Arsip Tag: kumcer gm sudarta

Candik Ala

Cerpen GM Sudarta
koleksi foto ragil koentjorodjati
Candik Ala: Foto by Ragil
Setelah matahari tengah hari tergelincir, langit berangsur berubah berwarna kuning. Sinar menyilaukan berpendar-pendar membiaskan kabut kuning menerpa seisi alam. Cuaca seperti inilah yang oleh ibu disebut sore “candik ala”. Suatu sore yang jelek. Suatu sore yang membawa malapetaka dan penyakit. Dalam cuaca seperti ini, kami diharuskan masuk ke dalam rumah.
Aku tidak lagi mau bertanya kepada ibu, perihal kenapa kita mesti takut kepada cuaca seperti itu. Karena kalau aku bertanya hal-hal aneh, seperti misalnya larangan untuk duduk di depan pintu yang nanti akan dimakan Batara Kala, akan selalu dijawab dengan nada agak marah, dengan kata yang tak kupahami maksudnya: “Ora ilok!” kata ibu.
Tapi kali itu, setelah beberapa kali mengalami sore candik ala, aku tak tahan lagi untuk tidak bertanya tentang ayah, yang sudah berbulan-bulan tidak pulang. Ibu seperti menghindar, memalingkan muka menyembunyikan wajahnya, sambil jawabnya:
“Nanti juga kalau saatnya pulang, pasti pulang.”
“Apa nggak kena penyakit karena candik ala, Bu?” tanyaku tak sabar. Ibu diam saja.
Memang, kadang-kadang setengahnya aku kurang percaya dengan hal-hal aneh demikian, tapi kadang kala pula hati dibuat ciut dengan kejadian seperti yang pernah kami alami tahun lalu. Menjelang tengah malam kudengar suara kentongan bertalu-talu, seperti jutaan kentongan dipukul bersamaan. Semula terdengar samar-samar, seperti dari kejauhan, semakin lama semakin keras seperti semakin mendekat. Ibu segera berdiri di balik pintu depan, sambil komat kamit membaca doa. Kudengar sepotong doanya:
“Ngalor, ngalor, aja ngetan aja ngulon.”
Kupeluk kaki ibu karena ketakutan oleh sesuatu yang tidak kumengerti.
“Ada gejog,” kata ibu, “Nyai Roro Kidul bersama bala tentaranya sedang berarak menuju istananya di gunung Merapi. Orang yang tinggal dekat Segara Kidul, yang pertama kali melihat ombak laut besar dan suara gemuruh, mulai memukul kentongan. Itu pertanda Nyai Roro Kidul keluar, naik kereta kencana, diiringi para serdadu jin. Kemudian orang desa yang akan dilewati rombongan itu beramai-ramai memukul kentongan supaya beliau tidak singgah ke desanya. Karena setiap beliau singgah, beliau akan mengambi abdi dalem baru.”
Aku tetap kurang paham akan keterangan ibu. Yang aku tahu ibu telah berdoa supaya rombongan itu tidak singgah ke sebelah timur Gunung Merapi, letak desa kami.
Beberapa hari kemudian, malamnya, dua lelaki berseragam loreng datang ke rumah dan mengajak ayah pergi, sepertinya dengan cara paksa. Ibu mengejar sampai halaman depan sambil memohon supaya ayah jangan dibawa dengan penuh iba.
“Ayah dibawa Nyai Roro Kidul ya Bu?” tanyaku.
“Hush!” jawab ibu sambil bergegas langsung masuk kamar tidur. Kudengar tangisan ibu menyayat hati.
Berita tentang perginya ayah merebak ke seluruh desa. Meskipun tak begitu aku pahami artinya, kudengar dari Lik Kasdi, pamanku, bahwa ayahku terlibat. Terlibat apa aku kurang jelas, hanya yang kuketahui juga dari tetangga bahwa ayahku adalah seorang pegawai negeri yang suka memberi penyuluhan kepada para petani.
