Arsip Kategori: Kolom John Kuan

Surat Cinta

Oleh John Kuan
Berpisah untuk sementara adalah baik, sebab semua yang terpampang di depan mata kelihatan seperti pengulangan, tidak mampu dibedakan. Menara tinggi sekalipun berubah jadi kerdil, seandainya dengan seksama kau melihatnya dari dekat, dan segala remeh-temeh juga akan berubah jadi persoalan besar, ketika kau terus-menerus bersentuhan dengannya. Melibatkan hati, sudah cukup membuat kebiasaan-kebiasaan kecil tampil dalam bentuk yang emosional, dan apabila sasaran sudah tidak ada di depan mata, hasrat itu akan sirna sendiri. Disebabkan sasaran itu sedang dekat, hasrat yang membuncah itu tumbuh dalam bentuk serentetan persoalan-persoalan kecil, namun ketika memiliki jarak, melalui reaksi yang luar biasa, hasrat akan kembali ke dimensinya yang alami.

Ini adalah pembukaan sepucuk surat cinta, tidak usah ragu, bukan disertasi filsafat. Coba terka surat cinta siapa. Selanjutnya dia menulis:

Demikian juga dengan cintaku. Setiap kali kita tidak bersama — sekalipun di dalam mimpi juga begitu — aku langsung dapat rasakan yang waktu berikan pada cintaku untukmu, persis seperti yang sinar matahari dan air hujan berikan kepada tumbuhan: dia membuat cintaku terus tumbuh. Setiap kali kita berpisah di dua tempat yang jauh, cintaku padamu, akan muncul begitu rupa, dalam cinta yang demikian besar, penuh berdesakan kekuatan akalku, entitas hatiku. Aku sekali lagi menyadari diriku adalah seorang lelaki, sebab aku kembali dapat merasakan hasrat yang demikian bergelora. Pengejaran akademis dan pendidikan moderen menggulung kita ke dalam situasi yang sulit dan rumit, tidak dapat tidak bersikap skeptis memandang semua pengaruh subjektif dan objektif, demikian secara utuh, kita dirancang menjadi kecil, lemah, kasar, dan plin-plan. Namun cinta ——— bukan cinta demi tipe ( orang ) Feuerbach, bukan demi metabolisme Moleschott, juga bukan demi proletariat ———adalah cinta ini, cinta kepada yang tercinta, adalah cinta untukmu yang terdalam, membuat seorang lelaki kembali menjadi lelaki lagi.

Surat cinta siapa? Kalau bukan Marx siapa lagi? Selain Marx, di dunia ini tidak akan ada orang yang memasukkan dialektika, kontradiksi, subjektif dan objektif, referensi filsafat dan sains moderen ke dalam surat cinta, bahkan tetap tidak lupa mengungkit proletariat-nya. Surat cinta itu berakhir:

“Terkubur di dalam lekukan lengannya, sebab ciumannya dan hidup kembali,” iya, di dalam lekukan lenganmu dan sebab ciumanmu — biarkan Brahmana dan Pythagoras terus berpegang teguh pada pandangan mereka tentang reinkarnasi, sebab aku setuju, juga biarkan agama Kristen menyebarkan doktrin bangkit kembali!

Tentu Marx tidak setuju dengan reinkarnasi Brahmana dan Pythagoras. juga memandang enteng doktrin Yesus bangkit kembali. Demi cinta, dia berkata: aku bisa kompromi, bahkan dapat menerima teori-teori menyesatkan itu. Mati di dalam pelukannya, dan karena ciuman bergelora hidup kembali.

*

Marx dan Jenny menikah pada tahun 1843, konon Jenny sangat cantik. Waktu itu Marx baru berumur 25 tahun. Surat cinta di atas ditulis pada tahun 1856 di London, dan Jenny demi berbagai hal mulai menunjukkan gejala jiwanya yang tergoncang. Paling banyak mengulurkan tangan bantuan adalah Engels

*

Persahabatan Marx dan Engels dimulai dari tahun 1843 di Paris

Tahun itu juga dia awal mengenal penyair Heinrich Heine, bersentuhan dengan Sosialisme Perancis, mengintip jiwa dan kehidupan proletariat. Dua tahun kemudian meninggalkan Perancis menuju Belgia, karya-karya tidak berhenti, di antaranya [Theses on Feuerbach], [The Poverty of Philoshopy] dan lain-lain, dan [The Communist Manifesto] merupakan karya tahun 1848. Di antara tahun-tahun ini dia pernah berpolemik dengan Proudhon, dan tahun 1849 menyeberang ke Inggris, baru kemudian ada surat yang saya salin di atas. Desember 1881 Jenny meninggal dunia, tidak sampai dua tahun kemudian Marx juga meninggal, dan [Das Kapital] jilid dua dan jilid tiga setelah melalui penyuntingan Engels baru diterbitkan, memakan waktu sekitar sepuluh tahun.

