Arsip Tag: flash fiction

Jajanan Bocah

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

maem di jalan
Gambar diunduh dari health.detik.com
Adalah seorang bocah yang senang bertanya pada Ayahnya ketika menurutnya ada sesuatu yang janggal. Suatu hari rumahnya didatangi pengemis dan bocah itu melemparkan uang kepada pengemis itu. Sang Ayah pun menegurnya. Lalu bocah itu membela diri, katanya,”Ayah, orang itu pemalas. Badannya masih sehat tapi mengemis.”
“Aku menyuruhmu memberi uang dengan cara yang baik, supaya ia belajar malu. Kalau kamu ingin menjadi anak baik, lakukan dengan cara yang baik.”
Suatu hari datanglah penjaja makanan keliling ke rumah mereka. Oleh Ayahnya, si anak disuruh membeli. Tetapi karena sebelumnya ia pernah membeli dan makanan itu tidak enak, si anak protes,”makanannya tidak enak Yah.”
Kata sang ayah,”belilah. Lama-lama ia akan membuat makanan yang enak untukmu. Ia menjual makanan karena tidak mau menjadi pengemis yang malas itu.”
Sang anak pun terdiam.
Ketika dewasa, bocah itu paham maksud ayahnya bahwa memberi tidak bisa dengan cara melempar dan ketulusan perbuatan lebih penting dari nasehat terbaik. Lalu ia pun rindu jajanan bocah yang dulu sempat dikatainya tidak enak.

Ketika Delapan Bidadari Bersimfoni (24 – Senarai Kisah dari Kampung Fiksi)

Buku 24 - Senarai Kisah dari Kampung Fiksi
Apa yang kau rasakan ketika menyaksikan delapan bidadari bersimfoni? Gundahkah? Resahkah? Atau terbengong-bengong terhujam selaksa rasa yang sepertinya hanya ada dalam imaji khayalmu? Cinta. Rindu. Bahagia. Lega. Harap. Mimpi. Maya. Atau hanya rasa sederhana: suka!
Aku? Terpelanting pada rasa tidak percaya. Delapan bidadari itu memainkan simfoni kata-kata. Saling mengisi. Saling melengkapi. Hingga nada sumbang menjadi tembang. Dan tarian kata mencipta pesan nyata: hidup ini indah!
Seperti ketika engkau berdiri di tepi laut biru. Mencecap aromanya setetes demi setetes. Lalu desah debur ombaknya dapat kau rasa bersama Lelaki yang Melukis Negeri di Seberang Laut yang berkata: Akan kulukis negeri ini, seperti indahnya negeri seberang yang terletak di balik horizon, nun jauh di sana. Itu persis seperti ketika engkau menikmati nada lembut alunan organ yang mengalir tanpa sela hingga membawamu melayang, Bertualang dalam Lamunan bersama Indah Widianto yang terperangkap angan bersama Francesco Totti.
Jangan salahkan dirimu jika ketika menyaksikan delapan bidadari bersimfoni lantas kau nyaris ekstase. Permainan denting-denting melodi G pada Bayi dalam Diksi menimpali nada sederhana 13 Perempuan Endah Raharjo hingga mungkin saja ekstasemu nyaris semakin menjadi-jadi. Jangan pula salahkan dirimu jika kemudian engkau menjadi ketagihan. Sebab, simfoni itu Bagai Shabu-sabhu. Melambungkanmu ke awan. Berulang. Berkali-kali. Up-down-up-down yang kemudian mengajakmu untuk mengulang lagi, lagi, sekali lagi dan lagi.
Untuk menjagamu tetap sadar, selingi keasyikanmu dengan menyantap Cupcake Cinta Winda Krisnadefa. Agar selagi engkau menikmati simfoni, tetaplah kakimu berpijak pada bumi seperti Sri dan Merapi. Tak perlu Takut kehilangan, karena ada kata Setia Ria Tumimomor. Hidup ini memang indah, meski kadang berbalut kesah bagai Wanita di Balik Jendela yang mungkin tersiksa Gara-gara Main Hati. Saat resah menyapa, dengarkan simfoni dari delapan bidadari. Pagi. Siang. Senja. Malam. Jangan kau penggal-penggal nadanya. Jangan kau acak-acak aransemennya. Sebab, jika engkau begitu, engkau tidak akan mendapat yang lebih sempurna. Dengarkan secara utuh. Lihat tarian kata dengan penuh. Niscaya sampai Akhir Sebuah Perjalanan, semua terasa indah. Bersama delapan bidadari bersimfoni -Winda Krisnadefa, Deasy Maria, Endah Raharjo, G, Sari Novita, Indah Widianto, Ria Tumimomor, dan Meliana Indie– melantunkan 24 Senarai Kisah dari Kampung Fiksi.

