Arsip Kategori: Puisi

Menangislah

Puisi Lila Prabandari

ilustrasi dari webpages_scu_edu

aku tak akan meneteskan airmata,
meski kudengar lirih ceria tawamu
senyum kemenanganmu yang menggores
melengkungkan garis dipipimu

aku juga tak akan meneteskan airmata,
meski alis kananmu kaunaikkan
hingga membentuk kurva enampuluh derajat
atau kaubengkokkan bibir atasmu seperti tikungan

tidak…
aku hanya ingin menatapmu saja
menatapmu dengan rasa
yang mengumpul bergumpal-gumpal di pelupuk mata
dan mungkin…

13 Oktober 2011

Puisimu Mawarku

Puisi Endah Soe Trusthi

mawar dan hujan

aku masih ingin kau buatkan puisi
tukar dengan mawarku

hurufmu mewangi
kuharap bungaku juga bermakna

beri aku sebait
lalu aku petik setangkai

di puisimu ada hujan
juga matahari
mengertilah
di kebunku hujan dan matahari menyuburkan mawarnya
pada pagi mawar takhluk untuk dihinggapi embun
yang menjadi judul kerinduan pada puisimu

6 Oktober 2011

Aku di Sini

Puisi Rere ‘Loreinetta

rere's guitar

Sahabat…
Kemarilah duduk disampingku sebentar
Merapat pada bahuku
Dan dengarkan aku berkata kepadamu
Meski pelan dan tersamar

Genggam erat jemariku
Dan rasakanlah gerakanya yang gemetar
Tataplah jauh di kedalaman danau mataku
Hingga menembus hati

Lalu lihatlah…
Semua rasa dan bahasa kasih yang kusimpan dan kumiliki
Biarkan semuanya mengalir padamu
Untuk kau terjemahkan sendiri

Diamlah sejenak dan dengarkan
Bayangkan dan fikirkan tanpa perlu aku mengungkapkan kepadamu
Bahwa begitu banyak hal hebat yang telah kita lalui bersama

Penuh derai tawa dan juga air mata
Kesedihan…
Amarah…
Bahagia…
Semua kita telah rasa…

Jangan biarkan itu semua tenggelam begitu saja
Ke dalam lubang hitam kenangan dan sejarah suram
Atau kita buang dan abaikan.

Tetapi,
Mari kita jadikan itu semua sebagai kekuatan kehidupan
Dan sejarah yang takkan pernah terlabur dan terlupakan

Sahabat…
AKu ingin kau tahu dan mengerti,
Bahwa perjumpaan dan mengenalmu
Menjadi bagian dari hidup dan hatimu

Adalah takdir dan hadiah yang terindah
Yang telah diberikan oleh Tuhan
Untukku…
Dan semoga semua hadiah ini
Akan tetap kekal abadi sampai nanti
Sepanjang usia kita

26 September 2011

Tentang Engkau

Puisi Rere ‘Loreinetta
Siapakah Kau yang mengubah benci menjadi cinta buta tak terkendali?
Siapakah Kau yang di bumi, namun aku mencariMu hingga ke langit?
Apakah Kau sengaja merangkum drama kepedihan menjadi cerita cinta?
Seorang penyairkah Kau atau penyihir, yang telah memetikkan sebuah bintang untukku?
Kau hidup dalam diriku, berjalan, menyalakan parafin dan terlelap.
Kau tidak meninggalkanku, akulah yang tertinggal.
Kehausanku menjadi kekasihMu jauh lebih manis dari semua yang manis,
BersamaMu tak ada apapun yang membahayakan diriku
Walau kegelapan dan kebencian mereka bagaikan awan ancaman yang menyelubungiku.
Tetapi bukankah mutiara tetap bersinar di tempat yang gelap kelam,
Dengan latar yang suram bahkan mutiara bersinar lebih terang.
Kerengganganku padaMu membuatku teringat kembali akan rayuan para perindu.
Mengapa aku tak lagi merasa akrab padaMu?
Menjauhkah Engkau karena jarak yang kubentang sendiri?

Sungguh Engkau Sang Maha Kreatif yang selalu menempaku dengan cobaan dan godaan.
Saat satu masalah berhasil kutaklukkan, Engkau memberi kerumitan baru yang penuh teka teki.
Bagaimana memaknainya jika hatiku kusut begini?
Rasanya seperti berjalan sendiri.
Sebentar-sebentar bersandar pada bahu yang sama rapuhnya.
Sedikit waktu terdiam dalam kacau, sunyi, bising dan termangu.

Perjalanan panjang ini penuh hambatan, belum lagi kumengumpul bekal yang banyak untuk tiba di tempat tujuan, tempat menuai kisah hidup sendiri, tapi sedikit bekal yang kupunyai bahkan kuhamburkan di tengah jalan, begitu saja dan sia-sia.
Adakah mataMu yang masih sudi melihatku walau dengan memicing? Aku tersendat dan terhambat meraih syafaat Para Suci. Tekurung aku dalam puja puji dunia yang tak perlu. Bantu aku yang tak bisa menolong diri sendiri. Aku menunggu dan mencari-cari. Mencuri yang benar dari mana saja yang kutemui.

