Semua tulisan dari Ragil K

Sebuah titik di jagat semesta.

Kata Sang Juara: Maria Wiedyaningsih

penulis hari ketika penyihir menjadi nagaRetakanKata – Maria Wiedyaningsih, perempuan kelahiran Purwokerto 1 Desember 1977 ini suka menulis cerpen anak-anak. Banyak belajar menulis dari karya-karya Lena D, penulis yang karyanya sering dimuat di sebuah majalah anak-anak. Sekarang, sedang belajar menulis apa saja. Dari tulisan beberapa karakter yang harus muat di twitter, sampai novel yang nyaris semuanya tidak selamat sampai bab pertama. Meskipun sudah terlalu uzur, sangat menyukai Harry Potter dan Detektif Conan. Selain itu suka membaca apa saja yang menarik hatinya. Novel yang sampai sekarang masih berkesan untuknya adalah A Walk to Remember, karya Nicholas Sparks. Celotehannya bisa dilihat di http://www.mariawiedyaningsih.com. Saat profil ini ditulis, blog tersebut nyaris tidak ada apa-apanya, tapi semoga di masa depan bisa makin memberi makna. Punya akun facebook sama seperti namanya, dan sampai saat ini belum pernah menulis status apapun di akun tersebut.

“Buat saya, sebuah lomba menulis adalah sebuah tempat bernama keberanian, sekaligus tempat yang memberi kebanggaan. Sayangnya, tempat tersebut selalu berada di seberang jurang. Perlu membangun sebuah jembatan, naik balon udara, meniti tali, apapun agar bisa sampai ke sana.
Ketika mengetahui RetakanKata mengadakan lomba menulis cerpen, yang pertama terlintas dalam pikiran, tentu saja, saya harus ikut. Namun sudah banyak sekali saat di mana saya sudah begitu banyak belajar, namun akhirnya terhenti karena kehilangan keberanian. Jangan-jangan, kali itu juga.
Dengan banyak keragu-ragu dalam pikiran, saya mulai mencari-cari ide. Namun akhirnya, tidak menemukan satu ide baru yang menurut saya cukup layak. Saya lirik ide-ide lama. Cerpen-cerpen malang saya yang hanya punya setengah nyawa, bahkan sepersepuluhnya saja.
Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga mulai saya tulis sekitar setengah tahun lalu. Sepertinya cerpen tersebut merupakan cerpen (untuk pembaca dewasa) saya yang ke-20. Atau ke-30? Entahlah. Sebab hanya kurang dari sepuluh cerpen saja yang selamat mencapai kata terakhir. Cerpen lainnya bahkan hanya berupa beberapa baris pertama saja. Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga cukup beruntung karena nyaris selesai.
Saya selesaikan cerpen tersebut. Lalu menyuntingnya terburu-buru saat jam-jam terakhir sebelum tenggat. Dan akhirnya, saya kirim, seingat saya, di menit terakhir tenggat waktu. Saya ingin naik balon udara, menikmati proses menuju tempat tujuan. Namun sekali lagi, saya harus meniti tali. Tapi mungkin, pergi ke tempat tujuan kita dengan meniti tali menarik juga, meskipun menegangkan.
Terima kasih RetakanKata, untuk perjalanan menarik ini.”
Maria Wiedyaningsih

