Resensi Aris Hasyim* Menengok catatan kelam sepanjang 2011 perihal aksi barbarian yang dilakukan oleh oknum yang mengatasnamakan agama, intensitasnya boleh dibilang sangat mengkhawatirkan. Sebut saja, tragedi pembantaian warga Ahmadiyah di Ciukesik, ke rusuhan Temanggung, bom bunuh diri di Masjid Mapolres Cirebon dan hanya berselang beberapa bulan bom bunuh diri mengguncang Gereja Kepunton di Kota Solo.
Aksi-aksi keji yang dilakukan sekelompok masa yang tak bermoral itu, memperpanjang daftar kekerasan bernuansa agama di seantero negeri ini. Menyikapi perihal fenomena konflik agama di dalam masyarakat bhineka seperti di Indonesia, bangsa ini perlu mengimplementasikan kembali bahwa kemajemukan merupakan kenyataan yang tidak dapat ditolak.
Saling menghormati perbedaan baik itu di ranah agama, suku, ras, dan budaya adalah langkah konkret yang patut dijadikan sebuah pandangan hidup, cita-cita, dan sebagai dasar pijak dalam mengarungi bahtera kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, cita-cita luhur itu, kini mulai terkikis seiring dengan perkembangan zaman. Beruntung, meredupnya citacita luhur itu langsung direspons dan berusaha digelorakan kembali oleh salah satu akademisi muslim yaitu Dr. Machasin.
Machasin melalui buku bertajuk Islam dinamis, Islam harmonis ingin menegaskan kembali bahwa terorisme dan kekerasan serta mengingkari kearifan lokal dan pluralisme merupakan ‘antitesis’ terhadap islam sebagai ‘rahmatan lil’alamin’ (kasih sayang bagi seluruh alam). Manifestasi Islam yang dinamis, Islam harmonis salah satunya berpijak pada penyebaran kasih sayang.
Berawal dari kasih sayang, umat Islam diharapkan lebih erat dalam merajut hubungan interaksi dan berdialog antarsesama manusia tanpa me mandang perbedaan ras, suku, dan agama. Abdul Wahid Hasan penyunting buku ini turut mendeskripsikan bahwa Islam yang dinamis adalah Islam yang mampu menggerakkan dan digerakkan oleh pemeluknya tanpa mengingkari landasan dari Alquran dan Hadits. Lebih dari itu, Islam yang dinamis memberi ruang dialog dengan tradisi dan budaya, serta mampu merespons tantangan lokal dan global.
Melalui buku ini Machasin tidak membenarkan tindakan para kaum fundamentalis yang tidak sejalan dengan norma, hukum, dan agama. Manifestasi Islam yang dinamis, Islam harmonis diharapkan selalu dikedepankan oleh kaum muslim untuk menjalin tali persaudaraan dengan penyebaran kasih sayang terhadap sesama tanpa memandang ras, suku, dan agama. Langkah ini penting sebagai upaya membangun harmoni keberagamaan di seantero negeri ini.
• Islam Dinamis, Islam Harmonis: Lokalitas, Pluralisme, Terorisme.
• Machasin
• LKIS, Yogyakarta
• Cetakan I/2011
• 342 Halaman
Penulis adalah Peneliti Kajian Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga
Sumber: Harian Bisnis Indonesia, Edisi Minggu, 18 Maret 2012.
Musim gugur baru saja tiba di Adelaide. Suhu udara yang selama musim panas seringkali melampaui empat puluh derajat celcius di siang hari mulai stabil di angka dua puluhan derajat saja minggu-minggu ini. Sejuk dan segar, mengingatkanku pada hawa dingin Lembang atau kawasan Puncak, tempat yang lazim didatangi wisatawan saat berlibur. Berkeliaran di siang hari di alam terbuka tidak lagi merepotkan dan menguras keringat. Perlengkapan semisal sun cream dan kacamata hitam mulai jarang kusentuh, seringkali tetap tersimpan rapi dalam tas atau saku celana kargo cokelat tua yang setia menemaniku ke mana-mana.
Seperti hari ini, aku memulai hari dengan mengecek perkiraan cuaca di tengah siaran berita pagi di televisi. Cuaca tampaknya akan lumayan bersahabat, suhu tertinggi diperkiraan tiga puluh tiga derajat, sedang suhu terendah dua puluh lima derajat, dengan probabilitas turunnya hujan tiga puluh persen saja. Jika dibandingkan dengan Jakarta di musim kemarau, tentu hari ini bakalan kalah panasnya, tetapi setelah mengecap hawa dingin saat musim dingin tahun lalu, bagiku angka tiga puluh derajat menjadi pengingat untuk tidak mengenakan jaket atau kaus tebal apalagi berlengan panjang di siang hari. Salah kostum bisa benar-benar dihindari jika orang serius mematuhi saran sang peramal cuaca. Ini juga yang menjadi salah satu pelajaran paling berharga bagiku semenjak menginjakan kaki di Adelaide, “percayalah pada ramalan cuaca”.
Menyaksikan acara ramalan cuaca di pagi, siang atau sore hari kini telah menjadi kebiasaan rutinku. Selain informasinya yang hampir selalu akurat, pembawa acara biasa tampil cantik dan menarik, bergaya bahasa lugas dan tampak cerdas di mataku. Ah, jadi teringat pada acara serupa yang ditayangkan saluran televisi nasional Indonesia yang kebetulan juga ditayangkan oleh saluran berita stasiun televisi nasional Australia, dengan pembawa acara amatir yang seringkali tergagap-gagap saat bicara dan dandanan ala kadarnya, acara ramalan cuaca ala Indonesia menjadi tayangan yang lebih baik dilewatkan, tinimbang membuat sakit mata dan menimbulkan gerundelan tak sedap walaupun cuma dalam hati.
Beres dengan remeh temeh urusan rumah, pukul setengah sebelas siang aku memutuskan keluar menuju kampusku di wilayah North Terrace, yang merupakan bagian pusat kota Adelaide, dengan mengendarai skuter matic merah seratus sepuluh cc, produk unggulan dari Jepang yang lumayan populer di jalanan kota ini. O ya, jika membayangkan pengendara sepeda motor di jalanan kota ini, jangan bayangkan jumlahnya sebanyak biker di Jakarta yang jutaan jumlahnya. Sebagai ibu kota negara bagian Australia Selatan (South Australia),dengan luas 870 km2 dan berpenduduk hampir 1.500.000 orang, pengendara sepeda motor di metropolitan Adelaide hampir bisa dihitung dengan jari alias tidak banyak. Jalanan dikuasai oleh mobil pribadi, selebihnya adalah bus umum dan trem. Harap maklum, di negeri empat musim seperti di sini, sepeda motor bakalan tidak sering digunakan. Siapa yang mau berbasah-basah atau kedinginan terterpa angin kencang di musim gugur atau dingin serta terpanggang panas matahari saat cuaca ekstrem singgah di Adelaide? Menurutku saat ternyaman menjajal jalanan Adelaide dengan sepeda motor hanya di musim semi, yaitu saat hawa dingin telah menguap, udara menghangat dan pemandangan di sepanjang jalan luar biasa cantiknya, saat bunga-bunga berwarna warni mulai muncul bermekaran dan banyak gadis mulai menanggalkan jaket tebalnya berganti model pakaian yang lebih beragam dan layak konsumsi bagi mata lelaki. Namun, hari ini tentulah salah satu pengecualian, dengan tingkat kepercayaan diri mencapai delapan puluh sembilan persen, aku keluar ditemani si merah.
***
Kuliah berakhir sebelum pukul lima sore, kuliah ekonomi makro lanjutan dan econometrics yang membuat otakku mendidih dan mata sepat luar biasa. Tak sabar aku ingin segera pulang dan menenangkan diri sebelum mulai bergelut menuntaskan setumpuk tugas yang telah menanti. Sepertinya, perpaduan antara paper dan waktu begadang setiap malam jadi santapan lumrah bagi mahasiswa dengan kemampuan otak setara pentium dua semacam aku. Entah dengan teman-teman yang lain, yang jelas, kembali menjadi mahasiswa setelah sempat bekerja beberapa tahun tanpa menyentuh buku-buku, lumayan terasa berat buatku.
Setelah berbasa basi sebentar dengan teman kelompok belajarku, membuat janji untuk saling bertukar bahan untuk menyusun paper malam nanti, aku bergegas menuju tempat parkir. Langit sore tertutup awan hitam yang lumayan tebal. Probabilitas turunnya hujan yang tiga puluh persen itu nampaknya akan terjadi di pusat Adelaide sore ini. Whewww, berarti aku harus cepat-cepat memacu si merah kembali ke rumah. Bisa repot jika tertimpa hujan di tengah jalan.
Belum lagi mencapai jarak dua kilometer, tepat saat aku menunggu lampu lalu lintas berganti hijau, hujan deras tiba-tiba mengguyurku. Tidak dimulai dengan gerimis, datang begitu saja, rasanya bagaikan tersiram air dari berpuluh ember langsung di atas kepala. Belum lagi angin kencang khas Adelaide ikut-ikutan menyerang. Brrrrr…susah payah aku memusatkan pandangan dari balik kaca helm yang mulai berembun. Sulitnya di sini, pengendara sepeda motor tidak bisa langsung menepi dan berteduh di sembarang tempat. Terbayang ratusan motor terparkir di bawah jembatan Semanggi atau terowongan Casablanca atau berjejal-jejal di halte bus sekitar Pancoran jika hujan tiba-tiba datang seperti ini di kota kelahiranku, Jakarta. Di sini? Silakan saja kalau berani menepi dan berteduh di halte atau di tengah jalan umum seperti terowongan itu. Tidak akan ada polisi yang langsung mendatangi, tetapi tidak dalam hitungan seminggu surat denda akan mampir ke alamat rumah kita. Denda yang tidak tanggung-tanggung, ratusan dollar nilainya, jumlah yang bakal membuat mahasiswa yang bergantung pada uang bea siswa seperti aku bakalan harus berpuasa atau paling tidak absen makan malam selama dua minggu setelahnya.
Beruntung dua ratus meter setelah perempatan ini ada rumah sakit pusat Adelaide, aku berbelok memasuki pelatarannya, memarkir skuterku di tempat yang disediakan dan berlari menuju tempat yang memungkinkan untuk berteduh. Sebenarnya tidak terlalu menolong, mengingat badanku sudah basah kuyup, tetapi jika terus berkendara di tengah hujan angin, aku tidak berani juga. Hujannya sih tidak terlalu kutakutkan, angin kencangnya itu yang sering membuat badan oleng ke kiri ke kanan, dan itu berbahaya bukan saja bagiku tapi juga bagi sesama pengendara lainnya.
Bersidekap menghalau hawa dingin, aku membayangkan suasana yang lazim kutemui saat terjebak hujan di sepanjang jalan raya Kali Malang, jalanan yang biasa kulewati pagi dan petang saat berangkat atau pulang kantor. Hujan begini, yang kutuju kalau tidak halte ya warung-warung tenda yang berjejer sepanjang jalan. Tinggal pilih tenda mana yang ingin kusambangi, mulai soto, sate, bakso, seafood, bubur kajang ijo, atau bubur ayam dan sederet menu lain yang beraneka ragam jenisnya. Hujan bisa jadi pertanda memulai wisata kuliner murah meriah. Menunggu bisa jadi hal menyenangkan, segelas teh manis panas dan semangkuk bubur ayam hangat berkuah kuning nan gurih dengan taburan kacang kedelai goreng, suwiran ayam, irisan daun bawang dan bawang goreng, plus sambal kacang dan kerupuk, hmm, tak lupa obrolan basa basi dengan pemilik atau pelayan di warung tenda atau sesama pengunjung warung yang juga sedang menunggu hujan reda bisa mengurangi kesengsaraan pengendara sepeda motor yang tertahan tak bisa melanjutkan perjalanan. Cukup sepuluh atau lima belas ribu rupiah saja, bahkan terkadang kurang dari itu jika yang kupesan semata segelas kopi susu dan sepotong dua potong pisang goreng, rasanya tenteram dan damai. Ah, cuma lamunan, tapi sudah cukup membuat perutku bereaksi suka cita melagukan keroncong Bandar Jakarta. Ini Adelaide, bung, batinku mengingatkan. Tak ada satu pun pedagang kaki lima di tengah kota, ingin makan berarti masuk ke restoran, yang, tak cuma lumayan mahal harga yang harus dibayar, tapi juga sulit mencari yang menyediakan makanan halal. Makan saja butuh kewaspadaan, soal kehalalan makanan dan soal isi dompet. Beginilah gerangan nasib seorang mahasiswa pendatang, harus selalu pintar-pintar memilih dan berhitung jika ingin tetap bertahan hidup di perantauan.
