Semua tulisan dari Ragil K

Sebuah titik di jagat semesta.

Sajak Manusia

Puisi Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi: Heny Ayu Candrasasi
Di langlang laju langkah kaki-kaki,
riuh hati bertaruh melempar undi,
siapa-siapa tanya siapa memenangi,
pertarungan yang mestinya dikandangi.
Laksa derita tertera di dada-dada,
doa,
dupa,
mantra,
novena,
lesat nguap di sela kala,
sia-sia.
Darah rembes di puting susu,
kering payudara para ibu,
sekerontang kerongkongan tergantang siang,
melahirkan bocah-bocah yang sejak lahir menghisap darah.
Pada bumi mereka mengadu,
pada bumi simpuh berkeluh meretas sendu,
kusut beringsut mengeja tahajud.
Bukan,
bukan itu yang dimau.

Pilihan selalu tak semudah yang dibayangkan
ketika nurani dibui bui,
segala menjelma sepanas bara,
manusia serupa satwa pemangsa.

Akhir Mei 2011.

Pancasila(isme)

Waktu jaman sekolah dulu, saya paling benci pelajaran Pe-eM-Pe (Pendidikan Moral Pancasila). Selain membosankan, model pembelajaran yang diberikan lebih mirip mencekoki ayam dengan gumpalan nasi yang dipadatkan. Yang dicekoki modot molet, mata mendelik keloloten. Tidak mengerti apa-apa tapi merasa kenyang. Pelajaran penuh indoktrinasi. Setelah sekian tahun menerima tanpa sempat mengkritisi, dengan memberanikan diri berpikir bebas saya bertanya, mengapa Pancasila kok urutannya begitu? Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa. Dua…, tiga.. dan seterusnya. Masih hapal tho? Biadab kalau tidak hapal.
Meski tidak suka dengan Pe-eM-Pe, bukan berarti nilai saya jelek. Tidak bagus, iya. Tapi setidaknya pernah lomba cerdas cermat Pe Empat. Itu semacam lomba menghapal nilai-nilai luhur Pancasila. Indoktrinasi (lagi) yang dilombakan. Setelah bertahun kemudian, saya tambah bingung karena begitu banyak hal-hal yang dilekatkan ke Pancasila. Ambil contoh rumusan Pancasila sebagai hasil produk pemikiran, Pancasila sebagai proses, Pancasila sebagai pandangan hidup, Pancasila sebagai ideologi, Pancasila sebagai sistem filsafat. Dan masih banyak lagi pemikiran-pemikiran terkait dengan Pancasila. Sepertinya proses menggali Pancasila tidak akan menemukan titik akhir. Celakanya, lebih mengasyikkan mengkaji dan berwacana ketimbang penerapannya.
Gerundelan ini tidak hendak mengupas berbagai hal tersebut di atas. Itu akan menjadi sama membosankan dengan indoktrinasi Pancasila jaman dulu. Pancasila jaman dulu, baik jaman orde lama maupun orde baru, menurut saya perlu diupdate. Misal dari lambangnya saja, garuda pancasila, mengapa mesti meleng ke kanan? Apakah itu sebab bangsa kita lebih fanatik ke kanan daripada ke kiri? Radikalisme lebih di mulai dari sisi kanan. Kondisi ini tentu saja perlu ada terobosan baru yang tidak hanya mengembalikan Pancasila pada tempatnya, tetapi jauh lebih ke depan, mendorong Pancasila(isme). Isme yang berasal dari Indonesia dan jika perlu menularkan virus Pancasilaisme ke berbagai belahan dunia.
Untuk itu, ada baiknya jika kita melakukan permenungan terlebih dahulu di peringatan hari lahir Pancasila ini. Permenungan ini perlu untuk merumuskan kembali Pancasilaisme yang tidak seperti sebelumnya, antara lain dengan mempertanyakan kembali, mengapa Pancasila kok urutannya begitu? Apakah pancasila yang tercantum dalam pembukaan UUD’45 itu merupakan suatu urutan? Menurut saya kok tidak. Pancasila yang menjadi dasar negara sebagaimana dalam pembukaan tersebut bukan suatu yang bertingkat melainkan setara, sama pentingnya. Lalu bagaimana dengan pancasila sebagai ideologi? Apakah itu sesuatu yang sudah jadi atau sesuatu yang harus dicapai? Jika Pancasila merupakan sesuatu yang harus dicapai, maka saya lebih suka mengubah urutan Pancasila sesuai dengan kondisi dan persoalan terkini.
