Arsip Tag: puisi

Saat Hati Ingin Bersandar

Puisi Siska Premida Wardani

ilustrasi dari gp.blogspot.com

Kemana lagi ku akan datang
Pabila kegalauan bertubi menghadang
Membiarkanku terhimpit sesak dan dalam…begitu dalam
Tanpa teman ku sendiri menanggung beban

Kemanakah sungguhnya jalanku
Saat pejam dan nyaman pun enggan menyapaku
Luluh lantak hati ini merasakan
Seolah urat nadi ingin segera disayatkan

Oh..di manakah harusnya aku berada
Tatkala hanya gulita memenuhi pikiran dan mata
Menggantikan sejuknya fajar, hangatnya siang,….teduhnya senja
Ku tahu aku tak punya tempat tuk singgah

Ya Allah Ya Rahim
Sungguh air mata tak tahan terbendung
Kaki lemah ini sigap tuk bersimpuh
Tiada kataku selain memohon lautan ampun-Mu
Hanya pada-Mu kuhadapkan diri…wajah lusuhku…mata sembabku

Ya Rabb Ya Karim
Kutahu hidupku tak pernah mudah
Tak kuminta jalan yang mulus, tanpa debu, tanpa batu
Bekali hamba dengan segenggam kuat
Hujani hamba dengan sabar dan ikhlas
Tanamkan kompas di hati hamba
Agar hamba tidak tersesat…dan tahu ke mana arah pulang

Dan aku hanyalah hamba-Mu yang mengadu

yang tanpa malu mengajukan pinta
Engkau dengarlah suara hamba
meminta pada-Mu yang Maha Tahu
yang Maha Tinggi lagi Maha Hidup
Laa haulaa walaa quwata illa billa

(di suatu tempat kurajutkan kata menjelang Dhuha. Persembahan untuk kalian yang percaya pada doa, semoga pengembaraan hidup kita membawa sejuta hikmah)

21 Agustus 2011

retakan kata

Puisi Sri Wahyuni

ilustrasi: radiokonsultan.multiply.com
Lembar demi lembar,
kau cipta puisi cinta.
aku harus menyebutnya apa,
tentang semua rasa ini?
ketika aku tahu pasti,
hatimu kosong tak berpenghuni.

Kau,
membahasakan dirimu adalah kendi
yang berisi air suci
bagi mereka
musafir yang ingin melepaskan dahaga.
tanpa pernah sadar
tentang kamuflase
pada sebuah oase
di rangkaian rima
pustaka kata-kata.

Tirani Kelamin Jingga

(Untuk perempuan-perempuan mati di perantauan)

Puisi Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi: i241.photobucket.com

Rembulan kesiangan, Sayang
lama lelah di penantian
tanpa ada yang merindukan

Wajahmu? buram
centang perentang penuh radang
tertikam tirani kelamin jingga

Namamu? Cemar
sisa kelahi nasib semalam
menyisakan rembulan kesiangan
di wajahmu,

Di dadamu,
di punggungmu,
di rahimmu
meleleh birahi lelaki berkelamin jingga
Dan kami?
terbuai nikmat desah sedihmu

Hidup kita? Suram
berada di ujung tanduk kelamin jingga
lelaki terberkati para nabi

Kepala kita? Hilang
terbenam lendir kemunafikan
menunggu perayaan di hari lebaran
tanpa badan sebagai bingkisan ucapan maaf memaafkan.

Medio juni 2011

Untuk Engkau, Kekasih Hati

Puisi Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi: 4.bp.blogspot.com
Aku menunggumu,
lama menunggumu
terantuk kantuk dan, sesekali ragu
di manakah tuan, pemilik ladang anggur ini?

Aku iri menatap mereka,
Orang-orang sederhana yang bekerja dengan cinta
membelai tanah, menyiang gersang
Larut dalam tetes-tetes tahun yang mungkin tak kan berkesudahan,
menaruh harap, biji-biji mungil -selemah bayi di mandi darah hari pertama-
gemulai menari di rimba benalu dan onak duri,

Aku cemburu pada ladangmu
Sejak menit tertua benih tertumpah di mulut rahimmu,
romansa malamnya menggema tanpa jeda,
menjelmakan Ibu kandung rohani bagi petani.
Sehati-hati menyebut namamu di ujung hari,
-takut tangan kotor dan kasar menggores halus imaji-

Amarahku padamu menjadi-jadi,
Meledak seledak ledak cinta tanpa jawab
ketika engkau -yang berdiri semegah bidadari-
terlalu mahal untuk kubenci.
Engkaulah guci -lukisan ketakberdayaanku- yang melahirkan sari anggur terbaik dari ladangmu,
memperkosa kesadaranku di setiap teguk yang ingin selalu kuulangi,
berkali-kali.

