Oleh Nia Oktaviana Gambar diunduh dari bp.blogspot.comSejenak kupejamkan mata, menelan semua kepahitan hidup yang terkadang memaksa kita menitikkan air mata. Akan seperti apapun usahanya untuk menutupi dan menghentikan tetesan air mata , semua itu hanya bagian dari usaha yang akan sulit terwujud dalam menghentikan sebuah tangisan. Hati nurani memang tak pernah berkata dusta tentang perasaan seseorang terhadap sebuah kesedihan, kebahagiaan, kerinduan, kekecewaan, kekaguman atau bahkan kasih sayang yang bisa menjadi alasan demi menetesnya air mata.
Menangis itu indah saat kita bisa berbagi sebuah tangisan bersama orang yang kita sayangi.
Menangis itu menyedihkan ketika orang yang kita tangisi tak pernah mempedulikan kita.
Menangis itu istimewa saat setiap tetesan air mata jatuh di tangan seseorang yang kita sayangi sedang menggenggam tangan kita.
Menangis itu mengharukan saat selembar kertas berisikan tentang puisi kerinduan terhadap orang yang telah tiada terbasahi oleh tetesan air mata.
Menangis adalah kerinduan saat seorang kekasih terpaku di hadapanmu lalu mengusap air matamu.
Menangis itu menyakitkan saat kita merasa iba memandangi seseorang yang kita sayangi terbaring sakit tak berdaya.
Menangis itu kekecewaan saat perasaan tulus kita kepada seseorang hanya dipandang sebelah mata
Menangis itu kagum saat kita melihat seorang sahabat yang berhasil meraih impian besarnya.
Menangislah untuk sebuah kebahagiaan dan kesedihan yang telah mewarnai sepanjang kisah hidupmu.
Bicaralah pada Tuhan Yang Maha Mendengar untuk segala keluh kesahmu di setiap malam yang tak seorang pun bisa mendengar setiap tangisanmu.
Hadapkan dirimu pada Tuhan Yang Maha Melihat atas ketidakberdayaanmu terhadap dunia dan orang-orang yang berlaku tidak adil terhadapmu.
Menangislah selepas kau bisa, agar setiap beban hidup tidak tersimpan dan membusuk terlalu lama dalam hatimu.
Karena dibalik sebuah tangisan selalu tersimpan banyak makna di dalamnya.
Mural ini berada di dalam gua nomor 254 di Dunhuang, berasal dari jaman Dinasti Wei Utara ( 386 -534 ), walaupun warnanya tidak begitu semarak, dan garis-garisnya tidak seluwes mural Dinasti Tang, tetapi dapat membuat orang merasakan semacam meluapnya keikhlasan pengorbanan diri berbalut duka. Warnanya kental, berani dan bebas, goresan kuasnya kasar dan agak kaku, bentuknya khidmat dan sederhana. Mural ini tidak kalah dengan Pengadilan Terakhir Michelangelo di Kapel Sistina. Keduanya sama-sama menggunakan jatuhnya tubuh dan perputarannya sebagai topik utama, tubuh yang jatuh bangun, alam yang kelam gelisah dalam biru lebam dan merah kecoklatan, seakan berada di dalam ruang dan waktu yang keruh gelap belum terkuak, tubuh bagaikan masih bingung terhadap keberadaannya. Pangeran Sattva di dalam mural ini sama seperti penebusan tubuh dalam Pengadilan Terakhir Michelangelo, perenungan yang dalam tentang pertanyaan sulit terhadap hakiki hidup ——— bagaimana tubuh sadar? Dengan bentuk lukisan memaparkan pertanyaan filsafat, keduanya adalah karya agung, hanya saja pelukis di dinding gua 254 tidak meninggalkan nama, lebih awal seribu tahun dari Michelangelo, di dalam gua yang gelap, dan tetap saja merupakan gambar yang mencerahkan umat manusia.
Michelangelo berdasarkan Kitab Wahyu kepada Yohanes melukis Pengadilan Terakhir, mengisahkan keyakinan Yesus terhadap penebusan tubuh. Pelukis mural di gua 254 Dunhuang melukis Pengorbanan Tubuh buat Harimau Lapar berdasarkan Sutra Suvarnaprabhasottama ( Kitab Cahaya Emas ) yang waktu itu baru diterjemahkan ke dalam Bahasa Han, dengan kisah Buddha sendiri menjelaskan pertanyaan berat tentang pengorbanan tubuh, keduanya memiliki mutu estetika yang sangat serupa.
***
Sutra Suvarnaprabhasottama atau dalam Bahasa Han disebut < 金光明经 – baca: Jin Guang Ming Jing > diterjemahkan oleh seorang biksu dari India Tengah bernama Dharmaksema, dan kitab ini dengan cepat menjadi populer di kalangan rakyat, menjadi salah satu kitab penting agama Buddha dalam penyebaran Dharma, juga menjadi dasar cerita pelukis yang menciptakan mural di gua 254. Dharmaksema ( 385 – 433 ) aktif di antara penghujung abad keempat dan awal abad kelima, dia dari India sampai dulu di Shanshan, lalu Kucha, kemungkinan menempuh Jalur Sutera Kuno, yang kini seperti Kashmir, Afganistan, Kizil, sekitar Korla, terus menelusuri Koridor Hexi, sampai di Dunhuang. Kaisar Liang Utara, Jugu Mengxun mengangkatnya menjadi penasehat, memintanya menerjemahkan kitab-kitab agama Buddha, tetapi sesungguhnya Kaisar lebih tertarik terhadap segala macam jampi dan jimat serta kemampuan ajaibnya; waktu itu orang-orang percaya Dharmaksema dapat memanggil makhluk gaib menyembuhkan penyakit dan mampu membuat perempuan subur. Nama Dharmaksema kemudian tersebar luas, bahkan Kaisar pertama Dinasti Wei Utara Touba Tao mengandalkan kekuatan negaranya meminta Jugu Mengxun menyerahkan Dharmaksema, Jugu Mengxun sangka Dharmaksema telah bersekongkol dengan orang luar negeri, dan juga takut dia bekerja untuk orang lain, kemudian membunuhnya, waktu terbunuh usianya baru empat puluh delapan tahun.
Riwayat biksu-biksu penyebar agama Buddha dari India pada periode awal Dinasti Wei Utara sangat mirip legenda misterius, seperti Kumarajiwa ( sekitar 334 – 412 ), seperti Dharmaksema, mereka mengembara di dalam terpaan pasir kuning Jalur Sutera yang luas, dari satu kerajaan ke kerajaan lain, keluar masuk di antara hawa nafsu duniawi dan dharma Buddha, Dharmaksema melarikan diri dari Kerajaan Shanshan karena memiliki hubungan gelap dengan puteri raja, Kumarajiwa terakhir dipaksa Li Guang menikah, dipaksa memelihara sepuluh orang perempuan penghibur, arak dan hubungan badan telah menghancurkan pancasilanya. Konon dia pernah di depan banyak biksu menelan semangkuk jarum besi, membuktikan dirinya belum meninggalkan Dharma.
Mereka datang ke dunia demi menyebarkan Dharma, namun tubuh mereka akhirnya tetap tidak dapat menjaga vinaya di dunia, ikut terseret di dalam pertikaian hawa nafsu dan politik yang rumit, Kumarajiwa maupun Dharmaksema sama-sama bukan biksu yang menempuh jalan pencerahan dengan ketentuan yang dipegang umum, walaupun demikian, kitab-kitab Buddha yang diterjemahkan mereka sangat indah, terutama Kumarajiwa, terjemahannya masih terus dibaca hingga hari ini, bisa tanding indah dengan puisi-puisi Bahasa Han yang paling mempesona. Terjemahannya seperti Sutra Vajracchedika Prajnaparamita ( Kitab Intan ) bisa membuat pembaca tercengang, dia mampu mengubah pemaparan filsafat yang rumit dan sulit menjadi untaian kalimat yang puitis, sederhana dan berirama, seakan membaca puisi, tidak terasa sedang memahami kitab agama, menakjubkan. Dharmaksema jauh lebih muda daripada Kumarajiwa, tetapi Sutra Suvarnaprabhasottama ( Kitab Cahaya Emas ) yang diterjemahkannya kelihatan melanjutkan gaya terjemahan Kumarajiwa, menjalin narasi dan himne dalam satu tubuh teks, arti terjemahan Bahasa Han dan mantera Bahasa Sanskerta sama-sama dapat dipertahankan, sehingga menciptakan teks yang sangat unik. Sutra Prajnaparamita Hrdaya ( Sutra Hati ) dalam terjemahan Bahasa Han yang dibaca secara luas oleh pengikut agama Buddha di Asia Timur adalah contoh kitab yang mempertahankan arti terjemahan Bahasa Han dan nada Sanskerta, sehingga membaca teks adalah di antara memahami arti dan mendengar bunyi. Atau mungkin saat itu pengikut-pengikutnya bukan hanya orang Han saja, di sekitar Jalur Sutera Kuno adalah tempat berkumpulnya berbagai bangsa, Kumarajiwa dan Dharmaksema sendiri berasal dari India, kemudian menetap di berbagai daerah yang memiliki bahasa yang berbeda, sehingga mereka tetap mempertahankan keragaman bahasa.
Masa itu tidak banyak pengikut agama Buddha yang mengenal huruf, teks kitab biasanya dibacakan dan dijelaskan oleh biksu, sehingga Sutra Suvarnaprabhasottama yang diterjemahkan oleh Dharmaksema banyak menggunakan puisi empat kata selarik. Masa itu biksu membaca kitab untuk umat dengan suara tinggi, bahasanya jernih berdenting,:
Adalah tubuh tidak kukuh,
laksana buih di atas air,
adalah tubuh tidak bersih,
banyak berupa jasad cacing.
Adalah tubuh paling celaka,
urat melingkar darah menebar,
kulit tulang sumsum otak,
bersama-sama diuntai diikat.
Inilah pernyataan Pangeran Sattva sebelum mengorbankan tubuhnya, bagai nyanyian bagai ungkapan, umat dengan khidmat mendengar suara nafas yang datang dari rongga tubuh biksu, mungkin resonasi yang datang dari tubuh, jauh lebih memiliki daya pukau daripada membaca teks. Sutra Suvarnaprabhasuttoma terdiri dari sembilan belas bab, pada masa itu paling luas menyebar di masyarakat adalah bab Ikan-ikan Para Murid Jalavahana dan bab Pengorbanan Tubuh. Ini merupakan dua buah kisah yang dituturkan Buddha Gautama di Rajaha kepada muridnya tentang masa lalu hidup sebelumnya. Nidana masa lampau yang dibicarakan dalam kitab ini, dan mungkin tubuh kita, suatu hari juga merupakan sebab akibat masa lampau. Ikan-ikan Para Murid Jalavahana adalah ketika Buddha Gautama di hidup sebelumnya melihat air kolam mengering, sepuluh ribu ikan akan segera mati, dalam hidup itu dia sebagai Jalavahana bersumpah akan dengan dua puluh ekor gajah membawa air, menyelamatkan ikan-ikan itu.
***
Bab Pengorbanan Tubuh menceritakan tentang kisah Pangeran Sattva memberikan tubuhnya buat harimau lapar, alur ceritanya menyerupai novel, sangat memikat, dan pada masa itu telah menjadi topik lukisan yang beredar paling luas. Diceritakan bahwa Raja Maharatha memiliki tiga orang putera, putera pertama bernama Pranada, putera kedua bernama Deva, dan putera ketiga bernama Sattva. Mereka bertiga bermain ke hutan, bertemu dengan seekor induk harimau yang sedang melahirkan, ada tujuh ekor anak harimau yang terlahir, karena tidak makan, induk harimau tidak mampu menyusui anak-anaknya, tanpa makanan, induk harimau bersama anak-anaknya pasti akan mati kelaparan. Pranada memberitahu Sattva: ” Harimau ini hanya makan daging segar darah panas “. Frasa ” daging segar darah panas ” membuat saya teringat kisah Raja Sivi mengerat dagingnya untuk dimakan rajawali, pengorbanan tubuh India Kuno selalu diawali dengan ” daging segar darah panas ” yang begitu nyata, dan kata-kata ini hampir tidak pernah ditemui dalam kitab-kitab Konghucuisme, tidak tahu waktu pertama kali diterjemahkan ke dalam Bahasa Han, apakah menimbulkan getaran hebat terhadap intelektual-intelektual Han pada masa itu?
Menghadapi sekumpulan harimau lapar, apakah ada orang mau mengorbankan tubuhnya untuk santapan mereka? Pranada berkata: ” Segala yang paling sulit dikorbankan, tidak lebih dari tubuh sendiri ” Adiknya, Deva menyambung: ” Karena terikat dan sayang pada tubuh sendiri, ketika melihat mahkluk lain menderita, walaupun iba tetapi tetap tidak mampu mengorbankan tubuh. Bab Pengorbanan Tubuh menggunakan cara penyampaian cerita yang sangat unik sehingga tiba-tiba sudah memutar ke dalam sumpah Sattva ——— ” sekarang aku mengorbankan tubuh, memang waktuku sudah tiba —— ”
Sebenarnya sangat sulit untuk mengerti alasan dan logika Sattva mengorbankan tubuh, bagi mereka yang dididik dan dibesarkan dalam tradisi Konghucuisme yang kental, misalnya diriku ini, manusia dan harimau adalah di posisi berseberangan, hanya ada ” Wu Song Membunuh Harimau ” di dalam novel 108 Pendekar, tidak mungkin ada orang mengorbankan tubuh untuk menyelamatkan harimau.
Cerita dituturkan sampai di sini, pengikut-pengikutnya timbul keingin-tahuan yang mengerikan. Kenapa? Kenapa seorang pangeran muda yang hidup tenang dan bermartabat di istana raja, bisa timbul pikiran menggunakan tubuhnya untuk dimakan harimau. Di dalam kitab memang juga tercantum pertanyaan yang sama: Kenapa? Semua pendengar sedang menunggu jawaban.
