Arsip Kategori: Kolom John Kuan

Mendengar Sehamparan Suara Katak – Mo Yan

Kolom John Kuan
 

Ini adalah kata pengantar novel Katak karya Mo Yan, saya rasa tidak mungkin menerjemah sebuah novel di catatan begini, bagi yang penasaran atau terpancing bisa mencari novelnya.

katak novel mo yanJudulnya diambil dari sebaris puisi Xin Qiji (1140 -1207) Bulan Sungai Barat. Malam Berjalan di Jalur Pasir Kuning. Sebaris puisi Song yang sudah saya kenal sejak kecil. Kenal dan tidak akan terlupakan, karena di dalamnya ada [sehamparan suara katak] yang sangat erat berhubungan dengan kenangan masa kecilku. Bagi yang pernah membaca novel saya, mungkin ingat saya pernah berulang kali mendeskripsikan bunyi katak, tetapi belum tentu tahu saya juga sangat takut pada katak. Orang ada alasan timbul rasa takut terhadap ular berbisa atau binatang buas, tetapi terhadap katak yang berguna buat manusia dan dapat sesuka hati ditangkap seperti tidak ada alasan takut. Namun saya memang luar biasa takut katak. Begitu teringat mata mereka yang melotot dan kulitnya yang basah, saya langsung menggigil. Kenapa takut? Saya tidak tahu. Ini mungkin merupakan salah satu sebab saya mengambil [katak] sebagai judul novel ini.
Persis seperti yang digambarkan di dalam novel ini, saya memang ada seorang bibi, seorang dokter kandungan yang telah lama berpraktek. Ada ribuan bayi di kampung kami, Dusun Timur Laut Gaomi yang atas bantuan bibi sampai di dunia. Tentu, juga tidak sedikit bayi, sebelum melihat cahaya, telah gugur ditangannya. Bibi yang di dalam novel dengan bibi di dalam kehidupan nyata, tentu ada perbedaan yang sangat besar. Bibi di dalam kehidupan nyata, hanya merupakan satu karakter awal dalam proses kreatif saya. Dia sekarang tinggal di kampung kami, dikelilingi anak dan cucu, melewati kehidupan yang damai dan tenang. Musim semi tahun 2002, saya pernah menemani penulis Jepang, Kenzaburo Oe pergi mengunjungi dia. Waktu itu saya berkata kepada Kenzaburo Oe, saya ingin menggunakan karakter bibi menulis sebuah novel, Kenzaburo Oe sangat tertarik, bahkan berulang kali bertanya mengenai perkembangan penulisan novel ini.
Musim panas tahun 2002, saya mulai menulis novel ini, waktu itu judulnya adalah [Pil Kecebong], ilham judul ini saya dapat dari sebaris berita di selembar surat kabar tahun 1958: Lelaki dan perempuan, jika sebelum berhubungan badan menelan mentah-mentah 14 ekor kecebong maka bisa mencegah hamil. Orang tidak perlu terlalu mempunyai pengetahuan umum juga bisa membaca absurditas di dalam berita ini, namun pada masa itu, cara ini ternyata bisa sangat populer. Situasi begini sangat mirip dengan [suntik darah ayam], [minum jamur teh merah] yang sangat populer di seluruh Cina beberapa puluh tahun kemudian, saya menyusuri jalan pikiran begini menulis sampai lima belas ribu kata. Namun cara tulis ini tanpa sengaja mengulangi lagi jalan lama yang absurd dan hiperbol itu, apalagi bentuk yang digunakan (dengan seorang penulis naskah drama sedang menonton naskahnya yang dimainkan di atas panggung dan segala kenangan ketika menulis naskah tersebut sebagai plot) juga kelihatan ada kesengajaan membuat penekanan yang berlebihan, oleh sebab itu, naskah novel ini sementara dibekukan, mulai merangkai pikiran dan menulis [Aku Capek Hidup Mati]. Hingga tahun 2007, kembali menghidupkan tungku, menulis buku ini, bentuknya diubah menjadi surat-menyurat, dan judulnya disederhanakan menjadi [Katak]. Tentu, saya tidak akan puas dengan narasi datar dan lurus menceritakan kisah ini, oleh sebab itu, bagian kelima buku ini menjadi sebuah naskah drama yang sedikit bersepuh warna magis yang bisa saling melengkapi dengan novel ini, semoga pembaca dapat merasakan kesungguhan saya dari dua bentuk penulisan yang berbeda ini.
Keluarga berencana di Cina Daratan, selama tiga puluh tahun pelaksanaannya memang nyata telah memperlambat pertumbuhan penduduk, namun di dalam proses melaksanakan [kebijakan dasar negara] ini, juga memang telah terjadi banyak kasus yang memerahkan mata dan mengerutkan hati, terhadap ini, media Barat banyak melakukan penilaian, namun seandainya ingin secara mendalam investigasi keadaan yang sesungguhnya, maka akan sangat sulit mempunyai sebuah kesimpulan yang tegas. Masalah Cina sangat rumit, masalah keluarga berencana Cina lebih rumit, hal ini menyentuh politik, ekonomi, hubungan manusia, moral dan sebagainya, walaupun tidak berani mengatakan kalau sudah mengerti masalah keluarga berencana di Cina berarti sudah mengerti Cina, namun jika tidak bisa mengerti keluarga berencana di Cina, maka tidak usah bermulut besar mengerti Cina.
Beberapa tahun ini, persoalan mengenai kebijakan satu anak dilanjutkan atau tidak, telah mengundang perdebatan sengit. Banyak tulisan-tulisan dalam rangkaian perdebatan ini adalah dari tokoh-tokoh masyarakat, dan tulisan-tulisan ini umumnya juga dimuat di media-media utama. Apalagi di internet, perdebatan persoalan ini telah menutup separuh langit. Dari ini bisa kelihatan, introspeksi dan penelitian terhadap keluarga berencana, telah menjadi sebuah topik pembicaraan paling panas. Dan dengan makin dalamnya [Kebijakan Perubahan dan Keterbukaan], dengan arah perubahan ekonomi komunitas menuju ekonomi individu, dengan berpuluh juta petani mendapat kebebasan berpindah dan mencari kerja, keluarga berencana sesungguhnya hanya tinggal nama saja. Petani dapat berpindah melahirkan, curi-curi melahirkan, dan orang kaya dan pejabat korup rela didenda atau cari isteri muda, dengan terbuka, sesuka hati melampaui keluarga berencana, memuaskan harapan mereka meneruskan garis keturunan atau mewarisi harta keluarga. Mungkin cuma tinggal pegawai-pegawai negeri yang bergaji kecil saja yang masih mengikuti kebijakan satu anak ini, pertama adalah mereka tidak berani bermain-main dengan periuk nasinya, kedua adalah tidak dapat menanggung biaya pendidikan yang mendaki setinggi matahari tengah hari, sekalipun diberi kesempatan melahirkan anak kedua, mereka juga tidak berani.
[katak] saya ini, melalui penggambaran hidup bibi, telah mempertontonkan sejarah beberapa puluh tahun keluarga berencana di pedesaan, juga tidak menghindari menyingkap kekacauan masalah kelahiran di Cina masa kini. Langsung menghadapi persoalan masyarakat yang sangat sensitif adalah satu keteguhan saya sejak mulai menulis, sebab roh sastra masih harus menaruh perhatian kepada manusia, menaruh perhatian kepada penderitaan, kepada nasib manusia. Dan persoalan sensitif, selalu bisa paling konsentrasi menunjukkan watak manusia. Tentu, menulis persoalan sensitif perlu keberanian, perlu teknik, namun yang lebih diperlukan adalah sebiji hati tulus penulis.
Dalam dunia sastra Cina sekarang, seandainya kau tidak menyentuh persoalan sensitif masyarakat, maka akan ada orang mencerca kau [bersandar dan berteduh ke arah kuasa], [dipelihara pemerintah], seandainya kau menulis masalah sensitif, kembali orang-orang ini akan memaki kau [berkedip mata dengan Dunia Barat]. Ada satu kurun waktu, saya memang sangat hati-hati, takut mendapat sabetan cambuk dari pendekar-pendekar kita yang selamanya benar ini, namun, kemudian saya pelan-pelan mengerti, sekalipun saya tidak menulis satu kata pun, mereka tetap tidak akan membiarkan saya leluasa, sebab sastra saya telah menyentuh luka mereka, karena itu saya menjadi musuh mereka.
Hempaskan orang-orang yang memandang saya sebagai musuh di belakang, dengan langkah lebar dan cepat maju ke depan, melangkah di jalan sendiri. Di bawah panduan hati nurani, memilih bahan-bahan yang dapat membangkitkan daya kreatif saya; di bawah panduan estetika novelku, menentukan bentuk novel sendiri; di bawah panduan semacam kesadaran otokritik yang keras, sewaktu mempertontonkan kedalaman hati tokoh-tokoh cerita juga menguak isi hati saya kepada pembaca.
Setelah selesai menulis buku ini, ada delapan kata yang berat menekan di hati saya, itu adalah: Orang lain ada dosa, saya juga ada dosa.

Korupsi dan Penumpulan Akal Sehat

Gerundelan John Kuan

Selama bertahun-tahun membaca catatan-catatan sejarah Cina, ada dua peristiwa yang tidak bisa hilang dari pikiran. Mungkin disebabkan kedua hal ini sangat sulit dijelaskan, berhubungan dengan korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan kehilangan akal sehat. Tetapi sesungguhnya siapa yang benar-benar bisa menjelaskan ketamakan manusia:

ilustrasi diunduh dari 4.bp.blogspot.com

Di ujung musim semi tahun 777, salah satu perdana menteri terkorup dari Dinasti Tang bernama Yuan Zai ( 元载 ) terjerembab dari puncak kekuasaannya. Dia dihukum mati, demikian juga isterinya, dua orang anaknya, sanak keluarga dekat dan jauh, juga orang-orang yang pernah menggelayut di dahan gemuknya mengisap kuasa dan korupsi. Harta bendanya disita, rumah-rumah dan kantor-kantornya digeledah, dari semua barang-barang langka dan mewah yang disita, ini paling mengejutkan: Tukang sita menemukan 800 Dan merica yang ditimbun di salah satu kantornya ( semacam mahkamah agung ). Ini adalah salah satu bukti sejarah korupsi yang paling aneh, menggelikan dan absurd. Sekarang mari kita hitung-hitung 800 Dan merica dengan ukuran timbangan masa kini. 1 Dan sama beratnya dengan 79.320 gram, 800 Dan sama dengan 63.456.000 gram, berarti sekitar 63 ton. Jumlah ini mungkin cukup untuk konsumsi seluruh penduduk Chang’an selama satu tahun. Saya tidak habis pikir kenapa Yuan Zai mau menumpuk begitu banyak merica, menyimpan 63 ton merica sebagai hasil korupsi tentu sangat merepotkan. Tetapi dari catatan sejarah kita tahu Yuan Zai sangat cerdas, dia dari keluarga miskin, dia memanjat ke puncak birokrasi dari tingkat paling rendah. Tetapi kenapa dia bisa berakhir demikian. Setelah memendam bertahun-tahun tanda tanya ini, akhirnya saya coba membuat sebuah kesimpulan yang sangat berani: Korupsi ternyata bisa menumpulkan akal, bisa membuat orang jadi bodoh; dia pasti merasa dirinya paling cerdas sehingga merasa bisa membohongi seluruh dunia.

Satu lagi adalah perdana menteri dari Dinasti Ming bernama Yan Song ( 严嵩 ), ceritanya kurang lebih sama, hanya saja tidak demikian tragis seperti Yuan Zai, tetapi bukti korupsinya sama anehnya, sama menggelikan, sama absurdnya. Setelah dipecat dari jabatan dan dijebloskan ke penjara, dari rumahnya disita setumpuk sumpit, jumlahnya sangat mencenggangkan, ini saya beri daftar isinya:
sumpit emas 2 pasang, sumpit gading berhias ukiran emas 1.110 pasang, sumpit bertahta permata 10 pasang, sumpit gading 2.691 pasang, sumpit bambu bintik 5.931 pasang, sumpit gading berhias ukiran perak 1.009 pasang, sumpit kayu eboni 6.896 pasang, sumpit kayu merah 9.510 pasang, total 27.159 pasang, kalau tidak salah hitung. Yan Song adalah kolektor nomor satu dalam 3.000 tahun sejarah sumpit yang tercatat di dalam lembaran sejarah. Apakah korupsi ada hubungannya dengan nafsu makan, saya tidak tahu, agaknya perlu di dalami. Tetapi korupsi berhubungan dengan penumpulan akal, saya kira bisa diterima.

Hina Mulia Tubuh Ini

Gerundelan John Kuan

1.

Dari sebuah situs Kebudayaan Hongshan Zaman Neolitikum di Provinsi Liaoning, Cina Timur Laut, digali keluar sebuah patung perempuan, sudah cacat kurang berbentuk, tubuhnya hanya tinggal sekitar 5 cm, namun bisa jelas kelihatan adalah seorang perempuan hamil. Patung ini dengan Ibu Bumi dari situs-situs Zaman Neolitikum Mesopotamia maupun Eropa termasuk satu kategori. Dengan tubuh perempuan sedang mengandung sebagai simbol permohonan kesuburan, reproduksi dan berkembang biak. Di Zaman Neolitikum, periode awal pertanian dan pembuatan tembikar, citra perempuan dengan perut dan pinggul besar, hampir merupakan awal mula sejarah seni rupa di berbagai tempat di dunia.

Seni rupa Mesopotamia, India dan Mesir, setelah melewati tahap Ibu Bumi, dengan cepat transformasi menjadi wujud lelaki penguasa, kira-kira bersamaan waktu dengan berdirinya kekaisaran. Konsep pemerintah dengan sistem klan, membentuk struktur masyarakat patriarkis. Penguasa, pemimpin adat, atau pemimpin suku berjenis kelamin lelaki semuanya pasti dilengkapi dengan sifat ‘ kedewaan ‘, dan patung-patung dalam bentuk firaun, raja, ataupun dewa juga terus-menerus didirikan.

Tidak seperti patung Ibu Bumi yang kebanyakan dibentuk dari tanah liat, berukuran kecil, sederhana dan lembut, patung-patung lelaki penguasa ‘ kedewaan ‘ umumnya dibentuk dari batu, sangat menekankan terbuat dari bahan yang keras dan tahan lama; berukuran sangat besar, sehingga patung menampakkan suatu sifat agung, tinggi tak tergapai. Terutama di Mesopotamia dan Mesir, patung-patung lelaki yang berukuran puluhan meter adalah sangat umum, sehingga membuat struktur sosial politik patriarkis memiliki lambang yang tak tergoyahkan.

Tetapi Cina agak berbeda, sebab jaman purba-nya tetap tidak ditemukan patung yang berukuran besar. Sebagian besar patung manusia dari jaman Pra-Qin, baik dibentuk dari batu giok, tanah liat, perunggu ataupun kayu menampakkan suatu kondisi eksistensi yang lemah dan rendah. Keberadaan manusia seperti tanah di bumi, tampak begitu lemah dan rendah; datang dari debu bumi, kembali bersama debu bumi.

Sekalipun kecil dan lemah, patung-patung manusia tetap sangat jarang ditemukan di situs-situs purbakala Cina, yang digali keluar umumnya adalah perkakas, ini menunjukkan suatu karakter yang realistis di dalam kehidupan yang prihatin. Dari sedikit patung manusia yang ditemukan, kadang-kadang hanya merupakan bagian dari perkakas, misalnya menempelkan sebuah kepala manusia yang dibentuk dengan kasar di atas kendi atau bejana. Manusia berubah menjadi bagian dari perkakas, tertegun melihat diri sendiri, tertegun melihat perkakas, seperti tidak bisa dengan jelas melihat perbedaan antara dirinya dan perkakas.

Hampir semua kebudayaan kuno pernah membangun wibawa, harga diri, kemegahan, kekekalan, kemuliaan, dan berbagai estetika tubuh yang membuat iri di antara patung-patung raksasa mereka. Kecuali Cina, sampai hari ini masih belum pernah ditemukan patung manusia yang berukuran raksasa dan gagah. Kekurangan patung manusia di dalam seni rupa Cina Kuno mungkin bisa dijadikan semacam pelajaran penting kebudayaan buat direnungkan.

Di dalam kitab-kitab filsafat Pra-Qin sangat sedikit ditemukan uraian tentang tubuh manusia. Pembahasan tentang orang di dalam kitab-kitab penting ajaran Ru

( Konghucuisme ) langsung diletakkan di dalam kerangka etika. Orang, sangat kecil kemungkinan ditelaah secara mandiri, Xiao Jing ( Kitab Bakti; salah satu kitab utama ajaran Ru ) berkata:

     Tubuh adalah pemberian orangtua, tidak boleh dirusak dilukai

Dengan uraian begini, seandainya keberadaan tubuh memiliki makna tertentu, itu juga atas pemberian orangtua, dan tetap adalah uraian yang bersumber dari etika. Tubuh seperti tidak mungkin dibahas secara mandiri. Menekankan etika, berarti menekanan keberadaan komunitas, dan menyepelekan keberadaan pribadi.

Komunitas biasanya akan diwakili dengan simbol komunitas, oleh sebab itu paras dan tubuh perorangan yang khas akan menjadi sangat sulit ditonjolkan. Dimulai dari batu giok, tembikar, terus sampai alat-alat perunggu banyak sekali ditemukan bentuk-bentuk hewan, terutama motif-motif naga, ular, dan burung feniks. Lembu, kambing, harimau, ikan, gajah, badak juga tidak sedikit, hanya saja bentuk [ orang ] yang hampir tidak ada. Motif-motif hewan yang ada di tembikar ataupun di alat-alat perunggu ini kemungkinan adalah semacam totem klan.

Totem-totem yang sangat menawan ini, dengan dua mata bercahaya, seolah adalah tatapan seluruh leluhur yang telah tiada pada setiap gerak-gerik anak-cucunya. Totem-totem bukan ditampilkan dengan paras dan bentuk tubuh pribadi tertentu, tetapi semacam simbol suci klan, kemudian mengental menjadi ingatan bersama sebuah komunitas, kurang lebih sama dengan bendera dan lambang negara masa kini, tetapi lebih memiliki semacam persembahan agama yang khidmat dan misterius. Begitulah, perorangan hilang di dalam totem-totem besar ini. Perorangan kehilangan arti keberadaan yang mandiri di dalam kebesaran kelompok.