Lima belas menit, hujan malah main deras, kulihat berkeliling, di ujung lorong menuju ruang gawat darurat, sekitar tiga puluh meter dari tempatku berteduh, berkelompok orang-orang yang juga sedang berteduh, mereka berdiri melingkari tempat khusus membuang puntung rokok. Zona khusus perokok. Cuma para perokok yang tahan berada di sana, terisolasi bersama asap yang tak hanya berhamburan di udara tapi juga ikut terhirup ke dalam paru-paru mereka, tapi entah mengapa tak pernah membuat mereka jera. Untunglah, di sini selalu tersedia zona khusus bagi pemakan asap itu, hingga manusia lain sepertiku yang tak sanggup menghirup bahkan bau asapnya, bisa tetap leluasa bernafas di zona yang lain. Lagi lamunanku membawaku ke satu halte bus yang penuh sesak di sepanjang jalan Mampang Prapatan, tak jauh dari kantorku di Jakarta, ketika lebih dari sepuluh orang berdiri berdesakan di tengah hujan, separuhnya atau mungkin lebih merokok untung mengusir rasa bosan, sementara sisanya cuma bisa menahan nafas dan berdoa dalam hati supaya hujan berhenti hingga bisa menyingkir dari sana atau merutuki dengan emosi namun tak sanggup bersuara melawan hujan asap di ruang terbatas semacam itu. Sungguh, aku kangen bau hujan Jakarta dan suasana saat menanti hujan reda, tapi juga bersyukur, di kota tempat tinggalku kini, lebih banyak manusia yang peduli orang lain contohnya saat melihat ketertiban mereka mematuhi zona perokok ini.
Mestinya saat ini senja telah tiba, langit mulai gelap, bukan semata karena mendung, tetapi karena malam mulai merambat perlahan. Di musim gugur, malam mulai datang lebih cepat, pukul delapan, tak seperti saat musim panas, kala senja baru muncul saat jam menunjukkan pukul sembilan atau lebih. Rasanya tak tenang membayangkan apartemen kecilku yang hangat, yang masih sekitar enam kilometer lagi jauhnya dari sini. Belum lagi, kegelisahanku karena kemungkinan harus melewatkan waktu sholat maghrib. Tak semua sarana publik di kota ini memiliki ruang untuk menunaikan kewajibanku yang satu itu. Karena alasan inilah akhirnya aku memutuskan menembus hujan untuk pulang. Beruntung, angin tak lagi sekencang tadi, tinggal hujan yang menyisakan rinai tipis serupa tirai di hari yang mulai gelap. Kunyalakan mesin dan bersama si merah membelah malam.
***
Lima belas menit berlalu, dan si merah kini sudah terparkir aman di tempatnya. Aku naik ke lantai dua gedung apartemen, menuju tempat unitku berada. Dingin dan basah. Tanganku yang tanpa pelindung tampak berkerut dan tubuhku yang sejak tadi tak terlindung jaket dan basah kuyup mulai menggigil. Sesaat sebelum memutar anak kunci, mataku melihat secarik kertas berperekat tertempel di pintu. Ada pesan tertulis di sana, “Bim, ponselmu mati ya? Susah kita kirim pesan. Kalau mau yang hangat-hangat, mampir ke unitnya Ninis ya, kita lagi lagi pesta bubur ayam nih.. ttd, Angga”. Ups, ya, memang sedari tadi ponselku kumatikan, kutaruh dalam tempat pensil plastik di dalam tas, khawatir terkena air dan mengalami kerusakan. Pantas saja teman-temanku tak bisa menghubungiku.
Kuputar tubuhku, dan melihat di balkon unit delapan puluh dua yang letaknya di gedung yang berseberangan dengan gedung apartemenku, tampak empat teman seperjuanganku, Nanda, Ninis, Karim dan Angga yang juga teman satu unitku sedang berkumpul sambil bercengkrama. Ninis pastilah yang punya inisiatif memasak menu lezat ini. Aroma bubur ayam racikannya sepertinya telah sampai ke hidungku. Keroncong Bandar Jakarta yang sejak tadi riuh rendah di perutku kembali memainkan iramanya. Ingin tersenyum jadinya. Tuhan memang Maha Tahu, apa yang kubayangkan sore tadi benar-benar terwujud malam ini. Bubur ayam hangat dan kesempatan berbincang akrab dengan Ninis, sang masterchef yang manis, adalah bonus luar biasa untuk hariku yang panjang. Terima kasih banyak Tuhan, rejekiMu memang tak pernah salah pintu.
Puisi Binandar Dwi Setiawan Ilustrasi dari stat_ks_kidsklik_comApa yang masih aku tidak ketahui harus hadir lagi menjelma kejadian memprakarsai kedatangan dirimu. Rupanya kedatanganmu menuntut begitu banyak syarat yang aku tak kesemuanya tahu. Sementara rinduku tak tertahan lagi disini, aku tak lagi memiliki sesuatu pun untuk menampungnya. Apakah kau hanya mau sampai kepadaku, ketika telah habis rinduku yang untukmu.
Musuh. Aku membutuhkanmu sebagai wadah untuk menumpahkan seluruhnya marahku.Kenalilah segala hal yang kubenci dan segala hal yang secara tradisional mampu menyulut amarahku, rangkumlah menjadi satu, satukanlah menjadi dirimu. Agar tidak ada satupun yang aku benci selain dirimu. Agar para senjata memahami harus kearah mana mereka menghadap.
Disini, didalam diri, kobarnya api terlalu besar. Merusak irama yang harusnya indah berharmoni. Membakar hal hal yang harusnya tersaji sempurna. Kejadian kejadian tertentu yang harusnya terjadi menjadi tidak terjadi. Ruang dan waktu bagai jahat kepadaku. Kau sebarkan aromamu sebelum kedatanganmu, tetapi aku masih tahu siapa kau, dan siapa yang hanya sedang terliputi oleh aromamu. Segala sesuatu itu, meskipun memakai pakaianmu, tetaplah bukan kau.
Mereka tetaplah mereka, dan kau tetaplah kau. Apapun yang terjadi aku tak akan pernah membunuh mereka, seperti aku tak akan pernah segan membunuhmu. Semakin lama kau tak datang, semakin banyak leher kau kirim yang harus ku tebas untuk sampai kepadamu, semakin pandai ku mengambil kendali atas keliaranku, maka akan semakin tajam pedang yang akan kugunakan untukmu. Kau sendiri yang mengasah pedangku.
Hanya kau yang selama ini benar benar ku tunggu, untuk mengetahui siapakah aku yang sebenarnya. Untuk ku merasakan betapa sakitnya apa yang telah lama menjadi bagian dalam diri bisa terlepas keluar. Untuk merasakan aku di dalam dirimu. Musuh, datanglah tanpa ragu, beradalah, dalam pandangku. Apalagikah yang kau takutkan ketika tak sedikitpun aku takut kepadamu. Bukankah keberanianku memuncakkan keberanianmu, bukankah gelisah kita sama. Bukankah kau membutuhkanku sebagaimana aku membutuhkanmu.
Telah ku ubah semua ruang menjadi medan laga bagi kita berdua, maka untuk apa kau bersembunyi jika toh aku di dekatmu juga. Maka untuk apa kau menangkis jika toh aku menyerangmu juga. Sempurnalah. Sebab yang jahat tidak akan betah berada di kebaikan, sebab yang baik tidak akan betah berada di kejahatan. Sebab yang jahat tidak akan betah mendiamkan yang baik, sebab yang baik tidak akan betah mendiamkan yang jahat. Yang jahat harus bertarung dengan yang baik, yang baik harus bertarung dengan yang jahat. Begitulah kekasihku, begitulah musuhku.
Cerpen GM Sudarta Candik Ala: Foto by RagilSetelah matahari tengah hari tergelincir, langit berangsur berubah berwarna kuning. Sinar menyilaukan berpendar-pendar membiaskan kabut kuning menerpa seisi alam. Cuaca seperti inilah yang oleh ibu disebut sore “candik ala”. Suatu sore yang jelek. Suatu sore yang membawa malapetaka dan penyakit. Dalam cuaca seperti ini, kami diharuskan masuk ke dalam rumah.
Aku tidak lagi mau bertanya kepada ibu, perihal kenapa kita mesti takut kepada cuaca seperti itu. Karena kalau aku bertanya hal-hal aneh, seperti misalnya larangan untuk duduk di depan pintu yang nanti akan dimakan Batara Kala, akan selalu dijawab dengan nada agak marah, dengan kata yang tak kupahami maksudnya: “Ora ilok!” kata ibu.
Tapi kali itu, setelah beberapa kali mengalami sore candik ala, aku tak tahan lagi untuk tidak bertanya tentang ayah, yang sudah berbulan-bulan tidak pulang. Ibu seperti menghindar, memalingkan muka menyembunyikan wajahnya, sambil jawabnya:
“Nanti juga kalau saatnya pulang, pasti pulang.”
“Apa nggak kena penyakit karena candik ala, Bu?” tanyaku tak sabar. Ibu diam saja.
Memang, kadang-kadang setengahnya aku kurang percaya dengan hal-hal aneh demikian, tapi kadang kala pula hati dibuat ciut dengan kejadian seperti yang pernah kami alami tahun lalu. Menjelang tengah malam kudengar suara kentongan bertalu-talu, seperti jutaan kentongan dipukul bersamaan. Semula terdengar samar-samar, seperti dari kejauhan, semakin lama semakin keras seperti semakin mendekat. Ibu segera berdiri di balik pintu depan, sambil komat kamit membaca doa. Kudengar sepotong doanya:
“Ngalor, ngalor, aja ngetan aja ngulon.”
Kupeluk kaki ibu karena ketakutan oleh sesuatu yang tidak kumengerti.
“Ada gejog,” kata ibu, “Nyai Roro Kidul bersama bala tentaranya sedang berarak menuju istananya di gunung Merapi. Orang yang tinggal dekat Segara Kidul, yang pertama kali melihat ombak laut besar dan suara gemuruh, mulai memukul kentongan. Itu pertanda Nyai Roro Kidul keluar, naik kereta kencana, diiringi para serdadu jin. Kemudian orang desa yang akan dilewati rombongan itu beramai-ramai memukul kentongan supaya beliau tidak singgah ke desanya. Karena setiap beliau singgah, beliau akan mengambi abdi dalem baru.”
Aku tetap kurang paham akan keterangan ibu. Yang aku tahu ibu telah berdoa supaya rombongan itu tidak singgah ke sebelah timur Gunung Merapi, letak desa kami.
Beberapa hari kemudian, malamnya, dua lelaki berseragam loreng datang ke rumah dan mengajak ayah pergi, sepertinya dengan cara paksa. Ibu mengejar sampai halaman depan sambil memohon supaya ayah jangan dibawa dengan penuh iba.
“Ayah dibawa Nyai Roro Kidul ya Bu?” tanyaku.
“Hush!” jawab ibu sambil bergegas langsung masuk kamar tidur. Kudengar tangisan ibu menyayat hati.
Berita tentang perginya ayah merebak ke seluruh desa. Meskipun tak begitu aku pahami artinya, kudengar dari Lik Kasdi, pamanku, bahwa ayahku terlibat. Terlibat apa aku kurang jelas, hanya yang kuketahui juga dari tetangga bahwa ayahku adalah seorang pegawai negeri yang suka memberi penyuluhan kepada para petani.
Sejak itu, ibu kerap pergi dengan menjinjing rantang berisi nasi dengan lauk ikan asin dan sayur daun singkong kesukaan ayah. Kami, anak-anak, tidak diperkenankan ikut serta. Beberapa kali, aku yang merasa anak terkecil suka merengek minta ikut. Dengan sedikit marah ibu menjawab:
“Ibu akan nengok ayahmu yang sedang kerja, kamu jangan ganggu dia!”
Pasti ayah sedang kerja lembur, pikirku. Tetapi beberapa bulan kemudian, ibu tidak bisa lagi berbohong, karena kemarin aku dengar dari Lik Kasdi, bahwa ayah ditahan di kota.
