Arsip Kategori: Puisi

Kepada Cintaku

Puisi Rere ‘Loreinetta
Sekiranya engkau ada disisiku
Ku ingin berbagi seteguk air
Dalam gelas-gelas hati
Yang tak mampu kuminum sendiri

Air yang akan kubagi denganmu
Bukanlah air mata
Dari jurang hati yang patah
Juga bukan dari lembah kefaqiran yang mendera
Serta bukan pula air mata dari tebing cadas kekecewaan

Bukanlah arak
Yang kerap menjadi teman pesta pora
Yang kerap menjadi teman kala frustasi

Air yang kutawarkan ini
Adalah air dari telaga kerinduan
Pada savana yang kini tersisa abu
Setelah api dari nafs membakarnya

Air yang terselip di celah tungkai dedaun
Kondensasi kabut dingin dan bara cinta

Bila engkau mau
Datanglah kemari
Di keping hatiku
Di ujung pelangi aku menantimu

kepada Ayah

Puisi Ragil Koentjorodjati
Ayah…
Ingatkah engkau ketika musim jagung menguning dan burung kepodang sibuk membangun sarang?
Engkau berkata kepadaku,

: seorang lelaki tidak boleh menangis.
: Kala panen gagal,
: Kala tikus dan babi hutan merusak ladang kita,
: Kala ditinggal pergi orang tua,
: Kala kehilangan orang tercinta,
: seorang lelaki tidak boleh menangis.
: Adalah dada lelaki tempat kubangan air mata bersemayam,
: namun bukan air matanya,
: Otot-ototnya tidak mengejang untuk melahirkan,
: Tetapi menggumpal menjadi bantal bagi bayi yang dilahirkan,
: Pundak lelaki adalah tempat tangan-tangan lemah bergantung,
: Jika engkau menangis bahumu lunglai
: Pandanganmu kabur
: Di benakmu hanya mendung
: Dan tanganmu sibuk menghapus air matamu
: Engkau kehilangan banyak waktu untuk membantu

Ayah,
Bermusim-musim panen telah berlalu,
Sungai-sungai kita tak lagi jernih,
Dan hijau lebih nyala di lukisan ruang tamu
Mendungku tak jua luruh
Meski aku paham sepenuhnya,
Pantang bagi lelaki untuk menitikkan air mata.

25 Nov 2011

~entah, puisi ini semestinya aku juduli apa~

Puisi Ragil Koentjorodjati

ilustrasi dari stockphoto
Entah,
puisi ini semestinya aku juduli apa.
Ketika bahasa kita bahasa diam,
polahku tibatiba begitu payah,
mimik rumit,
berkelindan dengan keringat yang datang tidak pada waktunya,
lalu gerhana yang seharusnya tiba setelah purnama,
sempurna lelap menutup bola mataku.
Aku melakukan halhal yang tak kauharapkan,
dan kamu mengucap katakata yang tak kauinginkan,
di ujung malam yang akut,
kita mendengar lebih keras lolong sakit hati

Kapankah?
bibir kita menyungging senyum yang sama,
tanpa pretensi.
mungkinkah?
:Kata pretensi itu semakin membuatku patah hati,
melenting liar dan menggoyang harapan yang telah lelah menggantung di embun subuh dini hari,
sisa gerhana semalam.
Saat, entah setan mana yang menarik lidahku mengucap aku menyayangimu tetapi aku tidak tahu bagaimana menyayangimu.

Entah,
puisi ini semestinya aku juduli apa.
Saat dedaun berkisah tentang rindu,
yang lebih sering dan tidak jarang menggelepar di ujung senar gitar,
Terpahami tanpa pretensi.
:sungguh, kata pretensi ini merusak semua kata rindu.
Tolong, jangan hanya diam.

