Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Cerpen RetakanKata

jawara menulis
Ilustrasi dari apegejadifilewordpressdotcom
RetakanKata – Satu bulan berlalu sejak naskah lomba menulis cerpen dinyatakan ditutup pada tanggal 10 Februari 2011. Satu bulan yang penuh penantian bagi para peserta dan satu bulan penuh kerja keras bagi panitia dan dewan juri. Tidak terbayangkan sebelumnya jika jumlah peserta akan begitu banyak, mencapai 490 pendaftar lomba. Sayang, ‘hanya’ 360 cerpen yang layak untuk diikutkan dalam penjurian. Sebagian peserta yang lain bahkan tidak mengirim naskah atau terlambat mengirim naskah. Meski ‘hanya’ 360 cerpen, namun jumlah itu cukup merepotkan para juri, di tengah keterbatasan waktu, tenaga dan pikiran, panitia dan para juri berusaha maksimal menilai cerpen-cerpen yang dilombakan yang mana hampir sama bagusnya satu dengan yang lain. Sangat sulit untuk menentukan satu karya yang paling bagus sehingga para juri, mau tidak mau, mengulang-ulang membaca dan menilai agar menghasilkan pilihan optimal.
Untuk dapat dinilai, cerpen-cerpen diseleksi terlebih dahulu sesuai ketentuan lomba. Amat disayangkan jika ada peserta yang sudah menulis cerpennya dengan bagus namun tidak mengikuti ketentuan lomba seperti misalnya mengirim dalam bentuk email, mengirim lebih dari satu cerpen dan yang lebih parah, belum mendaftar sudah mengirim cerpen. Setelah diseleksi, naskah cerpen dikirim ke para juri tanpa ada identitas penulis. Hal ini untuk menjaga obyektivitas penilaian cerpen. Kemudian para juri melakukan penilaian yang meliputi tiga hal, aspek materi cerita; aspek kebahasaan; dan aspek keindahan. Hal yang dinilai dari materi cerita meliputi: tema yang diangkat, latar cerita, penokohan, alur cerita dan juga nilai tambah yang bisa berbentuk pesan moral ataupun pengetahuan. Adapun penilaian aspek kebahasaan meliputi kesesuaian dengan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, efisiensi dan efektivitas bahasa serta tingkat ‘gangguan bahasa’ yang ada dalam cerita. Selain itu, tentu saja diksi dan komposisi yang membentuk keindahan cerita turut dipertimbangkan.
Setelah menjalani proses yang cukup melelahkan, berikut adalah cerpen-cerpen terpilih:

Juara I
Judul: Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga
Karya: Maria Wiedyaningsih
Berhak mendapat hadiah uang tunai sebesar Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah) dan satu buku Antologi Cerpen RetakanKata.

Juara II
Judul: Arwah Keibuan
Karya: Fahrul Khakim
Berhak mendapat hadiah uang tunai sebesar Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) dan satu buku Antologi Cerpen RetakanKata.

Dan berikut ini adalah cerpen-cerpen terbaik yang berhak masuk dalam buku Antologi Cerpen RetakanKata:
–> Burung Gereja di Nagoya, karya Beta Tangguh
–> Dotage, karya MK Wirawan
–> Stasiun Kesunyian, karya Gatot Zakaria Manta
–> Tempe Busuk, karya Victor Delvy Tutupary
–> Bungkam, karya Latifatul Khoiriyah
–> Cinta yang Menyebalkan, karya Miftah Fadli
–> Ibuku Pelacur, karya Sam Edy Yuswanto
–> Budak-budak Tuhan, karya M Nasif
–> Depan Cermin, karya Dandun Suroto
–> Dia, karya Meilia Aquina Hakim
–> Rhesus, karya Zakiya Sabdosih
–> Rantai Mawar, karya Adellia Rosa Rindry Poetri
–> Cincin, karya Canaliy

Tiga belas pemenang tersebut berhak mendapatkan satu buku gratis Antologi Cerpen RetakanKata.
Segenap panitia dan juri mengucapkan SELAMAT MENJADI PEMENANG dan tetap berkarya untuk sesama!

Salam,

Soe Tjen Marching
Aktivis Budaya, Penulis Novel ‘Mati Bertahun Yang Lalu’ dan Buku ‘Kisah di Balik Pintu

Kit Rose
Penyair, Penulis Buku Kumpulan Cerpen ‘Perempuan di Tengah Badai’ dan ‘Tentang Rasa

Ragil Koentjorodjati
Cerpenis, Pengelola RetakanKata.com.

Catatan:
Apabila segenap pembaca pengumuman ini menemukan kecurangan pada cerpen-cerpen terpilih di atas, mohon memberikan informasi secepatnya kepada pengelola melalui email di retakankata@gmail.com.

Janji

Puisi Ragil Koentjorodjati

bergandengan dalam hujan
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk berani miskin bersamaku,
Aku bertekad memperkayamu.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk berani terkucil di dunia kecilku,
Aku bertekad membangun gubug mungil yang layak menjadi rumahmu.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk tinggal di gubug mungilmu,
Aku bertekad mendirikan istana termegah bagimu.
Ketika engkau merasa istana akan menjauhkanku darimu,
Aku bertekad tinggal di gubug kecil, terkucil bersamamu.

Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk bertarung melawan kerasnya hidup,
Aku bertekad menaklukkan hidup agar cukup lunak untukmu.
Ketika engkau menyatakan lunaknya hidup akan membuatmu terluka,
Aku bertekad menjauhkanmu dari perihnya luka.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk berani terhina dan papa,
Aku bertekad meletakkan puncak-puncak keagungan di setiap ruang dada.
Ketika engkau merasa kesejahteraan dan kemuliaan menjauhkanku darimu,
Aku bertekad menjalani hari hina dan papa bersamamu.

Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk berani berjalan sendirian,
Aku bertekad senantiasa di sampingmu sebagai kawan.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk melawan arus,
Aku bertekad mengajarimu berenang dan mengapung tanpa harus tergerus.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk menolak segala bentuk ketidakadilan,
Aku bertekad memberimu keadilan yang patut kaukenakan.
Ketika engkau merasa kemapanan membuatku lupa ingatan,
Aku bertekad bergulat dalam kesulitan agar tetap bersamamu dalam kesadaran.

Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk menolak segala sesuatu yang merendahkanmu sebagai manusia,
Aku bertekad meninggikanmu melebihi tingginya bukit dan mega-mega.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk menjadi yang terkecil,
Aku bertekad membesarkanmu melebihi besarnya purnama di bulan April.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk berani sakit dan lemah,
Aku bertekad mengupayakan segala agar engkau senantiasa penuh daya.
Ketika engkau merasa kesentausaan menjadikanku serupa Rahwana,
Aku bertekad bersamamu menjadi manusia biasa.

Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk menjaga air mata,
Aku bertekad menunjukkan padamu bening mata air dari setiap tetes air mata.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk melukis senyum pada kabar duka cita,
Aku bertekad menyampaikan kepadamu hanya kabar suka cita.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk berani hidup tanpa bahagia,
Aku bertekad membawamu kepada bahagia.
Ketika engkau merasa kebahagiaan menjauhkanku dari tuhan,
Aku bertekad mendiamkan egoku untuk tetap bersamamu dalam tuhan.

Beternak Daging

Gerundelan Ayu Utami

ayu utami
Ayu Utami; Gambar dari dobbyart.wordpress
Beberapa waktu lalu, sambil sarapan setangkup hamburger saya membaca sebuah berita. Di Belanda, seorang ilmuwan mulai “beternak daging”. Bukan beternak ayam atau sapi pedaging, melainkan betul-betul beternak daging.
Bayangkan. Tak ada lagi hewan dalam kandang. Tak ada lagi bau tahi bakal pupuk organik. Yang ada daging ginuk-ginuk dalam sejenis laboratorium, yaitu pabrik daging. Daging itu didapat dari sel induk hewan. Dalam pabrik itu, daging tersebut akan tumbuh membesar, tanpa kesadaran, tanpa otak, tanpa tulang punggung, tanpa pembuluh darah ataupun jantung yang memompa darah.
Daging dari makhluk—kalau masih bisa disebut makhluk—yang tidak kita kenal sama sekali. Mungkin lebih mirip tahu, atau oncom, atau tempe, atau keju, tapi lebih gawat. Sebab, tahu, tempe, oncom, ataupun keju tidak bertumbuh dari satu sel yang membelah diri jadi banyak.
Saya agak gilo membayangkannya. Gilo itu istilah bahasa ibu saya. Artinya kira-kira ngeri, jijik, sekaligus takjub. Membayangkan daging tumbuh, yang segera teringat oleh saya—maklum saya orang awam—adalah tumor. Langsung leher saya tercekat, sulit menelan lempengan daging cincang di antara roti yang semula saya nikmati dengan lahap.
Saya jadi membayangkan hamburger ini sejenis daging tumbuh. Dan jika daging itu dulunya tak pernah bernyawa, lantas apa yang membuat dia tahu untuk berhenti bertumbuh? Jangan-jangan setelah menjadi pengganti sel-sel tubuh saya,nanti sel-sel itu terus bertumbuh karena ia tak pernah punya memori mati atau berhenti.
Pertanyaan-pertanyaan saya mungkin saja khas orang bodoh. Maklumlah. Zaman sekarang kita tahu, kebanyakan makan daging merah pun bisa memicu sel-sel kanker. Bagaimana pula dengan daging rekayasa ini?
Tapi perdebatan di balik eksperimen ini sebetulnya menarik. Semua berawal dari jumlah manusia yang sudah lebih dari 6 miliar di muka bumi, dengan kerakusan yang tak terbendung. Bagaimana memberi makan 6 miliar mulut dan perut itu? Bumi tidak bisa lagi secara alamiah memberinya. Maka manusia akan harus memproduksi makanannya di dalam “pabrik”. Di RRC,mereka sudah secara terbuka membicarakan “pabrik pertanian”. Pertanian tidak lagi di tanah seperti dulu, tetapi dalam bangunan bertingkat,dengan medium yang selalu bisa bersifat inovatif. Setiap ada medium baru yang bisa untuk berproduksi, mari dicoba. Masalahnya, efek samping memang baru akan ketahuan setelah satu dua generasi.
Lantas,selera makan saya lenyap. Saya letakkan hamburger yang semula nikmat. Aduh…manusia semakin jauh dari yang organik. Betapa menyedihkan bahwa kita tak bisa lagi membayangkan alam pedesaan yang segar dan asri dalam sepiring makanan kita. Kita tidak bisa lagi membayangkan kebun sayur yang terbuka saat mengunyah salad. Kita tidak bisa lagi berterima kasih pada domba dan ternak yang telah disembelih. Kita tidak mendapatkan lagi energi kehidupan dari alam raya. Kita memperolehnya dari pabrik,yang tertutup, mekanis,dan cepat.
Aneh, bahkan pertanian dan peternakan organik kini mulai menjadi Taman Eden, Taman Firdaus yang semakin jauh dan menjadi sejenis mimpi dan kerinduan. Aneh, tiba-tiba gambaran tentang Taman Firdaus itu jadi bermakna sekarang. Sebuah alam asli dan asri yang berlimpah-limpah untuk mendukung kebutuhan manusia, sampai titik di mana manusia memilih mengambil sesuatu yang terlarang. Apa yang terlarang itu?
Alkitab menyebutnya Pohon Pengetahuan. Di ruang yang sempit ini, kita bisa menafsirkannya sebagai pengetahuan untuk mengeksploitasi. Begitu manusia memilih pengetahuan yang mengeksploitasi ini, maka terusirlah mereka dari Taman Eden. Yang ada pada manusia adalah kerinduan laten pada taman surgawi itu.
Akan tetapi, dongeng itu menjadi tidak ganjil sekarang. Kita sedang melihat proses pemisahan lagi. Seperti Adam dan Hawa terusir dari Firdaus, manusia kini juga sedang terusir dari dunia alamiah, memasuki dunia pabrikan. Gaya hidup organik memang dikampanyekan. Tapi jika kita tidak berhenti memproduksi anak dalam skala massal dan tidak membendung kerakusan, hanya mereka yang paling kaya yang bisa hidup organik, seperti sejenis kasta brahmana.

Sumber: Seputar Indonesia Cetak, Minggu 4 Maret 2012

Cerita Bersambung: Tunangan (6)

