Sastra di Tengah Patronase Sosial

Oleh Binhad Nurrohmat*

seni dan moralHubungan sastra dengan masyarakatnya memang rumit dan potensial menyembulkan perbedaan pendapat. Sastra bisa dinilai lantaran ada perangkat-perangkat aturan, konvensi, atau kode; dan antara perangkat yang satu dengan perangkat yang lain tak sama.
Selain itu, sastra juga punya sejumlah kemungkinan hubungan dengan struktur sosial masyarakat yang memunculkannya, ekspresi pandangan dunia atau ideologinya (Lucien Goldmann, 1977), dan juga konvensi estetikanya maupun mediasi kondisi produksinya (baik kondisi teknologis, kelembagaan, dan kondisi sosial dalam produksi seni) untuk bisa memahami dan menjelaskan fenomena sastra (Janet Wolff, 1982).
Ada anggapan bahwa sastra sebagaimana lembaga sosial yang sah dan punya konvensi yang menuntut kepatuhan terhadap sejumlah urusan demi tegaknya kesahan dan konvensinya. Pelanggaran terhadap konvensi sebuah lembaga sastra merupakan ancaman sebagaimana pelanggaran terhadap konvensi dalam sebuah lembaga masyarakat.
Ada hubungan kelembagaan antara konvensi sastra dan masyarakatnya, misalnya puisi kita pada dekade awal 1900-an yang cenderung meninggalkan pola puisi lama atau tradisional demi menyesuaikan diri dengan masyarakat yang baru. Kecenderungan ini terucapkan dalam puisi Rustam Effendi, “Sarat-saraf saya mungkiri, untai rangkaian seloka lama, beta buang beta singkiri, sebab laguku menurut sukma”.
Sastra juga dipandang sebagai sebuah model yang terbatas dari semesta yang tak terbatas. Sastra merupakan model dunia imajiner yang membonceng bahasa, baik dunia sosial, personal, individual, maupun hubungan antarindividu dan kemungkinan-kemungkinan hubungan yang lain. Contohnya, kasus cerpen Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin pada 1968.
Cerpen ini dianggap melukai kepercayaan Muslim karena penggambaran unsur-unsur yang berkaitan dengan agama Islam di dalam cerpen itu. Akibatnya, HB Jassin, pemimpin majalah yang memuat cerpen itu, diadili dan dihukum, meski HB Jassin menyatakan gambaran dalam cerpen itu merupakan model dunia imajinasi. Tapi masyarakat seakan menganggap penggambaran dalam cerpen itu adalah dunia kenyataan itu sendiri.
Sastra pun mengembangkan rancangan khusus berupa bangunan penafsiran yang menuntut diperlakukan sebagaimana rancangan khususnya itu. Dengan kata lain, hubungan karya sastra dengan struktur sosial tidak muncul sebagaimana adanya dalam karya sastra, misalnya, novel Siti Nurbaya yang memuat masalah politik melalui tokoh Syamsul Bahri yang berperang untuk mencari kematiannya agar berjumpa dengan kekasihnya. Novel ini diterbitkan oleh Balai Pustaka karena motif Syamsul Bahri itu romantik dan bukan karena urusan yang politis.
Selain itu, sastra kerap dirundung pembatasan atau konvensi “bisu” dalam urusan mengungkap peristiwa-peristiwa atau gagasan-gagasan tertentu. Apa yang membuat sebuah teks dianggap sebagai karya sastra karena kecocokannya dengan ukuran tertentu yang bersifat ideologis, misalnya tak melanggar “stabilitas” politik kekuasaan dan “kesopanan” umum. Kasus pamflet Rendra dan puisi Widji Thukul merupakan contoh hubungan sastra dengan standardisasi sastra versi kekuasaan.
Selain hubungan-hubungan itu, untuk memahami kondisi sastra juga perlu memerhatikan urusan yang berkaitan dengan produksi seni, yaitu teknologi dan lembaga sosial.
Teknologi cetak dan teknologi komunikasi memengaruhi kesusastraan, misalnya maraknya penerbitan buku, internet (situs dan blog) dan koran di Tanah Air setelah jatuhnya rezim Orde Baru yang berefek pada produksi dan penyebaran karya sastra. Banyak pengarang yang tak lagi berhubungan dengan penerbit resmi karena teknologi cetak yang murah (komputer/fotokopi) dan teknologi komunikasi (internet). Hambatan penyaluran karya sastra makin menyingkir dengan adanya situs di internet, kantong sastra, dan toko buku di luar jaringan toko buku besar.
Selain teknologi, lembaga sosial di dalam kesenian pun punya peran penentu dalam urusan produksi sastra. Dewan kesenian, gedung kesenian, taman budaya, media sastra, kritikus, maupun komunitas sastra merupakan wujud lembaga sastra yang punya otoritas penilaian atau legitimasi. Dulu TIM dan majalah sastra Horison dianggap sebagai pusat legitimasi kesenian di negeri ini. Setiap seniman yang diundang tampil di TIM atau karyanya dimuat Horison dianggap sebagai seniman papan atas.
Lembaga sosial dalam kesenian punya selera estetik tertentu dan perannya bisa menjadi politis dalam penarikan anggotanya (rekruitmen). Zaman dulu, penguasa di Barat menyediakan pusat latihan seni (gilda) bagi seniman yang direkrut untuk memuja dirinya.
Di zaman modern, rekruitmen seniman terselenggara lebih longgar melalui sistem sekolah maupun pelatihan yang didanai oleh sponsor, misalnya Ubud Writers dan Readers Festival dan Program Penulisan Majelis Asia Tenggara (Mastera). Secara sosiologis, dalam rekruitmen seniman ada faktor kekuatan sosial yang mendorong seseorang untuk bersekutu dengan kelompok tertentu untuk mengembangkan kerja atau karier kesenimanan.
Selain rekruitmen, lembaga sosial dalam kesenian juga menjalankan patronase, yaitu suatu hubungan di mana sang patron (pelindung) memberikan sesuatu ke pihak lain, misalnya sokongan material atau perlindungan ke seniman yang memungkinkan karya sang seniman diproduksi dan didistribusikan dalam lingkungan yang serba tak pasti dan bahkan penuh perseteruan, sedangkan sang seniman memberikan kesetiaannya kepada sang patron sebagai imbalannya, misalnya dengan penyesuaian selera ideologi atau estetikanya. Memang tak ada campur tangan langsung sang patron terhadap karya seni sang seniman, tapi ada seleksi tertentu dalam pemberian dana dapat mengindikasikan ideologi sang patron.
Menurut Edwar B Henning (1970), pengaruh patronase terjadi dalam tiga cara. Pertama, menarik seniman untuk bergabung melalui performa intelektual atau moral yang simpatik serta dukungan material. Kedua, stipulasi (persyaratan suatu kesepakatan yang harus dilaksanakan sang seniman). Ketiga, seleksi terhadap karya seni dilakukan oleh patron yang biasanya berasal dari kelompok ekonomi yang kuat dan dapat memengaruhi gaya seni sang seniman.
Patronase kesusastraan berperan penting dalam sejarah sastra Barat, misalnya patronase raja dan gereja abad XIV dan XV, patronase bangsawan pada abad XVI, dan patronase politik pada abad XVII. Mulai abad XVIII sistem patronase lenyap dan sastrawan menghadapi situasi baru yang menawarkan kebebasan lebih besar, tapi membuat sastrawan menerima tekanan hubungan pasar dan kerawanan ekonomik.
Pada abad XX hingga kini muncul patronase baru yang menggantikan hubungan patronase tradisional, misalnya pengarang menulis untuk koran, fotografer dipekerjakan oleh majalah, dan juga pengarang yang memperoleh dana dari lembaga pemerintah atau swasta dalam negeri maupun asing.

*Penulis adalah Penyair

Sumber: Republika, 02 September 2007.

Limbok

Cerita KauMuda Karya Nailatul Faiqoh*
Editor Ragil Koentjorodjati

kecupan gadis
Ilustrasi dari masbeni.file.myopera.com
Langit abu-abu tertiup angin pagi sepoi-sepoi, mendayu-dayu menerpa bulu roma sampai bergidik. Perlahan butiran air gerimis menghujam kulit yang semakin terasa tajamnya. Tak juga kunjung terang airnya. Sudah sedari malam gerimis seperti ini membasahi desa kami. Luapan sungai sudah hampir di atas mata kaki. Padi musim panen kali ini sudah rubuh tertiup angin kencang tengah malam tadi. Hal yang lebih ditakutkan warga bila angin terus berhembus dengan kencangnya adalah robohnya rumah-rumah gedheg atau bahkan menumbangkan pohon besar di area sekitar rumah. Untungnya pagi ini angin tak lagi menggarang, hanya menyisakan gerimis dan langit mendung.
Jam tujuh hampir tercapai namun ruang kelas masih terlihat sepi, hanya beberapa anak yang rumahnya di sekitar sekolah sibuk membantuku memindahkan bangku dan meja ke tempat yang lebih kering. Masih kurang beberapa anak yang belum datang sampai aku putuskan pelajaran harus dimulai. Sesekali pandanganku menengok ke arah luar, mungkin saja seorang anak spesial datang terlambat. Anak itu bernama Limbok.
Dulu anak itu hampir tak dapat bersekolah di tempat ini. Sekolah luar biasa letaknya jauh dari desa. Biaya akomodasi terbilang mahal untuk keluarga Limbok, apalagi ibunya yang sudah menjanda. Sejak Limbok berumur 3 tahun, ibunya hanya bekerja sebagai buruh tani di sawah milik tetangga. Membanting tulang mencari uang sendiri tidaklah memungkinkan bagi ibu Limbok menungguinya di sekolah sampai selesai.
Ibunyalah yang bersikeras memohon kepada pihak sekolah agar Limbok diperkenankan tetap mendapat pengetahuan. Untungnya pengurus sekolah dan juga sebagian guru tersentuh dengan cerita ibu Limbok dan memperbolehkanya bersekolah di tempatku mengajar secara sukarela sebab kekurangan tenaga pengajar. Sistem pengajaran yang diberikan pada Limbok cukup berbeda dari murid lain.
Untungnya sebagian banyak murid tidak pernah mempertanyakan keadaan Limbok, seolah mereka sudah paham dengan perbedaan di antara mereka. Bahkan beberapa anak sering mengajari Limbok berhitung atau menulis. Ibu Limbok bersyukur karena teman Limbok baik-baik dan selalu mengantarkan Limbok pulang sekolah. Limbok tidak pernah membuat ulah atau menjahili teman-temannya. Walau tumbuh sebagai anak dengan keterbatasan otak, Limbok cukup punya semangat yang tinggi.
Limbok sering bilang, ibunya selalu bercerita kalau jadi orang pinter nanti bisa punya banyak uang untuk beli mainan dan ibu Limbok juga sering menangis sambil menyuruhnya belajar terus. Karena tak mau melihat ibunya menangis itulah yang mungkin membuat Limbok selalu bersemangat untuk sekolah. Bahkan ibu Limbok pernah bercerita kalau limbok itu selalu bangun pagi dan ingin cepat pergi sekolah. Pernah saat itu Limbok sakit panas meski masih kuat berjalan ibu Limbok tidak memperbolehkanya pergi ke sekolah tapi Limbok justru menangis sampai ibunya tidak kuasa menahan keinginan anaknya itu untuk tetap pergi bersekolah. Namun terkejut yang didapati ibunya, lantaran Limbok kembali sehat dan sudah turun panas tubuhnya. Pastilah sungguh sayang ibu Limbok pada anak perempuan satu-satunya itu.
Sudah seperempat jam pelajaran dan Limbok tak juga muncul. Padahal di hari biasa Limbok selalu jadi yang pertama kali datang ke sekolah. Apa mungkin Limbok sakit, atau karena gerimis dan angin kencang tadi malam yang membuat ibu Limbok harus datang pagi ke sawah sampai tak sempat mengantarkan anaknya? Bukankah kalau tak sempat mengantar Limbok selalu dititipkan pada anak tetangga yang lantas mengantarnya ke sekolah?
Kembali pandanganku mengarah ke luar pintu. Kali ini tampak dari jauh seorang wanita setengah baya mengenakan plastik hitam di kepala tengah menggandeng seorang gadis kecil dan payungnya tampak berlubang di beberapa bagian. Itu Limbok yang tersenyum lebar menatap ke arahku. Senyumku memecah kecemasanku yang membuat bibir ini menyapa kedatangannya. Setengah berlari Limbok mencium tanganku dan masuk ke dalam kelas, sementara aku dan ibu Limbok masih tersenyum memandang keceriaan Limbok.
“Tumben sekali Limbok terlambat Bu, pikir saya Ibu sedang sibuk mengurus panenan yang rusak sampai tidak sempat mengantar Limbok.” Sambil tersenyum ibu Limbok bercerita tentang Limbok yang sibuk membuat PR menulis surat hingga tengah malam sampai-sampai ibunya kesiangan bangun. Seperginya ibu Limbok aku kembali masuk ruang kelas dan kembali mngajar dengan perasaan lega.
Sudah menjadi kebiasaan anak-anak ketika jam pulang sekolah berdoa dan salam di ucapkan bersama, adat mencium tangan pada guru belum pernah mereka lewatkan. Terutama Limbok yang berpolah lucu dengan kebiasaanya memberi ciuman jauh lalu melambaikan tanganya kepadaku. Sungguh anak itu tak pernah lekang memberi keceriaan pada semua orang. Dan itu merupakan suatu penyemangat tersendiri bagiku.
Ramai keceriaan serta semangat belajar yang tinggi dari anak-anak sudah mulai hening. Kini tinggal aku sendiri di dalam kelas dengan tumpukan buku tugas milik anak-anak. Memang baru kemarin aku memberikan tugas menulis sebuah surat yang telah menunggu untuk aku baca.
Satu demi satu surat aku baca. Beragam isinya ada si Ratna yang menulis surat untuk bapaknya di Arab Saudi, ada juga surat Uyung yang menceritakan kondisi sekolahnya, dan kini giliran surat Limbok yang harus aku baca. Entahlah karena apa aku sedikit merinding saat memegang surat ini. Tulisanya tak rapi , lebih cocok kalau disebut tulisan anak berumur 4 tahun yang sedang semangat belajar menulis. Sempat aku teringat cerita ibu Limbok tadi pagi perihal keterlambatan Limbok masuk sekolah karena harus menunggui Limbok menulis surat untuk pak presiden katanya. Penasaranku kemudian menyelinap memaksaku segera membaca isinya.
“Kata Ibu, presiden itu seorang pemimpin. Ibu juga bilang pemimpin suka membantu orang. Limbok ingin presiden bantu ibu cari uang banyak. Kalau ibu punya uang banyak tidak lagi ngarit sawah tetangga. Kalau uang ibu banyak Limbok juga mau minta dibuatkan tempat sekolah yang ga bocor langitnya, yang ga banyak rayapnya. Presiden harus bantu Ibu Limbok ya.”
Air mata tak sadar menetes tak mampu kubendung lagi. Aku sadar air mata ini seolah membuktikan bahwa anak-anak butuh tempat lebih layak dari pada tempat ini. Bukan masalah gaji seadanya untuk kami para guru sukarelawan yang berupa hasil kebun sumbangan warga. Tapi ini lebih karena suasana belajar murid yang tak kondusif. Pikirku, andai presiden juga membaca surat ini mungkin sama terkejutnya denganku, membaca isi surat anak yang dengan pertumbuhan dan pemikiran lambat.
Sudah satu minggu ini langit mendung meski hujan juga tak menampakan diri sama seperti suasana kelas ini yang tak lagi cerah seperti saat Limbok ada di antara kami. Saat tawa kami pecah mendengar suara kentut Limbok yang keras melantun membuat anak-anak menutup hidung. Atau keceriaan Limbok saat melihat ada anak yang terpeleset genangan air saat hendak maju ke depan kelas, juga peristiwa-peristiwa haru saat Limbok bercerita tentang dirinya yang senang makan nasi kur atau nasi bekas pemberian tetangga yang dikeringkan lalu di masak kembali yang kemudian dimakan bersama timun rebus serta sambal buatan ibunya. Katanya rasanya nikmat bila dari tangan ibu.
Banyak cerita-cerita lain yang sering kami dengar terutama saat jam istirahat. Aku terkesan dengan hidupnya juga ibunya yang hebat membesarkan Limbok seorang diri. Mungkin juga anak-anak yang mulai menyayangi Limbok yang sama terkesannya denganku.
Semua pelajaran telah selesai. Saatnya mereka untuk membereskan alat tulis dan bersiap pulang. Salam belum sempat aku ucapkan ketika tiba-tiba Pak Soleh, salah seorang guru yang mengajar di kelas 4 datang memberi pengumuman bahwa Limbok telah meninggal dunia siang ini.
Kedua kakiku bergetar, tak kuat menopang tubuh ini mendengar kabar kematian Limbok. Aku terkejut sampai tak mampu membendung tangis. Begitu halnya dengan anak anak yang kemudian dituntun Pak Soleh untuk membacakan doa untuk Limbok.
Limbok sudah lama sering mengeluh sakit kepala, tapi kondisi keuangan yang membuat Limbok hanya diminumi obat yang dibeli dari warung. Makin lama kondisi Limbok makin menjadi, bahkan sampai membuatnya kejang dan sering tidak sadarkan diri. Hal ini membuat ibunya mau tak mau berhutang untuk memeriksakannya ke Pak Mantri namun tak juga mendapat hasil, sampai puncaknya kemarin sore Limbok kembali pingsan yang lantas para tetangga membawanya ke rumah sakit dengan biaya sukarela warga. Namun terlambat, penyakit kanker otak sudah menjalar ke seluruh tubuh dan tepatnya siang ini Limbok pun meninggal dunia.
Sorenya setelah semua kelas kosong, aku bersama guru yang lain melayat ke rumah Limbok. Sampai di sana aku dapati segerombolan anak masih memakai baju seragam memenuhi rumah Limbok yang tak salah lagi adalah teman sekolahnya. Haru makin menjadi, membuat tubuhku lemas sampai harus dipapah beberapa guru saat ibu Limbok memberiku sebuah celengan berisi recehan uang saku yang tak pernah dihabiskan semua dan sudah lama dia kumpulkan katanya.
Uang ini kalau sudah banyak mau digunakan untuk membangun sekolah yang bagus biar Limbok dan teman-teman bisa sekolah dengan nyaman, dan ibunya juga tidak perlu memanasi baju mereka di tungku sampai kering setiap kali air hujan turun dari bagian genteng yang bolong lalu membasahi seragam satu-satunya yang dimiliki. Semakin tak aku sangka ketidaksempurnaan Limbok ternyata menyimpan hati yang berusaha menyempurnakan orang lain.
Tak ada satu pun umat yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Sama halnya kepergian Limbok kian membuat kesedihan di hati kami yang menyayanginya. Canda dan tawa kepolosanya tentu tak dapat kami temui esok. Tapi Tuhan tahu yang terbaik untuk semua. Tuhan punya banyak rencana yang tak diduga umat-Nya. Kepergian Limbok membuat kami keluarganya di sekolah sadar akan hidup yang fana. Terutama aku dan sahabat-sahabatnya yang sadar bahwa secara tidak langsung Limbok mengajarkan kami arti ketulusan, kasih sayang, juga semangat untuk menggapai impian, seperti yang Limbok lakukan.