Lukisan Jejakku

Cerita KauMuda April Safa
Editor Ragil Koentjorodjati

lukisan jejak
Ilustrasi dari google
Sejak kecil aku telah merasakan perbedaan, aku berbeda dari ayah, ibu, kakak ataupun teman – teman sebayaku. Aku ingin bermain, berlarian, berjabat tangan tapi itu semua tak bisa aku rasakan secara sempurna. Menangis, merengek dan merajuk, ekspresi itu yang bisa aku lakukan saat itu. Aku belum paham makna kehidupan yang sesungguhnya.
Surabaya, 15 September 2001
Aku ingin sekali seperti mereka, saling berjabatan tangan, bertepuk tangan, belajar menulis menggunakan tangan secara normal, belajar memegang sendok untuk makan sendiri.
Aku sedih, Tuhan menciptakanku seperti ini. Aku tidak punya lengan tangan, aku punya kaki tapi tidak bisa digunakan untuk berjalan secara sempurna. Aku ingin menikmati masa kecilku seperti kebanyakan teman – temanku. Aku ingin berjalan sendiri ke kelas, tidak selalu digendong ayah. Aku malu dengan keadaanku.
Aku selalu mengadu pada ibu jika ada yang mengejekku dan ibu tak pernah sekalipun mengeluh, marah, membentak ataupun sebal dengan sikapku. “Siapa bilang Allah itu tidak adil, Nak? Lihatlah kakak, punya kaki dan tangan yang sempurna tapi selalu mengeluh capek minta pijat, mengaduh kesakitan jatuh dari motor. Adek nggak pernah minta pijat kan? Allah itu sayang sama adek, meskipun seperti ini Allah tidak ingin adek capek. Allah menjaga adek dengan keadaan seperti ini. Allah ingin adek selalu gembira. Rizki Bintang Nusantara, nama itu ibu beri supaya adek selalu membawa berkah dan menjadi inspirasi semua orang di Indonesia maupun di dunia,” kata – kata itu yang aku ingat dari ibu. Wanita yang selalu menginspirasiku, tidak hanya dari tutur kata tapi juga perlakuan ibu yang tegas dan penuh kelembutan yang mampu menghilangkan tangisku.
Ayah, ibu dan kakak, tiga kombinasi yang mampu membangun mentalku untuk harus siap menerima kenyataan. Ibu berusaha mengenalkanku pada dunia sosial luar sejak masih taman kanak – kanak. Ayah selalu mengajakku ke tempat usaha bengkel ayah untuk mengenalkanku pada dunia otomotif sekaligus belajar sosialisasi dengan para pekerja dan pembeli. Kakak yang setia mengajakku bergabung untuk bermain dengan teman – temannya.
Mereka berusaha untuk membuka pandanganku bahwa dunia itu tak sekejam yang aku bayangkan, lingkungan akan menerimaku jika aku memberikan hal – hal yang positif pada mereka. Fisikku memang tidak sempurna tapi aku diberi otak yang lumayan encer dan komunikasi bicara yang cukup bagus karena sering menemani ayah di bengkel.
Surabaya, 16 Juli 2003
Menginjak umur memasuki sekolah dasar ibuku bersikeras agar aku masuk di sekolah umum, bukan sekolah luar biasa. Karena aku hanya cacat fisik, bukan cacat mental seperti siswa SLB pada umumnya. Tapi apa daya, sekolah umum yang ibu datangi hanya melihatku secara sebelah mata, padahal aku mempunyai kemampuan berpikir yang tak kalah dengan siswa pada umumnya.
Akhirnya ibuku mendaftarkanku di sebuah SLB daerah Surabaya Barat. Aku mulai belajar memfungsikan kakiku seperti tanganku. Mulai dari menulis, menggambar dan membuka pintu, tapi untuk bersalaman lebih baik aku tidak menggunakan kakiku. Dan aku mulai menikmati menulis cerita, puisi, menggambar, melukis.
“Lukisan Bintang bagus, lebih bagus dari gambar bapak.”
“Coretan warna sesuka saya, ini tidak jelas Pak. Lebih bagus lukisan Pak Yudhi,” kataku dengan sedikit bangga.
“Tinggal latihan yang sering ya Nak. Bapak yakin, Bintang pasti jadi pelukis terkenal.” Kata – kata Pak Yudhi yang mantap kubalas dengan anggukan..
Pak Yudhi, guru lukis yang setiap coretannya seakan menghasilkan karya dari sang maestro pelukis terkenal di dunia. Aku suka Pak Yudhi, orangnya ramah dan penuh semangat. Aku semakin semangat mengikuti setiap gerak tangannya yang menghasilkan suatu gambar. Aku jatuh cinta pada melukis.
Dengan melukis aku bisa berimajinasi membayangkan keindahan tempat – tempat pemandangan meskipun kakiku belum sempat menapakinya. Beliau selalu memuji lukisanku lebih artistik, lebih indah daripada buatannya sendiri meskipun aku melukisnya dengan menggunakan kaki.
Aku selalu menunjukan hasil lukisanku pada ibu, ayah dan kakak. Dan aku sering didaulat untuk mengikuti perlombaan melukis serta tidak pernah pulang dengan tangan kosong karena mendapat juara.
Berkat Pak Yudhi, aku semakin percaya diri dengan kemampuanku. Banyak orang yang tidak menyangka, bahwa lukisan yang aku hasilkan berasal dari goresan kaki yang kurang sempurna.
Ibuku semakin bangga denganku dan memberikan peluang yang lebar untuk mengasah setiap goresan yang dihasilkan kakiku dengan memasukkanku ke sebuah sanggar lukis.
Saat Allah belum mengabulkan do’a kita, mungkin Allah telah menyiapkan suatu hal yang lebih baik dari sebelumnya jika kita mau bersabar dan bersyukur. Salah satu guru SLB melihatku mempunyai potensi yang luar biasa seperti anak pada umumnya meskipun terdapat kekurangan pada fisikku. Aku bersyukur mempunyai seorang guru seperti Ibu Amalia, senantiasa rela membantuku untuk mengenyam di sebuah sekolah yang lebih layak dan dengan kurikulum yang cocok denganku, bukan seperti di SLB.
Kesempatan bersekolah di sekolah umum negeri akhirnya terwujud setelah aku menginjak kelas IV. Sebuah sekolah di daerah Surabaya utara bersedia menerima kekurangan fisikku.
Saat hari pertama masuk di sekolah umum, ibuku sangat khawatir hingga senantiasa menunggu mulai dari mengantar hingga pulang sekolah. Satu minggu berjalan, ibuku mulai mempercayai kemandirianku sehingga ibu cukup mengantar dan menjemput saja. Kecuali untuk urusan buang air, aku perlu menelpon ibuku untuk datang dan meminta bantuan beliau.
Sehari – hari untuk menunjang aktifitasku, ayah merakit sendiri sepeda roda tiga untukku. Alat itu yang membantuku mengelilingi tempat – tempat di sekolah tanpa merepotkan orang lain karena terdapat tombol yang otomatis. Sehingga aku tak kesulitan menggerakkannya.
“Di mana ada ibu, di situ ada Bintang.”
Teman – temanku sering berkata seperti itu. Tak masalah, karena aku memang masih membutuhkan bantuan ibu. Aku tak tahu, apa jadinya jika ibu tidak ada di sampingku yang selalu mengingatkan, berada di belakangku untuk memberi dorongan yang positif. Aku ingin sekali, membalas belaian tangan lembut beliau, mencium punggung tangan ayah dan ibu serta menggandeng tangan mereka. Meskipun begitu, aku berharap mereka merasakan sentuhan hatiku yang membelai lembut hati mereka dan kakakku tercinta.
Surabaya, 20 Mei 2011
Hari ini, ada yang melihat lelang lukisanku dan membelinya. Setahun yang lalu, ayahku membuatkan galeri hasil goresan kakiku dekat ruang tamu berukuran 5×10 meter. Semenjak itu aku semakin ketagihan menorehkan setiap warna kuas cat minyak pada kanvas. Tiga puluh menit waktu yang cukup untuk mengubah polosnya kanvas menjadi suatu kanvas penuh makna dan filosofi. Mungkin orang yang belum tahu, tak mengira semua itu karena kelihaian kakiku yang telah dilatih selama di sanggar lukis.
“Jika Allah telah membukakan pintu rezekinya, Allah akan senantiasa mengalirkannya tanpa henti,” itu salah satu penggalan kalimat yang kuingat dari guru agama islam di sekolahku.
Selain banyak yang membeli lukisanku, banyak juga yang simpati terhadap kegigihanku. Banyak yang memberi peluang – peluang membantuku mengikuti setiap acara perlombaan hingga aku mendapat banyak penghargaan. Pertolongan Allah itu nyata, beberapa pengusaha sukses mulai menawariku beasiswa hingga kuliah.
Aku bersyukur lahir di dunia ini, tidak hanya untuk menyusahkan orang lain, tidak hanya untuk dikasihani orang lain. Aku mulai mengerti arti hidup yang sebenarnya. Janganlah melihat segala sesuatu hanya dari satu sisi tapi jadikan kelemahan yang kita miliki itu sebagai suatu kelebihan terutama bagi para penyandang cacat fisik.
Semua kemudahan yang aku dapatkan sejauh ini bukanlah kebetulan saja tapi melalui proses yang penuh kesabaran dan keikhlasan. Aku ingin membuktikan pada semua orang bahwa orang cacat masih dapat berkreasi, dapat berkembang serta dapat memberikan manfaat jika diberi ruang untuk beraktifitas sesuai minat layaknya orang normal.
Ibu, lihatlah aku sekali lagi. Anakmu yang cacat ini tidak akan menyerah melawan kerasnya hidup. Aku akan berusaha membangkitkan semangat saudara – saudaraku yang bernasib sama denganku. Aku ingin menyemangati mereka, mendorong mereka seperti ibu yang tak pernah lelah memberiku dorongan secara moril maupun materiil.
Ayah, aku akan berusaha menjadi lelaki tangguh penuh prinsip yang siap menaklukan dunia, tentu dengan bantuan sepeda roda tiga buatan ayah.
Kakak, jangan pernah bosan membakar semangatku untuk terus berjuang dan mendorongku menjadi orang yang bermanfaat serta mampu menyukseskan orang lain dengan keterbatasanku ini.
Kawan, kenali aku lebih dekat. Sejatinya aku sama seperti kalian, hanya fisik yang membedakan kita. Tapi kebutuhan dan keinginan kita akan kepercayaan, kesetiaan, kebahagiaan memiliki porsi yang sama. Tanpa kalian, aku hanyalah seorang anak cacat tak berkawan. Bersama kalian, akulah anak cacat yang memiliki seribu kebahagiaan untuk aku bagikan dan seribu harapan untuk masa depan bersama.
Cinta dan doaku akan senantiasa mengalir untuk kalian.

