Semua tulisan dari Ragil K

Sebuah titik di jagat semesta.

Dari Mana Datangnya Dinasti Tang? (Bagian 1)

Oleh John Kuan

Ilustrasi diambil dari bp.blogspot.com
Sebelum melanjutkan terjemahan puisi-puisi Dinasti Tang, saya ingin menulis satu dua hal yang berhubungan dengan latar belakang sejarah dan kebudayaan masa itu, catatan-catatan ini dapat dibaca sebagai lampiran untuk puisi-puisi Dinasti Tang yang pernah saya terjemahkan ataupun yang akan diterjemahkan. Catatan pertama ini akan menelusuri sepotong jalan yang cukup panjang menuju satu masa keemasan dalam sejarah Cina, yaitu Dinasti Tang.
Dari arah dan jalan mana Cina menuju Dinasti Tang? Sebagian besar cendekiawan berpendapat, hanya perlu mengikuti jalan budaya Cina yang sudah tersedia, cepat atau lambat pasti akan sampai di masa keemasan itu. Namun, kenyataannya mungkin tidak demikian. Jalan menuju jaman keemasan yang seperti Dinasti Tang memerlukan suatu kekuatan yang dashyat dan terbuka. Kekuatan ini juga pernah dimiliki Dinasti Qin dan Han, namun Dinasti Qin terlalu banyak menghabiskannya dalam intrik-intrik politik istana dan proyek-proyek raksasa, sedangkan Dinasti Han menghabiskannya dalam enam puluh tahun peperangan melawan suku Xiongnu di perbatasan, akhirnya dengan kesombongan dan kemewahan yang berlebihan telah menyebabkannya terpecah belah dan megap-megap. Walaupun Dinasti Wei (220 – 265) dan Dinasti Jin ( 265 – 420 ) terus berusaha menyusun kembali kekuatan melangkah ke arah terang, tetapi itu adalah sebuah jaman kegelapan, dengan setitik cahaya lemah dari para cendekiawan yang cenderung misterius seperti Tao Yuanming atau Wang Xizhi, bagaimana dapat menembus setapak yang gelap dan berkabut itu? Jadi bagaimana dalam keadaan begini dapat menciptakan sebuah jaman yang megah seperti Dinasti Tang?
Kekuatan yang diperlukan untuk membuka sebuah jaman keemasan sudah tidak mungkin lagi dihasilkan istana ataupun dunia cendekiawan, kekuatan itu hanya mungkin berasal dari alam terbuka. Kekuatan alam terbuka, juga dapat disebut kekuatan liar, sesuatu yang belum menyentuh peradaban. Apakah mungkin suatu kekuatan liar dapat ikut membangun sebuah puncak kebudayaan besar? Ini sangat tergantung apakah dia dapat dengan cepat memasuki peradaban. Seandainya demikian, maka kekuatan liar itu akan dapat menopang seluruh peradaban yang dimasukinya.
Tepat pada waktu itu Cina mendapat satu kekuatan liar begini, kekuatan ini berasal dari Donglu, bagian paling utara Pergunungan Khingan Agung di daerah Mongolia. Di sana hidup orang-orang nomaden yang disebut suku Xianbei, di antaranya ada satu klan yang agak menonjol, yaitu klan Tuoba. Setelah suku Xiongnu terpencar ke arah barat dan selatan dalam penaklukan Kaisar Han Wudi (156 SM – 87 SM), klan Tuoba datang ke tanah suku Xiongnu yang semula, dengan kekuatannya memaksa orang-orang Xiongnu yang tersisa beraliansi, mengalahkan suku-suku lain, menjadi yang terkuat di daerah utara, kemudian di ujung abad ke-4 mendirikan sebuah kerajaan di Pingcheng ( kini terletak di Datong, Provinsi Shanxi ). Atas saran seorang suku Han, nama kerajaannya diubah menjadi ‘ Wei “, ini untuk menunjukkan bahwa dia telah menerima kekuasaan dari klan Wei jaman Sanguo ( Samkok ) dan resmi memasuki sejarah Cina, catatan sejarah menyebutnya Dinasti Wei Utara. Dan setelah melalui peperangan dan penaklukan selama setengah abad, Dinasti Wei Utara telah selesai menyatukan seluruh daerah perairan Sungai Kuning.
