Semua tulisan dari Ragil K

Sebuah titik di jagat semesta.

~di perut ibuku ada parit kotor~

Puisi Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi dari wordpress.com
Di perut ibuku ada parit kotor,
tempat yang pernah ditelannya bersemayam,
melebur mendarah daging,
bersama cacian dan hinaan,
mengalir di arteri, vena dan tiap urat nadi

Di perut ibuku ada parit kotor,
cukup dalam untuk menenggelamkan keluh kesah sumpah serapah,
cukup luas untuk cacingcacing yang tidak peduli tubuh kurus kering,
cukup berair untuk mengalirkan getir kata dan perilaku para kikir,
cukup kotor untuk kuketahui kapan jernih pernah singgah,

Di perut ibuku ada parit kotor,
Tempat aku bermain dan berenang,
Siang dan malam, selama sembilan bulan.

#selamat hari ibu#
22 Desember 2011

CANDI SUKUH: MIRIP INCA DAN EROTIS

Oleh Rere ‘Loreinetta

Candi Sukuh terletak di lereng Gunung Lawu, di Desa Berjo Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sebuah candi yang memiliki struktur bangunan yang unik karena bentuknya mirip bangunan piramid bangsa Maya. Menurut promosi Dinas Pariwisata Karanganyar, candi yang dibangun masyarakat Hindu Tantrayana tahun 1437 itu selain merupakan candi berusia paling muda di Bumi Nusantara juga candi paling erotis.
Yang unik, di kompleks candi ini terdapat patung-patung makhluk bersayap. Makhluk ini disebut sebagai garuda karena salah satu patung yang masih utuh menunjukkan kepala seperti burung garuda. Hanya saja, patung-patung ini memiliki tangan dan kaki seperti manusia dan sayap seperti malaikat. Apakah patung ini menggambarkan makhluk alien?
Konon, candi ini merupakan saksi terakhir kejayaan kerajaan Hindu di Jawa. Struktur situs Candi Sukuh sangat unik jika dibandingkan dengan kompleks candi-candi lain yang ada di Indonesia. Kompleks Candi Sukuh terdiri dari beberapa teras yang mengingatkan kita pada struktur punden berundak pada zaman megalitikum. Oleh karena itu, banyak ahli yang menyebutkan bahwa candi ini merupakan hasil akulturasi agama Hindu dengan kepercayaan terhadap arwah nenek moyang yang telah ada di daerah itu.
Candi ini sangat sederhana dan berisikan sejumlah relief dengan berbagai bentuk. Di antaranya bentuk kelamin laki-laki dan wanita yang dibuat hampir bersentuhan. Pada deretan relief-relief yang menghiasi dinding candi juga digambarkan relief tubuh bidadari dengan posisi “pasrah” serta relief rahim wanita dalam ukuran cukup besar.
Relief-relief seks itu menggambarkan lambang kesucian antara hubungan wanita dan pria yang merupakan cikal bakal kehidupan manusia. Hubungan pria dan wanita melalui relief ini dilambangkan bukan melampiskan hawa nafsu, tapi sangat sakral yang merupakan curahan kasih sayang anak manusia untuk melahirkan sebuah keturunan.
Candi ini dianggap cukup kontroversial. Hal ini disebabkan banyaknya simbol-simbol seksualitas yang dapat ditemui di kompleks candi. Simbol-simbol “lingga” dan “yoni” dapat kita temui pada relief atau pun arca yang ada.
Dan uniknya, simbol-simbol kesuburan ini tergambar dengan jelas. Tanpa diberitahu oleh siapa-siapa pun kita akan tahu melambangkan apa simbol-simbol itu. Lihatlah bentuk lambang seksualitas ini.
Relief phallus yang bertemu dengan vagina dan terdapat pada lantai dasar Gapura teras pertama Candi Sukuh.

