Puisi Ragil Koentjorodjati ilustrasi diunduh dari googleAku membebaskanmu,
serupa bibir pantai melepas resah,
dari berjuta rasa yang dilesakkan kecupan ombak,
meski cecamar membisik: jangan!
Aku membebaskanmu,
sebebas petualang membawa hati terbang,
membadaikan rasa: jatuh-melayang-jatuh-mengawang,
meski sekeping diri terbawa, entah ke mana menuju.
Aku membebaskanmu,
sebebas kehendak mempermainkan tulus cinta,
hingga saat musim hujan tiba, aromaku akan bersamamu,
mengingat perih batin mengering di hari bergerimis yang setiap rintiknya adalah basah
Dan ketika semua kausadari,
betapa waktu mampu mengubah cinta,
kita bukan lagi manusia yang sama.
:bukankah sepenggal kata yang telah terucap tak mungkin ditarik kembali?
Ilustrasi dari duniasirkusdannie.files.wordpress.comSuatu minggu pagi. Sedikit basah. Sepasang burung gereja tersentak bangun dari tidurnya. Lonceng berdenting pada minggu pagi, menyentuh gendang telinga mereka. Lalu rindu menyeruak, berbaur dengan wangi bunga lili dan sedap malam yang mekar tanpa pohon, di depan altar. Entah berapa ribu mata menitikkan duka di sana ketika bibir bernyanyi ‘Tuhan kasihanilah kami’.
“Berpuluh tahun kita tinggal di sini, tapi tak sekalipun kita pernah hinggap di altar itu,” bisik burung gereja jantan pada pasangannya.
“Karena kita adalah burung gereja, kasihku,” balas berbisik sang betina,”kita tidak berduka. Altar itu diperuntukkan bagi mereka yang terlalu berat memanggul salib.”
Seorang lelaki berjalan lesu memasuki pintu gerbang. Wajahnya pucat, hilang hati. Perlahan meraup air suci lalu membasuh mukanya. Yang dilakukannya di luar kelaziman tata cara peribadatan gereja. Seharusnya ia hanya mencelupkan jari, lalu membuat tanda salib dan berlutut. Tanda takluk dan penghormatan.
“Ia tidak membasuh muka. Lelaki itu sedang menghapus air matanya,” bisik burung jantan.
“Satu lagi peziarah yang payah,” kata burung betina,”sepertinya manusia lahir hanya untuk menderita.”
“Yah..mungkin itu sebabnya kita ada di sini. Mereka membutuhkan kicau burung, wangi bunga dan dupa, denting organ memainkan agnus dei dan manusia lemah itu terhibur.”
Kemudian kedua burung gereja itu terbang melayang menyusuri atap-atap tinggi gereja, meliuk di antara simfoni lonceng, organ dan ratap jerit belas kasihan. Mereka bercecuit melengkapi irama minggu pagi hingga pesta usai. Dan kemudian kembali ke sarang di balik plafon. Dalam senyum lelah tapi bahagia, mereka mendengar imam kepala berkata,”bersihkan gereja ini dari burung-burung pengganggu peribadatan. Jika perlu bunuh saja.”
Aku ingin bercerita tentang gadis desa bermata air dan berambut api. Gadis itu bernama Kemuning. Gadis sekokoh beringin hanya saja daun-daunnya menguning. Ilustrasi dari imgresSaat musim laron beterbangan, ia tertawa riang. Itu petanda satu minggu ia tidak akan kesulitan mencari makan. Peyek laron yang gurih dari laron yang malang. Ia tidak merasa perlu turut bersedih sebab ia pun satu dari berjuta laron itu. Lahir, menatap api dan lalu mati. Ia tidak merasa perlu cemburu pada kunang-kunang. Sekalipun indah dan bercahaya, kunang-kunang tidak memberinya daya. Baginya, kunang-kunang tidak lebih dari jiwa-jiwa kesepian yang mencoba menerangi dirinya sendiri. Kasihan. Buat apa hidup jika hanya menjadi fatamorgana, batinnya.
