan oleh Tuhan
Untukku…
Dan semoga semua hadiah ini
Akan tetap kekal abadi sampai nanti
Sepanjang usia kita
Puisi Rere ‘Loreinetta Siapakah Kau yang mengubah benci menjadi cinta buta tak terkendali?
Siapakah Kau yang di bumi, namun aku mencariMu hingga ke langit?
Apakah Kau sengaja merangkum drama kepedihan menjadi cerita cinta?
Seorang penyairkah Kau atau penyihir, yang telah memetikkan sebuah bintang untukku?
Kau hidup dalam diriku, berjalan, menyalakan parafin dan terlelap.
Kau tidak meninggalkanku, akulah yang tertinggal.
Kehausanku menjadi kekasihMu jauh lebih manis dari semua yang manis,
BersamaMu tak ada apapun yang membahayakan diriku
Walau kegelapan dan kebencian mereka bagaikan awan ancaman yang menyelubungiku.
Tetapi bukankah mutiara tetap bersinar di tempat yang gelap kelam,
Dengan latar yang suram bahkan mutiara bersinar lebih terang.
Kerengganganku padaMu membuatku teringat kembali akan rayuan para perindu.
Mengapa aku tak lagi merasa akrab padaMu?
Menjauhkah Engkau karena jarak yang kubentang sendiri?
Sungguh Engkau Sang Maha Kreatif yang selalu menempaku dengan cobaan dan godaan.
Saat satu masalah berhasil kutaklukkan, Engkau memberi kerumitan baru yang penuh teka teki.
Bagaimana memaknainya jika hatiku kusut begini?
Rasanya seperti berjalan sendiri.
Sebentar-sebentar bersandar pada bahu yang sama rapuhnya.
Sedikit waktu terdiam dalam kacau, sunyi, bising dan termangu.
Perjalanan panjang ini penuh hambatan, belum lagi kumengumpul bekal yang banyak untuk tiba di tempat tujuan, tempat menuai kisah hidup sendiri, tapi sedikit bekal yang kupunyai bahkan kuhamburkan di tengah jalan, begitu saja dan sia-sia.
Adakah mataMu yang masih sudi melihatku walau dengan memicing? Aku tersendat dan terhambat meraih syafaat Para Suci. Tekurung aku dalam puja puji dunia yang tak perlu. Bantu aku yang tak bisa menolong diri sendiri. Aku menunggu dan mencari-cari. Mencuri yang benar dari mana saja yang kutemui.
Maukah Engkau akrab denganku lagi bila kumerayu dengan rindu, atau kumeratap dengan pilu?
Aku tak letih menanti cintaMu.
Aku biru yang terungkap lewat butiran jingga. Sore menjemput raut yang luput dalam rajutan memori. Gelanggang demi gelanggang merupa siluet klasik yang tampak tapi pudar bentuk. Sungguh puncak gelisah karena tiada segera menemui sejati, awanku mencair menjadi bulir di pelupuk. Ahh.. demi sunyi yang membekukan baraku, singgahlah duhai, meski sekadar merajuk atau menemani senja sampai landai.
EngganMu adalah tanda bahwa kecamuk tak lagi tersimpan di punggung, ia telah mencari ruas seperti juntai lamtoro yang dihembus angin. Benih-benih yang janggal, tumpah pada anak sungai. Kembali dukaku bermuara padaMu. Dan Kau berpaling sambil menikmati celotehan masa. Pada rimbun harapku yang melambai pudar, rautMu surut dan kasihku tak lagi patut.
Rampung. Sebentar lagi hari merangkak menemui ajalnya dan esok menjadi reinkarnasi yang dikemas seperti ritual yang tak ganjil. Kembali hidup menjadi kelakar untuk dipikirkan, menjejali telam-telam yang berhias pengkhianatan. Kuakui, adalah perlu bagiku mendengarkan setiap helai rencana meski begitu asing bila hendak menuntunku menemui kenyataan hidup. Ini, akan manis, mungkin. Selebihnya, menyakitkan.