April Safa adalah Mahasiswi ITS Surabaya, tinggal di Surabaya.

Kata Sang Juara: Fahrul Khakim

penulis arwah keibuanRetakanKata – M. Nur Fahrul Lukmanul Khakim, lahir di Tuban, 02 Maret 1991 dan menghabiskan masa sekolah di Rengel, Tuban. Kini dia tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) yang giat di FLP Malang, UKM Penulis, dan HMJ Sejarah. Karya-karyanya telah meraih beberapa penghargaan, antara lain: Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Malang Post 2011 tingkat Nasional, Juara 1 Lomba Cerpen Mahasiswa Se-UM HMJ Sasindo 2012, Juara 2 Peksiminal Karya Sastra UM Kategori Cerpen 2012, Juara 2 Kompetisi Menulis Rubrik Majalah Komunikasi UM Kategori Cerpen 2011, Juara 3 Lomba Cerpen On The Spot Writing Contest diselenggarakan FLP Malang, Pemenang Harapan Kategori C LMCR Rohto Mentholatum Golden Award 2011, Nominator Sayembara Menulis Cerpen 2011 Tingkat Mahasiswa Se-Indonesia UKM Belistra UNTIRTA, Nominator 10 Cerpen Terbaik Lomba Menulis Cerpen Se-Jawa Timur oleh MP3 FIP UM. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di KaWanku, Gaul, Teen, Hai, Gadis, Story dan berbagai media massa lainnya, serta tergabung dalam antologi Bulan Kebabian (UKM Belistra, Nopember 2011) dan Menembus Dosa di Negeri Celaka (Komunikasi, Nopember 2011). E-mail / FB: fahrul.khakim@yahoo.com . Blog: http://www.fahrul-khakim.blogspot.com.

RetakanKata? Tak sekedar melukis dengan kata-kata, merangkainya jadi literasi yang nyata dan rupawan, namun juga penuh makna yang tajam serta menawan. RetakanKata yang telah menggelar ajang seni kata-kata yang berbias realita ini merupakan wujud apresiasi pada insan-insan pena Indonesia. Dari dan untuk penikmat sastra. Selamat dan sukses untuk Lomba Cerpen Retakan Kata. Semoga bisa menginspirasi semua orang tentang makna berkarya dari hati untuk semua hati pelaku kehidupan.”
-M. Nur Fahrul Lukmanul Khakim-

Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Cerpen RetakanKata

jawara menulis
Ilustrasi dari apegejadifilewordpressdotcom
RetakanKata – Satu bulan berlalu sejak naskah lomba menulis cerpen dinyatakan ditutup pada tanggal 10 Februari 2011. Satu bulan yang penuh penantian bagi para peserta dan satu bulan penuh kerja keras bagi panitia dan dewan juri. Tidak terbayangkan sebelumnya jika jumlah peserta akan begitu banyak, mencapai 490 pendaftar lomba. Sayang, ‘hanya’ 360 cerpen yang layak untuk diikutkan dalam penjurian. Sebagian peserta yang lain bahkan tidak mengirim naskah atau terlambat mengirim naskah. Meski ‘hanya’ 360 cerpen, namun jumlah itu cukup merepotkan para juri, di tengah keterbatasan waktu, tenaga dan pikiran, panitia dan para juri berusaha maksimal menilai cerpen-cerpen yang dilombakan yang mana hampir sama bagusnya satu dengan yang lain. Sangat sulit untuk menentukan satu karya yang paling bagus sehingga para juri, mau tidak mau, mengulang-ulang membaca dan menilai agar menghasilkan pilihan optimal.
Untuk dapat dinilai, cerpen-cerpen diseleksi terlebih dahulu sesuai ketentuan lomba. Amat disayangkan jika ada peserta yang sudah menulis cerpennya dengan bagus namun tidak mengikuti ketentuan lomba seperti misalnya mengirim dalam bentuk email, mengirim lebih dari satu cerpen dan yang lebih parah, belum mendaftar sudah mengirim cerpen. Setelah diseleksi, naskah cerpen dikirim ke para juri tanpa ada identitas penulis. Hal ini untuk menjaga obyektivitas penilaian cerpen. Kemudian para juri melakukan penilaian yang meliputi tiga hal, aspek materi cerita; aspek kebahasaan; dan aspek keindahan. Hal yang dinilai dari materi cerita meliputi: tema yang diangkat, latar cerita, penokohan, alur cerita dan juga nilai tambah yang bisa berbentuk pesan moral ataupun pengetahuan. Adapun penilaian aspek kebahasaan meliputi kesesuaian dengan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, efisiensi dan efektivitas bahasa serta tingkat ‘gangguan bahasa’ yang ada dalam cerita. Selain itu, tentu saja diksi dan komposisi yang membentuk keindahan cerita turut dipertimbangkan.
Setelah menjalani proses yang cukup melelahkan, berikut adalah cerpen-cerpen terpilih:

Juara I
Judul: Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga
Karya: Maria Wiedyaningsih
Berhak mendapat hadiah uang tunai sebesar Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah) dan satu buku Antologi Cerpen RetakanKata.