Persoalan bangsa terkini membutuhkan indonesia yang kompak untuk menghadapi persaingan global. (Sebenarnya kita bersaing dengan siapa sih?) Tanpa kekompakan, kita akan mudah dilibas bangsa lain, dipecah belah dan diekploitasi habis-habisan. Tidak mudah untuk kompak di tengah prahara sektariasnisme. Persatuan Indonesia, apapun agamanya, apapun suku dan asalnya, itu yang sekarang mendesak untuk ditekankan kembali.
Untuk apa kita bersatu menyepakati konsensus berbangsa dan bernegara? Tentunya untuk mencapai keadilan sosial yang di dalamnya juga berarti kemakmuran bersama. Adanya rasa aman dari persatuan menjadi landasan kuat untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup. Baru kemudian jika persoalan muncul, maka asas kerakyatan diutamakan. Dengan kata lain, dalam menghadapi persoalan sehari-hari, kebutuhan rakyat banyak menjadi pertimbangan utama. Jika musyawarah tidak bijaksana, maka mufakat juga tidak bijaksana. Jika musyawarah tercapai mufakat, namun jika bertentangan dengan kerakyatan, maka itu mufakat yang tidak bijaksana.
Jika kondisi-kondisi ideal pada tataran pragmatis tersebut dapat dicapai, maka mengkaji dan berpikir tentang kemanusiaan dan ketuhanan dapat maju dan berkembang. Hal tersebut bukan berarti bahwa dalam tataran praktik boleh abai terhadap kemanusiaan dan ketuhanan, tetapi justru sebaliknya. Persoalan kemanusiaan dan ketuhanan akan menjadi bukan apa-apa jika tidak ada perbuatan konkrit dalam keseharian. Cara pandang yang ada sekarang ini lebih berfokus pada bagaimana memenuhi tuntutan agama daripada bagaimana mewujudkan surga di bumi. Ketuhanan telah melenceng menjadi keagamaan yang kemudian diturunkan untuk mengatur kemanusiaan. Ketuhanan diletakkan paling bawah, karena memang pada intinya, semestinya menjadi pondasi, bukan diartikan sebagai bukan prioritas awal.
Membangun yang tampak itu lebih mudah ketimbang yang tidak tampak. Jika kebutuhan primitif manusia terpenuhi, manusia indonesia lebih mudah diajak meraih capaian lebih tinggi, yaitu manusia yang menjadi berkat bagi semesta, berkemanusiaan dan berketuhanan. Untungnya, berkemanusiaan dan berketuhanan membutuhkan praktik nyata, bukan hanya retorika di tempat ibadah
Dengan uraian demikian, maka Pancasila menjadi sebagai berikut:
1. Persatuan Indonesia;
2. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
3. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
4. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
5. Ketuhanan yang maha esa.
Yah, beginilah generasi baru Pancasila(isme). Generasi yang tidak boleh hanya berhenti pada indoktrinasi. Generasi yang semestinya memberikan wajah baru Pancasila sehingga Pancasila menjadi sesuatu yang indah, menarik, populer dan menjadi budaya baru. Karena Pancasila butuh pembaharuan. Ia butuh kemasan baru, meski content-nya tetap sama. Itulah tugas pengikut Pancasila(isme). Tugas pertama mendekonstruksi Pancasila sesuai situasi dan kondisi daerahnya. Monggo…