Engkau hadir pada sebuah runtun yang pasti, jalan darahku beku seketika ucap cintaMu mengusik sendiriku. Ada kebingungan yang kunikmati, dalam palung hati yang berisik semenjak tanya dari ruang-ruang itu mengusung satu judul obrolan—-Kau-! Aku kemudian berpendar menjadi banyak bentuk dan acap kali kutemui ia satu persatu, hanya namaMu yang disebut-sebut.
Kita lalu melontarkan azimat yang meracau namun nikmat untuk didengarkan kalbu. Sederhana, tapi begitu mewah dalam waktu. Inilah kali pertama kurasai rindu berkali-kali padahal ketika itu, aku dan Kau tak ada spasi. Lalu, adakah beda kali ini? Entah, namun tak mudah untuk menghentikan seru rayu ku atas Mu, duhai, aku benci namun rinduku selalu berkali-kali.
Keadaan ini rupanya telah demikian memadai untuk dilabeli aneh. Bukan tidak mungkin, semakin kumengerti rasa benciku, semakin kusadari pula deru rinduku. Kelak akan kuketahui bahwa makhluk yang menggerayangi palungku hingga membuncah kebencianku kepadanya adalah bernama “ketidaktahuan” dan ia pun membawaku untuk menemui jalan rindu ini.
Ranum. Pergulatan dialektik seolah begitu lancang menghempaskan ego yang pongah. Lantas, malu pun tidak pula rela menampakkan batang hidungnya, sebelum dialektika rindu bergulat menemui stagnasi sambil kembali menjatuhkan jurus demi jurus hingga klimaks dan mengungkap; Benar! sambil mengetuk palu kesepakatan. Kelak seiring waktu, -Benar- ini pun menelan proses panjang untuk kembali menjadi topik sebagai jembatan menuju –Benar- yang lain.
Disebutlah sengketa, padahal begitu semarak anugerah yang menghujani tiap waktu. Namun, bagi ketidaktahuan, tidak ada penjelasan yang lebih baik dari apa yang tampak oleh indera penglihatannya. Sungguh kebutaan seperti itu menjadi lebih menyakitkan daripada kehilangan kornea.
Lantas kedukaan macam apa lagi yang disuguhkan matahari esok pagi, ketika kita terbangun dan merasai ketidaktahuan lagi sambil kerap menjalaninya dengan kerjap penuh pengharapan padanya.
Puisi Siska Premida Wardani ilustrasi dari gp.blogspot.com
Kemana lagi ku akan datang
Pabila kegalauan bertubi menghadang
Membiarkanku terhimpit sesak dan dalam…begitu dalam
Tanpa teman ku sendiri menanggung beban
Kemanakah sungguhnya jalanku
Saat pejam dan nyaman pun enggan menyapaku
Luluh lantak hati ini merasakan
Seolah urat nadi ingin segera disayatkan
Oh..di manakah harusnya aku berada
Tatkala hanya gulita memenuhi pikiran dan mata
Menggantikan sejuknya fajar, hangatnya siang,….teduhnya senja
Ku tahu aku tak punya tempat tuk singgah
Ya Allah Ya Rahim
Sungguh air mata tak tahan terbendung
Kaki lemah ini sigap tuk bersimpuh
Tiada kataku selain memohon lautan ampun-Mu
Hanya pada-Mu kuhadapkan diri…wajah lusuhku…mata sembabku
Ya Rabb Ya Karim
Kutahu hidupku tak pernah mudah
Tak kuminta jalan yang mulus, tanpa debu, tanpa batu
Bekali hamba dengan segenggam kuat
Hujani hamba dengan sabar dan ikhlas
Tanamkan kompas di hati hamba
Agar hamba tidak tersesat…dan tahu ke mana arah pulang
Dan aku hanyalah hamba-Mu yang mengadu
yang tanpa malu mengajukan pinta
Engkau dengarlah suara hamba
meminta pada-Mu yang Maha Tahu
yang Maha Tinggi lagi Maha Hidup