Dan dia bercerita panjang lebar, tentang pemberontakan besar. Waktu itu yang tertangkap dalam otak kecilku adalah tentang para jenderal yang dikorbankan dimakan buaya di sebuah lobang.
“Ayahmu sedang berjuang,” ujar ibu dengan wajah keruh ketika aku tanya soal tahanan ayah. Tanpa tahu apakah yang dimaksud dengan berjuang, yang pasti aku kerap kali menangis sendirian bila malam waktu tidur tiba. Setiap bangun pagi, ibu melihat mataku sembab. Rupanya ibu pun tahu akan kerinduanku pada ayah. Kulihat air matanya mengembang. Kemudian memelukku erat-erat, dan tangisnya tertahan meskipun air matanya deras membasahi pundakku. Jadinya aku ikut menangis tanpa kutahu sebabnya.
Sore itu, cahaya candik ala menyelinap lewat jendela menerpa lemari kaca tempat memajang foto ayah dalam bingkai. Mungkin karena rinduku pada ayah, kulihat seakan foto ayah bergerak, tangannya melambai kepadaku. Terasa di dalam dadaku ada yang menggelepar-gelepar.
Kudengar pula dari Lik Kasdi, ayah bersama para tahanan beberapa lama ini sedang dipekerjakan membuat tanggul sepanjang rawa besar di daerah tak jauh dari rumah kami. Katanya tanggul yang sepanjang tiga kilometer ini sekaligus untuk jalan penghubung antardesa yang terpisah oleh rawa. Karena rinduku tak tertahankan lagi, dengan mengendap-endap lewat pintu dapur, tanpa sepengetahuan ibu dan tanpa takut dengan cuaca candik ala, sambil membawa pancing bambu, kugenjot sepedaku lari kencang ke rawa, dengan harapan ayah masih di sana.
Setiba di sana, nampak banyak orang berseragam loreng dengan menyandang senjata laras panjang. Mereka berjaga di sebelah timur rawa, di mana kulihat ratusan orang sedang bekerja menggali tanah dan mengangkat batu. Dalam terpaan cahaya kuning, wajah-wajah kurus semakin mempertegas cekungan mata bagai mayat hidup. Dadaku berdebar-debar, tak sabar untuk bisa cepat-cepat bertemu ayah, yang mungkin ada di sana. Beberapa meter sebelum mencapai tempat mereka, seorang petugas mengusirku, dan menyuruhku mancing agak jauh dari situ.
Kutaruh sepeda di pinggir jalan, kemudian duduk mencangkung di atas batu padas di pinggir rawa. Dengan berpura-pura memancing, terus kutajamkan mataku mencari ayah di antara ratusan orang yang sedang bekerja. Langit yang membiaskan warna kuning agak menyilaukan mataku, sehingga sulit mencari di mana ayah berada. Ketika langit berubah warna memerah, pertanda magrib menjelang tiba, dan ketika aku nyaris putus asa, kulihat di kejauhan seseorang berdiri tegak memandang ke arahku, sementara yang lain masih bekerja…. Itulah ayah!
Kulempar pancing, tanpa menghiraukan para petugas, aku pun berlari, menangis sambil berteriak keras-keras memanggil ayah. Ayah seperti tertegun melihat kedatanganku.
Tetapi kemudian wajahnya berubah gembira, meskipun kulihat seperti dipaksakan. Lengannya terentang menyambutku. Kujatuhkan diriku memeluk lututnya dan menangis sejadi-jadinya. Kulihat ayahku sangat kurus dan lusuh, tapi nampak diusahakan selalu tubuhnya ditegap-tegapkan.
“Kapan ayah pulang? Kapan, yah, kapan?” tanyaku berulang-ulang
Ayah tersenyum lebar sambil jawabnya: “Nanti kalau kerja besar ini selesai, cah bagus.”
Beberapa petugas mendekati kami. Ayah bicara kepada mereka beberapa saat, kemudian kami dibiarkan berdua. Kami hanya berpelukan sampai terdengar peluit tanda usai kerja. Kami bergerak bersama para tahanan menuju truk-truk yang sudah tersedia, sambil kupeluk pinggang ayah.
“Ayah tidak kena penyakit karena candik ala?” tanyaku.
Ayah tertawa. Sambil mengelus rambutku ayah bekata:
“Tidak mungkin ayah kena. Ayah sehat karena banyak makan sayur.”
Kemudian ayah membopongku, menciumiku sambil tawanya yang nampak dipaksakan pula. “Ayah nanti tidur di p..p..penjara?” tanyaku terbata-bata menahan tangis.
“Siapa bilang, he..he..he, bukan di penjara, tapi di hotel!”
“Ayah sedang berjuang?” tanyaku kemudian. Ayah nampak kaget.
“Ibu yang bilang…,” kataku menjelaskan. Ayah tertawa mendengar ini.
Menjelang dekat truk, ayah berjalan dengan tegak sambil menyanyikan sebaris lagu Indonesia Raya. Para petugas dan para tahanan terheran-heran, memandang kami. Setelah menurunkan aku dari gendongannya, ayah melompat ke bak truk. Sambil menoleh kepadaku, ayah mengacungkan tinju ke atas, dan katanya keras-keras:
“Ingat Aryo, kamu harus selalu berjalan tegak, menghadapi nasib apa pun. Termasuk kalau ada candik ala…. Dan jangan lupa lagu Indonesia Raya!”
Barisan truk pelan-pelan semakin jauh meninggalkanku sendirian di pinggir rawa. Tak terasa air mata membanjir membasahi pipi.
“Ayaaaaaaaaah!!” teriakku keras-keras muncul sendiri tanpa kusadari.
Saat usia sekolahku tiba, suatu malam Lik Kasdi, yang sudah menjadi carik desa, datang mengunjungi rumah kami. Di ruang depan dia bicara setengah berbisik kepada ibuku. Dari balik pintu kamarku, kutangkap pembicaraan mereka, bahwa ayah sudah menyambut maut dengan gagah sambil menyanyikan Indonesia Raya, katanya.
“Saya sudah berusaha keras menolongnya, Mbakyu,” ujar Lik Kasdi, “Sudah kuberi bukti bahwa Mas Kasman tidak terlibat, melainkan karena fitnah bekas bawahannya yang sakit hati karena dia pecat.” Aku mau menangis keras, tapi terasa tenggorokanku tercekik. Semalam suntuk aku terduduk di balik pintu kamar, sambil mendengar isakan ibu dan Yu Rini, berkepanjangan di kamarnya.
Tiga tahun kemudian, ibuku pun menyusul ayah. Bukan karena diambil Nyai Roro Kidul, melainkan oleh sakit batuk yang diidapnya sekian lama. Yu Rini pun menikah dengan seorang aparat desa dan aku ikut dengannya. Berpuluh tahun kemudian, setelah melewati berapa puluh sore candik ala, setiap cuaca demikian, ada sesuatu yang pedih, seakan ada yang pecah berkeping-keping di dalam dadaku. Dan telah sekian puluh tahun pula aku mencoba benar-benar berjalan tegak, tapi sangatlah sulit. Hanya karena aku adalah anak kandung ayah. Dan semua orang masih saja mengingat ayah adalah ayah kandungku.
Sekarang ini, aku masih juga mencoba berjalan tegak, meskipun sudah sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya, tapi hanya baru bisa melata di tanah!
Klaten, 2005
Catatan: Candik ala: pertanda buruk dengan cuaca sore yang membiaskan warna kuning Ora ilok: pamali, larangan Gejog: barisan roh halus Nyai Roro Kidul: Ratu Laut Selatan Ngalor, ngalor, aja ngetan, aja ngulon: ke utara, ke utara, jangan ke timur jangan ke barat Segara Kidul: Laut Selatan Kali Woro: sungai besar di lereng gunung Merapi yang dipenuhi pasir dan lahar dingin
Bagian 2.Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom
Bbrrraaakkk …!! Brrraaakkk… !!! pintu kedai tuak Saut Hasudungan ditendang keras preman mabok menggenggam pisau belati jam 3 subuh. “Anjing !!! kemana kausembunyikan adikmu itu.” Bardo, preman pelabuhan, membentak Saut yang baru selesai membereskan kedai tuaknya. Tanpa menjawab, Saut langsung menghujam kepala Bardo dengan parang tajam yang terletak di meja tuak yang baru bubar. Hujanan parang Saut sangat brutal dan histeris sampai 3 kali. Kedua kawan Bardo langsung menggerek Bardo terkulai ke sepeda motor, mereka lari terbirit birit membawa Bardo ke rumah sakit. Depan pintu masuk kedai tuak itu penuh berlumuran tetesan darah kental Bardo. “Nang…cepat bersihkan darah ini.” Saut Hasudungan panggil istrinya. Kemudian dia dengan langkah tenang, wajah tanpa emosi, menuju kamar mandi membersihkan kedua tangan bekas darah hasil membacok Bardo. Tingkah laku seorang god father adalah karakter yang menonjol dalam diri Saut Hasudungan. Resiko belakangan yang penting orang yang bikin persoalan segera dituntaskan.
Ternyata, Tigor terlibat dalam pembakaran pukat harimau bersama nelayan pinggir pantai. Lima orang nelayan yang ditangkap mengaku bahwa perancang pembakaran pukat harimau itu adalah Tigor. Dan, dua hari polisi bersama preman gagal mencari Tigor sejak perisitiwa pembakaran pukat harimau itu. Tak seorang pun tahu.
Tiga hari kemudian pintu rumah Pak Kurus diketuk lembut jam 2 subuh. “Pak…Pak..buka pintu Pak.” Terdengar suara berbisik sayup. “Siapa itu?” Pak Kurus menuju pintu. Rupanya Tigor, naik motor matikan mesin dan berlahan masukkan motor mati lampu. “Aku mau bawa ijazah SMP dan beberapa pakaian. Di sini sudah tak aman. Aku lanjut SMA di Rilmafrid bersama Kak Dameria. Oke ..ya Pak?” Tigor pamit.
“Hati hati kau,” Pak Kurus ucapkan selamat jalan.
Begitulah dinginnya sikap keluarga Pak Kurus menghadapi kasus kriminal yang menimpa keluarga. Saut Hasudungan,Ibu Kurus, Pak Kurus, Rosita Dameria tak repot mengatasi persoalan berat yang dialami Tigor.
Sangat mencolok perbedaannya dengan sikap keluarga kaya raya mapan aristokrat di kota-kota besar. Mereka sudah hidup dengan nikmat bahagia setiap hari, seakan tak kekurangan sesuatu apapun dalam hidupnya. Oleh sebab itu seluruh anggota keluarga akan sangat gampang terganggu oleh masalah-masalah ringan. Mendapat persoalan kecil saja, para keluarga mapan aristokrat itu sudah panik gelagapan. Heboh bukan main. Seluruh energi dikerahkan keluarga untuk mengatasi persoalan sepele. Tidak setenang keluarga Pak Kurus.
Atas bantuan keluarga, Rosita Dameria dengan mudah mendaftarkan adiknya, Tigor, ke SMA Triyatna pinggir kota Rilmafrid. Dan, dengan mudah pula Tigor menyesuaikan diri di sekolah tersebut. Seolah olah tidak ditimpa persoalan serius di Pangkoper. Tapi, keberadaan sekolah Tigor di Pangkoper sangatlah berbeda dengan SMA Triyatna di Rilmafrid. Sengaja Pak Naldo, paman mereka, memilih SMA berkualitas untuk keponakannya dengan harapan agar Tigor tidak bergaul liar lagi seperti di Pangkoper. Harapan keluarga tercapai. Selama tiga tahun menyelesaikan pendidikan SMA Triyatna, Tigor tinggal bersama keluarga Pak Naldo. Segala tata tertib disiplin ketat rumah tangga yang digariskan oleh Pak Naldo dipatuhi dengan baik. Itu makanya Tigor tertempa menjadi anak yang pintar. Dan, lolos seleksi menjadi mahasiswa fakultas hukum Universitas Sandiega di Rilmafrid yang terkenal sangat selektif menerima mahasiswa baru. Guna menghemat biaya transportasi dan agar lebih efisien bergerak, Tigor harus angkat kaki dari rumah Pak Naldo setelah menjadi mahasiswa. Kamar indekos dekat kampus adalah rumah pondokannya.