Renungan Sattva bukan dimulai dari karuna atau welas asih kepada harimau, yang dia pikirkan adalah kondisi tubuh dia sendiri:
Menetap teduh di dalam rumah, pakaian tidak berhenti diberikan, makanan, tempat tidur, obat-obatan, gajah dan kuda, kereta, setiap saat disediakan, sehingga tidak kurang apa pun, aku tidak tahu berterima kasih, justru timbul keluhan yang membingungkan, namun tetap tidak terhindarkan kejatuhan yang tak terduga, adalah tubuh tidak kukuh, tiada keuntungan bisa dipetik, mencelakakan bagai pencuri ———
Seandainya mengorbankan tubuh ini, berarti mengorbankan tak terkira gerogotan cacing, segala penyakit, ratusan ribuan teror dan takut ———
Terhadap tubuhnya yang tidak kekal dia telah melakukan perenungan yang sangat dalam:
Adalah tubuh tidak kukuh, laksana buih di atas air, adalah tubuh tidak bersih, banyak berupa jasad cacing. Adalah tubuh paling celaka, urat melingkar darah menebar, kulit tulang sumsum otak, bersama-sama diuntai diikat ———
Pelukis mural di gua 254 mungkin juga ikut mendengar cerita ini, dia pasti juga terpikir tentang tubuh dia sendiri, begitu banyak risau gelisah, urat melingkar darah menebar, kulit tulang sumsum otak, tubuh yang demikian tidak kukuh sebenarnya buat apa?
Sattva takut kedua kakaknya melarang, terus meminta mereka pergi, dia sendiri kembali ke tempat harimau tergeletak, melepaskan baju, digantung di atas ranting bambu. Pelukis mural mendengar biksu menuturkan cerita, sambil merancang adegan Sattva.
Dia mulai di atas dinding kosong menggoreskan lekukan, Sattva berlutut di tanah, mengangkat lengan kiri, dan lengan kanan di dada, mengucapkan sumpah pengorbanan tubuh. Ada cukup banyak bagian yang dideskripsikan secara terperinci di dalam kitab, sebelum Sattva menjatuhkan diri dari tebing, tiba-tiba terigat induk harimau sudah beberapa hari tidak makan, lemah dan kurus, sudah tidak memiliki tenaga bergerak, sekalipun menjatuhkan dirinya dari tebing, mereka juga tidak mampu datang memakannya, maka Sattva memikirkan satu cara, dengan ranting bambu kering menusuk putus urat leher, agar darah mengalir keluar, sehingga harimau mudah mencicipi darahnya, memulihkan kekuatan tubuh, kemudian baru melahap dagingnya.
Ini mungkin satu bagian dari kitab yang paling membuat orang tercengang, mata pelukis mural mulai timbul airmata panas, dia mungkin tenggelam ke dalam renungan ——— ” Rupanya ingin mengorbankan diri perlu sumpah yang demikian ganas! ” Di dinding kosong pelukis mural menarik garis-garis untuk membentuk gambar Sattva yang pertama: Tangan kanan sedang memegang ranting bambu menusuk lehernya, tangan kiri diangkat tinggi-tinggi, dilanjutkan dengan gambar kedua, gerakan terjun dari tebing.
Menurut cerita, masa itu di dalam gua sangat gelap, cahaya tidak bisa masuk, pelukis gua kadang-kadang menggunakan lilin dan obor untuk penerangan, tetapi kadang-kadang di bagian gua yang paling dalam, karena oksigen tidak cukup, tidak mampu menyalakan api, juga takut asap lilin menghitamkan dinding, sehingga mereka sering menggunakan sekeping cermin untuk memantulkan cahaya luar, cahaya dari cermin itu berkedip di atas dinding gua, lalu pelukis-pelukis ini menciptakan mural di dalam sekeping cahaya yang berkedip itu.
Sattva merapatkan kedua telapak tangan di dada, terjun ke bawah, gayanya persis seperti perserta olahraga selam masa kini, tubuh mudanya telanjang, di lengan tangan ada gelang, tubuhnya yang semula berwarna merah muda, karena termakan usia, berubah menjadi warna cokelat tua, garis-garis lekukan juga teroksidasi menjadi hitam dan kasar, tubuh ini seperti harus mengalami siksaan waktu di dalam kehampaan, berbintik berkerut, setitik-setitik lumer, hilang, musnah, namun sebelum semua akhirnya kembali menjadi mimpi ilusi gelembung bayang, masih ada yang terakhir dipertahankan, freeze frame menjadi sekeping jejak yang tidak ingin hilang di atas dinding gua.
Pelukis mural menggunakan cara ini menyelesaikan tiga tindakan Sattva yang berturut-turut, ” bersumpah sambil menusuk leher “, ” menerjukan dirinya dari tebing “, ” mengorbankan tubuh dimakan harimau ”
Waktu yang membeku di dalam lukisan seakan bumi bergetar hebat, latar belakang tubuh Sattva adalah alam dengan gunung dan sungai berwarna hijau batu dan merah kecoklatan yang timbul tenggelam.
Pencapaian kesenian gua Asia di sekitar abad kelima adalah titik puncak tertinggi dalam sejarah kesenian dunia, namun pelukis-pelukis yang tidak kita kenal ini, telah meninggalkan karya mereka yang cemerlang di dalam gua gelap, dan ini mungkin hanya salah satu cara pertapaan dengan tubuh mencapai pencerahan.
Setiap pelukis mural Dunhuang mungkin adalah Pangeran sattva, tubuh terbaring di dalam waktu yang kekal, biarkan harimau datang mencicipi. Beberapa tahun terakhir ini gua Dunhuang memperlihatkan tempat tinggal pelukis-pelukis gua masa itu, tempat tinggal mereka adalah gua batu yang lebih kecil dan sempit daripada gua tempat mereka menciptakan mural, ketika malam tiba, tubuh yang telah bekerja seharian, hanya bisa meringkuk di dalam gua yang kurang lebih sebesar keranda batu tidur, atau mungkin wajah mereka yang kurus akan berubah menjadi wajah tawa yang penuh di dalam mimpi. Freeze frame Sattva yang terakhir adalah terbaring di atas bumi, seekor induk harimau sedang mencicipi bagian pinggangnya, dua ekor anak harimau sedang menikmati pahanya. Tubuhnya seperti gaya tarian yang indah, satu tangan menjulur ke belakang, muka menghadap langit, persis seperti patung Pieta Michelangelo dengan Yesus yang terbaring di dalam dekapan Bunda. Kitab mengatakan ibu Sattva di dalam mimpi dapat merasakan anaknya mengorbankan tubuh, ibunya di dalam mimpi:
Kedua payudara mengeluarkan susu, seluruh sendi tubuh, sakit bagai ditusuk jarum,
dan ini:
Kedua payudara dikerat, semua gigi rontok
Sastra India yang baru menyebar ke dataran Cina begitu kental rasa, sama seperti mural masa itu, penuh warna, cinta dan benci saling mengikat bertempur, kesadaran tubuh seluruhnya ada di sana.
***
Pertama kali melihat mural ini sekitar lima belas tahun yang lalu dalam sebuah jiplakan di atas kertas ukuran 50cm X 50cm di sebuah pasar malam Cap Goh Meh dekat Bugis Junction, Singapura. Penjualnya masih muda, datang dari Provinsi Gansu, Cina, dia terus menceritakan mural-mural yang dia jiplak dari gua-gua Dunhuang, dia mengatakan bahwa sudah tidak banyak lagi orang yang menguasai teknik lukis ini, saya samasekali tidak berani menyangkal. Lalu dia berkata bahwa hasil semua lukisan ini untuk membantu penelitian gurunya, seorang pelukis dan peneliti senior gua Dunhuang, yang ini saya juga tidak berani terlibat. Akhirnya saya memberanikan diri berterus terang bahwa saya sesungguhnya sangat menaksir sepasang sepatu dari tali rami yang digantung di dinding kiosnya.
Sepatu ini sangat mirip dengan yang biasa dipakai biksu-biksu yang mengembara ke tanah barat mencari kitab dalam lukisan-lukisan kuno. Alasnya adalah beberapa lapis kain dan potongan kertas, begitu juga bagian belakang dan depan sepatu, dan sisanya adalah rajutan tali rami kasar, kelihatan cukup kuat untuk menempuh perjalanan sepuluh ribu li. Tetapi setelah saya timbang-timbang sepatu tali ini di tangan, ternyata sangat ringan, sangat sulit membayangkan Faxian, Yijing, Xuanzhuang memakai sepatu ini menempuh perjalanan yang begitu jauh.
” Sepatu begini paling cocok untuk menempuh gurun pasir, ” pemilik kios langsung tahu apa yang saya ragukan, ” ketika kau menginjak ke dalam pasir, kau akan tahu nilai yang diwariskan ribuan tahun, alas sepatu ini tidak lengket, tidak licin, seperti menjadi bagian dari pasir. Saat kaki diangkat melangkah, butiran pasir akan mengelincir keluar dari sela-sela rajutan tali, kaki tetap kering dan bersih, tidak ada pasir yang melengket, ringan, lembut dan sejuk ”
Dalam hidup ini saya jarang membeli sesuatu yang benar-benar berguna, hari itu saya merasa telah diberi kesempatan, walaupun kemudian di tangan saya nasib sepatu ini sangat sulit terduga, bahkan saya sendiri sudah lupa di mana dia ditinggalkan, tetapi malam itu, di dalam kamar hotel, badan letih, hilang niat tidur, telanjang kaki duduk di lantai, tarik nafas coba istirahat. Di dalam pikiran timbul ketiga adegan Sattva, terbayang kakinya yang telanjang, sepasang sepatu rami itu ada di depan mata, tiba-tiba seakan-akan pernah mengenalnya, mungkinkah begini juga boleh disebut nidana masa lampau?
Terkadang Tuhan pertemukan dua orang untuk saling jatuh cinta
tetapi tidak untuk saling memiliki.
gambar diunduh dari bp_blogspot.comDia memakai kemeja hitam dan jeans hitam. Senang sekali bisa bersamanya di luar jam kuliah. Meskipun kami tidak hanya berdua. Ada Ferdi, Ilma dan Ares. Kami berada di cafeteria kampus. Entah keberapa kalinya aku kembali satu kelompok dengan Dee. Seperti biasa, dia sangat dingin dan tidak bersahabat. Padahal ini bukan pertamakalinya kami ada di kelompok yang sama.
“Ini, Ree … Hasil penelitian dari Kampung Leles. Udah aku susun semuanya,” kata Ilma sambil menyerahkan flashdisk-nya. Sementara Dee, Ares dan Ferdi sibuk dengan kegiatan mereka serta obrolannya.
“Hei, siapa yang belum ngasihin tugasnya ke Ilma?!” tanyaku sinis kepada mereka bertiga setelah meneliti data-data dalam flashdisk Ilma.
“Ares udah loh, Ree. Iya kan, Il?” tanya Ares meminta pembelaan Ilma. Ilma mengangguk.
“Aku udah !!” jawab Ferdi sambil mengangkat tangannya, seperti ditodong polisi.
Aku menatap Dee. Meskipun aku menyukainya bukan berarti dia bebas dari tugasnya.
“Sepertinya cuma aku aja yang belum. Maaf ya Ree, sini biar aku aja yang beresin” ucap Dee sambil menggaruk-garuk kepalanya. Aku mencibir. Tidak biasanya dia seperti ini.
“Berarti tinggal buat BAB I dan BAB III-nya” ucapku.
“Kata Pengantar, Daftar Isi dan Daftar Pustaka” tambah Ilma. Aku mengacungi jempol ke arahnya.
Tidak lama kemudian kami semua sibuk dalam pembuatan BAB I dan BAB III. Aku, Dee dan Ferdi membuat BAB I sementara Ilma dan Ares menyelesaikan BAB III.
“Aduh .. kok pusing gini ya” ucapku setelah sepuluh menit berlalu tanpa mengetik apapun.
“Santei aja, Ree” sahut Ferdi tanpa menoleh ke arahku.
Tidak lama kemudian, Dee tiba-tiba kembali mengeluarkan suara emasnya. “Di, ini ..” katanya sambil menyerahkan BB-Touch miliknya pada Ferdi.
“Apaan?” Ferdi bingung.
“Kita foto-foto dulu biar ga ruwet” jawabnya.
Eh? Sejak kapan Dee jadi peduli dengan sekitarnya?.
“Fotoin aku sama Ares, Di …” kata Ilma antusias. Teman-teman sekelasku memang seperti ini, selalu eksis depan kamera. Aku tidak menghiraukan mereka, aku melanjutkan tugasku.
“Ferdi, fotoin sama Ree” kata Dee.
“Eh?” aku melongo ke arah Dee. Dee tidak sakit kan?. Dee acuh dan sudah siap dengan gaya cool-nya.
“Gaya dong Ree” kata Ferdi. Aku cepat-cepat mengubah ekspresi kaget dengan tersenyum depan kamera. Dan jadilah fotoku dan Dee yang sedang tersenyum.
Senja itu diakhiri dengan selesainya tugas penelitian Sistem Sosial Budaya Indonesia yang harus segera di kumpulkan sebelum UAS berlangsung. Oh, Tuhan … ! Ini luar biasa, aku berfoto bersama Dee ! Aku menjadikannya wallpaper di handphone-ku. Rasanya lucu sekali. Ini benar-benar diluar dugaan. Terimakasih, Dee …
***
Siang ini dia berjaket tebal. Jaket tebal berwarna merah dengan jeans biru dan sepatu kets coklat. Siang ini mendung, dan angin bertiup kencang. Mungkin itu sebabnya dia berpakaian layaknya orang eskimo. Aku memandangnya, sesekali tertunduk agar mataku dan mata sayunya tidak beradu pandang. Hari ini UAS Penulisan Berita, dan itu adalah alasan mengapa aku dan dia ada di tempat yang sama.
Hembusan angin memainkan rambut disekitar keningnya. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membuat rambut belakangnya sedikit berantakan. Kemudian berjalan menuju kumpulan anak-anak kelas.
Aku duduk bersandar menghadapkan badanku agar selaras dengan tempatnya duduk sekarang. Dia lebih menawan ketika tersenyum dan tertawa. Melihatnya seperti ini rasanya cukup. Ya, cukup untuk mengobati kerinduan tentangnya. Meskipun rasa yang semakin mengendap ke dasar nurani ini butuh jawab.
“Dee, sini …” teriak Syila, kemudian Dee menghampirinya. Syila langsung menarik tangan Dee. Dan … jepret .. jepret …
Kamera Canon EOS 550D itu merekam frame mereka. Syila menggandeng tangan Dee ! Aah, Tuhan .. mengapa harus merasa sulit seperti ini. Aku hanya memalingkan wajah, berusaha fokus pada UAS yang akan berlangsung.
Dee memang dingin. Jadi dia hanya tersenyum tipis ketika berfoto. Tangannya melipat tepat diatas perutnya. Dan .. yah … tangan Syila mencari celah untuk bisa bergantung diantara tangan Dee.
