Arsip Kategori: Puisi

DI MANA?

Puisi Rere ‘Loreinetta
berada di mana engkau, belahan jiwaku?
adakah sedang berada di sempit ruang kecil sucimu
tempat engkau biasa berkeluh kesah pada dinding
atas semua bias sinar kelabu rona kehidupan
yang kadang tak berpihak padamu?

berada di mana engkau, jiwa kembarku?
adalah sedang berada di indah taman bunga hatimu
tempat engkau berdendang riang bersuka cita
nikmati semua keceriaan warna kehidupan
yang sesekali memberimu kesenangan?

berada di mana engkau, sahabat jiwaku?
atau engkau sedang berbicara pada alam semesta
di tengah padang sabana hatimu sendiri
tentang cinta dan kecintaan yang menyertai
halusinasi dan bayang khayalmu?

berada di mana engkau, pasangan jiwaku?
adakah engkau terbangun di malam sunyi sepi,
biarkan angin menelusup kisi-kisi jendela jiwamu
bawakan luapan gejolak kerinduan dan sepotong
cinta dariku yang senantiasa memandangmu
pastikan engkau ukir wajahku dalam kenanganmu?

berada di mana engkau, kekasih jiwaku?
masihkan di tempat semula menantikanku
yang terdiam dalam kacaunya kehidupan yang
menjebloskan paksa aku ke dalam hidupmu?

Puisi-puisi Ragil Koentjorodjati

1. Semu
padaku kaukatakan,
:aku cinta padamu.
padamu kukatakan,
:kamu cinta padamu.

2. Cemburu
tuhan,
ada batu di hatiku,
warnanya ungu,
siap kulempar ke arahmu,
sejak kutahu kaumampu berbuat sesukamu.

3. Jarak
antara dua hati yang begitu lekat,
kaubentangkan jarak,
hanya diam dan hitam dan rindu dan dalam
hingga kita tidak tahu,
hati siapa yang sedang beranjak pergi.

4. Gerhana
gerhana bulan di luar sana?
oh? sudahlah!
cukup lama aku melupakannya.
sejak gerhana hati di dalam sini.

5. Lelah
setangkai kembang,
sebotol bir,
alkitab,
sebatang pisau,
selembar kafan,
doa,
:tuhan, aku lelah

setetes darah,
sepucuk wasiat,
dangdut,
:lebih baik aku mati di tanganmu daripada aku mati bunuh diri

catatan:
baris terakhir puisi lelah diambil dari lagu Muchsin Alatas.

HATI

Puisi Rere ‘Loreinetta

Lubang hitam dalam hati kecilku tak bisa kutambal
ia selalu menyerap semua merah dalam jiwaku
bak pusaran air pada samudera bergejolak
yang selalu tenggelamkan hasrat penuh gelora

Sewaktu-waktu ia akan menelan seluruh hatiku
dan punahkan segala rasa yang pernah kupunya
yang bila itu kemudian terjadi mungkin aku tidak mati
hanya aku tak lagi memiliki hati

*RL/RLA/RK

Puisi-puisi Rere ‘Loreinetta:
Sajak Perempuan Terpasung
Tentang Engkau
Aku

SAJAK PEREMPUAN TERPASUNG

Puisi Rere ‘Loreinetta
kesalahan demi kesalahan
telah terjadi dan kauperbuat
melulu walau tanpa kausadari terus berkesinambungan
kesalahan-kesalahan itu telah menyatu dalam diri jiwamu
hingga sulit akan kaubasuh seka demi hilangkan jejak

kesalahanmu adalah
gambaran kesejatian dirimu
manalah mungkin akan terhapus walau oleh sang waktu

kesalahanmu adalah
selalu merak hati, menyentuh hangat
setiap hati yang mengenalmu, dengan canda keceriaanmu
tebarkan pesona kehangatan yang membumi

kesalahanmu adalah
tampil terbiasa apa adanya dengan
aura kecerdasan yang terpancar dari mata indah sayumu
dalam wajah sumringah penuh tulus kasih sayang

kesalahanmu adalah kaubukan perempuan biasa
kepiawaianmu gemulaikan aneka tarian di panggung
kehidupan dalam beragam peran nan menantang mampu
jadikanmu bagai pemain watak dalam arena hidupmu
hingga mempesonakan bagi jiwa-jiwa pemerhatimu

kesalahanmu adalah
pesona khas yang deras memancar
dari aura ketubuhanmu, mampu menggugah alam khayal
dan menggoda hasrat setiap lelaki yang mengenalmu

kesalahanmu adalah
pernah kautitipkan rasa jiwamu kepadanya,
dengan segala angan serta harapan besar
dengan segala persembahan cintanya yang hanya untukmu
kaunikmati dalam keterlenaan semu dan memabukkan
dan lalu semua menjadi sangat memuakkan bagimu

kesalahanmu adalah
realita kau ialah cinta sejatinya
dicintai dengan segala deras peluh dan aliran darah
dengan segala perih luka dan duka, tapi nan berharga
kau adalah cinta dan kehidupannya, nyawanya
kau adalah kembang kejora kehidupannya

kesalahan-nya adalah
cinta yang sedemikian agung itu
harus terkotori oleh segumpal awan angkara murka
hingga sedemikian terlalu dia menguasai dan
merampas serta menghentikan arti sebuah perjalanan dan pencapaian sebuah ironi kehidupan terjadi.