Kemenangan, serta meluasnya teritori kekuasaan yang dibawa oleh kemenangan telah membuat pemimpin suku Xianbei yang mendirikan Dinasti Wei Utara terpaksa harus terlibat dalam pemikiran-pemikiran tentang kebudayaan. Persoalan yang paling jelas adalah: Suku Han telah dikalahkan, dapat diberdayakan, namun, yang diwakili suku Han adalah peradaban agraris, dan ini tidak dapat begitu saja diberdayakan oleh aturan-aturan peradaban nomaden. Ingin efektif memerintah sebuah peradaban agraris, tentu harus menekan kekuasaan absolut, melaksanakan sistem persamaan tanah ( 均田制 ), sistem pencatatan kartu keluarga ( 户籍制 ), sistem pembayaran pajak ( 纳税制 ), sistem pembagian wilayah, dan sistem-sistem ini masih menyeret serangkaian perubahan besar dalam cara hidup dan bentuk kebudayaan. Mereka dapat memilih tidak melakukan perubahan, menelantarkan tanah subur delta Sungai Kuning menjadi tanah berburu, bersama-sama mundur ke jaman primitif; atau memilih melakukan perubahan, membiarkan kebudayaan suku yang telah dikalahkan mengalahkan mereka, bersama-sama maju menuju peradaban baru.
Orang-orang bijak suku Xianbei dengan tekad dan keberanian memilih dikalahkan. Ini tentu harus menghadapi berbagai rintangan dari lingkup dalam mereka. Jiwa kesukuan yang tertutup dan angkuh serta rapuh, berkali-kali berubah jadi pembunuhan brutal. Banyak juga suku Han yang menjadi pejabat di sana mati dengan mengenaskan. Namun, sejarah memihaknya, Langit memberkati, sepotong jalan revolusi penuh bercak darah itu akhirnya dapat menembus satu kesimpulan: Hanisasi (Saya lebih suka menggunakan kata yang saya buat sendiri ini daripada Sinifikasi – kurang lebih artinya mengadopsi kebudayaan suku Han). Sekitar ujung abad ke-5 Masehi, dimulai oleh Ratu Feng (442 – 490) dan dilanjutkan Kaisar Xiaowen (467 – 499), serangkaian penerapan hanisasi dilaksanakan dengan keras dan efektif. Terlebih dahulu diterapkan pada sistem pemerintahan dan sistem pertanian, kemudian perubahan-perubahan ini dengan cepat didorong ke arah kebudayaan.
Pertama, memindahkan ibukota ke arah selatan dari Pingcheng (Datong, Provinsi Shanxi) ke Luoyang di Henan. Alasannya adalah kampung halaman di utara lebih cocok ‘ pemerintah militer ( 武功 ) ‘ ala nomaden, dan daerah selatan akan lebih cocok menerapkan ‘ pemerintah sipil ( 文治 ) ‘. Dan yang dimaksud ‘ pemerintah sipil ‘ di sini adalah sepenuhnya menerapkan sistem pemberdayaan masyarakat orang Han.
Kedua, dilarang menggunakan bahasa suku Xianbei, seluruhnya menggunakan bahasa Han. Pejabat-pejabat yang telah berumur diijinkan satu masa adaptasi, dan bagi pejabat muda dibawah tiga puluh tahun jika masih menggunakan bahasa suku Xianbei, segera diturunkan pangkat dan dihukum.
Ketiga, meninggalkan pakaian adat dan pernak-pernik suku Xianbei, menerapkan tatacara dan aturan berpakaian suku Han.
Keempat, orang-orang suku Xianbei yang telah pindah ke Luoyang, seluruhnya mengubah tempat asal menjadi ‘ Luoyang, Henan ‘, setelah mati dikuburkan di Bukit Mang ( 邙山 ) di sisi utara Luoyang.
Kelima, nama klan suku Xianbei diubah menjadi marga suku Han yang satu kata.
Keenam, menerapkan tatacara li ( 礼 – di sini mungkin bisa diartikan sebagai ritual ) suku Han untuk menggantikan cara-cara lama penyembahan suku Xianbei.
Ketujuh, menganjurkan kawin campur antara suku Xianbei dan suku Han, ditentukan harus dimulai oleh bangsawan suku Xianbei, kawin campur dengan golongan terpelajar suku Han.

