24 Posisi Matahari (3)

Kolom John Kuan

☉大暑

 ——— rumput mati kunang-kunang lahir; tanah lembab udara basah; hujan lebat menyapa

jejak kaki
ilustrasi dari 2.bp.blogspot.com

Orang tua di dalam cerpen Borges [El Libro de Arena] akhirnya menyelipkan buku yang menghabiskan seluruh uang pensiunnya itu ke dalam rak berdebu di Perpustakaan Nasional Buenos Aires. Ini adalah sebuah metafora yang sangat puitis: Mungkin hanya pengetahuan dapat menelan pengetahuan; tulisan dapat menampung tulisan. Borges berkata: [Tidak peduli pasir ataupun buku, sama-sama tak bertepi]. Dia bukan cuma menguasai semiotika, dia juga seorang pakar teori sastra dan seni yang penting, saya kira tentu bukan [pasir] yang menjadi perhatiannya, itu hanya sekedar simbol buat mengumpamakan pengetahuan manusia yang terus menggelembung.

Setiap kali membaca kembali cerita ini, akan timbul keingin-tahuan: kenapa dia berkata pasir tidak bertepi? Apakah pasir di sini berarti gurun, namun gurun juga bertepi. Atau mungkin maksudnya lebih abstrak, tempat sebiji pasir terakhir jatuh itulah batas gurun. Tak bertepi yang dimaksud Borges, mungkin ingin mengatakan ketika sejurus angin berembus, gurun akan mempunyai bentuk baru, batas baru, semacam amorfos.

Hari panas bisa membuat saya teringat gurun, tetapi lebih sering pulau kecil tempat lahirku. Petang turun sendiri ke pantai, mengutip siput, mengutip kerang, mencari lokan, mentarang, ketam bakau. Di bibir pantai yang berbuih saat pasang naik selalu ada yang tak terduga, dapat sebiji bola kaki, sebuah mainan plastik, seekor ikan mati, mayat anjing; kadang-kadang juga lari terbirit-birit melihat mayat manusia atau disengat sembilang. Seringkali juga terbangun di tengah malam negeri asing, pikiran kacau, melihat keluar jendela, seolah di luar berlapis-lapis pencakar langit ada segaris pantai panjang, bukan berpasir putih, tetapi lumpur pasir abu-abu penuh jejak kaki. Itulah magis realismeku. Sangat kempes.

☉立秋

 ——— angin mengiris; kabut turun; tonggeret pekik dingin

Daun itu bulat lonjong, kurang lebih sebesar telapak tangan, sedikit menguning, hampir tembus pandang, taruh di telapak tangan dapat jelas kelihatan jaringan urat-urat daun yang halus dan rumit. Tepinya samar-samar ada gerigi kecil, seluruh gerigi menunjuk ke satu arah, dari pangkal daun hingga ujungnya yang meruncing, bagai selembar jahitan yang paling rapi dan indah. Saya bertanya penduduk setempat yang istirahat di taman, kata mereka daun bodhi. Saya ingat daun bodhi jauh lebih besar, ujung daun yang runcing mungkin dua tiga kali lipat lebih panjang dari yang di tanganku.

kekuatan daun
Ilustrasi dari Inankittikaro.com

Saya suka daun bodhi, mungkin ada hubungannya dengan cerita-cerita tentang Buddha Gautama. Membayangkan seorang pertapa duduk di bawah pohon bodhi di Bodgaya mendengar suara angin lembut melewati sela dedaunan, atau mungkin daun-daun dengan tenang jatuh, menyentuh bumi, menimbulkan getaran seketika di hati. Namun renungan tetap hanya sekedar renungan, daun ini bisa saja tidak ada hubungannya dengan cerita. Seorang teman yang belajar botani sering memberi saya jawaban yang tidak serupa, katanya: tangkai daun walau kecil tetapi sangat kuat, sebab harus menopang beban seluruh daun. Dia juga berkata: Kebanyakan gerigi di tepi daun adalah siasat pertahanan, dan terhadap ujung daun yang meruncing indah dia menjelaskan: Ujung daun yang runcing umumnya adalah buat pembuangan air. Dia melengkapi: terutama di daerah tropis, hujan badai sering datang tak terduga, air hujan yang terlalu banyak tergenang di permukaan daun akan menyebabkan daun mudah terluka, rusak dan hancur; maka daun tumbuhan terus memperbaiki fungsi pembuangan airnya, bentuk sesungguhnya hanyalah hasil penyempurnaan fungsi dalam jangka waktu yang panjang.

Jadi kekuatan tangkai daun, urat-urat daun yang serumit sistem syaraf manusia, gerigi tepi daun yang bagai rajutan, ujung daun yang meruncing sehalus bulu itu, semua yang kusebut-sebut itu, hanya jejak berbagai penderitaan selembar daun untuk bertahan hidup dalam jangka waktu yang pelan dan panjang?

Perlu berapa lama berevolusi hingga bentuk begini? Saya bertanya teman. Dia mengangkat sedikit bahunya jawab: Mungkin puluhan juta tahun.

Jawabannya membuat saya terpelosok ke dalam keheningan. Apakah keindahan adalah ingatan terakhir dari penderitaan bertahan hidup? Apakah semacam kepedihan dalam merampungkan diri? Sebab itu indah membuat saya suka, juga membuat saya duka.

Sesuatu yang Hilang

Puisi-puisi Merry Liana

1# Adikku Tersayang

Aku tahu,
Hari itu langit di sisimu telah menjadi gelap
Cahaya itu lenyap begitu saja
Nafasmu terhenti tanpa kauinginkan
Kau tenggelam dalam ketakutan, kesedihan dan duka

Tahukah kau?
Betapa aku ingin memeluk tubuh kecilmu sekali lagi?
Tahukah kau?
Betapa aku merindukan saat kauucapkan “Kakak sayang, ayunkan aku”
Kini segalanya menghilang menjadi kenangan,
Kini kami hanya bisa mendoakanmu agar tenang di sisiNya adikku tersayang

2# Aku Bukan Penyair

Di setiap sudut langit
Garis-garis kelam tak begitu tajam
Tiada pula gelegar menghujam
Hanya saja butiran-butiran bening membasuh bumi

Detik demi detik Yang Esa mengubah takdir
Sebesit senyum mutiara langit menyapa bumi
Sinarnya terselip manja di antara ranting-ranting pohon yang kering

Perlahan kulayangkan mata menembus awan
Seolah tangan gaib melukiskanku nuansa indah
Ingin kuberpuisi
Mengajak penaku menari di atas helaian putih
Namun aku bukan penyair
Sungguh tak pantas menjadi penyair
Hingga nuansa itu pun lenyap seperti asap.

3# Amarah Bumi

Temaram siang membelengu
Saat sosok matahari itu tak menampakkan wajahnya,
Awan putih membelit langit,
Aku merasa hampa, bersedih sendiri,
Senyum cerah itu tak dapat kulihat diwajah angkasa..

Namun perlahan mentari kian mengintip,
Tak berlangsung lama,
Belenggu itu berubah menjadi cekaman dahsyat,
Ketakutan menyerangku ketika badai manghantam dunia,
Menyapu bersih kaki-kaki maksiat di seberang sana,
Namun tak begitu saja lenyap, mereka tetap di sana

Entah bumi sedang kecewa,
Angin yang selalu lembut membelai bumi kini berubah buas
Seperti ingin menerkam ribuan jiwa yang telah terlena
Ini hari yang kejam,
Imbasnya telah menimpa jiwa-jiwa yang tak berdosa,
Tangis kecil menggema di penjuru jagat raya

4# Sesuatu yang Hilang

Anggunnya warna senja tlah sirna
Ditelan gelapnya malam
Hembusan angin menggigit kulit

Detik demi detik.
Dentuman petir menulikan telinga
Mengiringi gemuruh hujan
Bagai irama nyanyian kubur

Sesuatu telah menghilang
Menjerat kata dalam gulungan lidah
Membunuh sebersit mimpi
Dan secerca harapan

Sendu hujan
Linangan air mata
Mengurai doa untuk jasad yang tak bernyawa itu

*) Merry Liana, Umur 20 th (19-02-1994)  seorang mahasiswi dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Email : merry.nezcvada15@gmail.com, No. hp : 087815174xxx

24 Posisi Matahari (2)

Kolom John Kuan

☉夏至

 ——— kijang bersalin tanduk; tonggeret mulai menjerit; si naga hijau tumbuh

Hari berikutnya saya sudah hampir lupa hamparan bukit putih itu. Melangkah pulang ke penginapan sudah menjelang malam, pada tikungan terakhir saya melihat sebuah taman. Tidak luas, membentang satu jalan pintas yang menghubungkan dua jalan utama, sederet bangku, orang-orang pulang kantor lalu-lalang. Saya pilih sebuah bangku kosong, duduk teringat bunga tung, kesukaanmu. Waktu itu umur kita berapa? 20, 23? Saya berkata saya lebih suka bunga alpinia, sebab berasal dan tumbuh liar di hutan, di dalam jelita yang pedas membawa sedikit aroma jalang yang memabukkan. Daunnya hijau berminyak lancip memanjang, sedikit menyerupai bunga gandasuli, tetapi tidak seapik itu dan agak sembrono. Daunnya juga sering dipakai buat membungkus bakcang; di dalam wangi beras bercampur sedikit wangi pedas daun yang kenyang menerima cahaya matahari dan air hujan. Bunga alpina putih porselin, satu tangkai berkerumun berpuluh kuntum. Setiap kuntum ujungnya ada sedikit merah, merah yang menggetarkan, merah yang terlalu kampungan. Bunga putih selalu dengan wanginya mengundang datang lebah, wangi bunga alpinia tidak mengecewakan, apalagi di ujung mahkotanya masih memberi tanda merah yang merebut mata, biar kumbang lebih mudah mengenalinya.

Suatu hari kamu bertanya: Apakah seorang anak muda yang belajar seni mesti menyimpan seluruh ingatan [ indah ]? Saya kira kamu bukan sedang menanyaku, kamu sedang tanya jawab sendiri, saya tentu tersenyum tanpa kata, menunggu kamu membuat kesimpulanmu. Saya tahu sendiri terlalu serakah [ keindahan ], tak terobati. Namun saya bisa memiliki berapa besar kapasitas memori, buat menyimpan segala yang ada di dunia luas ini?

Keluar taman, melangkah di kerumunan, seolah ada aroma yang mengitariku, terus mengikutiku hingga kamar penginapan. Waktu ganti baju baru menyadari rambut dan punggung melekat serpihan bunga kuning. Saya periksa di bawah lampu, ternyata adalah bunga akasia dari taman, terbawa saat duduk di bangku.

Mereka tidak bermaksud ikut masuk ke dalam duniaku, hanya saya sendiri rindu, anggap semacam jodoh, bisa diingat, bisa dilupakan.

 ☉小暑

 ——— angin telah hangat; jangkrik sembunyi di tembok; elang belajar memburu

Melangkah sendiri di kota asing sering membuat saya teringat buku-buku perjalanan Jiang Yi ( 1903 -1977 ), dia menyebut dirinya Silent Traveller. Dia menulis London, menulis Oxford, menulis Edinburgh, suasana di dalam tulisannya selalu ringan penuh humor, ditambah ilustrasi yang sangat berkarakter, kadang-kadang juga dihias satu dua buah puisi pendek, demikian kental gaya cendekiawan Cina tradisional. Ketika menulis gubuk Ratu Victoria:

Taman Kew kuasai seluruh sejuk malam,

lonceng biru habis mekar masih tersisa harum.

Percuma berkunjung jejak jelita ratusan tahun,

gubuk sepi menatap matahari terbenam.

mendaki bukit belakang Kebun Binatang Edinburg, dia menulis:

Sejenak di batu cadas duduk,

angin pinus jernih hatiku.

Melongok bibir tebing curam,

entah berapa dalam biru lautnya?

Ini sudah mendekati gaya kehampaan Wang Wei dan Wei Yingwu, namun yang ditulis adalah lanskap negeri asing, Jiang Yi berkata dia adalah kelana senyap, mungkin yang ingin diutarakan adalah sekat bahasa dan budaya antara Inggris dan Cina. Namun saya kira senyap tidak berarti bisu, mungkin lebih mendekati pengalaman indah di dalam puisi Cina yang disebut [ 忘言- wangyan; kehabisan kata-kata? ], puisi Cina yang sesungguhnya, selalu bertunas sehabis senyap.