Juara II
Judul: Arwah Keibuan
Karya: Fahrul Khakim
Berhak mendapat hadiah uang tunai sebesar Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) dan satu buku Antologi Cerpen RetakanKata.

Dan berikut ini adalah cerpen-cerpen terbaik yang berhak masuk dalam buku Antologi Cerpen RetakanKata:
–> Burung Gereja di Nagoya, karya Beta Tangguh
–> Dotage, karya MK Wirawan
–> Stasiun Kesunyian, karya Gatot Zakaria Manta
–> Tempe Busuk, karya Victor Delvy Tutupary
–> Bungkam, karya Latifatul Khoiriyah
–> Cinta yang Menyebalkan, karya Miftah Fadli
–> Ibuku Pelacur, karya Sam Edy Yuswanto
–> Budak-budak Tuhan, karya M Nasif
–> Depan Cermin, karya Dandun Suroto
–> Dia, karya Meilia Aquina Hakim
–> Rhesus, karya Zakiya Sabdosih
–> Rantai Mawar, karya Adellia Rosa Rindry Poetri
–> Cincin, karya Canaliy

Tiga belas pemenang tersebut berhak mendapatkan satu buku gratis Antologi Cerpen RetakanKata.
Segenap panitia dan juri mengucapkan SELAMAT MENJADI PEMENANG dan tetap berkarya untuk sesama!

Salam,

Soe Tjen Marching
Aktivis Budaya, Penulis Novel ‘Mati Bertahun Yang Lalu’ dan Buku ‘Kisah di Balik Pintu

Kit Rose
Penyair, Penulis Buku Kumpulan Cerpen ‘Perempuan di Tengah Badai’ dan ‘Tentang Rasa

Ragil Koentjorodjati
Cerpenis, Pengelola RetakanKata.com.

Catatan:
Apabila segenap pembaca pengumuman ini menemukan kecurangan pada cerpen-cerpen terpilih di atas, mohon memberikan informasi secepatnya kepada pengelola melalui email di retakankata@gmail.com.

Janji

Puisi Ragil Koentjorodjati

bergandengan dalam hujan
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk berani miskin bersamaku,
Aku bertekad memperkayamu.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk berani terkucil di dunia kecilku,
Aku bertekad membangun gubug mungil yang layak menjadi rumahmu.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk tinggal di gubug mungilmu,
Aku bertekad mendirikan istana termegah bagimu.
Ketika engkau merasa istana akan menjauhkanku darimu,
Aku bertekad tinggal di gubug kecil, terkucil bersamamu.

Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk bertarung melawan kerasnya hidup,
Aku bertekad menaklukkan hidup agar cukup lunak untukmu.
Ketika engkau menyatakan lunaknya hidup akan membuatmu terluka,
Aku bertekad menjauhkanmu dari perihnya luka.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk berani terhina dan papa,
Aku bertekad meletakkan puncak-puncak keagungan di setiap ruang dada.
Ketika engkau merasa kesejahteraan dan kemuliaan menjauhkanku darimu,
Aku bertekad menjalani hari hina dan papa bersamamu.

Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk berani berjalan sendirian,
Aku bertekad senantiasa di sampingmu sebagai kawan.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk melawan arus,
Aku bertekad mengajarimu berenang dan mengapung tanpa harus tergerus.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk menolak segala bentuk ketidakadilan,
Aku bertekad memberimu keadilan yang patut kaukenakan.
Ketika engkau merasa kemapanan membuatku lupa ingatan,
Aku bertekad bergulat dalam kesulitan agar tetap bersamamu dalam kesadaran.

Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk menolak segala sesuatu yang merendahkanmu sebagai manusia,
Aku bertekad meninggikanmu melebihi tingginya bukit dan mega-mega.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk menjadi yang terkecil,
Aku bertekad membesarkanmu melebihi besarnya purnama di bulan April.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk berani sakit dan lemah,
Aku bertekad mengupayakan segala agar engkau senantiasa penuh daya.
Ketika engkau merasa kesentausaan menjadikanku serupa Rahwana,
Aku bertekad bersamamu menjadi manusia biasa.

Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk menjaga air mata,
Aku bertekad menunjukkan padamu bening mata air dari setiap tetes air mata.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk melukis senyum pada kabar duka cita,
Aku bertekad menyampaikan kepadamu hanya kabar suka cita.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk berani hidup tanpa bahagia,
Aku bertekad membawamu kepada bahagia.
Ketika engkau merasa kebahagiaan menjauhkanku dari tuhan,
Aku bertekad mendiamkan egoku untuk tetap bersamamu dalam tuhan.