2 Desember 2011

~kata maaf pada minggu pagi~

Puisi Ragil Koentjorodjati
1.
Seseorang mungkin harus mati tanpa sempat dimaafkan,
pada minggu pagi,
ketika imam kepala meminum anggur dan memecah roti,
:inilah tubuhku
:inilah darahku
:yang dikurbankan bagimu
Seseorang meminum air dan cuka dari lambungnya yang kudus.
Perjamuan sedang dimulai,
tanpa kata maaf untuk kekasih yang usai setengah mati.

ilustrasi dari joehasan.wordpress.com
2.
Katakatamu adalah harapan,
dari setiap kecemasan.
Pada minggu pagi aku tanyakan,
:bagaimana keadaanmu Sayang?
Tidak ada jawaban!
Seseorang masih harus meminum air dan cuka dari lambungnya yang kudus.
Kekasih belum usai setengah mati,
dan kata maaf jauh tertinggal di pintu gerbang,
ruang perjamuan,
tempat pesta sedang dan masih dirayakan.

3.
Tersisa kenang pertarungan semalam,
kekasih terkulai di tepi harap. Memuram.
Rumitnya persoalan adalah labirin kata maaf memaafkan.
Seseorang harus memaafkan tubuh sekarat,
seeseorang harus memaafkan ketidakberdayaan,
seseorang harus memaafkan semua impian,
dan;
seseorang harus memaafkan dirinya sendiri,
sebelum;
seseorang mungkin harus mati tanpa sempat dimaafkan.

kaki Lawu, Awal desember 2011

pada malam ketika purnama tinggal sepotong

Puisi Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi dari almascatie.wordpress.com
Pada malam ketika purnama tinggal sepotong,
kutitipkan senyum di rembulan.

Bukan getir,
sungguh itu senyum terbahagia yang pernah dapat kurangkai,
Meski patah di ujungnya.
Aku menatapnya,
selalu menatapnya ketika purnama tinggal sepotong,
berharap penuh senyum itu menyempurna

Dan aku pulang ke peraduan.
Adalah luka yang kembali nganga,
menjagaku tetap terjaga,
penggalan senyumku masih tertinggal di sana,
pada malam ketika purnama tinggal sepotong.
Aku mengintipnya,
mencoba meraihnya
siasia

Pada musim ketika angin tak lagi berhembus dari barat daya,
sesuatu mencuri rembulan,
aku kehilangan senyumku yang tersempurna.

17 Nov 2011

Puisi Lain:
ketika pada suatu ketika
Jika
Sajak Rembulan Merah

Nada Tiada Titian Nada

Puisi Natayoe Sri Kenezz

Di sudut gelap dimainkannya gitar tua beralas nada miris menyayat malam
Memetik berjuta dawai rindu pada kekasih entah berpijak di mana
Alunan seirama desir angin malam mengantar mimpi
Mengusik ingatan tentang sekeping kenangan
Dibiarkannya matanya nanar terbuka
Menelan semua rajaman siksa pada sebuah nama dan kisah
Menikmatinya sejengkal demi sejengkal
Bergumam lirih memecah hening suara sumbang

Pernah kusentuh halus pualam sinar pori-pori kulitnya
Menyelusuri sudut-sudut keindahan terpatri sempurna di raganya
Melintasi alam tiada batas, berpacu mengejar tahta cinta
Merindu pada penyatuan jiwa tiada sekat
Di akhir penaklukan hasrat,sorot cinta menghujam indah

ilustrasi dari worldartresourcesdotcom
Kembali petikan gitarnya enggan mengikuti nada kehidupan
nestapa menggores sunyi di masa kesendiriannya
Dia hanya punya satu hati yang terbawa pergi
Hilang,
Sakit,
Rindu,
Sendiri.
Pedih seringkali tak bisa ditepis,
Biarkan saja terlelap abadi bersama jiwa meranggas.

Puisi Terkait:
Puisimu Mawarku
Concerto Rasa
Perempuan Kesepian
Waktu untuk Menyendiri

Perempuan Kesepian

Puisi Ragil Koentjorodjati

Alone in The Rain from blogspotdotcom
Satu titik air mata di malam benderang,
bercerita tentang beribu kali gerimis yang ingin di hapus dari ingatan.
Selalu tentang masa silam.