Nailatul Faiqoh adalah Mahasiswi Universitas Semarang, tinggal di Rembang.

Adakah Krisis Moralitas dalam Kesusastraan Indonesia?

Gerundelan Richard Oh

seni dan moralSelain bahasa yang sering disebut-sebut sebagai salah satu biang yang mengakibatkan krisis sastra masa kini di Indonesia, moralitas juga sekarang menjadi fokus para penulis senior ataupun para akademisi. Saya merasa sangat terusik untuk membahas soal krisis moral dalam sastra Indonesia yang konon oleh beberapa penulis senior ibarat tubuh yang sudah kehilangan kepala. Yang dimaksud penulis-penulis ini tentu saja adalah sastra modern seakan-akan sangat terjerumus dalam persoalan eros dan erotisisme ketimbang moralitas.
Pergunjingan soal moralitas muncul dalam kesusastraan dan kebudayaan pada awal agama mulai tersebar luas dalam peradaban. Sebelumnya moralitas dalam karya-karya drama ataupun mitos Yunani terasa sangat terbuka dan sifatnya tidak mengkhotbah, tetapi lebih sering merupakan sebuah ungkapan dari kehidupan, atau lebih tepatnya seperti disebut oleh Nietzsche, The Gay Science, yang intinya adalah bahwa moralitas pun merupakan suatu aspek ringan atau komedi dalam kehidupan kita. Moralitas menjadi momok yang sering dipergunakan oleh para wali keagamaan untuk menindas para pemikir dan pekerja kesenian selama berabad-abad. Walaupun demikian, dari masa ke masa, dari peralihan zaman pencerahan hingga ke era Victoria hingga masa kini, moralitas tidak hentinya digempur oleh para penulis dan seniman di mana pun.
Adalah suatu pemikiran yang sangat kolot dan antimodernisme untuk meneropong sastra Indonesia saat ini bagaikan seorang moralis yang merasa jijik melihat kenyataan bahwa dunia yang bajik dan sangat sempurna yang dihuni mereka sudah berubah begitu dahsyatnya. Keberatan mereka seharusnya ditujukan pada persoalan kehidupan masa kini yang memang sejak perang dunia kedua telah usang, daripada menekan para penulis sastra masa kini yang ingin membawakan berbagai kompleksitas kehidupan masa kini dalam karya-karya mereka. Keberanian dari para penulis ini, menurut saya patut kita puji, karena penulis-penulis ini telah beranjak jauh dari zaman di mana sastra masih ditindas oleh kekangan masyarakat ataupun agama, seperti pada masa Flaubert, yang karyanya Madame Bovary dihujat sebagai amoral, dan zaman DH Lawrence, yang karyanya Lady Chatterly’s Lover dianggap mesum, dan James Joyce dengan karyanya Ulysses yang terpaksa harus diterbitkan di Perancis, karena dianggap porno! Tetapi sebelum para penulis berani ini, mereka sudah punya kolega yang tidak kalah beraninya: Daniel Dafoe di abad ke-18, dengan karya yang berani Moll Flanders tentang pelacuran, di abad ke-16, Rabelais dengan karya Gargantua and Pantagruel yang heboh karena keberaniannya mencatat kebobrokan manusia dalam detail-detail yang berani, dan Chaucer, di abad ke-14 bahkan sebelum Shakespeare, dengan karyanya Canterbury’s Tales, melukiskan keanekaragaman karakter manusia dari yang munafik hingga yang seronok.
Di masanya, penulis-penulis ini dianggap sangat kontroversial dan sering ditindas oleh para wali agama ataupun penguasa, tetapi hari ini mereka kita anggap sebagai pahlawan-pahlawan sastra yang karyanya dipelajari oleh siswa-siswa di sekolah di segala penjuru dunia.
Penafsiran pada suatu karya sastra menurut saya menjadi problematika kalau tolok ukurnya adalah moralitas. Penulis sastra tidak bertanggung jawab pada suatu masyarakat ataupun pembaca akan keabsahan moralitas mereka dalam karya-karya yang ditampilkannya. Seorang seniman menciptakan sebuah karya tidak berdasarkan suatu konsensus massa ataupun masa, tujuan akhir dari sebuah karya bukanlah betapa tingginya nilai moralitas yang dicapai tetapi seberapa jauhnya estetika ataupun moralitas yang dianut sekelompok masyarakat dapat digeserkan. Karena melalui tiap pergeseran ini, yang sebenarnya juga merupakan cerminan dari masyarakat itu sendiri, maka terciptalah karya-karya terobosan besar. Persoalan menjadi semakin runyam ketika penulis-penulis yang berani menulis karya-karya yang berani dikaitkan dengan kebobrokan pribadi mereka. Atau mereka dianggap pengaruh negatif yang merusak serat moralitas masyarakat.
Di sini letak kemunafikan suatu komunitas. Karena di satu sisi para seniman diminta untuk melakukan terobosan dengan berani dalam karya-karya mereka, di sisi lain mereka juga diberikan batas-batas kelayakan yang dianggap merupakan konsensus umum yang perlu dipertahankan. Alasan mereka selalu adalah bila tidak pilar-pilar kesusilaan sipil akan roboh. Apakah kehebatan suatu masyarakat dan kemandiriannya bisa dirobohkan oleh karya-karya seni? Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana suatu karya seni bisa melakukan terobosan dengan batas-batas seperti ditetapkan oleh para petinggi moralitas itu? Saya kira pertanyaan balasan yang tepat adalah kenapa pula kita perlu takut dengan karya-karya berani ini? Kalau kita tidak ingin anak-anak kita membaca karya-karya tertentu, atau pemikiran kita bahwa mereka masih belum siap membaca karya-karya tertentu, kita bisa melarang mereka untuk tidak membaca karya-karya itu. Jadi batas-batas kelayakan pada karya sastra tidak perlu kita pergunjingkan sebagai persoalan publik tetapi membataskannya menjadi suatu persoalan individu. Seperti juga bagaimana kita menyambut dengan gembira buku-buku berbobot moralitas tinggi, kita seharusnya juga bisa menyambut dengan toleransi yang tinggi buku-buku yang berani menerobos batas-batas kelayakan itu. Keberatan kita dan ketakutan kita menerima karya-karya tersebut hanya mencerminkan keangkuhan supremasi moralitas kita atau memberikan kesan seakan batas zona keamanan pribadi sedang terancam.
Di sini kita perlu bedakan antara erotisisme dan pornografi, karena kedua hal sering disalahtafsirkan, atau menjadi tercampuraduk dalam pembahasan soal kelayakan dalam satu karya seni. Eros dan erotisisme oleh Octavio Paz digambarkan sebagai kecenderungan yang normal bagi manusia yang punya imajinasi dan budi pekerti. Berbeda dengan hewan yang dalam tindakan seksualnya hanya untuk mereproduksi, menurut Octavio Paz, manusia mempunyai kapasitas untuk merasakan kenikmatan dan punya daya imajinasi yang tinggi untuk menambah nilai kenikmatan itu dalam hubungan seksual. Dengan demikian, erotisisme adalah bagian yang wajar dari fakultas manusiawi, sedangkan pornografi adalah suatu penghasutan indera yang tidak mempunyai nilai imajinasi. Repetisi imaji yang ditampilkan untuk menggugah berahi terlihat jelas sangat mekanis dan tidak mempunyai nilai-nilai estetika ataupun tujuan lain selain menggugah insting-insting purba dalam diri kita.
Berbicara tentang estetika dan etika, perlu juga kita bahas apakah sebuah karya perlu ada sebuah tujuan etika yang konkret. Perlukah sebuah karya punya misi moralitas? Inilah antara lain hal yang sering dipersoalkan dalam pembahasan krisis moral dalam kesusastraan kita. Persoalan ini menurut saya akan sangat sulit diselesaikan karena kalau kita serapkan apa yang ditulis oleh Nietzsche dalam karyanya The Genealogy of Morals, maka sangat jelas sekali bahwa seharusnya kita menanggapi pergeseran moralitas dalam karya seni dengan keringanan jiwa. Karena persoalan moralitas akan sangat relatif. Bagaimana seseorang mengukur batas-batas etika yang seharusnya ataupun seharusnya tidak dilanggar dalam sebuah karya? Apakah karya-karya seni harus merujuk pada suatu pakam moralitas suatu kepercayaan ataupun suatu konsensus massa? Bila demikian halnya, saya kira karya-karya yang diciptakan tidak lagi bisa dikategorikan sebagai karya seni, tetapi lebih mendekati karya-karya hymna bagi suatu kepercayaan.
Tuntutan pada seorang seniman menjadi seorang panutan moralitas tinggi menurut saya adalah penafsiran yang salah pada fungsi seorang seniman. Penafsiran ini seakan menempatkan seorang seniman pada posisi seorang pengkhotbah ataupun seorang wali terhormat dari suatu masyarakat. Pemikiran demikian sangat bertolak belakang dengan kenyataan posisi seorang seniman. Seniman di bidang mana pun senantiasa akan tetap merupakan manusia marjinal. Posisi mereka, bila bukan karena dalam realitas mereka memang terpojok ke pinggiran kehidupan, adalah pilihan mereka sendiri dalam menempatkan diri di pinggiran sehingga mereka dapat menyaksikan ataupun meneropong dunia dari dekat, yang kemudian, melalui kepedihan hasil pergelutan kehidupan mereka dengan dunia ataupun kejeliannya dalam mengupas kehidupan di hadapan mata mereka, akan menjelma menjadi keoriginalitas karya-karya seniman itu.
Lihat dalam sejarah kesusastraan dunia dan Anda akan menemukan nama-nama besar seperti Rimbaud, penyair muda yang berhenti menulis syair pada saat dia berumur 20 tahun, yang mempunyai metode khusus mengakses keaslian jiwanya dengan membius otaknya dengan rangsangan alkohol dalam kuantitas yang tinggi. Pelbagai penggunaan obat terlarang juga dilakukan oleh penulis-penulis besar, seperti dengan opium oleh Graham Greene, LSD oleh semua penulis generasi Beatnik dari Allen Ginsberg hingga Jack Keruac, dan di era 80-an, kokain oleh Jay McInnerny, dan alkohol, pilihan Bacchus favorit rata-rata semua penulis, dari William Faulkner hingga Dylan Thomas. Mereka ini manusia besar dalam kesusastraan yang gagal dalam ketertiban kehidupan sehari-hari. Mereka jauh dari manusia sempurna yang didambakan banyak orang. Karya-karya mereka diciptakan juga bukan untuk diukur dari segi bobot moralitas pribadi mereka, tetapi dari kedalaman jiwa mereka yang lahir dari pergesekan mereka dengan dunia.
Sampai di sini, saya mendengar keluhan sang moralis yang menanyakan, “Jadi apa fungsi sastra sebenarnya?” Sastra menurut saya adalah muntahan balik dari seorang penulis kepada masyarakatnya. Keberaniannya dan ketulusannya dalam berkarya adalah keoriginalitas suaranya. Perkembangan sastra sudah lama bergeser dari karya-karya sastra yang gentil. Karya-karya penuh bobot moralitas Jane Austen hingga Nathaniel Hawthorn sudah tergeser oleh karya-karya pembangkang seperti Flaubert, James Joyce, DH Lawrence, Baudelaire, dan pada era modern oleh hampir semua penulis berani dari Jean Genet, Allen Ginsberg, Bukowski, John Fante hingga oleh pemenang Nobel tahun 2004 Elfriede Jelinek. Hampir semua tabu dalam kehidupan sudah dilabrak oleh penulis-penulis ini. Adalah sangat egois bagi para petinggi moralitas di negara kita menuntut bahwa penulis-penulis kita kembali ke zaman abad pertengahan dan mengabadikan karya-karya mereka pada kebesaran moralitas dengan huruf M besar, sedangkan perkembangan sastra dunia sudah berlaju demikian maju dan sudah lama meninggalkan rambu-rambu moralitas yang masih dipersoalkan kita. Karena selain tidak mungkin memutarbalikkan perkembangan masa, saya rasa tuntutan para petinggi moralitas ini sangat mengganjal perkembangan sastra di negeri ini. Persoalan moralitas seharusnya dibahas dalam konteks di luar kesenian seperti dalam forum kebatinan ataupun dalam kajian sosiologi. Karena persoalan moralitas sangat berseberangan dengan penciptaan karya seni. Seniman tidak kenal rambu-rambu moralitas dalam penciptaan mereka. Yang disasarkan dalam setiap karya seni bukan lagi capaian moralitas, tetapi capaian originalitas dalam suara, visi ataupun estetika. Sastra dunia sudah mencapai titik capaian yang begitu maju sehingga ia tidak lagi mencoba mengupas moralitas manusia tetapi lebih pada bagaimana menangkap dilema ataupun paradoks manusia dalam sekeping kehidupannya. Kadang bahkan tanpa suatu tujuan ataupun subyek yang jelas, selain potret-portret kecil suatu kehidupan seperti yang ditampilkan dalam cerita-cerita penulis Sicilia Giovanni Verga.
Menutup penulisan ini saya ingin mengutip Oscar Wilde, juga salah satu spirit pembangkang dalam kesusastraan yang ditindas oleh para petinggi moralitas masyarakatnya pada masanya. Dia mengatakan bahwa kebenaran tidak lagi benar bila ia diterima oleh semua pihak. Semangat setiap pekerja kreatif adalah bagaimana berbagi kebenaran individunya dengan dunia di mana dia bercokol. Persembahan mereka yang diperoleh dari tetes-tetes darah jiwa mereka merupakan ungkapan kecintaan ataupun ketulusan mereka pada dunia. Penindasan, penghujatan, pendakwahan negatif pada karya-karya seni sudah bukan hal baru lagi bagi mereka, dan tidak pernah berhasil menghalangi mereka, bahkan malah mengobarkan semangat mereka, untuk tetap menampilkan tiap karya mereka dengan keberanian dan ketulusan yang tidak dapat dikompromikan.