Selain itu sekitar candi juga dipenuhi relief-relief yang satu sama lain tidak berhubungan sehingga menimbulkan banyak ceritera. Kisah-kisah tentang relief itu bisa beragam tergantung persepsi orang-orang sesuai dengan sudut pandangnya. Ada legenda Dewi Uma yang dikutuk suaminya Batara Guru karena berbuat serong dengan seorang penggembala. Ada juga ceritera wanita yang kalah judi lalu dibebaskan di candi ini sehingga bisa masuk sawarga (surga). Legenda warga setempat menyebut candi ini merupakan tempat bertemu dengan roh yang sudah meninggal.
Bentuk candi ini yang berupa trapezium memang tak lazim seperti umumnya candi-candi lain di Indonesia. Sekilas tampak menyerupai bangunan suku Maya di Meksiko atau suku Inca di Peru.
Situs candi Sukuh ditemukan kembali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Kemudian setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada tahun 1842, Van der Vlis, yang berwarga negara Belanda melakukan penelitian. Lalu pada tahun 1928, pemugaran dimulai.
Candi Sukuh dibangun dalam tiga susunan trap (teras), di mana semakin ke belakang semakin tinggi. Pada teras pertama terdapat gapura utama. Pada gapura ini ada sebuah candra sangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta abara wong. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gapura sang raksasa memangsa manusia”.
Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi. Di lantai dasar dari gapura ini terdapat relief yang menggambarkan phallus berhadapan dengan vagina. Sepintas memang tampak porno, tetapi tidak demikian maksud si pembuat. Sebab tidak mungkin di tempat suci yang merupakan tempat peribadahan terdapat lambang-lambang yang porno. Relief ini mengandung makna yang mendalam. Relief ini mirip lingga-yoni dalam agama Hindu yang melambangkan Dewa Syiwa dengan istrinya (Parwati). Lingga-yoni merupakan lambang kesuburan. Relief tersebut sengaja dipahat di lantai pintu masuk (gapura) dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena “suwuk”.
Pada teras kedua juga terdapat gapura namun kondisinya kini telah rusak. Biasanya di kanan dan kiri gapura tersebut terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala, namun di teras kedua ini penjaga pintu sudah dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak dijumpai banyak patung-patung. Namun pada gapura ini terdapat sebuah candra sangkala pula dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi. Jadi jika bilangan ini benar, maka ada selisih hampir duapuluh tahun dengan gapura di teras pertama!
Pada teras ketiga terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Jika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui. Selain itu lorongnya juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian. Sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.