“Arial, Rena, Tio, Refa, Lila” panggil dosen, namaku ada diantaranya. Aku bergegas memasuki ruangan ujian. Meninggalkan Dee yang masih berfoto dengan Syila. Aku berharap bisa berdampingan dengannya di ruang ujian ini.
Dua menit berlalu dan sejauh ini ujian lisanku lancar. Berita yang ku buat hanya -1. Tinggal mengubah Lead-nya saja. Kemudian Dee masuk bersama beberapa orang selanjutnya. Aku masih mengotak-atik Lead yang sudah di salin dua kali di kertas yang sama. Aku terus mengamatinya. Ingin lebih lama di ruangan ini. Aku sudah selesai dengan tugasku. Tapi dia belum juga mendapat giliran untuk mempertanggung jawabkan beritanya. Aku penasaran, apakah skill-nya sebanding dengan permainannya di lapangan ?
Aah, tapi ini terlalu lama! Aku sudah selesai sementara nama Dee belum juga dipanggil oleh dosen. Beberapa temanku yang masuk bersama telah keluar sejak tadi.
“Kamu belum selesai?” tanya Dosen melirik ke arahku.
“Oh, iya Pak … udah ..” jawabku tidak bisa menyela, dengan berat hati harus meninggalkan ruangan ini. Aah, Dee … aku duluan .. Aku melihatnya sekilas kemudian meninggalkannya di ruang ujian.
***
Terbaring di bangsal berwarna putih ini memang menyebalkan. Bagaimana lagi, seminggu dua kali harus Hemodialisis . Pada akhirnya aku memang akan mati, namun ini adalah usaha agar hidupku di dunia ini tidak terlampau sia-sia.
“Sendirian aja, dek? Mana pacarnya?” tanya perawat cantik itu, dengan sigap dia mempersiapkan alat-alatnya. Aku hanya tersenyum. Pacar? Ah, aku ingat pada Dee …
“Gimana kuliahnya?” tanya Miss Dinda, dokter muda yang menangani ku sejak pertamakali melakukan Hemodialisis. Aku lebih senang memanggilnya Miss. Usianya sekitar 25 tahun.
“Lancar Miss … Kemarin baru selesai UAS Penulisan Berita” jawabku sumringah, dengan hati-hati Miss Dinda memasukkan jarum yang diikuti selang untuk mengalirkan darah di tubuhku ke Dializer .
“Hasilnya? Baguskan?” tanyanya lagi.
“Belum tahu, Miss … tapi aku optimis …” jawabku mantap.
“Nah, seharusnya semua mahasiswa itu seperti kamu Ree .. Ga gampang nyerah, lagi sakit juga tetep ambisi pengen IP 4” ucap Miss Dinda sambil tersenyum penuh makna.
Aku hanya tersenyum mendengar gurauannya. Dokter muda nan cantik ini memang memesona. Dan aku nyaman berada di dekatnya.
Hemodialisis berlangsung selama tiga jam. Dan itu membuatku sangat bosan, sebenarnya. Rasanya sudah tidak sakit lagi, tidak … sakit sebenarnya tapi tubuhku sudah mulai terbiasa. Jadi, tidak masalah. Aku membuat beberapa catatan kecil tentang Dee …
Aku jatuh cinta, Dee ..
Entah cinta seperti apa yang hadir di pelupuk mataku
Definisi itu begitu teoritis dan empiris jika dijabarkan
Maka aku tak dapat ungkapkan seperti apa
Aku jatuh cinta, Dee …
Rasa itu menyelinap dan mencari celah untuk dapat bernafas
Bukan, tetapi mencari kehidupan ditempat yang telah tandus
Perlahan namun semakin menjalar
Jatuh cinta memang indah. Tapi aku merasa tertatih ketika mencintaimu, Dee. Mungkin karena rasa ini hanya aku yang miliki, bukan kita. Minggu ini terakhir kita bertemu, sebelum UAS resmi dari fakultas minggu depan. Aah, Dee aku tidak yakin akan bertahan sampai liburan semester depan. Aku masih berharap dapat melihat senyum menawan milikmu di semester depan.
***
Hari ini Dee sangat rapi dan tetap menawan. Kemeja coklat dengan jeans biru, sepatu kets coklat dan tas punggung hitamnya membuat dia tampak makin cool. “Dee, selamat pagi …” sapaan itu hanya mampu berbisik dalam hati. Dia duduk di ujung barisan kedua dekat jendela, itu tempat favoritnya. Aku lebih sering melihatnya memilih kursi disana. Tapi duduk disana memang menyenangkan. Aku pernah mencobanya. Penarasan karena dia selalu duduk di tempat itu. Kursi itu memang strategis, saat bosan dengan ceramah-ceramah dosen, kamu bisa berpaling ke luar dan melihat langit biru serta taman kecil samping kelas yang jarang dilalui orang. Dee, makhluk seperti apa dirimu?
“Basket ikut ya Ree ..” ucap Syila sambil menepuk bahuku. Aku tersenyum ke arahnya.
“Siaap !!” berusaha agar nada suaraku terkesan meyakinkan. Hei, apa aku kuat? Aah, pasti bisa.
“Ayoo, sini dulu … Briefing sama coach” ajak Syila. Dan para pemain basket wanita yang hanya berjumlah 10 orang ini segera mengerubuninya. Dee. Dee didampingi Ares menyusun strategi. Kami akan bertanding dengan anak-anak Public Relations. Pertandingan persahabatan memang, tapi kami tetap ingin menang.
Aku ikut mengerubuni Dee. Dee salah satu pemain terbaik jurusan kami di cabang basketball. Tidak heran lagi jurusan kami selalu memboyong piala setinggi 1 meter, tahun ini pun demikian.
Tiba-tiba aku tersadar. Oh Tuhan, aku ada di dekat Dee … sangat dekat! Aku menatap wajahnya di jarak sedekat ini. Dia sibuk berceloteh kepada yang lain. Aku lebih fokus menatapnya, bukan memperhatikan strateginya.
“Ree, kamu jadi pertahanan disini ya …” ucap Dee, menatap ke arahku kemudian menunjuk ke gambar yang dibuatnya. Pandangan kita beradu ! Ohh, Tuhan …
“Ahh, iya Dee ..” ujarku dan aku segera mengalihkan pandangan. Tidak ingin dia tahu aku menatapnya sejak tadi.
“Sukses ya semuanya !” ucap Dee sambil beralu setelah menyampaikan arahannya.
“Jangan kupa dateng ya Dee…” pinta Syila, merajuk.
Dee hanya mengangguk dan pergi. Dee, sampai jumpa di lapangan … ucapku yang hanya sampai ditenggorokan saja.
“Eh, Ree …” Dee tiba-tiba memanggilku ! Oh, Tuhan … Aku menoleh ke arahnya. “Nanti sms aku ya jadwal UAS yang lainnya”
Aku menatapnya datar “I-i-ya …” speechless ! Aku hanya menjawab sekenanya.
“Makasih ya. Aku duluan Ree …” Dia pamit dan berlalu begitu saja.
Aku tersenyum geli. Ini pertama kalinya Dee memintaku seperti itu. Dan ini pertama kalinya aku berbincang dengannya diluar tugas kuliah. Dee …
“Speechless ni yee …” goda Nadia yang ternyata memperhatikanku sejak tadi.
“Keliatan ya?” tanyaku cengengesan.
“Bego ..” katanya sambil menimpuk kepalaku. Kami cengengesan. Hari ini benar-benar indah.
***
Pertandingan dimulai. Dee tidak juga muncul di lapangan. Kemana dia? Aku bermain seperti yang Dee katakan ketika breifing. Tapi aku sama sekali tidak bersemangat.
“Ree, jaga nomor 4” teriak Fany. Aku sekuat tenaga berlari untuk menghalangi si nomor 4 ini, berusaha merebut bolanya. Aku berhasil merebut bola membawanya ke wilayah lawan. Tapi … tiba-tiba pandanganku kabur. Semua yang ada dihadapanku terasa berputar. Aku ambruk.
“Ree …!!” teriakan mereka membawaku dalam dunia yang lebih gelap.
***
Karbol. Obat. Sayur bening tanpa rasa. Bau yang tidak asing lagi. Jarum infus terpasang ditangan kananku. Selang oksigen masih berbelit diantara hidung dan mulut bagian atas. Aku tidak mengira lima menit berada di lapangan itu bisa demikian parahnya. Padahal aku merasa sehat. Aku tidak ingat lagi setelah kegelapan menyelimutiku waktu itu. Aku benci hal ini, mengapa harus ada penyakit kutukan ini? Semuanya terasa amat terbatas.
Mungkin saja petahanan tubuh ini makin melemah. Ini sudah bulan ke enam. Sejak awal semester melakukan Hemodialisis. Tanganku tidak lagi semulus gadis lain, setiap tempat penuh dengan bekas tusukan jarum. Aku hanya tersenyum, lagi pula waktuku tidak akan cukup untuk mencapai kehidupan indah bernama pernikahan. Bahkan rasa yang mengendap itu masih saja merengek meminta jawab. Tapi aku terlalu takut. Takut bila Dee tidak akan pernah membalasnya. Jadi, akan lebih baik jika rasa itu tenggelam lebih dalam lagi. Agar perlahan menghilang di kegelapan.
***
Hari ini UAS terakhir sebelum libur panjang. UAS Filsafat. Aku mempersiapkan dengan matang karena tidak begitu paham dengan mata kuliah yang satu ini. Ujian lisan lagi. Aku sampai di tempat ujian. Dee sudah disana bersama beberapa teman sekelas. Dia duduk di anak tangga ke empat dari bawah menuju lantai 4. Aku melihatnya sekilas, dia sedang membaca catatannya.
Hei, Dee … sudah menghapal? Kamu siap? Aku berlalu, mencari tempat yang lebih sunyi untuk me-review hapalanku.
Ujian dimulai. Enam orang pertama masuk. Sepuluh menit kemudian satu persatu mereka keluar. Aku segera masuk karena ingin ujian cepat berakhir. Ruangan itu mendadak seperti tempat eksekusi narapidana hukuman mati. Kami duduk sembarang, ada enam orang dalam ruangan dengan empat kursi yang saling berhadapan.
Aku melihat Dee masuk ruangan setelah salah seorang di ruangan ini selesai. Dee duduk disampingku ! Bukan, maksudku satu kursi dari sampingku. Jadi ada kursi kosong diantara kami. Sekarang giliranku untuk menjawab soal-soal dari dosen. Aku menjawab sebisaku. Dan cukup.
“Silahkan keluar …” kata dosen setelah menandatangani kartu ujianku. Aah, padahal aku ingin lihat Dee … Ingin memberinya support.
Semoga berhasil, Dee … Aku melihat ke arahnya. Dan sosoknya menghilang dari pandanganku begitu aku keluar dari ruangan itu.
***
Aku berjalan di sekitar koridor. Memandang taman yang nampak indah. Transpalasi ginjal tidak berjalan baik. Ya, aku akan segera mati. Ginjal yang sudah digantikan ini tidak mau berfungsi. Aku akan segera meninggalkan keindahan dunia. Cepat atau lambat.
Pandanganku teralihkan. Ada sosok yang ku kenal diatas kursi roda yang di dampingi suster itu. Dia duduk diatas kursi roda dengan mata tertutup perban. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Aku segera mendekat ke tempatnya.
“Dee?” tanyaku, kemudian dia mengarahkan kepalanya ke sumber suara.
“Oh, kamu temannya?” tanya suster itu. Aku mengangguk. “Baiklah, tolong temani dia jalan-jalan ya .. Saya masih harus mendatangi pasien lain, tidak apa-apakan?”
“Ya, suster … jangan sungkan ..” jawabku. Dan suster itu beranjak meninggalkan kami yang masih terdiam.
“Maaf, siapa ya?” tanya Dee setelah suster itu pergi. Aku mendorong kursi rodanya perlahan. Membawanya ke dekat jendela.
“Pemain Basketball yang pingsan saat lima menit pertamanya …” jawabku singkat.
“Aah, Ree?” tanyanya lagi. “Kenapa ada disini?”
“Entahlah, hehe … Aku sedang demam, jadi datang kesini ..” Aku berbohong pada Dee.
“Memangnya di Bandung tidak ada rumah sakit ya?”tanya Dee tertawa renyah. Sikapnya lebih bersahabat.
“Memangnya di Depok tidak ada rumah sakit?” aku balik bertanya, membalas tawanya.
“Bodoh … Depok lebih dekat ke Jakarta” jawabnya singkat, lengkungan manis itu menghiasi wajahnya yang pucat.
Sungguh, ditengah keputusasaan ini dia datang sebagai oase kehidupan. Tuhan, terimakasih masih memberiku kesempatan untuk melihatnya.
***
Liburan di rumah sakit tidak begitu buruk. Apalagi ada Dee disini. Ketika berjalan menuju kamar Dee, aku melihat dr. Joe keluar dari kamar yang sama. Tanpa basa-basi aku langsung bertanya padanya.
“Dokter, bisakah beri tahu aku tentang kondisi Dee?” tanyaku ketika berpapasan dengan dr. Joe di koridor menuju ruangan Dee.
“Kamu?” dr. Joe mengerutkan keningnya menatapku heran.
“Saya Ree temannya Dee, pasien dr. Dinda. ” jawabku singkat.
“Oh, baiklah … kita bicara di ruangan saya saja” ajaknya, aku mengekor dibelakang dr. Joe.
Sampai di ruangannya, dr. Joe langsung menjelaskan kondisi Dee saat ini.
“Setahun yang lalu Dee pernah kecelakaan yang menyebabkan matanya rusak dan sempat mengalami kebutaan selama beberapa bulan, namun bisa pulih kembali walaupun tidak seperti keadaan semula. Dan seminggu yang lalu matanya terkena hantaman keras dari bola sepak. Saya ragu dia akan bisa melihat kembali.”
“Apakah artinya … dia akan buta permanen?” tanyaku ragu-ragu.
“Itu kemungkinan terburuknya. Tapi saya belum berani mengatakan itu pada Dee. Kondisi psikologis sangat buruk.”
“Tidak adakah donor mata baginya?”
“Saya sedang berusaha mencari pendonor bagi matanya. Sulit sekali menemukan pendonor mata terutama di Indonesia”
“Bisakah dokter melakukan tes pada mataku?” pintaku tanpa ragu. dr. Joe mengangguk tanpa bertanya apapun lagi.