Sumber: Blog Richard Oh 18 January 2008

Satu Puisi

Puisi Charles Roring

satwa papua
Ilustrasi dari Rere 'Loreinetta

Cantik parasmu bagai warna burung surga
Seperti penjaga menunggu fajar
Di tepi sungai kita menanti
Cahaya mentari mulai berpendar

Sejak subuh tadi, hujan t’lah berhenti
Pertanda gelapnya malam segera memudar
Di jalan setapak, kaki kita mulai meniti

Bersama kita mengayun langkah
Menyusuri sungai yang setia mengalirkan air
Membuyar dua ikan yang bermanja di akar nipah
Dingin membasuh kaki, gemericik air

Ke lereng Gunung Arfak tempat kita kan berdua
Menanti datangnya Cendrawasih burung-burung surya
Menuju rumpunan bambu kita kan mendaki
Di balik dedaunannya kita kan berhenti

Sebentar lagi para jantan kan berdansa mengumbar cinta
Agar menyatu dengan para betina, itu yang mereka pinta

Kulirik engkau sebentar-sebentar
Cantik parasmu, harum rambutmu, dadaku bergetar
Gerai rambutmu semerbak wangi seperti minyak cendana
Kau duduk di dekatku sambil memandang ke atas sana

Andai aku si Cendrawasih jantan yang lihai menari
Kan kurayu kau sang betina dan tak akan kubiarkan berlari
Mendekatimu kukepak sayapku perlahan-lahan
Merapat, kutatap matamu yang lembut sayu nan menawan

Matamu bagai permata safir
Senyummu, darah dalam nadiku semakin berdesir
Andaikan kita bisa terbang jauh bersama-sama
Kalau lelah di tepi pantai, kita hinggap di dahan palma

Gairah cinta kita, bagai laut biru bergemuruh ombak
Dimabuk cinta, bagi kita lebih nikmat daripada menegak tuak

Semoga setelah ini kita kan bersua lagi
Ke negeri jauh pun menemuimu ku akan terbang pergi

Ubud Bali, 23 Jan 2012

Cerita Bersambung: Tunangan (5)

Cerita Anton Chekhov
Alih Bahasa RetakanKata

kasih tak sampai
Ilustrasi dari 3_bp_blogspotdotcom1
Angin berhembus memukul atap dan jendela. Ada suara siulan. Dan di dalam tungku, aura rumah cemberut dan sedih mengocehkan lagunya. Hari sudah lewat tengah malam, semua orang rumah telah beranjak pergi ke kamar masing-masing, tapi tidak ada yang tertidur, dan tampaknya semua seperti itu bagi Nadya. Seolah-olah mereka sedang bermain biola di bawah. Ada suara berdebam keras; daun jendela telah ditutup. Semenit kemudian Nina lvanovna dengan masih memakai baju tidur datang dengan lilin di tangan.
“Apa yang berdebam tadi, Nadya?” tanyanya.
Ibunya, dengan rambut ekor kuda dan senyum malu-malu di wajahnya, tampak lebih tua, lebih sederhana, lebih kecil pada malam berhujan badai. Nadya ingat beberapa waktu lalu pernah berpikir bahwa ibunya adalah seorang wanita yang luar biasa dan ia mendengarkan setiap kata-katanya dengan bangga. Sekarang dia tidak bisa mengingat hal-hal itu, segala sesuatu yang kini datang ke dalam pikirannya adalah ibu yang begitu lemah dan tak berguna. Dari dalam tungku terdengar suara-suara bass paduan suara, dan bahkan dia juga mendengar suara, “Oh.., Tuhanku!” Nadya duduk di tempat tidur, dan tiba-tiba dia mencengkeram rambutnya dan terisak.
“Ibu, oh, ibuku,” katanya. “Kalau saja Ibu tahu apa yang terjadi padaku! Aku mohon, aku meminta pengertianmu, biarkan aku pergi. Aku mohon padamu!”
“Ke mana?” tanya Nina Ivanovna tidak memahami permasalahan, dan dia duduk di ranjang. “Kamu hendak pergi ke mana?”
Selama beberapa saat Nadya menangis dan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
“Biarkan aku pergi jauh dari kota,” akhirnya ia berkata. “Pernikahan ini tidak ada dan tidak akan ada, pahamilah! Saya tidak mencintai pria itu. Aku bahkan tidak bisa berbicara sesuatu pun tentang dia.”
“Tidak, anakku, tidak!” Nina Ivanovna berkata cepat, sangat khawatir. “Tenangkan dirimu – itu hanya karena semangatmu melemah dan akan segera berlalu. Hal seperti ini sering terjadi. Mungkin kamu sedang bertengkar dengan Andrey, tetapi hanya pertengkaran kecil dan pecinta yang bertengkar selalu berakhir dengan ciuman..!”
“Oh, pergilah, ibu, oh, pergi,” isak Nadya.
“Ya…,” kata Nina lvanovna setelah diam beberapa saat, “semua ini tampak begitu singkat, dulu kamu masih bayi, menjadi seorang gadis kecil, dan sekarang bertunangan dan akan menikah. Di alam ini ada transmutasi zat terus-menerus. Sebelum kamu tahu di mana kamu saat ini, kamu akan menjadi ibu bagi dirimu sendiri dan seorang wanita tua, dan akan punya anak perempuan pemberontak seperti yang kumiliki sekarang.”
“Sayangku, manisku, anda pandai, anda tahu, anda sedang tidak bahagia,” kata Nadya. “Ibu sangat tidak bahagia, mengapa kaukatakan semua seperti sangat membosankan, hal-hal biasa itu? Demi Tuhan, mengapa?”
Nina Ivanovna mencoba mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, dia terisak dan pergi ke kamarnya sendiri. Di tungku suara-suara bass mulai mengoceh lagi, dan Nadya tiba-tiba merasa ketakutan. Dia melompat dari tempat tidurnya dan dengan cepat pergi menyusul ibunya. Nina Ivanovna, dengan air mata berlinang di wajahnya, berbaring di tempat tidur terbungkus selimut biru pucat dan memegang sebuah buku di tangannya.
“Ibu, dengarkan aku!” kata Nadya. “Saya mohon Anda mengerti! Jika saja Ibu memahami betapa kehidupan kita begitu kecil dan rendah. Mataku telah terbuka, dan sekarang saya mengerti. Dan tentang Andrey Andreitch? Ia tidak cerdas, ibu! Demi surga yang penyayang, mengertilah, Ibu, dia bodoh!”
Nina Ivanovna tiba-tiba duduk.
“Kamu dan nenekmu sama-sama menyiksaku,” katanya sambil terisak. “Aku ingin hidup! Hidup!” ulangnya, dan dua kali ia memukulkan tinju kecilnya di atas dadanya. “Biarkan aku bebas! Aku masih muda! Aku ingin hidup, dan kalian telah membuat aku menjadi perempuan tua di antara kalian!”
Nina Ivanovna tenggelan dalam air mata pahit, berbaring dan meringkuk di bawah selimut, tampak begitu kecil, begitu menyedihkan, dan begitu bodoh. Nadya pergi ke kamarnya, berpakaian, dan duduk di jendela menunggu pagi tiba. Sepanjang malam ia berpikir, sementara seseorang tampak menyelinap jendela dan bersiul di halaman.
Pagi hari Nenek mengeluh bahwa angin telah meruntuhkan semua buah apel di kebun, dan mematahkan pohon anggur tua. Semua tampak abu-abu, suram, muram, cukup gelap untuk nyala lilin, semua orang mengeluhkan hawa dingin, dan hujan mendera di jendela. Setelah minum teh Nadya pergi ke kamar Sasha dan tanpa mengucap sepatah kata berlutut di depan kursi di pojok dan menyembunyikan wajah di tangannya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Sasha.
“Aku tidak bisa …” katanya. “Bagaimana bisa aku tinggal di sini selama ini, aku tidak mengerti. Aku tidak bisa hamil dengan orang yang kubenci. Aku benci tunanganku. Aku benci diriku sendiri, aku benci semua ini. Aku benci kehampaan ini dan semua hal yang tidak masuk akal.”
“Wah, wah,” kata Sasha, belum menangkap apa yang dimaksud. “Tidak apa-apa … itu bagus.”
“Aku muak dengan kehidupan ini,” lanjut Nadya. “Aku tidak tahan sehari lagi di sini. Besok aku akan pergi. Demi Tuhan bawa aku pergi!”
Untuk satu menit Sasha menatapnya dengan heran; akhirnya ia mengerti dan senang seperti seorang bocah. Dia melambaikan tangannya dan mulai bergegas mengenakan sandal seolah-olah dia sedang menari dengan gembira.
“Luar biasa,” katanya sambil menggosok tangannya. “Ya ampun, betapa menakjubkan semua ini!”
Dan Nadya menatapnya tanpa berkedip, dengan mata memuja, seakan terpesona, berharap setiap menit ia akan mengatakan sesuatu yang penting, sesuatu yang jauh signifikan. Dan Sasha belum mengatakan apa-apa, tapi bagi Nadya sudah tampak sesuatu yang baru dan besar telah terbuka di hadapannya sampai saat itu, dan Nadya menatap Sasha penuh harapan, siap menghadapi apa pun, bahkan kematian.
“Besok aku akan pergi,” akhirnya Sasha berkata setelah berpikir sejenak. “Temui aku di stasiun, aku akan membawa barang-barangmu di koporku, lalu aku akan membeli tiket untukmu, dan ketika bel ketiga berbunyi, masuklah ke kereta, dan kita akan pergi. Kita akan pergi sejauh ke Moskow dan kemudian ke Petersburg. Kamu punya paspor?”
“Ya.”
“Aku jamin, kamu tidak akan menyesal,” kata Sasha, dengan penuh keyakinan. “Kamu akan pergi, akan belajar, dan kemudian pergi ke mana nasib membawamu. Bila kamu mengubah hidupmu, membalikkan hidupmu, semuanya akan berubah. Hal yang besar adalah mengubah hidupmu dan membaliknya sedemikian rupa, dan yang lainnya tidak penting. Jadi kita akan berangkat besok? ”
“Oh ya, demi Tuhan!”
Tampak Nadya merasa sangat bahagia, dan hatinya terasa lebih berat dari sebelumnya. Ia akan menghabiskan sepanjang waktu menunggu sampai saat dia pergi dalam kesengsaraan dan menyiksa pikiran, tetapi ia tidak pergi ke atas dan berbaring di tempat tidurnya ketika ia jatuh tertidur, dengan jejak air mata dan senyum di wajahnya, dan tidur nyenyak hingga malam larut.