Relief yang menggambarkan ketika Bima mengangkat raksasa dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menancapkan kuku "Pancanaka” ke perut raksasa
Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesajian. Di sini terdapat bekas-bekas kemenyan, dupa dan hio yang dibakar, sehingga terlihat masing sering dipergunakan untuk bersembahyang.
Dengan struktur bangunan seperti ini boleh dibilang Candi Sukuh dikatakan menyalahi pola dari buku arsitektur Hindu Wastu Widya. Di dalam buku itu diterangkan bahwa bentuk candi harus bujur sangkar dengan pusat persis di tengah-tengahnya, dan yang di tengah itulah tempat yang paling suci.
Sedangkan ikhwal Candi Sukuh ternyata menyimpang dari aturan-aturan itu, hal tersebut bukanlah suatu yang mengherankan, sebab ketika Candi Sukuh dibuat, era kejayaan Hindu sudah memudar, dan mengalami pasang surut, sehingga kebudayaan asli Indonesia terangkat ke permukaan lagi yaitu kebudayaan prahistori jaman Megalithic, sehingga mau tak mau budaya-budaya asli bangsa Indonesia tersebut ikut mewarnai dan memberi ciri pada candhi Sukuh ini. Karena trap ketiga ini trap paling suci, maka maklumlah bila ada banyak petilasan.
Seperti halnya trap pertama dan kedua, pelataran trap ketiga ini juga dibagi dua oleh jalan setapak yang terbuat dari batu. Jalan batu di tengah pelataran candi ini langka ditemui di candi-candi pada umumnya. Model jalan seperti itu hanya ada di “bangunan suci” prasejarah jaman Megalithic.
Di sebelah selatan jalan batu, pada pelataran terdapat fragmen batu yang melukiskan cerita Sudamala. Sudamala adalah salah satu 5 ksatria Pandawa atau yang dikenal dengan Sadewa. Disebut Sudamala, sebab Sadewa telah berhasil “ngruwat” Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru karena perselingkuhannya.
Sadewa berhasil “ngruwat” Bethari Durga yang semula adalah raksasa betina bernama Durga atau sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya yang semula yakni seorang bidadari di kayangan dengan nama Bethari Uma. Sudamala bermakna ialah yang telah berhasil membebaskan kutukan atau yang telah berhasil “ngruwat”. Adapun Cerita Sudamala diambil dari buku Kidung Sudamala.
Arca kura-kura yang cukup besar sejumlah tiga ekor sebagai lambang dari dunia bawah yakni dasar gunung Mahameru
Pada lokasi ini terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian Tirta Amerta yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti. Kemudian sebagai bagian dari kisah pencarian Tirta Amerta (air kehidupan) di bagian ini terdapat pula tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu.
Bentuk kura-kura ini menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat menaruh sesajian. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari Tirta Amerta.
Secara keseluruhan, mengunjungi objek wisata Candi Sukuh memberikan pandangan baru akan bentuk candi maupun relief-reliefnya yang tidak lazim seperti layaknya candi-candi lain di pulau jawa. Tentunya hal ini merupakan bukti yang menunjukkan akan kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Another Wonder of the World
Hasil kontes kepopuleran situs sejarah yang kemudian mereka sebut New 7 Wonders, menjadi menarik dengan masuknya salah satu situs sejarah peradaban Maya, yang berupa piramida di Chichen Itza. Melihat bentuk bangunan ini boleh jadi kita akan teringat Candi Sukuh, sebuah situs bersejarah yang ada di Jawa Tengah.
Bandingkan kemiripannya.
piramida Inca dan candi Sukuh Indonesia

Yang menarik adalah bentuk dari candi utama. Bentuk candi ini sangat mirip dengan bentuk bangunan-bangunan bersejarah yang ditemukan pada peninggalan-peninggalan kebudayaan Maya dan Inca.

Bagaimana ceritanya ya, hingga bisa memberikan deduksi yang dapat diterima mengenai kesamaan arsitektur di dua tempat yang terpisah sangat jauh. Anehnya, Candi Sukuh merupakan satu-satunya candi di Indonesia yang memiliki arsitektur seperti ini. Mungkinkah ada bangsa Maya atau Inca yang tersesat sampai Sukuh?
Tapi, bagaimana mereka bisa sampai tempat ini? Kalaupun itu benar, berapa lama perjalanan yang telah mereka lakukan?

Candi Sukuh tampak depan
Ada teori yang menyatakan bahwa candi ini dibangun oleh makhluk yang berasal dari luar bumi. Mungkin memang tidak logis, tapi apapun itu, kita tidak bisa membuktikannya bukan?

Kalau kembali mengacu kepada gelar Another Wonder of the World, di mana bangunan piramida di Chichen Itza saja dianggap sebagai keajaiban dunia, mengapa Candi Sukuh tidak?
Tetapi sekali lagi menyimak keterangan di atas, bahwa secara keseluruhan, mengunjungi obyek wisata Candi Sukuh memberikan pandangan baru akan bentuk candi maupun relief-reliefnya yang tidak lazim seperti layaknya candi-candi lain di pulau jawa. Tentunya hal ini merupakan bukti yang menunjukkan akan kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Bahwa ada kesamaan atau kemiripan antara bentuk candi sukuh dengan bangunan piramida di Chichen Itza, tentunya perlu penelitian lebih lanjut, adakah kaitan antara keduanya. Dan memang sampai sekarang para ahli sejarah belum bisa mengaitkan antara keduanya sehingga masih merupakan misteri.
Hal serupa juga terjadi dengan Candi Penataran di Blitar, Jawa Timur, juga menyimpan relief-relief yang aneh yang masih menjadi misteri bagi para ahli sejarah.