Kasih Ayah

Puisi Ragil Koentjorodjati

Father n Son_ilustrasi dari FB Sapto T Poedjanarto
Ia mengasihimu dengan cara yang tak pernah kau tahu,
ia memandangmu seteduh pandangan seorang ayah yang malu-malu mengintipmu bercanda ria di bawah ritmis hujan,
betapa rindu ia ingin mengingatkanmu agar kau tidak jatuh sakit,
tetapi ia membiarkanmu larut dalam derai tawa suka cita,
hanya lirih hatinya berkata,”semoga engkau selalu sehat dan bahagia”,
begitulah ia mengasihimu.

Ketika kau dewasa,
kau mulai berani memakinya hanya karena di matamu raganya berangsur renta,
dan kau tidak pernah menyaksikan lelaki perkasa yang menitikkan air mata di sudut senyap kamarnya,
sendiri, memanjatkan doa,”semoga engkau selalu sehat dan bahagia”,
begitulah ia mengasihimu.

Waktu untuk Menyendiri

Puisi Ragil Koentjorodjati

ilustrasi dari 2.bp.blogspot.com
Jika kau ijinkan aku bertanya, layaknya seorang sahabat yang lama tak bersua, baik-baikkah engkau dengan hidupmu? Di kedalaman waktu yang membentang, seringkali aku mengirim kata. Kutitipkan pada kicau kenari. Kadang lewat denting-denting dawai yang tergetar. Atau sesekali lewat deru denging di kepalamu kala kau merintih. Aku mengirim kata.
Kata yang sama saat aku melepasmu (atau saat kau meninggalkanku? Entahlah. Aku lebih suka istilah bahwa kita hanya tidak bertemu muka). Nyatanya kata itu masih sama: semoga hari-harimu berwarna. Tidak hanya kelabu. Tidak juga selalu ungu. Tetapi warna-warna surga yang berpendar-pendar meletupkan asa. Jika engkau tak mendengar kata yang kukirim itu, mungkin engkau butuh waktu untuk menyendiri. Menyadari kilau nirwana di pejam matamu.
Jika hari-harimu meradang gersang. Perih dan letih membaluri sekujur jiwamu. Ingatlah seorang ayah yang mengusap lembut helai rambut gadis kecilnya. Demikianlah aku membelai rambutmu dengan desir angin yang menyegarkanmu. Ketika tanganku terlalu lemah untuk menopangmu, pandanglah berjuta tangan yang terulur di sekitarmu. Yang kau perlukan hanya membuka pintu hatimu atas kebajikan yang mengalir di depan kemahmu. Jika kau masih juga merasa letih, mungkin kau butuh waktu untuk menyendiri. Menyadari tangan yang membelai dan menopangmu di hembus lemah nafasmu.
Jika hidupmu terasa hancur, berkeping serupa guci terbanting di kerasnya dinding. Lukislah kumpulan lebah madu yang pernah kau cecap manis madunya. Demikianlah cinta bekerja. Ikhlas, tanpa terburu-buru. Seikhlas sang pembuat guci mengukir jiwa ragamu. Kesabaran akan menyelamatkanmu. Memungut keping demi keping serpihan hidupmu. Merangkai kembali menjadi sesuatu yang baru, yang mungkin indahnya tak kan pernah kau tahu. Jika pun begitu dukamu meluruhkan dayamu. Telapak tanganku terbuka untuk setiap tetes air matamu. Atau mungkin kau butuh waktu untuk menyendiri. Menyadari seorang sahabat yang juga pernah hancur lebur sepertimu.
Jika di waktumu menyendiri, hatimu terasa sunyi. Camkan baik-baik di ingatanmu: jangan pernah merasa sendiri. Di sunyi hatimu ada sepi hatiku. Dan Dia ada untuk menemani kita.