*

Dia menggunakan cara menulis desertasi menulis surat cinta, sehingga bentuk dan cara penyampaian menjadi samasekali berbeda. Bagian pertama dia menggunakan dialektika yang begitu rapi untuk membicarakan tentang ada dan hilangnya “hasrat”, membacanya bisa membuat orang tercengang. Sebenarnya dia berpanjang lebar setengah hari, hanya ingin berkata: “Sejak berpisah aku sangat merindukan adinda”, tetapi tidak suka tembak langsung, dengan rasionalitas menutup sensibilitas, tujuannya juga untuk menemukan sensibilitas. Di dalam surat ini saya menggunakan “hasrat” untuk menerjemahkan “passion”, dan belum pernah memeriksa teks asli yang tentu dalam Bahasa Jerman yang belum bisa saya kuasai, tidak tahu apakah kata ini sudah tepat? Marx berbuih-buih membicarakan hasrat, yang dimaksudnya selain cinta dan nafsu lelaki dan perempuan, mungkin melebar hingga rasa cemburu, amarah dan lain-lain. Setidaknya dalam Bahasa Inggeris kata ini dapat diartikan demikian. Menurut cerita, Marx pernah menulis puisi untuk Jenny. Saya belum pernah membaca puisinya, namun dari membaca disertasi, saya percaya dia pasti suka puisi dan mahir berpuisi.

Lenin berbeda. Ini dapat kita terka melalui kata “passion” yang disebut di atas. Suatu kali Lenin sedang bersama Gorky mendengar Piano Sonata No. 23 di F minor milik Beethoven, mereka berdua sama-sama terpukau. Namun sebelum seluruh movement berakhir, Lenin tiba-tiba “insyaf”, berkata pada Gorky: Barang ini terlalu indah, terlalu berbahaya, kita harus agak kejam menaklukkannya, menekannya, menghancurkannya, kalau tidak bagaimana melaksanakan revolusi? Sonata Beethoven itu juga bernama Appassionata

*

Makin lama berpisah, cintaku padamu makin besar, Marx berkata: “Persis seperti yang sinar matahari dan air hujan berikan kepada tumbuhan”. Berarti waktu sama dengan sinar matahari dan air hujan, cintaku sama dengan tumbuhan. Seperangkat metafora ini agak berbahaya, namun cukup masuk akal.

Tentu, masih termasuk suatu penyimpangan. Penyimpangan intelektualitas? Penyimpangan puisi?

*

Bagaimana kalau dibandingkan dengan cara penyampaian begini?

Rodolphe tiba-tiba kembali di kala senja, Emma sangat terkejut. Dia berkata: Aku terus ragu-ragu tidak pulang melihatmu adalah tindakan benar, sebab setiap orang dapat memanggilmu Nyonya Bovary, dan kau tidak mengijinkan aku menggunakan nama itu memanggilmu, tapi itu memang bukan namamu, milik orang lain! Kemudian Rodolphe membenamkan wajahnya di dalam ke dua telapak tangannya, berkata dalam suara terputus-putus: ” Aku tidak dapat melupakan kau. Mengingat kau, kembali membuat aku putus asa! Ah, maafkan aku… aku bisa menjauh… selamat tinggal! Aku akan pergi ke tempat yang jauh… tempat yang jauh, di sana tidak akan ada orang mengungkit namaku padamu… ”

Begini Gustave Flaubert menulis ungkapan rindu lelaki dan perempuan yang bertemu setelah berpisah enam minggu, Madame Bovary pertama kali dimuat secara bersambung pada tahun 1856 di Paris, tahun yang sama Marx menulis surat cintanya di London

*

Ilmu pengetahuan dan kajian akademis membuat orang kehilangan intuisi cinta, tidak lagi menyimpan rasa sayang yang ada di dalam percintaan, sebab dia merasa tidak senang di segala sisi, mencurigai segala hal. Ilmu pengetahuan apa? Kajian akademis apa? Penjelajahan Marx terlalu luas dan dalam, saya tidak mampu analisa. Namun dia ada mengungkit Feuerbach dan Moleschott; begitu saja dapat menggores dua nama ini di dalam surat cinta, tentu membuat orang di samping timbul rasa hormat, juga ada iri dan kagum. Ludwig Andreas von Feuerbach adalah filsuf Jerman, mempunyai pandangan yang sangat istimewa tentang hubungan antara manusia dan Tuhan. Marx pernah menulis sebuah buku khusus untuk mengkritiknya [Theses on Feuerbach] di tahun 1846. Jacob Moleschott adalah seorang pakar fisiologi Belanda yang juga merupakan salah satu tokoh penting materialisme. Di ujung surat cinta itu, dia memetik dua baris puisi (Terkubur di dalam lekukan lengannya, sebab ciumannya dan hidup kembali), tidak jelas dipetik dari mana, tapi saya duga mungkin dari Heine. Kemudian, dia berbicara kepercayaan Brahmana tentang reinkarnasi, bahkan Pythagoras juga ikut diseret, filsuf dan ahli matematika Yunani abad ke-5 SM. Kalau kita lihat tesis doktornya di Universitas Berlin ketika dia berumur 23 tahun juga mengkaji filsuf Yunani Kuno: Democritus dan Epicurus.