Beternak Daging

Gerundelan Ayu Utami

ayu utami
Ayu Utami; Gambar dari dobbyart.wordpress
Beberapa waktu lalu, sambil sarapan setangkup hamburger saya membaca sebuah berita. Di Belanda, seorang ilmuwan mulai “beternak daging”. Bukan beternak ayam atau sapi pedaging, melainkan betul-betul beternak daging.
Bayangkan. Tak ada lagi hewan dalam kandang. Tak ada lagi bau tahi bakal pupuk organik. Yang ada daging ginuk-ginuk dalam sejenis laboratorium, yaitu pabrik daging. Daging itu didapat dari sel induk hewan. Dalam pabrik itu, daging tersebut akan tumbuh membesar, tanpa kesadaran, tanpa otak, tanpa tulang punggung, tanpa pembuluh darah ataupun jantung yang memompa darah.
Daging dari makhluk—kalau masih bisa disebut makhluk—yang tidak kita kenal sama sekali. Mungkin lebih mirip tahu, atau oncom, atau tempe, atau keju, tapi lebih gawat. Sebab, tahu, tempe, oncom, ataupun keju tidak bertumbuh dari satu sel yang membelah diri jadi banyak.
Saya agak gilo membayangkannya. Gilo itu istilah bahasa ibu saya. Artinya kira-kira ngeri, jijik, sekaligus takjub. Membayangkan daging tumbuh, yang segera teringat oleh saya—maklum saya orang awam—adalah tumor. Langsung leher saya tercekat, sulit menelan lempengan daging cincang di antara roti yang semula saya nikmati dengan lahap.
Saya jadi membayangkan hamburger ini sejenis daging tumbuh. Dan jika daging itu dulunya tak pernah bernyawa, lantas apa yang membuat dia tahu untuk berhenti bertumbuh? Jangan-jangan setelah menjadi pengganti sel-sel tubuh saya,nanti sel-sel itu terus bertumbuh karena ia tak pernah punya memori mati atau berhenti.
Pertanyaan-pertanyaan saya mungkin saja khas orang bodoh. Maklumlah. Zaman sekarang kita tahu, kebanyakan makan daging merah pun bisa memicu sel-sel kanker. Bagaimana pula dengan daging rekayasa ini?
Tapi perdebatan di balik eksperimen ini sebetulnya menarik. Semua berawal dari jumlah manusia yang sudah lebih dari 6 miliar di muka bumi, dengan kerakusan yang tak terbendung. Bagaimana memberi makan 6 miliar mulut dan perut itu? Bumi tidak bisa lagi secara alamiah memberinya. Maka manusia akan harus memproduksi makanannya di dalam “pabrik”. Di RRC,mereka sudah secara terbuka membicarakan “pabrik pertanian”. Pertanian tidak lagi di tanah seperti dulu, tetapi dalam bangunan bertingkat,dengan medium yang selalu bisa bersifat inovatif. Setiap ada medium baru yang bisa untuk berproduksi, mari dicoba. Masalahnya, efek samping memang baru akan ketahuan setelah satu dua generasi.
Lantas,selera makan saya lenyap. Saya letakkan hamburger yang semula nikmat. Aduh…manusia semakin jauh dari yang organik. Betapa menyedihkan bahwa kita tak bisa lagi membayangkan alam pedesaan yang segar dan asri dalam sepiring makanan kita. Kita tidak bisa lagi membayangkan kebun sayur yang terbuka saat mengunyah salad. Kita tidak bisa lagi berterima kasih pada domba dan ternak yang telah disembelih. Kita tidak mendapatkan lagi energi kehidupan dari alam raya. Kita memperolehnya dari pabrik,yang tertutup, mekanis,dan cepat.
Aneh, bahkan pertanian dan peternakan organik kini mulai menjadi Taman Eden, Taman Firdaus yang semakin jauh dan menjadi sejenis mimpi dan kerinduan. Aneh, tiba-tiba gambaran tentang Taman Firdaus itu jadi bermakna sekarang. Sebuah alam asli dan asri yang berlimpah-limpah untuk mendukung kebutuhan manusia, sampai titik di mana manusia memilih mengambil sesuatu yang terlarang. Apa yang terlarang itu?
Alkitab menyebutnya Pohon Pengetahuan. Di ruang yang sempit ini, kita bisa menafsirkannya sebagai pengetahuan untuk mengeksploitasi. Begitu manusia memilih pengetahuan yang mengeksploitasi ini, maka terusirlah mereka dari Taman Eden. Yang ada pada manusia adalah kerinduan laten pada taman surgawi itu.
Akan tetapi, dongeng itu menjadi tidak ganjil sekarang. Kita sedang melihat proses pemisahan lagi. Seperti Adam dan Hawa terusir dari Firdaus, manusia kini juga sedang terusir dari dunia alamiah, memasuki dunia pabrikan. Gaya hidup organik memang dikampanyekan. Tapi jika kita tidak berhenti memproduksi anak dalam skala massal dan tidak membendung kerakusan, hanya mereka yang paling kaya yang bisa hidup organik, seperti sejenis kasta brahmana.

Sumber: Seputar Indonesia Cetak, Minggu 4 Maret 2012

Cerita Bersambung: Tunangan (6)

Cerita Anton Chekhov
Alih Bahasa RetakanKata

kasih tak sampai
Ilustrasi dari 3_bp_blogspotdotcom1
Taksi telah datang. Dengan topi di kepala dan mengenakan mantel, Nadya naik ke lantai atas untuk, sekali lagi, menatap ibunya dan barang-barang miliknya. Dia berdiri sejenak di kamarnya, di samping tempat tidurnya yang masih hangat, membayangkan dirinya sendiri sebelum kemudian perlahan-lahan mengalihkan perhatian ke ibunya. Nina Ivanovna masih tertidur, senyaman tidur di kamarnya. Nadya mencium ibunya, merapikan rambutnya, berdiri diam selama beberapa menit kemudian berjalan perlahan-lahan ke bawah. Saat itu hujan lebat. Pengendara taksi dengan penutup kepala terbuka, berdiri di pintu masuk, tersiram hujan.
“Tidak ada ruang untukmu, Nadya,” kata Nenek, yang seperti seorang pelayan sedang membantu majikannya menempatkan barang bawaan Nadya dalam bagasi. “Ide macam apa melihat dia pergi dalam cuaca seperti ini! Lebih baik kamu tinggal di rumah. Betapa penuh kebaikan dalam hujan ini!”
Nadya mencoba mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa. Sasha membantu Nadya masuk ke dalam taksi dan menutupi kakinya dengan karpet. Lalu ia duduk di sampingnya.
“Semoga kalian beruntung, Tuhan memberkati!” Nenek menangis seiring langkah-langkah menjauh. “Pikirkan untuk menulis surat kepada kami dari Moskow, Sasha!”
“Ya Nek, selamat tinggal.”
“Semoga Ratu Surga menjaga kalian!”
“Oh, cuaca macam apa ini!” kata Sasha pula.
Inilah saatnya Nadya mulai menangis. Sekarang jelas baginya bahwa dia pasti pergi, meski sulit dipercaya ketika ia mengatakan selamat tinggal kepada Nenek, dan ketika ia melihat ibunya.
Selamat tinggal kota! Dan dia tiba-tiba teringat semuanya: Andrey dan ayahnya, rumah baru dan wanita telanjang dengan vas. Semua itu tidak lagi menakutkannya dan tidak lagi menjadi beban, selain tampak naif dan sepele serta semakin tertinggal jauh. Dan ketika mereka masuk ke gerbong kereta api dan kereta mulai bergerak, semua masa lalu yang begitu besar dan serius, menyusut menjadi sesuatu yang kecil, dan masa depan yang lebar besar, yang hingga saat itu hampir tidak diperhatikan mulai membentang di depannya. Hujan menimbulkan bunyi gemeratak di jendela kereta. Tidak ada yang bisa dilihat selain ladang hijau, telegram dengan gambar burung melintasi kabel. Dan sukacita membuatnya menahan napas, dia berpikir tentang kebebasan, berpikir tentang belajar, dan ini adalah seperti apa yang seharusnya dilakukan di usianya yang lalu, terpanggil sebagai Cossack merdeka.
Nadya tertawa dan menangis dan berdoa sekaligus.
“Semua akan baik-baik saja,” kata Sasha, tersenyum. “Ini baik-baik saja.”