Perjalanan penyair, ataupun penyair dalam perjalanan, kadang setelah membaca puisi-puisi begitu, akan timbul keinginan melancong, berusaha di jalan yang pernah dilalui penyair mencari lanskap yang pernah menyentuhnya, ingin mengalami suasana yang bisa menghasilkan baris-baris puisi yang indah, namun kita juga tahu itu adalah hal yang paling sia-sia. Lahirnya puisi selamanya adalah sebuah rahasia, jawaban puisi juga selamanya perlu satu perjalanan hidup untuk merampungkannya — kita bagaimana bisa hanya dengan beberapa perjalanan pendek, sudah ingin mengerti keabadian atau sampai di tujuan seberang?

Melewati jalan besar dan lorong sempit sebuah kota juga sering membuat saya terasa bagai kelana senyap, atau mungkin flaneul, pengembara di bawah pena Baudelaire, di luar gedung tinggi sesekali ada bulan jernih, kehampaan sejenak di musim semi, bahkan slogan-slogan yang kering kerontang dan kerumunan orang-orang yang basah kuyup, sering begitu menyentuh, seolah menghasilkan sesuatu yang menyerupai puisi. Namun saya tetap tidak menulisnya jadi puisi, hanya dengan cara yang sederhana mencatatnya, tunggu hingga suatu hari mungkin benar-benar dapat menjelaskan keindahan mereka, benar-benar mengerti kata-kata yang belum pernah diucapkan, sekalipun berserpih bagai angin.

…bersambung

Chopin & Pemberontakannya

Gerundelan Soe Tjen Marching

komposer musik klasik
Gambar dari bp.blogspot.com

Chopin, yang kelahirannya diperingati dengan gegap gempita setiap bulan Febuari, bukanlah komponis yang suka sorak sorai publik. Lahir di Polandia lalu pindah ke Paris, ia lebih memilih memberi konser di rumah pribadi beberapa teman, atau gedung-gedung kecil yang terkesan lebih intim daripada di sebuah hall yang megah dan besar. Lalu, mendapat uang untuk kehidupannya dari mengajar.

Memang, komponis romantisme ditandai dengan memberontaknya mereka menjadi “peliharaan” para bangsawan. Beethoven yang dianggap sebagai komponis yang mengawali romantisme, tidak lagi tergantung kepada sedekah para bangsawan atau raja-raja. Dia mencari nafkah dengan mengajar dan mengadakan konser.

Keberanian akan perbedaan dan keunikan, telah membuat para komponis ini menciptakan karya-karya yang mengagumkan. Bunyi memang sesuatu yang abstrak, namun tak pernah terpisahkan dari ide (dan seringkali, kenekatan atau kegilaan) sang seniman. Pemberontakan Beethoven tercermin dalam musiknya yang sering digambarkan dengan kata “emosional, personal dan menggebu-gebu”.

Tidak semua perbedaan dan keunikan bisa diterima begitu saja. Frederic Chopin yang dipuja hampir seantero jagad saat ini, sempat menghadapi terpaan kritik yang mengecam permainannya “terlalu lemah” dan kurang gairah. Karena beberapa dari para kritik ini masih terpaku pada standard musik Beethoven yang seperti badai, mereka sempat memandang negatif Chopin. Namun Franz Liszt, seorang komponis andal yang kemudian menjadi sahabat (sekaligus saingan) Chopin, menulis di majalah Gazette Musicale yang diterbitkan pada tanggal 2 Mei 1841: “Chopin tidak memainkan concerto, sonata atau fantasy; melainkan prelude, nocturne dan mazurka. Ia menyajikan musiknya seperti seorang pujangga dan pemimpi kepada orang di sekelilingnya, bukan kepada publik. Ia menawarkan simpati yang lembut, bukan antusiasme yang ribut. Dari denting pertama, telah hadir komunikasi yang intim antara dia dan pendengarnya.”

Di tangan Chopin, yang lebih banyak mengarang untuk piano daripada instrumen lainnya, alat ini menjadi seolah bernyanyi. Berbeda dengan mereka yang memperlakukan piano sebagai alat yang dipukul (terkadang mirip perkusi). Chopin juga gemar mencantumkan tempo Rubato (arti literal-nya, tempo yang dicuri) yang memberi kebebasan bagi pemain untuk menentukan kecepatan dan juga artikulasi nada-nada yang tertulis.  Dan ini juga sempat mengejutkan beberapa musisi yang biasa dengan tempo yang serba tepat.  Kebebasan seperti Rubato ini bisa diartikan sebagai seenaknya sendiri oleh beberapa orang. Namun, bagi pianis yang andal, justru kebebasan adalah tanggung jawab untuk memilih, dan ini bisa menjadi beban yang cukup besar.  Karena tanggung jawab seperti ini membutuhkan ketepatan dan kepekaan yang luar biasa.

Reputasi Chopin sebagai pianis dan komponis semakin menanjak di Perancis, namun kesehatannya juga bertambah turun.  Saat itu, ia bertemu dengan penulis George Sand (seorang perempuan yang dilahirkan dengan nama Armandine Aurore Dupin).  George gemar memakai baju lelaki dan menghisap pipa tembakau – kebiasaan yang dianggap tidak lazim bagi perempuan dan seringkali dicela oleh masyarakat waktu itu.  Ketika bertemu Chopin, ia telah bercerai dengan dua anak dari perkawinan sebelumnya.

Berbeda dengan Chopin yang lembut dan sempat digambarkan sebagai pria yang bertangan lentik dan gemulai, George adalah perempuan yang maskulin.  Baik disadari maupun tidak, hubungan mereka adalah bentuk pemberontakan terhadap dualisme gender.  Lelaki tidak harus selalu maskulin dan perempuan feminin.  Sebaliknya, Chopin terkadang bisa dianggap lebih feminin daripada George Sand yang kemudian juga menopangnya secara finansial saat kesehatan Chopin bertambah buruk.  George dan Chopin tidak pernah menikah (sekali lagi, bentuk pemberontakan mereka terhadap tuntutan standard).  Dan karena hubungan ini pula, keduanya sempat diasingkan ketika tinggal di Majorca – Spanyol.

Namun, pemberontakan Chopin inilah yang ada di balik nada-nada yang sekarang dialunkan dan dikagumi berbagai pianis di Indonesia dan seluruh dunia; dan ironisnya menjadi konservatisme tersendiri bagi banyak pianis yang mengalunkannya di gedung-gedung megah.

*) Artikel ini juga dimuat di Tempo

Bertumbuhnya Ideologi Kebencian

Oleh Todung Mulya Lubis

no-hate-speech
Gambar dari aegee.org

Sejak kanak-kanak, saya selalu bangga dengan persatuan Indonesia yang ditandai oleh kemajemukan kita sebagai bangsa. Saya menghafal penjelasan guru sekolah yang mengatakan bahwa Indonesia terdiri atas ribuan pulau, suku, etnisitas, agama, dan latar belakang budaya serta ideologi. Semua itu diikat oleh semangat ”satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan”.

Tak pernah saya merasa asing. Saya adalah bagian dari bangsa besar bernama Indonesia, yang kalau keluar berpaspor Indonesia, dan kalau mengibarkan Merah Putih bangga dan berkaca-kaca. Melihat pemain bulu tangkis memperoleh medali emas, saya juga terharu dan bangga. Hasil jerih payah bangsa ini berhasil merajut kebersamaan yang mengharukan.

Satu hari saya berjalan bersama advokat Yap Thiam Hien di tengah kota Banda Aceh, yang dulu bernama Kutaraja. Yap menunjukkan gereja tempat keluarganya beribadah. Di Ambon saya bertemu keluarga yang sebagian beragama Islam dan sebagian lagi beragama Kristen. Mereka makan dan bernyanyi bersama. Di Semarang saya bertemu keluarga sederhana yang berbeda suku dan agama, China, Jawa, Kristen, dan Islam. Di Jakarta saya ketemu orang Batak hidup rukun dan bahagia dengan orang Banjar. Semuanya tak mempersoalkan perbedaan. Semuanya melihat diri mereka sebagai manusia yang punya otonomi personal, punya kebebasan, dan melaksanakan kebebasan mereka dengan tanggung jawab dalam sebuah keluarga, komunitas, dan bangsa.

Saya tak mengatakan tak ada konflik, pertentangan, atau ketegangan. Di sana-sini ada konflik dan ketegangan. Sesekali ada tawuran antarkampung karena anak gadis di kampung yang satu digoda oleh pemuda kampung sebelah. Atau karena kalah pertandingan sepak bola. Ada juga ketegangan karena khotbah yang emosional. Atau ada keluarga yang mengadakan pesta dengan musik terlalu keras.

Semua itu adalah ketegangan yang sehat dan masih bisa dikelola. Saya sama sekali tak terganggu. Malah saya menganggap semua konflik dan ketegangan itu merupakan bagian dari nation and character building yang dewasa. Kita sedang melangkah menjadi bangsa yang besar.

Kemajemukan Digugat

Akan tetapi, beberapa tahun terakhir ini -sejalan menguatnya demokrasi dan hak asasi manusia- ruang kebebasan semakin terbuka. Media sosial juga memberi tempat bagi kebebasan menyatakan pendapat. Berbagai aliran pendapat menyeruak ke permukaan. Sebagian malah secara diametral bertentangan dengan semangat demokrasi dan hak asasi manusia, bertentangan dengan kemajemukan kita sebagai bangsa, bertentangan dengan keutuhan kita sebagai sebuah bangsa.

Kemajemukan digugat, kesatuan bangsa digugat, dan keutuhan teritorial ikut terganggu. Importasi pikiran dari luar masuk tanpa filter, dan seluruh perjuangan pendiri negara ini seperti dipersalahkan. Demokrasi ditafsirkan sebagai mayoritas absolut; minoritas harus tunduk kepada mayoritas. Perlindungan terhadap minoritas itu tak dihormati. Tafsir terhadap agama juga makin dipaksakan dengan kekerasan di mana perbedaan tafsir sama sekali diharamkan. Kebebasan beragama yang dianut oleh UUD 1945 tak dihormati. Suara untuk menghidupkan Piagam Jakarta terdengar meski tak gemuruh, tetapi suara itu muncul dalam berbagai sikap intoleransi terhadap kelompok minoritas dan kelompok seagama yang tak setafsir.

Dalam bahasa hukum, telah muncul kembali permusuhan dan kebencian (sosial) di muka umum melalui tulisan atau orasi yang sering sekali sangat kasar. Media sosial kita penuh kebencian dan permusuhan. Demonstrasi dan poster di berbagai pojok jalan sering menghasut dan mengafirkan kelompok lain. Gerakan sektarian memanifestasikan dirinya dalam berbagai bentuk yang disertai tindak kekerasan. Telah muncul apa yang disebut sebagai hate speech yang dulu diatur dalam Pasal 156, 156a, dan 157 KUHP yang kita kenal sebagai pasal-pasal penyebar kebencian (hatzaai artikelen). Tetapi, pasal-pasal yang dulu digunakan pemerintah kolonial untuk mematikan perlawanan pribumi terhadap kolonialisme, juga oleh pemerintahan Orde Baru untuk menindas perlawanan kelompok-kelompok kritis seperti mahasiswa dan buruh, sekarang sudah dianggap tak bisa diperlakukan lagi: dinyatakan bertentangan dengan demokrasi, hak asasi manusia, dan UUD 1945.

Sekarang pernyataan kebencian dan permusuhan hanya bisa dikejar atas dasar pasal-pasal penghinaan, pencemaran nama baik dan fitnah (Pasal 310, 311 KUHP), dan Pasal 27 UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU No 11/2008). Hanya saja, pasal-pasal tersebut di atas sangat terbatas daya jangkaunya, dan dalam banyak hal tak mampu menjangkau pernyataan kebencian dan permusuhan. Sekarang, mungkin ada yang berpikir ulang untuk menghidupkan kembali pasal-pasal yang mengatur mengenai hate speech tersebut, yang dulu ditolak karena penyalahgunaan tafsir oleh penguasa pada waktu itu. Kita semua tak mau pasal-pasal hate speech dipakai sebagai instrumen mematikan perbedaan pendapat, kritik, atau oposisi. Tetapi, pada sisi lain kita harus akui: pernyataan kebencian dan permusuhan di muka umum dengan niat jahat, sistematis, dan disertai kekerasan haruslah juga bisa dihukum. Tak boleh ada impunitas.

