Arsip Tag: perempuan

24 Posisi Matahari ( 7 )

Kolom John Kuan

musim dingin
gambar diunduh dari guim.co.uk

☉霜降

——— serigala mempersembah hasil buru; tumbuhan kuning luruh; serangga hibernasi

Duduk membaca teks berjalan di kaca jendela gerimis. Kadang puisi, kadang cerita pendek, kadang flash fiction, terutama di malam hujan. Hari itu saya membaca sebuah roman, sedikit picisan, tapi khas teks berjalan.

Mobil biru keabuan, bersih mengkilap, hatinya demikian juga, dinihari pukul dua lewat lima menit masih belum dapat penumpang, memilih pulang. Hujan berhenti, menurunkan kaca jendela, isap rokok. Tiba-tiba hati sangat kacau, sering seolah teringat sesuatu, lalu tidak teringat lagi. Di mulut jalan depan berdiri satu bayang memutih, matikan rokok, mobil dibawa mendekat… muda… anggun… sudah melambai… Dia buka pintu, perempuan muda masuk ke tempat duduk depan, agar mudah menunjuk jalan?

“Ke mana?”

Dia membantunya menyulut rokok…

“Ingin ke mana?”

“Terserah kamu “

“Maksud saya mesti mengantar kamu ke mana?”

“Oh, my god!”

“Maaf, aku yang salah!”

Perempuan itu bergegas keluar mobil, mengucapkan selamat malam, dengan pinggul menutup kembali pintu mobil.

Mobil tidak bergerak. Perempuan itu juga tidak bergerak.

Dia melongok keluar jendela

Perempuan itu melangkah ke arah berlawanan.

Setelah perlahan mengemudi lewat beberapa mulut jalan, putar balik, jalanan sangat lengang, membuat dia merasa kekacauan tadi telah meresap, matanya menyapu dua sisi jalan, bangunan, bayang lampu lalu lintas, suara mobil lain, dia merasakan semuanya telah menyatu jadi sebuah tubuh besar, dan perempuan tadi adalah selembar bentuk manusia digunting dari kertas putih, entah basah kuyup menempel ke mana.

Perempuan itu di bawah kanopi sebuah bar, sedang membuka pintu, tiba-tiba menoleh, seolah ada orang memanggilnya. Dia mengajak perempuan itu minum, menari, tidak usah lihat arloji, akhirnya perempuan itu melihat. Mengantarnya pulang ke Greenwich Village. Pemandangan jalan kabur menyatu, gerimis lagi.

“Hagan… Sejak kapan mulai?”

” … dua tahun lalu… Kamu?”

“Apa?”

“Sudah berapa lama bawa taksi?”

“Juga hampir dua tahun “

“Sepenuhnya mengandalkan tip?”

“Iya, siang hari bolak-balik Long Island, jauh lebih baik daripada di dalam kota.”

“Tidak akan seumur hidup begini?”

“Iya, tidak tahu kapan-kapan menukar yang lain.”

 “Tim, kau memang luar biasa.”

“Mana ada… lagipula, memandang ekspresi orang, enakan pemandangan jalan.”

“Keras kepala adalah tabiat paling susah berubah.”

“Seandainya mau berubah, juga mesti dengan keras kepala mengubahnya.”

“Tidak usah diubah, orang keras kepala paling lembut.”

“Macam mana tahu?”

“Umpama, sangat memperhatikan cara berpakaian, demikian sudah sangat lembut terhadap dirinya.”

“ Kalau begitu kamu lebih luar biasa…. aku sungguh tidak mengerti… kamu…”

“Ibu, adik, aku, buru-buru ingin menyelesaikan kuliah pergi kerja.”

“Sudah mau nikah, besok dia ulang tahun.”

“Selamat ulang tahun!”

“Terima kasih, kami ingin makan malam di Village, restoran mana bagus? Okra?”

“Setelah koki Okra meninggal dunia, sekarang tinggal orang dari luar kota yang datang mencicipi nama.”

“Assam, bagaimana?”

“Bagus sekali, jika kau berminat boleh bertemu pemiliknya, bilang dari nona Ula Hagan, penutupnya akan disajikan teh Pangeran Wales… berhenti di sini, Tim, terima kasih!”

“Hagan!”

“Apa?”

“Nomor telepon.”

Hagan menyambut pena, ditulisnya di atas telapak tangannya.

Menyusuri sebentar sisi Sungai Hudson, dia memutar balik ke sudut jalan Hagan turun, apartemen hitam di dalam gerimis, terasa seolah tebing curam.

Di bawah cahaya kapsul telepon umum, angka di telapak tangan, berbaur dengan keringat, sisa 2, 5 bisa dikenali.

Pagi berikutnya menemukan di tempat duduk Hagan ada sebuah tas. Malam Tim bersama tunangannya datang ke Assam, tas dititip ke pemilik restoran untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Selesai makan, teh Pangeran Wales bening warna amber, kental dan harum, monopoli pedagang teh kesohor Twinings.