Sejak itu, ibu kerap pergi dengan menjinjing rantang berisi nasi dengan lauk ikan asin dan sayur daun singkong kesukaan ayah. Kami, anak-anak, tidak diperkenankan ikut serta. Beberapa kali, aku yang merasa anak terkecil suka merengek minta ikut. Dengan sedikit marah ibu menjawab:
“Ibu akan nengok ayahmu yang sedang kerja, kamu jangan ganggu dia!”
Pasti ayah sedang kerja lembur, pikirku. Tetapi beberapa bulan kemudian, ibu tidak bisa lagi berbohong, karena kemarin aku dengar dari Lik Kasdi, bahwa ayah ditahan di kota.
Dan dia bercerita panjang lebar, tentang pemberontakan besar. Waktu itu yang tertangkap dalam otak kecilku adalah tentang para jenderal yang dikorbankan dimakan buaya di sebuah lobang.
“Ayahmu sedang berjuang,” ujar ibu dengan wajah keruh ketika aku tanya soal tahanan ayah. Tanpa tahu apakah yang dimaksud dengan berjuang, yang pasti aku kerap kali menangis sendirian bila malam waktu tidur tiba. Setiap bangun pagi, ibu melihat mataku sembab. Rupanya ibu pun tahu akan kerinduanku pada ayah. Kulihat air matanya mengembang. Kemudian memelukku erat-erat, dan tangisnya tertahan meskipun air matanya deras membasahi pundakku. Jadinya aku ikut menangis tanpa kutahu sebabnya.
Sore itu, cahaya candik ala menyelinap lewat jendela menerpa lemari kaca tempat memajang foto ayah dalam bingkai. Mungkin karena rinduku pada ayah, kulihat seakan foto ayah bergerak, tangannya melambai kepadaku. Terasa di dalam dadaku ada yang menggelepar-gelepar.
Kudengar pula dari Lik Kasdi, ayah bersama para tahanan beberapa lama ini sedang dipekerjakan membuat tanggul sepanjang rawa besar di daerah tak jauh dari rumah kami. Katanya tanggul yang sepanjang tiga kilometer ini sekaligus untuk jalan penghubung antardesa yang terpisah oleh rawa. Karena rinduku tak tertahankan lagi, dengan mengendap-endap lewat pintu dapur, tanpa sepengetahuan ibu dan tanpa takut dengan cuaca candik ala, sambil membawa pancing bambu, kugenjot sepedaku lari kencang ke rawa, dengan harapan ayah masih di sana.
Setiba di sana, nampak banyak orang berseragam loreng dengan menyandang senjata laras panjang. Mereka berjaga di sebelah timur rawa, di mana kulihat ratusan orang sedang bekerja menggali tanah dan mengangkat batu. Dalam terpaan cahaya kuning, wajah-wajah kurus semakin mempertegas cekungan mata bagai mayat hidup. Dadaku berdebar-debar, tak sabar untuk bisa cepat-cepat bertemu ayah, yang mungkin ada di sana. Beberapa meter sebelum mencapai tempat mereka, seorang petugas mengusirku, dan menyuruhku mancing agak jauh dari situ.
Kutaruh sepeda di pinggir jalan, kemudian duduk mencangkung di atas batu padas di pinggir rawa. Dengan berpura-pura memancing, terus kutajamkan mataku mencari ayah di antara ratusan orang yang sedang bekerja. Langit yang membiaskan warna kuning agak menyilaukan mataku, sehingga sulit mencari di mana ayah berada. Ketika langit berubah warna memerah, pertanda magrib menjelang tiba, dan ketika aku nyaris putus asa, kulihat di kejauhan seseorang berdiri tegak memandang ke arahku, sementara yang lain masih bekerja…. Itulah ayah!
Kulempar pancing, tanpa menghiraukan para petugas, aku pun berlari, menangis sambil berteriak keras-keras memanggil ayah. Ayah seperti tertegun melihat kedatanganku.