……

Begini banyak perintah, dikeluarkan oleh seorang penguasa minoritas yang kuat menggenggam tampuk kekuasaan, dan di sekelilingnya tidak ada yang mendesaknya melakukan semua ini, memang dapat membuat orang terhenyak. Saya rasa, ini bukan hanya di Cina, bahkan di dunia juga sangat jarang terjadi.
Perlawanan yang keras dan penuh amarah terhadap hal ini dapat dengan mudah kita bayangkan, semua perlawanan itu berentetan, penuh semangat, berhubungan dengan harga diri suku. Bahkan melibatkan anggota keluarga Kaisar Xiowen dan putra mahkota. Hukuman dari Kaisar Xiowen terhadap perlawanan ini juga sangat kejam, samasekali tidak memberi kesempatan.
Ini sudah sedikit menyerupai tokoh dalam drama Shakespeare. Sebagai penerus penguasa minoritas, dia pasti merasa bangga dengan leluhurnya, tetapi dia juga yang harus mengeluarkan perintah-perintah melepaskan tradisi leluhurnya. Terhadap hal ini, dia berusaha keras menahan penderitaan batin. Namun karena sangat menderita dan pahit, maka dia memilih perubahan yang tuntas, tidak membiarkan dirinya dan bawahannya ragu dan goyang. Dia menghukum setiap perlawanan persis seperti dia menghukum dirinya yang satu lagi.
Raja sebelumnya, Touba Gui ( 拓拔珪, yang bergelar Kaisar Daowu – 道武帝, 386 – 409 ) yang pertama kali menggagas hanisasi, dan karena pergolakan batin yang sama menyebabkan dia mengalami kekacauan pikiran, berbicara sendiri, berubah jadi beringas, sesuka hati membunuh bawahannya. Ini mungkin merupakan akibat yang pasti akan terjadi dari proses penggabungan dua budaya atau cara hidup yang sangat berbeda. Proses begini biasanya berlangsung ratusan tahun atau kadang-kadang bahkan sampai ribuan tahun baru selesai. Namun mereka memaksa menekan menjadi puluhan tahun, oleh sebab itu, sejarah sendiri saja dibuatnya limbung dan hampir pingsan.
Kaisar Xiowen meninggal di tahun penutup abad ke-5, namun, usianya hanya tiga puluh dua tahun. Kaisar Xiowen yang bernama Tuoba Hong ( 拓拔弘 ) ini hanya tiga puluh dua tahun di dunia dan ternyata telah melakukan begitu banyak perubahan-perubahan besar, benar-benar sulit dipercaya. Dalam catatan resmi dia naik tahta pada usia empat tahun, di atas tahta selama dua puluh delapan tahun, namun kenyataan adalah neneknya, Ratu Feng yang mengendalikan seluruh urusan negara. Setelah Ratu Feng meninggal dunia, dia sudah berumur dua puluh tiga tahun, jadi, dia secara mandiri memerintah hanya sekitar sembilan tahun.
Ini adalah sembilan tahun yang luar biasa. Walaupun ketegasan dan keberaniannya telah membawa akibat kekacauan politik yang rumit setelah dia meninggal. Tetapi, serangkaian perubahan-perubahan yang sangat mendalam terhadap kehidupan dan kebudayaan sudah sangat sulit berbalik arah lagi, dan inilah hal yang paling penting. Dia menggunakan sembilan tahun mendorong Cina bagian utara memasuki satu titik kebudayaan yang sangat menentukan arah perkembangan kebudayaan Cina. Oleh sebab itu dia adalah seorang Kaisar yang sangat berhasil dalam sejarah suku Xianbei, atau sejarah Dinasti Wei Utara maupun sejarah Cina secara keseluruhan. Saya kira dialah orang yang melakukan reformasi kebudayaan dalam arti yang sebenarnya.

Dari Mana datangnya Dinasti Tang? (Bagian 2)

Tentang Engkau

Puisi Ragil Koentjorodjati

ilustrasi diunduh dari google
Aku membebaskanmu,
serupa bibir pantai melepas resah,
dari berjuta rasa yang dilesakkan kecupan ombak,
meski cecamar membisik: jangan!

Aku membebaskanmu,
sebebas petualang membawa hati terbang,
membadaikan rasa: jatuh-melayang-jatuh-mengawang,
meski sekeping diri terbawa, entah ke mana menuju.

Aku membebaskanmu,
sebebas kehendak mempermainkan tulus cinta,
hingga saat musim hujan tiba, aromaku akan bersamamu,
mengingat perih batin mengering di hari bergerimis yang setiap rintiknya adalah basah

Dan ketika semua kausadari,
betapa waktu mampu mengubah cinta,
kita bukan lagi manusia yang sama.
:bukankah sepenggal kata yang telah terucap tak mungkin ditarik kembali?

25/01/2012

DI MANA?

Puisi Rere ‘Loreinetta
berada di mana engkau, belahan jiwaku?
adakah sedang berada di sempit ruang kecil sucimu
tempat engkau biasa berkeluh kesah pada dinding
atas semua bias sinar kelabu rona kehidupan
yang kadang tak berpihak padamu?

berada di mana engkau, jiwa kembarku?
adalah sedang berada di indah taman bunga hatimu
tempat engkau berdendang riang bersuka cita
nikmati semua keceriaan warna kehidupan
yang sesekali memberimu kesenangan?

berada di mana engkau, sahabat jiwaku?
atau engkau sedang berbicara pada alam semesta
di tengah padang sabana hatimu sendiri
tentang cinta dan kecintaan yang menyertai
halusinasi dan bayang khayalmu?

berada di mana engkau, pasangan jiwaku?
adakah engkau terbangun di malam sunyi sepi,
biarkan angin menelusup kisi-kisi jendela jiwamu
bawakan luapan gejolak kerinduan dan sepotong
cinta dariku yang senantiasa memandangmu
pastikan engkau ukir wajahku dalam kenanganmu?

berada di mana engkau, kekasih jiwaku?
masihkan di tempat semula menantikanku
yang terdiam dalam kacaunya kehidupan yang
menjebloskan paksa aku ke dalam hidupmu?