Cerita Anton Chekhov
Alih Bahasa RetakanKata

kasih tak sampai
Ilustrasi dari 3_bp_blogspotdotcom1
Taksi telah datang. Dengan topi di kepala dan mengenakan mantel, Nadya naik ke lantai atas untuk, sekali lagi, menatap ibunya dan barang-barang miliknya. Dia berdiri sejenak di kamarnya, di samping tempat tidurnya yang masih hangat, membayangkan dirinya sendiri sebelum kemudian perlahan-lahan mengalihkan perhatian ke ibunya. Nina Ivanovna masih tertidur, senyaman tidur di kamarnya. Nadya mencium ibunya, merapikan rambutnya, berdiri diam selama beberapa menit kemudian berjalan perlahan-lahan ke bawah. Saat itu hujan lebat. Pengendara taksi dengan penutup kepala terbuka, berdiri di pintu masuk, tersiram hujan.
“Tidak ada ruang untukmu, Nadya,” kata Nenek, yang seperti seorang pelayan sedang membantu majikannya menempatkan barang bawaan Nadya dalam bagasi. “Ide macam apa melihat dia pergi dalam cuaca seperti ini! Lebih baik kamu tinggal di rumah. Betapa penuh kebaikan dalam hujan ini!”
Nadya mencoba mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa. Sasha membantu Nadya masuk ke dalam taksi dan menutupi kakinya dengan karpet. Lalu ia duduk di sampingnya.
“Semoga kalian beruntung, Tuhan memberkati!” Nenek menangis seiring langkah-langkah menjauh. “Pikirkan untuk menulis surat kepada kami dari Moskow, Sasha!”
“Ya Nek, selamat tinggal.”
“Semoga Ratu Surga menjaga kalian!”
“Oh, cuaca macam apa ini!” kata Sasha pula.
Inilah saatnya Nadya mulai menangis. Sekarang jelas baginya bahwa dia pasti pergi, meski sulit dipercaya ketika ia mengatakan selamat tinggal kepada Nenek, dan ketika ia melihat ibunya.
Selamat tinggal kota! Dan dia tiba-tiba teringat semuanya: Andrey dan ayahnya, rumah baru dan wanita telanjang dengan vas. Semua itu tidak lagi menakutkannya dan tidak lagi menjadi beban, selain tampak naif dan sepele serta semakin tertinggal jauh. Dan ketika mereka masuk ke gerbong kereta api dan kereta mulai bergerak, semua masa lalu yang begitu besar dan serius, menyusut menjadi sesuatu yang kecil, dan masa depan yang lebar besar, yang hingga saat itu hampir tidak diperhatikan mulai membentang di depannya. Hujan menimbulkan bunyi gemeratak di jendela kereta. Tidak ada yang bisa dilihat selain ladang hijau, telegram dengan gambar burung melintasi kabel. Dan sukacita membuatnya menahan napas, dia berpikir tentang kebebasan, berpikir tentang belajar, dan ini adalah seperti apa yang seharusnya dilakukan di usianya yang lalu, terpanggil sebagai Cossack merdeka.
Nadya tertawa dan menangis dan berdoa sekaligus.
“Semua akan baik-baik saja,” kata Sasha, tersenyum. “Ini baik-baik saja.”

bersambung…

Baca cerita sebelumnya Cerita Bersambung: Tunangan (5)

Torsa Sian Tano Rilmafrid*

Cerita Bersambung Martin Siregar

Bagian 1.
parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom

Tigor memang sudah sangat acap hidup dalam kondisi yang menegangkan. Anak polisi yang tinggal di pinggir pantai penuh dengan berbagai kasus kriminal penyelundupan barang antar Negara, menempa dirinya bermental baja keras tidak cengeng. Bapaknya termasuk polisi bermoral. Tidak seperti kawan-kawan sejawatnya. Walaupun polisi berpangkat rendah, tapi bisa saja hidup mewah sejahtera kaya raya, karena dengan gampang menawarkan diri menjadi pelindung para toke-toke penyelundup yang memasukan barang ilegal dari Melano ke negara Trieste. Bapak Tigor hidup seadanya, tidak mau jadi kaki tangan penyelundup hingga sering dituduh oleh sejawat maupun keluarganya sendiri dengan sebutan : Bapak Sok Moralis. Ia sama sekali tidak tergiur ikut dalam kancah kaki tangan penyelundupan antar negara.
Ketika abang sulung Tigor tamat dari SMA, secara mendadak Bapaknya minta pensiun dini. “Lebih baik aku berladang menanam semangka dan mangga golek, daripada sekantor dengan manusia manusia bejat di kantor polisi busuk itu” kata Pak Kurus. Maka sejak Tigor SMP kelas 2 catur wulan 2 tahun 1975, di tanah leluhur Pak Kurus, bapak kandung Tigor menghabiskan hari-harinya bersama istri tercinta. Bertani seperti ketika mereka masih muda.
Tentulah pelabuhan bebas Pangkoper harus menciptakan kondisi kota yang mampu memfasilitasi kebutuhan para pelaku berbagai jaringan penyelundupan. Seluruh kota penuh sesak dengan tempat-tempat hiburan semarak kegemerlapan malam, ramai gadis penghibur para pelaku bisnis penyelundupan. Tempat semua pihak yang terlibat bercokol setiap malam melakukan transaksi sambil menikmati hiburan. Mulai dari preman kelas kambing peminum tuak murah sampai kelas mafia kaliber puluhan milyar, tentara dan polisi pangkat rendah sampai ke tingkat perwira tinggi berkeliaran memenuhi seluruh sudut kota Pangkoper.
Kota Pangkoper semakin semarak lagi, karena di kota yang sama itu para nelayan penangkap ikan dalam jumlah besar juga melakukan transaksi. Paling sedikit setiap bulan terjadi pembunuhan sesama nelayan dan pembakaran pukat harimau oleh nelayan tradisonil. Berbagai asal usul daerah tempat tinggal nelayan berkecamuk hiruk pikuk di tengah laut saling sikut menyikut berlomba menangkap ikan.
Oleh sebab itu dengan mudah ditebak, bahwa Pangkoper pastilah sebuah kehidupan kota yang penuh dengan kasus-kasus kekerasan kriminal sadistis. Demi untuk menyelamatkan barang selundupan mobil mewah, elektronika, narkoba, sampai dengan penyelundupan mainan anak-anak berharga murah, adalah penyebab utama dari pertikaian antar anak manusia sepanjang waktu di kota Pangkoper.
Saut Hasudungan, abang sulung Tigor, memang ditawarkan Pak Kurus untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Tapi, sebagai tindakan protes terhadap bapak kandungnya yang sok moralis itu, Saut Hasudungan lebih memilih sebagai pengusaha kedai tuak. Walaupun dia sadar, kehidupannya kelak kemudian hari pasti lebih sejahtera apabila menerima tawaran bapaknya masuk ke perguruan tinggi.
Sedangkan adiknya, Rosita Dameria, tamat SMA tahun 1977 kebetulan berotak encer dengan senang hati menyambut tawaran bapaknya untuk melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di ibukota propinsi Rilmafrid. Sebuah perguruan tinggi ternama di negara Trieste. Anak bungsu keluarga itu adalah Tigor, sama sekali tidak tertarik dengan pola hidup kedua orang tuanya yang menghabiskan waktu bercocok tanam sepanjang hari.
Tapi, walaupun begitu, moral bapaknya yang dituduh sok moralis, secara utuh lengket di dalam jiwa Tigor. Tigor tidak merokok apalagi minum minuman keras berpesta pora narkoba seperti kawan-kawan sebayanya. Kegemarannya sepulang sekolah adalah ngobrol dengan para nelayan di rumah gubuk pinggir pantai. Melalui dialog intens, Tigor dengan tekun menguras segala informasi tentang kehidupan para nelayan yang miskin papa sengsara. Dan, ikut menghujat pejabat negara yang terus menerus melindungi pukat harimau dan segala bentuk penyelundupan di pelabuhan bebas Pangkoper tempat Tigor dilahirkan. Kebiasaan Tigor berikutnya adalah membaca novel. Seluruh novel karangan Mario Fuzo bertema intelijen dan kehidupan mafia Italia sudah habis digarapnya.

bersambung…

*)Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Burung-burung Kertas

Puisi Ragil Koentjorodjati

burung kertas
Ilustrasi dari 2.bp.blogspot.com
(1)
Di tanganmu, satu demi satu kaucipta,
Burung-burung kertas yang kemudian kauterbangkan kian ke mari,
Melayang, menarikan mega-mega biru,
Meliukkan nafas cinta yang kausemayamkan pada sayapnya,
dan harapan tertakik pada kerinduan.