kini, engkau terjebak dalam kekosongan
terjepit di antara dua kepentingan sejati

antara bergerak dan terpaku
antara berjalan dan berhenti
antara bicara dan terdiam
antara hidup dan mati
antara cinta dan benci?

*Tanah Jawa kala itu , ……

ILUSTRASI : FOTO DEVI DJA, tidak terkait dengan materi sajak di atasnya.

Puisi Chaliq Amiel Abdul

2012

Tadi malam
Dedaunan serta reranting
yang berbulan kemarin kita eluelukan
musnah sudah
mengalir di sungai waktu
dan nyasar entah di mana

hening …

namun tadi pagi
seperti terlonjak
daundaun hijau tumbuh kembali
rapihkan pohon yang sekarat
kencangkan akarakar yang mulai lemas

berseri …

hidup adalah catur perubahan
taktik, intrik selalu kelitkelindan

o, mengesankan

apa bahasa yang hendak kita
raungkan selanjutnya pada langit merenta
pada mentari yang lanjut usia

belum rasanya terpikirkan
tapi waktu terus melaju
meninggalkan kita yang tanpa
harapan sekalipun

Sumenep, 22.00 31 12 2011

Puisi Wong Karang

1. Maya, Bukan Penyamun
Di tebing tahun ini legenda kata menyerut nyali kidung kidung debu suci penyair.
Pijahan kata menguak mata jendela yang mungkin di setiap sirat terlafal sarat mengaramkan rasa.
Secantik romannya mengemban santun di setiap gelaran naluri imajinasinya meraba, mengulum magma roh rabbani.
Gema disudut catatan sunyi hati, dendam kerinduan, terjal kasih berbara sarat menyapa asma asma pemabuk yang kehausan renungan tuk memercikan air suci di jiwanya.
Maya, tundukkanlah raut muka di setiap lengang parit hati pemuja, dendangkan lekuk ranting jari jari tangan di antara pelataran malam.
Teriakkan sekeras petir, bait bait relung dari dasar laut. Raih dan gelorakan jati diri yang tersembunyi dari sebuah sekian tanya. Dan sembunyikan yang seharusnya kaukaramkan di pijakkan telapak kaki.

Maya,,, pastikan di sana selalu berkata dan jawab sendiri…
Maya,,,

2. Hampar Malam
Sepanjang mata bercahaya temaram malam
Terdengar bisik kata atas hijau hamparan
Jemari tangan menjelajah menggetarkan rasa
Dada dingin tersaput embun memejam malam
Bibir bibir merah lumat berdecak
Saling menuang haus liur hitam

Bulan tertutup awan di sepanjang gairah
Rumput tergilas perhelatan
Sesaat, diam…
Sesaat, bergetar…
Cahaya lampu di sudut kejahuhan
Tenggelam dan padam
Hanya dentang suara hati
Tak ada janji suci
Tak ada kembali
Yang adanya tissu basah usap keringat
Pengganti lenyapnya dahaga
Pelampias cowong muka tua
Menghabiskan garis di larut hitam
Nafsu hitam…
Malam hitam…
Kesetiaan beradu samar cahaya bulan
Berlimut gerayang menguak sela airmata dosa

3. Cacing Tanah

cacing cacing tanah
hak terampas

tak ada hidup,
rumput rumput digilas

tak lagi tergali,
bajak membajak tanah

cacing cacing tanah
tertindas

~di perut ibuku ada parit kotor~

Puisi Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi dari wordpress.com
Di perut ibuku ada parit kotor,
tempat yang pernah ditelannya bersemayam,
melebur mendarah daging,
bersama cacian dan hinaan,
mengalir di arteri, vena dan tiap urat nadi

Di perut ibuku ada parit kotor,
cukup dalam untuk menenggelamkan keluh kesah sumpah serapah,
cukup luas untuk cacingcacing yang tidak peduli tubuh kurus kering,
cukup berair untuk mengalirkan getir kata dan perilaku para kikir,
cukup kotor untuk kuketahui kapan jernih pernah singgah,

Di perut ibuku ada parit kotor,
Tempat aku bermain dan berenang,
Siang dan malam, selama sembilan bulan.