Tentang Yesus bangkit kembali dan naik ke surga, kemungkinan besar dia tidak percaya. Sekalipun lelehur Marx adalah penganut Yudaisme dan banyak yang menjadi rabi, tetapi ayahnya setahun sebelum Marx lahir masuk agama Kristen Protestan. Dia tidak percaya tentang bangkit kembali, saat ini demi puisi, dia kompromi, demi cinta.

Sesungguhnya seluruh isi surat juga tidak bisa terhindar jatuh ke dalam retorika. Walaupun demikian, ini tetap bukan sebuah disertasi — masih merupakan sepucuk surat cinta. Ingat, Marx di masa muda sangat rajin membaca puisi-puisi Yunani Kuno, Shakespeare, apalagi Kesusasteraan Jerman; dia sendiri juga pernah menulis puisi yang romantik, sebuah tragedi, dan sebuah roman yang belum selesai. Di dalam kata pengantarnya untuk Das Kapital jilid satu edisi Bahasa Jerman, dia mengakhiri dengan sepenggal puisi Dante:

Segui il tuo corse,e lascia dir le genti

*

Kritik Marx terhadap agama sudah merupakan pengetahuan umum

Kritik pengikut Engels terhadap agama dapat ekstrem sampai tingkat tertentu. Mereka percaya hanya dengan ateisme baru dapat membebaskan manusia. Marx selangkah lebih maju. Menurut dia kritik terhadap agama merupakan pendahuluan kita dalam mengkritik segala hal.

Agama adalah [ungkapan kesedihan nyata] kaum proletar, juga merupakan [protes mereka terhadap kesedihan nyata]. Di bawah ini adalah kata-kata Marx yang paling terkenal:

“Agama adalah keluh-kesah makhluk yang tertindas, nurani dunia yang kejam, hati dan jiwa dari seluruh kondisi yang tidak berhati dan tidak berjiwa. Agama adalah candu rakyat ”

Candu rakyat? Kaum proletar disuap candu oleh penguasa sehingga ketagihan berat, dan terkekang? Mungkin seperti ini maksudnya, namun juga terasa tidak begitu tepat. Apakah penguasa pasti dapat menolak agama, melarang candu? Kelihatannya tidak pasti. Kalau demikian, apakah perhatian dan cinta Marx terhadap kaum proletar, sudah melebar hingga ke penguasa? Ini pasti tidak mungkin

Dia mengungkit dalam surat cintanya tentang [cinta terhadap proletariat]. sudah! Patah paku potong besi, sampai di sini saja, tidak bahas lagi!

*

Agama bukan tujuan, ateisme juga bukan tujuan, bahkan komunisme juga bukan tujuan. Bagi Karl Marx, itu hanyalah bagian-bagian dari proses perkembangan manusia. Nyawa manusia barulah tujuan yang sebenarnya.

*

Moleschott, keahliannya memang sudah seharusnya di fisiologi

Kenyataannya, keterlibatan Moleschott dalam sejarah sains dapat dilihat dalam konsep [man-machine]. Dalam sejarah memang ada sekelompok ilmuwan suka melihat, menikmati, menganalisa manusia sebagai mesin. Pertama, ilmu rekayasa awalnya memang dirancang untuk mempelajari hubungan antara struktur dan fungsi, desain mesin meniru cara pengelompokan taksonomi. Kedua, dengan manusia mesin sebagai bayangan, sangat bisa menjelaskan uraian penting tubuh makhluk hidup (termasuk manusia dan binatang). Ketiga, dalam karya sastra sangat mudah terlihat, seperti Mary Shelley dengan [Frankenstein] coba menyelidiki pengalaman dan nilai manusia.