Fenomena hate speech bisa muncul dalam berbagai bentuk: tulisan, orasi, poster, demonstrasi, dan khotbah. Bisa juga dalam berbagai pengumuman yang menolak kemajemukan seperti yang tecermin dalam tulisan Achmad Munjid, ”Pengajaran Agama Interreligius” (Kompas, 4 Januari 2014).
Fenomena ini digambarkan sebagai kelumpuhan nalar kita dalam merawat kemajemukan (pluralisme). Dari sejumlah kasus yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, kita akan melihat secara telanjang bahwa kebencian dan permusuhan itu telah semakin deras dan keras. Pilar-pilar pluralisme yang dibangun oleh pendiri negara ini semakin rapuh dimakan rayap-rayap intoleransi, kebencian, dan permusuhan.

Negara Lakukan Pembiaran

Sungguh saya khawatir menatap masa depan. Merebaknya hate speech, absennya akuntabilitas, dan diamnya negara, kalau keadaan ini tak dilawan, maka jangan heran jika hate speech ini akan bermetamorfosis menjadi ideologi kebencian (ideology of hatred). Jika ideologi kebencian ini melembaga, nasib kemajemukan, nasib dari nation yang bernama Indonesia akan berada di ujung tanduk.

Dalam bahasa Niza Yanay dalam bukunya, The Ideology of Hatred, ideologi kebencian ini bisa ditafsirkan sebagai signifier of danger dalam konteks relasi kekuasaan. Kebencian tak lagi semata-mata anti-Islam, anti-Kristen, anti-China, atau anti-Jawa. Ideologi kebencian ini akan jadi instrumen kekuasaan, langsung dan tak langsung, baik oleh negara maupun non-negara dalam pembenaran terhadap intoleransi, sektarianisme, dan diskriminasi.

Dalam konteks kekinian Indonesia, ideologi kebencian ini diperankan oleh kelompok atau organisasi yang tak memberi ruang bagi pluralisme dalam arti luas. Negara jadi pihak yang bertanggung jawab karena melakukan pembiaran. Sekarang Indonesia belum cerai-berai, tapi sekat-sekat pemisah mulai ditegakkan. Kita hidup dalam sebuah negara, tapi kita hidup terpisah-pisah, kita sama tetapi tidak sama, separate but equal. Di dinding rumah kita tulisan Bhinneka Tunggal Ika seperti bergetar, menunggu jatuh ke lantai.

Indonesia belum bubar. Tetapi, jangan meremehkan menyebarnya ideologi kebencian yang akan menghilangkan Indonesia dari peta dunia.

*)Todung Mulya Lubis, Ketua Yayasan Yap Thiam Hien

Sumber: KOMPAS

Saat Aku Kembali ke Bumi

Puisi John Kuan

saat turun ke bumi

1/9
Camar berputar di muara, kota kembali hutan
Sebuah jam telanjang bulat di hamparan pantai

Sebagian tergenang, sebagian berdetak melingkar
Saat aku kembali ke bumi, manusia telah lama pergi

2/9
Dermaga berkarat peti kemas, matahari senja pingsan
pancarkan memori, mata polos lumba-lumba percik

bunga api peradaban. Saat aku kembali ke bumi, hewan
piara masih membawa sedih dan kelembutan leluhur.

3/9
Selain dua tiga titik lampu, malam telah diserahkan
kepada bulan. Seorang diri melangkah di atas pulau bulat,

mendengar soliter telah kuasai seluruh ruang, dan kau
juga mereka telah lama pergi, saat aku kembali ke bumi

4/9
Kita telah lama tidak di atas pantai beranak atau
bertelur, namun hingga kini tubuh masih wariskan

laut purba, dan laut hanya atmosfer terlalu biru, terlalu
kental, nyanyian menyebar jauh, selamanya tidak mengendap

5/9
Seringkali ada organ dalam palung laut dihempas ke pantai
jemur jadi bangkai hewan atau tumbuhan. Metabolisme

setiap saat planet ini, adalah makhluk raksasa nan lembut
46 miliar tahun menjilat garis pantai seluruh dunia

6/9
Dan aku demikian mencintaimu, demikian tubuh dan androgen
terus berevolusi, demi satu keindahan, laksana ubur-ubur

kembang-kempis tubuh purba resonansi kebahagiaan
yang sunyi, demikian mencintaimu, tembus cahaya, getaran cair

7/9
Pakis adalah pribumi planet ini, ketika spesies punah melankoli
melangkah lewat di depannya. Aku selalu merasa dia telah

deposit sesuatu, saksikan sesuatu, setiap lembar daun
berpijar lembab dan dingin, dunia bagai sebiji bola kristal

8/9
Saat aku kembali ke bumi, peradaban telah lama tutup pintu
lapisan es kutub koyak, genangan jalan memantul cahaya bintang

Perpustakaan kuyup berbukit bubur kertas, pengetahuan
muai dan lembek, aksara lumer ke dalam nyanyian paus biru

9/9
Kuduga kereta terakhir akan abadi berhenti di kutub, bangun
aku menguap di stasiun tropis remuk, sisa sekolam teratai ungu

di bumi soliter aku duduk di garis khatulistiwa, andai peradaban
manusia hanya bisa catat selembar, aku mesti menulis  apa buatmu

Yang Sesat dan Yang Ngamuk

Oleh A. Mustofa Bisri

kekerasan-atas-nama-agama
Gambar diunduh dari indonesian.irib.ir

Karena melihat sepotong, tidak sejak awal, saya mengira massa yang ditayangkan TV itu adalah orang-orang yang sedang kesurupan masal. Soalnya, mereka seperti kalap. Ternyata, menurut istri saya yang menonton tayangan berita sejak awal, mereka itu adalah orang-orang yang ngamuk terhadap kelompok Ahmadiyah yang dinyatakan sesat oleh MUI.

Saya sendiri tidak mengerti kenapa orang -yang dinyatakan- sesat harus diamuk seperti itu? Ibaratnya, ada orang Semarang bertujuan ke Jakarta, tapi ternyata tersesat ke Surabaya, masak kita -yang tahu bahwa orang itu sesat- menempelenginya. Aneh dan lucu.

Konon orang-orang yang ngamuk itu adalah orang-orang Indonesia yang beragama Islam. Artinya, orang-orang yang berketuhanan Allah Yang Mahaesa dan berkemanusiaan adil dan beradab. Kita lihat imam-imam mereka yang beragitasi dengan garang di layar kaca itu kebanyakan mengenakan busana Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Kalau benar mereka orang-orang Islam pengikut Nabi Muhammad SAW, mengapa mereka tampil begitu sangar, mirip preman? Seolah-olah mereka tidak mengenal pemimpin agung mereka, Rasulullah SAW.

Kalau massa yang hanya makmum, itu masih bisa dimengerti. Mereka hanyalah mengikuti telunjuk imam-imam mereka. Tapi, masak imam-imam -yang mengaku pembela Islam itu- tidak mengerti misi dan ciri Islam yang rahmatan lil ’aalamiin, tidak hanya rahmatan lithaaifah makhshuushah (golongan sendiri). Masak mereka tidak tahu bahwa pemimpin agung Islam, Rasulullah SAW, adalah pemimpin yang akhlaknya paling mulia dan diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Masak mereka tidak pernah membaca, misalnya ayat “Ya ayyuhalladziina aamanuu kuunuu qawwamiina lillah syuhadaa-a bilqisthi…al-aayah” (Q. 5: 8). Artinya, wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu penegak-penegak kebenaran karena Allah dan saksi-saksi yang adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum menyeret kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah; adil itu lebih dekat kepada takwa. Takwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kau kerjakan.

Apakah mereka tidak pernah membaca kelembutan dan kelapangdadaan Nabi Muhammad SAW atau membaca firman Allah kepada beliau, “Fabimaa rahmatin minaLlahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhal qalbi lanfaddhuu min haulika… al-aayah” (Q. 3: 159). Artinya, maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berperangai lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau kasar dan berhati kejam, niscaya mereka akan lari menjauhimu…”

Tak Mengerti

Sungguh saya tidak mengerti jalan pikiran atau apa yang merasuki pikiran mereka sehingga mereka tidak mampu bersikap tawaduk penuh pengayoman seperti dicontoh-ajarkan Rasulullah SAW di saat menang. Atau, sekadar membayangkan bagaimana seandainya mereka yang merupakan pihak minoritas (kalah) dan kelompok yang mereka hujat berlebihan itu mayoritas (menang).

Sebagai kelompok mayoritas, mereka tampak sekali -seperti kata orang Jawa- tidak tepa salira. Apakah mereka mengira bahwa Allah senang dengan orang-orang yang tidak tepo saliro, tidak menenggang rasa? Yang jelas Allah, menurut Rasul-Nya, tidak akan merahmati mereka yang tidak berbelas kasihan kepada orang.

Saya heran mengapa ada -atau malah tidak sedikit- orang yang sudah dianggap atau menganggap diri pemimpin bahkan pembela Islam, tapi berperilaku kasar dan pemarah. Tidak mencontoh kearifan dan kelembutan Sang Rasul, pembawa Islam itu sendiri. Mereka malah mencontoh dan menyugesti kebencian terhadap mereka yang dianggap sesat.

Apakah mereka ingin meniadakan ayat dakwah? Ataukah, mereka memahami dakwah sebagai hanya ajakan kepada mereka yang tidak sesat saja?

Atau? Kelihatannya kok tidak mungkin kalau mereka sengaja berniat membantu menciptakan citra Islam sebagai agama yang kejam dan ganas seperti yang diinginkan orang-orang bodoh di luar sana. Tapi…

KH A. Mustofa Bisri, pengasuh Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang

Sumber: Jawa Pos

Indonesia Harus Menonton Film Ini: The Act Of Killing

Resensi Film – M. Jojo Raharjo

the jagalFilm dibuka dengan pemandangan kota Medan. Nampak suasana sebuah sudut jalan raya. Di beberapa adegan, kamera diam tak bergerak, seperti seseorang yang diam terpaku menatap jalan yang di dalamnya ada kehidupan yang bergerak. Pemandangan berganti dengan sebuah papan reklame besar. Di sini juga diam, kamera  tak menoleh ke mana pun, kecuali ke satu arah. Adegan ini seperti mengajak saya membayangkan, seperti apa tempat ini di masa lalu.

 Flm ini berkisah mengenai pengakuan beberapa orang yang telah menjadi eksekutor untuk menghabisi orang-orang yang disebut PKI di tahun 1965-1966. Para eksekutor itu hingga sekarang masih hidup, sehat dan bugar serta hidup sejahtera.

 Film ini tidak beredar secara bebas, untuk keselamatan para pembuatnya. Pemutarannya diatur oleh para pembuat film ini yang kebanyakan nama mereka ditulis sebagai anonymous dalam credit titlenya, kecuali produser dan sutradaranya yang ditulis sebagaimana adanya, Joshua Oppenheimer. Setelah pemutaran perdananya di Canada pada bulan Oktober tahun 2012, film ini memang menghasilkan kontroversi dan bahkan membuat beberapa orang menjadi terganggu, terutama yang menjadi pelaku dan juga sederetan master mind dari peristiwa pembantaian PKI di masa itu. Film ini hingga kini terus diputar di kalangan terbatas untuk menghasilkan wacana yang semakin luas terutama di Internet dan social media. Para pembuatnya berharap suatu waktu film ini diharapkan menjadi film yang “bebas” diputar di mana saja.