Bersambung…
Cerita sebelumnya:
Cerita Bersambung: Tunangan (4)

Menulislah

Puisi Ragil Koentjorodjati

one day writing
Ilustrasi dari ioneday.blogspot.com

Menulislah,
Jika kamu tidak lagi sanggup berbicara,
Simbol-simbol yang berhamparan di jagad ini menunggu seseorang untuk merangkainya menjadi suatu yang nyata. Sesuatu yang dapat dibaca. Tidak saja wujud harfiahnya tetapi juga bentuk-bentuk di sebaliknya.
Menulislah,
Jika suaramu tidak lagi ada yang mendengar,
Suara yang melekat pada batu-batu dinding kotamu tidak sekokoh goresan tangan yang berotot keprihatinan. Suara akan melembab di kaki-kaki pengembara dan meringkuk hilang makna seiring waktu menua. Tetapi tulisan tidak. Ia akan dibaca sebagaimana ia tertulis sepanjang masa.
Menulislah,
Jika namamu ingin tercatat di lintasan sejarah,
Betapa banyak jiwa-jiwa membeku di pengap waktu. Mereka binasa dengan sia-sia. Bergumul dalam kesendirian dan tidak mampu menolak zaman yang mengutuknya menjadi sekedar deretan huruf dan angka-angka. Bebaskan jiwamu dan jadilah manusia merdeka.
Menulislah,
Tangan dan kakimu dapat terbelenggu, tetapi tidak hati dan pikiranmu. Pikiran adalah hantu yang tidak terikat ruang dan waktu dan ia menyatakan dirinya dalam tulisan-tulisan. Menulis menghubungkanmu antara dunia jiwa dengan dunia nyata.
Menulislah,
Meski tulisanmu tidak seagung karya para pujangga atau tidak seindah rangkaian kata para penyair yang mabuk rindu. Meski penamu tak lagi tajam dan kertasmu mulai buram. Sebab Ia telah menghamparkan kertas di depan mata kita, mengisi penuh tinta di hati dan pikiran kita. Ia menunggu kita menulis sesuatu yang bermakna.
Menulislah,
Sebab sesungguhnya hidupmu lebih sastra daripada karya para pujangga dan lebih puisi daripada rangkaian kata para penyair.

Siapa Saja Ateis di Indonesia?

Gerundelan Soe Tjen Marching*)

merpati perdamaian
Ilustrasi dari img.brothersoft.com
Awal bulan Januari tahun ini, seperti dilaporkan dalam surat kabar: lelaki bernama Alex Aan ditahan polisi karena tulisannya di Facebook “Tuhan tidak ada”. Alex juga sempat mengumumkan bahwa ia tidak percaya malaikat, setan, surga atau neraka. Dan karena itu, ia dikenal sebagai seorang ateis. Saya tidak tahu apakah Alex telah berbuat hal lain, selain yang sudah disebut oleh koran, sehingga ia menghadapi ancaman 5 tahun penjara. Tapi kasus ini membuat saya bertanya “kenapa ateisme begitu disikapi dengan kecurigaan di Indonesia? Apakah seseorang yang menyatakan bahwa ia tidak percaya pada Tuhan benar-benar menyinggung agama? Apakah hanya ateis yang tidak percaya pada Tuhan? Dan Tuhan yang mana?

Ateis secara umum diartikan sebagai “tidak percaya pada tuhan”. Sedangkan, di Indonesia, dikenal semboyan “Tuhan yang maha Esa”. Tuhan itu satu. Tapi bila Tuhan itu satu, mengapa titahnya begitu berbeda dari agama satu dan lainnya, dan bahkan bisa bertentangan?

Sebagai contoh, umat Islam memiliki buku suci mereka sendiri dan Allah sendiri, masing-masing terpisah dari orang-orang Kristen. Banyak Muslim dan Kristen akan mempertimbangkan dewa dalam bentuk seekor gajah atau monyet (dewa Hindu Ganesha dan Hanuman) hanyalah mitos. Saya kira, pemeluk agama Hindu tidak akan senang jika mereka harus menyembah Allah atau Yesus Kristus. Ini berarti bahwa jika Anda meyakini atau memeluk agama tertentu, Anda biasanya akan tidak percaya pada dewa-dewa atau Tuhan lain selain Tuhan agama Anda sendiri. Artinya, orang beragama bisa dianggap ateis (tidak mempercayai) tuhan dan dewa-dewa agama-agama lain.

Bahkan aliran yang berbeda dari agama yang sama dapat memiliki keyakinan yang berbeda. Pertimbangkan dua komunitas utama Islam di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. NU percaya bahwa tahlil (mengucapkan doa untuk orang mati) adalah suatu yang Islami, karena ritual tahlil adalah dzikir (mengingat dan menghormati Allah). Namun, praktik ini dianggap sesat oleh Muhammadiyah. Jadi, pujian untuk Allah bagi suatu aliran bisa dianggap sebaliknya oleh aliran lain.

Berbagai denominasi Kristen juga memiliki perbedaan mereka; Protestan dan Katolik, misalnya. Protestan tidak berdoa kepada Santa Perawan Maria. Alasannya? Mereka percaya bahwa Alkitab menyatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya pengantara antara manusia dan Tuhan. Berikut adalah petikan yang sering dikutip mereka: “Karena ada satu Allah, dan satu pengantara antara Allah dan manusia, yaitu Yesus Kristus ” (1 Timotius 2:5). Protestan biasanya menganggap doa orang-orang Katolik terhadap Bunda Maria sebagai penyembahan berhala.

Di sisi lain, Katolik percaya bahwa karena Tuhan memilih perempuan ini untuk menjadi ibu dari Yesus, ada tempat khusus bagi sang Bunda dalam agama mereka. Karena itu, penghormatan terhadap sang perempuan adalah rasa hormat kepada Allah dan mereka mempunyai berbagai pujian terhadap Maria. Bahkan, dalam doa Rosario, mereka harus mengucapkan berpuluh kali doa “Salam Maria“.

Ada lebih banyak lagi perbedaan antara Protestan dan Katolik, salah satu yang penting adalah kepercayaan antara surga dan neraka. Katolik percaya bahwa kebanyakan orang pada akhirnya akan pergi ke surga setelah mati (bahkan beberapa ajaran menyebutkan semua manusia akhirnya akan masuk surga). Namun, mereka yang dianggap belum “layak” untuk langsung menuju ke tempat indah ini karena dosa-dosa mereka, akan dikirim terlebih dahulu ke dalam api penyucian – yaitu, tempat untuk penyiksaan sampai mereka bersih dari kesalahan mereka.

Tetapi, tidak ada api penyucian dalam Protestan. Mereka biasanya percaya bahwa orang akan pergi ke surga atau neraka, tidak ada di antara keduanya. Jadi, dalam agama yang sama pun, Tuhan tampaknya memiliki aturan yang berbeda. Memang, kebiasaan suatu agama atau bahkan aliran dapat dianggap di mata orang lain. Jika kita berbicara tentang agama-agama di dunia, bisa Anda bayangkan perbedaan mereka? Berapa macam surga, neraka dan dewa-dewa yang ada?

Ketika Agama Dianggap Ateis

Beberapa abad yang lalu, Roma menganut paham politeisme (percaya terhadap banyak tuhan), dan pada umumnya cukup toleran terhadap agama-agama lain. Mereka bahkan sering mengadopsi dewa-dewa orang lain. Namun, kepercayaan pada satu Tuhan dianggap aneh bagi penduduk Mediterania kuno. Akibatnya, banyak orang Yunani, Romawi dan Mesir memandang dengan kecurigaan agama baru saat itu, Kristen. Bahkan, tersebar isu bahkan orang-orang Kristen itu kanibal, karena mereka memakan tubuh Kristus. Dan mereka dianggap “ateis”.

Pada 64 M, selama pemerintahan Kaisar Nero (37-68), api mengoyak Roma selama enam hari. Kota Roma hampir hancur. Dalam kemarahan, rakyat menyalahkan Kaisar yang tidak bisa menangani tragedi ini. Nero segera menuding jarinya kepada orang-orang Kristen, untuk mengalihkan kemarahan rakyatnya. Nero memerintahkan beberapa pentolan kelompok “ateis” ini ditangkap. Orang-orang Kristen yang ditangkap ini, kemudian disiksa untuk menyerahkan nama orang-orang Kristen lainnya. Dan mereka-mereka ini dihukum, antara lain, dengan dijadikan santapan singa, dengan ditonton oleh publik Roma.

Ateis – Berbeda pada Waktu dan Tempat

Kristen adalah korban dalam cerita itu, tapi mereka kemudian menjadi para penganiaya di lain waktu. Selama Perang Salib, orang-orang Kristen menyatakan perang terhadap kaum politeis dan Muslim. Intinya adalah, dalam era yang berbeda dan di tempat yang berbeda, berbagai dewa atau tuhan dapat dianggap lebih benar dan asli daripada yang lain. Yang dianggap sebagai ateis juga dapat bervariasi. Bila dulu, Kristen dianggap ateis oleh para politeis Roma, pada jaman lainnya orang Kristenlah yang menuduh politeis sebagai ateis. Seringkali, kita dapat dianggap ateis oleh orang-orang dengan sistem kepercayaan yang berbeda.Karena itulah, Stephen Roberts yang mendeklarasikan dirinya sebagai ateis, pernah berkata: “Sebenarnya kita berdua adalah ateis. Aku hanya percaya pada satu tuhan lebih sedikit daripada Anda.”

(Versi yang hampir sama dalam bahasa Inggris telah dimuat di Jakarta Globe).

*)Soe Tjen Marching adalah penulis “Kisah di Balik Pintu”.

Cuma Nyaris Mati

Puisi Ragil Koentjorodjati
pelepasan roh
Ini adalah puisi kesekian kali yang rencananya kutulis berkali-kali,
tentang kecewa,
tentang pedih,
dan sedikit tentang luka.

untuk binarbinar mata yang menggelepar,
untuk getir hatihati yang menggetar,
untuk tubuhtubuh luruh dalam rapuh,
untuk jiwajiwa ranggas usai getas.

Ini adalah puisi kesekian kali yang rencananya kutulis berkali-kali,
tentang amarah,
tentang benci,
dan sedikit tentang cinta.

mungkin juga pernah kaurasa,
hati tercabik -terbengkalai- putus asa,
ditinggalkan dan meninggalkan,
harga diri terbelenggu di lacilaci.
lalu perlahan dan mengular tumbuh keinginanmu untuk mati,
segera mati; mati segera,
hingga pasrah; hingga sumarah,
hingga tanpa kausadari nyawamu terbelahbelah,
tujuh belah.

satu nyawa mati untuk kekasih hati,
satu nyawa mati untuk ditinggalkan,
satu nyawa mati untuk meninggalkan,
satu nyawa mati untuk harga diri,
satu nyawa mati untuk pasrah,
satu nyawa mati untuk sumarah,
satu nyawa mati untuk tujuh nyawa hidup kembali.

lalu engkau akan mati berkalikali,
berkali dan berkali,
tidak ada lagi rasa takut mati,
engkau menunggunya dan terus menunggunya,
hingga bosan,
hingga engkau sanggup berkata,
:semua luka membuatku cuma nyaris mati.

Sungguh, ini adalah puisi kesekian kali yang rencananya kutulis berkalikali.

Perangkap

Cerpen Aditya Sylvana Day

aditya silvanaPerempuan bertubuh ramping itu berdiri di tepi sungai,…bukan..bukan hanya di tepinya. Kakinya semata kaki menjejak dalam air sungai yang deras. Pasti hujan tadi hulu. Kepalanya menunduk, rambut ikalnya tergerai menutup wajahnya dari pandangan orang seandainya ada yang melihatnya saat itu. Tapi tak ada orang lain malam ini, dia hanya sendirian di tepi sungai Bahau, di jantung Kalimantan. Matanya menatap golak arus yang kuat itu. Gemuruhnya air memenuhi telinganya, hatinya, dan rasanya.

