Arsip Kategori: Retakan Kata

Lukisan Jejakku

Cerita KauMuda April Safa
Editor Ragil Koentjorodjati

lukisan jejak
Ilustrasi dari google
Sejak kecil aku telah merasakan perbedaan, aku berbeda dari ayah, ibu, kakak ataupun teman – teman sebayaku. Aku ingin bermain, berlarian, berjabat tangan tapi itu semua tak bisa aku rasakan secara sempurna. Menangis, merengek dan merajuk, ekspresi itu yang bisa aku lakukan saat itu. Aku belum paham makna kehidupan yang sesungguhnya.
Surabaya, 15 September 2001
Aku ingin sekali seperti mereka, saling berjabatan tangan, bertepuk tangan, belajar menulis menggunakan tangan secara normal, belajar memegang sendok untuk makan sendiri.
Aku sedih, Tuhan menciptakanku seperti ini. Aku tidak punya lengan tangan, aku punya kaki tapi tidak bisa digunakan untuk berjalan secara sempurna. Aku ingin menikmati masa kecilku seperti kebanyakan teman – temanku. Aku ingin berjalan sendiri ke kelas, tidak selalu digendong ayah. Aku malu dengan keadaanku.
Aku selalu mengadu pada ibu jika ada yang mengejekku dan ibu tak pernah sekalipun mengeluh, marah, membentak ataupun sebal dengan sikapku. “Siapa bilang Allah itu tidak adil, Nak? Lihatlah kakak, punya kaki dan tangan yang sempurna tapi selalu mengeluh capek minta pijat, mengaduh kesakitan jatuh dari motor. Adek nggak pernah minta pijat kan? Allah itu sayang sama adek, meskipun seperti ini Allah tidak ingin adek capek. Allah menjaga adek dengan keadaan seperti ini. Allah ingin adek selalu gembira. Rizki Bintang Nusantara, nama itu ibu beri supaya adek selalu membawa berkah dan menjadi inspirasi semua orang di Indonesia maupun di dunia,” kata – kata itu yang aku ingat dari ibu. Wanita yang selalu menginspirasiku, tidak hanya dari tutur kata tapi juga perlakuan ibu yang tegas dan penuh kelembutan yang mampu menghilangkan tangisku.
Ayah, ibu dan kakak, tiga kombinasi yang mampu membangun mentalku untuk harus siap menerima kenyataan. Ibu berusaha mengenalkanku pada dunia sosial luar sejak masih taman kanak – kanak. Ayah selalu mengajakku ke tempat usaha bengkel ayah untuk mengenalkanku pada dunia otomotif sekaligus belajar sosialisasi dengan para pekerja dan pembeli. Kakak yang setia mengajakku bergabung untuk bermain dengan teman – temannya.
Mereka berusaha untuk membuka pandanganku bahwa dunia itu tak sekejam yang aku bayangkan, lingkungan akan menerimaku jika aku memberikan hal – hal yang positif pada mereka. Fisikku memang tidak sempurna tapi aku diberi otak yang lumayan encer dan komunikasi bicara yang cukup bagus karena sering menemani ayah di bengkel.
Surabaya, 16 Juli 2003
Menginjak umur memasuki sekolah dasar ibuku bersikeras agar aku masuk di sekolah umum, bukan sekolah luar biasa. Karena aku hanya cacat fisik, bukan cacat mental seperti siswa SLB pada umumnya. Tapi apa daya, sekolah umum yang ibu datangi hanya melihatku secara sebelah mata, padahal aku mempunyai kemampuan berpikir yang tak kalah dengan siswa pada umumnya.
Akhirnya ibuku mendaftarkanku di sebuah SLB daerah Surabaya Barat. Aku mulai belajar memfungsikan kakiku seperti tanganku. Mulai dari menulis, menggambar dan membuka pintu, tapi untuk bersalaman lebih baik aku tidak menggunakan kakiku. Dan aku mulai menikmati menulis cerita, puisi, menggambar, melukis.
“Lukisan Bintang bagus, lebih bagus dari gambar bapak.”
“Coretan warna sesuka saya, ini tidak jelas Pak. Lebih bagus lukisan Pak Yudhi,” kataku dengan sedikit bangga.
“Tinggal latihan yang sering ya Nak. Bapak yakin, Bintang pasti jadi pelukis terkenal.” Kata – kata Pak Yudhi yang mantap kubalas dengan anggukan..
Pak Yudhi, guru lukis yang setiap coretannya seakan menghasilkan karya dari sang maestro pelukis terkenal di dunia. Aku suka Pak Yudhi, orangnya ramah dan penuh semangat. Aku semakin semangat mengikuti setiap gerak tangannya yang menghasilkan suatu gambar. Aku jatuh cinta pada melukis.
Dengan melukis aku bisa berimajinasi membayangkan keindahan tempat – tempat pemandangan meskipun kakiku belum sempat menapakinya. Beliau selalu memuji lukisanku lebih artistik, lebih indah daripada buatannya sendiri meskipun aku melukisnya dengan menggunakan kaki.
Aku selalu menunjukan hasil lukisanku pada ibu, ayah dan kakak. Dan aku sering didaulat untuk mengikuti perlombaan melukis serta tidak pernah pulang dengan tangan kosong karena mendapat juara.
Berkat Pak Yudhi, aku semakin percaya diri dengan kemampuanku. Banyak orang yang tidak menyangka, bahwa lukisan yang aku hasilkan berasal dari goresan kaki yang kurang sempurna.
Ibuku semakin bangga denganku dan memberikan peluang yang lebar untuk mengasah setiap goresan yang dihasilkan kakiku dengan memasukkanku ke sebuah sanggar lukis.
Saat Allah belum mengabulkan do’a kita, mungkin Allah telah menyiapkan suatu hal yang lebih baik dari sebelumnya jika kita mau bersabar dan bersyukur. Salah satu guru SLB melihatku mempunyai potensi yang luar biasa seperti anak pada umumnya meskipun terdapat kekurangan pada fisikku. Aku bersyukur mempunyai seorang guru seperti Ibu Amalia, senantiasa rela membantuku untuk mengenyam di sebuah sekolah yang lebih layak dan dengan kurikulum yang cocok denganku, bukan seperti di SLB.
Kesempatan bersekolah di sekolah umum negeri akhirnya terwujud setelah aku menginjak kelas IV. Sebuah sekolah di daerah Surabaya utara bersedia menerima kekurangan fisikku.
Saat hari pertama masuk di sekolah umum, ibuku sangat khawatir hingga senantiasa menunggu mulai dari mengantar hingga pulang sekolah. Satu minggu berjalan, ibuku mulai mempercayai kemandirianku sehingga ibu cukup mengantar dan menjemput saja. Kecuali untuk urusan buang air, aku perlu menelpon ibuku untuk datang dan meminta bantuan beliau.
Sehari – hari untuk menunjang aktifitasku, ayah merakit sendiri sepeda roda tiga untukku. Alat itu yang membantuku mengelilingi tempat – tempat di sekolah tanpa merepotkan orang lain karena terdapat tombol yang otomatis. Sehingga aku tak kesulitan menggerakkannya.
“Di mana ada ibu, di situ ada Bintang.”
Teman – temanku sering berkata seperti itu. Tak masalah, karena aku memang masih membutuhkan bantuan ibu. Aku tak tahu, apa jadinya jika ibu tidak ada di sampingku yang selalu mengingatkan, berada di belakangku untuk memberi dorongan yang positif. Aku ingin sekali, membalas belaian tangan lembut beliau, mencium punggung tangan ayah dan ibu serta menggandeng tangan mereka. Meskipun begitu, aku berharap mereka merasakan sentuhan hatiku yang membelai lembut hati mereka dan kakakku tercinta.
Surabaya, 20 Mei 2011
Hari ini, ada yang melihat lelang lukisanku dan membelinya. Setahun yang lalu, ayahku membuatkan galeri hasil goresan kakiku dekat ruang tamu berukuran 5×10 meter. Semenjak itu aku semakin ketagihan menorehkan setiap warna kuas cat minyak pada kanvas. Tiga puluh menit waktu yang cukup untuk mengubah polosnya kanvas menjadi suatu kanvas penuh makna dan filosofi. Mungkin orang yang belum tahu, tak mengira semua itu karena kelihaian kakiku yang telah dilatih selama di sanggar lukis.
“Jika Allah telah membukakan pintu rezekinya, Allah akan senantiasa mengalirkannya tanpa henti,” itu salah satu penggalan kalimat yang kuingat dari guru agama islam di sekolahku.
Selain banyak yang membeli lukisanku, banyak juga yang simpati terhadap kegigihanku. Banyak yang memberi peluang – peluang membantuku mengikuti setiap acara perlombaan hingga aku mendapat banyak penghargaan. Pertolongan Allah itu nyata, beberapa pengusaha sukses mulai menawariku beasiswa hingga kuliah.
Aku bersyukur lahir di dunia ini, tidak hanya untuk menyusahkan orang lain, tidak hanya untuk dikasihani orang lain. Aku mulai mengerti arti hidup yang sebenarnya. Janganlah melihat segala sesuatu hanya dari satu sisi tapi jadikan kelemahan yang kita miliki itu sebagai suatu kelebihan terutama bagi para penyandang cacat fisik.
Semua kemudahan yang aku dapatkan sejauh ini bukanlah kebetulan saja tapi melalui proses yang penuh kesabaran dan keikhlasan. Aku ingin membuktikan pada semua orang bahwa orang cacat masih dapat berkreasi, dapat berkembang serta dapat memberikan manfaat jika diberi ruang untuk beraktifitas sesuai minat layaknya orang normal.
Ibu, lihatlah aku sekali lagi. Anakmu yang cacat ini tidak akan menyerah melawan kerasnya hidup. Aku akan berusaha membangkitkan semangat saudara – saudaraku yang bernasib sama denganku. Aku ingin menyemangati mereka, mendorong mereka seperti ibu yang tak pernah lelah memberiku dorongan secara moril maupun materiil.
Ayah, aku akan berusaha menjadi lelaki tangguh penuh prinsip yang siap menaklukan dunia, tentu dengan bantuan sepeda roda tiga buatan ayah.
Kakak, jangan pernah bosan membakar semangatku untuk terus berjuang dan mendorongku menjadi orang yang bermanfaat serta mampu menyukseskan orang lain dengan keterbatasanku ini.
Kawan, kenali aku lebih dekat. Sejatinya aku sama seperti kalian, hanya fisik yang membedakan kita. Tapi kebutuhan dan keinginan kita akan kepercayaan, kesetiaan, kebahagiaan memiliki porsi yang sama. Tanpa kalian, aku hanyalah seorang anak cacat tak berkawan. Bersama kalian, akulah anak cacat yang memiliki seribu kebahagiaan untuk aku bagikan dan seribu harapan untuk masa depan bersama.
Cinta dan doaku akan senantiasa mengalir untuk kalian.

April Safa adalah Mahasiswi ITS Surabaya, tinggal di Surabaya.

Kata Sang Juara: Fahrul Khakim

penulis arwah keibuanRetakanKata – M. Nur Fahrul Lukmanul Khakim, lahir di Tuban, 02 Maret 1991 dan menghabiskan masa sekolah di Rengel, Tuban. Kini dia tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) yang giat di FLP Malang, UKM Penulis, dan HMJ Sejarah. Karya-karyanya telah meraih beberapa penghargaan, antara lain: Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Malang Post 2011 tingkat Nasional, Juara 1 Lomba Cerpen Mahasiswa Se-UM HMJ Sasindo 2012, Juara 2 Peksiminal Karya Sastra UM Kategori Cerpen 2012, Juara 2 Kompetisi Menulis Rubrik Majalah Komunikasi UM Kategori Cerpen 2011, Juara 3 Lomba Cerpen On The Spot Writing Contest diselenggarakan FLP Malang, Pemenang Harapan Kategori C LMCR Rohto Mentholatum Golden Award 2011, Nominator Sayembara Menulis Cerpen 2011 Tingkat Mahasiswa Se-Indonesia UKM Belistra UNTIRTA, Nominator 10 Cerpen Terbaik Lomba Menulis Cerpen Se-Jawa Timur oleh MP3 FIP UM. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di KaWanku, Gaul, Teen, Hai, Gadis, Story dan berbagai media massa lainnya, serta tergabung dalam antologi Bulan Kebabian (UKM Belistra, Nopember 2011) dan Menembus Dosa di Negeri Celaka (Komunikasi, Nopember 2011). E-mail / FB: fahrul.khakim@yahoo.com . Blog: http://www.fahrul-khakim.blogspot.com.

RetakanKata? Tak sekedar melukis dengan kata-kata, merangkainya jadi literasi yang nyata dan rupawan, namun juga penuh makna yang tajam serta menawan. RetakanKata yang telah menggelar ajang seni kata-kata yang berbias realita ini merupakan wujud apresiasi pada insan-insan pena Indonesia. Dari dan untuk penikmat sastra. Selamat dan sukses untuk Lomba Cerpen Retakan Kata. Semoga bisa menginspirasi semua orang tentang makna berkarya dari hati untuk semua hati pelaku kehidupan.”
-M. Nur Fahrul Lukmanul Khakim-

Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Cerpen RetakanKata

jawara menulis
Ilustrasi dari apegejadifilewordpressdotcom
RetakanKata – Satu bulan berlalu sejak naskah lomba menulis cerpen dinyatakan ditutup pada tanggal 10 Februari 2011. Satu bulan yang penuh penantian bagi para peserta dan satu bulan penuh kerja keras bagi panitia dan dewan juri. Tidak terbayangkan sebelumnya jika jumlah peserta akan begitu banyak, mencapai 490 pendaftar lomba. Sayang, ‘hanya’ 360 cerpen yang layak untuk diikutkan dalam penjurian. Sebagian peserta yang lain bahkan tidak mengirim naskah atau terlambat mengirim naskah. Meski ‘hanya’ 360 cerpen, namun jumlah itu cukup merepotkan para juri, di tengah keterbatasan waktu, tenaga dan pikiran, panitia dan para juri berusaha maksimal menilai cerpen-cerpen yang dilombakan yang mana hampir sama bagusnya satu dengan yang lain. Sangat sulit untuk menentukan satu karya yang paling bagus sehingga para juri, mau tidak mau, mengulang-ulang membaca dan menilai agar menghasilkan pilihan optimal.
Untuk dapat dinilai, cerpen-cerpen diseleksi terlebih dahulu sesuai ketentuan lomba. Amat disayangkan jika ada peserta yang sudah menulis cerpennya dengan bagus namun tidak mengikuti ketentuan lomba seperti misalnya mengirim dalam bentuk email, mengirim lebih dari satu cerpen dan yang lebih parah, belum mendaftar sudah mengirim cerpen. Setelah diseleksi, naskah cerpen dikirim ke para juri tanpa ada identitas penulis. Hal ini untuk menjaga obyektivitas penilaian cerpen. Kemudian para juri melakukan penilaian yang meliputi tiga hal, aspek materi cerita; aspek kebahasaan; dan aspek keindahan. Hal yang dinilai dari materi cerita meliputi: tema yang diangkat, latar cerita, penokohan, alur cerita dan juga nilai tambah yang bisa berbentuk pesan moral ataupun pengetahuan. Adapun penilaian aspek kebahasaan meliputi kesesuaian dengan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, efisiensi dan efektivitas bahasa serta tingkat ‘gangguan bahasa’ yang ada dalam cerita. Selain itu, tentu saja diksi dan komposisi yang membentuk keindahan cerita turut dipertimbangkan.
Setelah menjalani proses yang cukup melelahkan, berikut adalah cerpen-cerpen terpilih:

Juara I
Judul: Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga
Karya: Maria Wiedyaningsih
Berhak mendapat hadiah uang tunai sebesar Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah) dan satu buku Antologi Cerpen RetakanKata.

Juara II
Judul: Arwah Keibuan
Karya: Fahrul Khakim
Berhak mendapat hadiah uang tunai sebesar Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) dan satu buku Antologi Cerpen RetakanKata.