Judul Buku : 24 – Senarai Kisah dari Kampung Fiksi
Penulis : @Kampung Fiksi (Winda Krisnadefa, Deasy Maria, Endah Raharjo, G, Sari Novita, Indah Widianto, Ria Tumimomor, dan Meliana Indie)
Penerbit : Kampung Fiksi
Cetakan : I, 2011
Tebal : 196 halaman

Lelaki Pengecut

Bagi Deilla, ruangan 4×5 itu terasa sempit dan menyesakkan. Kesunyian malam menyergap menambah kepiluan mendalam ketika menyaksikan sosok lelaki dengan nafas satu-satu tergolek tak berdaya di tempat tidur. Fisiknya tidak terluka. Tetapi sorot mata sayu itu lebih banyak bercerita tentang ribuan racun yang mengendap dalam di relung hatinya. Tak pernah terbayangkan lelaki yang selalu tampak kokoh seperti batu karang itu kini terkulai lemah bagai pohon pisang tumbang. Deilla yakin, tak lama lagi ia akan mati!
“Dewa, kamu kenapa?,”
Deilla terisak. Air mata membanjir di kedua pipinya. Baru kemarin kebahagiaan itu dirasakannya. Bahkan ranjang pengantin itu masih berbau melati. Kado-kado belum dibuka. Namun kini ia bagai terempas ke dalam jurang penderitaan begitu dalam dan gelap.
“Deilla…,” bisik Dewa tersendat-sendat,” kenapa kamu menangis? Tersenyumlah dan jangan kamu kotori kebahagiaanmu dengan derai air mata.”
“Kamu kenapa Dewa? Mengapa kamu melakukan semua ini?,” Deilla meraung semakin keras mendengar kata-kata Dewa.
Lelaki itulah sandaran hidupnya selama ini. Di setiap duka dan derita. Di sela-sela keputusasaan. Bahkan ketika ia begitu kebingungan mempersiapkan pernikahan, lelaki itulah yang selalu menguatkannya. Masih terbayang betapa sibuknya mereka berdua memilih warna baju, mendesain tata ruang, menelpon sana-sini hanya untuk meyakinkan bahwa tidak ada rencana yang terbengkalai.
“Deilla…maafkan aku ya…….” ucap Dewa dengan nafas terengah-engah. Dewa sadar hidupnya tidak akan lama lagi. Racun itu telah merusak hatinya.
Air mata Deilla membanjir semakin deras. Seprei, bantal dan seluruh pakaian Dewa sudah basah oleh air mata. Kata-kata Dewa bagai ribuan jarum menusuk ulu hatinya, merobek segenap perasaannya.
“Kamu pengecut Dewa… Tak kusangka, kamu sungguh pengecut membiarkanku menderita hidup sendiri ,” jerit Deilla. “Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya kepadaku? Kenapa?”
Tangis Dilla semakin histeris.
“Maafkan aku…Deilla. Lelaki itulah yang terbaik buatmu… Selamat tinggal Deilla…”
Mendadak dunia menjadi gelap dan pekat. Dilla pingsan!

Kata Cinta Pada Jam Tiga Sore

Pintu keberangkatan 5 bandara Soeta jam tiga sore.
Seorang wanita bertubuh seksi, rambut hitam kemerah-merahan, seumur dengan wanita karier kepala tiga, tangannya sibuk kanan kiri menggeluti telpon genggam. Lelaki muda, umurnya kira-kira dua puluh enam tahun duduk di bangku sampingnya asyik membaca majalah otomotif.
“Sebentar ya sayang, aku urus bandot tua dulu,” kata si Tante pada lelaki muda di sampingnya dengan senyum manis.
“Santai aja Nte,” kata si muda pula.
“Pa, ntar jemput aku jam lima ya, pesawatnya delay empat puluh menit nih,” kata manja si Tante pada seseorang di saluran telpon genggamnya.
“Gak papa, Ma. Kebetulan aku juga masih ada meeting sebentar,” jawab suara lelaki di seberang.
“Yang bener Pa? Meeting apa muting?” tanya si Tante genit,”Papa udah ngga kangen sama mama ya? Udah nggak sayang lagi sama mama?”
“Ah, Mama, mana pantas di usia kita ngomong kayak anak ABG gitu. Kan udah jelas Papa cinta mati sama mama.”
“Iya deh, percaya… I love you Pa….”
“I love you juga Mam….”
Si tante kembali mendekati lelaki muda itu.
“Sebentar lagi cita-citamu punya Honda jazz bakal terkabul Sayang,” katanya lembut.
“Makasih Tante…, tante baik banget…,”
Tujuh ratus kilometer dari Bandara Soeta, satu sms masuk ke telepon genggam seorang perempuan cantik.
“Kita masih punya waktu satu jam lagi sayang. Si nenek sihir pesawatnya delay. Turunlah ke bawah sebentar ya Say”
Dengan cepat jemari perempuan itu menghapus kemudian menulis sms baru,“maaf, aku terlambat pulang sore ini. I love you, honey.”