Laa haulaa walaa quwata illa billa
(di suatu tempat kurajutkan kata menjelang Dhuha. Persembahan untuk kalian yang percaya pada doa, semoga pengembaraan hidup kita membawa sejuta hikmah)
Seseorang keluar dari rumah kemudian berdiri di tangga. Alexandr Timofeitch, atau biasa dipanggil, Sasha. Sasha datang dari Moskow sepuluh hari yang lalu dan kini tinggal di rumah Nadya. Tahun lalu janda Marya Petrovna, wanita kurus kecil dan sakit-sakitan yang telah tenggelam dalam kemiskinan, datang ke rumah dan meminta bantuan. Hubungan yang tidak begitu akrab dengan ibunya atau nenek Sasha dijadikan alasan untuk meminta bantuan. Perempuan itu memiliki anak laki-laki, Sasha. Untuk beberapa alasan, lelaki ini memiliki bakat sebagai seniman. Ketika ibunya meninggal, demi keselamatan jiwanya, nenek Nadya mengirimnya ke sekolah Komissarovsky di Moskow. Dua tahun kemudian ia pindah sekolah melukis. Hampir lima belas tahun ia menghabiskan waktu di sana, dan menyisakan sedikit ujian praktik pada bagian arsitektur. Dia tidak dipersiapkan menjadi arsitek, meski demikian ia mengambil pekerjaan sebagai juru cetak logam yang ditulisi. Hampir setiap tahun Sasha datang ke rumah dengan kondisi yang biasanya sangat sakit. Ia kemudian tinggal bersama nenek Nadya untuk beristirahat dan memulihkan kondisinya.
Dia mengenakan mantel berkancing di atas dan celana lusuh berbahan kanvas, dengan lipatan kusut di bagian bawah. Kemejanya belum disetrika dan entah bagaimana, semua yang ada padanya tampak tidak segar. Dia sangat kurus dengan mata besar, jari-jari kecil panjang serta wajah berjenggot gelap. Selain itu semua masih tampak sama, dia tampan. Dengan Shumins ia sudah seperti saudara, dan di rumah mereka, ia merasa seperti di rumahnya sendiri. Ruang di mana ia tinggal selama bertahun-tahun di keluarga itu, biasa disebut kamar Sasha.
Saat berdiri di tangga, ia melihat Nadya, kemudian menghampirinya.
“Sangat menyenangkan di sini,” katanya pada Nadya.
“Tentu saja, Kamu harus tinggal di sini sampai musim gugur.”
“Ya, aku harap demikian. Aku memberanikan diri untuk berkata bahwa aku akan tinggal bersamamu sampai September.”
Dia tertawa tanpa alasan, kemudian duduk di samping Nadya.
“Aku sedang duduk sambil menatap ibu,” kata Nadya. “Dia tampak begitu muda dari sini! Tentu saja ibuku memiliki beberapa kelemahan,” ia menambahkan, setelah berhenti sejenak, “tapi tetap saja ia seorang wanita yang luar biasa.”
“Ya, dia sangat menyenangkan…” Sasha setuju. “Ibumu, dengan caranya sendiri tentu saja, adalah wanita yang sangat baik dan manis, tapi… Bagaimana ya mengatakannya? Aku pergi pagi ini ke dapur dan di sana aku menemukan empat pelayan tidur di lantai, tanpa kasur dan kain untuk alas tidur, bau, dan berkutu,… itu sama seperti dua puluh tahun yang lalu, tidak ada perubahan sama sekali. Nah, Nenek – semoga Tuhan memberkatinya- apa lagi yang bisa kamu harapkan dari Nenek? Kamu tahu, ibumu berbicara dengan bahasa Perancis dan bertindak seperti dalam panggung teater pribadinya. Orang harus berpikir untuk mengerti. ”
Sambil berbicara, Sasha meregangkan dua jarinya menjauh dari wajah pendengarnya.