***
“Mikail Pratama, kau harus kuliah di kota Rilmafrid. Harus di kota ini!” kata sang ayah tegas kepada Mikail Pratama. Mikail Pratama hanya tunduk diam terpaku mendengar titah sang ayah. “Ayah sudah capek menghadapi kau selama SMA. Kalau saja kau lakukan kasus kasus yang sama di kota lain, pasti kau akan dihabisi oleh preman.” Ayah melanjutkan nasihatnya kepada anak tengah mereka Mikail Pratama.
Memang wajar sang ayah berkata begitu. Karena selama SMA, Mikail sudah entah berapa kali diselamatkan oleh ayahnya. Masih 3 bulan duduk di kelas satu SMA, Mikail sudah terlibat penjualan narkoba. Karena polisi masih dengan mudah dapat disogok, maka Mikail tidak jadi dipenjara. Masih kelas satu SMA. Empat bulan setelah kasus penjualan narkoba, Mikail sudah tertangkap lagi dalam kasus pelecehan sexual. Pembantu rumah tangga mereka yang bahenol tiba-tiba hamil. Kembali lagi ayah terpaksa merogoh kantong untuk melarikan si pembantu rumah tangga agar tidak menuntut Mikail. Kasus perkelahian massal antar anak SMA, kebut kebutan di jalan, kasus tabrak lari dan narkoba, terus menerus menghiasi hidup Mikail selama SMA. Padahal 2 orang kakak Mikail dan seorang adik laki-lakinya hidup teratur, sangat santun terhadap kedua orang tuanya.
“Entah kenapa pula si Mikail bisa seperti ini.” Ibu pusing tujuh keliling menghadapi anak laki-lakinya. Rini Anggelina anak sulung keluarga, kakak Mikail, sedang menempuh pendidikan musik di Jerman. Yayuk Astuti anak kedua mendapat bea siswa dari Unversitas Steinbeki Fakultas Antropologi. Sedangkan Mikail Pratama tak akan menjadi mahasiswa apabila sang ayah tidak menyogok dekan Fakultas Ekonomi Universitas Zatingon di kota Rilmafrid.
Sedangkan anak bungsu mereka Jimmi Rocky cerdas layaknya si kakak, Rini Anggelina, tak banyak menyita pikiran keluarga dalam menempuh kehidupan ini.
Keluarga sangat heran melihat perubahan yang mendadak pada diri Mikail setelah menjadi mahasiswa. Sama sekali tidak berminat keluar dari rumah setelah pulang kuliah. Mikail sibuk belajar. Berkurung berlama-lama di dalam kamar membaca pelajaran mata kuliah dan berbagai buku ilmu pengetahuan lainnya. Hingga pada suatu sore Mikail berkata, “Ayah,.. agar aku lebih efisien, lebih baik kendaraanku, mobil ini, diganti saja sama sepeda motror?”
Betapa herannya Ayah mendengar pernyataan Mikail. Karena, status sosial yang tinggi sebagai pejabat elite pemerintahan ada 3 mobil pribadi dan sebuah mobil dinas parkir di garasi mobil mereka. Beberapa kali media massa meributkan kasus korupsi yang menimpa ayah Mikail sebagai pejabat Badan Perancang Pembangunan Nasional. Tapi, tetap saja lolos dari jebakan penjara. Mungkin karena kecerdasannya membagi kue hasil korupsi untuk atasannya di kantor pusat pemerintahan Trieste, membuat beliau tidak pernah menjadi terdakwa di pengadilan.
Sekedar memancing, sang ayah ajukan pertanyaan kepada Mikail,” Ah !! apa kau mau ngebut ngebutan lagi naik motor? Dan, perkuliahanmu berantakan lagi?”
Dengan muka serius Mikail berharap, “tidak..tidak Ayah. Aku menemukan duniaku di fakultas ekonmi. Hanya sekedar agar efisien gerakku setiap hari dan bensin jauh lebih irit”.
Keluarga semakin aneh melihat perubahan Mikail setelah dibelikan motor. Berpakaian necis setiap hari, tidak merokok lagi dan tidak banyak bicara. Dari Jimmi Rokcy, keluarga mendengar informasi tentang keberadaan Mikail. Ternyata Mikail sedang menjalin percintaan dengan Susanti, anak Fakultas Hukum Universitas Sandiega. Mungkin Susanti yang menganjurkan Mikail agar memberhentikan kebiasaan merokok.
“Syukurlah…, sejak SMA kita anjurkan Mikail agar tidak merokok. Tak pernah dihiraukan si Mikail. Nah, sekarang gara-gara pacaran dia berhentikan kebiasaan merokok. Syukurlah.” Si Ibu mengelus dada merasa lega melihat perubahan kongkrit pada diri anaknya, Mikail.
Susanti, anak pengusaha terkenal di Rilmafrid yang sebenarnya adalah kawan dekat ayahnya Mikail. Tapi, hal ini tak pernah terungkap dalam percintaannya dengan Susanti. Mereka sama sama merahasiakan hal ini di hadapan kedua orang tua mereka. Justru, kedekatan hubungan Susanti dengan Tigor kawan sekuliahannya membuat Mikail berkawan akrab dengan Tigor. “Jangan pula kau anggap aku rivalmu merebut hati Susanti ya.. Mikail!” Tigor terus terang kepada Mikail.
“Hua..ha..ha..Kalau kau cinta sama Susanti sudah sejak awal kuhajar kau Hua..ha..ha..,” Mikail hanya berguyon menanggapi Tigor.
bersambung…
*)Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’
Cerpen John Darsanto Ilustrasi dari blogspot.comAda dua orang pemuda tengah berjalan di sebuah jalan kecil desa. Mereka sudah bersahabat lama. Sambil berjalan mereka tengah serius membicarakan tentang siapakah dirinya di hadapan Tuhan. Dan hari itu mereka sepakat berangkat ke sebuah desa kecil terpencil di ujung jalan kecil itu untuk menemui penasehat saktinya.
Kedua pemuda itu memiliki beberapa kesamaan dan perbedaan pandangan dalam melihat eksistensi hidupnya. Kedua pemuda itu sama-sama percaya kepada Tuhan. Juga sama-sama tidak beragama. Mereka sama-sama memiliki pandangan bahwa agama itu membelenggu. Keduanya juga sama-sama menjunjung tinggi segala bentuk perbuatan baik, menolong sesama, berbagi rejeki, berprasangka baik terhadap orang lain, tekun bekerja, dan mensyukuri hidupnya.
Tetapi mereka juga memiliki beberapa perbedaan. Saat mereka berdoa, yang seorang suka dengan keheningan, gelap sunyi dan tersembunyi, tanpa sepengetahuan siapa pun. Pemuda hening itu memandang bahwa berdoa adalah komunikasi pribadi antara dirinya dengan Tuhannya. Sedang yang seorang lainnya suka dengan berekspresi, kadang doanya hanya berupa suatu nyanyian yang dia ciptakan sendiri, kadang berupa tangisan dan ratapan, kadang sekali waktu berupa teriakan saat dia senang atau pun saat protes kepada Tuhannya. Bagi pemuda ekspresif itu berdoa merupakan komunikasi emosional antara dirinya dengan Tuhannya.
Dalam perbedaan itu kedua pemuda itu saling menerima dan menghormati satu dengan yang lainnya. Akan tetapi kini mereka sedang mengalami krisis keyakinan karena perbedaan cara pandang yang menimbulkan silang pendapat serius.
Baik Si Hening maupun Si Ekspresif sama-sama meyakini bahwa diri mereka diciptakan Tuhan penuh dengan keistimewaan dan keunikan masing-masing. Sehingga Si Hening yakin bahwa tak ada sedikitpun alasan untuk tidak mencintai Tuhannya. Untuk itulah Si Hening senantiasa berbuat berbagai kebaikan kepada sesama sebagai wujud cintanya kepada Tuhannya. Sedangkan bagi Si Ekspresif memiliki keyakinan bahwa Tuhannya sangat mencintainya, sehingga dia berbuat berbagai kebaikan kepada sesama itu merupakan wujud ungkapan terima kasih kepada Tuhannya.
“Aku merasa tak pantas mendapat ampunan Tuhan,” kata Si Hening
“Kenapa?” Si Ekspresif bertanya dengan nada memprotes pernyataan Si Hening “bukankah kita sama-sama menyakini bahwa Tuhan itu Maha Baik dan Maha Ampun?”
“Ya karena itulah,” jawab Si Hening “sementara aku justru penuh kebadhegan hidup, perbuatanku masih jauh dari wujud cintaku pada Tuhan Yang Maha Baik dan Maha Ampun. Aku masih belum mampu memberangus kemaksiatan di sekelilingku. Ketidakadilan dan keserakahan sering hanya kubiarkan berlalu di depan mataku seakan semua itu tak pernah terjadi di depanku. Aku belum mencintai Tuhan sepenuh hatiku. Apa pantas aku menyebut diriku sebagai orang yang dikasihani Dia Yang Maha Baik dan Maha Ampun?”
“Ah, itu hanya perasaanmu saja,” kata Si Ekspresif. “Menurutku justru karena kebadhegan hidup kita itulah maka aku hanya mengandalkan Dia Yang Maha Baik dan Maha Ampun. Dia tahu semuanya tentang hidup kita. Dia menerima setiap kelemahan kita selama kita mengandalkanNya.”
“Itu terserah menurutmu,” kata Si Hening, “menurutku kebaikan Tuhan itu hak prerogatif Dia. Kita boleh mengandalkan Dia tetapi kasihNya mau dilimpahkan ke kita atau tidak itu adalah hakNya. Maaf, aku tidak sanggup kalau harus mendikte Tuhan.”
“Bukan mendikte Dia, Tuhan tidak bisa didikte, Tuhan di atas segala-galanya. Masalahnya ketika kamu mengandalkanNya itu kamu percaya atau tidak akan kuasaNya? Kalau kita percaya, tentu tak ada yang mustahil bagiNya.”
“Ya aku tahu, tak ada yang mustahil bagi Dia selama kita percaya. Tetapi apa wujud bahwa kita percaya sementara berbagai kemaksiatan, kejahatan, keserakahan dan ketidakadilan terjadi di depan mata kita dan kita biarkan? Apa pikiran percaya kita itu sepadan dengan cintaNya? Apa kita berpikir atau merasa percaya itu sama dengan percaya itu sendiri? Apakah ketika kita berpikir mencintai itu sama dengan mencintai itu sendiri? Menurutku tidak.”
“Terserahlah.” Si Ekspresif diam sejenak sambil mendengarkan suara hatinya. “Memang kita harus lebih banyak belajar bersyukur.”
“Maksudmu?”
“Yah… bersyukurlah karena Tuhan sudah memberi kita akal pikiran,” kata Si Ekspresif dengan suara agak sedikit keras. “Tuhan, aku bersyukur kepadaMu…,” teriaknya beberapa kali sambil tangannya diangkat ke atas dan wajahnya memandang langit.
Tak terasa kedua pemuda itu sudah berjalan begitu jauh. Mereka juga tak menyadari bahwa di dekat situ ada sebuah kuburan tua. Kuburan itu pun tak begitu terlihat seperti kuburan karena tertutup oleh banyaknya pepohonan di sekitarnya. Di kuburan itu ada seorang lelaki tua yang sedang mencabuti rumput di atas sebuah pusara baru. Di atas pusara itu masih terlihat bunga yang baru saja mengering dan nisan kayu yang masih berbau cat. Dan lelaki tua itu melihat dua pemuda yang lewat di dekat kuburan itu lalu menegur mereka.
“Hai anak muda, apa yang sedang kalian lakukankan?” hardik Lelaki Tua itu.
Kedua pemuda itu tak ada yang menjawab karena terkejut. Si Ekspresif lebih terkejut lagi setelah menyadari bahwa dia baru saja berteriak-teriak di dekat sebuah kuburan.
“Mohon maaf, Pak,” kata Si Ekspresif menyengir sambil membungkukkan badan ke Lelaki Tua itu
“Kelihatannya kalian bukan orang sekitar desa sini ya?” Lelaki Tua itu mendekati kedua pemuda tersebut “Tadi kok teriak-teriak seperti itu, memangnya ada apa?” selidik Lelaki Tua itu dengan logat bahasa ndesonya.
Kedua pemuda itu pun tak menjawab, mereka hanya saling berpandangan.
“Kalian hendak ke mana?” tanya Lelaki Tua itu lagi.