Sepasang Burung Gereja

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi dari duniasirkusdannie.files.wordpress.com
Suatu minggu pagi. Sedikit basah. Sepasang burung gereja tersentak bangun dari tidurnya. Lonceng berdenting pada minggu pagi, menyentuh gendang telinga mereka. Lalu rindu menyeruak, berbaur dengan wangi bunga lili dan sedap malam yang mekar tanpa pohon, di depan altar. Entah berapa ribu mata menitikkan duka di sana ketika bibir bernyanyi ‘Tuhan kasihanilah kami’.
“Berpuluh tahun kita tinggal di sini, tapi tak sekalipun kita pernah hinggap di altar itu,” bisik burung gereja jantan pada pasangannya.
“Karena kita adalah burung gereja, kasihku,” balas berbisik sang betina,”kita tidak berduka. Altar itu diperuntukkan bagi mereka yang terlalu berat memanggul salib.”
Seorang lelaki berjalan lesu memasuki pintu gerbang. Wajahnya pucat, hilang hati. Perlahan meraup air suci lalu membasuh mukanya. Yang dilakukannya di luar kelaziman tata cara peribadatan gereja. Seharusnya ia hanya mencelupkan jari, lalu membuat tanda salib dan berlutut. Tanda takluk dan penghormatan.
“Ia tidak membasuh muka. Lelaki itu sedang menghapus air matanya,” bisik burung jantan.
“Satu lagi peziarah yang payah,” kata burung betina,”sepertinya manusia lahir hanya untuk menderita.”
“Yah..mungkin itu sebabnya kita ada di sini. Mereka membutuhkan kicau burung, wangi bunga dan dupa, denting organ memainkan agnus dei dan manusia lemah itu terhibur.”
Kemudian kedua burung gereja itu terbang melayang menyusuri atap-atap tinggi gereja, meliuk di antara simfoni lonceng, organ dan ratap jerit belas kasihan. Mereka bercecuit melengkapi irama minggu pagi hingga pesta usai. Dan kemudian kembali ke sarang di balik plafon. Dalam senyum lelah tapi bahagia, mereka mendengar imam kepala berkata,”bersihkan gereja ini dari burung-burung pengganggu peribadatan. Jika perlu bunuh saja.”

Puisi-puisi Ragil Koentjorodjati

1. Semu
padaku kaukatakan,
:aku cinta padamu.
padamu kukatakan,
:kamu cinta padamu.

2. Cemburu
tuhan,
ada batu di hatiku,
warnanya ungu,
siap kulempar ke arahmu,
sejak kutahu kaumampu berbuat sesukamu.

3. Jarak
antara dua hati yang begitu lekat,
kaubentangkan jarak,
hanya diam dan hitam dan rindu dan dalam
hingga kita tidak tahu,
hati siapa yang sedang beranjak pergi.

4. Gerhana
gerhana bulan di luar sana?
oh? sudahlah!
cukup lama aku melupakannya.
sejak gerhana hati di dalam sini.

5. Lelah
setangkai kembang,
sebotol bir,
alkitab,
sebatang pisau,
selembar kafan,
doa,
:tuhan, aku lelah

setetes darah,
sepucuk wasiat,
dangdut,
:lebih baik aku mati di tanganmu daripada aku mati bunuh diri

catatan:
baris terakhir puisi lelah diambil dari lagu Muchsin Alatas.