“Entah bagaimana, semua yang ada disini tampak aneh bagiku, aku sedang mencoba keluar dari kebiasaan,” ia melanjutkan. “Tidak ada jalan keluar. Tidak ada yang pernah melakukan sesuatu. Ibumu menghabiskan seluruh hari dengan berjalan berkeliling seperti putri bangsawan. Nenek tidak melakukan apa-apa, demikian juga kamu. Dan Andrey Andreitch-mu itu, ia juga tidak pernah melakukan apa-apa.”
Tahun kemarin Nadya sudah mendengar semua itu, dan dia mengingat-ingat, tahun sebelumnya juga seperti itu. Dia tahu bahwa Sasha tidak bisa membuat kritik lain, dan di hari-hari sebelumnya, itu cukup menggelikannya, tapi sekarang, untuk beberapa alasan dia merasa jengkel.
“Itu semua basi, dan aku telah muak mendengar itu bertahun-tahun,” kata dia sembari bangkit. “Kamu harus memikirkan sesuatu yang sedikit lebih baru.”
Sasha tertawa dan turut bangkit, lalu mereka pergi bersama menuju rumah. Nadya -tinggi, indah, dan diciptakan dengan baik- berdiri di samping Sasha terlihat sangat sehat dan cerdas berpakaian. Nadya menyadari semua itu dan untuk beberapa alasan yang ganjil, ia merasa kasihan pada Sasha.
“Kamu mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya kamu katakan,” katanya. “Kamu baru saja berbicara tentang Andrey-ku seolah-olah kamu mengenalnya, padahal tidak.”
” Andrey-ku….? persetan dengannya, Andrey-mu. Aku turut bersedih untuk masa mudamu.”
Mereka –keluarga Shumins- sedang duduk untuk makan malam ketika dua orang muda itu masuk ke ruang makan. Nenek, atau yang biasa dipanggil Granny di rumah itu adalah seorang wanita yang sangat gemuk, sederhana dan polos dengan alis lebat dan sedikit kumis. Ia berbicara dengan keras, dan dari suara serta caranya berbicara dapat dilihat bahwa dia adalah orang paling penting dalam rumah. Ia memiliki komplek pertokoan di pasar, sebuah rumah kuno dengan kebun dan jalan setapak, namun setiap pagi ia berdoa dengan berlinang air mata supaya Tuhan menyelamatkan dirinya dari kehancuran. Putri menantunya, ibu Nadya -Nina lvanovna- seorang wanita berambut pirang yang diikat ke dalam, berkacamata untuk satu mata, dan memakai cincin berlian di setiap jarinya. Bapa Andrey, seorang pria kurus tua ompong yang wajahnya selalu tampak seolah-olah dia hanya akan mengatakan sesuatu yang lucu, dan putranya, Andrey Andreitch, seorang pemuda kekar dan tampan dengan rambut keriting, tampak seperti seorang seniman atau aktor. Mereka semua berbicara tentang hipnotisme.
“Kamu akan sembuh dalam seminggu di sini,” kata Nenek kepada Sasha. “Hanya saja, kamu harus makan lebih banyak. Apa yang kau lihat?” ia mendesah. “Kamu benar-benar mengerikan! Kamu seperti anak pada umumnya, pemboros, itulah kamu!”
“Setelah menghambur-hamburkan kekayaan ayahnya dengan hidup berfoya-foya,” kata Bapa Andrey perlahan, dengan mata tertawa. “Dia makan dengan selera binatang.”
“Saya suka ayahku,” kata Andrey Andreitch, menyentuh bahu ayahnya. “Dia orang tua yang indah, seorang rekan tersayang.”