Dipandang dari sudut estetika, Cina seolah sangat sulit membuat ‘ perorangan ‘ secara mandiri diapresiasi. Di dalam struktur masyarakat hierarkis, setiap pribadi mesti masuk ke dalam susunan tingkatan masyarakat. Keberadaan ‘ perorangan ‘ baru memberi makna ketika sudah berhubungan erat secara berurut dengan keluarga, komunitas, dan negara. Wajah ‘ perorangan ‘ adalah sangat kabur, perorangan juga tidak mungkin menonjolkan bentuk dan gaya yang mandiri. Mengorbankan begitu banyak kekhasan ‘ perorangan ‘, mungkin demi mengukuhkan simbol keagungan kelompok.

Kadang-kadang melihat patung-patung tanah liat dari jaman purbakala dengan raut wajah dan lekuk tubuh yang begitu samar, seakan tidak peduli terhadap keberadaannya, seperti serangga, seperti rumput, dengan rendah dan lemah bertahan hidup, dari dalam debu tanah kuning merangkak menggeliat keluar, juga tidak jauh berbeda dengan debu tanah kuning itu sendiri. Adalah semacam debu tanah juga, dengan bentuk yang tidak kokoh, setelah ditiup angin akan berubah jadi debu selangit, ketika disiram hujan becek menjadi lumpur.

Jika punya kesempatan berdiri di sisi lobang galian situs-situs purbakala Delta Sungai Kuning, melihat jejak-jejak yang bertahan selama beribu tahun, melihat sebuah boneka tanah liat yang serampangan dibentuk, setelah bosan dijadikan mainan, akan serampangan lagi dibuang. Begitukah sebuah peninggalan? Seketika bentuk-bentuk manusia yang merangkak dan menggeliat di dalam lobang tanah, bukan lagi boneka ribuan tahun yang lalu, namun adalah petani masa kini, begitu samar, selamanya demikian bertahan hidup, seperti tidak mempunyai pendapat apapun terhadap keberadaannya, tapi juga seperti suatu cara bertahan hidup yang paling tegar. Betul, adalah cara bertahan hidup yang paling tegar.

Kondisi hidup begini telah digambarkan Lu Xun di dalam ceritanya [ Kisah Nyata Ah Q ] yang menggundang iba dan tawa, tetapi dengan begitu keras kepala tetap bertahan hidup. Citra Ah Q seperti tidak cocok dipamerkan dengan pahatan batu ala Mesir, juga sulit dimuliakan dengan menggunakan bentuk patung dewa Yunani. Ah Q bertahan hidup di dalam suatu keadaan yang hina dan lemah, bahkan sedemikian menggelikan hingga membuat orang berpikir: Apakah cara bertahan hidup begini masih berarti? Dan boneka-boneka di dalam tanah kuning yang hanya samar-samar menampakkan seraut wajah manusia dengan bentuk yang demikian kasar, juga membuat orang curiga: Apakah yang begini juga boleh disebut [ manusia ]?

Zhuang Zi di dalam bab [ Sang Mahaguru ] ada deskripsi begini:  

Hidup diumpamakan sebagai kutil dan tonjolan daging yang melekat, dan mati adalah berpisahnya kutil dan berakhirnya isi tonjolan daging.

( 彼以生為附贅縣疣,以死為決病潰癰. )

[ Hidup ] dianggap sebagai sesuatu yang melekat dan menjadi beban tubuh, sebagai kutil, sebagai tonjolan daging, sebagai tumor yang merepotkan, dan mati, justru terbebas dari kutil, tumor yang melekat dan menyiksa. Mungkin sikap [ hidup ] yang tersimpan di dalam kitab-kitab Pra-Qin bisa dibaca beriringan dengan boneka-boneka buruk dan lemah di dalam situs-situs purbakala.

Ada sebuah massa maha besar, aku menumpang dalam wujud, aku bekerja keras dalam hidup, aku menyepi dalam tua, aku istirahat dalam kematian; apa yang membuat hidupku baik, juga akan membuat matiku baik.

(  夫大塊載我以形,勞我以生,佚我以老,息我以死。故善吾生者,乃所以善吾死也。)

Sepenggal sikap di dalam filsafat Zhuang Zi ini seolah sudah bukan lagi pandangan seorang filsuf, dan dalam kenyataan, ini mungkin sudah merupakan sikap hidup sebagian besar orang Cina.

Perhatian orang Mesir yang begitu terpusat dan teguh terhadap kematian, bagi orang Cina adalah sesuatu yang sangat sulit dimengerti. [ aku menyepi dalam tua, aku istirahat dalam kematian ] adalah dengan [ menyepi ] dan [ istirahat ] memandang kematian. Kematian bukan sedemikian tragis dan heroik, dan hidup juga bukan sedemikian riuh rendah dan menggemparkan. Hidup mati di dalam kehidupan masyarakat Cina, lebih mirip sesuatu yang alamiah, lebih mirip layu dan berkembangnya tumbuhan, di musim semi pecah kecambah, di musim gugur dan musim salju layu dan luruh, bukan begitu mengejutkan langit menggetarkan bumi.

[ Membuat hidupku baik ] menjadi semacam keteguhan. Seperti yang dikatakan Kongfuzi [ Belum tahu hidup, bagaimana tahu mati ]. Penekanan terhadap [ hidup ] mengisyaratkan bahwa segala macam bentuk [ hidup ] jauh lebih berarti daripada [ mati ]. Kemudian berubah menjadi semacam ungkapan yang beredar luas di dalam masyarakat [ Hidup hina daripada mati terhormat ]. Sebuah ungkapan kasar yang berasal dari jaman yang jauh dan kedengarannya hina dan menggelikan, tetapi jika digunakan untuk melihat boneka-boneka yang bertahan hidup di dalam kondisi lemah dan tidak perlu keteguhan di dalam lapisan tanah kuning situs purbakala, mungkin akan tiba-tiba sadar terhadap kepedihan yang terkandung di dalam [ hidup hina ] itu. Seakan bertahan di dalam keadaan paling hina, paling lemah, paling tak berarti, adalah hakikat dari [ hidup ].

2.

Sekitar Periode Musim Semi dan Gugur ( 771 SM – 400 SM ), seni rupa Cina dengan bentuk ‘ orang ‘ mulai berkembang pesat, pelan-pelan menggantikan totem-totem berbentuk hewan yang telah begitu lama mendominasi topik kesenian. [ Orang ], akhirnya memiliki kedudukan utama, dia mulai memperhatikan bentuk rupa sendiri, dia juga mulai merenungkan keberadaannya. Berbeda dengan burung yang terbang di langit, hewan yang merangkak di bumi, dan ikan yang berenang di air. [ Orang ] telah melepaskan diri dari kedunguan dan kekacauan, memiliki pandangan yang agak jelas terhadap dirinya.

[ Orang ] yang paling awal muncul di atas alat-alat perunggu, bukanlah seseorang yang mandiri, juga tidak menekankan mimik rupa perorangan yang khas, biasanya dengan ukiran timbul menggurat di atas alat perunggu sekelompok-sekelompok orang; barisan prajurit yang sedang menyerang tembok kota, sekelompok nelayan di atas perahu menangkap ikan di sungai, petani-petani bekerja di tengah ladang, ataupun perempuan-perempuan yang bermain alat musik dan menari di dalam sebuah pesta. Kesadaran terhadap [ orang ] pada periode ini masih ditampilkan dalam bentuk kelompok masyarkat.

Seni rupa Yunani pada periode yang sama, kebanyakan adalah patung perorangan yang menunjukkan kekhasannya. Tiga dimensi, kurang lebih sebesar manusia biasa, diletakkan di dalam kuil atau di balai kota, patung-patung ini membuat seni rupa Yunani menunjukkan makna keberadaan perorangan yang mandiri. Orang Yunani percaya, makna [ orang ], berada di dalam pencapaian perorangan.

Di dalam epik dan mitologi Yunani penuh dengan pencapaian perorangan, dan perorangan-perorangan ini tidak perlu direnungkan dari sudut masyarakat atau komunitas, bahkan tidak perlu memikul beban moralitas kelompok, perorangan melakukan pencapaian yang tidak mungkin tergantikan oleh orang lain: Medea di tengah keputus-asaan terhadap cinta berlinang airmata mencelakakan anaknya demi membalas dendam; tubuh muda Icarus jatuh mati demi mengejar cita-citanya untuk terbang tinggi; sakit derita tubuh Prometheus yang tiada habis dicabik-cabik cakar tajam elang, dan sebagainya dan seterusnya. Sastra Yunani Kuno menurunkan berbagai cerita tentang [ orang ], mungkin itulah jiwa sesosok-sesosok patung Yunani yang didirikan.

Seni rupa Cina pada periode ini mungkin masih berusaha mencari bentuk bersama dari [ orang ].

[ Orang ] di sini bukan perorangan, [ orang ] hanya salah satu unsur rangkaian kecil di dalam susunan masyarakat yang sangat besar. Mereka bekerja, perang, bertani atau berpesta, samasekali tidak ada wajah [ perorangan ], tidak ada khas perorangan, hanya merupakan satu unsur dasar [ orang ]

Seandainya menggunakan epik Yunani [ Odissei ] atau [ Iliad ] melihat [ Kitab Puisi ] Cina, juga akan merasakan perbedaan antara perorangan dan pahlawan, dengan keseharian dan rakyat jelata. Di dalam [ Kitab Puisi ] sangat sedikit pahlawan, juga jarang ada tragedi yang menusuk hati dan menggetarkan tulang. [ Kitab Puisi ] lebih banyak adalah lelaki dan perempuan yang berada di pematang atau di tepi sungai, mereka tidak memiliki nama di dalam catatan sejarah, mereka adalah orang biasa dan bersikap pasrah, hidup turun-temurun di atas tanah pertanian, ada harapan terhadap cinta, ada kesedihan akan hilangnya cinta, ada perang, ada pengungsian, namun hampir tidak ada peristiwa yang begitu luar biasa hingga harus menggunakan epik memuji dan meratapnya.

Di dalam [ Kitab Puisi ] penuh dengan nuansa muda-mudi yang sederhana:

Bujang kelana bujang lapuk,

peluk kain dagang sutera,

bukan datang dagang sutera,

mengitariku dia berkupu-kupu.

( 氓之蚩蚩,抱布贸丝, 匪来贸丝,来即我谋 )

di dalam [ Kitab Puisi ] kita tidak akan menemukan balas dendam cara Medea, juga tidak ada Echo yang bersembunyi ke dalam gua menjadi gema yang gelisah dan menyiksa diri sendiri. Kesedihan yang ada di dalam [ Kitab Puisi ] adalah seperti perputaran musim, tetap begitu tenang dan terkendali seperti [ orang ] yang hidup di atas tanah pertanian, tidak akan ada tragedi yang menyesakkan:

Ai, murbei sudah gugur

yang kuning semua luruh

( 桑之落矣,其黄而陨。 )

Tanpa kemurkaan dan kepedihan yang membahana langit dan mencakar bumi, adalah sangat sulit berkembang menjadi epik yang agung dan pilu menggemuruh; kesedihan dan keriangan di dalam [ Kitab Puisi ] adalah sangat jelata, ada ketergantungan kepada alam di dalam musim yang silih berganti, ada kepuasan dan ketenangan dapat berdiri di atas bumi dari hari ke hari, tidak peduli hidup bisa bagaimana riang dan sedih, kemungkinan besar tidak akan ada pengembaraan dan pertualangan keluatan cara Yunani.

[ Kitab Puisi ] sepenuhnya terpusat pada ketenangan dan kedamaian ‘ orang ‘, seolah di atas bumi yang luas, karena jarak pandang yang terlalu jauh, sehingga tidak dapat melihat jelas apakah sedang gembira atau bersedih. seluruh kegembiraan dan kesedihan orang seperti alam, bagai pohon dedalu di musim semi, juga seperti hujan dan salju di musim dingin, sebab itu tidak akan ada yang luar biasa:

Ai, dulu waktu aku pergi,

ranting dedalu gemulai gemulai;

hari ini aku balik tertegun,

salju hujan bertabur bertabur

( 昔我往矣,杨柳依依。今我来思,雨雪霏霏。)

dan ini:

Hijau hijau kerah abang,

sunyi sunyi hatiku terkapar,

walau aku tidak pergi bersua,

tidak bolehkah abang bocorkan kabar?

( 青青子衿,悠悠我心。纵我不往,子宁不嗣音?)

Kedalaman rindu dan cinta [ orang ] tidak akan lebih dari ini, sudah pasti tidak akan berkembang menjadi darah pembunuhan mengenangi kota ala kuda troya. sudah pasti tidak akan ada jelita Helene yang membinasakan, dan juga pasti tidak akan ada Agamemnon yang membawa kepedihan sepanjang hayat.

Yunani Kuno dengan sistem politik negara-kota memunculkan sosok-sosok unggul, mungkin pahlawan dengan keperkasaannya atau perempuan dengan kecantikannya, mereka adalah [ dewa ] di antara manusia, mereka bijaksana, cerdas dan cakap, mereka menantang nasib, mereka mengharapkan pertualangan lautan; kesepian menjadi semacam kesombongan, mengembara juga menjadi semacam pembuangan diri yang angkuh.

Sedangkan landasan pertanian Cina adalah dibangun di atas rakyat jelata yang berjumlah besar dan tersebar luas, mereka memetik daun murbei, menangkap ikan, bersawah, membuka perigi; di dalam kehidupan mereka jarang ada gejolak-gejolak luar biasa yang aneh atau berbahaya. Mereka bukan sosok pahlawan atau sang jelita, mereka puas menerima posisinya sebagai [ orang ], dan dengan tegar dan nyata menjalani hidupnya. Pertanian sesungguhnya tidak perlu terlalu banyak merintangi bahaya. Pertanian perlu kesabaran, perlu semacam keyakinan dan ketergantungan terhadap tanah, perlu pemahaman dan rasa terhadap peralihan musim, dengan demikian hidup mati dan cinta dendam manusia juga akan seperti tanah dan musim, bersiap-siap menjadi kekal.

Sebuah keganjilan dalam seni rupa Cina purbakala terjadi di Sanxingdui, sebuah situs Zaman Perunggu di Sichuan. Pada 1986 dari situs ini digali keluar sebuah patung perunggu yang tingginya lebih dari dua meter, sangat menyedot perhatian. Patung-patung perunggu dari situs ini umumnya berpenampilan khidmat, memakai topeng emas, menampakkan wibawa manusia dewa atau dukun pemimpin upacara agama, atau pemimpin adat; misterius dan agung, menimbulkan rasa hormat.

Seni rupa Sanxingdui paling tidak ada tiga titik pokok yang tidak ditemui di atas alat-alat perunggu yang ditemukan di Delta Sungai Kuning pada periode yang sama ( Dinasti Shang hingga Dinasti Zhou Barat; 1600 SM – 771 SM ): Pertama, Alat perunggu Delta Sungai Kuning kebanyakan menggunakan bentuk hewan, jarang dengan rupa manusia. Kedua, sebagian kecil patung yang ditemukan di Delta Sungai Kuning umumnya berukuran kecil dan merupakan bekal kubur, ini mungkin menunjukkan dia sebagai pendamping kubur atau budak dalam tingkatan paling rendah, sedangkan yang ditemukan di Sanxingdui berukuran besar, kebanyakan adalah raja atau pemimpin adat yang berpenampilan khidmat. Ketiga, Topeng emas dan tongkat emas Sanxingdui jelas berbeda dengan tradisi penyembahan batu giok di Delta Sungai Kuning.

Disebabkan temuan di Sanxingdui, sumber dan keunikan Budaya Shu ( Berpusat di Dataran Sichuan ) kembali hangat dibahas. Pada jaman purbakala, setidaknya jika ditinjau dari seni rupa, Budaya Shu sangat mandiri, dan tampak berbeda dengan kebudayaan Han yang berkembang di dua sisi Sungai Kuning dan Sungai Huai pada periode yang sama. Dan topeng emas membuat pikiran orang langsung berasosiasi dengan Mesopotamia, Tutankhamun di Mesir, dan topeng emas Agamemnon di Mykenai, Yunani. Bagaimanapun, patung berukuran besar dan topeng emas yang ditemukan di Sanxingdui telah menunjukkan suatu perbedaan yang sangat mencolok dalam estetika tubuh dengan kebudayaan Delta Sungai Kuning, keunikan dan kemandirian [ orang ] seperti lebih mendapat perhatian di dalam Budaya Shu.

Selain seni rupa Budaya Shu di situs Sanxingdui yang berbeda dengan Delta Sungai Kuning, [ orang ] di dalam Budaya Chu ( boleh disebut sebagai budaya Cina Selatan ) juga lebih memiliki kemandirian dan kebebasan. Pada tahun 1973 digali keluar sebuah lukisan di atas kain sutera dari abad ke-5 SM yang diberi nama [ Lelaki Penunggang Naga ] dari kuburan kuno di Changsha, Hunan, lukisan seorang lelaki dengan jubah panjang berlengan lebar, memakai topi, dengan sebilah pedang terselip di pinggang, dia menunggang naga, gayanya luwes, samar-samar membuat teringat deskripsi Qu Yuan terhadap tubuh di dalam puisinya [ Nyanyian Chu ] pada jaman yang sama:

Buat daun teratai dan singhara

sebagai baju, oh

kumpul bunga lotus sebagai gaun

( 製芰荷以為衣兮,集芙蓉以為裳。)

Tinggi menjulang aku bertopi tinggi, oh

seuntai panjang giok berjuntai aku pergi

( 高余冠之岌岌兮,長余佩之陸離。)

Tidak peduli baik dari diksi yang mewah ataupun bentuk kalimat yang mendayu, [ Nyanyian Chu ] sangat berbeda dengan [ Kitab Puisi ]. Di dalam nyanyian-nyanyian Tanah Chu lebih banyak menyuarakan [ perorangan ] dan pribadi yang mandiri. Juga menampilkan sosok unggul yang berbeda dengan rakyat jelata umumnya.

[ Nyanyian Chu ] sarat dengan deskripsi rasa sayang [ orang ] terhadap tubuhnya. Topi tinggi di atas kepala menjulang bagai puncak gunung, untaian giok yang tergantung di tubuh bergoyang-goyang, petik dan kumpul teratai dan lotus buat pakaian. Cinta dan rasa sayang terhadap tubuh [ perorangan ] menunjukkan gaya Tanah Chu yang romantis.