Ia hanya paham bahasa kesunyian. Hidup dan tumbuh di tanah tanpa tuan. Bagi kami, ia adalah mimpi yang tak terjangkau. Ia cantik, tapi tak lagi bunga desa sebab ia adalah Kemuning, gadis bermata air dan berambut api. Aku beritahu, engkau akan teduh bila di dekatnya, tapi akan terbakar jika mencintainya. Suatu saat engkau harus mengenalinya.
ilustrasi: antobilang.files.wordpress.comAlengkadiraja banjir darah. Burung bangkai menyelinap di senyap malam. Menunggu. Sabar menunggu dada tersengal tanpa kepala berhenti berdetak. Lebam. Tangan dan kaki tanpa tuan melayang di tanah lapang. Kumbakarna tumbang tinggal badan.
“Oh malam. Dosa apakah yang kubuat padamu?”
Wisrawa meronta. Jeda nafas sepahit bara. Bait-bait suci terpelanting tinggal hening.
“Kekasi, lihatlah anakmu. Wahai Detya pandang tubuh cucumu. Anak dan cucumu yang serupa bayi jelita terperangkap pada tubuh raksasa. Membangkai. Tanpa kaki. Tanpa tangan. Tanpa kepala. Di hamparan noda Rahwana.”
“Duhai Sri Rama, kekasih Wisnu Sang Pemelihara. Sudah butakah mata anak panahmu? Di mana welas asih? Di mana jiwa-jiwa sunyi penjaga hati bersembunyi?”
Kumbakarna gugur. Mayapada beku. Seribu srigunting di padang perang berhamburan memekik kelu. Sepilu para wanara menundukkan kepala. Kumbakarna bukan musuh mereka. Kumbakarna sang pecinta tanah air dan bangsa. Binasa menggelora di pelukan ibu pertiwi. Bahkan angkara menitikkan air mata untuk satria dalam wujud raksasa. Melaknat wajah ayu tampan para raja berhati Rahwana.
“Ke mana cinta memalingkan muka wahai Wibisana. Tutur manismu telah membinasakan saudaramu. Masihkah kebijaksanaan memahkotaimu?”
“Oh Lesmana, pejantan selembut perempuan, sirnakah kasih di hatimu?”
Sang Rama terkulai tanpa daya. Kasih akan cinta menjelmakan nista. Terkenang di bayang aroma siksa. Satu anak panah memutus lengan kanannya. Kumbakarna tertawa. Satu anak panah menebas lengan kirinya. Kumbakarna tertawa. Ada getir di nadinya. Seratus kera mengerubuti raga tanpa hasta. Seratus kera binasa sia-sia.
Satu anak panah mencincang kakinya. Kumbakarna terguling. Kumbakarna tertawa. Bahagia dengan kristal bening mengembang di pelupuk mata. Gelaknya membahana.
“Habiskan anak panahmu wahai Rama. Bawa aku pada tidur yang panjang. Bukankah itu muslihat dewata ketika kupinta istana Indra? Tidur abadi sebagai ganti tahta suci.”
Satu anak panah memisahkan kaki yang tinggal sebelah. Kumbakarna meronta. Kumbakarna tetap tertawa. Kembang kristal mencair memata air di mata serupa seribu gerhana.
“Inikah balasan atas kebajikan wahai titisan Wisnu? Inikah penghormatan untuk petapa hina hanya karena ragaku raksasa? Kutelan selaksa siksa bersama selaksa wanara yang aku tahu tanpa cela.”
Kumbakarna menggelinding. Melibas tuntas segala yang bernyawa hingga di kaki Rama.
“Selesaikan tugasmu. Hentikan angkara murka.”
Busur panah meregang. Serupa mantra, air mata rama menyatu dengan duka Kumbakarna. Satu anak panah melesat, menghantar kepala Kumbakarna ke pangkuan Rahwana.
Dada perkasa tanpa kepala tersengal-sengal. Bukan tangis. Tetapi tawa tanpa suara. Burung-burung bangkai mengawang menunggu dada perkasa berhenti tersengal untuk selamanya.