Ada selembar kertas tergenggam di tangan kanannya, tergenggam kuat, tercengkeram, segala kegeraman hatinya seakan terwakili oleh cengkeraman jemarinya pada kertas itu. Ia menerimanya tadi siang, sepucuk surat yang dibawa oleh dispatch, dibawa dari dunia luar yang riuh, untuk mengusik ketenangannya dalam belantara ini. Surat dari Mayang.
Mayang! Setiap kali Mayang menulis surat kepadanya, selalu akan ada ketenangannya yang terusik. Selama ini dia selalu mampu menepiskannya. Ya, Mayang yang selalu cemburu padanya, selalu saja mencari dan mengorek hal-hal yang diperkirakannya akan mampu menghancurkan hatinya. Mayang suka bercerita tentang kesuksesannya dalam karir atau teman-teman kuliahnya yang lain, untuk dibandingkannya dengah dirinya sendiri yang seakan tercampak dalam pekerjaan sepele dalam belantara ini. Atau tentang mantan kekasihnya, yang sekarang hidup berbahagia dengan keluarganya setelah memutuskan hubungan dengannya. Atau tentang pekerjaannya yang lama, yang bisa dianggap suatu puncak kesuksesan, yang sekarang telah diambil alih oleh Mayang. Selama ini, semua pancingan ini tak pernah benar-benar berhasil mengusiknya. Mayang tak tahu bahwa belantara dan pekerjaan sederhana sebagai peneliti lapangan justru mendatangkan kepuasan dan ketenangan hati baginya.
Tapi tidak kali ini. Surat yang terakhir ini membawa kebekuan pada hatinya. Satu pukulan telak pada hati yang sebenarnya rapuh, yang selama ini tersembunyi rapat di balik sikap tegas gagah yang tampil di luar. Suatu kabar tentang pengkhianatan. Ah, sebenarnya dia tak terkejut mendengar kabar ini. Surat Mayang ini hanya merupakan konfirmasi dari kecurigaannya yang semakin lama semakin mengusik. Tentang cinta dan kesetiaan, dari lelakinya, dunianya, semestanya.
Sudah cukup lama ia merasakan perubahan sikap Ernanda, kekasihnya itu. Bagaimana ia menghindarinya, menutup diri, dan membuat berbagai alasan untuk tidak bertetap pada komitmen cinta mereka. Kebingungan dan kepedihan itu yang mendorongnya untuk menerima tugas yang membawanya kembali ke belantara Kalimantan, ke Kayan Mentarang. Namun, ia masih berharap, karena memang belum ada kepastian dari Ernanda mengenai hubungan mereka. Ia masih berharap. Karena itu ia menyurati Mayang, bertanya pada perempuan itu tentang apa yang diketahuinya tentang Ernanda. Dan Mayang pun dengan penuh kepuasan memenuhi permintaannya dan mencari tahu
Surat Mayang ini bercerita dengan rasa sukacita yang tak tersembunyi, tentang Ernanda dan perempuan barunya. “Benar firasatmu”, kata Mayang, “Ernanda menyelingkuhimu”. “Ia punya kekasih baru,” seakan tersenyum Mayang menulis, “seorang perempuan yang lebih daripadamu dalam segala hal.”. Mayang juga menulis dengan puas bahwa sebenarnya Ernanda tak menyembunyikan hubungannya dengan perempuan itu, mereka terlihat kemana-mana bersama. Bahkan baru-baru ini, mereka menghabiskan seminggu bersama berlibur di suatu tempat yang teramat romantis. Beberapa teman kita melihat mereka, begitu laporan Mayang. Lalu Mayang bercerita dengan penuh detail yang bersemangat tentang apa yang dilakukan oleh Ernanda pada kekasihnya yang cantik itu. Dia tahu Mayang tak berdusta padanya. Perempuan itu sangat ingin menghancurkan hatinya, dan kabar tentang Ernanda adalah kebenaran yang akan menghancurkannya. Dan memang, dia tahu itu semua benar, dia merasakannya, di jantungnya, di rasanya.
Dengan pahit diremas-remasnya surat dalam genggamannya, lalu dijatuhkannya ke dalam air sungai yang dengan deras menyapunya ke hilir. Lalu, perlahan, entahlah…rasa dingin yang membekukan hatinya mereda, yang tersisa adalah nir-rasa. Sungguh, ia tak mampu lagi merasakan apa-apa. Dengan tiadanya rasa, perlahan kesenyapan semu menyelinap.
Gemuruh sungai tak lagi tertangkap telinganya, sinar perak purnama tak lagi tertangkap matanya. Seakan dia melangkah ke dalam dunia mati tanpa lebih dulu melewati gerbang kematian itu sendiri. Tanpa merasa, dia melangkah maju, menuju ke kedalaman sungai yang arusnya tengah bergelora itu. Selangkah lagi, dan lagi. Perlahan air naik ke pinggangnya, dan arusnya yang kuat menyapu kakinya, mengangkatnya, menariknya. Dan ia tak melawannnya. Biarlah…….
Tiba-tiba sepasang tangan kekar menariknya keluar dari pelukan sungai itu, menyentaknya, dan kemudian membungkusnya dalam rangkulan yang kuat. Hangat.
“Ibu! “suara yang dikenalnya. Dia tak menjawab, tak bisa, tak ingin memecah heningnya. Matanya bertemu dengan sepasang mata yang bersinar kuatir. Lukas. Asistennya.
“Ibu Desi, kita ke rumahku ya, “ kata Lukas lagi. Dia masih diam, tapi membiarkan tubuhnya dibimbing separuh diseret menuju ke rumah yang letaknya tak jauh dari tepi sungai. Lukas harus menggendongnya menaiki tangga takik ke atas rumah panggung itu, karena otaknya masih belum bisa memerintahkan kakinya untuk bergerak
Sesampai di dalam rumah, pemuda kekar itu tampak agak kebingungan melihat bajunya yang basah kuyup, tapi akhirnya membiarkannya dan hanya mencoba mengeringkannya dengan handuk dan kemudian membungkusnya dengan selimut. Lalu diambilnya secangkir arak beras ketan, dan meminumkannya. Perlahan arak itu mendatangkan rasa hangat ke perutnya dan kemudian menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan seiring dengan rasa hangat itu, kembali juga cengkeraman dingin terasa dalam hatinya. Air matanya menetes. Tak tertahankan, isaknya pun pecah. Ditekuknya tubuhnya untuk mencoba meredakan sakit yang menikam di ulu hatinya.
Mula-mula Lukas hanya memandangnya dengan bingung, tapi kemudian lelaki itu meraihnya dalam pelukannya, memelukkan wajahnya ke dada bidangnya dan membiarkannya menangis terisak di sana. Dan ia menangis. Seperti terlepas bendungan dukanya, mengalir. Lukas memeluknya lembut, sesekali tangannya membelai rambut ikal perempuan itu atau mengelus punggungnya. Hatinya terenyuh mendengar isak penuh kepedihan itu, isak yang tak pernah diduganya dapat lahir dari perempuan tegar yang selama ini dikaguminya.
Hampir sejam berlalu, ketika akhirnya perempuan itu menarik dirinya keluar dari pelukan Lukas. Matanya yang merah bengkak menatap pemuda itu dengan penuh terima kasih dan juga malu.
“Terima kasih Lukas, “katanya, “Maaf ya, kemejamu jadi basah.”
Lukas tersenyum. “Tidak apa-apa, Ibu”
Lukas memang selalu sopan terhadapnya, selalu menyebutnya dengan panggilan Ibu Desi.
Perempuan itu, Desiree Wila Riwu, menyandarkan tubuh letihnya di dinding, lalu menekuk lututnya dan memeluknya. Dia menghela napas panjang dan menatap Lukas. Mereka duduk di lantai di atas anyaman tikar rotan. Seperti lazimnya rumah-rumah panggung di kampung Dayak ini, tak ada meja kursi di dalam rumah ini, rumah Lukas Anau. Pemuda itu duduk di hadapannya, memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Dia pertama kali berkenalan dengan Lukas, hampir sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu usianya baru 23 tahun, baru dua tahun lulus dari kesarjanaannya. Lulus suma cum laude dari sebuah universitas terkemuka di negeri ini. Dia menerima pekerjaan ini, yang membawanya ke jantung belantara Kalimantan ini dengan tujuan untuk memakai pengalaman dan informasi yang akan diperolehnya sebagai bekalnya untuk mewujudkan rencananya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dunianya penuh rencana, tertata menuju jenjang kesuksesan.
Lukas sendiri waktu itu baru berumur 18 tahun, tak lulus SMA. Di kampungnya belum ada sarana pendidikan menengah atas, sehingga dia harus pergi ke ibukota kabupaten untuk itu. Namun hanya sempat setahun di sana, dia harus kembali ke kampungnya karena keluarganya tak mampu menopang kehidupannya di kota dan juga tenaganya dibutuhkan untuk berladang. Selain petani peladang, Lukas, yang badannya tegap dan jauh lebih tinggi dari rata-rata pemuda di kampungnya, terkenal sebagai pemburu yang cakap. Anjing-anjing peliharaanya terkenal tangkas dan terlatih menggiring binatang buruan. Desiree tiba di kampong itu di antara musim tanam dan musim panen, di mana kegiatan perladangan agak sela, dan Lukas dalam waktu luangnya di pekerjakan oleh lembaga tempatnya bekerja sebagai asistennya. Tugasnya adalah sebagai penterjemah, penunjuk jalan, dan pelindungnya
Sejak awal pertemuan, ada rasa saling menghormati yang tumbuh di antara keduanya. Desi tak pernah memandang rendah pada Lukas, yang kalau memakai kacamata orang kota, adalah seorang yang tak punya masa depan, seorang yang seumur hidup tak akan pernah keluar dari kehidupannya sederhana dan terbelakang ini. Dia melihat bahwa Lukas mencintai kehidupannya itu, dan bahwa cita-cita sederhananya adalah kelak akan memiliki ladangnya sendiri, ditemani oleh istri dan anak-anaknya. Walaupun hanya lulusan SMP, Desi melihat kecerdasan alami pada Lukas. Sebaliknya, Lukas tak dapat menyembunyikan kekagumannya pada perempuan kota yang tangguh ini. Biasanya, para peneliti lapangan dari kota menjadi bahan lelucon para penduduk desa karena kemanjaannya dan ketidakmandirian mereka di alam liar ini. Desi berbeda. Dia merasa nyaman di tengah keliaran ini. Perjalanan merambah rimba, menerjuni sungai, mengarungi lumpur dilakukannya dengan tanpa mengeluh. Dia pula satu-satunya peneliti dari kota yang mampu mencari dan menemukan arah dengan tepat di tengah hutan, hanya berpandukan matahari dan tumbuhan lumut pada pohon
Pasangan peneliti Desiree dan Lukas segera terkenal sebagai pasangan yang kompak dan sangat efisien. Keduanya saling mengambil pelajaran dari yang lain. Lukas mengajarinya mengenai bagaimana bertahan hidup di liarnya belantara, sementara ia mengajari Lukas berbahasa Inggris, suatu keahlian yang akan meningkatkan nilainya kelak dalam pekerjaannya sebagai asisten bagi peneliti-peneliti asing.
Rekan-rekan peneliti yang lain sering menggoda kedekatannya dengan Lukas. Memang sudah menjadi rahasia umum, bahwa antara peneliti dan asistennya yang berbeda jenis, sering terjadi hubungan yang lebih dari sebatas relasi professional. Banyak yang menduga bahwa antara dia dan Lukas juga demikian. Kesempatan bukannya tidak ada, seringkali dalam perjalanan, mereka harus menginap berdua dalam tenda di tengah hutan. Dan bukan sekali dua kali, dia menangkap Lukas memandangnya dengan tatapan yang sulit dimengerti. Namun, sedari dini Desi menegaskan bahwa dia tak akan memanfaatkan kedekatan mereka untuk sekedar pemuasan gairah. Baginya, hubungan seperti itu hanya akan terjadi bila ada cinta. Tak ada pilihan lain. Dan Lukas menghormati pendiriannya. Tak pernah sekalipun ia bertindak tak sopan, dan sejak awal hingga sekarang ia selalu menyapanya dengan sebutan : Ibu Desi.
Sepuluh tahun kemudian, dibawa oleh hati yang sarat, dia kembali ke Kayan Mentarang, dan di sini mereka bertemu lagi, duduk berhadapan, dilatarbelakangi gemuruhnya sungai Bahau. Desi menghela napasnya.
“Maafkan aku, Ukat, “ dia menyapanya dengan nama kecilnya, “entah apa yang membuatku sebodoh itu tadi. Tak pernah kuniati.”
Lukas mengangguk. Matanya tajam menatapnya.
“Surat yang dibawa dispatch tadi yang membuat Ibu resah, “katanya. Bukan pertanyaan.
Desi mengangguk.
“Berita buruk?” tanyanya. Desi menimbang sejenak, lalu mengangguk.
“Surat itu dari Mayang, temanku di Jakarta,”jawabnya.
Lalu lama dia terdiam. Dia tak terbiasa mengungkapkan perasaannya kepada orang lain. Tak terbiasa berkeluh kesah. Sikap yang membuat banyak orang menganggapnya sebagai perempuan tegar, bahkan dingin. Tapi dia tahu, ketegaran itu hanya tameng pelindung hatinya, yang sebenarnya rapuh dan telah pernah terluka parah. Tapi tameng itu tak cukup. Kali ini hatinya kembali berkeping.
“Surat ini membawa kabar tentang pengkhianatan, Ukat,”katanya. “Pengkhianatan kekasihku.”
“Itu membuatmu gelap mata?” Lukas menatap lekat matanya. “Pasti Ibu sangat mencintainya.”
Desi mengangguk. Dialihkannya matanya dari tatapan lelaki itu, dan dipandanginya lampu petromax yang digantung Lukas di tengah ruangan.
“Lelaki itu pasti seorang yang bodoh, melepaskan cintamu,”kata Lukas. “Seorang bodoh tak pantas menerima kehormatan pengorbanan hidupmu!”
Desi menggeleng.
“Kamu tak mengerti Lukas. Aku mencintainya secara total. Seluruh hidupku aku sandarkan padanya. Dan sekarang itu sudah berlalu. Juga hidupku.”
Tiba-tiba Lukas bangkit dari duduknya, lalu pindah duduk di sisinya. Tangannya meraih bahu Desi, dan kembali menariknya ke dalam pelukannya.
“Ibu dari dulu selalu begitu, selalu total dalam segala hal. Aku mengagumimu sejak dulu. Akupun sudah mengira, dalam bercinta pasti Ibu juga demikian. Aku sering membayangkan dan mencemburui lelaki mana yang akan menerima cintamu”
Desi menolehkan kepalanya menatap wajah lelaki muda itu, yang kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
“Tapi ada satu hal yang Ibu lupa. Yaitu mencintai dirimu sendiri secara total”
Hati Desi tercekat.
“Ibu ingat Sarin? Anak Pak Njau yang rumahnya paling hulu?”
“Tentu,”sahut Desi. “Bukankah dia tunangananmu dulu? Ah, aku malah belum sempat bertanya tentangnya.”
“Aku dulu mencintainya seperti Ibu mencintai kekasihmu. Seluruhnya hanya untuk dia dan tentang dia. Lalu ketika aku menemani peneliti Inggris itu ke hulu selama dua bulan,…ketika aku kembali Sarin telah mengandung anak dari teman seperburuanku.”
Dia terdiam matanya menerawang jauh. Lalu ia menghela napas dan melanjutkan ceritanya.
“Aku hampir melakukan apa yang tadi hampir Ibu lakukan. Aku masuk ke hutan berhari-hari, tanpa mengindahkan bahaya. Aku mencari gerbang kematian. Tapi, tidak ketemu.”
Lukas menoleh dan tersenyum kepada Desi.
“Mungkin karena aku terlalu ahli di hutan ya? Tapi yang jelas, kutemukan bahwa diriku masih memiliki diriku sendiri. Kupikir Sarin lah duniaku, dan bersama hilangnya, hilang juga tempat berlabuh. Tapi, tidak. Aku juga adalah duniaku. Aku berharga, kan? Ibu juga dulu yang mengajariku mengenal nilaiku.”
Kembali matanya menemukan mata perempuan itu yang masih sembab bekas tangisannya tadi.
“Aku tahu, dulu kebanyakan peneliti dari kota memandang rendah padaku yang hanya jebolan SMA. Tak bermasa depan, kan? Orang hutan. Tapi Ibu menunjukkan padaku bahwa, apa yang aku punyai, apa yang ada padaku, berarti dan berharga.”
Tiba-tiba lelaki itu menundukkan wajahnya ke arah Desi, dan dengan lembut ditautkanya bibirnya pada bibir perempuan itu. Sejenak Desi tersentak, belum pernah ia membiarkan siapapun menciumnya kecuali kekasihnya. Tapi kemudian kehangatan nafas Lukas menyelinap menghangatkan nafasnya, dan dia pun menyerahkan dirinya pada kelembutan ciuman itu.
“Kamu pun berarti, Desi. Bagiku, tapi terlebih bagi dirimu sendiri, “Lukas mendesahkan kalimat itu, ketika dia sejenak melepaskan tautan bibir mereka. Lalu dengan lembut kecupannya dialihkannya ke mata sembab perempuan itu, lalu ke lehernya, dengan gairah yang semakin membakar. Desi tak menahannya, dibiarkannya tubuhnya hanyut dalam arus yang tak kalah kuatnya dengan arus banjir sungai Bahau.
Sekian lama, ya, bahkan sepanjang hidupnya ia percaya akan kesakralan suatu percintaan. Selama ini, hanya dalam cinta ia mau menyerahkan diri terhadap gairah ragawi. Tapi cinta telah menkhianatinya berkali-kali. Ah, malam ini diserahkannya tubuhnya semata untuk gairah itu sendiri.
Dirasakann dan dinikmantinya sentuhan bibir Lukas, yang kadang lembut, kadang penuh desakan yang membara. Dibiarkannya jemarinya yang kasar itu menyusuri sekujur tubuhnya dan membangunkan jutaan sensasi.
Lukas menghentikan cumbuannya hanya untuk mengangkat tubuh rampingnya ke kasur tipis di sudut kamar sederhana itu. Lalu dengan tanpa ketergesaan melepaskan pakaian basahperempuan itu, satu persatu, sehingga dia terbaring polos di hadapan pemburu tampan itu. Lelaki itu lalu memandangi tubuhnya dengan keterpesonaan yang terbuka, tak sekejabpun matanya meninggalkan tubuhnya, sembari ia sendiri melepaskan diri dari kungkungan pakaiannya. Desi merasakan tatapan itu memuja dan mencumbui tubuhnya bahkan lebih mesra daripada cumbuan bibir dan jemarinya tadi
Malam ini, ia mencampakkan apa yang selama ini dipercayainya, mencampakkan kesakralan cinta dan membiarkan tubuhnya yang berbicara. Malam ini dia memadukan gairahnya dengan seorang lelaki yang bukan kekasihnya, bukan yang dicintainya. Malam ini tak terpikirkan konsep dosa dan tabu, apalagi kesetiaan terhadap seorang lelaki bernama Ernanda. Malam ini hanya ada Desi dan Lukas, dan sepasang tubuh yang masing-masing saling membutuhkan, terdesak oleh gairah yang tiba-tiba timbul tanpa dirancang, dan tanpa dicegah. Malam ini, Desiree mengenyahkan segala kenangan, segala keinginan yang utopis, segala rancangan yang rasional, ketika lelaki itu menyetubuhinya dan membawanya ke puncak-puncak ekstasi yang tanpa kekangan…ah.
Di subuh menjelang pagi, mereka mengulangi percintaan mereka lagi dengan intensitas yang sama, tapi dengan penuh kelembutan yang juga bernadakan kesedihan. Desi tahu, kejadian malam ini tak akan terulang lagi. Walaupun tubuhnya merasakan ekstasi dan kepuasan, ada kekosongan yang menggigit dalam jiwanya. Lukas bukan Ernanda, bukan cintanya, bukan semesta keberadaannya. Lukas tak bisa mengisi kekosongan yang menganga yang ditinggalkan Ernanda itu. Ada perasaan bersalah yang tak dapat dicegah menyelinap masuk, dia merasa seakan memanfaatkan Lukas dan gairahnya untuk mengobati hatinya yang luka.
Dalam pelukan Lukas, setelah itu orgasme yang melayangkan tubuhnya, Desi mengucapkan selamat tinggal pada pemburu gagah itu. Dikatakannya rencananya untuk kembali ke kota bersama perahu dispatch siang nanti. Diceritakannya keinginannya menjumpai Ernanda untuk meminta ketegasan tentang hubungan mereka.
“Tapi aku akan tegar, Ukat,”janjinya, “aku akan menghargai diriku lagi.”
Lukas terdiam sejenak, lalu mencium bibirnya lembut.
“Selamat jalan, Ibu, jaga dirimu, kau berharga bagiku”.