Di suatu tempat yang hangat dan makmur di Tanah Selatan, di antara sungai-sungai yang tenang meliuk lewat, orang bisa demikian taruh harapan, boleh demikian memanjakan tubuh dan masa muda yang indah dan ceria, juga boleh demikian bersedih terhadap tubuh yang melorot, layu dan tua:

Ranting bercabang daun lebat bunga memerah,

semoga tunggu saat matang aku datang memetik;

walau daun layu bunga gugur juga tidak bersedih,

hanya pilu seluruh bunga rerumput hilang wangi.

( 冀枝葉之峻茂兮,願俟時乎吾將刈。

雖萎絕其亦何傷兮,哀眾芳之蕪穢。)

Budaya Chu di Selatan telah melepaskan kekangan budaya agraris, sudah ada petualangan, sudah ada pengembaraan, sudah ada semangat yang berkobar, juga ada pilu dalam keputus-asaan, seni rupa di dalam Budaya Chu menampakkan wajah yang berubah-ubah, panjang gemulai, anggun, di dalam harapan menunjukkan adanya kepercayaan diri akan eksistensinya.

3.

Penemuan patung-patung terakota dari Dinasti Qin ( 221 SM – 206 SM ) pada tahun 1970-an memberikan data-data yang sangat penting buat sejarah seni rupa Cina. Patung-patung yang digali dari makam Kaisar Qin Shihuang umumnya adalah prajurit, menampilkan sisi maskulin yang keras, menjadi perbedaan yang sangat mencolok dengan Budaya Chu yang halus gemulai.

Patung-patung terakota ini adalah bekal kubur, dan sebagai bekal kubur, penciptaan patung-patung ini bukan untuk dinikmati orang hidup, jadi tidak ada motivasi buat apresiasi. Penemuan patung terakota Qin adalah suatu kecelakaan. Di dalam pandangan kaisar jaman kuno, makam raja adalah sesuatu yang luar biasa rahasia, tidak mudah ditemukan, juga tidak ada maksud dipamerkan untuk umum seperti di masa sekarang. Patung-patung ini menampakkan mimik dan gerak tubuh yang cerdas dan cekatan, suatu kekaleman dan percaya diri yang diperoleh dari latihan yang ketat dan beraturan dalam jangka waktu yang panjang, sehingga penonton dapat melalui patung-patung ini membuktikan keunikan-keunikan tertentu di dalam budaya Qin.

Dalam keadaan normal, patung bekal kubur seharusnya tidak terlihat oleh orang hidup. Oleh sebab itu, pembuatan patung-patung terakota Qin yang begitu persisi dan realis bukan berasal dari motif kesenian dan apresiasi. Kepala, badan, dan empat tungkai patung-patung ini dibuat dengan cetakan, hanya dengan demikian patung-patung ini baru dapat diproduksi secara massal. Tetapi, patung-patung pada saat yang sama juga sangat menekankan keunikan satu per satu. Maka setelah dicetak, perlu lagi diberi sedikit pemolesan, memberi alis dan mata, kumis dan janggut, gaya rambut yang berbeda dengan halus dan terperinci.

Cara produksi dengan membaurkan [ massal ] dan [ terperinci ] ini mencerminkan budaya Qin yang dibawah politik Legalisme demikian haus [ kebenaran ]. Arus utama kebudayaan Cina, baik itu Konghucuisme ataupun Taoisme, selalu mendudukkan [ kebajikan ] jauh di atas [ kebenaran ]. Konghucuisme dengan sepenuh kekuatan mengejar hubungan antar manusia dan ketertiban yang harmonis berdasarkan etika, Taoisme justru di atas etika berusaha keras melepaskan perorangan dari ikatan masyarakat. Baik Konghucuisme maupun Taoisme, sama-sama berusaha berpikir dengan sebuah hati yang bermoral. Sedangkan [ hukum ] yang menjadi pijakan Legalisme bagaimanapun tetap diletakan di bawah moralitas di dalam arus utama kebudayaan ini.

Dinasti Qin adalah suatu jaman di mana negera dibangun di atas landasan hukum yang sangat sedikit ditemui di dalam sejarah Cina. Pelatihan hukum yang ketat membuat budaya Qin memiliki semangat menaati aturan yang objektif. Realisme di dalam patung-patung terakota Qin pada dasarnya adalah semacam aturan objektif dalam [ mencari kebenaran ]. Patung-patung ini begitu terperinci, tinggi dan lekuk tubuh patung dibentuk sesuai dengan orang nyata, juga parasnya, letak tulang alis, bentuk mata, tonjolan tulang pelipis, bentuk bibir dan potongan rambut, semuanya begitu terperinci. Ini jelas berbeda dengan seni rupa Cina pada umumnya yang lebih menekankan penangkapan image.

Semangat Dinasti Qin dalam mengatur negara dengan hukum benar-benar tercermin di atas patung-patung terakota, dan sebab itu patung-patung ini memancarkan gaya yang maskulin, wibawa, serius dan tegas yang jarang ditemui di dalam seni rupa Cina. Garis lekuk tubuh patung penuh dengan garis lurus dan tegang, terutama di sudut-sudut potongan rambut, hampir semuanya membentuk sudut 90 derajat, tajam dan samasekali tidak menyisakan tempat buat melengkung, sehingga patung-patung yang khidmat ini seolah menyimpan semacam kekuatan membunuh. Sangat mengerikan.

Patung-patung ini kurang bermakna apabila dipandang satu per satu, sulit merasakan kekuatannya. Kita baru merasakan kekuatan yang mendesak dan mendominasi ketika sudah berada di makam Qin Shihuang, melihat ribuan prajurit terakota terbentang dalam barisan-barisan yang panjang dan rapat, ini seharusnya dipandang sebagai satu karya utuh.

Tidak seperti patung Yunani yang selalu menonjolkan keindahan tubuh yang khas, yang tersendiri, misalnya, keindahan terhormat ketika seorang atlet menerima mahkota laurel, keindahan Appolo sebagai dewa cahaya yang tiada duanya, keindahan Afrodit ketika terlahir di dalam air yang tak tergantikan…Indah adalah sesuatu yang jarang, yang minoritas. Sedangkan kekuatan patung terakota Qin adalah bersifat kelompok, adalah tekad yang mengkristal di dalam kehidupan bersama, perorangan tidak bisa terlepas dari kelompok.

Lokasi deretan prajurit-prajurit terakota Qin tentu juga adalah lokasi kebudayaan Qin, setiap keunikan patung menghilang. Di tempat ini, hanya terasa kekuatan Dinasti Qin yang pamer kuasa pamer wibawa, samasekali tidak ada perorangan.

Apakah mungkin suatu hari dari tempat ini akan digali keluar patung Qin Shihuang? Dia adalah tuan yang mengerahkan berpuluh ribu prajurit terakota, dia adalah pemilik sebuah Dinasti yang menggemparkan, tapi tubuhnya, di mana tubuhnya?

Berbeda dengan makam-makam kuno di Mesir, di sana firaun selamanya akan menjadi pemeran utama di dalam seni rupa, selalu hadir dengan patung yang besar dan bernilai. Tetapi di Cina, sampai hari ini patung yang diekskavasi dari makam-makam kuno kebanyakan adalah bekal kubur: Prajurit, kerani, budak. Di dalam barisan budak yang berjejal bagaimanapun tidak bisa menemukan tubuh tuannya.

Berdiri di lokasi barisan patung terakota Qin, menunggu tuannya yang tidak bisa ditemukan, [ tubuh ] akhirnya hanya tenggelam di dalam debu waktu. Atau mungkin [ waktu ] yang sesungguhnya adalah tuan di sini, dia mengauskan semua tubuh! Prajurit-prajurit terakota yang awalnya berwarna-warni dan berkilau kini sudah retak dan pudar, menampakkan dasar tanah kuningnya. Mereka putus tangan patah kaki, atau kehilangan kepala, namun masih tetap tegar berdiri. Patung-patung terakota Qin telah menunjuk arah pemikiran kepada sejarah seni rupa Cina, antara perorangan dan kelompok, antara budak dan tuan, antara kehormatan negara dan kebebasan pribadi…

Dan indah, di dalam debu waktu berubah menjadi gema kosong. Ketika sebuah dinasti dalam semalam lenyap, kemewahan sebuah makam kaisar tertimbun, menunggu beberapa ribu tahun kemudian baru pelan-pelan siuman satu kali. Setelah bangun, seolah semua tubuh yang pernah hidup ada begitu banyak kata-kata yang ingin diungkapkan, namun seperti sudah lupa cara mengeluarkan suara, mereka terus membisu, membiarkan orang tunjuk sana tunjuk sini.

Hukum, objektivitas, realisme jaman Qin, di dalam sejarah seni rupa Cina bagai mata sekejap

Tunggu hingga berdirinya Dinasti Han ( 206 SM – 220 Masehi ) yang sengaja menggunakan Budaya Chu dari daerah selatan sebagai landasan, untuk mengimbangi kekerasan Qin, memoles sudut-sudut tajam, mengubah garis-garis lurus dan kaku menjadi garis-garis lembut melengkung, menciptakan semangat Dinasti Han yang moderat.

Patung-patung terakota dari makam Han Jingdi ( Kaisar Jing Dinasti Han ) yang baru diekskavasi pada akhir tahun 1980-an dengan jelas menunjukkan metamorfosis dalam seni rupa Cina setelah terpaut sekitar setengah abad dengan patung terakota Qin. Patung-patung yang sering disebut patung terakota Yangling ini membulatkan sudut-sudut tajam potongan rambut, raut wajahnya juga tidak lagi tegang seperti patung terakota Qin. Di wajah yang tembam dan lembut itu muncul sebuah senyum yang kalem dan bahagia.

Senyuman di wajah patung terakota Yangling mengisyaratkan semacam pelepasan. Catatan sejarah tentang Han Jingdi yang tidak perlu menggunakan hukuman selama empat puluh tahun dia bertahta, seperti bisa dicerminkan dari sesosok-sesosok patung dengan wajah tersenyum. Setelah memasuki Dinasti Han, patung-patung terakota yang sebagai bekal kubur seolah memiliki kesempatan untuk menjadi tubuhnya sendiri. Atau mungkin kita sudah terlalu optimis, di dalam seni rupa Cina, patung terakota, bagaimanapun hanya budak bekal kubur, tubuh yang mandiri apakah benar-benar memiliki kesempatan tersadarkan?

Satu Sudut Cerita

Puisi John Kuan

1.

Minke tidak tahu dirinya kembali menjadi pembukaan sebuah novel.

Sudah dua tahun di ibukota jual-beli peluh, kulit, perut dan hasil bumi

Sesekali juga sejarawan bawah tanah rangkap geolog jarang ke lokasi,

katanya tidak penting. Apalagi hari ini, tapi hari ini sungguh G30S/PKI

Hari ini adalah absolut, bukan apalagi. Novel masa kini ingin pembukaan

baru kembali: Belum pernah melihat langit melengkung begini rendah

dan mendung, sekalipun kilat berkali menyapu genangan tinta dramatis.

Minke keluar dari UG pencakar langit mencari otak kecil, dia lepas-tangkap

di dalam sebuah taksi melaju di antara spasi kata-kata dekoratif. Minke

kaget, tidak pernah melihat badai ibukota bisa demikian membabi-buta

mengaduk jiwa seorang penjual-beli, juga mengaduk jiwa neokapitalis

juga jiwa supir taksi poskolonialisme, bahkan jiwa seorang pemain filem

menempel di kursi, ingatan dan tekad adalah pemercik api otomatis, sejarah

sial negeri malang ditransfusi lewat pembuluh darahnya ke ujung nozel

membakar mesin, mendinginkan cuaca tropis, melesat di jalan demokrasi

Tapi beberapa puluh kaki di bawah tanah, beberapa jiwa bergelombang

tapi bukan kaget. Minke kembali masuk ke UG pencakar langit, kelihatan

otak kecil duduk di satu sudut, satu sudut sejarah, dikepung hantu bisu

Otak kecil sedang melamun, seperti dapat mimpi bagus, bermimpi sulur

merambat di bawah tanah jadi hutan, mengantar air hujan, dan api,

hantu bisu tersenyum, hilang mendebu di dalam udara rima Angkatan 66.

gambar diunduh dari lil4ngel5ing_files_wordpress_com

2.

Minke dari gesekan rima Angkatan 66 menyusup ke dalam mimpi siang

Bersama otak kecil bernostalgia ——— hari itu juga celaka gelap, berdua

somnabulisme di dalam hujan miring, seandainya memang ingin caci-maki

mereka harus menghujat terlahir di dalam sebuah novel, di latar jaman

celaka gelap itu. Tapi memorial adalah tidak perlu, masa muda mereka

tidak usah dikenang hari ini. Mereka hanya perlu antar air hujan dan api,

melewati sebumi genangan hening. Minke menemukan latar telah jadi danau

beberapa bongkah awan hitam sedang menyelam, di atas pencakar langit

kilat sedang geram mengasah gigi. Dan otak kecil melihat latar makin kuyup

akhirnya menjelma jadi lumpur hitam. Bayangkan penjual-beli peluh, kulit,

perut dan hasil bumi bersama sekerat otak kecil bahu membahu meratap

seseorang tidak perlu identitas, seperti sang priyayi sesat di dalam lumpur.

Mungkin ini sedikit OOT: Beberapa tahun kemudian, ketika otak kecil bertatap

muka dengan regu penembak Sang Maut, mungkin akan teringat tahun 2000

suatu petang di depan rumah jagal sebuah kota provinsi, nama tidak penting

Rumah jagal itu telah telantar, dikuasai sekelompok seniman jadi rumah seni.

Namun seni eksperimen pura-pura itu membuat lambung luka. Mereka lebih

memilih keluar mengisap udara masa lampau: Di dalam ketenangan mengisap

habis bau darah terakhir. Tidak tahu mati berapa banyak babi, di udara

seakan penuh roh babi. ” Mungkin juga ada roh manusia ” Seseorang mulai

berbicara dunia-akhirat. ” Coba bayangkan, setelah mati apapun tidak ada ”

3.

Memori selalu di saat termenung berpapasan, menoleh kemudian melongo

Otak kecil terayun-ayun dalam perjalanan pulang, tidak tahu siapa berkedip

mata kepadanya, meniru senyum Maut, tapi senyum begitu hanya bikin orang

menguap. G30S tiap tahun pasti lewat, otak kecil tiba-tiba sadar sesungguhnya

novel ini tidak perlu sebuah pembukaan baru. Kalau curhat, otak kecil memang

ada sedikit. Tulis novel juga sudah pernah, namanya [ Curhat Tahun Celaka ]

Cerita tentang seorang lahir salah ruang dan waktu, negaranya dibombardir

guru kebenaran agung, bahkan rumah sakit bersalin juga, orang itu gunakan

waktu setahun taruh nyawa dewasa, tapi lupa dia mesti belajar bahasa apa,

tunjuk langit dalam hati: Cepat atau lambat kalian pasti akan mencicipi lihainya

Curhat Tahun Celaka! Novel terlalu absurd, apalagi kenyataan. Ketika otak kecil

sampai di rumah, Minke masih berjalan di alur cerita, berputar di dalam indeks

tapi tidak tersesat, hanya hampir menginjak bibir jurang negara. Pengawal alur

cerita menghardik, figuran juga memohon, namun dia samasekali tidak hirau

Minke amat jelas destinasinya, otak kecil juga tahu. Sebuah negara memalukan,

sebuah pemerintah memalukan, pejabat menggosok aus suatu hari suatu bulan

di kertas almanak, menetaskan berapa butir hukum, orang-orang tidak peduli,

mau cinta bisa cinta, mau pisah bisa pisah, alam tukar musim, hati siapa terluka?

Begitulah, otak kecil sampai di rumah, hanya dengan kaleng bir dia berbisik

Menyewa sepetak utopia di antara pasar moderen dan pasar tradisional, juga

diberi bonus neraka, sulur merambat sampai sini, transportasi air hujan dan api.

Arak, Alkitab Terjemahan, Taoisme, Socrates, dan Lain-lain

Gerundelan John Kuan

 Buddhisme pantang arak, Taoisme tidak.     Taoisme bukan saja tidak pantang arak, bahkan seperti ada semacam ungkapan: Arak merawat hidup. Perkara ini terlalu rumit, sulit dibela.
     Namun di dalam Kitab Puisi ( Shijing ) ada sebuah puisi [ Bulan Tujuh ] dengan bait-bait begini:

bulan sepuluh panen padi
demikian kita buat arak musim semi
agar umur panjang alis melambai

Menurut Zheng Xuan ( 127 – 200 ), penafsir kitab kuno dari Dinasti Han yang sangat berpengaruh ini, menggunakan padi menyuling arak adalah tindakan benar, [ sebagai alat untuk membantu merawat usia ], Zhu Xi ( 1130 – 1200 ), filsuf terkenal dan juga penafsir kitab kuno dari Dinasti Song memberikan anotasi yang kurang lebih serupa. Pokoknya ada mengabarkan berita-berita merawat hidup, terutama diperlukan ketika merawat orang berumur. Tao Yuanming ( 365 – 427 ), sering juga dipanggil Tao Qian, penyair kita yang doyan arak ini memberi peringatan dalam puisinya, minum arak belum tentu bisa merawat hidup: bukan alat panjang umur! Katanya. Tetapi ada teks lain menulis: bukanlah alat pendek umur! Teks-teks simpang siur ini membuat maksudnya tidak jelas, tapi kalau menunjukkan tidak baik buat tubuh pasti tidak salah. Perkara ini makin rumit, sulit ada kesimpulan adil.
     Saya pernah membaca sebuah syair yang bercerita tentang perbedaan pandangan Buddhisme dan Taoisme terhadap arak, dan sebagainya dan seterusnya, ditutup dengan dua baris ini:

Minum arak belajar dewa,
pantang arak belajar Buddha.

Sikap ini memang sedap dan nyaman, namun baik dewa ataupun Buddha, itu hanya alasan saja, jadi boleh dikatakan sudah sejajar dengan permintaan Guru: sesuka hati tanpa harus melampaui norma. Silakan buka Lunyu: Bab II pasal 4

*
     Ada juga biksu yang ingin mencicipi arak dan daging, tentu sangat tidak patut, maka arak disebut [ sup prajna ], ikan disebut [ bunga rajutan air ], dan ayam disebut [ sayur penyusup pagar ]
     Su Shi ( 1037 – 1101 ), penyair Dinasti Song yang jujur, romantis, tapi sengsara ini terpaksa kritik:
” Membohongi diri sendiri, hanya menjadi bahan tawa dunia. ”
     Kemudian menambahkan: ” Ada juga orang demi kebohongan memainkan pena dengan nama-nama indah, apa bedanya dengan ini? ”
     Saya juga pernah diajak mencicipi berbagai macam daging olahan gluten di restoran vegetarian, tapi sering saya tolak, tidak sedap sambil makan terkenang-kenang Su Shi. Urusan ini sampai di sini saja, terlalu sensitif, tidak baik dilanjutkan.