Wahai, udara ini serasa tak pernah hampa.

Ah, aku telah jatuh cinta,
Pada burung kertas yang hancur luruh di kali kecilku.

(2)
Aku ingin terbang bersamamu,
Melangit tinggi di awan maya -imaji bocah-bocah terbahagia-
Dengan tenang kita akan mengawang,
menantang tinggi nyiur yang tak terukur,
melintas semak perdu penuh biru,
Sembari aku akan berkisah tentang kampung halaman,
Tempat semua kerinduan berpulang,
Di sana, kita dapat leluasa terbang.
Lalu seperti biasa,
Ketika senja tiba, Ayah atau Ibu akan memanggil bocah-bocah itu,
Beruntun mereka berebut memeluk Bunda,
ditingkah selaksa cinta -tawa yang berderai-derai
Dan kita akan mendarat di tempat sampah atau nyala api,
Dengan sedikit rasa yang kupunya, akan kubisikkan kepadamu,
:jangan menangis, besok kita akan kembali terbang.

(3)
Adalah salahku mencintaimu,
mencintai hal-hal palsu,
hanya agar nafas tetap bertahan di badan.
Dan aku mohon,
jangan kaucaci aku tentang murninya hati,
ketika -dengan sedih- harus kucuri sesuatu dari kematianmu,
kunikmati di sela-sela ranggas kemarau istirahku,
deretan aksara yang tak lagi bermakna,
tertekuk, terlipat, tak lagi terbaca.
Engkau tahu, aku tidak mampu berterima kasih kepadamu,
aku tidak mampu berterima kasih pada hal-hal palsu,
seperti mereka yang mencuri dari nama-nama kosong,
yang mencuri dari yang ditinggalkan orang mati.
Dan ketika alam hidup mengajarkan kekejaman,
ijinkan aku tetap mencintaimu,
tanpa hati, tanpa jantung
tanpa darah, tanpa nadi.
Agar aku dapat tetap terbang bersamamu,
Meski aku menjelma burung kertas yang terlalu ungu.

Negara Sekuler: Pengaruh Barat?

Gerundelan Soe Tjen Marching

gandhi
Ilustrasi dari eliteoftheworld.com
Pada senja 14 Juli 1942, lelaki tirus dengan secarik kain penutup tubuh, menyusuri tanah yang kerontang berdebu. Mereka yang tak mengenalnya akan menyangka lelaki ini sebagai gembel peminta-minta. Namun, “gembel“ bernama Mahatma Gandhi ini tidak sedang meminta-minta. Dia baru saja memutuskan sesuatu yang akan mengguncangkan dunia. Bersama dengan Kongres Nasional India, ia meluncurkan dekrit yang mendesak pemerintah Inggris untuk segera keluar dari tanah itu. India akan memerintah Negaranya sendiri, dan Gandhi merencanakan suatu sistem bagi Bangsa ini, untuk menentang kolonialisme: pemerintahan sekuler.
Sekulerisme dalam Negara secara umum dikenal sebagai sistem pemerintahan yang memisahkan agama dari politik dan kenegaraan. Inilah yang menakutkan bagi beberapa orang: bila tidak ada lagi agama yang dipegang oleh penguasa, apa yang akan mengarahkan nurani mereka?
Agama adalah untuk membuat manusia lebih manusiawi, demi kebaikan, sebuah pegangan untuk moralitas manusia. Namun, agama di tangan para pejabat telah terbukti disalahgunakan untuk semakin membohongi rakyat. Begitu pula di Indonesia. Kekerasan atas nama agama masih berlanjut. Pertempuran antar agama dibiarkan, terkadang dengan membela agama mayoritas, untuk memperoleh kepopuleran.
Pemerintah telah menggunakannya untuk ajang adu domba. Justru karena keyakinan bahwa apa saja yang menyangkut agama itu benar dan selalu baik, kebanyakan masyarakat buta. Agama bisa menjadi vitamin atau racun, tergantung dari siapa yang menyandangnya.
Dan sekali lagi, kecurigaan bahwa sekulerisme hanyalah pengaruh Barat? Mahatma Gandhi, seorang Hindu yang taat beribadah, telah mengenali muslihat agama dalam politik. Justru dengan sekulerisme, dia melawan dominasi Negara Inggris (yang dikenal sebagai “Barat” oleh kebanyakan orang).
Ia tahu, betapa mudahnya agama bisa dijadikan bulu-bulu domba bagi para serigala politik. Ucapnya: “Simpanlah agama untuk kehidupan pribadimu. Kita sudah cukup menderita dengan campur tangan agama atau Gereja di bawah pemerintahan Inggris. Sebuah masyarakat, yang kehidupan agamanya tergantung pada Negara, sungguhlah tidak layak mempunyai agama. . .”

Tersesat

Puisi Natalia Lily P
perempuan bersayapTersesat?
Ya, aku tersesat di setiap sudut penjuru mata angin.
Katakan lengah telah menuntun butaku semakin nyata.
Dingin hati semakin menebal berpagar ego tak terukur.
Siapa yang peduli celoteh putih bertopeng manis?
Kosongkan nurani di hentakan tangis menyayat miris teriris.
Tulikah aku di cengkraman garis kabut?
Sayup tersiar barisan kata sarat kehampaan di pantai terjal.
Terlaknat ataukah di laknat hanyalah serpihan debu terkumpul.
Raga terbujur diam menghitung gelaran sisa nafas terhela.
Lintasan padang duri nyaris matikan rasa.
Membisu
Membeku
Terpaku
Sisi kubangan hitam menggeliat.
Meraung menjalar liar, terkapar di sorot batas angkara!