“Kami hendak ke desa di ujung jalan ini, Pak,” jawab Si Ekspresif
“Ya, kami hanya ingin berbincang-bincang dengan penasehat spiritual kami. Kami memiliki sedikit perbedaan pandangan yang ingin kami tanyakan kepada penasehat spiritual kami. Mohon maaf Pak atas ulah kami baru saja,” tambah Si Hening.
“Ya udah… ini Bapak juga mau pulang. Memang ada masalah apa to, Nak?” tanya Lelaki Tua itu sambil mengangkat cangkulnya dan meletakkan di pundaknya sambil berjalan beriringan dengan dua pemuda itu.
“Bapak juga tinggal di desa ujung jalan ini?” tanya Si Ekspresif agak gugup
“Ya, saya tinggal di rumah pertama di mulut desa,” jawab Lelaki Tua itu mulai ramah. “Nampaknya ada urusan yang sangat penting?”
“Ya kami ingin berbagi rasa tentang hidup dengan dukun sakti yang ada di desa Bapak.” Si Ekspresif yang langsung menjawab.
Dahi Lelaki Tua itu berkerut karena sedikit kaget. “Dukun sakti?… siapa yang kalian maksud?” katanya sambil menoleh memandangi wajah kedua pemuda itu.
“Seorang lelaki tua sebaya Bapak yang tinggal sendirian di mulut desa itu juga.” Si Ekspresif yang menjawab lagi. “Beliau penganut ilmu kepercayaan. Dan kami senang berdiskusi dengan beliau karena kami juga penganut kepercayaan.”
“Kebetulan kami berdua punya pandangan berbeda tentang keyakinan kami. Bapak tentu kenal beliau juga kan?” tambah Si Hening mencoba mengambil hati Lelaki Tua itu.
“Oh, tentu…. tentu. Beliau itu adik saya. Beliau memang satu-satunya penganut ilmu kepercayaan di desa ini, Nak.” Wajah Lelaki Tua itu nampak bersinar tetapi sesaat kemudian meredup kembali, “namun saya sangat prihatin dengan nasibnya karena orang-orang di desa kami menganggap beliau orang kafir. Berkali-kali beliau diadili warga, bahkan aparat desa pun menutup mata atas aksi massa tersebut. Kini rumahnya sudah dibakar habis karena menurut warga desa beliau dianggap menyebarkan ajaran sesat.” Lelaki Tua itu diam sesaat, kemudian melanjutkan kata-katanya dengan suara lebih menggema,”tetapi saya juga bangga dengan adik saya, Nak. Secara diam-diam saya mengikuti ajaran adik saya karena banyak nasehatnya yang lebih baik dibanding orang-orang yang mengaku beragama. Ada satu nasehat yang selalu saya ingat, Nak, yaitu ‘tindakno opo kang kudu kok tindakke, awit siro kabeh wis nganggo busananing aji ” kenang Lelaki Tua itu. “Tetapi gara-gara nasehat itulah rumah adik saya dibakar warga saat adikku terbaring sakit tak berdaya di dalam rumahnya.”
“Berarti pusara itu tadi…?”
Lelaki Tua itu pun mengangguk sambil mengeluarkan selembar kertas dari dalam slepennya, dan di kertas itu tertulis “…lan kabeh busananing aji iku mung nuntun siro marang kabecikan mring titah sami.”
Kedua pemuda itu pun saling berpandangan. Tak ada yang tahu apa yang ada dalam hatinya selain Tuhannya.
Semarang, Februari 2012
Catatan: kebdhegan: sesuatu yang tidak pantas, mirip aroma comberan ndeso: dari desa tindakno opo kang kudu kok tindakke, awit siro kabeh wis nganggo busananing aji: lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan sebab kamu sudah beragama slepen: tempat tembakau, biasa dimiliki oleh orang-orang desa yang punya kebiasaan merokok langsung dari tembakau racikan sendiri lan kabeh busananing aji iku mung nuntun siro marang kabecikan mring titah sami: …dan semua agama itu hanya mengajarkan kebaikan terhadap sesamanya
PUISI pada mulanya adalah problem. Ia seperti sebuah ruang yang memang sengaja diciptakan agar manusia menemukan kegelisahannya.
Masalah yang dibawa oleh puisi adalah identitas. Pusi, dalam hal ini, tidak bermaksud untuk menegaskannya, namun hanya menunjukkan bahwa ia mesti ada: ada sebagai masalah. Dan kita tahu kemudian, jawaban terhadap masalah tidak ada di dalam puisi, selain mungkin pada diri penyairnya. Puisi tidak hendak mendedikasikan diri untuk sebuah jawaban. Puisi mendedikasikan diri hanya pada masalah. Untuk itu, mari kita nikmati puisi Acep Zamzam Noer yang berjudul ”Waktu yang Sehitam Dedak Kopi”: … Sepi yang terus berdetak pada arloji. Pada jam besar/ Yang gemetar di dinding lengang hari (Horison-XLll/9/2007).
Acep, kita tahu, seorang kiai dari Tasikmalaya, selain juga seorang penyair angkatan 90-an. Seorang kiai, kita tahu, sesosok ”pekerja sosial-keagamaan”, berpandangan luas, universal, dan oleh sebab itu, dianggap telah ”selesai” dengan problematika individualitasnya. Tetapi sepi yang terus berdetak pada arloji, tidak akan pernah meninggalkan diri manusia. Sepi, sekali lagi, tak ingin membuat kita terasing atau ia terasing dari kita. Betapa pun menolak, ia akan tetap memeluk kita, memeluk dengan tangannya yang dingin.
Semua orang mungkin pernah merasakan sepi, tapi tidak setiap orang yang dapat menghayatinya kecuali perenung, yang suka bergerak dari kenyataan, turun ke alam sadar. Dan ini problem, entah itu membawa efek positif atau justru negatif, setidaknya untuk identitas. Sepi adalah problem, yang terus dihayati oleh penyair, bukan sekedar untuk menemukan makna, tetapi selebihnya karena dia ada.
Semua penyair, barangkali, akan mengatakan kepada dunia bahwa selama manusia mencari identitasnya, selama itu pula ia tidak akan menemukannya. Sebab, mencari identitas seperti mencari sesuatu yang ghaib, yang tidak mungkin kita tembus dengan ”perangkat” fisik. Sementara ”kerja” seorang penyair di wilayah itu. Lalu, apakah mungkin penyair mencari, mendapatkan dan menemukannya? Jika sudah menemukan, mengapa ia masih menulis puisi?
Penyair tidak bermaksud mencari identitas, tetapi untuk menyatakannya. Sepi, inilah identitas itu, sebagaimana juga cinta, rindu, suka, luka, hasrat, sunyi, masyigul, dan lain sebagainya. Identitas bagi penyair bukan sebagaimana ide Plato yang jauh dan tak tersentuh. Ia lebih bergerak dalam kesadaran untuk menemukan manusia di garis ruang dan waktunya. Sebagaimana hukum-hukum alam di fisika, identitas-identitas itu yang mengatur dan menentukan gejala hidup manusia.
***
Identitas-identitas itu adalah problem, sebab bila tidak, mana mungkin ada orang yang peduli kepadanya. Bernafas dalam cinta, bergulat dalam rindu, mungkinkah itu bukan masalah?
Pada diri orang kebanyakan, pengalaman cinta atau sunyi mengalir begitu saja, timbul dan hilang. Tapi tidak pada seorang penyair. Pengalaman cinta atau sunyi, baginya, jangan sampai lenyap tanpa sempat direnungkan, dirasakan, diidentifikasi dan didalami. Pada mulanya bukan untuk puisi, namun karena puisi ada, maka dipergunakanlah ia untuk menghadirkannya.
Hal yang lebih dari seorang penyair adalah bahwa ia mampu ”mengabarkan” tentang sesuatu yang mungkin amat sulit bagi orang lain mengungkapkannya lewat bahasa verbal. Di sinilah peran metafora dihadirkan oleh penyair ke dalam puisi dengan maksud agar apa yang dia rasakan, dan apa yang dia renungi dan dalami dari perasaannya itu turut pula dipahami dan dirasakan oleh orang lain. Penyair memang dalam salah satu perannya adalah pawang yang bertugas mengantisipasi ketidakterkatakannya sesuatu yang amat berharga bagi manusia melalui bahasa sehari-hari. Simaklah puisi Goenawan Mohamad (GM), ”Hari Terakhir Seorang Penyair, Suatu Siang”: … Di siang suram bertiup angin. Kuhitung pohon satusatu/ Tak ada bumi yang jadi lain: daunpun luruh, lebih bisu/ Ada matahari lewat mengendap, jam memberat dan hari menunggu/ Segala akan lengkap, segala akan lengkap, Tuhanku..(Pariksit, 1971)
Dalam puisi ini, GM menggambarkan kondisi dan suasana hati orang yang mengharap ”ciuman” Tuhannya, tetapi tak kunjung dapat. Hatinya risau, gebalau, dan dia berkata: Segala akan lengkap, segala akan lengkap, Tuhanku. Sebuah pesimisme.
Kalau direnungi setahap demi setahap metafora-metafora pada puisi di atas, kita akan tahu untuk menggambarkan kondisi apakah diksi daunpun luruh, lebih bisu atau Ada matahari lewat mengendap digunakan oleh GM? Terhadap puisi, kerap kali pembaca dapat merasakan getarannya, tetapi kerap kali ia tidak mampu membahasakan getaran itu. Jangankan kepada orang lain lewat bahasa, pada dirinya sendiri pun lewat akal tidak bisa. Demikianlah, puisi hadir sebagai media untuk menyatakan ”yang tak terungkap”, identitas hidup manusia, yang adalah masalah, tapi bagitu nikmat, dan oleh karennya, ia mesti ada. Puisi, sekali lagi, adalah masalah.
*) Penulis adalah esais dan peminat sastra tinggal di Yogyakarta.
Resensi Arif Saifudin Yudistira*
Editor Ragil Koentjorodjati
Alangkah nistanya dan tidak enaknya bila hidup ini dikelilingi dengan ketidaklengkapan. Keganjilan bukan suatu hal yang membuat teka-teki, membuat kita jadi seorang detektif dalam mencari keganjilan itu, tetapi keganjilan dan ketidaklengkapan itu adalah sesuatu yang dipaksakan untuk melengkapi hidup ini. Tragedi 65 adalah sejarah buram negeri ini yang menyimpan beratus kisah yang tak henti-henti mengalir deras paska kematian Suharto. Orang-orang seperti menjadi corong yang bebas bersuara tidak tahan menahan trauma, menahan derita fisik dan jiwa hingga mereka menuangkan dalam bentuk wawancara, dokumentasi pribadi catatan harian, ataupun memori yang masih tersimpan di otaknya. GM Sudarta adalah bagian dari itu, ia mengangkat kepedihan, kepiluan, kebiadaban, kebar-baran zaman itu, dengan lihai. Bukan karena bumbu-bumbu cerita yang ia buat, melainkan cerita itu adalah nafas dan suara korban yang merasai cinta, dendam, juga prahara dan teka-teki yang tak lengkap dari para korban tragedi 65. Buku kumpulan cerpen berjudul “Bunga Tabur Terakhir: Cinta, Dendam dan Karma di Balik Tragedi 65” tak hanya elok karena menceritakan epik sejarah yang indah, realis, dan nyata di hadapan kita peristiwa kebiadaban di tahun-tahun silam. Namun buku ini juga menceritakan kelucuan dan keluguan anak-anak yang terlambat mengenali mbahnya. Di salah satu judul cerpennya “Mbah Broto” GM Sudarta berhasil mengolah kelucuan, dan gejala psikologis seorang yang eks-tapol berhasil menghibur sebagai tukang gali kubur, tukang binatu, hingga tukang bengkel bersama cucunya. Ia hanya ingin, kelak cucunya mengerti dengan kisah yang ada pada dirinya, dan di akhir cerita, betapa terkejutnya cucunya ketika menerima pusaka “madilog” sebagai warisan untuk cucunya. Kisah ini begitu dramatis, tapi penuh keindahan yang menghiasi akhir-akhir kematian Mbah Broto. Ia senang di alamnya, dan tenang, karena telah lega berjumpa dengan malaikat yang ditunda-tunda datangnya daripada teman-temannya yang dipanggil lebih duluan. Akan tetapi , Mbah Broto tampak lain, ia seperti memanggil malaikatnya sendiri, dan merasa puas sudah meninggalkan cerita dan kisahnya yang jujur pada cucunya. Setidaknya cucunya tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Sepuluh judul cerpen seperti mewakili kisah cinta, dendam, dan siksa pedih yang terjadi waktu itu, sekali lagi GM Sudarta, tak hanya berperan sebagai sosok yang melihat, ia berhasil melibatkan pengarang menyatu dengan kisah yang diceritakan, sehingga kita seperti diajak untuk tak hanya melihat ilustrasi-ilustrasi sebagaimana ia menggambar dalam keseharian sebagai kartunis, tapi oom pasikom ini berhasil mendeskripsikan dan menggambarkan cerita dan peristiwa 65 hadir di mata pembaca.