bersambung…

Baca cerita sebelumnya Cerita Bersambung: Tunangan (5)

Torsa Sian Tano Rilmafrid*

Cerita Bersambung Martin Siregar

Bagian 1.
parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom

Tigor memang sudah sangat acap hidup dalam kondisi yang menegangkan. Anak polisi yang tinggal di pinggir pantai penuh dengan berbagai kasus kriminal penyelundupan barang antar Negara, menempa dirinya bermental baja keras tidak cengeng. Bapaknya termasuk polisi bermoral. Tidak seperti kawan-kawan sejawatnya. Walaupun polisi berpangkat rendah, tapi bisa saja hidup mewah sejahtera kaya raya, karena dengan gampang menawarkan diri menjadi pelindung para toke-toke penyelundup yang memasukan barang ilegal dari Melano ke negara Trieste. Bapak Tigor hidup seadanya, tidak mau jadi kaki tangan penyelundup hingga sering dituduh oleh sejawat maupun keluarganya sendiri dengan sebutan : Bapak Sok Moralis. Ia sama sekali tidak tergiur ikut dalam kancah kaki tangan penyelundupan antar negara.
Ketika abang sulung Tigor tamat dari SMA, secara mendadak Bapaknya minta pensiun dini. “Lebih baik aku berladang menanam semangka dan mangga golek, daripada sekantor dengan manusia manusia bejat di kantor polisi busuk itu” kata Pak Kurus. Maka sejak Tigor SMP kelas 2 catur wulan 2 tahun 1975, di tanah leluhur Pak Kurus, bapak kandung Tigor menghabiskan hari-harinya bersama istri tercinta. Bertani seperti ketika mereka masih muda.
Tentulah pelabuhan bebas Pangkoper harus menciptakan kondisi kota yang mampu memfasilitasi kebutuhan para pelaku berbagai jaringan penyelundupan. Seluruh kota penuh sesak dengan tempat-tempat hiburan semarak kegemerlapan malam, ramai gadis penghibur para pelaku bisnis penyelundupan. Tempat semua pihak yang terlibat bercokol setiap malam melakukan transaksi sambil menikmati hiburan. Mulai dari preman kelas kambing peminum tuak murah sampai kelas mafia kaliber puluhan milyar, tentara dan polisi pangkat rendah sampai ke tingkat perwira tinggi berkeliaran memenuhi seluruh sudut kota Pangkoper.
Kota Pangkoper semakin semarak lagi, karena di kota yang sama itu para nelayan penangkap ikan dalam jumlah besar juga melakukan transaksi. Paling sedikit setiap bulan terjadi pembunuhan sesama nelayan dan pembakaran pukat harimau oleh nelayan tradisonil. Berbagai asal usul daerah tempat tinggal nelayan berkecamuk hiruk pikuk di tengah laut saling sikut menyikut berlomba menangkap ikan.
Oleh sebab itu dengan mudah ditebak, bahwa Pangkoper pastilah sebuah kehidupan kota yang penuh dengan kasus-kasus kekerasan kriminal sadistis. Demi untuk menyelamatkan barang selundupan mobil mewah, elektronika, narkoba, sampai dengan penyelundupan mainan anak-anak berharga murah, adalah penyebab utama dari pertikaian antar anak manusia sepanjang waktu di kota Pangkoper.
Saut Hasudungan, abang sulung Tigor, memang ditawarkan Pak Kurus untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Tapi, sebagai tindakan protes terhadap bapak kandungnya yang sok moralis itu, Saut Hasudungan lebih memilih sebagai pengusaha kedai tuak. Walaupun dia sadar, kehidupannya kelak kemudian hari pasti lebih sejahtera apabila menerima tawaran bapaknya masuk ke perguruan tinggi.
Sedangkan adiknya, Rosita Dameria, tamat SMA tahun 1977 kebetulan berotak encer dengan senang hati menyambut tawaran bapaknya untuk melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di ibukota propinsi Rilmafrid. Sebuah perguruan tinggi ternama di negara Trieste. Anak bungsu keluarga itu adalah Tigor, sama sekali tidak tertarik dengan pola hidup kedua orang tuanya yang menghabiskan waktu bercocok tanam sepanjang hari.
Tapi, walaupun begitu, moral bapaknya yang dituduh sok moralis, secara utuh lengket di dalam jiwa Tigor. Tigor tidak merokok apalagi minum minuman keras berpesta pora narkoba seperti kawan-kawan sebayanya. Kegemarannya sepulang sekolah adalah ngobrol dengan para nelayan di rumah gubuk pinggir pantai. Melalui dialog intens, Tigor dengan tekun menguras segala informasi tentang kehidupan para nelayan yang miskin papa sengsara. Dan, ikut menghujat pejabat negara yang terus menerus melindungi pukat harimau dan segala bentuk penyelundupan di pelabuhan bebas Pangkoper tempat Tigor dilahirkan. Kebiasaan Tigor berikutnya adalah membaca novel. Seluruh novel karangan Mario Fuzo bertema intelijen dan kehidupan mafia Italia sudah habis digarapnya.

bersambung…

*)Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Burung-burung Kertas

Puisi Ragil Koentjorodjati

burung kertas
Ilustrasi dari 2.bp.blogspot.com
(1)
Di tanganmu, satu demi satu kaucipta,
Burung-burung kertas yang kemudian kauterbangkan kian ke mari,
Melayang, menarikan mega-mega biru,
Meliukkan nafas cinta yang kausemayamkan pada sayapnya,
dan harapan tertakik pada kerinduan.