LOMBA CERPEN RETAKANKATA

Oleh Ragil Koentjorodjati

Tidak terasa blog RetakanKata hampir berumur satu tahun sejak berdiri pada 13 Februari 2011, satu hari menjelang perayaan hari kasih sayang (Valentine Day). Pada usia yang masih sangat belia ini, RetakanKata sudah mempublikasi kurang lebih 125 artikel dalam waktu 10 bulan dan dikunjungi lebih dari 12300 kali. Memang belum berarti apa-apa untuk ukuran sebuah blog. Tetapi semua itu patut untuk disyukuri di tengah berbagai tantangan kesulitan sumber daya manusia pengelolanya dan juga tentu saja sumber daya finansial yang semuanya bergantung pada donasi pendirinya. Semua masih terus berproses untuk dan mewujudkan pembangunan budaya dengan pendekatan sastra. Budaya menulis, budaya membaca, budaya berpikir dan yang lebih penting mengurangi budaya instan.
Teknologi diciptakan untuk mempercepat proses dan berproduksi. Tetapi secanggih apapun teknologi, itu tidak mengubah bahwa manusia harus tetap berpikir, membaca, menulis dan belajar. Tanpa mempertahankan proses berpikir ini, teknologi akan mati dengan sendirinya dan kemudahan-kemudahan dari hasil teknologi pun akan mendatangkan kesulitan baru. Untuk itu perlu keseimbangan dan pemeliharaan agar manusia tidak terperangkap pada budaya instan yang semakin akut dan abai terhadap proses berpikir dan belajar, terbuai kehebatan dan kenikmatan dari hasil teknologi.
Untuk itu, dalam rangka peringatan 1 tahun blog RetakanKata dan dalam rangka mendukung pemeliharaan proses berpikir, blog RetakanKata menyelenggarakan lomba menulis cerpen dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Peserta adalah warga negara Indonesia dan memiliki kartu identitas (KTP/KTM/SIM/Kartu Pelajar atau Pasport Indonesia).
2. Tema: Bebas.
3. Peserta hanya boleh mengirimkan satu karya cerpen dengan ketentuan.
• Peserta mengirim email dengan subyek LOMBA CERPEN RETAKANKATA ke retakankata@gmail.com dengan dilampiri dua file. Satu file berisi cerpen yang dilombakan (tanpa mencantumkan nama penulis dalam tulisan cerpen) dan satu file berisi biodata penulis secukupnya dan rekening bank serta dilampiri hasil scan kartu identitas.
• Peserta mendaftar dengan cara submit sebagai follower (daftar email berlangganan) pada blog RetakanKata dengan menggunakan alamat email yang akan digunakan untuk mengirim CERPEN serta tergabung dalam facebook page RetakanKata (Blog Seni dan Budaya). Pendaftaran lomba ini tidak dipungut biaya alias GRATIS. Batas akhir pendaftaran tanggal 5 Februari 2012.
• Batas akhir pengiriman naskah adalah tanggal 10 Februari 2012 pukul 12.00 siang WIB.
• Cerpen yang dilombakan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya, baik di media cetak maupun portal dan blog pribadi.
• Cerpen tidak sedang diikutkan dalam perlombaan serupa.
• Cerpen ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai kaidah bahasa Indonesia.
• Cerpen adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan sebagian atau seluruhnya.
• Cerpen diketik dengan menggunakan huruf Times New Roman, font 12, pada kertas A4 dengan spasi 1,5 margin 4 cm dari atas, 4 cm dari kiri, 3 cm dari bawah, 3 cm dari kanan, dengan jumlah kata antara 1200 sampai dengan 3500 kata, termasuk judul dan catatan kaki.
• Cerpen tidak mencantumkan nama pengarang.
4. Penilaian cerpen menggunakan sistem blind review (penulis dan penilai tidak diketahui namanya). Unsur utama yang dinilai adalah keindahan, kepadatan (bernas) cerita, dan kebahasaan. Cerpen yang tidak memenuhi ketentuan pada butir tiga, secara otomatis gugur. Seleksi pertama, akan dipilih 15 (lima belas) cerpen terbaik. Seleksi berikutnya, dari lima belas cerpen terbaik tersebut, akan dipilih Juara I dan Juara II. Lima belas cerpen terbaik akan dibukukan.5. Hadiah:
• Juara I Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) ditambah buku kumpulan cerpen lima belas terbaik.
• Juara II Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) ditambah buku kumpulan cerpen lima belas terbaik.
• Peserta yang cerpennya masuk pada lima belas cerpen terbaik akan mendapat buku kumpulan cerpen lima belas terbaik.
6. Ketentuan lain:
• Semua cerpen yang dilombakan menjadi milik blog RetakanKata dan boleh dipublikasikan di blog RetakanKata.
• Lima belas cerpen terbaik menjadi milik bersama yaitu penulis dan blog RetakanKata.
• Keputusan juri atas lomba ini tidak dapat diganggu gugat.
• Apabila di kemudian hari ditemukan pelanggaran atas ketentuan lomba ini, maka tanggung jawab sepenuhnya ada pada penulis dan dikenai sanksi pencabutan penghargaan sebagai pemenang lomba, serta mengganti kerugian yang ditimbulkan.
• Keuntungan dari penjualan buku lima belas cerpen terbaik akan dibagi tiga yaitu, untuk sosial (panti asuhan dan anak jalanan), untuk penulis dan untuk blog RetakanKata.
• Ketentuan lain yang mungkin perlu ditambahkan dan hal-hal yang belum jelas akan disampaikan lewat email. Demikian juga dengan pertanyaan, agar disampaikan lewat email.Selamat Berkarya!

Terkait dengan Lomba Cerpen RetakanKata:
Informasi Lomba Cerpen RetakanKata

HATI

Puisi Rere ‘Loreinetta

Lubang hitam dalam hati kecilku tak bisa kutambal
ia selalu menyerap semua merah dalam jiwaku
bak pusaran air pada samudera bergejolak
yang selalu tenggelamkan hasrat penuh gelora

Sewaktu-waktu ia akan menelan seluruh hatiku
dan punahkan segala rasa yang pernah kupunya
yang bila itu kemudian terjadi mungkin aku tidak mati
hanya aku tak lagi memiliki hati

*RL/RLA/RK

Puisi-puisi Rere ‘Loreinetta:
Sajak Perempuan Terpasung
Tentang Engkau
Aku

DEVI DJA DALAM CATATAN RAMADHAN KH

Oleh Rere ‘Loreinetta

Menurut catatan Ramadhan KH, Devi Dja atau “Bintang Dari Timur” lahir pada 1 Agustus 1914 di Sentul, Yogyakarta, dengan nama kecil Misria dan kemudian menjadi Soetidjah. Dia sering menguntit kakek dan neneknya, Pak Satiran dan Bu Sriatun, ngamen berkeliling kampung memetik siter. Devi Dja memang memiliki minat seni sejak kecil. Dia juga berangkat dari keluarga Jawa yang miskin di awal abad ke-20.

Dan sejak itu, karirnya di Dardanella mulai menanjak. Perlahan tapi pasti ia berhasil menjadi menyaingi ketenaran Miss. Riboet dan Fifi Young, dua wanita pemeran utama Dardanella. Bersama Tan Tjeng Bok, Soetidjah menjadi sosok penting dalam kisah sukses grup Dardanella. Dia lalu terkenal dengan nama Miss. Devi Dja.