Cita-cita PKI sebagai organisasi yang membela buruh tani dan menggapai kesejahteraan rakyat, mengusir kapitalis jadi hancur, berantakan dan tiba-tiba penuh teror setelah terjadi pembunuhan jenderal. Banyak masyarakat tidak faham, jadi saling bunuh, saling dendam, dan saling tuduh menggunakan kata “terlibat”. GM Sudarta mengemas ini dalam beberapa kisah dalam kumcer ini di beberapa judul cerpennya sepeti :Sum; Orang-orang Yang Tidak Mau Masuk Kubur; Candik Ala; Merindu Jerit Kematian; hingga Perburuan Terakhir.
Di sana ada kisah cinta, ada pembunuhan kejam atas motif politik, ada yang memanfaatkan situasi, di situlah sebenarnya teror kemanusiaan bermula. Sejak itulah sejarah menjadi gelap, saling serang, dan tak memenuhi titik pangkal dari apa yang sebenarnya terjadi. Kumpulan ini tak hanya membuka memori gelap sejarah kita, tak hanya untuk mengingatkan, tapi juga sengatan, bahwa akankah kekejaman, kebengisan, dendam, dan darah menjadi hal yang wajar dan dibolehkan, ketika tragedi dan politik bermain di sana, sedang kita membiarkan begitu saja?.
Kumpulan cerpen ini begitu kuat menarasikan peristiwa bertahun-tahun silam, meski kita melacak tanggal penulisan cerpen ini sekitar 4 tahun berjalan seperti tahun 2003, 2007, bahkan 2011. GM Sudarta, barangkali bukan hanya bercerita tentang khayalan dia, tapi juga peristiwa yang dialaminya sehari-hari sewaktu remaja. Mengapa GM Sudarta menulis kumpulan cerpen ini? Ia menjawab, karena ada sisi-sisi kehidupan yang serasa lebih pas dan cocok bila disajikan dalam bentuk cerpen daripada dalam kartun dan lukisan.
Jika sebagai kartunis dan pelukis ia mengajak para pembaca kartunnya atau pembaca lukisannya untuk menyelami lebih dalam apa yang ada dalam kartunnya. Di kumcer ini pun demikian, ia seolah-olah mengajak ada narasi besar, ada peristiwa suram, ada teka-teki, ada pergulatan, ada banyak kisah yang mesti kita cari benang merah dan membuka misteri itu hingga kita benar-benar tahu sejarah sebenarnya dari tragedi 65 itu. Meminjam istilah Kontras : “Ketika sejarah digelapkan, di situ manusia dan kemanusiaan tersingkirkan”.
Kumpulan cerpen ini juga mengingatkan kepada pembaca semua, dan kita bahwa “hidup yang tak lengkap” sebagaimana dikisahkan dalam cerpen-cerpen GM Sudarta sangat tidak mengenakkan. Gejala teror psikis, siksa fisik, hingga siksa batin yang luar biasa mengakibatkan trauma yang dalam, mengakibatkan dendam yang membara, sehingga kita buta, dan mencari apa yang tidak lengkap tadi. Ketidaklengkapan yang dimaksud GM Sudarta tidak lain dan tidak bukan adalah ketidaklengkapan sejarah 65.
Sebagaimana yang ditanyakan Julius Pour dalam bukunya “G30 S: Pelaku, Pahlawan, dan Petualang”: Apakah kita akan membiarkan selama 46 tahun berlalu,dan mengubur peristiwa ini lebih dalam? Jika jawabannya adalah ya, berarti kita telah memutuskan hidup dengan ketidaklengkapan. Ketidaklengkapan sejarah itu pula yang kelak dikhawatirkan oleh GM Sudarta sebagaimana judul kumcernya “Bunga Tabur Terakhir: Cinta, Dendam dan Karma di Balik Tragedi 65”. Yang penuh dengan segala yang tak lengkap.
Judul buku : Bunga Tabur Terakhir: Cinta, Dendam dan Karma di Balik Tragedi 65
Penulis : GM Sudarta
Penerbit : Galang Press Jogja
Tahun : 2011
Tebal : 156 halaman
Harga : Rp.30.000,00
ISBN : 978-602-8174-65-7
*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, Presidium Kawah Institute Indonesia
Cerita KauMuda Bangkit G. Saputra
Editor Ragil Koentjorodjati Ilustrasi dari blogspot.comDenting bel berbunyi nyaring, semua siswa serentak masuk ke dalam kelas. Rani seorang siswa cantik yang merupakan bidadari terindah di kelas atau bahkan di sekolah merasa bosan karena setiap melirik ke samping kanan belakang tempat duduknya pria itu selalu menatapnya dengan senyuman. Tak pernah berubah dari hari ke hari.
Pria itu bernama Dochi. Seorang siswa yang sama sekali tidak menunjukkan aura ketampanan. Sangat kurang memperhatikan penampilan. Dia selalu membawa buku ke mana-mana, dengan mengenakan kacamata tebal menjadi ciri khasnya sehari-hari. Bagi Rani tak ada yang menarik dalam diri Dochi. Memang tak pantas jika membayangkan Dochi bersanding dengan Rani. Membayangkannya saja sudah tidak pantas, namun itulah yang selalu menghiasi benak Dochi. Perasaan yang tak dapat ia hindari, walau sesungguhnya ia ingin menghindarinya.
Pelajaran berhitung menjadi kegemaran Dochi sejak kecil, sangat mengasyikan jika melihat angka-angka itu bertaburan di pikirannya. Namun akhir-akhir ini berbeda, dia menjadi seorang penyamun yang gemar menulis kata-kata indah. Bidadari itulah yang menjadi objek inspirasinya. Dia tak berharap untuk mengatakan dan menyatakan perasaannya, sebab Dochi sudah nyaman dengan menjadi seorang pecinta di belakang layar. Begitu banyak syair dan puisinya tersusun rapi. Berjuta kata teruntai dengan indah, hanya teruntuk bidadari hatinya itu. Namun hingga kini keberanian itu belum menghampiri. Cintanya terpendam rapat bersama karya-karya indahnya.
Pagi itu kelas di awali dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Siswa dianjurkan satu persatu untuk maju ke depan kelas dan membacakan puisi karya sendiri. Kali ini tiba giliran Dochi, tak sulit untuknya. Tentu, karena dia punya begitu banyak puisi. Tinggal pilih salah satu yang terbaik saja. Dia membacakan puisi karyanya yang berjudul “Syair Separuh Malam”. Dochi membawakan dengan penuh penghayatan dan menunjukkan ekspresi yang begitu dalam. Tak sengaja hati Rani bergetar, entah kenapa dia merasa hidup dan memiliki peran dalam syair itu. Mata Dochi sempat memandangnya namun tak lama dia mengalihkannya. Namun cukup jelas bagi Rani, puisi itu tercipta untuknya.
Saat istirahat makan siang Rani sengaja menghampiri Dochi.
“Puisi kamu bagus, aku tak pernah menyangka dalam diri kamu bersemayam seorang seniman kata-kata,” puji Rani tersenyum manis.
Dochi merasa kaget, senang, dan tak pernah terpikirkan bahwa seorang Rani akan menghampirinya untuk memuji puisinya. Puisi yang memang bisa tercipta begitu dalam karena sosok yang ada di depannya saat ini.
“Oh.. i.. iya.. terima kasih Ran, puisi kamu juga bagus,” sambung Dochi. “Aku membuat puisi itu untuk…”
Belum habis Dochi berkata Rani sudah dipanggil oleh temannya. Rani pun berlalu tanpa tahu apa yang ingin Dochi katakan. Dochi memandangi Rani penuh cinta, setiap langkahnya tak luput dari pandangan Dochi. Seakan tak pernah hiraukan kenyataan, perasaan itu semakin besar dan berkembang. “Biarkan ini kunikmati, walau hanya mimpi. Kau akan tetap di hati,” ucap Dochi dalam hati.
Malam itu hujan deras sekali. Angin berhembus tak karuan semakin membuat hati tak tenang. Dochi yang tinggal hanya dengan ibunya merasa was-was. Terang saja dia merasa begitu, karena kondisi rumahnya yang memprihatinkan. Sebuah gubuk dari bambu yang sudah reot. Redup, karena hanya ada lilin kecil sebagai satu-satunya penerangan. Tidak masalah untuk Dochi karena dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Dia dan ibunya sudah bersyukur masih bisa makan sehari-hari. Hujan semakin deras dengan diselingi halilintar yang mulai memekikkan. Sembari belajar dia memperhatikan sekitar. Bagian yang bocor sudah ditadah dengan ember. Namun dia melihat dinding bambunya bergoyang. “Tuhan, lindungi aku dan ibuku. Kami lemah tanpamu. Engkau maha pengatur segalanya dan maha berkehendak,” doa Dochi.
Dochi semakin tak tenang untuk belajar. Angin kencang dan derasnya hujan begitu gaduh. Dia menutup buku dan menghampiri ibunya di kamar. Saat membuka pintu dia terkejut, ibunya tergeletak lemah di lantainya yang berupa tanah. Sontak Dochi segera membopong ibunya ke tempat tidur.
“Ibu.. ibu kenapa? Bangun ibu..,” ujar Dochi panik.
Ibunya tak bergerak, semakin membuat Dochi khawatir. Mata Dochi berair, ibu Dochi memang sudah lama sakit. Penyakit asmanya tak kunjung sembuh. Karena hanya diobati seadanya, perekonomian keluarganya sejak dulu tak bisa berbicara banyak. Kali ini tak pernah terbayangkan Dochi. Dadanya semakin sesak, ia mengambil minyak angin. Dioleskan di jari lalu dia dekatkan dengan hidung ibunya. Dochi berharap ibunya hanya pingsan dan akan segera sadar. Beberapa saat setelah itu ibu Dochi bergerak. Matanya perlahan terbuka. Dochi merasa begitu lega.
“Ibu.. bangun ibu.. Dochi takut. Ibu tidak apa-apa kan?” ucap Dochi sesenggukan. Ibunya tersenyum kecil, lalu berbicara dengan terbata.
“Dochi, ibu tak apa. Terima kasih..”
Dochi memeluk erat ibunya, air matanya mengucur deras. Dia begitu takut jikalau ibunya pergi.
“Dochi.. kamu baik-baik ya, Ibu sudah tak kuat. Hapus air mata kamu. Senyum kamu bahagia ibu,” bisik Ibu lirih.
“Tidak ibu.. Ibu pasti kuat, Dochi ingin sama-sama dengan Ibu. Dochi belum bahagiakan ibu. Dochi ingin..”
Mata ibu terpejam perlahan, tubuhnya melemah.
“Ibu.. Ibu… bangun ibu.. Ibu….” Dochi berusaha membangunkan ibunya. Upayanya tak berhasil, takdir sudah tertulis, ibu Dochi telah pergi. Satu-satunya orang tercinta yang Dochi miliki. Kasih sayang terbesar yang dia dapatkan selama ini. Ingin sekali ia membalasnya dengan mewujudkan mimpi dan cita-citanya.
Hingga kini Dochi tak pernah berhenti untuk tekun dan gigih dalam belajar. Semua dilakukan semata karena ingin menggapai mulianya keinginan Dochi. Membuat ibunya hidup berkecukupan dan bahagia. Kini semua berlalu, dia harus menghadapi hidup ini sebatang kara. Ibunya pergi dengan senyuman bangga, seakan berbisik “Aku bahagia nak, kau permata terindahku. Jangan putus asa, gapai inginmu. Ibu selalu di sisimu, setiap saat dan setiap waktu.”