Anwar Congo, sebagaimana pengakuannya sendiri di dalam film ini, dan beberapa kawannya dulu saat muda, mungkin di awal umur 20-an, bekerja sebagai calo karcis bioskop di kota Medan. Anwar sangat menggemari film-film Holywood, seperti jenis cowboy dan mafia. Kegemarannya itu masih tampak di umurnya sekarang yang saya perkirakan di atas 70 tahunan, karena Anwar gemar menggunakan western suit lengkap dan sepatu kulit mengkilap serta topi ala mafia Amerika di tahun 30 hingga 60-an. Anwar bahkan masih lincah menarikan tarian Cha-cha-cha. Saat menjadi calo karcis bioskop itu Anwar muda sangat diuntungkan dengan film Amerika. Namun ketika PKI semakin berkuasa dan semakin menempati berbagai posisi strategis di pemerintahan Sukarno, film Holywood kemudian dilarang diputar. Padahal film itu yang paling laris ditonton dan membuat kantong Anwar dan kawan-kawan menjadi selalu tebal. Itulah yang membuat Anwar dan kawan-kawan termotivasi menerima pekerjaan untuk menghabisi orang-orang PKI dan Cina setelah peristiwa G30S PKI terjadi. Dalam film ini tidak digambarkan dengan tegas siapa yang memberi order atau pekerjaan itu kepada Anwar dan kawan-kawan.

Joshua mungkin harus disebut hebat, karena ia mampu menggiring Anwar dan kawan-kawan untuk berkisah mengenai apa yang dilakukannya pada orang-orang PKI dan Cina di masa lalunya. Kisah mengerikan itu termasuk bagaimana ia menggunakan cara yang menurut Anwar lebih “manusiawi” dalam menghabisi orang-orang yang disebut penghianat oleh Anwar dan kawan-kawan, yaitu dengan kawat sebagaimana ia saksikan di dalam beberapa film Holywood kegemarannya. Joshua bahkan mampu merekam sedikit kisah tentang Pemuda Pancasila di Medan sejak masa PKI itu dan sekarang. Bahkan hubungan Anwar dengan beberapa pejabat pemerintahan di Sumatra Utara, seperti gubernur Syamsul Arifin yang baru-baru ini dijatuhi hukuman penjara 6 tahun karena menyelewengkan dana bantuan sosial.

Joshua dalam pembuatan film ini yang dimulai sejak tahun 2005 lalu itu telah menggiring Anwar dan kawan-kawan untuk mendokumentasikan kisah atau pikiran mereka tentang pembantaian itu dengan sangat polos. Padahal pengakuan itu bisa menjadi bumerang bagi mereka. Joshua di dalam official web-nya (http://theactofkilling.com) menyebut seperti di bawah ini, bahwa mereka digiring pada sebuah harapan untuk membuat sebuah film fiksi berjudul “Arsan dan Aminah” yang ditulis sendiri oleh Anwar dan kawan-kawan dan bahkan mereka membintanginya sendiri film itu yang berkisah tentang kiprah Anwar dan kawan-kawan di seputar pemberantasan PKI di tahun 1965-1966. Namun Joshua ternyata juga mendokumentasikan proses pembuatan film fiksi itu, yang di dalamnya kaya dengan pernyataan dan kisah mengerikan yang tak terbayangkan oleh kebanyakan orang:

In The Act of Killing, Anwar and his friends agree to tell us the story of the killings. But their idea of being in a movie is not to provide testimony for a documentary: they want to star in the kind of films they most love from their days scalping tickets at the cinemas. We seize this opportunity to expose how a regime that was founded on crimes against humanity, yet has never been held accountable, would project itself into history.

And so we challenge Anwar and his friends to develop fiction scenes about their experience of the killings, adapted to their favorite film genres – gangster, western, musical. They write the scripts. They play themselves. And they play their victims.

Anwar kemudian menyebut Joshua menipunya, karena ia tak pernah melihat hasil dari film fiksi yang dibintangi dan ditulisnya sendiri itu. Namun Joshua malah menghasilkan film dokumenter tentang pembuatan film fiksi itu yang diberi judul oleh Joshua: The Act of Killing yang bahkan sudah diputar di festival film internasional, di Toronto Canada pada Oktober 2012 lalu.

Ya, film ini adalah film tentang pengakuan polos beberapa orang yang telah menghabisi nyawa orang-orang PKI dan Cina di Medan di masa 1965-1966. Film yang layak tonton untuk merenungkan mengapa orang biasa begitu mudah untuk direkayasa untuk menjadi eksekutor yang “efisien”. Bagian akhir film ini menjadi menarik untuk direnungkan juga, karena ada drama perubahan watak Anwar, sang eksekutor, yang mulai merasa bersalah.

Apa yang sebenarnya terjadi di masa itu? Pertanyaan seperti ini sebenarnya sudah lama bergaung, namun semakin besar bergaung setelah menonton film ini. Indonesia harus menonton film ini, karena Indonesia harus mengenali sejarah kelamnya sendiri jika ingin melangkah maju ke masa depan yang lebih baik.  Ini mungkin film yang akan memicu film selanjutnya seputar pengungkapan berbagai peristiwa di tahun 1965-1966.

Ini memang film yang mendokumentasikan pengakuan para eksekutor itu. Cara mendokumentasikannya sangat cerdas. Tidak ada adegan yang sadis, tapi membayangkan apa yang terjadi di tahun 1965-1966 itu sangat mengganggu sekali. Saya menjadi mual. Para eksekutor di Medan itu kebetulan adalah satu kelompok preman (seperti yang diakui sendiri oleh Anwar dan kawan-kawan, bahwa mereka memang preman) yang kemudian direkayasa dengan sangat berhasil menjadi eksekutor yang “efisien”. Para eksekutor di Indonesia tahun 1965-1966 memang bukan hanya preman tapi ada beberapa macam kelompok masyarakat yang lain, seperti misalnya di Jawa Timur adalah para santri. Namun film ini hanya mendokumentasikan pengakuan eksekutor di Medan dan yang dilakukan oleh preman.

Film ini ditutup dengan adegan yang absurd.  Anwar bersama dengan beberapa perempuan muda yang mengelilingi Anwar dan juga beberapa lelaki menari dengan tangan ke atas di sebuah tempat yang indah dan damai. Mereka nampak dalam keadaan bahagia. Di belakang mereka nampak sebuah air terjun. Angin meniup rambut dan pakaian mereka. Suasana terlihat begitu religius. Anwar menggunakan pakaian seperti kain yang diselempangkan ke tubuh secara sederhana. Begitu juga dengan pakaian beberapa perempuan muda lainnya di sekeliling Anwar. Mungkin maksud dari adegan ini adalah menggambarkan suasana di surga kelak sebagaimana yang mungkin diidamkan oleh Anwar. Kemudian salah seorang lelaki dari beberapa lelaki yang juga berpakaian sederhana itu mengalungkan sebuah medalion ke leher Anwar sambil berkata (kira-kira begini, karena saya tak ingat persisnya: “Saya berterimakasih karena anda telah membantu saya untuk cepat dan mudah berada di surga ini”. Nampaknya Anwar berimaginasi, kelak ia masuk surga dan bahkan korban-korban yang dihabisinya malah berterimakasih, karena Anwar telah memberi jalan yang mudah dan cepat bagi mereka untuk ke surga. Absurd.

Sumber: FB M. Jojo Raharjo

Kopi Pagi Sri

Cerpen Imam Solikhi
Editor Ragil Koentjorodjati

Pagi. Kopi. Akhirnya aku bisa ngopi, meski dengan sembunyi-sembunyi. Ini adalah yang pertama kali di tahun ini. Karena sejak enam bulan yang lalu aku tidak bisa, dan tidak boleh meneguk kopi. Bukan hanya untuk dua bulan ke depan saja, tapi mungkin untuk selamanya, tidak ada kopi.

wanita kopi
Foto A cup of coffee by Elicice

Kopi, selalu identik dengan laki-laki. Kopi ditanam tidak untuk seorang perempuan. Khususnya di desa Guwalan. Lebih lagi, tidak untuk perempuan yang sedang mengandung 8 bulan. Dan yang lebih khusus dari semua itu, adalah aku. Sri. Perempuan yang pernah tinggal berbulan-bulan di rahim istri dari Pak Supri. Perempuan pecandu kopi, semenjak empat tahun waktu yang terlewati. Semenjak SMP kelas 3, atau semenjak aku mengenal cinta. Juga semenjak aku mengetahui fungsi kedua dari vagina.

Pagi ini, benar-benar sunyi. Benar-benar sepi. Bahkan kesunyian pun merasakan kesepian, dan kesepian pun merasakan kesunyian. Saat-saat seperti ini, aku sangat merindukan sebuah situasi yang biasa kusebut “sendiri”. Sendiri secara jiwa, maupun raga. Aku memang suka menyendiri. Persis seperti saat aku meringkuk di dalam rahim istri dari Pak Supri. Kini aku duduk di kursi dekat jendela kamar selebar seratus senti, meminum kopi yang sudah enam bulan tak kunikmati, dan yang lebih penting lagi, kini aku sendiri.

Daun-daun sudah nyaris sempurna menghijau kembali. Burung-burung kembali bercericit merayakan lepasnya musim kemarau. Bau tanah yang khas berulang kali merasuk ke dalam rongga hidungku. Langit pagi terkesan sendu, setelah tiga hari lamanya hujan menyapa desaku. Kulihat jarum pendek masih berkutat di angka tujuh. Itu artinya masih ada waktu sekitar empat jam sebelum aku kembali bertemu dengan orang-orang yang tertulis dalam KK sebagai keluargaku. Mereka yang bernama Pak Supri dan istrinya-yang kupanggil ibu-serta Dadang yang ditakdirkan sebagai pamanku. Mereka yang sekitar empat jam lagi akan kembali dari Kutu Wetan, setelah mereka merasa puas menyaksikan saudara mereka-saudaraku juga-melahirkan. Mungkin beberapa hari kemudian, mereka akan kembali menyaksikan. Kelahiran. Mungkin tak lama lagi aku juga akan merasakan sebagai salah satu tokoh utama dalam prosesi kelahiran. Meski masih sekitar satu bulan, tapi bisa kutebak itu akan terasa mendebarkan. Sama mendebarkannya ketika sekitar empat jam lagi mereka akan kembali. Lalu mengganggu waktuku untuk sendiri. Kembali memberikan perhatian dan bantuan yang nihil ekspresi. Kasih sayang yang tak berinduk dari hati.

“Tok.. Tok.. Tok..” suara pintu diketok. Sebisa mungkin aku segera bergegas merapikan gelas yang masih tersisa seperempat kopi hitam. Lalu sambil berusaha segera secepat mungkin menuju sumber suara yang berulang kali mengucapkan salam. Rasanya sangat sulit, berjalan dengan tubuh ringkihku ini yang kini dibalut perut yang kian membuncit.

“Ya, sebentar!” jawabku dengan sedikit berteriak. Jarak antara kamarku dan pintu depan terasa lebih jauh ketimbang saat beberapa bulan yang lalu. Perut dan tulangku terasa ngilu. Ditambah lagi kakiku pincang yang sebelah kiri. Bukan karena cacat, tapi kata orang-orang ini disebut gawan bayi. Punggung kaki kiriku telah lama membengkak. Jika tersentuh sedikit saja aku bisa teriak-teriak.

“Ada apa Bulik?” tanyaku pada orang yang mengetok pintu tadi, yang ternyata adalah Bulik Karmi. Tetanggaku. Tetangga yang kerap membantuku dengan kadar ikhlas yang lebih baik dari keluargaku.

“Bapak ibukmu belum pulang to Nduk?”

“Belum Bulik, nanti siang katanya…”

Oalah… Kamu sudah sarapan Nduk?” tanyanya dengan wajah terlihat khawatir.

“Belum bulik, nanti siang sekalian saja..”

Tanpa menunggu hitungan detik sampai ke delapan, Bulik Karmi langsung meninggalkanku sendirian. Di umurnya yang ke-54, jalannya masih terbilang cepat. Jariknya sudah terlihat lusuh, begitu pula dengan bajunya yang terlihat kumuh. Dari belakang terlihat jariknya yang dipenuhi tanah liat. Sudah pasti dia baru pulang dari sawah yang nyaris setiap hari ia datangi selepas salat. Tubuhnya kini lenyap ditelan rumahnya yang gelap. Aku memutar badan untuk kembali masuk. Tak lama, pintu kembali diketuk. Bulik Karmi datang membawa nasi pecel dan kerupuk. Aku tersenyum. Tapi tetap kalah manis dengan Bulik Karmi yang juga ikut tersenyum. Menyejukkan. Seperti tanah kering yang terkena hujan semalaman.