Pemahaman Keliru Tentang Lirisisme Dalam Prosa

Oleh Richard Oh

prosa lirisPerkembangan sastra dalam negeri saat ini, menurut saya, cukup memprihatinkan karena penekanannya lebih pada sintaksis ketimbang integritas dan keunikan ekspresi. Maka, sering kita baca betapa dahsyat Cala Ibi karena pengungkapannya yang unik. Ia bahkan dianggap memperbarui bahasa dan lain-lain. Kenyataannya, setelah membaca beberapa halaman novel ini, pembaca akan menemukan paragraf demi paragraf sarat purple prose. Saya jadi ingat kata-kata Virginia Woolfe “mannered, self-conscious”. Kalimat yang seharusnya tak perlu kompleks dan bisa ditulis sangat sederhana dipuisikan, dinyanyikan, dibuat keruh serasa pembaca senantiasa dibombardir oleh aliterasi. Rima haram bagi novelis di mana saja karena ia menjadi distraksi tersendiri dan mengganggu laju arus cerita. Metafor ataupun simbolisme yang dalam kamus seorang penulis seharusnya diungkapkan untuk memperkuat makna keseluruhan satu karya-seperti kejadian di awal bab novel Anna Karenina di mana seorang wanita mencampakkan diri ke dalam rel kereta meramal kematian Anna Karenina sendiri pada akhir novel- disalahpahami oleh penulis Cala Ibi sebagai kreativitas dalam berbahasa. Penggalan ini saya ambil secara acak dari novel itu.
Bapakku bening air kelapa muda. Ibuku sirup merah kental manis buatan sendiri. Aku Bloody Mary. Jumat malam alkoholik, happy hours, Jumat pagi robotik. Kadang aku minum jus tomat, dan merasa sehat. Kadang berseru alhamdulillah, ini hari Jumat-atau Ahad, Rabu, hari apa saja. Kor lepas dengan beberapa temanku di sore-sore hari, seraya aku membayangkan gelas berkaki tinggi dan hijau margarita dan kristal garam berkilau di bibir gelas, seperti sesosok perempuan, datang dari kejauhan.
Bayangkan ini hanya satu penggalan kalimat. Begitu padat dengan informasi, berputar-putar tidak menuju satu tujuan yang memberikan pencerahan makna. Apa artinya “Bapakku bening air kelapa muda”? “Ibuku sirup merah kental manis” saja sudah membingungkan, tetapi kemudian ditambah dengan “kental manis buatan sendiri”. Dan, apa pula artinya “Jumat pagi robotik”? Ada kesan, dalam menulis kalimat-kalimat ini penulis ingin memaksakan makna ke dalam tiap baris prosa, seperti seorang penyair karena keterbatasan ruang memadatkan larik dengan makna. Kalimat demi kalimat kalau dibaca bagaikan puisi sahut-menyahut, namun jadi sangat mengganggu kelancaran cerita novel ratusan halaman ini selain menambah kelelahan. Di sini terlihat jelas penulisnya tidak paham sama sekali penggunaan puisi dalam penulisan novel.
Sebelum meninggal, Italo Calvino menulis buku tipis Six Memos for the New Millenium. Ia menurunkan kepada penulis generasi penerus enam hal penting tentang penulisan, elemen-elemen pembangun sebuah karya sastra. Dia membicarakan tentang lightness, ringan yang membebaskan tapi berbobot, dengan mengutip Paul Valery, “One should be light like a bird, and not like a feather.” Dia juga bahas quickness, kegesitan prosa, dengan mengambil contoh keefektifan struktur sebuah dongeng rakyat. Kita bisa memahami makna sebuah dongeng rakyat dengan begitu mudah karena rentetan cerita bergerak maju cepat tanpa hambatan detail yang mengganggu. Dia membahas exactitude, presisi bahasa ungkapan, dan visibility, kekuatan visual dalam prosa. Dia kemudian mengupas multiplicity, yaitu suatu karya seni harus punya ambisi dan mencakup semua seperti pada novel ambisius Flaubert, Bouvard et Pecuchet, yang mencoba menuangkan semua pengetahuan dunia dalam satu buku. Untuk menulis buku ini, Flaubert membaca ribuan buku dalam pelbagai bidang disiplin.
Dengan tolok ukur Calvino ini, banyak aspek dari Cala Ibi yang perlu dipertimbangkan. Ia terlalu lamban, maka kurang quickness, seperti sebuah dongeng rakyat. Ia kurang lightness karena prosanya tak mengalir. Mungkin cukup kaya dengan visualisasi, tapi kurang exactitude sebab kreativitas dalam kata tak berarti presisi kata. Ia terlalu memikirkan permainan kata dan irama daripada ketepatan frase bagi suatu ungkapan. Untuk aspek multiplicity, di sini mungkin terlihat cakupan ambisinya, tapi tetap miskin karena kurang konsisten. Kritikus yang mencintai permainan kata dan kekayaan sintaksis memuji karya ini karena merasa novel ini telah memperbarui bahasa dengan padatnya metafora dalam kalimat-kalimat, tapi membutakan mata memeriksa integritas ungkapan yang memperkukuh makna utama novel itu.
Namun, tak satu pun kritikus yang dapat mengungkapkan secara konkret apa sebenarnya yang ingin disampaikan novel ini. Apakah lantas kita juga harus menyukainya dengan cara pembacaan yang dianjurkan oleh Karr terhadap puisi The Waste Land, yaitu menikmatinya segmen demi segmen tanpa terlalu memikirkan kesempurnaan struktur keseluruhan. Untuk bisa menikmati sepenuhnya, kita perlu menilai segi presisi bahasa, problema overwriting, dan kelancaran cerita yang terhambat oleh metafora yang berkelebat dan saling tubruk tanpa menciptakan makna, mengevokasi mood, atau aksen yang jelas. Sangat berbeda dengan The Waste Land atau Ulysses yang, walau sangat susah dipahami secara keseluruhan, bisa dinikmati dalam momen epiphany demi epiphany.

Diambil dari makalah “Siapa Takut, Nirwan Dewanto?
Mengembangkan Sastra dengan Merebutnya dari Para Ahli Sastra”
pada sidang pleno Konferensi Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia di Manado, 25-27 Agustus 2004.