Kiamat dan Ratu Adil

ilustrasi dari shutterstock.com
Hari ini, Sabtu 21 Mei 2011, sudah berjalan hingga lewat tengah hari. Sebagian besar orang Kristen yang mendengarkan “maklumat” Presiden Family Radio, Howard Camping, sudah dag-dig-dug, jam berapa ya kiamatnya? Mungkin, bagi orang yang “termakan” maklumat Camping, tadi malam menekuk lutut, bertobat habis-habisan. Mengucapkan janji-janji ampun-ampunan, semoga dosanya terampuni dan sanggup menyongsong kiamat. Bagi yang sudah terlanjur frustasi, semalam suntuk mabuk-mabukan dan bersuka ria, siapa tahu besok sudah tidak mungkin lagi. Setelah hari ini berjalan seperti biasa dan baik-baik saja, apa yang terlintas di benak mereka? Mungkin sebagian besar kembali seperti biasanya dan dengan bodohnya mengucap syukur kiamat tidak jadi sehingga pertobatan bisa ditunda lagi sampai ada pengumuman kiamat berikutnya.
Lain lagi reaksi orang yang apatis pada tokoh agama. Dalam hati mungkin bergumam, kayak dia tahu rencana Tuhan saja. Ketika ucapan tokoh agama tidak terbukti, semakin kikislah legitimasinya sebagai penyambung lidah Tuhan. Bayangkan kalau tokoh-tokoh agama asal bicara, overclaim dan merasa dialah wakil Tuhan di bumi ini, lalu ucapannya melampaui batas-batas wewenang manusia, bukankah dia sedang membusukkan agamanya sendiri? Masih pantaskah tokoh-tokoh semacam itu dipercaya dan dijadikan panutan masyarakat? Akhirnya, orang yang apatis akan semakin apatis dan tak jarang berujung pada penolakan terhadap agama.
Kiamat menandai kedatangan Isa kedua kalinya di dunia ini. Meski berulang kali ada pihak yang meramalkan kapan kiamat terjadi dan berulang kali juga tidak terbukti, tetapi mengapa kebiasaan “menakut-takuti” akan datangnya kiamat tetap bermunculan? Apakah ini dapat diartikan sebagai bentuk rasa frustasi akan hilangnya harapan bahwa dunia ini tidak beranjak menjadi lebih baik? Lalu jalan pintas ditempuh supaya orang segera berbalik arah memperbaiki diri? Mungkin begitu bentuk frustasi orang Amerika.
Lain di Amerika, lain lagi di Indonesia. Selama ini, meski banyak yang frustasi, belum ada yang berani meramalkan kiamat secara terbuka. Tidak berani mengumumkan secara terbuka tersebut bisa jadi karena takut dihujat, atau memang religius atau sebenarnya memang takut mati. Paling pol yang keluar adalah harap-harap cemas ratu adil. Soekarno pernah menjawab soal ratu adil begini:
“Tuan-tuan Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya datangnya Ratu Adil. Dan sering kali kita mendengar di desa sini atau di desa situ telah muncul seorang “Imam Mahdi”, atau “Heru Cakra”. Tak lain tak bukan, karena rakyat menunggu dan mengharap pertolongan.” (Indonesia Menggugat)
Apa jadinya jika ratu adil yang ditunggu tak kunjung datang? Ada yang frustasi semakin parah hingga stress ringan, depresi bahkan gila. Mengharap pertolongan tapi tak pernah ada yang datang menolong lama-lama “kenthir” sendiri. Sakit psikologis merajalela. Dan ketika sakit ini dibiarkan berlarut-larut, maka tindakan-tindakan manusianya semakin menjauh dari rasionalitas manusia. Bunuh diri, anarkis, apatis, ekstrimis dan mencari bentuk-bentuk baru dengan harapan ada pelepasan beban secara instan. (Memang ada jamu anti melarat yang cespleng?) Berbagai aliran seperti jamur di musim hujan, berkembang dengan pesat. Akal sehat manusia benar-benar menjadi tumpul. Dan tak jauh-jauh dengan Amerika, isu kiamat pun bisa jadi dikumandangkan, meski sembunyi-sembunyi. Semua itu berawal dari depresi berkepanjangan. Rekoso kok ra sudo-sudo…
Ada hal sederhana yang terlupa bahwa sejatinya manusia mendapat tugas menjaga bumi dan kehidupan di dalamnya. Apakah tugas itu sudah diemban dengan baik? Mengapa kita lebih suka menunggu “penyelamat” itu datang? Waktu yang digunakan untuk menunggu itu mungkin sudah dapat menghasilkan tiga atau empat pemimpin besar dalam satu abad ini. Tugas menjaga bumi berarti pula tugas menyemai, memelihara dan menjaga benih-benih penyelamat. Mengkader pemimpin-pemimpin baru. Mengapa kita meragukan kepercayaan yang dimandatkan Tuhan pada manusia yang menjadi bukti nyata bahwa manusia mampu menjaga bumi dan kehidupan di dalamnya? Mari berbangkit dengan menajamkan prasangka baik. Positive thinking! Hingga tidak ada lagi model intimidasi, menakut-takuti ala agama dan harapan semu ratu adil. Pegang dan pupuklah apa yang ada di tangan. Karena hal-hal besar selalu dimulai dari hal-hal kecil yang ada di depan mata.