Semua orang terdiam untuk beberapa saat. Sasha tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dan menaruh serbet makan ke mulutnya.
“Jadi Anda percaya pada hipnotis?” tanya Bapa Andrey pada Nina Ivanovna.
“Saya tidak bisa, tentu saja, menyatakan bahwa saya percaya,” jawab Nina Ivanovna, dengan mimik serius, bahkan nyaris tersiksa, “tapi menurut saya, ada banyak hal yang misterius dan tak terpahami di alam.”
“Saya cukup setuju dengan Anda, meskipun saya harus menambahkan bahwa agama jelas membatasi bagi kita domain yang misterius.”
Sebuah kalkun besar dan sangat gemuk disajikan. Bapa Andrey dan Nina lvanovna melanjutkan percakapan mereka. Berlian Nina Ivanovna bersinar di jarinya, kemudian air mata mulai berkilauan di matanya, ia tumbuh bersemangat.
“Meskipun saya tidak bisa mendebat Anda,” katanya, “Anda harus mengakui ada begitu banyak teka-teki larut dalam hidup ini!”
“Semua mengakui, saya jamin.”
Setelah makan malam Andrey Andreitch memainkan biola dan Nina lvanovna menemaninya dengan piano. Sepuluh tahun lalu ia mendapat gelar dari Fakultas Seni sebuah universitas, namun sampai sekarang ia tidak pernah bertahan di satu bidang, tidak punya pekerjaan pasti, dan dari waktu ke waktu hanya turut ambil bagian dalam konser amal. Dan di kota ia dianggap sebagai musisi.
Andrey Andreitch mulai bermain, semua mendengarkan dalam diam. Samovar*) mendidih diam-diam di atas meja dan tidak ada yang minum teh selain Sasha. Kemudian ketika dua belas string biola yang berdenting tiba-tiba putus, semua orang tertawa, sibuk ke sana kemari, lalu mulai mengucapkan selamat tinggal.
Setelah melihat tunangannya keluar, Nadya naik ke lantai atas di mana kamarnya dan kamar ibunya berada. (Lantai di bawahnya ditempati nenek). Mereka mulai menempatkan lampu di bawah ruang makan, sementara Sasha masih duduk minum teh. Dia selalu menghabiskan waktu lama untuk minum teh dalam gaya Moskow, minum sebanyak tujuh gelas pada suatu waktu. Beberapa saat setelah Nadya menanggalkan pakaian dan pergi ke tempat tidur dia bisa mendengar pelayan membersihkan lantai bawah dan suara Nenek yang berbicara dengan marah. Akhirnya semua hening, dan tidak ada lagi suara terdengar, selain batuk Sasha yang dari waktu ke waktu memberat di kamarnya, di lantai bawah.
Bersambung…
Catatan: SamovarSamovar: semacam alat seperti poci untuk menjaga teh tetap panas di meja makan.
Puisi Ragil Koentjorodjati
1.
Merkuri lesu temaram menyingkap malam
Kabutnya menggelayut memberati hati
Lalu rindu mengair mata di tanah basah
2.
Bola-bola lampion pendar nanar
Mengkanvaskan lolong gulita yang berair
Tergenangi bayang-bayang edelweis biru masa lalu
3.
Pecahan kaca terkulai sepanjang jalan
Mengkilatkan asa putus di ujung penantian
Akankah kita terpisah sepanjang zaman?
Puisi Ragil Koentjorodjati gambar dari blog.adhiirawan.com
1.
dikabarkan rembulan mati malam ini,
congkak tiangmu menusuk nadinya patah-patah,
hingga kita selalu merindu purnama tiba.
2.
merahmu menenggelamkan matahari,
putihmu menyilaukan mata kami,
kegelapan purba menyelimuti sekujur tubuh ini.
3.
amis darah mengudara dari tiangmu,
tetes darah habis-habisan pewaris negeri,
bukan tetes darah penghabisan para pejuang kami.