***

Pagi. Entah tinggal berapa pagi lagi aku masih bisa mengelus-elus perut buncitku ini. Memang semenjak beberapa bulan yang lalu, aku memiliki hobi baru. Mengelus-elus perut buncitku ini. Setiap hari, olehku sendiri. Kalau bukan aku sendiri yang mengelus-elus perutku sendiri, lantas siapa lagi? Tak akan ada yang sudi. Yang ada malah pandangan sinis dari orang-orang saat melihatku mengelus perut buncit ini sambil senyum-senyum sendiri. Keluargaku? Jangankan mengelus-elus, tidak membenci perut buncitku ini saja aku pasti sudah sujud syukur pada Gustiku.

Entah sudah elusan ke berapa. Entah sudah seberapa jauh lamunanku melanglang buana. Aku masih sering melamunkan bagaimana bentuk wujud dari janin yang selama ini hidup dalam perutku. Tapi semuanya terasa semu. Semu karena segala perasaan yang bercampur. Semu karena kebahagiaan dan ketakutan yang kian hari kian membaur. Bukan takut karena aku mungkin saja mati saat melahirkan, tapi ketakutan ini bermuara pada sebuah jawaban yang tak kunjung kutemukan. Kelak, ketika manusia yang saat ini masih dalam kandungan ini keluar dari rahimku. Kelak, ketika dia kerap menangis karena merindukan susu yang terkandung dalam payudaraku. Kelak, ketika dia sudah melepas statusnya sebagai balita. Kelak, ketika dia mulai menyadari bahwa ada yang berbeda dalam hidupnya. Kelak, ketika dia merasa asing melihat teman-teman sebayanya digendong atau dimarahi oleh seorang laki-laki yang ibunya sebut “bapaknya”. Dan kelak, ketika datanglah sebuah pertanyaan, “Ibuk, siapa bapak saya?”.

Mungkin aku ingin segera binasa sekarang juga. Detik ini juga. Sebelum ia keluar dari rahimku. Sebelum ia menyusu di payudaraku. Sebelum ia melepas statusnya menjadi balita dan mulai merasakan ada yang berbeda dalam hidupnya. Sebelum semuanya terjadi. Sebelum datangnya pertanyaan yang mengerikan ini. Dan jauh lebih dari itu semua, sebelum aku menjawabnya dengan terpaksa, “Bapakmu adalah pemerkosa…”.

***

Pagi. Jika saja aku bisa mengulang pagi-pagi yang sudah terlewati. Pasti aku akan kembali pada ratusan pagi sebelum ini. Sebelum perutku bisa sebesar ini. Sebelum Mas Karyo pergi ke Jakarta untuk yang pertama kali.

Dulu, atau 541 pagi yang lalu. Aku dan Mas Karyo adalah sebuah sinonim dari kata cinta sejati. Di mana kami adalah dua cucu Adam yang melewati kehidupan hanya berpedoman pada kata hati. Cinta. Terserah apapun namanya. Yang kutahu kami berdua satu hati, satu misi dan satu janji. Cukup sulit memang untuk menjelaskannya. Yang jelas, kami bahagia.

Mas Karyo adalah seorang pemuda yang berselisih umur sekitar 4 tahun denganku. Dia juga salah satu penghuni tanah desaku. Orangnya tidak terlalu tampan. Tapi tubuhnya yang kekar membuatnya terlihat menawan. Jelas dia sangat kuat, makanya orang-orang di desaku selalu mengandalkannya dalam urusan angkat-angkat. Mas Karyo dengan rambut cepaknya adalah sosok sempurna untuk dijadikan kuli bangunan. Sebuah pekerjaan yang ia geluti sejak berpuluh-puluh bulan.

Mas Karyo yang hanya tamatan SD adalah pemuda tersukses di desaku. Dia adalah salah satu dari segelintir pemuda yang mampu membeli sepeda onthel dan kebutuhan cerutunya dengan murni mengandalkan peluh yang keluar dari tubuhnya itu. Dia tidak seperti kebanyakan pemuda di desa Guwalan. Dia tidak suka minum-minuman, tidak suka berjudi sabung ayam, apalagi pergi ke tempat pelacuran. Sebaliknya, dia justru pandai mengaji dan menjadi muadzin tetap di langgar kami. Suaranya merdu, seperti burung Kutilang di pohon Randu. Tapi lupakan itu semua, bukan itu alasanku mencintainya. Sungguh, aku mencintainya tanpa alasan, tanpa tujuan. Hanya murni getaran jiwa yang tak terelakkan. Persis seperti yang sering ia ucapkan.

Dari Mas Karyo-lah aku mengenal cinta. Dan dari mas Karyo pula aku membenci Jakarta. Jakarta adalah tanah terkutuk yang lihai mengubah segalanya. Seperti sebuah mesin pendoktrin yang dapat mengubah siapapun yang berani datang ke sana.

Masih di pagi yang sama, masih di arah lamunan yang sama pula. Sudah sejuta kali lebih aku mencoba bersembunyi dari kenangan. Tapi perut buncit ini selalu hadir untuk kembali mengingatkan. Masa lalu yang belum lama berlalu, kembali hadir diantar lamunanku. Delapan belas bulan yang lalu tepatnya, ketika mas Karyo berpamitan padaku akan pergi ke Jakarta untuk bekerja. Hari itu hari Selasa. Tepat tiga hari setelah keluargaku menolak lamarannya. Bukan, ini bukan tentang masalah derajat ataupun masalah kekayaan. Ini semua hanya karena mitos konyol yang dipercayai orang-orang tolol. Hanya karena letak rumah kami, pernikahan ini selamanya mustahil akan terjadi. Di desa Guwalan, menikah dengan rute ngalor-ngulon (rumah pria berada di utara, sedangkan rumah wanita yang akan dinikahinya berada di barat) adalah sebuah pantangan. Orang-orang di desaku bilang, pernikahan ngalor-ngulon akan membawa musibah, perceraian bahkan kematian. Entah itu aturan macam apa, yang jelas aku sangat tidak mempercayainya. Tapi mau bagaimana lagi, banyak hal yang nyata-nyata menjadi bukti. Nyaris semua orang yang berani menentang adat ini, akhirnya percaya dan menyesali. Musibah, perceraian dan kematian benar terjadi di masing-masing keluarga yang berani menentang. Entah itu merupakan pembuktian, entah itu hanyalah kebetulan. Yang jelas, keluargaku memegang adat itu dengan tegas.

Mendengar alasan penolakan lamaran itu, mas Karyo tidak hanya diam menopang dagu. Dia pergi ke kota untuk belajar dan bekerja, dengan harapan pengalamannnya di sana dapat mengubah paradigma gila di desa Guwalan tempatku menunggu kepulangannya.

“Ya, kita sama-sama tahu, orang tuamu tak kan pernah memberi restu. Tapi kita juga sama-sama tahu mereka bukanlah Tuhan. Bukan sosok yang menentukan segala cerita kehidupan. Jika kau memiliki cinta yang sama, mari kita tiru Adam dan Hawa. Mereka tetap bisa menikah tanpa restu orang tua atau siapapun juga. Hanya lampu hijau dari Tuhan semata.” Katanya panjang mencoba meyakinkanku agar mau mengikutinya pergi ke Jakarta dan menikah di sana. Tapi tak satu pun kata yang terucap dari bibirku. Lidahku terasa kelu. Seperti sehabis mengunyah tujuh buah simalakama hingga tak tersisa.

“Baiklah, yang jelas semoga kita masih memiliki cinta yang sama. Aku akan pergi ke Jakarta. Aku akan merubah segalanya. Sri, tunggu kang mas kembali..” Ucapnya lirih, namun tegas. Sorot matanya tajam, namun di sana tersimpan sejuta harapan. Untukku, untuknya. Untuk kita. Sebuah kecupan manis mendarat di keningku, sebelum beberapa saat kemudian dia berlalu. Tubuhnya semakin menjauh, semakin mengecil. Lalu hilang di tikungan dekat bunga Kantil. Gemuruh di dadaku menggelegar menciptakan air bah yang keluar dari balik kelopak mataku. Ada banyak sekali kata yang tak terucapkan, lalu mereka menjelma menjadi tangisan.

Sembilan bulan kemudian, Mas Karyo kembali tiba di desa Guwalan. Sudah menjadi tebakan basi jika akulah manusia yang paling bahagia atas kedatangan mas Karyo kembali. Aku menantikan oleh-oleh yang dulu ia janjikan. Tentu saja itu adalah pembuktian dari segala harapan yang kutitipkan.

Sore itu, di pematang sawah di desaku. Aku dan Mas Karyo bertemu untuk mengadu rindu. Jarak dan waktu perlahan-lahan menjelma menjadi neraka yang siap menikamku dan mungkin menikam mas Karyo juga. Tatapan kami, genggaman tangan kami, seolah begitu kejam membalas dendam pada jarak dan waktu yang selama ini menjadi jurang-jurang kecil yang setiap saat mampu merobohkan kami. Ada milyaran rindu yang harus dibalaskan atas segala waktu yang terlewatkan.

“Lihat Sri, aku benarkan? Kini aku sudah berubah. Kita tinggal menunggu waktu agar aku dapat merubah pandangan orang-orang tentang mitos setan itu. Terutama orang tuamu. Kita akan menikah. Aku yakin itu!” itulah kalimat yang terucap dari bibir mas Karyo yang hanya berjarak 5 senti dari wajahku.

Jelas aku mempercayainya. Aku pun menyadari ada banyak yang berubah dari dalam dirinya. Mulai dari cara berpakaian, cara berbicara juga cara berpikirnya. Mungkin itulah hasil dari ia berguru pada pengalaman di kota Jakarta. Tapi, ada yang berbeda ketika Mas Karyo mengatakan cinta dengan matanya. Ucapannya yang sangat menyakinkan, entah mengapa justru malah melahirkan keraguan. Dari matanya kurasakan ia sangat berbeda. Benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Berawal dari sebuah ciuman, lalu berubah menjadi adu kekuatan, lalu berujung pada penyesalan. Mas Karyo benar, dia memang telah berubah. Aku digagahinya dengan paksa. Katanya, itulah yang disebut ekspresi cinta. Cinta orang kota begitu berbeda dengan cinta orang desa. Perasaan yang ia sebut cinta, kini kebal pada tangisanku, permohonanku dan gigitanku di lengannya. Badan kekarnya menindih tubuhku yang lemah. Ketulusan cintaku ditelan tubuhnya yang sedang bergairah. Aku meringis. Aku menangis. Hari ini untuk pertama kalinya dia nampak begitu bengis. Pikirannya sudah tak lagi mengkultuskan cinta, tapi mendewakan kepuasan hawa nafsunya. Ajaibnya, aku tetap saja mencintainya. Meski Mas Karyo yang dulu, telah lama mati di kota yang terkutuk itu. Yang ada kini Mas Karyo yang mengartikan cinta seperti seekor hewan melata.

Ya, aku tetap mencintainya. Sampai kapan pun juga. Itulah alasanku, mengapa tidak ada satu pun yang tahu bahwa Mas Karyo-lah sang pemerkosa itu. Sampai saat ini, aku tetap yakin untuk menyimpan rahasia itu sendiri. Dan memilih disebut pelacur, jalang, sundal atau hinaan macam apapun saja. Memilih untuk bersedia dibenci keluarga dan orang-orang desa. Dan juga, memilih untuk menjaga janin dalam kandungan ini dari sindirian siapa saja. Itu setara. Demi Mas Karyo agar tetap hidup dan bisa kembali meninggalkanku ke Jakarta. Demi Mas Karyo agar tidak merasakan bagaimana sakitnya ketika parang-parang warga dan celurit bapakku mendarat di sekujur tubuhnya. Agar aku tetap bisa mencintainya. Bagaimana pun juga, meskipun Mas Karyo adalah pemerkosa, adalah pencipta segala penderitaan yang selama ini kurasa, dia tetaplah orang yang selamanya ada dalam dada. Dalam dadaku, di mana kelak anaknya juga akan menyusu.

Aku memang tidak harus melakukan ini semua. Tapi, aku ingin melakukan ini semua. Hanya karena ingin. Aku yakin. Dan biarlah cinta ini seperti secangkir kopi. Meskipun selamanya orang tuaku dan orang-orang di desaku tak kan pernah memberkati, tapi tetap akan kunikmati. Meski hanya sekali-sekali. Meski dengan sembunyi-sembunyi.