Kejadian

Puisi Binandar Dwi Setiawan

Ternyata bukan hanya segala yang kau sadari saja yang diperhitungkan oleh aturan aturan kejadian, tetapi juga untuk segala yang tidak kau sadari, untuk segala yang kau anggap tidak ada, untuk segala yang kau pikir tak pantas dijadikan pertimbangan aturan kejadian. Bajingan, semuanya terlalu tidak terjangkau akal untuk terjelaskan. Aku lukis begini saja, mereka – faktor faktor itu, segala yang kau tahu, segala yang tidak kau tahu, segala yang kau kenal, segala yang tidak kau kenal, segala yang kau anggap ada, segala yang kau anggap tidak ada- bagaikan para anggota senat yang hendak merumuskan sebuah keputusan saling berebut mengajukan pendapat dan argumen, sedangkan keputusannya sendiri bagaikan kejadian yang terjadi. Sang kejadian, memutlak sedemikian kuat tak bisa kau sanggah, tak bisa kau interupsi.

Mungkin kau bisa mengatur rencana ini itu, tetapi ketika kejadian telah benar benar terjadi pas sempurna sesuai dengan yang kau rencanakan sesungguhnya itu sama sekali tak berhubungan dengan sang rencana yang kau lahirkan. Aku tak sedang menakut nakutimu, tetapi memang begitulah faktanya. Aku tak sedang mengurangi kebesaranmu, tetapi memang kau adalah sesuatu yang kecil, yang bahkan demi kehalusan bahasa maka kukatakan sebagai sesuatu, sejujurnya kau sama sekali bukan sesuatu. Aku mohon, jangan kemudian lantas bertanya, “Siapa aku…?”, kau tak pantas untuk pertanyaan itu.

Ketika kau berdiri, kepalamu hanya akan dipukul untuk kau menunduk, ketika kau menunduk, punggungmu hanya akan dipatahkan untuk kau membungkuk, ketika kau membungkuk, sendi sendimu hanya akan dilepas dari tempatnya untuk kau menyungkur. Ancuuk, memang begitulah faktanya, semakin banyak kehidupan yang kau keras kepalai untuk kau hidupi, semakin banyak pula pilihan cara untuk membunuh kehidupanmu. Maka putuskan segera, apa yang kau pilih, mati dibunuh atau membunuh pembunuhanmu. Iya, menjadi kekallah, itulah impian para pemberani.

Ini bukan tentang penderitaan atau kebahagiaan, bukan tentang pesimis atau optimis, ini tentang kejadian dan ketidakpantasan yang dijadikan menuntut tentukan apa yang terjadi.

Kau tak berarti apapun. Tak menguasai apapun, tak memiliki apapun, tak memberhaki apapun. Ada yang sudah benar benar ada dan tak bisa mungkin disifati dengan ketiadaan, sedangkan kita tak lain hanyalah keadaan yang diingini semata. Maka kaulah wujud keinginan itu, dan bukankah keinginan dalam geraknya yang bagaimanapun tetaplah merupakan pelayan dari yang memilikinya. Semoga kau kini tahu, dan tak dikalahkan oleh tangismu.

Menjadi bebaslah kekasih, jangan pandang para ironi sebagai rantai yang membelenggumu. Sayang , kau memintaku menjadi diriku sendiri, dan kau tahu, satu satunya cara menjadikan aku sebagai diriku sendiri adalah dengan menjadikanmu sebagai dirimu sendiri. Jika kau tahu betapa rindunya aku terlepas darimu, mungkin kau akan segera pergi. Sayangnya yang kau tahu hanyalah bahwa aku begitu mencintaimu, ketahuilah aku, kenalilah aku sekeras kepala aku berusaha mengenalmu. Bahwa aku sesungguhnya menguasai, bahwa aku sesungguhnya memiliki, bahwa aku sesungguhnya memberhaki. Bahwa kau dan aku tak bisa bersatu dan tak bisa berpisah itu benar adanya, tetapi bukankah kau tahu jika fakta itu tetap saja tak mencegahku menantangmu menjadi pemberani.

Hangus Membaca

Gerundelan John Kuan

Sebuah meja bersama bangku, hangus, menjadi arang. Ada sebuah buku tebal di atas meja, putih, mulus tanpa satu goresan. Karya Titarubi ini berjudul: Bacalah! Terbuat dari Yin Yang Lima Elemen, saya duga. Meja dan kursi kayu, paku logam, buku tanah air, dibakar api, melewati perubahan Yin Yang. Sempurna.

Buku dari lempung. Begitulah orang Mesopotamia Kuno menggunakannya untuk menulis Epik Gilgames, puisi perjalanan manusia setengah dewa. Puisi yang setelah melewati beberapa ribu tahun masih hidup di dalam tablet-tablet tanah liat yang tahan bakar, bahkan menjadi jauh lebih kuat setelah keluar dari tungku pembakaran. Mereka memang telah berhasil melewati salah satu musuh bebuyutan buku: api. Tetapi apakah mereka cukup kuat menghadapi api amarah manusia moderen yang kian membara? Apakah masih dapat utuh terkubur setelah rudal-rudal dijatuhkan di atasnya, seperti beberapa ribu tahun yang lalu terkubur bersama Kekaisaran Asiria? Begitukah cara mereka mengelabui waktu?

Ternyata saya salah, buku putih ini bukan terbuat dari tanah liat.

*

Lapangan kecil di depan perpustakaan itu menyisakan satu jendela, tertutup kaca tebal, di bawahnya ada sebuah ruangan, ke empat dinding ruangan itu adalah rak-rak buku kosong. Tidak jauh dari jendela itu ada sebuah kutipan Heinrich Heine: Bakar buku, mungkin adalah petanda awal manusia memusnahkan dirinya. Lapangan ini berada di Universitas Humboldt.

Saya tidak tahu apakah ini benar posisi ruang penyimpanan buku sewaktu pembakaran buku terjadi di sini pada 10 Mei 1933, atau hanya sebuah rancangan untuk memperingati peristiwa itu. Tidak peduli yang manapun, pasti membuat orang yang melihatnya tercengang, hati terasa sekosong rak buku.

Sebuah institusi pendidikan bertaraf internasional merancang sebuah pemandangan begini di depan pintunya, adalah semacam peringatan, semacam keterus-terangan: ” Yang membakar buku di sini adalah murid-murid kita sendiri, segala tindakan pemusnahan budaya, juga memiliki nama dan identitas budaya, maka orang-orang yang bergegas dan berlalu-lalang, jangan terlalu percaya terhadap tempat ini! ”

Kutipan Heine di samping rak buku kosong itu berasal dari sebuah dramanya yang menceritakan tentang pembakaran buku di Spanyol dan Portugis pada abad ke-15: Almansor. Demikianlah, sebuah kutipan dari seorang cendekiawan yang hidup di abad ke- 19 dipakai untuk sebuah peristiwa di abad ke- 20 yang kurang lebih sama dengan yang terjadi di abad ke-15. Membakar buku memang terjadi sepanjang sejarah dan hampir pada semua bangsa yang mengenal tulisan, rak-rak buku kosong membuat saya teringat cerita-cerita kelam selama Revolusi Kebudayaan di Cina. Ada sebuah puisi yang ditulis Liu Shahe berjudul Bakar Buku:

Menahanmu sudah tidak bisa

Menyembunyikanmu juga susah

Malam ini mengantarmu ke dalam tungku api

Selamat tinggal

Chekov!

Kaca mata bulat berjanggut kambing gunung

kau sedang tertawa, kau sedang menangis.

abu terbang asap lenyap terang berakhir

Selamat tinggal

Chekov!

Dia adalah seorang anak tuan tanah, dengan latar belakang begini dapat kita bayangkan bagaimana penderitaan Liu Shahe selama Revolusi Kebudayaan.

Seorang teman berkata pada saya bahwa sekarang mulai banyak orang menggunakan cara ” Revolusi Kebudayaan “, serampangan merekayasa dan menulis ulang banyak kenyataan. Ini adalah sebuah isyarat yang berbahaya, penyebabnya adalah orang-orang tidak berani menggunakan cara yang kokoh dan transparan mempertahankan jejak-jejak sejarah sebuah malapetaka. Saya tidak tahu mengapa terhadap jejak-jejak sejarah begini jarang ada yang berani mengingat, waspada, dan berterus-terang.

Sebuah meja dan bangku hangus, sebuah buku putih polos di atas meja, saya lama menatap gambar yang tampil di dalam layar komputer itu. Kita memang mudah terbakar, meja hangus, bangku hangus, manusia hangus, namun tidak untuk sebuah buku putih polos, dia tidak hangus karena dia kosong, hampa, seakan tiada. Manusia paling suka menggunakan pengetahuan membakar pengetahuan, menggunakan keyakinan membakar keyakinan, menggunakan budaya membakar budaya, dan terakhir akan menggunakan kemanusiaan membakar kemanusiaan. Sebuah buku akan selamat ketika dia dianggap tidak memiliki pengetahuan, tidak berarti, sebuah buku kosong.

Ketika Rabi Haninah ben Teradion sedang dibakar bersama Kitab Taurat oleh tentara Romawi di abad ke-2 Masehi berkata kepada murid-muridnya: ” Aku melihat hanya gulungan saja yang terbakar, sedangkan huruf-huruf berterbangan ke atas ” Seandainya dinding ruang bawah tanah di samping kutipan Heine itu ditaruh rak-rak kosong yang hangus dan diisi dengan buku-buku putih polos, mungkin dapat membuat orang-orang yang melihatnya sedikit lebih waspada.

Atau mungkin membaca sejak awal sudah berhubungan dengan membakar buku, setidaknya hubungan begini sudah ada di dalam mitologi Romawi yang menceritakan Cumaean Sibyl dan buku-buku ramalannya tentang kejayaan Roma.

Semasa gadis, Cumaean Sibyl berkali-kali menolak Dewa Apollo, dan dewa ini kemudian melakukan pembalasan dengan memberinya kehidupan abadi yang diidam-idamkannya, namun tanpa memberi dia kemudaan abadi. Maka gadis muda yang hidup abadi ini tua di dalam waktu, tidak dapat menolak kulit berkeriput dan punggung membungkuk. Akhirnya Dewa Apollo menaruh kasihan kepadannya dengan memberi dia kemampuan meramal. Dia duduk di dalam gua di Bukit Cumae, melewati masa ke masa dengan menulis ramalannya di atas daun palem. Dalam cerita Virgil, Aineias mendarat di Cumae dan bertemu dengan gadis ini, dia kemudian memberitahu Aineias ramalannya yang menakjubkan sekaligus mengerikan akan masa depan Roma.

Salah satu fresko di Salone Sistino menceritakan tentang pembakaran buku ramalan Cumaean Sibyl oleh dirinya sendiri. Diceritakan bahwa gadis ini menawarkan sembilan buku ramalan yang ditulisnya kepada Raja Tarquin. Ketika raja menolak membelinya dia melemparkan tiga buku pertama ke dalam api, dan menawarkan enam buku yang tersisa dengan harga semula. Raja tetap menolak beli, dan dia kembali melemparkan tiga buku lagi ke dalam api, raja yang kurang panjang akal ini akhirnya sadar, lalu membayarnya dengan harga yang sama untuk tiga buku yang tersisa. Fresko itu menggambarkan Raja Tarquin dengan wajah sedih menatap tumpukan buku yang menyala di dalam api, sementara Cumaea Sibyl berdiri di samping dengan air muka yang datar.