#selamat hari ibu#
22 Desember 2011

Anjing Sentimentil

Puisi John Kuan

gambar dari 2.bp.blogspot.com

Langit petang baru selesai dipernis mengkilap,
sekuntum awan, seekor elang, sebatang tiang layar
tertangkap basah bersekutu mencorengnya
di bibir pantai ada orang bersandar di atas kursi plastik merah
ngebir sambil bercerita sebongkah hati tertusuk anak panah
di lengan kiri, merah telah mengerut hitam, anak panah berkarat
Di depan pintu bar Good Times ada orang menyapa Saturday Night Fever
menunggang Chevrolet lewat sambil menggigit Kansas di antara bibirnya
dari arah dermaga gairah numpang lewat di atas tubuh-tubuh lelaki
pergi mengejar ombak, alkohol dan teriak mesin
aku bayangkan seekor anjing sentimentil gigit remang lampu jalan menyalak

Duduk di atas garis Khatulistiwa
aku bayangkan tahun-tahun penjelajah mengarungi bersama ikan paus
dari Lautan Teduh mengayuh ke arah bibir pantai Samudera Hindia
mungkin Manusia Jawa masih berjongkok di dalam gua
atau sedang berburu di hutan perawan yang liar, tubuh penuh bulu
Manusia Peking di daratan Benua Asia
batok kepalanya terkunci di dalam laci gelap yang mana?
atau sedang sibuk di setiap mulut pasar bandar-bandar dunia
dan aku duduk jadi sebatang pohon Sunda Kelapa
menyaksikan orang kulit gelap, kulit putih, kulit kuning mengejar arus datang
mengapit senapan, meriam dan peradaban
aku bayangkan seekor anjing sentimentil mengibas ekor di kaki mereka

Sudah hampir terbakar jadi puntung rokok terakhir
kau masih menyungging amarah dan geram di sudut bibir
dan hampir pasti sudah kehilangan tanah air, semoga ada mimpi
dua tiga batang palem berdiri canggung seperti imigran baru
di depan kedai kopi, sekali duduk sudah tiga puluh musim
hanya melihat sekelompok burung datang bersarang dan pergi
kupu-kupu terus bermetamorfosis, dan kau tetap canggung
seperti imigran baru, cairan ingatan larut bersama gula dan kafein
akhirnya dapat rebah sebagai satu kerutan bisu di atas ranjang
sesekali mengintip cahaya matahari melancong ke bangku ujung jembatan
di pulau kecil itu, di sana aku bayangkan bersama anjing sentimentil lagi

AKU HANYA INGIN BERCERITA

Puisi Muchlis Darma Putra*)

ilustrasi dari 2.bp.blogspot.com

masa kanak adalah tentang bintang
tentang anak yang ingin diambilkan bulan. Mama
tentang pandora
yang tak bisa sabar aku. Ingin segera membukanya

masa kanak
O, alangkah manisnya
O’ alangkah lugunya
O…. Alangkah….

setelah sekian ribu mil terlampaui
jelajahi pulau. Asin laut. Gelombang
dan kaki gunung yang betapa Maha
lembah ngarai. O, alangkah dalamnya. Mama

aku hanya ingin bercerita
selebihnya pulang maklum
kepada anda_

Belambangan, desember 2011

Kado dari Rantau
Muchlis Darma Putra penulis buku kumpulan puisi Kado dari Rantau

MESUJI

Puisi Sapto T Poedjanarto

Wahai para Pemimpin Bangsa,
begitu tega engkau menghancurkan istana mereka,
tanahnya engkau rampas,
mereka engkau hinakan sebagai sampah masyarakat,
hidup mereka sudah susah, jangan dipersusah lagi,
mereka tidak tahu bagaimana menjadi orang yang lebih baik,
yang selama ini mereka tahu; bagaimana mengisi lambung mereka, karena lapar, lapar, lapar…

jangan acuhkan mereka!
tapi rangkul seperti engkau merangkul para kolegamu,
peluk mereka penuh cinta seperti engkau memeluk sahabatmu,
dan lindungi mereka seperti engkau melindungi para pendukungmu,
mereka bukan binatang galak,
mereka bukan batu yang keras,
mereka manusia.

Ya Tuhan, jika kelak kami menjadi pemimpin,
jangan biarkan kami terbelenggu dan terlena oleh kekuasaan,
terangilah hati kami untuk menolong dan membimbing mereka,
jasmani maupun rohani,
agar mereka mendapatkan hidup layak di bumi Indonesia.
Amin

Seserpih Perih Menasbih Kasih

Puisi Dheen’s Ruang Putih

ilustrasi dari http://images.hasnasyadza.multiply.com

berbuku masa terberai meremuk remah riwayah
berlaku bisa tersurai menusuk rebah serapah
berbaku rasa tercerai merembuk sembah istighasah
berliku asa terderai gemerusuk curah mahabbah

akulah ceruk di kerah lajur sarhad
akulah rusuk di bilah kujur jasad

usahlah takar, melarang gegantang prasetia
biarlah akar, menunjang bebatang doa-doa