***
Sebelum masuk ruang Hemodialisis, aku berkunjung ke ruangan Dee. Sekedar menyapa dan menghiburnya. Aku rasa dia kesepian tanpa teman di tempat berbau karbol ini. Ya, sama sepertiku. Tanpa ayah dan ibu. Ayah lebih banyak menghabiskan waktunya untuk kerja terutama sejak Ibu meninggal. Katanya rumah selalu mengingatkan pada Ibu. Aku paham dan tidak lagi memintanya untuk pulang. Bahkan ketika keadaanku sedang sekarat, aku tidak pernah mengatakan hal ini pada Ayah. Entahlah, aku menghela nafas sebelum masuk ke ruangannya. Aku masuk tanpa mengetuk.
“Selamat pagi, Dee …” sapaku, ruangan Dee sama seperti ruanganku. Tidak ada yang menunggu disana.
“Ree? Kamu masih disini?” tanyanya heran.
“Iya, hehe. Aku masih harus menginap disini Dee …”
“Kamu sakit apa?” tanyanya antusias.
“Demam Dee … entahlah aku tidak begitu tahu tentang hal-hal medis …” jawabku sambil mengambil kursi dan duduk di samping bangasalnya.
“Semoga cepat sembuh ya … ” ucapnya sambil tersenyum, perban di matanya masih belum dilepas. Ini bagus, dia tidak akan melihatku dalam keadaan yang mengenaskan.
“Kamu sendiri, kenapa terdampar disini?” tanyaku iseng.
“Aku … mataku kena hantaman bola, Ree … Konyol kan?” jawabnya sambil menyeringai.
“Oh, Kok bisa ya … Ga elit banget sih Dee… Haha”
“Begitulah …” Dee hanya tersenyum kemudian terdiam cukup lama setelah itu dia berkata pelan “Aku takut Ree … Takut jika aku tidak dapat menikmati keindahan dunia ini melalui mataku lagi”
Aku tahu kekhawatiran itu Dee, aku tahu ketakutan yang sedang menyelimutimu. Aku yang akan menghilangkan ketakutanmu. Aku janji, Dee …
Aku hanya menepuk bahunya “Tenang saja Dee …” bisikku dalam hati.
***
“Miss, aku akan segera mati kan?” tanyaku di ruangan Hemodialisis. Miss Dinda tidak seperti biasanya. Dia nampak panik.
“Kamu harus tetap optimis” jawab Miss Dinda tanpa menatap wajahku. Sikap Miss Dinda tidak biasa.
Aku menarik lengan Miss Dinda. “Jelaskan padaku yang sebenarnya”
Miss Dinda menghela nafas panjang “Baiklah, Ree … Sebenarnya tubuhmu sudah menolak proses Hemodialisis ini. Keadaanmu akan semakin memburuk.” jawab Miss Dinda, matanya agak berembun.
“Berapa lama lagi aku bisa bertahan?” aku tahu, Izrail pasti sedang mengintaiku sekarang.
“Tidak lama lagi, Ree …” jawab Miss Dinda sambil memelukku yang terbaring di bangsal. Mataku ikut berembun, tiba-tiba dadaku menjadi sesak. Tapi aku tetap tersenyum. Tidak ingin membuat Miss Dinda lebih sedih.
“Aku punya permintaan terakhir, Miss …” ucapku sambil menatapnya. Miss Dinda mengusap pipinya kemudian mendengarkanku dengan seksama.
***
“Terimakasih, Suster …” ucapku setelah dia mengantarku ke kamar Dee. Tenagaku tidak cukup kuat untuk mendorong kursi roda ini. Suster itu tersenyum kemudian pamit meninggalkanku di depan bangsal Dee.
“Selamat pagi, Dee …” sapaku berusaha agar suaraku terdengar ceria. Dee sedang mendengarkan musik di Ipod-nya.
“Ree?” tanyanya seperti tidak yakin.
“Iya, ini aku ..” jawabku agak lemas.
“Kamu tidak seperti biasanya. Masih sakit?”
“Iya … Tapi sebentar lagi juga pulang” jawabku singkat. Mataku mulai memanas. Keadaanku makin memburuk, Dee … batinku.
Dee tersenyum kemudian menyerahkan sebelah earphone-nya kepadaku “Coba dengarkan lagu ini …”
Aku menancapkan earphone itu dan potongan lagu mulai terdengar I wish upon tonight … To see you smile … If only for awhile to know you’re there … A breath away not far … To where you are .
“Wow …” aku agak terkejut kemudian tersenyum manis sambil terus mendengarkan.
“Kenapa?” tanya Dee, padahal suaraku pelan.
“Aku juga suka lagu ini” jawabku dan terus menikmati lagu ini.
Aku menghela nafas kemudian memandang Dee. Hei, Dee .. sekalipun aku dalam kesunyian, aku masih bisa mendengar suaramu. Karena ingin melihatmu setiap hari maka aku bertahan dan terus berjuang. Menikmati tiap detik seperti saat ini sungguh menyenangkan bagiku. Ku rasa, jika Tuhan memintaku kembali pada-Nya maka aku akan pulang dengan tersenyum. Setidaknya aku tidak akan gentayangan seperti arwah-arwah yang mati penasaran. Aku akan pergi dengan tenang jika kamu dalam keadaan baik, Dee.
***
Suster membantuku naik ke bangsal. Dengan susah payah dan tenaga yang ku punya, aku mengangkat tubuhku yang makin kurus dan kering. Sesungguhnya, keadaan seperti ini sangat menyiksa. Tapi aku masih ingin bertahan. Masih ingin melihat senyummu, Dee.
“Bagaimana harimu? Menyenangkan?” Miss Dinda mengembalikanku ke alam sadar.
“Menyenangkan” jawabku singkat sambil tersenyum ke arah Miss Dinda. “Bagaimana?”
“Hasilnya cocok, kamu tidak perlu cemas” jawabnya sambil menggenggam erat tanganku. Karena beberapa hari ini aku tidak bisa bertemu dr. Joe maka Miss Dinda membantuku dengan menemui dr. Joe secara langsung.
“Bisakah kau memelukku, Miss?” aku merasakan kehangatan seorang ibu dalam diri Miss Dinda. Miss Dinda langsung memelukku, dia menangis sesegukkan. “Terimakasih, Miss… Terimakasih” bisikku membuat tangisnya makin menjadi.
***
Dua bulan kemudian …
“Terimakasih, Dokter …” ucap Dee sebelum meninggalkan rumah sakit. Hampir empat bulan dia berada di rumah sakit ini.
“Berterimakasihlah pada Dokter Dinda, dia yang menemukan pendonor untukmu” jawab dr. Joe.
Dee bingung dibuatnya. “Siapa dr. Dinda?”
“Dia adalah dokter penyakit dalam, dia yang lebih tahu tentang pendonor itu” dr. Joe menjawab dengan bijak, walaupun sebenarnya dia tahu tentang pendonor mata Dee.
Dee merasa dia harus tahu tentang pendonor matanya. Walaupun Dee tidak yakin pendonor matanya masih bernafas seperti dirinya. Dee bergegas menemui dr. Dinda, dia ingin tahu tentang pendonor matanya. dr. Dinda ada di ruangannya. Seolah mengerti tanpa banyak bertanya, dr. Dinda menyerahkan secarik kertas dan sebuah buku diary berwarna biru pada Dee.
Jantungnya berdebar kencang, tangannya gemetar. Kertas putih itu dia buka perlahan. Lipatan demi lipatan dia buka. Matanya terpaku pada paragraf pertama dari surat itu …
Hei, Dee … Apa kabar? Senang bisa menyapamu seperti ini. Cinta memang gila ya, atau mungkin aku yang sudah gila? Entahlah bagiku tidak penting. Yang terpenting kamu bisa kembali hidup dan menikmati kehidupan.
Aku bahagia bisa memberikan kehidupan bagi orang yang masih memiliki banyak waktu. Aura kehidupanku makin meredup dari hari ke hari. Aku tahu, karena ada segerombolan orang berbaju putih melambai-lambai ke arahku bahkan mengulurkan tangannya padaku. Waktu hidupku tidak banyak lagi. Terimaksih, Dee … telah hadir di kehidupanku yang singkat. Aku pikir aku akan mati dalam kesunyian dan kegelapan. Tapi berkat kamu, akhir hidupku menjadi indah.
Maaf, Dee … menjadi pendonor matamu secara diam-diam. Bahkan ketika sekarat pun aku ingin memberikan kehidupan bagimu. Hiduplah dengan bahagia, agar aku tidak menyesal mendonorkan mata ini untuk kehidupanmu … Dee, I love you …
Salam,
Ree
Ada rasa sesak dan penyesalan dalam hatinya. Dia terlambat menyadari tentang perasaannya pada Ree. Dee memejamkan matanya yang mulai berair dan menarik nafas dalam-dalam. Sayup-sayup Dee mendengar lantunan lagu milik Josh Groban … That you are mine. Forever love. And you are watching over me from up above ..
Penulis adalah mahasiswa UIN Sunan Gunung Jati, Bandung
gambar diunduh dari lil4ngel5ing_files_wordpress_com1# Manahku Menggema
Dalam riak air danau itu
Dalam harum mekar merah di taman
Dalam hatiku merasa
Dalam sukma kosong yang hampa
Kala meraung menjerit
Tapi kini kau
Memenuhi ether yang ada
Akasa dalam diri
Citta manahku menjejakimu
Menggaung dan menggema
Memukau
Indriaku tersenyum
Mengikat aku untukmu
2# Isakku Menggelut Malam
Daun-daun berguguran
Menemaniku dalam malam-malam yang berlapis
Suara jangkrik mengitariku
Kabut malam selalu menyelimuti bhatinku
Aku seorang diri
Menggigil di balik daun pintu yang melambai-lambai
Ternyata deru hatiku terhanyut
Tanpa menyesatkan diri dipikiranmu
3# Membusuk di Pantai Candidasa
Belaian udaramu, merapikan barisan rambutku yang pirang
Desir ombakmu serasa menghapus luka sukmaku
Mencium bibirmu serasa kau menarik pengkhianatan itu
Bercumbu dalam keindahanmu
Pantai Candidasa..
Ku tulis perih hatiku dalam lembaranmu
Sakit yang menusuk-nusukku
Dengan mematahkan sayap-sayapku
Dan ranting-ranting tubuhku
Aku menjelaskan padamu
Tapi segera kau menghapus lukaku dengan kesucianmu nan jernih
Melenyapkan duka
Pantai Candidasa
Mendesir desir
Getaran tanganmu mengusap tangisanku
Keperihan dan luka bhatinku
Dapatkah aku berjalan?
Di mana jalan terang yang harus ku pijaki?
RetakanKata – Asal usul tradisi batik di wilayah Yogyakarta dimulai sejak kerajaan Mataram Islam pada paruh keempat abad 16 yang pusatnya terletak di seputaran kawasan Kotagede dan Plered namun masih terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita abdi dalem. Pada perkembangannya, tradisi batik meluas ke kalangan kraton lainnya, yakni istri para abdi dalem dan prajurit. Ketika rakyat mengetahui keberadaan kain bercorak indah tersebut, lambat laun mereka menirunya dan tradisi batik pun mulai tersebar di masyarakat.
Proses pembuatan batik yang cukup lama dan memerlukan modal yang tidak sedikit membuat tidak banyak orang yang sanggup menekuni usaha ini. Kebanyakan warga di Yogyakarta memilih sekedar menjadi buruh pembatik. Mereka mengambil kain dari perusahaan batik (juragan batik) dan mengerjakan proses pembatikan di rumah masing-masing. Proses yang mereka kerjakan hanya menyerat (membatik pola dengan malam). Setelah itu mereka jual kain itu ke pengusaha batik dengan harga tergantung kerumitan motif yang dibatik. Pengusaha batik itu yang nantinya akan melanjutkan proses berikutnya, yakni pencelupan hingga menjadi kain batik yang siap pakai. Biaya celup satu lembar kain rata-rata Rp100.000 dan hingga saat ini banyak pengusaha batik yang belum bisa melakukannya sendiri. Mereka harus membawa ke tempat pencelupan batik, sehingga wajar jika harga selembar kain batik rata-rata mencapai ratusan ribu rupiah.
Proses Membatik
Ngecap: Menorehkan lilin cair panas pada selembar kain dengan menggunakan alat stempel yang terbuat dari tembaga yang dicebut cap. Stempel biasanya berpola geometris yang menjadikan pola berulang. Ngerok (mengerok): menghilangkan lilin dari beberapa bagian kain dengan cara dikerik. Nglorot (meluruh): menghilangkan lilin dari kain dengan cara memasukkannya ke dalam air mendidih.
Masa kejayaan batik terjadi pada kurun waktu tahun 1970-an sampai tahun 1990-an ketika mesin printing menggeser keberadaan pembatik tradisional dengan segala kelebihannya sehingga banyak pengusaha batik mengalami kesulitan dalam mempertahankan kelangsungan usahanya. Disisi lain para pengusaha batik berusaha untuk mempertahankan keaslian batik sebagai warisan budaya yang telah dijalani secara turun menurun.
Seiring perkembangan jaman dan perubahan pola hidup masyarakat dalam penggunaan kain tradisional ke kain modern ikut menyebabkan kain batik kurang diminati oleh konsumen khususnya kaum muda. Banyak yang menganggap bahwa kain batik merupakan pakaian bagi kalangan orang dewasa dan dipergunakan pada saat-saat tertentu.
Usaha yang telah dilakukan oleh Pengusaha Batik Plentong untuk mempertahankan eksistensi dalam bisnis batik antara lain dengan mengembangkan produk dari kain yang hanya bisa dipakai untuk jarit dan kemeja menjadi kain yang bisa dibuat untuk jenis pakaian lainnya, membuka show room, mengikuti pameran, baik yang diselenggarakan di dalam maupun luar negeri dan bekerja sama dengan travel biro untuk menarik wisatawan domestik maupun manca negara. Diharapkan dari usaha-usaha ini dapat mempertahankan dan meningkatkan produksi batik.
Pada era tahun 1990-an guna meningkatkan produktifitas, pengusaha batik plentong pernah mendapatkan kesempatan untuk menjalin kerjasama dengan pihak luar menggunakan teklnologi modern (mesin printing). Namun kesempatan ini tidak di terima oleh pihak pengusaha batik plentong karena masih ingin mempertahankan keaslian ciri batik yang sesungguhnya, sehingga proses pembuatan kain batik tetap dilakukan secara tradisional. Dalam usaha mempertahankan produktifitas dan memenuhi permintaan serta mempertahankan keaslian ciri dan corak batik, perusahaan batik plentong mendistribusikan pekerjaan proses awal pembuatan batik kepada ibu-ibu rumah tangga, yang biasanya dianggap sebagai pekerjaan sambilan.