*

Sekitar 100 tahun setelah Qin Shi Huang menurunkan perintah pembakaran buku, Sima Qian di dalam karya agungnya, Shiji, menulis bahwa Perdana Menteri Li Shi sangat menekankan usulannya:

Di masa lampau kerajaan ini terpecah belah dalam kekacauan dan tiada seorang pun mampu mempersatukannya. Oleh sebab itu semua penguasa-penguasa feodal bangkit, mereka semua berkoar-koar tentang masa kuno untuk mengacaukan masa kini, memamerkan kata-kata kosong untuk membingungkan kenyataan. Orang-orang membanggakan diri sendiri dengan teori-teori pribadinya dan mengkritik aturan-aturan yang diterima atasanya… Maka, hamba meminta semua catatan-catatan sejarawan selain sejarah Negeri Qin dibakar

Dan terakhir Sima Qian ingin meyakinkan pembacanya menulis: Kaisar sangat menyetujui proposal ini

Pembakaran buku oleh Qin Shi Huang merupakan peristiwa biblioklasme pertama yang tercatat dalam sejarah. Ini juga mungkin merupakan pemberangusan ideologi dalam skala besar pertama kali dicatat. Pasti tidak mudah untuk membakar begitu banyak buku-buku filsafat Cina Kuno, waktu itu kertas belum ditemukan, buku-buku pada masa itu umumnya berupa kepingan-kepingan bambu yang diikat jadi satu, ataupun ditulis di atas kain sutera. Sungguh suatu pemandangan yang mengerikan jika membayangkan di depan setiap sekolah-sekolah filasat yang sangat berkembang pada masa itu bertumpuk kepingan-kepingan bambu yang telah menjadi arang

Kebudayaan Cina dapat berkesinambungan selama lima ribu tahun tentu memiliki kelenturan dan dayanya yang tersembunyi. Ketika Qin Shi Huang sedang gencar-gencarnya melakukan pembakaran buku, cucu generasi ke delapan Kongfuzi berhasil menyembunyikan kitab-kitab penting sekolah Ru, seperti Shangshu, Liji, Lunyu, Xiaojing, di dalam tembok. Setelah berlalu sekitar seratus tahun, sewaktu Liu Yu yang diangkat sebagai Pangeran Gong di Negeri Lu ingin memperbaiki tempat tinggal Kongfuzi, dari dalam tembok buku-buku yang disangka sudah hilang itu kembali ditemukan.

Setiap kebudayaan pasti akan menghadapi masa-masa sulit dan diuji kesinambungannya, kebudayaan Cina paling diuji kelenturan dan ketahanannya terhadap perubahan jaman dan gempuran dari luar pada pertengahan abad ke- 19 hingga pertengahan abad ke- 20, terutama kerusakaan yang dialami dalam perang-perang melawan aliansi kekuatan Barat, serta penghancuran dan perampasan perpustakaan-perpustakaan di hampir semua kota penting di Cina oleh tentara Jepang dalam perang Cina- Jepang II. Kebrutalan dan kerusakannya sudah tidak perlu diceritakan lagi, di sini saya hanya ingin mengungkapkan satu bentuk lain perampasan dan pengerusakan budaya yang sering terjadi di abad ke- 20 atas nama perlindungan. Suatu produk budaya dicabut begitu saja dari tempatnya hidup dan berkembang lalu diletakkan di suatu tempat yang samasekali tidak berhubungan dengannya.

Misalnya yang terjadi di dalam Gua Mogao pada awal abad ke -20, sebuah kisah jual beli kitab-kitab agama Buddha yang paling tidak adil dan penuh rahasia di antara tiga orang lelaki. Yang pertama adalah Wang Yuanlu, seorang pendeta Tao yang tidak begitu berpendidikan dan waktu itu adalah penanggungjawab Gua Mogao, kedua adalah Aurel Stein, seorang arkeolog Hungaria yang baru pindah menjadi warga negara Inggeris, ketiga adalah seorang penerjemah bernama Jiang Xiaowan

Setelah Wang Yuanlu secara tidak sengaja menemukan sebuah ruang penyimpanan kitab-kitab agama Buddha di Gua Mogao, kabar dengan cepat menyebar keluar dan sampai di telinga Aurel Stein, tetapi arkeolog yang menguasai tujuh delapan bahasa ini ternyata tidak menguasai bahasa Mandarin, demikianlah Jiang Xiaowan terlibat dalam persekongkolan ini.

Awalnya Wang Yuanlu menunjukkan sikap waspada, menghindar, dan menolak kehadiran Aurel Stein. Jiang Xiaowan berbohong kepadanya bahwa Stein datang dari India adalah untuk mengembalikan kitab-kitab Xuanzang ke tempat asalnya, dan Stein juga bersedia membayarnya. Wang Yuanlu seperti umumnya rakyat Cina, sangat mengenal dan mengagumi cerita tentang mencari kitab ke Barat yang ada di dalam ‘ Kisah Perjalanan ke Barat ‘ itu, mendengar penjelasan Jiang Xiaowan dan juga melihat Aurel Stein berkali-kali bakar dupa bersujud di depan Buddha, hatinya tergerak. Maka, ketika Jiang Xiaowan mengatakan ingin ‘ meminjam ‘ beberapa kitab untuk dilihat, Wang Yuanlu yang awalnya ragu-ragu, agak lama mempertimbangkan, akhirnya tetap memberi dia beberapa kitab.

Ketika Jiang Xiaowan di bawah lampu redup membuka baca kitab-kitab yang diserahkan oleh Wang Yuanlu. Dia agak terkejut, buku yang serampangan diambil Wang Yuanlu dari tumpukan buku ini ternyata benar-benar adalah terjemahan-terjemahan dari kitab-kitab yang diperoleh Xuanzang dari tanah Barat, Wang Yuanlu sendiri juga terkejut dan terharu memandang jari-jari tangannya, seakan-akan mendengar perintah Buddha. Begitulah, pintu-pintu Gua Mogao pun terbuka lebar untuk Aurel Stein.

Setelah pintu terbuka dan isinya siap dikuras, tentu masih Jiang Xiowan yang membaca dan memilih di dalam tumpukan buku-buku tua itu, sebab Aurel Stein samasekali tidak mengerti bahasa Mandarin. Di malam-malam gurun yang dingin, ketika Aurel Stein dan Wang Yuanlu sudah tertidur, hanya tinggal dia sendiri yang membaca dan memecahkan kode-kode budaya untuk pertama kalinya setelah tersimpan lebih dari seribu tahun. Kedua pihak, pembeli dan penjual sama-sama tidak mengerti apa yang terkandung di dalam setumpuk-setumpuk lembaran kertas. Hanya dia sendiri yang mengerti, dia sendiri yang membuat keputusan diterima atau tidaknya sebuah kitab.

Demikianlah sebuah traksaksi yang paling tidak adil di dunia berlangsung, Aurel Stein menggunakan sangat sedikit uang untuk mendapatkan produk-produk budaya dari satu masa peradaban Cina yang berlangsung selama beberapa abad. Dan ini bahkan menjadi contoh sempurna untuk petualang-petualang dari beberapa negara kuat yang datang dengan sikap memborong barang murah dan ternyata memang dapat pulang dengan muatan penuh.

Ada sebuah kejadian yang perlu saya tuliskan di sini, suatu hari Wang Yuanlu merasa Aurel Stein sudah meminta terlalu banyak, dia lalu membawa sebagian kitab dan gulungan lukisan yang telah dipilih kembali ke ruang penyimpanan kitab, Aurel Stein meminta Jiang Xiowan pergi negosiasi, ingin menggunakan empat puluh tahil perak menukar kembali kitab-kitab dan gulungan lukisan itu. Ternyata Jiang Xiowan hanya menggunakan empat tahil perak sudah dapat menyelesaikan perkara ini. Aurel Stein sangat memujinya, bahkan mengatakan ini adalah sebuah kemenangan diplomasi Cina Inggeris. Jiang Xiaowan sangat bangga mendengar pujian itu, terhadap kebanggaan begini saya merasa sedikit mual.

Akhirnya, Alein Stein berhasil mendapatkan lebih dari sembilan ribu kitab Buddha dan sekitar lima ratus gulungan lukisan, semua ini dikemas ke dalam dua puluh sembilan peti kayu selama tujuh hari, unta dan kuda yang dibawa semula ternyata tidak cukup, dia kemudian memanggil lima kereta besar yang masing-masing ditarik oleh tiga ekor kuda.

Itu adalah satu senja yang sedih, barisan kereta mulai bergerak, Wang Yuanlu berdiri di sisi jalan mengantar. Aurel Stein ‘ belanja ‘ dua puluh sembilan peti barang-barang budaya langka, jumlah uang yang dikeluarkan untuk Wang Yuanlu, saya benar-benar tidak tega menulisnya, namun saat ini sudah seharusnya diungkapkan, nilainya jika ditukarkan dengan mata uang Inggeris, kurang lebih tiga puluh pounds! Begitu sedikit, tetapi bagi Wang Yuanlu sudah merupakan jumlah yang sangat luar biasa dibandingkan dengan uang yang dia dapat dari pemberian penduduk setempat yang serba kekurangan. Di dalam pikiran Wang Yuanlu, Aurel Stein adalah seorang dermawan dan tamu terhormat

Hal begini mungkin tidak hanya terjadi di Gua Mogao pada awal abad ke -20, di sekitar kita mungkin banyak hal begini sedang diam-diam berlangsung.

*

Al-Qifti, sejarawan abad ke-12 menceritakan bahwa ketika Mesir ditaklukan oleh Arab di tahun 641, Yahya al-Nahwi ( John Philoponus? ), seorang pendeta Koptik yang tinggal di Iskandariyah menghadap Amru bin Ash memohon agar buku-buku di dalam Perpustakaan Iskandariyah dapat diurusnya. Panglima menjawab bahwa dia tidak dapat memutuskan nasib buku-buku tersebut tanpa terlebih dahulu meminta petunjuk dari Khalifah Umar bin Khattab. Dan Khalifah menjawab: ” Buku-buku yang kau sebut, seandainya apa yang ditulis di dalamnya sesuai dengan Kitab Allah, kita sudah memilikinya, jika berlawanan, kita tidak memerlukannya, maka dapat dimusnahkan ” Konon, buku-buku yang berupa gulungan itu dikumpulkan dan diantar ke pemandian-pemandian umum sebagai bahan bakar, di sana, di tungku-tungku pemanas dibakar hingga enam bulan.

Sungguh cerita yang berwarna dan dramatis, hanya kebenarannya agak diragukan. Menurut Mostafa el-Abbadi, seorang pakar Klasik dari Mesir, kemungkinan al-Qifti menciptakan cerita ini untuk membenarkan tindakan Salahuddin Ayyubi menjual seluruh perpustakaan untuk membiayai perlawanannya terhadap tentara Salib.

Sekalipun cerita ini kemungkinan besar berakar Islam, namun diwariskan dan dijaga di dunia Barat sebagai ratapan Orientalis terhadap nasib peradaban Hellenistik di Timur Dekat.

Bagaimanapun ceritanya, buku-buku di Perpustakaan Iskandariyah kemungkinan selamat di masa Khalifah Umar, sebab ada sejumlah besar buku-buku perpustakaan ini kemudian dipindahkan ke Antiokhia yang dibawah Khalifah Umar II.

Ketika Dinasti Fatimiyah berkuasa di Mesir, Khalifah al-Aziz membangun sebuah perpustakaan di Kairo, berisi sekitar enam ratus ribu buku yang dijilid dengan indah, kemudian Khalifah al-Hakim menggabungkannya ke dalam perpustakaannya sehingga mencapai satu setengah juta buku. Namun, pada tahun 1068 ketika tentara Turki menghancurkan Kairo, sampul-sampul buku yang terbuat dari kulit bagus ini dilepas untuk dijadikan sepatu, sisa-sisa halaman buku yang tersobek dikuburkan di luar Kairo, dan tempat ini kemudian dikenal sebagai ‘ Bukit Buku ‘

Buku dan perpustakaan tumbuh pesat di setiap tempat yang dicapai Islam. Ibnu Sina memberikan kesaksiaannya terhadap perpustakaan yang menakjubkan di istana Persia. Di Baghdad, di Baitul Hikmah yang pada masa itu merupakan perpustakaan, pusat terjemahan, pusat penelitian, serta pusat perbandingan kearifan orang-orang dibawah Islam dari India hingga Semanjung Iberia. Di tempat ini, Banu Musa, tiga bersaudara merampungkan Kitab marifat mashakat al-ashkal, salah satu buku peletak dasar matermatika Arab. Di tempat ini, al-Hajjaj menerjemahkan Euklides, dan al-Khwarizmi, penemu aljabar membaca karangan-karangan matematika Hindu yang dikumpulkan perpustakaan kemudian mengadopsi sistem bilangan Hindu untuk kegunaan dirinya, melahirkan angka Arab yang kita kenal sekarang. Tetapi ketika langkah-langkah kuda perang Mongol menyerbu Baghdad beberapa ratus tahun kemudian, memporak-porandakan Baitul Hikmah, menghitamkan air ibu peradaban, Tigris dan Eufrat. Pikiran-pikiran cemerlang kembali menjadi tinta mengalir di dalam airmata hitam ibu peradaban. Mungkin di dalam reruntuhan kita masih bisa menemukan satu dua huruf yang telah hangus, atau mungkin kita akan sangka hanya potongan-potongan arang.

Di antara abad ke-13 hingga ke-15 sebagaian besar perpustakaan dunia Islam sudah hilang, dihancurkan oleh penakluk-penakluknya: tentara Turki, tentara Mongol, dan tentara Salib. Kaisar Habsburg, Charles V ketika menaklukkan Tunis memberi perintah semua buku dalam Bahasa Arab dibakar. Pada tahun 1492, setelah orang-orang Moor disingkirkan dari Spanyol, di seluruh Spanyol hampir tidak dapat menemukan buku yang berbahasa Arab.