Pasir Panjang

Cerpen Weny Widianti

pantai singkawang
ilustrasi dari univpancasila.ac.id
Berdiri di Pasir Panjang memang mengasyikkan. Sekedar untuk menantang angin laut yang berhembus, menerbangkan helai-helai rambut dan mengobrak-abriknya dengan sukses. Cukup membuat mata pedas dan mengeluarkan air. Atau bermain dengan ombak Selat Karimata yang berbuih pelan. Desirannya mengalun lembut merasuki jiwa. Dasar laut yang beriak tergulung laju ombak, begitu juga pasir putih yang terhampar luas di tepian pantai. Ada banyak goresan pasang surut laut di sana. Jika diperhatikan butiran-butirannya yang halus seakan terikat satu sama lain oleh asinnya air laut.
Sigit sedang berdiri di sana, menghadap matahari yang pelan-pelan sedang turun ke peraduannya di ufuk barat. Setiap hari Sigit melakukan ini. Sejak menginjakkan kaki di Singkawang, melepas kepergian matahari merupakan kegiatan favoritnya seolah-olah dia sedang melaporkan diri bahwa kehidupannya hari ini telah bergulir. Tiap kali Sigit datang ke Pasir Panjang, dia akan berdiri berlama-lama menatap sinar matahari. Dia akan merentangkan tangannya lebar-lebar sambil memejamkan mata. Dia tak peduli pada orang lain yang membicarakan tingkah anehnya dengan berbisik-bisik. Bisa juga dia berjalan menyusuri Pasir Panjang sementara kakinya mempermainkan air. Terkadang dia duduk, tangannya meraup-raup pasir dan berusaha membuat gunungan tak jelas. Barangkali dia ingin meniru gaya orang bule yang membuat istana pasir, tapi yang terjadi malah gundukan rumah keong yang abstrak. Sigit selalu menertawakan hasil karyanya itu.
Banyak orang hilir mudik di Pasir Panjang. Sepasang kekasih yang bergandengan tangan atau berpelukan mesra menjadi pemandangan yang biasa. Anak-anak kecil hingga remaja berlarian seraya berteriak-teriak. Suara lantang mereka mengalahkan suara ombak. Para orangtua yang mengajak anak-anak mereka jalan-jalan tampak sibuk mengawasi buah hati mereka yang sedang bermain pasir. Sesekali terdengar teriakan seru mereka ketika menemukan keong, siput atau kepiting di antara lubang-lubang kecil di pasir.
Sigit tidak peduli. Bila dia memperhatikan semua orang yang bertingkah segala rupa itu, dia akan teringat rumahnya di Tuban, sebuah kota kecil di pesisir pantai utara Jawa. Pemandangannya tak jauh beda dengan Singkawang. Sepanjang jalan yang akan ditemukan adalah laut. Melihat para orangtua dan putra putrinya, dia teringat pada kedua orangtua dan adik-adiknya. Sigit terpaksa meninggalkan mereka untuk merantau di Singkawang, bertugas demi negara. Konsekuensi menjadi pegawai negeri sipil adalah demikian, mesti bersedia berpisah dengan keluarga untuk ditempatkan di seluruh wilayah negara Indonesia. Tidak mudah memang. Berkali-kali Sigit menahan tangisnya agar tidak pecah sebab menahan rindu pada orang-orang di kampung halamannya.
“ Mas Sigit, kapan pulang?,” tanya Dika, adiknya yang paling kecil, pada waktu Sigit menelpon ke rumah.
“ Nanti kalau lebaran, Mas Sigit pulang ke rumah,” jawab Sigit lembut.
“ Bagaimana pekerjaanmu disana?,” tanya bapaknya.
“ Lancar, Bapak. Alhamdulillah tidak ada halangan.”
“ Kamu tidak mengajukan pindah kemari, Git?” kata ibunya.
Sigit tersenyum pahit. “ Ibu tahu aku ingin sekali, tapi masih belum bisa. Aku belum ada lima tahun kerja di sini.”
Hm, bisa dimaklumi seandainya pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu dihujamkan pada Sigit. Bekerja di tanah perantauan dan jauh dari keluarga, yang ada dalam kepala adalah pertanyaan “kapan Sigit pulang?”
Bicara mengenai teman, Sigit sempat mengalami sindrom friendness. Itu hanyalah sebutan fiktif untuk kerinduan kepada kawan-kawan lamanya di Tuban. Melihat remaja-remaja bergerombol, berteriak-teriak dan tertawa lepas, membuat penyakit friendness-nya kambuh. Dulu saat usianya masih belasan tahun, dia selalu turun ke pantai bersama teman-temannya di setiap hari Minggu. Dia akan menghabiskan waktu berlama-lama berkecipak dengan air laut pantai utara Jawa. Konyolnya, mereka tidak akan pulang sebelum baju dan celana mereka basah kuyub.
Sigit ingat betul bagaimana kehebohan yang terjadi gara-gara Heri, salah satu teman karibnya, kehabisan napas karena hampir saja ditenggelamkan oleh Sigit, Hamdan, Budi dan Tono. Di antara mereka berlima, hanya Heri yang tidak bisa berenang.
Pada hari itu, mereka beruntung mendapat pinjaman sampan dari nelayan yang berdomisili sekitar pantai.
“Aku tidak mau ikut,” kata Heri. Dia kelihatan ketakutan.
“Kenapa?” tanya Budi.
“Kalau tenggelam bagaimana?” kata Heri.
“Tidak akan tenggelam,” sahut Tono.
“Aku tidak bisa berenang.” Heri benar-benar gemetar.
“Tenang! Kalau perahunya terbalik dan tenggelam, kami kan bisa berenang,” kata Sigit.
“Sudahlah, Her, ayo ikut! Kau mau ketinggalan pengalaman mengasyikkan bersama kami?” desak Tono.
Heri akhirnya menurut. Wajahnya pucat pasi. Ketika Tono dan Budi mulai mendayung dan mengarahkan sampan ke tengah lautan, tangan Heri berpegangan kuat pada sisi sampan dan mulutnya komat-kamit tiada henti. Tiap sampan bergetar terkena laju ombak, dia yang pertama kali berteriak keras. Mengetahui kepanikan Heri yang sedemikian rupa, semangat jahil Hamdan timbul. Tiba-tiba saja dia menggoyang-goyangkan sampan dan berteriak,” Ada ikan hiu menyerang kita!”
Sigit, Tono dan Budi tahu bahwa itu konyol. Mereka sedang berada di pantai utara Jawa, bukan di Samudra Pasifik, dan di kedalaman beberapa meter tidak mungkin ada hiu berkeliaran, tapi Heri termakan gurauan Hamdan. Emosinya benar-benar tidak bisa dikendalikan.
“Hiu? Ada hiu? Bagaimana ini?” teriaknya. Dia sudah melakukan gerakan jongkok berdiri. Seandainya sampan ini tidak kecil, mungkin dia juga melakukan salto dan jungkir balik.
“Heri, tenanglah!” kata Sigit. Dia, Tono dan Budi berusaha tidak tertawa, sementara Hamdan terus membuat sampan kami bergoyang bahkan semakin kencang.
“ Bagaimana bisa tenang? Keselamatan kita terancam!” teriak Heri.
Hamdan mendoyongkan sampan ke kiri, membuat Heri oleng dan tercebur ke laut. Heri berteriak keras,”Tolong! Tolong aku!” Tangannya menggapai-gapai permukaan laut.
Bodohnya, saking tertegun dan ingin tertawa, Sigit dan yang lain hanya menonton dari tepi sampan. Senyum mereka lenyap ketika Heri beserta tangannya menghilang dari permukaan. Buru-buru Hamdan menceburkan diri ke laut untuk menolongnya. Sesampainya di pantai, mereka segera melarikan Heri ke rumah sakit yang letaknya tak seberapa jauh. Jelas mereka takut terjadi sesuatu yang fatal terhadap Heri sebab menurut Hamdan tadi, Heri sempat tak bernapas. Syukurlah, Heri selamat. Dia hanya kehabisan napas dan banyak minum air laut. Dalam sekejab dia sudah diperbolehkan pulang dan keesokan harinya dia sudah badung lagi seakan-akan peristiwa kemarin tak pernah terjadi padanya.