Saat Dardanella pertama kali mentas di luar negeri, Devi Dja baru 17 tahun. Usia yang kata Devi Dja lagi seger-segernya. Menurut catatan Ramadhan KH, saat Dardanella manggung di luar negeri, nama kelompok Dardanella mulai berganti-ganti, dengan personil yang juga berganti-ganti. Kecuali Pedro dan Devi Dja tentunya.

Dardanella lalu main di Hongkong, New Delhi, Karachi, Bagdad, Basra, Beirut, Kairo, Yerusalem, Athena, Roma. Terus keliling Negeri Belanda, Swiss, dan Jerman. Pada Mei 1937 saat manggung di India, rombongan mereka disaksikan oleh Jawaharlal Nehru yang kemudian jadi pemimpin negeri itu. Kabarnya Pedro dan Devi Dja sempat menginap di rumah Mahatma Gandhi.

Dan seperti dituturkan Devi Dja pada Majalah Tempo di tahun 80-an, saat bermain di luar negeri, Dardanella berubah namanya menjadi “The Royal Bali-Java Dance”. “Kami lebih mengutamakan tari-tarian daripada sandiwara, sebab khawatir penonton tidak tahu bahasanya,” katanya.

Ramadhan KH menulis, di tengah kegelisahan masyarakat Eropa khususnya, Pedro kemudian mengambil keputusan menyeberang ke Amerika saat mereka sedang berada di Belanda. Akhirnya bersama rombongan kecil Dardanella, Devi Dja naik kapal “Rotterdam” menuju Amerika.

Perhitungan Pedro ketika itu barangkali karena negara Amerika relatif lebih menjanjikan, lagipula Amerika tidak terlibat terlalu jauh dalam perang dunia pertama.

Dengan nama tenar yang disandangnya, sesampainya di Amerika mereka mendapat sponsor dari Columbia untuk mementaskan karya-karya mereka di hampir seluruh kota besar Amerika. “Kami keliling, tidur di trem saja. Cuma di New York menetap dua minggu,” tutur Devi Dja

SAJAK PEREMPUAN TERPASUNG

Puisi Rere ‘Loreinetta
kesalahan demi kesalahan
telah terjadi dan kauperbuat
melulu walau tanpa kausadari terus berkesinambungan
kesalahan-kesalahan itu telah menyatu dalam diri jiwamu
hingga sulit akan kaubasuh seka demi hilangkan jejak

kesalahanmu adalah
gambaran kesejatian dirimu
manalah mungkin akan terhapus walau oleh sang waktu

kesalahanmu adalah
selalu merak hati, menyentuh hangat
setiap hati yang mengenalmu, dengan canda keceriaanmu
tebarkan pesona kehangatan yang membumi

kesalahanmu adalah
tampil terbiasa apa adanya dengan
aura kecerdasan yang terpancar dari mata indah sayumu
dalam wajah sumringah penuh tulus kasih sayang

kesalahanmu adalah kaubukan perempuan biasa
kepiawaianmu gemulaikan aneka tarian di panggung
kehidupan dalam beragam peran nan menantang mampu
jadikanmu bagai pemain watak dalam arena hidupmu
hingga mempesonakan bagi jiwa-jiwa pemerhatimu

kesalahanmu adalah
pesona khas yang deras memancar
dari aura ketubuhanmu, mampu menggugah alam khayal
dan menggoda hasrat setiap lelaki yang mengenalmu

kesalahanmu adalah
pernah kautitipkan rasa jiwamu kepadanya,
dengan segala angan serta harapan besar
dengan segala persembahan cintanya yang hanya untukmu
kaunikmati dalam keterlenaan semu dan memabukkan
dan lalu semua menjadi sangat memuakkan bagimu

kesalahanmu adalah
realita kau ialah cinta sejatinya
dicintai dengan segala deras peluh dan aliran darah
dengan segala perih luka dan duka, tapi nan berharga
kau adalah cinta dan kehidupannya, nyawanya
kau adalah kembang kejora kehidupannya

kesalahan-nya adalah
cinta yang sedemikian agung itu
harus terkotori oleh segumpal awan angkara murka
hingga sedemikian terlalu dia menguasai dan
merampas serta menghentikan arti sebuah perjalanan dan pencapaian sebuah ironi kehidupan terjadi.

kini, engkau terjebak dalam kekosongan
terjepit di antara dua kepentingan sejati

antara bergerak dan terpaku
antara berjalan dan berhenti
antara bicara dan terdiam
antara hidup dan mati
antara cinta dan benci?

*Tanah Jawa kala itu , ……

ILUSTRASI : FOTO DEVI DJA, tidak terkait dengan materi sajak di atasnya.