Dan berikut ini adalah cerpen-cerpen terbaik yang berhak masuk dalam buku Antologi Cerpen RetakanKata:
–> Burung Gereja di Nagoya, karya Beta Tangguh
–> Dotage, karya MK Wirawan
–> Stasiun Kesunyian, karya Gatot Zakaria Manta
–> Tempe Busuk, karya Victor Delvy Tutupary
–> Bungkam, karya Latifatul Khoiriyah
–> Cinta yang Menyebalkan, karya Miftah Fadli
–> Ibuku Pelacur, karya Sam Edy Yuswanto
–> Budak-budak Tuhan, karya M Nasif
–> Depan Cermin, karya Dandun Suroto
–> Dia, karya Meilia Aquina Hakim
–> Rhesus, karya Zakiya Sabdosih
–> Rantai Mawar, karya Adellia Rosa Rindry Poetri
–> Cincin, karya Canaliy

Tiga belas pemenang tersebut berhak mendapatkan satu buku gratis Antologi Cerpen RetakanKata.
Segenap panitia dan juri mengucapkan SELAMAT MENJADI PEMENANG dan tetap berkarya untuk sesama!

Salam,

Soe Tjen Marching
Aktivis Budaya, Penulis Novel ‘Mati Bertahun Yang Lalu’ dan Buku ‘Kisah di Balik Pintu

Kit Rose
Penyair, Penulis Buku Kumpulan Cerpen ‘Perempuan di Tengah Badai’ dan ‘Tentang Rasa

Ragil Koentjorodjati
Cerpenis, Pengelola RetakanKata.com.

Catatan:
Apabila segenap pembaca pengumuman ini menemukan kecurangan pada cerpen-cerpen terpilih di atas, mohon memberikan informasi secepatnya kepada pengelola melalui email di retakankata@gmail.com.

Limbok

Cerita KauMuda Karya Nailatul Faiqoh*
Editor Ragil Koentjorodjati

kecupan gadis
Ilustrasi dari masbeni.file.myopera.com
Langit abu-abu tertiup angin pagi sepoi-sepoi, mendayu-dayu menerpa bulu roma sampai bergidik. Perlahan butiran air gerimis menghujam kulit yang semakin terasa tajamnya. Tak juga kunjung terang airnya. Sudah sedari malam gerimis seperti ini membasahi desa kami. Luapan sungai sudah hampir di atas mata kaki. Padi musim panen kali ini sudah rubuh tertiup angin kencang tengah malam tadi. Hal yang lebih ditakutkan warga bila angin terus berhembus dengan kencangnya adalah robohnya rumah-rumah gedheg atau bahkan menumbangkan pohon besar di area sekitar rumah. Untungnya pagi ini angin tak lagi menggarang, hanya menyisakan gerimis dan langit mendung.
Jam tujuh hampir tercapai namun ruang kelas masih terlihat sepi, hanya beberapa anak yang rumahnya di sekitar sekolah sibuk membantuku memindahkan bangku dan meja ke tempat yang lebih kering. Masih kurang beberapa anak yang belum datang sampai aku putuskan pelajaran harus dimulai. Sesekali pandanganku menengok ke arah luar, mungkin saja seorang anak spesial datang terlambat. Anak itu bernama Limbok.
Dulu anak itu hampir tak dapat bersekolah di tempat ini. Sekolah luar biasa letaknya jauh dari desa. Biaya akomodasi terbilang mahal untuk keluarga Limbok, apalagi ibunya yang sudah menjanda. Sejak Limbok berumur 3 tahun, ibunya hanya bekerja sebagai buruh tani di sawah milik tetangga. Membanting tulang mencari uang sendiri tidaklah memungkinkan bagi ibu Limbok menungguinya di sekolah sampai selesai.
Ibunyalah yang bersikeras memohon kepada pihak sekolah agar Limbok diperkenankan tetap mendapat pengetahuan. Untungnya pengurus sekolah dan juga sebagian guru tersentuh dengan cerita ibu Limbok dan memperbolehkanya bersekolah di tempatku mengajar secara sukarela sebab kekurangan tenaga pengajar. Sistem pengajaran yang diberikan pada Limbok cukup berbeda dari murid lain.
Untungnya sebagian banyak murid tidak pernah mempertanyakan keadaan Limbok, seolah mereka sudah paham dengan perbedaan di antara mereka. Bahkan beberapa anak sering mengajari Limbok berhitung atau menulis. Ibu Limbok bersyukur karena teman Limbok baik-baik dan selalu mengantarkan Limbok pulang sekolah. Limbok tidak pernah membuat ulah atau menjahili teman-temannya. Walau tumbuh sebagai anak dengan keterbatasan otak, Limbok cukup punya semangat yang tinggi.
Limbok sering bilang, ibunya selalu bercerita kalau jadi orang pinter nanti bisa punya banyak uang untuk beli mainan dan ibu Limbok juga sering menangis sambil menyuruhnya belajar terus. Karena tak mau melihat ibunya menangis itulah yang mungkin membuat Limbok selalu bersemangat untuk sekolah. Bahkan ibu Limbok pernah bercerita kalau limbok itu selalu bangun pagi dan ingin cepat pergi sekolah. Pernah saat itu Limbok sakit panas meski masih kuat berjalan ibu Limbok tidak memperbolehkanya pergi ke sekolah tapi Limbok justru menangis sampai ibunya tidak kuasa menahan keinginan anaknya itu untuk tetap pergi bersekolah. Namun terkejut yang didapati ibunya, lantaran Limbok kembali sehat dan sudah turun panas tubuhnya. Pastilah sungguh sayang ibu Limbok pada anak perempuan satu-satunya itu.
Sudah seperempat jam pelajaran dan Limbok tak juga muncul. Padahal di hari biasa Limbok selalu jadi yang pertama kali datang ke sekolah. Apa mungkin Limbok sakit, atau karena gerimis dan angin kencang tadi malam yang membuat ibu Limbok harus datang pagi ke sawah sampai tak sempat mengantarkan anaknya? Bukankah kalau tak sempat mengantar Limbok selalu dititipkan pada anak tetangga yang lantas mengantarnya ke sekolah?
Kembali pandanganku mengarah ke luar pintu. Kali ini tampak dari jauh seorang wanita setengah baya mengenakan plastik hitam di kepala tengah menggandeng seorang gadis kecil dan payungnya tampak berlubang di beberapa bagian. Itu Limbok yang tersenyum lebar menatap ke arahku. Senyumku memecah kecemasanku yang membuat bibir ini menyapa kedatangannya. Setengah berlari Limbok mencium tanganku dan masuk ke dalam kelas, sementara aku dan ibu Limbok masih tersenyum memandang keceriaan Limbok.
“Tumben sekali Limbok terlambat Bu, pikir saya Ibu sedang sibuk mengurus panenan yang rusak sampai tidak sempat mengantar Limbok.” Sambil tersenyum ibu Limbok bercerita tentang Limbok yang sibuk membuat PR menulis surat hingga tengah malam sampai-sampai ibunya kesiangan bangun. Seperginya ibu Limbok aku kembali masuk ruang kelas dan kembali mngajar dengan perasaan lega.
Sudah menjadi kebiasaan anak-anak ketika jam pulang sekolah berdoa dan salam di ucapkan bersama, adat mencium tangan pada guru belum pernah mereka lewatkan. Terutama Limbok yang berpolah lucu dengan kebiasaanya memberi ciuman jauh lalu melambaikan tanganya kepadaku. Sungguh anak itu tak pernah lekang memberi keceriaan pada semua orang. Dan itu merupakan suatu penyemangat tersendiri bagiku.
Ramai keceriaan serta semangat belajar yang tinggi dari anak-anak sudah mulai hening. Kini tinggal aku sendiri di dalam kelas dengan tumpukan buku tugas milik anak-anak. Memang baru kemarin aku memberikan tugas menulis sebuah surat yang telah menunggu untuk aku baca.
Satu demi satu surat aku baca. Beragam isinya ada si Ratna yang menulis surat untuk bapaknya di Arab Saudi, ada juga surat Uyung yang menceritakan kondisi sekolahnya, dan kini giliran surat Limbok yang harus aku baca. Entahlah karena apa aku sedikit merinding saat memegang surat ini. Tulisanya tak rapi , lebih cocok kalau disebut tulisan anak berumur 4 tahun yang sedang semangat belajar menulis. Sempat aku teringat cerita ibu Limbok tadi pagi perihal keterlambatan Limbok masuk sekolah karena harus menunggui Limbok menulis surat untuk pak presiden katanya. Penasaranku kemudian menyelinap memaksaku segera membaca isinya.
“Kata Ibu, presiden itu seorang pemimpin. Ibu juga bilang pemimpin suka membantu orang. Limbok ingin presiden bantu ibu cari uang banyak. Kalau ibu punya uang banyak tidak lagi ngarit sawah tetangga. Kalau uang ibu banyak Limbok juga mau minta dibuatkan tempat sekolah yang ga bocor langitnya, yang ga banyak rayapnya. Presiden harus bantu Ibu Limbok ya.”
Air mata tak sadar menetes tak mampu kubendung lagi. Aku sadar air mata ini seolah membuktikan bahwa anak-anak butuh tempat lebih layak dari pada tempat ini. Bukan masalah gaji seadanya untuk kami para guru sukarelawan yang berupa hasil kebun sumbangan warga. Tapi ini lebih karena suasana belajar murid yang tak kondusif. Pikirku, andai presiden juga membaca surat ini mungkin sama terkejutnya denganku, membaca isi surat anak yang dengan pertumbuhan dan pemikiran lambat.
Sudah satu minggu ini langit mendung meski hujan juga tak menampakan diri sama seperti suasana kelas ini yang tak lagi cerah seperti saat Limbok ada di antara kami. Saat tawa kami pecah mendengar suara kentut Limbok yang keras melantun membuat anak-anak menutup hidung. Atau keceriaan Limbok saat melihat ada anak yang terpeleset genangan air saat hendak maju ke depan kelas, juga peristiwa-peristiwa haru saat Limbok bercerita tentang dirinya yang senang makan nasi kur atau nasi bekas pemberian tetangga yang dikeringkan lalu di masak kembali yang kemudian dimakan bersama timun rebus serta sambal buatan ibunya. Katanya rasanya nikmat bila dari tangan ibu.
Banyak cerita-cerita lain yang sering kami dengar terutama saat jam istirahat. Aku terkesan dengan hidupnya juga ibunya yang hebat membesarkan Limbok seorang diri. Mungkin juga anak-anak yang mulai menyayangi Limbok yang sama terkesannya denganku.
Semua pelajaran telah selesai. Saatnya mereka untuk membereskan alat tulis dan bersiap pulang. Salam belum sempat aku ucapkan ketika tiba-tiba Pak Soleh, salah seorang guru yang mengajar di kelas 4 datang memberi pengumuman bahwa Limbok telah meninggal dunia siang ini.
Kedua kakiku bergetar, tak kuat menopang tubuh ini mendengar kabar kematian Limbok. Aku terkejut sampai tak mampu membendung tangis. Begitu halnya dengan anak anak yang kemudian dituntun Pak Soleh untuk membacakan doa untuk Limbok.
Limbok sudah lama sering mengeluh sakit kepala, tapi kondisi keuangan yang membuat Limbok hanya diminumi obat yang dibeli dari warung. Makin lama kondisi Limbok makin menjadi, bahkan sampai membuatnya kejang dan sering tidak sadarkan diri. Hal ini membuat ibunya mau tak mau berhutang untuk memeriksakannya ke Pak Mantri namun tak juga mendapat hasil, sampai puncaknya kemarin sore Limbok kembali pingsan yang lantas para tetangga membawanya ke rumah sakit dengan biaya sukarela warga. Namun terlambat, penyakit kanker otak sudah menjalar ke seluruh tubuh dan tepatnya siang ini Limbok pun meninggal dunia.
Sorenya setelah semua kelas kosong, aku bersama guru yang lain melayat ke rumah Limbok. Sampai di sana aku dapati segerombolan anak masih memakai baju seragam memenuhi rumah Limbok yang tak salah lagi adalah teman sekolahnya. Haru makin menjadi, membuat tubuhku lemas sampai harus dipapah beberapa guru saat ibu Limbok memberiku sebuah celengan berisi recehan uang saku yang tak pernah dihabiskan semua dan sudah lama dia kumpulkan katanya.
Uang ini kalau sudah banyak mau digunakan untuk membangun sekolah yang bagus biar Limbok dan teman-teman bisa sekolah dengan nyaman, dan ibunya juga tidak perlu memanasi baju mereka di tungku sampai kering setiap kali air hujan turun dari bagian genteng yang bolong lalu membasahi seragam satu-satunya yang dimiliki. Semakin tak aku sangka ketidaksempurnaan Limbok ternyata menyimpan hati yang berusaha menyempurnakan orang lain.
Tak ada satu pun umat yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Sama halnya kepergian Limbok kian membuat kesedihan di hati kami yang menyayanginya. Canda dan tawa kepolosanya tentu tak dapat kami temui esok. Tapi Tuhan tahu yang terbaik untuk semua. Tuhan punya banyak rencana yang tak diduga umat-Nya. Kepergian Limbok membuat kami keluarganya di sekolah sadar akan hidup yang fana. Terutama aku dan sahabat-sahabatnya yang sadar bahwa secara tidak langsung Limbok mengajarkan kami arti ketulusan, kasih sayang, juga semangat untuk menggapai impian, seperti yang Limbok lakukan.

Nailatul Faiqoh adalah Mahasiswi Universitas Semarang, tinggal di Rembang.

Hangus Membaca

Gerundelan John Kuan

Sebuah meja bersama bangku, hangus, menjadi arang. Ada sebuah buku tebal di atas meja, putih, mulus tanpa satu goresan. Karya Titarubi ini berjudul: Bacalah! Terbuat dari Yin Yang Lima Elemen, saya duga. Meja dan kursi kayu, paku logam, buku tanah air, dibakar api, melewati perubahan Yin Yang. Sempurna.

Buku dari lempung. Begitulah orang Mesopotamia Kuno menggunakannya untuk menulis Epik Gilgames, puisi perjalanan manusia setengah dewa. Puisi yang setelah melewati beberapa ribu tahun masih hidup di dalam tablet-tablet tanah liat yang tahan bakar, bahkan menjadi jauh lebih kuat setelah keluar dari tungku pembakaran. Mereka memang telah berhasil melewati salah satu musuh bebuyutan buku: api. Tetapi apakah mereka cukup kuat menghadapi api amarah manusia moderen yang kian membara? Apakah masih dapat utuh terkubur setelah rudal-rudal dijatuhkan di atasnya, seperti beberapa ribu tahun yang lalu terkubur bersama Kekaisaran Asiria? Begitukah cara mereka mengelabui waktu?

Ternyata saya salah, buku putih ini bukan terbuat dari tanah liat.

*

Lapangan kecil di depan perpustakaan itu menyisakan satu jendela, tertutup kaca tebal, di bawahnya ada sebuah ruangan, ke empat dinding ruangan itu adalah rak-rak buku kosong. Tidak jauh dari jendela itu ada sebuah kutipan Heinrich Heine: Bakar buku, mungkin adalah petanda awal manusia memusnahkan dirinya. Lapangan ini berada di Universitas Humboldt.

Saya tidak tahu apakah ini benar posisi ruang penyimpanan buku sewaktu pembakaran buku terjadi di sini pada 10 Mei 1933, atau hanya sebuah rancangan untuk memperingati peristiwa itu. Tidak peduli yang manapun, pasti membuat orang yang melihatnya tercengang, hati terasa sekosong rak buku.

Sebuah institusi pendidikan bertaraf internasional merancang sebuah pemandangan begini di depan pintunya, adalah semacam peringatan, semacam keterus-terangan: ” Yang membakar buku di sini adalah murid-murid kita sendiri, segala tindakan pemusnahan budaya, juga memiliki nama dan identitas budaya, maka orang-orang yang bergegas dan berlalu-lalang, jangan terlalu percaya terhadap tempat ini! ”

Kutipan Heine di samping rak buku kosong itu berasal dari sebuah dramanya yang menceritakan tentang pembakaran buku di Spanyol dan Portugis pada abad ke-15: Almansor. Demikianlah, sebuah kutipan dari seorang cendekiawan yang hidup di abad ke- 19 dipakai untuk sebuah peristiwa di abad ke- 20 yang kurang lebih sama dengan yang terjadi di abad ke-15. Membakar buku memang terjadi sepanjang sejarah dan hampir pada semua bangsa yang mengenal tulisan, rak-rak buku kosong membuat saya teringat cerita-cerita kelam selama Revolusi Kebudayaan di Cina. Ada sebuah puisi yang ditulis Liu Shahe berjudul Bakar Buku:

Menahanmu sudah tidak bisa

Menyembunyikanmu juga susah

Malam ini mengantarmu ke dalam tungku api

Selamat tinggal

Chekov!