Sigit tersenyum geli mengingat kejadian itu. Seandainya kala itu nyawa Heri tidak terselamatkan, barangkali beritanya akan masuk ke surat kabar dengan judul besar-besar “Seorang Bocah Tenggelam Karena Takut Hiu” dan foto mayat Heri terpampang di sana.
Yah, home sweet home. Sesukses apapun pekerjaannya di Singkawang, Sigit tetap merasa hidup di rumah sendiri lebih nyaman meskipun penuh dengan semak berduri. Untuk mengatasi kesendiriannya, Sigit pergi ke Taman Bougenville, sekedar berkumpul dengan teman-teman kantor dan kenalannya sembari duduk mengopi. Letaknya yang di atas bukit sehingga memudahkan kita menatap sekeliling. Jika malam tiba, kota Singkawang terlihat seolah dipenuhi kunang-kunang. Lampu-lampu rumah dan jalan berkelap-kelip warna-warni. Mobil dan motor yang melintas tampak seperti titik cahaya kecil yang bergerak. Pemandangan yang luar biasa. Bandingannya adalah Kecamatan Grabagan di Tuban. Sepanjang yang dilihat adalah gundukan-gundukan batu kapur, jalan yang berkelok dan naik turun, serta tanah merah nan subur. Dari atas bukit kapurnya, kita bisa melihat hijaunya sawah dan padatnya rumah-rumah penduduk. Sungai Bengawan Solo, sungai yang terkenal karena dijadikan judul lagu itu pun, tampak meliuk membelah Kecamatan Rengel, Plumpang dan Widang. Kalau musim penghujan tiba, kita bisa menyaksikan sang bengawan legendaris itu murka hingga memuntahkan airnya ke daratan.
Suara burung-burung terdengar berkoak-koak memecah langit senja Pasir Panjang. Menjelang matahari terbenam, Pasir Panjang dipenuhi manusia berbagai rupa, sedangkan angkasa dipenuhi oleh burung berbagai jenis. Tak dapat dikenali satu per satu. Mungkin ada camar, walet atau bahkan elang. Mereka keluar masuk Pulau Lemukutan. Pulau kecil yang berada di selatan Pasir Panjang itu adalah surga bagi segala jenis burung liar yang menggantungkan nasib dari laut Pasir Panjang. Disanalah burung-burung itu berlabuh dan menghabiskan malam setelah seharian mengais makanan.
Langit sudah berpendar merah, memantulkan sinar matahari menembus awan-awan tipis yang bergerak. Tidak semua momen yang terjadi di pantai adalah momen yang menyenangkan untuk dikenang. Sigit pernah menghabiskan senja terburuk dalam hidupnya di pantai utara Jawa Tuban. Ironisnya, bersama Rini, perempuan yang berhasil menggetarkan hatinya. Secara fisik, Rini tidak cantik. Dari postur dan bentuk tubuh, Rini tidak ada apa-apanya. Dia juga tidak sehalus dan secerdas putri keraton. Yang jelas Sigit mencintainya. Sepengetahuan Sigit, Rini pun demikian. Tidak mungkin dia tidak mencintai Sigit bila dia rela menjalin cinta jarak jauh dengan Sigit. Barangkali kesabaran dan kesetiaan Rini lah yang membuat Sigit tak sampai hati mengkhianatinya. Namun, sore itu merupakan malapetaka terdahsyat bagi Sigit ketika kalimat “Aku ingin mengakhiri hubungan kita” keluar dari mulut Rini.
Sigit terpaku di tempatnya. Wangi dupa dari Klenteng Kwan Sing Bio yang terletak di depan pantai utara Jawa Tuban menyusup ke hidung Sigit. Angin laut menerpa tubuhnya, membuatnya terhuyung miring. Salahkah pendengarannya?
“Rini, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan?” kata Sigit.
Rini menitikkan air mata. “Aku minta maaf, Sigit. Aku tidak sanggup melanjutkan hubungan kita. Terlalu sulit dan banyak godaan.”
“Tapi selama ini kita baik-baik saja.”
“Aku berbohong. Sudah lama aku tidak nyaman dengan keadaan kita. Aku tidak bisa bersikap tidak ada apa-apa. Aku tidak mau menyembunyikannya lagi.”
Sigit terdiam.
“Aku minta maaf, Sigit. Maafkan aku.”
Sigit menghembuskan napas panjang. Mengingatnya membuat hatinya sakit. Sekuat mungkin dia berusaha menghapus pita-pita rekaman pahit itu dari kepalanya. Terlalu menyakitkan untuk disimpan. Dia tidak sanggup. Hidupnya sudah cukup menyedihkan untuk ditambah dengan hal-hal melankolis macam itu.
Perlu waktu untuk menyembuhkan luka-luka yang menggores ulu hatinya. Bahkan ketika perempuan-perempuan Singkawang datang silih berganti, menjejali ruang di hati Sigit yang telah penuh, dia masih belum bisa melupakan Rini seutuhnya. Padahal tak sedikit tangis dan air mata mereka yang tumpah di dada Sigit. Tak sedikit pula tawa riang dan senyum manis mereka mengembang di pelupuk mata Sigit yang kering. Ada Mona dan Adies yang berwajah oriental khas Singkawang; juga Rachel, gadis keturunan suku Dayak secantik Natalie Sarah; atau Sutra, gadis asal Rembang, Jawa Tengah yang kemudian pulang kampung karena menikah dengan tetangganya sendiri.
Matahari sudah benar-benar tenggelam. Bulan tampak mengintip dari balik tirai langit. Kehadirannya menyambut malam, memberi salam penghormatan pada matahari yang bersiap menutup lembaran siang hari ini.
“Ayah…”
Seorang gadis cilik berusia empat tahun teriak sembari berlari kecil. Bocah laki-laki berjalan di belakangnya, tertatih-tatih mengatasi kaki kecilnya yang terjerembab dalam pasir putih. Seorang wanita muda berjilbab mengawasi bocah laki-laki itu dengan sabar dan sesekali menggandeng tangannya.
“Ayah,…,” gadis kecil itu berteriak lagi. Rambutnya yang ikal dan dikuncir kuda berlarian mengikuti langkah kaki kecilnya menapaki Pasir Panjang, kemudian dia memeluk kaki Sigit. Dengan gembira Sigit meraihnya, menggendongnya dan menciumi kedua belah pipinya yang gemuk. Gadis cilik itu adalah Nabila, sedangkan bocah laki-laki itu adalah Nail. Mereka adalah anak pertama dan kedua Sigit dari pernikahannya dengan Mia, wanita asal Tuban, sama seperti dirinya.
Mia menggendong Nail sambil berdendang, menyusul Sigit dan Nabila. “Sudah selesai, Ayah?” tanya Mia.
Sigit mengangguk. Dia kembali menatap langit Pasir Panjang. Dulu dia menghabiskan waktu di pantai ini sendirian. Kini setelah sepuluh tahun berlalu sejak kedatangannya di Singkawang untuk pertama kalinya, dia berdiri menghadap matahari bersama Mia, Nabila dan Nail, bersama keluarga yang dia bangun di Singkawang.
Ini adalah terakhir kalinya mereka melakukan ritual kepada matahari Pasir Panjang sebab besok si burung besi Garuda akan mengantarkan mereka pulang keharibaan tanah kelahiran Sigit dan Mia di Tuban. Sigit pindah tugas di Jawa, akhirnya. Impiannya berkumpul dengan keluarganya terwujud. Meskipun dia akan berdinas di Madiun, setidaknya jarak yang ditempuh untuk bersilaturahmi dengan keluarga di Tuban tidaklah sejauh di Singkawang.
“Beri salam pada Pasir Panjang, Nabila, Nail. Besok kita tidak bertemu dengannya lagi,” kata Sigit.
Nabila dan Nail melambaikan tangan kecil mereka dengan semangat sembari berseru,” Dah…”
Sigit, Mia, Nabila dan Nail berjalan memunggungi Pasir Panjang, meninggalkan segala kenangan manis yang terpatri dalam setiap butiran pasirnya. Singkawang tinggal kenangan. Pasir Panjang akan selalu diingat. Pulau Lemukutan tetap menjadi tempat singgah. Taman Bougenville tetap indah dan ramai. Para gadis berwajah oriental masih ditemui di setiap sudut kota Singkawang.
“Selamat tinggal, Singkawang. Aku pulang,” batin Sigit. Untuk kesekian kalinya, dia menoleh ke Pasir Panjang.