Maukah Engkau akrab denganku lagi bila kumerayu dengan rindu, atau kumeratap dengan pilu?
Aku tak letih menanti cintaMu.

AKU

Puisi Rere ‘Loreinetta

Aku biru yang terungkap lewat butiran jingga. Sore menjemput raut yang luput dalam rajutan memori. Gelanggang demi gelanggang merupa siluet klasik yang tampak tapi pudar bentuk. Sungguh puncak gelisah karena tiada segera menemui sejati, awanku mencair menjadi bulir di pelupuk. Ahh.. demi sunyi yang membekukan baraku, singgahlah duhai, meski sekadar merajuk atau menemani senja sampai landai.
EngganMu adalah tanda bahwa kecamuk tak lagi tersimpan di punggung, ia telah mencari ruas seperti juntai lamtoro yang dihembus angin. Benih-benih yang janggal, tumpah pada anak sungai. Kembali dukaku bermuara padaMu. Dan Kau berpaling sambil menikmati celotehan masa. Pada rimbun harapku yang melambai pudar, rautMu surut dan kasihku tak lagi patut.
Rampung. Sebentar lagi hari merangkak menemui ajalnya dan esok menjadi reinkarnasi yang dikemas seperti ritual yang tak ganjil. Kembali hidup menjadi kelakar untuk dipikirkan, menjejali telam-telam yang berhias pengkhianatan. Kuakui, adalah perlu bagiku mendengarkan setiap helai rencana meski begitu asing bila hendak menuntunku menemui kenyataan hidup. Ini, akan manis, mungkin. Selebihnya, menyakitkan.
Engkau hadir pada sebuah runtun yang pasti, jalan darahku beku seketika ucap cintaMu mengusik sendiriku. Ada kebingungan yang kunikmati, dalam palung hati yang berisik semenjak tanya dari ruang-ruang itu mengusung satu judul obrolan—-Kau-! Aku kemudian berpendar menjadi banyak bentuk dan acap kali kutemui ia satu persatu, hanya namaMu yang disebut-sebut.
Kita lalu melontarkan azimat yang meracau namun nikmat untuk didengarkan kalbu. Sederhana, tapi begitu mewah dalam waktu. Inilah kali pertama kurasai rindu berkali-kali padahal ketika itu, aku dan Kau tak ada spasi. Lalu, adakah beda kali ini? Entah, namun tak mudah untuk menghentikan seru rayu ku atas Mu, duhai, aku benci namun rinduku selalu berkali-kali.

Keadaan ini rupanya telah demikian memadai untuk dilabeli aneh. Bukan tidak mungkin, semakin kumengerti rasa benciku, semakin kusadari pula deru rinduku. Kelak akan kuketahui bahwa makhluk yang menggerayangi palungku hingga membuncah kebencianku kepadanya adalah bernama “ketidaktahuan” dan ia pun membawaku untuk menemui jalan rindu ini.
Ranum. Pergulatan dialektik seolah begitu lancang menghempaskan ego yang pongah. Lantas, malu pun tidak pula rela menampakkan batang hidungnya, sebelum dialektika rindu bergulat menemui stagnasi sambil kembali menjatuhkan jurus demi jurus hingga klimaks dan mengungkap; Benar! sambil mengetuk palu kesepakatan. Kelak seiring waktu, -Benar- ini pun menelan proses panjang untuk kembali menjadi topik sebagai jembatan menuju –Benar- yang lain.
Disebutlah sengketa, padahal begitu semarak anugerah yang menghujani tiap waktu. Namun, bagi ketidaktahuan, tidak ada penjelasan yang lebih baik dari apa yang tampak oleh indera penglihatannya. Sungguh kebutaan seperti itu menjadi lebih menyakitkan daripada kehilangan kornea.

Lantas kedukaan macam apa lagi yang disuguhkan matahari esok pagi, ketika kita terbangun dan merasai ketidaktahuan lagi sambil kerap menjalaninya dengan kerjap penuh pengharapan padanya.