Relief lain di Candi Sukuh

Anjing Sentimentil

Puisi John Kuan

gambar dari 2.bp.blogspot.com

Langit petang baru selesai dipernis mengkilap,
sekuntum awan, seekor elang, sebatang tiang layar
tertangkap basah bersekutu mencorengnya
di bibir pantai ada orang bersandar di atas kursi plastik merah
ngebir sambil bercerita sebongkah hati tertusuk anak panah
di lengan kiri, merah telah mengerut hitam, anak panah berkarat
Di depan pintu bar Good Times ada orang menyapa Saturday Night Fever
menunggang Chevrolet lewat sambil menggigit Kansas di antara bibirnya
dari arah dermaga gairah numpang lewat di atas tubuh-tubuh lelaki
pergi mengejar ombak, alkohol dan teriak mesin
aku bayangkan seekor anjing sentimentil gigit remang lampu jalan menyalak

Duduk di atas garis Khatulistiwa
aku bayangkan tahun-tahun penjelajah mengarungi bersama ikan paus
dari Lautan Teduh mengayuh ke arah bibir pantai Samudera Hindia
mungkin Manusia Jawa masih berjongkok di dalam gua
atau sedang berburu di hutan perawan yang liar, tubuh penuh bulu
Manusia Peking di daratan Benua Asia
batok kepalanya terkunci di dalam laci gelap yang mana?
atau sedang sibuk di setiap mulut pasar bandar-bandar dunia
dan aku duduk jadi sebatang pohon Sunda Kelapa
menyaksikan orang kulit gelap, kulit putih, kulit kuning mengejar arus datang
mengapit senapan, meriam dan peradaban
aku bayangkan seekor anjing sentimentil mengibas ekor di kaki mereka

Sudah hampir terbakar jadi puntung rokok terakhir
kau masih menyungging amarah dan geram di sudut bibir
dan hampir pasti sudah kehilangan tanah air, semoga ada mimpi
dua tiga batang palem berdiri canggung seperti imigran baru
di depan kedai kopi, sekali duduk sudah tiga puluh musim
hanya melihat sekelompok burung datang bersarang dan pergi
kupu-kupu terus bermetamorfosis, dan kau tetap canggung
seperti imigran baru, cairan ingatan larut bersama gula dan kafein
akhirnya dapat rebah sebagai satu kerutan bisu di atas ranjang
sesekali mengintip cahaya matahari melancong ke bangku ujung jembatan
di pulau kecil itu, di sana aku bayangkan bersama anjing sentimentil lagi

Obrolan Cangkrukan Ir Soekarno Vs KH Wahid Hasyim Soal Monas dan Istiqlal.


Oleh Rere ‘Loreinetta

Monumen besar atas bangsa ini dari pemikiran Soekaro adalah Tugu Monas dan Masjid Istiqlal. Dua bangunan itu cukup monumental di zamannya, dan di zaman sekarang pun masih terlihat gagah dan berani, seberani dan segagah pemikiran Soekarno.

Peletakkan batu pertama di kedua bangunan ini nyaris bersamaan, dan sedikit menimbulkan pro kontra antara Ir. Soekarno dan KH. Wahid Hasyim.

Wahid Hasyim (ayah Gus Dur) menjadi Menteri Agama waktu itu dan bersama para ulama lain berkeinginan mendirikan masjid skala Nasional.
Ide itu dicetuskan tahun 1950, atas sepertujuan presiden dibentuklah kemudian ketua panitia pembangunan sekaligus Ketua Yayasan Istiqlal, yaitu Bapak Anwar Cokroaminoto.
Pemikiran ini disampaikan sekali lagi kepada presiden, dan beliau sangat setuju dengan pembangunan masjid Istiqlal skala nasional. Maka tahun 1961 dilakukan peletakkan batu pertama pembangunan masjid.