Wahai engkau, kekasih hati,
dengar tanyaku: mungkinkah mencintai sesuatu yang tak pernah dimengerti?
Aku menunggumu,
lama menunggumu
di amuk badai mabuk anggurmu.

buih Juni 2011

Sajak Manusia

Puisi Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi: Heny Ayu Candrasasi
Di langlang laju langkah kaki-kaki,
riuh hati bertaruh melempar undi,
siapa-siapa tanya siapa memenangi,
pertarungan yang mestinya dikandangi.
Laksa derita tertera di dada-dada,
doa,
dupa,
mantra,
novena,
lesat nguap di sela kala,
sia-sia.
Darah rembes di puting susu,
kering payudara para ibu,
sekerontang kerongkongan tergantang siang,
melahirkan bocah-bocah yang sejak lahir menghisap darah.
Pada bumi mereka mengadu,
pada bumi simpuh berkeluh meretas sendu,
kusut beringsut mengeja tahajud.
Bukan,
bukan itu yang dimau.

Pilihan selalu tak semudah yang dibayangkan
ketika nurani dibui bui,
segala menjelma sepanas bara,
manusia serupa satwa pemangsa.

Akhir Mei 2011.

Kasih Ayah

Puisi Ragil Koentjorodjati

Father n Son_ilustrasi dari FB Sapto T Poedjanarto
Ia mengasihimu dengan cara yang tak pernah kau tahu,
ia memandangmu seteduh pandangan seorang ayah yang malu-malu mengintipmu bercanda ria di bawah ritmis hujan,
betapa rindu ia ingin mengingatkanmu agar kau tidak jatuh sakit,
tetapi ia membiarkanmu larut dalam derai tawa suka cita,
hanya lirih hatinya berkata,”semoga engkau selalu sehat dan bahagia”,
begitulah ia mengasihimu.

Ketika kau dewasa,
kau mulai berani memakinya hanya karena di matamu raganya berangsur renta,
dan kau tidak pernah menyaksikan lelaki perkasa yang menitikkan air mata di sudut senyap kamarnya,
sendiri, memanjatkan doa,”semoga engkau selalu sehat dan bahagia”,
begitulah ia mengasihimu.

Waktu untuk Menyendiri

Puisi Ragil Koentjorodjati

ilustrasi dari 2.bp.blogspot.com
Jika kau ijinkan aku bertanya, layaknya seorang sahabat yang lama tak bersua, baik-baikkah engkau dengan hidupmu? Di kedalaman waktu yang membentang, seringkali aku mengirim kata. Kutitipkan pada kicau kenari. Kadang lewat denting-denting dawai yang tergetar. Atau sesekali lewat deru denging di kepalamu kala kau merintih. Aku mengirim kata.
Kata yang sama saat aku melepasmu (atau saat kau meninggalkanku? Entahlah. Aku lebih suka istilah bahwa kita hanya tidak bertemu muka). Nyatanya kata itu masih sama: semoga hari-harimu berwarna. Tidak hanya kelabu. Tidak juga selalu ungu. Tetapi warna-warna surga yang berpendar-pendar meletupkan asa. Jika engkau tak mendengar kata yang kukirim itu, mungkin engkau butuh waktu untuk menyendiri. Menyadari kilau nirwana di pejam matamu.
Jika hari-harimu meradang gersang. Perih dan letih membaluri sekujur jiwamu. Ingatlah seorang ayah yang mengusap lembut helai rambut gadis kecilnya. Demikianlah aku membelai rambutmu dengan desir angin yang menyegarkanmu. Ketika tanganku terlalu lemah untuk menopangmu, pandanglah berjuta tangan yang terulur di sekitarmu. Yang kau perlukan hanya membuka pintu hatimu atas kebajikan yang mengalir di depan kemahmu. Jika kau masih juga merasa letih, mungkin kau butuh waktu untuk menyendiri. Menyadari tangan yang membelai dan menopangmu di hembus lemah nafasmu.
Jika hidupmu terasa hancur, berkeping serupa guci terbanting di kerasnya dinding. Lukislah kumpulan lebah madu yang pernah kau cecap manis madunya. Demikianlah cinta bekerja. Ikhlas, tanpa terburu-buru. Seikhlas sang pembuat guci mengukir jiwa ragamu. Kesabaran akan menyelamatkanmu. Memungut keping demi keping serpihan hidupmu. Merangkai kembali menjadi sesuatu yang baru, yang mungkin indahnya tak kan pernah kau tahu. Jika pun begitu dukamu meluruhkan dayamu. Telapak tanganku terbuka untuk setiap tetes air matamu. Atau mungkin kau butuh waktu untuk menyendiri. Menyadari seorang sahabat yang juga pernah hancur lebur sepertimu.
Jika di waktumu menyendiri, hatimu terasa sunyi. Camkan baik-baik di ingatanmu: jangan pernah merasa sendiri. Di sunyi hatimu ada sepi hatiku. Dan Dia ada untuk menemani kita.