Saat Hati Ingin Bersandar

Puisi Siska Premida Wardani

ilustrasi dari gp.blogspot.com

Kemana lagi ku akan datang
Pabila kegalauan bertubi menghadang
Membiarkanku terhimpit sesak dan dalam…begitu dalam
Tanpa teman ku sendiri menanggung beban

Kemanakah sungguhnya jalanku
Saat pejam dan nyaman pun enggan menyapaku
Luluh lantak hati ini merasakan
Seolah urat nadi ingin segera disayatkan

Oh..di manakah harusnya aku berada
Tatkala hanya gulita memenuhi pikiran dan mata
Menggantikan sejuknya fajar, hangatnya siang,….teduhnya senja
Ku tahu aku tak punya tempat tuk singgah

Ya Allah Ya Rahim
Sungguh air mata tak tahan terbendung
Kaki lemah ini sigap tuk bersimpuh
Tiada kataku selain memohon lautan ampun-Mu
Hanya pada-Mu kuhadapkan diri…wajah lusuhku…mata sembabku

Ya Rabb Ya Karim
Kutahu hidupku tak pernah mudah
Tak kuminta jalan yang mulus, tanpa debu, tanpa batu
Bekali hamba dengan segenggam kuat
Hujani hamba dengan sabar dan ikhlas
Tanamkan kompas di hati hamba
Agar hamba tidak tersesat…dan tahu ke mana arah pulang

Dan aku hanyalah hamba-Mu yang mengadu

yang tanpa malu mengajukan pinta
Engkau dengarlah suara hamba
meminta pada-Mu yang Maha Tahu
yang Maha Tinggi lagi Maha Hidup
Laa haulaa walaa quwata illa billa

(di suatu tempat kurajutkan kata menjelang Dhuha. Persembahan untuk kalian yang percaya pada doa, semoga pengembaraan hidup kita membawa sejuta hikmah)

21 Agustus 2011

Retakan Wajahmu

Puisi Ragil Koentjorodjati

1.
Merkuri lesu temaram menyingkap malam
Kabutnya menggelayut memberati hati
Lalu rindu mengair mata di tanah basah
2.
Bola-bola lampion pendar nanar
Mengkanvaskan lolong gulita yang berair
Tergenangi bayang-bayang edelweis biru masa lalu
3.
Pecahan kaca terkulai sepanjang jalan
Mengkilatkan asa putus di ujung penantian
Akankah kita terpisah sepanjang zaman?

Sang Saka Merah Putih

Puisi Ragil Koentjorodjati

gambar dari blog.adhiirawan.com

1.
dikabarkan rembulan mati malam ini,
congkak tiangmu menusuk nadinya patah-patah,
hingga kita selalu merindu purnama tiba.
2.
merahmu menenggelamkan matahari,
putihmu menyilaukan mata kami,
kegelapan purba menyelimuti sekujur tubuh ini.
3.
amis darah mengudara dari tiangmu,
tetes darah habis-habisan pewaris negeri,
bukan tetes darah penghabisan para pejuang kami.

16 Agustus 2011, menjelang tengah malam.

You, The Guy I Fall in Love Again

Puisi Tania Limanto

Love,
I lie and said I don’t love you.
Hate,
I lie again and said I hate you.
But,
You know what really inside me.
And,
I know what lies in your heart…
Go,
Is the word I ask you to do.
Tears,
Is only you can make me cry.
Laugh,
We always laugh together and cannot stop it.
Forever,
Is the word that we never have.
Miss,
Is the every moments feeling that I have for you.
I love you and please go away….
Sad,
this love will end with that word…..

Concerto Rasa

seperti gula-gula dalam balutan nada minir
terkadang datar tanpa getar
menyisip ironi pada simfoni

Tubuhmu adalah lagu,
tempat syair-syair hendak kutulis
huruf demi huruf,
kata demi kata,
melengkapi irama jiwa yang kaucipta
sempurna
dari setiap liuk racau galau penghamba cinta
helaan nafas serupa gesekan biola
dan desahmu,
desah panjang penari yang kehilangan malam untuk sembunyi
dari kata di ujung senja
-jangan tinggalkan aku sendiri-

Concerto rasa ini,
Beku manakala pandang matamu sedingin salju
:jangan pernah kaumenangis
Agar kaudengar doa
biarkan aku mati, usai menyelesaikan concerto rasa ini.

Balada Tembok Stasiun

Air mata rembes dari tembok-tembok pinggiran stasiun,
tak berbentuk aromanya,
ada asin yang kering, atau amis dan pesing
kombinasi sempurna suram dan tanpa harapan
:lelaki berkelamin serupa kuas dengan kencing melukis tanda “i love u”
nenek tua tergelak berkata:
:engkau hanya perkasa pada tembok
dan tetes-tetes keringat menggerimis dari punggung bernanah,
perempuan tua menua sia-sia

Pecah pilunya,
tergerus derit gerigi besi panjang melengking
seiring erang perempuan meregang di bawah bayang hitam malam,
peluh sakit berpuluh sehari menempel mencetak gambar tangan menggenggam rupiah puluhan ribu
ditingkahi sorot lampu kereta serupa efek cahaya memandikan dua manusia karam dalam dosa
Begitu mulia!

Ah, wangi karat besi itu
mengingatkanku akan engkau
yang setia menunggu di jam dua pagi
di ujung lorong sepi
tembok-tembok pinggiran stasiun
berpuluh tahun lalu.

medio Juli 2011