Pada tahun 1961 juga Ir. Soekarno melakukan peletakkan batu pertama pembangunan tugu Monas. Dua bangunan yang cukup besar dan mustahil untuk zaman itu, karena rakyat masih sengsara, sementara pemerintah dalam pembangunan masjid dan monumen tentu menyedot biaya milyardan rupiah, (untuk Istiqlal pembangunan pertama menelan biaya 12. juta dolar Amerika, selesai tahun 1978), demikian juga Monas sangat sebanding atas pembiayaan APBN-nya.

Demi cita-cita yang besar ini, kedua proses pembangunan mengalami titik tegang antara Presiden dan Menteri Agama.

Presiden Soekarno melakukan peletakkan batu pertama untuk Istiqlal, demikian juga untuk tugu Monas. Setelah melakukan peletakkan batu pertama Soekarno melanjutkan pembangunan Monasnya, sementara Istiqlal ditunda sementara.

Kebijakan ini menurut Menteri Agama sangat tidak logis, sama dengan melecehkan tempat ibadah. Presiden lebih mengutamakan Tugu daripada Masjid.

Umat Islam protes dan berpandangan negatif terhadap pemikiran Soekarno.
Para Ulama mengajukan petisi gugatan yang diwakili oleh Menteri Agama, KH. Wahid Hasyim. Wakil umat ini menyampaikan protes kepada presiden. Ia mendatangi istana dengan serius sekali menyampaikan amanah umat.

Setelah menyampaikan proses itu, dengan tenang Soekarno menjawab (menurut prolog sumber, keduanya berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa Timuran),
“Kenengopo aku ndisikno tugu karo masjid….!”
artinya : (kenapa aku mendahulukan membangun tugu daripada masjid)

Selanjutnya kata Soekarno,
“Tugu iku uwekku, teko pikiranku kanggo negoro…, sa’wayah-wayah aku mati, sopo seng nerusno mbangun tugu! Ora ono!”
artinya : (tugu itu milikku, dari pemikiranku untuk negara sebagai monumen. Jika sewaktu-waktu aku mati, siapa yang akan meneruskan, Tidak ada! ini hanya tugu saja)

KH. Wahid Hasyim diam, ia mendengarkan petuah Sooekarno selanjutnya,
“Bedo karo masjid, Khid ! Sa’wayah-wayah aku mati, kowe seng nerusno. Sa’wayah-wayah awakmu mati, ono umat Islam seng mikirno lan nerusno pembangunane. Lan Tugu, ora ono seng nerusno!”
artinya : (Beda kalau masjid, Khid ! Jika aku mati, kamu bisa meneruskan. Atau jika engkau mati juga, maka di belakang masih ada umat Islam yang memikirkan dan meneruskan pembangunan masjid, dan tugu tidak ada yang meneruskan pastinya).

KH. Wahid Hasyim tidak memberikan komentar.
Beliau memahami maksud Soekarno, dan membenarkan pemikiran sang presiden.

BEGITULAH ADANYA..
Suatu pemikiran yang mendalam dan luar biasa atas bangsa ini, tanpa skat-skat kepentingan di dalam hati dan pemikirannya atas keanekaragaman bangsa dan negaranya.
Seorang politisi yang memegang teguh politik kerakyatan dan kebangsaan, ia tidak hanya berkutat pada politik praktis saja walaupun hidup masa muda aktif di dunia politik.

Politik baginya atas bangsa ini sebagai alat untuk kesejahteraan dan kebesaran bangsa dan rakyat. Bukan sebagai alat untuk memenuhi kepentingan nafsu sesaat saja.

Sumber : internet.