Penulis tinggal di Tuban

Tetangga

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

tangan tuhan
Ilustrasi dari wordpress
Ceritanya begini. Mungkin ini kesalahan saya ketika saya nekad mendirikan rumah bersebelahan dengan mereka. Kautahu, tanah dan rumah sekarang amat mahal. Lalu saya mendapat tanah kosong yang dijual begitu murah, tanah sebelah tetangga itu. Tentu saja langsung saya beli. Adakah pilihan yang lebih baik bagi orang miskin selain sesuatu berharga murah?
Usut punya usut, tanah tersebut dijual murah sebab tetangga itu begitu sangar dan mengerikan, satu keluarga dengan pola pikir picik, egois, fanatik dan nyaris tidak manusiawi. Tidak ada seorang pun yang betah tinggal dekat mereka. Anak-anak mereka begitu banyak dan nyaris tiap hari bertengkar meributkan sesuatu yang sepele seperti misalnya siapa yang mendapat giliran buang sampah hari ini. Hal sepele bisa berujung pada perkelahian sengit sampai ke pelataran tetangga.
Awalnya aku tidak terlalu peduli. Aku berpikir, tanah sudah kubayar lunas, rumahku sudah layak huni dan aku ingin tidur pulas waktu malam hingga cerita-cerita yang pernah kudengar tentang apa yang membuat tanah ini murah mulai mengusikku. Anak-anak mereka tumbuh besar dan memperanakkan lagi. Suasana gaduh semakin riuh. Rumah mereka disekat-sekat hingga nyaris sulit untuk dapat disebut rumah. Mungkin lebih tepatnya, kandang ternak manusia. Dalam satu rumah terdengar bunyi saut-sautan, entah dari televisi, tape recorder ataupun suara perdebatan sesama mereka. Bising. Dan pembunuhan sesama mereka tersembunyi di balik kebisingan yang semakin memekakkan telinga. Tidak ada tetangga lain yang peduli. Berurusan dengan tetangga satu ini, sama saja dengan berurusan dengan neraka.
Memprihatinkan. Sebagai sesama manusia, tentu saja aku ingin mereka hidup damai, sebab dengan begitu rumahku pun menjadi lebih damai. Dan yang lebih penting, aku tidak mau rugi. Aku tidak ingin harga tanah dan rumahku hancur hanya karena dekat neraka. Maka hari itu aku datangi mereka yang sedang bertikai dalam rumah sendiri dengan toa. Lalu kukatakan pada mereka,”sejujurnya saya tidak peduli kalian mau saling bunuh sekalipun. Tapi tolong usahakan pembunuhan itu terjadi dalam diam, sebab saya ingin tidur.”
Lalu keesokan paginya saya melihat rumah saya dibakar habis. Itulah upah yang harus diterima orang yang suka mengganggu rumah tangga orang lain, kata mereka.

Ode untuk Jazz

Puisi Binandar Dwi Setiawan

mawar merah
Ilustrasi dari shutterstock
Di dalammu aku melihat air belum tentu mengalir
Ada kemungkinan air menyala
Kau mencipta aturanmu sendiri
Memaksa libatnya seluruh unsur keadaan mengatur wujud sebersama mungkin
Yang spesial darimu adalah kemampuanmu mempertunjukkan keluarbiasaan dirimu tanpa butuh mengagetkan penginderaan
Kau selalu menarikku ke dalammu
Untuk mensinyalkan bahwa aku pun adalah bagianmu
Kau merendah dan meninggi pada saat bersamaan
Kau menyentak para kejadian ketika caramu bersikap tak sepercik pun terbenak oleh mereka
Kau adalah pengharga terhebat ketika tak menganggap kecil sebagai kecil dan besar sebagai besar
Itu mengajariku untuk menggantungkan kebenaran kepada apa
Kau terlibat sekaligus tak terlibat, kau berbuat sekaligus tak berbuat
Wajahmu yang rumit tak sedikitpun menghalangiku melihat kesederhanaanmu
Sekaligus kealamianmu tak sedikitpun menghalangimu menjadi tak alami
Kau letakkan segalanya pada tempatnya
Menampilkan semuanya tanpa terjebak untuk memewahkan yang satu di antara yang lain
Aku tak punya kalimat untuk memprotesmu
Hanya bertekuk lutut menatapmu bagai aku
Terlalu banyak yang kau suguhkan
Kau puaskan dahagaku dengan melahirkan dahaga yang baru
Jazz, ketika apapun berkemungkinan menjadi dirimu
Aku jadi curiga, darimanakah aku berasal
Jazz, ketika terlalu banyak batas yang kau terabas
Aku tahu ada yang sanggup memelukku menenangkan seluruhnya resahku
Jazz, ketika yang duka dan yang suka kau sikapi sama
Aku jadi tahu mengapa kata sempurna pantas disandang oleh siapapun

Karena Setiap Kata Punya Makna