Perusahaan batik di Yogyakarta pada saat ini tidak mengalami perkembangan, hal tersebut didasarkan pada informasi yang kami peroleh dari perusahaan batik plentong. Tidak berkembangnya perusahaan batik tersebut di sebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:
Keterikatan dan keinginan pengusaha batik untuk tetap mempertahankan keaslian ciri dan corak khas batik yang merupakan warisan budaya.
Tidak dapat diterimanya penggunaan teknologi modern dalam proses pembuatan batik.
Proses pembuatan batik yang cukup lama yang berakibat pada biaya pembuatan batik yang tinggi, sehingga harga jual menjadi tinggi.
Pakaian batik hanya dapat digunakan pada kalangan tertentu dan saat-saat tertentu.
Kegiatan pemasaran batik khususnya batik plentong hanya pada pangsa pasar lokal (hanya di yogyakarta).
Kegiatan pemasaran yang berhubungan dengan luar negeri hanya bila ada pesanan dan menjalin kerjasama dengan travel biro yang mendatangkan wisatawan.
Saartjie Baartman lahir pada tahun 1789 di tepi sungai Gamtoos
Pada jaman kekuasaan laut sedang pasang naik, awalnya dijadikan
budak di pertenakan orang Belanda, kemudian karena bentuk alat kelamin,
lalu dibawa ke sirkus di Paris dan dilatih oleh pelatih binatang
bersama hewan-hewan lain. Setelah meninggal, tulang-belulang
dan sebagian organ direndam formalin dan dipamerkan sebagai makhluk
aneh oleh peradaban Barat lebih dari seratus tahun, hingga 2002
arwahnya baru dikembalikan ke kampung halaman. Pemimpin suku Khoisan
meletakkan di atas kerandanya sebuah busur, dan sebatang anak panah
patah, dan renungan ‘ perdamaian ‘ dan ‘ hak asasi manusia ‘ masih terus
berlanjut……
Bersama roh. Akhirnya kau kembali ke dalam nyanyian
bahasa ibu di tepi sungai Gamtoos, dengar
sepuluh ribu tebing terjal mengitari lembah sungai
dengung pemburu menguak hutan di kaki gunung
inilah maklumat puakmu peroleh dari dalam nafas,
nyanyian suci pada cahaya. Milik Afrika, milik macan tutul
Macan tutul juga mewakili satu nyanyian pulang
di sisi lain padang rumput, sebab berpisah maka luas
Sebab cinta, kemarin dan hari ini baru bermakna
Bibir dan bibir baru dapat mengucap nama bersuhu hangat
menyanyikan lagu tua tapi iramanya berjalan seiring kita.
Kau lihat, pohon ek tua dari masa kanak-kanak
baru selesai membangun sebuah sarang
Apakah bulat telur wajahmu sudah menemukan tempat
berehat di sana. Aku melihat, sinar matahari mengeram
keluar sayap lebih besar dari cahaya, lembut
berpijar, bukan lagi patung gipsum hitam
bukan lagi malam tak bertepi sebagai material
waktu mengumpal jadi Venus Hitam
Oleh sebab itu, mata dikembalikan kepadamu
agar kau melihat tanah air sendiri
Andaikan pohon ek harus diproses jadi gabus
juga dapat mengikuti berbagai anggur dan bau tubuh
bukan menyumbat jiwamu, telingamu.
Oleh sebab itu, telinga dikembalikan kepadamu
agar kau mendengar nyanyian tua
puakmu akan menginjak keluar irama
menginjak keluar bayang dan warna kulit sendiri
warna kulit dikembalikan kepadamu
agar kau sungguh menikmati cinta, bebas dan setara
Rasa dan jiwa, seluruhnya dikembalikan kepadamu
Akhirnya pulang, sudah seratus tahun lebih
setiap ruas tulang setiap malam mengetuk rasi bintang
sekalipun tidak bisa memecahkan kaca dingin Museum Nasional
Perancis, setidaknya diketuk jadi sederet peta laut HAM
dan kerangka tulangmu sebagai kompas, sebagai titik koordinat
di jaman kekuasaan laut sedang pasang
di jaman ikan terbang dan burung laut juga bisa menyalahkan penyair
Romantisme adalah ombak menggulung di angkasa
dan kampungmu, di angkasa seperti ada seekor macan tutul
sangat tenang, berbaring melihat keyakinan disalin ulang awan hitam
dan organmu, bersembunyi di dalam formalin yang lebih kelam dari hutan
Dari selembar kertas kebohongan
memulai perjalanan pergi, dan semua kebohongan telah dijual-beli
adalah sebuah kisah yang sudah ditenggelamkan jangkar
bagasi hanya berisi sakit, satu-satunya teman adalah tangan menggenggam
tajam bulan sabit. Sangat pasti, Dia menggunakan bahasa paling lurus
agar kau mendengar maut, bahkan sebagai teman karib satu perahu
Tapi itu bukan kebenaran.
Akhirnya kau pulang, bersama puakmu berterima kasih kepada hewan
mempersembahkan tubuh mereka sebagai makanan,
dua tangan menyentuh dada lalu istirahat,
tidak perlu tegak menjadi dinding lembah
tiada formalin yang mesti bertanggung jawab
kepada politik, akhirnya kau juga bisa membuka tabir seluruh malam
bagai lengkung tali busur
pada bintang sirius melintas di atas padang rumput
memburu seekor mimpi kehilangan tanduk
Terhadap masa lalu, dunia seolah-olah tidak bisa melihat atau mendengar
tulang belulang waktu, hanya mungkin di tengah jalan cerita memilih lupa
Lupa terhadap hewan istimewa yang dijinakkan di sirkus tahun itu
Sudah lebih dari seratus tahun, ada orang menerka
dia adalah herbivora. Aku berkata bukan
Kalau tidak, peradaban bagaimana bisa begini melukai orang
Olokan dan sindiran mereka waktu itu berasal dari dagingmu
Penjelajah tidak tahu, belahan selatan dan belahan utara memiliki tangkai
yang sama, menunggu hadirnya milenium yang sama
Atau menunggu fajar menyingsing yang sama?
Waktu memanjangkan lehernya, jatuh ke bumi adalah batok kepala
adalah cinta, dan juga sering dimaafkan
seperti perdamaian yang sering kita kulum di mulut
Tidak boleh disangkal simbol luka sepanjang hayatmu terlalu berat
Saatrjie Baartman, sekali lagi menyebut namamu
seluruh suku kata telah menggilukan gigi berlobang
pasti bukan karena manis, mungkin selepas membaca doa lupa berkumur
Benar. Kita masih belum kembali ke dalam cahaya
sebuah busur, sebatang anak panah patah
apakah dunia sejak ini akan gila kehidupan, gila perdamaian?
Ranting mencakar ke segala arah
ketika sinar matahari pertama pelan-pelan melebarkan
sayap, pelan-pelan bernafas di bawah pohon esok
Apakah kita juga menemukan arti bernafas?
Hari ini kabut menyelubung
hawa kelam seperti penunggang abad pertengahan
dari dalam hutan menghunus keluar sebumi daun gugur
dia bersiul bunga mawar, ke arah menanjak bersujud
agar aku mengajukan seorang gadis
suci dan akrab, lalu diberi nama Cahaya
parasnya persis seperti gadis yang suka bertanya di dalam kelas
juga bisa seperti seorang penari
di ujung kaki menemukan janji danau kepada angsa putih
atau, seperti selembar kertas warna berulang kali salah dilipat
atau lebih mirip sebuah akordion di tangan seniman jalanan
berubah jadi irama di dalam cahaya, mengitarinya
Gambar diunduh dari mw2.google.comPemberontakan An Lushan yang bertahan delapan tahun ( 755 – 763 ) telah menyapu habis seluruh kebesaran dan kemegahan Dinasti Tang. Sejak itu Dinasti Tang di mata penyairnya telah berubah menjadi selingkar matahari musim dingin di ufuk barat. Sekalipun kadang-kadang masih kelihatan berpijar kemerah-merahan, tetapi bagaimana pun sedang perlahan-lahan terbenam. Dan kelapangan dada, semangat bergelora, dan keyakinan mencengangkan yang diwakili oleh Li Bai dan Du Fu, telah layu dan gugur di dada penyair. Mungkin kadang-kadang masih berkedip sekejap di dalam satu dua puisi penyair masa itu, tetapi sudah tidak bisa bertahan lama lagi. Ini mungkin dapat disebut suatu penyakit zaman: Realita yang merosot telah meracuni jiwa penyair ——— realita yang terpampang jelas di depan mata, siapa pun tidak mampu berlagak tidak kelihatan.
Pemberontakan memang berhasil dipadamkan, tetapi kedaulatan dan kekuasaan Dinasti Tang telah jauh berbeda. Untuk memadamkan pemberontakan ini Klan Li sebagai penguasa Dinasti Tang telah melakukan berbagai kompromi politik dan meminta bantuan militer dari jenderal-jenderal asing yang berkuasa di perbatasan. Tentu bantuan militer begini bukan tanpa imbalan; ada yang dijanjikan untuk menjarah kota yang berhasil direbut, ada yang dijanjikan jabatan Gubernur Jenderal setelah berhasil menguasai daerah itu. Keputusan-keputusan begini yang kemudian membentuk provinsi-provinsi yang memiliki otonomi penuh yang biasa disebut Provinsi Militer atau dalam catatan sejarah Cina disebut 藩镇 ( baca: fanzhen ). Provinsi-provinsi ini sesungguhnya memiliki kedaulatan penuh atas teritorinya, mereka juga tidak menyerahkan pajak ke pemerintah pusat, yang mereka lakukan terhadap pemerintah pusat di Chang’an tidak lebih daripada lip service. Permbangkangan provinsi militer serta pertikaian politik istana antara gerombolan kasim yang mengitari Kaisar dengan pejabat-pejabat tinggi dan jenderal-jenderal yang masih setia kepada kerajaan menjadi pemicu utama runtuhnya Dinasti Tang.
Menyusul krisis politik tentu adalah krisis sosial. Setelah provinsi-provinsi militer menolak menyetor pajak ke kas negara, dan biaya besar yang mesti dikeluarkan untuk memerangi pemberontakan yang meletup di sana-sini, keuangan kerajaan pada dasarnya sudah bangkrut, dan keadaan ini telah menggoyahkan sendi-sendii perekonomian, ditambah lagi kota-kota besar seperti Chang’an dan Louyang sudah tinggal puing setelah berulang kali dijarah, baik oleh tentara pemberontak, tentara asing maupun tentara kerajaan, maka pengungsian terjadi di mana-mana, kehidupan rakyat merosot dratis.
Gelombang pengungsian terus mengalir ke daerah selatan Cina, terutama ke Zhexi ( Provinsi Zhejiang ), Suzhou ( Provinsi Jiangsu ), Guangdong, dan Fujian. Daerah-daerah ini cukup aman dan belum begitu tersentuh api perang, perekonomian dan kebudayaan juga cukup berkembang.
Pengungsian sejumlah besar intelektual dari Cina bagian utara telah mengairahkan kehidupan budaya di daerah selatan ini, terutama sastra. Pada masa inilah komunitas-komunitas sastra berkembang pesat di daerah ini. Sebagian besar komunitas begini dibentuk atau didirikan oleh biksu penyair ( biksu yang suka menulis puisi ) yang cukup terpandang ataupun pejabat penting setempat, dan mereka biasanya melakukan pertemuan, diskusi, pembahasan puisi di kuil ataupun tempat yang disediakan pejabat. Antologi puisi mereka juga berhasil melewati kekacauan jaman dan masih bisa kita nikmati hari ini. Salah satu bentuk puisi yang agak menonjol dari komunitas sastra masa ini adalah Puisi Berantai atau Puisi Kolaborasi yang dalam Sastra Cina Klasik disebut 联句 ( baca: lianju ). Sekalipun bentuk puisi ini tidak pernah mendapat tempat dalam Sastra Cina Klasik ——— bentuk ini sudah mulai digunakan sejak Dinasti Han ( 202 SM – 220 ), tetapi mungkin adalah bentuk awal yang dibawa ke Jepang dan kemudian berkembang menjadi Renga yang merupakan cikal bakal Haiku. Dalam catatan pendek ini saya tidak bermaksud dan juga tidak memiliki kapasitas untuk membahasnya, mengenai hubungan Lianju dan Renga yang ditulis di sini hanyalah sebuah bersitan pikiran, untuk membahas hubungan mereka saya rasa masih perlu pendalaman.
Sekarang seperti sudah saatnya menampilkan tokoh utama dalam catatan ini: Meng Jiao. Dia hidup di dalam waktu dan ruang seperti yang digambarkan dalam paragraf di atas, lahir pada tahun 751 di Huzhou ( sekarang Wukang, Provinsi Zhejiang ). Seluruh masa mudanya dihabiskan di daerah ini, dia mungkin pernah bergabung dengan salah satu komunitas sastra yang dibentuk oleh biksu di sana, tidak jelas, namun ada satu hal yang bisa dipastikan adalah dia pernah hidup sebagai pertapa sebelum meninggalkan kampung halamannya pada usia 30 tahun. Hanya itulah yang kita ketahui tentang masa mudanya, dan beberapa paragraf di atas memang khusus ditugaskan membawa dia ke hadapan pembaca yang terhormat.
Suatu malam di awal musim semi 792, Meng Jiao duduk sendiri di mulut jendela sebuah kamar penginapan di Chang’an. Dia sedang bersedih, pengembaraan selama sepuluh tahun untuk mengumpulkan keberanian dan biaya mengikuti Ujian Negara telah sia-sia, tadi pagi namanya tidak muncul di papan pengumuman lulus. Tanpa terasa malam telah berangsur-angsur mundur dan pagi musim semi yang menyongsong terasa luar biasa dingin dan kecut. Bulan yang tergantung di satu sudut langit seperti sekeping cermin bulat, pucat dan redup. Tunas-tunas daun di ranting pohon seluruhnya tertutup embun beku, tidak ada kepakan burung yang memberitakan pagi musim semi. Dia tahu dunia pagi ini masih bulat, hanya saja terlalu hening dan sunyi. Dan sunyi ini telah masuk dan mengiris-iris tulang sepinya.