AKU HANYA INGIN BERCERITA

Puisi Muchlis Darma Putra*)

ilustrasi dari 2.bp.blogspot.com

masa kanak adalah tentang bintang
tentang anak yang ingin diambilkan bulan. Mama
tentang pandora
yang tak bisa sabar aku. Ingin segera membukanya

masa kanak
O, alangkah manisnya
O’ alangkah lugunya
O…. Alangkah….

setelah sekian ribu mil terlampaui
jelajahi pulau. Asin laut. Gelombang
dan kaki gunung yang betapa Maha
lembah ngarai. O, alangkah dalamnya. Mama

aku hanya ingin bercerita
selebihnya pulang maklum
kepada anda_

Belambangan, desember 2011

Kado dari Rantau
Muchlis Darma Putra penulis buku kumpulan puisi Kado dari Rantau

MESUJI

Puisi Sapto T Poedjanarto

Wahai para Pemimpin Bangsa,
begitu tega engkau menghancurkan istana mereka,
tanahnya engkau rampas,
mereka engkau hinakan sebagai sampah masyarakat,
hidup mereka sudah susah, jangan dipersusah lagi,
mereka tidak tahu bagaimana menjadi orang yang lebih baik,
yang selama ini mereka tahu; bagaimana mengisi lambung mereka, karena lapar, lapar, lapar…

jangan acuhkan mereka!
tapi rangkul seperti engkau merangkul para kolegamu,
peluk mereka penuh cinta seperti engkau memeluk sahabatmu,
dan lindungi mereka seperti engkau melindungi para pendukungmu,
mereka bukan binatang galak,
mereka bukan batu yang keras,
mereka manusia.

Ya Tuhan, jika kelak kami menjadi pemimpin,
jangan biarkan kami terbelenggu dan terlena oleh kekuasaan,
terangilah hati kami untuk menolong dan membimbing mereka,
jasmani maupun rohani,
agar mereka mendapatkan hidup layak di bumi Indonesia.
Amin

Seserpih Perih Menasbih Kasih

Puisi Dheen’s Ruang Putih

ilustrasi dari http://images.hasnasyadza.multiply.com

berbuku masa terberai meremuk remah riwayah
berlaku bisa tersurai menusuk rebah serapah
berbaku rasa tercerai merembuk sembah istighasah
berliku asa terderai gemerusuk curah mahabbah

akulah ceruk di kerah lajur sarhad
akulah rusuk di bilah kujur jasad

usahlah takar, melarang gegantang prasetia
biarlah akar, menunjang bebatang doa-doa

Kepada Cintaku

Puisi Rere ‘Loreinetta
Sekiranya engkau ada disisiku
Ku ingin berbagi seteguk air
Dalam gelas-gelas hati
Yang tak mampu kuminum sendiri

Air yang akan kubagi denganmu
Bukanlah air mata
Dari jurang hati yang patah
Juga bukan dari lembah kefaqiran yang mendera
Serta bukan pula air mata dari tebing cadas kekecewaan

Bukanlah arak
Yang kerap menjadi teman pesta pora
Yang kerap menjadi teman kala frustasi

Air yang kutawarkan ini
Adalah air dari telaga kerinduan
Pada savana yang kini tersisa abu
Setelah api dari nafs membakarnya