Konsep [Man-machine] ini sudah ada sejak jaman Yunani Kuno, hanya tidak umum, dan tidak mendalam. Pada jaman renaisans penguasaan teknik di Eropa mulai maju, alat yang terbuat dari tali, tinta, metal, tanah dan kayu makin bertambah, tentu akan teringat hal ini, terutama setelah melalui penjelasan Rene Descartes, sudah menjadi ilmu populer. Descartes dengan semangat filsafat mesin memperlakukan hal ini, bahwa tubuh manusia dan binatang mirip struktur mesin; dalam bukunya [ Traite de L’Homme ] yang terbit pada tahun 1662, dia menggunakan hydraulic automata untuk menjelaskan hubungan unik antara mesin dengan tubuh dan pikiran manusia. Setelah itu, melewati promosi dan penelitian dunia akedemis abad ke-18 dan abad ke-19, sehingga banyak cendekiawan Eropa percaya bahwa manusia dijelaskan sebagai sebuah mesin sangat bisa diterima. Moleschott tepat berada di puncak periode ini.

Konsep [man-machine] dengan iatromathematic. Yang disebut belakangan ini berasal dari astrologi, pelan-pelan mulai menggunakan fenomena alam semesta untuk menjelaskan fisiologi manusia, lama kelamaan tentu tidak dapat terhindar akan tergantung pada penemuan-penemuan alat, desain-desain mesin, hingga hari ini cinta terhadap kalkulator masih begitu dalam.

*

Cinta terhadap kalkulator begitu dalam — membuat orang bergidik

Seandainya berkembang sampai menjadi berkeyakinan kalkulator, lalu tiap hari disembah, tiada hari tanpa dia, situasi bisa jadi sangat genting.

Namun saya percaya manusia hanya akan berhenti pada rencana (mungkin juga sudah dilaksanakan) mempergunakan kalkulator saja, tidak benar-benar mempercayainya. Kau mempergunakannya, menyuruhnya, menindasnya, membohongnya, menyiksanya, suatu hari dia akan berontak. Kalkulator dalam film 2001: Space Odyssey telah berontak, mengerti balas dendam. Kalkulator itu diberi nama HAL, membuat saya teringat pangeran yang dapat begitu saja, tanpa pandang bulu berubah gaya dan sifat sesuai keadaan dalam drama Shakespeare (Lihat Henry IV pertama, kedua, dan Henry V). Namun seorang teman berkata bahwa ini tidak ada hubungannya dengan pangeran, sebenarnya erat berhubungan dengan IBM: tiga huruf HAL masing-masing mundur selangkah, jadi IBM.

*

Konsep [man-machine] adalah menganalisa dan menjelaskan manusia sebagai mesin

Kalkulator sebaliknya, mesin dianggap sebagai manusia, maka disebut komputer. Mereka sama-sama memiliki sesuatu yang unik, namun tidak tahu bagaimana memulainya.

*

Mungkin semua ini juga sudah ada sejak dahulu kala

Xu Zheng-徐整 yang hidup di abad ke-3 Masehi dalam bukunya:Tiga Lima Catatan Sejarah -三五历记 menggambarkan permulaan semesta begini:

Langit dan bumi kacau seperti telor ayam, Pangu lahir di tengah-tengahnya. 18.000 tahun, langit dan bumi terbuka, terang jernih sebagai langit, gelap keruh sebagai bumi. Pangu di tengah-tengahnya, sehari berubah sembilan kali, dewa di langit, yang bijak di bumi; tiap hari langit meninggi 3 meter, bumi menebal 3 meter, Pangu tumbuh 3 meter, begini selama 18.000 tahun, ukuran langit begitu tinggi, ukuran bumi begitu dalam, Pangu begitu panjang, kemudian baru ada Tiga Maharaja.

Paling suka membaca [ Pangu begitu panjang ]. Ren Fang – 任昉 yang hidup di abad ke-5 Masehi menyusun sebuah buku: Kisah Aneh – 述异记, ternyata Pangu telah mati. Ini membuat kita terpaksa teringat [man-machine], [iatromathematic], dan kalkulator, bahkan melampaui semuanya:

Setelah Pangu mati, kepala menjadi Empat Gunung, mata menjadi matahari dan bulan, cairan tubuh menjadi sungai dan lautan, bulu menjadi tumbuhan. Cerita rakyat jaman Qin dan Han menuturkan: Kepala Pangu sebagai Gunung Timur, perut sebagai Gunung Tengah, lengan kiri sebagai Gunung Selatan, lengan kanan sebagai Gunung Utara, kaki sebagai Gunung Barat. Para bijak berkata: Tangisan Pangu menjadi sungai, qi menjadi angin, suara menjadi guruh, bola mata menjadi halilintar. Kisah kuno mengatakan: Pangu senang menjadi cerah, marah menjadi mendung. Cerita rakyat tanah Chu: Suami isteri Pangu, permulaan yin yang.