Imam Solikhi, mahasiswa Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Beberapa karyanya telah dimuat Majalah Gradasi dan Ponorogo Pos. Aktif menulis di organisasi Himprobsi. Dapat dihubungi melalui surel imamessiah19@gmail.com.

24 Posisi Matahari (1)

Kolom John Kuan

☉冬至

——— cacing tanah memilin; rusa bersalin tanduk; mata air menetes

Semangkuk ronde. Tiga warna. Merah dan hijau isi kacang tanah, putih isi kacang merah. Ada wangi jahe, kenyal ketan, gurih kacang. Sedikit pedas, hangatkan tubuh di hari hujan. Setelah semangkuk ronde, kekuatan [ yin ] perlahan pupus, alam akan kembali memasuki suasana [ yang ]. Di malam dingin sering teringat berbagai macam sup. Saya periksa dapur, ada sepotong labu, dipotong dadu campur irisan bawang bombai, rosemary, kulit kayu manis, garam dan sedikit minyak sayur, direbus perlahan dengan api kecil, tambah sedikit susu, saat disajikan di atas meja tambah lagi sesendok keju Mascarpone. Demikian sudah semangkuk kuah labu yang membawa suasana kuning emas musim panas. Atau siapkan seekor ikan mas, dilumuri garam Himalaya dan diamkan sebentar lalu digoreng hingga harum, masukkan air didih, setelah itu ikan bersama kuah dituangkan ke dalam sup tahu, biarkan mereka perlahan menyatu di atas api kecil, tambah arak, jahe, daun bawang, takaran sesuai kata hati, pindahkan ke dalam periuk sapo, mengitarinya di bawah cahaya lampu sudah suatu kebahagiaan.

Sup selain hangatkan tubuh juga hangatkan persaudaraan yang mungkin telah renggang, dingin, membeku, atau retak, basi, dan lapuk. Dengan semangkuk sup kita bisa saling mengalirkan sedikit sorotan mata hangat, tegur sapa akrab, merapatkan hati, mencairkan hubungan yang telah beku, atau mungkin hatimu mendadak bergetar karena nama kecilmu tiba-tiba dipanggil setelah dua tiga puluh tahun tidak pernah terdengar lagi. Begini ceritanya, suatu kali Du Fu dan sekeluarga dalam pelarian, setelah menderita beberapa hari di hutan, suatu malam sampai di tempat seorang kawan lamanya, Sun Zai. Cara Sun Zai menyambut penyair kita adalah terlebih dahulu menyiapkan semangkuk sup ——— [ Sup hangat menyusup hingga ke ujung kakiku ] demikian penyair mencatat, hangat yang menyebar dari telapak kaki ke seluruh tubuh itu, menghilangkan letih, menggetarkan hati puisi, selamanya dikenang penyair.

Semua sup selalu di malam dingin di bawah sebuah lampu mengepul uap panas, adalah sebuah tegur sapa lembut ribuan tahun, embun beku dan salju musim dingin tiga ribu tahun di bawah telapak kaki.

 

☉小寒

——— angsa liar mudik utara; kucica mulai bikin sarang; ayam hutan saling bersahut

Tertidur di dalam suara hujan. Saat bangun pagi cerah. Sekelompok pipit berkelakar di luar jendela, terbang berputar saling mengejar, dengan tepat dan serentak terbang ke segala arah menyelidik. Tiba-tiba mendarat di atas rumput di bawah pohon mencari makanan. Saya duduk hadap jendela memperhatikan mereka, memperhatikan mereka seperti beberapa waktu lalu di negeri lain. Juga suatu pagi yang cerah, seluruh pekarangan dan jalan telah tertutup salju, mereka juga dengan riang terbang dan saling mengejar, kadang-kadang juga berputar ke halaman belakang yang penuh bertaburan buah-buah apel yang jatuh di musim gugur, hari itu satu per satu mencuat setelah salju mulai mencair, pipit bergiliran mematuk, tidak sampai sehari sudah bersih. Langit amat benderang. Jendela tercetak pantulan matahari. Saya masuk ke ruang tengah, sesekali terdengar bunyi benturan keras, itu adalah pipit menabrak kaca jendela. Setelah mendengar satu benturan sangat keras, saya periksa ke depan, jendela telah menempel dua helai bulu abu-abu dan setetes darah, buka pintu keluar melihat, seekor burung jatuh di samping rumah, sayapnya bergerak sedikit, ternyata sudah mati.

Saya gali satu lobang kecil di bawah pohon pinus, angkat burung itu dengan sebuah sekop kecil, bersiap-siap menguburnya. Seorang anak lelaki tetangga berdiri di sisiku memperhatikan, ada semacam sedih atau iba di matanya. Dia berkata: [ Mata pipit sudah mengatup ] Lalu bertanya: [ Mengapa mesti menguburnya? ]

[ Ia sudah mati, sebaiknya memang dikubur ]

[ Lalu setelah dikubur? ]

[ Setelah dikubur? ] Saya berkata: [ Tahun depan dia akan terbang kembali ]

[ Oh ——— tahun depan pipit akan terbang kembali ]

 

☉大寒

——— induk ayam mengeram; elang lincah berburu; sungai beku ke dasar

Sebelum gelap mesti periksa pemanas. Satu musim dingin itu saya hampir lewati sendiri di Brooklyn. Pemanas sering tidak berfungsi, tetapi malam itu pemanas bekerja sempurna, seluruh ruangan ada semacam bau kain disetrika. Duduk membaca, setumpuk koran golongan kiri, setumpuk golongan kanan, saya terbakar sendiri digosok ke dua tumpuk kertas dingin itu. Menjelang dinihari, salju turun lagi.

Waktu itu saya sedang menyelesaikan sebuah tulisan, sebentar tulis sebentar edit, setiap malam, dari meja tulis melihat ke luar, melihat salju turun lagi, gelisah dan putus asa ——— namun pemandangan salju di malam hening sesungguhnya sangat memukau, kadang berdiri di depan jendela menatap, agak lama, setelah merasa seluruh ruangan seolah dingin kembali, baru bergegas ke arah pemanas memeriksa, kemudian membenamkan kepala ke dalam tumpukan kertas lagi. Sering tidur terlambat, bangun juga terlambat, tetapi tidak begitu peduli, saya seperti terperangkap di dalam suatu kurun waktu yang sangat tua. Bahan yang saya pelajari adalah puisi-puisi klasik yang setidaknya sudah berumur dua ribu tiga ratus tahun sampai tiga ribu tahun, himne, drama, heroisme, epik, definisi terhadap ketidak-beradaban, simbol, parabel, coba menyatukan berbagai kerangka pikiran, coba menyelidik gaya dan warna Cina Kuno, namun bolak-balik yang muncul di benakku adalah Dante, Shakespeare, Cicero, Aristoteles, Boccaccio, Eliot, Plato dan Yeats

Saya coba merangkai beberapa kerangka pikiran, mengarang sebuah buku, namun buku ini mesti lain daripada yang lain. Yeats pernah menulis sebuah puisi:

 

Because I seek an image, not a book

Those men that in their writing are most wise

Own nothing but their blind, stupefied hearts

I call to the mysterious one who yet

Shall walk the wet sands by the edge of the stream

( Ego Dominus Tuus )

 

Setelah salju leleh, saya bangun dari mimpi, sekelompok pipit terbang berputar di luar jendela, bercericit riuh rendah, menguasai pagiku yang setengah terjaga. Saya teringat orang-orang yang begitu serius dengan sastra sebagai tumpuan cita-cita ——— ataupun dengan cita-cita ingin membentuk kembali roh sastra, terpikir orang-orang ini di dalam hari-hari yang perlahan melemah dan muram, pada sebuah jaman yang segalanya begitu deras terlupakan, serius mengarang sebuah buku, mengejar, namun yang dikejar bukan buku, hanya beberapa citra.

 

☉立春

——— angin timur melepas beku; serangga telah keluar sarang; ikan mengibas es terapung

Sisa-sisa salju jatuh dari ujung ranting ceri hitam.

Air genangan di bawah sorotan matahari memantul berbagai bentuk awan. Kali terakhir salju meleleh, sesungguhnya musim semi sudah agak terlambat datang, tiba-tiba di saat saya masih setengah sadar akan peralihan musim, daun-daun muda yang kurang lebih sekecil pangkal jarum telah memenuhi ranting-ranting gemuk, anggun, lincah, serasi.

Dedaunan tumbuh pesat, setelah ditinggal beberapa hari, bagian ceri hitam yang menghadap ke arahku telah merentang berlapis-lapis jala hijau. Di dalam ini mungkin saja mengandung suatu isyarat atau filsafat, namun saya tidak ingin menyelidik. Di saat dedauan masih belum sepenuhnya tumbuh sempurna, ceri hitam ini seolah di ujung ranting-rantingnya telah berbunga ——— seolah saja, seolah juga belum pasti. Cuaca kadang hangat kadang dingin, kadang di belakang hujan deras menyorot cahaya matahari, dari tengah danau memanjat selengkung bianglala menakjubkan, bagai irama musik yang berlapis-lapis mendaki, bagai Appassionata Beethoven, membuat hati seketika bergetar. Getaran hati yang demikian bersahaja, kembali ke jaman Romantis yang sederhana dan jelas, di petang yang sekejap, pelangi tinggi-tinggi melampaui pucuk ceri hitam, dua ujungnya melengkung di utara dan selatan.

Kadang hujan beku, kadang cuma angin.

 

☉雨水

——— berang-berang saji ikan; angsa liar telah tiba; rumput pohon pecah kecambah

Hari itu saya berdiri di mulut jendela menjawab telepon, sudah tidak bisa ingat apa yang diutarakan lawan bicara, mungkin tentang ketulusan dan kemunafikan, hubungan-hubungan yang payah. Mata saya memandang pohon ceri hitam dan sekitarnya, sedikit bosan mengikuti pembicaraannya. Tiba-tiba di luar jendela melayang bintik-bintik putih, ringan melintas, jatuh. Saya kaget memutuskan topik bicara: [ Turun salju ——— ] Lawan bicara berkata mungkin saya terlalu lelah dan mengalami halusinasi, ini bukan cuaca buat turun salju. Salah musim. Saya tidak ingin berdebat, memusatkan perhatian pada salju tipis yang melayang jatuh, seketika tidak tahu apa yang diucapkan lawan bicara, hanya mendengar sehamparan gaung, bagai panggilan kucing tengah malam yang tidak ingin beranjak di atas atap orang. Salju tipis pelan dan ringan menari di udara, saya berpikir. Kemudian saya berpikir lagi: Tidak mungkin, ini bukan salju, ini adalah di pangkal musim semi angin sepoi meniup jatuh serpihan bunga di ujung ranting ceri hitam, begitu mungil, begitu menakjubkan, tetapi bukan salju. Saya membiarkan kawan menyelesaikan pembicaraannya, sebelum menutup telepon saya mengulang sekali lagi [ Turun salju ], sekalipun sudah bisa memastikan itu bukan salju. Di antara kenyataan dan imajinasi selalu adalah kesia-siaan, apalagi ceri hitam sedang dengan sepenuh daya melepaskan seluruh kemewahannya, terus-menerus, membiarkan seluruh kemewahannya lepas jatuh.

Ketika cahaya matahari silau menyorot, seluruh dedaunan ceri hitam telah tumbuh sempurna, kekuatan daya hidup yang demikian jelas berlapis-lapis menunjuk ke atas, rupanya memang seperti harapan saya, samasekali tidak segan, bahkan telah menyebar ke dalam udara sekeliling. Bayangnya yang hitam pekat dilempar ke atas bumi, memanjang bergerak mengikuti matahari, pelan-pelan menuju ke tengah lapangan rumput. [ Apa itu? ] Mungkin mereka akan demikian bertanya padaku, dan saya tidak pernah merasa bosan. Saya akan berkata adalah sebatang ceri hitam: gugur daun, berkecambah, tumbuh bunga, dan akan mekar penuh, menunggu musim panas tiba.