dan Tibalah

Puisi Heny Ayu Candrasasi*)
sesungguhnya kita telah sangat mengerti,
apa yang terseret waktu akan segera menjadi masa lalu,
senyummu,
gelak tawa kita,
pada akhirnya akan berlalu.
kebersamaan, tak ubahnya rerimbun dedaunan yang bertunas dan tumbuh bersama pada sebuah pokok pohon,
sekali waktu angin bertiup menggerisikan kita,
kali lain ia menanggalkan helai kita satu demi satu.
tak bisa memilih untuk tanggal atau tetap tinggal,
pun tak bisa meminta angin menerbangkan kita bersama,
kala kini kau tanggal,
tertiup angin menjauh dari pohon kita,
aku tinggal,
memandang pucuk-pucuk daun baru bertunas,
mensyukuri setiap detik waktu yang pernah kita lewati bersama.

*)Penulis pengelola blog Sendja

Keindahan yang Teraniaya: Candi Ijo

Candi Ijo adalah candi Hindu yang berada tidak jauh dari Candi Ratu Boko atau kita-kira 18 km di sebelah timur kota Yogyakarta. Candi ini dibangun pada abad ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno, dan terletak pada ketinggian 410 meter di atas permukaan laut. Karena berada di atas bukit yang disebut Gumuk Ijo, maka pemandangan di sekitar candi sangat indah, terutama kalau melihat ke arah barat akan terlihat wilayah persawahan dan Bandara Adisucipto.
Candi ini merupakan kompleks 17 buah bangunan yang berada pada sebelas teras berundak. Pada bagian pintu masuk terdapat ukiran kala makara, berupa mulut raksasa (kala) yang berbadan naga (makara), seperti yang nampak pada pintu masuk Candi Borobudur. Dalam kompleks candi ini terdapat tiga candi perwara yang menunjukkan penghormatan masyarakat Hindu kepada Trimurti: Brahma, Wisnu, dan Syiwa.
Sumber:Wikipedia
Sayang, candi peninggalan bersejarah tersebut tampak tidak terawat dengan memadai. Pada saat foto ini diambil, candi nyaris seperti tempat penitipan kayu. Setiap orang leluasa keluar masuk sehingga tidak heran jika candi menjadi tempat idola para pasangan lain jenis yang ingin melampiaskan rindunya. Mungkin karena pasangan-pasangan yang ke sana tidak tahu bahwa candi pun sebenarnya tempat beribadah, bukan tempat bermesum ria.
Jika melihat pemandangan alam di sekitarnya, sungguh memang amat memikat. Saya membayangkan seandainya tinggal di sana, rasanya seperti hidup di negeri di awan. Sampai kapankah keindahan-keindahan itu akan teraniaya?