ketika pada suatu ketika

image dari rismanrasawordpressdotcom

Duduklah sejenak di sampingku
Kakimu di atas bahuku pun tak apa
Bukankah sejak lama kau merindukannya?
Tak usah ragu, tak usah sendu
Tokh kita tidak sedang terlanda romansa
Hanya dua nyawa terperangkap botol anggurnya
Sedikit mabuk, tapi yakinlah, kita tak kan mati karenanya
Lunas berkali kutenggak isinya
Nyata senyatanya aku masih mampu membelai bulu kakimu bukan?

Oh ya, dengarkan aku,

Ketika aku seruwet radio
Tentu saja kau tak harus mendengarnya
Kau boleh tidur dengan kakimu tetap di atas bahuku
Aku akan memindahkannya ketika pagi tiba
Hingga kau meringkuk serupa bocah, suaraku sudah tertelan masa
sungguh, itu membuatku tampak konyol
Khotbahku tak sempat mampir di telingamu

Ketika aku mengajakmu dialog
Tak perlu malu mengataiku sedang monolog
Yakinlah bahwa cinta banyak wujudnya
Meski monolog bukanlah sesuatu yang romantis,
biarkan mulutku tetap bersuara
Karena kau tentu tahu, egoku malu mengakui, ternyata ucapmu ada benarnya
Hingga ketika pada suatu ketika
kita tak lagi membutuhkan suara
Dan cinta menari-nari di antara sunyi dua hati

medio april 2011
ragil koentjorodjati

JIKA

Puisi Ragil Koentjorodjati

ilustrasi dari imrontblogspotdotcom
Jika kasih itu kisah,
maka tarian kata tak ingin kuberi tanda titik,
meski kadang berselaput tanya,
namun ia bukanlah sejenis binatang yang suka pakai tanda seru
Jika kasih itu kisah
maka kuserahkan sepenuhnya padamu, sang pengarang,
apakah itu sebuah titik, atau sebuah tanya,
tak perlu kupahami yang tak terjangkau,
cukup bagiku bahwa aku pernah ada

Dari setiap hembusan nafas,
awal dan akhir cerita terangkai
ketika kata tak lagi bermakna,
hidup adalah sebuah doa.

19 April 2011
menanti tengah malam.

Sajak Rembulan Merah

Rembulan merah,

images from anotherorion.multiply.com

langkahmu gontai
lunglai, seperti manusia-manusia kami yang terbantai
nyaris habis terkikis bengis
tanpa rasa

sepertinya kami tak pernah mengenal kata cinta

Rembulan merah,
Singgahlah sejenak di bumi kami
ceritakan pada kami tentang senja yang menggantung di pucuk cemara
atau tentang nyanyian kedasih di kolong lembutmu
atau tentang apa saja yang merona karenamu
agar rindu kami tetap padamu

Tetap padamu

Ketika jiwa kami membeku
bahasa batu meruntuhkan ruang-ruang imaji
merobek segenap nurani lalu singgah dan beranak pinak di hati yang melegam terendam dendam
biarlah rindu kami tetap padamu

Rembulan merah,
Katakan pada kami mengapa dari hari ke hari cahyamu memuram
bahkan teramat temaram untuk sekedar membaca firman
yang entah sejak kapan terlupakan

Atau, salah kami yang memberimu warna semerah darah?

Medio Maret 2011

Doa Saja Tidak Cukup

image from dodiksetiawan.wordpress.com
…dan kita termangu,
masihkah bumi ini punya kita?

Berduyun orang menjerit dan limbung
terpatah…
tercabik awan panas membumbung.
Lalu legam nasib menghitam
bau daging terpanggang memenuhi ruang
sapi, kerbau, ayam, kambing
(…dan kami sama perihnya)
tak lagi lada sebagai penghangat suasana
tapi berton-ton debu membasuh kalbu.
Kalbu yang sekian lama buta, tuli dan bisu
…dan kita termangu.
Benarkah kita kuasa atas semesta?
pantai
gunung
udara
tanah
tak lagi ramah
lalu semua beribadat
tanpa beribadah

…dan kita termangu,
tak juga beranjak berkarya …….
meski sederhana,
doa saja tidak cukup

Atau…
Sangkamu, Tuhan itu budakmu?

Repost: puisi yag dibuat untuk mengenang korban merapi 2010