Ini adalah cerita sempurna, lahirnya semesta, langit bumi gunung sungai, harus tunggu seorang pencipta mati. Awal cerita adalah kesimpulan dari Ren Fang terhadap hal ini, isinya ada di sini. Mencatat perbedaan dalam cerita rakyat Qin dan Han, dan yang menarik adalah: Setelah Pangu mati, tentu tumbang berbaring menghadap langit, kepala di timur kaki di barat. Kita menggabungkan kesimpulan Ren Fang, cerita rakyat Qin dan Han, perkataan para bijak, kisah kuno, kita pasti akan terasa semua ini memang ada sejak dahulu kala, bahkan melampaui semuanya — melampaui Descartes, Newton, Moleschott, bahkan menyamai mitologi, semacam agama.

*

Suami isteri Pangu, permulaan yin yang. Gambaran ini begitu indah, gambaran mitologi, mendekati agama

*

Terkubur di dalam lekukan lengannya

sebab ciumannya dan bangkit kembali

Apa yang susah dimengerti? Sungguh kasihan sama Marx yang demi hal kecil begini panik dan salah tingkah, untuk menjelaskan perkataannya sendiri masih harus menggunakan agama India Kuno, dan teologi agama Kristen: Demi cinta, aku kompromi!

Kawan Lawan Sama Rata

Cerita John Kuan

Saya mengambil jalur kereta api lokal dari Nara menuju Kyoto.
Kereta api bergerak sangat pelan, kecepatannya sangat cocok untuk menikmati pemandangan atau membaca buku. Negeri Salju Kawabata ada di tangan, namun saya tidak benar-benar membaca, pikiran terus melayang bersama salju dan berbagai hal tentang perempuan-perempuan tanah utara yang dingin itu. Kereta api berhenti di Stasiun Uji, papan petunjuk mengumumkan stasiun berikutnya adalah Obaku
Obaku – 黄檗 – Huang Bo, sebuah nama yang tidak asing bagi saya, nama ini berasal dari suatu tempat di Fujian, Cina. Dimulai dari tempat itu dua guru Zen Dinasti Tang, Baizhang ( 百丈 ) dan Xiyun ( 希運 ) mengembangkan sekte Huang Bo yang merupakan satu aliran besar dalam sejarah Zen di Cina
Saya pernah begitu terpikat dengan Zen, mungkin sewaktu SMA, selalu mencuri baca kitab-kitabnya, paling suka Sutra Huineng. Kemudian Zen menjadi sangat populer, banyak buku-buku tentang Zen ditulis dan diterjemahkan. Dasar Zen adalah membantu melepaskan keterikatan, membantu merobohkan rintangan pengetahuan, kembali ke kehidupan itu sendiri; Zen menjadi populer, mungkin juga merupakan suatu keterikatan lain, hanya saja saya sudah terlalu jauh dari Zen. Tidak tahu bagaimana reaksi guru-guru Zen itu melihat kearifan sederhana yang dipetik dari pengalaman hidup jatuh menjadi permainan kata dan bahasa pamer. Mungkin mereka akan berteriak dan memukul dengan kemocengnya, ketika pengikut sekte Huang Bo berhadapan dengan kekeras-kepalaan dan keterikatan, mereka akan mengunakan teriakan keras dan pukulan kemoceng untuk menghancurkan semua kepalsuan dan kepura-puraan.
Sekte Huang Bo yang dimulai di Gunung Huang Bo di Fujian lalu pindah ke Jiangxi, kemudian dikembangkan Guru Linji – 臨濟 hingga menyebar ke seluruh dataran Cina, tidak duga, di satu sudut Kyoto juga dapat bertemu dengan nama ini. Saya memutuskan turun di stasiun Obaku untuk melakukan sedikit petualangan. Dan ternyata nama stasiun ini memang berhubungan dengan sekte Huang Bo, keluar dari kereta api langsung dapat melihat tulisan besar ——— 萬福寺 – Manpuku-ji
Kuil Manpuku-ji ini didirikan oleh seorang guru Zen bernama Yinyuan – 隱元, orang Jepang memanggilnya, Ingen Ryuki. Tahun 1661, dia menyeberang dari Fujian ke Jepang, ketika itu usianya sudah 68 tahun. Dia memilih pinggiran Kyoto, di sekitar Uji untuk mendirikan kuil ini, dari tempat ini dia menyebarkan ajaran Huang Bo, dan gunung di sekitarnya dia beri nama Huang Bo, kuilnya diberi nama Wan Fu Shi ( Manpuku-ji ), persis seperti nama gunung dan kuil di kampung halamannya.
Cina belum pernah meninggalkan nama tempat yang berhubungan dengan agresi atau pendudukan militer di Jepang, justru di mana-mana dapat dengan mudah bertemu jejak langkah para penyebar kebudayaannya. Di satu sudut Kyoto ini, Guru Yinyuan yang jauh dari Fujian, mengunakan nama gunung dan kuil di kampungnya untuk nama gunung dan kuil di tempat ini, mungkin kampung halaman di hatinya adalah semua tempat yang ada di bawah langit, sebuah cita-cita kehidupan yang diyakini oleh setiap orang. Tidak perlu ada prasangka, tidak terikat cinta, kebencian, dendam dan sayang, semua bisa berasal dari satu sumber. Sehingga semua gunung bisa saja disebut Gunung Huang Bo, semua kuil bisa saja disebut Kuil Wan Fu Shi!