Pembakaran buku terus terjadi sepanjang sejarah, dari Dinasti Qin di Cina hingga Hernan Cortes di Tenochtitlan, namun cara baru dan eksploitasi kerusakannya makin disempurnakan dan diujicoba di abad ke -20. Selain pembakaran buku dan penghancuran perpustakaa oleh Nazi, daftar kejadian begini di abad ke-20 bisa sangat panjang. Ketika Tentara Pembebasan Rakyat sampai di Tibet, ribuan buku-buku tua yang sangat bernilai dilempar ke dalam api, dan lebih sulit menceritakan kembali nasib buku-buku selama Revolusi Kebudayaan. Pada tahun 1981, nasionalis Sinhala menghanguskan ribuan manuskrip, buku daun lontar, dan buku-buku cetakan yang berada di dalam perpustakaan orang Tamil: Jaffna. Taliban beberapa tahun sebelum meledakkan patung Buddha di lembah Bamiyan, membakar dan menghancurkan lebih dari lima puluh ribu buku di Pusat Kebudayaan Hakim Naseer Khosrow Balkhi

Penyair Bosnia, Goran Simic menulis sebuah puisi untuk mengenang penghancuran Perpustakaan Nasional dan Universitas Bosnia oleh nasionalis Serbia di malam 25 Agustus, 1992:

huruf-huruf berkelana di jalanan

berbaur dengan orang yang berlalu-lalang dan roh-roh tentara mati

Ini bukan satu-satunya perpustakaan yang diserang nasionalis Serbia, tiga bulan sebelumnya mereka juga menghancurkan Institut Oriental Bosnia, dan ratusan perpustakaan, museum di seluruh Krotia, Bosnia, Herzegovina, dan yang terbaru Kosovo.

Di dalam sebuah buku, saya pernah membaca Andras Reidlmayer, seorang pustakawan dan aktivis Bosnia menceritakan cara lain membakar buku dari seorang temannya yang selamat dalam pengepungan Sarajevo. Pada musim dingin, temannya bercerita bahwa dia dan isterinya kehabisan kayu bakar, maka mereka mulai membakar buku untuk memasak dan menghangatkan tubuh.

” Ini memaksa seseorang harus berpikir kritis, ” temannya berkata, ” seseorang harus bersikap patriot. pertama, harus dipilih buku-buku teks perguruan tinggi, buku-buku ini mungkin sudah tiga puluh tahun tidak kau baca, selanjutnya baru memilih buku-buku duplikat. Namun, terakhir kau tetap harus membuat pilihan berat. Siapa yang akan kau bakar hari ini: Dostoyevsky atau Proust? ” Andras kemudian menceritakan bahwa setelah perang usai temannya masih menyisakan banyak buku, temannya memberitahu dia bahwa kadang-kadang dengan melihat buku-buku itu dia lantas memilih lapar

*

Sebuah meja bersama bangku hangus, menjadi arang. Ada sebuah buku putih di atas meja. Saya melihat beberapa saat gambar ini lagi, seperti dapat merasakan api yang melahap kayu dan suara kertas tersulut api. Saya teringat sebuah pertunjukan Yosuke Yamashita yang difilemkan dengan judul ‘ Burning Piano ‘ di tahun 2008 di sebuah pantai di Ishikawa. Ini mungkin dapat disebut sebagai pertunjukkan ulang, karena pada tahun 1973, ‘ Piano Burning ‘ dengan pemainnya yang sama sudah pernah difilemkan master desain grafis Jepang Kiyoshi Awazu

Beberapa saat setelah Yosuke Yamashita yang memakai helmet pemadam kebakaran mulai menekan tuts piano, asap sudah mengepul di badan piano, kemudian terdengar suara-suara yang terbakar berbaur di dalam dentingan piano. Api dengan cepat menjalar ke seluruh badan piano, bersamaan dengan itu suara piano sudah tidak terdengar jelas lagi, yang tersisa hanya semacam suara letupan kecil ketika kayu bertemu api, bersama satu dua suara ketukan piano yang terhempas, Terakhir piano samasekali tidak mengeluarkan suara lagi, dan yang terdengar hanya suara kayu terbakar dengan sedikit latar suara ombak yang sampai di bibir pantai.

Mengkremasi sebuah piano mungkin bisa berarti mengkremasi suara, jadi apakah membakar buku dapat dianggap mengkremasi tulisan? Saya tidak tahu, dan saya juga tidak berani menjawab. Yang saya tahu adalah sewaktu kecil, orang-orang tua di kampung kami setiap kali melihat kertas yang ada tulisan di jalanan pasti akan dipungutnya, tidak peduli sekalipun hanya sobekan koran bekas, kemudian dibawa ke kelenteng untuk dibakar di sebuah tempat pembakaran tulisan yang biasanya berada di samping tempat pembakaran kertas sembahyang. Walaupun kebanyakan mereka buta huruf, namun setiap kali saya bertanya mengapa kertas-kertas itu harus dibakar, mereka akan mengatakan dengan hati-hati bahwa itu bukan sekedar kertas, tetapi adalah kertas yang ada tulisan di dalamnya, ada pikiran di dalamnya, bagaimana bisa dibiarkan tergeletak di jalan dan diinjak. Begitulah sebuah tulisan dijaga dan dihormati dari generasi ke generasi.

Cinta Pria kepada Wanita

Gerundelan Rere ‘Loreinetta

Bagi seorang wanita (yang lebih emosional), sebuah kata “Aku Cinta Padamu” dari mulut seorang lelaki tidak cukup membuktikan sebuah cinta. Karena itu wanita sering bertanya – tanya dalam hatinya tentang cinta pria kepadanya. Benarkah dia mencintaiku, mungkinkah hubungan ini bertahan lama, apakah cinta ini bisa berlanjut ke tingkat selanjutnya?

Semua perasaan dan pikiran yang bergejolak dalam diri anda tidak salah. Ini normal karena cara anda mencintai berbeda dengan cara pria mencintai. Anda mencintai dengan menyerahkan masa depan anda kepadanya!

Simak tulisan di bawah ini yang akan membantu anda menemukan tanda – tanda seorang pria benar – benar mencintai anda, paling tidak 3 hal ini menegaskan bahwa hubungan anda berada di jalur yang benar, berada dalam sebuah cinta sejati!

3 TANDA CINTA PRIA

Satu hal yang harus anda ketahui dari seorang pria adalah:
Pria itu simpel.
Pria itu sederhana, tidak berbelit-belit, to-the-point, dan praktis dalam hal apapun.

Demikian pula dengan cara pria mencintai seorang wanita.
kata MARS : Ketika kami memutuskan untuk mencintai anda, paling tidak ada tiga hal yang kami lakukan :

Pengakuan
Memenuhi kebutuhan anda
Melindungi anda

TANDA 1 : PENGAKUAN

Sebuah ucapan “Aku cinta padamu” dari mulut seorang pria berarti banyak bagi dirinya. Sayangnya hal ini tidak dipahami dengan benar oleh para wanita. Alasannya sederhana, karena Pria dari Mars dan Wanita dari Venus.

Mereka berbeda asal, berbeda budaya, dan berbeda kodrat!
Pria tidak banyak berbicara, sementara wanita hidup untuk berbicara.
Pria tidak suka ditolong maupun menolong tanpa diminta. Wanita senang menolong dan memiliki insting untuk mengetahui sesuatu yang salah.
Wanita bangga karena bisa membantu sementara pria merasa direndahkan jika dibantu!

Pengakuan Cinta Pria

Sebuah pengakuan cinta dari pria berarti banyak bagi dirinya. Dia menyatakan komitmennya untuk mencintai anda ! Masalahnya ada pada diri anda, para wanita!
Ingatlah bahwa pria adalah makhluk yang simple, sederhana, praktis, dan to-the-point!

Pengakuan aku cinta padamu tidak bisa kami ucapakan setiap minggu, setiap hari, ataupun setiap jam ! Jika itu yang anda inginkan, anda meminta sesuatu yang mustahil ! Mengapa meminta sesuatu yang sudah jelas kami proklamirkan ke anda?

Ketika kami memutuskan untuk mencinta anda, kami akan mengatakan kepada setiap orang yang kami temui bahwa anda adalah pacar kami, kekasih kami, calon istri kami, dan milik kami. Hal ini untuk mencegah pria – pria lain mendekati anda ! Dengan senang hati kami akan menggandeng tangan anda dan mengenalkan anda kepada teman-teman kami. Supaya mereka tahu dan tidak bermain api dengan menggoda anda!

Kita semua tahu bahwa laki-laki itu buaya. Anda tahu itu, apalagi kami para laki-laki buaya Mengakui anda adalah kekasih kami adalah salah satu cara untuk memagari anda dari binatang buas penakluk wanita.

Jadi, tanda pertama cinta seorang pria adalah sebuah pengakuan!

TANDA 2 : MEMENUHI KEBUTUHAN ANDA

Seorang pria yang mencintai anda akan membawa uang ke rumah untuk memastikan anda dan anak-anak terpenuhi semua kebutuhannya. Itulah peran kami, tujuan kami.
Selama berabad – abad masyarakat mengajarkan kepada kami kaum pria bahwa tugas utama kami adalah memastikan keluarga kami terurus, apakah kami masih hidup atau sudah mati, kami akan mengurus orang-orang yang kami cintai tanpa pamrih.

Itulah tugas terpenting menjadi laki-laki, yaitu mencukupi kelurganya.

Pria yang benar – benar mencintai anda tidak akan pernah membuat anda meminta-minta uang untuk keperluan rumah-tangga. Dia akan memastikan anda mendapatkan apa yang anda butuhkan dan inginkan, tanpa pamrih. Dia akan membawa pulang setiap rupiah yang dimilikinya. Dia tidak akan menghambur-hamburkan uangnya lalu pulang dan mengatakan, “Ini seratus ribu – hanya ini yang aku dapatkan bulan ini.”

Dia akan langsung pulang membawa semua gajinya, dan jika masih ada yang belum terbayar setelah semua kebutuhan anda terpenuhi, dia akan mengurus kekurangan itu. Ini urusan laki-laki sayang. Begitulah cara kami bekerja.

Kebutuhan adalah semua hal yang benar-benar anda butuhkan untuk bisa hidup.
Kebutuhan dan keinginan berbeda, seperti bumi dan langit.

Kebutuhan adalah hal – hal yang mendasar, yang penting, dan yang dibutuhkan untuk bisa hidup layak. Keinginan adalah hal-hal diatas kebutuhan, untuk memuaskan diri sendiri, dan bisa ditunda.
Anda harus tahu hal ini dan anda harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Masalah akan timbul jika anda memaksakan keinginan anda menjadi kebutuhan. Jangan menipu diri anda sendiri bahwa pria itu bodoh!
Kami tahu perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Kami akan berusaha untuk memenuhi keinginan anda, tetapi prioritas utama kami adalah kebutuhan anda!

Tanda kedua cinta pria kepada anda adalah memenuhi kebutuhan anda!

Jika mobil anda rusak, dan kami tidak mampu membayar tukang, kami akan meminta tolong kepada teman-teman kami untuk membetulkan mobil anda dan mengantar anda ke tempat yang aman dan nyaman. Jika anda sakit, kami akan membelikan obat untuk anda, memastikan semangkuk bubur hangat untuk anda makan, dan menelepon beberapa kali untuk menanyakan keadaan anda. Jika adik anda akan pergi dan membutuhkan transportasi, kami akan dengan senang hati mengantarkannya. Jika orang tua anda ingin membeli buah-buahan di hokky, kami akan siap berangkat.
Kapanpun kami bisa!

TANDA 3 : MELINDUNGI ANDA

Jika seorang lelaki sungguh-sungguh mencintai anda, orang yang berniat menyerang anda melalui kata-kata, perbuatan, saran, atau bahkan hanya pemikiran, akan dihancurkan. Pria anda akan menghancurkan semua yang menghalangi jalannya untuk memastikan siapapun yang tidak menghormati anda akan menanggung akibatnya.

Memang itulah yang setiap laki-laki bersedia lakukan untuk orang-orang yang dia akui dan nafkahi. Jika seorang pria mengatakan bahwa dia peduli terhadap anda, anda adalah miliknya yang berharga dan dia bersedia melakukan apa saja untuk melindungi miliknya yang berharga itu. Dia akan menjadi pelindung dan pemimpin bagi keluarganya karena dia paham benar bahwa laki-laki sejati adalah seorang pelindung. Tak ada laki-laki sejati yang tak melindungi apa yang dimilikinya. Ini tentang sebuah kehormatan!

Melindungi bukan hanya berarti menggunakan kekerasan fisik terhadap seseorang. Lelaki yang sungguh-sungguh mencintai dan peduli pada anda dapat melindungi dengan cara lain, apakah itu dengan cara memberi saran, atau mengambil alih tugas yang menurutnya berbahaya bagi anda.

Misalnya, jika di luar gelap, dia mungkin tidak membiarkan anda yang memarkir mobil di depan rumah atau mengajak jalan-jalan anjing sendirian karena khawatir akan keselamatan anda; dalam kasus ini, dialah yang akan memindahkan mobil dan mengajak jalan-jalan anjing, sehingga anda tetap aman di dalam rumah meskipun dia baru pulang dari kerja lembur.

Apabila anda berjalan di dekat seorang pria yang agak mencurigakan, pria yang mencintai anda akan memposisikan dirinya di antara anda dan orang itu saat berjalan, sehingga jika dia mencoba berbuat macam-macam pada anda, dia harus melewati lelaki anda terlebih dulu sebelum menyentuh anda.

KESIMPULAN

Anda, para wanita harus berhenti meraba-raba definisi tentang cinta seorang laki-laki dan mulai memahami bahwa pria mencintai dengan cara yang berbeda. Tanda – tanda pria mencintai anda bisa disingkat menjadi 3P yaitu Pengakuan, pemenuhan kebutuhan, dan perlindungan.

Seorang pria mungkin tidak bisa menemani anda berbelanja gaun untuk menghadiri pesta, tetapi pria sejati akan menemani anda menghadiri pesta itu, menggandeng tangan anda, dan dengan bangga memperkenalkan anda sebagai kekasihnya kepada semua yang hadir (pengakuan).

Dia mungkin tidak bisa ngemong dan duduk di sisi ranjang sambil memijati kaki anda saat tergolek sakit, tetapi laki-laki yang sungguh-sungguh mencintai anda akan memastikan obat tersedia, bubur hangat waktu makan, dan memastikan ada orang lain yang membantu anda sampai anda benar-benar sehat kembali (pemenuh kebutuhan).

Dan mungkin saja dia tidak dengan sukarela bersedia mengganti pokok, mencuci piring, dan memijat badan anda setelah mandi ari panas, namun lelaki sejati yang sungguh-sungguh mencintai anda tidak segan-segan menembus gunung dan menyeberangi lautan jika ada orang lain yang menyakiti anda (perlindungan).
Anda dapat mempercayai semua itu.

Jika anda telah menemukan laki-laki yang bersedia melakukan semua hal itu untuk anda, percayalah, dia mencintai anda luar dalam!

BACA YA WAHAI WANITA…
Anda pasti akan tertawa ngakak membacanya, karena begitulah anda!!

*ngakaaak.:-)

Referensi:
Men are from Mars, Women are from Venus

Karena Setiap Kata Punya Makna