Wahai, udara ini serasa tak pernah hampa.

Ah, aku telah jatuh cinta,
Pada burung kertas yang hancur luruh di kali kecilku.

(2)
Aku ingin terbang bersamamu,
Melangit tinggi di awan maya -imaji bocah-bocah terbahagia-
Dengan tenang kita akan mengawang,
menantang tinggi nyiur yang tak terukur,
melintas semak perdu penuh biru,
Sembari aku akan berkisah tentang kampung halaman,
Tempat semua kerinduan berpulang,
Di sana, kita dapat leluasa terbang.
Lalu seperti biasa,
Ketika senja tiba, Ayah atau Ibu akan memanggil bocah-bocah itu,
Beruntun mereka berebut memeluk Bunda,
ditingkah selaksa cinta -tawa yang berderai-derai
Dan kita akan mendarat di tempat sampah atau nyala api,
Dengan sedikit rasa yang kupunya, akan kubisikkan kepadamu,
:jangan menangis, besok kita akan kembali terbang.

(3)
Adalah salahku mencintaimu,
mencintai hal-hal palsu,
hanya agar nafas tetap bertahan di badan.
Dan aku mohon,
jangan kaucaci aku tentang murninya hati,
ketika -dengan sedih- harus kucuri sesuatu dari kematianmu,
kunikmati di sela-sela ranggas kemarau istirahku,
deretan aksara yang tak lagi bermakna,
tertekuk, terlipat, tak lagi terbaca.
Engkau tahu, aku tidak mampu berterima kasih kepadamu,
aku tidak mampu berterima kasih pada hal-hal palsu,
seperti mereka yang mencuri dari nama-nama kosong,
yang mencuri dari yang ditinggalkan orang mati.
Dan ketika alam hidup mengajarkan kekejaman,
ijinkan aku tetap mencintaimu,
tanpa hati, tanpa jantung
tanpa darah, tanpa nadi.
Agar aku dapat tetap terbang bersamamu,
Meski aku menjelma burung kertas yang terlalu ungu.

Negara Sekuler: Pengaruh Barat?

Gerundelan Soe Tjen Marching

gandhi
Ilustrasi dari eliteoftheworld.com
Pada senja 14 Juli 1942, lelaki tirus dengan secarik kain penutup tubuh, menyusuri tanah yang kerontang berdebu. Mereka yang tak mengenalnya akan menyangka lelaki ini sebagai gembel peminta-minta. Namun, “gembel“ bernama Mahatma Gandhi ini tidak sedang meminta-minta. Dia baru saja memutuskan sesuatu yang akan mengguncangkan dunia. Bersama dengan Kongres Nasional India, ia meluncurkan dekrit yang mendesak pemerintah Inggris untuk segera keluar dari tanah itu. India akan memerintah Negaranya sendiri, dan Gandhi merencanakan suatu sistem bagi Bangsa ini, untuk menentang kolonialisme: pemerintahan sekuler.
Sekulerisme dalam Negara secara umum dikenal sebagai sistem pemerintahan yang memisahkan agama dari politik dan kenegaraan. Inilah yang menakutkan bagi beberapa orang: bila tidak ada lagi agama yang dipegang oleh penguasa, apa yang akan mengarahkan nurani mereka?
Agama adalah untuk membuat manusia lebih manusiawi, demi kebaikan, sebuah pegangan untuk moralitas manusia. Namun, agama di tangan para pejabat telah terbukti disalahgunakan untuk semakin membohongi rakyat. Begitu pula di Indonesia. Kekerasan atas nama agama masih berlanjut. Pertempuran antar agama dibiarkan, terkadang dengan membela agama mayoritas, untuk memperoleh kepopuleran.
Pemerintah telah menggunakannya untuk ajang adu domba. Justru karena keyakinan bahwa apa saja yang menyangkut agama itu benar dan selalu baik, kebanyakan masyarakat buta. Agama bisa menjadi vitamin atau racun, tergantung dari siapa yang menyandangnya.
Dan sekali lagi, kecurigaan bahwa sekulerisme hanyalah pengaruh Barat? Mahatma Gandhi, seorang Hindu yang taat beribadah, telah mengenali muslihat agama dalam politik. Justru dengan sekulerisme, dia melawan dominasi Negara Inggris (yang dikenal sebagai “Barat” oleh kebanyakan orang).
Ia tahu, betapa mudahnya agama bisa dijadikan bulu-bulu domba bagi para serigala politik. Ucapnya: “Simpanlah agama untuk kehidupan pribadimu. Kita sudah cukup menderita dengan campur tangan agama atau Gereja di bawah pemerintahan Inggris. Sebuah masyarakat, yang kehidupan agamanya tergantung pada Negara, sungguhlah tidak layak mempunyai agama. . .”

Tersesat

Puisi Natalia Lily P
perempuan bersayapTersesat?
Ya, aku tersesat di setiap sudut penjuru mata angin.
Katakan lengah telah menuntun butaku semakin nyata.
Dingin hati semakin menebal berpagar ego tak terukur.
Siapa yang peduli celoteh putih bertopeng manis?
Kosongkan nurani di hentakan tangis menyayat miris teriris.
Tulikah aku di cengkraman garis kabut?
Sayup tersiar barisan kata sarat kehampaan di pantai terjal.
Terlaknat ataukah di laknat hanyalah serpihan debu terkumpul.
Raga terbujur diam menghitung gelaran sisa nafas terhela.
Lintasan padang duri nyaris matikan rasa.
Membisu
Membeku
Terpaku
Sisi kubangan hitam menggeliat.
Meraung menjalar liar, terkapar di sorot batas angkara!

