Candi Ijo adalah candi Hindu yang berada tidak jauh dari Candi Ratu Boko atau kita-kira 18 km di sebelah timur kota Yogyakarta. Candi ini dibangun pada abad ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno, dan terletak pada ketinggian 410 meter di atas permukaan laut. Karena berada di atas bukit yang disebut Gumuk Ijo, maka pemandangan di sekitar candi sangat indah, terutama kalau melihat ke arah barat akan terlihat wilayah persawahan dan Bandara Adisucipto.
Candi ini merupakan kompleks 17 buah bangunan yang berada pada sebelas teras berundak. Pada bagian pintu masuk terdapat ukiran kala makara, berupa mulut raksasa (kala) yang berbadan naga (makara), seperti yang nampak pada pintu masuk Candi Borobudur. Dalam kompleks candi ini terdapat tiga candi perwara yang menunjukkan penghormatan masyarakat Hindu kepada Trimurti: Brahma, Wisnu, dan Syiwa.
Sumber:Wikipedia
Sayang, candi peninggalan bersejarah tersebut tampak tidak terawat dengan memadai. Pada saat foto ini diambil, candi nyaris seperti tempat penitipan kayu. Setiap orang leluasa keluar masuk sehingga tidak heran jika candi menjadi tempat idola para pasangan lain jenis yang ingin melampiaskan rindunya. Mungkin karena pasangan-pasangan yang ke sana tidak tahu bahwa candi pun sebenarnya tempat beribadah, bukan tempat bermesum ria.
Jika melihat pemandangan alam di sekitarnya, sungguh memang amat memikat. Saya membayangkan seandainya tinggal di sana, rasanya seperti hidup di negeri di awan. Sampai kapankah keindahan-keindahan itu akan teraniaya?
Ketika Delapan Bidadari Bersimfoni (24 – Senarai Kisah dari Kampung Fiksi)

Aku? Terpelanting pada rasa tidak percaya. Delapan bidadari itu memainkan simfoni kata-kata. Saling mengisi. Saling melengkapi. Hingga nada sumbang menjadi tembang. Dan tarian kata mencipta pesan nyata: hidup ini indah!
Seperti ketika engkau berdiri di tepi laut biru. Mencecap aromanya setetes demi setetes. Lalu desah debur ombaknya dapat kau rasa bersama Lelaki yang Melukis Negeri di Seberang Laut yang berkata: Akan kulukis negeri ini, seperti indahnya negeri seberang yang terletak di balik horizon, nun jauh di sana. Itu persis seperti ketika engkau menikmati nada lembut alunan organ yang mengalir tanpa sela hingga membawamu melayang, Bertualang dalam Lamunan bersama Indah Widianto yang terperangkap angan bersama Francesco Totti.
Jangan salahkan dirimu jika ketika menyaksikan delapan bidadari bersimfoni lantas kau nyaris ekstase. Permainan denting-denting melodi G pada Bayi dalam Diksi menimpali nada sederhana 13 Perempuan Endah Raharjo hingga mungkin saja ekstasemu nyaris semakin menjadi-jadi. Jangan pula salahkan dirimu jika kemudian engkau menjadi ketagihan. Sebab, simfoni itu Bagai Shabu-sabhu. Melambungkanmu ke awan. Berulang. Berkali-kali. Up-down-up-down yang kemudian mengajakmu untuk mengulang lagi, lagi, sekali lagi dan lagi.