Saat mau bayar, pelayan bergegas datang berkata: “Sudah dibayar nona Hagan, dia memberi selamat ulang tahun kepada kalian.”

 Tim dicurigai, penjelasan demi penjelasan, pernikahan tetap dibatalkan ——— akhirnya dia baru jelas dicerca hanya alasan belaka. Prelude perkawinan terlalu panjang. Juga berarti ikatan kasih sayang pendek.

Bahkan ke Assam minum secangkir teh juga tidak ada semangat, terhadap makanan kian tajam mengkritik, badan makin kurus, samasekali tak beriak.

Pada acara wisuda Ula Hagan, Tim hadir, sepatah dua patah kata, apapun tidak beritahu.

Lewat satu tahun, Hagan menikah, pengantin lelaki bukan Tim.

Lewat tiga tahun, Tim menikah, pengantin perempuan Ula Hagan, keluar dari gereja, sepenuh jalan adalah gerimis yang sama.

Perkawinan perak, perkawinan emas, ingat selalu gerimis, kemudian, tidak lagi berhubungan dengan gerimis, abadi jadinya.

Saat Hati Ingin Bersandar

Puisi Siska Premida Wardani

ilustrasi dari gp.blogspot.com

Kemana lagi ku akan datang
Pabila kegalauan bertubi menghadang
Membiarkanku terhimpit sesak dan dalam…begitu dalam
Tanpa teman ku sendiri menanggung beban

Kemanakah sungguhnya jalanku
Saat pejam dan nyaman pun enggan menyapaku
Luluh lantak hati ini merasakan
Seolah urat nadi ingin segera disayatkan

Oh..di manakah harusnya aku berada
Tatkala hanya gulita memenuhi pikiran dan mata
Menggantikan sejuknya fajar, hangatnya siang,….teduhnya senja
Ku tahu aku tak punya tempat tuk singgah

Ya Allah Ya Rahim
Sungguh air mata tak tahan terbendung
Kaki lemah ini sigap tuk bersimpuh
Tiada kataku selain memohon lautan ampun-Mu
Hanya pada-Mu kuhadapkan diri…wajah lusuhku…mata sembabku

Ya Rabb Ya Karim
Kutahu hidupku tak pernah mudah
Tak kuminta jalan yang mulus, tanpa debu, tanpa batu
Bekali hamba dengan segenggam kuat
Hujani hamba dengan sabar dan ikhlas
Tanamkan kompas di hati hamba
Agar hamba tidak tersesat…dan tahu ke mana arah pulang

Dan aku hanyalah hamba-Mu yang mengadu

yang tanpa malu mengajukan pinta
Engkau dengarlah suara hamba
meminta pada-Mu yang Maha Tahu
yang Maha Tinggi lagi Maha Hidup
Laa haulaa walaa quwata illa billa

(di suatu tempat kurajutkan kata menjelang Dhuha. Persembahan untuk kalian yang percaya pada doa, semoga pengembaraan hidup kita membawa sejuta hikmah)

21 Agustus 2011

Kecantikan Perempuan: Membawa Berkah atau Musibah?