Dia tentu tidak tahu ini bukan terakhir kali dia mencicipi kekalahan, tahun berikutnya 793, dia kembali gagal dalam Ujian Negara. Dunianya mungkin sudah lama tidak utuh, tetapi kali ini dentingan serpihannya terasa jauh lebih menyayat.
Meng Jiao mungkin termasuk salah satu penyair Tang yang paling menderita hidupnya, dia tidak pernah benar-benar berhasil melepaskan diri dari kemiskinan yang mengerogotinya sejak kecil, dan kemalangan-kemalangan yang menimpanya sepanjang hidupnya telah membuat puisi-puisinya memiliki ciri khas yang tidak dapat ditiru penyair lain: dingin, pahit dan eksentrik.
Tetapi kekalahan demi kekalahan dan kemalangan yang datang beruntun dalam hidupnya tidak membuatnya roboh, kekuatan penopang ini terutama datang dari orang-orang yang tidak kenal lelah mendukungnya; ibunya, isterinya, dan seorang teman karibnya: Han Yu. Dia dan Han Yu membentuk satu kelompok penyair yang kemudian menjadi salah satu kelompok yang paling menonjol dalam puisi Tang Tengah, biasanya disebut Perkumpulan Mbeling atau Eksentrik. Sekalipun Han Yu adalah tokoh sentral dalam kelompok ini, tetapi Meng Jiao merupakan penyair terpenting dalam kelompok ini, dan namanya juga disejajarkan dengan Han Yu, sehingga dalam Sastra Cina Klasik juga disebut Perkumpulan Han Meng.
Dia mengenal Han Yu mungkin sewaktu menempuh Ujian Negara di Chang’an, antara 791 sampai 792, persahabatan ini bertahan sepanjang hidupnya. Walaupun umur mereka terpaut jauh, Han Yu lebih muda 17 tahun dari Meng Jiao, tetapi mereka memiliki pandangan yang sangat dekat tentang puisi, mungkin ini yang menyebabkan mereka selalu dianggap mewakili suatu kelompok penyair eksentrik yang suka menggunakan kata-kata kuno dan menciptakan suasana surealis dalam puisi-puisi mereka. Namun sesungguhnya puisi penyair-penyair ini memiliki perbedaan yang sangat mendasar dengan Meng Jiao maupun Han Yu.
Atas dorongan dan dukungan Han Yu, Meng Jiao kembali mencoba Ujian Negara dan berhasil lulus pada tahun 796, waktu itu usianya sudah 45 tahun. Upaya selama bertahun-tahun akhirnya membawa hasil. Kegembiraan dan hati yang meluap-luap ini dia tuangkan dalam sebuah puisi; walaupun puisi itu kedengaran sedikit lupa diri, tetapi kegalauan yang terpendam selama bertahun-tahun ketika dilepaskan pasti agak sedikit bau, saya rasa masih wajar, lagipula puisinya jarang ada yang bersuasana riang:
Gelisah tempo hari gemeretak di sela gigi
tidak usah diungkit,
pagi ini lepas kendali pikiran mengapung
tak bertepi
Angin musim semi meniup hati angkuh
tapak kuda melesat pergi.
Satu hari mata menyapu seluruh bunga
Chang’an habis
登科后
昔日龌龊不足夸,今朝放荡思无涯。
春风得意马蹄疾,一日看尽长安花。
Keriangan yang meluap ini sebentar saja sudah berubah menjadi sebuah penantian pahit. Setelah menunggu empat tahun yang melelahkan, Meng Jiao yang sudah berumur setengah abad ini akhirnya diberi sebuah jabatan kecil di kota Liyang ( Provinsi Jiangsu ). Hanya beberapa bulan berkantor di sana dia sudah dilaporkan melalaikan tugas. Dilaporkan bahwa dia sering seorang diri naik keledai ke pinggiran kota, memandang gunung menatap sungai, saya rasa pasti juga menulis sajak.
Dulu saya tidak bisa mengerti mengapa sebuah kesempatan yang ditunggu dengan susah payah selama puluhan tahun bisa dibuang begitu saja. Untung akhirnya saya paham. Paham akan frustasi seorang lelaki berumur 50 tahun yang mungkin seumur hidupnya belum pernah menyentuh birokrasi pemerintah, tiba-tiba sudah berada di dalam sebuah sistem yang kusut masai. Apakah ini bukan suatu hal yang membosankan dan melelahkan? Dia mungkin gagap atau enggan belajar, tetapi jabatan yang diberikan kepadanya memang terlalu kecil, semacam pegawai rendah di kantor kecamatan. Jabatan Meng Jiao ini akhirnya tetap dipertahankan atas bantuan teman-temannya di pemerintah pusat, namun gajinya dipotong separuh untuk mengangkat seorang wakil yang akan membantu dia menyelesaikan tugas-tugasnya. Keuangannya yang baru sedikit membaik kembali terpuruk.
Keadaan ini tidak bertahan lama, dia akhirnya mengundurkan diri dan membawa keluarganya kembali ke kampung halamannya: Huzhou pada tahun 804. Kemudian pindah menetap di Changzhou ( Provinsi Jiangsu ), di sini dia membeli rumah dan sawah. Pada tahun 806 pindah lagi ke Chang’an dan setahun kemudian pindah ke Louyang. Walaupun berpindah-pindah, tetapi kehidupannya pada tahun-tahun ini termasuk tenang dan berkecukupan.
Tetapi kemalangan kembali menghampirinya. Dia kehilangan anak bungsunya pada tahun 808, waktu itu usianya sudah 58 tahun. Dari puisi-puisinya kita tahu dia kehilangan tiga anak lelaki, dua meninggal ketika masih bayi, dan satu lagi meninggal pada usia sepuluh tahun. Di ujung senja usia dia tiba-tiba mendapati dirinya sudah tidak memiliki keturunan, hal ini adalah pukulan terberat bagi Meng Jiao. Dia adalah seorang pengikut Kongfuzi, dan tidak memiliki keturunan adalah durhaka terbesar dalam Konghucuisme. Penderitaan batinnya tidak usah ditulis lagi.
Ibunya meninggal dunia di tahun berikutnya. Pukulan demi pukulan telah menghancurkan sedikit ketenangan yang tidak mudah dia peroleh di usia senja. Pada masa-masa inilah Meng Jiao menulis cukup banyak puisi-puisi sekuens yang panjang, dingin, dan pahit. Ini adalah cara dia mengobati dirinya. Penderitaan tahun-tahun terakhirnya di Louyang sangat sulit dibayangkan; tua, miskin, dan sunyi. Walaupun demikian, keinginan untuk berbuat sesuatu untuk negara ( dunia? ) masih belum padam.
Pada awal musim semi 814 dia menerima tawaran seorang kenalannya, Zheng Yuqing – 郑余庆 ( waktu itu memegang jabatan sekretaris jenderal biro eksekutif ) sebagai penasehat. Dia berangkat bersama isterinya, tetapi jatuh sakit di tengah perjalanan, dan meninggal beberapa waktu kemudian. Dia meninggal dalam keadaan miskin, tanpa anak, jauh dari rumah. Bab penutupnya ini terlalu menyedihkan. Pemakamannya diurus oleh Han Yu dan beberapa temannya yang merupakan penyair Tang Tengah terkenal, seperti Zhang Jie, Wang Jian, dan Jia Dao. Dia dikubur di sebelah timur luar kota Louyang.
Puisi-puisi Meng Jiao baru mulai dikumpulkan dan dibukunya pada awal Dinasti Song ( 960 -1279 ), sehingga jumlah puisi yang hilang mungkin tidak kalah dengan yang berhasil dikumpulkan. Kumpulan puisinya yang beredar hingga hari ini adalah sebuah buku berisi 511 puisi yang disusun oleh sejarawan Dinasti Song: Song Minqiu – 宋敏求 ( 1019 – 1079 ). Dari 511 puisi saya memilih 13 puisi untuk diterjemahkan.
Di catatan ini saya rasa tidak usah lagi membahas puisi-puisinya, terlalu pahit dan dingin, mungkin dilompati dengan satu dua kalimat saja, dan tulisan ini memang sudah terlalu panjang. Hidupnya yang malang tertuang seluruhnya di dalam puisi-puisinya, ini sangat mudah kita rasakan. Dia hampir tidak menggunakan alusi dalam puisi-puisinya, cara ini dianggap aneh bagi pembaca puisi Cina Klasik. Dia suka menggunakan kata-kata kuno, atau yang mati suri, atau yang jarang digunakan. Dia sengaja menciptakan irama janggal yang terasa menusuk bagi telinga-telinga tradisional. Dia suka menciptakan pemandangan artifisial atau fantasi dan menghadirkan indah dan buruk secara beriringan…
Cerita Nia Oktaviana
Editor Ragil Koentjorodjati Gambar diunduh dari bp.blogspot.comLangkahku terhalang oleh kabut tebal yang bergelantungan di udara, hujan mengguyur di tempat aku berdiri. Gemuruh petir bersambut pada sore hari yang kelam oleh langit yang bertumpuk kegelapan. Aku berdiri selama beberapa detik ternyata waktu tak segera tiba. Kemudian kusabarkan diri menunggu hingga beberapa menit namun juga tidak hadir yang kuharapkan. Hingga akhirnya aku bosan menunggu. Tak tahu kapan hujan akan setia menghentikan langkah kakiku yang pilu. Kupandangi air hujan yang menetes membasahi bumi ini. Banyak yang berkeluh akan kedatangannya.
Ketika aku mulai terlarut dalam dinginnya sore itu, kudapati diriku termenung dalam hujan.
Semakin lama aku terdiam semakin banyak pula orang beramaian merapat mendekatiku dan duduk di sampingku. Namun mereka semua sibuk dengan keluh kesahnya kepada hujan. Dan tak ada satu pun dari mereka yang menyapaku dan mencoba mengisi kekosongan hatiku yang membeku karena hujan dan segenap udara yang mendinginkan suasana waktu.
Aku duduk bersama deretan teman-teman yang tak cukup aku kenal namun di antara kami masih menggunakan atribut yang sama yaitu seragam sekolah. Untungnya hujan berbaik hati menahanku untuk pulang ke rumah di posisi saat aku masih berada di sekolah, jadi aku sedikit lega dan tidak merasa asing di tempat itu.
Sejenak aku berpikir, mengapa aku harus menangisi hujan yang sebenarnya adalah anugerah dari Tuhan? Mengapa aku tidak menyambut hujan dengan penuh cinta? Mengapa aku harus berpikir bahwa hujan telah mengganggu hidupku?
Semua pertanyaan itu terjawab ketika aku mencoba mengamati orang-orang di sekelilingku.
Sepasang kekasih saling berpegangan tangan dengan penuh cinta dalam dinginnya hujan. Mereka justru memberi kasih sayang yang lebih saat hujan tiba. Mereka lebih saling melindungi saat kemungkinan hujan akan membuat salah satu dari mereka sakit. “Tetaplah disini bersamaku karena hujan masih saja deras dan aku takut kau sakit karenanya,” itulah perkataan yang kudengar dari mulut si lelaki muda itu ketika mencoba menahan kekasihnya ingin bergegas pulang ke rumah.
Hujan telah membuat mereka menghabiskan waktu lebih lama dalam suasana penuh cinta.
Kualihkan pandangan ke sudut lain yang lebih menggugah hatiku. Kucermati, lelaki tua yang biasa disebut seorang ayah sedang menjemput salah satu dari temanku yang sedang terjebak di dalam sekolah karena hujan yang membuat dia takut melangkah lebih jauh dari posisi dia berpijak. Bapak tua itu mengenakan jaket tebal tanpa jas hujan, sedang menunggu putrinya berjalan menghimpit mencari celah agar tidak terkena hujan. Ketika putrinya datang, tampak raut bapak tua yang tadinya cemas sedikit pudar ketika melihat putrinya berjalan cepat menghampirinya. Tanpa banyak waktu terbuang, segera bapak tua itu mengenakan ponco ke tubuh putrinya dengan penuh kasih. Lagi-lagi hujan telah meluluhkan hati seorang ayah untuk berusaha melindungi putrinya dari hujan.
Tak lama kemudian, mereka menghilang dari pandanganku. Mobil sedan silver melaju pelan memasuki sekolah kami. Oh ternyata itu mobil temanku yang terkenal akan kekayaannya yang cukup mengagumkan itu. Maklum dia putra seorang konglomerat negeri ini. Kemudian mobil berhenti tepat di hadapanku. Seorang sopir yang gagah keluar dari mobil sambil memekarkan payungnya dan satu payung lagi tergenggam erat di tangannya . Dia sedang mencari anak dari majikannya yang sangat dia hormati. Sopir itu menghampiri temanku dengan penuh rasa hormat memberikan payung lalu menuntunnya masuk ke dalam mobil mewah itu. Sungguh, untuk kali ke tiga hujan telah membuat siapa pun bersikap lebih baik dan penuh kasih dari biasanya.
Tidak lama setelah itu, aku sedikit tergugah dari kesendirianku oleh canda tawa beberapa teman dan sahabat-sahabatnya. Mereka berlarian saling berkejaran dalam suka dan kegembiraan. Mereka tidak menghiraukan basah yang memusatkan banyak perhatian orang-orang terhadap mereka. Tawa manis mereka menari di atas genangan air hujan. Mereka pikir karena hari itu hari sabtu, jadi mereka tak peduli jika mereka harus basah kuyub. Hanya tawa yang aku dengar dari mulut mereka. Mereka mencoba mengajakku bergabung, namun aku menolak dengan senyuman. Hujan telah menghangatkan persahabatan mereka.
Kuhela nafas cukup panjang, senyum simpul membekas di bibirku lalu kupikirkan tentang apa yang kulihat dan kurasakan di sekelilingku. Aku melihat, merasakan, dan mendengar semua larut dalam cinta karena hujan. Sejak saat itulah semua fakta telah mengubah cara berpikirku tentang hujan yang banyak orang keluhkan namun sangat berarti banyak cinta jika kita mampu memahami hikmah di dalam hujan. Kupandangi jam tanganku, mengagetkan. Ternyata sudah jam 5 sore namun tak ada yang bisa kulakukan selain memandangi mereka yang menarik perhatianku. Lalu kulanjutkan menikmati hujan bersama kata-kata yang membisu di bibir namun berteriak dalam hati tentang keindahan hujan .