Untuk menjagamu tetap sadar, selingi keasyikanmu dengan menyantap Cupcake Cinta Winda Krisnadefa. Agar selagi engkau menikmati simfoni, tetaplah kakimu berpijak pada bumi seperti Sri dan Merapi. Tak perlu Takut kehilangan, karena ada kata Setia Ria Tumimomor. Hidup ini memang indah, meski kadang berbalut kesah bagai Wanita di Balik Jendela yang mungkin tersiksa Gara-gara Main Hati. Saat resah menyapa, dengarkan simfoni dari delapan bidadari. Pagi. Siang. Senja. Malam. Jangan kau penggal-penggal nadanya. Jangan kau acak-acak aransemennya. Sebab, jika engkau begitu, engkau tidak akan mendapat yang lebih sempurna. Dengarkan secara utuh. Lihat tarian kata dengan penuh. Niscaya sampai Akhir Sebuah Perjalanan, semua terasa indah. Bersama delapan bidadari bersimfoni -Winda Krisnadefa, Deasy Maria, Endah Raharjo, G, Sari Novita, Indah Widianto, Ria Tumimomor, dan Meliana Indie– melantunkan 24 Senarai Kisah dari Kampung Fiksi.
Judul Buku : 24 – Senarai Kisah dari Kampung Fiksi
Penulis : @Kampung Fiksi (Winda Krisnadefa, Deasy Maria, Endah Raharjo, G, Sari Novita, Indah Widianto, Ria Tumimomor, dan Meliana Indie)
Penerbit : Kampung Fiksi
Cetakan : I, 2011
Tebal : 196 halaman
Surat Kepada Sahabat
Puisi: Kristina E.

Maafkan aku sebelumnya, jika aku mengasihimu hingga aku tak mau menjauh darimu. Mungkin aku menjijikanmu hingga menoleh padaku pun kamu tak mau. Aku terima itu, karena aku lebih mengasihimu. Namun tahukah kamu, hatiku selalu mencarimu. Bukan untuk memilikimu. Bukan! Karena aku mengasihimu.
Teringat lekat masa-masa bersamamu. Singkat, namun begitu lekat. Tak pernah kulupa. Sayangnya, semua adalah masa lalu, yang tentu saja telah berlalu. Kamu telah berubah, atau aku yang tidak memahamimu dari awal? Aku tak tahu. Yang kutahu aku mengasihimu. Aku merasa gundah ketika kutahu kamu tak pedulikanku. Apakah salahku? Tetapi itulah hakmu.
Temanku, sahabatku, kekasih hatiku. Meski tak kauhiraukan aku tetapi kamu selalu hidup di hatiku. Menemaniku tatkala sendiri terkurung sepi. Memenuhi jiwaku ketika galau. Sekali lagi aku tak tahu mengapa kamu begitu? Apa salahku?
Aku tak peduli bagaimana hatimu. Aku akan terus mengasihimu. Engkau adalah masa lalu yang berusaha untuk kukubur. Hari-hari akan kujelang karena ingatanku kepadamu. Bukan ingatan masa lalu tetapi tuntunan masa depanku.
Temanku, sahabatku, kekasih hatiku,
Aku mengasihimu.
Jakarta, April 2011
Tiga Cerita, Tiga Peristiwa
Puisi Rara Wardhani

Sekarang katakanlah, siapa yang sebenarnya sedang bersenandung lagu kemenangan, aku, kamu, kita atau mereka. Maafkan aku, tapi aku menikmati pertarungan ini, saat ribuan mata bocah, ribuan hati tak bermakna, ribuan jiwa melirik, meradang, melihat, memandang, dengan sebongkah penuh tanda tanya di dalam jiwa dan pikiran mereka. Seperti api dalam sekam yang siap membakar seekor kambing ukuran besar, Aku menikmati waktuku, saat para bocah berseradak seruduk seperti kerbau, berguling-guling seperti cacing dibawah panasnya terik matahari mencari jawaban tapi tak pernah pasti, oh ada apa gerangan dengan takdir-Nya kali ini. Di mana pun aku berada, aku adalah aku. Yakinlah bisik-bisik di antara rindangnya pepohonan yang lantas terbawa oleh angin dan terdengar olehku tak lagi memerahkan telingaku, pun kau berteriak lantang, wahai kau yang bernama aku, apalagi yang kau punya jika matamu pun tak lagi jujur. Lucu, aneh, dramatis, dengarlah kau yang bernama kau, tidakkah kau yang mencontohkan aku hingga tak seekor semut tahu beda mata (hati) yang jujur dan mata (hati) yang berlumpur.