Kaca mata bulat berjanggut kambing gunung

kau sedang tertawa, kau sedang menangis.

abu terbang asap lenyap terang berakhir

Selamat tinggal

Chekov!

Dia adalah seorang anak tuan tanah, dengan latar belakang begini dapat kita bayangkan bagaimana penderitaan Liu Shahe selama Revolusi Kebudayaan.

Seorang teman berkata pada saya bahwa sekarang mulai banyak orang menggunakan cara ” Revolusi Kebudayaan “, serampangan merekayasa dan menulis ulang banyak kenyataan. Ini adalah sebuah isyarat yang berbahaya, penyebabnya adalah orang-orang tidak berani menggunakan cara yang kokoh dan transparan mempertahankan jejak-jejak sejarah sebuah malapetaka. Saya tidak tahu mengapa terhadap jejak-jejak sejarah begini jarang ada yang berani mengingat, waspada, dan berterus-terang.

Sebuah meja dan bangku hangus, sebuah buku putih polos di atas meja, saya lama menatap gambar yang tampil di dalam layar komputer itu. Kita memang mudah terbakar, meja hangus, bangku hangus, manusia hangus, namun tidak untuk sebuah buku putih polos, dia tidak hangus karena dia kosong, hampa, seakan tiada. Manusia paling suka menggunakan pengetahuan membakar pengetahuan, menggunakan keyakinan membakar keyakinan, menggunakan budaya membakar budaya, dan terakhir akan menggunakan kemanusiaan membakar kemanusiaan. Sebuah buku akan selamat ketika dia dianggap tidak memiliki pengetahuan, tidak berarti, sebuah buku kosong.

Ketika Rabi Haninah ben Teradion sedang dibakar bersama Kitab Taurat oleh tentara Romawi di abad ke-2 Masehi berkata kepada murid-muridnya: ” Aku melihat hanya gulungan saja yang terbakar, sedangkan huruf-huruf berterbangan ke atas ” Seandainya dinding ruang bawah tanah di samping kutipan Heine itu ditaruh rak-rak kosong yang hangus dan diisi dengan buku-buku putih polos, mungkin dapat membuat orang-orang yang melihatnya sedikit lebih waspada.

Atau mungkin membaca sejak awal sudah berhubungan dengan membakar buku, setidaknya hubungan begini sudah ada di dalam mitologi Romawi yang menceritakan Cumaean Sibyl dan buku-buku ramalannya tentang kejayaan Roma.

Semasa gadis, Cumaean Sibyl berkali-kali menolak Dewa Apollo, dan dewa ini kemudian melakukan pembalasan dengan memberinya kehidupan abadi yang diidam-idamkannya, namun tanpa memberi dia kemudaan abadi. Maka gadis muda yang hidup abadi ini tua di dalam waktu, tidak dapat menolak kulit berkeriput dan punggung membungkuk. Akhirnya Dewa Apollo menaruh kasihan kepadannya dengan memberi dia kemampuan meramal. Dia duduk di dalam gua di Bukit Cumae, melewati masa ke masa dengan menulis ramalannya di atas daun palem. Dalam cerita Virgil, Aineias mendarat di Cumae dan bertemu dengan gadis ini, dia kemudian memberitahu Aineias ramalannya yang menakjubkan sekaligus mengerikan akan masa depan Roma.

Salah satu fresko di Salone Sistino menceritakan tentang pembakaran buku ramalan Cumaean Sibyl oleh dirinya sendiri. Diceritakan bahwa gadis ini menawarkan sembilan buku ramalan yang ditulisnya kepada Raja Tarquin. Ketika raja menolak membelinya dia melemparkan tiga buku pertama ke dalam api, dan menawarkan enam buku yang tersisa dengan harga semula. Raja tetap menolak beli, dan dia kembali melemparkan tiga buku lagi ke dalam api, raja yang kurang panjang akal ini akhirnya sadar, lalu membayarnya dengan harga yang sama untuk tiga buku yang tersisa. Fresko itu menggambarkan Raja Tarquin dengan wajah sedih menatap tumpukan buku yang menyala di dalam api, sementara Cumaea Sibyl berdiri di samping dengan air muka yang datar.

*

Sekitar 100 tahun setelah Qin Shi Huang menurunkan perintah pembakaran buku, Sima Qian di dalam karya agungnya, Shiji, menulis bahwa Perdana Menteri Li Shi sangat menekankan usulannya:

Di masa lampau kerajaan ini terpecah belah dalam kekacauan dan tiada seorang pun mampu mempersatukannya. Oleh sebab itu semua penguasa-penguasa feodal bangkit, mereka semua berkoar-koar tentang masa kuno untuk mengacaukan masa kini, memamerkan kata-kata kosong untuk membingungkan kenyataan. Orang-orang membanggakan diri sendiri dengan teori-teori pribadinya dan mengkritik aturan-aturan yang diterima atasanya… Maka, hamba meminta semua catatan-catatan sejarawan selain sejarah Negeri Qin dibakar

Dan terakhir Sima Qian ingin meyakinkan pembacanya menulis: Kaisar sangat menyetujui proposal ini

Pembakaran buku oleh Qin Shi Huang merupakan peristiwa biblioklasme pertama yang tercatat dalam sejarah. Ini juga mungkin merupakan pemberangusan ideologi dalam skala besar pertama kali dicatat. Pasti tidak mudah untuk membakar begitu banyak buku-buku filsafat Cina Kuno, waktu itu kertas belum ditemukan, buku-buku pada masa itu umumnya berupa kepingan-kepingan bambu yang diikat jadi satu, ataupun ditulis di atas kain sutera. Sungguh suatu pemandangan yang mengerikan jika membayangkan di depan setiap sekolah-sekolah filasat yang sangat berkembang pada masa itu bertumpuk kepingan-kepingan bambu yang telah menjadi arang

Kebudayaan Cina dapat berkesinambungan selama lima ribu tahun tentu memiliki kelenturan dan dayanya yang tersembunyi. Ketika Qin Shi Huang sedang gencar-gencarnya melakukan pembakaran buku, cucu generasi ke delapan Kongfuzi berhasil menyembunyikan kitab-kitab penting sekolah Ru, seperti Shangshu, Liji, Lunyu, Xiaojing, di dalam tembok. Setelah berlalu sekitar seratus tahun, sewaktu Liu Yu yang diangkat sebagai Pangeran Gong di Negeri Lu ingin memperbaiki tempat tinggal Kongfuzi, dari dalam tembok buku-buku yang disangka sudah hilang itu kembali ditemukan.

Setiap kebudayaan pasti akan menghadapi masa-masa sulit dan diuji kesinambungannya, kebudayaan Cina paling diuji kelenturan dan ketahanannya terhadap perubahan jaman dan gempuran dari luar pada pertengahan abad ke- 19 hingga pertengahan abad ke- 20, terutama kerusakaan yang dialami dalam perang-perang melawan aliansi kekuatan Barat, serta penghancuran dan perampasan perpustakaan-perpustakaan di hampir semua kota penting di Cina oleh tentara Jepang dalam perang Cina- Jepang II. Kebrutalan dan kerusakannya sudah tidak perlu diceritakan lagi, di sini saya hanya ingin mengungkapkan satu bentuk lain perampasan dan pengerusakan budaya yang sering terjadi di abad ke- 20 atas nama perlindungan. Suatu produk budaya dicabut begitu saja dari tempatnya hidup dan berkembang lalu diletakkan di suatu tempat yang samasekali tidak berhubungan dengannya.

Misalnya yang terjadi di dalam Gua Mogao pada awal abad ke -20, sebuah kisah jual beli kitab-kitab agama Buddha yang paling tidak adil dan penuh rahasia di antara tiga orang lelaki. Yang pertama adalah Wang Yuanlu, seorang pendeta Tao yang tidak begitu berpendidikan dan waktu itu adalah penanggungjawab Gua Mogao, kedua adalah Aurel Stein, seorang arkeolog Hungaria yang baru pindah menjadi warga negara Inggeris, ketiga adalah seorang penerjemah bernama Jiang Xiaowan

Setelah Wang Yuanlu secara tidak sengaja menemukan sebuah ruang penyimpanan kitab-kitab agama Buddha di Gua Mogao, kabar dengan cepat menyebar keluar dan sampai di telinga Aurel Stein, tetapi arkeolog yang menguasai tujuh delapan bahasa ini ternyata tidak menguasai bahasa Mandarin, demikianlah Jiang Xiaowan terlibat dalam persekongkolan ini.

Awalnya Wang Yuanlu menunjukkan sikap waspada, menghindar, dan menolak kehadiran Aurel Stein. Jiang Xiaowan berbohong kepadanya bahwa Stein datang dari India adalah untuk mengembalikan kitab-kitab Xuanzang ke tempat asalnya, dan Stein juga bersedia membayarnya. Wang Yuanlu seperti umumnya rakyat Cina, sangat mengenal dan mengagumi cerita tentang mencari kitab ke Barat yang ada di dalam ‘ Kisah Perjalanan ke Barat ‘ itu, mendengar penjelasan Jiang Xiaowan dan juga melihat Aurel Stein berkali-kali bakar dupa bersujud di depan Buddha, hatinya tergerak. Maka, ketika Jiang Xiaowan mengatakan ingin ‘ meminjam ‘ beberapa kitab untuk dilihat, Wang Yuanlu yang awalnya ragu-ragu, agak lama mempertimbangkan, akhirnya tetap memberi dia beberapa kitab.

Ketika Jiang Xiaowan di bawah lampu redup membuka baca kitab-kitab yang diserahkan oleh Wang Yuanlu. Dia agak terkejut, buku yang serampangan diambil Wang Yuanlu dari tumpukan buku ini ternyata benar-benar adalah terjemahan-terjemahan dari kitab-kitab yang diperoleh Xuanzang dari tanah Barat, Wang Yuanlu sendiri juga terkejut dan terharu memandang jari-jari tangannya, seakan-akan mendengar perintah Buddha. Begitulah, pintu-pintu Gua Mogao pun terbuka lebar untuk Aurel Stein.

Setelah pintu terbuka dan isinya siap dikuras, tentu masih Jiang Xiowan yang membaca dan memilih di dalam tumpukan buku-buku tua itu, sebab Aurel Stein samasekali tidak mengerti bahasa Mandarin. Di malam-malam gurun yang dingin, ketika Aurel Stein dan Wang Yuanlu sudah tertidur, hanya tinggal dia sendiri yang membaca dan memecahkan kode-kode budaya untuk pertama kalinya setelah tersimpan lebih dari seribu tahun. Kedua pihak, pembeli dan penjual sama-sama tidak mengerti apa yang terkandung di dalam setumpuk-setumpuk lembaran kertas. Hanya dia sendiri yang mengerti, dia sendiri yang membuat keputusan diterima atau tidaknya sebuah kitab.

Demikianlah sebuah traksaksi yang paling tidak adil di dunia berlangsung, Aurel Stein menggunakan sangat sedikit uang untuk mendapatkan produk-produk budaya dari satu masa peradaban Cina yang berlangsung selama beberapa abad. Dan ini bahkan menjadi contoh sempurna untuk petualang-petualang dari beberapa negara kuat yang datang dengan sikap memborong barang murah dan ternyata memang dapat pulang dengan muatan penuh.

Ada sebuah kejadian yang perlu saya tuliskan di sini, suatu hari Wang Yuanlu merasa Aurel Stein sudah meminta terlalu banyak, dia lalu membawa sebagian kitab dan gulungan lukisan yang telah dipilih kembali ke ruang penyimpanan kitab, Aurel Stein meminta Jiang Xiowan pergi negosiasi, ingin menggunakan empat puluh tahil perak menukar kembali kitab-kitab dan gulungan lukisan itu. Ternyata Jiang Xiowan hanya menggunakan empat tahil perak sudah dapat menyelesaikan perkara ini. Aurel Stein sangat memujinya, bahkan mengatakan ini adalah sebuah kemenangan diplomasi Cina Inggeris. Jiang Xiaowan sangat bangga mendengar pujian itu, terhadap kebanggaan begini saya merasa sedikit mual.

Akhirnya, Alein Stein berhasil mendapatkan lebih dari sembilan ribu kitab Buddha dan sekitar lima ratus gulungan lukisan, semua ini dikemas ke dalam dua puluh sembilan peti kayu selama tujuh hari, unta dan kuda yang dibawa semula ternyata tidak cukup, dia kemudian memanggil lima kereta besar yang masing-masing ditarik oleh tiga ekor kuda.

Itu adalah satu senja yang sedih, barisan kereta mulai bergerak, Wang Yuanlu berdiri di sisi jalan mengantar. Aurel Stein ‘ belanja ‘ dua puluh sembilan peti barang-barang budaya langka, jumlah uang yang dikeluarkan untuk Wang Yuanlu, saya benar-benar tidak tega menulisnya, namun saat ini sudah seharusnya diungkapkan, nilainya jika ditukarkan dengan mata uang Inggeris, kurang lebih tiga puluh pounds! Begitu sedikit, tetapi bagi Wang Yuanlu sudah merupakan jumlah yang sangat luar biasa dibandingkan dengan uang yang dia dapat dari pemberian penduduk setempat yang serba kekurangan. Di dalam pikiran Wang Yuanlu, Aurel Stein adalah seorang dermawan dan tamu terhormat

Hal begini mungkin tidak hanya terjadi di Gua Mogao pada awal abad ke -20, di sekitar kita mungkin banyak hal begini sedang diam-diam berlangsung.

*

Al-Qifti, sejarawan abad ke-12 menceritakan bahwa ketika Mesir ditaklukan oleh Arab di tahun 641, Yahya al-Nahwi ( John Philoponus? ), seorang pendeta Koptik yang tinggal di Iskandariyah menghadap Amru bin Ash memohon agar buku-buku di dalam Perpustakaan Iskandariyah dapat diurusnya. Panglima menjawab bahwa dia tidak dapat memutuskan nasib buku-buku tersebut tanpa terlebih dahulu meminta petunjuk dari Khalifah Umar bin Khattab. Dan Khalifah menjawab: ” Buku-buku yang kau sebut, seandainya apa yang ditulis di dalamnya sesuai dengan Kitab Allah, kita sudah memilikinya, jika berlawanan, kita tidak memerlukannya, maka dapat dimusnahkan ” Konon, buku-buku yang berupa gulungan itu dikumpulkan dan diantar ke pemandian-pemandian umum sebagai bahan bakar, di sana, di tungku-tungku pemanas dibakar hingga enam bulan.

Sungguh cerita yang berwarna dan dramatis, hanya kebenarannya agak diragukan. Menurut Mostafa el-Abbadi, seorang pakar Klasik dari Mesir, kemungkinan al-Qifti menciptakan cerita ini untuk membenarkan tindakan Salahuddin Ayyubi menjual seluruh perpustakaan untuk membiayai perlawanannya terhadap tentara Salib.

Sekalipun cerita ini kemungkinan besar berakar Islam, namun diwariskan dan dijaga di dunia Barat sebagai ratapan Orientalis terhadap nasib peradaban Hellenistik di Timur Dekat.

Bagaimanapun ceritanya, buku-buku di Perpustakaan Iskandariyah kemungkinan selamat di masa Khalifah Umar, sebab ada sejumlah besar buku-buku perpustakaan ini kemudian dipindahkan ke Antiokhia yang dibawah Khalifah Umar II.