Ketika Delapan Bidadari Bersimfoni (24 – Senarai Kisah dari Kampung Fiksi)

Buku 24 - Senarai Kisah dari Kampung Fiksi
Apa yang kau rasakan ketika menyaksikan delapan bidadari bersimfoni? Gundahkah? Resahkah? Atau terbengong-bengong terhujam selaksa rasa yang sepertinya hanya ada dalam imaji khayalmu? Cinta. Rindu. Bahagia. Lega. Harap. Mimpi. Maya. Atau hanya rasa sederhana: suka!
Aku? Terpelanting pada rasa tidak percaya. Delapan bidadari itu memainkan simfoni kata-kata. Saling mengisi. Saling melengkapi. Hingga nada sumbang menjadi tembang. Dan tarian kata mencipta pesan nyata: hidup ini indah!
Seperti ketika engkau berdiri di tepi laut biru. Mencecap aromanya setetes demi setetes. Lalu desah debur ombaknya dapat kau rasa bersama Lelaki yang Melukis Negeri di Seberang Laut yang berkata: Akan kulukis negeri ini, seperti indahnya negeri seberang yang terletak di balik horizon, nun jauh di sana. Itu persis seperti ketika engkau menikmati nada lembut alunan organ yang mengalir tanpa sela hingga membawamu melayang, Bertualang dalam Lamunan bersama Indah Widianto yang terperangkap angan bersama Francesco Totti.
Jangan salahkan dirimu jika ketika menyaksikan delapan bidadari bersimfoni lantas kau nyaris ekstase. Permainan denting-denting melodi G pada Bayi dalam Diksi menimpali nada sederhana 13 Perempuan Endah Raharjo hingga mungkin saja ekstasemu nyaris semakin menjadi-jadi. Jangan pula salahkan dirimu jika kemudian engkau menjadi ketagihan. Sebab, simfoni itu Bagai Shabu-sabhu. Melambungkanmu ke awan. Berulang. Berkali-kali. Up-down-up-down yang kemudian mengajakmu untuk mengulang lagi, lagi, sekali lagi dan lagi.
Untuk menjagamu tetap sadar, selingi keasyikanmu dengan menyantap Cupcake Cinta Winda Krisnadefa. Agar selagi engkau menikmati simfoni, tetaplah kakimu berpijak pada bumi seperti Sri dan Merapi. Tak perlu Takut kehilangan, karena ada kata Setia Ria Tumimomor. Hidup ini memang indah, meski kadang berbalut kesah bagai Wanita di Balik Jendela yang mungkin tersiksa Gara-gara Main Hati. Saat resah menyapa, dengarkan simfoni dari delapan bidadari. Pagi. Siang. Senja. Malam. Jangan kau penggal-penggal nadanya. Jangan kau acak-acak aransemennya. Sebab, jika engkau begitu, engkau tidak akan mendapat yang lebih sempurna. Dengarkan secara utuh. Lihat tarian kata dengan penuh. Niscaya sampai Akhir Sebuah Perjalanan, semua terasa indah. Bersama delapan bidadari bersimfoni -Winda Krisnadefa, Deasy Maria, Endah Raharjo, G, Sari Novita, Indah Widianto, Ria Tumimomor, dan Meliana Indie– melantunkan 24 Senarai Kisah dari Kampung Fiksi.