*
     Ketika Torres berumur dua tahun, anak Spanyol ini dipastikan sebagai reinkarnasi Lama Thubten Yeshe, kemudian dikukuhkan sebagai pemimpin biara, itu adalah kejadian tahun 1987, dan ini sudah pernah saya tulis.
     Anak lelaki ini lahir di Granada, Andalusia, dunia tua agama Katolik. Namun, dia ternyata adalah reinkarnasi Lama Yeshe, kemudian menetap di Nepal, terkesima dan antusias ini juga pernah saya ceritakan.
     Beberapa tahun kemudian, saya pernah membaca berita Lama cilik kita ini menerima undangan Taipei. Kalau tidak salah waktu itu dia baru enam tahun. Para tukang gossip berbodong-bondong pergi bertamu, tentu membawa hadiah. Menurut desas-desus hadiah yang paling disukai Lama cilik kita yang berumur enam tahun ini, masih juga segala macam mainan, samasekali tidak berbeda dengan anak-anak lelaki umur enam tahun umumnya.
     Ini adalah satu hal yang hangat dan menyentuh hati, di dalam dunia nyata kita.
     Dia pernah menunjuk dan memastikan satu per satu benda-benda kudus dari hidup lalunya yang belum selesai, mahkota, tongkat, japa malas, jubah, dan sebagainya. Mungkin itu cara ajaibnya menunjukkan dirinya adalah Lama reinkarnasi, bisa dipahami. Sekarang dia menyukai mainan-mainan plastik, warna-warni pesawat terbang, mobil, dinosaurus, dan makhluk-makhluk aneh lain, terutama Ninja Turtle ( Waktu itu Transformers belum kesohor, Ben-Ten dan kawan-kawan Jepang yang lain juga belum ) yang disukai setiap anak lelaki. Ini juga sepenuhnya bisa dipahami. Selain sebagai reinkarnasi Lama, Torres tetap adalah seorang anak lelaki sehat berumur enam tahun dari Granada.

*
     Di dalam Perjanjian Baru tidak banyak menemui kisah tentang masa kanak-kanak Yesus. [ Injil Matius ] setelah menceritakan tanda-tanda kudus kelahirannya, selanjutnya adalah Yohanes Pembaptis tampil, berkotbah di padang gurun Yudea, katanya: ” Kerajaan Allah sudah dekat, bertobalah kalian. ” Kemudian adalah Yesus dibaptis di Sungai Yordan. [ Injil Matius ] dimulai dengan Yesus dibaptis, jadi sudah dewasa: Begitu keluar dari air, seketika melihat langit retak terbuka, Roh Kudus bagai merpati, turun di atas tubuhnya, lalu ada suara datang dari Langit berkata, kaulah anakKu yang Kukasihi, Aku berkenan padamu. Selanjutnya adalah percobaan empat puluh hari itu.
     Narasi [ Injil Yohanes ] kian padat dan ringkas. Dan salah satu bagian yang menceritakan percakapan Yesus dengan ibunya, adalah untuk mengubah air di dalam tempayan batu menjadi anggur, dan ini adalah mujizat pertama yang ditunjukkan Yesus. Saat itu Yesus telah memiliki pengikut, jadi juga sudah dewasa. Awalnya ibu Yesus berkata kepadanya: ” Mereka kehabisan anggur. ” Ternyata Yesus menjawabnya: ” Ibu, aku apa pula sangkut-pautnya dengan kamu? Waktuku masih belum tiba. ”
     Yesus ketika berumur dua belas tahun sudah mengucapkan kata-kata luar biasa, kisah ini dapat ditemui di dalam [ Injil Lukas ]. Paskah tahun itu, orang tuanya seperti biasa berangkat ke Yerusalem merayakan. Sehabis hari raya, di dalam perjalanan pulang ke Nazaret, mereka sangka Yesus ada di dalam rombongan mereka. Setelah berjalan satu hari, baru menyadari dia tidak ada, buru-buru kembali ke Yerusalem mencarinya. Lewat tiga hari, akhirnya menemukan dia duduk di dalam bait Tuhan bertanya jawab dengan guru-guru. Ibunya berkata: ” Anakku, mengapa engkau berbuat demikian kepada kami? Lihat, ayahmu dan aku begini cemas datang mencarimu! ”
     Yesus yang dua belas tahun berkata: ” Mengapa engkau mencari aku? Tidakkah engkau tahu aku harus selalu dalam urusan Bapa-ku? ”

*
    Maksud Yesus mengenai [ selalu dalam urusan Bapa-ku ], adalah [ bertanggung jawab terhadap Tuhan ]
    Begini sadar diri dan serius, luar biasa, beberapa kata ini dengan [ aku apa pula sangkut-pautnya dengan kamu ] di kemudian hari saling menyahut, membuat orang tercengang dan salah tingkah, tentu ketakutan, dan murung. Ketika Yesus masih di dalam gendongan, ibunya membawa dia keluar, bertemu Simeon; orang yang benar dan saleh itu. Simeon sudah tahu dia adalah Kristus, mengucapkan banyak kata-kata pujian, terakhir berkata kepada ibunya: ” Hatimu juga akan ditusuk tembus sebilah pisau. ”
     Namun, [ Injil Lukas ] dengan jelas menulis, Yesus sejak pulang dari Yerusalem, patuh kepada orang tuanya. Namun, hati yang ditusuk tembus sebilah pisau, adalah sakit tak terperikan seorang ibu yang harus mengalami anaknya menderita, menembus dosa, berdarah, mengorbankan diri.

*
     [ Ibu, aku apa pula sangkut-pautnya dengan kamu? Waktuku masih belum tiba ], Bagian ini saya terjemahkan langsung dari Alkitab Bahasa Mandarin terbitan awal abad ke-20, kemungkinan adalah terjemahan dari Versi King James, ternyata agak berbeda dengan New American Standard. Versi Bahasa Inggeris terbaru ini seandainya saya yang menerjemahkan, akan begini: ” Kamu jangan beritahu apa yang mesti aku lakukan. Waktuku masih belum tiba. ] Artinya, Yesus masih dalam masa persiapan, sesaat itu masih belum ingin menunjukkan dia mampu menciptakan mukjizat. Namun, beberapa waktu kemudian dia terpaksa juga menunjukkan, maka air pun menjadi anggur, itulah mukjizat pertama yang dia tunjukkan.

     Yesus patuh pada orang tuanya.

     Versi Bahasa Inggeris menggunakan kata sifat obedient, buat menegaskan ketika menghilang dalam perjalanan dari Yerusalem menuju Nazaret, serta kata-kata yang dilontarkan kepada ibunya di bait Tuhan memang sedikit tidak patut, setelah pulang bersama, sekarang dia sudah baik, sudah patuh pada orang tuanya.

*
     Perjanjian Baru dalam terjemahan Bahasa Mandarin menggunakan kata ini: 顺从 ( baca: shùn cóng; artinya patuh ), tidak menggunakan kata: 孝顺 ( baca: xiào shùn; mungkin saya boleh artikan: berbakti ), saya rasa para penerjemah pasti tidak begitu suka dengan kata 孝 ( berbakti ) ini, konsep ini, tradisi besar ini. Dan memang, ‘ berbakti ‘ adalah ide dasar dan implementasi dalam ajaran Ru ( Konghucuisme ), sangkut-pautnya sangat luas dan dalam, setiap sudut bersenggolan dengan agama Kristen ( misalnya penyembahan leluhur ), seandainya bisa menghindari kata ini, lebih baik dihindari saja. Para penerjemah Perjanjian Baru pasti sangat jelas dan bijak.

*
     Para penerjemah awal itu bukan saja bijak, tetapi juga sangat menguasai pengetahuan Cina Klasik, kadang-kadang bahkan sangat berkesan dan dalam.
     [ Injil Yohanes ] dalam Versi King James begitu mulai sudah berkata, pada mulanya adalah Logos; Logos ini bersama-sama dengan Tuhan, dan Logos itulah Tuhan. Pada mulanya Tuhan dan Logos adalah bersama-sama. Kemudian melanjutkan, Tuhan melalui Logos menciptakan segala benda.
     Logos di dalam puisi maupun prosa Yunani Kuno, seperti karangan Homer, Thucydides, Pindar, Plato dan sebagainya, artinya tidak keluar dari [ kata ], [ bahasa ], [ ungkapan ], [ gagasan ], [ janji ], [ percakapan ], [ kisah ], [ sejarah ], lalu berkembang menjadi [ pikiran ], [ sebab-musabab ], dan [ penalaran ] sejenis pandangan-pandangan yang sangat abstrak.
     [ Injil Yohanes ] berkata Logos pada mulanya sudah ada. Tetapi dalam terjemahan Bahasa Inggeris Versi King James tidak tahu bagaimana memanggilnya, sebab dia bukan cuma [ kata ], juga bukan cuma [ gagasan ], sebaliknya dia seperti mengandung makna yang pertama dan memiliki berbagai penjabaran yang kedua. Oleh sebab itu Versi King James kewalahan, lebih baik tidak usah diterjemahkan saja, langsung disebut Logos. Di dalam versi New American Standard yang lebih mengarah ke bahasa sehari-hari, lalu mengubah kata Yunani itu menjadi Word, dengan begitu hanya dapat menangkap makna [ kata ], sekalipun dengan huruf kapital, dan membawa sedikit aroma misterius.
     Berbagai macam semangat melakukan percobaan ini perlu didukung, namun hasilnya seperti kurang memadai. Terus terang, kalau dibandingkan dengan versi terjemahan Bahasa Mandarin, masih kalah. Coba lihat pembukaan [ Injil Yohanes ]: Pada mulanya adalah Tao; Tao ada bersama-sama Tuhan, Tao itulah Tuhan. Tao ini pada mulanya bersama-sama Tuhan, segala benda melalui dia diciptakan…

*
     Entah dapat ilham dari mana, begitu saja sudah bisa memancing masuk kata [ Tao ], sempurna, semua kegalauan dalam terjemahan Bahasa Inggeris langsung terurai. Bukan demikian saja, bahkan bisa menghubungkan ajaran agama Kristen dengan intisari budaya Cina pra-Qin, duduk sama rendah berdiri sama tinggi, ujung pangkal semuanya Tao, dan bukan hanya umat-umat biasa yang memuji, saya duga cendekia-cendekia tradisional juga ikut terpukau, siapa tahu.

*
     Lao Zi: ” Ada sesuatu berbaur jadi, sebelum Langit dan Bumi lahir…… Aku tidak tahu namanya, kusebut saja Tao. ” Kemudian: ” Tao melahirkan satu, satu melahirkan dua, dua melahirkan tiga, tiga melahirkan segala benda.
     Ini dengan [ Tao itulah Tuhan. Tao ini pada mulanya bersama-sama Tuhan, segala benda melalui dia diciptakan ] walau ada perbedaan tingkatan, namun sepintas akan membuat orang sangka membicarakan hal yang sama. [ Injil Yohanes ] memang berbeda dengan penulis Injil yang lain, gigih menyatakan Yesus adalah Logos Tuhan, menjelaskan Yesus adalah anak Tuhan, sebagai juru selamat, Tuhan melalui dia memberi orang hidup kekal, dan sebagainya dan sebagainya. Konsep ini ( bagi orang-orang terpelajar dalam tradisi Konghucuisme ) adalah tidak masuk akal, sebab di dalam ajaran Ru tidak ada jurusan ini. Namun, Dao De Jing pasal 4 ternyata juga blak-blakan: [ Tao adalah hampa, dan bila digunakan, hindari penuh. Begitu dalam! Bagai muasal segala benda./ Tumpulkan ketajaman, uraikan kekusutan, seimbangkan terang, berbaur ke dalam debu./ Begitu bening! Tao seakan terus ada, aku tidak tahu dia anak siapa, seakan tampil sebelum raja Langit. ]
     Seperti pernah mengenalnya?
     Bisa jadi banyak orang-orang terpelajar tradisional menyangka ini adalah itu, sama-sama ——— Guru berkata: Pagi mendengar Tao, malam sudah boleh mati! Silakan buka Lun Yu Bab IV pasal 8.

*
     Menerjemahkan Logos yang berasal dari Yunani menjadi Tao, kemudian ditambah dengan berbagai penjelasan, tentu sangat bijak dan cerdas, juga tampak maksud di baliknya.
     Namun, mesti juga tahu [ Tao yang bisa diucap, sudah bukan lagi Tao]

*
    Saya masih terus melacak perihal anak Spanyol yang Lama reinkarnasi itu, sudah bertahun-tahun tapi belum luntur, salah satu sebab adalah saya suka semacam transcendental mysticism yang dibawanya.
    Menurut sebuah berita yang saya baca ketika dia berkunjung ke Taiwan, adalah untuk mengumpulkan sumbangan buat mendirikan patung besar Buddha Maitreya di India.
    Patung besar Buddha Maitreya? Tidak tahu seberapa besar. Saya juga sering bertemu dengan patung-patung Buddha yang sangat besar. Selalu merasa patung tidak usah terlalu besar; besar belum tentu indah. Saya pernah melihat sebuah patung kecil Buddha Maitreya di luar Kuil Lingyin ( 灵隐寺 ) di Hangzhou, indah sekali.
    Karya seni di luar seni patung religi juga demikian, besar belum tentu indah.
    Walau patung perunggu di sudut-sudut kota Paris tak terhitung, tetapi patung Jeanne d’Arc yang tidak seberapa besar tetap sangat mengesankan sekalipun berada di antara gedung-gedung megah. Dia dengan baju perang di atas kuda, memancarkan semacam kharisma, ini adalah keindahan ekstrim yang lain.

*
    Venus de Milo.
    Saya rasa yang belajar seni lukis pasti pernah melukisnya. Rupa Venus tidak seragam, yang ini ditemukan pada tahun 1820 di Milos, sekarang disimpan di Museum Louvre. Patung ini tidak terlalu besar, sempurna di dalam keindahan yang cacat, dewi cinta ini mungkin jauh lebih kecil daripada yang dibayangkan.
    Di Museum Louvre juga ada patung Socrates setengah badan, dan Apollo, dan Athena, kalau tidak salah. Apollo, dewa matahari ini tidak berbeda dengan umumnya patung Yunani, telanjang bulat; Athena lilit sehelai kain panjang yang tipis, kerutannya sangat alamiah, kaki memakai sandal. Athena disebut sebagai dewi pelindung kota Athena, tetapi lebih sering sebagai dewi pelindung semua kota di Yunani.

*
    Athena.
    Athena di dalam mitologi Yunani sangat tidak lazim.
    Dewa utama Olimpus, Zeus selalu takut isterinya Metis akan melahirkan seorang anak yang lebih kuat dari dia, suatu hari setelah bersetubuh, dia menelan isterinya utuh-utuh ke dalam perut, walaupun katanya telah dijelma jadi serangga. Tidak tahu lewat berapa lama, Zeus sakit kepala, memerintah Hephaestus ( ada yang bilang Prometheus ) dengan kapak membelahnya, dari batok kepala yang terbuka, keluar seorang bayi perempuan, yaitu Athena
     Athena selain sebagai dewi pelindung kota, juga sebagai dewi seni dan kerajinan ( terutama tenun dan anyaman ), dan dewi pencipta suling. Dia bermata biru, dingin jelita, selalu dalam pakaian perang, pegang tombak dan perisai. Ini adalah rupa yang sering ditemui. Beberapa tahun yang lalu saya pernah melihat Athena yang tampak samping di dalam sebuah buku, dari tembaga tua, penuh ditutupi bercak, namun sangat indah, membuat orang tidak berani terus menatap.

*
     Apollo tentu adalah dewa matahari, juga merangkap pengobatan, musik, seni panah. Kadang-kadang dia juga sebagai dewa pelindung ternak dan pertanian. Apollo adalah lambang tertinggi kebenaran dan moral, melindungi kebaikan, mengusir kejahatan, menetap di Delfi sebagai Orakel.
     Ketika Socrates dituduh merusak generasi muda Athena, tetap tampil sendiri di pengadilan membela diri. Dia berkata: ” Saya bisa terkenal, tidak lebih karena saya bijaksana melampaui orang. ” Riuh rendah seketika di dalam luar pengadilan.
     ” Kebiijaksanaan yang seperti apa? Hanyalah kebijaksanaan manusia biasa! ” Socrates melanjutkan: ” Saya mungkin saja memiliki kebijaksanaan yang begini, tetapi yang dimiliki oleh orang-orang yang tadi saya sebut itu bisa jadi adalah kebijaksanaan manusia luar biasa, siapa tahu; kebijaksanaan begitu saya tentu tidak punya. Mengatakan saya memiliki kebijaksanaan manusia luar biasa adalah tidak benar, berarti sedang menghancurkan karakter saya. Harap tenang, saudara-saudara, sekalipun kalian  sangka saya sedang berbual. Berikutnya saya akan menceritakan suatu hal tapi bukan pengalaman sendiri, sebenarnya sumbernya sangat bisa dipercaya. Saya ingin meminjam nama dewa Delfi untuk menunjukkan kebijaksanaanku, yang masih ada, atau semacamnya. Kalian pasti sudah tahu Chaerephon, dia adalah kawan saya sejak kecil, juga adalah kawan kalian yang bersama-sama pulang dari pembuangan, bukankah begitu? Wataknya kalian pasti sangat jelas, segala hal tanpa tedeng aling-aling. Suatu kali dia pergi ke Delfi dan berusaha bertanya kepada Orakel ——— harap tenang, mohon jangan ribut, saudara-saudara ——— dia bertanya pada Apollo, apakah ada orang yang lebih bijak dari saya, Orakel berkata memang tidak ada orang lebih bijak daripada Socrates. Sayang Chaerephon sudah mati, saudaranya ada di pengadilan ini dan bisa menjadi saksi ”
    Demikianlah hubungan Socrates dan Apollo. Percakapan di atas dikutip dari catatan Plato.