Saya melangkah masuk ke dalam kuil, kuil ini sangat luas, terdiri dari sekelompok bangunan besar dan kecil, selain beberapa bangunan utama, seperti balai agung yang disebut kondo, gedung lonceng atau shoro, ruang sarira, dan beberapa bangunan utama lain, masih banyak bangunan-bangunan kecil yang tersebar di antara rindang hijau pinus dan sipres, seperti dapur, kamar mandi, gudang, ruang tamu, tempat istirahat, dan sebagainya. Bangunan-bangunan kecil ini sangat sederhana, umumnya dari kayu, dijaga bersih dan rapi. Bangunan-bangunan kecil ini ada yang di atas pintunya tergantung sekeping papan kasar dengan tulisan Han ‘ Ayo Minum Teh ‘, ditulis dengan kaligrafi yang indah dan bahasa sederhana yang begitu akrab dengan kehidupan sehari-hari. Puncak renungan Zen tidak lebih daripada sebuah hati yang biasa dari orang biasa.
Kuil tua ini terus menjaga hubungan erat dengan kuil induk di Fujian, selama 13 generasi, semua biksu pemimpin kuil datang dari kuil induk di Fujian, setelah itu baru mulai dipimpin secara bergiliran oleh biksu senior dari Cina dan Jepang.
Pada masa Perang Cina – Jepang, kuil yang mempunyai hubungan yang begitu erat dengan Cina ini tentu juga menghadapi sebuah situasi yang sangat sulit. Ketika dendam kesumat yang dinyalakan oleh perang, kebencian yang tidak rasional yang dikibaskan oleh perang, lebih memusnahkan daripada senjata apapun, menghancurkan segala cinta, saling percaya, toleransi, dan kasih sayang di antara manusia, dan kuil yang sudah ratusan tahun menjaga sebuah keyakinan terhadap kehidupan ini juga tergoncang seakan rubuh. Dunia di luarnya penuh dengan tangisan, jeritan, kebencian, dendam, pembalasan, di mana-mana berserakan tubuh-tubuh penuh darah yang dihasilkan oleh dendam dan kebencian itu, suara tangisan memenuhi udara. Kedamaian, keyakinan, nilai kehidupan, di mata orang-orang berperang yang merah membara mungkin hanyalah sebuah keluhan hampa dan tiada daya.
Namun, kuil ini tidak rubuh. di dalam udara yang penuh pekikan kebencian, biksu-biksu Manpuku-ji melangkah keluar, mereka adalah para pengikut yang datang dari Cina dan berbagai tempat di Jepang, mereka berjalan ke dalam reruntuhan, berjalan ke dalam jeritan pilu rakyat, mereka mengumpul dan mengurus mayat-mayat yang tidak dikenal dan tidak dikuburkan, mereka berdoa untuk roh-roh ini, kemudian dikremasi, dicampur jadi satu, bangun sebuah pagoda, disimpan di sana, di depan pagoda didirikan sebuah prasasti, di atasnya dipahat empat tulisan Han yang kokoh ‘ Kawan Lawan Sama Rata ‘
Saya cukup lama berdiri di depan prasasti, di sini ada abu yang datang dari orang Cina, orang Jepang, mungkin juga orang Korea dan orang dari berbagai tempat di Asia, di sini juga ada abu dari penjajah dan yang terjajah. Apakah kawan dan lawan benar-benar bisa sama rata? Di dunia ini ada terlalu banyak perbedaan: Negara, suku, kaya dan miskin, mulia dan rendah, cantik dan buruk, hormat dan hina, pandai dan bodoh, penurut dan pembangkang, penindas dan tertindas…, sungguh kawan lawan benar-benar bisa sama rata?
Tiba-tiba airmata merambat ke seluruh wajah, saya teringat kakek yang terbunuh 30 tahun yang lalu. Senja itu kakek buru-buru berangkat ke kampung tetangga untuk mengobati orang yang terluka parah, jaraknya sekitar dua jam jalan kaki. Di tengah perjalanan dia dirampok, dalam perkelahian dengan empat orang perampok, dia terluka parah, meninggal di hari berikutnya. Dia hanya sempat berpesan tidak perlu ada dendam dan jangan balas dendam.
Kampung kami yang langsung berhadapan dengan Laut Malaka hampir setiap musim angin utara pasti ada mayat yang mengapung di pantai, dan selalu kakek yang mengurusnya. Dia selalu berkata, tidak peduli dia orang dari mana, beri dia sebuah kehormatan terakhir, kubur dia baik-baik.
Saya berpikir, di jaman yang penuh pekikan kebencian dan balas dendam itu, segala keyakinan ditertawakan, segala nilai diinjak dihina, bagaimana biksu-biksu Manpuku-ji bisa begitu yakin dengan empat kata ini ——— Kawan Lawan Sama Rata
Saya lama berdiri di depan prasasti, merapatkan telapak tangan di dada, bungkuk memberi hormat lalu menjauh. Pikiran bergerak tanpa arah, bolak-balik di antara ombak Laut Malaka dan pohon-pohon persik dan plum yang bermekaran di pekarangan rumah-rumah di sekitar kuil.