Judul Buku : 24 – Senarai Kisah dari Kampung Fiksi
Penulis : @Kampung Fiksi (Winda Krisnadefa, Deasy Maria, Endah Raharjo, G, Sari Novita, Indah Widianto, Ria Tumimomor, dan Meliana Indie)
Penerbit : Kampung Fiksi
Cetakan : I, 2011
Tebal : 196 halaman

Surat Kepada Sahabat

Puisi: Kristina E.

ilustrasi: picfor.bildero.net
Retakan kata. Mungkin adalah kata yang tepat untuk kugunakan ketika aku tidak tahu rangkaian kata apa untuk melukiskan perasaanku. Aku bukan seorang penulis, bukan pula penyair. Tetapi aku punya rasa. Aku hanya ingin kamu mengetahuinya, wahai temanku, sahabatku, kekasih hatiku.

Maafkan aku sebelumnya, jika aku mengasihimu hingga aku tak mau menjauh darimu. Mungkin aku menjijikanmu hingga menoleh padaku pun kamu tak mau. Aku terima itu, karena aku lebih mengasihimu. Namun tahukah kamu, hatiku selalu mencarimu. Bukan untuk memilikimu. Bukan! Karena aku mengasihimu.

Teringat lekat masa-masa bersamamu. Singkat, namun begitu lekat. Tak pernah kulupa. Sayangnya, semua adalah masa lalu, yang tentu saja telah berlalu. Kamu telah berubah, atau aku yang tidak memahamimu dari awal? Aku tak tahu. Yang kutahu aku mengasihimu. Aku merasa gundah ketika kutahu kamu tak pedulikanku. Apakah salahku? Tetapi itulah hakmu.

Temanku, sahabatku, kekasih hatiku. Meski tak kauhiraukan aku tetapi kamu selalu hidup di hatiku. Menemaniku tatkala sendiri terkurung sepi. Memenuhi jiwaku ketika galau. Sekali lagi aku tak tahu mengapa kamu begitu? Apa salahku?

Aku tak peduli bagaimana hatimu. Aku akan terus mengasihimu. Engkau adalah masa lalu yang berusaha untuk kukubur. Hari-hari akan kujelang karena ingatanku kepadamu. Bukan ingatan masa lalu tetapi tuntunan masa depanku.

Temanku, sahabatku, kekasih hatiku,
Aku mengasihimu.

Jakarta, April 2011

Tiga Cerita, Tiga Peristiwa

Puisi Rara Wardhani

ilustrasi dari kaskus

Babak I :
Sekarang katakanlah, siapa yang sebenarnya sedang bersenandung lagu kemenangan, aku, kamu, kita atau mereka. Maafkan aku, tapi aku menikmati pertarungan ini, saat ribuan mata bocah, ribuan hati tak bermakna, ribuan jiwa melirik, meradang, melihat, memandang, dengan sebongkah penuh tanda tanya di dalam jiwa dan pikiran mereka. Seperti api dalam sekam yang siap membakar seekor kambing ukuran besar, Aku menikmati waktuku, saat para bocah berseradak seruduk seperti kerbau, berguling-guling seperti cacing dibawah panasnya terik matahari mencari jawaban tapi tak pernah pasti, oh ada apa gerangan dengan takdir-Nya kali ini. Di mana pun aku berada, aku adalah aku. Yakinlah bisik-bisik di antara rindangnya pepohonan yang lantas terbawa oleh angin dan terdengar olehku tak lagi memerahkan telingaku, pun kau berteriak lantang, wahai kau yang bernama aku, apalagi yang kau punya jika matamu pun tak lagi jujur. Lucu, aneh, dramatis, dengarlah kau yang bernama kau, tidakkah kau yang mencontohkan aku hingga tak seekor semut tahu beda mata (hati) yang jujur dan mata (hati) yang berlumpur.