*
    Ketika Socrates maju ke depan pengadilan membela diri usianya sudah tujuh puluh tahun, yaitu 399 Sebelum Masehi
    Dewan juri pengadilan kali itu sangat ramai, mencapai 501 orang. Di antara mereka selain orang-orang Athena yang mengadukan Socrates, juga ada sahabat-sabahat dan murid-muridnya yang mendukung. Musuh-musuh Socrates biasanya disebut kaum sofis. Hari itu Plato dan Xenophon termasuk sahabat-sahabat dan murid-muridnya yang ikut duduk di dewan juri.
     Seusai perkara, Plato berdasarkan pendengaran sendiri menulis [ Apologia ]

*
    Hubungan Xenophon dan Socrates ——— dan Apollo.
    Xenophon yang ingin ikut Cyrus berperang ke Persia, bertanya kepada Socrates. Socrates tahu Cyrus berhubungan baik dengan Sparta, jika menganjurkan muridnya ikut berperang, pasti akan disalahkan orang-orang Athena, dia lalu menyuruh Xenophon berangkat ke Delfi meminta petunjuk Apollo. Xenophon yang sudah kukuh pendirian, bertanya kepada Apollo: ” Aku mesti berdoa dan melakukan persembahan kepada dewa yang mana, agar bisa dengan terhormat pergi perang, dan selamat pulang? ”
     Apollo berkata: ” Berdoa dan lakukan persembahan kepada dewa yang bersangkutan sudah cukup ”
     Xenophon beritahu Socrates perihal tanya jawab dengan Apollo ini, Socrates memarahi dia kenapa tidak bertanya perjalanan ini berbahaya atau tidak, malah membuat keputusan sendiri,  bertekad ingin pergi. ” Baiklah! ” Kata Socrates: ” Sebab kamu sudah bertanya demikian, maka ikutilah petunjuk dewa! ”

*
     Xenophon berangkat berperang ke Persia di tahun 401 Sebelum Masehi. Pangeran Persia Cyrus mengerahkan sepuluh ribu prajurit Yunani yang terutama terdiri dari orang Sparta, menerjang ke timur, tujuannya adalah untuk merebut tahta dari saudaranya. Pasukan ini langsung menusuk masuk, mereka menyeberangi Sungai Eufrat tiba di Babylon, tanpa rintangan berarti. Namun dalam Pertempuran Cunaxa hancur tercerai-berai. Cyrus mati dalam perang, prajurit-prajurit Yunani berputar ke arah utara, bergerak mundur menyusuri Sungai Tigris, makin dalam terjerumus di sekitar Laut Hitam, membelakangi air bergerak ke barat, terus terbirit-birit masuk Byzantium, terakhir baru perlahan bergerak balik ke Yunani. Perjalanan ini disebut sebagai salah satu long march terpanjang dalam sejarah manusia. Xenophon di masa tua menyelami hati menulis [ Anabasis ] merekam peristiwa ini.
     Menurut catatan, Xenophon kembali ke Athena adalah tahun 399 Sebelum Masehi, itu adalah tahun Socrates dituduh, membela diri di pengadilan, mati dihukum minum racun.
     Tidak lama setelah Socrates mati, Xenophon juga dibuang, dosanya adalah ikut dalam perang Cyrus ke Persia dan bekerja sama dengan orang Spartan. Kalau begitu, maka yang dirisaukan Socrates sebelumnya bukan samasekali tanpa alasan.

*
     Xenophon muda sangat cerdas, tetapi bukan termasuk paling menonjol
     Suatu hari Socrates gandeng tongkat berputar-putar di jalanan Athena, bertemu dengan Xenophon di lorong sempit, dia lalu rintang tongkat menghalangi Xenophon, sambil tersenyum bertanya: ” Kemana bisa cicip arak, kemana bisa beli sandal ” dan berbagai macam pertanyaan, anak muda agak malu, tetapi jawabannya mengalir lancar. Socrates lalu memutar pertanyaannya, kemana bisa menciptakan manusia yang indah dan bijak. Xenophon tidak bisa menjawab.
     Socrates berkata: ” Ikuti aku, kuajari! ”

Nyanyian Burung Merak di Tepi Sungai Brokat – Puisi-puisi Xue Tao ( 768? – 831 )

Gerundelan John Kuan

Suatu senja di akhir musim semi, seorang ayah duduk bersama anak gadisnya di pekarangan rumah. Mungkin karena tergoda warna pemandangan di depan mata, atau ingin menguji kemampuan anak gadisnya berpuisi, tangannya menunjuk sebatang pohon Wutong di samping perigi sambil mengucapkan sebait puisi:

Di ujung pekarangan ada sebatang Wutong tua,
ranting-rantingnya menerobos ke dalam awan.

Kemudian melirik anak gadisnya yang duduk di sisinya untuk menyambung, gadis kecil berumur delapan tahun itu seketika melengkapi sebait:

Dahan-dahan menyambut burung selatan utara,
dedaunan mengantar angin pergi dan datang.

Sebait puisi ini telah membuat ayah itu terdiam dan sedih, puisi adalah suara hati dan harapan, bagaimana seorang gadis bisa begini terapung dan terombang-ambing? Gadis itu akhirnya memang menjadi perempuan penghibur.
Ini adalah sepenggal cerita masa kecil Xue Tao yang sering ditemukan di dalam berbagai macam buku, tetapi sangat sulit mengetahui kebenarannya. Cerita serupa begini masih bisa ditemui di dalam catatan masa kecil beberapa penyair perempuan Cina Kuno yang lain. Sepenggal catatan pendek begini menyimpan berapa banyak bias gender di dalam masyarakat Cina Kuno, serta posisi perempuan terpelajar di dalam tradisi Konghucuisme selama ribuan tahun. Seandainya sebait puisi di atas keluar dari mulut seorang anak lelaki, maka komentar dan penilaian akan menjadi sangat berbeda. Sebait puisi dari seorang anak berumur delapan tahun yang begini lincah dan ceria, kenapa tiba-tiba berubah menjadi sebuah kutukan? Jawabannya mungkin akan terlalu panjang dan berat juga menyangkut sebuah tradisi yang sangat tua. Sudahlah, saya tebas paku potong besi, tidak usah bahas lagi.

*

Xue Tao lahir di Chang’an antara tahun 768 sampai 770, tidak dapat dipastikan, di dalam catatan sejarah resmi tidak tercantum riwayat hidupnya, sekalipun Xue Tao selalu dianggap sebagai salah satu penyair perempuan Dinasti Tang yang paling berbakat dan penting.
Ayahnya adalah seorang pejabat pemerintah pusat, tetapi beberapa tahun setelah Xue Tao lahir, dia dipindah-tugaskan ke daerah Sichuan, memegang jabatan bendahara di kantor Gubernur Jenderal Sichuan.
Seluruh masa kecil, remaja hingga hari tua Xue Tao dihabiskan di Sichuan. Sichuan pada masa itu termasuk salah satu provinsi otonomi penuh yang disebut Provinsi Militer dalam catatan sejarah. Provinsi-provinsi ini biasanya dipimpin seorang Gubernur Jenderal, mereka selain memiliki tentara sendiri, bebas mengangkat dan menghentikan pejabat-pejabatnya juga tidak perlu menyetorkan pajak kepada pemerintah pusat di Chang’an. Dan satu-satunya hak intervensi pemerintah pusat terhadap Provinsi Militer adalah hak Kaisar mengangkat semua Gubernur Jenderal,  walaupun demikian, pembangkangan dari beberapa Provinsi Militer tetap terjadi sepanjang paruh kedua abad ke-8 hingga abad ke-9. Ini tentu adalah salah satu masalah yang paling mengerogoti keutuhan Dinasti Tang dan terakhir membuatnya ambruk.
Sichuan bukan Provinsi Militer pembangkang, cukup patuh. Tiap tahun tetap menyetor ke pemerintah pusat, tetapi bukan sebagai setoran pajak melainkan sebagai upeti, dan semua Gubernur Jenderal-nya juga diangkat atau ditunjuk oleh Kaisar. Sedikit kepatuhan ini telah membuat Sichuan agak stabil dibandingkan dengan Provinsi Militer lain, sehingga dapat berkembang menjadi daerah yang cukup makmur dan relatif aman di alam Tang yang terus bergolak. Sekalipun gangguan-gangguan di perbatasan Yunnan dan Tibet masih sering terjadi.
Tahun 782 ayah Xue Tao tiba-tiba meninggal dunia, ini adalah petaka yang mengubah jalan hidup Xue Tao. Ada beberapa versi tentang kematian ayahnya; dihukum mati, terbunuh dalam sebuah pemberontakan di Chengdu, atau sakit. Apapun versinya, Xue Tao yang masih berumur 14 tahun akhirnya harus menjalani hidupnya sebagai seorang perempuan penghibur di tempat hiburan yang dikelola oleh pemerintah untuk keperluan pejabat dan tamu-tamunya. Pada masa itu tempat-tempat hiburan begini berkembang pesat di daerah ‘ lampu merah ‘ Chengdu yang gemerlap. Jika ayahnya dihukum mati karena korupsi maka kemungkinan besar Xue Tao dimasukkan ke rumah hiburan milik pemerintah sebagai hukuman, dan lumrah pada masa itu. Jika ayahnya terbunuh dalam sebuah pemberontakan atau meninggal dunia karena sakit, kemungkinan Xue Tao sendiri yang mendaftar ke rumah hiburan milik pemerintah.
Apapun pilihannya atau hanya sekedar menjawab tantangan hidup, Xue Tao memang menjadi seorang perempuan penghibur resmi, masuk ke dalam sebuah dunia di mana perempuan dihargai sebagai pendamping bicara, tempat curhat, seniman, di mana bakat dan kecerdasan lebih diutamakan daripada kecantikan, tempat lelaki rileks atau membuat persekongkolan politik atau persetujuan bisnis atau mencari perempuan pendamping yang secara intelektual tidak mampu dipenuhi oleh isterinya yang terbatas pendidikannya. Tentu, seks juga merupakan bagian dunia ini, tetapi bukan bagian yang terbesar.
Perempuan penghibur di jaman Dinasti Tang tidak sesempit pemahaman sekarang. Perempuan penghibur pada masa itu terbagi dalam berbagai tingkatan sesuai keperluan, Xue Tao termasuk perempuan penghibur resmi, dia bekerja, diatur dan dilindungi pemerintah, dia juga harus membayar pajak. Perempuan-perempuan penghibur resmi juga sering tampil dalam acara-acara resmi, sehingga kesempatan mereka berkenalan dengan lelaki-lelaki yang memiliki kuasa dan terdidik lebih terbuka.
Xue Tao dengan bakatnya yang begitu menonjol dalam usia muda belia tentu telah mencuri perhatian tokoh-tokoh penting Sichuan. Dan memang, tiga tahun kemudian, dia sudah sering dipanggil untuk mendampingi Gubernur Jenderal Sichuan yang baru menjabat bernama: Wei Gao, dalam acara resmi maupun pesta pribadi. Hubungan mereka sangat khusus, tetapi kita tidak dapat menduga seberapa jauh hubungan tersebut, apakah hubungan kekasih atau teman atau patron. Wei Gao adalah salah satu Gubernur Jenderal Sichuan yang sangat berpengaruh, dia memegang jabatan ini selama 21 tahun, memberikan Sichuan ketenteraman dan kemakmuran yang jarang ada pada periode itu di dataran Cina.
Dua tahun kemudian, Wei Bao membantunya melepaskan diri sebagai perempuan penghibur. Setelah memperoleh kebebasan dia memilih menetap sendiri di tepi Sungai Brokat, usianya baru dua puluh tahun. Ini adalah sebuah pilihan yang sangat berani, pada jaman itu seorang perempuan muda berani memilih hidup sendiri sebagai veteran perempuan penghibur adalah tantangan yang sulit kita bayangkan. Dia tetap mencari hidup dengan menulis puisi, mendampingi Gubernur Jenderal dalam acara resmi maupun pesta pribadi hingga Wei Gao mendadak meninggal dunia di tahun 805. Pada masa itu selain sebagai pendamping Gubernur Jenderal dalam acara-acara resmi, Xue Tao juga mempunyai sebuah jabatan setengah resmi: nujiaoshu ( semacam sekretaris ), disebut tidak resmi karena pengangkatan ini tidak disetujui pemerintah pusat. Sekalipun setengah resmi, dan tugas jabatan ini juga sangat ringan, tetapi dia mungkin merupakan perempuan pertama yang masuk dalam birokrasi pemerintah dalam sejarah Cina. Mendampingi Gubernur Jenderal dalam acara resmi dan memegang jabatan jiaoshu setengah resmi ini terus dilakukan Xue Tao hingga hari tua, dia melewati sebelas periode Gubernur Jenderal.
Awal musim semi 809, melalui seorang teman Xue Tao berkenalan dengan Yuan Zhen. Sebagai penyair dan kaligrafer, nama Xue Tao sudah lama menyebar keluar daerah Sichuan, cukup terkenal di kalangan sastrawan dan kaum terpelajar, dan Yuan Zhen adalah sebiji bintang yang sedang bersinar di dunia sastra dan politik. Menurut cerita, dalam waktu singkat Xue Tao sudah jatuh cinta pada Yuan Zhen yang muda, berbakat dan flamboyan itu. Seandainya cerita ini benar, siapa bisa sangka perempuan sangat matang ini akan bertemu dengan sepotong cintanya yang paling mewah di saat begini. Dia 40 tahun dan Yuan Zhen 31. Seandainya cerita ini benar, maka kita pasti juga tahu hubungan ini tidak akan berhasil, terlalu banyak rintangan yang mesti dilalui, lagipula Yuan Zhen terkenal sebagai penyair Tang yang paling playboy. Tidak tahu ada berapa banyak perempuan telah membasuh muka dengan airmata demi dia. Sepotong kisah cinta ini sudah terlalu banyak kali ditulis ulang dan sangat sulit dipertanggung-jawabkan kebenarannya. Dalam catatan pendek ini saya rasa tidak perlu lagi dipanjang-lebarkan.
Tidak sulit untuk memahami mengapa Xue Tao hidup sendiri hingga akhir hayat, terlepas dari benar tidaknya pengaruh hubungannya dengan Yuan Zhen yang singkat dan cepat menjadi masam itu. Dia jelas adalah seorang perempuan yang memiliki pikiran sangat mandiri, sekalipun untuk ukuran jaman sekarang. Bagi seorang perempuan yang sejak umur 14 tahun sudah menghidupi diri sendiri, saya kira dia juga sangat mandiri secara ekonomi. Ditambah namanya yang kian berkibar dan lingkungan pergaulannya, semua ini tentu membuat dia sulit menemukan pasangan yang cocok.
Di usia senja, Xue Tao lebih banyak menghabiskan waktu mempelajari ajaran Tao, sering berpenampilan sebagai pendeta Tao, hidup menyepi di tepi Sungai Brokat. Tetapi ini bukan pertapaan, dia masih melayani undangan-undangan dari Kantor Gubernur Jenderal, menerima teman-temannya dari dunia sastra dan politik hingga hidupnya berakhir. Dia meninggal dunia pada tahun 831, menikmati hidup 63 tahun. Xue Tao mungkin adalah penyair Tang Tengah yang paling luas pergaulannya. Dia pernah mendampingi sebelas orang Gubernur Jenderal Sichuan, dia kenal dan saling bertukar puisi dengan hampir semua penyair penting Tang Tengah, seperti: Bai Juyi, Yuan Zhen, Wang Jian, Zhang Ji, Liu Yuxi, Du Mu…
*

Puisi-puisi Xue Tao jarang ditemukan di dalam antologi-antologi yang disusun kemudian, termasuk antologi puisi Tang yang paling populer: Antologi 300 Puisi Tang. Di dalam Antologi Lengkap Puisi Tang terdapat satu bab puisi Xue Tao yang berisi 89 puisi. Jika melihat Antologi yang berisi 42.863 buah puisi dari 2529 penyair ini, dan hanya ada sekitar 600 buah puisi yang ditulis oleh 130 penyair perempuan, maka 89 buah puisi Xue Tao adalah jumlah yang luar biasa. Konon, Xue Tao juga pernah menerbitkan sebuah buku puisi yang diberi nama: Kumpulan Puisi Sungai Brokat, berisi 500 buah puisi-puisinya, sayang buku ini lenyap ditelan jaman.
Selain puisi, jejak-jejak Xue Tao masih bisa kita temui di sebuah taman bernama Taman Tatapan Sungai, yang berada di tepi Sungai Brokat, Chengdu. Pada masa Dinasti Qing ( 1644 – 1912 ) dibangun sebuah pagoda bernama Pagoda Tatapan Sungai untuk mengenang penyair ini, tidak jauh dari Gubuk Du Fu dan Kuil Zhuge Liang. Di dalam taman ini juga ada sebuah sumur yang diberi nama Sumur Xue Tao, dan rumahnya kemungkinan juga berada di dalam taman, sayang sudah tidak berbekas. Rumah penyepian ini dia beri nama: Pagoda Resital Puisi
Puisi-puisi terjemahan dalam catatan ini tetap tidak saya bahas seperti catatan-catatan terjemahan puisi Cina Klasik sebelumnya, biar pembaca yang budiman sendiri menilai dan menikmatinya.

Angin

Sehabis mengejutkan anggrek, wangi lembut bersemilir
jauh, terbang menyentuh senar kecapi jadi satu denting.

Pucuk pepohonan terang bersih, daun-daun berebut jatuh
gemericik, sepanjang setapak hutan pinus, malam sejuk sepi


猎蕙微风远,飘弦唳一声。
林梢明淅沥,松径夜凄清。
Menatap Musim Semi
1.

Bunga mekar, siapa berbagi nikmat
Bunga gugur, siapa berbagi pilu.
Ingin tanya, di mana rindu paling mengaduk
saat bunga mekar atau saat bunga gugur.

2.

Petik rumput dan ikat, satu simpul kekasih
buat kukirim yang tahu nyanyian hati
Baru saja potong kusut gelisah musim ini,
ai, burung terperangkap musim semi menjerit lagi

3.

Bunga di dalam angin, hari ditiup tua. Musim
terindah kita, seakan telah pupus dan jauh
Tiada orang mengikat simpul hati, percuma
petik rumput mengikat simpul kekasih.
4.

Bagaimana menahan, bunga rekah sedahan
penuh, berkepak berguling jadi dua buah rindu.
Untaian giok bening gantung di cermin pagi,
tahu atau tidak dia, hei, angin musim semi?
春望词四首

1.

花开不同赏,花落不同悲。
欲问相思处,花开花落时。
2.

(扌监)草结同心,将以遗知音。
春愁正断绝,春鸟复哀吟。
3.

风花日将老,佳期犹渺渺。
不结同心人,空结同心草。
4.