Air yang terselip di celah tungkai dedaun
Kondensasi kabut dingin dan bara cinta

Bila engkau mau
Datanglah kemari
Di keping hatiku
Di ujung pelangi aku menantimu

Fenomena Sondang dan Nurani Bangsa Sakit

Gerundelan Ragil Koentjorodjati

Saya cukup tersentak kaget ketika membaca berita seorang demonstran membakar diri tanpa sebab yang jelas. Demonstran itu bernama Sondang Hutagalung, mahasiswa semester akhir Universitas Bung Karno (UBK). Beberapa situs saya telusuri dan mungkin beberapa informasi cukup membantu saya memberi jawab mengapa Sondang melakukan aksi bakar diri.
Ia seorang aktivis gerakan mahasiswa. Anak bungsu dari empat bersaudara. Berayah sopir taksi dan ibunya tidak bekerja. Meski demikian, ia tercatat sebagai mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi di UBK. Hidup yang cukup hebat, saya kira. Lalu mengapa ia melakukan bakar diri?
Saya tidak ingin mengatakan bahwa ia kurang beriman. Latar belakang keluarga cukup memberi gambaran bagaimana Sondang dan keluarganya bertahan hidup. Tidak mudah mengkuliahkan anak di Jakarta. Mungkin setiap pagi dan petang bibir mereka menyebut nama Tuhan agar meringankan beban dan mempermudah terjadinya perubahan. Tetapi bagi Sondang, mungkin Tuhan terlalu banyak diam. Dan ia mencoba mengubah keadaan dengan caranya sendiri, aksi membakar diri. Mungkin awalnya adalah aksi teatrikal kecil-kecilan. Namun siapa sangka bahwa itu akan menjadi sebuah drama tragedi yang membakar seluruh bangsa.
Publik tersentak. Bangsa ini rabun. Seorang martirkah ia? Dalam kondisi yang serba abu-abu, ia bisa menjadi siapa saja. Ia bisa jadi pejuang HAM karena kejadian mendekati hari peringatan HAM Internasional. Ia juga bisa jadi pejuang anti korupsi. Bisa juga menjadi pejuang anti kekerasan. Tetapi apa makna dari semua sebutan itu ketika segala sesuatu tetap berjalan seperti biasa. Pejabat biasa bersilat lidah. DPR menjalani hari-hari biasa dengan segala kebiasaannya. Para pejuang perubahan seperti biasa terkagum-kagum, “masih ada ya orang yang demikian”. Opportunis menjalankan kebiasaannya. Lalu semua kembali menjadi seperti biasa. Keluarga Sondang pun menjalani hari-hari biasa dan mulai harus membiasakan diri tanpa Sondang. Ia hanya menjadi setitik hiburan di tengah bangsa yang frustasi. Tidak lebih, tidak kurang. Sebab nurani bangsa ini sudah sakit parah.
Setiap orang menginginkan perubahan. Tetapi setiap orang ingin orang lain yang melakukan perubahan. Setiap orang ingin hidup lebih baik. Tetapi setiap orang ingin orang lain melakukan segala sesuatu untuk membuat hidupnya lebih baik. Setiap orang ingin orang lain hidup lurus, tetapi tidak untuk dirinya sendiri. Lalu nurani kita semakin kebal dan bebal. Aksi-aksi yang menyentak publik tidak terasa lagi. Pengusaha semakin banyak yang bunuh diri. Orang patah hati semakin banyak bunuh diri. Kesulitan ekonomi, bunuh diri. Tapi semua sudah tidak berarti. Mungkin akan menyusul sondang-sondang yang lain, itu pun akan menjadi tidak berarti. Sebab ternyata nurani kita tidak sakit parah lagi, tetapi telah mati.
Terkadang menjadi pertanyaan, terlalu sulitkah berbagi? Sedikit berbagi kekuasaan. Sedikit berbagi kekayaan. Sedikit berbagi pengetahuan. Dan tentu saja sedikit berbagi penderitaan. Sedikit berbagi keluh kesah. Ketika setiap orang rela sedikit berbagi itulah arti sebuah keluarga. Keluarga besar bangsa Indonesia. Tanpa rasa kekeluargaan ini, sungguh sulit bagi setiap orang mengatasi pergolakan batin dan depresi yang mendera hampir setiap hari. Setajam apapun perbedaan, entah ideologi, agama, suku, sepanjang menerima sebagai saudara dalam satu keluarga, saya yakin semua dapat terlewati. Lazimnya sebuah interaksi antar anggota keluarga, saling mengalah, saling mendengarkan, memberi kesempatan, saling menjaga dan memelihara dan tentu saja tidak ada anggota keluarga yang menginginkan anggota keluarga yang lain menjadi pencuri dan perampok. Sebab yang demikian akan mencemarkan nama baik keluarga.
Membangun relasi yang sehat dalam keluarga, dalam arti sesungguhnya dan dalam arti luas sebuah negara, adalah jalan termudah yang mungkin dilakukan setiap orang. Dalam keluarga kita tidak membutuhkan martir sebab satu nyawa anggota keluarga adalah sangat berharga untuk dikorbankan. Keluarga dan kekeluargaan adalah wujud nyata dari setiap doa yang diucapkan. Kita tidak mungkin menunggu segala sesuatu Tuhan yang mengerjakan. Keluarga itulah yang harus mewujutnyatakan setiap doa dan harapan. Keluarga menjadi tempat bernaung bagi orang asing, tempat yang lapar dikenyangkan. Tempat yang sakit disembuhkan, tempat yang lemah dikuatkan. Dengan demikian keluarga menjadi doa syukur kepada Tuhan atas semua berkat dan limpahan kasih-Nya.
Semoga.
Silahkan berdoa untuk Sondang, keluarganya dan bangsa Indonesia.