Puisi Chaliq Amiel Abdul

2012

Tadi malam
Dedaunan serta reranting
yang berbulan kemarin kita eluelukan
musnah sudah
mengalir di sungai waktu
dan nyasar entah di mana

hening …

namun tadi pagi
seperti terlonjak
daundaun hijau tumbuh kembali
rapihkan pohon yang sekarat
kencangkan akarakar yang mulai lemas

berseri …

hidup adalah catur perubahan
taktik, intrik selalu kelitkelindan

o, mengesankan

apa bahasa yang hendak kita
raungkan selanjutnya pada langit merenta
pada mentari yang lanjut usia

belum rasanya terpikirkan
tapi waktu terus melaju
meninggalkan kita yang tanpa
harapan sekalipun

Sumenep, 22.00 31 12 2011

Puisi Wong Karang

1. Maya, Bukan Penyamun
Di tebing tahun ini legenda kata menyerut nyali kidung kidung debu suci penyair.
Pijahan kata menguak mata jendela yang mungkin di setiap sirat terlafal sarat mengaramkan rasa.
Secantik romannya mengemban santun di setiap gelaran naluri imajinasinya meraba, mengulum magma roh rabbani.
Gema disudut catatan sunyi hati, dendam kerinduan, terjal kasih berbara sarat menyapa asma asma pemabuk yang kehausan renungan tuk memercikan air suci di jiwanya.
Maya, tundukkanlah raut muka di setiap lengang parit hati pemuja, dendangkan lekuk ranting jari jari tangan di antara pelataran malam.
Teriakkan sekeras petir, bait bait relung dari dasar laut. Raih dan gelorakan jati diri yang tersembunyi dari sebuah sekian tanya. Dan sembunyikan yang seharusnya kaukaramkan di pijakkan telapak kaki.

Maya,,, pastikan di sana selalu berkata dan jawab sendiri…
Maya,,,

2. Hampar Malam
Sepanjang mata bercahaya temaram malam
Terdengar bisik kata atas hijau hamparan
Jemari tangan menjelajah menggetarkan rasa
Dada dingin tersaput embun memejam malam
Bibir bibir merah lumat berdecak
Saling menuang haus liur hitam

Bulan tertutup awan di sepanjang gairah
Rumput tergilas perhelatan
Sesaat, diam…
Sesaat, bergetar…
Cahaya lampu di sudut kejahuhan
Tenggelam dan padam
Hanya dentang suara hati
Tak ada janji suci
Tak ada kembali
Yang adanya tissu basah usap keringat
Pengganti lenyapnya dahaga
Pelampias cowong muka tua
Menghabiskan garis di larut hitam
Nafsu hitam…
Malam hitam…
Kesetiaan beradu samar cahaya bulan
Berlimut gerayang menguak sela airmata dosa

3. Cacing Tanah

cacing cacing tanah
hak terampas

tak ada hidup,
rumput rumput digilas

tak lagi tergali,
bajak membajak tanah

cacing cacing tanah
tertindas

CAKRA MANGGILINGAN: Harapan Sebuah Perputaran Menuju ke Arah Lebih Baik

Oleh: Rere ‘Loreinetta

Cakra manggilingan bagi sebagian masyarakat adalah filosofi atau keyakinan berputarnya roda kehidupan baik mikro maupun makro. Demikian pula dengan berputar dan terbatasnya kekuasaan.

Bentuk melingkar cakra manggilingan, atau bentuk lain yang tertutup itu dimaksudkan sebagai model membuat keseimbangan. Bila salah satu bagian tidak berfungsi sesuai peran dan atau kecepatan berputarnya, maka keseimbangan itu akan terganggu dan bahkan bisa hancur. Bilamana masih memungkinkan, akan dilakukan perbaikan (recovery) pada titik kerusakan itu hingga pulih kembali, atau terjadi keseimbangan baru.

Hukum alam Tuhan memang mengatakan sebuah kondisi tak stabil akan membuat ‘pergerakan’ untuk menuju kestabilan, tapi apa yang terjadi di alam hampir selalu, perjalanan menuju kestabilan itu menyebabkan ke ketidakstabilan-ketidakstabilan baru yang selisihnya justru semakin banyak ketidakstabilannya daripada kestabilannya.

Perlu dahi berkerut untuk memikirkannya memang, tapi begitulah teori itu. Pemahaman yang membuat pemikirnya konon menjalani kehidupan sufi dan tak henti-hentinya selalu memuja kebesaran Ilahi.

Mencoba membawa pengertian hukum alam ini kepada sebuah hukum sosial peradaban umat manusia. Yang tentunya juga semakin logis bila kita mengatakan bahwa ‘perjalanannya’ akan semakin tidak stabil tinimbang hukum alam. Karena yang terlibat di sini adalah umat manusia yang jauh dari sempurna pemahaman, akal, pikiran dan perilakunya tarhadap peri kehidupannya di muka bumi ini.

Sebuah ketidakstabilan yang ‘memaksa’ setiap orang untuk selalu bergerak, selalu berpikir, selalu mencari hal baru, selalu mencoba memperbaiki, dan di antara sekian banyak perbaikan di muka bumi ini, sebagian justru menimbulkan masalah baru, yang bisa jadi lebih besar membuat ke ketidakstabilan baru dari kestabilan yang diperoleh dari perbaikan sebelumnya, menimbulkan semangat untuk tetap bergerak, semakin berpikir, semakin mencari hal baru, demikian seterusnya.