*
Tempat itu misterius bagai parabel, abstrak seperti alam mimpi.
Setelah berputar separuh pulau Singapura, melewati sebuah pintu pagar besi berwarna hitam yang sempit, kelihatan beberapa baris batu nisan, saya langsung mengerti, ini adalah sebuah perkuburan Jepang. Teman saya menunjuk sebuah nisan kecil berbentuk persegi yang berdiri di antara barisan nisan-nisan, dia berkata bahwa itu mungkin adalah sebuah perkuburan yang paling hemat tempat di dunia, di atasnya tertulis enam karakter Han:
纳骨一万余体
Terkumpul Tulang Lebih dari Sepuluh Ribu Jasad.
Di bawah batu nisan kecil ini terkubur lebih dari sepuluh ribu abu tulang tentara kekaisaran Jepang yang datang menyerang Asia Tenggara. Lalu dia menunjuk ke satu hamparan rumput hijau, di atasnya bertaburan patok-patok batu, ” satu patok batu berarti seorang pelacur Jepang, lihat ada berapa banyak! ” katanya.
Saya tentu tercengang. Jepang yang pernah mengaduk Asia hingga limbung dan setengah pingsan, menebar jelitanya dan kekejamannya hingga tempat sejauh ini, lalu mengores sebuah titik tragis di sini. Ada berapa banyak senyum manis dan jeritan, gincu bedak dan darah segar, akhirnya semua menjadi bisu, membeku, mengumpal di satu sudut. Membeku jadi semacam persembunyian, sembunyi dari keramaian, sembunyi dari sejarah, hanya ingin mendekap rumput hijau dan suara burung, mendekap rasa bersalah, tanpa suara, dan juga tidak ingin didekati orang.
Tidak ada pedagang, karyawan, pekerja, petualang, kelasi, dokter berbaring di sini, hanya ada dua pasukan yang paling gemuruh, kemudian hilang di padang rumput yang tidak seberapa besar ini. Kita mesti hati-hati melangkah, takut ada yang terinjak. Di bawah kaki, di antara berlapis-lapis roh yang berdesakan ini, terkubur berapa tumpuk sejarah Jepang, berapa tumpuk sejarah Asia Tenggara, berapa tumpuk kisah cinta, berapa tumpuk sejarah penjajahan. Setiap tumpuk terlalu pedih dan dalam, maka hanya dapat dari pedih dan dalam kembali ke keheningan, seperti seorang petapa tua yang penuh kerutan di wajah, sudah tidak ingin, sekalipun hanya mengeluh.
Ada sebuah nisan yang cukup megah dan berwibawa di perkuburan ini, dia adalah Hasaichi Terauchi, sebuah nama yang tidak asing bagi peminat sejarah Perang Pasifik. Dalam catatan ini saya sungguh tidak ingin bercerita tentang dia, sebelum diangkat sebagai Panglima Angkatan Darat Ekpedisi Selatan, dia yang paling bertanggung jawab terhadap kekejaman yang memerahkan Sungai Kuning selama menjabat sebagai Panglima Angkatan Darat Wilayah Cina Utara, kemudian kekejaman itu dipindahkan ke Asia Tenggara. Bersama Laksamana Yamamoto, Hasaichi Terauchi merancang Perang Pasifik yang mengemparkan dunia. Akhirnya harus bersama bawahannya berbaring di tempat yang tersembunyi ini.