Ketika Dinasti Fatimiyah berkuasa di Mesir, Khalifah al-Aziz membangun sebuah perpustakaan di Kairo, berisi sekitar enam ratus ribu buku yang dijilid dengan indah, kemudian Khalifah al-Hakim menggabungkannya ke dalam perpustakaannya sehingga mencapai satu setengah juta buku. Namun, pada tahun 1068 ketika tentara Turki menghancurkan Kairo, sampul-sampul buku yang terbuat dari kulit bagus ini dilepas untuk dijadikan sepatu, sisa-sisa halaman buku yang tersobek dikuburkan di luar Kairo, dan tempat ini kemudian dikenal sebagai ‘ Bukit Buku ‘

Buku dan perpustakaan tumbuh pesat di setiap tempat yang dicapai Islam. Ibnu Sina memberikan kesaksiaannya terhadap perpustakaan yang menakjubkan di istana Persia. Di Baghdad, di Baitul Hikmah yang pada masa itu merupakan perpustakaan, pusat terjemahan, pusat penelitian, serta pusat perbandingan kearifan orang-orang dibawah Islam dari India hingga Semanjung Iberia. Di tempat ini, Banu Musa, tiga bersaudara merampungkan Kitab marifat mashakat al-ashkal, salah satu buku peletak dasar matermatika Arab. Di tempat ini, al-Hajjaj menerjemahkan Euklides, dan al-Khwarizmi, penemu aljabar membaca karangan-karangan matematika Hindu yang dikumpulkan perpustakaan kemudian mengadopsi sistem bilangan Hindu untuk kegunaan dirinya, melahirkan angka Arab yang kita kenal sekarang. Tetapi ketika langkah-langkah kuda perang Mongol menyerbu Baghdad beberapa ratus tahun kemudian, memporak-porandakan Baitul Hikmah, menghitamkan air ibu peradaban, Tigris dan Eufrat. Pikiran-pikiran cemerlang kembali menjadi tinta mengalir di dalam airmata hitam ibu peradaban. Mungkin di dalam reruntuhan kita masih bisa menemukan satu dua huruf yang telah hangus, atau mungkin kita akan sangka hanya potongan-potongan arang.

Di antara abad ke-13 hingga ke-15 sebagaian besar perpustakaan dunia Islam sudah hilang, dihancurkan oleh penakluk-penakluknya: tentara Turki, tentara Mongol, dan tentara Salib. Kaisar Habsburg, Charles V ketika menaklukkan Tunis memberi perintah semua buku dalam Bahasa Arab dibakar. Pada tahun 1492, setelah orang-orang Moor disingkirkan dari Spanyol, di seluruh Spanyol hampir tidak dapat menemukan buku yang berbahasa Arab.

Pembakaran buku terus terjadi sepanjang sejarah, dari Dinasti Qin di Cina hingga Hernan Cortes di Tenochtitlan, namun cara baru dan eksploitasi kerusakannya makin disempurnakan dan diujicoba di abad ke -20. Selain pembakaran buku dan penghancuran perpustakaa oleh Nazi, daftar kejadian begini di abad ke-20 bisa sangat panjang. Ketika Tentara Pembebasan Rakyat sampai di Tibet, ribuan buku-buku tua yang sangat bernilai dilempar ke dalam api, dan lebih sulit menceritakan kembali nasib buku-buku selama Revolusi Kebudayaan. Pada tahun 1981, nasionalis Sinhala menghanguskan ribuan manuskrip, buku daun lontar, dan buku-buku cetakan yang berada di dalam perpustakaan orang Tamil: Jaffna. Taliban beberapa tahun sebelum meledakkan patung Buddha di lembah Bamiyan, membakar dan menghancurkan lebih dari lima puluh ribu buku di Pusat Kebudayaan Hakim Naseer Khosrow Balkhi

Penyair Bosnia, Goran Simic menulis sebuah puisi untuk mengenang penghancuran Perpustakaan Nasional dan Universitas Bosnia oleh nasionalis Serbia di malam 25 Agustus, 1992:

huruf-huruf berkelana di jalanan

berbaur dengan orang yang berlalu-lalang dan roh-roh tentara mati

Ini bukan satu-satunya perpustakaan yang diserang nasionalis Serbia, tiga bulan sebelumnya mereka juga menghancurkan Institut Oriental Bosnia, dan ratusan perpustakaan, museum di seluruh Krotia, Bosnia, Herzegovina, dan yang terbaru Kosovo.

Di dalam sebuah buku, saya pernah membaca Andras Reidlmayer, seorang pustakawan dan aktivis Bosnia menceritakan cara lain membakar buku dari seorang temannya yang selamat dalam pengepungan Sarajevo. Pada musim dingin, temannya bercerita bahwa dia dan isterinya kehabisan kayu bakar, maka mereka mulai membakar buku untuk memasak dan menghangatkan tubuh.

” Ini memaksa seseorang harus berpikir kritis, ” temannya berkata, ” seseorang harus bersikap patriot. pertama, harus dipilih buku-buku teks perguruan tinggi, buku-buku ini mungkin sudah tiga puluh tahun tidak kau baca, selanjutnya baru memilih buku-buku duplikat. Namun, terakhir kau tetap harus membuat pilihan berat. Siapa yang akan kau bakar hari ini: Dostoyevsky atau Proust? ” Andras kemudian menceritakan bahwa setelah perang usai temannya masih menyisakan banyak buku, temannya memberitahu dia bahwa kadang-kadang dengan melihat buku-buku itu dia lantas memilih lapar

*

Sebuah meja bersama bangku hangus, menjadi arang. Ada sebuah buku putih di atas meja. Saya melihat beberapa saat gambar ini lagi, seperti dapat merasakan api yang melahap kayu dan suara kertas tersulut api. Saya teringat sebuah pertunjukan Yosuke Yamashita yang difilemkan dengan judul ‘ Burning Piano ‘ di tahun 2008 di sebuah pantai di Ishikawa. Ini mungkin dapat disebut sebagai pertunjukkan ulang, karena pada tahun 1973, ‘ Piano Burning ‘ dengan pemainnya yang sama sudah pernah difilemkan master desain grafis Jepang Kiyoshi Awazu

Beberapa saat setelah Yosuke Yamashita yang memakai helmet pemadam kebakaran mulai menekan tuts piano, asap sudah mengepul di badan piano, kemudian terdengar suara-suara yang terbakar berbaur di dalam dentingan piano. Api dengan cepat menjalar ke seluruh badan piano, bersamaan dengan itu suara piano sudah tidak terdengar jelas lagi, yang tersisa hanya semacam suara letupan kecil ketika kayu bertemu api, bersama satu dua suara ketukan piano yang terhempas, Terakhir piano samasekali tidak mengeluarkan suara lagi, dan yang terdengar hanya suara kayu terbakar dengan sedikit latar suara ombak yang sampai di bibir pantai.

Mengkremasi sebuah piano mungkin bisa berarti mengkremasi suara, jadi apakah membakar buku dapat dianggap mengkremasi tulisan? Saya tidak tahu, dan saya juga tidak berani menjawab. Yang saya tahu adalah sewaktu kecil, orang-orang tua di kampung kami setiap kali melihat kertas yang ada tulisan di jalanan pasti akan dipungutnya, tidak peduli sekalipun hanya sobekan koran bekas, kemudian dibawa ke kelenteng untuk dibakar di sebuah tempat pembakaran tulisan yang biasanya berada di samping tempat pembakaran kertas sembahyang. Walaupun kebanyakan mereka buta huruf, namun setiap kali saya bertanya mengapa kertas-kertas itu harus dibakar, mereka akan mengatakan dengan hati-hati bahwa itu bukan sekedar kertas, tetapi adalah kertas yang ada tulisan di dalamnya, ada pikiran di dalamnya, bagaimana bisa dibiarkan tergeletak di jalan dan diinjak. Begitulah sebuah tulisan dijaga dan dihormati dari generasi ke generasi.

DAFTAR PESERTA LOMBA MENULIS CERPEN RETAKANKATA

Tanggal 5 Februari 2012 sebagai batas akhir waktu pendaftaran lomba menulis cerpen pada blog RetakanKata, telah terlewati. Sejumlah 482 telah mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba. Luar biasa! Terima kasih atas peran serta dan partisipasi rekan-rekan semua. Dan dengan pengumuman ini, PENDAFTARAN SEBAGAI PESERTA LOMBA MENULIS CERPEN DINYATAKAN DITUTUP. Selanjutnya, kami menunggu rekan-rekan yang telah terdaftar sebagai peserta untuk mengirim naskah yang dilombakan sampai dengan batas waktu yang telah ditetapkan.
Berikut adalah DAFTAR PESERTA LOMBA MENULIS CERPEN RETAKANKATA 2012:
yuanitae@
ihsanialaidrus@
guisusan@
yukikana@
aiioe1992@
uswatun3112@
dwiyulihandayani@
dhanzz_dhanzz@
isma.wasingatoen@
doankone@
mitralovelin@
eriesdhycohianessa@
tiowidodo@
buubufun_03@
anynuraisyah@
rtp_eg_snwd@
gaunggerimis@
aliassyah@
azam_rm@
bilabaik@
tinulaberta227@
loesy_dunk@
hanita_mei@
theodorus_xan@
aprilianawakhidah@
one_freedom_united@
irarumantiafauzia@
niilasilalhaa@
lita.narul@
trini_1992@
puzphitasarii@
y_adam_n21@
yudhistira1994@
muhadiw@
sept.wul25@
wondergalzdream@
flamies4@
q_primathika@
irmabjm86@
cah_solih@
rakfir_reza@
vivikusdeean@
irizkiyah@
afif.zakariya@
santiasa_putra@
intan169@
nnovita61@
adnan_ibnusina@
senandunghitamputih@
al_razak13@
v.d.tutupary@
priyox@
sushinez_girl@
yuslinanurmuliani@
nailuffar@
juliaprimadani@
lycha_99@
penulisalammaya@
djat_mico@
damar_crb15@
fari.chen@
pauluscatur@
ophtymistych@
chouchan_imoet@
garonk_baek@
teekaiazmin@
suguhkurniawan@
el_ucup69@
mumuthamuth@
ied_free@
iandt.boyanz@
oliviahalim96@
dhan_ok@
m.hadi_habibi@
willyruniee@
yamassu99@
diaz.rti@
dinellaconcha@
deedyantry@
almurthawy@
lalefatma.yn@
hananicool@
john.darsanto@
rosevirjinia@
uchihaadawiahs@
munictalova@
tulalitulalit@
golintang@
ryan_kharis@
denny_mf_9f@
asro.pamenang@
ranisna90@
tiffanyputri_15@
penakawanbisa@
elis.nari@
tammy.sabaku_rdsb@
gadisgula@
nbrigithainthan@
rickylaode@
i3ncha_cweet@
zhye.cezgil@
tangguhbeta@
cahaya_karra@
zaka_oz@
vanyadankanata@
sastrawanlinglung@
claudya.chicgirl@
kawaii_jippie.chan@
muti_r@
han.rahmad@
gwenyth_06@
ristikum@
dynaz.inase@
edysam48@
niningwws@
hchristonk@
keshiasawitri@
skhana318@
merry.nezcvada15@
nisa.st_khoirin@
ayu_maelani@
etika_sunja@
puisihati_asti@
kcye_ncha@
yoga_yomail@
nirwannuraripin@
meilisa_nrz@
ray_birth@
gigi_abz89@
zulfa_amah@
fatur.sassygirlchunyang@
yatyatyammy@
fatimah.nuno@
muhammadadirangga@
hsdewi.sa@
farridatullatifah@
ira.sapi@
emutlial@
sani.rio@
dee_smile92@
nafa_s72@
ndusst@
maihamdati@
ayuriaandini@
ade.tarjamah@
sisca_njoman@
rsaktiningsih89@
faliatriindaharti@
dysjaemin.cassielf@
permata2009@
dwieranichigo@
dypisces@
santi.english08@
siti_sundari93@
ragilmulia23@
rinze23_deacon@
fa_rice_da_pure@
eput_cute92@
ummisabit@
dewiyf@
miawazmy@
membusuk@
rizami@
dedewqadriani@
nurul.theearthbender@
sherhya@
hikari.airinn@
sulesubaweh@
ghie_neh@
damae53@
hamzah4hz@
sinta_dicarirama@
rezainulakbar@
amarant.flaming@
cutiest_phe@
finosa_ocey@
himmah.fiddien@
res.ant_xxx@
a.rezainul@
nur.chayati83@
marselaniadewi@
adorkableracer@
bimaforever@
ya3263@
rina.rochmawati@
auliyanti@
hulya.urwati@
shofie_vie@
m.ridwanyazid@
omeliamercytikupadang189@
ilalangpenghayal@
me_at13@
martamarvelly@
rahadiwidodo@
agunghariyadi37@
rosa.adellia@
sovy_ratnawati@
lillypelangi981@
rizka.ridwan27@
runiiaprilia@
abonn@
sonia.ssundari@
junaidiabdulmunif@
komala_sari45@
flzefita@
uzairul_anam@
nusukabiru@
arashichiba_aoi@
sure_cahayahati@
suryantisukses@
sweetgirl.brella@
panduputradewa@
momboblucu@
naj_shy@
halimdwi00@
wanswarga@
nurmaimunitaf@
mel_toph@
ayaghe@
yulisutarsih@
zkashifarizka@
panoramadian@
tony.tj88@
braoxmabox@
rhezasatya@
anisa.hidayah@
muara_awan@
tataqweens@
mahdi_idris@
icaaicaa@
sepasangbidadari99@
sakuraimoet35@
nabila_halvawi@
miff.fadh@
wchaala@
emildaherlina@
m_rifqi_s@
shatyantarsa_193@
dee.ismarani@
bintang_cilik16@
hix_muach@
dika_sundari@
rizkimulasaputra@
mira_wirawan@
arshahappy@
thitysofia@
yesshe_c4yn@
edogawarasti@
endahaibara@
zakiyasabdosih@
penaregina@
latus_say@
fredioky@
angin.lembut@
senja_dewanti@
sasamarisa11@
kamiluddinazis@
nidakaniafauzia@
ika_tulistiwa@
marlinda.silviani@
bakwan.didot@
raramorata@
rau.lestari@
nurul_alohomora@
april_fatma@
indrawatiapriyani@
wajah_pagi@
henydria@
mustikarius@
dewi_ana11@
tahrera_lathifah@
septimeliautami@
just_a_b_i@
ken_zarah16@
ken_kinteki@
viari_anti@
rish_fey@
irsanramdany@
naya.syar@
irmadiananggraini@
aulia_khoirul@
fauziyahilma@
trisna_dehonian@
kode2langit@
ayosi71@
adstika@
so_evil_of_me@
mnasif@
cintaraga@
ismailgalang@
putriprincess73@
rief_fatih@
ronrk@
diio_blues@
irvan_sembiring@
anandiamy@
nova_tul@
marwah.thalib@
skets.ubaid@
elispunya@
septyanitriwahyuni@
risty.ridharty@
ciani92.limaran@
missblue_me@
dhani.ramdhani.nur@
naya_45@
reni.dr@
raisha.se@
threepoint_shooter14@
nitanitoz@
mulesimule@
zie_fha@
erika.nm92@
dimaskeche@
shela_ayulia@
far4syah@
dwinta_meylani@
fina.lanahdiana@
rikaulya@
znuris@
rira_pu@
anhar_jankuracool@
ziah_booklover@
hanyfatun@
eqwant.1613@
dhesiptr@
sabirin_clever@
ntanz_uciha@
ranmoury_53@
leenz_kyutz@
jungjiyool@
nnurkaeti@
stroberrinoionoi@
kyuta_zuka@
arklob.nana@
monikamaharani@
gsahadewa@
nida.tsaura@
patrickprasetyo@
e2e_only@
meitamorphosa@
edward_chany@
fmziah@
rintaratna@
elno8abenx@
edvinberliansi@
aditya.hariyadi@
ayuathma@
bayuahmadramdani@
andinakresna@
namiib6@
wulansarinurazkiyah@
veronicachristyn@
rizarahmahangelia@
rofi.aini@
ny.elly2107@
bdxfun@
windi.widiastuty@
zidka_zahrana@
ye_fa_ta@
linduth.kiyuth@
siwisulistyarahayu@
erlindahapsari@
dhilayaumil@
himaprodipbsi@
evillivie@
chenumber1@
gud_nha@
astrikusumand@
erlinda.sw@
imoetinna38@
nyet.onyet92@
risca.dwinov23@
pocci_69@
veronica_faradilla@
ssenimangila@
roro.rhyna@
arisaaqmarina@
d.gamez.l0ver@
lucky_katak@
kucing.senja@
iloel_huda@
deacit@
boelnia@
m_adnan1026@
latifnur99@
suhartinajufri@
mmayyasya@
enurmalanur@
silvia.anggit@
chemist18rahmah@
fahrul.khakim@
tyne_siders@
selly_pee@
azizah_1992@
akoe_rosana@
captain_zero17@
vienomara@
aila.kirisame@
asma_wh@
tiamayaaffrita@
akhi_pangerancibaduyut@
marliyanti.yanti@
dandunsuroto@
ndutzaja@
rafaela_grecella@
yasmin_friendship@
ooooo_belle@
alamatgampang@
khaliefah_assuyuthy@
erni_jayanti90@
sophiemutia@
lovely_yonghwa@
ekalayasaatsenja@
pangeranjodipati@
ginger_thumb@
aquariel_02@
nurul_mira@
ziif@
anjelinalampard@
rickydwi_apriadi_s4@
achzan29@
ninavinolia@
katon_at@
shabriyahakib@
dhunt.dee@
lyzine@
ratlieamour@
ari_11301308_piksi@
dwiapriyanti4@
sbu_21@
maria_ita610@
sevtavianicwp@
cornelia_lovecantik@
el_eyra@
laily_van_borneo@
imardiati@
fireflyseven711@
mumfasiroh@
margaretdolce@
minarsihdaqu@
szn_8745@
heni.cutez31@
irfan.syariputra@
kania_khoirunnisa@
real.linggarjh@
olweztdhebiqo@
lets.saveourearth@
ikramnurfuady@
seviwening@
rahayu_jen@
pramesty_gy@
damas_ucha@
i.figli@
elikamilah@
irwanto.candra@
tantyach@
indrabudipermana@
faraharfi@
aini.nur.sagita@
sunarniriningsih@
chandrawulandari89@
budimanfanny@
kenza_v3acoolz@
setia26pyo@
bean182@
haylswilliams@
anggikhoerunnisa@
mahaputra.excalibur@
dechie_maulidyamarsha@
katulistiwasari@
anesa_niwa@
astrianakrisma@
popo.poyoli@
karimahskarimah@
ican_y07@
starvy16@
muh.abdurrahman_clp@
dwmulyaningsih@
adibsusilo2011@
chandra_suhartono@
salamih_j@

SALAM SASTRA DAN SELAMAT BERJUANG!