The Mona Lisa
Cantik: Berkah atau Musibah?
“Bu Kie, ingatlah wajah-wajah itu. Dan jangan pernah percaya pada perempuan berwajah cantik, karena di balik kecantikannya tersimpan kelicikan”
Begitulah kira-kira pesan ibunda Thio Bu Kie sebelum menghembuskan nafas terakhir dalam prolog film Heaven Sword and Dragon Sabre. Kalimatnya mungkin tidak tepat begitu, tapi pesannya jelas bahwa kecantikan perempuan bisa berbahaya.
Sejarah nusantara sedikit banyak juga menyajikan kecantikan sebagai biang masalah. Ambil contoh dalam cerita berdirinya kerajaan Singasari pada tahun 1222. Indahnya tungkai Ken Dedes, istri akuwu (setingkat camat) Tunggul Ametung, telah membuat Ken Arok blingsatan. Skenario yang indah dalam cerita keris Mpu Gandring memuluskan rencana sang anak “pidak pedarakan” memperistri istri Tunggul Ametung dan mengangkat dirinya menjadi raja Tumapel. Ken Umang, yang sudah berpacaran dengan Ken Arok tentu saja merasa cemburu. Buah cemburu tersebut melahirkan pembunuhan demi pembunuhan antar keturunan Ken Arok pada masa Kerajaan Singasari.
Perang Bubat (1351 M) antara Majapahit dengan kerajaan Galuh merupakan contoh lain bagaimana kecantikan perempuan menghancurkan kredibilitas Hayam Wuruk dan Gajah Mada sebagai pemimpin-pemimpin besar pada jamannya. Nafsu Hayam Wuruk untuk menikahi Dyah Pitaloka Citaresmi menjadi awal perilaku memalukan Gajah Mada yang haus kekuasaan dengan memporakporandakan persiapan pernikahan menjadi peperangan yang menewaskan seluruh rombongan kerajaan Galuh di desa Bubat.
Cuplikan cerita tersebut menunjukkan bagaimana kecantikan menunjukkan sisi berbahaya. Memang dalam hal ini Tuhan sangat adil. Kelemahan fisik perempuan diimbangi dengan keindahan yang memiliki “daya serang” yang luar biasa. Ketebalan tembok Gedung Putih yang susah ditembus peluru Al Qaida, mampu ditembus Monica Lewinsky. Dan di depan mata kita masih jelas terlihat retaknya kewibawaan KPK akibat manuver cantik Rani Yuliani.
Tentu saja saya tidak hendak mengatakan bahwa kecantikan adalah sebuah dosa atau kesalahan. Justeru disini saya ingin menegaskan adanya daya serang perempuan dengan kelemahan dan kecantikannya yang sungguh luar biasa. Pertanyaannya, mengapa tidak digunakan untuk menghancurkan korupsi di negara kita dan membangun negeri ini? Alangkah indahnya jika anugrah luar biasa yang diterima perempuan berkembang menjadi talenta yang membangun dan memperanakkan budaya unggul di setiap sisi kehidupan.
Peningkatan peran perempuan dalam pemberantasan korupsi cukup masuk akal dengan adanya bukti penelitian yang menunjukkan bahwa perempuan lebih berhati-hati dalam bertindak dibandingkan kaum lelaki. Penelitian Jenkins, Diego dan Glaser (2006) yang dimuat dalam Jurnal Judgment and Decision Making Vol. I No. 1 Juli 2006, bercerita bagaimana perempuan dan laki-laki mengambil risiko dalam bidang gambling, kesehatan, rekreasi dan sosial. Yang menarik dari penelitian tersebut adalah bahwa baik perempuan dan laki-laki sama-sama bersedia menerima tingkat risiko yang sama berkaitan dengan kehidupan sosial. Namun perempuan lebih memiliki pertimbangan (judgment) yang optimis terhadap kemungkinan hasil-hasil positif sebuah tindakan. Di bidang kehidupan yang lain, perempuan tidak berani “bermain-main” dengan risiko dari sebuah tindakan, termasuk dalam bidang keuangan (Weber, Blais dan Betz; 2002). Dalam konteks korupsi, penelitian tersebut berguna sebagai landasan empiris untuk menempatkan perempuan sebagai pelaku aktif dalam upaya pencegahan serta pemberantasan korupsi.
Perempuan yang baik (cantik akhlaknya) menghasilkan masyarakat yang baik, demikian juga sebaliknya perempuan yang hancur-hancuran menghasilkan masyarakat yang hancur juga. Demikianlah pepatah yang sering kita dengar. Dalam kontek pengikisan korupsi, peribahasa tersebut menjadi lebih bermakna dengan adanya kontribusi aktif perempuan di berbagai bidang kehidupan. Perempuan diharapkan tidak sekedar menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku sejarah yang menciptakan sejarah. Jika tidak bekerja maka perempuan dapat berpartisipasi lewat keluarga dengan mengikis konsumerisme. Sedikit menahan diri agar suami tidak merasa harus memenuhi semua kebutuhan yang di luar kekuatannya. Orang Inggris memahat peran tersebut dalam kalimat indah “I married my husband for life, not for lunch”.
Bagi perempuan yang tidak sekedar menjadi ibu rumah tangga, peran aktif dapat dimulai dengan menempatkannya pada posisi-posisi penting dan strategis di perusahaan atau pemerintahan. Dalam kontek Indonesia, peran perempuan harus lebih ditingkatkan baik di lembaga eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Kuota DPR untuk perempuan bukan menjadi acuan karena dalam sistem tersebut tersirat perempuan hanya sebagai pelengkap penderita. Lebih utama jika perempuan karena kehendak bebasnya menempatkan diri serta meningkatkan kapasitas diri untuk bisa berkontribusi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sejarah kepemimpinan perempuan, jika pun ada, jarang sekali menceritakan pemimpin yang gagal karena ketampanan laki-laki. Cleopatra yang konon gemar laki-laki pun lebih terkenal sebagai penakluk laki-laki ketimbang ditaklukkan laki-laki. Sejarah nusantara mencatat Shima, ratu Kalingga yang sukses memimpin kerajaannya dalam kejujuran. Seorang perempuan yang mampu memimpin kerajaan menjadi “gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem karta raharja”. Kecantikan fisik yang diimbangi dengan kecantikan hati yang menjelma pada kecantikan perilaku terbukti mampu membawa kemakmuran sebuah bangsa. Meski demikian, apakah kecantikan itu membawa berkah atau musibah, kembali pada diri masing-masing. Setidaknya dulu para leluhur bisa, mengapa sekarang tidak?

(Repost)