那堪花满枝,翻作两相思。
玉箸垂朝镜,春风知不知。
Dalam Pembuangan ke Tanah Perbatasan Mengenang Tuan Wei
( dua nomor pilih satu )
Pernah dengar kota perbatasan pahit
empedu, habis mencicip baru tahu
Kian malu, telah kupetik irama dari balik
pintumu, nyanyi bersama prajurit di tanah jauh

罚赴边有怀上韦令公二首

闻道边城苦,而今到始知。
却将门下曲,唱与陇头儿。

Menjawab Orang Bercengkerama dengan Bambu Sehabis Hujan
Saat hujan musim semi tiba di langit selatan,
bisa cermati lagi —— o, betapa ganjil —— gerak lekuk
embun beku dan salju. Seluruh tumbuhan sedang rindang
hijau berbaur, tinggal dia sendiri tegar hampakan hati.
Di situ tujuh bijak hutan bambu bertahan mabuk arak dan puisi,
daunnya sejak dulu berbintik airmata pilu Sang Permaisuri.
Bila tahunmu masuk musim dingin, tuan, kau pantas kenal
dia lagi, hijau dingin kelabu, beruas langka dan kukuh

Catatan:
Tujuh bijak hutan bambu adalah tujuh orang sastrawan yang melawan pemerintah Dinasti Jin ( 265 – 420 ) dengan tidak menerima jabatan apapun dari Kaisar, lebih memilih cara hidup yang agak bohemia, sering berkumpul di hutan bambu minum arak sambil berpuisi.

Sang Permaisuri adalah isteri Raja Shun yang dipercaya hidup pada abad ke-23 SM, karena sedih akan kematian suaminya, menurut legenda percikan airmatanya telah menempel jadi bintik-bintik di daun bambu yang kemudian dikenal sebagai bambu berdaun bintik

酬人雨后玩竹

南天春雨时,那鉴雪霜姿。
众类亦云茂,虚心宁自持。
多留晋贤醉,早伴舜妃悲。
晚岁君能赏,苍苍劲节奇。

Serpihan Bunga Dedalu
Awal Maret bunga dedalu ringan juga gemulai,
angin musim semi goyang membuai baju orang.
Dia aslinya memang benda tiada rasa, sudah
bilang terbang selatan malah terbang utara

柳絮咏

二月杨花轻复微,春风摇荡惹人衣。
他家本是无情物,一向南飞又北飞。

Tepi Sungai
Mendadak angin barat melapor, berpasang-pasang angsa liar
telah tiba, dunia fana, hati dan rupa merosot berdua.
Jika bukan tersebab surat rahasia di perut ikan, ada mantera
cinta, siapa kuat mimpi bersambung mimpi tegak di tepi sungai.

江边

西风忽报雁双双,人世心形两自降。
不为鱼肠有真诀,谁能夜夜立清江。

Jalan-jalan ke Pinggiran Kota di Musim Semi: Buat Suhu Sun
Pagi ini biarkan mata bermain wangi semerbak,
sehelai kain bunga melingkar gaun ujung berenda.
Sepenuh lengan sepenuh kepala sepenuh genggam,
biar orang tahu aku baru pulang melihat bunga.

春郊游眺寄孙处士二首

今朝纵目玩芳菲,夹缬笼裙绣地衣。
满袖满头兼手把,教人识是看花归。

Buat Seseorang di Jauh
( dua nomor pilih satu )
1.

Sekali lagi habicus jatuh, gunung Tanah Su
masuk musim gugur,
buka sepucuk surat bersulam syair, hanya bersua sedih.
Di kamar perempuan, kami tidak tahu apapun
tidak pedang tidak kuda,
saat bulan tinggi, kembali daki menara janda menatap jauh.

赠远二首

芙蓉新落蜀山秋,锦字开缄到是愁。
闺阁不知戎马事,月高还上望夫楼。

Tentang Kuil Pucuk Awan
1.

Konon lumut di Kuil Pucuk Awan, saat angin tinggi
matahari dekat, terbebas dari segala debu dunia.
Awan lintas memercik mewarna dinding padma,
seolah sedang menunggu penyair dan bulan mustika.
2.

Konon bunga di Kuil Pucuk Awan, terbang di udara,
berputar di tangga batu, menyusuri lengkung sungai.
Kadang juga bisa mengunci cermin Chang’er, sang bulan
mengukir awan semu merah di istana Ratu Langit Barat.

赋凌云寺二首
闻说凌云寺里苔,风高日近绝纤埃。
横云点染芙蓉壁,似待诗人宝月来。
闻说凌云寺里花,飞空绕磴逐江斜。
有时锁得嫦娥镜,镂出瑶台五色霞。

Antar Seorang Teman
Malam negeri sungai, pucuk gelagah berselaput embun
beku, bulan gigil gunung berpijar, serentak hijau kelabu
Siapa bilang seribu li dimulai malam ini, jarak mimpi
sepanjang jalan menuju gerbang perbatasan.

送友人

水国蒹葭夜有霜,月寒山色共苍苍。
谁言千里自今夕,离梦杳如关塞长。

Kirim Sajak Lama Buat Yuan Zhen
Terangsang mengaduk puisi siapa juga punya,
hanya aku sendiri tahu menangkap lekuk rinci
angin dan cahaya, bersenandung bunga di bawah bulan,
sedih akan yang pupus dan layu, atau tulis dedalu
di pagi gerimis, demi rerantingnya lengkung berayun.
Perempuan bagai giok hijau simpan di dasar rahasia,
tapi aku tetap sesuka hati menulis di kertas syair merah.
Tumbuh menjadi tua, siapa bisa rangkum karya lama
dan memperbaiki seluruh kesalahan, maka aku kirim
sajak ini buatmu, tampak seolah mengajar seorang bocah

寄旧诗与元微之
诗篇调态人皆有,细腻风光我独知。
月下咏花怜暗淡,雨朝题柳为欹垂。
长教碧玉藏深处,总向红笺写自随。
老大不能收拾得,与君开似好男儿。

Isis dan Pangu

Gerundelan John Kuan
isis dan osiris
Gambar diunduh dari theusesofenchantment.com

Kecuali datangnya sakit dan bencana, pada umumnya, kita jarang memiliki perasaan yang mendalam terhadap kematian.    Kematian seolah adalah sesuatu yang begitu jauh dari kita. Atau begini saja: kita tidak merasa kematian mempunyai hubungan dengan kita. Tapi Jean-Paul Sartre berkata: ” Dimulai dari sesaat dilahirkan, kita akan selangkah-selangkah berjalan menuju kematian. “Kesadaran terhadap kematian sering menyebabkan perubahan sangat besar dalam kehidupan.Orang Mesir Kuno memiliki renungan yang dalam dan kokoh terhadap kematian.

Peradaban baru mulai, memanfaatkan lumpur kaya kandungan yang dibawa banjir Sungai Nil mengembangkan pertanian, membentuk kota, mendirikan negara. Namun, di awal mulainya kemajuan peradaban, juga merupakan awal mulainya rasa tak berdaya terhadap kematian, orang Mesir menciptakan mitologi begini:

Dewa utama Osiris dan adik perempuannya Isis mengikat sebagai suami-isteri, melahirkan seorang anak lelaki bernama Horus; mereka hidup bahagia seperti di dalam hampir semua cerita.

Osiris adalah lambang kebenaran, kebaikan, ketekunan, namun menimbulkan kebencian dan iri dari Dewa Kegelapan Set; setelah membunuh Osiris, Set memasukkan tubuh Osiris ke dalam peti kayu, dibuang ke dalam Sungai Nil.

Isis yang kehilangan suami, siang malam menangis. Dia menyembunyikan anaknya Horus di rawa berilalang, meminta dewi laut menjaganya, dan sendiri mengembara ke empat penjuru, mencari tubuh suaminya.

Setelah melewati berbagai kesulitan dan derita, Isis akhirnya berhasil menemukan tubuh Osiris. Dia bersujud di sisi tubuh kaku itu, menjerit pilu, berharap Osiris bisa hidup kembali.

Isis harus segera menyembunyikan kembali tubuh Osiris, balik menjemput anaknya Horus. Tak duga, Set yang penuh benci dan dengki, menggunakan kesempatan ini, dengan segala cara berhasil menemukan tubuh Osiris, agar bisa tuntas membinasakan Osiris, dia mengoyak tubuh Osiris menjadi potongan-potongan kecil, lalu ditebarkan ke dalam Sungai Nil.

Isis yang kembali bersama anaknya, menemukan suaminya telah menjadi serpihan, luar biasa sedih, konon, airmata pilunya mengalir jadi banjir Sungai Nil yang datang setiap tahun di awal musim panas.

Walaupun begitu, Isis tidak menyerah, dia mencari ke setiap sudut, mengumpul kembali setiap potongan tubuh Osiris yang hanyut di dalam sungai, menggunakan jarum dan benang menyatukan serpihan-serpihan itu, dia akan dengan setiap jahitan mengembalikan tubuh suaminya.

Karena airmata Isis, banjir tahunan Sungai Nil membawa datang endapan lumpur yang kaya kandungan, menyuburkan tanah, membangkitkan pertanian; karena cinta Isis, tubuh Osiris dari serpihan utuh kembali, hidup kembali.

Alam dewata tersentuh, banyak dewi-dewi membuka sayap, mengibaskan angin kehidupan, Anubis membawa datang linen, selapis-selapis dibalut dibungkus, membantu Isis menghidupkan kembali suaminya Osiris.

Menurut cerita, itulah mumi Mesir yang pertama.

Di dalam mumi tersimpan sedih pilu orang Mesir Kuno terhadap kematian, cinta kepada yang telah mati, harapan yang teguh dan berkobar terhadap hidup kembali.

Orang Mesir terlalu teguh atau mungkin bisa disebut keras kepala, mereka percaya, asalkan tubuh masih ada, sekalipun disobek jadi serpihan, tetap bisa dijahit utuh kembali; mereka percaya, asalkan tubuh ada, pasti ada kemungkinan berlanjutnya hidup.

Osiris kemudian dinobatkan sebagai Dewa Kematian, di mulut pintu maut menerima orang-orang yang sampai di alam lain. Di dalam banyak makam-makam Mesir Kuno masih meninggalkan pahatan atau mural begini: Osiris merentangan kedua tangan menyambut, Anubis dan isterinya Isis berdiri di samping menemaninya, juga ada dewi-dewi yang membuka sayap, mengibas angin hidup kembali.

Mumi-mumi kering mengerut yang tersimpan di British Museum, bisa membuat orang terguncang, dengan cara yang begitu mendalam dan sedih meneror yang hidup, menyaksikan bentuk terakhir dari hidup ini!

Orang Mesir terlalu rasional, mereka samasekali tidak menghindari kematian sebagai suatu kenyataan, mereka menciptakan orang mati menjadi mumi, mereka menggunakan granit memahat patung-patung raksasa, mereka terus berharap kekekalan tubuh ini.

Cara Mesir menghadapi kematian adalah khidmat dan pilu.

Mengenai kesadaran orang Cina Kuno terhadap kematian adalah begini:

pangu
Gambar diunduh dari 2.bp.blogspot.com

Pangu yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, suatu hari mati, dia rebah di atas bumi, dagingnya berubah menjadi tanah ladang, tulang-belulangnya berubah jadi pegunungan, keringatnya mengalir jadi sungai-sungai, rambut, janggut dan bulu tubuhnya berubah jadi rumput dan pohon, mata kirinya menjadi matahari, mata kanannya menjadi bulan, nafasnya menjadi awan dan angin di langit…

Saya selalu menyukai cerita ini, seperti banyak cerita di dalam mitologi Nusantara, sedih pilu terhadap kematian berubah menjadi keceriaan hidup baru, hidup perorangan mengikat menyambung dengan segala hal dan segala benda di dalam semesta, kematian menjadi semacam persembahan, kematian adalah bentuk cinta yang lain…

 

     Bunga gugur itu bukan benda tiada rasa,

     menjelma jadi lumpur musim semi lindungi bunga.

落红不是无情物,

luòhóng bù shì wúqíng wù

化作春泥更护花。

huà zuò chūnní gēng hù huā

Tiba-tiba teringat sepenggal puisi penyair Dinasti Qing: Gong Zizhen ( 1792 -1841 ) ini. Tafsir terhadap kematian yang begini, lebih matang, lebih cermat, mungkin adalah kearifan yang diperoleh dari pengamatan terhadap perubahan alam. Ini juga sangat mirip dengan orang Ibrani Asia Barat Kuno yang berkata di dalam injil: Sebiji gandum jatuh ke dalam tanah dan mati, akan tumbuh keluar lebih banyak biji gandum lagi.

Tidak tahu juga apakah karena Pangu, orang Cina setelah periode Lima Dinasti ( 907 – 960 ) menjadi kurang begitu melukis figur manusia, tetapi sangat suka melukis pemandangan alam. 

Kesukaan orang Cina melukis pemandangan alam benar-benar sangat terkenal dan tidak usah diceritakan lagi. Pemandangan alam seolah bentuk lain dari figur manusia. 

Pegunungan adalah tulang belulang manusia, ladang dan sawah adalah daging manusia, hutan adalah rambut manusia, dan sungai-sungai besar yang terus menerus mengalir, pasti adalah airmata dan cairan darah yang tidak henti mengalir dari jaman ke jaman. 

Saya berulang kali menceritakan kisah Isis dan Pangu ini kepada orang-orang di sekitar saya, terus berusaha mencari penjelasan yang masuk akal di dalamnya. Namun, setelah beberapa kali menceritakan, akhirnya saya menemukan bahwa bagian terbaik dari cerita-cerita kuno ini, bukan berada pada penjelasan yang masuk akal, tetapi pada cerita mereka yang disampaikan dengan begitu asli dan polos.

Sejak adanya istilah ‘ sastra ‘ yang amat merepotkan ini, dan malangnya lagi sejak ‘ sastra ‘ terus-menerus diulas oleh peneliti-peneliti di sekolah-sekolah tinggi, cerita pun karam.

Saya agak malu pada umur segini masih sering kepergok terjerumus bersama anak-anak kecil di depan rak-rak buku dongeng, sesungguhnya saya belum pernah benar-benar terlepas dari cengkeraman legenda, dongeng, mite, dan lain-lain yang pokoknya bernama cerita.

Setelah menulis Isis dan Pangu, saya merasa sedikit bosan dengan motif sendiri mencari penjelasan yang masuk akal terhadap mitologi-mitologi tua. Bersandar di kursi istirahat, teringat satu per satu legenda, dongeng, fabel yang diceritakan nenek, dari bintang sampai kupu-kupu, dari burung pipit sampai ayam jago, manusia-manusia pertama yang turun dari langit, keluar dari batu, menetas dari telur, keluar dari bambu di dalam mitologi Nusantara, Echo dan Narcissus dari mitologi Yunani, cerita-cerita Jataka. Semua cerita-cerita ini begitu sederhana, namun bukan sebuah penjelasan masuk akal yang dapat mengantikannya.

hitam dan putih
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com

Di dalam cerita-cerita itu, saya tiba-tiba merasa memperoleh kebebasan yang luar biasa, seolah tiba-tiba terlepas keluar dari bingkai ‘ sastra ‘ yang sesak dan membosankan itu, kembali memiliki ruang yang lapang. Di antara cerita dan cerita, di antara kenyataan dan imajinasi, di antara jaman dahulu dan jaman sekarang, dapat menerobos, tanpa sekat, datang dan pergi sesuka hati.

Kadang-kadang kenyataan yang terselubung akan menjadi kepedihan cerita, dan sejarah mungkin juga menjadi kesuraman cerita; namun, bagaimana pun hidup pasti akan berlanjut, dan bukan hanya saja berlanjut, bahkan ingin mendengar cerita-cerita bagus, cerita-cerita indah, cerita-cerita sedih, cerita-cerita yang bisa dijelaskan dan yang tidak bisa dijelaskan, sebab hidup belum berakhir, bait puisi belum berakhir, saya sering merasa tokoh-tokoh cerita-cerita tua ini di sekelilingku, mempunyai nyanyian tangisan tawa dan airmata yang sama.

Abelard, Heloise, Birahi dan Reinkarnasi

Gerundelan John Kuan

tragedy love story
Gambar diunduh dari http://www.derekdelintfansite.com

Sudah beberapa kali saya melepaskan kesempatan mengunjungi Cina, selalu merasa sebaiknya menjaga sedikit jarak, mungkin dengan begini akan lebih bagus terhadap panoramanya, produk budayanya, atau orang-orang yang hidup di dalam sejarahnya. Pernah seorang teman bertanya seandainya saya berkunjung ke Cina lagi, paling ingin kemana, saya menjawab Yicheng dan Tibet.    Yicheng dan sekitarnya adalah daerah pengembaraan dan tempat Li Bai menumpang hidup di masa tua. Nama tempat ini agak jarang disebut, ia terletak di barat laut provinsi Hubei, atau mungkin saya kasih titik koordinat saja: 111°57′-112°45′ bujur timur, 31°26′-31°54′ lintang utara.

Dan Tibet, adalah demi berbagai lapis perbandingan sejarahnya dan letak geografinya, tentu juga demi agamanya.

*

Reinkarnasi lama, saya kira, adalah satu hal yang paling misterius di dunia moderen ini. Dan yang percaya akan hal ini kelihatannya sungguh tidak sedikit ——— bahkan yang tidak percaya agama Buddha Tibet juga mengakuinya dalam diam. Ini adalah salah satu sisi yang memancarkan kebaikan dunia manusia, saya berharap akan terus berlangsung. Kadang-kadang penganut agama Kristen terhadap perihal tertentu bisa menjadi sangat ketat dan sempit, seringkali memiliki semacam gaya ‘ ketika menguasai sebuah perdebatan, akan mengejar hingga lawan kehabisan nafas ‘, tetapi terhadap reinkarnasi lama, seperti tidak ada orang yang tampil meragukannya. Mengikuti perkembangan ini, tampaknya kelanjutannya tidak ada masalah besar.

 

*

Reinkarnasi lama biasanya seperti tidak keluar dari lingkup Dataran Tinggi Tibet.