Sesaat setelah itu, kurasakan kehadiran sosok lelaki yang mungkin sedang aku rindukan. Jejak kakinya terdengar jelas di telingaku. Bau parfumnya, aku sangat hafal. Ternyata dia kekasihku. Seharian itu aku tidak melihatnya. Namun tiba-tiba kehadirannya mengagetkanku di sore itu. Sambil memberikan teh hangat kepadaku, dia berkata,” Maaf ya telah membuat harimu sedikit kosong. Aku baru saja menyelesaikan semua tugasku yang sempat aku tunda. Akan kubalas kekosongan harimu dengan menghabiskan waktu bersama hujan denganmu. Aku akan menunggumu sampai hujan reda lalu mengantarkanmu pulang. Tenanglah dan minumlah teh ini untuk menghangatkanmu”.
Yang kurasakan adalah rasa syukur yang tak ternilai ketikan dia mengucapkan beberapa patah kata untuk menghiburku. Dan cinta yang aku sebut-sebut dalam hujan saat itu telah menghampiriku lewat lelaki yang aku cintai dengan penuh cinta dan kasih bersedia bersamaku saat hujan walaupun hanya sebentar. Kehadirannya membawa warna-warni cinta saat hujan turun.
Kini aku sadar, melebihi manusia yang tersadar dari tidur panjangnya, bahwa aku bersyukur Tuhan dengan penuh kasih menurunkan hujan supaya manusia tidak merasa kekeringan. Air hujan yang menetes terus-menerus itu tanda bahwa kasih sayang Tuhan terhadap manusia tak pernah putus.
Kupandangi hujan, lalu kutemukan banyak cinta di dalamnya. Tidak hanya yang dialami orang lain, tapi hujan memang jelas tergambar bersama cinta . Hujan telah mengajarkan banyak hal padaku tentang warna-warni cinta.
TRADISI ADZAN PITU [ TRADISI ADZAN TUJUH ]: Kumandang Adzan Tujuh di MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA, Cirebon
Oleh Rere ‘Loreinetta
Biasanya adzan dilakukan oleh satu orang. Namun, apa yang bisa kita lihat di mesjid unik ini sangat berbeda. Mesjid ini adalah Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon.
Di masjid yang dibangun sekitar tahun 1480 ini, adzan justru dikumandangkan oleh tujuh orang sekaligus secara bersamaan.
Inilah tradisi adzan pitu di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon. Adzan dikumandangkan serentak oleh tujuh orang muadzin pilihan di masjid peninggalan Sunan Gunungjati. Suasana terasa khusuk saat koor panggilan sholat berkumandang. Satu hal yang tidak akan kita pernah temui di belahan dunia manapun. Subhanallah.
Tradisi ini telah berlangsung sejak lima ratus tahun lalu. Dahulu, adzan pitu dilantunkan setiap waktu sholat, namun kini hanya dilakukan pada saat sholat Jumat saja, pada azan pertama.
ASAL USUL MENGAPA “TUJUH (=PITU)”
Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan masjid tertua di Cirebon. Masjid ini terletak di sebelah barat alun-alun Keraton Kasepuhan Cirebon dan dibangun sekitar tahun 1480 M.
Wali Songo berperan besar terhadap pembangunan masjid ini. Sunan Gunung Jati yang bertindak sebagai ketua pembangunan masjid ini menunjuk Sunan Kalijaga sebagai arsiteknya. Nama masjid ini sendiri diambil dari kata “sang” yang artinya keagungan, “cipta” yang artinya dibangun, dan “rasa” yang artinya digunakan.
Pembangunan masjid ini melibatkan 500 pekerja dari Demak, Majapahit, dan Cirebon sendiri. Selain itu, yang cukup menarik, didatangkan Raden Sepat (Masyarakat sekitar menyebut : Raden Sepet).
Raden Sepat merupakan arsitek Majapahit yang menjadi tahanan perang Demak-Majapahit. Raden Sepat didatangkan dari Demak. Tindakan ini dilakukan oleh Demak sebagai imbalan kepada Cirebon karena telah membantu mengirim pasukan dalam penyerangan ke Majapahit.
Raden Sepat berperan dalam membawa tukang-tukang dari Majapahit. Bahkan, menurut cerita dalam babad dikatakan bahwa serambi utama masjid itu berasal dari kota Majapahit. Raden Sepat merancang ruang utama masjid berbentuk bujur sangkar dengan luas 400 meter persegi. Tempat imam menghadap barat dengan tingkat kemiringan 30 derajat arah barat laut.
Keunikan lain dari masjid ini adalah tidak mempunyai kubah. Tidak adanya kubah di Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini diawali oleh cerita kumandang adzan pitu (adzan tujuh). Menurut informasi dari buku Babad Cirebon, adzan tujuh atau dikenal dengan sebutan adzan pitu berawal sejak masa awal perkembangan Islam di Cirebon.
Konon di Masjid Agung Sang Cipta Rasa dahulu ada musibah yang menyebabkan tiga orang muadzin tewas berturut-turut secara misterius. Ketika masjid ini didirikan, memang masyarakatnya sebagian besar belum memeluk agama Islam. Mereka menolak pembangunan masjid ini. Penolakan itu diwujudkan melalui kekuatan sihir yang menyebabkan kematian misterius tiga muadzin masjid ini.
Konon saat itu, sihir itu melalui perwujudan makhluk siluman bernama Menjangan Wulung yang bertengger di kubah masjid, dan menyerang setiap orang yang melantunkan adzan maupun hendak sholat.
Setiap muadzin yang melantunkan adzan selalu meninggal terkena serangan Menjangan Wulung. Menjangan Wulung tidak senang dengan penyebaran agama Islam, dan ingin menghambatnya. Kondisi ini membuat resah umat Islam.
Akhirnya para wali meminta petunjuk Allah atas masalah yang terjadi.
Para wali menganggap ada satu kekuatan khusus yang menolak Islam berkembang di daerah Cirebon. Setelah Sunan Gunungjati bermusyawarah dengan para tetua dan memohon petunjuk dari Allah, Sunan Kalijaga mendapat petunjuk untuk segera mengumandangkan adzan yang diserukan oleh tujuh orang muadzin sekaligus sebelum sholat, lalu dititahkan oleh Sunan Gunungjati, kemudian disebut tradisi adzan pitu. Adzan pitu merupakan titah Sunan Gunungjati untuk mengalahkan pendekar jahat berilmu hitam bernama Menjangan Wulung.
Tujuh orang yang melantunkan adzan ini merupakan pengurus masjid yang telah dipilih penghulu masjid. Meski tak ada persyaratan khusus, namun sebagian besar muadzin merupakan keturunan dari muadzin adzan pitu sebelumnya. Mereka mengaku, mendapat ketenangan dan lebih khusuk beribadah sejak menjadi muadzin adzan pitu.
Pada saat akan melaksanakan shalat Subuh, itulah pertama kali adzan pitu (tujuh) dikumandangkan. Bersamaan dengan itu, dentuman besar terdengar dari kubah masjid. Kubah masjid mendadak jebol dan hilang.
Bersamaan dengan itu seketika binasalah kekuatan gaib yang disebarkan oleh makhluk halus bernama Menjangan Wulung. Ternyata selama ini Menjangan Wulung bertengger di atas kubah tersebut. Setelah Menjangan Wulung dapat dikalahkan, pemiliknya masuk Islam.
Menurut cerita, karena ledakan dahsyat tersebut, kubah masjid itu terlempar ke Banten. Itu sebabnya mengapa hingga saat ini Masjid Agung Sang Cipta Rasa tidak mempunyai kubah sedangkan Masjid Agung Banten memiliki dua kubah.
Sampai sekarang tradisi adzan pitu masih dilaksanakan. Kalau dahulu adzan pitu itu dikumandangkan ketika shalat Subuh, saat ini adzan pitu dikumandangkan pada saat shalat Jumat, oleh tujuh orang dengan berpakaian serba putih.
BANGUNAN MASJID YANG UNIK
Masjid Sang Cipta Rasa ini juga dikenal sebagai ‘masjid kasepuhan’, karena berada di lingkungan Keraton Kasepuhan. Meskipun masjid ini telah dipugar beberapa kali, namun sebagian besar bangunannya masih asli.
Selain adzan pitu, masjid yang didirikan Sunan Gunungjati tahun 1478 ini memiliki sejumlah keunikan lain. Diantaranya adalah tempat wudhu dengan mata air yang tak pernah kering. Sejumlah warga bahkan mengambil air yang disebut Banyu Cis ini untuk dijadikan obat berbagai penyakit manusia dan kesuburan sawah.
Di dalam masjid terdapat tiang yang disebut saka tatal. Tiang ini dibuat oleh Sunan Gunungjati dari sisa-sisa kayu yang disatukan. Lewat tiang ini, Sunan Gunungjati memberi pesan bahwa persatuan yang kokoh, bisa menopang beban seberat apapun.
Pintu masjid dibuat rendah, hanya seukuran badan manusia. Sehingga siapapun yang masuk atau keluar masjid, harus merunduk. Maknanya adalah, saat beribadah di hadapan Tuhan, manusia tidak boleh sombong.
Di dalam masjid terdapat dua pagar, yakni di bagian kanan depan dan kiri belakang. Dua ruangan khusus ini hanya boleh diisi oleh keluarga Sultan Kasepuhan dan Sultan Kanoma, dua kesultanan yang masih bertahan di Cirebon.
Saat bulan puasa, tak hanya warga Cirebon yang beribadah di masjid ini. Sejumlah peziarah maupun warga dari luar kota memperoleh pengalaman spiritual saat beribadah di masjid ini.
Cerita KauMuda Bangkit G. Saputra
Editor Ragil Koentjorodjati Ilustrasi dari blogspot.comDenting bel berbunyi nyaring, semua siswa serentak masuk ke dalam kelas. Rani seorang siswa cantik yang merupakan bidadari terindah di kelas atau bahkan di sekolah merasa bosan karena setiap melirik ke samping kanan belakang tempat duduknya pria itu selalu menatapnya dengan senyuman. Tak pernah berubah dari hari ke hari.
Pria itu bernama Dochi. Seorang siswa yang sama sekali tidak menunjukkan aura ketampanan. Sangat kurang memperhatikan penampilan. Dia selalu membawa buku ke mana-mana, dengan mengenakan kacamata tebal menjadi ciri khasnya sehari-hari. Bagi Rani tak ada yang menarik dalam diri Dochi. Memang tak pantas jika membayangkan Dochi bersanding dengan Rani. Membayangkannya saja sudah tidak pantas, namun itulah yang selalu menghiasi benak Dochi. Perasaan yang tak dapat ia hindari, walau sesungguhnya ia ingin menghindarinya.
Pelajaran berhitung menjadi kegemaran Dochi sejak kecil, sangat mengasyikan jika melihat angka-angka itu bertaburan di pikirannya. Namun akhir-akhir ini berbeda, dia menjadi seorang penyamun yang gemar menulis kata-kata indah. Bidadari itulah yang menjadi objek inspirasinya. Dia tak berharap untuk mengatakan dan menyatakan perasaannya, sebab Dochi sudah nyaman dengan menjadi seorang pecinta di belakang layar. Begitu banyak syair dan puisinya tersusun rapi. Berjuta kata teruntai dengan indah, hanya teruntuk bidadari hatinya itu. Namun hingga kini keberanian itu belum menghampiri. Cintanya terpendam rapat bersama karya-karya indahnya.
Pagi itu kelas di awali dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Siswa dianjurkan satu persatu untuk maju ke depan kelas dan membacakan puisi karya sendiri. Kali ini tiba giliran Dochi, tak sulit untuknya. Tentu, karena dia punya begitu banyak puisi. Tinggal pilih salah satu yang terbaik saja. Dia membacakan puisi karyanya yang berjudul “Syair Separuh Malam”. Dochi membawakan dengan penuh penghayatan dan menunjukkan ekspresi yang begitu dalam. Tak sengaja hati Rani bergetar, entah kenapa dia merasa hidup dan memiliki peran dalam syair itu. Mata Dochi sempat memandangnya namun tak lama dia mengalihkannya. Namun cukup jelas bagi Rani, puisi itu tercipta untuknya.
Saat istirahat makan siang Rani sengaja menghampiri Dochi.
“Puisi kamu bagus, aku tak pernah menyangka dalam diri kamu bersemayam seorang seniman kata-kata,” puji Rani tersenyum manis.
Dochi merasa kaget, senang, dan tak pernah terpikirkan bahwa seorang Rani akan menghampirinya untuk memuji puisinya. Puisi yang memang bisa tercipta begitu dalam karena sosok yang ada di depannya saat ini.
“Oh.. i.. iya.. terima kasih Ran, puisi kamu juga bagus,” sambung Dochi. “Aku membuat puisi itu untuk…”
Belum habis Dochi berkata Rani sudah dipanggil oleh temannya. Rani pun berlalu tanpa tahu apa yang ingin Dochi katakan. Dochi memandangi Rani penuh cinta, setiap langkahnya tak luput dari pandangan Dochi. Seakan tak pernah hiraukan kenyataan, perasaan itu semakin besar dan berkembang. “Biarkan ini kunikmati, walau hanya mimpi. Kau akan tetap di hati,” ucap Dochi dalam hati.
Malam itu hujan deras sekali. Angin berhembus tak karuan semakin membuat hati tak tenang. Dochi yang tinggal hanya dengan ibunya merasa was-was. Terang saja dia merasa begitu, karena kondisi rumahnya yang memprihatinkan. Sebuah gubuk dari bambu yang sudah reot. Redup, karena hanya ada lilin kecil sebagai satu-satunya penerangan. Tidak masalah untuk Dochi karena dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Dia dan ibunya sudah bersyukur masih bisa makan sehari-hari. Hujan semakin deras dengan diselingi halilintar yang mulai memekikkan. Sembari belajar dia memperhatikan sekitar. Bagian yang bocor sudah ditadah dengan ember. Namun dia melihat dinding bambunya bergoyang. “Tuhan, lindungi aku dan ibuku. Kami lemah tanpamu. Engkau maha pengatur segalanya dan maha berkehendak,” doa Dochi.
Dochi semakin tak tenang untuk belajar. Angin kencang dan derasnya hujan begitu gaduh. Dia menutup buku dan menghampiri ibunya di kamar. Saat membuka pintu dia terkejut, ibunya tergeletak lemah di lantainya yang berupa tanah. Sontak Dochi segera membopong ibunya ke tempat tidur.
“Ibu.. ibu kenapa? Bangun ibu..,” ujar Dochi panik.