Dari Mana Datangnya Dinasti Tang? (Bagian 2)

Oleh John Kuan

Ilustrasi diambil dari bp.blogspot.com
Membahas reformasi yang dilakukan oleh Kaisar Xiowen sering membuat saya ragu, takut hal ini dapat membawa kesalah-pahaman kepada orang-orang yang terlalu berlebihan mengunggulkan budaya Han. Reformasi yang dilakukan oleh Kaisar Xiowen seakan-akan sekali lagi memberi mereka bukti bahwa budaya Han memang memiliki kedudukan tertinggi. Tentu, dibandingkan dengan suku Xianbei yang baru melangkah keluar dari masyarakat primitif, kebudayaan Han jauh lebih matang. Suku Han yang telah melewati Dinasti Xia, Shang, dan Zhou ini pernah menghasilkan cukup banyak pemimpin-pemimpin yang membawa kemajuan dalam masyarakatnya, kemudian diperkaya oleh filsuf-filsuf pada akhir Dinasti Zhou, dan juga hasil nyata yang gemilang dari Dinasti Qin dan Han, semua ini bukan saja cukup layak menuntun satu suku nomaden yang ingin secara cepat memajukan kebudayaannya, bahkan materinya sudah terlalu berat. Dalam lembaran-lembaran sejarah sangat mudah menemukan suku Han yang setelah ditaklukkan oleh suku lain justru dapat menaklukkan suku tersebut dari sisi budaya.
Sesungguhnya hanisasi yang dilakukan oleh Kaisar Xiowen bukan hanya sekedar mengakui keunggulan budaya Han, tetapi masih ada sebab lain yang lebih realistis. Ketika dia membuka mata melihat dirinya telah diwariskan sebuah kerajaan yang begitu luas, dia merenung sejenak, lalu cepat-cepat mencari alasan lain di luar keunggulan militer sebagai penguasa. Mungkin seperti Iskandar Agung, penakluk Macedonia Kuno yang juga meninggal pada usia tiga puluh dua tahun itu, selalu bersujud di depan altar wilayah-wilayah yang telah ditakluknya. Tujuannya juga untuk mencari alasan penaklukan di luar kekuatan militer.
Ada satu kenyataan yang mesti diperhatikan: Kaisar Xiowen memaksa bawahannya mengadopsi budaya suku Han, tetapi tidak pernah melarang mereka membawa masuk unsur-unsur budaya nomaden yang bersifat terbuka ke dalam budaya Han, atau dengan kata lain, hanya ketika mereka sudah sepenuhnya terhanisasi, unsur-unsur budaya nomaden baru mungkin benar-benar meresap ke dalam budaya Han.
Dia melarang suku Xianbei tidak memakai pakaian Han, tidak menggunakan bahasa Han, tetapi dia tidak melarang orang Han tidak memakai pakaian Han, tidak menggunakan bahasa Han. Sesungguhnya, saat ‘ suku asing ‘ dihanisasi, sebenarnya juga merupakan ‘ proses pengasingan ‘ suku Han. Mungkin ini merupakan suatu bentuk peleburan dua arah dalam satu tubuh.
Sejak Dinasti Wei Utara, banyak sekali budaya suku-suku minoritas di perbatasan utara dan barat diserap suku Han, contoh-contoh nyata begini sangat mudah ditemukan, misalnya alat musik, mulai dari mandolin, seruling, rebana, hingga pipa… seandainya tanpa suara-suara merdu ini, orkestra yang dimainkan Dinasti Tang pasti kehilangan sebagian besar kemegahannya. Hal ini sangat mudah dimengerti jika melihat lukisan-lukisan dinding gua di Dunhuang, atau membaca puisi-puisi Tang. Satu kenyataan adalah budaya Han sejak jaman dulu bukan saja sebagai penyumbang untuk budaya suku lain tetapi juga sebagai penerima atau penyerap budaya suku lain. Dan bukan hanya di bidang musik saja, hampir pada segala bidang mempunyai proses yang hampir sama. Dari ini dapat ditarik kesimpulan, Dinasti Tang, bukan suku Han sendiri yang dapat ciptakan.
Lebih penting lagi adalah adanya suatu daya yang bersifat terbuka dalam budaya nomaden yang dimasukkan ke dalam budaya Han. Daya itu sedikit liar, sedikit dingin, sedikit kasar, sedikit kacau, namun begitu luas, begitu bebas, begitu santai. ” Langit begitu biru, padang begitu luas ” yang belum pernah dirasakan oleh filsuf-filsuf Cina Kuno di atas pedati di sisi sungai, sudah berubah menjadi latar budaya baru. Kebudayaan Cina seperti menunggang kuda lincah di padang rumput, suara cambuk berbunyi, kaki kuda melesat ke depan, menyongsong sebuah masa depan yang penuh daya hidup.
Reformasi ini bukan hanya demikian saja. Sejak Kaisar Xiowen menganjurkan kawin campur antara suku Xianbei dan suku Han, suatu proses pembauran darah begitu lebar terbuka. Dan ini tidak lagi bersifat politis, tetapi lebih merupakan suatu pembauran alamiah. Dari ini kita dapat menguak sebuah rahasia yang terpedam di lapisan yang cukup dalam tentang terbentuknya Dinasti Tang: Klan Li ( 李氏 ), penguasa Dinasti Tang, merupakan kristalisasi dari kawin campur antara suku Xianbei dan suku Han.
Ibu Kaisar Tang Gaozu ( Li Yuan, 566 – 635 ) maupun Kaisar Tang Taizong ( Li Shimin, 599 – 649 ) adalah orang Xianbei. Isteri Li Shimin juga orang Xianbei. Maka, di dalam tubuh Kaisar Tang Gaocong ( Li Zhi, 628 – 683 ) mengalir tiga per empat darah Xianbei dan seperempat darah Han. Sesungguhnya ibu Kaisar Yang dari Dinasti Sui ( 569 – 618 ) juga orang Xianbei, bahkan adalah saudara kandung ibu Li Yuan. Dalam kartu keluarga mereka semuanya tercantum berasal dari ‘ Luoyang, Henan ‘. Kita tahu, nama tempat asal ini merupakan rancangan Kaisar Xiowen. Sampai di sini kita harus sekali lagi mengakui visi Kaisar Xiowen. Dia menggunakan cara yang paling lembut, paling realistis, mengajak sukunya ikut mengambil bagian dalam proses terciptanya sebuah era yang terang dan gemilang.
Sepotong jalan menuju Dinasti Tang yang megah sudah terbuka lebar. Jalan ini awalnya sedikit sempit, sedikit menyimpang, sedikit berbahaya, namun akhirnya menjadi sepotong jalan besar yang memiliki arti yang sangat penting dalam perjalanan sejarah Cina. Ada dua tempat yang paling dapat mewakili telah terbukanya jalan besar menuju Dinasti Tang, yaitu Gua Yungang ( 云冈石窟 ) dan Gua Longmen ( 龙门石窟 ). Gua Yungang berada di Datong, Provinsi Shanxi dan Gua Longmen berada di Luoyang, Provinsi Henan, dua tempat ini sama-sama merupakan ibukota Dinasti Wei Utara. Dua tempat ini dapat dilihat sebagai tanda perpindahan Dinasti Wei Utara.
Sebenarnya saya sangat ingin mendeskripsikan ke dua gua yang pasti akan membuat setiap orang yang memandangnya terpana, namun saya kemudian sadar, di depan ke dua gua ini, kata-kata tidak akan berdaya. Di sini, kita bukan hanya dapat merasakan suatu keindahan yang agung, bertenaga, dan terbuka dari penguasa suku Xianbei, tetapi juga perpaduan yang serasi dari lebih banyak kebudayaan-kebudayaan yang berasal dari tempat yang lebih jauh.
Karena mereka dapat dengan sikap terbuka menerima keunggulan budaya Han, tentu juga akan bersikap serupa terhadap budaya lain. Mereka telah berubah menjadi semacam ‘ busa ‘ yang memiliki daya isap yang tinggi, budaya apapun pasti akan mendapat satu kedudukan di dalamnya. Mereka sendiri agak kekurangan ketebalan budaya, masih belum terbentuk kebudayaan yang rumit dan dalam, kelemahan ini dengan cepat berubah menjadi keunggulan mereka, karena mereka agak jarang menolak ‘ yang lain ‘ kemudian berubah menjadi ‘ tuan rumah ‘ yang memiliki pembauran berbagai macam budaya. Jadi, sebuah perjamuan budaya meriah yang sesungguhnya sudah siap dihidangkan.
Ambil satu umpama untuk hal ini. Misalkan ada sekelompok tetua yang memiliki ilmu pengetahuan yang dalam menetap secara terpencar, ada yang dekat, ada yang jauh, karena latar belakang dan kekuatan masing-masing membuat mereka bersikap saling bertahan. Tiba-tiba dari daerah luar datang seorang anak muda yang sehat dan kuat namun sejak kecil kehilangan kesempatan mencecap pendidikan, terhadap ilmu siapa pun dia menaruh hormat dan menerima, tanpa prasangka, dan memiliki tenaga untuk mengundang ke sana kemari tetua-tetua itu, akhirnya, dengan dia sebagai pusat, tetua-tetua itu pelan-pelan mulai berjalan seiring, ramai sekali.
Anak muda yang sehat dan kuat ini, dialah klan Touba dari suku Xianbei. Perjamuan budaya yang meriah, itulah Gua Yungang dan Gua Longmen.
Perancang dan pemimpin pembukaan Gua Yungang yang paling penting adalah seorang biksu bernama Tan Yao ( 昙曜 ). Dia sesungguhnya adalah biksu yang menetap di Liangzhou ( 凉州 – kini sekitar Wuwei, Provinsi Gansu ), waktu itu Liangzhou merupakan pusat kebudayaan Buddha yang sangat penting. Pada tahun 439, setelah Dinasti Wei Utara berhasil menguasi Liangzhou, sekitar tiga puluh ribu penduduk dan beberapa ribu biksu yang tertawan dibawa ke Pingcheng ( ibukota Dinasti Wei Utara ), banyak dari tawanan itu merupakan perancang dan pemahat batu gua Buddhis, Tan Yao juga termasuk salah satu di antaranya, oleh sebab itu Gua Yungang memiliki corak Liangzhou yang sangat kental. Dan gua-gua Buddhis di Liangzhou merupakan titik bertemunya berbagai kebudayaan, di sana ada kebudayaan India, Asia Selatan, dan Asia Tengah. Maka, Gua Yungang yang melalui peralihan dari gua-gua di Liangzhou, telah mengendap selapis kebudayaan luar yang sangat tua dan jauh. Seni pahat Yunani sangat menonjol di sini, tentu karena pengaruh seni Gandhara, dan itulah perpaduan antara kebudayaan India dan kebudayaan Yunani.
Sebelum Gandhara, seni Buddhis kebanyakan dengan stupa atau bangunan memorial lain sebagai lambang, sejak invasi Iskandar Agung, sekelompok besar seniman yang mengikuti pasukan tentara juga sampai, seni Buddhis mengalami perubahan yang dratis, serangkaian perubahan mulai dari batang hidung, cekung mata, garis bibir hingga lengkung dagu yang khas orang Eropa terjadi, dan perubahan ini menyebar luas masuk ke daerah perbatasan barat Cina, seperti daerah Kucha dan Khotan di Xinjiang. Karena Gua Yungang telah menyerap corak Liangzhou, Kucha, dan Khotan, berarti juga telah menyerap kebudayaan India dan kebudayaan Yunani.
Setelah ibukota Dinasti Wei Utara pindah ke Luoyang, perhatian terpusat pada pembangunan Gua Longmen. Gua ini melanjutkan gaya Gua Yungang, namun merangkul lebih banyak lagi budaya luar, dan perbandingan budaya Cina juga makin meningkat.
Itulah kegagahan Dinasti Wei Utara. Menelan seribu aliran, menerima yang jauh dan dekat, hampir mengumpulkan seluruh intisari dari beberapa kebudayaan besar dan penting di dunia, dilebur dalam satu tubuh, saling berkembang, tumbuh dan bergelora. Kebesaran ini, tiada duanya, oleh sebab itu, Dinasti Tang sudah sangat dekat.
Dinasti Tang dapat menjadi sebuah jaman keemasan, tepat karena dia tidak murni. Sepanjang sejarah tidak sedikit cendekiawan yang ingin mencari kemurnian sebuah kebudayaan, di dalamnya termasuk bahasa, begitu juga para cendekiawan Cina. Sesungguhnya, terlalu murni akan berubah jadi sesuatu yang terbuat dari kaca, biarpun tiap hari digosok hingga mengkilap dan tembus pandang, tetapi tetap tidak dapat mengubah dirinya yang kecil, tipis, dan rapuh. Dan mungkin suatu hari, karena agak kuat menggenggamnya sewaktu menggosok sehingga dia hancur berkeping, dan kepingan itu juga sangat mungkin melukai tangan. Apalagi, kaca juga merupakan senyawa kimia, bagaimana dapat dikatakan benar-benar murni?
Dinasti Wei Utara menggunakan seluruh dayanya mempersiapkan Dinasti Tang yang tidak murni. Karena tidak murni maka jalan itu berubah menjadi lebar dan terbuka, dan di sisinya masih ada dua pintu gua batu yang megah, ini adalah satu jalan besar yang disusun dari potongan-potongan batu keras, membentang di antara langit dan bumi. Jika dibandingkan, maka setapak kebudayaan yang tersembunyi di dalam gulungan kertas yang tersimpan di dalam perpustakaan, tampak terlalu sepele.
Di sekitar jalan besar ini, semua kebudayaan yang memiliki daya hidup pasti akan mendekat, ini adalah gambaran kebudayaan yang penuh warna dan hidup. Kadang-kadang kita hanya dapat mengeluh saat melihat banyak kebudayaan yang sesungguhnya sudah terbentang sepotong jalan lebar menuju kejayaan, namun begitu saja dikuburkan, hanya karena tidak dapat menerima perbedaan. Manusia selalu begitu, terlalu pintar, setelah menciptakan kebudayaan sendiri, kemudian menjadi sangat peka dan menarik garis pembatas dengan kebudayaan lain. Akibatnya, karena ingin melindungi diri sendiri akhirnya terjerumus menjadi mengekang diri sendiri. Seandainya kita melepaskan kepintaran ini, seluruh pemandangan akan menjadi berbeda, dengan demikian, saya rasa sudah sampai di depan gerbang megah Dinasti Tang.