Pada 3 Maret 1984 Lama Yeshe mencapai nirwana di San Fransisco, tanggal 12 Februari tahun berikutnya ada seorang bayi laki-laki lahir di Granada, Andalusia Spanyol, ternyata adalah reinkarnasi sang lama. Granada adalah dunia agama Katolik Spanyol kuno, Federico Garcia Lorca pernah menulis sebuah puisi, judul dan temanya mengambil ‘ Santo Mikael ‘, dengan Malaikat Agung Santo Mikael sebagai malaikat pelindung Granada. Saya pernah coba menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia, puisinya sekitar enam puluh baris, bait pertama dan bait terakhir kira-kira begini:

 

Dari pagar balkon juga bisa kelihatan

bayang antara barisan keledai dan barisan keledai

penuh memikul bunga matahari, telah mendaki

gunung, gunung, gunung

 

……

 

Santo Mikael, raja segala benda Langit

raja diraja sejak dahulu kala

penuh dengan keagungan orang Berber

jeritan dan keanggunan jendela balkon

 

bagaimana seorang lama bisa memilih reinkarnasi di dunia seperti di atas? Tetapi menurut cerita, semasa hidup lama Yeshe pernah beberapa kali ke Granada menyebarkan Darma, dan kedua orangtua anak lelaki itu: Osel Hita Torres, adalah pengikut agama Buddha Tibet, ah, rupanya mereka adalah murid-muridnya!

Ketika Osel Hita Torres berumur dua tahun, dia dibawa orangtuanya ke India, Dalai Lama menatapnya dari dekat, memastikan bahwa anak Spanyol ini memang reinkarnasi lama Yeshe, maka prosesi masuk kuil dilakukan, dia menjadi pemimpin Kuil Kopan di Nepal, melanjutkan posisi lama Yeshe sebelumnya. Di seluruh dunia bukan sedikit orang yang tahu hal ini, saya kira, dan semua orang membelalakkan mata lihat, diam-diam mengakui maknanya yang penuh misteri itu, tanpa hingar-bingar.

Ini sungguh mitologi moderen yang paling menyentuh, sebuah kitab wahyu besar yang sulit dijelaskan. Saya sampai tidak tahan menulis sebuah puisi, meniru gaya nyanyian rakyat. Mengapa menggunakan gaya ini? Rupanya Malaikat Agung Santo Mikael yang di bawah pena Lorca membimbing saya, Granada yang dia lindungi membimbing saya.

 

     Datanglah datanglah, datang sampai di Andalusia

     Carilah daku carilah daku di Granada yang jauh…

 

*

Rasa kesunyian yang diberikan agama kepada manusia dapat saya bayangkan, bahkan saya percaya saya dapat menghargai kesunyian begini. Asketisme adalah sesuatu yang mulia, hal ini saya setuju juga, maka membaca karya sastra Barat abad pertengahan, masih bisa memahami.

Konon, agama juga memberi orang rasa khidmat dan puas. Mengenai ini saya masih belum bisa memahami. Kadang-kadang di dalam filem menunjukkan adegan demikian, misalnya seorang prajurit yang telah mengalami duka dan luka pelan-pelan bersujud menghadap angin dan awan di padang luas berdoa, rendah hati, lelah, dan di jauh seperti ada cahaya ilahi berpijar, menciptakan semacam rasa khidmat dan puas, seperti juga sangat mengharukan. Namun saya berpikir kembali, yang membuat hati tersentuh, bukan ‘ seperti ada cahaya ilahi berpijar ‘, bagi saya, yang menggetarkan hati, rupanya adalah efek yang dihasilkan dari crescendo musik latar.

*

Kesunyian relijius membuat orang tetap memiliki kesempatan kontemplasi, memang bagus.

Membuang dan menutup hawa nafsu seharusnya juga merupakan satu bagian dari kesunyian.

Saya sering berpikir: yang paling sulit di dalam kehidupan biara, pasti adalah membuang dan menutup hawa nafsu. Seorang lelaki atau perempuan di masa remaja karena hasutan sisi rohani meninggalkan kehidupan duniawi, masuk ke dalam kesunyian relijius, menjadi biarawan, memutuskan akar dari perasaan dan emosi alamiah, menekan birahi, bagaimanapun adalah sesuatu yang sulit dipercaya.

Walaupun sulit dipercaya, namun saya memilih sikap tidak begitu curiga ——— memang sulit, tetapi bukan samasekali tidak mungkin.

*

Perancis di abad ke-12 ada seorang teolog bernama Abelard, dengan pengetahuan yang luas dan penampilan yang menarik menjadi sangat terkenal di seluruh Eropa, kemudian karena hubungan percintaan dengan muridnya, seorang gadis bernama Heloise, dia menikah dan mempunyai anak secara rahasia, melanggar sumpahnya, mereka masing-masing dikurung di dalam biara, seumur hidup tidak bisa bertemu. Ada yang menceritakan bahwa di masa tua Abelard menulis surat kepada teman, menyayangkan cinta lamanya yang makin kabur; hal ini diketahui Heloise, lalu menulis surat mengutarakan cintanya yang masih tumbuh merambat. Setelah keduanya meninggal dunia, surat-surat cinta mereka dicetak dan dibaca, menjadi salah satu kisah legendaris abad pertengahan yang paling memilukan dan memukau. Penyair Inggeris abad ke-18 Alexander Pope menulis sebuah puisi panjang: Eloisa to Abelard, membayangkan penerimaan dan penolakan Heloise terhadap cinta dan nafsu, membuat orang tercengang. Salah satu bagian seperti begini:

 

Datanglah, Abelard! Apa yang membuat kau takut?

Obor Venus tidak dibakar untuk yang mati.

Kemampuan alamiah tidak teledor, hanya agama tidak perbolehkan;

sekalipun kau mati jadi dingin, Eloisa tetap mencintaimu.

Ah putus asa ini, lidah api tak padam! Seperti demi yang mati membakar

terang, percuma cahaya yang hangatkan tempat abu tulang.

 

Setiap kali aku beralih pandang, apa pula itu?

Paras yang akrab, ke arahnya aku terbang mengejar,

bangkit dari dalam pepohonan, bangkit di depan altar,

menodai jiwaku, membuat sepasang mataku berenang liar,

Berkeluh demi kau, meniup mati lampu doa subuh,

kau diam-diam ikut campur di antara aku dan tuhan,

di dalam setiap himne aku seperti bisa mendengar dirimu,

sebiji rosari dihitung, setetes airmata lembut jatuh,

dan di saat gulungan awan harum dari tungku membumbung,

suara organ penuh berisi naikkan jiwaku berkibar,

begitu teringat dirimu, semua kekhidmatan menghilang,

biarawan, lilin panjang, gereja, berenang di depan mataku:

jiwaku yang terempas karam di dalam lautan lidah api,

dan altar menyala, malaikat-malaikat geleng menoleh.

 

Aku menelungkup di dalam kesedihan yang rendah, di sini

butiran kelembutan, kebajikan berkumpul di dalam kelopak mata,

aku gementar berdoa, berguling di dalam debu dunia,

mulai tahu di kedalaman jiwa kehormatan berpijar bagai cahaya fajar ———

Datanglah, kau yang paling sempurna, jika berani

dengan diri melawan Langit, merebut hatiku,

datanglah, dengan lirikan sepasang mata yang menggoda

sirnakan seluruh gambaran benderang sepenuh langit!

Bawa seluruh kehormatan, kesedihan, airmata itu pergi,

bawa seluruh pengakuanku yang tak berbuah dan doa pergi,

renggut aku, satu tarikan ke atas, renggut aku dari tempatku yang diberkati,

bantu setan-setan merebut paksa diriku dari sisi tuhan!

 

Tidak, tinggalkan aku jauh-jauh bagai kutub selatan buat kutub utara!

biarkan Gunung Alpen memisahkan kita, lautan luas menggemuruh.

Jangan datang, jangan tulis surat, tolong jangan mengingat diriku,

juga jangan seperti aku karena dirimu hati menjadi pedih!

Sumpah dapat dibatalkan, aku akan menghapus kenangan masa lalu,

lupakan aku, buanglah aku, sungguh-sungguh membenciku.

Mata yang indah, tampang memikat ( aku bisa melihatnya )

adalah paras yang telah lama aku cinta dan harap, selamat tinggal!

Oh cahaya kehormatan khidmat, oh kebajikan seindah Langit,

kelupaan suci membebaskan kegelisahan rendah!

Harapan yang segar merekah, gadis riang lembut punya Langit,

dan Keyakinan, kekekalan dini kita!

Silakan masuk, setiap tamu yang damai, yang ramah,

terima diriku dan selimuti aku di dalam peristirahatan kekal.

 

 

Come, Abelard! for what hast thou to dread?

The torch of Venus burns not for the dead.

Nature stands check’d; Religion disapproves;

Ev’n thou art cold–yet Eloisa loves.

Ah hopeless, lasting flames! like those that burn

To light the dead, and warm th’ unfruitful urn.

 

What scenes appear where’er I turn my view?

The dear ideas, where I fly, pursue,

Rise in the grove, before the altar rise,

Stain all my soul, and wanton in my eyes.

I waste the matin lamp in sighs for thee,

Thy image steals between my God and me,

Thy voice I seem in ev’ry hymn to hear,

With ev’ry bead I drop too soft a tear.

When from the censer clouds of fragrance roll,

And swelling organs lift the rising soul,

One thought of thee puts all the pomp to flight,

Priests, tapers, temples, swim before my sight:

In seas of flame my plunging soul is drown’d,

While altars blaze, and angels tremble round.

 

While prostrate here in humble grief I lie,

Kind, virtuous drops just gath’ring in my eye,

While praying, trembling, in the dust I roll,

And dawning grace is op’ning on my soul:

Come, if thou dar’st, all charming as thou art!

Oppose thyself to Heav’n; dispute my heart;

Come, with one glance of those deluding eyes

Blot out each bright idea of the skies;

Take back that grace, those sorrows, and those tears;

Take back my fruitless penitence and pray’rs;

Snatch me, just mounting, from the blest abode;

Assist the fiends, and tear me from my God!

 

No, fly me, fly me, far as pole from pole;

Rise Alps between us! and whole oceans roll!

Ah, come not, write not, think not once of me,

Nor share one pang of all I felt for thee.

Thy oaths I quit, thy memory resign;

Forget, renounce me, hate whate’er was mine.

Fair eyes, and tempting looks (which yet I view!)

Long lov’d, ador’d ideas, all adieu!

Oh Grace serene! oh virtue heav’nly fair!

Divine oblivion of low-thoughted care!

Fresh blooming hope, gay daughter of the sky!

And faith, our early immortality!

Enter, each mild, each amicable guest;

Receive, and wrap me in eternal rest!

 

Bait pertama di atas dengan cahaya api melambangkan cinta, disebut ‘ obor Venus ‘, adalah biarawati memohon Abelard datang, masuk ke dalam hati dan pikirannya, hidup nyalakan cinta dan birahinya, membuka kemampuan alami hidup dan nafsu. Bait kedua makin jelas menggambarkan yang siang malam dibayangkan Heloise adalah paras Abelard, sekalipun di depan altar juga tidak sirna, sehingga merasa Abelard telah masuk mengacau penglihatannya, berdiri di antara dia dan tuhan. Empat baris di awal bait ketiga, Heloise sendiri merasa terguncang oleh lindungan tuhan, merasa telah kehilangan kekuatan hati buat memikirkan Abelard, maka kian tidak peduli dengan bergelora memanggil nama Abelard, memohon dia dengan cintanya melawan tuhan, merebut hatinya, menghapuskan gambaran-gambaran malaikat di depan matanya, lalu bergabung dengan setan, merampas dirinya dari dekapan tuhan. Sekarang kita tahu nafsu adalah tidak baik, atau setidaknya di depan altar adalah sesuatu yang buruk, yang berlumuran dosa, yang dikuasai setan ——— dan Heloise dengan lantang meminta Abelard bersama setan, menuntaskan cinta dan birahinya terhadapnya. Ini adalah klimaks dari cinta yang menggelora dan gila, membuat pikiran orang terombang-ambing. Bait terakhir dimulai dengan [ Tidak ], Heloise jatuh dari puncak kegilaan cinta ke dalam kenyataan yang mati senyap, kembali ke dalam kesunyian yang mengelilingi biara, lelah, takut, lemah, hilang rasa, memohon malaikat menerimanya sebagai seorang biarawati yang taat, dan [ menyelimutinya di dalam peristirahatan kekal ].

Puisi Pope ini, telah memiliki kerangka discovering psychology, beberapa ratus tahun setelahnya, bagi yang pernah bersentuhan dengan psikologi analisis Freud, pasti akan melihat isyarat-isyarat seksualitas yang kuat di dalamnya. Dengan sedikit lebih dekat memperhatikan penggalan puisi yang tidak sampai lima puluh baris ini, dapat menguak gambaran yang diberikan Pope, mungkin adalah semacam proses masturbasi, adalah proses segelombang-segelombang menggulung naik gemuruh tumpukan fantasi seks Heloise. [ Merebut paksa diriku dari sisi tuhan ] tentu adalah klimaks, selanjutnya pelan-pelan surut, masuk ke alam kegelisahan, bimbang, penyesalan, dan putus asa.

*

Sesuai data sejarah sastra, ketika Heloise digoda, dirinya masih seorang gadis muda, sedangkan Abelard sudah lama melampaui parobaya. Setelah skandal ini meletus, Abelard dikebiri, dikurung di biara, Heloise juga dikurung di biara perempuan, membawa kenangan yang tak terkira.

Bagi Abelard, menghadapi [ biarawan, lilin panjang, gereja ] tidak terlalu sulit, walaupun masa lalu membuat sedih dan putus asa. Bagi Heloise, semua itu adalah hukuman tambahan yang dipaksakan dunia luar kepadanya: dia kehilangan kekasih, anak, dusun dan ladang, disekap di balik tembok biara; masa lalu tentu membuat orang sedih dan putus asa, yang terpampang di depan mata juga membuat sedih dan putus asa.

 

*

Umpama Heloise tidak mengalami sepenggal kisah dengan Abelard itu, umpama dia sejak gadis dan masih perawan sudah dibawa masuk ke biara sebagai biarawati, dia tentu tidak akan mempunyai nafsu yang begitu kuat bagai arus pasang naik. Kita seperti bisa begitu mengumpamakan, namun juga belum pasti.

Dengan demikian, kesunyian seharusnya adalah ritme kehidupan yang paling alamiah. Dia menengadah ke arah tuhan dan malaikat, khusuk mendengar lonceng doa subuh, bayang cahaya lilin panjang membawa damai hening dan ketaatan. Di bawah situasi begini, Heloise mungkin tidak akan mengalami pertentangan antara tubuh dan jiwa. Kemungkinan akan begini, namun juga belum pasti. Hal ini begitu sulit, begitu sulit benar-benar dipahami.

*

Mengekang nafsu di mulut dan perut, kekuasaan dan harta, nama dan lain-lain bisa dipahami, bisa dilaksanakan, hanya mengekang birahi adalah tantangan paling besar dalam hidup, dan yang bisa benar-benar teguh melaksanakannya sepanjang hidup sungguh sangat sedikit.

*

Apakah tuhan juga perlu mengekang birahi?

*

Maksud saya tuhan yang esa, apakah dia perlu mengekang birahi? Saya pikir, tuhan, yang esa itu, awalnya juga tidak mengekang birahi, kalau tidak dia tentu hanya menjadi tuhan bagi biarawan-biarawan yang teguh dan suci, dan tidak akan sejak awal sudah menjadi tuhan yang kita menengadah bersama.

 

*

Agama mendidik penganutnya dengan ‘ pengekangan nafsu ‘ yang terkandung di dalamnya, adalah hal yang baik. Seandainya ingin melalui pengekangan nafsu, meraba ke arah pertapaan, kesunyian, kehampaan, maka pasti harus ada sedikit ketentuan ——— yang disebut terakhir itu bukan setiap orang memerlukannya. Menurut saya, melakukan pengekangan nafsu, manusia masih bisa terus berkembang biak dan berkelanjutan, namun terhadap yang lain-lain mungkin agak sulit diduga.

Kecuali kita sungguh percaya perihal reinkarnasi itu.

Tujuh Jurus dari Nyonya Wei ( 7 )

Gerundelan John Kuan

Jurus Ketujuh: Ombak Berkejar Guruh Menggelinding
Kaligrafi Huang Tingjian ( 1045 -1105, Dinasti Song )
Jurus terakhir dari Formasi Tempur Kuasadalah satu goresan yang sering disebut ‘ Kereta Jalan ‘, yakni goresan terakhir dari karakter 道 ( baca: dao, artinya: jalan,… ). Saat dengan kuas menggoreskan garis ini, akan terasa tidak putus diseret dan ditarik. Seperti kaligrafi Huang Tingjian ——— [ Satu gelombang tiga putar ]. Seperti satu goresan itu terus diseret dan diseret, di dalam kekuatan timbul lagi kekuatan, kekuatan menyambung kekuatan.

    Saya sangat tertarik bagaimana Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi jurus terakhir ini? Bagaimana merasakan goncangan, gulungan di dalam goresan ini, bagaimana merasakan hubungan tarik menarik antara ketegangan dengan ketegangan? mengenai satu goresan ini, Nyonya Wei seperti biasa tetap memberikan empat kata: Ombak Berkejar Guruh Menggelinding

Gelombang di laut atau di sungai, bergerak berkejaran ke depan, sambung menyambung, terus menggulung tanpa henti. Pada masa Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi kaligrafi, dia sedang menetap di Cina Selatan yang dekat laut, mungkin di sekitar Nanjing atau Zhejiang. Mereka mempunyai kesempatan bertemu laut, dapat merasakan gemuruh pasang surut air laut atau pun sungai, dapat merasakan ombak berkejar. Gelombang saat air pasang naik, segulung segulung berlari menerjang datang, sampai di tepi tanggul, tiba-tiba seluruhnya menghantam pecah berderai, seperti ombak kaget meretak tebing, pecah menjadi selapis bunga gelombang.

Wang Xizhi yang belajar kaligrafi sudah bukan seorang anak kecil lagi, dia telah mengalami berat dan kecepatan batu jatuh, mengalami gerakan lapisan awan di atas cakrawala, mengalami ketegaran rotan kering sepuluh ribu tahun di kedalaman hutan; hidupnya telah menumpuk cukup banyak rasa, menumpuk cukup banyak cerita dan fenomena alam semesta. Dia telah mengenal cula badak, gading gajah yang ditebas putus; dia juga telah mengenal kekuatan dan kelenturan luar biasa ketika menarik lengkung sebuah busur.

Seorang guru yang menuntun masuk ke dalam keindahan hidup, pada pelajaran-pelajaran terakhir, mungkin tidak perlu lagi menjelaskan terlalu banyak.