Esok hari di kelas, seorang siswa memberitakan bahwa ibu Dochi telah meninggal dunia. Sejenak terasa hening, seisi kelas menunduk dan mendoakan beliau. Rani merasa iba, dia seakan merasakan kepahitan Dochi. Teman Dochi bercerita padanya bahwa Dochi sejak kecil hidup hanya dengan Ibunya. Ayahnya meninggal karena kecelakaan. Itulah yang membuat Dochi giat dalam belajar. Menjadi kurang pergaulan karena saking fokusnya pada bidang akademik. Dia berkeyakinan bahwa jika ingin hidup sukses harus jadi orang pintar.
Sepulang sekolah Rani mengunjungi rumah Dochi. Teman-temannya tidak ikut karena saat itu hujan begitu deras, sedangkan rumah Dochi terletak di pelosok desa. Namun Rani tak menghiraukan itu. Dia sudah bertekad ingin mengunjungi Dochi. Dengan petunjuk salah satu teman sekelasnya, akhirnya Rani sampai di rumah Dochi. Pintu diketuknya berulang kali, namun tak ada jawaban. Tak sengaja pintu terdorong olehnya. Rumah ini terlihat sangat sepi, berdebu, dan begitu sederhana karena tak ada perabot semacam kursi tamu, meja, dan sejenisnya. Dilihatnya dalam bilik kamar sesosok pemuda sedang duduk menunduk tak bergerak. Didekatinya perlahan, semakin dekat ia menuju sosok itu.
“Dochi..,” panggil Rani sembari menyentuh pundaknya. Dochi menengok, matanya sembab, berkantung karena kurang tidur. Rani memandanginya begitu iba. Dochi tak berkata apapun. Pandangannya kosong lalu menunduk kembali dan memandangi ranjang ibunya.
Rani mengerti apa yang dirasakan Dochi. Sewajarnya begitu, karena kepergian ibunya adalah sebuah pukulan yang begitu berat untuk seorang Dochi. Sesaat pandangan Rani tertuju pada lembar-lembar kertas yang tertempel di dinding kamar reot itu. Dihampirinya salah satu lembaran, dia mengenal tulisan itu. Puisi Dochi waktu itu di kelas. “Syair Separuh Malam”. Jelas terbaca syair itu: Kudengar samar nyanyian malam
Mengalun syahdu tenangkan kalbu
Semenjak awal kala perkenalan
Terbesit rasa yang tak menentu
Malam ini, bulan dan bintang berteman gerimis
Menyuguhkan irama senandung nan ritmis
Semua tentangku tak senada inginmu
Kecewa dan sedih tak henti mengiringi
Kau dengarkan hati terus bernyanyi
Bersama lagu nuansa egois
Tentang janji yang tak berujung manis
Kupersembahkan syair separuh malam
Pada sucinya hati wahai adinda
Kutanyakan pada Pemilik Alam
Adakah saat untuk berjumpa
Mengulas rasa, cinta, dan cita
Membendung rindu, kesah, dan pilu ..
Hanya dengan syair separuh malam
Ku mencintamu dalam-dalam ..
Di bawahnya ada lukisan sketsa gambaran tangan Dochi. Gambar itu tak lain adalah Rani. Sesosok gadis sedang melangkah sembari menengok ke belakang dengan senyum manis. Begitulah Dochi menuangkan perasaannya pada Rani. Tak hanya dengan puisi dan lukisan sederhana. Di sisi lain dinding tergantung serangkaian bunga. Teruntai indah membentuk sebuah nama. RANI.
Rani kagum dan tak menyangka bahwa Dochi begitu mendambanya. Perasaan yang sudah terasa saat di sekolah. Rani merasa sangat berdosa jika menghindari kata hatinya. Secara tidak sadar dia juga menyayangi dan mengkhawatirkan Dochi. Dipeluknya Dochi dari belakang. Penuh cinta dan sejenak menjadi penghapus pilu Dochi. Serasa tak percaya Dochi merasakan hangatnya pelukan Rani.
“Ran.. Rani.. kamu. Aku..,” ujar Dochi terbata.
“Jangan sedih lagi Dochi.. Aku di sini untuk kamu.” sahut Rani. Inikah rencana indah Tuhan? Inikah jawaban dari penantian pajang? Tuhan selalu menyelipkan pelangi setelah hujan badai. Dukanya kini sedikit terbagi. Karena hari-harinya dilalui bersama Rani, bidadari yang selalu diimpikannya.
Tiba saatnya hari kelulusan. Dochi menjadi siswa dengan nilai terbaik. Seluruh warga sekolah bangga dengan prestasinya. Riuh tepuk tangan menghiasi hari itu. Rani memberinya kecupan tanda bangga. Dengan wajah sedikit memerah Dochi merasa senang. Dia menatap langit, ada bayangan ibunya tersenyum manis. Terima kasih Tuhan, jaga ibuku agar selalu didekatMu.
Dochi mendapatkan beasiswa dan berkesempatan melanjutkan ke perguruan tinggi negeri terbaik di kotanya. Namun dia harus terpisah dengan Rani. Sebab orang tua Rani berkehendak ingin menyekolahkan putri tunggalnya itu di luar negeri. Hari itu sekaligus menjadi hari perpisahan Dochi dan Rani. Seakan tak mau berpisah, Rani memeluk erat kekasihnya itu. Dochi menggenggam jemari Rani. Diberikannya sebuah kotak kaca yang berisi patung romeo dan juliet. Kotak itu bila dikocok akan terlihat seperti ada hujan salju di dalamnya. Pemberian sederhana yang akan selalu dikenang Rani.
Sebelum berpisah Dochi meyakinkan Rani, “Percayalah pada kekuatan dan keindahan cinta, kita pasti bersama lagi,” ucap Dochi sembari menatap Rani. Dengan lirih Rani mengiyakannya. Dia tak sanggup menahan kepedihannya. Namun ini kenyataannya. Suratan yang harus dihadapi oleh pasangan yang saling mencinta itu. Rani tak bisa merelakan untuk berpisah.
Esok pagi Rani dan keluarga sudah harus bertolak ke bandara. Karena takut terlambat Ayah Rani menyuruh sopirnya supaya lebih kencang melajukan mobilnya. Rani masih sedih sembari memandangi kotak kaca romeo dan juliet. Tidak sadar dia tertidur pulas dengan memeluk kotak itu.
Braak! Mobil Rani menabrak seseorang.
“Astaga, sudah Pak.. lari saja. Jalan sepi, kita sudah tak punya waktu.” kata Ayah Rani.
“Ttt.. tapi Pak..,” sahut sopir panik. Ayah Rani tak peduli dan menegaskan untuk segera beranjak pergi. Jam keberangkatan pesawat sudah dekat.
Sesampai di bandara Rani terbangun dari tidurnya. Segera menuju pesawat dan berangkat ke Prancis. Dalam perjalanan Rani selalu memikirkan Dochi. Ingin sekali menghubunginya lewat telepon, namun tak memungkinkan karena ia sedang di dalam pesawat. Dia lupa memberi kabar bahwa dia sudah berangkat.
“Pasti Dochi menunggu-nunggu kabar dariku, maafkan aku Dochi,” gumam Rani.
Malam yang indah, Suasana Paris sungguh romantis. Rani menunggu-nunggu telepon dari Dochi. Sejak siang tadi Dochi tak bisa dihubungi. Situasi yang tidak biasa sebelumnya. Salju turun perlahan, terlihat sangat indah. Sebuah mahakarya dari Tuhan. Tubuh Rani sedikit menggigil namun dia merasa hangat karena membayangkan satu nama, Dochi.
Tiba-tiba ada sosok pemuda yang memeluk Rani dari belakang. Rani terpejam dan merasakan aroma tubuh yang tak asing baginya. Pemuda itu berbisik,“Jangan sedih lagi Rani.. Aku disini untuk kamu,” sembari mendekap erat Rani.
Pyaarrr…!! Kotak kaca itu terlepas dari genggaman Rani, jatuh dan pecah. Dochi melepaskan pelukannya perlahan. Rani sangat bahagia, matanya berkaca-kaca karena kehadiran Dochi. Tubuh Dochi memudar, menjadi ringan seakan ingin melayang. Rani tak percaya apa yang dilihatnya.
“Dochi.. kamu mau k emana? Jangan tinggalin aku..,” bujuk Rani penuh harap.
“Aku cinta kamu Rani.. akan selalu hidup di hati kamu,” suara Dochi menggema. Air mata Rani tumpah seiring berlalunya bayangan itu. Bayangan cinta Dochi.
Di dalam kamarnya Rani semakin bingung, ada apa sebenarnya. Nyatakah tadi yang dialaminya. Terbesit dalam pikirnya, dia segera menghubungi teman sekolahnya yang dekat dengan Dochi.
“Halo Fadli, ini aku Rani. Kamu tahu di mana Dochi?” tanya Rani penuh rasa ingin tahu.
“Tut.. tut.. tut..,” panggilan tiba-tiba terputus. Rani segera menelpon ulang. Sebelum menekan tombol panggil, ada pesan singkat masuk: Aku tak sanggup mengatakannya, Dochi telah tiada. Saat ini aku di depan makamnya. Maafkan aku Rani.
RetakanKata – Maria Wiedyaningsih, perempuan kelahiran Purwokerto 1 Desember 1977 ini suka menulis cerpen anak-anak. Banyak belajar menulis dari karya-karya Lena D, penulis yang karyanya sering dimuat di sebuah majalah anak-anak. Sekarang, sedang belajar menulis apa saja. Dari tulisan beberapa karakter yang harus muat di twitter, sampai novel yang nyaris semuanya tidak selamat sampai bab pertama. Meskipun sudah terlalu uzur, sangat menyukai Harry Potter dan Detektif Conan. Selain itu suka membaca apa saja yang menarik hatinya. Novel yang sampai sekarang masih berkesan untuknya adalah A Walk to Remember, karya Nicholas Sparks. Celotehannya bisa dilihat di http://www.mariawiedyaningsih.com. Saat profil ini ditulis, blog tersebut nyaris tidak ada apa-apanya, tapi semoga di masa depan bisa makin memberi makna. Punya akun facebook sama seperti namanya, dan sampai saat ini belum pernah menulis status apapun di akun tersebut.
“Buat saya, sebuah lomba menulis adalah sebuah tempat bernama keberanian, sekaligus tempat yang memberi kebanggaan. Sayangnya, tempat tersebut selalu berada di seberang jurang. Perlu membangun sebuah jembatan, naik balon udara, meniti tali, apapun agar bisa sampai ke sana.
Ketika mengetahui RetakanKata mengadakan lomba menulis cerpen, yang pertama terlintas dalam pikiran, tentu saja, saya harus ikut. Namun sudah banyak sekali saat di mana saya sudah begitu banyak belajar, namun akhirnya terhenti karena kehilangan keberanian. Jangan-jangan, kali itu juga.
Dengan banyak keragu-ragu dalam pikiran, saya mulai mencari-cari ide. Namun akhirnya, tidak menemukan satu ide baru yang menurut saya cukup layak. Saya lirik ide-ide lama. Cerpen-cerpen malang saya yang hanya punya setengah nyawa, bahkan sepersepuluhnya saja.
Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga mulai saya tulis sekitar setengah tahun lalu. Sepertinya cerpen tersebut merupakan cerpen (untuk pembaca dewasa) saya yang ke-20. Atau ke-30? Entahlah. Sebab hanya kurang dari sepuluh cerpen saja yang selamat mencapai kata terakhir. Cerpen lainnya bahkan hanya berupa beberapa baris pertama saja. Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga cukup beruntung karena nyaris selesai.
Saya selesaikan cerpen tersebut. Lalu menyuntingnya terburu-buru saat jam-jam terakhir sebelum tenggat. Dan akhirnya, saya kirim, seingat saya, di menit terakhir tenggat waktu. Saya ingin naik balon udara, menikmati proses menuju tempat tujuan. Namun sekali lagi, saya harus meniti tali. Tapi mungkin, pergi ke tempat tujuan kita dengan meniti tali menarik juga, meskipun menegangkan.
Terima kasih RetakanKata, untuk perjalanan menarik ini.”
Cerita KauMuda April Safa
Editor Ragil Koentjorodjati
Ilustrasi dari googleSejak kecil aku telah merasakan perbedaan, aku berbeda dari ayah, ibu, kakak ataupun teman – teman sebayaku. Aku ingin bermain, berlarian, berjabat tangan tapi itu semua tak bisa aku rasakan secara sempurna. Menangis, merengek dan merajuk, ekspresi itu yang bisa aku lakukan saat itu. Aku belum paham makna kehidupan yang sesungguhnya. Surabaya, 15 September 2001
Aku ingin sekali seperti mereka, saling berjabatan tangan, bertepuk tangan, belajar menulis menggunakan tangan secara normal, belajar memegang sendok untuk makan sendiri.