Ibunya tak bergerak, semakin membuat Dochi khawatir. Mata Dochi berair, ibu Dochi memang sudah lama sakit. Penyakit asmanya tak kunjung sembuh. Karena hanya diobati seadanya, perekonomian keluarganya sejak dulu tak bisa berbicara banyak. Kali ini tak pernah terbayangkan Dochi. Dadanya semakin sesak, ia mengambil minyak angin. Dioleskan di jari lalu dia dekatkan dengan hidung ibunya. Dochi berharap ibunya hanya pingsan dan akan segera sadar. Beberapa saat setelah itu ibu Dochi bergerak. Matanya perlahan terbuka. Dochi merasa begitu lega.
“Ibu.. bangun ibu.. Dochi takut. Ibu tidak apa-apa kan?” ucap Dochi sesenggukan. Ibunya tersenyum kecil, lalu berbicara dengan terbata.
“Dochi, ibu tak apa. Terima kasih..”
Dochi memeluk erat ibunya, air matanya mengucur deras. Dia begitu takut jikalau ibunya pergi.
“Dochi.. kamu baik-baik ya, Ibu sudah tak kuat. Hapus air mata kamu. Senyum kamu bahagia ibu,” bisik Ibu lirih.
“Tidak ibu.. Ibu pasti kuat, Dochi ingin sama-sama dengan Ibu. Dochi belum bahagiakan ibu. Dochi ingin..”
Mata ibu terpejam perlahan, tubuhnya melemah.
“Ibu.. Ibu… bangun ibu.. Ibu….” Dochi berusaha membangunkan ibunya. Upayanya tak berhasil, takdir sudah tertulis, ibu Dochi telah pergi. Satu-satunya orang tercinta yang Dochi miliki. Kasih sayang terbesar yang dia dapatkan selama ini. Ingin sekali ia membalasnya dengan mewujudkan mimpi dan cita-citanya.
Hingga kini Dochi tak pernah berhenti untuk tekun dan gigih dalam belajar. Semua dilakukan semata karena ingin menggapai mulianya keinginan Dochi. Membuat ibunya hidup berkecukupan dan bahagia. Kini semua berlalu, dia harus menghadapi hidup ini sebatang kara. Ibunya pergi dengan senyuman bangga, seakan berbisik “Aku bahagia nak, kau permata terindahku. Jangan putus asa, gapai inginmu. Ibu selalu di sisimu, setiap saat dan setiap waktu.”
Esok hari di kelas, seorang siswa memberitakan bahwa ibu Dochi telah meninggal dunia. Sejenak terasa hening, seisi kelas menunduk dan mendoakan beliau. Rani merasa iba, dia seakan merasakan kepahitan Dochi. Teman Dochi bercerita padanya bahwa Dochi sejak kecil hidup hanya dengan Ibunya. Ayahnya meninggal karena kecelakaan. Itulah yang membuat Dochi giat dalam belajar. Menjadi kurang pergaulan karena saking fokusnya pada bidang akademik. Dia berkeyakinan bahwa jika ingin hidup sukses harus jadi orang pintar.
Sepulang sekolah Rani mengunjungi rumah Dochi. Teman-temannya tidak ikut karena saat itu hujan begitu deras, sedangkan rumah Dochi terletak di pelosok desa. Namun Rani tak menghiraukan itu. Dia sudah bertekad ingin mengunjungi Dochi. Dengan petunjuk salah satu teman sekelasnya, akhirnya Rani sampai di rumah Dochi. Pintu diketuknya berulang kali, namun tak ada jawaban. Tak sengaja pintu terdorong olehnya. Rumah ini terlihat sangat sepi, berdebu, dan begitu sederhana karena tak ada perabot semacam kursi tamu, meja, dan sejenisnya. Dilihatnya dalam bilik kamar sesosok pemuda sedang duduk menunduk tak bergerak. Didekatinya perlahan, semakin dekat ia menuju sosok itu.
“Dochi..,” panggil Rani sembari menyentuh pundaknya. Dochi menengok, matanya sembab, berkantung karena kurang tidur. Rani memandanginya begitu iba. Dochi tak berkata apapun. Pandangannya kosong lalu menunduk kembali dan memandangi ranjang ibunya.
Rani mengerti apa yang dirasakan Dochi. Sewajarnya begitu, karena kepergian ibunya adalah sebuah pukulan yang begitu berat untuk seorang Dochi. Sesaat pandangan Rani tertuju pada lembar-lembar kertas yang tertempel di dinding kamar reot itu. Dihampirinya salah satu lembaran, dia mengenal tulisan itu. Puisi Dochi waktu itu di kelas. “Syair Separuh Malam”. Jelas terbaca syair itu: Kudengar samar nyanyian malam
Mengalun syahdu tenangkan kalbu
Semenjak awal kala perkenalan
Terbesit rasa yang tak menentu
Malam ini, bulan dan bintang berteman gerimis
Menyuguhkan irama senandung nan ritmis
Semua tentangku tak senada inginmu
Kecewa dan sedih tak henti mengiringi
Kau dengarkan hati terus bernyanyi
Bersama lagu nuansa egois
Tentang janji yang tak berujung manis
Kupersembahkan syair separuh malam
Pada sucinya hati wahai adinda
Kutanyakan pada Pemilik Alam
Adakah saat untuk berjumpa
Mengulas rasa, cinta, dan cita
Membendung rindu, kesah, dan pilu ..
Hanya dengan syair separuh malam
Ku mencintamu dalam-dalam ..
Di bawahnya ada lukisan sketsa gambaran tangan Dochi. Gambar itu tak lain adalah Rani. Sesosok gadis sedang melangkah sembari menengok ke belakang dengan senyum manis. Begitulah Dochi menuangkan perasaannya pada Rani. Tak hanya dengan puisi dan lukisan sederhana. Di sisi lain dinding tergantung serangkaian bunga. Teruntai indah membentuk sebuah nama. RANI.
Rani kagum dan tak menyangka bahwa Dochi begitu mendambanya. Perasaan yang sudah terasa saat di sekolah. Rani merasa sangat berdosa jika menghindari kata hatinya. Secara tidak sadar dia juga menyayangi dan mengkhawatirkan Dochi. Dipeluknya Dochi dari belakang. Penuh cinta dan sejenak menjadi penghapus pilu Dochi. Serasa tak percaya Dochi merasakan hangatnya pelukan Rani.
“Ran.. Rani.. kamu. Aku..,” ujar Dochi terbata.
“Jangan sedih lagi Dochi.. Aku di sini untuk kamu.” sahut Rani. Inikah rencana indah Tuhan? Inikah jawaban dari penantian pajang? Tuhan selalu menyelipkan pelangi setelah hujan badai. Dukanya kini sedikit terbagi. Karena hari-harinya dilalui bersama Rani, bidadari yang selalu diimpikannya.
Tiba saatnya hari kelulusan. Dochi menjadi siswa dengan nilai terbaik. Seluruh warga sekolah bangga dengan prestasinya. Riuh tepuk tangan menghiasi hari itu. Rani memberinya kecupan tanda bangga. Dengan wajah sedikit memerah Dochi merasa senang. Dia menatap langit, ada bayangan ibunya tersenyum manis. Terima kasih Tuhan, jaga ibuku agar selalu didekatMu.
Dochi mendapatkan beasiswa dan berkesempatan melanjutkan ke perguruan tinggi negeri terbaik di kotanya. Namun dia harus terpisah dengan Rani. Sebab orang tua Rani berkehendak ingin menyekolahkan putri tunggalnya itu di luar negeri. Hari itu sekaligus menjadi hari perpisahan Dochi dan Rani. Seakan tak mau berpisah, Rani memeluk erat kekasihnya itu. Dochi menggenggam jemari Rani. Diberikannya sebuah kotak kaca yang berisi patung romeo dan juliet. Kotak itu bila dikocok akan terlihat seperti ada hujan salju di dalamnya. Pemberian sederhana yang akan selalu dikenang Rani.
Sebelum berpisah Dochi meyakinkan Rani, “Percayalah pada kekuatan dan keindahan cinta, kita pasti bersama lagi,” ucap Dochi sembari menatap Rani. Dengan lirih Rani mengiyakannya. Dia tak sanggup menahan kepedihannya. Namun ini kenyataannya. Suratan yang harus dihadapi oleh pasangan yang saling mencinta itu. Rani tak bisa merelakan untuk berpisah.
Esok pagi Rani dan keluarga sudah harus bertolak ke bandara. Karena takut terlambat Ayah Rani menyuruh sopirnya supaya lebih kencang melajukan mobilnya. Rani masih sedih sembari memandangi kotak kaca romeo dan juliet. Tidak sadar dia tertidur pulas dengan memeluk kotak itu.
Braak! Mobil Rani menabrak seseorang.
“Astaga, sudah Pak.. lari saja. Jalan sepi, kita sudah tak punya waktu.” kata Ayah Rani.
“Ttt.. tapi Pak..,” sahut sopir panik. Ayah Rani tak peduli dan menegaskan untuk segera beranjak pergi. Jam keberangkatan pesawat sudah dekat.
Sesampai di bandara Rani terbangun dari tidurnya. Segera menuju pesawat dan berangkat ke Prancis. Dalam perjalanan Rani selalu memikirkan Dochi. Ingin sekali menghubunginya lewat telepon, namun tak memungkinkan karena ia sedang di dalam pesawat. Dia lupa memberi kabar bahwa dia sudah berangkat.
“Pasti Dochi menunggu-nunggu kabar dariku, maafkan aku Dochi,” gumam Rani.
Malam yang indah, Suasana Paris sungguh romantis. Rani menunggu-nunggu telepon dari Dochi. Sejak siang tadi Dochi tak bisa dihubungi. Situasi yang tidak biasa sebelumnya. Salju turun perlahan, terlihat sangat indah. Sebuah mahakarya dari Tuhan. Tubuh Rani sedikit menggigil namun dia merasa hangat karena membayangkan satu nama, Dochi.
Tiba-tiba ada sosok pemuda yang memeluk Rani dari belakang. Rani terpejam dan merasakan aroma tubuh yang tak asing baginya. Pemuda itu berbisik,“Jangan sedih lagi Rani.. Aku disini untuk kamu,” sembari mendekap erat Rani.
Pyaarrr…!! Kotak kaca itu terlepas dari genggaman Rani, jatuh dan pecah. Dochi melepaskan pelukannya perlahan. Rani sangat bahagia, matanya berkaca-kaca karena kehadiran Dochi. Tubuh Dochi memudar, menjadi ringan seakan ingin melayang. Rani tak percaya apa yang dilihatnya.
“Dochi.. kamu mau k emana? Jangan tinggalin aku..,” bujuk Rani penuh harap.
“Aku cinta kamu Rani.. akan selalu hidup di hati kamu,” suara Dochi menggema. Air mata Rani tumpah seiring berlalunya bayangan itu. Bayangan cinta Dochi.
Di dalam kamarnya Rani semakin bingung, ada apa sebenarnya. Nyatakah tadi yang dialaminya. Terbesit dalam pikirnya, dia segera menghubungi teman sekolahnya yang dekat dengan Dochi.
“Halo Fadli, ini aku Rani. Kamu tahu di mana Dochi?” tanya Rani penuh rasa ingin tahu.
“Tut.. tut.. tut..,” panggilan tiba-tiba terputus. Rani segera menelpon ulang. Sebelum menekan tombol panggil, ada pesan singkat masuk: Aku tak sanggup mengatakannya, Dochi telah tiada. Saat ini aku di depan makamnya. Maafkan aku Rani.
RetakanKata – Maria Wiedyaningsih, perempuan kelahiran Purwokerto 1 Desember 1977 ini suka menulis cerpen anak-anak. Banyak belajar menulis dari karya-karya Lena D, penulis yang karyanya sering dimuat di sebuah majalah anak-anak. Sekarang, sedang belajar menulis apa saja. Dari tulisan beberapa karakter yang harus muat di twitter, sampai novel yang nyaris semuanya tidak selamat sampai bab pertama. Meskipun sudah terlalu uzur, sangat menyukai Harry Potter dan Detektif Conan. Selain itu suka membaca apa saja yang menarik hatinya. Novel yang sampai sekarang masih berkesan untuknya adalah A Walk to Remember, karya Nicholas Sparks. Celotehannya bisa dilihat di http://www.mariawiedyaningsih.com. Saat profil ini ditulis, blog tersebut nyaris tidak ada apa-apanya, tapi semoga di masa depan bisa makin memberi makna. Punya akun facebook sama seperti namanya, dan sampai saat ini belum pernah menulis status apapun di akun tersebut.
“Buat saya, sebuah lomba menulis adalah sebuah tempat bernama keberanian, sekaligus tempat yang memberi kebanggaan. Sayangnya, tempat tersebut selalu berada di seberang jurang. Perlu membangun sebuah jembatan, naik balon udara, meniti tali, apapun agar bisa sampai ke sana.
Ketika mengetahui RetakanKata mengadakan lomba menulis cerpen, yang pertama terlintas dalam pikiran, tentu saja, saya harus ikut. Namun sudah banyak sekali saat di mana saya sudah begitu banyak belajar, namun akhirnya terhenti karena kehilangan keberanian. Jangan-jangan, kali itu juga.
Dengan banyak keragu-ragu dalam pikiran, saya mulai mencari-cari ide. Namun akhirnya, tidak menemukan satu ide baru yang menurut saya cukup layak. Saya lirik ide-ide lama. Cerpen-cerpen malang saya yang hanya punya setengah nyawa, bahkan sepersepuluhnya saja.
Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga mulai saya tulis sekitar setengah tahun lalu. Sepertinya cerpen tersebut merupakan cerpen (untuk pembaca dewasa) saya yang ke-20. Atau ke-30? Entahlah. Sebab hanya kurang dari sepuluh cerpen saja yang selamat mencapai kata terakhir. Cerpen lainnya bahkan hanya berupa beberapa baris pertama saja. Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga cukup beruntung karena nyaris selesai.
Saya selesaikan cerpen tersebut. Lalu menyuntingnya terburu-buru saat jam-jam terakhir sebelum tenggat. Dan akhirnya, saya kirim, seingat saya, di menit terakhir tenggat waktu. Saya ingin naik balon udara, menikmati proses menuju tempat tujuan. Namun sekali lagi, saya harus meniti tali. Tapi mungkin, pergi ke tempat tujuan kita dengan meniti tali menarik juga, meskipun menegangkan.
Terima kasih RetakanKata, untuk perjalanan menarik ini.”