Babak II :
Maafkan aku, tapi mata (hati) ini terampas dari tempatnya di saat hari naas itu ada seorang pujangga turun dari langit berperang melawan pendekar yang perkasa dan si pujangga memenangkan pertandingannya, menikmati peperangannya dan merampas mata (hati) ini dan tinggalah aku yang bernama aku tersiksa karena tak lagi bermata (hati). Oh sedih, oh merana hati, oh mengering jiwa, apalah arti jiwa jika tak berhati pun tak bermata, tak lagi jujur tak lagi telanjang hanya penuh tulisan bertuliskan hm karena, hm begini, hm begitu. Oh oh oh.. kembalikan mata (hati) kembali di tempatnya, agar aku yang bernama aku kembali bercerita tentang cinta lain yang menggelora liar di dalam jiwa raga dan tak lagi terpasung oleh sebuah peristiwa bernama ego.
Babak III:
Wahai kau sang pujangga, apakah ada dusta berkejaran dengan ego di dalam jiwa dan pikiranmu atau kau hanya sekedar permainan kata-kata tanpa makna bersembunyi di balik sebuah peristiwa bernama iba. Semoga kelak kau memahami, bila sebuah jiwa tanpa rasa tanpa hati hidup maka apalah artinya hidup. Dan disaat jiwa ini berbasuh luluh, peluh, bermandikan pedih, sejuta propagandamu itu makin meroket dan merobek hati. Duh Sang Maha, saat seorang pujangga sibuk berdusta, tidakkah KAU lihat ada air mata (hati) yang mengalir tak henti di pipi seorang perempuan mengisyaratkan sebuah luka yang dalam. Beginikah rasa bila seorang pengemis tua lapar dan haus berjalan gontai di depan sebuah toko roti, maka hanya bau saja yang mampu dirasa, hanya fantasi saja yang tercipta. Pedih, sedih dan luka.
Dan bacalah babak demi babak yang sudah tercipta maka tidakkah tidak ada yang bersenandung lagu kemenangan kecuali hanya senandung kesedihan yang tercipta.
Papua, 10 Agustus 2009
ketika pada suatu ketika

Duduklah sejenak di sampingku
Kakimu di atas bahuku pun tak apa
Bukankah sejak lama kau merindukannya?
Tak usah ragu, tak usah sendu
Tokh kita tidak sedang terlanda romansa
Hanya dua nyawa terperangkap botol anggurnya
Sedikit mabuk, tapi yakinlah, kita tak kan mati karenanya
Lunas berkali kutenggak isinya
Nyata senyatanya aku masih mampu membelai bulu kakimu bukan?
Oh ya, dengarkan aku,
Ketika aku seruwet radio
Tentu saja kau tak harus mendengarnya
Kau boleh tidur dengan kakimu tetap di atas bahuku
Aku akan memindahkannya ketika pagi tiba
Hingga kau meringkuk serupa bocah, suaraku sudah tertelan masa
sungguh, itu membuatku tampak konyol
Khotbahku tak sempat mampir di telingamu
Ketika aku mengajakmu dialog
Tak perlu malu mengataiku sedang monolog
Yakinlah bahwa cinta banyak wujudnya
Meski monolog bukanlah sesuatu yang romantis,
biarkan mulutku tetap bersuara
Karena kau tentu tahu, egoku malu mengakui, ternyata ucapmu ada benarnya
Hingga ketika pada suatu ketika
kita tak lagi membutuhkan suara
Dan cinta menari-nari di antara sunyi dua hati
medio april 2011
ragil koentjorodjati
pada Mikail

jawab tanyaku,
di manakah serigala hendak sembunyi, jika kau hanguskan lubangnya?
Lolongnya jadi lolong kami;
Buasnya jadi buas kami;
Liarnya jadi liar kami;
Kini kau tampak kebingungan mengarahkan mata pedangmu.
Wahai Mikail,
jawab tanyaku,
benarkah iblis telah mati di tanganmu?