Puisi Ragil Koentjorodjati Ilustrasi: Heny Ayu CandrasasiDi langlang laju langkah kaki-kaki,
riuh hati bertaruh melempar undi,
siapa-siapa tanya siapa memenangi,
pertarungan yang mestinya dikandangi.
Laksa derita tertera di dada-dada,
doa,
dupa,
mantra,
novena,
lesat nguap di sela kala,
sia-sia.
Darah rembes di puting susu,
kering payudara para ibu,
sekerontang kerongkongan tergantang siang,
melahirkan bocah-bocah yang sejak lahir menghisap darah.
Pada bumi mereka mengadu,
pada bumi simpuh berkeluh meretas sendu,
kusut beringsut mengeja tahajud.
Bukan,
bukan itu yang dimau.
Pilihan selalu tak semudah yang dibayangkan
ketika nurani dibui bui,
segala menjelma sepanas bara,
manusia serupa satwa pemangsa.
Puisi Ragil Koentjorodjati Father n Son_ilustrasi dari FB Sapto T PoedjanartoIa mengasihimu dengan cara yang tak pernah kau tahu,
ia memandangmu seteduh pandangan seorang ayah yang malu-malu mengintipmu bercanda ria di bawah ritmis hujan,
betapa rindu ia ingin mengingatkanmu agar kau tidak jatuh sakit,
tetapi ia membiarkanmu larut dalam derai tawa suka cita,
hanya lirih hatinya berkata,”semoga engkau selalu sehat dan bahagia”,
begitulah ia mengasihimu.
Ketika kau dewasa,
kau mulai berani memakinya hanya karena di matamu raganya berangsur renta,
dan kau tidak pernah menyaksikan lelaki perkasa yang menitikkan air mata di sudut senyap kamarnya,
sendiri, memanjatkan doa,”semoga engkau selalu sehat dan bahagia”,
begitulah ia mengasihimu.
image dari rismanrasawordpressdotcom
Duduklah sejenak di sampingku
Kakimu di atas bahuku pun tak apa
Bukankah sejak lama kau merindukannya?
Tak usah ragu, tak usah sendu
Tokh kita tidak sedang terlanda romansa
Hanya dua nyawa terperangkap botol anggurnya
Sedikit mabuk, tapi yakinlah, kita tak kan mati karenanya
Lunas berkali kutenggak isinya
Nyata senyatanya aku masih mampu membelai bulu kakimu bukan?
Oh ya, dengarkan aku,
Ketika aku seruwet radio
Tentu saja kau tak harus mendengarnya
Kau boleh tidur dengan kakimu tetap di atas bahuku
Aku akan memindahkannya ketika pagi tiba
Hingga kau meringkuk serupa bocah, suaraku sudah tertelan masa
sungguh, itu membuatku tampak konyol
Khotbahku tak sempat mampir di telingamu
Ketika aku mengajakmu dialog
Tak perlu malu mengataiku sedang monolog
Yakinlah bahwa cinta banyak wujudnya
Meski monolog bukanlah sesuatu yang romantis,
biarkan mulutku tetap bersuara
Karena kau tentu tahu, egoku malu mengakui, ternyata ucapmu ada benarnya
Hingga ketika pada suatu ketika
kita tak lagi membutuhkan suara
Dan cinta menari-nari di antara sunyi dua hati
Puisi Ragil Koentjorodjati ilustrasi dari imrontblogspotdotcomJika kasih itu kisah,
maka tarian kata tak ingin kuberi tanda titik,
meski kadang berselaput tanya,
namun ia bukanlah sejenis binatang yang suka pakai tanda seru
Jika kasih itu kisah
maka kuserahkan sepenuhnya padamu, sang pengarang,
apakah itu sebuah titik, atau sebuah tanya,
tak perlu kupahami yang tak terjangkau,
cukup bagiku bahwa aku pernah ada
Dari setiap hembusan nafas,
awal dan akhir cerita terangkai
ketika kata tak lagi bermakna,
hidup adalah sebuah doa.