Adalah temaram merkuri mencuri wajah pasi,
serupa bayang berurai tentang dia yang berdiang di balik rerimbun malam,
membiarkannya memeluk dingin.
Sendirian.

Tulisan terkait Perempuan:
Kisah di Balik Pintu: Menyingkap Rahasia Perempuan
Kecantikan Perempuan: Membawa Berkah atau Musibah
Siluet Ibu
Asih Sulastri
Kumpulan Fiksi Super Mini
Tembang Cinta Agata

Pahlawan

Puisi Ragil Koentjorodjati

ilustrasi dari wordpress.com
Dia yang berlari di antara pematang gedung perkantoran,
dan lalu tenggelam dalam, di sungai kemiskinan dengan harapan yang tersesat,
aku menyebutnya pahlawan

Lelaki yang tulang belulangnya,
menjadi rerangka jalan raya,
aku menyebutnya pahlawan,

Pengelana yang tubuhnya mengering tanpa darah, keringat dan air mata,
membebaskan haus kerongkongan kita,
aku menyebutnya pahlawan,

Anak kecil putus harapan dan yang lalu mati muda,
menyerahkan sisa umurnya pada kita,
aku menyebutnya pahlawan,

Perempuan tanpa payudara,
yang telah kita perah habis susunya,
aku menyebutnya pahlawan,

Ibu yang kehilangan anak-anaknya,
tergerus laju jaman,
aku menyebutnya pahlawan,

Mereka yang bekerja,
dan menyerahkan seluruh nikmatnya kepada kita,
aku menyebutnya pahlawan,

:mereka sempurna terkubur di lorong dan gorong-gorong,
kuburan yang tidak perlu tanda selain bahwa aku menyebutnya pahlawan.

hari ini, aku ikut menyebut hari pahlawan.
10 November 2011

Kekasih Terbodoh

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi dari iStockdotcom
Engkau mangajarku untuk tidak takut terhadapmu,
ya, aku memang tidak takut akan amarahmu,
tapi aku takut membuatmu kecewa,
setelah kemurahan yang kuterima menjadikanku bukan siapa-siapa.

Engkau tidak seperti mereka yg meminjami dan mengharap bunga kembali,
engkau memberi tanpa syarat,
engkau membebaskan tanpa tuntutan di kemudian hari,
dan semua itu membuatku tidak nyaman di dekatmu.

Ketika iblis menyentuhku di purba malamku,
hatiku berbisik,
: satu hal yang membuatku kadang tidak menyukaimu,
: engkau tidak meminta apapun dariku.
: aku tidak suka sebab engkau terlalu baik.

“Sesungguhnya, kamulah kekasihku yang paling bodoh,” katamu.

Puisi untuk My Mine

Puisi Tania Limanto

Dengan langkah perlahan,
dan ragu,
kususuri sungai ini,
tak tahu akan dibawa ke mana.

Awalnya aku mengira kalau aku bisa berhenti kapan saja, namun pada kenyataannya, dalam Kesunyian Indah, ketika malam tiba, di bawah rembulan, aku tertidur dan tak menyadari saat perahu bergerak terus menyusuri sungai dan tiba di Samudra Biru.


Saat itu,
sudah terlambat untuk berhenti,
dan tak kulihat lagi jalan kembali,
di ujung batas Samudra Biru,
di hulu air terjun Niagara.

Saat ini,
apalagi yang bisa kulakukan?

Aku mengira rasa ini bisa dihentikan, namun arus ini terlalu kuat, dan tak bisa kuhentikan. Aku pejamkan mata, dan saat itu, detik itu, aku ingin percaya Tuhan itu ada, agar dia bisa menghentikan rasa rindu ini, agar dia bisa memutuskan rasa rindu ini.

Dan / aku / terjun /
/terjatuh/
/ke dasar/
/air terjun Niagara //