Tolong ceriterakan,
bagaimana kau telah memutus urat nadi di lehernya?
Aku meragukannya.
Medio April 2011
Ragil Koentjorodjati
JIKA
Puisi Ragil Koentjorodjati

maka tarian kata tak ingin kuberi tanda titik,
meski kadang berselaput tanya,
namun ia bukanlah sejenis binatang yang suka pakai tanda seru
Jika kasih itu kisah
maka kuserahkan sepenuhnya padamu, sang pengarang,
apakah itu sebuah titik, atau sebuah tanya,
tak perlu kupahami yang tak terjangkau,
cukup bagiku bahwa aku pernah ada
Dari setiap hembusan nafas,
awal dan akhir cerita terangkai
ketika kata tak lagi bermakna,
hidup adalah sebuah doa.
19 April 2011
menanti tengah malam.
Malaikat Kecil dan Kamu
Puisi Tirtania Irene

Malaikat kecilku, dengarkan ibu,
Saat sepi menyapa, aku membayangkan Tuhan mengutus malaikat kecil untuk menemanimu bermain di dalam rahimku.
sama mungilnya denganmu.
Malaikat itu akan membantumu mengerti, betapa aku mencintaimu,
betapa aku menanti-nanti saat ku bertemu denganmu.
Malaikat itu akan mengawasi pertumbuhanmu,
memastikan yang terbaik ada padamu
Malaikat itu akan mengajarkan bahwa hati manusia dibuat untuk mencintai,
jantung untuk merasakan indahnya kehidupan,
ginjal untuk menyaring segala keburukan,
paru-paru untuk mereguk kesegaran,
tangan dan kaki untuk melayani,
mata untuk mengagumi,
mulut dan bibir untuk memuji dan memuliakan,
telinga untuk mendengar firman,
dan keseluruhan dirimu untuk menjadi berkat.
Malaikat kecil itu akan membantumu mengenal aku,
mengenal irama detak jantungku ketika aku bahagia,
ketika aku terharu,
ketika aku bersedih,
ketika aku marah.
Malaikat kecil itu akan membantumu mengenal suaraku,
mengenal nyanyi-nyanyi bahagia yang kudendangkan untukmu.
Malaikat kecil itu akan menjagamu,
melindungimu,
karena engkau amat rapuh dan halus.
Sampai saat aku bertemu denganmu, malaikat kecil itu akan selalu berjaga-jaga.
Lama setelah aku bertemu denganmu, ia akan tetap ada di sisimu,
terlebih jika aku tidak ada di dekatmu.
Aku akan berdoa untukmu, supaya setiap saat malaikat kecil itu selalu siaga.
Supaya ia menjauhkanmu dari bahaya,
supaya ketika si jahat mengintai ia dapat mengalahkan dan menyingkirkannya dengan segera.
Oooh betapa bahagia aku, yang sedang menantikan dirimu, malaikat kecilku
Senin, 21 Maret 2011
Yang menantimu,
Aku.