Tetapi kemudian wajahnya berubah gembira, meskipun kulihat seperti dipaksakan. Lengannya terentang menyambutku. Kujatuhkan diriku memeluk lututnya dan menangis sejadi-jadinya. Kulihat ayahku sangat kurus dan lusuh, tapi nampak diusahakan selalu tubuhnya ditegap-tegapkan.
“Kapan ayah pulang? Kapan, yah, kapan?” tanyaku berulang-ulang
Ayah tersenyum lebar sambil jawabnya: “Nanti kalau kerja besar ini selesai, cah bagus.”
Beberapa petugas mendekati kami. Ayah bicara kepada mereka beberapa saat, kemudian kami dibiarkan berdua. Kami hanya berpelukan sampai terdengar peluit tanda usai kerja. Kami bergerak bersama para tahanan menuju truk-truk yang sudah tersedia, sambil kupeluk pinggang ayah.
“Ayah tidak kena penyakit karena candik ala?” tanyaku.
Ayah tertawa. Sambil mengelus rambutku ayah bekata:
“Tidak mungkin ayah kena. Ayah sehat karena banyak makan sayur.”
Kemudian ayah membopongku, menciumiku sambil tawanya yang nampak dipaksakan pula. “Ayah nanti tidur di p..p..penjara?” tanyaku terbata-bata menahan tangis.
“Siapa bilang, he..he..he, bukan di penjara, tapi di hotel!”
“Ayah sedang berjuang?” tanyaku kemudian. Ayah nampak kaget.
“Ibu yang bilang…,” kataku menjelaskan. Ayah tertawa mendengar ini.
Menjelang dekat truk, ayah berjalan dengan tegak sambil menyanyikan sebaris lagu Indonesia Raya. Para petugas dan para tahanan terheran-heran, memandang kami. Setelah menurunkan aku dari gendongannya, ayah melompat ke bak truk. Sambil menoleh kepadaku, ayah mengacungkan tinju ke atas, dan katanya keras-keras:
“Ingat Aryo, kamu harus selalu berjalan tegak, menghadapi nasib apa pun. Termasuk kalau ada candik ala…. Dan jangan lupa lagu Indonesia Raya!”
Barisan truk pelan-pelan semakin jauh meninggalkanku sendirian di pinggir rawa. Tak terasa air mata membanjir membasahi pipi.
“Ayaaaaaaaaah!!” teriakku keras-keras muncul sendiri tanpa kusadari.
Saat usia sekolahku tiba, suatu malam Lik Kasdi, yang sudah menjadi carik desa, datang mengunjungi rumah kami. Di ruang depan dia bicara setengah berbisik kepada ibuku. Dari balik pintu kamarku, kutangkap pembicaraan mereka, bahwa ayah sudah menyambut maut dengan gagah sambil menyanyikan Indonesia Raya, katanya.
“Saya sudah berusaha keras menolongnya, Mbakyu,” ujar Lik Kasdi, “Sudah kuberi bukti bahwa Mas Kasman tidak terlibat, melainkan karena fitnah bekas bawahannya yang sakit hati karena dia pecat.” Aku mau menangis keras, tapi terasa tenggorokanku tercekik. Semalam suntuk aku terduduk di balik pintu kamar, sambil mendengar isakan ibu dan Yu Rini, berkepanjangan di kamarnya.
Tiga tahun kemudian, ibuku pun menyusul ayah. Bukan karena diambil Nyai Roro Kidul, melainkan oleh sakit batuk yang diidapnya sekian lama. Yu Rini pun menikah dengan seorang aparat desa dan aku ikut dengannya. Berpuluh tahun kemudian, setelah melewati berapa puluh sore candik ala, setiap cuaca demikian, ada sesuatu yang pedih, seakan ada yang pecah berkeping-keping di dalam dadaku. Dan telah sekian puluh tahun pula aku mencoba benar-benar berjalan tegak, tapi sangatlah sulit. Hanya karena aku adalah anak kandung ayah. Dan semua orang masih saja mengingat ayah adalah ayah kandungku.
Sekarang ini, aku masih juga mencoba berjalan tegak, meskipun sudah sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya, tapi hanya baru bisa melata di tanah!
Klaten, 2005