kepada Ayah

Puisi Ragil Koentjorodjati
Ayah…
Ingatkah engkau ketika musim jagung menguning dan burung kepodang sibuk membangun sarang?
Engkau berkata kepadaku,

: seorang lelaki tidak boleh menangis.
: Kala panen gagal,
: Kala tikus dan babi hutan merusak ladang kita,
: Kala ditinggal pergi orang tua,
: Kala kehilangan orang tercinta,
: seorang lelaki tidak boleh menangis.
: Adalah dada lelaki tempat kubangan air mata bersemayam,
: namun bukan air matanya,
: Otot-ototnya tidak mengejang untuk melahirkan,
: Tetapi menggumpal menjadi bantal bagi bayi yang dilahirkan,
: Pundak lelaki adalah tempat tangan-tangan lemah bergantung,
: Jika engkau menangis bahumu lunglai
: Pandanganmu kabur
: Di benakmu hanya mendung
: Dan tanganmu sibuk menghapus air matamu
: Engkau kehilangan banyak waktu untuk membantu

Ayah,
Bermusim-musim panen telah berlalu,
Sungai-sungai kita tak lagi jernih,
Dan hijau lebih nyala di lukisan ruang tamu
Mendungku tak jua luruh
Meski aku paham sepenuhnya,
Pantang bagi lelaki untuk menitikkan air mata.

25 Nov 2011

~entah, puisi ini semestinya aku juduli apa~

Puisi Ragil Koentjorodjati

ilustrasi dari stockphoto
Entah,
puisi ini semestinya aku juduli apa.
Ketika bahasa kita bahasa diam,
polahku tibatiba begitu payah,
mimik rumit,
berkelindan dengan keringat yang datang tidak pada waktunya,
lalu gerhana yang seharusnya tiba setelah purnama,
sempurna lelap menutup bola mataku.
Aku melakukan halhal yang tak kauharapkan,
dan kamu mengucap katakata yang tak kauinginkan,
di ujung malam yang akut,
kita mendengar lebih keras lolong sakit hati

Kapankah?
bibir kita menyungging senyum yang sama,
tanpa pretensi.
mungkinkah?
:Kata pretensi itu semakin membuatku patah hati,
melenting liar dan menggoyang harapan yang telah lelah menggantung di embun subuh dini hari,
sisa gerhana semalam.
Saat, entah setan mana yang menarik lidahku mengucap aku menyayangimu tetapi aku tidak tahu bagaimana menyayangimu.

Entah,
puisi ini semestinya aku juduli apa.
Saat dedaun berkisah tentang rindu,
yang lebih sering dan tidak jarang menggelepar di ujung senar gitar,
Terpahami tanpa pretensi.
:sungguh, kata pretensi ini merusak semua kata rindu.
Tolong, jangan hanya diam.

2 Desember 2011