Selamat Datang di Ibukota Serigala
Ledakan ekspresi kebebasan, itulah yang ingin saya sampaikan untuk sebuah buku kumpulan puisi Ibukota Serigala. Ada marah yang tertahan. Ada sedih yang tertindih. Ada duka yang terlupa. Kejahatan tersembunyi yang terus menerus menjangkiti sendi-sendi kehidupan. Basa basi busuk. Semua tersimpul dalam dua kata sederhana: kekerasan psikologis! Jika dada tidak mampu lagi menahan luka, maka puisi menyuarakan yang tak berbunyi. Bagi Maria Immaculata Ita, semua rentetan kejahatan psikis tersebut terangkai menjadi sesuatu yang indah sekaligus ironis dalam Ibukota Serigala sebagaimana dapat kita simak pada penggalan bait puisinya;
: ingatkan aku untuk selalu mengucapkan salam saat memasuki pintu gerbangnya, wahai maria sofia
ingatkan aku untuk selalu membantu mengelap keringat wanita-wanita berantena,
ingatkan aku untuk mengamini ajakannya berdisko ria,
lalu kita akan tertawa bersama karena ternyata kita amnesia/
Tidak dapat dipungkiri bahwa karya penyair muda kelahiran 6 Oktober 1985 ini sarat dengan aroma kebosanan pada status quo generasi tua. Satu dari sekian banyak anak muda yang berani menyuarakan bahwa tua belum tentu dewasa, lama belum tentu baik, berkuasa belum tentu bijak. Kemapanan yang diterima sebagai sesuatu yang benar karena banyak orang mengamininya, itulah yang ingin didobrak. Menjadi sesuatu yang sangat masuk akal jika fenomena sekitar kita menunjukkan tingginya berbagai bentuk pemberontakan kaum muda. Inilah suara hati mereka:
Litani Sakit Hati
lama terdiam,
akhirnya ego kami melawan/
lama dibungkam,
akhirnya ego kami menyerang/
lama menangis,
membuat mata kami bengis/
lama menurut,
membuat ego kami menuntut/
lama ditirani,
membuat ego kami berani/
lama sendiri,
membuat kami tak perduli/
lama ditipu,
membuat kami berlalu/
lama merenung,
membuat kami susah tersenyum/
lama disakiti,
membuat kami sakit hati/
Selain puisi-puisi tersebut, Ibukota Serigala menyajikan 66 puisi yang sangat spontan dan cenderung impulsive. Sesuatu yang memikat sekaligus membutuhkan pencernaan yang baik di otak pembaca. Cerminan kegilaan yang memukau dari sang penulis di tengah badai hedonisme yang menggila. Sangat Layak dibaca. Proficiat! Selamat Datang di Ibukota Serigala.
Judul Buku : Ibukota Serigala
Penulis : Maria Immaculata Ita
Penerbit : Greentea
Cetakan : I, 2010
Tebal : xv + 110 halaman
Sajak Rembulan Merah
Rembulan merah,
langkahmu gontai
lunglai, seperti manusia-manusia kami yang terbantai
nyaris habis terkikis bengis
tanpa rasa
sepertinya kami tak pernah mengenal kata cinta
Rembulan merah,
Singgahlah sejenak di bumi kami
ceritakan pada kami tentang senja yang menggantung di pucuk cemara
atau tentang nyanyian kedasih di kolong lembutmu
atau tentang apa saja yang merona karenamu
agar rindu kami tetap padamu
Tetap padamu
Ketika jiwa kami membeku
bahasa batu meruntuhkan ruang-ruang imaji
merobek segenap nurani lalu singgah dan beranak pinak di hati yang melegam terendam dendam
biarlah rindu kami tetap padamu
Rembulan merah,
Katakan pada kami mengapa dari hari ke hari cahyamu memuram
bahkan teramat temaram untuk sekedar membaca firman
yang entah sejak kapan terlupakan
Atau, salah kami yang memberimu warna semerah darah?
Medio Maret 2011
GGL (2)
Karena suatu kecelakaan, Dulkiyuk, si sopir dablongan, dan Nyonya pejabat meninggal bersamaan (memang kalau jodoh gak kemana 😀 ). Waktu itu Dulkiyuk nyopirnya kurang ati-ati sih… Matilah mereka berdua. Sampai di gerbang akhirat mereka berhadapan dengan malaikat penginterogasi. Malaikat ini bertugas menguji layak tidaknya seorang manusia masuk surga. Mulailah wawancanda mereka bertiga.
Malaikat bertanya ke Dulkiyuk: Siapakah Tuhanmu?
Dulkiyuk: Allah SWT
Kalau kamu Nyonya?
Nyonya: Lupa!
Malaikat ke asistennya: catat jawaban mereka!
Malaikat: Dulkiyujk, apa bekal yang kamu bawa dari dunia?
Dulkiyuk: Ampun malaikat. Hamba tidak berbekal apa-apa. Hamba masih penuh dosa. Bahkan hamba pernah berpikir agar Nyonya lupa sama suaminya lalu hehehe, malaikat tentu tahu pikiran hamba. Ampuni hamba ya malaikat …..