Sebuah siklus yang terjadi pada sebuah komunitas peradaban sekelompok umat manusia pada satu daerah dan satu ras tertentu. Dan menariknya, perputaran siklus ini di daerah lain dan suku bangsa lain bisa berbeda, ada yang berputar cepat ada yang pelan, ada yang suatu ketika sebuah ras mencapai kejayaannya, sementara saat yang sama ras lain mencapai kejumudan. Dan di lain waktu, yang jaya menjadi jenuh, sementara yang di bawah, tumbuh membaik.

Itulah semua yang mungkin digambarkan sebagai kejadian ‘roda berputar’. Roda tak tampak yang begitu besar, menjangkau segala sisi kehidupan, baik yang bersifat hukum alam, maupun hukum sosial, dan melibatkan semua faktor yang ada di alam semesta ini.

Dan yang membuat kagum adalah ketika para filsafat dan budayawan Jawa dulu ternyata juga sudah melihat perputaran roda itu, dan membuat sebuah ungkapan pemikiran : CAKRA MANGGILINGAN

Ketika manusia mampu merubah diri k earah lebih baik dan lebih baik lagi,

Perkembangan potensi manusia tentunya tidak akan berkembang pesat apabila mental spiritual, dan pola pikirnya masih terbelenggu oleh sistem nilai yang diam-diam mengikat kesadaran dari dalam alam bawah sadar itu sendiri.
Agama pun sesungguhnya bukan untuk mengungkung mental, mengurung kesadaran dan kebebasan berpikir, serta membelenggu kemampuan jelajah spiritual manusia.

Sebaliknya, sungguh ideal di saat mana agama dipahami sebagai guidance (pemandu jalan) agar potensi dan prestasi manusia mampu mengembangkan kemampuan pikirnya secara maksimal, dengan orientasi yang terarah, bermanfaat sebagai berkah bagi alam semesta dan seluruh isinya.

Pada hakekatnya peran semua agama bukan bertujuan untuk membatasi perkembangan potensi diri, kreativitas dan inovasi manusia. Melainkan menjaganya agar jangan sampai inovasi manusia disalahgunakan sehingga membuat kerusakan-kehancuran di muka bumi. Sebagai contoh, bila kita percaya bahwa Tuhan itu berkah bagi alam semesta maka dinamit bukan untuk digunakan membunuh manusia lainnya, melainkan untuk menciptakan energi yang dimanfaatkan bagi kesejahteraan umat, serta menjaga dan melestarikan anugrah Tuhan berupa lingkungan alam.

Dapat dibayangkan besarnya prestasi apabila manusia mampu mendayagunakan potensi diri yang lebih besar lagi, hingga mencapai 50 %-nya saja. Sebab biar seberapa pun kemajuan dan kedahsyatan potensi manusia seperti contoh di atas, kenyataannya bagian yang 90% potensi masih terpendam di dalam diri dan dibiarkan sia-sia begitu saja.

Maka tugas masing-masing kita adalah bisa membuka, menggali, mengenali, mengembangkan, lalu memanfaatkan potensi diri lebih baik daripada hari ini.
Bukan untuk mengejar kepentingan pribadi, melainkan untuk menggapai kebaikan yang lebih utama, yakni menghayati makna berkah bagi alam semesta, dengan berprinsip memanfaatkan hidup kita agar berguna bagi sesama, seluruh makhluk, dan lingkungan alam.

Apabila prinsip ini kita terapkan dalam lembaga terkecil keluarga, niscaya keluarga anda akan harmonis, tenteram, selamat, sejahtera, dan selalu kecukupan rejeki. Kalis ing rubeda, nir ing sambekala.

Semoga kita semua akan terlindung dari segala kefakiran ;
fakir kesehatan, fakir harta, fakir ilmu, fakir hati nurani, fakir budi pekerti.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa :
Sebuah ketidakstabilan yang ‘memaksa’ setiap orang untuk selalu bergerak, selalu berpikir, selalu mencari hal baru, selalu mencoba memperbaiki, dan di antara sekian banyak perbaikan di muka bumi ini, sebagian justru menimbulkan masalah baru, yang bisa jadi lebih besar membuat ke ketidakstabilan baru dari kestabilan yang diperoleh dari perbaikan sebelumnya, menimbulkan semangat untuk tetap bergerak, semakin berpikir, semakin mencari hal baru, demikian seterusnya.

Sebuah siklus yang terjadi pada sebuah komunitas peradaban sekelompok umat manusia pada satu daerah dan satu ras tertentu. Dan menariknya, perputaran siklus ini di daerah lain dan suku bangsa lain bisa berbeda, ada yang berputar cepat ada yang pelan, ada yang suatu ketika sebuah ras mencapai kejayaannya, sementara saat yang sama ras lain mencapai kejumudan. Dan di lain waktu, yang jaya menjadi jenuh, sementara yang dibawah, tumbuh membaik.

Itulah semua yang mungkin digambarkan sebagai kejadian ‘roda berputar’