Aku sedih, Tuhan menciptakanku seperti ini. Aku tidak punya lengan tangan, aku punya kaki tapi tidak bisa digunakan untuk berjalan secara sempurna. Aku ingin menikmati masa kecilku seperti kebanyakan teman – temanku. Aku ingin berjalan sendiri ke kelas, tidak selalu digendong ayah. Aku malu dengan keadaanku.
Aku selalu mengadu pada ibu jika ada yang mengejekku dan ibu tak pernah sekalipun mengeluh, marah, membentak ataupun sebal dengan sikapku. “Siapa bilang Allah itu tidak adil, Nak? Lihatlah kakak, punya kaki dan tangan yang sempurna tapi selalu mengeluh capek minta pijat, mengaduh kesakitan jatuh dari motor. Adek nggak pernah minta pijat kan? Allah itu sayang sama adek, meskipun seperti ini Allah tidak ingin adek capek. Allah menjaga adek dengan keadaan seperti ini. Allah ingin adek selalu gembira. Rizki Bintang Nusantara, nama itu ibu beri supaya adek selalu membawa berkah dan menjadi inspirasi semua orang di Indonesia maupun di dunia,” kata – kata itu yang aku ingat dari ibu. Wanita yang selalu menginspirasiku, tidak hanya dari tutur kata tapi juga perlakuan ibu yang tegas dan penuh kelembutan yang mampu menghilangkan tangisku.
Ayah, ibu dan kakak, tiga kombinasi yang mampu membangun mentalku untuk harus siap menerima kenyataan. Ibu berusaha mengenalkanku pada dunia sosial luar sejak masih taman kanak – kanak. Ayah selalu mengajakku ke tempat usaha bengkel ayah untuk mengenalkanku pada dunia otomotif sekaligus belajar sosialisasi dengan para pekerja dan pembeli. Kakak yang setia mengajakku bergabung untuk bermain dengan teman – temannya.
Mereka berusaha untuk membuka pandanganku bahwa dunia itu tak sekejam yang aku bayangkan, lingkungan akan menerimaku jika aku memberikan hal – hal yang positif pada mereka. Fisikku memang tidak sempurna tapi aku diberi otak yang lumayan encer dan komunikasi bicara yang cukup bagus karena sering menemani ayah di bengkel. Surabaya, 16 Juli 2003
Menginjak umur memasuki sekolah dasar ibuku bersikeras agar aku masuk di sekolah umum, bukan sekolah luar biasa. Karena aku hanya cacat fisik, bukan cacat mental seperti siswa SLB pada umumnya. Tapi apa daya, sekolah umum yang ibu datangi hanya melihatku secara sebelah mata, padahal aku mempunyai kemampuan berpikir yang tak kalah dengan siswa pada umumnya.
Akhirnya ibuku mendaftarkanku di sebuah SLB daerah Surabaya Barat. Aku mulai belajar memfungsikan kakiku seperti tanganku. Mulai dari menulis, menggambar dan membuka pintu, tapi untuk bersalaman lebih baik aku tidak menggunakan kakiku. Dan aku mulai menikmati menulis cerita, puisi, menggambar, melukis.
“Lukisan Bintang bagus, lebih bagus dari gambar bapak.”
“Coretan warna sesuka saya, ini tidak jelas Pak. Lebih bagus lukisan Pak Yudhi,” kataku dengan sedikit bangga.
“Tinggal latihan yang sering ya Nak. Bapak yakin, Bintang pasti jadi pelukis terkenal.” Kata – kata Pak Yudhi yang mantap kubalas dengan anggukan..
Pak Yudhi, guru lukis yang setiap coretannya seakan menghasilkan karya dari sang maestro pelukis terkenal di dunia. Aku suka Pak Yudhi, orangnya ramah dan penuh semangat. Aku semakin semangat mengikuti setiap gerak tangannya yang menghasilkan suatu gambar. Aku jatuh cinta pada melukis.
Dengan melukis aku bisa berimajinasi membayangkan keindahan tempat – tempat pemandangan meskipun kakiku belum sempat menapakinya. Beliau selalu memuji lukisanku lebih artistik, lebih indah daripada buatannya sendiri meskipun aku melukisnya dengan menggunakan kaki.
Aku selalu menunjukan hasil lukisanku pada ibu, ayah dan kakak. Dan aku sering didaulat untuk mengikuti perlombaan melukis serta tidak pernah pulang dengan tangan kosong karena mendapat juara.
Berkat Pak Yudhi, aku semakin percaya diri dengan kemampuanku. Banyak orang yang tidak menyangka, bahwa lukisan yang aku hasilkan berasal dari goresan kaki yang kurang sempurna.
Ibuku semakin bangga denganku dan memberikan peluang yang lebar untuk mengasah setiap goresan yang dihasilkan kakiku dengan memasukkanku ke sebuah sanggar lukis.
Saat Allah belum mengabulkan do’a kita, mungkin Allah telah menyiapkan suatu hal yang lebih baik dari sebelumnya jika kita mau bersabar dan bersyukur. Salah satu guru SLB melihatku mempunyai potensi yang luar biasa seperti anak pada umumnya meskipun terdapat kekurangan pada fisikku. Aku bersyukur mempunyai seorang guru seperti Ibu Amalia, senantiasa rela membantuku untuk mengenyam di sebuah sekolah yang lebih layak dan dengan kurikulum yang cocok denganku, bukan seperti di SLB.
Kesempatan bersekolah di sekolah umum negeri akhirnya terwujud setelah aku menginjak kelas IV. Sebuah sekolah di daerah Surabaya utara bersedia menerima kekurangan fisikku.
Saat hari pertama masuk di sekolah umum, ibuku sangat khawatir hingga senantiasa menunggu mulai dari mengantar hingga pulang sekolah. Satu minggu berjalan, ibuku mulai mempercayai kemandirianku sehingga ibu cukup mengantar dan menjemput saja. Kecuali untuk urusan buang air, aku perlu menelpon ibuku untuk datang dan meminta bantuan beliau.
Sehari – hari untuk menunjang aktifitasku, ayah merakit sendiri sepeda roda tiga untukku. Alat itu yang membantuku mengelilingi tempat – tempat di sekolah tanpa merepotkan orang lain karena terdapat tombol yang otomatis. Sehingga aku tak kesulitan menggerakkannya.
“Di mana ada ibu, di situ ada Bintang.”
Teman – temanku sering berkata seperti itu. Tak masalah, karena aku memang masih membutuhkan bantuan ibu. Aku tak tahu, apa jadinya jika ibu tidak ada di sampingku yang selalu mengingatkan, berada di belakangku untuk memberi dorongan yang positif. Aku ingin sekali, membalas belaian tangan lembut beliau, mencium punggung tangan ayah dan ibu serta menggandeng tangan mereka. Meskipun begitu, aku berharap mereka merasakan sentuhan hatiku yang membelai lembut hati mereka dan kakakku tercinta. Surabaya, 20 Mei 2011
Hari ini, ada yang melihat lelang lukisanku dan membelinya. Setahun yang lalu, ayahku membuatkan galeri hasil goresan kakiku dekat ruang tamu berukuran 5×10 meter. Semenjak itu aku semakin ketagihan menorehkan setiap warna kuas cat minyak pada kanvas. Tiga puluh menit waktu yang cukup untuk mengubah polosnya kanvas menjadi suatu kanvas penuh makna dan filosofi. Mungkin orang yang belum tahu, tak mengira semua itu karena kelihaian kakiku yang telah dilatih selama di sanggar lukis.
“Jika Allah telah membukakan pintu rezekinya, Allah akan senantiasa mengalirkannya tanpa henti,” itu salah satu penggalan kalimat yang kuingat dari guru agama islam di sekolahku.
Selain banyak yang membeli lukisanku, banyak juga yang simpati terhadap kegigihanku. Banyak yang memberi peluang – peluang membantuku mengikuti setiap acara perlombaan hingga aku mendapat banyak penghargaan. Pertolongan Allah itu nyata, beberapa pengusaha sukses mulai menawariku beasiswa hingga kuliah.
Aku bersyukur lahir di dunia ini, tidak hanya untuk menyusahkan orang lain, tidak hanya untuk dikasihani orang lain. Aku mulai mengerti arti hidup yang sebenarnya. Janganlah melihat segala sesuatu hanya dari satu sisi tapi jadikan kelemahan yang kita miliki itu sebagai suatu kelebihan terutama bagi para penyandang cacat fisik.
Semua kemudahan yang aku dapatkan sejauh ini bukanlah kebetulan saja tapi melalui proses yang penuh kesabaran dan keikhlasan. Aku ingin membuktikan pada semua orang bahwa orang cacat masih dapat berkreasi, dapat berkembang serta dapat memberikan manfaat jika diberi ruang untuk beraktifitas sesuai minat layaknya orang normal.
Ibu, lihatlah aku sekali lagi. Anakmu yang cacat ini tidak akan menyerah melawan kerasnya hidup. Aku akan berusaha membangkitkan semangat saudara – saudaraku yang bernasib sama denganku. Aku ingin menyemangati mereka, mendorong mereka seperti ibu yang tak pernah lelah memberiku dorongan secara moril maupun materiil.
Ayah, aku akan berusaha menjadi lelaki tangguh penuh prinsip yang siap menaklukan dunia, tentu dengan bantuan sepeda roda tiga buatan ayah.
Kakak, jangan pernah bosan membakar semangatku untuk terus berjuang dan mendorongku menjadi orang yang bermanfaat serta mampu menyukseskan orang lain dengan keterbatasanku ini.
Kawan, kenali aku lebih dekat. Sejatinya aku sama seperti kalian, hanya fisik yang membedakan kita. Tapi kebutuhan dan keinginan kita akan kepercayaan, kesetiaan, kebahagiaan memiliki porsi yang sama. Tanpa kalian, aku hanyalah seorang anak cacat tak berkawan. Bersama kalian, akulah anak cacat yang memiliki seribu kebahagiaan untuk aku bagikan dan seribu harapan untuk masa depan bersama.
Cinta dan doaku akan senantiasa mengalir untuk kalian.
April Safa adalah Mahasiswi ITS Surabaya, tinggal di Surabaya.
RetakanKata – M. Nur Fahrul Lukmanul Khakim, lahir di Tuban, 02 Maret 1991 dan menghabiskan masa sekolah di Rengel, Tuban. Kini dia tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) yang giat di FLP Malang, UKM Penulis, dan HMJ Sejarah. Karya-karyanya telah meraih beberapa penghargaan, antara lain: Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Malang Post 2011 tingkat Nasional, Juara 1 Lomba Cerpen Mahasiswa Se-UM HMJ Sasindo 2012, Juara 2 Peksiminal Karya Sastra UM Kategori Cerpen 2012, Juara 2 Kompetisi Menulis Rubrik Majalah Komunikasi UM Kategori Cerpen 2011, Juara 3 Lomba Cerpen On The Spot Writing Contest diselenggarakan FLP Malang, Pemenang Harapan Kategori C LMCR Rohto Mentholatum Golden Award 2011, Nominator Sayembara Menulis Cerpen 2011 Tingkat Mahasiswa Se-Indonesia UKM Belistra UNTIRTA, Nominator 10 Cerpen Terbaik Lomba Menulis Cerpen Se-Jawa Timur oleh MP3 FIP UM. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di KaWanku, Gaul, Teen, Hai, Gadis, Story dan berbagai media massa lainnya, serta tergabung dalam antologi Bulan Kebabian (UKM Belistra, Nopember 2011) dan Menembus Dosa di Negeri Celaka (Komunikasi, Nopember 2011). E-mail / FB: fahrul.khakim@yahoo.com . Blog: http://www.fahrul-khakim.blogspot.com.
“RetakanKata? Tak sekedar melukis dengan kata-kata, merangkainya jadi literasi yang nyata dan rupawan, namun juga penuh makna yang tajam serta menawan. RetakanKata yang telah menggelar ajang seni kata-kata yang berbias realita ini merupakan wujud apresiasi pada insan-insan pena Indonesia. Dari dan untuk penikmat sastra. Selamat dan sukses untuk Lomba Cerpen Retakan Kata. Semoga bisa menginspirasi semua orang tentang makna berkarya dari hati untuk semua hati pelaku kehidupan.”