Babak II :
Maafkan aku, tapi mata (hati) ini terampas dari tempatnya di saat hari naas itu ada seorang pujangga turun dari langit berperang melawan pendekar yang perkasa dan si pujangga memenangkan pertandingannya, menikmati peperangannya dan merampas mata (hati) ini dan tinggalah aku yang bernama aku tersiksa karena tak lagi bermata (hati). Oh sedih, oh merana hati, oh mengering jiwa, apalah arti jiwa jika tak berhati pun tak bermata, tak lagi jujur tak lagi telanjang hanya penuh tulisan bertuliskan hm karena, hm begini, hm begitu. Oh oh oh.. kembalikan mata (hati) kembali di tempatnya, agar aku yang bernama aku kembali bercerita tentang cinta lain yang menggelora liar di dalam jiwa raga dan tak lagi terpasung oleh sebuah peristiwa bernama ego.

Babak III:
Wahai kau sang pujangga, apakah ada dusta berkejaran dengan ego di dalam jiwa dan pikiranmu atau kau hanya sekedar permainan kata-kata tanpa makna bersembunyi di balik sebuah peristiwa bernama iba. Semoga kelak kau memahami, bila sebuah jiwa tanpa rasa tanpa hati hidup maka apalah artinya hidup. Dan disaat jiwa ini berbasuh luluh, peluh, bermandikan pedih, sejuta propagandamu itu makin meroket dan merobek hati. Duh Sang Maha, saat seorang pujangga sibuk berdusta, tidakkah KAU lihat ada air mata (hati) yang mengalir tak henti di pipi seorang perempuan mengisyaratkan sebuah luka yang dalam. Beginikah rasa bila seorang pengemis tua lapar dan haus berjalan gontai di depan sebuah toko roti, maka hanya bau saja yang mampu dirasa, hanya fantasi saja yang tercipta. Pedih, sedih dan luka.

Dan bacalah babak demi babak yang sudah tercipta maka tidakkah tidak ada yang bersenandung lagu kemenangan kecuali hanya senandung kesedihan yang tercipta.

Papua, 10 Agustus 2009

ketika pada suatu ketika

image dari rismanrasawordpressdotcom

Duduklah sejenak di sampingku
Kakimu di atas bahuku pun tak apa
Bukankah sejak lama kau merindukannya?
Tak usah ragu, tak usah sendu
Tokh kita tidak sedang terlanda romansa
Hanya dua nyawa terperangkap botol anggurnya
Sedikit mabuk, tapi yakinlah, kita tak kan mati karenanya
Lunas berkali kutenggak isinya
Nyata senyatanya aku masih mampu membelai bulu kakimu bukan?

Oh ya, dengarkan aku,

Ketika aku seruwet radio
Tentu saja kau tak harus mendengarnya
Kau boleh tidur dengan kakimu tetap di atas bahuku
Aku akan memindahkannya ketika pagi tiba
Hingga kau meringkuk serupa bocah, suaraku sudah tertelan masa
sungguh, itu membuatku tampak konyol
Khotbahku tak sempat mampir di telingamu

Ketika aku mengajakmu dialog
Tak perlu malu mengataiku sedang monolog
Yakinlah bahwa cinta banyak wujudnya
Meski monolog bukanlah sesuatu yang romantis,
biarkan mulutku tetap bersuara
Karena kau tentu tahu, egoku malu mengakui, ternyata ucapmu ada benarnya
Hingga ketika pada suatu ketika
kita tak lagi membutuhkan suara
Dan cinta menari-nari di antara sunyi dua hati

medio april 2011
ragil koentjorodjati

pada Mikail

ilustrasi dari luckymojodotcom
Wahai Mikail,
jawab tanyaku,
di manakah serigala hendak sembunyi, jika kau hanguskan lubangnya?

Lolongnya jadi lolong kami;
Buasnya jadi buas kami;
Liarnya jadi liar kami;

Kini kau tampak kebingungan mengarahkan mata pedangmu.

Wahai Mikail,
jawab tanyaku,
benarkah iblis telah mati di tanganmu?

Tolong ceriterakan,
bagaimana kau telah memutus urat nadi di lehernya?

Aku meragukannya.

Medio April 2011
Ragil Koentjorodjati