☉驚蟄

——— persik berbunga; kepodang nyanyi; elang menjelma kangkok

Mendengar seorang ekonom ceramah teori-teori dasar ekonomi. Dia dengan penuh percaya diri berujar: Semua perilaku di dunia ini dapat dijelaskan dengan ilmu ekonomi. Misalnya, kita setiap hari pergi dan pulang, hampir selalu mengambil jalan yang sama, ini adalah karena kita ingin menghindari resiko yang akan ditimbulkan oleh ketidak-tahuan kita terhadap jalan yang lain, juga modal waktu dan pikiran yang mesti kita habiskan buat menyelidik sepotong jalan baru. Tiba-tiba saya merasa tercerahkan, berkata di dalam hati, sebab itu kita perlu penyair, sebab itu kita perlu Robert Frost.

Saya sering menyesatkan diri, dalam arti yang sesungguhnya; sering memilih jalan yang tidak saya kenal, sengaja pergi memikul [ resiko ] yang paling ditakuti ahli ekonomi, atau dengan mewah memboroskan [ modal ] yang begitu mereka peduli, sebab itu saya bagai seorang hartawan, bisa menikmati kemewahan dunia, dan tidak perlu melotot neraca untung rugi. Dengan demikian kotak-kotak semen juga bisa tampak lebih bergairah, tembok-tembok tua yang digerogoti jamur juga bisa memberi keriangan sekutum bunga kecil yang menyelip di garis usianya, apalagi di tengah jalan bisa bertemu sebatang pohon yang berusia ratusan tahun, atau mendengar dari jendela tertentu mengalir keluar dentingan piano, itu tentu sebuah rezeki nomplok, dapat durian runtuh, apalagi mau berhenti sejenak, angkat kepala, memandang cahaya merah jingga di ufuk barat, itu adalah selapis keriangan yang lebih dalam, dan musim semi telah merayap di sana.

 

☉春分

——— burung layang-layang kembali; langit gemuruh; petir bersahut

Pendaki gunung kebanyakan sangat senyap. Jalan gunung sempit sekali, tidak ada kesempatan berpapasan dengan orang lain. Di dalam perjalanan yang monoton, pelan dan panjang, selangkah selangkah, memikul beban, juga demi menghemat tenaga, tidak sudi bicara.

Terakhir, hanya terdengar nafas sendiri, teratur dan berat, membuktikan diri mampu memikul beban berjalan jauh, dan perjalanan pun terus berlanjut.

Di dalam gunung, setelah lelah berjalan, bisa duduk; tas punggung yang berat dilepas, taruh di satu sisi, bagai sebongkah batu. Sendiri juga duduk di sisi lain tidak bergerak, juga bagai sebongkah batu.

Pendaki gunung selamanya tidak pernah mengejutkan gunung. Mereka seolah memang bebatuan di sini, cuma perlu melangkah pulang, cari posisi sendiri.

Keculai saya.

 

☉清明

———  poulownia merekah; tikus sawah balik sarang; bianglala tampak

 

Kau sudah lama tahu

Gunung adalah tuan sungai adalah tuan

Kau datang kau pergi

Kau adalah tamu

 

Bunga paulownia masih di ujung ranting sayap musim semi dihujan diangin

 

Kau sudah lama tahu sudah lama tahu

Angin adalah tuan hujan juga

Kau tidur kau bangun

Kau adalah tamu

 

Dibujuk angin dibisik hujan tabur sepinggang gunung

Kupu-kupu bergaris putih

Buih bintang percikan sungai di bahu jalan bukankah kau itu

Ah bunga paulownia

 

☉穀雨

——— kiambang tumbuh; kangkok mengepak sayap; burung hud hud di dahan murbei

Sampai di bawah kaki gunung Hua Shan.

Awal bulan april, musim yang aneh. Saya seolah mengikuti jejak sastra atau ingatan purba sampai di sini, tidak ingin menelusuri. Sejak Dinasti Qin dan Han, banyak sekali alusi di dalam sastra klasik yang berhubungan dengan Hua Shan. Konon di era Qin Mu Gong ( 659 SM – 621 SM ), ada seorang musikus muda bernama Xiao Shi, suka meniup seruling di atas Hua Shan. Puteri Qin Mu Gong, Nong Yu jatuh hati padanya, puteri raja ini tidak peduli ayahnya tidak setuju, melepaskan semua kemewahan, bersusah payah, mendaki gunung mencari Xiao Shi, hingga kini di atas gunung masih ada tempat mereka main musik mengundang datang burung hong: Panggung Perindu Burung Hong.

Di ujung Dinasti Tang yang penuh gejolak sosial, cendekiawan terkenal Chen Bo undur diri menetap di Hua Shan. Zhao Kuangyin setelah mendirikan Dinasti Song, ingin mengajak Chen Bo menjadi pejabatnya, Chen Bo hindar bertemu, menolak surat perintah. Di puncak selatan Hua Shan ada satu tebing curam, diberi nama: Tebing Hindar Surat Perintah.

Kalangan rakyat sangat menyukai Chen Bo, dianggap sebagai dewa, memanggilnya [ Laozhu ]. Kalangan rakyat juga percaya terakhir Zhao Kuangyin sendiri mendaki ke atas gunung, ingin memaksa Chen Bo menjadi pejabatnya. Chen Bo mengajaknya main catur, berkata: ” Kau menang, aku turun gunung menjadi pejabat, aku menang, serahkan Hua Shan kepadaku ” Sekarang di puncak timur Hua Shan ada satu tempat diberi nama [ Pavilun Taruhan Catur ], konon ini adalah tempat Chen Bo memenangkan percaturan itu. Cerita rakyat jangan ditelan bulat-bulat, namun berdiri di Pavilun Taruhan Catur memandang gunung dan sungai, sangat membuka wawasan. Zhao Kuangyin kalah taruhan, turun gunung jadi kaisar, dan Hua Shan menyimpan watak dan kebesaran hati yang tidak mampu diatur penguasa.

Saya sampai di kaki gunung, angkat kepala lihat, gunung besar tinggi menjulang, tidak tahu mesti dari mana mulai mendaki, tiba-tiba teringat Nong Yu, tidak tahu ketika dia sampai di kaki gunung, apakah seperti saya, menarik senafas udara dingin, berpikir ingin balik badan? Waktu itu tidak ada seorang pun setuju Nong Yu ke atas gunung mengejar cintanya. Saya juga teringat Chen Bo, tidak tahu buat apa dia mesti bersikeras menetap di atas gunung.

☉立夏

——— orong-orong menyerit; cacing tanah keluar; batang labu merambat

Menginap di Hancheng. Sendiri. Tengah malam bangun membaca [ Kitab Sejarah – 史記 ], terasa di dalam udara dingin bertebaran roh Sima Qian. Tanpa [ Kitab Sejarah ], tidak tahu catatan sejarah manusia akan kurang berapa kisah? akan kurang berapa tokoh? Jing Ke, Qu Yuan, Xiang Yu, Zhuo Wenjun, Yu Rang. Juga tukang cuci baju yang di saat Han Xin melarat memberi dia semangkuk nasi itu, seringkali membuat saya ketika melangkah di sisi sungai, tidak berani memandang remeh ibu-ibu tidak kukenal yang sedang mencuci baju di sana. Nelayan tua yang bertukar pikiran dengan Qu Yuan itu, juga membuat saya percaya nelayan-nelayan di kampungku pasti bersembunyi orang bijak yang pura-pura bodoh. [ Kitab Sejarah ] menulis semacam keyakinan lain di luar nilai-nilai mainstream.

Tokoh-tokoh paling menyentuh yang ditulis di dalam [ Kitab Sejarah ] hampir semuanya adalah orang-orang kalah di dalam kehidupan nyata. Di dalam syair Tanah Chu yang lantang membahana adalah nyanyian pilu kekalahan Xiang Yu yang tulus, berpisah dengan kudanya yang selalu keluar masuk medan perang bersama, berpisah dengan perempuan yang paling dicintai dalam hidupnya, dia ternyata di ujung hidup tiba-tiba menampilkan kegetiran dan kelembutan di titik temu suka dan duka, di dalam kenyataan yang kejam meninggalkan sepenggal kelembutan hati yang indah.

Pertarungan Chu dan Han, Liu Bang adalah pemenang, [ Kitab Sejarah ] menulis Liu Bang, menyunguhkan satu sudut pandang lain terhadap pemenang. [ Pasukan kuda Chu mengejar Raja Han, Raja Han panik, mendorong jatuh Xiao Hui, Lu Yuan ], Xiao Hui adalah putera pertama Liu Bang, Lu Yuan adalah puteri pertamanya. Penguasa sukses di saat  bahaya, demi menyelamatkan diri, bisa mendorong keluar anak sendiri dari kereta. Seorang pembantunya tidak tega, turun dari keretanya menyelamatkan kedua anak itu. Namun Liu Bang yang panik ingin segera keluar kepungan, kembali mendorong keluar kedua anaknya dari kereta. [ Kitab Sejarah ] berkata: Demikian berulang tiga kali. [ Kitab Sejarah ] dengan dingin menulis penguasa kehilangan sifat kemanusiaan, satu sisi gelap yang membuat kita bergidik.

Pertarungan Chu dan Han sudah berakhir. Xiang Yu kalah, Liu Bang menang. Namun penilaian sejarah belum berakhir, di bawah pena Sima Qian ada kalah dan menang yang lain.

 

☉小滿

——— sayur pahit berbiji; camelina mati; bulir gandum mulai berisi

Setelah melewati sebuah pintu rendah, terpampang di depan mata adalah sebidang dinding kayu yang sangat tua, hanya bisa dilalui satu badan saja. Namun begitu memutar langsung akan kelihatan pemandangan di balik dinding, sungguh mengejutkan.

Sebuah ruangan besar, telah duduk sekitar seratus sampai dua ratus orang. Semuanya mengitari meja-meja kecil minum anggur, suara percakapan sangat kecil, cahaya lilin bergetar di atas meja, suasananya agak misterius. Bagian dalam ruangan ada sebuah panggung, tempat pertunjukan sebuah kelompok tari keluarga.

Cahaya panggung menyala, pertunjukan telah dimulai.

Anggun melangkah keluar tiga perempuan muda, satu lembut, satu pedas, satu agak sulit dideskripsi, ketiganya amat jelita, kuduga adalah anak perempuan atau menantu keluarga ini. Mereka maju dengan khidmat, bagai baru mengikuti sebuah upacara sekolah, atau bareng mau ke gereja. Seketika, salah satu di antaranya bagai angin puyuh naik, awan buka sayap merentang, mulai menari, dua yang lain teratur mundur ke samping. Penari samasekali tidak memandang sekeliling, hanya tertunduk dengan mata sedikit mengatup, seolah sedang introspeksi diri, tetapi lengan dan badan bergerak bagai kerasukan, angin menderu petir menyilat.

Namun pada sesaat yang tak terduga pula, dia mendadak berhenti, angkat rok tegak bangau. Seharusnya ada seulas senyum tampak di wajah, tapi tidak ada, hanya dengan keheningan mengingkari segala yang baru berlalu, membuat penonton seluruh ruangan berkedip mata curiga pada diri sendiri: bagaimana mungkin perempuan yang begini lemah lembut melakukan putaran cepat.

Lelaki kurus sewajah galau, begitu masuk panggung langsung mempercepat langkah kakinya menjadi titik-titik hujan musim panas, seolah ingin kobaran dan gerah sekujur tubuhnya tertuang habis. Dia semestinya adalah anak bungsu keluarga ini, hereditas memungkinkan dia memiliki gerak langkah yang demikian kuat.

Hening. Sangat khidmat, seorang perempuan parobaya masuk panggung, dia kiranya adalah menantu sulung keluarga ini. Kelincahan dan daya pukau yang sama ketika disajikan olehnya boleh disimpulkan sebagai suci bersih, gairah yang sama padanya menjelma jadi renungan. Akhirnya dia pun tertawa, di saat dia selesai, semua penari muda tidak tampak ada yang tersenyum atau mengiyakan, hanya dia berani tertawa, namun di dalam tawanya menyimpan sindiran. Apakah dia sedang menyindir orang lain atau menyindir dirinya? Apakah sedang menyindir dunia atau sedang menyindir panggung? Tidak tahu, hanya tahu 3/4 tawanya adalah sindiran, dengan demikian panggung ini sudah tidak biasa lagi, sudah memasuki suatu kematangan yang bisa rata memandang seribu gunung.