Baca sebelumnya:
Dari Mana Datangnya Dinasti Tang? (Bagian 1)

Informasi Lomba Cerpen RetakanKata

Semarak Lomba Cerpen RetakanKata masih terus berlangsung. Sampai saat ini, 29 Januari 2012, sebanyak 315 orang mendaftarkan diri sebagai peserta, dan 100 karya sudah masuk ke panitia. Pendaftaran lomba masih terbuka sampai dengan tanggal 5 Februari 2012. Mengenai cara mendaftarkan diri, bisa dilihat di sini atau di sini. Batas akhir pengiriman naskah tanggal 10 Februari 2012. Tata cara pengiriman naskah dapat dilihat di sini dan di sini. Terima kasih atas partisipasinya.
Mengingat banyaknya peserta dan naskah yang masuk, tidak memungkinkan bagi panitia untuk melakukan update informasi setiap saat dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama berulang-ulang di blog ini dikarenakan teknis website yang menganggap pertanyaan dan jawaban yang sama sebagai SPAM. Terkait dengan hal tersebut, maka sangat diharapkan agar teman-teman melihat dan membaca posting-posting yang ada di PAGE FACEBOOK RetakanKata (Blog Seni dan Budaya).
Sekali lagi terima kasih atas kerja sama dan partisipasi sahabat semua. Selamat Berlomba!

Dari Mana Datangnya Dinasti Tang? (Bagian 1)

Oleh John Kuan

Ilustrasi diambil dari bp.blogspot.com
Sebelum melanjutkan terjemahan puisi-puisi Dinasti Tang, saya ingin menulis satu dua hal yang berhubungan dengan latar belakang sejarah dan kebudayaan masa itu, catatan-catatan ini dapat dibaca sebagai lampiran untuk puisi-puisi Dinasti Tang yang pernah saya terjemahkan ataupun yang akan diterjemahkan. Catatan pertama ini akan menelusuri sepotong jalan yang cukup panjang menuju satu masa keemasan dalam sejarah Cina, yaitu Dinasti Tang.
Dari arah dan jalan mana Cina menuju Dinasti Tang? Sebagian besar cendekiawan berpendapat, hanya perlu mengikuti jalan budaya Cina yang sudah tersedia, cepat atau lambat pasti akan sampai di masa keemasan itu. Namun, kenyataannya mungkin tidak demikian. Jalan menuju jaman keemasan yang seperti Dinasti Tang memerlukan suatu kekuatan yang dashyat dan terbuka. Kekuatan ini juga pernah dimiliki Dinasti Qin dan Han, namun Dinasti Qin terlalu banyak menghabiskannya dalam intrik-intrik politik istana dan proyek-proyek raksasa, sedangkan Dinasti Han menghabiskannya dalam enam puluh tahun peperangan melawan suku Xiongnu di perbatasan, akhirnya dengan kesombongan dan kemewahan yang berlebihan telah menyebabkannya terpecah belah dan megap-megap. Walaupun Dinasti Wei (220 – 265) dan Dinasti Jin ( 265 – 420 ) terus berusaha menyusun kembali kekuatan melangkah ke arah terang, tetapi itu adalah sebuah jaman kegelapan, dengan setitik cahaya lemah dari para cendekiawan yang cenderung misterius seperti Tao Yuanming atau Wang Xizhi, bagaimana dapat menembus setapak yang gelap dan berkabut itu? Jadi bagaimana dalam keadaan begini dapat menciptakan sebuah jaman yang megah seperti Dinasti Tang?
Kekuatan yang diperlukan untuk membuka sebuah jaman keemasan sudah tidak mungkin lagi dihasilkan istana ataupun dunia cendekiawan, kekuatan itu hanya mungkin berasal dari alam terbuka. Kekuatan alam terbuka, juga dapat disebut kekuatan liar, sesuatu yang belum menyentuh peradaban. Apakah mungkin suatu kekuatan liar dapat ikut membangun sebuah puncak kebudayaan besar? Ini sangat tergantung apakah dia dapat dengan cepat memasuki peradaban. Seandainya demikian, maka kekuatan liar itu akan dapat menopang seluruh peradaban yang dimasukinya.
Tepat pada waktu itu Cina mendapat satu kekuatan liar begini, kekuatan ini berasal dari Donglu, bagian paling utara Pergunungan Khingan Agung di daerah Mongolia. Di sana hidup orang-orang nomaden yang disebut suku Xianbei, di antaranya ada satu klan yang agak menonjol, yaitu klan Tuoba. Setelah suku Xiongnu terpencar ke arah barat dan selatan dalam penaklukan Kaisar Han Wudi (156 SM – 87 SM), klan Tuoba datang ke tanah suku Xiongnu yang semula, dengan kekuatannya memaksa orang-orang Xiongnu yang tersisa beraliansi, mengalahkan suku-suku lain, menjadi yang terkuat di daerah utara, kemudian di ujung abad ke-4 mendirikan sebuah kerajaan di Pingcheng ( kini terletak di Datong, Provinsi Shanxi ). Atas saran seorang suku Han, nama kerajaannya diubah menjadi ‘ Wei “, ini untuk menunjukkan bahwa dia telah menerima kekuasaan dari klan Wei jaman Sanguo ( Samkok ) dan resmi memasuki sejarah Cina, catatan sejarah menyebutnya Dinasti Wei Utara. Dan setelah melalui peperangan dan penaklukan selama setengah abad, Dinasti Wei Utara telah selesai menyatukan seluruh daerah perairan Sungai Kuning.
Kemenangan, serta meluasnya teritori kekuasaan yang dibawa oleh kemenangan telah membuat pemimpin suku Xianbei yang mendirikan Dinasti Wei Utara terpaksa harus terlibat dalam pemikiran-pemikiran tentang kebudayaan. Persoalan yang paling jelas adalah: Suku Han telah dikalahkan, dapat diberdayakan, namun, yang diwakili suku Han adalah peradaban agraris, dan ini tidak dapat begitu saja diberdayakan oleh aturan-aturan peradaban nomaden. Ingin efektif memerintah sebuah peradaban agraris, tentu harus menekan kekuasaan absolut, melaksanakan sistem persamaan tanah ( 均田制 ), sistem pencatatan kartu keluarga ( 户籍制 ), sistem pembayaran pajak ( 纳税制 ), sistem pembagian wilayah, dan sistem-sistem ini masih menyeret serangkaian perubahan besar dalam cara hidup dan bentuk kebudayaan. Mereka dapat memilih tidak melakukan perubahan, menelantarkan tanah subur delta Sungai Kuning menjadi tanah berburu, bersama-sama mundur ke jaman primitif; atau memilih melakukan perubahan, membiarkan kebudayaan suku yang telah dikalahkan mengalahkan mereka, bersama-sama maju menuju peradaban baru.
Orang-orang bijak suku Xianbei dengan tekad dan keberanian memilih dikalahkan. Ini tentu harus menghadapi berbagai rintangan dari lingkup dalam mereka. Jiwa kesukuan yang tertutup dan angkuh serta rapuh, berkali-kali berubah jadi pembunuhan brutal. Banyak juga suku Han yang menjadi pejabat di sana mati dengan mengenaskan. Namun, sejarah memihaknya, Langit memberkati, sepotong jalan revolusi penuh bercak darah itu akhirnya dapat menembus satu kesimpulan: Hanisasi (Saya lebih suka menggunakan kata yang saya buat sendiri ini daripada Sinifikasi – kurang lebih artinya mengadopsi kebudayaan suku Han). Sekitar ujung abad ke-5 Masehi, dimulai oleh Ratu Feng (442 – 490) dan dilanjutkan Kaisar Xiaowen (467 – 499), serangkaian penerapan hanisasi dilaksanakan dengan keras dan efektif. Terlebih dahulu diterapkan pada sistem pemerintahan dan sistem pertanian, kemudian perubahan-perubahan ini dengan cepat didorong ke arah kebudayaan.
Pertama, memindahkan ibukota ke arah selatan dari Pingcheng (Datong, Provinsi Shanxi) ke Luoyang di Henan. Alasannya adalah kampung halaman di utara lebih cocok ‘ pemerintah militer ( 武功 ) ‘ ala nomaden, dan daerah selatan akan lebih cocok menerapkan ‘ pemerintah sipil ( 文治 ) ‘. Dan yang dimaksud ‘ pemerintah sipil ‘ di sini adalah sepenuhnya menerapkan sistem pemberdayaan masyarakat orang Han.
Kedua, dilarang menggunakan bahasa suku Xianbei, seluruhnya menggunakan bahasa Han. Pejabat-pejabat yang telah berumur diijinkan satu masa adaptasi, dan bagi pejabat muda dibawah tiga puluh tahun jika masih menggunakan bahasa suku Xianbei, segera diturunkan pangkat dan dihukum.
Ketiga, meninggalkan pakaian adat dan pernak-pernik suku Xianbei, menerapkan tatacara dan aturan berpakaian suku Han.
Keempat, orang-orang suku Xianbei yang telah pindah ke Luoyang, seluruhnya mengubah tempat asal menjadi ‘ Luoyang, Henan ‘, setelah mati dikuburkan di Bukit Mang ( 邙山 ) di sisi utara Luoyang.
Kelima, nama klan suku Xianbei diubah menjadi marga suku Han yang satu kata.
Keenam, menerapkan tatacara li ( 礼 – di sini mungkin bisa diartikan sebagai ritual ) suku Han untuk menggantikan cara-cara lama penyembahan suku Xianbei.
Ketujuh, menganjurkan kawin campur antara suku Xianbei dan suku Han, ditentukan harus dimulai oleh bangsawan suku Xianbei, kawin campur dengan golongan terpelajar suku Han.

……

Begini banyak perintah, dikeluarkan oleh seorang penguasa minoritas yang kuat menggenggam tampuk kekuasaan, dan di sekelilingnya tidak ada yang mendesaknya melakukan semua ini, memang dapat membuat orang terhenyak. Saya rasa, ini bukan hanya di Cina, bahkan di dunia juga sangat jarang terjadi.
Perlawanan yang keras dan penuh amarah terhadap hal ini dapat dengan mudah kita bayangkan, semua perlawanan itu berentetan, penuh semangat, berhubungan dengan harga diri suku. Bahkan melibatkan anggota keluarga Kaisar Xiowen dan putra mahkota. Hukuman dari Kaisar Xiowen terhadap perlawanan ini juga sangat kejam, samasekali tidak memberi kesempatan.
Ini sudah sedikit menyerupai tokoh dalam drama Shakespeare. Sebagai penerus penguasa minoritas, dia pasti merasa bangga dengan leluhurnya, tetapi dia juga yang harus mengeluarkan perintah-perintah melepaskan tradisi leluhurnya. Terhadap hal ini, dia berusaha keras menahan penderitaan batin. Namun karena sangat menderita dan pahit, maka dia memilih perubahan yang tuntas, tidak membiarkan dirinya dan bawahannya ragu dan goyang. Dia menghukum setiap perlawanan persis seperti dia menghukum dirinya yang satu lagi.
Raja sebelumnya, Touba Gui ( 拓拔珪, yang bergelar Kaisar Daowu – 道武帝, 386 – 409 ) yang pertama kali menggagas hanisasi, dan karena pergolakan batin yang sama menyebabkan dia mengalami kekacauan pikiran, berbicara sendiri, berubah jadi beringas, sesuka hati membunuh bawahannya. Ini mungkin merupakan akibat yang pasti akan terjadi dari proses penggabungan dua budaya atau cara hidup yang sangat berbeda. Proses begini biasanya berlangsung ratusan tahun atau kadang-kadang bahkan sampai ribuan tahun baru selesai. Namun mereka memaksa menekan menjadi puluhan tahun, oleh sebab itu, sejarah sendiri saja dibuatnya limbung dan hampir pingsan.
Kaisar Xiowen meninggal di tahun penutup abad ke-5, namun, usianya hanya tiga puluh dua tahun. Kaisar Xiowen yang bernama Tuoba Hong ( 拓拔弘 ) ini hanya tiga puluh dua tahun di dunia dan ternyata telah melakukan begitu banyak perubahan-perubahan besar, benar-benar sulit dipercaya. Dalam catatan resmi dia naik tahta pada usia empat tahun, di atas tahta selama dua puluh delapan tahun, namun kenyataan adalah neneknya, Ratu Feng yang mengendalikan seluruh urusan negara. Setelah Ratu Feng meninggal dunia, dia sudah berumur dua puluh tiga tahun, jadi, dia secara mandiri memerintah hanya sekitar sembilan tahun.
Ini adalah sembilan tahun yang luar biasa. Walaupun ketegasan dan keberaniannya telah membawa akibat kekacauan politik yang rumit setelah dia meninggal. Tetapi, serangkaian perubahan-perubahan yang sangat mendalam terhadap kehidupan dan kebudayaan sudah sangat sulit berbalik arah lagi, dan inilah hal yang paling penting. Dia menggunakan sembilan tahun mendorong Cina bagian utara memasuki satu titik kebudayaan yang sangat menentukan arah perkembangan kebudayaan Cina. Oleh sebab itu dia adalah seorang Kaisar yang sangat berhasil dalam sejarah suku Xianbei, atau sejarah Dinasti Wei Utara maupun sejarah Cina secara keseluruhan. Saya kira dialah orang yang melakukan reformasi kebudayaan dalam arti yang sebenarnya.

Dari Mana datangnya Dinasti Tang? (Bagian 2)

LOMBA CERPEN RETAKANKATA

Oleh Ragil Koentjorodjati

Tidak terasa blog RetakanKata hampir berumur satu tahun sejak berdiri pada 13 Februari 2011, satu hari menjelang perayaan hari kasih sayang (Valentine Day). Pada usia yang masih sangat belia ini, RetakanKata sudah mempublikasi kurang lebih 125 artikel dalam waktu 10 bulan dan dikunjungi lebih dari 12300 kali. Memang belum berarti apa-apa untuk ukuran sebuah blog. Tetapi semua itu patut untuk disyukuri di tengah berbagai tantangan kesulitan sumber daya manusia pengelolanya dan juga tentu saja sumber daya finansial yang semuanya bergantung pada donasi pendirinya. Semua masih terus berproses untuk dan mewujudkan pembangunan budaya dengan pendekatan sastra. Budaya menulis, budaya membaca, budaya berpikir dan yang lebih penting mengurangi budaya instan.
Teknologi diciptakan untuk mempercepat proses dan berproduksi. Tetapi secanggih apapun teknologi, itu tidak mengubah bahwa manusia harus tetap berpikir, membaca, menulis dan belajar. Tanpa mempertahankan proses berpikir ini, teknologi akan mati dengan sendirinya dan kemudahan-kemudahan dari hasil teknologi pun akan mendatangkan kesulitan baru. Untuk itu perlu keseimbangan dan pemeliharaan agar manusia tidak terperangkap pada budaya instan yang semakin akut dan abai terhadap proses berpikir dan belajar, terbuai kehebatan dan kenikmatan dari hasil teknologi.
Untuk itu, dalam rangka peringatan 1 tahun blog RetakanKata dan dalam rangka mendukung pemeliharaan proses berpikir, blog RetakanKata menyelenggarakan lomba menulis cerpen dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Peserta adalah warga negara Indonesia dan memiliki kartu identitas (KTP/KTM/SIM/Kartu Pelajar atau Pasport Indonesia).
2. Tema: Bebas.
3. Peserta hanya boleh mengirimkan satu karya cerpen dengan ketentuan.
• Peserta mengirim email dengan subyek LOMBA CERPEN RETAKANKATA ke retakankata@gmail.com dengan dilampiri dua file. Satu file berisi cerpen yang dilombakan (tanpa mencantumkan nama penulis dalam tulisan cerpen) dan satu file berisi biodata penulis secukupnya dan rekening bank serta dilampiri hasil scan kartu identitas.
• Peserta mendaftar dengan cara submit sebagai follower (daftar email berlangganan) pada blog RetakanKata dengan menggunakan alamat email yang akan digunakan untuk mengirim CERPEN serta tergabung dalam facebook page RetakanKata (Blog Seni dan Budaya). Pendaftaran lomba ini tidak dipungut biaya alias GRATIS. Batas akhir pendaftaran tanggal 5 Februari 2012.
• Batas akhir pengiriman naskah adalah tanggal 10 Februari 2012 pukul 12.00 siang WIB.
• Cerpen yang dilombakan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya, baik di media cetak maupun portal dan blog pribadi.
• Cerpen tidak sedang diikutkan dalam perlombaan serupa.
• Cerpen ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai kaidah bahasa Indonesia.
• Cerpen adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan sebagian atau seluruhnya.
• Cerpen diketik dengan menggunakan huruf Times New Roman, font 12, pada kertas A4 dengan spasi 1,5 margin 4 cm dari atas, 4 cm dari kiri, 3 cm dari bawah, 3 cm dari kanan, dengan jumlah kata antara 1200 sampai dengan 3500 kata, termasuk judul dan catatan kaki.
• Cerpen tidak mencantumkan nama pengarang.
4. Penilaian cerpen menggunakan sistem blind review (penulis dan penilai tidak diketahui namanya). Unsur utama yang dinilai adalah keindahan, kepadatan (bernas) cerita, dan kebahasaan. Cerpen yang tidak memenuhi ketentuan pada butir tiga, secara otomatis gugur. Seleksi pertama, akan dipilih 15 (lima belas) cerpen terbaik. Seleksi berikutnya, dari lima belas cerpen terbaik tersebut, akan dipilih Juara I dan Juara II. Lima belas cerpen terbaik akan dibukukan.5. Hadiah:
• Juara I Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) ditambah buku kumpulan cerpen lima belas terbaik.
• Juara II Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) ditambah buku kumpulan cerpen lima belas terbaik.
• Peserta yang cerpennya masuk pada lima belas cerpen terbaik akan mendapat buku kumpulan cerpen lima belas terbaik.
6. Ketentuan lain:
• Semua cerpen yang dilombakan menjadi milik blog RetakanKata dan boleh dipublikasikan di blog RetakanKata.
• Lima belas cerpen terbaik menjadi milik bersama yaitu penulis dan blog RetakanKata.
• Keputusan juri atas lomba ini tidak dapat diganggu gugat.
• Apabila di kemudian hari ditemukan pelanggaran atas ketentuan lomba ini, maka tanggung jawab sepenuhnya ada pada penulis dan dikenai sanksi pencabutan penghargaan sebagai pemenang lomba, serta mengganti kerugian yang ditimbulkan.
• Keuntungan dari penjualan buku lima belas cerpen terbaik akan dibagi tiga yaitu, untuk sosial (panti asuhan dan anak jalanan), untuk penulis dan untuk blog RetakanKata.
• Ketentuan lain yang mungkin perlu ditambahkan dan hal-hal yang belum jelas akan disampaikan lewat email. Demikian juga dengan pertanyaan, agar disampaikan lewat email.Selamat Berkarya!