Pemahaman Keliru Tentang Lirisisme Dalam Prosa

Oleh Richard Oh

prosa lirisPerkembangan sastra dalam negeri saat ini, menurut saya, cukup memprihatinkan karena penekanannya lebih pada sintaksis ketimbang integritas dan keunikan ekspresi. Maka, sering kita baca betapa dahsyat Cala Ibi karena pengungkapannya yang unik. Ia bahkan dianggap memperbarui bahasa dan lain-lain. Kenyataannya, setelah membaca beberapa halaman novel ini, pembaca akan menemukan paragraf demi paragraf sarat purple prose. Saya jadi ingat kata-kata Virginia Woolfe “mannered, self-conscious”. Kalimat yang seharusnya tak perlu kompleks dan bisa ditulis sangat sederhana dipuisikan, dinyanyikan, dibuat keruh serasa pembaca senantiasa dibombardir oleh aliterasi. Rima haram bagi novelis di mana saja karena ia menjadi distraksi tersendiri dan mengganggu laju arus cerita. Metafor ataupun simbolisme yang dalam kamus seorang penulis seharusnya diungkapkan untuk memperkuat makna keseluruhan satu karya-seperti kejadian di awal bab novel Anna Karenina di mana seorang wanita mencampakkan diri ke dalam rel kereta meramal kematian Anna Karenina sendiri pada akhir novel- disalahpahami oleh penulis Cala Ibi sebagai kreativitas dalam berbahasa. Penggalan ini saya ambil secara acak dari novel itu.
Bapakku bening air kelapa muda. Ibuku sirup merah kental manis buatan sendiri. Aku Bloody Mary. Jumat malam alkoholik, happy hours, Jumat pagi robotik. Kadang aku minum jus tomat, dan merasa sehat. Kadang berseru alhamdulillah, ini hari Jumat-atau Ahad, Rabu, hari apa saja. Kor lepas dengan beberapa temanku di sore-sore hari, seraya aku membayangkan gelas berkaki tinggi dan hijau margarita dan kristal garam berkilau di bibir gelas, seperti sesosok perempuan, datang dari kejauhan.
Bayangkan ini hanya satu penggalan kalimat. Begitu padat dengan informasi, berputar-putar tidak menuju satu tujuan yang memberikan pencerahan makna. Apa artinya “Bapakku bening air kelapa muda”? “Ibuku sirup merah kental manis” saja sudah membingungkan, tetapi kemudian ditambah dengan “kental manis buatan sendiri”. Dan, apa pula artinya “Jumat pagi robotik”? Ada kesan, dalam menulis kalimat-kalimat ini penulis ingin memaksakan makna ke dalam tiap baris prosa, seperti seorang penyair karena keterbatasan ruang memadatkan larik dengan makna. Kalimat demi kalimat kalau dibaca bagaikan puisi sahut-menyahut, namun jadi sangat mengganggu kelancaran cerita novel ratusan halaman ini selain menambah kelelahan. Di sini terlihat jelas penulisnya tidak paham sama sekali penggunaan puisi dalam penulisan novel.
Sebelum meninggal, Italo Calvino menulis buku tipis Six Memos for the New Millenium. Ia menurunkan kepada penulis generasi penerus enam hal penting tentang penulisan, elemen-elemen pembangun sebuah karya sastra. Dia membicarakan tentang lightness, ringan yang membebaskan tapi berbobot, dengan mengutip Paul Valery, “One should be light like a bird, and not like a feather.” Dia juga bahas quickness, kegesitan prosa, dengan mengambil contoh keefektifan struktur sebuah dongeng rakyat. Kita bisa memahami makna sebuah dongeng rakyat dengan begitu mudah karena rentetan cerita bergerak maju cepat tanpa hambatan detail yang mengganggu. Dia membahas exactitude, presisi bahasa ungkapan, dan visibility, kekuatan visual dalam prosa. Dia kemudian mengupas multiplicity, yaitu suatu karya seni harus punya ambisi dan mencakup semua seperti pada novel ambisius Flaubert, Bouvard et Pecuchet, yang mencoba menuangkan semua pengetahuan dunia dalam satu buku. Untuk menulis buku ini, Flaubert membaca ribuan buku dalam pelbagai bidang disiplin.
Dengan tolok ukur Calvino ini, banyak aspek dari Cala Ibi yang perlu dipertimbangkan. Ia terlalu lamban, maka kurang quickness, seperti sebuah dongeng rakyat. Ia kurang lightness karena prosanya tak mengalir. Mungkin cukup kaya dengan visualisasi, tapi kurang exactitude sebab kreativitas dalam kata tak berarti presisi kata. Ia terlalu memikirkan permainan kata dan irama daripada ketepatan frase bagi suatu ungkapan. Untuk aspek multiplicity, di sini mungkin terlihat cakupan ambisinya, tapi tetap miskin karena kurang konsisten. Kritikus yang mencintai permainan kata dan kekayaan sintaksis memuji karya ini karena merasa novel ini telah memperbarui bahasa dengan padatnya metafora dalam kalimat-kalimat, tapi membutakan mata memeriksa integritas ungkapan yang memperkukuh makna utama novel itu.
Namun, tak satu pun kritikus yang dapat mengungkapkan secara konkret apa sebenarnya yang ingin disampaikan novel ini. Apakah lantas kita juga harus menyukainya dengan cara pembacaan yang dianjurkan oleh Karr terhadap puisi The Waste Land, yaitu menikmatinya segmen demi segmen tanpa terlalu memikirkan kesempurnaan struktur keseluruhan. Untuk bisa menikmati sepenuhnya, kita perlu menilai segi presisi bahasa, problema overwriting, dan kelancaran cerita yang terhambat oleh metafora yang berkelebat dan saling tubruk tanpa menciptakan makna, mengevokasi mood, atau aksen yang jelas. Sangat berbeda dengan The Waste Land atau Ulysses yang, walau sangat susah dipahami secara keseluruhan, bisa dinikmati dalam momen epiphany demi epiphany.

Diambil dari makalah “Siapa Takut, Nirwan Dewanto?
Mengembangkan Sastra dengan Merebutnya dari Para Ahli Sastra”
pada sidang pleno Konferensi Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia di Manado, 25-27 Agustus 2004.