Catatan:
Candik ala: pertanda buruk dengan cuaca sore yang membiaskan warna kuning
Ora ilok: pamali, larangan
Gejog: barisan roh halus
Nyai Roro Kidul: Ratu Laut Selatan
Ngalor, ngalor, aja ngetan, aja ngulon: ke utara, ke utara, jangan ke timur jangan ke barat
Segara Kidul: Laut Selatan
Kali Woro: sungai besar di lereng gunung Merapi yang dipenuhi pasir dan lahar dingin

Sumber: Kompas Cetak 30 September 2007

Artikel terkait dengan Cerpen GM Sudarta: Resensi Kumpulan Cerpen GM Sudarta

Segala Yang Tak Lengkap

Resensi Arif Saifudin Yudistira*
Editor Ragil Koentjorodjati

Alangkah nistanya dan tidak enaknya bila hidup ini dikelilingi dengan ketidaklengkapan. Keganjilan bukan suatu hal yang membuat teka-teki, membuat kita jadi seorang detektif dalam mencari keganjilan itu, tetapi keganjilan dan ketidaklengkapan itu adalah sesuatu yang dipaksakan untuk melengkapi hidup ini. Tragedi 65 adalah sejarah buram negeri ini yang menyimpan beratus kisah yang tak henti-henti mengalir deras paska kematian Suharto. Orang-orang seperti menjadi corong yang bebas bersuara tidak tahan menahan trauma, menahan derita fisik dan jiwa hingga mereka menuangkan dalam bentuk wawancara, dokumentasi pribadi catatan harian, ataupun memori yang masih tersimpan di otaknya. GM Sudarta adalah bagian dari itu, ia mengangkat kepedihan, kepiluan, kebiadaban, kebar-baran zaman itu, dengan lihai. Bukan karena bumbu-bumbu cerita yang ia buat, melainkan cerita itu adalah nafas dan suara korban yang merasai cinta, dendam, juga prahara dan teka-teki yang tak lengkap dari para korban tragedi 65.
kumcer gm sudartaBuku kumpulan cerpen berjudul “Bunga Tabur Terakhir: Cinta, Dendam dan Karma di Balik Tragedi 65” tak hanya elok karena menceritakan epik sejarah yang indah, realis, dan nyata di hadapan kita peristiwa kebiadaban di tahun-tahun silam. Namun buku ini juga menceritakan kelucuan dan keluguan anak-anak yang terlambat mengenali mbahnya. Di salah satu judul cerpennya “Mbah Broto” GM Sudarta berhasil mengolah kelucuan, dan gejala psikologis seorang yang eks-tapol berhasil menghibur sebagai tukang gali kubur, tukang binatu, hingga tukang bengkel bersama cucunya. Ia hanya ingin, kelak cucunya mengerti dengan kisah yang ada pada dirinya, dan di akhir cerita, betapa terkejutnya cucunya ketika menerima pusaka “madilog” sebagai warisan untuk cucunya. Kisah ini begitu dramatis, tapi penuh keindahan yang menghiasi akhir-akhir kematian Mbah Broto. Ia senang di alamnya, dan tenang, karena telah lega berjumpa dengan malaikat yang ditunda-tunda datangnya daripada teman-temannya yang dipanggil lebih duluan. Akan tetapi , Mbah Broto tampak lain, ia seperti memanggil malaikatnya sendiri, dan merasa puas sudah meninggalkan cerita dan kisahnya yang jujur pada cucunya. Setidaknya cucunya tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Sepuluh judul cerpen seperti mewakili kisah cinta, dendam, dan siksa pedih yang terjadi waktu itu, sekali lagi GM Sudarta, tak hanya berperan sebagai sosok yang melihat, ia berhasil melibatkan pengarang menyatu dengan kisah yang diceritakan, sehingga kita seperti diajak untuk tak hanya melihat ilustrasi-ilustrasi sebagaimana ia menggambar dalam keseharian sebagai kartunis, tapi oom pasikom ini berhasil mendeskripsikan dan menggambarkan cerita dan peristiwa 65 hadir di mata pembaca.