Ilustrasi dari styvopdevianartdotcom
Sekarang seharusnya kita lihat pelacur-pelacur Jepang yang malang itu.
Di perkuburan ini, mereka jauh lebih tua daripada tentara-tentara itu. Dimulai sekitar awal abad ke-20, gelombang kedatangan pelacur Jepang ke Asia Tenggara mencapai beberapa kali puncak, setiap kali selalu berhubungan dengan kelesuan ekonomi Jepang. Perempuan-perempuan muda yang sulit mendapat kerja di tempat asalnya, datang ke Asia Tenggara yang kala itu lebih makmur karena hasil perkebunan dan tambang, menjual senyum mereka yang terhina.
Perempuan-perempuan Jepang yang cantik dan lembut dengan cepat dapat mengalahkan berbagai tempat hiburan lain di Asia Tenggara, kemudian dengan gegap gempita digagas menjadi semacam profesi yang luar biasa. Mulai dari usahawan yang penuh semangat hingga para pekerja tambang yang menderita, pasti dapat menemukan rumah bordil yang sesuai. Para pelanggan dari berbagai negara dan bangsa terus keluar masuk rumah-rumah bordil Jepang. Saat itu, citra Jepang di Asia Tenggara, selain lemah juga sangat kasihan.
Karena kedatangan pelacur Jepang ke Asia Tenggara berhubungan erat dengan kelesuan ekonomi dalam negeri, dan kelesuan ekonomi inilah yang menyebabkan Jepang harus berekspansi. Dengan kata lain, kedatangan pelacur Jepang di awal dan disusul kedatangan tentara Jepang kemudian mungkin ada semacam hubungan sebab-akibat. Dan kuburan mereka yang saling berdekatan, kelihatan seperti sebuah rancangan logika sejarah.
Kisah tentang penderitaan pelacur Jepang tertuang penuh di dalam filem Sandakan No. 8. Namun, menurut saya, bagaimanapun itu adalah sebuah karya orang Jepang sendiri, pada simpul-simpul sejarah tertentu tidak dapat dengan tenang membukanya. Hal-hal yang menimpa pelacur Jepang di Asia Tenggara, harus digabung dengan tentara Jepang yang kemudian datang menduduki Asia Tenggara, dengan demikian sejarah orang Jepang di Asia Tenggara baru dapat diurai lurus dan jelas. Hanya menunjukkan rindu kampung halaman di dalam penderitaan dan penghinaan, jelas telah memperkecil topik.
Ada satu detil di dalam film Sandakan No. 8 yang sulit dilupakan. Pelacur-pelacur Jepang yang meninggal di Asia Tenggara, nisan mereka semuanya membelakangi kampung halaman. Ternyata memang demikian, nisan-nisan yang saya lihat di perkuburan ini persis seperti itu, lebih dari tiga ratus nisan pelacur-pelacur Jepang, semuanya menghadap barat, tidak ada satupun menghadap utara!
Mungkin tidak berani, mungkin enggan, mereka mengeraskan hari, tidak menoleh, lalu menghadap arah yang berbeda dan berbaring, tidak lagi menyayat hati, tidak lagi memendam benci, bahkan ujung mata juga tidak ingin menyapu tempat yang dulu pernah setiap hari rindukan itu.
Saya percaya di bawah nisan-nisan ini pasti tersimpan banyak cerita yang mengharukan, tetapi nisan-nisan ini tidak meninggalkan data apapun, bahkan nama-nama mereka yang di pahat di batu nisan juga jelas bukan nama mereka yang sebenarnya, sehingga berimajinasi saja tidak diberi kesempatan. Misalnya, ada nisan dengan pahatan yang sangat halus, kelihatan agak istimewa, apakah dia seorang perempuan yang sangat berbakat? Baik hati? Sehingga teman-temannya memberi dia sebuah hadiah terakhir yang cantik. Dan mengapa ada nisan yang samasekali tidak ada tulisan? Apakah dia telah melakukan kesalahan besar atau terjadi sesuatu yang di luar dugaan? Dan ada lima nisan yang disusun sebaris, apakah mereka bersumpah sehidup semati? Dan apa yang menyebabkan bersumpah demikian…
Setelah meninggalkan tanah perkuburan itu, pikiran saya berkelana di antara wajah gadis-gadis muda Indonesia yang mangkal di sekitar Boat Quay dan Clarke Quay, di lorong-lorong Geylang, ataupun mungkin di Shinjuku. Di balik senyum lembut dan senyum mengoda itu tersimpan berapa banyak cerita kemiskinan, pembodohan, penindasan, dan di bawahnya masih tersusun berlapis-lapis sejarah penjajahan, sejarah korupsi, sejarah balas dendam politik. Sungguh kawan dan lawan bisa sama rata?

Cerita Lain:
BUDAK
Orang Asing di Malam Paskah