Terkait dengan Lomba Cerpen RetakanKata:
Informasi Lomba Cerpen RetakanKata

CANDI SUKUH: MIRIP INCA DAN EROTIS

Oleh Rere ‘Loreinetta

Candi Sukuh terletak di lereng Gunung Lawu, di Desa Berjo Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sebuah candi yang memiliki struktur bangunan yang unik karena bentuknya mirip bangunan piramid bangsa Maya. Menurut promosi Dinas Pariwisata Karanganyar, candi yang dibangun masyarakat Hindu Tantrayana tahun 1437 itu selain merupakan candi berusia paling muda di Bumi Nusantara juga candi paling erotis.
Yang unik, di kompleks candi ini terdapat patung-patung makhluk bersayap. Makhluk ini disebut sebagai garuda karena salah satu patung yang masih utuh menunjukkan kepala seperti burung garuda. Hanya saja, patung-patung ini memiliki tangan dan kaki seperti manusia dan sayap seperti malaikat. Apakah patung ini menggambarkan makhluk alien?
Konon, candi ini merupakan saksi terakhir kejayaan kerajaan Hindu di Jawa. Struktur situs Candi Sukuh sangat unik jika dibandingkan dengan kompleks candi-candi lain yang ada di Indonesia. Kompleks Candi Sukuh terdiri dari beberapa teras yang mengingatkan kita pada struktur punden berundak pada zaman megalitikum. Oleh karena itu, banyak ahli yang menyebutkan bahwa candi ini merupakan hasil akulturasi agama Hindu dengan kepercayaan terhadap arwah nenek moyang yang telah ada di daerah itu.
Candi ini sangat sederhana dan berisikan sejumlah relief dengan berbagai bentuk. Di antaranya bentuk kelamin laki-laki dan wanita yang dibuat hampir bersentuhan. Pada deretan relief-relief yang menghiasi dinding candi juga digambarkan relief tubuh bidadari dengan posisi “pasrah” serta relief rahim wanita dalam ukuran cukup besar.
Relief-relief seks itu menggambarkan lambang kesucian antara hubungan wanita dan pria yang merupakan cikal bakal kehidupan manusia. Hubungan pria dan wanita melalui relief ini dilambangkan bukan melampiskan hawa nafsu, tapi sangat sakral yang merupakan curahan kasih sayang anak manusia untuk melahirkan sebuah keturunan.
Candi ini dianggap cukup kontroversial. Hal ini disebabkan banyaknya simbol-simbol seksualitas yang dapat ditemui di kompleks candi. Simbol-simbol “lingga” dan “yoni” dapat kita temui pada relief atau pun arca yang ada.
Dan uniknya, simbol-simbol kesuburan ini tergambar dengan jelas. Tanpa diberitahu oleh siapa-siapa pun kita akan tahu melambangkan apa simbol-simbol itu. Lihatlah bentuk lambang seksualitas ini.
Relief phallus yang bertemu dengan vagina dan terdapat pada lantai dasar Gapura teras pertama Candi Sukuh.

Selain itu sekitar candi juga dipenuhi relief-relief yang satu sama lain tidak berhubungan sehingga menimbulkan banyak ceritera. Kisah-kisah tentang relief itu bisa beragam tergantung persepsi orang-orang sesuai dengan sudut pandangnya. Ada legenda Dewi Uma yang dikutuk suaminya Batara Guru karena berbuat serong dengan seorang penggembala. Ada juga ceritera wanita yang kalah judi lalu dibebaskan di candi ini sehingga bisa masuk sawarga (surga). Legenda warga setempat menyebut candi ini merupakan tempat bertemu dengan roh yang sudah meninggal.
Bentuk candi ini yang berupa trapezium memang tak lazim seperti umumnya candi-candi lain di Indonesia. Sekilas tampak menyerupai bangunan suku Maya di Meksiko atau suku Inca di Peru.
Situs candi Sukuh ditemukan kembali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Kemudian setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada tahun 1842, Van der Vlis, yang berwarga negara Belanda melakukan penelitian. Lalu pada tahun 1928, pemugaran dimulai.
Candi Sukuh dibangun dalam tiga susunan trap (teras), di mana semakin ke belakang semakin tinggi. Pada teras pertama terdapat gapura utama. Pada gapura ini ada sebuah candra sangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta abara wong. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gapura sang raksasa memangsa manusia”.
Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi. Di lantai dasar dari gapura ini terdapat relief yang menggambarkan phallus berhadapan dengan vagina. Sepintas memang tampak porno, tetapi tidak demikian maksud si pembuat. Sebab tidak mungkin di tempat suci yang merupakan tempat peribadahan terdapat lambang-lambang yang porno. Relief ini mengandung makna yang mendalam. Relief ini mirip lingga-yoni dalam agama Hindu yang melambangkan Dewa Syiwa dengan istrinya (Parwati). Lingga-yoni merupakan lambang kesuburan. Relief tersebut sengaja dipahat di lantai pintu masuk (gapura) dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena “suwuk”.
Pada teras kedua juga terdapat gapura namun kondisinya kini telah rusak. Biasanya di kanan dan kiri gapura tersebut terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala, namun di teras kedua ini penjaga pintu sudah dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak dijumpai banyak patung-patung. Namun pada gapura ini terdapat sebuah candra sangkala pula dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi. Jadi jika bilangan ini benar, maka ada selisih hampir duapuluh tahun dengan gapura di teras pertama!
Pada teras ketiga terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Jika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui. Selain itu lorongnya juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian. Sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.

Relief yang menggambarkan ketika Bima mengangkat raksasa dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menancapkan kuku "Pancanaka” ke perut raksasa
Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesajian. Di sini terdapat bekas-bekas kemenyan, dupa dan hio yang dibakar, sehingga terlihat masing sering dipergunakan untuk bersembahyang.
Dengan struktur bangunan seperti ini boleh dibilang Candi Sukuh dikatakan menyalahi pola dari buku arsitektur Hindu Wastu Widya. Di dalam buku itu diterangkan bahwa bentuk candi harus bujur sangkar dengan pusat persis di tengah-tengahnya, dan yang di tengah itulah tempat yang paling suci.
Sedangkan ikhwal Candi Sukuh ternyata menyimpang dari aturan-aturan itu, hal tersebut bukanlah suatu yang mengherankan, sebab ketika Candi Sukuh dibuat, era kejayaan Hindu sudah memudar, dan mengalami pasang surut, sehingga kebudayaan asli Indonesia terangkat ke permukaan lagi yaitu kebudayaan prahistori jaman Megalithic, sehingga mau tak mau budaya-budaya asli bangsa Indonesia tersebut ikut mewarnai dan memberi ciri pada candhi Sukuh ini. Karena trap ketiga ini trap paling suci, maka maklumlah bila ada banyak petilasan.
Seperti halnya trap pertama dan kedua, pelataran trap ketiga ini juga dibagi dua oleh jalan setapak yang terbuat dari batu. Jalan batu di tengah pelataran candi ini langka ditemui di candi-candi pada umumnya. Model jalan seperti itu hanya ada di “bangunan suci” prasejarah jaman Megalithic.
Di sebelah selatan jalan batu, pada pelataran terdapat fragmen batu yang melukiskan cerita Sudamala. Sudamala adalah salah satu 5 ksatria Pandawa atau yang dikenal dengan Sadewa. Disebut Sudamala, sebab Sadewa telah berhasil “ngruwat” Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru karena perselingkuhannya.
Sadewa berhasil “ngruwat” Bethari Durga yang semula adalah raksasa betina bernama Durga atau sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya yang semula yakni seorang bidadari di kayangan dengan nama Bethari Uma. Sudamala bermakna ialah yang telah berhasil membebaskan kutukan atau yang telah berhasil “ngruwat”. Adapun Cerita Sudamala diambil dari buku Kidung Sudamala.
Arca kura-kura yang cukup besar sejumlah tiga ekor sebagai lambang dari dunia bawah yakni dasar gunung Mahameru
Pada lokasi ini terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian Tirta Amerta yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti. Kemudian sebagai bagian dari kisah pencarian Tirta Amerta (air kehidupan) di bagian ini terdapat pula tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu.
Bentuk kura-kura ini menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat menaruh sesajian. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari Tirta Amerta.
Secara keseluruhan, mengunjungi objek wisata Candi Sukuh memberikan pandangan baru akan bentuk candi maupun relief-reliefnya yang tidak lazim seperti layaknya candi-candi lain di pulau jawa. Tentunya hal ini merupakan bukti yang menunjukkan akan kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Another Wonder of the World
Hasil kontes kepopuleran situs sejarah yang kemudian mereka sebut New 7 Wonders, menjadi menarik dengan masuknya salah satu situs sejarah peradaban Maya, yang berupa piramida di Chichen Itza. Melihat bentuk bangunan ini boleh jadi kita akan teringat Candi Sukuh, sebuah situs bersejarah yang ada di Jawa Tengah.
Bandingkan kemiripannya.
piramida Inca dan candi Sukuh Indonesia

Yang menarik adalah bentuk dari candi utama. Bentuk candi ini sangat mirip dengan bentuk bangunan-bangunan bersejarah yang ditemukan pada peninggalan-peninggalan kebudayaan Maya dan Inca.

Bagaimana ceritanya ya, hingga bisa memberikan deduksi yang dapat diterima mengenai kesamaan arsitektur di dua tempat yang terpisah sangat jauh. Anehnya, Candi Sukuh merupakan satu-satunya candi di Indonesia yang memiliki arsitektur seperti ini. Mungkinkah ada bangsa Maya atau Inca yang tersesat sampai Sukuh?
Tapi, bagaimana mereka bisa sampai tempat ini? Kalaupun itu benar, berapa lama perjalanan yang telah mereka lakukan?

Candi Sukuh tampak depan
Ada teori yang menyatakan bahwa candi ini dibangun oleh makhluk yang berasal dari luar bumi. Mungkin memang tidak logis, tapi apapun itu, kita tidak bisa membuktikannya bukan?

Kalau kembali mengacu kepada gelar Another Wonder of the World, di mana bangunan piramida di Chichen Itza saja dianggap sebagai keajaiban dunia, mengapa Candi Sukuh tidak?
Tetapi sekali lagi menyimak keterangan di atas, bahwa secara keseluruhan, mengunjungi obyek wisata Candi Sukuh memberikan pandangan baru akan bentuk candi maupun relief-reliefnya yang tidak lazim seperti layaknya candi-candi lain di pulau jawa. Tentunya hal ini merupakan bukti yang menunjukkan akan kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Bahwa ada kesamaan atau kemiripan antara bentuk candi sukuh dengan bangunan piramida di Chichen Itza, tentunya perlu penelitian lebih lanjut, adakah kaitan antara keduanya. Dan memang sampai sekarang para ahli sejarah belum bisa mengaitkan antara keduanya sehingga masih merupakan misteri.
Hal serupa juga terjadi dengan Candi Penataran di Blitar, Jawa Timur, juga menyimpan relief-relief yang aneh yang masih menjadi misteri bagi para ahli sejarah.

Relief lain di Candi Sukuh

Surat Cinta

Oleh John Kuan
Berpisah untuk sementara adalah baik, sebab semua yang terpampang di depan mata kelihatan seperti pengulangan, tidak mampu dibedakan. Menara tinggi sekalipun berubah jadi kerdil, seandainya dengan seksama kau melihatnya dari dekat, dan segala remeh-temeh juga akan berubah jadi persoalan besar, ketika kau terus-menerus bersentuhan dengannya. Melibatkan hati, sudah cukup membuat kebiasaan-kebiasaan kecil tampil dalam bentuk yang emosional, dan apabila sasaran sudah tidak ada di depan mata, hasrat itu akan sirna sendiri. Disebabkan sasaran itu sedang dekat, hasrat yang membuncah itu tumbuh dalam bentuk serentetan persoalan-persoalan kecil, namun ketika memiliki jarak, melalui reaksi yang luar biasa, hasrat akan kembali ke dimensinya yang alami.

Ini adalah pembukaan sepucuk surat cinta, tidak usah ragu, bukan disertasi filsafat. Coba terka surat cinta siapa. Selanjutnya dia menulis:

Demikian juga dengan cintaku. Setiap kali kita tidak bersama — sekalipun di dalam mimpi juga begitu — aku langsung dapat rasakan yang waktu berikan pada cintaku untukmu, persis seperti yang sinar matahari dan air hujan berikan kepada tumbuhan: dia membuat cintaku terus tumbuh. Setiap kali kita berpisah di dua tempat yang jauh, cintaku padamu, akan muncul begitu rupa, dalam cinta yang demikian besar, penuh berdesakan kekuatan akalku, entitas hatiku. Aku sekali lagi menyadari diriku adalah seorang lelaki, sebab aku kembali dapat merasakan hasrat yang demikian bergelora. Pengejaran akademis dan pendidikan moderen menggulung kita ke dalam situasi yang sulit dan rumit, tidak dapat tidak bersikap skeptis memandang semua pengaruh subjektif dan objektif, demikian secara utuh, kita dirancang menjadi kecil, lemah, kasar, dan plin-plan. Namun cinta ——— bukan cinta demi tipe ( orang ) Feuerbach, bukan demi metabolisme Moleschott, juga bukan demi proletariat ———adalah cinta ini, cinta kepada yang tercinta, adalah cinta untukmu yang terdalam, membuat seorang lelaki kembali menjadi lelaki lagi.

Surat cinta siapa? Kalau bukan Marx siapa lagi? Selain Marx, di dunia ini tidak akan ada orang yang memasukkan dialektika, kontradiksi, subjektif dan objektif, referensi filsafat dan sains moderen ke dalam surat cinta, bahkan tetap tidak lupa mengungkit proletariat-nya. Surat cinta itu berakhir:

“Terkubur di dalam lekukan lengannya, sebab ciumannya dan hidup kembali,” iya, di dalam lekukan lenganmu dan sebab ciumanmu — biarkan Brahmana dan Pythagoras terus berpegang teguh pada pandangan mereka tentang reinkarnasi, sebab aku setuju, juga biarkan agama Kristen menyebarkan doktrin bangkit kembali!