Cita-cita PKI sebagai organisasi yang membela buruh tani dan menggapai kesejahteraan rakyat, mengusir kapitalis jadi hancur, berantakan dan tiba-tiba penuh teror setelah terjadi pembunuhan jenderal. Banyak masyarakat tidak faham, jadi saling bunuh, saling dendam, dan saling tuduh menggunakan kata “terlibat”. GM Sudarta mengemas ini dalam beberapa kisah dalam kumcer ini di beberapa judul cerpennya sepeti :Sum; Orang-orang Yang Tidak Mau Masuk Kubur; Candik Ala; Merindu Jerit Kematian; hingga Perburuan Terakhir.
Di sana ada kisah cinta, ada pembunuhan kejam atas motif politik, ada yang memanfaatkan situasi, di situlah sebenarnya teror kemanusiaan bermula. Sejak itulah sejarah menjadi gelap, saling serang, dan tak memenuhi titik pangkal dari apa yang sebenarnya terjadi. Kumpulan ini tak hanya membuka memori gelap sejarah kita, tak hanya untuk mengingatkan, tapi juga sengatan, bahwa akankah kekejaman, kebengisan, dendam, dan darah menjadi hal yang wajar dan dibolehkan, ketika tragedi dan politik bermain di sana, sedang kita membiarkan begitu saja?.
Kumpulan cerpen ini begitu kuat menarasikan peristiwa bertahun-tahun silam, meski kita melacak tanggal penulisan cerpen ini sekitar 4 tahun berjalan seperti tahun 2003, 2007, bahkan 2011. GM Sudarta, barangkali bukan hanya bercerita tentang khayalan dia, tapi juga peristiwa yang dialaminya sehari-hari sewaktu remaja. Mengapa GM Sudarta menulis kumpulan cerpen ini? Ia menjawab, karena ada sisi-sisi kehidupan yang serasa lebih pas dan cocok bila disajikan dalam bentuk cerpen daripada dalam kartun dan lukisan.
Jika sebagai kartunis dan pelukis ia mengajak para pembaca kartunnya atau pembaca lukisannya untuk menyelami lebih dalam apa yang ada dalam kartunnya. Di kumcer ini pun demikian, ia seolah-olah mengajak ada narasi besar, ada peristiwa suram, ada teka-teki, ada pergulatan, ada banyak kisah yang mesti kita cari benang merah dan membuka misteri itu hingga kita benar-benar tahu sejarah sebenarnya dari tragedi 65 itu. Meminjam istilah Kontras : “Ketika sejarah digelapkan, di situ manusia dan kemanusiaan tersingkirkan”.
Kumpulan cerpen ini juga mengingatkan kepada pembaca semua, dan kita bahwa “hidup yang tak lengkap” sebagaimana dikisahkan dalam cerpen-cerpen GM Sudarta sangat tidak mengenakkan. Gejala teror psikis, siksa fisik, hingga siksa batin yang luar biasa mengakibatkan trauma yang dalam, mengakibatkan dendam yang membara, sehingga kita buta, dan mencari apa yang tidak lengkap tadi. Ketidaklengkapan yang dimaksud GM Sudarta tidak lain dan tidak bukan adalah ketidaklengkapan sejarah 65.
Sebagaimana yang ditanyakan Julius Pour dalam bukunya “G30 S: Pelaku, Pahlawan, dan Petualang”: Apakah kita akan membiarkan selama 46 tahun berlalu,dan mengubur peristiwa ini lebih dalam? Jika jawabannya adalah ya, berarti kita telah memutuskan hidup dengan ketidaklengkapan. Ketidaklengkapan sejarah itu pula yang kelak dikhawatirkan oleh GM Sudarta sebagaimana judul kumcernya “Bunga Tabur Terakhir: Cinta, Dendam dan Karma di Balik Tragedi 65”. Yang penuh dengan segala yang tak lengkap.

Judul buku : Bunga Tabur Terakhir: Cinta, Dendam dan Karma di Balik Tragedi 65
Penulis : GM Sudarta
Penerbit : Galang Press Jogja
Tahun : 2011
Tebal : 156 halaman
Harga : Rp.30.000,00
ISBN : 978-602-8174-65-7

*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, Presidium Kawah Institute Indonesia