Nyonya Wei dan Wang Xizhi mungkin bersama-sama berdiri di tepi sungai atau di tepi laut, bersama-sama mendengar suara air pasang dan surut, pada musim yang berbeda, waktu yang berbeda, purnama atau bulan sabit, subuh atau senja, keadaan air pasang dan surut juga akan berbeda. Kadang-kadang suara ‘ sha, sha ‘ seperti daun bergesekan dalam hujan dan angin, seperti ulat sutera menguyah daun murbei; ada juga kalanya ‘ gong ‘ gong ‘ , seperti sepuluh ribu barisan kuda berpacu menerjang.

Berdiri di tepi pantai, guru dan murid sama-sama dapat merasakan kekuatan yang terpendam di dalam kejaran ombak yang menggetarkan hati. Kekuatan ini berbeda dengan kekuatan lepas dari Busur Melepas Seratus Pikul; ‘ Ombak Berkejar ‘ adalah kekuatan yang lebih kalem, lebih terpendam, sambung menyambung, tidak putus tidak selesai, berkejar menuju pukulan terakhir yang sudah ditakdirkan.

Kaligrafi Huang Tingjian ( 1045 – 1105, Dinasti Song )

Pada masa peralihan antara musim semi dan musim panas, persentuhan antara hangat dan dingin Kanglam yang segera berakhir, panas dan dingin tumpang tindih, Yin dan Yang saling mendorong, di udara ada kegerahan yang siap meledak, dari jauh terdengar suara guruh yang terpendam, teriakan yang tertahan dalam geram, seperti sesaat tidak dapat menemukan mulut keluar. Di antara langit dan bumi yang luas, mengikuti sabetan halilintar, satu-satu suara guruh, juga mirip suara kejaran ombak yang datang dari jauh.

Suara guruh pada musim panas, bagaikan menggelinding datang dari tempat yang jauh, suaranya dari kecil lalu pelan-pelan menjadi besar, segelombang segelombang, ada kekuatan yang bersambungan tanpa jeda, ini yang disebut ‘ guruh menggelinding ‘, yaitu goresan terakhir ketika menulis karakter 道. Satu goresan yang diseret panjang, berkelanjutan, adalah ombak laut menerjang, adalah guruh mengemuruh.

Ombak Berkejar Guruh Menggelinding ——— empat kata ini, adalah ingatan pada ombak laut dan suara guruh. Bukan cuma mata melihat ombak laut, Nyonya Wei seolah ingin Wang Xizhi berubah jadi ombak, merasakan tubuhnya bergerak, menggelegak. Demikian juga dengan guruh yang menggelinding. Di dalam semesta yang luas, ada suara terus menerus menyiar, seperti ada kegerahan luar biasa, mirip guruh di musim panas. Dari dalam kegerahan dan tekanan yang tak terkira, tiba-tiba melepaskan teriakan, agak terpendam, selapis-selapis menumpuk datang.

Mungkin banyak yang mengenal seorang kaligrafer besar bernama Wang Xizhi, dan mungkin juga mesti tahu dia ada seorang guru yang mahir membukakan jiwanya dan menuntun hidupnya ——— Nyonya Wei.

 

SELESAI

Baca Jurus Nyonya Wei sebelumnya

Tujuh Jurus dari Nyonya Wei ( 6 )

Gerundelan John Kuan

Jurus Keenam: Persendian Kuat Tali Busur
Contoh kaligrafi gaya ‘ Resmi ‘ Dinasti Han, diambil dari [ Epitaf Cao Quan ]
Satu jurus lagi dari Nyonya Wei yang menggunakan perumpamaan pemanahan: Persendian Kuat Tali Busur , dan jurus ini bukan membicarakan kelenturan, ketegangan, namun ingin Wang Xizhi memperhatikan sebuah busur, bagaimana menggulung mengikat tali busur dan dahan busur menjadi satu. Sebuah busur, seandainya sambungan tali busur dan dahan busur ( limb ) tidak bagus, maka sangat sulit menghasilkan kekuatan.     Persendian Kuat Tali Busur membicarakan tentang ‘sambungan’ di kelokan tajam pada goresan pertama di dalam karakter 力 ( baca: li, artinya: tenaga ). Goresan ini bermula dari ‘ garis horizontal ‘ lalu berputar tajam lurus ke bawah menjadi ‘ garis vertikal ‘, menjaga kekuatan goresan ‘ garis horizontal ‘ agar tetap berlanjut ke dalam ‘ garis vertikal ‘, bagaimana supaya di antara dua goresan yang berbeda arah, berbeda kekuatan menemukan ‘ sambungan ‘ yang paling mantap. Persis seperti persendian tubuh manusia, karena harus menahan kekuatan yang sangat besar lalu menjadi rumit. Pergelangan dan siku tangan, lutut, pergelangang kaki, semuanya juga begitu.

Coba perhatikan sebuah busur yang bagus, di dua ujung dahan busur baik terbuat dari kayu maupun besi, tersambung dengan tali yang terbuat dari urat atau kulit binatang. Dan di antara tali dan busur, agar tidak lepas, digunakan perekat, digulung dan diikat dengan tali dan benang, sangat mirip persendian tubuh manusia, sangat kuat dan bertenaga. Sewaktu tali busur ditarik, ketegangannya membuat kita merasa ada kekuatan yang tersimpan di dalamnya.

 Jurus Persendian Kuat Tali Busur juga merupakan semacam perubahan di masa peralihan dari gaya 汉隶 ( baca: Han Li ), yaitu gaya ‘ Resmi ‘ pada masa Dinasti Han menuju gaya 楷书 ( baca: Kai Shu ) atau gaya ‘ Umum ‘ pada masa Dinasti Tang.

Kaligrafi Ouyang Xun ( 557 – 641, Dinasti Tang )
Di dalam gaya ‘ Resmi ‘ Dinasti Han, kelokan di ujung ‘ garis horizontal ‘ menuju ‘ garis vertikal ‘, tidak tampak ada perhentian kuas. Namun, di dalam gaya ‘ Umum ‘ Dinasti Tang sudah jelas kelihatan perhentian kuas di kelokan tersebut. Seperti saat menulis karakter 力, di ujung ‘ garis horizontal ‘ gerakan kuas pelan-pelan diangkat sedikit, lalu berhenti sesaat, baru menikung turun menjadi goresan ‘garis vertikal ‘

Di dalam gaya ‘ Umum ‘ Dinasti Tang, perhentian kuas ini telah menjadi ciri khas, seperti dapat dilihat dalam kaligrafi Ouyang Xun, Yan Zhenqing ( contoh kaligrafinya ada di catatan sebelumnya ) dan Liu Gongquan.

Persendian Kuat Tali Busurdari Nyonya Wei ini bukan hanya salah satu pelajaran kaligrafi kepada Wang Xizhi saja, tetapi mungkin menyimpan beberapa isyarat perubahan gerakan kuas di masa peralihan dari gaya ‘ Resmi ‘ Dinasti Han menuju gaya ‘ Umum ‘ Dinasti Tang.

Kaligrafi Liu Gongquan ( 778 – 865, Dinasti Tang )
Dan setelah menulis enam jurus Formasi Tempur Kuas, saya merasa mungkin tidak mesti sepenuhnya mengikuti perumpamaan Nyonya Wei. Fenomena alam seperti dalam jurus Batu Jatuh dari Puncak Tinggi, Arakan Awan Seribu Li, Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun, bisa dipahami jaman dahulu maupun sekarang. Mengenai pemahaman terhadap kekuatan, ketegangan sebuah busur, sebenarnya bisa diubah sesuai tempat dan waktu. Saya kira banyak alat-alat moderen yang dapat digunakan sebagai perumpamaan ketegangan dan kelenturan. Formasi Tempur Kuas sudah melewati seribu tujuh ratus tahun, mungkin sudah perlu perumpamaan-perumpamaan baru.

Tujuh Jurus dari Nyonya Wei ( 5 )

Gerundelan John Kuan

Jurus Kelima: Busur Melepas Seratus Pikul

Kaligrafi Ouyang Xun ( 557 -641, Dinasti Tang )
Waktu kecil belajar kaligrafi ada banyak ‘ aturan ‘, kemudian baru pelan-pelan menyadari, ternyata bukan semuanya tentang kaligrafi, tetapi adalah ‘ aturan ‘ bersikap terhadap orang maupun dunia luar. Misalnya, waktu kakek mengajari saya menulis karakter Han, selalu menekankan ‘ lurus dan benar ‘, kalau duduk dengan posisi benar dan punggung lurus, pena dengan sendirinya akan ‘ lurus dan benar ‘, maka ‘ lurus dan benar ‘ adalah pelajaran kaligrafi saya yang pertama.

Sebelum mulai menulis, melatih tubuh duduk ‘ lurus dan benar ‘, dua kaki dibuka, selebar bahu. Kakek berkata: ” Ruang di antara kakimu harus bisa ‘ tidur ‘ seekor anjing. ” Perumpamaan ini agak aneh. Suatu sore yang panas, saya sedang latihan kaligrafi, Si Hitam tiba-tiba menyusup ke kolong meja, berbaring tepat di antara kakiku. Saya menunduk lihat anjing itu, senang sekali, sore itu sangat tenang latihan menulis. Saya kira sekarang Si Hitam pasti menemani kakek di atas sana, terakhir kali melihatnya sudah beberapa puluh tahun yang lalu, dia kelihatan lemah dan murung, mungkin depresi karena dua kali berturut-turut gagal membesarkan anaknya. Akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir di dalam semak. Kakek berkata: ” Anjing baik tidak akan mati di depan tuannya, dia bahkan berusaha agar kita tidak menemukan jasadnya ” Saya yang menemukan dia tergeletak kaku di dalam semak. Latihan menulis pada masa kecil seperti dilengkapi dengan berbagai kenangan yang tidak mudah aus.  Mungkin kakek menyuruh saya melebarkan kedua kaki, hanya ingin tubuh saya tidak terkekang, terasa lepas.

Kaligrafi Su Dongpo ( 1037 – 1101, Dinasti Song )

‘ Pergelangan Gantung ‘ adalah salah satu latihan penguasaan kuas, dengan kuas di tangan, pergelangan dan siku tangan menggantung, tidak boleh bersandar pada permukaan meja.  Satu sisi adalah untuk menjaga tubuh tetap ‘ lurus ‘, dan yang lebih penting adalah setelah ‘ Pergelangan Gantung ‘,  maka gerakan kuas tidak lagi hanya dari jari-jari tangan, kekuatan gerakan akan melalui pergelangan tangan yang lentur, menggerakkan siku, lengan dan bahu. Terutama waktu menulis karakter besar, bersama gerakan dari bahu, punggung, sangat menyerupai kungfu, bisa bercucuran keringat.

Kakek selalu berkata bahwa kaligrafi juga semacam olah raga, mungkin karena gerakan dalam kaligrafi mirip Tai Chi, melatih pernafasan dan keseimbangan tubuh, dengan menggunakan tarik lepas gerak diam tubuh, memang sangat mirip dengan latihan pernafasan dalam olahraga Timur.

Berbicara tentang kungfu dan olahraga, jurus kelima dalam Formasi Tempur Kuas adalah pelajaran yang berhubungan erat dengan keduanya: memanah, dan jurusnya disebut Busur Melepas Seratus Pikul

Memanah dan kaligrafi adalah dua dari enam pelajaran ( seni ) yang mesti diikuti kaum terpelajar pada jaman Dinasti Qin ( 221 SM – 207 SM ), sehingga sangat wajar menghubungan goresan kuas dengan pemanahan. Busur Melepas Seratus Pikul di dalam Formasi Tempur Kuas membicarakan ‘ garis vertikal ‘ yang memiring ke kanan, dan ujungnya disertai dengan satu gerakan menekuk jadi mata kail, seperti dalam karakater 戈 ( baca: ge, semacam mata tombak )

Ketika Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi menulis karakter seperti 戈 begini, dia mengingatkan Wang Xizhi yang masih kecil, di dalam goresan ada suatu kelenturan yang sangat kuat, seperti busur yang memiliki kekuatan seratus pikul, siap melepaskan sebatang anak panah.

Nyonya Wei tidak menekankan bentuk busur atau pun anak panah, namun adalah kelenturan yang luar biasa setelah tali busur ditarik hingga menegang, maka, kata ‘ Lepas ‘ berubah menjadi sangat penting ——— satu goresan kuat yang penuh kelenturan, yang dapat melepaskan anak panah.

Memanah harus menggunakan busur, menarik tali busur, ada tarikan antara bahu dan busur, kuat atau lemah tarikan itu hanya sendiri saja yang bisa merasakan. Nyonya Wei memang ingin Wang Xizhi merasakan kekuatan lenturan saat anak panah melesat pergi, dan menggunakan pengalaman ini untuk menulis goresan di dalam karakter 戈

Ini sudah merupakan pelajaran estetika, bukan sekedar teknik menulis. Melalui pelajaran menulis, mengembalikan apa yang dialami tubuh sendiri untuk memahami hidup.

Kaligrafi Yang Ningshi ( 873 -954, Dinasti Tang )

 

Tujuh Jurus dari Nyonya Wei ( 4 )

Gerundelan John Kuan

Jurus Keempat: Tebas Putus Cula dan Gading

Kaligrafi Su Dongpo ( 1037 – 1101, Dinasti Song )
Kalau melihat tiga jurus sebelumnya, dapat diketahui bahwa yang diajarkan Nyonya Wei kepada Wang Xizhi seperti bukan sepenuhnya kaligrafi, tetapi membiarkan Wang Xizhi sendiri merasakan berbagai macam bentuk, berat, tekstur, dan gejala di alam terbuka.

Hubungan goresan kaligrafi dengan alam yang ada di dalam tiga jurus sebelumnya tidak sulit dipahami oleh anak sekarang. Namun, jurus keempat ini saya rasa tidak mudah, dan juga telah melanggar perlindungan binatang: Tebas Putus Cula dan Gading.

Tebas Putus Cula dan Gadingadalah berbicara tentang satu unsur di dalam karakter Han: Tendangan kuas menurun ke arah kiri yang disebut 撇 (baca: pei), misalnya karakter 匕 (baca: bi, bisa diartikan, sendok, sekop, mata panah…), pada goresan terakhir ada satu tendangan kuas menurun dari kanan ke kiri, itu yang disebut ‘pei’. Ini adalah gerakan kuas lawan arah, ujung kuas bergerak ke arah berlawanan, harus seperti cula badak yang tajam ditebas putus, atau seperti gading gajah yang melengkung ditebas putus, mesti terasa tajam dan keras.

Dua benda yang diumpamakan dalam jurus keempat ini tidak mudah kita temui hari ini, mungkin sesekali dapat melihatnya di kebun binatang, tetapi tetap terasa sangat asing. Jurus Tebas Putus Cula dan Gading adalah dari tubuh binatang memahami tendangan kuas ke arah kiri dalam kaligrafi, seperti dalam jurus Rotan Kering Seribu Tahun belajar ‘ garis vertikal ‘ yang lentur dan kuat dari tumbuhan. Begitulah Formasi Tempur Kuas, menggunakan berbagai benda di alam untuk mempelajari kaligrafi. Oleh sebab itu, jika bisa memahami inti dari Formasi Tempur Kuas, mungkin bisa menggunakan contoh yang berbeda di jaman yang berbeda pula.

‘Tendangan ke kiri’ di dalam karakter Han, harus tajam, keras, dan ada terasa semacam gerak lawan arus. Satu goresan begini, misalkan di jaman sekarang, tidak tahu Nyonya Wei akan mengumpamakan benda apa untuk menjelaskan kepada Wang Xizhi?

***

Urutan goresan kuas [ Delapan Unsur Karakter Yong ]
   Formasi Tempur Kuas selain sebagai sebuah cara belajar, juga membuka dunia pengetahuan dan rasa yang kaya bagi seorang anak.
Di masa antara Dinasti Chen ( 557 – 589 ) dan Dinasti Sui ( 589 – 618 ) mulai beredar buku pelajaran kaligrafi bernama: 永字八法 ( baca: Yong Zi Ba Fa, (artinya: Delapan Unsur Karakter Yong), dengan cara membongkar karakter Han, dibagi menjadi delapan unsur, sebagai dasar seorang anak mengenal karakter Han. Delapan Unsur Karakter Yong sangat jelas dikembangkan dari Formasi Tempur Kuas, dan pengelompokan unsur dasar karakter Han menjadi lebih sempurna. Namun, Delapan Unsur Karakter Yong agak abstrak, membongkar karakter 永 berdasarkan urutan goresan kuas menjadi delapan unsur ——— 侧 ( baca: ze, artinya: menyamping ) sama dengan ‘titik’ dalam Formasi Tempur Kuas ; 勒 ( baca: le, artinya: tali kekang ) sama dengan ‘ garis horizontal ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 努 ( baca: nu, artinya: berusaha, berupaya ) sama seperti ‘ garis vertikal ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 趯 ( baca: ti, artinya: lompat ) sama dengan ‘ mata kail ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 策 ( baca: ce, artinya: memcambuk ) sama dengan ‘ garis horizontal menengadah ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 掠 ( baca: lue, artinya: merebut, merampas ) sama dengan ‘ tendangan panjang ke kiri ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 啄 ( baca: zhuo, artinya: mematuk ) sama dengan ‘ tendangan ke kiri ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 磔 ( baca: zhe, artinya: membelah ) sama dengan ‘ tendangan ke kanan ‘ dalam Formasi Tempur Kuas

Kaligrafi Huang Tingjian ( 1045 -1105, Dinasti Song )
Walaupun pengelompokan unsur dasar menjadi lebih sempurna, terutama dapat membagi ‘ tendangan kuas ‘ menjadi empat unsur: 策 ( memcambuk ), 掠 ( merampas ), 啄 ( mematuk ), 磔 ( membelah ) lalu dibagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih terperinci ( saya rasa kurang cocok dimasukkan semuanya di sini ), namun dari segi pengajaran ——— terutama untuk seorang anak, kurang perumpamaan yang mudah dimengerti, sehingga belajar kaligrafi kehilangan pemahaman estetika, terjerumus ke dalam penjiplakan bentuk belaka.

Saya sendiri lebih menyukai Formasi Tempur Kuas, karena cara pengajarannya berdiri di atas landasan ‘ apresiasi keindahan ‘, bukan hanya mengajari bentuk saja, tetapi lebih menekankan seorang anak sendiri merasakan dan memahami proses belajar itu.

Saya rasa apresiasi keindahan mesti berhubungan erat dengan kegiatan dalam kehidupan sendiri, seandainya kehilangan itu, seni dan keindahan tidak lebih hanya bentuk saja.