Tentu Marx tidak setuju dengan reinkarnasi Brahmana dan Pythagoras. juga memandang enteng doktrin Yesus bangkit kembali. Demi cinta, dia berkata: aku bisa kompromi, bahkan dapat menerima teori-teori menyesatkan itu. Mati di dalam pelukannya, dan karena ciuman bergelora hidup kembali.

*

Marx dan Jenny menikah pada tahun 1843, konon Jenny sangat cantik. Waktu itu Marx baru berumur 25 tahun. Surat cinta di atas ditulis pada tahun 1856 di London, dan Jenny demi berbagai hal mulai menunjukkan gejala jiwanya yang tergoncang. Paling banyak mengulurkan tangan bantuan adalah Engels

*

Persahabatan Marx dan Engels dimulai dari tahun 1843 di Paris

Tahun itu juga dia awal mengenal penyair Heinrich Heine, bersentuhan dengan Sosialisme Perancis, mengintip jiwa dan kehidupan proletariat. Dua tahun kemudian meninggalkan Perancis menuju Belgia, karya-karya tidak berhenti, di antaranya [Theses on Feuerbach], [The Poverty of Philoshopy] dan lain-lain, dan [The Communist Manifesto] merupakan karya tahun 1848. Di antara tahun-tahun ini dia pernah berpolemik dengan Proudhon, dan tahun 1849 menyeberang ke Inggris, baru kemudian ada surat yang saya salin di atas. Desember 1881 Jenny meninggal dunia, tidak sampai dua tahun kemudian Marx juga meninggal, dan [Das Kapital] jilid dua dan jilid tiga setelah melalui penyuntingan Engels baru diterbitkan, memakan waktu sekitar sepuluh tahun.

*

Dia menggunakan cara menulis desertasi menulis surat cinta, sehingga bentuk dan cara penyampaian menjadi samasekali berbeda. Bagian pertama dia menggunakan dialektika yang begitu rapi untuk membicarakan tentang ada dan hilangnya “hasrat”, membacanya bisa membuat orang tercengang. Sebenarnya dia berpanjang lebar setengah hari, hanya ingin berkata: “Sejak berpisah aku sangat merindukan adinda”, tetapi tidak suka tembak langsung, dengan rasionalitas menutup sensibilitas, tujuannya juga untuk menemukan sensibilitas. Di dalam surat ini saya menggunakan “hasrat” untuk menerjemahkan “passion”, dan belum pernah memeriksa teks asli yang tentu dalam Bahasa Jerman yang belum bisa saya kuasai, tidak tahu apakah kata ini sudah tepat? Marx berbuih-buih membicarakan hasrat, yang dimaksudnya selain cinta dan nafsu lelaki dan perempuan, mungkin melebar hingga rasa cemburu, amarah dan lain-lain. Setidaknya dalam Bahasa Inggeris kata ini dapat diartikan demikian. Menurut cerita, Marx pernah menulis puisi untuk Jenny. Saya belum pernah membaca puisinya, namun dari membaca disertasi, saya percaya dia pasti suka puisi dan mahir berpuisi.

Lenin berbeda. Ini dapat kita terka melalui kata “passion” yang disebut di atas. Suatu kali Lenin sedang bersama Gorky mendengar Piano Sonata No. 23 di F minor milik Beethoven, mereka berdua sama-sama terpukau. Namun sebelum seluruh movement berakhir, Lenin tiba-tiba “insyaf”, berkata pada Gorky: Barang ini terlalu indah, terlalu berbahaya, kita harus agak kejam menaklukkannya, menekannya, menghancurkannya, kalau tidak bagaimana melaksanakan revolusi? Sonata Beethoven itu juga bernama Appassionata

*

Makin lama berpisah, cintaku padamu makin besar, Marx berkata: “Persis seperti yang sinar matahari dan air hujan berikan kepada tumbuhan”. Berarti waktu sama dengan sinar matahari dan air hujan, cintaku sama dengan tumbuhan. Seperangkat metafora ini agak berbahaya, namun cukup masuk akal.

Tentu, masih termasuk suatu penyimpangan. Penyimpangan intelektualitas? Penyimpangan puisi?

*

Bagaimana kalau dibandingkan dengan cara penyampaian begini?

Rodolphe tiba-tiba kembali di kala senja, Emma sangat terkejut. Dia berkata: Aku terus ragu-ragu tidak pulang melihatmu adalah tindakan benar, sebab setiap orang dapat memanggilmu Nyonya Bovary, dan kau tidak mengijinkan aku menggunakan nama itu memanggilmu, tapi itu memang bukan namamu, milik orang lain! Kemudian Rodolphe membenamkan wajahnya di dalam ke dua telapak tangannya, berkata dalam suara terputus-putus: ” Aku tidak dapat melupakan kau. Mengingat kau, kembali membuat aku putus asa! Ah, maafkan aku… aku bisa menjauh… selamat tinggal! Aku akan pergi ke tempat yang jauh… tempat yang jauh, di sana tidak akan ada orang mengungkit namaku padamu… ”

Begini Gustave Flaubert menulis ungkapan rindu lelaki dan perempuan yang bertemu setelah berpisah enam minggu, Madame Bovary pertama kali dimuat secara bersambung pada tahun 1856 di Paris, tahun yang sama Marx menulis surat cintanya di London

*

Ilmu pengetahuan dan kajian akademis membuat orang kehilangan intuisi cinta, tidak lagi menyimpan rasa sayang yang ada di dalam percintaan, sebab dia merasa tidak senang di segala sisi, mencurigai segala hal. Ilmu pengetahuan apa? Kajian akademis apa? Penjelajahan Marx terlalu luas dan dalam, saya tidak mampu analisa. Namun dia ada mengungkit Feuerbach dan Moleschott; begitu saja dapat menggores dua nama ini di dalam surat cinta, tentu membuat orang di samping timbul rasa hormat, juga ada iri dan kagum. Ludwig Andreas von Feuerbach adalah filsuf Jerman, mempunyai pandangan yang sangat istimewa tentang hubungan antara manusia dan Tuhan. Marx pernah menulis sebuah buku khusus untuk mengkritiknya [Theses on Feuerbach] di tahun 1846. Jacob Moleschott adalah seorang pakar fisiologi Belanda yang juga merupakan salah satu tokoh penting materialisme. Di ujung surat cinta itu, dia memetik dua baris puisi (Terkubur di dalam lekukan lengannya, sebab ciumannya dan hidup kembali), tidak jelas dipetik dari mana, tapi saya duga mungkin dari Heine. Kemudian, dia berbicara kepercayaan Brahmana tentang reinkarnasi, bahkan Pythagoras juga ikut diseret, filsuf dan ahli matematika Yunani abad ke-5 SM. Kalau kita lihat tesis doktornya di Universitas Berlin ketika dia berumur 23 tahun juga mengkaji filsuf Yunani Kuno: Democritus dan Epicurus.

Tentang Yesus bangkit kembali dan naik ke surga, kemungkinan besar dia tidak percaya. Sekalipun lelehur Marx adalah penganut Yudaisme dan banyak yang menjadi rabi, tetapi ayahnya setahun sebelum Marx lahir masuk agama Kristen Protestan. Dia tidak percaya tentang bangkit kembali, saat ini demi puisi, dia kompromi, demi cinta.

Sesungguhnya seluruh isi surat juga tidak bisa terhindar jatuh ke dalam retorika. Walaupun demikian, ini tetap bukan sebuah disertasi — masih merupakan sepucuk surat cinta. Ingat, Marx di masa muda sangat rajin membaca puisi-puisi Yunani Kuno, Shakespeare, apalagi Kesusasteraan Jerman; dia sendiri juga pernah menulis puisi yang romantik, sebuah tragedi, dan sebuah roman yang belum selesai. Di dalam kata pengantarnya untuk Das Kapital jilid satu edisi Bahasa Jerman, dia mengakhiri dengan sepenggal puisi Dante:

Segui il tuo corse,e lascia dir le genti

*

Kritik Marx terhadap agama sudah merupakan pengetahuan umum

Kritik pengikut Engels terhadap agama dapat ekstrem sampai tingkat tertentu. Mereka percaya hanya dengan ateisme baru dapat membebaskan manusia. Marx selangkah lebih maju. Menurut dia kritik terhadap agama merupakan pendahuluan kita dalam mengkritik segala hal.

Agama adalah [ungkapan kesedihan nyata] kaum proletar, juga merupakan [protes mereka terhadap kesedihan nyata]. Di bawah ini adalah kata-kata Marx yang paling terkenal:

“Agama adalah keluh-kesah makhluk yang tertindas, nurani dunia yang kejam, hati dan jiwa dari seluruh kondisi yang tidak berhati dan tidak berjiwa. Agama adalah candu rakyat ”

Candu rakyat? Kaum proletar disuap candu oleh penguasa sehingga ketagihan berat, dan terkekang? Mungkin seperti ini maksudnya, namun juga terasa tidak begitu tepat. Apakah penguasa pasti dapat menolak agama, melarang candu? Kelihatannya tidak pasti. Kalau demikian, apakah perhatian dan cinta Marx terhadap kaum proletar, sudah melebar hingga ke penguasa? Ini pasti tidak mungkin

Dia mengungkit dalam surat cintanya tentang [cinta terhadap proletariat]. sudah! Patah paku potong besi, sampai di sini saja, tidak bahas lagi!

*

Agama bukan tujuan, ateisme juga bukan tujuan, bahkan komunisme juga bukan tujuan. Bagi Karl Marx, itu hanyalah bagian-bagian dari proses perkembangan manusia. Nyawa manusia barulah tujuan yang sebenarnya.

*

Moleschott, keahliannya memang sudah seharusnya di fisiologi

Kenyataannya, keterlibatan Moleschott dalam sejarah sains dapat dilihat dalam konsep [man-machine]. Dalam sejarah memang ada sekelompok ilmuwan suka melihat, menikmati, menganalisa manusia sebagai mesin. Pertama, ilmu rekayasa awalnya memang dirancang untuk mempelajari hubungan antara struktur dan fungsi, desain mesin meniru cara pengelompokan taksonomi. Kedua, dengan manusia mesin sebagai bayangan, sangat bisa menjelaskan uraian penting tubuh makhluk hidup (termasuk manusia dan binatang). Ketiga, dalam karya sastra sangat mudah terlihat, seperti Mary Shelley dengan [Frankenstein] coba menyelidiki pengalaman dan nilai manusia.

Konsep [Man-machine] ini sudah ada sejak jaman Yunani Kuno, hanya tidak umum, dan tidak mendalam. Pada jaman renaisans penguasaan teknik di Eropa mulai maju, alat yang terbuat dari tali, tinta, metal, tanah dan kayu makin bertambah, tentu akan teringat hal ini, terutama setelah melalui penjelasan Rene Descartes, sudah menjadi ilmu populer. Descartes dengan semangat filsafat mesin memperlakukan hal ini, bahwa tubuh manusia dan binatang mirip struktur mesin; dalam bukunya [ Traite de L’Homme ] yang terbit pada tahun 1662, dia menggunakan hydraulic automata untuk menjelaskan hubungan unik antara mesin dengan tubuh dan pikiran manusia. Setelah itu, melewati promosi dan penelitian dunia akedemis abad ke-18 dan abad ke-19, sehingga banyak cendekiawan Eropa percaya bahwa manusia dijelaskan sebagai sebuah mesin sangat bisa diterima. Moleschott tepat berada di puncak periode ini.

Konsep [man-machine] dengan iatromathematic. Yang disebut belakangan ini berasal dari astrologi, pelan-pelan mulai menggunakan fenomena alam semesta untuk menjelaskan fisiologi manusia, lama kelamaan tentu tidak dapat terhindar akan tergantung pada penemuan-penemuan alat, desain-desain mesin, hingga hari ini cinta terhadap kalkulator masih begitu dalam.

*

Cinta terhadap kalkulator begitu dalam — membuat orang bergidik

Seandainya berkembang sampai menjadi berkeyakinan kalkulator, lalu tiap hari disembah, tiada hari tanpa dia, situasi bisa jadi sangat genting.

Namun saya percaya manusia hanya akan berhenti pada rencana (mungkin juga sudah dilaksanakan) mempergunakan kalkulator saja, tidak benar-benar mempercayainya. Kau mempergunakannya, menyuruhnya, menindasnya, membohongnya, menyiksanya, suatu hari dia akan berontak. Kalkulator dalam film 2001: Space Odyssey telah berontak, mengerti balas dendam. Kalkulator itu diberi nama HAL, membuat saya teringat pangeran yang dapat begitu saja, tanpa pandang bulu berubah gaya dan sifat sesuai keadaan dalam drama Shakespeare (Lihat Henry IV pertama, kedua, dan Henry V). Namun seorang teman berkata bahwa ini tidak ada hubungannya dengan pangeran, sebenarnya erat berhubungan dengan IBM: tiga huruf HAL masing-masing mundur selangkah, jadi IBM.

*

Konsep [man-machine] adalah menganalisa dan menjelaskan manusia sebagai mesin

Kalkulator sebaliknya, mesin dianggap sebagai manusia, maka disebut komputer. Mereka sama-sama memiliki sesuatu yang unik, namun tidak tahu bagaimana memulainya.

*

Mungkin semua ini juga sudah ada sejak dahulu kala

Xu Zheng-徐整 yang hidup di abad ke-3 Masehi dalam bukunya:Tiga Lima Catatan Sejarah -三五历记 menggambarkan permulaan semesta begini:

Langit dan bumi kacau seperti telor ayam, Pangu lahir di tengah-tengahnya. 18.000 tahun, langit dan bumi terbuka, terang jernih sebagai langit, gelap keruh sebagai bumi. Pangu di tengah-tengahnya, sehari berubah sembilan kali, dewa di langit, yang bijak di bumi; tiap hari langit meninggi 3 meter, bumi menebal 3 meter, Pangu tumbuh 3 meter, begini selama 18.000 tahun, ukuran langit begitu tinggi, ukuran bumi begitu dalam, Pangu begitu panjang, kemudian baru ada Tiga Maharaja.

Paling suka membaca [ Pangu begitu panjang ]. Ren Fang – 任昉 yang hidup di abad ke-5 Masehi menyusun sebuah buku: Kisah Aneh – 述异记, ternyata Pangu telah mati. Ini membuat kita terpaksa teringat [man-machine], [iatromathematic], dan kalkulator, bahkan melampaui semuanya:

Setelah Pangu mati, kepala menjadi Empat Gunung, mata menjadi matahari dan bulan, cairan tubuh menjadi sungai dan lautan, bulu menjadi tumbuhan. Cerita rakyat jaman Qin dan Han menuturkan: Kepala Pangu sebagai Gunung Timur, perut sebagai Gunung Tengah, lengan kiri sebagai Gunung Selatan, lengan kanan sebagai Gunung Utara, kaki sebagai Gunung Barat. Para bijak berkata: Tangisan Pangu menjadi sungai, qi menjadi angin, suara menjadi guruh, bola mata menjadi halilintar. Kisah kuno mengatakan: Pangu senang menjadi cerah, marah menjadi mendung. Cerita rakyat tanah Chu: Suami isteri Pangu, permulaan yin yang.

Ini adalah cerita sempurna, lahirnya semesta, langit bumi gunung sungai, harus tunggu seorang pencipta mati. Awal cerita adalah kesimpulan dari Ren Fang terhadap hal ini, isinya ada di sini. Mencatat perbedaan dalam cerita rakyat Qin dan Han, dan yang menarik adalah: Setelah Pangu mati, tentu tumbang berbaring menghadap langit, kepala di timur kaki di barat. Kita menggabungkan kesimpulan Ren Fang, cerita rakyat Qin dan Han, perkataan para bijak, kisah kuno, kita pasti akan terasa semua ini memang ada sejak dahulu kala, bahkan melampaui semuanya — melampaui Descartes, Newton, Moleschott, bahkan menyamai mitologi, semacam agama.

*

Suami isteri Pangu, permulaan yin yang. Gambaran ini begitu indah, gambaran mitologi, mendekati agama

*

Terkubur di dalam lekukan lengannya

sebab ciumannya dan bangkit kembali

Apa yang susah dimengerti? Sungguh kasihan sama Marx yang demi hal kecil begini panik dan salah tingkah, untuk menjelaskan perkataannya sendiri masih harus menggunakan agama India Kuno, dan teologi agama Kristen: Demi cinta, aku kompromi!