Malaikat: Hmmm…. Kalau kamu gimana Nyonya?
Nyonya: Lupa!
Malaikat ke asistennya: Catat! Terus kesimpulannya gimana mereka ini?
Asisten: Sesuai catatan, nama Dulkiyuk masuk neraka Tuan! Tapi kalau Nyonya ini…..
Malaikat: Nyonya ini kenapa? Kok diam saja?
Asisten berkata ke Malaikat sambil mengedipkan sebelah mata: Ampun Tuan. Sepertinya kita lupa mencatat namanya. Di neraka nggak tercatat, di surga juga nggak ada namanya.
Nyonya: Whloh?? Kok bisa gitu? Udah deh, berapa aja gua bayar…asal masuk surga.”
Dulkiyuk: xixixixi susahnya jadi koruptor, di dunia ditolak, di neraka ditolak, apalagi di surga… Jangan-jangan lupa juga kalau gua sopir nyambi simpenannya. Duhai sedihnya di neraka sendirian wua….wua…
GGL (1)
GGL nih bukan gigolo lho. Buang dulu tuh piktor, hehehe. GGL nih singkatan Gara-Gara Lupa. Sekarang trendnya kan gitu; misalnya karena lupa, sidang ditunda. Karena lupa kalau duit rakyat, main ambil saja, dikira duit sendiri. Karena lupa kalau lagi di syuting, kelihatan noraknya saat sidang terhormat :D.
Nah, cerita yang mau kutuliskan ini tentang lupanya Nyonya pejabat kaya raya. Gara-gara lupa, ada sedikit rasa gembira yang dirasakan Dulkiyuk, sopir si Nyonya. Pasalnya majikannya dinyatakan menderita sakit lupa. Bukannya mau nyukurin tuh majikan, tapi setidaknya dia akan terbebas dari caci maki kalau kerjaan nggak beres. Lupa sih…
Lebih menyenangkan lagi, Dulkiyuk dipastikan akan sering mendapat “rejeki tiban”, entah karena majikannya lupa menaruh uang di meja atau hanya lupa meminta uang kembalian kalau menyuruhnya belanja ke pasar. Lebih mantab lagi, kalau majikannya lupa siapa suaminya, apa nggak “ketiban duren” namanya jiakakakak
“Dulkiyukkkkkk….!!”
“Ya, Nyonyaaaaaaaaaaaa…!”
Pasti majikannya akan menyuruh dia belanja ke pasar. Rejeki pertama nih, pikirnya.
“Tolong belikan multivitamin sebentar ya….”
Waduh… beli multivitamin nih xixixixi
“Siap Nya, uangnya Nya?”
“Oh, ya lupa. Hehehe. Nih, 50 cukup kan?”
Wahhh, kalau nyuruh tapi lupa ngasih duit nih bahaya… pikir Dulkiyuk.
“Cukup Nya, cukup,” girang Dulkiyuk. Rejeki 25 rebu akan segera ditangan. Hehehehe.
Segera dia meluncur ke apotik seberang jalan. Tak berapa lama kemudian.
“Ini Nya multipitaminnya. Tumben beli multipitamin, Nya” kata Dulkiyuk mulai cengegesan.
“Oh, ya. Terima kasih ya…”
Yah, pancingan nggak disambut nih. Tapi nggak papa, yang penting dapat duit kembalian. Hehehehe, kalau rejeki emang nggak kemana, pikir Dulkiyuk sambil ngeloyor pergi. Baru tiga langkah….
“Dulkiyukkkkkk….!!”
“Ya, Nyonyaaaaaaaaaaaa…!”
“Mana kembaliannya…??!!” Teriak si Nyonya, garang.
Dulkiyuk,”#$%%$#%*&^$% Wedeew!! Waktu nyuruh beli dia lupa kasih duit, giliran kembalian, ingat! Dasar koruptor! %^%#$#$%%!!??”