Satu sisi panggung berdiri seorang lelaki tua gemuk, tampaknya adalah kepala keluarga, sedang memperhatikan jalannya pertunjukan. Setelah menantu sulungnya mundur, dia sendiri melangkah ke tengah panggung. Sangka akan menyampaikan sesuatu, ternyata tidak, hanya melihat dia tiba-tiba mengangkat sedikit ujung jasnya, perlahan mulai menari. Badan terlalu gemuk dan kaku, sulit berputar cepat, namun dia memiliki sejurus daya, sudah mengental demikian tebal, ditunjukkan sedikit saja sudah bisa merasakan gerakan tangan dan kakinya yang demikian menguras, namun samasekali tidak tergesa, pelan-pelan memutar keluar daya pukau jantan, humor lelaki tua. Penari yang paling tidak mirip penari ini diletakkan di mana juga bisa, usia membuat semua gerak-geriknya menjadi sulap klasik kehidupan.

Puncak sensasi adalah ketika seorang perempuan tua masuk panggung, seluruh penari dengan hormat berdiri di tepi panggung menatapnya, termasuk lelaki tua itu, suaminya. Bahkan beberapa pekerja belakang panggung juga buru-buru ikut berdiri di satu sudut panggung, begitu lihat sudah tahu ini adalah prosesi terpenting keluarga ini. Segala gerak tari di atas panggung yang baru ditampilkan tadi adalah setetes setetes diturunkan oleh perempuan tua ini, sekarang sang maestro tampil, seluruh ruangan hening. Pada wajah perempuan tua ini, tidak ada ketenangan anak perempuannya, tidak ada kegalauan anak lelakinya, tidak ada kesinisan menantu sulungnya, juga tidak ada humor lelaki tua itu, dia hanya sedikit mengernyitkan alis dan samasekali tidak ada ekspresi, segala macam ekspresi akan menjadi terlalu lumrah baginya, setiap gerak-geriknya adalah gerakan klasik yang setiap hari mereka hadapi, namun juga seolah selamanya tidak terjangkau.

Di samping ada orang berkata: Di seluruh Spanyol sudah sedikit yang mampu seperti dia, tubuh bagian bawah demikian dashyat bergetar menari dan tubuh bagian atas bisa samasekali tidak bergerak.

Akhirnya perempuan tua selesai menari, di dalam suara tepuk tangan, mereka sekeluarga masuk ke dalam suatu kondisi pukau tari, untuk mengakhiri pertunjukan malam ini. Tetapi anehnya adalah para penari seperti tidak memiliki ikatan gerak atau saling memberi sedikit isyarat atau sapaan, juga tidak peduli penonton di bawah panggung, masing-masing seolah masuk ke dalam suasana kosong, sebab itu tidak menemukan keriangan, kegenitan, rasa terima kasih dan perpisahan yang terduga. Hanya ada keangkuhan yang membakar, kesepian yang mengalir, kelincahan yang gelisah.

Sampai di sini penonton sudah tidak merasa ini adalah sebuah pertunjukan tari keluarga di malam buta di sepotong lorong yang tersembunyi, hanya merasa kedip cahaya lilin sepenuh ruangan, telah berubah menjadi sinar matahari Andalusia.

☉芒種

——— belalang lahir; burung cendet bersiul; mockingbird senyap

Tiba di kotamu hari sudah petang. Masuk penginapan, istirahat sejenak. Sebelum langit benar-benar gelap bangun memandang keluar jendela. Bukit belakang ada sehamparan pepohonan berbunga putih, kiranya adalah pohon minyak tung, dipandang dari jauh, hamparan bukit sudah memutih, bagai salju. Saya ingat bunga tung adalah kesukaanmu.

Pagi itu kamu mengajakku pergi bersama melihat bunga tung. Sebuah pagi yang basah, baru diguyur hujan semalaman, di setapak bertaburan bunga-bunga gugur. Kita berjalan di antara pepohonan, bunga-bunga merekah di ujung ranting, sekelompok-sekelompok seolah disanjung dedauanan hijau selebar telapak tangan. Bentuk bunga samar-samar, justru di antara daun dan bunga menebar selapis cahaya matahari, di dalam cahaya melayang gemulai serpihan bunga gugur, persis salju jatuh berputar di udara. Juga menyerupai berpuluh ribu kupu-kupu, menari sepenuh langit; di tengah udara naik turun merenggang merapat, lalu bersama-sama melayang jatuh, jatuh di wajah orang-orang yang menengadah, di kepala, di badan, juga jatuh di atas tanah, di setapak, penuh bertabur bunga-bunga seputih salju.

Saya menyambut sekuntum yang melayang jatuh di depanku, seksama memperhatikan bentuk bunga. Mahkota bunga lima helai, putih bening, kuncup sangat kecil, di tengah-tengah bunga ada satu titik merah muda, apakah agar lebah lebih mudah datang melakukan penyerbukan?

Kamu berkata: Yang jatuh adalah bunga jantan, bunga betina tetap di atas pohon, mesti menjadi buah.

Bunga betina mesti menjadi buah, dengan tegar tetap berada di atas pohon; bunga jantan setelah selesai kawin, satu persatu melayang jatuh. Hidup telah rampung, pisah ranting pisah daun, sesungguhnya tidak terlalu menyedihkan.

Di telapak tanganku ada sekuntum bunga gugur, mahkota lima helai, ditopang sebuah kelopak kecil, mungkin bunga yang jatuh atau tetap di atas pohon adalah menggunakan cara berbeda merampungkan diri, pengetahuan kita sangat terbatas, sering menderita ketakutan dan kesedihan yang tidak perlu.

Agama Murni, Adakah?

Gerundelan Soe Tjen Marching

agama agama
gambar diunduh dari hr2012_wordpressdotcom

Bila orang-orang lebih menghargai susu murni, maka banyak juga yang menghargai agama murni.  Bahkan, tidak jarang yang mempertahankan kemurnian agama mereka dengan tetesan darah dan air mata. Di Indonesia, anak-anak diberi pelajaran agama, biasanya terpisah dari agama yang lain.  Banyak orang tua bahkan melarang anak-anak mereka berkunjung ke tempat ibadah yang dianggap bukanlah rumah suci mereka.  Seolah keyakinan anak mereka bisa “tercemar” kalau menyenggol atau mencicipi kepercayaan atau agama yang berbeda. Namun, sikap seperti ini seolah memang sudah diterapkan dan ditanamkan oleh beberapa petinggi negara ini.  Karena nikah beda agama secara hukum tidak bisa dengan mudah disahkan oleh negara. Tapi, apa benar ada yang namanya agama murni?

Para Pemikir Islam dan Pengaruh Agama Lain

Bila kita telusuri sekelumit saja sejarah pemikir Islam dan Kristen, percampuran agama telah terjadi berabad yang lalu.  Seorang pemikir Islam, Al Farabi, misalnya, yang lahir pada 872 di Farab sangat dipengaruhi oleh berbagai filsafat Kristen dan Yunani.  Al Farabi juga sempat berguru kepada cendekiawan Kristen di Nastura.

Kagum akan pemikiran Plato dan Aristoteles, Al Farabi menterjemahkan serta mengembangkan filsafat logika Aristoteles, sehingga dia dijuluki para cendekiawan Islam pada abad pertengahan sebagai Guru Kedua setelah Aristoteles (yang disebut sebagai Guru Pertama). Karena Al Farabi, filsafat Aristoteles menyebar luas dan ulasan Al Farabi mempengaruhi banyak pemikir Kristen dan Yahudi.  Beberapa pemikir Islam sesudahnya, seperti Ibn Sina dan Ibn Rushd juga turut mengembangkan pemikiran Yunani.

Ibn Sina lahir pada 980 dan wafat pada 1037 di Persia (Iran sekarang). Dia mempelajari kedokteran pada usia 16 tahun, dan tidak hanya belajar tentang teori kedokteran, tapi juga dengan giat merawat mereka yang sakit dan karena itulah, dia menemukan beberapa metode penyembuhan baru.

Berbeda dari kebanyakan filsuf Islam lainnya, Ibn Sina berpendapat bahwa Tuhan tidak mengurusi hal-hal pribadi yang dilakukan manusia.  Ibn Sina mempengaruhi banyak filsuf Barat, seperti Thomas Aquinas yang dianggap sebagai salah satu pemikir terpenting dalam agama Kristen.  Ibn Sina juga terkenal dengan pernyataan berikut: “Dunia terbagi menjadi manusia yang menggunakan kecerdasan dan tidak beragama, dan manusia yang beragama dan tidak menggunakan kecerdasan.”

Ibn Rushd yang lahir sekitar satu abad setelah Ibn Sina, melanjutkan penyebaran filsafat dan logika Yunani.  Dalam bidang musik, Ibn Rushd membahas tentang De Anima, sebuah buku tentang musik yang ditulis oleh Aristoteles. Ulasan Ibn Rushd ini telah diterjemahkan dalam bahasa Latin oleh Mitchell the Scott. Mengenai astronomi, Ibn Rushd menulis tentang gerakan planet-planet dalam Kitab fi-Harakat al-Falak dan menerjemahkan serta meringkas buku yang ditulis Ptolomeus tentang bintang-bintang. Buku Ibn Rushd kemudian diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Ibrani (bahasa Yahudi) oleh Jacob Anatoli pada 1231. Buku-buku Ibn Rushd menjadi buku pegangan dalam silabus di beberapa Universitas di Paris dan Eropa sekitar abad 12-16.

Setelah menjenguk para pemikir Islam, kita beralih kepada salah satu tokoh terpenting dalam filsafat Kristiani dan menyaksikan kawin silang antara pemikir Kristen and pemikir Islam.

Thomas Aquinas: Pemikir Kristen/Katolik

Thomas Aquinas lahir pada 1225 dan wafat pada 1274. Melalui tulisan-tulisan Ibn Sinadan Ibn Rushd, Thomas Aquinas mulai mempelajari Aristoteles. Pada tahun 1256 sampai 1259, Thomas Aquinas menjadi dekan di Fakultas Teologi di Unversitas Paris.

Kritik sengit terhadap Thomas Aquinas karena persinggungannya dengan filsuf Islam sempat muncul. Tiga tahun setelah Thomas Aquinas wafat,  Uskup di Paris, Etienne Tempier melancarkan kampanye anti Aquinas, yang sempat menulis tentang Ibn Rushd karena dianggap berasal dari agama lain. Namun, Gereja Katolik berbalik menghargai pemikiran Thomas Aquinas kembali.  Pada tahun 1323, Paus Yohanes XXII memberi gelar Santo kepada Aquinas. Paus Leo XIII menyatakan bahwa penelitian Thomas Aquinas memberi pola berpikir yang sangat penting bagi filsafat Kristiani. Dari tangan-tangan cendekiawan Muslim dan interpretasi mereka, para ilmuwan barat mempelajari filsafat Yunani, yang juga sering dianggap sebagai nenek moyang filsafat barat.  Persentuhan antara budaya Arab dan Yahudi juga telah terjadi sejak jaman dahulu. Tradisi barat yang telah bercampur interpretasi Muslim, namun tradisi Muslim juga telah begitu dipengaruhi oleh pemikiran Barat.  Jadi, masihkah perlu membedakan dengan begitu bernafsunya, mana yang Barat, Timur, Muslim dan non-Muslim?

Mungkin, biarkan saja kata murni dipakai untuk susu, tapi tidak untuk agama, kepercayaan dan pengetahuan, yang telah berkawin silang berabad-abad lamanya.

Sumber: FB Soe Tjen Marching

Puisi-puisi Muhammad Naufal Hafizh

hujan-malam
gambar dari kiddienglish.wordpress.com

#1 Anak Pohon di Hujan Malam

Menunggu pagi dari sisa malam
Didayung angin—sang mempelai yang karam—
Nyawanya merah
Meski dirayu hujan
:Menarilah ia sepanjang malam

2013

#2 Di Perpustakaan

:Amirush Shaffa Fauzia

Maaf
Kertas yang kautinggalkan
Kutulisi puisi

2012

#3 Memotret Bunga

Bahagiaku hari ini sederhana
Memotretmu mencium bunga
Di balik hujan, di sebuah jalan yang lengang.

2013

#4 Menjelang Pagi

Jika aku pagi
Aku pun tak mau berpura-pura

Muhammad Naufal Hafizh, Bandung 27 April 1995. Bergiat di Saung Sastra Lembang.

Karena Setiap Kata Punya Makna